بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا
مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ
وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
Saya postingkan tulisan ini bukan berarti saya sudah bisa mengamalkan.
Hanya ingin berbagi ilmu dengan saudara2ku disini. Semoga kita diberi
kemampuan oleh Allah untuk belajar mengamalkannya...
Wudlu' kita
sehari-hari, ternyata tidak sekadar membasuh muka, tangan, kepala,
telinga maupun kaki. Wudlu' diposisikan sebagai amaliah yang benar-benar
menghantar kita semua, untuk hidup dan bangkit dari kegelapan jiwa.
Dalam
Wudlu'lah segala masalah dunia hingga akhirat disucikan, diselesaikan dan dibangkitkan
kembali menjadi hamba-hamba yang siap menghadap kepada Allah SWT.
Bahkan dari titik-titik gerakan dan posisi yang dibasuh air, ada
titik-titik sentral kehambaan yang luar biasa. Itulah, mengapa para Sufi
senantiasa memiliki Wudlu' secara abadi, menjaganya dalam kondisi dan
situasi apa pun, ketika mereka batal Wudlu, langsung mengambil Wudlu
seketika.
Mari kita buka jendela hati kita. Disana ada ayat Allah, khusus mengenai Wudlu.
Wahai orang-orang yang beriman, apabila engkau hendak mendirikan
sholat, maka basuhlah wajahmu dan kedua tanganmu sampai siku-siku, dan
usaplah pada kepalamu dan kaki-kakimu sampai kedua mata kaki…
Manusia yang mengaku beriman, apabila hendak bangkit menuju Allah ia
harus berwudlu' jiwanya. Ia bangkit dari kealpaan demi kealpaan, bangkit
dari kegelapan demi kegelapan, bangkit dari lorong-lorong sempit
duniawi dan mimpi di tidur panjang hawa nafsunya.
Ia harus
bangkit dan hadlir di hadapan Allah, memasuki "Sholat" hakikat dalam
munajat demi munajat, sampai ia berhadapan dan menghadap Allah.
Sebelum membasuh muka, kita mencuci tangan-tangan kita sembari bermunajat:
Ya Allah, kami mohon anugerah dan barokah, dan kami berlindung kepadaMu dari keburukan dan kehancuran.
Lalu kita masukkan air untuk kumur-kumur di mulut kita. Mulut kita
adalah alat dari mulut hati kita. Mulut kita banyak kotoran kata-kata,
banyak ucapan-ucapan berbusakan hawa nafsu dan syahwat kita, lalu mulut
kita adalah mulut syetan.
Mulut kita lebih banyak menjadi lobang
besar bagi lorong-lorong yang beronggakan semesta duniawi. Yang keluar
dan masuknya hanyalah hembusan panasnya nafsu dan dinginnya hati yang
membeku.
Betapa banyak dalil-dalil Al-Qur'an dan Hadits, betapa
berlimpah ruahnya fatwa amar ma'ruf nahi mungkar, tetapi karena keluar
dari mulut yang kotor, hanyalah berbau anyir dalam sengak hidung jiwa
kita. Karena yang mendorong amar ma'ruf nahi mungkarnya bukan Alllah,
tetapi hasrat hawa nafsunya, lalu ketika keluar dari jendela bibirnya,
kata-kata indah hanyalah bau anyir najis dalam hatinya.
Sesungguhnya mulut-mulut itu sudah membisu, karena yang berkata adalah
hawa nafsu. Ayo, kita masuki air Ilahiyah agar kita berkumur setiap
waktu. Bermunajatlah ketika anda berkumur:
Oh, Tuhan, masukkanlah
padaku tempat masuk yang benar, dan keluarkanlah diriku di tempat
keluar yang benar, dan jadikanlah diriku dari DiriMu, bahwa Engkau
adalah Kuasa Yang Menolongku.
Oh Tuhan, tolonglah daku untuk
selalu membaca KitabMu dan dzikir yang sebanyak-banyaknya, dan
tetapkanlah aku dengan ucapan yang tegas di dunia maupun di akhirat.
Baru kemudian kita masukkan air suci yang menyucikan itu, pada hidung
kita. Hidung yang suka mencium aroma wewangian syahwat dunia, lalu jauh
dari aroma syurga. Hidung yang menafaskan ciuman mesra, tetapi
tersirnakan dari kemesraan ciuman hakiki di SinggasanaNya.
Oh, Tuhan, aromakan wewangian syurgaMu dan Engkau melimpahkan ridloMu…
Semburkan air itu dari hidungmu, sembari munajatkan
Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari aroma busuknya neraka, dan bau busuknya dunia.
Selanjutnya:
Basuhlah wajah-wajahmu…
Dengan menyucikan hatimu dengan air pengetahuan yang manfaat yang suci
dan menyucikan, baik itu bersifat pengetahuan syariat, maupun
pengetahuan hakikat, serta pengetahuan yang bisa menghapus seluruh
penghalang-penghalang, hijab, antara dirinya dan Allah.
Faktanya
setiap hari kita Wudlu' membasuh muka kita, tetapi wajah-wajah kita
tidak hadir menghadap Allah, tidak "Fa ainamaa tuwalluu fatsamma
wajhullah…" (kemana pun engkau menghadap, wajah hatimu menghadap arah
Allah).
Kenapa wajah dunia, wajah makhluk, wajah-wajah
kepentingan nafsu kita, wajah-wajah semesta, wajah dunia dan akhirat,
masih terus menghalangi tatapmuka hati anda kepada Allah Ta'ala? Ini
semua karena kebatilan demi kebatilan, baik kebatilan dibalik wajah
batil maupun kebatilan dengan selimut wajah kebenaran, telah membatalkan
wudlu jiwa kita, dan sama sekali tidak kita sucikan dengan air
pengetahuan ma'rifatullah dan pengetahuan yang menyelamatkan dunia
akhirat kita.
Hijab-hijab yang menutupi wajah jiwa kita untuk
melihat Allah, sudah terlalu tua untuk menjadi topeng hidup kita. Kita
bertopeng kebusukan, bertopeng rekayasa, bertopeng kedudukan dan ambisi
kita, bertopeng fasilitas duniawi kita, bertopeng hawa nafsu kita
sendiri, bahkan bertopeng ilmu pengetahuan kita serta
imajinasi-imajinasi kita atau jubah-jubah agama sekali pun.
Lalu
wajah kita bopeng, wajah ummat kita penuh dengan cakar-cakar nafsu kita,
torehan-torehan noda kita, flek-flek hitam nafsu kita, dan alangkah
bangganya kita dengan wajah-wajah kita yang dijadikan landskap syetan,
yang begitu bebas menarikan tangan-tangannya untuk melukis hati kita
dengan tinta hitam yang dipanggang di atas jahanam.
Karena wajah
kita lebih senang berpaling, berselingkuh dengan dunia, berpesta dalam
mabuk syetan, bergincu dunia, berparas dengan olesan-olesan kesemuan
hidup, lalu memakai cadar-cadar hitam kegelapan semesta kemakhlukan.
Banyak orang yang mata kepalanya terbuka, tetapi matahatinya tertutup.
Banyak orang yang mata kepalanya tertutup, matahatinya terbuka. Banyak
orang yang matahatinya terbuka tetapi bertabur debu-debu kemunafikan
duniawinya. Banyak orang yang sudah tidak lagi membuka matahatinya, dan
ia kehilangan Cahaya Ilahi, lalu menikmati kepejaman matahatinya dalam
kegelapan, yang menyangka ia dalam kebenaran dan kenikmatan.
