Laman

Senin, 25 Agustus 2014

POSISI ANDA DI DEPAN ALLAH


Kang…, bisa nggak kita mengetahui, kedudukan kita saat ini di depan Allah?” Tanya Dulkamdi kepada Kang Saleh.
Kang Saleh hanya menghela nafas panjang. Ia pandangi sahabatnya itu lama sekali, sampai Dulkamdi kelihatan tidak enak, khawatir menyinggung Kang Saleh, atau jangan-jangan pertanyaan itu sudah masuk kedaerah rawan.
Dan, cess. Airmata Kang Saleh tumpah di pipinya.
Dulkamdi semakin merasakan tidak enak dibenaknya. Rasanya ingin segera pergi dari kedai itu. Tapi Pardi tiba-tiba dating, tanpa basa-basi meminta sisa kopi Dulkamdi yang tinggal seperempat cangkir.
“Dul. Kita sudah lama tidak bersenang-senang. Kalau sesekali kita menuruti hawa nafsu kita, apakah nggak boleh Dul, ya?”

Dulkamdi justru terdiam. Ia injak telapak kaki Pardi, memberi tanda, bahwa suasananya kurang pas bicara seperti itu. Dan Pardi jadi paham, ketika memandang Kang Saleh, yang matanya masih basah.
Dua sahabat itu jadi clingukan.
Tiba-tiba suara Kang Saleh terasa parau, usai Pardi bicara seperti itu.
“Jika anda mulai berorientasi serba duniawi, memburu duniawi, itu tandanya Allah sedang menghina anda. Jika anda berorientasi dalam ubudiah, itu tandanya Allah sedang menolong anda. Jika anda sedang sibuk dengan urusan sesame manusia, sampai lupa dengan Allah, itu tandanya Allah sedang berpaling dari diri Anda. Jika anda dijauhkan dari rintangan-rintangan menuju kepada Allah, sesungguhnya Allah sedang mendidik budi pekerti kehambaan anda. Jika anda bergairah dalam Munajad kepadaNya, itu tandanya Allah sedang mendekati Anda. Jika anda Ridha atas ketentuanNya, dan Ridha bersamaNya, itu tandanya Allah Ridha kepada diri anda… dan…” Suara Kang Saleh terhenti berganti dengan tangis yang menderu-deru.
“Mari … mari … Kita kita kirim surat Al-Fatihah kepada Syaikh Zaruq, pensyarah al-Hikam yang memunculkan mutiara hikmah tadi… al-Fatihah…” Kata Kang Saleh sambil sesenggukkan.
Lalu seisi kedai itu membaca surat al-Fatihah sambil sesenggukan pula.
Dulkamdi memandang bengong kepada Kang Saleh. Kepalanya seperti burung onta, manggut-manggut belaka. Ia benar-benar menghayati ungkapan Kang Saleh yang sangat filosaofis itu. Diam-diam ia baru paham, itulah jawaban Kang Saleh atas pertanyaan diatas, dimana posisi seorang hamba dihadapan Allah.
“Nah Di, kamu paham kan?”
“Maksudmu Dul?”
“Lha, kamu kalau mengajak kita untuk menuruti hawa nafsu, syahwat dan maksiat, itu pertanda posisi kita dihadapan Allah sedang terhina, atau Allah menghina kita, lalu kita ditakdirkan bermaksiat, mengumbar kesenangan nafsu….”
Pardi hanya bias menghela nafasnya….

