Laman

Rabu, 06 Agustus 2014

Memandang Yang Tersembunyi


“Allah Ta’ala menampakkan pada segalanya, karena Dia adalah Maha Batin. Dan Dia meliputi segalanya, karena Dia adalah Maha Dzohir (Maha Nyata Jelas).”
Tidak bisa wushul (sampai) mengenalNya kecuali melalui yang tampak dariNya, karena yang tampak itu menunjukkan atas DiriNya. Namun segala sesuatu menjadi sirna jika Dia Tampak, karena WujudNya mengapus segalanya dan ketidak bebasan atas AdaNya.

Maka, hikmah dibalik tampaknya sang makhluk, adalah wujud pengenalan ma’rifat padaNya, selain meraih kema’rifatan karena sirnanya sang makhluk. Maka Maha Sucilah Yang Maha Tampak dan Maha Batin nan Maha Mengetahui.
Karena itu beliau melanjutkan:
“Allah memperkenankan dirimu untuk memandang segala yang tersembunyi dibalik semesta makhluk. Dan Allah swt tidak mengizinkan anda untuk memandang atau berhenti pada wujud dzatnya makhluk. Dalam Al-Qur’an dikatakan, “Katakan, Lihatlah apa yang tersembunyi dibalik langit….,(Yunus 101) “
dan Allah swt tidak berfirman, “Lihatlah langit…!”. Maka Allah swt, akan membuka pintu kefahaman padamu. Allah tidak berfirman, “Lihatlah langit!” agar anda tidak terjebak pada wujud benda-benda.”
Ibnu Athaillah menggunakan kata “memperkenankan”, untuk menunjukkan bahwa memandang dan mencari bukti petunjuk dibalik langit itu tidak wajib hukumnya.
Karena itu ada seorang Syeikh diberi informasi oleh muridnya, bahwa “Ada orang yang mendapatkan bukti akan Ke-esaan Allah swt dengan seribu dalil.” Maka Syeikh itu menjawab, “Hai anakku, jika ia mengenal Allah swt, sama sekali ia tidak akan mencari bukti.”
Kata-kata syeikh itu akhirnya sampai pada sang cendekiawan yang punya seribu dalil, lalu berkata, “Benar gurumu! Karena mereka menyaksikan dengan nyata, sedangkan kami menyaksikan dibalik tirai.”
Ada seorang murid bertanya kepada gurunya, “Hai Ustadz, dimanakah Allah?”
Sang guru menjawab, “Hai! Kamu bisa dihanguskan Allah! Apakah kamu ini mencariNya dengan mata-kepala atas “dimana”?”
Orang yang menikmati keindahan semesta, menurut para sufi dilarang. Yang diperkenankan adalah memandang yang tersembunyi dibalik semesta langit dan bumi. Karena jika memandang isi langit dan bumi, seseorang bisa terjebak pada wujud bendanya, bukan yang ada dibalik benda.
Lalu apa yang ada dibalik benda-benda semesta ini? Yang ada hanyalah Asma’, Af’al dan SifatNya. Sehingga seseorang akan terus menerus musyahadah dan mengingatNya (berdzikir).
(Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary)

SIFAT 20 DI BAGI 4







Dzat Allah merupakan perwujudan dari adanya Allah.
Dzat Allah Subhana Wa Ta'ala memiliki sifat-sifat yaitu sifat yang wajib, sifat yang mustahil bagi Allah, dan sifat yang ada pada Dzat Allah.
 




1. NAFSIAH - SIFATNYA PENCIUMAN / NAFAS

Nafsiah satu pasti, hal bagiannya.




1. WUJUD = “Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam.“ [QS. Al-A’raf: 54]

Wujud artinya ada, bukti adanya nafas, ada nafas tentu saja ada hidup, setiap ada hidup sudah pasti, ada Allah, sebab sifatnya hidup dari Dzat-Nya Sifat-Nya Allah Ta’ala
Keimanan seseorang akan membuatnya dapat berpikir dengan akal sehat bahwa jagat kabir dan jagat shagir ada, karena adanya Allah yang menciptakannya.




2. SALBIAH - SIFATNYA PENGLIHATAN/ MATA


Awasnya mata adalah yang pertama sebab itulah yang membuktikan Sifat Salbiah di mata, ada lima perkara, barangnya yang bukti:
1. Warna putih dari mata
2. Warna hitam dari mata
3. Warna kuning dari mata
4. Warna merah dari mata
5. Beningnya mata
lima barang jadi bersatu, kehendak Allah Ta’ala, setiap bagiannya sudah pasti ada rahasianya.






2. QIDAM = “Dialah yang Awal dan yang Akhir, yang Zhahir dan yang Baathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. “ [QS. Al-Hadid: 3]

Qidam berarti dahulu atau awwal. Sifat Allah ini menandakan bahwa Allah Subhanahu wa ta'ala sebagai Pencipta lebih dulu ada daripada semesta alam dan isinya yang Ia ciptakan.
 
 Qidam artinya permulaan, Syariatnya nyata di jasad manusia, sifatnya mata, awasnya mata paling pertama, karena penglihatan membuktikan sifat, sewaktu manusia masih ghoib, sebelum mengembara ke Alam Dunia. Ibu dan Bapak masih perawan dan bujang, setelah bertemu pandang, hati keduanya menjadi jodoh, setelah menikah “dua rasa menjadi satu” , lahirlah seorang anak, jadi asal mulanya adalah dari mata.
 

3. BAQA = “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. “ [QS. Ar-Rahman: 26-27]

Sifat Allah Baqa’ yaitu kekal. Manusia, hewan ,tumbuhan, dan makhluk lainnya selain Allah akan mati dan hancur. Manusia akan kembali kepada-Nya dan itu pasti. Hanya Allah lah yang kekal. Baqa, artinya adalah langgeng atau kekal, langgeng Dzat Allah/ Nurullah, hidup itu kepunyaan Allah ta’ala.

 
4. MUKHOLAFATU LIL HAWADIST = “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. “ [QS. Asy-Syura: 11]

Sifat Allah ini artinya adalah Allah berbeda dengan ciptaan-Nya, Mukhalafatuhu Lilhawadist yaitu, Allah sangat berbeda dengan yang baru , tidak akan ada yang menyamai Allah dengan yang baru. Allah melihat tidak dengan mata, mendengar tidak dengan telinga, berucap tidak menggunakan bibir.  