Oh,
Allah, bersihkan wajahkku dengan cahayaMu, sebagaimana di hari Engkau
putihkan wajah-wajah KekasihMu. Ya Allah janganlah Engkau hitamkan
wajahku dengan kegelapanMu, di hari, dimana Engkau gelapkan wajah-wajah
musuhMu.
Tuhan, sibakkan cadar hitamku dari tirai yang membugkus hatiku untuk memandangMu, sebagaimana Engkau buka cadar para KekasihMu…
Dan basuhlah kedua tanganmu sampai kedua siku-sikumu…
Lalu kita basuh kedua tangan kita yang sering menggapai hasrat nafsu
syahwat kita, berkiprah di lembah kotor dan najis jiwa kita, sampai pada
tahap siku-siku hakikat kita dan manfaat agung yang ada di sana.
Tangan kita telah mencuri hati kita, lalu ruang jiwa kita kehilangan
khazanah hakikat Cahaya hati. Tangan nafsu kita telah mengkorupsi
amanah-amanah Ilahi dalam jiwa, lalu kita mendapatkan pundi-pundi
duniawi penuh kealpaan dan kemunafikan.
Tangan-tangan kita telah
merampas makanan-makanan kefakiran kita, kebutuhan hati kita, memaksa
dan memperkosa hati kita untuk dijadikan tunggangan liar nafsu kita.
Tangan-tangan kita telah memukul dan menampar wajah hati yang menghadap
Allah, menuding muka-muka jiwa yang menghadap Allah, merobek-robek
pakaian pengantin yang bermahkotakan riasan indah para Sufi.
Maka basuhlah tanganmu dengan air kecintaan, dengan beningnya cermin ma'rifat, dari mata air dari bengawan syurga.
Basuhlah tangan kananmu, sembari munajat:
Oh, Allah..berikanlah Kitabku melalui tangan kananku, dan hitanglah amalku dengan hitungan yang seringan-ringannya.
Basuhlah tangan kririmu dengan munajat:
Oh, Allah, aku berlindung kepadaMu, dari pemberian kitabku dari tangan kiriku atau dari belakang punggungku…
Lalu, mari kita usap kepala kita:
Karena kepala kita telah bertabur debu-debu yang mengotori hati kita,
memaksa hati kita mengikuti selera pikiran kira, sampai hati kita bukan
lagi menghadap kepadaNya, tetapi menghadap seperti cara menghadap wajah
di kepala kita, yaitu menghadap dunia yang hina dan rendah ini.
Pada kepala kita yang sering menunduk pada dunia, pada wujud semesta,
tunduk dalam pemberhalaan dan perbudakan makhluk, tanpa hati kita
menunduk kepada Allah Ta'ala, kepada Asma-asmaNya yang tersembunyi
dibalik semesta lahir dan batin kita, lalu kepala kita memalingkan wajah
hati kita untuk berpindah ke lain wajah hati yang hakiki.
Mari
kita usap dengan air Cahaya, agar wajah hati kita bersinar kembali,
tidak menghadap ke arah remang-remang yang menuju gelap yang berlapis
gulita, tidak lagi menengok pada rimba duniawi yang dipenuhi kebuasan
dan liar kebinatangannya.
Kepala-kepala kita sering menunduk pada
berhala-berhala yang mengitari hati kita. Padahal hati kita adalah
Baitullah, Rumah Ilahi. Betapa kita sangat tidak beradab dan bahkan
membangun kemusyrikan, mengatasnamakan Rumah Tuhan, tetapi demi
kepentingan berhala-berhala yang kita bangun dari tonggak-tonggak nafsu
kita, lalu kita sembah dengan ritual-ritual syetan, imajinasi-imajinasi,
kebanggaan-kebanggan, lalu begitu sombongnya kepala kita terangkat dan
mendongak.
Mari kita usap kepala kita dengan usapan Kasih Sayang
Ilahi. Karena kepala kita telah terpanggang panasnya neraka duniawi,
terpanaskan oleh ambisi amarah dan emosi nafsu syahwati, terjemur di
hamparan mahsyar duniawi.
Sembari kita mengusap, masti munajat:
Oh Allah, payungi kepalaku dengan Payung RahmatMu, turunkan padaku
berkah-berkahMu, dan lindungi diriku dengan perlindungan payung ArasyMu,
dihari ketika tidak ada lagi paying kecuali payungMu. Oh,
Tuhan….jauhkan rambutku dan kulitku dari neraka…Oh…
Usap kedua
telingamu. Telinga yang sering mendengarkan paraunya dunia, yang anda
kira sebagai kemerduan musik para bidadari syurga. Telinga yang berbisik
kebusukan dan kedustaan, telinga yang menikmati gunjingan demi
gunjingan. Telinga yang fantastik dengan mendengarkan indahnya musik
duniawi, lalu menutup telinga ketika suara-suara kebenaran bersautan.
Amboi, kenapa telingamu seperti telinga orang-orang munafik?
Apakah anda lebih senang menjadi orang-orang yang tuli telinga hatinya?
Munajatlah:
Oh Tuhan, jadikan diriku tergolong orang-orang yang mendengarkan ucapan
yang benar dan mengikuti yang paling baik. Tuhan, perdengarkan
telingaku panggilan-panggilan syurga di dalam syurga bersama
hamba-hambaMu yang baik.
Lalu usaplah tengkukmu, sembari berdoa:
Ya Allah, bebaskan diriku dari belenggu neraka, dan aku berlindung kepadaMu dari belenggu demi belenggu yang merantai diriku.
Lalu basuh kaki-kakimu sampai kedua mata kaki:
Kaki-kaki yang melangkahkan pijakannya kea lam dunia semesta, yang
berlari mengejar syahwat dan kehinaan, yang bergegas dalam pijakan
kenikmatan dan kelezatan pesonanya.
Kaki-kaki yang sering
terpeleset ke jurang kemunafikan dan kezaliman, terluka oleh syahwat dan
emosinya, oleh dendam, iri dan dengkinya, haruslah segera dibasuh
dengan air akhlaq, air yang berumber dari adab, dan bermuara ke samudera
Ilahiyah.
Basuhlah kedua kakimu sampai kedua matakakimu. Agar
langkah-langkahmu menjadi semangat baru untuk bangkit menuju Allah,
menapak tilas Jalan Allah, secepat kilat melesat menuju Allah. Basuhlah
dengan air salsabila, yang mengaliri wajah semesta menjadi jalan lurus
lempang menuju Tuhan.
Selebihnya, Wudlu’ adalah Taubat, penyucian
jiwa, pembersihan batin, di lembah Istighfar. Jangan lupakan Istighfar
setiap basuhan anggota wudlu’mu.
Wallahu A'lam
Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Selasa, 27 Juni 2017
Pentingnya ber " THORIQOH "
شريعتي جائت على ثلاثمائة وثلاث عشرة طريقة لا يلقى العبد بها ربنا الا دخل الجنة ( رواه الطبرني )
“Syari'atku datang membawa 313 thoriqoh (metode pendekatan pada Allah), tidaklah seorang hamba menemui Tuhan dengan salah satunya, kecuali pasti masuk surga”
(HR. Thabrani)
فشريعة كسفينة وطريقة # كالبحر ثم حقيقة در غلت
Syariat laksana perahu, thoriqoh laksana laut, haqiqat adalah mutiara yang berharga.
** Arti "Thoriqoh" adalah jalan.
Jalan harus ada ... untuk menyampaikan pada suatu tujuan.
Tanpa jalan semua akan tersesat tak tentu arah.
Jika pun sampai, kalau tanpa jalan, pasti sampai nya sangat lama, karena harus mengarungi laut, hutan, jurang, sawah, rawa dan rintangan lainnya.
