Laman

Rabu, 20 April 2016

Mereka Berbicara Cinta


Ungkapan dan definisi cinta begitu banyak. Ada yang berbicara berdasar prinsip-prinsip bahasa, banyak juga yang berbicara sesuai dengan perjalanan hidup dan tingkat spiritualnya dalam memahami makna cinta. Diantara yang berbicara menurut bahasa mengungkapkan bahwa hubb (cinta) adalah gelembung-gelembung yang terbentuk diatas permukaan air hujan lebat. Jadi, cinta adalah menggelembungnya hati manakala ia haus untuk segera bertemu dengan sang kekasih pujaan hati.
Dikatakan pula bahqa hubb bersumber dari akar kata yang memiliki arti keteguhan dan kemantapan. Dikatakan ahabbal ba’ir utnuk menggambarkan seekor unta yang berlutut dan menolak untuk bangkit lagi, seakan-akan sang pencinta (muhibb) tidak akan mengerakkan hatinya sebab selalu mengingat sang kekasih (mahbub).
Ada yang mengatakan pula bahwa hubb berasal ari kata hibbah yang berarti biji-bijian dari padang pasir. Cinta dinamakan hubb karena ia adalah lubuk kehidupan seperti hubb sebagai benih tumbuh-tumbuhan.
Dikatakan juga bahwa hubb adalah keempat sisi tempat air, dan cinta dinamakan hubb karena ia memikul beban dari yang dicintai dari segala hal yang luhur.
Dikatakan pula bahwa hubb berasal dari hibb, yaitu tempat yang didalamnya ada air, dan apabila ia sudah penuh, tidak ada tempat bagi lainnya. Demikian halnya, manakala hati diluapi perasaan cinta, tidak ada tempat selain sang kekasih.
Begitulah beberapa definisi cinta dari segi bahasa yang dinukil dari kitab Risalah al-Qusyairiyyah karangan Imam al-Qusyairi an-Naisaburi. Adapun definisi cinta menirut paara tokoh sufi juga banyak dikutip dalam kitab tersebut. Abu Yazid al-Busthami mengungkapkan, cinta adalah membebaskan hal-hal sebesar apapun yang dating dari dirimu dan membesar-besarkan hal-hal kecil yang dating dari kekasihmu.
Sementara, Syekh Abu Ali al-Daqqaq berkata, “Cinta adalah kelezatan, tetapi kdudukan hakikatnya adalah kedahsyatan.” Beliau juga mengatakan jika seluruh cinta dikumpulkan pada satu pribadi manusia, maka cinta itu masih sangat jauh dari kadarnya yang seharusnya dipersembahkan kepada Allah SWT. Tidak bisa dikatakan, “Orang ini telah melampaui semua batas dalam mencintai Allah SWT.”
Lebih lanjut, Abu Bakar al-Kattani bertutur, “Persoalan cinta telah dibicarakan para Syekh di Makkah selama musim haji. Junaid al_Baghdadi adalah salah satu pemuda yang pernah hadir dalam pertemuan besar. Sebagian pengikut memanggilnya dan bertanya, ‘Hai orang Irak, katakanlah kepada kami pendapatmu tentang cinta?’ Junaid menundukkan kepalanya seraya menangis, kemudian menjawab, ‘Cinta adalah seorang pelayan yang meninggalkan jiwanya dan meletakkan dirinya untuk berdzikir kepada Tuhannya, mengukuhkan diri dalam melaksanakan semua perintahNya dengan kesadaran yang terus-menerus akan Dia dalam hatinya. CahayaNya membakar hatinya dan dia ikut meminum minuman suci dari cangkir cintaNya. Yang Maha Kuasa terungkap kepadanya dari tabir alam ghaibNya hingga manakala berbicara, dia berbicara dengan perintahNya dan apa yang dikatakannya adalah dari Allah, dan manakal dia diam, maka diamnya itu bersama Allah. Dia akan selalu berbuat karena Allah, untuk Allah, dan selalu bersama Allah.” Mendengar kata-kata pemuda itu, semua Syekh menangis dan berkata, “Tak ada lagi yang perlu dikatakan. Semoga Allah menguatkanmu, wahai mahkota para ‘arifin.”
Rabi’ah Adawiyah, suatu kali ditanya soal cinta. Beliau berkata, “Sungguh, antara orang yang mencintai dan dicintai tidak ada jarak. Cinta adalah pembicaraan tentang kerinduan dan penyifatan tentang perasaan. Barang siapa yang merasakan cinta, berarti ia telah mengenalnya, barang siapa yang menyifati sesuatu, padahal dia sendir ghaib dari sisiNya terhadap wujud dan kehadiranNya, maka ia pandai, dengan kesadarannya maka ia mabuk, untuk memusatkan perhatian kepadaNya, ia sudah penuh, dalam bergembira denganNya ia bingung, kehebatanNya menjadikan lidah kelu untuk menyebutkan, ketercengangan membuat akal terikat utnuk mengakui, kebingungan menjadikan hati terhenti utnuk menyatakan. Disana, hanya kebingungan yang abadi, hati yang lemah, dan rahasia yang sempurna, sedangkan cinta dengan segala kekuasaannya merupakan penentu dalam hati.”
Lihatlah syair Rabi’ah sangat indah :
Gelasku, anggurku, dan teman minumku ada tiga
Dan, aku yang dirundung rindu cinta adalah yang keempat
Gelas kegembiraan, kenikmatan mengelilinginya
