Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Selasa, 01 September 2015
TAHAPAN MENGENAL ALLAH SWT
Berikut ini pandangan Al Habib Luthfi tentang tahapan mengenal Allah Swt. Hasil wawancara Crew habiblutfiyahya,net dengan beliau.
Hly.net: Bagaimana cara belajar mengenal Allah?
Al Habib: Kita mengenali tentang apa yang diciptakan oleh Allah terlebih dahulu. Dari mengenali ciptaanNya itulah, lantas kita mengenali siapa yang menciptakannya. Nah, disitulah kita akan melihat kebesaran-kebesaran Allah SWT yang ditunjukkan kepada kita semua.
Setelah kita sudah mengenalnya, lalu kita tingkatkan lagi. Sadarkah kita sebagai hamba, mengertikah kita sebagai hamba, tentang apa kewajiban kita sebagai seorang hamba? Lantas bagaimana seharusnya perilaku seorang hamba yang telah mengenal kepada Tuhannya? Setelah itu kita tingkatkan lagi ke atas. Kita ini sejatinya diundang oleh waktu. Maka kita harus menghormati waktu.
Begitu tingkat kesadarannya sudah tinggi, maka kalau waktu shalat sudah datang kenapa kita mesti menunda waktu untuk bergegas melakukannya? Seharusnya kita kan justru bersiap-siap untuk menunggu datangnya waktu tersebut, menghormat panggilan Allah SWT untuk shalat.
Bukankah setiap kali berkumandang adzan, itu merupakan panggilan yang telah memperingatkan kita? Sehingga ketika terdengar suara adzan, kita merasa senang dan gembira, lantas bersiap-siap untuk hormat akan datangnya panggilan Allah tersebut.
Hly.net: Tetapi dalam kenyataannya, hal demikian terasa sulit untuk dilakukan?
Al Habib: Untuk meraih tingkat demi tingkat semacam itu, memang bukan hal yang gampang. Oleh karnanya, kita perlu sering datang ke suatu majlis dengan para ulama’, para shalihin, untuk mendengarkan fatwa-fatwanya.
Kita harus seringa pula mendengarkan petuah dan pandangan-pandangan para auliyaus-shalihin. Rasanya terlalu sulit untuk dapat meraihnya lebih jauh, jika kita jauh dari beliau-beliau itu. Sebab mereka bagaikan ruang yang memiliki lentera, mempunyai batrainya, nah, kita ini bagian yang dioborinya. Semakin kita dekat kepada orang-orang sholihin, maka akan lebih jauh lagi kita dapat mengenal Allah SWT dan RasulNya.
Hly.net: Jalan tercepat yang bagaimanakah, sehingga manusia merasa dirinya senantiasa bersama dengan Allah SWT Dzat yang selalu membimbingnya?
Al Habib: Saya sendiri masih bingung, melihat bagaimana proses orang yang makan langsung sepiring sekali telan? Padahal seharusnya kita menelan sesuap demi sesuap. Yang pentingkan sepiring bisa habis. Namun apa jadinya dipencernaan, jika mulut kita tidak pernah mengunyah untuk membantu pancernaan? Apa hasilnya atau apa yang akan terjadi dalam proses pencernaan tersebut.
Memang menarik, waktu makan yang lebih singkat dan lebih cepat. Jalan yang paling cepat dan tepat untuk mencapai proses makanan, apa nasinya yang lebih baik dibubur saja biar lebih encer, supaya menelannya lebih mudah. Tapi nyatanya semua itu sudah ada tempatnya. Yang mempercepat dan sebagainya itu, sudah ada bagiannya masing-masing. Nah, maka dari itu, tahapan untuk secepat itu tidak mungkin mudah. Contohnya ya seperti orang yang makan sepiring langsung telan tadi.
Hly.net: Lalu apa yang mesti dilakukan, agar dalam beraktivitas kita masih tetap bisa mengingat Allah?
Al Habib: Kalau tidak dilatih ya mana mungkin? Pada awalnya hati itu harus dikasih latihan untuk senantiasa mengingatNya. Itu memang tak mudah. Terkadang sering lupa. Tetapi setelah terbiasa, maka bagian tubuh yang kita latih ini punya reflex sendiri sesuai dengan tempatnya masing-masing.
Gerak tangan saja yang tak berhenti, juga mengikuti gerak ruh. Apalagi dengan hati kita yang terbiasa dengan latihan-latihan. Insya-Allah hati kita tidak akan pernah lupa dzikir kepada Allah SWT. Sebab itu sudah terjadi secara refleks. Maka latihlah senantiasa hati kita. Sebab jika hati itu biasa memandang sesuatu yang baik, berpikir baik, berprasangka yang baik, selamanya hati kita akan timbul secara refleks dengan pandangan-pandangan yang baik sehinga akan selalu jernih.
