Laman

Minggu, 28 Mei 2017

Hakikat Wali


Dalam tradisi keilmuan Nusantara, dikenal istilah wali. Diantara kata wali yang paling populer adalah ‘walisanga’ yang berarti wali sembilan sebagai penyebar Islam pertama di Nusantara. Wali juga biasa diidentikkan dengan seseorang yang memilki kelebihan (karomah). Sebagian dari masyarakat muslim mempercayai keberadaan dan ‘kelebihan’ yang dimiliki para wali dan sangat menaruh hormat kepada mereka.
Kepercayaan itu diungkapkan dalam bentuk mengunjungi maqbaroh untuk bertawassul kepada mereka. Akan tetapi sebagian masyarakat yang lain tidak percaya dengan keberadaan wali bahkan menganggap para wali sebagai sarang ke-bid’ah-an. Hal ini terjadi karena miskinnya pengetahuan atau seringnya pemaknaan kata wali yang merujuk pada hal-hal negatif.
Menurut bahasa, kata wali itu kebalikan dari ‘aduw, musuh. Bisa jadi berarti sahabat, kawan atau kekasih. Umumnya wali Allah diartikan kekasih Allah.
Menurut istilah ahli hakikat, wali mempunyai dua pengertian. Pertama, orang yang dijaga dan dilindungi Allah, sehingga dia tidak dan tidak perlu menyandarkan diri dan mengandalkan pada dirinya sendiri. Seperti dalam al-Qur’an surah al-A’raf 196 ;
Artinya : Sesungguhnya pelindungku ialah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.
Kedua, orang yang melaksanakan ibadah kepada Allah dan menanti-Nya secara tekun terus menerus tak pernah kendur dan tidak diselingi dengan berbuat maksiat, maka Allah pun mencintainya.
Kedua-duanya merupakan syarat kewalian. Wali haruslah orang yang terpelihara (mahfudz) dari melanggar syara’ dan karenanya dilindungi oleh Allah, sebagaimana nabi adalah orang yang terjaga (ma’shum) dari berbuat dosa dan dijaga oleh-Nya. Ada beberapa hal yang dapat dijadikan penanda bagi wali Allah ;
a. Himmah atau seluruh perhatiannya hanya kepada Allah
b. Tujuannya hanya kepada Allah
c. Kesibukannya hanya kepada Allah
Ada juga yang mengatakan tanda wali Allah adalah senantiasa memandang rendah dan kecil kepada diri sendiri serta khawatir jatuh dari kedudukannya (di mata Allah) di mana ia berada. (baca Jamharatul Auliya wa A’lamu Ahlit Tatsawwuf, hal 73-110).
Kalau menurut al-Qur’an, ini tentu saja paling benar, wali Allah adalah orang-orang mu’min yang senantiasa bertakqwa dan karenanya mendapat karunia tidak mempunyai rasa takut (kecuali kepada Allah) dan tidak pernah bersedih. Seperti dalam al-Qur’an surah Yunus : 62-63 ;
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿٦٢﴾ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
Artinya: Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Alloh tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati, (Yaitu mereka) adalah orang-orang yang beriman dan mereka senantiasa bertaqwa.
Atau dengan kata lain, wali Allah adalah orang mu’min yang senantiasa mendekat (taqarrub) kepada Allah dengan terus mematuhi-Nya dan mematuhi Rasul-Nya. Sehingga akhirnya dia dianugrahi karomah, semacam ‘sifat ilmu linuwih’ (Seperti mukjizat Nabi. Bedanya, mu’jizat nabi melalui pengakuan –dan sebagai bukti- kenabian ; sedang karomah wali tidak mengikuti pengakuan kewalian).
Dalam sebuah hadits qudsi (hadits Nabi saw. yang menceritakan firman Allah) yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Shahabat Abu Hurairah r.a Rasulullah saw bersabda :
إن الله تعالى قال: من عادى لي وليا فقد أذنته بالحرب وما تقرب إلـي عبدى بشيئ أحب إلـي مما افترضته عليه ولايزال عبدى يتقرب الـي بالنوافل حتى احبه فاذا احببته كنت سمعه الذى يسمع به وبصره الذى يبصربه ويده التى يبطش بها ورجله التى يمشى بها وإن سألنى لأعطينه وإن استعاذنـي لأعيذنه
Artinya : Allah Ta’ala telah berfirman: Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku benar-benar mengumumkan perang terhadapnya. Hamba-Ku tidak berdekat-dekat, taqarrub, kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai melebihi apa yang telah aku fardhukan kepadanya. Tak henti-hentinya hamba-Ku mendekat-dekat kepada-Ku dengan melaksanakan kesunahan-kesunahan sampai Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Akulah pendengarannya dengan apa ia mendengar. Akulah penglihatannya dengan apa ia melihat. Akulah tangannya dengan apa ia memukul. Akulah kakinya dengan apa ia berjalan. Dan jika ia meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya, jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku akan melindunginya.
Boleh saja orang mempunyai ‘sifat linuwih’ misalnya bisa membaca pikiran orang, bisa berkomunikasi dengan binatang atau orang yang sudah mati, bisa berjalan di atas air, atau kesaktian-kesaktian lainnya, tetapi tentu saja dia tidak otomatis bisa disebut wali. Sebab dajjal, dukun, tukang sihir, ‘ahli hikmah’ tukang sulap atau paranormal pun bisa memperlihatkan kesaktian semacam itu.
Sebaliknya bisa saja seorang wali dalam kehidupannya sama sekali tidak tampak lain dari orang-orang biasa. Lihat saja dari kesembilan wali Tanah Jawa, yang terkenal punya kesaktian hanya Sunan Kalijogo yang mempunyai kesaktian membuat soko guru masjid Demak dari tatal dan Sunan Bonang yang mengubah buah pinang tampak menjadi emas. Jadi kewalian seseorang tidak diukur dengan keanehan dan kesaktiannya, perilaku ataupun pakaiannya melainkan kedekatan dan ketakwaan kepada Allah. ***

