Ibnu Athaillah As Sakandary
Manusia terbagi menjadi tiga kelompok dalam bertauhid dan berdzikir :
Kelompok pertama, adalah kalangan umum, yaitu kalangan pemula. Maka
tauhidnya adalah bersifat lisan (oratif) belaka, baik dalam ungkapan,
wacana, akidahnya,
dan keikhlasan, melalui Cahaya Syahadat
Tauhid, " Laa Ilaaha Illallah Muhamadur Rasululullah". Ini
diklasifikasikan tahap Islam. Kelompok kedua, kalangan Khusus Menengah,
yaitu Tauhid Qalbu, baik dalam apresiasi, kinerja qalbu maupun akidah,
serta keikhlasannya. Inilah disebut tahap Iman. Khususul Khusus, yaitu
Tauhidnya akal, baik melalui pandangan nyata, yaqin dan penyaksian
(musyahadah) kepadaNya. Inilah Tahap Ihsan.Maqomat Dzikir
Dzikir mempunyai tiga tahap (maqomat) :
Dzikir melalui Lisan : Yaitu dzikir bagi umumnya makhluk.
Dzikir melalui Qalbu : Yaitu dzikir bagi kalangan khusus dari orang beriman.
Dzikir melalui Ruh: Yaitu dzikir bagai kalangan lebih khusus, yakni
dzikirnya kaum 'arifin melalui fana'nya atas dzikirnya sendiri dan
lebih menyaksikan pada Yang Maha Didzikiri serta anugerahnya apada
mereka.
Perilaku Dzikir "Allah"
Bagi pendzikir Ismul Mufrad "Allah" ada tiga kondisi ruhani:
Pertama: Kondisi remuk redam dan fana'.
Kedua: Kondisi hidup dan baqo'.
Ketiga: Kondisi nikmat dan ridlo.
Kondisi pertama: Remuk redam dan fana'Yaitu dzikir orang yang membatasi
pada dzikir "Allah" saja, bukan Asma-asma lain, yang secara khusus
dilakukan pada awal mula penempuhan. Ismul Mufrod tersebut dijadikan
sebagai munajatnya, lalu mengokohkan manifestasi "Haa' di dalamnya
ketika berdzikir.
Siapa yang mendawamkan (melanggengkannya) maka
nuansa lahiriyahnya terfana'kan dan batinnya terhanguskan. Secara
lahiriyah ia seperti orang gila, akalnya terhanguskan dan remuk redam,
tak satu pun diterima oleh orang. Manusia menghindarinya bahkan ia pun
menghindar dari manusia, demi kokohnya remuk redam dirinya sebagai
pakaian lahiriahnya. Rahasia Asma "Allah" inilah yang hanya disebut.
Bila menyebutkan sifat Uluhiyah, maka tak satu pun manusia mampu
menyifatinya. Ia tidak menetapi suatu tempat, yang bisa berhubungan
dengan jiwa seseorang, walau di tengah khalayak publik, sebagaimana
firman Allah swt :
"Tidak ada lagi pertalian nasab diantara mereka di hari itu dan tidak ada pula saling bertanya." (Al-Mu'minun: 101)
Sedangkan kondisi batinnya seperti mayat yang fana, karena dzat dan
sifatnya diam belaka. Diam pula dari segala kecondongan dirinya maupun
kebiasaan sehari-harinya, disamping anggota tubuhnya lunglai, hatinya
yang tunduk dan khusyu'.
Sebagaimana firmanNya :
"Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat." (Al-Muzammil: 5)
"Dan kamu lihat bumi ini kering, dan apabila telah Kami turunkan air di
atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah, dan menumbuhkan berbagai macam
tumbuh-tumjbuhan yang indah." (Al-Hajj : 5)
Kondisi kedua: Dari
kondisi hidup dan abadi (baqo'), yaitu manakala orang yang berdzikir
dengan Ismul Mufrod "Allah" tadi mencapai hakikatnya, kokoh dan
melunakkan dirinya, maka simbol-simbilnya dan sifat-sifatnya
terhanguskan.
Allah meniupkan Ruh Ridlo setelah "kematian ikhtiar
dan hasrat kehendaknya". Ia telah fana' dari hasrat kebiasaan diri dan
syahwatnya, dan telah keluar dari sifat-sifat tercelanya, lalu berpindah
(transformasi) dari kondisi remuk redam nan fana' menuju kondisi hidup
dan baqo'. Kondisi tersebut menimbulkan nuansa kharismatik dan kehebatan
dalam semesta, dimana segalanya takut, mengagungkan dan metrasa hina
dihadapan hamba itu bahkan semesta meraih berkah kehadirannya.
Kondisi ketiga: Kondisi Nikmat dan Ridlo, maka bagi orang yang
mendzikirkan "Allah" pada kondisi ini senantiasa mengagungkan apa pun
perintah Allah swt, jiwanya dipenuhi rasa kasih sayang terhadap sesame
makhluk Allah Ta'ala, tidak lagi sembunyi-sembunyi dalam mengajak
manusia menuju agama Allah swt. Dari jiwanya terhampar luas bersama
Allah swt, hanya bagi Allah swt.
Rahmat Allah swt meliputi
keleluasaannya, dan tak satu pun makhluk mempengaruhinya, bahkan atak
ada sesuatu yang tersisa kecuali melalui jalan izin Allah swt. Ia telah
berpindah dari kondisi ruhani hidup dan baqo', menuju kondisi nikmat dan
ridlo, hidup dengan kehidupan yang penuh limpahan nikmat selamanya,
mulia, segar dan penuh ridloNya. Tak sedikit pun ada kekeruhan maupun
perubahan. Selamat, lurus dan mandiri dalam kondisi ruhaninya, aman dan
tenteram.