** Thoriqoh adalah cara atau metode ibadah.
Tanpa cara, semuanya berantakan.
Masak nasi pake cara.
Masak telor pake cara.
Makan pun pake cara.
Menjahit baju pake cara.
Buka konveksi pake cara.
Mencuci & nyetrika pake cara.
Pake & buka baju juga pake cara.
Cari uang pake cara
Make uang pake cara
Ngasih uang juga pake cara
Apalagi ibadah...
Semuanya harus pakai cara.
** Thoriqoh adalah wadah
Siapa saja orang yang ingin taubat, ingin bersuci dari lumpur dosa.
Siapa saja orang yang ingin belajar baik, ingin belajar ingat agar bertemu dengan Alloh, wadahnya adalah Thoriqoh.
** Thoriqoh adalah Syaikh.
Thoriqoh tanpa Syaikh bukan Thoriqoh.
Didalam Thoriqoh semua atas bimbingan syaikh.
Sholat, dzikir, shoum, shodaqoh, akhlaq, dll semuanya harus dengan bimbingan Syaikh (Guru).
من لا شيخ له فشيخه الشيطان
"Orang yang tidak punya Syaikh,
Maka Syaikh nya adalah setan. "
** Thoriqoh kita adalah dzikir
واعلم ان طريق شيخنا طريق الذكر فقط. وليس غير
Dan ketahui lah, sesungguhnya thoriqoh Syaikh kita adalah thoriqoh dzikir saja. Bukan yang lain.
Karena dzikir adalah inti setiap ibadah.
Tanpa dzikir semua ibadah kosong tak bernilai.
Tanpa dzikir,,,, sholat, shoum, ibadah haji akan menjadi bangkai yang dilempar ke wajah pemilik nya.
Jasad manusia hidup karena ada ruh.
Sedangkan Ruh hidup dengan dzikir.
Tanpa dzikir,,, manusia adalah mayat hidup.
الذاكر بين الغافلين كالحي بين الموتى
Orang yang berdzikir diantara orang-orang yang lupa, seperti orang yang hidup diantara mayat.
**
Carilah Thoriqoh walau harus berjalan 1000 tahun.
Carilah Syaikh walau pun harus mengarungi gunung, jurang, samudera.
Seperti kata Tuan Syaikh Abdul Qodir qs.
سافر الي الف عام لتسمع مني كلمة
Berjalanlah 1000 tahun (datanglah) kepadaku untuk mendengar (menerima) satu kalimat dariku.
Yaitu kalimat Dzikir.
**
Dzikir tanpa Thoriqoh adalah dzikir tanpa cara.
Dzikir tanpa Thoriqoh adalah dzikir tanpa guru.
Dzikir tanpa guru ibarat pohon yang tidak ditanamkan.
Dzikir adalah benih ma'rifat yang harus ditanam didalam hati yang subur.
Hanya syaikh yang bisa menanamkan dzikir dengan metode yang tepat.
Bahkan syaikh lah yang membimbing kita untuk memelihara dzikir.
Kalimah Thoyyibah adalah dzikir yang ditanamkan oleh Syaikh.
Kalimah Khobitsah adalah dzikir yang tidak ditanamkan oleh Syaikh.
(أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ * تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ * وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ)
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Alloh telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (KALIMAH THOYYIBAH) seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,
Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Alloh membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.
Dan perumpamaan kalimat yang buruk ( Kalimah Khobitsah) seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.
[Surat Ibrahim 24 - 26]
Ibadah tanpa berthoriqoh akan semaunya tanpa bimbingan tanpa arahan.
Hidup tanpa thoriqoh adalah hidup tanpa dzikir, tak mengenal Alloh walaupun hebat ilmu dan ibadah nya.
Tidak berthoriqoh adalah miskin walaupun kaya raya.
Tidak berthoriqoh = tidak punya dzikir = tidak punya Syaikh.
Hidup tanpa Thoriqoh Selamanya bernilai dosa walaupun hafal 1000 kitab.
Banyak orang memandang Thoriqoh seperti memandang buah durian.
Mereka takut akan durinya....
Padahal..
Durian jangan hanya dipandang, apalagi dipikirin ...
Durian dimakan saja... buahnya manis.....
Kamu menyesal kenapa dari dulu tidak memakan buahnya.
Dari dulu tau durian, hanya dipikirin, hanya dipandang saja....
Orang lain sedang mencicipi nikmat thoriqoh.... Kamu hanya terus nonton... Sambil meraba Raba durinya....
Kamu teruuus saja suudhon mikirin duri...
Kapan kamu mau mencicipi hidangan dari Alloh ini
“Syari'atku datang membawa 313 thoriqoh (metode pendekatan pada Allah), tidaklah seorang hamba menemui Tuhan dengan salah satunya, kecuali pasti masuk surga”
(HR. Thabrani)
فشريعة كسفينة وطريقة # كالبحر ثم حقيقة در غلت
Syariat laksana perahu, thoriqoh laksana laut, haqiqat adalah mutiara yang berharga.
** Arti "Thoriqoh" adalah jalan.
Jalan harus ada ... untuk menyampaikan pada suatu tujuan.
Tanpa jalan semua akan tersesat tak tentu arah.
Jika pun sampai, kalau tanpa jalan, pasti sampai nya sangat lama, karena harus mengarungi laut, hutan, jurang, sawah, rawa dan rintangan lainnya.
** Thoriqoh adalah cara atau metode ibadah.
Tanpa cara, semuanya berantakan.
Masak nasi pake cara.
Masak telor pake cara.
Makan pun pake cara.
Menjahit baju pake cara.
Buka konveksi pake cara.
Mencuci & nyetrika pake cara.
Pake & buka baju juga pake cara.
Cari uang pake cara
Make uang pake cara
Ngasih uang juga pake cara
Apalagi ibadah...
Semuanya harus pakai cara.
** Thoriqoh adalah wadah
Siapa saja orang yang ingin taubat, ingin bersuci dari lumpur dosa.
Siapa saja orang yang ingin belajar baik, ingin belajar ingat agar bertemu dengan Alloh, wadahnya adalah Thoriqoh.
** Thoriqoh adalah Syaikh.
Thoriqoh tanpa Syaikh bukan Thoriqoh.
Didalam Thoriqoh semua atas bimbingan syaikh.
Sholat, dzikir, shoum, shodaqoh, akhlaq, dll semuanya harus dengan bimbingan Syaikh (Guru).
من لا شيخ له فشيخه الشيطان
"Orang yang tidak punya Syaikh,
Maka Syaikh nya adalah setan. "
** Thoriqoh kita adalah dzikir
واعلم ان طريق شيخنا طريق الذكر فقط. وليس غير
Dan ketahui lah, sesungguhnya thoriqoh Syaikh kita adalah thoriqoh dzikir saja. Bukan yang lain.
Karena dzikir adalah inti setiap ibadah.
Tanpa dzikir semua ibadah kosong tak bernilai.
Tanpa dzikir,,,, sholat, shoum, ibadah haji akan menjadi bangkai yang dilempar ke wajah pemilik nya.
Jasad manusia hidup karena ada ruh.
Sedangkan Ruh hidup dengan dzikir.
Tanpa dzikir,,, manusia adalah mayat hidup.
الذاكر بين الغافلين كالحي بين الموتى
Orang yang berdzikir diantara orang-orang yang lupa, seperti orang yang hidup diantara mayat.
**
Carilah Thoriqoh walau harus berjalan 1000 tahun.
Carilah Syaikh walau pun harus mengarungi gunung, jurang, samudera.