Tiba-tiba orang yang diajak minum di telaga mengikutinya
Bila aku memandang
Tiada kulihat kecuali milikNya
Wahai orang yang mencelaku
Aku mencintai keindahanNya
Demi Allah, telingaku bukan untuk mendengar celaanmu
Berapa kali aku terbakar dan pergantunganku sia-sia
Yang mengalirkan air mataku
Kesedihanku tiada meningkat
Hubunganku tiada tersisa
Dan mataku yang terluka tiada tidur…
Ibnu Qayyim berkata, “Tidak ada batasan cinta yang lebih jelas daripada daripada kata cinta itu sendiri, membatasinya justru hanya akan menambah kabur dan kering maknanya. Maka, batasan dan penjelasan cinta tersebut tidak bisa dilukidkan hakikatnya secara jelas, kecuali dengan kata cinta itu sendiri.”
Kolumnis Musthafa Amin menggambarkan cinta, sebagaimana peristiwa yang dialaminya, berikut ini :
Seorang pemuda yang beruntung meminta petunjuk kepadaku. Ia mempersoalkan tentang wanita yang bagaimana yang harus dinikahi? Apakah ia hrus menikah dengan perempuan yang berperadaban, yang menguasai banyak bahasa asing, agar ia bisa menemaninya rekreasi ke Eropa atau Amerika? Ataukah, perempuan canti dan menarik yang akan mendampinginya dalam pesta-pesta dan pertemuan-pertemuan yang disinari berbagai lampu? Ataukah, wanita yang bekerja hingga mengerti nilai kerja dab memperhitungkan kepayahan, kesulitan, serta memperkirakan kemelaratan dan beratnya tugas suami, sehingga ia tidak menambah beban berat karena ia tenggelamkan dalam pekerjaan-pekerjaan yang besar? Ataukah, wanita yang dapat menciptakan rumah seperti surga, tempat beristirahat dari kesengsaraannya bekerja terus-menerus?
Saya menjawab, “Engkau perlu menikah dengan seorang wanita yang memiliki beberapa sifat. Perempuan yang engkau nikahi haruslah bagaikan tongkat yang dapat engkau pergunakan saat engkau mendaki gunung. Atau, bagai paying yang dapat engkau pergunakan untuk melindungi kepalamu dari hujan dalam bahtera kehidupan.
“Engkau memerlukan lampu yang dapat menerangimu saat berjalan dalam gelap, kompas yang dapat engkau jadikan pedoman arah dalam bingung. Ia adalah bak lemari yang selalu siap menyimpan rahasiamu, rem yang bisa mengendalikan perjalananmu hingga bersemangat membara dan kuat saat menghadapi serangan lawan, obat kepala saat engkau pening, suara yang merdu yang dapat meninabobokan tidur, sapu tangan untuk mengusap air matamu dan mengeringkan keringatmu saat engkau lelah, kompres yang dapat mendinginkan lukamu, penangkal suara yang dapat mencegah sampainya hiruk pikuk ke telingamu. Ia adalah teman berunding dalam merundingkan persoalan yang engkau hadapi. Jika engkau mencari orang bijak untuk menyelesaikan masalahmu, engkau dapati ia berada dalam pelukanmu. Jika engkau membutuhkan teman, ia adalah sahabat setiamu. Dan jika engkau kehilangan ibu, engkau dapati pada istrimu kasih saying yang meluap-luap seperti kasih saying ibumu. Serta, ia rela berkorban dan berjuang bersamamu.
“Lelaki biasa hanya membutuhkan perempuan yang biasa. Tapi. Laki-laki yang beruntung, berarti ia laki-laki yang luar biasa sehingga memerlukan perempuan yang luar biasa pula. Ia sangup memikiul beban yang melebihi beban perempuan biasa, yang lebih sabar daripada Nabi Ayyub, yang tegar bak gunung, yang menjadi tiang sandaran laki-laki yang fakir hati dan akalnya.”
“Ia yang dapat mengembalikan harapanmu ketika engkau sedang berputus asa. Ia yang dapat membangkitkan semangat dan kemantapan hatimu ketika engkau sedang bergolak. Ia yang dapat membuatmu tersenyum ketika engkau tidak tersenyum. Ia yang oenyantun ketika engkau sedang terhimpit. Ia yang dapat mempergauli manusia dengan baik, padahal ia sedang berkuasa sebagai ratu dan menahan diri dari menumpahkan harta. Sewaktu kedudukannya meningkat, diulurkan tangannya untuk menggapai orang-orang yang jatuh duatas tanah. Jika suaminya bangkrut, ia memperlakukannya seperti orang terkaya di muka bumi ini.”
Pemuda itu berkata, “Mustahil aku dapati istri seperti itu!”
Saya menjawab, “Setiap perempuan yang benar-benar mencintaimu dapat bersikap seperti istri ideal seperti apa yang kau inginkan, jika ia benar-benar mencintaimu!”
Demikian paparan Musthafa Amin. Sesungguhnya, beliau ingin meyakinkan kepada pemuda itu bahwa ia bisa mendapatkan istri yang ideal, apabila istri itu mencintainya. Karena pencinta sejati, pada hakikatnya, tidak akan mendurhakai kekasih yang dicintainya. Ia akan selalu melaksanakan apa yang diinginkan kekasihnya. Kalau ia engaku mencintainya, tetapi sifat, sikap, dan perilakunya sering kali membuat hati orang yag dicintainya sedih, maka sesungguhnya ia tidak mencintainya. Ia mencintai kekasihnya hanya di mulutnya saja, bukan mencintai secara tulus.