CARA WUSHUL (SAMPAI) KEPADA ALLAH
CARA WUSHUL (SAMPAI) KEPADA ALLAH
—
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Ketahuilah, bahwa hati memiliki dua mata yakni mata kecil dan mata besar. Mata kecil hanya mampu melihat Tajalli Sifat dengan cahaya Asma Ash-Shifat hingga ke alam-alam derajat (jannatul ma’wa, jannatun na’im dan jannatul firdaus). Sedangkan, mata besar mampu melihat cahaya Tajalli Dzat dengan cahaya tauhid yang Maha Tunggal di Alam Lahut dan Alam Al-Qurbah.
—
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Ketahuilah, bahwa hati memiliki dua mata yakni mata kecil dan mata besar. Mata kecil hanya mampu melihat Tajalli Sifat dengan cahaya Asma Ash-Shifat hingga ke alam-alam derajat (jannatul ma’wa, jannatun na’im dan jannatul firdaus). Sedangkan, mata besar mampu melihat cahaya Tajalli Dzat dengan cahaya tauhid yang Maha Tunggal di Alam Lahut dan Alam Al-Qurbah.
Cara untuk mencapai derajat ini adalah dengan kematian atau jika itu
sebelum mati adalah dengan fana dari sifat hawa nafsu manusiawi. Dan,
wushûl-nya hamba hingga ke alam itu sangat tergantung pada
keterputusannya pada hawa nafsu manusiawi.
Dan, wushûl pada Allah SWT di sini tidak berarti bertemunya jasad dengan jasad. Tidak juga, seperti ilmu pengetahuan dengan tujuan pengetahuan atau bertemunya pemikiran dengan yang dipikirkan atau bertemunya dugaan terhadap yang diduga.
Adapun yang dimaksud wushûl kepada Allah SWT adalah putus dari selain Allah SWT, tidak dekat dan tidak jauh, tanpa arah dan berhadapan, tanpa bertemu dan berpisah. Maha Suci Allah SWT yang dalam penampakan-Nya, kesamaran-Nya, tajalli-Nya, ketertutupan-Nya, pengetahuan-Nya, terdapat hikmah yang agung.
Siapa saja yang telah mencapai derajat ini di alam dunia dan mampu mengetahui kadar dirinya sebelum ia dihitung orang lain, maka ia adalah manusia yang bahagia.
Seandainya manusia tidak mencapai derajat yang disebut tadi, maka kelak akan mengalami kesukaran-kesukaran, seperti siksa kubur, perhitungan amal, digiring ke Mahsyar, ditimbang amalnya, melewati Sirathal Mustaqim dan segala hal berat yang akan dihadapi di akhirat nanti.”
Dan, wushûl pada Allah SWT di sini tidak berarti bertemunya jasad dengan jasad. Tidak juga, seperti ilmu pengetahuan dengan tujuan pengetahuan atau bertemunya pemikiran dengan yang dipikirkan atau bertemunya dugaan terhadap yang diduga.
Adapun yang dimaksud wushûl kepada Allah SWT adalah putus dari selain Allah SWT, tidak dekat dan tidak jauh, tanpa arah dan berhadapan, tanpa bertemu dan berpisah. Maha Suci Allah SWT yang dalam penampakan-Nya, kesamaran-Nya, tajalli-Nya, ketertutupan-Nya, pengetahuan-Nya, terdapat hikmah yang agung.
Siapa saja yang telah mencapai derajat ini di alam dunia dan mampu mengetahui kadar dirinya sebelum ia dihitung orang lain, maka ia adalah manusia yang bahagia.
Seandainya manusia tidak mencapai derajat yang disebut tadi, maka kelak akan mengalami kesukaran-kesukaran, seperti siksa kubur, perhitungan amal, digiring ke Mahsyar, ditimbang amalnya, melewati Sirathal Mustaqim dan segala hal berat yang akan dihadapi di akhirat nanti.”
MABUK CINTA
Dikisahkan dalam sebuah kitab karangan Imam Al-Ghazali rahimahullah bahwa pada suatu hari Nabi Isa alaihis salam berjalan di adapan seorang pemuda yang sedang menyiram air di kebun. Dan pemuda yang sedang menyiram air itu melihat kepada Nabi Isa alaihis salam berada di hadapannya maka dia pun berkata, “Wahai Nabi Isa, mintalah dari Tuhanmu agar Dia memberi kepadaku seberat semut Zarrah [semut paling kecil] cintaku kepada-Nya.” Berkata Nabi Isa alaihis salam, “ Wahai saudaraku, kamu tidak akan kuat untuk seberat semut Zarrah itu.”