Seperti kata Tuan Syaikh Abdul Qodir qs.
سافر الي الف عام لتسمع مني كلمة
Berjalanlah 1000 tahun (datanglah) kepadaku untuk mendengar (menerima) satu kalimat dariku.
Yaitu kalimat Dzikir.
**
Dzikir tanpa Thoriqoh adalah dzikir tanpa cara.
Dzikir tanpa Thoriqoh adalah dzikir tanpa guru.
Dzikir tanpa guru ibarat pohon yang tidak ditanamkan.
Dzikir adalah benih ma'rifat yang harus ditanam didalam hati yang subur.
Hanya syaikh yang bisa menanamkan dzikir dengan metode yang tepat.
Bahkan syaikh lah yang membimbing kita untuk memelihara dzikir.
Kalimah Thoyyibah adalah dzikir yang ditanamkan oleh Syaikh.
Kalimah Khobitsah adalah dzikir yang tidak ditanamkan oleh Syaikh.
(أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ * تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ * وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ)
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Alloh telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (KALIMAH THOYYIBAH) seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,
Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Alloh membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.
Dan perumpamaan kalimat yang buruk ( Kalimah Khobitsah) seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.
[Surat Ibrahim 24 - 26]
Ibadah tanpa berthoriqoh akan semaunya tanpa bimbingan tanpa arahan.
Hidup tanpa thoriqoh adalah hidup tanpa dzikir, tak mengenal Alloh walaupun hebat ilmu dan ibadah nya.
Tidak berthoriqoh adalah miskin walaupun kaya raya.
Tidak berthoriqoh = tidak punya dzikir = tidak punya Syaikh.
Hidup tanpa Thoriqoh Selamanya bernilai dosa walaupun hafal 1000 kitab.
Banyak orang memandang Thoriqoh seperti memandang buah durian.
Mereka takut akan durinya....
Padahal..
Durian jangan hanya dipandang, apalagi dipikirin ...
Durian dimakan saja... buahnya manis.....
Kamu menyesal kenapa dari dulu tidak memakan buahnya.
Dari dulu tau durian, hanya dipikirin, hanya dipandang saja....
Orang lain sedang mencicipi nikmat thoriqoh.... Kamu hanya terus nonton... Sambil meraba Raba durinya....
Kamu teruuus saja suudhon mikirin duri...
Kapan kamu mau mencicipi hidangan dari Alloh ini
Kamis, 22 Juni 2017
AL-QUR’AN DALAM DIRI MANUSIA
Di dalam Al-Qur’an ada dua ayat yang jelas-jelas menyebutkan bahwa Al-Qur’an itu di turunkan oleh Allah di dalam diri manusia dengan menggunakan istilah hati dan dada.
Pertama :
Surah Al-Baqarah ayat 97
“Man kaana ‘aduwwan lijibriila fa-innahu nazzalahu ‘alaa qalbika bi-idznillaahi mushaddiqan limaa bayna yadayhi wahudan wabusyraa lilmu’miniin.”
Katakanlah : “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya Al-Qur’an ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa kitab-kitab yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.
Kedua :
Surah Al-Qiyamah ayat 16
Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkan Al-Qur’an di dadamu dan membuatmu pandai membacanya.
Al-Qur’an itu terbentuk dari titik kemudian menjadi huruf dan seterusnya menjadi ayat yang ber-jumlah 6666 ayat dan menjadi panduan hidup manusia… kemudian… di masuk-kan pula oleh Allah ke dalam diri manusia
Pada kesempatan ini mari-lah sama-sama kita coba untuk mengkaji maksud sebenar-nya ayat di-atas karena ayat tersebut sangat JELAS dan MUDAH untuk di-pahami,
Yang menjadi persoalan-nya sekarang ialah..
Al-Qur’an yang mana-kah yang di-maksud-kan?
Al-Qur’an itu sudah berada di dalam hati manusia (Al-Baqarah 97)
Al-Qur’an itu sudah berada di dalam dada manusia (Al-Qiyamah 16)
…… sebaiknya tidak perlu di-perdebatkan lagi ….
Namun…
Siapa-kah Al-Qur’an itu..?
Setiap apa yang di katakan Al-Qur’an itu adalah Qadim (Kalam Qadim)
ini ber-arti A-Qur’an itu bersifat Qidam..
Jika ia bersifat Qidam maka ia bukan-lah Muhadas (yang baru)
Sebab..
Yang baru itu adalah makhluk yang di-ciptakan-Nya
dan yang di-cipta-kan jika ia ber-bentuk Roh maka jelas ia makhluk..
Pandangan sebagian Ulama mengatakan bahwa Al-Qur’an itu adalah Qadim yaitu : Awal tiada permulaan.
Artinya ..
Kalam yang Qadim yang menjadi Hak Allah,
Jika ia menjadi Hak Allah
Maka..
Ia tidak boleh bersifat Roh akan tetapi ia harus bersifat DZAT
Jadi..
Yang bersifat Dzat itulah yang di turunkan oleh Allah di dalam dada atau hati manusia,
Siapakah dia..?
Apakah Al-Quran yang berbentuk Jirim..?
atau Jisim ?
atau Jauharul Fardhi ?
atau Jauharul Basits ?
Jika Al-Qur’an itu berbentuk yang ber-istilah di atas..
maka apakah dia sebenarnya yang di masukan oleh Allah di dalam hati manusia atau di dalam dada manusia..?
Kita wajib mengetahui hal ini sebab dia berada di-dalam diri kita sendiri, dan juga menjadi Panduan Hidup kita…
Jika ia sebagai panduan hidup manusia..
maka dapat kita katakan bahwa dia itu menjadi panduan kepada Roh, Akal, Nafsu dan Tubuh yang terdiri dari tulang, daging, urat,darah, rambut, dan sebagainya,
Tanpa ia semua yang ada pada sebuah batang tubuh manusia menjadi tiada berarti sama sekali,
Sebab itu-lah dikatakan mencari sesuatu di dalam diri..
Apa yang dicari dalam diri..?
Ini adalah isyarat untuk memahami bahwa Al- Qur’an itu ada di dalam hati manusia dan ada di dalam dada manusia,
Mungkin awal-nya kita merasa sulit untuk memahami bahwa Al-Qur’an itu ada di dalam diri manusia,
Walau apapun itu…… inilah ketentuan Allah dalam Al Quran,
Tapi…
Dalam bentuk apakah ..?
Jika berbentuk Al-Qur’an sebagaimana yang kita ketahui (bentuk kitab yang ada huruf dan rupa)
Maka itu adalah MUSTAHIL karena tidak mungkin Al-Qur’an ber-bentuk itu di masukan ke-dalam jasad kita.
Al-Qur’an adalah panduan hidup dan mati manusia…
Al-Qur’an adalah Kalam Tuhan, yang bersifat NUR untuk seluruh alam ciptaan Tuhan..
Kepada orang yang berfikir.. akan melihatnya sebagai sesuatu yang Benar dan Suci dan Bersih dengan tiada keraguan terhadapnya,
Karena itu layak-lah ia di namakan Kalam yang Qadim yaitu Kalamullah,
Rasullullah sendiri tidak akan ber-bicara melainkan pembicaraan-nya adalah Al-Qur’an,
ini ber-arti berbicara yang benar dan Haq itu Di dalam Al-Qur’an.
Ada ayat yang meng-gatakan Al-Qur’an ini sebagai Hablillah (tali Allah)
yaitu tali yang mengaitkan antara hamba dengan Tuhannya
Jika tali ini tidak di pegang teguh..
maka akan bercerai berai-lah manusia bersama Allah.
