Adapun rukun Sembahyang itu ada 13 perkara :
Niat
Berdiri betul
Takbiratul Ihram
Fatihah
Rukuk
I’tidal
Sujud
Duduk Antara Dua Sujud
Duduk Tahiyat
Tahiyat Akhir
Salawat
Salam
Tertib
Tumakninah artinya menetapkan suatu rukun pindah ke rukun yang lainnya.
Inilah Tumakninah namanya. Menghilangkan gerak dan diam rukun, baru
pindah ke rukun yang lainnya, karena apabila gerak rukun umpamanya tidak
sempat hilang sudah pindah kepada I’tidal, maka tiadalah sah
sembahyangnya karena tumakninahnya tidak ada gerak.
Rukun itu
tercampur kepada yang lainnya, inilah syari’at namanya. Maka dari itu
kalau kita merasa belum bisa belajar sembahyang, belajarlah terlebih
dahulu, sebelum kita mengerjakan sembahyang atau sambil mengerja sambil
belajar, karena tiap-tiap rukun sembahyang itu ada mempunyai
syarat-syarat yang tertentu.
Inilah yang menjadikan kita
diwajibkan belajar, sesuai dengan hadis Nabi yang berbunyi “UT
LUBUL’ILMI PARI DATUN ‘ALA KULLI MUSLIMIN NAWA MUSLIMAT” artinya
Menuntut ilmu itu wajib atas kita laki-laki dan perempuan. Maka oleh
sebab itu kalau kita yang ingin bersembahyang belajarlah terlebih
dahulu, kalau ingin selamat di dalam Kubur atau di waktu panas pada hari
Mahsyar, karena di dalam sembahyang itu cukup lengkap buat menjawab
pertanyaan Munkar dan Nakir, meluaskan Titiyan Siratul Mustakim, buat
payung di waktu panas Padang Mahsyar. Karena sembahyang itu cukup
lengkap tersedia apa saja, akan tetapi sembahyangnya orang belajar atau
berIlmu. Kalau sembahyang orang yang tiada belajar atau tiada berilmu,
pasti tiada dapat lindungan seperti uraian yang tersebut di atas.
Maka dari itu, sesudah lengkap kita ketahui apa apa yang diwajibkan
oleh Syara’ yakni Syari’at, kemudian kita tambah pula dengan Ilmu bathin
yakni Hakikat, supaya segala amalan sembahyang kita itu lepas dari
syirik, ujub, ria, takbur dan sebagainya.
Yang menghilangkan
pahala sembahyang, apabila Ilmu Fiqih sudah sungguh-sungguh dipelajari
dan Ilmu Tasawuf sudah juga dipelajari, baru itu amalan yang Tahkik yang
disyari’atkan oleh Nabi kita Muhammad SAW supaya jangat sampai
sembahyang itu sembahyang tiruan saja, tiada ada ilmunya.
Adapun rukun sembahyang itu terbagi 3 (tiga) bagian :
Rukun Qolbi
Rukun Qauli
Rukun Pi’li
Rukun Qolbi itu masuk 2 (dua) rukun yaitu : Niat dan Tertib, tempatnya
di hati, tiada boleh dibaca atau dituturkan dengan hati, hanya ingat,
atas Ma’rifat saja, takluknya kepada Sifat Ilmu (pengetahuan).
Rukun
Qouli itu masuknya 5 (lima) rukun yaitu : Takbiratul ihram, Fatihah,
Tahiyat, Salawat, Salam Pertama. Adapun rukun Qouli ini wajib dibaca
dengan mulut, tiada boleh diingat dengan hati, membacanya sekira-kira
telinga kita sendiri yang mendengarnya, takluknya kepada sifat Sama’
atau pendengaran.
Rukun Fi’li masuknya 6 (enam) rukun yaitu :
kelakuan sembahyang : Berdiri Betul, Rukuk, I’tidal, Sujud, Duduk Di
antara Dua Sujud, Duduk Tahiyat Akhir, maka yang 6 (enam) ini ialah
kelakuan sembahyang, takluknya kepada sifat Bashar (penglihatan). Maka
Rukun Fi’li ini ialah kelakuan sembahyang atau kelakuan Allah atas jasad
yang terbit dari pada setetes air mani. Diciptakan Allah menjadi
tubuh/jasad, itulah hurufnya nasar Nabi Allah Adam yang 4 (empat) yakni
Air, Tanah, Api dan Angin, menjadi tubuh hurufnya kepada kita, dan
inasar Muhammad itu 4 (empat) pula pada kita yaitu :
Pengrasa
Pendengar
Penglihat
Pencium
maka menjadi Roh kepada kita itulah asal dari pada inasar Muhammad.
Maka Muhammad inilah yang disuruh menyembah Allah, karena sesudah inasar
Adam menjadi tubuh dan inasar Muhammad menjadi Roh kita, maka
sempurnalah kejadian kita, akan tetapi masih belum bisa bergerak
apa-apa, Firman Allah Ta’ala : “LAA TATAH RAKA ZURRATAN ILLA BIIZRILLAH”
artinya Tidak bergerak Ya Muhammad di dalam alam ini sesuatu apa yang
kecil kalau tiada izinKu (RahasiaKu).