5. QIYAMUHU BINAFSIHI = “Allah, tidak ada Ilah [yang berhak disembah] melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. “ [QS. Ali-Imran: 2]

Qiyamuhu Binafsihi artinya Allah berdiri sendiri, manusia juga tidak merasa, jasad manusia di buat oleh Ibu dan Bapak, walaupun “bertemu” seorang Bapak dan Ibu, sama sekali tidak punya niat untuk sengaja membuat anak, syariatnya dari Ibu, hakikatnya adalah kehendak Yang Maha Agung, yaitu wenangnya [sifat Jaiz] Allah Ta’ala, sangat wenang sekali Allah untuk menjadikan wenang dan tidaknya, tetapi kematian adalah suatu hal yang wajib.

6. WAHDANIYAH = “Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah selain Allah, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. “ [QS. Al-Anbiya: 22]

Wahdaniah adalah sah Dzat, sah Sifat, sah Asma dan Af’alnya. Wahdaniat menetap di yang empat, di bibir, mata, telinga, hidung, jika di hidung, Dzatnya yaitu penciuman, sahnya adalah pasti, jika yang di cium minyak wangi, tetap wanginya yang di akui, tidak akan tertukar. Dua sah Sifatnya apa yang di cium pasti, ketiga sah Asmanya, baunya, nama wanginya, tidak akan tertukar namanya, bau bangkai dan bau minyak wangi. Keempat sah Af’alnya , sah pekerjaannya, penciuman adalah nyata, tidak mau tertukar, yang bau tetap dengan baunya, yang wangi tetap dengan wanginya. Walaupun di mata sah Dzat itu, awasnya pasti, sah Sifatnya juga nyata, apapun yang dilihat, hitam, merah dan ungu, hanya sifat yang bukti, sah Asmanya dan Sifatnya juga pasti.
 
7. QUDRAT = “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. “ [QS. Al-Baqarah: 20]

Qudrat yaitu kuasa, tetapi kuasanya Allah, tidak memakai perkakas dan perabotan, jika punya maksud seperti mau membangun rumah, sebelum dikerjakan tentu di pikir dulu, gimana kemauan hati, rupa rumah yang akan di bangun, diatur-atur dan dicipta-cipta oleh hati dan pikir, agar rumah yang akan di buat menjadi bagus, pasti selaras dengan hati, sudah tercipta, dan nyatanya jadilah sebuah rumah yang sudah dibangun di dalam hati, rumah yang di buat tanpa memakai perkakas dan perabotan, kuasanya Allah, keterangan Qudrat yang sudah tidak bisa di rubah.





3. MA’ANI - SIFATNYA PENDENGARAN / TELINGA


 Ma’ani, nyata di telinga, tujuh bagiannya: lekuknya telinga tujuh, ke tujuh dengan liangnya, tidak ada yang mubazir, ada lekuk pasti ada sebabnya.






8. IRADAT = “Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.”
[QS. Hud: 107]

Iradat adalah Allah sifatnya berkehendak, bukti yang tadi, rumah sudah terlihat, ada di dalam hati, sekarang di jadikan kehendak, ingin membangun rumah, hakekatnya sudah terjadi, tinggal syariatnya, membuktikan Iradat. Iradat berarti berkehendak. Manusia hanya dapat berusaha dan berdo’a, namun hanya Allah yang menentukan. Kehendak Allah ini juga atas kemauan Allah tanpa ada campur tangan dari manusia atau makhluk lainnya. jadi iman siang dan malam, mengartikan Qudrat dan Iradat Allah.

9. ILMU = “Katakanlah [kepada mereka]: Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu [keyakinanmu], padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS. Al-Hujurât: 16]

Ilmu adalah asalnya dari pengetahuan, dan Hayat adalah terang, pasti bersatu, sebab pengetahuan itu pasti tempatnya terang, Jasad dan Baathin tidak berbeda, jasad di dunia, bagaimana bisa melihat jika tidak ada terang, Baathin juga harus jelas, ‘ainal yakin sampai kepada terangnya, bukan terangnya siang, tapi terangnya Sifat Nur Ilmu Rasulullah di Qolbu, keyakinan tanpa ilmu, bagaikan daun yang jatuh dari pohon, terbang mengikuti angin, tidak mempunyai pijakan yang kokoh.

10. HAYAT = “Allah tidak ada Ilah [yang berhak disembah] melainkan Dia yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus [makhluk-Nya]; tidak mengantuk dan tidak tidur.” [QS. Al-Baqarah: 255]

Sifat Allah Hayat atau Hidup. Namun hidupnya Allah tidak seperti manusia, karena Allah yang menghidupkan manusia. Manusia bisa mati, Allah tidak mati, Ia akan hidup terus selama-lamanya.

11. SAMMA= “Dan Allah-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. “ [QS. Al-Maidah: 76]

Allah mendengar, tapi tidak memakai telinga

12. BASHAR = “Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi. Dan Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. “ [QS. Al-Hujurat: 18]

Bashar Allah melihat tanpa menggunakan mata

13. KALAM = “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. “ [QS. An-Nisa: 164]
 
Kalam Allah berbicara tapi tidak menggunakan bibir.



4. MA’NAWIYAH - SIFATNYA PERKATAAN, memaknai PENCIUMAN, PENGLIHATAN, dan PENDENGARAN

Ma’nawiyah, tujuh pasti, bagiannya bergulung sifat dua puluh tadi, bergulung ke yang empat :
1. Bibir bawah
2. Bibir atas
3. Gusi atas
4. Gusi bawah
5. Langit bawah
6. Langit atas
7. Lidah
Gigi datang setelah manusia lahir ke Alam Dunia






14. QODIRUN [Dzat Yang Maha Berkuasa] = “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. “ 
[QS. Al Baqarah: 20]

Sifat Allah ini berarti Allah adalah Dzat yang Maha Berkuasa. Allah tidak lemah, Ia berkuasa penuh atas seluruh makhluk dan ciptaan-Nya
 

15. MURIDUN [Dzat Yang Maha Berkehendak] = “Sesungguhnya Tuhanmu Maha Melaksanakan apa yang Dia kehendaki. “ [QS.Hud: 107]

Allah memiliki sifat Muridun, yaitu sebagai Dzat Yang Maha Berkehendak
 

16. ALIMUN [Dzat Yang Maha Mengetahui] = “Dan Alllah Maha Mengetahui sesuatu. “ 
[QS. An Nisa’: 176]

Sifat Allah ‘Alimun, yaitu Dzat Yang Maha Mengetahui. Allah mengetahui segala hal yang telah terjadi maupun yang belum terjadi. Allah pun dapat mengetahui isi hati dan pikiran manusia.
 
