Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Jumat, 22 April 2016
TAHAPAN-TAHAPAN MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH SWT
Sebagaimana telah diterangkan di atas, bahwa Ma’rifat itu merupakan tujuan pokok, yakni mengenal Allah yang sebenar-benarnya dengan keyakinan yang penuh tanpa ada keraguan sedikitpun (haqqul yaqin). Menurut Imam Al-Ghazali : “ Ma’rifat adalah pengetahuan yang tidak menerima keraguan terhadap Zat dan Sifat Allah SWT “. Ma’rifat terhadap Zat Allah adalah mengetahui bahwa sesungguhnya Allah adalah wujud Esa, Tunggal dan sesuatu Yang Maha Agung, Mandiri dengan sendiri-Nya dan tiada satupun yang menyerupai-Nya. Sedangkan ma’rifat Sifat adalah mengetahui dengan sesungguhnya Allah itu Maha Hidup, Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Mendengar dan Maha Melihat dengan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Dari mengetahui tentang Zat dan Sifat Allah, maka selanjutnya Al-Ghazalipun memberi kesimpulan bahwa : “ Ma’rifat adalah mengetahui akan rahasia-rahasia Allah, dan mengetahui peraturan-peraturan Tuhan tentang segala yang ada “ lebih lanjut ditegaskannya bahwa : “ Ma’rifat itu adalah memandang kepada wajah Allah SWT “.
Ma’rifat itu sendiri tidak dapat dipisahkan dengan Hakekat. Dengan kata lain datangnya ma’rifat adalah karena terbukanya Hakekat.
Taftazany menerangkan dalam kitab “Syarhul Maqasid” : “Apabila seseorang telah mencapai tujuan akhir dalam pekerjaan suluknya (ilallah dan fillah), pasti ia akan tenggelam dalam lautan tauhid dan irfan sehingga zatnya selalu dalam pengawasan zat Tuhan (tauhid zat) dan sifatnya selalu dalam pengawasan sifat Tuhan (tauhid sifat). Ketika itu orang tersebut fana (lenyap dari sifat keinsanan). Ia tidak melihat dalam wujud alam ini kecuali Allah (laa maujud ilallah).”
Dalam hal ini, seperti apa yang dialami oleh Imam Al-Ghazali dimana ketika orang mengira bahwa Imam Al-Ghazali telah wusul – mencapai tujuannya yang terakhir ke derajat yang begitu dekat kepada Tuhan, maka Imam Al-Ghazali berkata : “Barangsiapa mengalaminya, hanya akan dapat mengatakan bahwa itu suatu hal yang tak dapat diterangkan, indah, utama dan jangan lagi bertanya”. Selanjutnya Imam Al-Ghazali menerangkan : “Bahwa hatilah yang dapat mencapai hakekat sebagaimana yang tertulis pada Lauhin Mahfud, yaitu hati yang sudah bersih dan murni. Tegasnya tempat untuk melihat dan Ma’rifat kepada Allah ialah hati.”
Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya “Madarijus Salikin “ : “Ma’rifat adalah suatu kedudukan yang tinggi dari kedudukan orang-orang mu’min (disisi Allah) dan derajat yang tertinggi dari derajat orang-orang yang mendaki menuju alam surgawi “. Selanjutnya beliau berkata : “Bahwa seseorang tidak dikatakan memiliki ma’rifat terkecuali mengetahui Allah SWT melalui jalan yang mengantarkannya kepada Allah, mengetahui segala bentuk penyakit atau penghalang yang ada pada sisinya, yang mengakibatkan terhambatnya hubungan dirinya dengan Allah, yang mana kesemuanya itu ia saksikan dengan ma’rifatnya. Jadi, orang ma’rifat adalah orang yang mengetahui Allah melalui media nama-nama-Nya, sifat-sifat dan perbuatan-Nya. Kemudian berhubungan dengan Allah secara tulus, bersikap ikhlas dan sabar terhadap-Nya dalam menjauhi segala bentuk perbuatan maksiat serta meneguhkan niatnya. Berusaha untuk menanggalkan budi pekerti yang buruk serta penyakit yang merusak. Mensucikan dirinya dari berbagai bentuk kotoran dan kemaksiatan. Bersabar atas hukum-hukum Allah dalam menghadapi segala nikmat-Nya (tidak terlena), dan musibah yang menimpanya (tidak putus asa). Lalu berdakwah menuju jalan Allah berdasarkan pengetahuannya terhadap agama dan ayat-ayat-Nya. Berdakwah hanya menuju kepada-Nya dengan apa yang dibawa utusan-Nya (yaitu Nabi Muhammad SAW), dengan tidak ditambahi dengan pandangan-pandangan akal manusia yang sesat, kecendrungan-kecendrungan mereka dan hasil kreasi mereka, kaidah-kaidah dan logika-logika mereka yang menyesatkan. Dengan kata lain tidak mengukur risalah yang dibawa oleh Rasulullah dari Allah dengan kesemuanya itu diatas. Orang seperti inilah yang layak menyandang gelar sebagai orang yang ma’rifat kepada Allah, sekalipun banyak orang memberikan panggilan atau julukan yang lain kepadanya”.
Dibawah ini kami cantumkan beberapa khazanah perbendaharaan ma’rifat yang dihimpun oleh Prof. Dr. M. Faiz Al-Math dalam bukunya yang berjudul “Puncak Ruhani Kaum Sufi” diantaranya sebagai berikut :
1. Pendekatan kita kepada Allah adalah pendekatan ilmu, sebab mustahil terjadi suatu pendekatan kepada kebenaran Allah tanpa ilmu.
2. Barangsiapa yang mengenal Allah, maka ia akan menangkap kebesaran kuasa Allah dalam segala sesuatu. Jika ia yang selalu ingat (berzikir) kepada Allah, maka ia akan melupakan yang lain kecuali Allah. Dan siapa saja yang mencintai Allah, maka ia akan mencintai dan melaksanakan ajaran-Nya dan mencampakkan ajaran lain
3. Jika kita menginginkan pintu rahmat terbuka luas, resapilah dalam sanubari akan nikmat yang dianugerahkan Allah kepadamu. Dan jika kita berharap agar hati kita merasa takut akan siksa, renungilah kelalaian kita dalam mengabdi kepada – Nya.
4. Tanda-tanda seseorang ‘aulia’ yang arif adalah senantiasa memelihara rahasia antara dia dengan Allah, tangguh dalam menghadapi cobaan yang merintangi kehidupannya. Lebih-lebih pada cobaan yang diciptakan manusia ia selalu membalasnya dengan cara yang lebih bijaksana. Mengingat tingkat intelektual mereka (tiap orang) tidak sama.
5. Barangsiapa menyadari, bahwa Allah senantiasa mengingin kan kita menjadi orang baik dan Allah lebih memahami tentang hal-hal yang mengundang kemaslahatan, maka artinya kita mampu mensyukuri nikmat Allah dan berhati tentram.
6. Bila kita berkeinginan melacak sampai dimana derajat kita di sisi Allah, maka renungilah perbuatan kita sendiri kegigihan kita dalam beribadah dan sebagainya.
7. Ma’rifat terbangun atas tiga fondasi ; Takut kepada Allah, Malu kepada Allah dan Cinta kepada Allah.
8. Orang Arif adalah orang yang tidak pernah berhenti untuk berdzikir, tak enggan dalam menunaikan ibadah dan senang berdialog dengan Allah. Sehingga tercetak dalam lubuk hatinya sikap enggan bercengkrama dengan hal sia-sia yang tidak dilatarbelakangi manfaat agama.