Maka Rahasia itu “Nur”.
Adapun jalan hakikat yang mengata Allahu Akbar di waktu kita sembahyang
itu ialah Rahasia Allah kepada kita. Begini jalan Ma’rifat kita kepada
Allah atau kepada Zattullahi Ta’ala yang berpedoman kepada hukum Syara’
yakni Syari’at yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad SAW.
PENJELASAN ORANG ORANG YANG MENINGGALKAN SEMBAHYANG
Nabi bersabda : artinya Siapa yang meninggalkan sembahyang lima waktu, maka ia akan dibebankan seperti tersebut di bawah ini :
Syahadatnya tidak diterima dan harus dibunuh.
Mayatnya jangan dimandikan dan ditanam di jalanan.
Jangan dimakan binatang yang disembelihnya.
Jangan bergaul dengan mereka, karena mereka lebih najis daripada Anjing dan Babi.
Perhatikanlah hadist Nabi Muhammad SAW yang tersebut di atas.
Selanjutnya ketahuilah Rahasia Sembahyang, karena itu adalah Nama Nabi
Muhammad SAW dan yang pertama dijadikan sembahyang itu adalah Nama
“Akhmad” seperti : Berdiri tegak dengan hakekatnya "Alif", Ruku’ seperti
“Ha”, Sujud seperti “Mim”, Duduk seperti “Dal”, inilah artinya kelakuan
sembahyang pada Insan, seperti rupa Muhammad.
Kepala Seperti Mim Awal
Tangan/Bahu seperti Ha
Perut seperti Mim Akhir
Kaki seperti Dal
Rahasia daripada Rahasia Sembahyang kepada huruf Allah.
Berdiri betul hurufnya Alif
Ruku’ hurufnya Lam Awal
Sujud hurufnya Lam Akhir
Duduk Tahiyat hurufnya Ha
Inilah yang diumpamakan Diri yang bernafas ialah Muhammad yang berasal dari Ahmad.
Alif Syaratnya kepada Api
Ha Syaratnya kepada Angin
Mim Syartnya kepada Air
Dal Syaratnya kepada Tanah/Bumi
Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Minggu, 20 Desember 2015
Selasa, 24 November 2015
MENGENAL DIRI SENDIRI
MENGENAL DIRI SENDIRI
Langkah pertama untuk mengenal diri sendiri ialah dengan mengetahui bahawa diri itu tersusun dari bentuk-bentuk lahir (yang disebut badan atau jasad) dan bentuk-bentuk bathin (yang disebut qalbu atau jiwa). Yang dimaksudkan dengan Qalbu itu bukanlah yang berupa segumpal daging yang berada disebelah kiri badan di bawah susu (yang dikatakan jantung). Tetapi dialah Roh suci dan berpengaruh di dalam tubuh dan dialah yang mengatur jasmani dan segenap anggota badan. Dialah Hakikat Insan Allah (yang dinamakan diri yang sebenarnya diri). Dialah yang bertanggung jawab dan dialah yang dipuji atau diseksa oleh Allah SWT.
Untuk meneliti dan mengenal diri sendiri itu, maka jasad dapat dimisalkan sebagai suatu kerajaan. Dan roh sebagai Rajanya yang berkuasa dan dialah yang mengatur jasmani. Jasmani adalah sebagai suatu Kerajaan dalam bentuk Alamuasyahadah atau Alam Nyata. Seluruh badan jasmani akan hancur binasa setelah mati, tetapi hakikat Roh dan jiwa tidak akan mati, ia tetap tinggal dalam Ilmu Allah. Dan Rohani / Jiwa adalah sebagai Raja dalam bentuk Alam Ghaib, maksudnya bahawa Roh / Jiwa itu adalah ghaib, keadaannya tidak terpisah-pisah, tidak terbatas oleh waktu dan ruang, tidak tentu tempatnya dalam sesuatu bahagian tubuh, oleh kerana itu maka setiap manusia adalah merupakan pemerintah di atas kerajaan kecil didalam dirinya sendiri. Sungguh benar sekali istilah yang menyebutkan bahawa ”Manusia itu adalah mikromos” atau dunia kecil dalam dirinya sendiri.
Sebahagian orang berpendapat bahawa hakekat Qalbu atau Roh itu dapat dicapai dengan cara memejamkan kedua matanya serta melupakan segala yang ada di sekitarnya, kecuali peribadinya. Dengan cara begitu akan dapat juga kilauan dari alam abadi kepada peribadinya (dalam mengenal dirinya). Tetapi bagaimanapun juga segala pertanyaan yang mendalam tentang hakikat Roh yang sesungguhnya, adalah tidak diizinkan oleh Allah Yang Maha Esa. Didalam Quran Allah berfirman: ”Mereka itu bertanya kepada Engkau Muhammad, tentang Roh, katakanlah bahawa Roh itu urusan Tuhanku, tidak kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit saja” .(S. Isra 85) . Apabila seseorang bertafakur atas dirinya sendiri, maka ia akan dapat mengetahui bahawa dirinya itu pada masa dahulunya, ”tidaknya pernah ada”. Firman Allah: ”Tidaklah manusia itu ingat bahawa kami menjadikannya dahulunya sedang ia belum ada suatu apapun”. Kemudian manusia itu akan mengetahui bahawa ia sebenarnya dijadikan dari setitis air (mani) yang tidak mempunyai akal sedikitpun, tidak mempunyai pendengaran, penglihatan, kaki, tangan, kepala dan sebagainya. Dari sinilah manusia akan mengetahui dengan terang dan nyata, bahawa tingkat kesempurnaan yang ia dapat capai bukanlah ia yang membuatnya, kerana sehelai rambut pun manusia itu tidak akan sanggup membuatnya.