17. HAYYUN [Dzat Yang Maha Hidup] = “Dan bertakwalah kepada Allah yang hidup kekal dan yang tidak mati. “ 
[QS. Al Furqon: 58].

Allah adalah Dzat Yang Hidup. Allah tidak akan pernah mati, tidak akan pernah tidur ataupun lengah.

18. SAMI’UN [Dzat Yang Maha Mendengar] “Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. “
[QS. Al Baqarah: 256].
 
Allah mendengar, tapi tidak memakai telinga

19. BASIRUN [Dzat Yang Maha Melihat] = “Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. “ 
[QS. Al Hujurat: 18]
 
Allah melihat tanpa menggunakan mata
 
20. MUTAKALLIMUN [Dzat Yang Maha Berbicara] = Allah berkata melalui ayat-ayat Al Quran. Sifat yang dimiliki oleh Allah merupakan Dzat Suci, tidak bisa dibandingkan dengan manusia
Sifat yang dimiliki oleh Allah adalah merupakan bukti adanya Dzat/Nurullah, bukti sifat-Nya di diri manusia adalah, manusia melihat, maka sifat Allah adalah Maha Melihat. Manusia mendengar, maka sifat Allah adalah Maha Mendengar. Manusia berkata-kata, maka sifat Allah Maha Berkata-kata. Manusia mempunyai daya, maka sifat Allah adalah Maha Berkuasa. Manusia hidup, maka sifat Allah adalah Maha Hidup, namun sifat Allah lebih segalanya dan tidak bisa di bandingkan dengan manusia.



KENYATAAN SIFAT MAHA AGUNG, SIFAT MAHA TINGGI, SIFAT MAHA MULIA, SIFAT MAHA SUCI DI DIRI MANUSIA :


  SIFAT MAHA AGUNG
Nyatanya di diri manusia adalah PERKATAAN, tujuh bumi dan tujuh langit, yang begitu besar, kebesaran alam semesta (Jagat Kabir) dan wujud manusia (Jagat Shagir) yang diucapkan oleh semua manusia, sebagian menyebutnya dengan Asma Allah, dilisankan oleh perkataan, itulah tanda ke Agungan-Nya.

SIFAT MAHA TINGGI
Nyatanya, di diri manusia adalah PENGLIHATAN, itu adalah yang paling tinggi, buktinya langit yang tinggi tanpa tiang, bisa di kejar oleh mata, tidak ada yang menghalangi, di atas langitpun pasti terjangkau oleh awasnya mata, pasti bisa disusul ketinggiannya

SIFAT MAHA MULIA
Nyatanya di diri manusia adalah PENDENGARAN, mulianya adalah karena mendengar, tidak pernah sakit, yang ada adalah sakit kuping/telinga, mulia seterusnya.

SIFAT MAHA SUCI

Nyatanya di diri manusia adalah PENCIUMAN, nafasnya di hidung, paling suci, buktinya nafas tidak pernah kotor, biarpun tidak dicuci, nafas tetap bersih.





Syariat dan Hakikat, Tharekat Ma’rifat tidak bisa di pisah-pisah, harus bergulung menjadi satu, baik itu di Agama, apalagi di dalam Ilmu, sebab manusia juga sempurna bisa ada di dunia, tiada lain oleh yang empat, yaitu perkataan, penciuman, penglihatan, pendengaran, jadi jika kurang satu, tidak akan sempurna manusia hidup, apalagi jika kurang dua atau tiga.

Sifat dua puluh adalah jalan untuk tahu kepada Al-Qur’an, Agama samawi, jalan manusia ibadah kepada Allah, untuk mengamankan dunia, agar manusia di alam dhohir, hidupnya bisa rukun dengan sesama, maka jadilah ada Agama, berkat Rahman Rahim-Nya Yang Maha Agung, memuliakan kepada manusia, dari dunia sampai baathin, diunggulkan dari sesama mahluknya. Huruf yang dua puluh, pasti cukup, tidak akan kurang, malah tujuh belas, hakikatnya dengan segitu juga cukup, semua juga tahu, tiga puluh huruf pasti, itu adalah rangkapnya, bibitnya dari dua puluh.

Shalat, sehari semalam tujuh belas raka’at, tidak kurang dan tidak lebih, malah rukunnya juga tujuh belas di dalam ibadah, oleh tujuh belas juga cukup, tharekatnya nyusul yang tiga sifat. disusul oleh tharekat tujuh belas raka’at, adalah satu Dzatnya Allah, Sifatnya, Asmanya Allah Ta’ala.

Asmanya yang satu cukup kepada tujuh bumi, tujuh langit semuanya, itulah yang harus di susul, makanya Al-Qur’an hurufnya hakekatnya tujuh belas, yaitu nyusul yang tadi, Dzat, Sifat, Asma Allah ta’ala, kenyataan huruf yang tiga, yang tidak ada di Qur’an, yaitu huruf Ca yang pertama, ke dua huruf Nya dan huruf Nga yang ke tiga, itulah yang tidak ada di Qur’an tidak di tulis, itulah hakekat Dzat - Sifat - Asma Allah atau Allah - Muhammad - Adam itulah yang di cari, di susul oleh yang tadi yaitu tharekat Agama, yaitu pada waktu yang lima, sehari semalam, raka’atnya yang tujuh belas, rukun syahadatnya ada 9 = sembilan wali

100 - 1 = 99 Nama Allah, yang 1-nya adalah ;
DZAT WAJIBUL WUJUD, Dzat yang wajib adanya.
Sifat 20 adalah merupakan rangkuman dari sifat-sifat Allah yang lain, yang ada di dalam Al-Qur'an


“BARANG SIAPA MENGENAL DIRINYA, MAKA IA AKAN MENGENAL TUHAN-NYA”