Sedangkan..
Hablillah ini mengenal Tuhan-nya sejak dari alam Roh dan dia-lah yang mengakui bahwa Tuhan itu adalah Rabbi yaitu Tuhan yang mencipta-nya,
Kalam-nya tidak pernah dusta..
Sebagaimana Rasullullah bersabda tidak mengikut perasaan-nya melainkan mengikut panduan Al-Qur’an semata-mata,
Al-Qur’an itu bukanlah berbentuk Jirim,Jisim atau Jauhar yang Fardhi karena istilah tersebut adalah berbentuk-bentuk dalam wujud ke-benda-an.
Al-Qur’an yang di maksud-kan oleh Allah swt ini bukanlah berbentuk kitab yang ber-jilid dan naskah akan tetapi ia adalah berbentuk Jauhar yang sulit untuk di lihat dengan mata kasar.
Al-Qur’an tersebut adalah berbentuk Zat, karena Basits itu adalah sebagian dari pada Zat yang di ujud-kan oleh Allah dan sesuai dengan Asma Allah yang Ma’anawiyah di samping ia adalah IMAM
Fungsi-nya sebagai IMAM atau Pemimpin sebagaimana yang di kehendaki oleh Allah kepada setiap muslim menjawab-nya ketika di tanya oleh malaikat Mungkar dan Nan
Rabu, 14 Juni 2017
TEMAN YANG SATU AKAN SALING BERMUSUHAN DI AKHIRAT..... KECUALI YANG BERTAKWA
ALLAH Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Teman-teman akrab pada hari itu
sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang
yang bertakwa.” (Az-Zukhruf: 67)
Teman adalah cermin bagi pribadi seseorang....
Seseorang itu tidak akan jauh dari pribadi teman dekatnya.....Bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam: “Kebiasaan orang itu sama dengan tabiat sahabat-sahabatnya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang menjadi sahabatnya.” (HR. Ahmad)
Teman dan lingkungan memang memiliki pengaruh yang kuat terhadap sikap dan perilaku seseorang. Bahkan kualitas agama seseorang itu dapat dinilai dari teman-teman pergaulannya. Banyak bergaul dengan orang-orang yang shalih tentu akan mengantarkan kita kepada kebaikan.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Orang itu mengikuti agama temannya, maka setiap orang dari kamu hendaklah melihat siapa yang menjadi temannya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Semua pertemanan dan persahabatan yang tidak dilandasi karena ALLAH, kelak pada hari Kiamat akan berbalik menjadi permusuhan dan kebencian. Mereka saling menyalahkan satu sama lain. Mereka saling berkata kepada sahabatnya: engkaulah yang telah menyesatkan dan membuatku sesat. Mengajak pada kelalaian. Masing-masing mencela yang lain, dan satu orang melaknat temannya yang lain, serta mereka saling membebaskan diri dari masing-masing di hadapan Allah. Begitulah keadaan mereka kelak.
Berbeda dengan pertemanan yang dijalin karena ALLAH, mereka akan menjadi saudara yang saling mengasihi dan saling membantu, dan persaudaraan itu tetap akan berlanjut hingga di akhirat. Sebab pertemanan yang dijalin karena ALLAH adalah pertemanan yang kekal abadi.
Al-Hafidz Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika antara dua orang saling mencintai karena ALLAH, yang seorang di Timur dan yang seorang lagi di Barat, maka pada hari Kiamat ALLAH pasti akan mempersatukan keduanya sambil berfirman : “Inilah orang yang kau cintai karena-Ku…”.
Subhanallah, Jelaslah bagi kita bahwa jika kita memiliki teman dekat atau sahabat, ternyata hakikat itu tidak lama kecuali kita bersama mengerjakan kebaikan dan ketakwaan serta mengingatkan antara satu dengan yang lainnya.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berkawan dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum, karena kamu bisa membeli minyak wangi darinya, atau sekurang-kurangnya kamu mencium bau wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi, akan membakar badan dan bajumu, atau kamu hanya mendapatkan bau yang tidak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia’.” (Al Furqaan: 27-29)
Semoga Allah senantiasa mendekatkan kita pada lingkungan orang-orang yang shalih , yang senantiasa mengingatkan kita pada kebaikan dan ketaatan, saling mencintai karena Allah. Dan menyampaikan kita pada rahmat , ridha serta cinta Nya
Teman adalah cermin bagi pribadi seseorang....
Seseorang itu tidak akan jauh dari pribadi teman dekatnya.....Bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam: “Kebiasaan orang itu sama dengan tabiat sahabat-sahabatnya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang menjadi sahabatnya.” (HR. Ahmad)
Teman dan lingkungan memang memiliki pengaruh yang kuat terhadap sikap dan perilaku seseorang. Bahkan kualitas agama seseorang itu dapat dinilai dari teman-teman pergaulannya. Banyak bergaul dengan orang-orang yang shalih tentu akan mengantarkan kita kepada kebaikan.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Orang itu mengikuti agama temannya, maka setiap orang dari kamu hendaklah melihat siapa yang menjadi temannya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Semua pertemanan dan persahabatan yang tidak dilandasi karena ALLAH, kelak pada hari Kiamat akan berbalik menjadi permusuhan dan kebencian. Mereka saling menyalahkan satu sama lain. Mereka saling berkata kepada sahabatnya: engkaulah yang telah menyesatkan dan membuatku sesat. Mengajak pada kelalaian. Masing-masing mencela yang lain, dan satu orang melaknat temannya yang lain, serta mereka saling membebaskan diri dari masing-masing di hadapan Allah. Begitulah keadaan mereka kelak.
Berbeda dengan pertemanan yang dijalin karena ALLAH, mereka akan menjadi saudara yang saling mengasihi dan saling membantu, dan persaudaraan itu tetap akan berlanjut hingga di akhirat. Sebab pertemanan yang dijalin karena ALLAH adalah pertemanan yang kekal abadi.
Al-Hafidz Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika antara dua orang saling mencintai karena ALLAH, yang seorang di Timur dan yang seorang lagi di Barat, maka pada hari Kiamat ALLAH pasti akan mempersatukan keduanya sambil berfirman : “Inilah orang yang kau cintai karena-Ku…”.
Subhanallah, Jelaslah bagi kita bahwa jika kita memiliki teman dekat atau sahabat, ternyata hakikat itu tidak lama kecuali kita bersama mengerjakan kebaikan dan ketakwaan serta mengingatkan antara satu dengan yang lainnya.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berkawan dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum, karena kamu bisa membeli minyak wangi darinya, atau sekurang-kurangnya kamu mencium bau wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi, akan membakar badan dan bajumu, atau kamu hanya mendapatkan bau yang tidak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia’.” (Al Furqaan: 27-29)
Semoga Allah senantiasa mendekatkan kita pada lingkungan orang-orang yang shalih , yang senantiasa mengingatkan kita pada kebaikan dan ketaatan, saling mencintai karena Allah. Dan menyampaikan kita pada rahmat , ridha serta cinta Nya
MAHABBATULLAH
ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
Sesungguhnya kedudukan mencintai ALLAH adalah kedudukan yang paling tinggi dan mulia guna menuju keridhaan ALLAH, karena hanya ALLAH yang Maha Besar, Maha Penguasa, Maha Suci, Maha Pencipta dan Maha Pemberi, ALLAH lah yang melimpahkan berbagai nikmat kepada manusia. Sesungguhnya
kecintaan ALLAH adalah yang benar-benar menyembuhkan penyakit hati manusia. Sebagaimana sabda Nabi
MUHAMMAD Shollallahu ‘alaihi Wa Sallam “ Barangsiapa yang luput dari kecintaan ALLAH maka ia akan dihinggapi penyakit-penyakit hati”.