Dengan jalan memikirkan hal tersebut diatas maka manusia itu dapat menemukan dirinya di dalam kejadian yang sangat kecil bila dibandingkan dengan Kekuasaan dan Kasih-Sayangnya Tuhan yang menjadikannya. Dan apabila manusia itu berfikir jauh maka ternyata didalam kehidupan ia memerlukan berbagai macam keperluan seperti makanan, pakaian, perumahan dan sebagainya ,yang kesemuanya itu telah tersedia lengkap didalam muka bumi ini. Disini manusia akan menjadi sedar akan sifat Rahman dan Rahimnya Allah yang begitu besar dan luasnya. Demikianlah alam dunia yang diciptakan Allah penuh dengan keajaiban keajaiban. Rangka jasad adalah bukti Kekuasaan dan KebijaksanaanNya dan penuh pula dengan berbagai-bagai alat kelengkapan yang dibuatNya sebagai tanda Kasih Sayang-Nya, pada keperluan hidup manusia, maka oleh kerana itu manusia akan mengetahui bahawa Allah itu ”ADA”. Oleh kerana itu benar-benar bahawa dengan penelitian dan pengenalan diri sendiri akan menjadi kunci bagi pengenalan Allah.
MENGENAL ALLAH
Bahagian yang penting dalam mengenal ALLAH, datangnya dari perbuatan perbuatan kita bagi mempelajari dan meneliti serta memikirkan diri sendiri, yang memberikan kepada kita kekuatan,kepandaian dan mencintai ciptaanNya. Sifat sifat manusia, bukan hanya menjadi gambaran dari sifat sifat ALLAH, tetapi juga ragam adanya jiwa manusia membawa keinsafan kepada pengertian adanya ALLAH. Maksudnya bahawa kedua duanya iaitu ALLAH dan ROH adalah ghaib, tidak terpisah, tidak terbilang, tidak berupa, tidak berbentuk, tidak berwarna dan tidak berukuran.
Manusia mendapat kesukaran dalam menerima gambaran tersebut, Tetapi kesukaran kesukaran itu sememangnya dirasakan oleh fikiran kita setiap masa seperti perasaan marah,sakit ,gembira dan cinta.Hal ini merupakan faham fikiran dan tidak dapat diketahui oleh otak kerana disebebkan oleh bentuk-dan ukurannya. Seperti halnya, telinga tidak dapat mengenal warna, mata tidak dapat mengenal suara dan begitu pula dalam mengertikan kenyataan kenyataan pokok yakni Tuhan dan Roh, Kita sendiri hanya dapat sampai pada batas batas yang dapat dicapai oleh akal fikiran dan selebihnya akal fikiran kita tidak sanggup lagi memikirkannya sebegitu jauh. Betapapun juga ,kita dapat melihat bahawa ALLAH itulah yang mengatur alam semesta dan Dia adalah tidak mengenal ruang dan waktu, tidak mengenal bentuk dan ukuran, yang memerintah segenap perkara demikian keadaannya.Sebagaimana yang telah dihuraikan,, ”ROH” tidak mempunyai tempat tertentu dalam sesuatu bahagian badan, tidak terpisah pisah,tidak mengenal bentuk dan ukuran tetapi ia memerintah “JASAD”. Demekianlah ALLAH, tidak mengenal ruang dan masa,tidak mengenal bentuk dan ukuran tetapi DIA memerintah Alam Semesta. Itulah Tuhan Yang Esa,Maha Kuasa,Maha Besar dan Maha Agung.
Langkah pertama untuk mengenal diri sendiri ialah dengan mengetahui bahawa diri itu tersusun dari bentuk-bentuk lahir (yang disebut badan atau jasad) dan bentuk-bentuk bathin (yang disebut qalbu atau jiwa). Yang dimaksudkan dengan Qalbu itu bukanlah yang berupa segumpal daging yang berada disebelah kiri badan di bawah susu (yang dikatakan jantung). Tetapi dialah Roh suci dan berpengaruh di dalam tubuh dan dialah yang mengatur jasmani dan segenap anggota badan. Dialah Hakikat Insan Allah (yang dinamakan diri yang sebenarnya diri). Dialah yang bertanggung jawab dan dialah yang dipuji atau diseksa oleh Allah SWT.