9. Alangkah janggalnya jika seseorang yang telah menyaksikan ke Maha Kuasaan Allah, namun dia mendurhakai-Nya. Kemanakah dia akan lari untuk mencari tempat perlindu ngan, sedangkan ia menganggap bahwa Allah selalu mengawasi sepak terjangnya. Bagaimana akan berlalai-lalai jika ia merasakan nikmat Allah selalu datang silih berganti kepadanya.
10. Kearifan laksana tanah yang bisa diinjak-injak oleh orang baik dan buruk. Ia bagaikan awan yang mampu mengayomi segala sesuatu, dan bagaikan hujan yang akan jatuh kepada teman maupun lawan.
11. Kearifan, adalah bukanlah apa yang dapat dikeruhkan oleh segala sesuatu. Justru sebaliknya segala sesuatu akan tampak jernih.
12. Ma’rifat kepada Allah sebagai intensitas seseorang hingga menimbulkan rasa malu dalam hatinya, rasa malu kepada Allah yang didasarkan pada rasa mengagungkan. Sebagaimana tauhid merupaka pembangkit rasa puas (rela) terhadap takdir dan timbul rasa berserah diri kepada Zat Yang Maha Pengatur.
13. Ma’rifat, bila telah mendarah daging, maka menjadikan kehidupan seseorang akan jernih (tidak tertindih oleh kepedihan-kepedihan hidup) pencariannya akan bersih dari hal-hal atau unsur-unsur yang haram. Segala sesuatu akan segan kepadanya. Rasa takut kepada sesama mahluk akan lenyap dari hatinya dan akan cenderung untuk menyibukkan diri dalam ibadah kepada Allah.
14. Orang yang memandang sesuatu di dunia ini dari kaca mata ma’rifatnya, walau sesuatu itu dipandang, namun yang tergambar dalam benaknya adalah kekuasaan Allah. Oleh karena itu, mata boleh menangis lantaran melihat cobaan yang menimpa, namun hatinya bersukacita lantaran dosa-dosa yang telah lampau terhapuskan oleh musibah itu.
15. Belum merasa puas orang arif ketika ia meninggalkan dunia terhadap dua perkara, yaitu ; Meratapi terhadap kekurangan dalam beribadah dan Kurangnya banyak memuji Tuhannya.
Selanjutnya mengenai perjalanan menuju Allah sebagaimana tersebut di atas, dengan tahapan-tahapan atau tingkatan-tingkatan yaitu Syari’at, Thariqat, Hakekat, dan Ma’rifat M. S. Resa menyimpulkan dalam bukunya yang berjudul “Mencari Kemurnian Tauhid (Keesaan Allah)” sebagai berikut :
· Syari’at adalah perbuatan (jasad) si hamba dalam melaksanakan ibadah kepada Allah harus dengan semurni-murninya ibadah.
· Thariqat adalah jalan (hati) untuk menuju kesuatu tujuan yang diridhai Allah, dengan hati yang bersih dan ikhlas atas segala perbuatan dan menerima cobaan Allah SWT.
· Hakekat (nyawa) adalah tujuan untuk mencapai keridhaan Allah sehingga terbukti adanya “diri yang hakiki” yang kita hanya dapat merasakan dan sadari, bahwa diri yang yang keluar dari diri, sehingga kita dapat membuktikan dengan kesadaran yang hakiki tentang Kekuasaan Allah, tentang Rahasia Alam, tentang Alam Ghaib dan lain-lainnya.
· Ma’rifat (Rahasia Allah), adalah sampainya suatu tujuan sehingga terwujud suatu kenyataan dan terbukti kebe narannya (tidak diragukan lagi).
Dari bahasan tersebut diatas maka dapat kita simpulkan bahwa hamba yang akan berjalan menuju Allah swt, harus melalui tahapan-tahapan (marhalah-marhalah) yaitu melalui : Syari’at, Thariqat, Hakikat dan Ma’rifat, atau dengan kata lain harus menempuh proses empat tahapan diantaranya :
– Pertama : Marhalah Amal Lahir artinya berkekalan melakukan amal ibadah baik yang wajib ataupun yang sunnah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw atau disebut usaha menghias diri dengan Syari’at.
– Kedua : Marhalah Amal Bathin atau Muraqabah yaitu berusaha dengan sungguh-sungguh mensucikan diri dari maksiat lahir dan bathin (takhalli) dengan cara taubat dan istighfar, memperbanyak dzikir dan shalawat, menunduk kan hawa nafsu dan menghiasi diri dengan amal terpuji/mahmudah lahir dan bathin (tahalli) atau disebut menjalankan Thariqah.
Pada tahap ini, setelah hati dan rohani telah bersih karena terisi oleh taubat dan istighfar, dzikir-dzikir dan shalawat, maka dengan rahmat Allah datanglah Nur yang dinamakan Nur Kesadaran.
– Ketiga : Marhalah Riyadhah dan Mujahadah yaitu berusaha melatih diri dan melakukan jihad lahir dan bathin untuk menambah kuatnya kekuasaan rohani atas jasmani, guna membebaskan jiwa dari belenggu nafsu duniawi, supaya jiwa itu menjadi suci bersih bagaikan kaca yang segera dapat menangkap apa-apa yang bersifat suci, sehingga akan beroleh berbagai pengetahuan yang hakiki tentang Allah dan kebesaran-Nya. Pada tahap ini, mulailah jiwa sedikit demi sedikit merasakan hal-hal yang halus serta rahasia, merasakan kelezatan dan kedamaian, dan merasakan nikmatnya iman dan taqwa dalam jiwanya. Kemudian selanjutnya datanglah kasyaf/keterbukaan mata hati, menyusul terbuka hijab sedikit demi sedikit sehingga sampailah ia kepada Nur Yang Maha Agung sebagai puncak tahap/marhalah ketiga. Nur ini dinamakan Nur Kesiagaan yakni kesiagaan dalam muhadarah bersama Allah. Tahap ini juga disebut Tahap Hakikat.
-Keempat : Marhalah Fana-Kamil yaitu jiwa si salik telah sampai kepada martabat syuhudul haqqi bil haqqi yakni melihat hakekat kebenaran. Kemudian terbukalah dengan terang berbagai alam rahasia baginya yaitu rahasia-rahasia ke-Tuhanan/Rabbani. Dalam pada itu berolehlah dia nikmat besar dalam mendekati Hadrat Ilahi Yang Maha Tinggi. Tahap ini juga disebut dengan Tahap Ma’rifat. Dalam situasi seperti inilah dia menemukan puncak mahabbah dengan Allah, puncak kelezatan yang tiada pernah dilihat mata, tiada pernah di dengar telinga, dan tiada pernah terlintas dalam hati sanubari manusia, tidak mungkin disifati atau dinyatakan dengan kata-kata. Pada marhalah ini sebagai puncak segala perjalanan, maka datanglah Nur yang dinamakan Nur Kehadiran.