Hendaknya kecintaan kepada ALLAH ini dijadikan motivasi guna mencapai kedudukan yang mulia dan tinggi, karena sungguh alangkah nikmatnya orang-orang yang memiliki kecintaan kepada ALLAH, barangsiapa yang mencintai ALLAH maka ALLAH pun juga mencintainya, baginya taufiq, dikabulkan doa-doa nya dan dilindungi dari hal-hal yang buruk. Sebagaimana sabda Nabi
MUHAMMAD Shollallahu ‘alaihi Wa Sallam “ Sesungguhnya ALLAH jika mencintai seorang hamba, ALLAH beritahukan kepada malaikat JIBRIL dan malaikat JIBRIL pun mencintaimya kemudian diberitahukan kepada seluruh penduduk langit untuk mencintai hamba itu.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah).
Yang dimaksud kecintaan kepada ALLAH adalah kecintaan yang terkandung di dalamnya konsekuensi ketaatan dan penghambaan diri kepada ALLAH dengan ikhlas beribadah kepada ALLAH sebagaimana firman ALLAH “dan diantara manusia ada yang mencintai tandingan-tandingan ALLAH, orang yang beriman, mencintai ALLAH dengan murni.”
Dalam al-qur’an juga terdapat 1 tuntutan bagi orang yang mencintai ALLAH yaitu “jika kalian mengaku cinta kepada ALLAH dengan jujur, maka IKUTILAH RASULULLAH maka ALLAH akan mencintai dan mengampuni.”
Perbedaan antara kecintaan yang jujur dan yang dusta, kecintaan yang jujur akan membuahkan ketaatan kepada ALLAH sedangkan kecintaan yang dusta memiliki kecenderungan bermaksiat kepada ALLAH dan bermudah-mudah dalam berbuat dosa dan sesungguhnya kecintaan yang jujur akan menimbulkan rasa yang sangat LEZAT& INDAH, 3 perkara/ sifat yang jika dimiliki seorang hamba maka ia akan merasakan KELEZATAN IMAN: 1. Mencintai ALLAH tanpa menyekutukannya;
2. Mencintai manusia karena ALLAH semata;
3. tidak kembali pada kekafiran setelah beriman.
Amalan sholeh yang diridhoi/dicintai ALLAH, ALLAH senantiasa mencintai orang-orang yang bertaubat dan memohon ampun dengan senantiasa mensucikan diri.
Tak dapat dipungkiri Di zaman sekarang ini muncul berbagai macam FITNAH & SYUBHAT dalam kehidupan manusia,oleh sebab itu hendaknya seorang hamba yang tulus haruslah menjadikan kecintaan kepada ALLAH sebagai sesuatu yang BERHARGA dengan berSUNGGUH-SUNGGUH menjaga sebab-sebab yang menjadikan kecintaan kepada ALLAH semakin kuat, orang yang mencintai ALLAH akan selalu mentaati perintah Nya dan menjauhi segala larangan Nya, karena jika seorang hamba menyibukkan diri dengan hal-hal yang buruk dan rusak lalu mengikutinya yang terjadi kemudian kecintaan kepada ALLAH akan berkurang bahkan lenyap. Maka jika demikian haruslah seorang hamba bersegera bertaubat dan kembali kepada ALLAH dan penting baginya untuk mempelajari hal-hal & sebab-sebab yang menjadikan kita mencintai ALLAH.
Beberapa Hal dan sebab meraih kecintaan ALLAH :
1.Memberi perhatian yang benar&besar pada Al-qur’an dengan cara membacanya denganbenar, memahami kandungannya,
dan kemudian berusaha sekuat tenaga untuk mengamalkannya.
2.Memberi perhatian yang besar&serius dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat ALLAH yang Maha INDAH & TINGGI, karena orang yang mengenal dan memahami nama-nama & sifat-sifat ALLAH, maka ia akan semakin takut untuk bermaksiat kepada ALLAH.
3. Selalu memohon pertolongan dan banyak berdoa dengan bersunguh-sungguh kepada ALLAH. DOA yang disunnahkan “ YA ALLAH aku memohon kecintaan kepadamu dan kecintaan pada orang-orang yang mencintaimu dan amalan-amalan yang mendekatkanku pada kecintaanmu”.
4.Memberi perhatian dan kesungguhan dalam menjalankan amalan-amalan yang diwajibkan ALLAH ditambah amalan sunnah
5.Berusaha sekuat tenaga menundukkan hawa nafsu guna menjauhi perbuatan-perbuatan dosa&maksiat, karena semua perbuatan dosa&maksiat akan menutup hati manusia dan menghantarkannya pada KEBINASAAN.
6.Selalu mengutamakan hal-hal yang dicintai ALLAH melebihi hal-hal yang dicintai hawanafsu&syahwat dan juga mengutamakan keridhoan ALLAH diatas kesukaan hawa nafsu kita.
7. Selalu mengingat dan merenungkan nikmat-nikmat dan anugerah yang telah ALLAH berikan.
8.Duduk bergaul dengan orang yang baik lagi sholeh yang selalu beribadah kepada ALLAH dengan mencontoh kebaikan-kebaikan yang mereka miliki.
9. Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk beribadah kepada ALLAH walaupun sedikit pada 1/3 malam terakhir.
10. Selalu berdzikir/mengingat ALLAH, karena dengan dzikir hati menjadi damai
Nafsu Berdakwah
“ Assalamu’alaikum wr. Wb . Kenalkan, saya sekarang tinggal di kompleks perumahan yang sangat majemuk warganya. Saya seorang aktivis dakwah yang ingin menyampaikan dakwahnya dengan cara pendekatan sufistik (tasawuf). Apakah hal ini akan efektif untuk jamaah yang majemuk tersebut? Atau harus ada metode penyeimbang lain?” tanya seorang pemuda kepada Kang Soleh di pagi buta usai berjamaah di Masjid Raudhah.
“Oke, kita ngopi di kedai sana yuk. Sambil ngobrol?”. Mereka berjalan berdua, dan tentu si Pardi dan Dulkamdi sudah ada disana.
“Apakah anda menganggap dakwah itu sebuah profesi?”
“Ya”.
“Jadi anda dapat keuntungan dari dakwah anda?” pemuda itu gelagapan.
“Begini. Ajaklah kejalan Tuhanmu dengan cara yang penuh hikmah dan tutur bahasa yang indah. Berilah argumentasi yang lebih baik. Semua orang sebenarnya aktivis dakwah. Dakwah itu bukan profesi, juga bukan lahan pekerjaan, juga bukan tempat mencari posisi. Dakwah itu suatu kelaziman, keharusan, dan niscaya. Seorang guru juga da’i, orang tua juga da’i bagi anak dan keluarganya. Seorang wartawan juga da’i. Hanya sekarang saja jadi melenceng tidak karuan. Seorang da’i itu mesti berpidato di panggung, di TV, mesti muncul dengan performa style tertentu dan harus dengan undangan dan acara tertentu. Akhirnya dakwah jadi tontonan, bukan jadi tuntunan”.
Pemuda itu semakin merundukan mukanya. Pardi dan Dulkamdi tidak banyak komentar, hanya membisu sambil melirikan matanya kearah pemudah itu.
“Saya harus mengoreksi seluruh paradigma dakwah, Kang?” kata pemuda itu.