Surga Dan Neraka


Surga dan Neraka Hanya Tempat Menuju Allah.
Siksa dan Nikmat Adalah Sifat.
Jangan Campur Aduk
Penekanan-penekanan kata Naar dalam Al-Qur’an juga memiliki struktur hubungan yang berbeda. Naar disebutkan untuk orang kafir, memiliki tekanan berbeda dengan orang munafik, orang fasik, dan orang beriman yang ahli maksiat. Itu berarti berhubungan dengan kata Naar, yang disandarkan pada macam-macam ruang neraka: Ada Neraka Jahim, Neraka Jahanam, Neraka Sa’ir, Neraka Saqar, Neraka Abadi, dan penyebutan kata Naar yang tidak disandarkan pada sifat dan karakter neraka tertentu.
Jika Naar kita maknai secara gradual, justru menjadi zalim, karena faktanya tidak demikian. Hal yang sama jika para Sufi memahami Naar dari segi hakikatnya neraka, juga tidak bisa disalahkan. Apalagi jika seseorang memahami neraka itu sebagai api yang berkobar.
Kalimat Naar tanpa disandari oleh Azab, juga berbeda dengan Neraka yang ansickh belaka. Misalnya kalimat dalam ayat di surat Al-Baqarah, “Wattaqun Naar al-llaty waquduhannaasu wal-Hijarah” dengan ayat yang sering kita baca, “Waqinaa ‘adzaban-Naar,” memiliki dimensi berbeda. Ayat pertama, menunjukkan betapa pada umumnya manusia, karena didahului dengan panggilan Ilahi ”Wahai manusia”. Maka Allah langsung membuat ancaman serius dengan menyebutkan kata Naar. Tetapi pada doa seorang beriman, “Lindungi kami dari siksa neraka,” maknanya sangat berbeda. Karena yang terakhir ini berhubungan dengan kualifikasi keimanan hamba kepada Allah, bahwa yang ditakuti adalah Azabnya neraka, bukan apinya. Sebab api tanpa azab, jelas tidak panas, seperti api yang membakar Ibrahim as.
Oleh sebab itu, jika seorang Sufi menegaskan keikhlasan ubudiyahnya hanya kepada Allah, memang demikian perintah dan kehendak Allah. Bahwa seorang mukmin menyembah Allah dengan harapan syurga dan ingin dijauhkan neraka, dengan perpekstifnya sendiri, tentu kualifikasi keikhlasannya di bawah yang pertama. Dalam berbagai ayat mengenai Ikhlas, sebagai Ruh amal, disebutkan agar kita hanya menyembah Lillahi Ta’ala. Tetapi kalau punya harapan lain selain Allah termasuk di sana harapan syurga dan neraka, sebagai bentuk kenikmatan fisik dan siksa fisik, itu juga diterima oleh Allah. Namun, kualifikasinya adalah bentuk responsi mukmin pada syurga dan neraka paling rendah.
Semua mengenal bagaimana Allah membangun contoh dan perumpamaan, baik untuk menjelaskan dirinya, syurga maupun neraka. Kaum Sufi memilih perumpamaan paling hakiki, karena perumpamaan neraka yang paling rendah sudah dilampauinya. Sebagaimana kualitas moral seorang pekerja di perusahaan juga berbeda-beda, walau pun teknis dan cara kerjanya sama.
Orang yang bekerja hanya mencari uang dan untung, tidak boleh mencaci dan mengecam orang yang bekerja dengan motivasi mencintai pekerjaan dan mencintai direktur perusahaan tersebut. Walau pun cara bekerjanya sama, namun kualitas moral dan etos kerjanya yang berbeda. Bagi seorang direktur yang bijaksana, pasti ia lebih mencintai pekerja yang didasari oleh motivasi cinta yang luhur pada pekerjaan, perusahaan dan mencintai dirinya, disbanding para pekerja yang hanya mencari untung be laka, sehingga mereka bekerja tanpa ruh dan spirit yang luhur.
Karena itu syurga pun demikian. Persepsi syurga bagi kaum Sufi memiliki kualifikasi ruhani dan spiritual yang berbeda dengan persepsi syurga kaum awam biasa. Hal yang sama persepsi mengenai bidadari. Bagi kaum Sufi bidadari yang digambarkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah, adalah Tajalli (penampakan) sifat-sfat dan Asma Kemahaindahan Ilahi, yang tentu saja berbeda dengan kaum awam yang dipersepsi sebagai kenikmatan bilogis seksual-hewani.
Syurga bagi kaum Sufi adalah Ma’rifatullah dengan derajat kema’rifatan yang berbeda-beda. Karena nikmat tertinggi di syurga adalah Ma’rifat Dzatullah. Jadi kalimat Rabi’ah Adawiyah tentang ibadah tanpa keinginan syurga adalah syurga fisik dengan kenikmatan fisik yang selama ini kita persepsikan. Dan hal demikian memang bisa menjadi penghalang (hijab) antara hamba dengan Allah dalam prosesi kema’rifatan.
Bahkan Allah pun membagi-bagi syurga dengan symbol berbeda-beda, ada Jannatul Ma’wa, Jannatul Khuldi, Jannatun Na’im, Jannatul Firdaus, yang tentu saja menunjukkan kualifikasi yang bersifat lahiriyah maupun bathiniyah. Bagi orang beriman yang masih bergelimang dengan nafsunya, maka perspesi tentang nikmat syurga, adalah pantulan nafsu hewaninya dan syahwatnya, lalu persepsi kesenangan duniawi ingin dikorelasikan dengan rasa nikmat syurgawi yang identik dengan syahwatiyah.
Rabi’ah Adawiyah dan para Sufi lainnya ingin membersihkan jiwa dan hatinya dari segala bentuk dan motivasi selain Allah yang bisa menghambat perjalanan menuju kepada Allah. Dengan bahasa seni yang indah dan tajam, mereka hanya menginginkan Allah, bukan menginginkan makhluk Allah. Amaliyah di dunia sebagi visa syurga hanyalah untuk menentukan kualifikasi kesyurgawiannya, bukan sebagai kunci masuk syurganya. Karena hanya Fadhal dan RahmatNya saja yang menyebabkan kita masuk syurga. “karena Fadhal dan Rahmat itulah kamu sekalian bergembira…” Demikian dalam Al-Qur’an. Bukan gembira karena syurgaNya.
Syurga dan neraka adalah makhluk Allah. Apakah seseorang bisa wushul (sampai kepada) Allah, manakala perjalanannya dari makhluk menuju makhluk? Apakah itu tidak lebih dari sapi atau khimar yang menjalankan roda gilingan, yang berputar-putar terus menerus tanpa tujuan?
Nah anda bisa merenungkan sendiri, betapa tudingan-tudingan mereka yang anti tasawuf soal persepsi syurga dan neraka ini, bisa terbantahkan dengan sendirinya, tanpa harus berdebat lebih panjang.
Hanya mereka yang tolol dan bodoh saja, jika ada ucapan seperti ini dikecam habis, “Tuhanku, hanya engkau tujuanku, dan hanya ridloMulah yang kucari. Limpahkan Cinta dan Ma’rifatMu kepadaku…” Ucapan yang menjadi munajat para Sufi. Lalu mereka mengecam ucapan ini, sebagai bentuk anti syurga dan tak takut neraka?