Terkadang, banyak kita dapati orang-orang yang menikah dikarenakan calonnyaitu orang kaya, atau memiliki pekerjaan dengan gaji yang banyak. Tetapi, setelah tua dan orang yang dicintainya itu tidak dapat bekerja lagi, maka cinta yang dulu ada kini luntur sedikit demi sedikit. Maka, yang demikian bukanlah cinta namanya!
Cinta adalah manakala mengaku mencintai, maka dengan kesadarannya akan mematuhi apa yang menjadi perintahnya dan dengan penuh kesadaran pula akan menjauhi apa yang dilarangnya. Bukankah kekuatan cinta membuat seseorang tidak akan menyakiti objek (sesuatu yang dituju) yang dicintainya? Ia akan selalu tunduk, patuh, dan merindukannya sepanjang masa.
Cinta juga merupakan inti ajaran yang inberen dalam setiap agama. Tidak ada satupun agama yang mengajarkan umatnya untuk saling memusuhi, mendengki, dan membenci. Ketika pemuka sufi, Ibnu Arabi, ditanya mengenai agama yang dianutnya, ia dengan tegas menjawab, “Cinta adalah agamaku”.
“Ragukan bahwa bintang-bintang itu api, regukan bahwa mataharu itu bergerak, ragukan bahwa kebenaran itu dusta, tapi jangan ragukan cintaku,” demikian ajaran Hamlet kepada Ophelia dalam literer estetisnya Wiliam Shakespeare.
Muhammad Iqbal, pujanga sufi dan filsuf Islam, bersyair :
When the self is made strong by love
Its power rules the whole world
The heavenly sage who adorned the sky with stars
Flunked these buds from the bough oh the self
Its hand becomes God’s hand
The moon is split by its fingers
It’s the arbitrator in all the quarrels of the world
Bila pribadi diperkuat dengan cinta
Tenaganya menguasai dunia semesta
Langit menguasai angkasa dengan bintang-bintang
Tenaganya menjadi tangan Tuhan
Bulan pecah dengan jari-jemarinya
Dialah pelerai dalam semua sengketa dunia.
Itulah rahasia cinta. Cinta membuat yang jauh menjadi dekat, yang berat menjadi ringan, dan yang pahit menjadi manis. Sebaliknya, kebencian membuat yang dekat menjadi jauh, yang ringan menjadi berat, dan yang mais menjadi pahit.
Ali bin Abi Thalib berkata, “Kalau kita mencintai Allah, maka Allah sendiri yang akan membalasnya.” Itu artinya, setiap kali seseorang yang mrncintai Allah dengan ikhlas, lalu mengharapkan pertolongan dan bantuanNya, maka Allah akan membantunya. Setiap kali ia berdoa, dengan cepat Allah mengabulkan doanya.
Kalau kita sudah mendekat Tuhan, maka Tuhan pun akan “turun ke langit dunia” dan tidak akan ada satu permintaan kita yang tidak terkabulkan, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad, “…Tuhan kita turun ke langit dunia pada pertiga terakhir setiap malam, lalu berkata, ‘Adakah orang yang memanggilKu sehingga Aku memenuhi setiap permintaannya? Adakah orang yang meminta dariKu, sehingga Aku akan memberinya? Adakah orang yang memohon ampunanKu, sehingga Aku mengampuninya.”
Dalam maqam luhur nan kudus seperti itulah, tabir antara manusia dan Dia tersibak. Inilah yang disitir surat QS. Qaaf (50) : 22 yang artinya : “…Maka kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu. Maka, penglihatanmu pada hari itu amat tajam.”
Ditanyakan kebada Ibrahim bin Adham, “Mengapa doa kami tidak dikabulkan oleh Allah SWT, padahal Dia telah berfirman, ‘Berdoalah kepadaKu, niscaya Aku akan perkenankan doamu’.”
Ia menjawab, “Karena, hati kalian telah mati dari mencintai Allah.”
“Apakah gerangan yang bisa mematikannya?”
“Ketahuilah, yang bisa mematikan hati kalian itu ada delapan hal. Kalian mengetahui haq Allah, tetapi tidak melaksanakan haqNya. Kalian membaca al-Qur’an, tetapi hanya dimulut saja, tidak pernah kalian berusaha mengamalkannya. Kalian mengatakan cinta kepada Rasulullah, tetapi tidak mengamalkan sunnah-sunnahnya. Kalian takut mati, tetapi kalian tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka jadikanlah ia musuhmu”, tetapi kalian mendukungnya. Kalian takut api neraka, tetapi kalian mencampakkan jasad kalian di dalamnya. Kalian cinta pada surga, tetapi kalian tidak berusaha untuk mendapatkannya. Dan bila kalian berdiri, maka kalian melemparkan aib-aib kelian di belakang punggung kalian, lalu kalian beberkan aib-aib orang lain, dengan demikian kalian membuat Allah murka, maka bagaimana mungkin Dia mengabulkan doa kalian?”