Meraih Berkah Kemuliaan

Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary
“Rasa senangmu agar makhluk lain melihat keistimewaanmu, menunjukkan bahwa ubidiyahmu tidak benar.”
Bila seseorang memiliki keistemewaan dari Allah Swt, berupa ilmu yang bermanfaat, amal saleh yang banyak, atau pengalaman ruhani yang hebat, lalu ia secara diam-diam ingin diketahui keistemewaannya, maka dipastikan ubudiyah orang tersebut tidak benar.
Salah satu Sufi menegaskan, “Siapa yang senang jika amalnya dilihat manusia, maka ia adalah orang yang riya’, dan siapa yang senang jika pengalaman ruhaninya diketahui orang, maka ia adalah pendusta.”
Kondisi ini berlaku bagi para penempuh, namun untuk para ahli ma’rifat yang telah meraih hakikat dan musyahadah, maka tidak apa-apa jika ia tunjukkan amaliyahnya, menampakkan kebaikan ruhaninya, agar syukurnya benar-benar termanifestasi dan bias diteladani yang lain.
Namun bagi para penempuh ia akan mudah kagum pada diri sendiri, dan merasa cukup serta berakhir dengan takabur. Para pemula harus mewujudkan kefanaannya, hatinya lari dari pandangan makhluk menuju pandanganNya, menyembunyikan amal dan ihwal ruhaninya. Namun bila kefanaannya sempurna dan baqo’nya termaujud dalam hakikatnya, ia senantiasa bersama Allah Swt, maka biula Allah menghendaki untuk menampakkan ia tampakkan, jika Allah menghendaki menyembunyikan, ia sembunyikan. Ia sama sekali tidak berkait dengan soal tampak dan tersembunyi. Semua berkait dengan perintahNya belaka.
Ibnu Athaillah as-Sakandary meneruskan:
“Sembunyikan pandangan makhluk kepadamu dengan melihat pandangan Allah padamu, dan hilangkan penerimaan makhluk padamu, dengan melihat penerimaan Allah swt padamu.”
Maksudnya, jangan menginginkan pujian, diterima dan dihormati oleh manusia atas apa yang ada dalam diri anda, namun lebih konsentrasi kesenangan agar anda lebih diterima oleh Allah Swt.
Bagaimana pandangan makhluk kepadamu bisa merusak hatimu dengan Allah Swt, oleh karena itu rindumu dan rasa sukamu jangan pernah ada kecuali hanya demi pandangan Allah Swt padamu.
Apalagi jika anda berfikir agar citra anda naik di hadapan publik, nama anda agar dikenal, kemampuan anda disegani, ilmu anda dijadikan rujukan, amal anda dinilai besar, justru akan meracuni hatimu. Datangnya public dihadapanmu sebelum anda meraih kesempurnaan, akan melahirkan dampak psikologis yang membayakan hatimu, mulai dari rasa bangga, merasa lebih, terhormat, dan prestisius lain yang bisa merobek keutuhan hatimu kepada Allah Swt.
Sebagian sufi mengatakan, “Orang yang benar adalah yang tidak peduli, jikalau keluar nilai lebih dari yang muncul dari hati para makhluk terhadap kebaikan hatinya, juga tidak suka jika ada seberat atom amalnya dilihat manusia, tidak benci jika amal buruknya dilihat orang lain, karena kebenciannya itu menunjukkan bahwa ia ingin punya nilai lebih di hadapan makhluk. Jelas itu bukan tergolongkan keikhlasan orang yang benar.”

Selasa, 05 Agustus 2014

Sukses Ruhani


Ibnu Ath-thailah Ass-Sakandari
”Diantara tanda-tanda peneguhan Allah Azza wa-Jalla kepadamu dalam suatu hal, adalah peneguhanNya padamu di dalamnya disertai keberhasilan.”
Dalam soal ibadah kita butuh kemantapan dan peneguhan yang kokoh. Namun peneguhan itu tetap datang dari Allah Azza wa-Jalla, dan karena itu kita perlu mengenal apakah posisi kita sedang diberi keteguhan oleh Allah Azza wa-Jalla dalam suatu hal, khususnya ibadah, atau amaliyah lainnya?
Tanda-tanda peneguhan itulah yang perlu kita cermati. Diantaranya adalah keberhasilan anda dalam membuahkan konsistensi terhadap suatu perkara tersebut. Buah dari keteguhan dalam menempuh Jalan Allah adalah akhlak dan adab yang mulia.
Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily ra, mengatakan, “Faidahnya karomah itu adalah pengenalan rasa yaqin dari Allah Swt. melalui Ilmu, Qudrat dan IradatNya serta Sifat-sifat AzaliNya yang terpadu, tidak sama sekali terpisah, dan perkara yang tidak sama sekali terpisah. Seakan-akan satu sifat yang tunggal yang berdiri dengan Dzat Yang Satu, yang menjadi sama antara orang yang mengenal Allah Swt. melalui NurNya, atau mengenal Allah Swt. melalui TindakanNya.”

Buah dari karomah adalah Istiqomah dan yaqin.
Buah dari syukur adalah bertambahnya nikmat, buah dari nikmat adalah bertambah syukurnya.
Buah dari sabar adalah ridho,
Buah dari memandang anugerahNya adalah amal ibadah.
Buah dari kesadaran dosa adalah taubat, dan taubat sesungguhnya buah dari ampunanNya.
Buah dari ma’rifat adalah terus memandangNya (musyahadah).
Sedangkan buah musyahadah adalah tidak memandang kecuali hanya padaNya. Ia fana’, lalu ma’rifat, lalu mahabbah, lalu berbuah untuk Baqa’ Billah Rahmatan lil’Alamin.
Amaliyah mu’min sejati selalu membuahkan tiga hal: Amaliyah Islam, membuahkan ibadah lahiriyah syar’iyyah, termaujud dalam taubat, taqwa dan istiqomahnya.
Amaliyah Iman, membuahkan ubudiyah bathiniyah, penataan batin dan periasan akhlaq batin yang indah, dan termaujud dalam sikap batin yang benar, ikhlas dan ketenangan.
Amaliyah Ihsan, membuahkan ‘abudah rahasia batin, dalam maujud muroqobah, musyahadah dan ma’rifatnya.

Senin, 04 Agustus 2014

Rukun kedua: Tingkah laku ruhani

Tingkah laku ruhani ini merupakan buah dari pengetahuan di atas. Yaitu, rasa syukur kepada Sang Pemberi nikmat yang disertai dengan ketundukan dan pengagungan.