Untuk meneliti dan mengenal diri sendiri itu, maka jasad dapat dimisalkan sebagai suatu kerajaan. Dan roh sebagai Rajanya yang berkuasa dan dialah yang mengatur jasmani. Jasmani adalah sebagai suatu Kerajaan dalam bentuk Alamuasyahadah atau Alam Nyata. Seluruh badan jasmani akan hancur binasa setelah mati, tetapi hakikat Roh dan jiwa tidak akan mati, ia tetap tinggal dalam Ilmu Allah. Dan Rohani / Jiwa adalah sebagai Raja dalam bentuk Alam Ghaib, maksudnya bahawa Roh / Jiwa itu adalah ghaib, keadaannya tidak terpisah-pisah, tidak terbatas oleh waktu dan ruang, tidak tentu tempatnya dalam sesuatu bahagian tubuh, oleh kerana itu maka setiap manusia adalah merupakan pemerintah di atas kerajaan kecil didalam dirinya sendiri. Sungguh benar sekali istilah yang menyebutkan bahawa ”Manusia itu adalah mikromos” atau dunia kecil dalam dirinya sendiri.
Sebahagian orang berpendapat bahawa hakekat Qalbu atau Roh itu dapat dicapai dengan cara memejamkan kedua matanya serta melupakan segala yang ada di sekitarnya, kecuali peribadinya. Dengan cara begitu akan dapat juga kilauan dari alam abadi kepada peribadinya (dalam mengenal dirinya). Tetapi bagaimanapun juga segala pertanyaan yang mendalam tentang hakikat Roh yang sesungguhnya, adalah tidak diizinkan oleh Allah Yang Maha Esa. Didalam Quran Allah berfirman: ”Mereka itu bertanya kepada Engkau Muhammad, tentang Roh, katakanlah bahawa Roh itu urusan Tuhanku, tidak kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit saja” .(S. Isra 85) . Apabila seseorang bertafakur atas dirinya sendiri, maka ia akan dapat mengetahui bahawa dirinya itu pada masa dahulunya, ”tidaknya pernah ada”. Firman Allah: ”Tidaklah manusia itu ingat bahawa kami menjadikannya dahulunya sedang ia belum ada suatu apapun”. Kemudian manusia itu akan mengetahui bahawa ia sebenarnya dijadikan dari setitis air (mani) yang tidak mempunyai akal sedikitpun, tidak mempunyai pendengaran, penglihatan, kaki, tangan, kepala dan sebagainya. Dari sinilah manusia akan mengetahui dengan terang dan nyata, bahawa tingkat kesempurnaan yang ia dapat capai bukanlah ia yang membuatnya, kerana sehelai rambut pun manusia itu tidak akan sanggup membuatnya.
Dengan jalan memikirkan hal tersebut diatas maka manusia itu dapat menemukan dirinya di dalam kejadian yang sangat kecil bila dibandingkan dengan Kekuasaan dan Kasih-Sayangnya Tuhan yang menjadikannya. Dan apabila manusia itu berfikir jauh maka ternyata didalam kehidupan ia memerlukan berbagai macam keperluan seperti makanan, pakaian, perumahan dan sebagainya ,yang kesemuanya itu telah tersedia lengkap didalam muka bumi ini. Disini manusia akan menjadi sedar akan sifat Rahman dan Rahimnya Allah yang begitu besar dan luasnya. Demikianlah alam dunia yang diciptakan Allah penuh dengan keajaiban keajaiban. Rangka jasad adalah bukti Kekuasaan dan KebijaksanaanNya dan penuh pula dengan berbagai-bagai alat kelengkapan yang dibuatNya sebagai tanda Kasih Sayang-Nya, pada keperluan hidup manusia, maka oleh kerana itu manusia akan mengetahui bahawa Allah itu ”ADA”. Oleh kerana itu benar-benar bahawa dengan penelitian dan pengenalan diri sendiri akan menjadi kunci bagi pengenalan Allah.
MENGENAL ALLAH
Bahagian yang penting dalam mengenal ALLAH, datangnya dari perbuatan perbuatan kita bagi mempelajari dan meneliti serta memikirkan diri sendiri, yang memberikan kepada kita kekuatan,kepandaian dan mencintai ciptaanNya. Sifat sifat manusia, bukan hanya menjadi gambaran dari sifat sifat ALLAH, tetapi juga ragam adanya jiwa manusia membawa keinsafan kepada pengertian adanya ALLAH. Maksudnya bahawa kedua duanya iaitu ALLAH dan ROH adalah ghaib, tidak terpisah, tidak terbilang, tidak berupa, tidak berbentuk, tidak berwarna dan tidak berukuran.