TAHAPAN-TAHAPAN MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH SWT
Sebagaimana telah diterangkan di atas, bahwa Ma’rifat itu merupakan tujuan pokok, yakni mengenal Allah yang sebenar-benarnya dengan keyakinan yang penuh tanpa ada keraguan sedikitpun (haqqul yaqin). Menurut Imam Al-Ghazali : “ Ma’rifat adalah pengetahuan yang tidak menerima keraguan terhadap Zat dan Sifat Allah SWT “. Ma’rifat terhadap Zat Allah adalah mengetahui bahwa sesungguhnya Allah adalah wujud Esa, Tunggal dan sesuatu Yang Maha Agung, Mandiri dengan sendiri-Nya dan tiada satupun yang menyerupai-Nya. Sedangkan ma’rifat Sifat adalah mengetahui dengan sesungguhnya Allah itu Maha Hidup, Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Mendengar dan Maha Melihat dengan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Dari mengetahui tentang Zat dan Sifat Allah, maka selanjutnya Al-Ghazalipun memberi kesimpulan bahwa : “ Ma’rifat adalah mengetahui akan rahasia-rahasia Allah, dan mengetahui peraturan-peraturan Tuhan tentang segala yang ada “ lebih lanjut ditegaskannya bahwa : “ Ma’rifat itu adalah memandang kepada wajah Allah SWT “.
Ma’rifat itu sendiri tidak dapat dipisahkan dengan Hakekat. Dengan kata lain datangnya ma’rifat adalah karena terbukanya Hakekat.
Taftazany menerangkan dalam kitab “Syarhul Maqasid” : “Apabila seseorang telah mencapai tujuan akhir dalam pekerjaan suluknya (ilallah dan fillah), pasti ia akan tenggelam dalam lautan tauhid dan irfan sehingga zatnya selalu dalam pengawasan zat Tuhan (tauhid zat) dan sifatnya selalu dalam pengawasan sifat Tuhan (tauhid sifat). Ketika itu orang tersebut fana (lenyap dari sifat keinsanan). Ia tidak melihat dalam wujud alam ini kecuali Allah (laa maujud ilallah).”
Dalam hal ini, seperti apa yang dialami oleh Imam Al-Ghazali dimana ketika orang mengira bahwa Imam Al-Ghazali telah wusul – mencapai tujuannya yang terakhir ke derajat yang begitu dekat kepada Tuhan, maka Imam Al-Ghazali berkata : “Barangsiapa mengalaminya, hanya akan dapat mengatakan bahwa itu suatu hal yang tak dapat diterangkan, indah, utama dan jangan lagi bertanya”. Selanjutnya Imam Al-Ghazali menerangkan : “Bahwa hatilah yang dapat mencapai hakekat sebagaimana yang tertulis pada Lauhin Mahfud, yaitu hati yang sudah bersih dan murni. Tegasnya tempat untuk melihat dan Ma’rifat kepada Allah ialah hati.”
Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya “Madarijus Salikin “ : “Ma’rifat adalah suatu kedudukan yang tinggi dari kedudukan orang-orang mu’min (disisi Allah) dan derajat yang tertinggi dari derajat orang-orang yang mendaki menuju alam surgawi “. Selanjutnya beliau berkata : “Bahwa seseorang tidak dikatakan memiliki ma’rifat terkecuali mengetahui Allah SWT melalui jalan yang mengantarkannya kepada Allah, mengetahui segala bentuk penyakit atau penghalang yang ada pada sisinya, yang mengakibatkan terhambatnya hubungan dirinya dengan Allah, yang mana kesemuanya itu ia saksikan dengan ma’rifatnya. Jadi, orang ma’rifat adalah orang yang mengetahui Allah melalui media nama-nama-Nya, sifat-sifat dan perbuatan-Nya. Kemudian berhubungan dengan Allah secara tulus, bersikap ikhlas dan sabar terhadap-Nya dalam menjauhi segala bentuk perbuatan maksiat serta meneguhkan niatnya. Berusaha untuk menanggalkan budi pekerti yang buruk serta penyakit yang merusak. Mensucikan dirinya dari berbagai bentuk kotoran dan kemaksiatan. Bersabar atas hukum-hukum Allah dalam menghadapi segala nikmat-Nya (tidak terlena), dan musibah yang menimpanya (tidak putus asa). Lalu berdakwah menuju jalan Allah berdasarkan pengetahuannya terhadap agama dan ayat-ayat-Nya. Berdakwah hanya menuju kepada-Nya dengan apa yang dibawa utusan-Nya (yaitu Nabi Muhammad SAW), dengan tidak ditambahi dengan pandangan-pandangan akal manusia yang sesat, kecendrungan-kecendrungan mereka dan hasil kreasi mereka, kaidah-kaidah dan logika-logika mereka yang menyesatkan. Dengan kata lain tidak mengukur risalah yang dibawa oleh Rasulullah dari Allah dengan kesemuanya itu diatas. Orang seperti inilah yang layak menyandang gelar sebagai orang yang ma’rifat kepada Allah, sekalipun banyak orang memberikan panggilan atau julukan yang lain kepadanya”.
Dibawah ini kami cantumkan beberapa khazanah perbendaharaan ma’rifat yang dihimpun oleh Prof. Dr. M. Faiz Al-Math dalam bukunya yang berjudul “Puncak Ruhani Kaum Sufi” diantaranya sebagai berikut :
1. Pendekatan kita kepada Allah adalah pendekatan ilmu, sebab mustahil terjadi suatu pendekatan kepada kebenaran Allah tanpa ilmu.
2. Barangsiapa yang mengenal Allah, maka ia akan menangkap kebesaran kuasa Allah dalam segala sesuatu. Jika ia yang selalu ingat (berzikir) kepada Allah, maka ia akan melupakan yang lain kecuali Allah. Dan siapa saja yang mencintai Allah, maka ia akan mencintai dan melaksanakan ajaran-Nya dan mencampakkan ajaran lain
3. Jika kita menginginkan pintu rahmat terbuka luas, resapilah dalam sanubari akan nikmat yang dianugerahkan Allah kepadamu. Dan jika kita berharap agar hati kita merasa takut akan siksa, renungilah kelalaian kita dalam mengabdi kepada – Nya.
4. Tanda-tanda seseorang ‘aulia’ yang arif adalah senantiasa memelihara rahasia antara dia dengan Allah, tangguh dalam menghadapi cobaan yang merintangi kehidupannya. Lebih-lebih pada cobaan yang diciptakan manusia ia selalu membalasnya dengan cara yang lebih bijaksana. Mengingat tingkat intelektual mereka (tiap orang) tidak sama.
5. Barangsiapa menyadari, bahwa Allah senantiasa mengingin kan kita menjadi orang baik dan Allah lebih memahami tentang hal-hal yang mengundang kemaslahatan, maka artinya kita mampu mensyukuri nikmat Allah dan berhati tentram.
6. Bila kita berkeinginan melacak sampai dimana derajat kita di sisi Allah, maka renungilah perbuatan kita sendiri kegigihan kita dalam beribadah dan sebagainya.
7. Ma’rifat terbangun atas tiga fondasi ; Takut kepada Allah, Malu kepada Allah dan Cinta kepada Allah.
8. Orang Arif adalah orang yang tidak pernah berhenti untuk berdzikir, tak enggan dalam menunaikan ibadah dan senang berdialog dengan Allah. Sehingga tercetak dalam lubuk hatinya sikap enggan bercengkrama dengan hal sia-sia yang tidak dilatarbelakangi manfaat agama.