Bila Allah Mencintai HambaNya


“Siapa yang menyampaikan hadits pada ummatku, dalam rangka menegakkan sunnah, atau demi menghancurkan bid’ah, maka ia berada di syurga.” (HR. Abu Nuaim dalam Al-Hiyah)
Para ahli syurga, dalam hadits mulia ini, adalah mereka yang terus menerus menegakkan Sunnah, membelah bid’ah, demi menuggalkan Allah Ta’ala, tawakkal kepadaNya, iman dan cinta kepadaNya.
Sebenarnya kekasih hati adalah Allah SWT. Bila Allah mencintai hambaNya Dia menampakkan rahasiaNya pada keagungan kekuasaanNya, dan Allah SWT, menggerakkan hatinya sebagai limpahan anugerahNya, Allah SWT, memberi minuman dari piala gelas cintaNya, hingga ia mabuk dari selain Dia, lalu dijadikannya berada dalam kemesraan, kedekatan dan kesahabatan denganNya, sampai ia tak sabar untuk segera mengingatNya, tidak memilih yang lainNya dan tidak sibuk dengan satupun selain perintahNya. Syeikh Abu Bakr al-Wasthy ra, berkata, “Posisi cinta lebih di depan dibanding posisi takut. Siapa yang ingin masuk dalam bagian cinta, hendaknya ia selalu husnudzon kepada Allah SWT dan mengagungkan kehormatanNya.”
Diriwayatkan bahwa Allah SWT, memberi wahyu kepada Nabi Dawud as. “Hai Dawud, Cintailah AKu, dan cintailah kekasih-kekasihKu, dan cintailah Aku untuk hamba-hambaKu.”
Lalu Nabi Dawud as, berkata, “Ilahi, Aku mencintaiMu, dan mencintai kekasih-kekasihMu, lalu bagaimana mencintaiMu untuk hamba-hambaMu?”
“Ingatlah mereka, akan keagunganKu dan kebaikan kasih sayangKu…” Jawab Allah SWT.
Dalam hadits disebutkan, “Bila Allah mencintai seorang hamba dari kalangan hamba-hambaNya, Jiril as, mengumumkan “Wahai ahlai lagit dan bumi, wahai kalangan wali-wali Allah dan para Sufi, Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai si fulan, maka cintailah dia.”
Dlam riwayat Imam Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW :
“Apabila Allah Ta’ala mencintai hamba, maka Jibril mengumandangkan, “Sesungguhnya Allah sedang mencintai si fulan, maka cintailah dia. Lalu penghuni langitpun mencintainya, baru kemudian diterima oleh penghuni bumi.”
Dalam satu riwayat Muslim dusebutkan:
“Apabila Allah Ta’ala mencintai hamba, maka Allah memangil Jibril dan berfirman ; “Sesungguhnya Aku mencintai si fulan maka cintailah dia”. Kemudian Jibrilpun mencintainya, lalu Jibril mengumandangkan, :Sesungguhnya Allah sedang mencintainya, baru kemudian diterima oleh penghuni bumi.”
Namun bila Allah Ta’ala membenci si fulan, maka Allah SWT mengundang Jibril dan berfirman, “Aku lagi membenci si fulan, maka bencilah ia…” Jibrilpun membencinya, kemudian mengajak kepada penghuni langit dengn mengatakan, “Sesungguhnya Allah sedang membenci si fulan, maka bencilah padanya. Lalu rasa benci itu diturunkan di muka bumi.”
Abu Abdullah an-Nasaj ra, mengatakan, “Setiap amal yang tidak disertai cinta kepada Allah SWT, tidak bisa diterima.”
“Siapa yang mencintai Allah SWT, maka Dia mengunjunginya dengan berbagai cobaan. Dan siapa yang berpaling dariNya dari lainNya, ia terhijab dariNya dan gugur dari hamparan para pencintaNya.”
Abdullah bin Zaid ra, mengatakan, “Saya sedang bertemu dengan lelaki sedang tidur di atas salju, sementara di keningnya bercucuran keringat. Aku bertanya, “Hai hamba Allah, Bukankah sangan dingin!” Lalu ia menjawab, “Siapa yang sibuk mencintai Tuhannya, tak pernah merasa dingin.” “Lalu apa tanda pecinta itu?” tanyaku. ” Merasa nasih sedikit atas amalnya yang banyak, dan merasa meraih banyak walau mendapatkan sedikit karena datang dari Kekasihnya.” jawabnya.
“Kalau begitu beri aku wasiat.”
“Jadilah dirimu hanya bagi Allah, maka Allah Bekal bagimu.”
Muhammad bin al-Husain ra, mengatakan, “Aku masuk ke pasar untuk membeli budak perempuan, Ku lihat ada budak perempuan yang sedang di ikat, dan pada kedua pipi tulipnya ada luka, yang terukir tulisan, “Siapa yang berkehendak pada kami, akan kami bangkrutkan dia. Dan siapa lari dari kami, akan kami goda dia.”
Inilah, kataku, sebagaimana firman Allah Ta’ala pada hambanya, “Bila kalian semua mencariKu, maka Kulalaikan kalian dari selain diriKu, dan Kufanakan denganKu dari dirinya, hingga tidak tahu siapa pun kecuali diriKu.”
Ada seseorang sedang mengetuk pintu kekasihnya, lalu ada suara dibalik pintu, “Siapa anda?”
“Aku adalah engaku.”
“Ya, silahkan aku, masuklah.”
AKu kagum dariMu dan dariku
Engkau fanakan diriku bersamaMu dari diriku
Engkau dekatkan diriku dariMu hinga
Aku menyangka Engkau adalah aku.
Haalatu Ahlil Haqiqah Ma’Allah (Syekh Ahmad Ar-Rifa’y)