AKHLAQ ALLAH


" Saya tidak faham. Kang Soleh, saya tidak mudeng, apa yang dimaksud dengan hadist Nabi, "Berakhlaqlah dengan akhlaq Allah". Saya benar-benar tidak ngeh !" tanya Dulkamdi pada Kang Soleh.
Kang Soleh tidak menjawab. Ia angguk-anggukan lututnya sembari menikmati lagu-lagu di radio subuh itu. Asap rokoknya terus mengepul, sementara bibirnya kadang menyunggingkan sebuah senyum.
Dulkamdi terus penasaran, tapi ia tidak mau bertanya lagi, menunggu jawaban Kang Soleh. Sementara Pardi terus melototi arah Kang Soleh, siapa tahu ada pandangan gemulai yang bisa mencerahkan jiwanya. Dan nyatanya cukup lama Kang Soleh tidak menjawab. Ia nikmati betul lagu di radio pagi itu. begitu selesai lagu indah itu, baru ia bicara. "Allah menggesekkan biola semesta jagad raya ini, kamu sekalian yang menghayatinya. Itulah simpulan dari hadist Nabi SAW itu. "
" Bukannya kita membuat miniatur biola Tuhan, lalu kita ikut menggeseknya, Kang ?" potong Pardi.
Kang Soleh hanya tersenyum. " Kalau kamu seperti itu, kamu akan terlempar ke lembah eksistensialisme, dan akhirnya kamu bisa menandingi Tuhan, minimal dirimu sendiri bisa menjadi penghalang bagi hubunganmu dengan Tuhan, karena keakuanmu akan tampak sebagai sosok hijab dirimu sendiri.
Semua yang ada di kedai Cak San terkaget sejenak. Tapi masuk akallah apa yang dikatakan Kang Soleh.
" Wah, jadi salah dong Kang Soleh, apa yang saya fahami hingga saat ini. Sebab, berakhlaqlah dengan Akhlaq Allah, menurut pemahaman saya, ya... kita meniru Allah, kita mengidentikkan diri dengan Allah, kita prototipe Allah di muka bumi. Saya membaca beberapa pandangan pemikir Islam, filosuf muslim juga begitu, lho...Kang. Jadi pandangan Kang Soleh membuat saya jadi gemetar. Pasalnya, pandangan ini bisa lebih revolusioner.." ungkap Dulmajid, seorang mahasiswa filsafat yang jadi kutu buku, kebetulan sedang liburan kampus, pulang kampung.
" Nah... nah... nah.... ! Saya kira juga lho Kang, praktiknya bagaimana sih ?" sela Pardi.
" Praktiknya yang seperti dalam tarekat sufi itu. Bagaimana kamu menghayati apa yang disebut dengan fana', lalu pertama kali kamu fana' pada Asma' Ilahi, lalu Af'al dari Sifat Ilahi, baru fana' pada Zat Ilahi. Tapi hati-hati, ketika kamu berkontemplasi tentang fana', kamu jangan terjebak pandangan seperti si Dulmajid tentang akhlaq Allah itu. "
" Kongkritnya... Kang, Kongkritnya...!"
" Begini saja, ketika kamu menyelami Asma Allah Yang Maha Lembut ( Al-Lathif ) misalnya, bukannya kamu berlembut-lembut diri. Tetapi Kemahalembutan Allah itu yang menghaguskan seluruh kemahakasaranmu, sehingga engkau sirna disana, engkau hanya seorang hamba yang fana. Bukan hamba yang mengaku-aku bisa lembut, bisa ini dan bisa itu, bisa begini dan bisa begitu dengan alasan meniru Allah. Bukan ! Misalnya lagi, ketika engkau mendengar Nama Allah Yang Maha Kuasa, maka dalam dirimu harus bersih dari apapun yang disebut kekuasaan. Kalau Allah Maha Kaya, maka dalam dirimu harus penuh dengan maha kemiskinan. Begitu seterusnya. Maka, Kyai Mursyid kan selalu membimbing hati kita agar kita tidak terjebur dalam tipu daya akal dan fikiran kita yang sering dikipasi setan itu. "
Lagu di radio pun mengalun kembali. Lagunya terasa lembut.
" Nah..... mari kita hayati lagu dan musik itu. Jangan dilihat siapa yang bernyanyi, jangan pula melihat bagaimana syair dalam lagu itu. Dengarkan musik itu sebagai suatu bunyi, dan simaklah syair sebagai kata-kata saja. Selebihnya, nyanyikan Asma'-asma' Ilahi dalam konser ruhani di hatimu. Sebab di hatimu juga ada suara biola, di jiwamu ada suara kemerduan nada, di kalbumu ada kamar yang penuh dengan drum dan akustik, di bilikmu ada seruling dan gitar. Bunyikan bersama dalam konser zikir yang sesungguhnya. Bukan zikir dalam musik, karena sesungguhnya tidak ada yang namanya musik zikir itu, " ungkap Kang Soleh mirip orasi di depan seniman-seniman yang sok Islami, tetapi hatinya tidak pernah bernyanyi dalam tarian bidadari dan bunyi - bunyi tasbih.