Manusia mendapat kesukaran dalam menerima gambaran tersebut, Tetapi kesukaran kesukaran itu sememangnya dirasakan oleh fikiran kita setiap masa seperti perasaan marah,sakit ,gembira dan cinta.Hal ini merupakan faham fikiran dan tidak dapat diketahui oleh otak kerana disebebkan oleh bentuk-dan ukurannya. Seperti halnya, telinga tidak dapat mengenal warna, mata tidak dapat mengenal suara dan begitu pula dalam mengertikan kenyataan kenyataan pokok yakni Tuhan dan Roh, Kita sendiri hanya dapat sampai pada batas batas yang dapat dicapai oleh akal fikiran dan selebihnya akal fikiran kita tidak sanggup lagi memikirkannya sebegitu jauh. Betapapun juga ,kita dapat melihat bahawa ALLAH itulah yang mengatur alam semesta dan Dia adalah tidak mengenal ruang dan waktu, tidak mengenal bentuk dan ukuran, yang memerintah segenap perkara demikian keadaannya.Sebagaimana yang telah dihuraikan,, ”ROH” tidak mempunyai tempat tertentu dalam sesuatu bahagian badan, tidak terpisah pisah,tidak mengenal bentuk dan ukuran tetapi ia memerintah “JASAD”. Demekianlah ALLAH, tidak mengenal ruang dan masa,tidak mengenal bentuk dan ukuran tetapi DIA memerintah Alam Semesta. Itulah Tuhan Yang Esa,Maha Kuasa,Maha Besar dan Maha Agung.
MENGENAL MAKRIFAT.
Dinamakan Makrifat itu ialah:
1. Mengetahui dari mula sampai akhir.
2. Nampak terbentang luas dan nyata.
3. Renong dengan mata kepala sendiri.
4. Renong dengan mata hati.
Maka setinggi-tinggi makrifat itu dinamakan KASYAP.
Maka sebaik-baik makrifat itu dinamakan ZUK.
Maka semulia-mulia makrifat itu dinamakan MAJZUB.
Maka makrifat itu terbahagi enam perkara iaitu:
1. Makrifat KALBUN ertinya renungan hati.
2. Makrifat ROH ertinya renungan roh.
3. Makrifat SIRR ertinya renungan rahsia.
4. Makrifat DAIM ertinya mengenal diri.
5. Makrifat HULUL ertinya renungan Wahdatul Ujud.
6. Makrifat ITTIHAD ertinya renungan Wahdatul Ujud.
HULUL dan ITTIHAD ada berbeza walaupun berkenaan dengan Wahdatul Ujud.
Adapun guna MAKRIFAT itu ialah tiga perkara, iaitu:
1. Makrifat dirinya.
2. Makrifat hamba.
3. Makrifat ketuhanan.
PINTU MAKRIFAT
Pintu Makrifat itu empat:
Pintu Makrifat orang-orang Syariat sama ada mengetahui atau tidak, ialah lubang mulutnya.
Pintu Makrifat orang-orang Tarekat adalah lubang hidungnya.
Pintu Makrifat orang-orang Hakikat ialah dua biji matanya.
Pintu Makrifat orang-orang Makrifat diantara dua keningnya, yang dinamakan wajah.
ATURAN MEMPELAJARI MAKRIFAT.
1. Taat pada Allah Ta'ala.
2. Jangan Putus asa.
3. Jangan besar hati.
4. Jangan takbur.
5. Berharap pada Allah Ta'ala untuk mendapat Hidayat atau Taufik.
6. Redha menyerahkan diri pada hukum Allah.
________________________________________
Pintu Makrifat itu empat:
Pintu Makrifat orang-orang Syariat sama ada mengetahui atau tidak, ialah lubang mulutnya.
Pintu Makrifat orang-orang Tarekat adalah lubang hidungnya.
Pintu Makrifat orang-orang Hakikat ialah dua biji matanya.
Pintu Makrifat orang-orang Makrifat diantara dua keningnya, yang dinamakan wajah.
ATURAN MEMPELAJARI MAKRIFAT.
1. Taat pada Allah Ta'ala.
2. Jangan Putus asa.
3. Jangan besar hati.
4. Jangan takbur.
5. Berharap pada Allah Ta'ala untuk mendapat Hidayat atau Taufik.
6. Redha menyerahkan diri pada hukum Allah.
________________________________________
Mengapa hati memegang peranan penting di dalam mengenal Allah?
Bila kita sebut nama hati, maka hati yang dimaksud di sini bukanlah hati yang merah tua seperti hati ayam yang ada di sebelah kiri yang dekat jantung kita itu. Tetapi hati ini adalah alam ghaib yang tak dapat dilihat oleh mata dan alat panca indra karena ia termasuk alam ghaib (bersifat rohani). Tiap-tiap diri manusia memiliki hati sanubari, baik manusia awam maupun manusia wali, begitu juga para nabi dan rasul. Pada hati sanubari ini terdapat sifat-sifat jahat (penyakit hati), seperti : hasad, dengki, loba, tamak, rakus, pemarah, bengis, takbur, ria, ujub, sombong, dan lain-lain. Tetapi bilamana ia bersungguh-sungguh di dalam tarekatnya di bawah bimbingan mursyidnya, maka lambat laun hati yang kotor dan berpenyakit tadi akan bertukar bentuknya dari rupa yang hitam gelap pekat menjadi bersih putih dengan mengikuti kegiatan bertafakur atau khalwat secara Mentauhidkan diri Manakala hati yang hitam tadi telah berubah menjadi putih bersih, barulah ia memberikan sinar. Hati yang putih bersih bersinar itulah yang dinamakan hati Rohani (Qalbu) atau disebut juga dengan diri yang batin.