Sebegitu kokohnya, ia bagaikan hujan deras yang menyirami
kegersangan makhluk, dimana pun ia berada, maka tumbuhlah dan suburlah
jiwa-jiwa makhluk karenanya. Hingga ia raih kenikmatan dan ridlo bersama
Allah Ta'ala, dan Allah pun meridloinya. Allah swt berfirman :
"Kemudian Kami bangkitkan dalam kehidupan makhluk (berbentuk) lain, maka
Maha Berkah Allah sebagai Sebagus-bagus Pencipta" (Al-Mu'minun:
14)[pagebreak]
Suatu hari seorang Sufi sedang berada di tengah majlisnya Asy-Syibly, tiba-tiba berteriak, "Allah!"
Asy-Syibly menimpali, "Apa-apaan ini! Kalau kamu memang jujur, maka
kamu masyhur (di langit), jika kamu dusta, kamu benar-benar hancur!".
Seorang lelaki juga berteriak di hadapan Abul Qasim al-Junayd ra, dan
Al-Junayd berkomentar, "Saudaraku Bila yang anda sebut itu menyaksikanmu
dan anda pun hadir bersamaNya, berarti engkau telah mengoyak tirai dan
kehormatan, dan mendapatkan kecemburuan aroma pecinta yang diberikan.
Namun jika anda mengingatNya, sedangkan anda ghaib dariNya, maka
menyebut yang ghaib (tidak hadir) berarti menggunjing. Padahal
menggunjing itu haram."
Dikisahkan dari Abul Hasan ats-Tasury ra,
ketika beliau berada di rumahnya selama tujuh hari tidak makan dan tidak
minum serta tidak tidur, ia tetap terus menerus menyebut Allah…Allah…
Kisah ini disampaikan kepada Al-Junayd atas tingkah lakunya itu.
"Apakah dia menjaga kewajiban waktunya?" Tanya al-Junayd.
"Dia tetap sholat tetap pada waktunya."
"Alhamdulillah, Allah yang menjagaNya, dan tidak memberikan jalan kepada syetan padanya." Kata al-Junayd.
Kemudian al-Junayd berkata kepada para santri-santrinya, "Ayo kalian
semua berdiri dan mendatanginya, mungkin kita bias memberi manfaat
padanya atau sebaliknya kita mengambil faedah darinya."
Ketika
al-Junayd masuk di hadapannya, al-Junayd berkata, "Wahai Abul Hasan,
apakah ucapanmu Allah..Allah..itu bersama Allah (Billah) atau bersama
dirimu sendiri? Bila engkau mengucapkan bersama Allah, maka bukan
andalah yang mengucapkannya. Karena Dialah yang berkalam melalui lisan
hambaNya. Sang Pendzikir adalah diriNya bersama DiriNya. Namun bila yang
menyebut tadi adalah dirimu bersama dirimu, sedangkan anda juga bersama
dirimu sendiri, maka apalah artinya remuk redam."
"Engkaulah sebaik-baik sang pendidik wahai Ustadz," kata Ats-Tsaury. Dan rasa gelisah remuk redamnya tiba-tiba hilang.
Dan aku remuk redam bersamamu karena mengenangmu
Dan benar atas kebaikan yang melimpah dengan kenangnanmu
Dan fana bersasmamu penuh keasyikan.
Siapa yang tak pernah merindu pada cinta
Asmara yang mengalahkan akalnya
Demi umurku sungguh ia celaka.
Tak ada dzikir melainkan tenggelam sirna dengan dzikirnya dari merasa berdzikir
Hanya kepada Yang Diingatlah yang terkenang
Dalam fana dan pertemuan
Siapa yang masih ada akalnya, ia tak akan pernah berdzikir
Siapa yang hilang dari dzikir, maka benarlah ia telah membubung kepadaNya
Dzikir itu sendiri merupakan pembersihan dari kealpaan dan kelupaan,
melalui pelanggengan hadirnya qalbu dan keikhlasan dzikir lisan,
disertai memandangNya, dariNya. Sang Tuanlah yang mengalurkan ucapan
dzikir melalui lisan hambaNya.
Dikatakan, Dzikir adalah keluar dari medan kealpaan menuju padang musyahadah (penyaksian kepadaNya).
Hakikat dzikir adalah mengkonsentrasikan Yang didzikir, dengan sirrnya
si pendzikir dari dzikirnya, dan fananya si pendzikir dalam musayahadah
dan kehadiran jiwa, sehingga ia tidak terhilangkan dirinya melalui
musyahadah kepadaNya di dalam musyahadahnya. Maka si pendzikir
menyaksikan Allah bersama Allah, sehingga Allahlah Yang Berdzikir dan
Yang Didzikir.
Maka dari segi kemudahan dariNya untuk si hamba,
dan keleluasaan untuk berdzikir melalui lisannya, maka Dialah Yang
Berdzikir kepadahambaNya, lalu segala yang disebutnya adalah dariNya.
Dari segi intuisi awal yang dating dariNya, maka Dialah Yang Berdzikir
pada DiriNya melalui lisan hambaNya. Sebagaimana riwayat hadits shahih
disebutkan, bahwa Allah Ta'ala berfirman: "Akulah pendengaran yang
dengannya ia mendengar, dan Akulah penghlihatan yang dengannya ia
melihat, dan Akulah lisannya yang dengannya ia bicara."
Dalam riwayat lain juga disebutkan, "Maka Akulah pendengaran, penglihatan, lisan, tangan dan penguat baginya."