Jangan Bingung


Dulkamdi sudah hampir divonis gila oleh orang-orang sekampung. Kemanapun ia berjalan, selalu menyanyikan lagu-lagu. Kalau bukan lagu-lagu cinta seperti orang kasmaran, maka ia lagukan kisah penderitaan yang teramat dalam. Lalu airmatanya meleleh membelah pipinya yang kurus mongering. Ia sudah seperti majnun.
“Bagaimana nasib sahabat kita itu Kang?” Tanya Pardi.
“Nanti juga waras.”
“Jangan lama-lama Kang gilanya…”
“Memang saya ini Gusti Allah apa?”
“lho ya, saya nggak tega lihat Dulkamdi seperti itu…”
“Saya juga! Tapi Insya Allah nanti sore juga sudah kelar gilanya…”
“Kenapa nggak nanti siang Kang?”
“Biarlah dia lagi menikmati asmaranya dengan Allah.”

Dari jarak yang jauh, Dulkamdi memang tampak seperti kegirangan, lalu berjoged, bahkan tertawa terbahak-bahak. Ia bersya’ir dengan lagu yang begitu pahit :
Dunia sudah tua, lebih tua dari nenek tua
Kenapa kau buru dunia yang renta
Kenapa….?
Lihatlah yang selalu muda
Para bidadari di surga
Dengan senyum bunga-bunga jamaliyahNya
Tapi kenapa kalian berpaling dari jaga?
Lalu berkhayal tentang syurga?
Lalu bermimpi tentang janji
Wahai para hamba pemalas?
Oh… dunia sudah tua
Sejak dulu yang begitu
Sejak kapan yang begini
Sejak kita bermimpi
Ya…. Begitu
Ha….ha….ha….
“Minum kopi dulu Dul, biar seger.” Ucap Pardi.
“ya…ya… saya akan nikmati kopi. Tapi bukan rasa kopi ini yang nikmat bagiku. Tapi dibalik kopi ini. Dibalik kopi ini ada nama-nama Allah, ada sifat-sifat Allah, ada perbuatan-perbuatan Allah… Nikmattt tenaaan. Allah… Allah… Allah… kopi keseduhan Allah…. Hmmmmm…. Kalian semua telah musrik dengan meminum kopi murni ini… Hmmmmm….”
Gegerlah seisi kedai itu. Dulkamdi benar-benar gila kepada Allah. Dulkamdi telah majdzub.
“Ini kopi Dul, bukan Allah!”
“Saya tahu. Tapi kopi ini menjadi hijab antara kamu dengan Allah. Kopi ini menjadi lebih besar dimata hatimu dibanding kebesaran Allah. Hmmmmm…..”
“Sadar Dul, sadar!”
“Justru kamu semua ini yang nggak sadar. Setiap hari minum kopi tapi tidak pernah mendengarkan tasbihnya kopi. Tega benar, kalian semua ini. Kopi mendo’akan anda, tapi kenapa kopi anda bikin sebagai sungai dalam kencing anda…. Ha…. Ha,,,,, ha…. Kalian sudah gila semua.”
Dulkamdi lalu menangis tersedu-sedu. Tiba-tiba Kang Saleh mendekatinya. Memeluknya erat-erat.
“Dul, mari kita pakai baju Islam dengan syari’atnya. Mari kita alirkan darah daging keimanan denngan dzikirnya. Mari kita getarkan Allah dalam ruhnya.”
“Lalu gimana Kang, aku ini?”
“Pejamkan matamu Dul, Allah mencintaimu dengan tirai nama-namaNya. Nah, pakailah jubah Ilahi itu, dengan penuh riasan warni dzikrillah.”
Pardi memejamkan matanya. Lalu ia buka kembali. Sesaat ia sadarkan diri. Lalu ia raih air putih di kendi kedai itu, ia minum habis, laksana pengembara di kedahagaan sahara….