Berkata pemuda itu lagi, “Wahai Nabi Isa, kalau aku tidak kuat untuk
satu semut Zarrah, maka mintakan untukku setengah berat semut Zarrah.”
Karena keinginan pemuda itu untuk mendapatkan kecintaannya kepada Allah,
maka Nabi Isa alaihis salam pun berdoa, “Ya Tuhanku, berikanlah dia
setengah berat semut Zarrah cintanya Kepada-Mu.” Setelah Nabi Isa
alaihis salam berdoa maka beliau pun berlalu dari situ. Selang beberapa
lama Nabi Isa alaihis salam datang lagi ke tempat pemuda yang memintanya
berdoa, tetapi Nabi Isa alaihis salam tidak dapat berjumpa dengan
pemuda itu. Maka Nabi Isa alaihis salam pun bertanya kepada orang yang
lalu-lalang di tempat tersebut, dan berkata kepada salah seorang yang
berada di situ bahwa pemuda itu telah gila dan kini berada di atas
gunung.
Setelah Nabi Isa alaihis salam mendengar penjelasan orang-orang itu maka beliau pun berdoa kepada Allah SWT, “Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku dimana pemuda itu.” Selesai saja Nabi Isa alaihis salam berdoa maka beliau pun dapat melihat pemuda itu yang berada di antara gunung-gunung dan sedang duduk di atas sebuah batu besar, matanya memandang ke langit.
Nabi Isa alaihis salam pun menghampiri pemuda itu dengan memberi salam, tetapi pemuda itu tidak menjawab salam Nabi Isa alaihis salam, lalu Nabi Isa berkata, “Aku ini Isa.”Kemudian Allah SWT menurunkan wahyu yang berbunyi, “Wahai Isa, bagaimana dia dapat mendengar perbicaraan manusia, sebab dalam hatinya itu terdapat kadar setengah berat Zarrah cintanya kepada-Ku. Demi Keagungan dan Keluhuran-Ku, kalau engkau memotongnya dengan gergaji sekalipun tentu dia tidak mengetahuinya.”
Setelah Nabi Isa alaihis salam mendengar penjelasan orang-orang itu maka beliau pun berdoa kepada Allah SWT, “Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku dimana pemuda itu.” Selesai saja Nabi Isa alaihis salam berdoa maka beliau pun dapat melihat pemuda itu yang berada di antara gunung-gunung dan sedang duduk di atas sebuah batu besar, matanya memandang ke langit.
Nabi Isa alaihis salam pun menghampiri pemuda itu dengan memberi salam, tetapi pemuda itu tidak menjawab salam Nabi Isa alaihis salam, lalu Nabi Isa berkata, “Aku ini Isa.”Kemudian Allah SWT menurunkan wahyu yang berbunyi, “Wahai Isa, bagaimana dia dapat mendengar perbicaraan manusia, sebab dalam hatinya itu terdapat kadar setengah berat Zarrah cintanya kepada-Ku. Demi Keagungan dan Keluhuran-Ku, kalau engkau memotongnya dengan gergaji sekalipun tentu dia tidak mengetahuinya.”
MENYELAMI MAKNA KHUSYUK
Kata Arab kbusyu’ berasal dan kata khasya'a yang artinya takut’. Misalnya, disebutkan dalam Alquran, “Wa-jah-wajah pada hari itu ketakutan (khasyi'ah)” (Q.S. al-Ghasyiyah (88: 2). Kata khasyi'ah berarti hati yang di-penuhi rasa takut; takut kepada Allah Swt. dan takut bila masa hidupnya tak kan sempat untuk mengumpulkan bekal buat hari akhir nanti.
Khusyuk tidak sama dengan konsentrasi, karena konsentrasi lebih pada pikiran. Khusyuk juga bermakna rendah, merunduk, atau tunduk. Orang yang khusyuk dalam shalatnya berari orang yang menyadari sepenuhnya hakikat dan tujuan salatnya. Dan Alquran menyebutkan kata khusyuk tidak hanya berkaitan dengan shalat, tapi juga dengan berbagai aktifitas kehidupan di dunia, misalnya Allah berfirman “Suara-suara itu khusyu dihadapan yang Maha Rahman (Q.S: Thaha [20]: 128). Disini, Tuhan menyatakan bahwa suara-suara itu tunduk dan diam.