9. Alangkah janggalnya jika seseorang yang telah menyaksikan ke Maha Kuasaan Allah, namun dia mendurhakai-Nya. Kemanakah dia akan lari untuk mencari tempat perlindu ngan, sedangkan ia menganggap bahwa Allah selalu mengawasi sepak terjangnya. Bagaimana akan berlalai-lalai jika ia merasakan nikmat Allah selalu datang silih berganti kepadanya.
10. Kearifan laksana tanah yang bisa diinjak-injak oleh orang baik dan buruk. Ia bagaikan awan yang mampu mengayomi segala sesuatu, dan bagaikan hujan yang akan jatuh kepada teman maupun lawan.
11. Kearifan, adalah bukanlah apa yang dapat dikeruhkan oleh segala sesuatu. Justru sebaliknya segala sesuatu akan tampak jernih.
12. Ma’rifat kepada Allah sebagai intensitas seseorang hingga menimbulkan rasa malu dalam hatinya, rasa malu kepada Allah yang didasarkan pada rasa mengagungkan. Sebagaimana tauhid merupaka pembangkit rasa puas (rela) terhadap takdir dan timbul rasa berserah diri kepada Zat Yang Maha Pengatur.
13. Ma’rifat, bila telah mendarah daging, maka menjadikan kehidupan seseorang akan jernih (tidak tertindih oleh kepedihan-kepedihan hidup) pencariannya akan bersih dari hal-hal atau unsur-unsur yang haram. Segala sesuatu akan segan kepadanya. Rasa takut kepada sesama mahluk akan lenyap dari hatinya dan akan cenderung untuk menyibukkan diri dalam ibadah kepada Allah.
14. Orang yang memandang sesuatu di dunia ini dari kaca mata ma’rifatnya, walau sesuatu itu dipandang, namun yang tergambar dalam benaknya adalah kekuasaan Allah. Oleh karena itu, mata boleh menangis lantaran melihat cobaan yang menimpa, namun hatinya bersukacita lantaran dosa-dosa yang telah lampau terhapuskan oleh musibah itu.
15. Belum merasa puas orang arif ketika ia meninggalkan dunia terhadap dua perkara, yaitu ; Meratapi terhadap kekurangan dalam beribadah dan Kurangnya banyak memuji Tuhannya.
Selanjutnya mengenai perjalanan menuju Allah sebagaimana tersebut di atas, dengan tahapan-tahapan atau tingkatan-tingkatan yaitu Syari’at, Thariqat, Hakekat, dan Ma’rifat M. S. Resa menyimpulkan dalam bukunya yang berjudul “Mencari Kemurnian Tauhid (Keesaan Allah)” sebagai berikut :
· Syari’at adalah perbuatan (jasad) si hamba dalam melaksanakan ibadah kepada Allah harus dengan semurni-murninya ibadah.
· Thariqat adalah jalan (hati) untuk menuju kesuatu tujuan yang diridhai Allah, dengan hati yang bersih dan ikhlas atas segala perbuatan dan menerima cobaan Allah SWT.
· Hakekat (nyawa) adalah tujuan untuk mencapai keridhaan Allah sehingga terbukti adanya “diri yang hakiki” yang kita hanya dapat merasakan dan sadari, bahwa diri yang yang keluar dari diri, sehingga kita dapat membuktikan dengan kesadaran yang hakiki tentang Kekuasaan Allah, tentang Rahasia Alam, tentang Alam Ghaib dan lain-lainnya.
· Ma’rifat (Rahasia Allah), adalah sampainya suatu tujuan sehingga terwujud suatu kenyataan dan terbukti kebe narannya (tidak diragukan lagi).
Dari bahasan tersebut diatas maka dapat kita simpulkan bahwa hamba yang akan berjalan menuju Allah swt, harus melalui tahapan-tahapan (marhalah-marhalah) yaitu melalui : Syari’at, Thariqat, Hakikat dan Ma’rifat, atau dengan kata lain harus menempuh proses empat tahapan diantaranya :
– Pertama : Marhalah Amal Lahir artinya berkekalan melakukan amal ibadah baik yang wajib ataupun yang sunnah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw atau disebut usaha menghias diri dengan Syari’at.
– Kedua : Marhalah Amal Bathin atau Muraqabah yaitu berusaha dengan sungguh-sungguh mensucikan diri dari maksiat lahir dan bathin (takhalli) dengan cara taubat dan istighfar, memperbanyak dzikir dan shalawat, menunduk kan hawa nafsu dan menghiasi diri dengan amal terpuji/mahmudah lahir dan bathin (tahalli) atau disebut menjalankan Thariqah.
Pada tahap ini, setelah hati dan rohani telah bersih karena terisi oleh taubat dan istighfar, dzikir-dzikir dan shalawat, maka dengan rahmat Allah datanglah Nur yang dinamakan Nur Kesadaran.
– Ketiga : Marhalah Riyadhah dan Mujahadah yaitu berusaha melatih diri dan melakukan jihad lahir dan bathin untuk menambah kuatnya kekuasaan rohani atas jasmani, guna membebaskan jiwa dari belenggu nafsu duniawi, supaya jiwa itu menjadi suci bersih bagaikan kaca yang segera dapat menangkap apa-apa yang bersifat suci, sehingga akan beroleh berbagai pengetahuan yang hakiki tentang Allah dan kebesaran-Nya. Pada tahap ini, mulailah jiwa sedikit demi sedikit merasakan hal-hal yang halus serta rahasia, merasakan kelezatan dan kedamaian, dan merasakan nikmatnya iman dan taqwa dalam jiwanya. Kemudian selanjutnya datanglah kasyaf/keterbukaan mata hati, menyusul terbuka hijab sedikit demi sedikit sehingga sampailah ia kepada Nur Yang Maha Agung sebagai puncak tahap/marhalah ketiga. Nur ini dinamakan Nur Kesiagaan yakni kesiagaan dalam muhadarah bersama Allah. Tahap ini juga disebut Tahap Hakikat.
-Keempat : Marhalah Fana-Kamil yaitu jiwa si salik telah sampai kepada martabat syuhudul haqqi bil haqqi yakni melihat hakekat kebenaran. Kemudian terbukalah dengan terang berbagai alam rahasia baginya yaitu rahasia-rahasia ke-Tuhanan/Rabbani. Dalam pada itu berolehlah dia nikmat besar dalam mendekati Hadrat Ilahi Yang Maha Tinggi. Tahap ini juga disebut dengan Tahap Ma’rifat. Dalam situasi seperti inilah dia menemukan puncak mahabbah dengan Allah, puncak kelezatan yang tiada pernah dilihat mata, tiada pernah di dengar telinga, dan tiada pernah terlintas dalam hati sanubari manusia, tidak mungkin disifati atau dinyatakan dengan kata-kata. Pada marhalah ini sebagai puncak segala perjalanan, maka datanglah Nur yang dinamakan Nur Kehadiran.
Tiga Golongan yang Tidak Dapat Melihat Wajah Rasulullah
Setiap umat Rasul pastilah menginginkan agar mereka bisa bertemu dengan beliau di hari akhir kelak. Namun, terdapat tiga golongan yang tidak dapat melihat wajah Rasulullah. Sebagai umat Rasul kita harus menghindari perilaku ketiga golongan tersebut agar dapat bertemu dengan idola setiap muslim di dunia ini.