MENINGGALKAN DERAJAT HEWANI


Dulkamdi ngelamun panjang, sampai tak karuan. Betapa tidak? Sapi yang ia pelihara sejak setahun yang lalu, kini harganya tetap sama saja, gara-gara menjamurnya daging sapi import dari luar negri. Produk dalam negri anjlok lagi, sehingga harga sapi untuk ritual qurban sangat murah.
“Kamu mestinya bersyukur Dul, banyak orang yang berqurban berduyun-duyun. Alias dengan rombongan,,,,” tegur Pardi.
“Maksudmu?”
“Lah iya, kalau orang berqurban sapi kan bias dinaiki tujuh orang. Nah, sekarang harga sapi murah, berarti kamu turut menolong banyak ummat Dul.”
“Ya, tapi….?”
“Tapi? Tidak ada tapi-tapian Dul.”

Dulkamdi terdiam. Kang Saleh hanya senyum-senyum. Ada terbesit wajah gembira di raut mukanya.
“Idul Adha ini sampean qurban sapi juga Kang?”
“Kalau perlu semua binatang kita qurbankan Di. Nggak bias kambing, ayam juga boleh, burung juga boleh. Telor juga boleh….”
Dua sahabat kaget bukan main atas ucapan Kang Saleh.
“Masa qurban selain kambing dan sapi, kerbau, boleh Kang?”
“Menurut pendapat beberapa ulama boleh. Yang penting binatang halal. Dan yang lebih penting adalah ketaqwaan dibalik qurban itu sendiri. Karena nama-nama Allah, takbir dan tahmid berkumandang disana….”
“Wah, kalau begitu saya akan menyembelih rusa saja…ha…ha.,..ha…”
“Begini, kita renungi saja betapa binatang saja rela demi Allah untuk diqurbankan. Binatang itu ingin sekali naik derajatnya, karena bias saja para binatang itu sudah bosan hidup dalam kehewanan nafsunya. Ia rela dimakan manusia, ummat Islam, agar derajatnya naik dari binatang menjadi daging yang dimakan manusia, lalu nanti jadi daging manusia, kelak diakhirat dipanggil dengan panggilan manusia, bukan wedus, bukan kebo, bukan sapi….”
“Wah, jangan terlalu kontroversiallah kan, kalau berpendapat….!” Protes Pardi.
“Ya tidak controversial? Lah wong mereka disembelih dengan basmallah dan takbir. Mestinya kita belajar dari para binatang itu, kerelaan mereka untuk dialirkan darah kebinatangannya. Kenapa kita tidak? Kenapa kita simpan kebinatangan kita, syahwat kita, nafsu-nadsu kita? Sadisme kita? Bukankah itu semua merupakan kebinatangan kita? Nah, ayo ramai-ramai kita alirkan darah kebinatangan kita biar terkubur, dan kelak kita lahir menjadi hamba Allah yang merdeka bersama tasbih, takbir dan tahmid.”
Dulkamdi semakin bergairah, dan seketika hilang kelesuannya, bahkan kalau perlu sapinya akan dijual lebih murah, siapa tahu, ia turut membantu orang yang ingin menyembelih hawa nafsunya, dan seluruh derajat rendah hinanya.
Takbir bersahutan diangkasa, menusuk langit menggugah seluruh kealpaan. Kita memang terus-menerus menakbiri nafsu kita yang sombong dan egois. Kita menakbiri angkara murka dan kejahatan dalam diri kita. Kita meneriakkan takbis kebusukan demi kebusukan dalam sukma kita. Kita menakbiri segala hal selain Allah. Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil hamb…