Zikrullah


Puncak dzikir adalah ketika kita telah mampu menanggalkan atribut-atribut artificial yang kita sandang. Yakni kita benar-benar telah bebas dari keinginan-keinginan pribadi. Semua tindakan kita didasarkan pada prinsip lillahi ta’ala (hanya karena Allah ). Pada stadium inilah keikhlasan dan ihsan itu berada. Pada saat itu kita akan menemukan kesadaran akan nilai-nilai ilahiyah dan kemanusiaannya. Seperti memiliki kelembutan hati, kehalusan budi pekerti (akhlak), keadilan, keberanian, kasih sayang, kejujuran, amanah, kedermawanan, keikhlasan, dan keta’atan untuk mencapai ridho Allah SWT. Kemudian hidup ini akan senantiasa sibuk memperbaiki diri dan dibarengi dengan amal shaleh. Itulah derajat taqwa yang ingin kita raih bersama. Sebagai seorang muslim, kita selalu dituntut untuk berdzikir atau untuk selalu mengingat Allah SWT dalam kondisi apapun.
Baik dalam keadaan berdiri maupun duduk maupun berbaring, baik dalam keadaan senang maupun susah. Karena dengan mengingat Allah SWT hati kita akan menjadi tenang. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yang berbunyi: Yang artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah SWT. Ingatlah! Hanya dengan mengingat Allah –lah hati menjadi tentram. (QS. Ar-Ra’d: 28) Dalam ayat ini seakan-akan Allah SWT mengatakan kepada kita: ketahuilah! Hanya dengan berdzikir kepada Allah , maka pasti hatimu akan tenang. Karena yang mengatakan ini adalah Allah SWT, berarti ini aksioma langit (ketentuan mutlak) yang tidak dapat ditawarkan lagi. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: Artinya: perumpamaan orang yang berdzikir dengan orang yang tidak berdzikir adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ari). Demikian pentingnya kita untuk selalu mengingat Allah SWT, sampai-sampai Allah SWT mengumpamakan orang yang tidak berdzikir seperti orang mati. Na’udzubillahi min dzalika. Dzikir bukan hanya sebuah tutur kata diatas mimbar, bukan juga sekedar komat kamit sebagai gerak mulut saja, bukan sekedar duduk di masjid ataupun duduk di tengah malam sambil melafazkan kalimat-kalimat tertentu dengan menggunakan butiran-butiran tasbih. Namun lebih dari itu, dzikir merupakan pengalaman ruhani yang dapat dinikmati oleh pelakunya. Inilah yang dimaksudkan oleh Allah SWT sebagai penentram hati. Pada hakekatnya dzikir dapat dijadikan empat macam. Pertama: Dzikir Qolbiyah, dzikir ini adalah merasakan kehadiran Allah, dalam melakukan apa saja ia meyakini akan kehadiran Allah SWT bersamanya sehingga hatinya selalu tenang tanpa ada rasa takut sedikit pun. Allah SWT maha melihat, maha mendengar, lagi maha mengetahui. Tidak ada yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya, seberat atom pun yang di langit maupun di bumi. (QS. Saba’: 3). Dzikir qalbiyah ini lazim disebut ihsan. Rasulullah SAW bersabda tentang arti ihsan, yaitu: Artinya: (Ihsan adalah) engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Sekalipun engkau tidak melihat-Nya tapi sesungguhnya Dia melihatmu. (Hadits Muttafaqun ‘alaih). Dengan dzikir qalbiyah kita memfungsikan mata hati kita dan menyadari bahwa Allah SWT selalu melihat dan mengawasi kita. Jika kita sudah mencapai pada kesadaran ini, maka akan menimbulkan dampak yang besar. Pertama: hati akan selalu bersih. Kedua: apapun yang kita kerjakakan akan menjadi ibadah dan ketiga: kita akan memperoleh nilai dalam hidup ini, yakni keridhoan Allah SWT, karena apapun yang kita kerjakan kalau bukan karena Allah SWT, maka mestilah sia-sia atau bahkan bisa disebut rugi. Dzikir yang kedua: Dzikir Aqliyah, adalah kemampuan menangkap bahasa Allah SWT dibalik setiap gerak alam semesta ini. Menyadari bahwa semua gerakan alam, Allah lah yang menjadi sumber gerak dan yang menggerakkannya. Alam semesta ini adalah sekolah dan tempat belajar kita. Segala ciptaan-Nya dengan segala proses kejadiannya, adalah proses pembelajaran kita. Segala ciptaan-Nya yang berupa batu, sungai, gunung, udara, pohon, manusia, hewan dan sebagainya merupakan pena Allah SWT yang mengandung qalam-Nya (sunnatullah) yang wajib kita baca. Kalau kita jeli memahami Al-Quran, sesungguhnya kita hidup di bumi nan luas ini, yang pertama kali di perintahkan adalah membaca (Iqra). Yang wajib kita baca ada dua wujud, yakni alam semesta (ayat kauniyah) termasuk di dalamnya diri kita (manusia) dan Al-Quran (ayat Qauliyah). Dengan kesadaran dan cara berfikir ini, maka setiap kita melihat suatu benda (ciptaan-Nya) pada saat yang sama kita akan melihat keagungan, kebesaran dankekuasaa Allah SWT, inilah yang merupakan puncak dan hasil dari dzikir aqliyah. Dzikir yang ketiga: Dzikir lisan, ini adalah buah dari dzikir hati dan akal. Setelah melakukan dzikir hati dan akal, barulah lisan berfungsi untuk senantiasa berdzikir, selanjutnya lisan berdo’a dan berkata-kata dengan benar, jujur, baik dan bermanfaat. Orang yang merasa hatinya hadir di hadapan Allah SWT dan sadar bahwa dirinya selalu berada dalam pengawasan-Nya disebut muraqabah. Dengan muraqabah akan mendorong seorang muslim untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri. Dengan melakukan muraqabah dan muhasabah, kita akan menemukan hikmah. Inilah yang merupakan tujuan akhir dari dzikir lisan, yaitu menemukan hikmah dibalik semua ciptaan Allah SWT setelah merasakan kehadiran-Nya dan befikir tentang semua ciptaan-Nya. Kalau kita tidak melakukan dzikir lisan, maka hati dan pikiran kita akan tumpul dan mudah di bisiki oleh bisikan-bisikan syetan yang akan merenggut ketenangan hati. Ma’ayiral muslimin, sidang shalat jum’at yang berbahagia! Dzikir yang keempat: Dzikir amaliyah, sebenarnya cita-cita kita semua adalah dzikir amaliyah, dan ini sebenarnya goal atau tujuan yang kita inginkan dari dzikir. Setelah hati kita berzikir, akal kita berzikir, lisan kita berdzikir, maka akan lahirlah jiwa-jiwa serta pribadi-pribadi yang suci, pribadi-pribadi yang berakhlaq mulia, baik secara lahir maupun bathin. Dari pribadi-pribadi tersebut akan lahirlah amal-amal shaleh yang diridhoi oleh Allah SWT, sehingga terbentuk sebuah masyarakat yang takut serta bertaqwa kepada Allah SWT. Kalau sudah demikian maka akan dibukakan oleh Allah SWT pintu-pintu berkah dari langit maupun dari bumi. Sebagaimana firman Allah SWT: Artinya: Jikalau sekiranya penduduk di negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat dan hukum-hukum kami) itu, maka kami siksa (adzab) mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-A’raaf: 96) Demikianlah janji Allah kepada kaum yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Dengan meningkatkan dzikir kita kepada Allah SWT, insya Allah akan dapat kita raih predikat taqwa yang pada akhirnya akan melahirkan pribadi-pribadi yang bertaqwa kepada Allah SWT. Puncak dzikir adalah ketika kita telah mampu menanggalkan atribut-atribut artificial yang kita sandang. Yakni kita benar-benar telah bebas dari keinginan-keinginan pribadi. Semua tindakan kita didasarkan pada prinsip lillahi ta’ala (hanya karena Allah ). Pada stadium inilah keikhlasan dan ihsan itu berada. Pada saat itu kita akan menemukan kesadaran akan nilai-nilai ilahiyah dan kemanusiaannya. Seperti memiliki kelembutan hati, kehalusan budi pekerti (akhlak), keadilan, keberanian, kasih sayang, kejujuran, amanah, kedermawanan, keikhlasan, dan keta’atan untuk mencapai ridho Allah SWT. Kemudian hidup ini akan senantiasa sibuk memperbaiki diri dan dibarengi dengan amal shaleh. Itulah derajat taqwa yang ingin kita raih bersama. Wallahu a’lam bissowab