Diayat lain Allah berfirman “Seandainya kami turunkan Al Quran diatas gunung, maka engkau akan dapati gunung itu khusyuk .. (Al Hasyr [59]:21). Disini makna khusyuk tidak secara spiritual tapi khusyuk secara lahiriah, yakni gunung itu menjadi diam, tunduk dan runduk dihadapan Tuhan.
Dua Jenis Hati: ‘Isyqi dan Khawfi
Khusyuk berkaitan erat dengan hati. Menurut para sufi, untuk meraih hati yang khusyuk, pertama-tama harus melewati ilmu. Dalam konteks ini, kita harus benar-benar memahami fiingsi hati ketika akan menghadap Allah. Kaitannya dengan khusyuk, ada dua jenis kualitas hati: qalb 'isyqi (hati yang rindu kepada Allah) dan qalb khawfi(hati yang takut kepada Allah). Sebagian orang memperoleh kualitas kedua-duanya, sebagian lagi hanya isyqi atau khawft saja, dan sebagian besar tidak memiliki kedua-duanya. Hati yang rindu kepada Allah {isyqi) dan hati yang takut kepada-Nya (khawft) ini sebenarnya mengejar salah satu sifat jamaliah dan jalaliah Allah Swt. Kalau jamaliah itu sisi keindahan dan kasih sayang Allah, maka jalaliah adalah keperkasaan dan keagungan Allah.
Hati yang penuh kerinduan (qalb 'isyqi) mengejar keindahan Allah (Jamaliah). la merindukan untuk melakukan kebaikan, karena Allah Mahabaik. Rindu tidak akan diperoleh tanpa ada cinta. Maka dalam tasawuf ada yang dikenal dengan mazhab cinta. Mereka beribadah dengan cinta, menghampiri Allah melalaui pintu kasih-Nya. Bagaimana mengembangkan rasa rindu kepada Allah? Belajar mencintai Allah dan mencintai segala sesuatu yang ber-hubungan dengan-Nya!
Cinta kepada Allah memiliki beberapa tingkatan. Menurut Ibn 'Arabi, cinta ada tiga macam: cinta natural, cinta supranatural, dan cinta ilahi. Cinta natural tidak hanya dimiliki manusia. Hewan pun memilikinya. Cinta ini seperti cinta kita terhadap orang yang berbuat baik kepada kita. Cirinya bersifat sangat subjektif, karena kita mementing diri kita sendiri. Kita pun mencintai Allah karena Dia limpahkan rezekinya kepada kita. Bukankah seekor anjing mencintai tuannya lantaran setiap hari si tuan memberi makan dan merawatnya?
Cinta spiritual tidak dimiliki hewan tapi hanya oleh manusia. Orang yang mencintai dengan cinta ini tidak memikirkan kepentingan dirinya, tetapi kepentingan yang dicintainya. Ini seprti seorang ibu terhadap anaknya yang tanpa pamrih ia tidak pernah mengharap balasan, bahkan rela menderita asal anaknya bahagia. Kita harus mengembangkan cinta seperti ini kepada Allah, harus lebih dari hanya cinta natural. Misalnya Allah menyuruh kita untuk menginfakkan harta kita maka kita melakukannya, bukan untuk mengharap pahala melainkan mendambakan ridha-Nya. Cinta ini tumbuh bersamaan dengan kesadaran betapa banyaknya anugerah Allah yang telah kita terima. Apa pun yang kita lakukan tidak akan sebanding dengan apa yang kita peroleh.
Cinta ilahi lebih dalam lagi. Dengan cinta ini, orang bukan hanya mendahulukan kepentingan objek yang dicintai, tapi tidak lagi melihat dirinya sebagai sesuatu yang ia miliki. Semua dilihat sebagai milik Allah. Karenanya, tidak ada suatu aktivitas pun kecuali yang diinginkan Allah. Menurut Ibn 'Arabi, jenis cinta ketiga ini tidak bisa dibayangkan. Itulah cinta Nabi Muhammad saw. kepada Allah Swt. dan para kekasih-Nya.