Minggu, 24 Agustus 2014

Sufi Kusir Kuda


Pagi itu, Pardi tidak tampak, pada acara majlis kedai kopi Cak San. Mereka sedang berdiksi tentang siapa, bagaimana dan seperti apa seorang wali Allah itu. Sebab di masyarakat sedang berkembang isu yang miring, kalau ada seorang putra kiai (Gus, dan maksudnya bukan Gus Dur) yang aneh atau seorang kiai yang dipanggil Gus punya perilaku aneh-aneh, langsung diklaim sebagai Wali. Sedikit-sedikit orang dikatakan Wali dan masyarakat saling mendukung, tapi di lain pihak juga ada yang kontra.
“Bukan! Dia itu bukan Wali…” kata Kang Soleh menunjuk sebuah nama yang sering disebut Gus oleh masyarakat kampung itu. “Lalu, dia itu kok hebat Kang?” tanya Dulkamdi. “Iblis saja hebat kok. Jin juga hebat, bahkan Jin pernah ikut sayembara memindah istana Bilqis ke dekat Istana Sulaiman, walau pun dalam sandiwara itu ia kalah dengan Barkhaya, teman Sulaiman yang juga Waliyullah.” “Jadi…wakh…kita bisa teripu oleh kehebatan seseorang, dong!”
“Makanya, jadi orang itu jangan mudah kagum, mudah terpesona, mudah jatuh cinta, kecuali kepada Allah. Nanti, kamu tidak bisa jernih berfikir…” “Jadi Wali itu yang bagaimana Kang?” “Wali itu adalah seseorang yang hidupnya total untuk mengabdi kepada Allah dan menghindarkan dirinya untuk maksiat kepada-Nya. Diantara karakteristiknya, Wali itu tidak pernah punya rasa takut, khawatir dan gelisah atau susah. Kewalian itu hak Allah. Jadi kamu itu, Dul, jangan bercita-cita jadi Wali, sebab Wali itu hanya hak Allah. Bisa saja Allah mengangkat dari seorang yang berpofesi kiai, artis, tukang becak, tukang ojek, gelandangan, bahkan orang yang dulunya maling terbesar.”
Mereka pada diam terhenyak dengan penjelasan Kang Soleh, sembari mereka mengintropeksi pandangan masing-masing yang melenceng soal Wali selama ini.
Apalagi masyarakat kita seringkali membuat klaim, bahwa yang didukung umat itu mesti benar dan yang tidak didukung itu salah. Padahal kebenaran itu tidak perlu dukungan. Kebenaran kadang-kadang didukung oleh mayoritas, kadang-kadang tidak punya dukungan sama sekali. Kebatilan juga begitu, kadang-kadang didukung mayoritas kadang-kadang tidak mendapat dukungan sama sekali. “Assalamu’alaikuuuuummm…..!” “Wa’alaikumusalaaaammmm….!” “Wah, darimana kamu ini Di, kok baru nongol, tanya Kang Soleh pada Pardi yang baru saja tiba dengan nafas ngos-ngosan.
Dalam tulisan ini, saya akan membuka kembali sejarah seorang wali besar yang bernama Abu ’Ali Fudhail Ibn Iyadh (723-803M.). Di mana perjalanan spiritualnya cukup menarik untuk dikaji dan dijadikan pelajaran berharga bagi para pendosa yang ingin mendapat ampunan dan keridaan-Nya. Kita tidak usah heran. Sebab, apa yang ada di dunia ini serba mungkin. Bila ada seorang maling menjadi wali, mengingat rahmat Allah lebih luas daripada murka-Nya. Menurut sejarah atau biografi para sufi, perjalanan spiritual Fudhail Ibn Iyadh boleh dibilang sangat menarik dan cukup mengagumkan. Penting kita gali nilai-niali etik dan moral dari beliau guna melahirkan kesadaran untuk berbuat dan melangkah ke arah yang lebih baik agar kita mendapat rezeki rohani berupa kesadaran dan pengertian tentang makna dan arti kehidupan, sehingga mampu menjadi orang yang berperilaku arif dan bijak.
“Begini Kang, saya tadi naik dokar. Wah, kusirnya antik, Kang. Pokoknya ceritanya panjang sekali. Kesimpulannya begini, saya kira kusir itu pasti hebat kesufiannya. Kalau saya ceritakan bisa berhari-hari baru selesai…” “Bagaimana ceritanya…” “Pokoknya hebatlah!” “Minum kopi dulu Di, minum kopi…” “Ya..ya…. Saya belum pernah jumpa kusir kuda itu. Kebetulan penumpangnya hanya saya. Dia cerita tentang filsafat dokar, roda dokar, kuda dan kendalinya, bahkan ketukan-ketukan kaki kuda, sampai jumlah ketukan dalam sekian langkah kuda. Semuanya mengandung filosufi kehidupan yang dalam. Karena itu si kusir itu menikmati betul sebagai kusir selama bertahun-tahun…” “Menurut kamu bagaimana kehidupan kusir itu?” “Lha, si kusir itu pikirannya modern seperti profesor Kang. Dia bisa bicara soal internasional, soal ekonomi dunia, sampai soal politik dalam negeri. Dia juga tahu detil bagaimana strategi perang laut dan gerilya darat. Bahkan yang aneh lagi, Pak kusir ini beristri tiga dan anaknya dua puluh enam Kang. Hebat nggak. Betul-betul hebat.” Kang Soleh tercengung mendengar cerita Pardi itu. Tiba-tiba airmatanya meleleh, giginya menekan-nekan menahan keharuan atas kisah nyata itu. Pardi pun akhirnya juga turut menangis.
“Dia telah berhasil mengendalikan dunia, telah sukses mengendalikan nafsu, telah sampai pada tujuan sebenarnya. Dan dia selalu berhasil mengendalikan kuda nafsunya, menjalankan roda dokar zikrullahnya. Subhanallah…!”