Inilah Tiga Golongan yang Tidak Dapat Melihat Wajah Rasulullah
Rasulullah adalah utusan Allah dimana Allah telah memberikan mukjizat yang luar biasa kepada beliau berupa Al-Qur’an. Setiap umat muslim pastilah mengagumi Rasulullah karena sifat baiknya, ketaatannya kepada Allah, dan perjuangannya untuk agama Islam agar menjadi lebih baik. Oleh karenanya, kita pasti ingin bertemu Rasulullah dan menjadi umatnya pada akhir zaman. Namun, terdapat tiga golongan yang tidak akan melihat wajah nabi muhammad asli, yaitu:
1. Orang yang durhaka terhadap orang tuanya
Orang tua adalah orang yang sangat berjasa dalam hidup kita. Seorang ibu rela mengorbankan nyawanya ketika melahirkan kita. Selain itu, dia selalu merawat, mendidik dan memberikan kasih sayangnya tanpa menginginkan suatu imbalan apa pun. Begitu juga dengan ayah, mereka rela banting tulang untuk bekerja menafkahi keluarganya. Melalui nafkah ayah itulah, kita bisa makan, minum, membeli ini dan itu untuk keperluan kita. Hal tersebut lah yang membuat kedua orang tua sangat berjasa dalam hidup anaknya. Ketika mereka memiliki anak, maka yang dipikirkannya bukan lagi keperluan dirinya sendiri, tetapi keperluan anaknya. Bahkan suatu hadist menjelaskan jika seorang anak dilarang untuk mengucapkan “ah” pada orang tuanya. Oleh karena itu, Allah dan Rasulullah sangat membenci anak yang durhaka terhadap kedua orang tuanya sehingga mereka tidak akan melihat wajah Rasul.
2. Orang yang meminum khamr
Di dunia ini terdapat berbagai jenis makanan dan minuman, baik halal ataupun haram. Allah mengharuskan bagi umatnya untuk memakan makanan dan minuman yang halal. Allah melarang hal tersebut karena makanan haram akan memberikan kerugian dalam diri kita. Salah satu minuman haram adalah khamr. Khamr merupakan minuman beralkohol dimana ketika seseorang mengonsumsinya, mereka akan mabuk dan lupa terhadap kewajiban beribadahnya. Kebiasaan meminum khamr ini telah ada sejak zaman jahiliah hingga sekarang ini. Meskipun sudah dijelaskan di dalam Al-Qur’an bahwa khamr adalah minuman haram. Tapi masih banyak orang yang mengonsumsinya. Golongan orang seperti inilah yang tidak akan melihat wajah Rasulullah bercahaya.
3. Orang yang tidak bershalawat kepada Rasulullah SAW
Allah adalah Tuhan kita, Nabi Muhammad adalah Rasul kita, sedangkan Al-Qur’an adalah kitab kita. Apabila kita mengaku bahwa Nabi Muhammad adalah rasul kita berarti kita harus senantiasa berusaha mencontoh perilaku beliau. Selain itu, kita juga harus memperbanyak shalawat kita kepada Rasulllah SAW. Bahkan pada suatu kisah, seorang malaikat yang memiliki jari sangat banyak tidak mampu untuk menghitung shalawat yang dipanjatkan oleh umat Rasulullah. Hal ini menunjukkan keutamaan dari shalawat nabi. Apabila dalam kehidupannya saja mereka tidak pernah mengucapkan shlawat nabi, bagaimana mereka bisa mengaku jika mereka adalah umat Rasul. Golongan seperti ini tidak akan pernah bisa melihat wajah Rasulullah bahkan wajah Rasulullah dalam mimpi.
Sebagai umat muslim, kita harus menghindari ketiga golongan ini. Bertemu dan berkumpul dengan Rasulullah adalah impian setiap umat muslim. Beliau adalah manusia yang paling mulia di muka bumi ini. Ikut bersama beliau, berarti kita akan masuk ke dalam surga Allah karena kebaikan yang telah kita tanam selama hidup di dunia.
MEMBUKA KEMBALI PELAJARAN LAMA KITA (Mati Sebelum Mati)
Bismillah...
MEMBUKA KEMBALI PELAJARAN LAMA KITA (Mati Sebelum Mati)
Mati sebelum mati adalah bahasa kiasan
Dan mati sebelum mati ini merupakan ajaran Nabi SAW yang terdapat dalam hadist Beliau.
Mati itu bermakna kembali kepada Sang Pencipta Allah Rabbul Izjati. Dan kembali kepada Allah, semasa sekarang pun kita wajib kembali yaitu dengan kita patuh terhadap perintah dan larangan-Nya. Ini yang disebut kembali kepada Allah. Yang lebih jelas lagi kembali mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Untuk sampai kepada Allah SWT. (Bukan untuk menjadi Allah)
Dalam ajaran Islam Kita dituntut untuk bersikap pasrah berserah diri. Karena Islam itu sendiri mengandung arti berserah diri. Ini yang dijelaskan dalam Al Quran. (Maaf Saya Tidak Menyebutkan dalilnya) karena ayat AlQuran banyak sekali menjelaskan tentang hal ini.
Langsung kepada intinya, yang mau kembali pada Sang Pencipta ini Siapa?
Jawabnya adalah Ruh.
Jadi Ruh inilah yang kembali kepada fitrahnya. Karena Ruh bersifat kekal dan tidak mati. Dan Ruh kembali kepada yang Maha hidup yaitu Allah Sang Pencipta.
Tak perlu menunggu sampai kematian tiba. Apabila kematian tiba namanya sudah terlambat.
Jadi, selagi masih bernafas dan bisa menghirup udara dengan bebas kembali lah kepada Allah dengan jalan Taubatan Nasuha dan bermohon agar diberi hidayah. Yaitu jalan yang lurus (Sirothol Mustaqim). Inti kandungan surat Alfatiha.
Bagaimana kita berserah?
Lakukan sholat yang difardhukan lima waktu itulah kenapa kita, ketika bersholat mengangkat tangan (bertakbir) maknanya mengandung artian berserah atau menyerahkan semua yang Kita ini tiada apa-apa dan bukan siapa-siapa.
Dan apabila sholatnya sudah diterima Allah, tandanya yaitu menjadi sadar diri, sadar kepada Ilahi dengan segala nikmat yang telah diberikan-Nya.
Kesadaran ini jika sudah terpelihara maka akan menjelma sosok Insan Sejati.
Sifat ini bisa Kita lihat pada akhlak seseorang kerena mereka yang menjadi Insan Sejati mereka bersifat Rahmat bagi semesta alam.
Salam Rahmatan
MEMBUKA KEMBALI PELAJARAN LAMA KITA (Mati Sebelum Mati)
Mati sebelum mati adalah bahasa kiasan
Dan mati sebelum mati ini merupakan ajaran Nabi SAW yang terdapat dalam hadist Beliau.
Mati itu bermakna kembali kepada Sang Pencipta Allah Rabbul Izjati. Dan kembali kepada Allah, semasa sekarang pun kita wajib kembali yaitu dengan kita patuh terhadap perintah dan larangan-Nya. Ini yang disebut kembali kepada Allah. Yang lebih jelas lagi kembali mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Untuk sampai kepada Allah SWT. (Bukan untuk menjadi Allah)
Dalam ajaran Islam Kita dituntut untuk bersikap pasrah berserah diri. Karena Islam itu sendiri mengandung arti berserah diri. Ini yang dijelaskan dalam Al Quran. (Maaf Saya Tidak Menyebutkan dalilnya) karena ayat AlQuran banyak sekali menjelaskan tentang hal ini.