Orang yang dihadiahi seekor kuda oleh seorang raja, rasa gembira muncul dari tiga hal. Pertama, gembira karena bisa memperoleh manfaat dari kuda tersebut. Kedua, gembira karena hal tersebut merupakan pertanda, bahwa sang raja sangat memperhatikannya. Dia akan diberi hadiah lebih besar lagi dari sekadar seekor kuda. Ketiga, bahwa agar kuda itu menjadi kendaraannya untuk menghadap raja dan mengabdi kepadanya.
Sasaran sikap pertama, bukanlah bentuk syukur. Itu sekadar rasa gembira terhadap nikmat, bukan rasa syukur terhadap sang pemberi nikmat. Sikap kedua, dikategorikan syukur, namun syukur yang lemah jika dibanding dengan sikap ketiga. Sasaran dengan sikap ketiga itu menunjukkan, bahwa syukur yang sempurna adalah, rasa syukur atas karunia atau dibukanya pintu nikmat oleh Allah. Bukan rasa syukur yang berupa kegembiraan terhadap nikmat, dan perspektif nikmat itu sendiri, yang terkadang malah melalaikan Allah swt. Tetapi dari sisi, bahwa nikmat itu merupakan perantara kepada-Nya, sebab dengan nikmat itulah kebaikan-kebaikan menjadi sempurna.

Tanda-tandanya adalah, dia tidak bersuka cita dengan segala macam nikmat yang dapat melupakan dirinya kepada Allah Swt, tapi justru bersedih karenanya. Ia justru bersuka cita karena adanya larangan-larangan Allah yang berupa kesibukan dengan urusan duniawi dan segala bentuk kenikmatannya. Inilah bentuk syukur yang paling sempurna.
Orang yang tidak bisa merealisasikan syukur dengan versi yang sempurna ini ia wajib bersyukur dengan versi kedua.
Sedangkan syukur dengan versi pertama, bukanlah syukur. Itu sekadar rasa gembira terhadap nikmat yangjatuh ke tangannya, bukan rasa syukur kepada Sang Pemberi nikmat.

Rukun ketiga: Amal
Artinya, dengan nikmat tersebut untuk mencintai-Nya, bukan durhaka kepada-Nya. Yang demikian ini, hanya dipahami orang yang mengenal hikmah Allah kepada seluruh makhluk-Nya. Mengapa Dia menciptakan segala sesuatu? Penjelasan tentang hal ini sangat panjang. Uraiannya penulis jelaskan dalam kitab Al-Ihya’. Antara lain, misalnya dia harus tahu, bahwa mata sendiri adalah nikmat dari Allah. Mensyukuri mata adalah menggunakannya untuk menelaah Kitab Allah, untuk mengkaji ilmu pengetahuan, melakukan studi dan riset tentang langit dan bumi, agar dia mampu menyerap pelajaran darinya dan mengagungkan Sang Penciptanya. Dia juga harus menutupi matanya dari segala bentuk aurat kaum Muslimin.
Kemudian menggunakan telinganya untuk menyimak peringatan dan segala hal yang bermanfaat di akhirat nanti, berpaling dari aktivitas mendengarkan kata-kata keji dan berlebihan.

Menggunakan lisan untuk berdzikir dan memuji Allah, sebagai rasa syukur tanpa keluhan. Sebab, orang yang ditanya tentang keadaannya, lalu mengeluh, maka dia itu tergolong pelaku maksiat. Karena dia mengadukan milik Sang Maha Raja kepada seorang budak hina yang tidak dapat berbuat apa pun. Sebaliknya, bila bersyukur, maka dia tergolong orang taat.
Mensyukuri hati, berarti menggunakannya untuk berpikir, bertafakur, dzikir, berma’rifat, merahasiakan kebaikan dari niat yang baik.
Demikian pula dengan tangan, kaki dan seluruh anggota tubuh, seluruh harta-benda dan hal-hal lainnya yang tidak terbatas.

Syukur Sempurna
Yang mampu mencapai syukur sempurna adalah orang yang dilapangkan oleh Allah Swt. untuk menerima Islam, yang berarti juga ia mendapat cahaya dari Tuhannya. Ketika ia memandang segala yang ada, yang dilihat adalah hikmah, rahasia dan cinta kasih Allah kepada makhluk-Nya.
Bagi orang yang belum terbuka atau belum dibukakan rahasia-rahasia itu, harus mengikuti sunnah dan aturan-aturan syariat. Sebab, di balik semua itu terdapat rahasia-rahasia syukur.

Seyogyanya dia pun tahu, jika memandang kepada wanita yang bukan muhrim itu berarti dia tidak mensyukuri nikmat mata dan nikmat matahari. Sebab, seluruh nikmat, tidak bisa dilihat secara sempurna, kecuali dengan mata. Sedangkan melihat itu tidak akan terwujud tanpa mata dan cahaya matahari, sementara matahari hanya bisa sempurna dengan langit. Berarti dia tidak pula bersyukur atas nikmat Allah yang ada di langit dan di bumi.
Analogikan semua bentuk kemaksiatan dengan wacana tersebut. Karena maksiat itu sendiri terwujud, disebabkan adanya penciptaan langit dan bumi.
Ini adalah masalah yang dalam dan sangat luas, kami bahas dalam Bab “Syukur” pada kitab lhya’. Kami cukup memberikan satu contoh di sini: Allah menciptakan dinar dan dirham ibarat sebagai hakim dalam segala hubungan. Seluruh harga ditentukan dengan dinar dan dirham. Kalau tidak karenanya, seluruh hubungan sosial ekonomi terhalang. Bagaimana jadinya, membeli pakaian dengan minyak za’faran, dan binatang ternak dibeli dengan makanan? Dinar dan dirham, tidak memiliki hubungan, kecuali sebagai spirit harta-benda. Perspektif yang mengukur keduanya adalah fungsinya sebagai mata uang kontan. Orang yang menyimpan dirham dan dinar, seperti orang yang menahan seorang hakim Muslim, sehingga seluruh hukum terabaikan.
Orang yang menjadikan salah satu di antara dirham dan dinar sebagai milik pribadi, dia sama saja dengan mempekerjakan salah seorang hakim kaum Muslimin di bidang pertanian dan tekstil, yang bisa dilakukan oleh siapa saja, sehingga hukum menjadi tidak berlaku. Ini lebih parah lagi dibanding penahanan.