Rela Nyembah Gusti Alloh?


“ Kamu sudah kenal gusti ALLAH Dul? “ tanya pardi tiba-tiba, ketika fajar mulai menyingkap semesta.
“ wah pertanyaan kok nganeh-nganehi Di… “
“lha wajar tho,ALLAH sudah kita sembah bertahun-tahun. Jangan-Jangan kita tidak kenal… “
Dulkamdi puyeng mendengar pertanyaan yang langsung menghujam ke ulu jantungnya, sampai ke ubun-ubun pikirannya. “ tidak Di, kamu kok tiba-tiba Tanya begitu pasti ada latar belakangnya…”.
“ latar belakangnya ya kebingungan saya, soalnya sekarang banyak orang ngaku makrifat, hakikat, sampai njlimet, tapi nyatanya tidak kenal gusti ALLAH …”.
“ lhah itu soal klasik sejak jaman dahulu juga banyak manusia seperti itu. Tidak usah dipikirkan, tiwas melu edan…”
“ lha terus gimana tho Dul? “
“ gampang, coba tadi malam kiai mursyid kan melontarkan suatu hadist nabi. (“telah merasakan nikmatnya iman, orang yang rela ALLAH sebagai tuhan, islam sebagai agama dan Muhammad sebagai nabi ”)beres kan? Tidak usah puyeng-puyeng….”
“ lalu rasa tersebut macam apa, Dul? ”
“begini, ini kata kang soleh, tidak tau kang soleh ngutip dari mana, saya juga tidak tau antah-berantahnya. Katanya, rasa tersebut adalah faktor yang di bangkitkan oleh ridho’ (kerelaan) yaitu makrifat kepada allah. Dan makrifat itu adalah cahaya yang di tempatkan oleh allah dalam kalbu hamba yang di cintainya, tidak ada yang lebih besar dan lebih agung ketimbang cahaya itu, sedangkan hakikat makrifat itu adalah hidupnya hati dengan yang maha hidup, sebagaimana firman allah:
(“ adakah orang yang keadaan mati, maka kami hidupkan dia? “) begitu juga , (“ agar menjadi peringatan bagi orang yang hidup (hatinya)” ) ayat lain (“ maka kami hidpkan ia, dengan kehidupan yang baik ”).
“ itu yang ku maksud Dul…”
“ Ah itu tadi takwilan dari syeik rifa’i. beliau juga mengatakan “ siapa yang mati nafsunya maka dunianya jauh darinya,siapa yang mati hatinya akan jauh dari tuhannya.” Kata kang soleh njudul begitu saja dalam majlis kedai kopi.
Ibnu samak pernah di Tanya,” kapan seorang hamba di kenal bahwa dirinya telah sampai di hakikat makrifat?” beliau menjawab
“ manakala seorang hamba melihat ALLAH dengan mata renungan hatinya, fana dari segala selain dari-NYA.”
Dikatakan, “ makrifat berarti sirnanya pandangan melihat selain ALLAH. dimana selain ALLAH ta’ala begitu kecil bahkan di banding biji bayam sekalipun.katakanlah; ALLAH…! Lalu tinggalkan mereka…”
Matahari orang yang mencintaimu telah terbit di malam hari, lalu cahaya-NYA memendar, tak pernah surup. Matahari di siang dunia telah surup,sedangkan matahari kalbu tak pernah sirna.
Cukup kang… cukuuuup. Aku bisa edan makan sepatu nanti kaaaaang…. Cukuppp…!”
Lalu, kang soleh ngeloyor pergi di telan pagi buta, pardi dan dulkamin malah berpelukan erat, dadanya berdegup guncang. Penuh dengan zikrullah.