Taubat

Tidak sedikit orang-orang saleh awalnya adalah orang-orang yang sangat jahat saat mudanya. Setelah bertaubat, ia beristiqomah dalam berbuat baik dan pengabdian kepada Allah. Beberapa di antara mereka, pada akhirnya, menjadi tokoh panutan karena kesucian dan perilaku-perilaku yang membebaskan. Konon, Sunan Kalijaga adalah salah satu contoh beberapa orang-orang saleh yang berhasil tercerahkan, dan selanjutnya menjadi tokoh pemberi pencerahan pada masyarakat pada zamannya.
Hidup suci dalam Islam bisa diraih oleh siapa saja. Kesucian hidup, bukanlah hak istimewa seseorang. Jalan tersebut terbuka bagi siapa saja, tidak hanya milik para ulama. Bahkan orang jahat sekalipun, ia bisa menapak cara hidup suci, asal dia bersedia untuk bertaubat dan bersungguh-sungguh. Bagi Allah, kesalehan bukan karena sama sekali tidak berbuat dosa, akan tetapi orang yang saleh adalah orang yang setiap kali berbuat dosa dia menyesali dan selanjutnya tak mengulangi perbuatan tadi. Pepatah Arab menegaskan : “Manusia adalah tempat salah dan lupa”. Pepatah di atas bukan berarti manusia dibiarkan untuk selalu berbuat salah dan dosa, akan tetapi kesalahan pada diri manusia harus ditebus dengan tobat, penyesalan dan penghentian. Rasulullah bersabda : “Setiap anak Adam adalah sering berbuat salah. Dan, sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang-orang yang bertaubat.â€? (H.R. Tirmidzi) Taubat yang sungguh-sungguh di mata Allah adalah pembersihan diri yang sangat dicintai. Dalam Islam, pertaubatan bukan melalui orang lain, sebut saja orang saleh, tetapi dari diri sendiri secara langsung kepada Allah. Apalagi, Islam tidak mengenal penebusan dosa dengan sejumlah uang. Islam sungguh sangat berbeda dengan cara-cara pertaubatan dibanding agama-agama lain. Islam memandang, pertaubatan adalah persoalan yang sangat personal antara seorang hamba dengan Tuhannya. Dan, Tuhan dalam Islam adalah Tuhan yang bisa didekati sedekat mungkin, bukan tuhan yang berada di atas langit, tak terjangkau. Sabda Rasulullah (saw) : “Sesungguhnya Allah lebih suka menerima tobat hamba-Nya melebihi dari kesenangan seseorang yang menemukan kembali ontanya yang hilang di tengah hutan.” (H.R. Bukhori dan Muslim) Islam tidak menganggap taubat sebagai langkah terlambat kapanpun kesadaran itu muncul. Hisab (perhitungan) akan amal-amal jelek kita di mata Allah akan terhapus dengan taubat kita. Lembaran baru hidup terbuka lebar. Langkah anyar terbentang. Sabda Nabi (saw) : “Siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah akan menerima taubat dan mema’afkannya.â€? (H.R. Muslim) Bertaubat, demikian halnya, dijadikan amalan dzikir oleh Rasulullah (saw) setiap hari. Beliau beristighfar kendati sedikitpun beliau tidak melakukan dosa. Karena lewat istighfar, Nabi memohon ampun dan mengungkapkan kerendahan hati yang sangat dalam di hadapan yang Maha Agung. Sabda Nabi (saw) : “Hai sekalian manusia, bertaubatlah kamu kepada Allah dan mintalah ampun kepada-Nya, maka sesungguhnya saya bertaubat dan beristighfar tiap hari 100 kali.â€? (H.R. Muslim) Firman Allah : “Katakanlah ! Hai hamba-hamba-Ku yang berdosa terhadap jiwanya sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.â€? (Q.S. al-Zumar : 53) “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas taubat, semoga Tuhan mu akan menghapuskan dari kamu akibat kejahatan perbuatan-perbuatanmu, dan akan memasukkan kamu ke dalam surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai.â€? (Q.S. al Thalaq : 8) Dalam memperbaiki kesalahan dan membersihkan diri dari dosa, ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu hak Allah dan hak bani Adam. Apabila kesalahan atau dosa berhubungan dengan hak Allah, maka ada tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu : 1.Harus menghentikan tindakan maksiat. 2.Harus dengan sungguh-sungguh menyesali perilaku dosa yang telah dikerjakan. 3.Berniat dengan tulus untuk tidak mengulangi kembali perbuatan tersebut. Dan, apabila kesalahan itu berhubungan dengan bani Adam, maka syarat bertambah satu, yaitu harus menyelesaikan urusannya dengan orang yang berhak dengan meminta ma’af atau halalnya, atau mengembalikan apa yang harus dikembalikan. Sabda Nabi (saw) : “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak berdosa. Dan orang yang minta ampunan dari dosanya, sedangkan dirinya tetap mengerjakan dosa, seperti orang yang mempermainkan Tuhannya.â€? (H.R. Baihaqi) Tidak sedikit orang-orang saleh awalnya adalah orang-orang yang sangat jahat saat mudanya. Setelah bertaubat, ia beristiqomah dalam berbuat baik dan pengabdian kepada Allah. Beberapa di antara mereka, pada akhirnya, menjadi tokoh panutan karena kesucian dan perilaku-perilaku yang membebaskan. Konon, Sunan Kalijaga adalah salah satu contoh beberapa orang-orang saleh yang berhasil tercerahkan, dan selanjutnya menjadi tokoh pemberi pencerahan pada masyarakat pada zamannya.