Taubat Dan Terbukanya Hijab


Tidak ada puasa padaku dan tidak ada pula salat. Tidak ada linangan air mata atau semangat di hati. Yang ada hanyalah sikap ria dalam berdakwah. Meski demikian, aku tidak bisa meninggalkan pintu ini.
Itu adalah teriakan hati setiap orang yang terluka melihat dirinya diliputi kehampaan dari semua sisi. Itu bukan pertanyaan, tetapi semacam pengakuan yang berlaku bagi kita semua. Seorang tokoh besar sering mengulang bait berikut:
Aku tidak memiliki apa-apa, baik ilmu maupun amal
Aku juga tidak bersabar dalam taat dan kebajikan
Tenggelam dalam maksiat… dosaku begitu banyak
Bagaimana gerangan kondisiku di Hari Kebangkitan?
Di sini tangisan dan rintihan merupakan proses pengosongan yang dilakukan kaum ikhlas dan jujur yang hati mereka senantiasa berkobar. Seolah-olah hati mereka berisi kerikil api neraka yang membakar dada sehingga perasaan mereka ini tidak menemukan jalan keluar kecuali dengan air mata. Karena itu, kita melihat Rasulullah saw. membangun sebuah keberimbangan antara neraka dan air mata. Beliau saw. bersabda, “Tidaklah hamba mukmin meneteskan air mata meski hanya sebesar kepala lalat karena takut kepada Allah kemudian air mata itu mengalir ke wajahnya, kecuali Allah mengharamkannya dari neraka.”[1]
Ya. Yang bisa memadamkan api neraka hanya air mata. Dalam hadis lain, beliau mengungkapkan keberimbangan tersebut lewat sabdanya: “Dua mata yang tidak terkena api neraka adalah mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang tidak tidur karena berjaga di jalan Allah.”[2] Dalam hadis ini—dan hadis-hadis lain—beliau melihat dengan pandangan yang sama kepada orang yang berjihad melawan pihak lain dan kepada orang yang berjihad melawan dirinya sendiri hingga meneteskan air mata.
Al-Quran juga menyebutkan kondisi sejumlah orang yang tersungkur bersujud dan menangis, sebagaimana dalam ayat yang lain ia mengajak untuk sedikit tertawa dan banyak menangis karena menyesal. Air mata menjadi saksi atas kehalusan jiwa dan kebaikan rohani. Setiap tetesnya menyamai air telaga Kautsar di surga. Keringnya air mata merupakan musibah besar sehingga Rasul saw. berlindung kepada Allah Swt. dari kondisi tersebut. Sungguh indah seandainya setiap mukmin dapat mencermati dirinya dan mengakui kenyataan pahit tersebut dengan berkata, “Aku tidak memiliki ilmu dan amal. Aku juga tidak bisa bersabar dalam berbuat taat dan kebaikan. Air mata pun tidak berlinang. Tidak ada kemampuan dalam hati. Aku tidak memiliki cahaya kehendak.”
Betapa indah seandainya setiap mukmin dapat meyakinkan dirinya bahwa ia tidak memiliki apa-apa, bahwa kalaupun ia menampilkan sejumlah karunia Allah, itu bukanlah karena kelayakannya tetapi karena kebutuhannya. Kepapaan dan ketidakberdayaannya itulah yang mendatangkan rahmat Allah Swt. Itulah sebab adanya karunia Allah Swt. Jalan pertama agar manusia bisa keluar dari aib dan kekurangannya adalah mengenali seluruh cacatnya lalu diikuti dengan perasaan menyesal dan sedih agar ia berusaha untuk terlepas dari aibnya itu.
Di antara nikmat terpenting yang Allah Swt. berikan kepada mukmin adalah kecintaannya kepada segala hal yang terkait dengan iman serta kebenciannya kepada segala hal yang terkait dengan kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Dengan kecintaan dan kebencian tersebut, manusia dapat naik ke puncak kemanusiaan dan puncak iman, seraya berlepas diri dari segala sesuatu yang berupaya menariknya ke bawah. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh ayat: “Tetapi Allah membuat kalian cinta kepada keimanan dan membuat keimanan indah dalam hati kalian serta membuat kalian benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan. Mereka itulah orangorang yang mendapat petunjuk sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Mahatahu lagi Mahabijaksana.”[3]
Jadi, Allah menanamkan cinta kepada iman sekaligus menghiasnya di dalam hati kaum beriman. Ketika kaum beriman melihat melalui lensa keimanan, seolah-olah mereka menyaksikan surga berikut bidadarinya. Namun, yang lebih penting, mereka merasa dekat dengan Allah Swt.
Yang dimaksud oleh ayat di atas adalah para sahabat. Perilaku tersebut menjadi tabiat mereka secara umum yang tidak pernah berubah. Mereka sangat mencintai segala hal yang terkait dengan keimanan dan seluruh hukum yang terkait dengan ibadah. Di sisi lain, mereka lari dari serta benci kepada kekafiran dan setiap hal yang menjurus kepadanya. Berkat keimanan mereka, meski berada di dunia, mereka seolah-olah hidup di surga dan dalam nuansa surga. Mereka lebih memilih dilempar ke dalam api dan tidak kembali kepada kekafiran. Seandainya mereka diberi pilihan antara hidup mewah dalam kekafiran dan dibakar dalam api sebagai mukmin, tentu mereka memilih yang terakhir. Karena itu, mereka telah sampai ke tingkatan petunjuk. Ini adalah karunia dan nikmat Allah Swt.
Sebelumnya, kami telah menyebutkan bahwa jika manusia bisa menyadari dan merasakan kekurangannya, ini merupakan langkah pertama untuk keluar dari kekurangannya. Adapun jika ia merasa sempurna dan menganggap semua yang dikerjakannya untuk Islam sempurna, ketahuilah bahwa sedikit demi sedikit ia akan tenggelam. Imam al-Qasthalani menceritakan kepada kita bahwa 14 sahabat merasa gelisah karena takut kepada sifat munafik dan khawatir tercatat dalam golongan munafik. Rasa takut dan cemas tersebut merupakan tanda lain yang menunjukkan ketinggian iman mereka. Umar ibn Khattab dan Ummul Mukminin, Aisyah r.a., termasuk di antara para sahabat itu.