Seumpama kita bercermin di depan kaca, maka kita tidak akan
dapat melihat apa yang ada dibalik cermin selain muka kita, karena
terhalang oleh cat merah yang melekat disebaliknya. Tetapi bila cat
merah itu kita kikis habis, maka akan tampaklah di sebaliknya
bermacam-macam dan berlapis-lapis cermin hingga sampai menembus ke alam
Nur, alam Jabarut, alam Lahut, hingga alam Hadrat Hak Allah Ta’ala.
Itulah sebabnya bila kita hanya baru sebatas mengenal hati sanubari saja, maka yang kita lihat hanya diri kita saja, sebab ditahan oleh cat merah tadi, yaitu sifat-sifat jahat seperti: takabbur, ria, ujub, dengki, hasad, pemarah, loba, tamak, rakus, cinta dunia, dan berbagai penyakit hati lainnya. Tetapi bila mana cat merah itu telah terkikis habis, barulah ia akan menyaksikan alam yang lebih tinggi dan mengetahuilah ia segala rahasia termasuk dirinya dan hakikatnya dan juga alam seluruhnya dan akhirnya mengenallah ia akan Tuhannya. Itulah sebabnya para wali-wali Allah itu lahir dari para sufi yaitu orang-orang yang telah berhasil membersihkan hatinya dengan bantuan mursyidnya pada zahir sedang pada hakikatnya dengan qudrat dan iradat Allah Ta’ala. Di sinilah terletak wajibnya mengenal diri untuk jalan mengenal Allah.
Itulah sebabnya bila kita hanya baru sebatas mengenal hati sanubari saja, maka yang kita lihat hanya diri kita saja, sebab ditahan oleh cat merah tadi, yaitu sifat-sifat jahat seperti: takabbur, ria, ujub, dengki, hasad, pemarah, loba, tamak, rakus, cinta dunia, dan berbagai penyakit hati lainnya. Tetapi bila mana cat merah itu telah terkikis habis, barulah ia akan menyaksikan alam yang lebih tinggi dan mengetahuilah ia segala rahasia termasuk dirinya dan hakikatnya dan juga alam seluruhnya dan akhirnya mengenallah ia akan Tuhannya. Itulah sebabnya para wali-wali Allah itu lahir dari para sufi yaitu orang-orang yang telah berhasil membersihkan hatinya dengan bantuan mursyidnya pada zahir sedang pada hakikatnya dengan qudrat dan iradat Allah Ta’ala. Di sinilah terletak wajibnya mengenal diri untuk jalan mengenal Allah.
ILMU HAKIKAT
Adapun ilmu hakikat atau ilmu batin memang tidak boleh disiar-siarkan kecuali kepada orang yang menginginkannya. Memberikan dan mengajarkan ilmu hakikat kepada yang bukan ahlinya ditakuti jadi fitnah disebabkan pemikiran otak sebahagian manusia ini tidak sampai mendalami ke lubuk dasarnya yaitu ilmu Allah Ta’ala. Ibarat kayu di hutan tidak sama tingginya, air di laut tidak sama dalamnya, dan tanah di bumi tidak sama ratanya, demikian halnya dengan manusia. Maka ahli Zikir (ahlus Shufi) inilah yang mendekati maqam wali-wali Allah yang berada di bawah martabat para nabi dan rasul. Inilah makna tujuan Allah memerintahkan supaya bertanya kepada ahli Zikir, karena ahli Zikir adalah orang-orang yang senantiasa hati dan pikirannya selalu ingat kepada Allah serta senantiasa mendapat bimbingan ilham dari Allah SWT.
Oleh karena itu, agar kita dapat mengenal Allah, maka kita harus mempunyai pembimbing rohani atau mursyid. Tentang hal ini Abu Ali ats-Tsaqafi berkata, “seandainya seseorang mempelajari semua jenis ilmu dan berguru kepada banyak ulama, maka dia tidak sampai ke tingkat para sufi kecuali dengan melakukan latihan-latihan Rohani bersama seorang syeikh yang memiliki akhlak luhur dan dapat memberinya nasehat-nasehat. Dan barang siapa yang tidak mengambil akhlaknya dari seorang syeikh yang melarangnya, serta memperlihatkan cacat-cacat dalam amalnya dan penyakit-penyakit dalam jiwanya, maka dia tidak boleh diikuti dalam memperbaiki muamalah”.
Namun tidaklah ilmu pengenalan kepada Allah ini diperoleh dengan mudah begitu saja seperti mempelajari ilmu syari’at, karena ada satu syarat yang paling utama yang harus dilakukan terlebih dahulu yaitu mengambil ilmu ini dengan dibai’at oleh seorang mursyid yang kamil mukamil yang masuk dalam rantai silsilah para syeikh tarekat sufi yang bersambung-sambung sampai kepada Rasulullah SAW. Oleh karena itu jalan satu-satunya bagi kita untuk dapat mengenal Allah adalah dengan mempelajari ilmu tarekat di bawah bimbingan seorang mursyid.
Dalam ilmu tauhid dikenal dua macam maqam:
1. Maqam Fana, yaitu memandang
dan bermusyahadah tentang
empat perkara. Tauhidul af ’al,
Tauhidul asma, Tauhidus Sifat,
dan Tauhidudz Dzat.