Barangsiapa membungakan dirham dan dinar, serta menjadikan sebagai sasaran perdagangannya dengan jalan menukar yang baik dengan yang jelek, itu sama halnya dengan orang yang memberi kesibukan seorang hakim sehingga lalai terhadap hukum. Kemudian ia jadikan sebagai bahan ejekan untuk dirinya, menyuruhnya untuk mengumpulkan kayu bakar, menyapu dan mengusahakan makanan pokok.
Itu semua merupakan tindakan lalim dan rekayasa terhadap hukum Allah Swt. atas makhluk dan hamba-hamba-Nya, serta merupakan tindakan memusuhi kecintaan kepada Allah Swt.

Siapa yang dibukakan cahaya mata hatinya, dia hanya tahu pada syariat verbal tanpa makna sebenarnya. Difirmankan kepadanya:
“Orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, ‘lnilah harta-bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu’.” (Q.s. At-Taubah: 34-35).

Ditegaskan pula, “Barangsiapa minum dengan menggunakan bejana dari emas atau perak, maka seakan-akan api neraka jahannam bergolak dalam perutnya.”, Firman-Nya:
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (Q.s. Al-Baqarah: 275).

Orang-orang yang saleh hanya terpaku pada aturan-aturan syariat, tapi tidak mengetahui rahasia-rahasianya. Sedangkan orang-orang arifin, bila telah mengetahui sendiri rahasia-rahasia dan telah menyaksikan langsung bukti-bukti syariat, semakin bertambahlah cahayanya. Sementara orang-orang buta yang bodoh, hanya mengerti aturan-aturan syariat belaka, mereka terlepas dari seluruh rahasia. Mereka tidak seperti hamba-hamba yang takwa, dan tidak seperti orang-orang merdeka yang mulia. Merekalah yang oleh Allah difirmankan:
“... akan tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) dari pada-Ku ...“ (Q.s. As-Sajdah: 13).

Dan Allah Swt. berfirman:
“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa jang diturunkan kepadamu dan Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Sesungguhnya menjadi ingatlah orang-orang yang memiliki lubuk hati.”
(Q.s. Ar-Ra’d: 19).

Allah Swt. juga berfirman:
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dulunya adalah orang yang melihat?’Allah berfirman, ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan’.” (Q.s. Thaha: 124-126).

Tanda-tanda kebesaran Allah Swt. dan hikmah-Nya terdapat pada makhluk-Nya. Hal ini telah disampaikan kepada manusia melalui lisan para Nabi shalawat dan salam semoga terlimpah kepada mereka— seperti yang dijelaskan dalam globalitas syariat, dari awal sampai akhir. Tidak satu pun dari aturan-aturan syariat, yang tidak mengandung rahasia, keistimewaan dan hikmah, yang bisa dimengerti oleh orang yang mengetahui, namun diingkari oleh orang yang tidak mengenalnya.

Penjelasan tentang masalah ini sangat panjang, silakan Anda membacanya dalam Bab “Syukur” di kitab Ihya’.
Syukur tidak akan sempurna, kecuali orang yang teguh demi Allah saja, mengerjakan apa pun demi Allah, bukan untukyang lain, cintanya hanya kepada Allah Swt. Selanjutnya kami uraikan prinsip ikhlas dan jujur.

Syukur

Al-Ghazali
Allah Swt. telah berfirman: ”Dan sedikit sekali dan hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (Q.s. Saba’: 13), “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (Q.s. Ibrahim: 7).

Ketika bertahajjud Rasulullah Saw. menangis, lalu Aisyah r.a. bertanya, “Apa yang menyebabkan Rasulullah menangis, bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosa Anda yang terdahulu dan yang akan datang?”

Rasulullah Saw. Menjawab, ”Apakah aku tidak akan menjadi hamba yang bersyukur?”
Rasulullah Saw juga bersabda, ”Pada hari Kiamat diserukan kepada orang-orang yang suka memuja Allah, agar bangun. Maka bangkitlah segolongan manusia, lalu ditegakkan sebuah panji bagi mereka, kemudian mereka masuk surga.” Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah orang-orang yang suka memuji itu?” Beliau menjawab, “Mereka yang selalu bersyukur kepada Allah setiap saat.”
Sabdanya, “Pujian itu merupakan pakaian Yang Maha Pengasih.”

Maqam Syukur
Syukur termasuk maqam yang tinggi. Maqam syukur lebih tinggi dari sabar, khauf, zuhud dan maqam-maqam lainnya yang telah disinyalir sebelumnya. Sebab, maqam-maqam itu tidak diproyeksikan untuk diri sendiri, tapi untuk pihak lain. Sabar misalnya, ditujukan untuk menaklukkan hawa nafsu, khauf merupakan cambuk yang menggiring orang yang takut menuju maqam-maqam yang terpuji, dan zuhud merupakan sikap melepaskan diri dari ikatan-ikatan hubungan yang bisa melupakan Allah Swt. Sedangkan syukur itu dimaksudkan untuk diri sendiri, karenanya, ia tidak terputus di dalam surga. Sedangkan maqam-maqam lainnya, tobat, khauf, sabar dan zuhud tidak ada lagi di surga. Maqam-maqam itu telah terputus dan habis masa berlakunya. Beda dengan syukur, ia abadi di dalam surga. Itulah sebabnya Allah Swt. berfirman:
“Dan penutup doa mereka (penghuni surga) ialah, ‘Alhamdulillahi Rabbil Alaamiin (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam)’.” (Q.s. Yunus: 10).

Anda akan mengetahui hal tersebut, jika Anda telah mengerti tentang hakikat syukur itu sendiri yang terdiri dari tiga rukun: Ilmu, tingkah laku dan amal.

Rukun pertama: Ilmu
Ilmu dalam konteks ini berarti mengetahui dan mengerti tentang nikmat dari Dzat Pemberi nikmat. Seluruh nikmat berasal dari Allah Swt, Dia-lah Yang Maha Tunggal. Seluruh perantaranya merupakan obyek yang ditundukkan. Pengetahuan dan pengertian semacam ini ada di belakang penyucian dari tauhid. Keduanya masuk dalam kategori syukur; bahkan tahap pertama dalam pengertian atau pengenalan iman adalah penyucian (taqdis).
Jika telah mengenal Dzat Yang Qudus, Anda telah tahu bahwa Yang Qudus itu tiada lain hanyalah Dzat Yang Esa, maka inilah yang disebut tauhid.
Kemudian, jika Anda telah mengerti bahwa seluruh yang ada di alam semesta ini merupakan hal yang diciptakan dan bersumber dari Yang Maha Tunggal itu, dan seluruhnya merupakan nikmat dari-Nya, maka itulah yang disebut pujian (al-hamdu).