Pesona Kelembutan Islam


Di antara akhlak Nabi Saw. yang paling menonjol, beliau adalah pribadi yang lemah-lembut. Kesaksian semua orang yang pernah semasa dengan beliau, menggambarkan bahwa beliau tidak pernah berkata kasar, tidak pernah mengumpat, dan tidak pernah berlaku bengis. Bahkan, beliau Saw. tidak pernah marah, kecuali terhadap perbuatan yang melanggar kehormatan agama.
Dalam ungkapan yang singkat, Dr. Yusuf al-Qardhawi mengatakan, “Barangsiapa membaca sunnah Rasul Saw., baik dalam perkataan maupun perbuatan, maka akan menemukan pancaran kelemahlembutan dalam berdakwah dan interaksi sehari-hari.”
Ada beberapa hikmah yang bisa kita peroleh dari perangai lemah-lembut, seperti telah dicontohkan oleh Nabi Saw. Yaitu di antaranya: Pertama, kelemahlembutan bisa membuat kita menjadi pribadi yang indah. Secara garis besar, Allah Swt. mengkaruniakan dua keindahan kepada manusia: keindahan fisik, dan keindahan kepribadian. Manusia pada umumnya mudah terpukau oleh keindahan fisik. Namun, keindahan fisik ini akan segera kehilangan kesan bila tingkah-laku dan kata-katanya kasar. Di sinilah, kelemahlembutan menjadi kunci untuk mewujudkan pribadi yang indah. Nabi Saw. bersabda:
“ ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻌﻄﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﻓﻖ ﻣﺎ ﻻ ﻳﻌﻄﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﻨﻒ , ﻭﻣﺎ ﻻ ﻳﻌﻄﻲ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺳﻮﺍﻩ ”.
“Sesungguhnya Allah memberi (keutamaan) kepada kelemahlembutan, yang tidak diberikanNya kepada kekerasan, dan tidak juga diberikanNya kepada (sifat-sifat) yang lain.” (HR. Muslim dari ‘Aisyah ra.)
Dalam kesempatan lain, Nabi Saw. bersabda:
“ ﺇﻥ ﺍﻟﺮﻓﻖ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻲ ﺷﻲﺀ ﺇﻻ ﺯﺍﻧﻪ , ﻭﻻ ﻳﻨﺰﻉ ﻣﻦ ﺷﻲﺀ ﺇﻻ ﺷﺎﻧﻪ ”.
“Sesungguhnya kelemahlembutan tidak melekat pada sebuah pribadi kecuali sebagai perhiasan, dan tidak terlepas darinya kecuali sebagai keaiban.” (HR. Muslim)
Kedua, kelemahlembutan bisa membentuk orang-orang dan lingkungan di sekitar kita. Banyak Sahabat radhiyalLahu ta’âlâ ‘anhum yang memperoleh hidayah (masuk Islam) setelah menyaksikan pribadi Nabi Saw. yang lemah-lembut. Salah satunya: Tsumâmah bin Atsâl ra.
Suatu hari, Tsumâmah yang masih musyrik tertangkap dalam sebuah peperangan melawan kaum Muslimin. Ketika Nabi Saw. menjenguk para tawanan, beliau sempat bertanya kepada Tsumâmah, “Apa yang ingin kau katakana, wahai Tsumâmah?”
Tsumâmah menjawab, “Jika kau hendak membunuhku, hai Muhammad, sesungguhnya kau membunuh seseorang yang memiliki pengaruh kuat. Jika mau berbuat baik kepadaku, maka kau berbuat baik kepada orang yang tahu berterima kasih. Dan jika kau ingin harta tebusan, sebutkan saja berapa pun jumlahnya, pasti akan aku bayar.”
Namun Nabi Saw. tidak memerintahkan untuk membunuh Tsumâmah, atau meminta tebusan darinya. Beliau Saw. malah mengingatkan para Sahabat ra. agar merawat Tsumâmah dan tawanan lainnya dengan baik.
Demikianlah, sampai tiga kali kesempatan Nabi Saw. menanyakan hal yang sama kepada Tsumâmah, ia terus menantang untuk dibunuh saja atau membayar tebusan dalam jumlah yang besar.
Setelah para tawanan tersebut dirawat hingga pulih kondisi mereka, alih-alih mereka dibunuh atau dimintai uang tebusan; Nabi Saw. dengan senyum mengembang malah membebaskan mereka tanpa syarat dan menyuruh mereka untuk kembali kepada keluarga masing.
Tsumâmah pun beranjak meninggalkan Nabi Saw dan para Sahabat ra. Namun tak lama berselang, ia kembali menghadap Nabi Saw., mengikrarkan keislamannya. Lalu ia berkata, “Sungguh, wahai Rasulullah, sebelum ini tiada orang yang paling saya benci di dunia selain anda. Tapi sekarang anda menjadi orang yang paling saya cintai di dunia ini.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketiga, kelemahlembutan adalah pelindung hati dari noda dan penyakit kalbu. Yang perlu disadari, ketika kita berkata kasar dan mengumpat, sebenarnya kita tidak sedang merugikan orang lain. Tapi, terlebih lagi, kita sedang menodai hati kita sendiri, mengotorinya dengan kekasaran, serta membuatnya menjadi keras.
Suatu kali, Nabi Saw. tengah dudukbersama Aisyah ra. Lalu melintaslah sekelompok orang Yahudi di hadapan beliau. Tiba-tiba mereka menyapa Nabi Saw. dengan memelesetkan ungkapan “Assalâmu’alaikum” menjadi “Assâmu ‘alaika”—kebinasaan atasmu, hai Muhammad.
Mendengar serapah orang-orang Yahudi itu, Aisyah ra. naik pitam dan balik memaki mereka. Namun Nabi Saw. segera menenangkan Aisyah ra. dan memintanya agar tidak mengotori mulut dan hatinya dengan kekasaran dan kebencian. Lalu beliau memberikan alasan:
“ ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺭﻓﻴﻖ ﻭﻳﺤﺐ ﺍﻟﺮﻓﻖ ﻓﻲ ﺍﻷﻣﺮ ﻛﻠﻪ ”.
“Sesungguhnya Allah Swt. lembut, dan menyukai kelemahlembutan dalam segala hal.” (HR. al-Bukhari)
Lemah-lembut dalam tutur kata, lemah-lembut dalam canda, serta lemah-lembut dalam tingkah-laku ternyata merupakan salah satu keteladanan yang paling menonjol dalam diri Rasulullah Saw. Dan saat ini, dalam keseharian kita, baik dalam lingkup kehidupan sosial yang paling kecil hingga yang paling besar; betapa kita menghajatkan keteladanan ini demi terus menjaga keseimbangan sosial yang kita miliki. Toh Allah Swt. telah berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagimu; yaitu bagi orang-orang yang mengharap (keridhaan) Allah…” (Al-Ahzâb; 21)
Kelemahlembutan bukan indikasi ketidakberdayaan, tetapi merupakan tanda kemampuan untuk mengendalikan diri. Sebaliknya, kekasaran bukan tanda kekuasaan, namun tanda kerapuhan emosional dan kelemahan kepribadian.
Pada titik singgung ini, Nabi Saw. bersabda:
“ ﺇﺫﺍ ﺃﺣﺐّ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺒﺪﺍ ﺃﻋﻄﺎﻩ ﺍﻟﺮﻓﻖ . ﻭﻣﺎ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺑﻴﺖ ﻳﺤﺮّﻣﻮﻥ ﺍﻟﺮﻓﻖ ﺇﻻ ﺣﺮّﻣﻮﺍ ﺍﻟﺨﻴﺮ ”.
“Apabila Allah Swt. menyukai seorang hamba, maka Ia akan mengkaruniainya kelemahlembutan. Dan barangsiapa dari keluargaku yang mengharamkan/menjauhi kelemahlembutan, maka sesungguhnya dia telah menjauhi kebaikan.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

SAJIAN ISTIMEWA ANTI HIJAB (Kafe Sufi)