Cahaya Ilahi


Cahaya Ilahi sebuah tulisan yang menurut saya sangat mencerahkan, menggugah kesadaran diri tentang hati ini. Sebuah kalimat kunci yang saya ingat adalah “kalbu kita semua adalah Rumah Allah, jangan diisi dengan segala hal selain Allah. Soal-soal dunia, jangan dimasukkan dalam hati. Semua itu cukup urusan akal dan pikiran saja.” Dengan begitu, hati akan siap menerima pancaran cahaya Ilahi.
Listrik di seluruh desa tiba-tiba mati. Biasa, PLN suka byar pett, tanpa mengindahkan konsumen. Tapi kalau telat membayar rekening listrik sehari saja, petugas PLN begitu garangnya memutus aliran listrik. Untung orang-orang di desa itu, cukup menyalakan lampu minyak, kembali seperti zaman sebelum listrik masuk desa.
“Ternyata PLN lebih kejam daripada ibu tiri,” gumam Pardi sambil terus nggedumel ngalor ngidul.
Sampai pagi hari lampu listrik belum juga menyala. Kedai Cak San hanya disirami cahaya lampu ublik yang tidak terang.
“Baru saja gelap di dunia, kita sudah resah, bagaimana nanti kalau kita memasuki kegelapan di akhirat?” sindir Dulkamdi.
“Kamu jangan sok akhirat, Dul,” timpal Pardi.
“Bukan sok akhirat, tapi akhirat itu pun sebenarnya lebih dekat dibanding diri kita terhadap kita,” balas Dulkamdi dengan gaya filosufisnya.
Pardi cuma bisa bersungut-sungut. Tapi Cak San yang mendengarkan obrolan kusir dua manusia itu, hanya cengar cengir belaka. “Soal listrik mati saja kok sampai akhirat,” celetuk Cak San.
Soal urusan mati listrik dan akhirat, akhirnya jadi perdebatan sengit antara pelanggan Kedai Cak San. Mereka tentu berpendapat dengan argumentasi masing-masing, tanpa bisa dikompromikan lagi. Di satu pihak, Pardi dan sebagian yang lain, tidak menginginkan urusan fisik, empirik, dan yang serba kasat mata, dipaksakan agar menjadi sakral. Yang profan biarlah urusan dunia, dan yang sakral biarlah urusan akhirat. Sementara Dulkamdi dan Cak San terus ngotot, agar listrik itu punya hubungan langsung dengan akhirat. Listrik, betapa pun bersifat profan dan instrumental, menjadi salah satu sarana manusia bisa beribadah, dan bahkan listrik itu, betapa pun yang menemukan adalah Thomas Edison yang nonmuslim, merupakan anugerah dari titik Cahaya Ilahi di dunia.
Perdebatan itu akhirnya sedikit mengalami jeda, ketika Kang Soleh masuk. Sebab mereka yang hadir, yang pro maupun yang kontra berharap dapat solusi kompromi, setidak-tidaknya bisa berlindung di balik argumen Kang Soleh.
Tapi setelah sekian menit ditunggu, Kang Soleh diam saja. Kaki dan jemari tangannya bergerak menghentak-hentak seperti menikmati sebuah musik rancak yang indah. Kang Soleh seperti asyik dengan sendirinya.
“Kok tidak diteruskan diskusi tadi?” tanya Kang Soleh menyentak kesunyian.
“Nunggu pendapat sampean Kang…”