Untuk memperoleh kekhusyukan, kita mesti mengembangkan kualitas hati yang penuh kerinduan kepada Allah. Sholat tidak lagi dipandang sebagai sebuah kewajiban, melainkan sarana penjumpaan dengan Allah. Sehingga, waktu shalat adalah saat-saat yang kita rindukan. Rasulullah bahkan menyebut sholat sebagai lahan nyawanya. Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda: “Cahaya mataku adalah sholat (Qurratu ‘aini al sholah)
Diantara ciri-ciri rindu adalah suka “menyendiri” dengan kekasih. Sekali-kali menyediakan waktu untuk berkhalwat-menjaga jarak dari anak dan istri, duduk bertafakur dan berdzikir kepada Allah. Waktu yang paling pas adalah di sepertiga malam terakhir. Maka itu sholat tahajud dianggap sebagai salah satu media yang paling efektif mengangkat manusia menuju Allah. Sebab saat itu dia sendirian (khalwat), hanya berduaan bersama Allah. Imam 'Ali k.w. bermunajat, “Ya Allah, di tengah malam ini, ketika semua orang mencari kekasihnya, ketika istri mencari suaminya, anak-anak bersama ibunya, aku bangun mencari kekasihku yang paling kasih, Engkau Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim.”
Kalau seseorang dapat mengembangkan kualitas hati demikian, ia akan meraih kedamaian. Dalam tasawuf di-kenal dengan uns, intimasi (keakraban). Dia akan merasa akrab dengan Allah. Dia akan merasa bahagia yang tak terkira ketika bersama Allah. Tidak hanya itu. Orang yang mencapai maqam ini, doanya dikabulkan oleh Allah. Bahkan dalam hadis qudsi, Allah menyatakan, “… bila ia melihat, Aku menjadi penglihatannya; bila ia mendengar, Aku menjadi pendengarannya; bila ia melangkah, Aku menjadi kakinya. Bila dia menghampiri-Ku sejengkal, Aku me-dekatinya sehasta; bila ia menuju Aku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”
Intinya, kualitas hati yang 'isyqi tidak hanya meng-antarkan kepada salat yang khusyuk, tetapi juga pada kehidupan yang damai dan merindukan perjumpaan dengan Allah Swt. Allah berfirman, “Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. Sungguh salat itu berat sekali kecuali bagi mereka yang khusyuk. Yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan berjumpa dengan Tuhan mereka dan kepada-Nya mereka kembali (Q.S. al-Baqarah [2]: 45).
Hati yang takut kepada Allah (qalb khawfi) mengejar keperkasaan dan keagungan Allah (Jalaliah). Sebagaimana cinta, takut juga ada tingkatannya. Pertama, takut yang paling rendah adalah takut kepada ancaman Allah, seperti pembantu takut pada ancaman tuannya. Dalam tingkat ini, salat dilakukan karena takut diazab Allah di alam kubur atau takut tidak memperoleh rezeki di dunia. Kalau kita beribadah karena takut akan ancaman siksa Allah, itu termasuk khauf yang positif. Mesinya kita mempunyai takut seperti itu, tetapi itu tingkatan takwa terendah.
Kedua, takut dalam pengertian hormat dan takzim terhadap orang yang kita agungkan. Misalnya takut kepada kedua orang tua. Kita takut bukan karena ancaman melainkan kita menghormati dan mentakzimkan mereka. Demikian juga takut kepada kepada Allah, setidaknya takut karena memang Allah Maha adil, Maha agung, dan sungguh jasanya tak terkira-kira. Itulah takutnya orang-orang saleh. Dalam sejarah diceritakan bahwa ketika Nabi mau salat, kadang-kadang tubuhnya bergetar, mukanya pucat pasi dan sebagainya. Bukan karena beliau takut diazab oleh Allah, tapi beliau memang melihat bahwa yang layak disembah demikian hanyalah Allah Swt.
Ketiga, takut dalam arti kesadaran penuh bahwa Allah adalah segala-galanya dalam dirinya. Oleh karena itu, ada sebuah doa yang sering dibaca oleh Nabi: Ya Allah perlakukanlah kami dengan rahmat-Mu, jangan perlakukan kami dengan keadilan-Mu. Makna doa ini sangat dalam. Kita memohon kepada Allah agar memperlakukan kita dengan rahmatNya, dengan anugerah-Nya, bukan keadilan Nya, sebab kalau Allah memperlakukan kita dengan adil , kita tidak akan bisa masuk surga. Bayangkan, bagaimana mungkin kita bisa menghitung secara adil limpahan rezeki dari Allah, sedangkan yang kita berikan sangatlah sedikit. Sejauh mana kita mensyukurinya? Apa yang kita berikan di jalan Allah sangat kecil dibandingkan dengan yang Allah berikan kepada kita. Karena itu, yang ditakuti oleh Nabi bukanlah ancaman Allah, melainkan keadilan-Nya.