2. Maqam Baqa. Terdiri dari
Syuhudul Katsrah Fil Wahdah,
yang artinya memandang yang
banyak di dalam yang satu. Dan
Syuhudul Wahdah Fil Katsrah,
yakni memandang yang satu di
dalam yang banyak.
Maqam Baqa lebih tinggi dan
lebih mulia daripada Maqam Fana.
Karena, Maqam Fana akan binasa
dan lenyap di bawah Ahdiyyah
Allah, sedangkan Maqam Baqa
adalah maqam yang tetap dan
kekal di dalam Wahdiyyah Allah.
Selain itu, Maqam Fana adalah
maqam dari pandangan, bahwa
tiada yang maujud kecuali Allah,
sementara Maqam Baqa adalah
maqam dari pandangan, bahwa
Allah dan Qayyumiyyah-Nya
senantiasa menyertai setiap
zarratul wujud (bagian terkecil
dari wujud), yang berarti Ia Qaim
(berdiri) di atas segala wujud.
Maqam Baqa dinamakan juga
Maqam Tajalli, Zhuhur
(penampakan), dan Maqam.
Penjelasan lebih lanjut mengenai
maqam ini, dapat dilihat dari
kalimat-kalimat berikut:
"Aku tidak melihat sesuatu
melainkan aku melihat Allah
bersamanya."
"Aku tidak melihat sesuatu
melainkan aku melihat Allah di
dalamnya."
"Aku tidak melihat sesuatu
melainkan aku melihat Allah
sebelumnya."
"Aku tidak melihat sesuatu
melainkan aku melihat Allah
sesudahnya."
Maqam Baqa tidak dapat dicapai
kecuali telah melewati Maqam
Fana. Dengan kata lain, Maqam
Baqa merupakan maqam yang
dihasilkan dari Maqam Fana.
Karena dihasilkan dari Maqam
Fana, maka Maqam Baqa tidak
lain daripada fanaulfana ("lenyap
dalam kelenyapan"), yang dicapai
setelah fana
Syuhudul Katsrah Fil Wahdah,
yang artinya memandang yang
banyak di dalam yang satu. Dan
Syuhudul Wahdah Fil Katsrah,
yakni memandang yang satu di
dalam yang banyak.
Maqam Baqa lebih tinggi dan
lebih mulia daripada Maqam Fana.
Karena, Maqam Fana akan binasa
dan lenyap di bawah Ahdiyyah
Allah, sedangkan Maqam Baqa
adalah maqam yang tetap dan
kekal di dalam Wahdiyyah Allah.
Selain itu, Maqam Fana adalah
maqam dari pandangan, bahwa
tiada yang maujud kecuali Allah,
sementara Maqam Baqa adalah
maqam dari pandangan, bahwa
Allah dan Qayyumiyyah-Nya
senantiasa menyertai setiap
zarratul wujud (bagian terkecil
dari wujud), yang berarti Ia Qaim
(berdiri) di atas segala wujud.
Maqam Baqa dinamakan juga
Maqam Tajalli, Zhuhur
(penampakan), dan Maqam.
Penjelasan lebih lanjut mengenai
maqam ini, dapat dilihat dari
kalimat-kalimat berikut:
"Aku tidak melihat sesuatu
melainkan aku melihat Allah
bersamanya."
"Aku tidak melihat sesuatu
melainkan aku melihat Allah di
dalamnya."
"Aku tidak melihat sesuatu
melainkan aku melihat Allah
sebelumnya."
"Aku tidak melihat sesuatu
melainkan aku melihat Allah
sesudahnya."
Maqam Baqa tidak dapat dicapai
kecuali telah melewati Maqam
Fana. Dengan kata lain, Maqam
Baqa merupakan maqam yang
dihasilkan dari Maqam Fana.
Karena dihasilkan dari Maqam
Fana, maka Maqam Baqa tidak
lain daripada fanaulfana ("lenyap
dalam kelenyapan"), yang dicapai
setelah fana
Makrifat Menajamkan Mata Hati
Ma'rifat adalah tingkat penyerahan diri kepada Allah secara berjenjang, secara tingkat demi setingkat sehingga sampai kepada tingkat keyakinan yang kuat. Orang yang memiliki ilmu ma'rifat dianggap sebagai orang yang 'arif', kerana ia boleh memikirkan dalam-dalam tentang segala macam liku-liku kehidupan di dunia ini.
Oleh kerana itu jika kita bersungguh-sungguh dalam mempelajari ilmu ma'rifat, maka akan meraih suatu karomah. Karomah adalah keistimewaan yang tidak dimiliki orang awam. Bentuk karomah tersebut adalah mata hati kita menjadi awas dan indra keenam kita menjadi tajam. Jika indra keenam menjadi tajam, kita akan dapat mengetahui sesuatu yang tersembunyi di balik peristiwa.
Orang yang mata hatinya dan indra keenamnya tajam, maka ia dapat masuk ke dalam hal-hal yang dianggap gaib (tersembunyi). Orang yang arif (memiliki ilmu ma'rifat), suka memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah dengan mata kepalanya, kemudian ia merenungkan dengan mata hatinya.