Langsung kepada intinya, yang mau kembali pada Sang Pencipta ini Siapa?
Jawabnya adalah Ruh.
Jadi Ruh inilah yang kembali kepada fitrahnya. Karena Ruh bersifat kekal dan tidak mati. Dan Ruh kembali kepada yang Maha hidup yaitu Allah Sang Pencipta.
Tak perlu menunggu sampai kematian tiba. Apabila kematian tiba namanya sudah terlambat.
Jadi, selagi masih bernafas dan bisa menghirup udara dengan bebas kembali lah kepada Allah dengan jalan Taubatan Nasuha dan bermohon agar diberi hidayah. Yaitu jalan yang lurus (Sirothol Mustaqim). Inti kandungan surat Alfatiha.
Bagaimana kita berserah?
Lakukan sholat yang difardhukan lima waktu itulah kenapa kita, ketika bersholat mengangkat tangan (bertakbir) maknanya mengandung artian berserah atau menyerahkan semua yang Kita ini tiada apa-apa dan bukan siapa-siapa.
Dan apabila sholatnya sudah diterima Allah, tandanya yaitu menjadi sadar diri, sadar kepada Ilahi dengan segala nikmat yang telah diberikan-Nya.
Kesadaran ini jika sudah terpelihara maka akan menjelma sosok Insan Sejati.
Sifat ini bisa Kita lihat pada akhlak seseorang kerena mereka yang menjadi Insan Sejati mereka bersifat Rahmat bagi semesta alam.
Salam Rahmatan
Rabu, 20 April 2016
Talqin Dzikir
Talqin berasal dari kata laqqona yulaqqinu talqinan artinya mengajarkan.
Dalam ajaran Islam ada dua istilah yang kalimahnya berbeda dan maknanya pun berbeda Cuma hampir sama dalam pemindahan bahasa. Dua kalimat tersebut yaitu: 1. Ta’lim, 2. Talqin.
Ta’lim
Pengajarnya : mu’allim
Pelajarnya : muta’allim
Yang dipelajarinya : ilmu
Tempat belajarnya : majelis ta’lim
Jenjang waktunya : relatif lama
Tujuannya : ‘alim
Talqin
Pengajarnya : Syekh Mursyid
Pelajarnya : Murid
Yang diajarkannya : Kalimah toyyibah (لااله الاّالله)
Tempat belajarnya : Riyadul jannah (taman surga)
Jenjang waktunya : sangat singkat, yang pertama 1 detik langsung terasa dan yang kedua kurang dari satu menit, sudah terasa.
Tujuannya : Dzakir (menjadi ahli dzikir), yaitu orang yang senantiasa mengingat Alloh)
Talqin itu mesti dilaksanakan sebagai awalan, seperti menentukan arah sebelum memulai perjalanan, seperti menentukan target sebelum pemburu membidik sasaran atau menentukan menu sebelum memasak. Talqin ibarat niat sebelum memulai sebuah pekerjaan.Talqin itu penting dan wajib hukumnya bagi yang ingin mendekat kepada Alloh, mengenal Alloh, dan selanjutnya mencintai Alloh. Ibadah yang dikerjakan tanpa talqin jadi “buram arah” dan sebaliknya sekecil apapun ibadah kan sampai pada Alloh karena kita sudah mengenalnya.
Pengajarnya : mu’allim
Pelajarnya : muta’allim
Yang dipelajarinya : ilmu
Tempat belajarnya : majelis ta’lim
Jenjang waktunya : relatif lama
Tujuannya : ‘alim
Talqin
Pengajarnya : Syekh Mursyid
Pelajarnya : Murid
Yang diajarkannya : Kalimah toyyibah (لااله الاّالله)
Tempat belajarnya : Riyadul jannah (taman surga)
Jenjang waktunya : sangat singkat, yang pertama 1 detik langsung terasa dan yang kedua kurang dari satu menit, sudah terasa.
Tujuannya : Dzakir (menjadi ahli dzikir), yaitu orang yang senantiasa mengingat Alloh)
Talqin itu mesti dilaksanakan sebagai awalan, seperti menentukan arah sebelum memulai perjalanan, seperti menentukan target sebelum pemburu membidik sasaran atau menentukan menu sebelum memasak. Talqin ibarat niat sebelum memulai sebuah pekerjaan.Talqin itu penting dan wajib hukumnya bagi yang ingin mendekat kepada Alloh, mengenal Alloh, dan selanjutnya mencintai Alloh. Ibadah yang dikerjakan tanpa talqin jadi “buram arah” dan sebaliknya sekecil apapun ibadah kan sampai pada Alloh karena kita sudah mengenalnya.
Harley Davidson pun Berdzikir (Jack & Sufi)
Deru Harley Davidson bergemuruh disekitar kafe Susi. Sepuluh lelaki kekar turun, dengan tato dan arogansinya. Muka mereka tampak seram, tapi juga tidak terlalu garang.
“Ada Jack disini?” taya komandan mereka pada Satpam.
“Ada Pak, di dalam,”
Merekapun masuk satu per satu ke kafe itu. Begitu memasuki sudut kafe, mereka berteriak bersama-sama. Dan aneh, mereka justru meneriakkan takbir, “Allahu Akbar!” Suara yang hamper-hampir meruntuhkan gedung kafe itu, dan hamper-hampir membubarkan seisi kafe itu.
“Jaaack! Luar biaasa! Sudah saya duga, kawan kita ini akan tetap nyentrik, dan tidak akan sembuh dari kegilaanya…haa…ha…ha…,” kata salah seorang pengendara Harleu itu.
Rupanya antara Jack dan mereka seperti sahabat yang kental sekali, dan Jack telah lama menghilang, 10 tahun lamanya, dari klub mereka itu. Jack hanya menjadi bahan pembicaraan mereka selama sepuluh tahun itu, karena Jack pergi begitu saja, setelah meninggalkan kesan spiritual yang begitu mendalam diantara mereka.
Di klub Harey itu, Jack memang menjadi angota kehormatan, sekaligus sebagai psikolog bagi mereka. Anehnya, satuper satu mulai mengikuti jejak spiritual Jack, dan anehnya, mereka banyak yang mengikuti tareqat sufi, seperti Jack. Bahkan mereka tak harus melapaskan diri dari kegemaran mereka, bersepeda motor besar.
“Kapan dong…? Kalau teman-teman sampai tahu ente ada di Jakarta, pasti ente sudah tidak boelh kemana-mana lagi, tidak boleh menghilang lagi. Kita kangen Jack… kita kangen. Masak ente biarin kita-kita ini terlantar. Masak ente tega…”
Mendengar curhat satu per satu diantara kawan-kawan klub motor besar itu, Jack hanya senyum-senyum, sesekali meledakkan tawanya, karena banyak sekali kisah-kisah lucu, bahkan ekstrim, diantara mereka selama sepuluh tahun terakhir ini.
“Sudah! Ini tidak boleh ditawar lagi. Kita rayakan kembali si Jack. Bukan disini, di klub kita tempat nongkrong. Kita adakan dzikir bersama disana, bersama Jama’ah Motor Besar…ha…ha…ha… setuju!!!”