Sabtu, 27 Mei 2017

AKHLAKMU ITU CERMINAN CAHAYA HATIMU


Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Bersungguh-sungguhlah engkau dalam meraih darjat makrifatullah, kerana engkau akan menyelam bersama-Nya, kukuh dengan keteguhan diri menuju kepada Allah, serta dengan ilmu-Nya engkau menuju kepada-Nya.
Perkataanmu adalah cermin hatimu. Lisanmu adalah penerjemah hatimu. Jika hati seseorang bercampur-baur banyak perkara, maka dia kadang berkata benar dan kadang berkata salah. Dia tidak dapat mengubah apa yang tersembunyi dalam hati. Jika hati seseorang telah terbebas dari syirik, maka lisannya akan lurus dan benar. Jika dia bersekutu dan mengikuti sifat makhluk, maka dia dapat berubah, terpeleset dan berdusta.
Kerana itu, di antara para pembicara, ada orang-orang yang berbicara dari hatinya, ada pula yang berbicara dari rahsianya, dan bahkan ada yang berbicara dari hawa nafsu, syaitan dan kebiasaan buruknya.
Jika engkau mencintai atau membenci seseorang, janganlah cinta dan bencimu berlandaskan hawa nafsu dari tabiat burukmu, tapi ukurlah dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Jika apa yang engkau cintai sesuai, maka cintailah terus menerus. Demikian pula jika kau membenci pada seseorang. Jika kebencianmu tidak mendatangkan manfaat, maka dekatilah hati orang-orang soleh dan bertanyalah kepada mereka. Kerana hatinya adalah kebenaran. Jika hatinya benar, maka dia akan benar di sisi Allah. Jika hati beramal dengan Al-Qur’an dan Sunnah, maka ia akan menjadi dekat kepada-Nya, serta akan mengetahui yang hak dan kewajibannya sendiri. Dia tahu apa yang harus ditunaikan untuk Allah dan apa yang harus dilakukan kepada sesuatu selain-Nya.
Jika seorang Mukmin saja mampu memiliki cahaya yang menerangi penglihatannya, apalagi orang-orang yang benar (Shiddiq) dan dekat kepada Allah. Orang Mukmin memiliki cahaya yang digunakan untuk memandang sesuatu, kerana Nabi telah memperingatkan tentang ketajaman penglihatannya. Rasulullah SAW bersabda, “Takutlah kepada firasat orang Mukmin, kerana dia melihat dengan cahaya Allah.”
Orang yang ‘arif dan dekat kepada Allah, juga diberi cahaya sehingga dapat melihat kedekatan antara dirinya dengan Allah. Dia mampu melihat ruh para malaikat, nabi, hati dan ruh orang-orang shiddiq , serta melihat keadaan dan kedudukan mereka. Selamanya dia bergembira bersama Allah. Dia berpisah dengan makhluk. Di antara mereka ada yang lisan dan hatinya mengetahui. Ada pula yang hatinya mengetahui dan lisan menjadi juru bicaranya. Sedangkan orang munafik, lisannya mengetahui, namun hatinya gagap. Semua ilmunya hanya di mulut saja, sedangkan hatinya buta.”
–Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Al-Fath Ar-Rabbani wa al-Faidh ar-Rahmani

ANUGERAH & PETUNJUK JALAN.