“Ya… Harus dan harus berani tegas dulu pada diri sendiri. Karena seorang da’i yang merasa dirinya berprofesi sebagai pendakwah ketika mau berangkat berdakwah, biasanya muncul rasa lebih pandai, lebih hebat, lebih baik dibanding yang didakwahi. Itu merupakan perasaan takabur dan ‘ujub yang menghapus seluruh pahalanya sendiri. Apalagi sukses dakwah seseorang manakala dihubungkan dengan massa yang datang, kuantitas dan jumlahnya, akan semakin memperpuruk misi dakwah itu sendiri”.
Tiba-tiba Pardi nyeletuk dengan ceplosanya, “Kang…?! Saya ingat dawuhnya Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily ketika menafsir suatu ayat, “Dan Rasulullah Muhammad tidak berkata didasarkan hawa nafsu, melainkan adalah wahyu yang diturunkan padanya”.
Menurut Syeikh Abul Hasan, ‘Janganlah anda bergembira karena ucapanmu direspon (diiyakan) oleh pendengar. Bergembiralah manakala Allah ‘meridhai’ hatimu (ketika kamu mengucapkan kata-katamu).
“Saya nggak ngerti maksud beliau tu apa Kang?!”.
“Maksud Syeikh Abul Hasan, manakala seorang da’i senang bila kata-katanya disambut oleh pendengar, berarti si pendakwah itu berdakwah karena nafsunya, bukan karena ridha-Nya. Nah betapa kecil sekali sekali jumlah para da’i yang berdakwah demi ridha-Nya, karena mayoritas pasti demi memenuhi hasrat dirinya, nafsunya, jika diukur denga ayat tersebut dan diukur dengan keteladanan Rasul SAW”.
“Apalagi jika seorang da’i pusing tujuh keliling manakala tidak ada yang mengundang lagi, tidak popular lagi, tidak punya massa lagi. Kepusingannya itu menunjukan bahwa dakwahnya selama ini didorong oleh hawa nafsunya. Sebaliknya ketika dia semakin popular, semakin banyak pendukungnya, semakin ia gembira. Itu pun juga semata didorong oleh hawa nafsunya. Dipastikan sang da’i sudah kehilangan hikmah terdalam dari cahaya ilahi yang memancar di hatinya” kata Pardi merasa bak seorang da’i pula.
“Hahaha… kamu senang bicara begitu karena kita semua mengiyakan…”.
“Hmmmmm… he…heh benar juga, ini kata-kata memakan diriku, senjata makan jiwaku. Wah wah… Astagfirullahal’adziiim… ” kata Pardi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Makanya Di… kamu jangan asal njeplak. Malah menampar mukamu sendiri”, sindir Dulkamdi.
“Betul juga ya Dul. Betapa tipisnya batas nafsu dan semangat. Betapa tipisnya ikhlas dan riya”.
“Sekarang kamu mau apa?”
“Aku mau diam saja !”
“Biar apa diam?”
“Biar apa ya…? Ya biar disebut pendiamlah dan disebut orang tidak macam-macam”.
“Keinginanmu begitu itu juga nafsu, Di…”
“Ya, salah lagi”.
Dialog Dulkamdi dan Pardi benar-benar membuat pemuda aktivis itu sangat-sangat terpukul jiwanya. Betapa selama ini dakwah, profesi, semangat, nafsu, materi, bercampur aduk tidak karuan dalam dirinya.
AMALAN RAHASIA YANG DICINTAI ALLAH
Allah Pasti Membalasnya
Allah ta’ala berfirman
ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻧﻔَﻘْﺘُﻢ ﻣِّﻦ ﻧَّﻔَﻘَﺔٍ ﺃَﻭْ ﻧَﺬَﺭْﺗُﻢ ﻣِّﻦ ﻧَّﺬْﺭٍ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻪُ
“ Apapun infak yang kalian berikan atau nadzar apapun yang kalian canangkan, sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 270)
Allah Pasti Menggantinya
Allah ta’ala berfirman
, ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻧﻔَﻘْﺘُﻢ ﻣِّﻦ ﺷَﻲْﺀٍ ﻓَﻬُﻮَ ﻳُﺨْﻠِﻔُﻪُ ﻭَﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟﺮَّﺍﺯِﻗِﻴﻦَ
“ Apapun harta yang kalian infakkan maka Allah pasti akan menggantikannya, dan Dia adalah sebaik-baik pemberi rizki.” (QS. Saba’: 39)
Mendapatkan Naungan Allah Pada Hari Kiamat
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tujuh golongan orang yang akan diberi naungan oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan dari-Nya. Yakni :
1.Seorang pemimpin yang adil.
2.Seorang pemuda yang tumbuh dalam [ketaatan] beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla. 3.Seorang lelaki yang hatinya bergantung terpaut pada masjid-masjid.
4.Dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berdua bertemu dan berpisah karena-Nya.
5.Seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’.
6.Seorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.
7.Dan seorang yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu mengalirlah air matanya.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Shahih at-Targhib [1/531])
Memadamkan Kemurkaan Allah
Dari Mu’awiyah bin Haidah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya sedekah secara rahasia bisa meredam murka Rabb [Allah] tabaroka wa ta’ala.” (HR. ath-Thabrani dalam al-Kabir, lihat Shahih at-Targhib [1/532])
Menyelamatkan Dari Siksa Neraka
Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat :adalah
[ 1 ] Seorang lelaki yang berjuang mencari mati syahid. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku menemui mati syahid.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sebenarnya kamu berperang agar disebut-sebut sebagai pemberani, dan sebutan itu telah kamu peroleh di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka
[ 2 ] Seorang lelaki yang menimba ilmu dan mengajarkannya serta pandai membaca/menghafal al-Qur’an. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Aku menimba ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca/menghafal al-Qur’an di jalan-Mu.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sebenarnya kamu menimba ilmu agar disebut-sebut sebagai orang alim, dan kamu membaca al-Qur’an agar disebut sebagai qari’. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka
[ 3 ] Seorang lelaki yang diberi kelapangan oleh Allah serta mendapatkan karunia berupa segala macam bentuk harta. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Tidak ada satupun kesempatan yang Engkau cintai agar hamba-Mu berinfak padanya melainkan aku telah berinfak padanya untuk mencari ridha-Mu.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sesungguhnya kamu berinfak hanya demi mendapatkan sebutan sebagai orang yang dermawan. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Muslim )
Kunci Meraih Kelezatan Amal
Abu Turab rahimahullah mengatakan, “Apabila seorang hamba bersikap tulus/jujur dalam amalannya niscaya dia akan merasakan kelezatan amal itu sebelum melakukannya. Dan apabila seorang hamba ikhlas dalam beramal, niscaya dia akan merasakan kelezatan amal itu di saat sedang melakukannya.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 594)
Abul Aliyah berkata: Para Sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadaku, “Janganlah kamu beramal untuk selain Allah. Karena hal itu akan membuat Allah menyandarkan hatimu kepada orang yang kamu beramal karenanya.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 568)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang membiasakan dirinya untuk beramal ikhlas karena Allah niscaya tidak ada sesuatu yang lebih berat baginya daripada beramal untuk selain-Nya. Dan barangsiapa yang membiasakan dirinya untuk memuaskan hawa nafsu dan ambisinya maka tidak ada sesuatu yang lebih berat baginya daripada ikhlas dan beramal untuk Allah.” (lihat Ma’alim Fi Thariq al-Ishlah, hal. 7 )
Lebih Selamat Bagi Hati
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Sesungguhnya amalan jika ikhlas namun tidak benar maka tidak akan diterima. Demikian pula apabila amalan itu benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima sampai ia ikhlas dan benar. Ikhlas itu jika diperuntukkan bagi Allah, sedangkan benar jika berada di atas Sunnah/tuntunan.” (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 19 cet. Dar al-Hadits).