Dengan struktur sedemikian rupa, diisyaratkan dalam sabda Rasulullah Saw: “Barangsiapa mengucapkan Subhanallah (Maha Suci Allah), baginya sepuluh kebaikan, dan barangsiapa mengucapkan La Ilaha Illallah (tiada Tuhan selain Allah), baginya duapuluh kebaikan, dan barangsiapa mengucapkan Alhamdulillah (segala puji bagi Allah), maka baginya tigapuluh kebaikan.”

Yang demikian itu, karena penyucian dan pentauhidan, sekaligus masuk dalam lingkup pujian terhadap Allah Swt. Derajat-derajat itu dikriteriakan dengan pengetahuan tentang struktur tersebut. Sementara keutamaan gerak ucapan, bergantung pada titik tolak peluncurannya dan pengetahuan atau bergantung sejauhmana ucapan itu mampu memperbaharui akidah dalam kalbu. Sebab, mulut merupakan sarana untuk menafIkan kelalaian agar pengaruh kealpaan itu bisa musnah.

Jika Anda berkeyakinan, bahwa ada pihak lain selain Allah mempunyai peran dalam nikmat yang tercurah kepada Anda, maka pujian Anda tidak sah dan tidak benar, sehingga ma’rifat dan syukur Anda tidak sempurna.

Anda serupa dengan orang yang memperoleh hadiah dari raja. Orang itu melihat bahwa dalam pemberian hadiah tersebut terdapat campur tangan seorang menteri. Karena turut mempermudah dan mempercepat pemberian hadiah tersebut. Semua itu merupakan dualisme dalam nikmat. Ketika menerima nikmat itu, rasa gembira anda mendua; kepada si perantara dan kepada Sang Maha Pemberi.

Benar, jika Anda misalnya, melihat bahwa anugerah hadiah kepada Anda karena penandatanganan sang raja dengan penanya, maka pena itu jangan sampai mengurangi kadar syukur Anda. Sebab, Anda tahu bahwa pena tersebut tunduk dan ditundukkan oleh-Nya.
Jadi, pena tersebut tidak ikut campur tangan dan melakukan intervensi apa pun dalam nikmat. Sebab itu, janganlah kalbu Anda mendua, mengarahkan rasa gembira pada pena dan mengarahkan rasa syukur kepada sang raja. Karena itu pula, kadang-kadang tidak menoleh kepada bendahara dan wakilnya, yang dia tahu bahwa mereka berdua tunduk dan terpaksa memberi setelah adanya perintah. Keduanya tertundukkan atau tertaklukkan. Namun keduanya tidak berperan serta (turut campur tangan) dalam penganugerahan nikmat atau hadiah.

Begitu pula bila matahati seseorang telah terbuka. Ia tahu bahwa matahari, bulan dan bintang-bintang ditundukkan dengan perintah Allah Swt, seperti halnya pena, kertas dan tinta ketika dibuat penandatanganan. Hati manusia adalah perbendaharaan ilmu Allah, kunci-kuncinya ada di tangan Allah Swt. Lalu Allah membuka perbendaharaan tersebut dengan menundukkan beberapa perantara yang pasti, hingga yakin bahwa kebaikan perbendaharaan itu terdapat dalam penyerahan, misalnya. Ketika demikian, penyerahan itu tidak bisa ditinggalkan. Karena itu, ia terdesak dan perlu memilih faktor-faktor ikhtiar tersebut, sebab tidak seorang pun memberi sesuatu kepada Anda, kecuali untuk tujuan pribadi, yaitu untuk suatu keuntungan tertentu di masa yang akan datang dan untuk mendapatkan pujian pada saat itu pula, atau tujuan-tujuan lainnya. Dan andaikata dia tidak tahu, bahwa keuntungan dirinya tiada bermanfaat bagi diri Anda, dia tidak akan memberi sesuatu kepada Anda. Jadi, dia itu bukanlah pemberi nikmat atau anugerah kepada Anda, sebab dengan pemberian itu ia mempunyai rencana dan usaha tersendiri bagi kepentingan dirinya. Pemberi nikmat yang sebenarnya kepada Anda itu adalah, yang mampu menundukkan seluruh faktor atau sebab kepadanya. Dia juga menyatakan pada dirinya, bahwa tujuannya bergantung pada penunaian dan pemberian nikmat.

Jika Anda telah paham dan mengerti tentang persoalan di atas, Andalah seorang yang bertauhid dan bersyukur, bahkan pemahaman dan pengertian semacam ini merupakan inti syukur.
Nabi Musa as. dalam munajat beliau pernah berkata, “Tuhanku, Engkau menciptakan Adam dengan tangan-Mu sendiri, kemudian Engkau kerjakan, Engkau kerjakan sendiri. Lalu jika demikian, bagaimana mensyukuri-Mu?”
Allah Swt. menjawab, “Dia cukup tahu bahwa hal itu berasal dari Ku, pengertiannya merupakan syukur (kepada-Ku).”

Kebutuhan Sabar


Kebutuhan akan sifat dan sikap sabar berlaku umum dalam segala hal. Karena segala peristiwa yang ditemui oleh seorang hamba dalam hidup ini, tidak lepas dari dua bentuk. Pertama, ia sepakat dengan hawa nafsunya. Kedua, bertentangan dan bertolak belakang dengan hawa nafsunya.

Jika ia mampu menyelaraskan dengan kesenangannya, seperti kesehatan, kesejahteraan, kekayaan, jabatan, kedudukan dan banyak anak. Betapa itu semua sangat membutuhkan sabar. Bila (seseorang) tidak mampu menahan hawa nafsunya, ia akan bersikap congkak bersenang-senang dan selalu mengikuti hawa nafsu; sehingga ia melupakan awal dan akhirnya, ujung dan pangkalnya. Karena itu, para sahabat —semoga Allah meridhai mereka— berkata, “Kami diuji dengan kesengsaraan, maka kami dapat bersabar. Kami juga diuji dengan kesenangan, lalu kami tidak mampu bersabar.”