Jadi, untuk memperoleh khusyuk, kembangkan kualitas hati yang khawfi, dengan menyadari sifat-sifat jalaliah Allah: Yang Maha Perkasa, Mahaadil, Mahabesar, Maha-agung, dan sebagainya.
Dalam tasawuf disebutkan: Sesungguhnya di dalam jamaliah Allah ada jalaliah’-Nya, dan di dalam jalaliah Allah ada jamaliah-Nya (inna ft kulli jalalin jamalun wa fi kulli jamalin jalalun). Artinya, di dalam sifat Mahaindah-Nya ada keperkasaan-Nya, dan di dalam sifat Mahaperkasa-Nya ada keindahan-Nya. Keduanya bukanlah sifat yang kontradiktif, tetapi saling melengkapi. Mana yang lebih dominan, tergantung kualitas hati. Rasulullah saw. memiliki qalb 'isyqi (hati yang rindu kepada Allah) dan qalb khawfi (hati yang takut kepada Allah) sekaligus. Kita juga mesti menyeimbangkan antara keduanya. Dengan demikian, kekhusyukan akan menjadi kenyataan.
Senin, 17 Agustus 2015
Kehidupan Alam Barzah, Setiap Hari Alam Barzah Rindu Orang Mati
Kisah tentang sifat kehidupan alam barzah, bermula ketika Rasulullah SAW berangkat ke Masjid. Beliau hendak melaksanakan Shalat berjamaah. Saat Beliau tiba di Masjid mendapati pemuda dan para sahabat sedang tertawa riuh rendah, hingga tertawa itu sambung menyambung. Menyaksikan hal itu, Baginda Rasulullah SAW bersabda; "Wahai sahabat sahabatku, seandainya engkau sempat mengingat mati, pastilah engkau tidak akan sempat tertawa tertawa seperti hari ini. Sepanjang hidupmu akan terkesan oleh proses mati itu (karena sangat memprihatinkan), setiap hari pekuburan menanti kedatangan orang orang yang akan dikuburkan - Aku merupakan semak semak atau debu yang angker, penuh dengan serangga (maksudnya, menunggu orang mati).
Saat, alam barzah melihat orang orang yang beriman meninggal dunia, maka alam barzah bergembira sambil mengucapkan; "Aku sampaikan selamat datang wahai orang mukmin, diantara manusia yang ada di bumi, hanya engkaulah manusia yang aku senangi. Bagus benar hatimu, sebab engkau dikuburkan di tempatku. Kini, lihatlah bagaimana aku (barzah) menghibur dan menyenangkan hatimu. Pada saat itu, liang kubur yang sempit itu melebarkan dirinya (barzah) seluas luasnya dengan pemandangan yang sangat indah untuk orang yang beriman tersebut. Salah satu pintu pintu surga terbuka dan membawa keharuman semerbak dan wewangian menerpa si mukmin yang bahagia.
Namun sebaliknya, jika yang mati orang orang yang tidak beriman. Maka barzah menjadi geram dan marah. Maka ia berkata; Wahai engkau, sungguh malang nasibmu, engkaulah manusia yang paling aku benci. Sekarang rasakanlah pembalasanku di kubur ini. Lantas, kubur yang sangat sempit itu makin menyempit dan menghimpit manusia yang tidak beriman tersebut. Seluruh tubuh dan tulang belulang si kafir saling berhimpitan, jerit dan tangis si kafir tak dihiraukan oleh kubur.. (naudzubillah min dzalik). Setelah itu, datanglah 70 ekor ular naga dan binatang berbisa menyiksa si kafir hingga hari kiamat.
Jika ular naga itu melepasakan racunnya ke bumi, maka tak selembar daunpun dari pohon dan rerumputan di bumi bisa hidup, saking dahsyatnya. Begitulah, orang orang yang tidak beriman menangis dam menjerit melolong-lolong mendapat siksa, akibat perbuatannya sewaktu di dunia.
Alam Barzah, Pintu Awal Alam Akhirat
Dalam sebuah Hadits, Rasulullah SAW bersabda;
"innal qabra awwalu manazilil aakhirati fain najaa minhu famaa ba'dahu aisara minhu wain lam yanzu minhu famaa ba'dahu asyhaddu minhu""Sesungguhnya alam kubur itu merupakan awal dari alam akhirat. Siapa yang selamat dalam tahab pertama itu, untuk selanjutnya akan lebih ringan. Namun, siapa yang tidak selamat, maka untuk tahab tahab selanjutnya akan lebih berat." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim).
Rasul SAW juga bersabda,"kubur itu bisa menjadi surga bagi orang yang baik amalnya, dan bisa jadi neraka bagi orang orang yang dzalim".