Assalaamu 'Alaikum Wa Rahmatullaahi Wabarakaatuh...
.
- ARAFTU RABBI BI RABBI -
.
Artinya :
" aku mengenal Tuhan-ku dengan Tuhan-ku "
.
Ketahuilah kalian semua....
Kita mengenal Allah itu melalui anugerah- Nya.
Maksudnya :
Yang kita lakukan dan kita pergunakan untuk mengenal- Nya ialah :
" TAUFIQUL HIDAYAH
.
Berupa Anugerah, karunia yang Allah tunjukkan kepada seorang Hamba-Nya yang terpilih.
.
KENAPA DEMIKIAN ??
.
Sebab :
Tunduknya pengenalan ( Ma'rifat ) itu kepada pengenalaTunduknya pengenalan ( Ma'rifat ) itu kepada pengenalan Diri.
Dan Tunduknya pengenalan Diri itu kepada Ma'rifat Allah Dan Tunduknya pengenalan Diri itu kepada Ma'rifat Allah Ta'ala.
.
================
.
Ikhwanil Muslimin Hamba Allah yang berbahagia.....
.
Sesungguhnya...
Pengenalan kepada Allah itu, sebenarnya sama sekali tidak bisa kita kenal, kecuali hanya :
Melalui pengenalan kepada NUR MUHAMMAD.
Yang mesranya didalam : ' HATI NURANI DAN RUH, SERTA SEGENAP BATANG TUBUH KITA INI "
.
================
.
MENGENAL BERARTI MENGENALI-NYA...
MENGENAL NUR MUHAMMAD BERARTI MENGENAL ALLAH JUGA...
.
Cara mengenali Allah itu bukanlah apa yang kita baca. Artinya :
Ingin mengetahui jalan hakikat-Nya itu bukan dengan membaca isi kitab Sirrul Asral atau Kitab Al- Hikam, Kitab kuning dan banyak lagi jilid- jilid terahasia, ataupun sebaliknya bukan hanya menyebut dan mengingat-Nya
Tetapi kita cuma hanya mengetahui dan ingat pada Rahasia Hati Nurani.
.
===============
.
Jadi :
.
SEHARUSNYA BAGAIMANA CARANYA ??
DAN SIAPAKAH YANG HARUS KITA KETAHUI DULU DAN SIAPAKAH YANG MESTI KITA INGAT PERTAMA KALINYA ??
.
Jawabnya adalah :
.
" GURU KALIAN...
MURSYID KALIAN TERLEBIH DAHULU YANG HARUS KALIAN MENGETAHUINYA. YANG MEMBERIKAN CARA JALAN DAN PENCERAHANNYA... "
.
GURU MURSYID-LAH SEBAGAI WASILAH KALIAN.
INILAH YANG DINAMAKAN :
" RABITHA MURSYID "
.
Guru yang mengetahui jalan kebenaran menuju hakikat dan Ma'rifat.
Inilah " ADAB " Yang Haq dan benar...
Inilah jalannya...
Tujuan untuk mengenal dan berma'rifat yang sesungguhnya...
.
================
.
Yang kalian ingin mengetahui untuk mengenal Allah itu adalah :
itulah tadi disebut :
" Taufiq dan Petunjuk Allah Ta'ala "
Jadi :
Taufiq itu Mursyidnya.. Dan Hidayah Itu Ilmu Allah..
Inilah Karunia dan anugerah yang terbesar..
.
================
.
Ikhwanil Muslimin Hamba Allah dimuliakan...
.
Ketahuilah kalian...
Bahwa >
Maqamnya para Anbiya dan para Wali itu adalah :
Maqam mereka yang telah sampai pada pengenalan Hakiki. mereka mengenal Allah itu dengan sebab.
Sebabnya adalah :
Dengan memandang dan memusyahadahkan :
" NUR MUHAMMAD "
yang awalnya mereka itu dibentuk melalui wajah Mursyidnya...
Maka >>
Musyahadahkanlah oleh kalian itu dengan :
" NUR MUHAMMAD "
Yang mesranya pada segenap Ruh dan batang tubuh kalian itu.
Seperti mesranya air dengan tumbuhan...
===============
.
Sampai masa Anugerah diberikan kepada kalian itu, untuk menyaksikan ke- Cantikkan Dzat Allah yang Maha Indah.
Karena Dzat Allah itu, tiada dapat sesekali dikenal oleh seorang Hamba.
Kecuali hanya mengenal melalui Nur-Nya yakni :
" NUR MUHAMMAD "
Yang mesranya pada hati NURANI Dengan berwasilah kepada Nur Muhammad...
Karena hanya itulah jalannya yang bisa mengenal kepada Dzat Wajibul Wujud..
.
================
.
Nah jadi Ma'rifat itu merupakan Anugerah, karunia serta petunjuk jalan untuk mengenal-Nya.
Bukan karena Usaha., tetapi dengan melalui wasilah Nur Muhammad semata- mata.
Yang benar- benar Berma'rifat itu ialah :
" Muhammad Rasulullah " Penghulu segala Ma'rifat.
Sebab Nabi Muhammad yang lebih mengetahui dan mengenal akan Allah Ta'ala.
Allah- pun Ia juga...
Rahasia-Nya Allah juga...
Harapan cinta, ia pun juga...
Gerak dan Diam itupun Ia- pun juga..
Nah inilah Hakikatnya MUHAMMAD RASULULLAH SHALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM...
.
================
.
Nah Ikhwani...
Demikianlah pengupasan prihal ini yang Ana sampaikan.
Semoga dilain waktu, kita akan membicarakan atau mengungkapkan Misteri yang terselubung didalam diri pribadi kita. Tiada lain semuanya adalah :
Taufiq dan hidayah Allah kepada hamba- hamba-Nya yang Dia- tunjuki jalan.
Tiada lain kecuali mengenal Mursyidnya sendiri agar bisa direstui langsung dari Wasilah dari Nur Muhammad.
Dengan inilah bisa mengenal jalan Musyahadah kepada pengenalan.
=================
Lebih dan terkurang apa yang Ana sampaikan dimedia sosial Ana. Maka :
Ana mohon di :
MA'AFKAN YANG SEBESAR- BESARNYA..
Akhirul Kalam :
.
MARHABAAN YAA RAMADHAAN
MOHON MA'AF SEKALI LAGI DARI ZAHIR HINGGA KEDALAM BATHIN.
.
WAS SALAAMU 'ALAIKUM WA RAHMATULLAAHI WA BARAKAATUH....
AAMIIN YAA ALLAAHU...
AAMIIN... AAMIIN...
ALLAAHU AKBAR...