“Kalau semua nunggu saya, kapan kalian bisa mandiri. Orang sufi itu harus punya kemandirian jiwa, tapi tidak boleh sombong, karena di atas langit itu masih ada langit. Kalau sudah mentok betul, kita bareng-bareng datang ke mursyid kita, pasti beliau punya solusi. Yang penting jangan takut salah,” jawab Kang Soleh sedikit berdemokrasi.
“Sebenarnya persoalan kita kecil, Kang. Tapi bisa menjadi persoalan nasional, bahkan bisa juga jadi persoalan para malaikat, Kang…” celethuk Pardi.
“Saya sudah sedikit mendengar tadi…”
“Jadi bagaimana menurut sampean..?”
“Menurut saya, ya, kita tinggalkan saja soal listrik atau padamnya itu. Semuanya kan makhluk Allah. Semuanya tidak diciptakan kecuali mengandung kebenaran. Kita renungkan saja hikmahnya. Di sana banyak pelajaran berharga…”
“Soal ilmu elektronika?” sahut Dulkamdi.
“Bukan, soal hati kita. Hati kita itu Rumah Allah. Qalbul Mu’mini Baitullah. Jadi karena kalbu kita semua adalah Rumah Allah, jangan diisi dengan segala hal selain Allah. Soal-soal dunia, soal-soal yang berkait dengan jagad raya, soal-soal yang menyangkut kehidupan sehari-hari kita, jangan dimasukkan dalam hati. Semua itu cukup urusan akal dan pikiran saja. Akal kita, mata kita, telinga dan mulut kita, hidung kita, tangan dan kaki kita, untuk mencari makan saja. Hati kita untuk Allah saja, untuk Allah saja.”
“Caranya bagaimana, Kang?”
“Caranya, ya dengan kita terus menerus mengingat atau zikir kepada Allah. Hati kita yang berzikir. Kalau tidak, akan diserobot oleh iblis, setan, dan nafsu. Akal pun jangan masuk dalam hati, kita bisa stres, konslet, lalu, hati kita byar pett, padam, gelap dan nantinya bisa sesat…..”
“Nah, apa kataku, ada kan hubungan byar pett listrik dengan akhirat,” kata Dulkamdi membela diri.
“Ada kalau semuanya dikembalikan kepada Allah. Tapi kalau tidak, ya sama saja,” tangkis Pardi tidak mau kalah.
“Sudahlah. Begini saja, soal listrik yang menyala, itu disebabkan karena ada generator yang terus hidup. Jika tidak kan mati juga. Begitu pula, kalau hati kita hidup, hati kita berzikir, kalbu kita terus-menerus mengenang Ilahi, maka seluruh Rumah Allah di dalam hati kita akan bercahaya, seluruh ruang akal dan budi kita bercahaya, pikiran dan penglihatan batin kita bercahaya, dan segalanya menjadi terang benderang….
Makanya, kalau hati kita hidup, segalanya jadi jelas. Jangan sampai, dian abadi dalam hati ini, dihembus oleh setan atau nafsu. Nanti kita bisa gelagapan di tebing jurang yang gulita.”
“Ladalaaa…….!” kata mereka serempak. Sebab, secara kebetulan saja, usai Kang Soleh bicara soal Rumah Allah yang bercahaya, listrik di kampung itu menyala lagi.
Tapi, mereka tampaknya tidak terlalu peduli. Apalah arti cahaya listrik yang terang benderang, jika hati tidak lagi terang? Apalah arti matahari yang menyiramkan cahayanya, jika saja kalbu-kalbu hamba Ilahi tidak lagi hidup dalam sunyi?