Abu Laits menasehati kita, "Barangsiapa yang yakin adanya mati, maka seharusnya bersiap-siap membawa bekal yang banyak, beramal shaleh di dalam kehidupan ini dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ayat Al Quran Tentang Kematian, Sebuah Renungan
Inilah beberapa ayat Al Quran tentang kematian, semoga dapat menjadi renungan bagi kita semua;
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari
kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari
neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.
Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan."
(QS. Ali 'Imran : 185) Kematian Sebuah Proses Alami
Setiap makhluk yang berjiwa (bernyawa) pasti dan haq mengalami kematian. Dan kematian itu, sangat ditakuti setiap manusia. Sebab, mereka belum pernah mengalami kematian. Kalau kita tengok kebelakang, sebenarnya manusia pernah mengalami kematian. Ya kematian (ketiadaan manusia) di muka bumi adalah juga sebuah kematian. Kenapa, karena kematian yang akan dihadapi setiap manusia adalah kematian (ketiadaan) manusia dari muka bumi dan akan mati (berpindah) ke dalam bumi. Setiap kita, pasti! secara lahir akan membayangkan tentang bagaimana tempat baru kita di dalam kubur; sebuah tempat yang hanya seluas dua meter atau bahkan bisa kurang dan lebih. Tanpa penerangan, tanpa teman, tanpa ranjang dan tanpa tanpa yang lain. Begitu pula, bayangan kita tentang kematian, ketika kita melihat gambaran dari media tv maupun internet tentang tengkorak dan tulang belulang manusia yang telah mati.
Jika kita mau merenung sejenak, pada hakikatnya kematian yang kita takut kan itu adalah sebuah proses alami dari hukum Allah (Sunnatullah). Bukankah, kehidupan ini? diciptakan berpasang-pasang; ada laki ada perempuan, ada siang ada malam, ada langit ada bumi, ada hidup ada mati. Bukankah sudah klop? Saling berpasangan. Saya teringat sebuah motto, disebuah buku yang dicetak oleh Pondok Pesantren Gontor Ponorogo, "Berani hidup, tak takut mati; Takut hidup mati saja", Tapi jangan dibalik "Takut mati, hidup saja".
Demikian, Ayat Al Quran Tentang Kematian, Sebuah Renungan. Semoga Bermanfaat.
Referensi Ayat: http: www.quran.com
Tasawuf, Pengertian Tasawuf dan Thoriqoh
Kita ketahui di masyarakat terdapat gerakan Tasawuf dan Thoriqoh, apa sebenarnya pengertian Tasawuf dan Thoriqoh dan apa pula tujuan daripada Thoriqoh dan Tasawuf.
Tasawuf
Tasawuf, kata Thasawuf dapat diambil dari dua arti kata, yaitu : dari kata shofwun-shofaaun-shofwatun diartikan "kejernihan, pilihan, yang terbaik. Shofaa-yashfuu-shofwan, artinya "jernih".
Dari kata Shofwaatun-shuufiyun-shuufun, artinya: pakaian dari wol, sufi pedagang wol."(Kamus Arab-Indonesia-Inggris. Abd. bin Nuh dan Osman Bakry, Mutiara Jakarta 1964, halam 159-162).
Setengah ahli bahasa dan riwayat pada akhir-akhir ini, ada yang berpendapat bahwa perkataan "shufi" itu bukanlah bahasa Arab, melainkan dari bahasa Yunani lama yang telah di-Arab-kan, berasal dari kata theosofie, artinya "Ilmu Ketuhanan", kemudian di-Arab-kan, kemudian diucapkan dengan lidah orang Arab sehingga berubah menjadi Tasawuf (Tasauf Modern-Hamka-1980 Jakarta, halaman 7).
Ada lagi setengah ahli yang mengambil dari nama kaum "shuffah", ialah segolongan sahabat-sahabat Nabi yang menyisihkan diri dari satu tempat terpencil di Masjid Nabi. Ada lagi yang mengambil makna dari kata "shufanah" ialah sebangsa kayu yang mersik tumbuh di padang pasar tanah Arab.
Thoriqoh
Perkataan Thoriqoh, sering ditulis Tarekat dan akhirnya menjadi bahasa Jawa Tirakat, berasal dari kata "thoriq"
(Arab) artinya "Jalan". Dalam sejarah ada seorang Panglima Perang
bernama Thariq bin Ziyad yang memimpin serangan ke Spanyol melalui selat
yang sampai sekarang bernama "Jibral Tar", ini adalah berasal dari
pengabdian nama Panglima itu.