Kamis, 25 Mei 2017

MEMAHAMI HILAL, HISAB DAN RUKYAT SEBAGAI PENENTU AWAL BULAN HIJRIYAH

Alhamdulillah, sebentar lagi fajar Ramadhan akan kembali menyingsing. Mari kita sambut dengan suka cita bulan suci yang penuh dengan rahmat dan ampunan Allah azza wa jalla. Sujud syukur kita karena kita masih disampaikan-Nya pada Ramadhan tahun ini. Marhaban yaa Ramadhan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, penentuan awal Ramadhan selalu menjadi trending topic dikalangan umat Islam dikarenakan seringnya terjadi perbedaan waktu yang ditetapkan oleh pemerintah melalui sidang Itsbat dengan beberapa ormas Islam (misalnya Muhammadiyah) yang telah terlebih dahulu menetapkan awal Ramadhan. Perbedaan waktu ini disebabkan oleh perbedaan cara menentukan waktu yaitu dengan metoda hisab dan rukyat. Sebagai umat Islam, sepatutnya kita mengetahui metoda-metoda penentuan waktu tersebut.

A. HILAL

Hilal adalah penampakan bulan yang paling awal terlihat menghadap bumi setelah bulan mengalami konjungsi/ijtimak.

Bulan awal ini (bulan sabit tentunya) akan tampak di ufuk barat (maghrib) saat matahari terbenam.

Ijtimak/konjungsi adalah peristiwa yang terjadi saat jarak sudut (elongasi) suatu benda dengan benda lainnya sama dengan nol derajat.
Dalam pendekatan astronomi, konjungsi merupakan peristiwa saat matahari dan bulan berada segaris di bidang ekliptika yang sama. Pada saat tertentu, konjungsi ini dapat menyebabkan terjadinya gerhana matahari.

Hilal merupakan kriteria suatu awal bulan. Seperti kita ketahui, dalam Kalender Hijriyah, sebuah hari diawali sejak terbenamnya matahari waktu setempat, dan penentuan awal bulan (kalender) tergantung pada penampakan hilal/bulan. Karena itu, satu bulan kalender Hijriyah dapat berumur 29 hari atau 30 hari.

“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah: “Hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji…” [QS. Al Baqarah (2):189]

B. HISAB

Secara harfiyah bermakna ‘perhitungan’.

Di dunia Islam istilah ‘hisab’ sering digunakan sebagai metode perhitungan matematik astronomi untuk memperkirakan posisi matahari dan bulan terhadap bumi.

Penentuan posisi matahari menjadi penting karena umat Islam untuk ibadah shalatnya menggunakan posisi matahari sebagai patokan waktu sholat.

Sedangkan penentuan posisi bulan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam Kalender Hijriyah. Ini penting terutama untuk menentukan awal Ramadhan saat orang mulai berpuasa, awal Syawwal saat orang mangakhiri puasa dan merayakan Idul Fithri, serta awal Dzulhijjah saat orang akan wukuf haji di Arafah (9 Dzulhijjah) dan hari raya Idul Adha (10 Dzulhijjah)

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [WS.Yunus (10): 5]

“Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.” [QS. Ar-Rahmaan (55): 5]

C. RUKYAT

Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak setelah terjadinya ijtimak. Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop.
Aktivitas rukyat dilakukan pada saat menjelang terbenamnya matahari pertama kali setelah ijtimak (pada waktu ini, posisi Bulan berada di ufuk barat, dan Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari). Apabila hilal terlihat, maka pada petang waktu setempat telah memasuki tanggal 1.

Perihal penentuan bulan baru, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberi perhatian khusus pada Sya’ban dan Ramadhan

Hadits dari Abi Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata :

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal bulan Syawal). Jika kalian terhalang awan, maka sempurnakanlah Sya’ban tiga puluh hari.” (HSR. Bukhari 4/106, dan Muslim 1081).

D. CARA PENENTUAN AWAL BULAN KALENDER HIJRIYAH

Di Indonesia, terdapat beberapa kriteria yang digunakan baik oleh pemerintah maupun organisasi Islam untuk menentukan awal bulan pada Kalender Hijriyah:

D1. Rukyatul Hilal

Rukyatul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan merukyat (mengamati) hilal secara langsung. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari. Metode ini yang dipakai oleh Nahdlatul Ulama (NU).

D2. Wujudul Hilal

Hisab Wujudul Hilal (juga disebut ijtimak qoblal qurub). Kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan prinsip: Jika pada setelah terjadi ijtimak (konjungsi), Bulan terbenam setelah terbenamnya matahari, maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan (kalender) Hijriyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian (altitude) Bulan saat Matahari terbenam.