Jack tak berkutik. Diam-diam ia terharu. Ia juga tak pernah berfikir sejauh itu, disaat awal dirinya bergabung dengan klub motor itu. Di luar dugaan mereka menjadipengamal dunia sufi yang hebat, dan bahkan berkembang pesat diluar bayangan Jack sendiri. Tetapi memang, hidayah Allah jika sudah turun kepada seseorang, tak satupun yang bias menghalangi.
“Jack, sekarang ini ada tradisi baru di antara kawan-kawan,” celetok Jony.
“Apa Jon?”
“Ya, sekadar mempraktikkan ajaran Andalah… Mana lagi kalu bukan Anda yang kasih. Masak sudah lupa?”
“apa itu? Saya sudah benar-benar lupa lho…”
“Yah, paah deh. Kan ente bilang, agar kita belajar berdzikir dari deru suara Harley Davidson ini…”
Jack tertawa terbahak-bahak samai tubuhnya terguncang-guncang.
“Iya…ya…yaa… saya ingat. Jadi kalian semua terus melatih dzikir lewat suara mesin? Wah, kalau begitu akan saya umumkan ke seluruh dunia tareqat, bahwa kalianlah satu-satunya klub tareqat motoriyah, yang berdzikir melalui deru motor, gemuruh mesinm dan bertasbih bersama kecepatan mekanik jiwa Anda. Luar biasa… luar… biasa. Anda satu-satunya di dunia…ha…ha…ha…”
Diantara jengah tawa mereka, perempuan cantik berpakaian ketat menghampiri mereka dengan senyum yang khas. Susi, pelayan kafe itu sengaja bergabung dengan teman-teman Jack.
“Kenalkan, saya Susi…”
Susi yang cantik itu hanya membuat para pemotor besar itu ndomblong bolong, antara percaya dan tidak.
“Jack, buat kite mane donk…”
“Kalian perlu tahu, kalau kalian adalah pemotor yang penuh dengan dzikir, maka Susi adalah waitres penuh dengan gairah rindu Ilahi. Lihat bagaimana dia tersenyum dan menyapa, lihat pula bagaimana teduhnya matanya. Pandangan matanya saja, bukan membuat kita jadi nakal, tapi malah menjadi obat pelipur duka jiwa. Membuat kita malah bertobat…”
“Ya, Jack, benar! Dapat dari mana kamu, Jack.”
“Dari kubangan Lumpur di jakrta.”
Mereka manggut-manggut sambil memandang Susi lewat…
Perempuan Yang Menggetarkan Sejarah Islam
Pada suatu malam, seorang perempuan keluar rumah dengan membawa obor yang menyala-nyala di tangan kanannya dan seember air di tangan kirinya. Ia pergi mengelilingi kampong dengan berteriak sangat keras, “Wahai manusia, seandainya engkau beribadah kepada Allah dan mengharapkan surga. Maka, biarkan surgaitu kubakar dengan api ini! Dan, apabila engkau menjauhi maksiat oleh sebab takut akan neraka. Maka, biarkan neraka itu kusiram dengan seember air yang ada di tangan kiriku…..!”
Siapakah perempuan yang berani mengusik kesadaran orang-orang di sekitarnya, dan mungkin juga kita? Siapa lagi kalau bukan Rabi’ah Adawiyah. Ya, Rabi’ah Adawiyah. Perempuan suci yang sepanjang hayatnya mengajarkan cara beribadah kepada Allah dengan motif cinta yang tulus kepadaNya. Ia adalah sufi yang membawa corak baru dalam penghayatan Islam melalui ajaran cinta. Seluruh ajaran Islam dilaksanakan bukan sebab, “Ini semua karena perintahNya dan harus dilaksanakan untuk mengharap surgaNya”, bukan pula karena, “Itu ahrus dijauhi karena takut akan siksaNya.” Namun, ia melaksanakan perintah dan menjauhi semua laranganNya sebab cinta yang sebenar-benarnya cinta (al-hubb haqq al-hubb).
Bukankah seorang pecinta akan berhias rapid an wangi dalam shalatnya, melebihi saat pertemuan dengan orang yang paling dicintainya sekalipun? Bahkan, kerap kali ia menangis dalam shalatnya. Kucuran air mata pecinta ini adalah bentuk ungkapan lerinduan, kecintaan, dan kebahagiaan kala “berjumpa” denganNya.
Dengarkan, kata-kata Rabi’ah yang terbentuk dalam alunan puisinya :
Ya Tuhanku!
Tenggelamkan aku dalam kecintaanMu
Sehingga tiada suatupun yang dapat memalingkan aku dariMu
Kekasihku tiada menyamai kekasih lain niar bagaimanapun
Tiada selain Dia dalam hatiku mempunyai tempat manapun
Kekasihku ghaib daripada penglihatanku dan pribadiku sekalipun
Akan tetapi, Dia tidak pernah ghaib di dalam hatiku walau sedikitpun.
Aku mencintaiMu…
Oh, Tuhan tercinta…
Dengan cinta penuh kesenangan
Karena Engkaulah yang penuh kesenangan
Adapun cinta hawa
Maka aku sibuk mengingatMu daripada yang lain
Kuharap Kau bukan tabir untukku
Hingga aku dapat memandangMu
Maka ujian yang ini dan itu bukan untukku
Melainkan hanya untukMu.
Bagi Rabi’ah, bukan cinta apabila penghambaan manusia ada pamrihnya. Dan bukan pula cinta, apabila ibadah manusia memiliki motif-motif duniawi, sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits dari Abu Hurairah ra yang menceritakan bahwa ada orang-orang berkelompok bertanya kepadanya, “Wahai Tuan, ceritakan kepadaku sebuah hadits yang engkau dengar langsung dari Rasulullah!”. “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya, orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Ia didatangkan dan ditanyakan akan nikmat-nikmatnya, lalu ia mengakuinya. Allah SWT berfirman kepadanya, ‘Apakah yang kamu amalkan di dunia ini?’ Ia menjawab, ‘Saya berperang hingga mati syahid.’ Allah menjawab, ‘Kamu berdusta, tetapi kamu berperang supaya orang-orang berkata bahwa engkau pemberani dan itu telah dikatakannya.’ Lalu. Allah SWT memerintahkan agar wajahnya ditarik, kemudian dilemparkan ke dalam api neraka.
‘Berikutnya adalah orang yang mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan suka membaca al-Qur’an didatangkan kepadaNya. Nikmat-nikmatnya ditanyakan dan ia mengakuinya. Allah berkata, ‘Apakah yang kamu kerjakan di dunia ini?’ Ia menjawab, ‘Saya mepelajari ilmu dan suka membaca al-Qur’an karenaMu.’ Allah SWT berfirman, ‘Kamu berdusta karena kam mempelajari ilmu supaya orang-orang mengatakan bahwa kamu pandai dan ahli dalam bidang al-Qur’an dan semua tu telah iucpkan oleh mereka.’ Allah pun memerintahkan agar ia dicampakkan ke dalam api neraka.
‘Selanjutnya, orang yang diberikan kelapangan oleh Allah dan diberi berbagai macam harta akan didatangkan dan ditanyakan atas nikmat-nikmatnya, dan ia mengakuinya. Allah SWT berfirman, ‘APakah yang kamu kerjakan di dunia?’ Ia menjawab, ‘Saya tidak meninggalkan jalan yang Engkau senangi untuk menginfaqkan harta, melainkan saya menginfaqkannya karenaMu.’ Allah menjawab, ‘Kamu berdusta, tetapi kamu mengerjakannya supaya kamu dikatakan sebagai orang dermawan dan itu telah dikatakannya.’ Allah lalu memerintahkan agar wajahnya ditarik dan dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Muslim).