Itulah sebabnya dinyatakan, “Setiap orang Mukmin mampu bersabar terhadap bencana yang menimpanya, namun tidak dapat bersabar atas kesenangan yang dianugerahkan kepadanya, kecuali orang yang benar (orang yang jujur).”

Bersabar terhadap kemewahan, artinya tidak cenderung kepadanya, dia sadar sepenuhnya bahwa itu merupakan titipan baginya. Anugerah kebahagiaan itu mampu mengantarkannya pada (maqam) kedekatan kepada-Nya. Dia tidak larut dalam kenikmatan dan kelalaian, dia memenuhi hak bersyukur atas nikmat. Untuk itu penjelasannya amat panjang.

Sedangkan sabar, yang bertentangan atau bertolak belakang dengan hawa nafsu ini terbagi menjadi empat macam:

Pertama: Sabar dalam taat.
Nafsu sering berpaling dari sebagian bentuk ketaatan, seperti rasa malas dalam salat, sifat kikir dalam zakat; dan rasa malas serta kikir secara bersamaan, dalam haji dan jihad. Bersabar dalam taat, merupakan suatu perbuatan yang sangat berat dan sulit.

Seorang yang taat membutuhkan kesabaran dalam tiga hal:
Mengawali ibadat dengan rasa ikhlas, bersabar dari kotoran-kotoran riya’, tipudaya setan dan tipudaya nafsu.

Ketika beramal, atau di tengah-tengah melaksanakan ibadat, diperlukan kesabaran. Agar tidak malas untuk mewujudkan segala rukun dan sunnah-sunnahnya. Dilaksanakan dengan tata aturan yang benar disertai dengan adab dan kehadiran hati serta membuang was-was.

Setelah melaksanakan ibadat, ia hendaknya bersabar untuk tidak menyebutkan dan menyebarluaskan amaliahnya, baik itu dengan niatan riya’ ataupun agar didengar orang lain (sum’ah).
Semua itu merupakan sikap yang sangat berat untuk mengalahkan nafsu.

Kedua: Sabar terhadap maksiat.
Rasulullah Saw. telah bersabda, “Seorang pejuang adalah orang yang memerangi hawa nafsunya, dan orang yang hijrah itu adalah orang yang meninggalkan keburukan.”

Bersikap sabar terhadap maksiat lebih berat dan sulit lagi, apalagi terhadap maksiat yang sudah menjadi watak kebiasaan. Sebab, pasukan yang muncul untuk menghadapi dorongan-dorongan keagamaan di sini terdiri dari dua lapisan; pasukan hawa nafsu dan pasukan watak kebiasaan.

Bila keduanya dianggap sepele, maka yang dapat bersabar terhadap kebiasaan tersebut hanyalah orang yang berlaku benar (as-shiddiq). Maksiat lisan misalnya, mudah dan sepele, seperti ghibah, dusta, percekcokan, dan berbangga diri. Ini semua sangat membutuhkan ragam sabar yang paling tangguh.

Ketiga: Sabar terhadap hal yang tidak berkaitan dengan ikhtiar hamba, namun dia berikhtiar pula dalam menangkal dan memperbaikinya.

Seperti gangguan dari orang lain, baik itu dengan tangan atau lisan. Bersabar terhadap hal tersebut, dilakukan dengan tanpa membalas. Sikap tersebut kadang-kadang wajib dan terkadang juga sunnah.

Sebagian sahabat berkata, “Kami tidak menganggap keimanan seseorang itu sebagai keimanan, bila dia tidak dapat bersabar terhadap gangguan orang lain.”

Allah Swt. berfirman:
“Dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri,” (Q.s. Ibrahim: 12).

“janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakallah kepada Allah.” (Q.s. Al-Ahzab: 48).

“Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang sujud (salat).” (Q.s. Al-Hijr: 97-8).

Ke empat: Sabar terhadap peristiwa yang awal dan akhirnya, yang tidak masuk kategori ikhtiar.
Seperti halnya aneka ragam musibah, meninggalnya beberapa orang tercinta, musnahnya harta-benda, sakit dan penyakit, kehilangan sebagian anggota badan, dan berbagai petaka lainnya. Bersabar terhadap hal tersebut merupakan derajat yang tertinggi.

Ibnu Abbas berkata, “Sabar dalam Al-Qur’an terdiri dan tiga tingkatan (maqam): Bersabar dalam melakukan kewajiban-kewajiban, memiliki tiga ratus derajat; bersabar terhadap larangan-larangan Allah memiliki enam ratus derajat; dan bersabar terhadap musibah, ketika goncangan pertama, memiliki sembilan ratus derajat.”

Rasulullah Saw. bersabda, ”Allah Swt. berfirman, ‘Bila Aku memberi cobaan kepada hamba-Ku dengan suatu musibah, lalu dia bersabar dan tidak mengadukan kepada para penjenguknya, maka Aku menggantikan baginya daging yang lebih baik dari dagingnya, dan darah yang lebih baik dari darahnya. Jika Aku menyembuhkannya, Aku menggantinya dan dia pun tidak punya dosa, dan jika Aku mematikannya, maka dia berpulang ke rahmat-Ku’.”

Rasulullah Saw juga bersabda, ”Allah Swt. berfirman, Apabila Aku hadapkan kepada salah seorang hamba-Ku suatu musibah pada tubuhnya atau pada hartanya, atau pada anaknya. Kemudian dia menerimanya dengan kesabaran yang simpatik, baik, maka pada hari Kiamat Aku malu untuk menegakkan timbangan amal baginya atau untuk nembentangkan sebuah catatan untuknya’.”

Rasulullah saw. bersabda, “Menunggu kelapangan dengan sabar adalah ibadat.”

Sabdanya pula, “Di antara bentuk pengagungan Allah swt. dan pengenalan terhadap hak-Nya adalah, kalian tidak mengadukan sakit kalian dan tidak menyebutkan musibah yang menimpa diri kalian”

Anda telah paham, bahwa diri Anda membutuhkan kesabaran kapan saja. Dengan demikian, sabar itu adalah setengah dan iman, sedangkan setengahnya lagi berkaitan dengan amal perbuatan, yaitu syukur.

Rasulullah Saw. telah bersabda, “Iman itu terdiri dan dua bagian: Bagian pertama adalah sabar, bagian kedua adalah syukur”.