Di Ibu Kota Kaum Sufi, tiba-tiba terpampang spanduk-spanduk yang mengiklankan menu-menu restoran para Sufi. Para penempuh mulai tersenyum hatinya, dan saling mendiskusikan, menu mana yang harus mereka kunjungi untuk makan malam.
Tiba-tiba para penempuh terjengah ketika memandang spanduk kecil, tapi cukup menonjol, agak tersembunyi dicelah-celah spanduk besar yang ada. “Nikmati Sajian Istimewa Anti Hijab”
Para penempuh tiba-tiba hasrat ruhaninya lapar seketika, disertai dahaga yang memuncak. Qalbunya gemetar, nafsunya tunduk patuh didepan tulisan itu. Ketika membaca iklan itu, airmata mereka sudah meleleh. “Astaghfirullahal’Adziim…!
” begitu mereka serentak mendesahkan jiwanya.
Di depan gerbang Kafe Sufi antrian panjang sampai ribuan orang. Mereka membeli tiket khusus untuk mendapatkan “Menu Anti Hijab”, dan mereka harus membeli tiket itu dengan puasa 10 hari lamanya, dan jika ingin dapat VIP, puasanya 41 hari, penuh dengan keikhlasan yang murni.
Yang dapat Free Pass juga ada, anatar lain wartawan Cahaya Sufi he..he..he.. Walau sedikit nakal, dimaklumi, namanya juga wartawan. Tetap saja dapat perlakuan khusus.
Seorang pelayan yang elok rupawan jiwanya, mulai melayani mereka. Semakin mereka berebut, malah semakin mereka terlempar kebelakan. Karena menu ini tidak boleh dimakan dengan hawa nafsu, sebab kalau memakan dengan hawa nafsunya malah ia terhijab dan tersiksa. Bahkan siapa yang ingin coba-oba, ingin iseng, langsung terhempas dalam kehancurannya.
Para pelayan, akhirnya harus memilih, siapa yang lebih pasrah dan lebih ridho, lebih ikhlas dan lebih cinta kepada Allah SWT, langsung dipersilahkan.
Musik Istighfar, deru konser sholawat dan nada kalimah thoyyibah, berpadu dalam musik Kafe Sufi ini, khusus mengantar sajian menu-menunya.
Para pendatang yang tiba sebenarnya tidak ingin sekedar menikmati menu-menu disana, tapi bagaimana caranya memasak dan resep menu disajian istimewa ini.
Seorang pelayan datang menyodorkan menu-menu utama. Diatas kertas tertulis “Hijab adalah Siksaan yang menjauhkan dirimu dengan Allah.”
Lalu dikertas itu pula tertuang menu-menu sajian Anti Hijab :
1. Masuklah dapur menu masakan anti hijab ini dengan menutup mata kepala dari kain yang dipintal dari semesta lahir bathin, agar segala hal selain Allah tertutup.
2. Ambillah air istighfar untuk direbus dulu dengan api kesadaran taubah.
3. Cucilah tangan anda dan segala alat-alat dengan air keikhlasan, dicui dari kotoran memandang amal baik dan ibadah. Sebab memandang amal sendiri itu adalah lapisan hijab.
4. buang semua rasa takjub pada diri sendiri dan hasrat selain Allah.
5. Masuklah kedalam kendhil yang sudah mulai mendidih dan menggemuruhkan dzikrullah dibalik bunyi air mendidih itu, sejumlah dedaunan dari pohon ma’rifat, yang ditamam di bumi yaqin, dan cabang-cabangnya tumbuh menjulang ke langit Ilahi.
6. Jangan lupa garamnya yang dari Samudera Quthbus Sab/ah (Samudera tempat berenangnya Tujuh Quthub Dunia).
7. Berilah pemanis dengan sesendok gula harapan, anugerah dan indahnya beribadah.
Nah, sekarang para konsumen mulai diingatkan agar tidak memasuki wilayah hijab yang tirainya sangat gelap gulita, apalagi dibalik tirainya semakin gulita mengerikan.
Musibah terbesar manusia adalah hijab. Semua ini akan terbuka, berganti Cahaya Ma’rifah yang agung. Ketika terbuka, akal jadi cerdas, pikiran jadi jernih, hati jadi terang benderang, ruh berhembus kencang menuju Allah, dan sirr menikmati kemesraan dengan Sang Kekasih di Kafe ini.

MENINGGALKAN DERAJAT HEWANI (Kedai Sufi Kang Luqman)


Dulkamdi ngelamun panjang, sampai tak karuan. Betapa tidak? Sapi yang ia pelihara sejak setahun yang lalu, kini harganya tetap sama saja, gara-gara menjamurnya daging sapi import dari luar negri. Produk dalam negri anjlok lagi, sehingga harga sapi untuk ritual qurban sangat murah.
“Kamu mestinya bersyukur Dul, banyak orang yang berqurban berduyun-duyun. Alias dengan rombongan,,,,” tegur Pardi.
“Maksudmu?”
“Lah iya, kalau orang berqurban sapi kan bias dinaiki tujuh orang. Nah, sekarang harga sapi murah, berarti kamu turut menolong banyak ummat Dul.”
“Ya, tapi….?”
“Tapi? Tidak ada tapi-tapian Dul.”
Dulkamdi terdiam. Kang Saleh hanya senyum-senyum. Ada terbesit wajah gembira di raut mukanya.
“Idul Adha ini sampean qurban sapi juga Kang?”
“Kalau perlu semua binatang kita qurbankan Di. Nggak bias kambing, ayam juga boleh, burung juga boleh. Telor juga boleh….”
Dua sahabat kaget bukan main atas ucapan Kang Saleh.
“Masa qurban selain kambing dan sapi, kerbau, boleh Kang?”
“Menurut pendapat beberapa ulama boleh. Yang penting binatang halal. Dan yang lebih penting adalah ketaqwaan dibalik qurban itu sendiri. Karena nama-nama Allah, takbir dan tahmid berkumandang disana….”
“Wah, kalau begitu saya akan menyembelih rusa saja…ha…ha.,..ha…”
“Begini, kita renungi saja betapa binatang saja rela demi Allah untuk diqurbankan. Binatang itu ingin sekali naik derajatnya, karena bias saja para binatang itu sudah bosan hidup dalam kehewanan nafsunya. Ia rela dimakan manusia, ummat Islam, agar derajatnya naik dari binatang menjadi daging yang dimakan manusia, lalu nanti jadi daging manusia, kelak diakhirat dipanggil dengan panggilan manusia, bukan wedus, bukan kebo, bukan sapi….”
“Wah, jangan terlalu kontroversiallah kan, kalau berpendapat….!” Protes Pardi.
“Ya tidak controversial? Lah wong mereka disembelih dengan basmallah dan takbir. Mestinya kita belajar dari para binatang itu, kerelaan mereka untuk dialirkan darah kebinatangannya. Kenapa kita tidak? Kenapa kita simpan kebinatangan kita, syahwat kita, nafsu-nadsu kita? Sadisme kita? Bukankah itu semua merupakan kebinatangan kita? Nah, ayo ramai-ramai kita alirkan darah kebinatangan kita biar terkubur, dan kelak kita lahir menjadi hamba Allah yang merdeka bersama tasbih, takbir dan tahmid.”
Dulkamdi semakin bergairah, dan seketika hilang kelesuannya, bahkan kalau perlu sapinya akan dijual lebih murah, siapa tahu, ia turut membantu orang yang ingin menyembelih hawa nafsunya, dan seluruh derajat rendah hinanya.
Takbir bersahutan diangkasa, menusuk langit menggugah seluruh kealpaan. Kita memang terus-menerus menakbiri nafsu kita yang sombong dan egois. Kita menakbiri angkara murka dan kejahatan dalam diri kita. Kita meneriakkan takbis kebusukan demi kebusukan dalam sukma kita. Kita menakbiri segala hal selain Allah. Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil hamb….