Na’udzubillah min dzalik! Itulah nasib manusia yang beribadah beradsarkan motif duniawi, dan ironisnya itu sering menjangkiti kita! Kini, masihkah kita tidak tahu manakala beribadah karena motif dunia, maka yang rugi – baik waktu, materi, maupun tenaga – adalah diri kita? Andai kata kita berhaji, haji kita hanyalah menghambur-hamburkan uang dan mustahil dapat diterima. Kalau kita bershadaqah, berzakat, berinfaq, maka akan sia-sia, yang ada harta kita berkurang. Tetapi, inilah yang sering kita lakukan.
Sesungguhnya, apabila kita mau menghayati perintah-perintah agama dan aturan-aturannya, maka kita akan mendapati bahwa dia sebenarnya indah. Keindahan agama itu tentu mustahil didapatkan apabila kita masih saja beribadah kepada Allah karena terpaksa atau memiliki motif-motif duniawi yang rendah, bukan karena kita mencintaiNya.
Setiap ajaran agama yang diperintah Allah tidak lain hanya bertujuan untuk menguji seberapa cinta kita kepadaNya. Apakah kita melakukan amal shalih karena cinta kepadaNya ataukah sebab terpaksa? Tuhan bisa diibaratkan majikan, bos, atau pimpinan, maka manakala kita melakukan tugas yang diberikannya itu karena terpaksa, takut akan hukumannya, atau mengharapkan gaji lebih tinggi darinya, itu berarti kalau tidak ada sanksi atau hukuman dan tidak diberikan honor yang tinggi, kerja kita akan meksimal. Dia tentu bukan pekerja yang baik, karena bekerja ada pamrihnya.
Lalu, apakah beribadah untuk mengharapkan pahala dan takut akan siksaNya itu tidak diperbolehkan? Boleh! Tuhan itu tidak seperti bos Anda yang kalau Anda sudah bekerja keras pun, honornya sering kali tidak dinaikkan, bahkan tak jarang malah dipotong, Tuhan tidak juga seperti majikan Anda yang kalau Anda telah disiplin dan tertib dalam bekerja, gaji Anda pun masih sering telat diberikan.
Tidak mengapa beribadah mengharapkan surga dan takut akan neraka sebagai motivasi dalam melakukan amal shalih. Secara fiqh (hokum Islam) tidak ada masalah, ini hanya wilayah tingkatan (maqam) spiritual saja dalam beribadah.
Ali bin Abi Thalib mengungkapkan, “Apabila hamba beribadah kepada Allah, dan ia ingin mendapatkan imbalan serta menjauhi maksiat sebab takut akan mendapatkan siksa, itu tidak lain cara ibadahnya kaum pedagang. Sebab, ia masih memperhitungkan untung dan ruginya. Apabila hamba beribadah kepada Allah karena akut akan siksaNya, maka itu tidak lain adalah cara ibadahnya para budak. Dan, ada sekelompok kecil hamba yang beribadah karena cinta suci kepadaNya, itulah ibadahnya mukmin sejati.”
Tipe pertama dan kedua yang digambarkan Ali itulah yang sering kita lakukan. Karena itu, sangat wajarlah apabila Rabi’ah mengusik kesadaran motif beribadah kita hingga kini. Rabi’ah pada dasarnya mengajak kita supaya beribadah tidak karena pamrih demi meraih surga dan menghindar dari neraka, apalagi yang sangat menjijikkan, yakni beribadah dengan tujuan utnuk kelezatan dunia, ingin disebut dermawan, orang shalih, ingin mendapatkan jabatan tertentu, mendapat dukungan politik tertentu, dan lain-lain.
“Madzhab cinta” ini telah banyak memberikan inspirasi bagi tokojh0tokoh sufi kenamaan yang hidup sesudahnya, misalnya Farid ad-Din al-Athar, Ibnu al-Farid, al-Hallaj, Jalaluddin Rumi, dan sebagainya. Muhammad Iqbal, seorang filsuf dari Pakistan, juga mengikuti jejak tokoh ini, ia menggunakan maqam cinta sebagai komponen untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Marilah kita berdoa kepada Allah supaya tidak pernah putus dari cintaNya. Disamping itu, kita berusaha keras untuk beribadah karena mencintaiNya. Kemudian, kita lanjutkan dengan doa yang menggetarkan jiwa, seperti halnya doa Ali saat bermunajat kepadaNya :
Ilahi…
Apakah orang yang telah mencicipi manisnya cintaMu
Akan menggantikan pengganti selainMu
Apakah orang yang telah bersanding di sampingMu
Akan mencari penukar selainMu
Ilahi…
Jadikan kami diantara yang Kau pilih untuk pendamping dan kekasihMu
Yang Kau ikhlaskan untuk memperoleh cinta dan kasihMu
Yang Kau rindukan untuk dating menemuiMu
Yang Kau ridhakan (hatinya) untuk menerima qadhaMu
Yang Kau anugerahkan (kebahagiaan) melihat wajahMu
Yang Kau limpahkan keridhaanMu
Yang Kau lindungi dari pengusiran dan kebencianMu
Yang Kau persiapkan baginya kedudukan shiddiq disampingMu
Yang Kau istimewakan dengan ma’rifatMu
Yang Kau arahkan untuk mengabdiMu
Yang Kau tenggelamkan hatinya dalam iradahMu
Yang Kau pilih untuk menyaksikanMu
Yang Kau kosongkan dirinya untukMu
Yang Kau bersihkan hatinya untuk (diisi) cintaMu
Yang Kau bangkitkan hasratnya mengingatMu
Yang Kau dorong kepadanya mensyukuriMu
Yang Kau sibukkan dengan ketaatanMu
Yang Kau jadikan dari makhlukMu yang shalih
Yang Kau pilih untuk bermunajat kepadaMu
Yang Kau putuskan daripadanya segala sesuatu
Yang memutuskan hubungan denganMu
Ya Allah…
Jadikan kami diantara orang-orang
Yang kedambaannya adalah mencintai dan merindukanMu
Nasibnya hanya merintih dan menangis
Dahi-dahinya sujud karena kebesaranmu
Mata-matanya terjaga dalam mengabdiMu
Air matanya mengalir karena takut kepadaMu
Hati-hatinya terikat pada cintaMu
Kalbu-kalbunya terpesona dengan kehebatanMu
Wahai Yang cahaya kesucianNya bersinar
Dalam pandangan para pencintaNya
Wahai Yang kesucian wajahNya membahagiakan hati pada pengenalNya
Wahai Kejaran Kalbu para perindu
Wahai Tujuan Cita para pencinta
Aku memohonkan cintaMu
Dan, cinta orang yang mencintaiMu
Dan, cinta amal yang membawaku ke sampingMu
Jadikan Engkau lebih aku cintai daripada selainMu
Jadikan cintaku kepadaMu membimbingku pada ridhaMu
Kerinduanku kepadaMu mencegahku dari maksiat atasMu
Anugerahkan padaku memandangMu
Tataplah diriku dengan tatapan kasih saying
Jangan palingkan wajahMu dariku
Jadikan aku dari penerima anugerah dan karuniaMu
Wahai Pemberi ijabah
Ya Arhamarrahimin…
Langganan:
Postingan (Atom)