Di dalam Al Qur'an, kita jumpai sebuah Surat bernama "Ath-Thoriq" (Surat 86). Dalam Al Qur'an dan Terjemahnya Proyek Departemen Agama. "Ath-Thaariq" diterjemahkan "yang datang pada malam hari" (ayat 1), dan dijelaskan pada ayat 3 "(yaitu) bintang yang cahayanya menembus".
Dapatlah diambil kesimpulan dari deretan ketiga ayat ini, bahwa di dalam cakrawala itu ada suatu bintang yang melancar dengan keras dan cepat, laksana mengetok pintu yang terkunci sehingga orang yang enak tidur jadi terbangun. Sifatnya ialah menembus. Yang ditembus adalah kegelapan malam". (halaman 100).
Kapan dan Siapa Yang Memulai Thoriqoh dan Tasawuf?
Siapa yang mula-mula mengambil inisiatif untuk mengadakan gerakan
Thoriqoh, masih perlu penelitian lebih lanjut. Tetapi kalau menurut Buya
Hamka dalam bukunya "Mengembalikan Tasawuf ke Pangkalnya" Tahun 1973
antara lain diterangkan : "Bahwa tumbuhnya gerakan tasawuf di Indonesia
bersamaan dengan masuknya Madzab (sekte-sekte dalam Islam). Tahun
berapa? Dalam sejarah Islam adanya madzab-madzab, dapat diteliti menurut
catatan berdirinya madzhab. Seperti Hanafi (699-767 M), Maliki (714-798
M), Syafi'i (767-854 M) dan Hambali (780-885 M).
Thoriqoh adalah bagian dari Tasawuf. Thoriqoh merupakan jalan atau cara untuk menuju pada kesucian atau keheningan hati dalam usaha makrifatullah (mengenal Allah)
Pertanyaannya, Apakah kalau orang tidak masuk Thoriqoh, ibadahnya dianggap belum sempurna?
Untuk menentukan suatu ibadah itu sempurna atau tidak, diterima atau tidak diterima oleh Allah SWT, itu sepenuhnya menjadi wewenang Allah SWT sendiri. Berdasarkan Al Qur'an dan As Sunnah, dapat disimpulkan bahwa setidaknya ada dua syarat yang harus terpenuhi bagi ibadah yang diterima oleh Allah, dua syarat tersebut yaitu :
Pertama, Ikhlas. Maksudnya bahwa ibadah itu harus dilakukan
dengan penuh ketulusan, semata-mata mengharap dan mendambakan keridhaan
Allah saja. Tidak boleh dicampuri dengan noda syirik sedikitpun. Sebagai
dasar antara lain firman Allah :
"Dan tidaklah mereka diperintah melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dengan mengamalkan agama yang lurus". (QS. 98:5)
"Maka barangsiapa yakin akan perjumpaan (dengan) Tuhan-nya, hendaklah ia kerjakan amal shaleh dan janganlah ia menyekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhan-nya". (QS. 18:110).
Kedua, sesuai dengan syariat. Maksudnya dalam mengamalkan ibadah
harus sesuai dengan tuntunan dan aturan syariat, tidak boleh menyebal
dari padanya. Sebagai landasan atau dalil antara lain firman Allah :
"Dan barangsiapa menghendaki selain Islam sebagai agama (aturan), maka tidak akan diterima (amal ibadah) dari padanya, dan di akhirat (kelak) termasuk orang-orang yang merugi".(QS, 3:85)
Nabi SAW sendiri bersabda :
"Barangsiapa mengamalkan suatu amalan (ibadah) yang tidak didasarkan atas perintah Kami, maka amalan itu akan tertolak". (HR. Muslim)
Kesimpulan
Dalam situasi makin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, memang tidak
dapat dihindari percampuran pengertian dari suatu istilah, dengan
pengertian atau paham lain, karena dunia ilmu pengetahuan makin terbuka,
juga tidak terkecuali dalam tasawuf atau thoriqoh.
Oleh karena itu, supaya tidak kehilangan tongkat, sebaiknya kita kembali berpangkal pada sumber aslinya, bahwa seluruh ibadah dalam Islam dasarnya bersumber dari Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW, bisa saja kita mempelajari dari ajaran-ajaran lain sebagai perbandingan untuk memperluas wawasan dan pandangan hidup kita.
Demikian, Tasawuf, Pengertian Tasawuf dan Thoriqoh. Baca juga "Pengertian Tasawuf, Oleh Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj ". Semoga Bermanfaat
Langganan:
Postingan (Atom)