Orang ma'rifat jika melakukan sesuatu atau memutuskan sesuatu menggunakan muraninya daripada hawa nafsunya. Ia tahu betul, apakah hawa nafsu yang mempengaruhi dirinya atau nuraninya yang berkata. Oleh kerana itu, orang yang sudah menduduki tingkat ini, selalu tajam indera keenamnya. Ia tahu sesuatu yang merugikan bagi dirinya meskipun tampak seakan-akan menguntungkan. Ia pun tau apa yang menguntungkan, meskipun seakan-akan tampak seperti merugikan.
Maka, jangan heran, kadang-kadang orang awam memandang sesuatu itu baik dan menguntungkan, namun bagi orang ma'rifat (orang yang tajam indera keenamnya), dipandang sebagai sesuatu yang membahayakan.
Melihat kebaikan dan keburukan dengan mata kepala saja tidak akan dapat mengetahui keadaan yang sebenarnya. Sesuatu yang elok dipandang mata kadang-kadang hanyalah tipuan belaka. Sesuatu yang buruk dipandang mata, kadang-kadang tersimpan sesuatu yang menguntungkan. Maka betapa pentingnya jika kita berlatih untuk mempertajam mata hati dan indera keenam.
Buta mata belum tentu membahayakan bagi kehidupan kita. Kerana banyak orang yang buta matanya, tetapi masih mampu melakukan sesuatu yang terbaik bagi dirinya. Bahkan ia mempunyai keistimewaan, yakni lebih awas daripada kita yang memiliki mata normal. Namun jika mata hati telah buta, maka pertanda hancurlah kehidupan kita, baik kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat.
Orang yang buta hatinya, seringkali merasa kecewa dalam menghadapi liku-liku kehidupannya, kerana ia sering gagal dalam mengambil keputusan. Keputusannya lebih banyak meleset. Sebab, yang digunakan untuk mengambil keputusan lebih didasarkan pada penglihatan mata dan akal yang dipenuhi hawa nafsu. Jadinya, ia kurang cermat dan kurang hati-hati. Ia mudah terkecoh dengan fatamorgana serta khayalan-khayalannya sendiri.
"Dan barang siapa yang buta mata hatinya di dunia ini, maka buta pula di akhirat, jauh tersesat jalannya."
"Sesungguhnya, bukan matanya yang buta, tetapi mata hatinyalah yang buta, yang berada di rongga dadanya."
Oleh kerana itu, betapa pentingnya kita mempelajari ilmu ma'rifat. Dengan ilmu ma'rifat, hati dan alam bawah sadar kita terhindar dari 'kebutaan'. Hati kita menjadi jernih sehingga setiap apa yang kita pikirkan dan kita lakukan akan mendatangkan hasil yang menguntungkan.
Orang yang ma'rifat, selalu berprasangka baik kepada siapapun. Ia juga selalu berprasangka baik kepada Allah swt. TIdak pernah berkeluh kesah dalam hidupnya. Ia selalu merasa dekat kepada Allah. Selalu merasa cinta, penuh harapan dan hatinya terasa senantiasa tenteram.
Ilmu ma'rifat mengantarkan kita kepada suasana hati ikhlas dalam berbuat apa saja, lebih-lebih beribadah kepada Allah. Ibadahnya dilakukan tanpa mengharapkan ganjaran dan tanpa keinginan dipuji orang lain.
Orang-orang ma'rifat menganggap jika perbuatan dilakukan tidak dengan ikhlas, tetapi dengan mengharapkan ganjaran maka akan mengotori jiwanya. Jika jiwa kotor, hati akan berdebu. Bila hati berdebu berarti mata batin dan indera keenam telah buta.
Golongan orang-orang ini selalu menjaga hatinya dan alam bawah sadarnya agar tidak tercemar oleh debu-debu yang dapat membutakan. Kerana itu, suasana hati orang-orang ma'rifat selalu tenteram kerana selalu berprasangka baik kepada siapa pun, tidak membenci, tidak dendam, tidak iri hati, tidak sombong dan tidak riyak tidak takbur.
Sebab, sederetan penyakit semisal sombong, benci, dendam, iri hati dan sebagainya merupakan letupan emosi, bukan nurani yang berbicara, melainkan nafsu keserakahan.
Jika kita telah mendalami ilmu ma'rifat dengan bersungguh-sungguh, maka akan dapat melihat betapa diri kita menjadi orang yang luar biasa. Mungkin kita akan terheran-heran. Kerana jika ilmu ma'rifat telah dikuasai, maka seseorang akan dapat mengenal Allah, sehingga antara dirinya dan Allah seakan-akan tidak ada batas/perantara, sehingga seakan-akan mampu berhubungan langsung.
Disamping itu, kita akan dapat dengan mudah menyerahkan hawa nafsu menurut kehendak Allah. Kita merasa tidak punya hak untuk memiliki, sekalipun pada diri sendiri. Kerana menyadari segala sesuatu yang ada di dunia ini hanyalah milik Allah, termasuk nyawa kita.
Langganan:
Postingan (Atom)