Metode inilah yang dipakai oleh Muhammadiyah dalam menentukan awal bulan hijriyah.

D3. Imkanur Rukyat MABIMS.

Imkanur Rukyat adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah.
Kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut:

Pada saat matahari terbenam, ketinggian (altitude) Bulan di atas cakrawala minimum 2°, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3°, atau
Pada saat bulan terbenam, usia Bulan minimum 8 jam, dihitung sejak ijtimak.

Di Indonesia, secara tradisi pada petang hari pertama sejak terjadinya ijtimak (yakni setiap tanggal 29 pada bulan berjalan), Pemerintah Republik Indonesia melalui Badan Hisab Rukyat (BHR) melakukan kegiatan rukyat (pengamatan visibilitas hilal), dan dilanjutkan dengan Sidang Itsbat, yang memutuskan apakah pada malam tersebut telah memasuki bulan (kalender) baru, atau menggenapkan bulan berjalan menjadi 30 hari. Di samping metode Imkanur Rukyat di atas, juga terdapat kriteria lainnya yang serupa, dengan besaran sudut/angka minimum yang berbeda.

D4. Rukyat Global

Kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang menganut prinsip bahwa: jika satu penduduk negeri melihat hilal, maka penduduk seluruh negeri berpuasa (dalam arti luas telah memasuki bulan Hijriyah yang baru) meski yang lain mungkin belum melihatnya. Metode ini biasa digunakan oleh Hitsbut Tahrir Indonesia (HTI).

D5. Hisab Munjid

Hisab Munjid biasa dilakukan oleh jamaah tarekat Naqsabandiyah yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia.

Menggunakan perhitungan munjid, tanggal 1 Rajab dihitung ketika bulan berdiri tepat di atas ubun-ubun di waktu maghrib. Bila sesuai, maka hari itu dihitung awal Rajab. Bila kurang yakin, perhitungan dilakukan dengan melihat bulan penuh di waktu subuh. Kalau pas di atas ubun-ubun, maka hari itu adalah hari ke-15 Rajab.

Perhitungan yang sama dilakukan juga selama Syaban. Setidaknya dilakukan empat kali pengecekan bulan, yaitu sekali pada awal, dua kali pada pertengahan dan sekali di akhir Syaban.

Dari situ perhitungan menjadi lebih mudah. Oleh Tarekat Naqsabandiyah perhitungan penanggalan Hijriah selalu menggunakan sistem genap-ganjil. Artinya Rajab selalu dihitung genap atau 30 hari dan Sya'ban selalu dihitung ganjil, 29 hari. Hal ini berarti jumlah hari di Bulan Ramadhan akan selalu 30 hari.

E. AWAL RAMADHAN 2017 (1438 H)

Ijtima’ akhir bulan Sya’ban 1438 H. terjadi pada :

Hari/Tanggal : Jum’at Legi, 26 Mei 2017
Waktu : 02.46.15 WIB.
Tinggi hilal mar'iy: 7°37'45”
Tinggi hilal haqiqi : 8°38’26’’ (di atas 2°)
Lama hilal : 00.34.34 Jam.

Maka, 1 Ramadhan 1438 H. jatuh pada :

Hari : Sabtu Pahing
Tanggal : 27 Mei 2017 M.

Insya Allah, tidak ada perbedaan awal Ramadhan antara Metode Rukyat dengan Hisab tahun ini, karena tinggi hilal diatas 4° menurut semua system hisab. Posisi hilal ini, insya Allah dapat terlihat dengan jelas dengan pengamatan metode rukyat.

Marhaban yaa Ramadhan!.

Selamat menyambut kehadiran Bulan Suci Ramadhan, Puasa Lahir-Bathin, Puasa Fiqih-Puasa Tasawuf.

Wallahu'alam bisshawwab


Kehidupan Manusia

Kehidupan Manusia
Ku bangkitkan ruhmu di alam arwah …
Maka ruhmu mengembara dialam arwah selama waktu yang Kuinginkan …
Lalu Ku kumpulkan semua makhluk-Ku di hadapan-Ku …
Ku tanyakan kepada langit, bumi, dan gunung gunung …
Maukah mereka mengemban kepemimpinan di muka bumi … ?
Mereka bungkam …
Tak satupun makhluk-Ku sanggup mengemban kepemimpinan dibumi-Ku …
Lalu kalian menyanggupi tugas itu …
Maka kuangkatlah kalian sebagai khalifah di muka bumi …
Kubiarkan ruh mu bertebaran di alam-Ku …
Lalu Ku pilih kalian satu persatu untuk bertugas …
Ku pilih ruh kalian untuk bergantian memimpin di bumi-Ku …
Yang terdahulu merupakan ayah bagi yang datang kemudian …
Ku tebarkan bibit-bibit seluruh manusia di sulbi Adam …
Tidaklah ada manusia yang menginjak bumi, terkecuali telah Ku siapkan bibit tubuhnya di sulbi Adam …
Wahai Hamba-Ku …
Ketika waktu yang Ku kehendaki telah tiba untuk memunculkanmu di muka bumi …
Ku tebarkan 1 milyar sel dari sulbi ayahmu ke tubuh ibumu …
Dan dirimu ada diantara 1 milyar sel itu …
Tak ada yang berhasil hidup selamat dan mencapai alam rahim, kecuali satu sel saja, dan itulah dirimu …
Ku pelihara kejadianmu 40 hari pertama yang masih berupa sel…
40 hari kedua engkau berubah menjadi segumpal darah …
Lalu dengan kasih sayang-Ku yang menyelubungimu, dan 40 hariketiga engkau berubah menjadi daging …
Lalu dengan kelembutan-Ku 40 hari kemudian Ku ciptakan untukmu mata, telinga, mulut, tangan kaki, dan tulang-tulang penguat untukmu …
Dengan kadar kekuatan yang Ku tentukan, lalu Ku bungkus daging, dan diatasnya sebagai lapisan terluar adalah kulit sebagai pelindung tubuhmu …
Lalu kujadikan darah terus mengalir kesekujur tubuhmu …
Jantung yang memompanya …
Paru-paru yang memompa udara keseluruh tubuhmu …
Lambung yang menyaring makanan di tubuhmu …
Ku jadikan pula sepasang mata agar engkau melihat …
Telinga agar engkau mendengar …
Lidah agar engkau berkata-kata …
Lalu setelah sempurna tubuhmu untuk memangku ruhmu …
Ku hembuskan ruhmu ke tubuhmu …
Maka ruhmu melayang meninggalkan alam ruh, menuju alam rahim…
Maka bergeraklah dan berfungsilah tubuhmu dialam rahim …
Setelah tubuhmu siap untuk menerima kehidupan bumi …
Maka Kutentukan rasa sakit yang luar biasa pada ibumu …
Agar menjadi bukti yang mengikatmu untuk selalu patuh kepadanya …
Maka lahirlah engkau ke bumi-Ku …
Ku titipkan kasih sayang-Ku untuk memeliharamu kepada ayah dan ibumu …
Mereka akan membimbingmu mengenal benda-benda …
Menuntunmu berjalan, berbicara, dan memperkenalkan baik dan buruk …
Ku penuhi sanubari ibumu dengan kasih sayang …
Agar ia rela mengorbankan segalanya demi kelembutannya padamu …
Kemudian Ku siapkan pula kelembutan dan kasih sayang pada sanubari orang-orang lain yang akan mengayomimu kelak …
Engkau menjadi manusia dewasa yang bertebaran dibumi-Ku …
Engkaupun melihat, mendengar, bernafas, makan dan minum dibumi-Ku …
Tak satupun perbuatan kalian, terkecuali Kusaksikan … Kulihat … Kudengar …
Ku utus pula untukmu semulia-mulia Rasul dari bangsamu …
Yang sangat berat memikirkan penderitaan yang menimpamu …
Selalu berusaha menjagamu dari bencana …
Dan sangat berlemah lembut pada hamba-Ku yang mu'min …
Ia membawa semua Rahmat-Ku yang sudah kuperbolehkan untuk engkau…
Ku tunjukkan kepadamu jalan yang semestinya kau tempuh …
Maka Ku lihat, apakah yang kau perbuat …
Bersyukur atau Kufur …
Setelah segala kemuliaan dan keluhuran Ku izinkan untukmu …
Namun engkaupun berbuat kehinaan yang tak Ku kehendaki …
Engkau melakukannya dimuka bumi-Ku …
Setelah engkau tenggelam dalam kehinaan …
Melampaui batas dalam berbuat kesalahan …
Sehingga engkau semakin jauh dari-Ku …
Maka engkau kupanggil untuk kembali kepada-Ku …
Agar engkau jangan berputus asa dari kasih sayang-Ku …
Sangat mudah bagi-Ku mengampuni seluruh dosamu …
Asalkan kau kembali bersama-Ku …
Aku bersamamu ketika engkau mengingat-Ku …
Apabila engkau menyebut nama-Ku, maka Akupun menyebut namamu…
Apabila engkau mendekat kepada-Ku dengan merangkak, maka Aku akan mendekat kepadamu dengan lebih cepat …
Sampailah waktu kehidupanmu di bumi-Ku selesai …
Maka engkau harus meninggalkan kehidupan di bumi …
Dengan lebih dulu merasakan kepedihan, yang jauh lebih besar dari kepedihan yang dirasakan ibumu saat engkau memasuki bumi-Ku …
Maka kau berpindah dengan Kehendak-Ku ke alam Barzakh …
Ruhmu tercabut dari tubuhmu …
Kau berpisah dengan semua yang kau lihat …
Berpisah dengan semua yang kau dengar …
Berpisah dengan semua yang kau kenal …
Berpisah dengan semua hartamu …
Berpisah dengan semua saudaramu …
Berpisah dengan semua orang yang kau cintai …
Berpisah dengan semua orang yang mencintaimu …
Berpisah dengan semua orang yang kau benci …
Berpisah dengan semua orang yang membencimu …
Berpisah dengan semuanya selain-Ku …
Engkau akan dimandikan oleh saudara saudaramu …
Mereka menanggalkan seluruh pakaianmu …
Dan menggantikan dengan kain putih (kafan) untuk hartamu yang terakhir …
Mereka mengantarmu ke dalam lubang kuburmu …
Sebuah lubang di perut bumi yang gelap dan lembab …
Itulah rumahmu untuk selanjutnya …
Mereka meletakkanmu sendirian …
Membuka kain yang menutup wajahmu …
Lalu memiringkan tubuhmu agar wajahmu mencium tanah …
Lalu sedikit demi sedikit kau ditimbun tanah …
Mereka menangisimu …
Kemudian mereka meninggalkanmu sendiri …
Tak satupun dari mereka yang perduli keadaanmu …
Mereka tak akan mau menemanimu disitu …
Saat itu engkau kembali pada-Ku …
Hanya bersama-Ku … Hanya bersama-Ku … Hanya bersama-Ku …
Sesungguhnya kami milik Allah, dan kami akan kembali kepada-nya …
INNAA LILLAAH WA INNAA ILAIHI RAJI'UUN …