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ketahuilah, bahwasanya keikhlasan seringkali terserang oleh penyakit ujub. Barangsiapa yang ujub dengan amalnya maka amalnya terhapus. Begitu pula orang yang menyombongkan diri dengan amalnya maka amalnya menjadi terhapus.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 584)
Yusuf bin Asbath rahimahullah berkata, “Allah tidak menerima amalan yang di dalamnya tercampuri riya’ walaupun hanya sekecil biji tanaman.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 572)
Diriwayatkan bahwa ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu pernah berkata, “Amal yang salih adalah amalan yang kamu tidak menginginkan pujian dari siapapun atasnya kecuali dari Allah.” (lihat al-Ikhlas wa an-Niyyah, hal. 35)
Abu Ishaq al-Fazari rahimahullah berkata, “Sesungguhnya diantara manusia ada orang yang sangat menggandrungi pujian kepada dirinya, padahal di sisi Allah dia tidak lebih berharga daripada sayap seekor nyamuk.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 573)
Jalan Untuk Meraih Keikhlasan
Sufyan bin Uyainah berkata: Abu Hazim rahimahullah berkata, “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu lebih daripada kesungguhanmu dalam menyembunyikan kejelekan-kejelekanmu.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 231).
al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Ilmu dan amal terbaik adalah yang tersembunyi dari pandangan manusia.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 231)
Ibrahim at-Taimi rahimahullah berkata, “Orang yang ikhlas adalah yang berusaha menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana dia suka menyembunyikan kejelekan-kejelakannya.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 252)
al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah mengatakan, “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ sedangkan beramal untuk dipersembahkan kepada manusia merupakan kemusyrikan. Adapun ikhlas itu adalah tatkala Allah menyelamatkan dirimu dari keduanya.” (lihat Adab al-’Alim wa al-Muta’allim, hal.
Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Dahulu dikatakan: Bahwa seorang hamba akan senantiasa berada dalam kebaikan, selama jika dia berkata maka dia berkata karena Allah, dan apabila dia beramal maka dia pun beramal karena Allah.” (lihat Ta’thir al-Anfas min Hadits al-Ikhlas, hal. 592)
Wallahu a’lam bishawab. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Semoga Allah memberi kemampuan selalu bagi kita dan menyampaikan kita pada rahmat ridha serta cinta Nya
Allah ta’ala berfirman
ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻧﻔَﻘْﺘُﻢ ﻣِّﻦ ﻧَّﻔَﻘَﺔٍ ﺃَﻭْ ﻧَﺬَﺭْﺗُﻢ ﻣِّﻦ ﻧَّﺬْﺭٍ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻪُ
“ Apapun infak yang kalian berikan atau nadzar apapun yang kalian canangkan, sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 270)
Allah Pasti Menggantinya
Allah ta’ala berfirman
, ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻧﻔَﻘْﺘُﻢ ﻣِّﻦ ﺷَﻲْﺀٍ ﻓَﻬُﻮَ ﻳُﺨْﻠِﻔُﻪُ ﻭَﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟﺮَّﺍﺯِﻗِﻴﻦَ
“ Apapun harta yang kalian infakkan maka Allah pasti akan menggantikannya, dan Dia adalah sebaik-baik pemberi rizki.” (QS. Saba’: 39)
Mendapatkan Naungan Allah Pada Hari Kiamat
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tujuh golongan orang yang akan diberi naungan oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan dari-Nya. Yakni :
1.Seorang pemimpin yang adil.
2.Seorang pemuda yang tumbuh dalam [ketaatan] beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla. 3.Seorang lelaki yang hatinya bergantung terpaut pada masjid-masjid.
4.Dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berdua bertemu dan berpisah karena-Nya.
5.Seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’.
6.Seorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.
7.Dan seorang yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu mengalirlah air matanya.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Shahih at-Targhib [1/531])
Memadamkan Kemurkaan Allah
Dari Mu’awiyah bin Haidah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya sedekah secara rahasia bisa meredam murka Rabb [Allah] tabaroka wa ta’ala.” (HR. ath-Thabrani dalam al-Kabir, lihat Shahih at-Targhib [1/532])
Menyelamatkan Dari Siksa Neraka
Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat :adalah
[ 1 ] Seorang lelaki yang berjuang mencari mati syahid. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku menemui mati syahid.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sebenarnya kamu berperang agar disebut-sebut sebagai pemberani, dan sebutan itu telah kamu peroleh di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka
[ 2 ] Seorang lelaki yang menimba ilmu dan mengajarkannya serta pandai membaca/menghafal al-Qur’an. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Aku menimba ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca/menghafal al-Qur’an di jalan-Mu.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sebenarnya kamu menimba ilmu agar disebut-sebut sebagai orang alim, dan kamu membaca al-Qur’an agar disebut sebagai qari’. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka
[ 3 ] Seorang lelaki yang diberi kelapangan oleh Allah serta mendapatkan karunia berupa segala macam bentuk harta. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Tidak ada satupun kesempatan yang Engkau cintai agar hamba-Mu berinfak padanya melainkan aku telah berinfak padanya untuk mencari ridha-Mu.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sesungguhnya kamu berinfak hanya demi mendapatkan sebutan sebagai orang yang dermawan. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Muslim )
Kunci Meraih Kelezatan Amal
Abu Turab rahimahullah mengatakan, “Apabila seorang hamba bersikap tulus/jujur dalam amalannya niscaya dia akan merasakan kelezatan amal itu sebelum melakukannya. Dan apabila seorang hamba ikhlas dalam beramal, niscaya dia akan merasakan kelezatan amal itu di saat sedang melakukannya.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 594)
Abul Aliyah berkata: Para Sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadaku, “Janganlah kamu beramal untuk selain Allah. Karena hal itu akan membuat Allah menyandarkan hatimu kepada orang yang kamu beramal karenanya.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 568)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang membiasakan dirinya untuk beramal ikhlas karena Allah niscaya tidak ada sesuatu yang lebih berat baginya daripada beramal untuk selain-Nya. Dan barangsiapa yang membiasakan dirinya untuk memuaskan hawa nafsu dan ambisinya maka tidak ada sesuatu yang lebih berat baginya daripada ikhlas dan beramal untuk Allah.” (lihat Ma’alim Fi Thariq al-Ishlah, hal. 7 )
Lebih Selamat Bagi Hati
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Sesungguhnya amalan jika ikhlas namun tidak benar maka tidak akan diterima. Demikian pula apabila amalan itu benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima sampai ia ikhlas dan benar. Ikhlas itu jika diperuntukkan bagi Allah, sedangkan benar jika berada di atas Sunnah/tuntunan.” (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 19 cet. Dar al-Hadits).
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ketahuilah, bahwasanya keikhlasan seringkali terserang oleh penyakit ujub. Barangsiapa yang ujub dengan amalnya maka amalnya terhapus. Begitu pula orang yang menyombongkan diri dengan amalnya maka amalnya menjadi terhapus.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 584)
Yusuf bin Asbath rahimahullah berkata, “Allah tidak menerima amalan yang di dalamnya tercampuri riya’ walaupun hanya sekecil biji tanaman.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 572)
Diriwayatkan bahwa ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu pernah berkata, “Amal yang salih adalah amalan yang kamu tidak menginginkan pujian dari siapapun atasnya kecuali dari Allah.” (lihat al-Ikhlas wa an-Niyyah, hal. 35)
Abu Ishaq al-Fazari rahimahullah berkata, “Sesungguhnya diantara manusia ada orang yang sangat menggandrungi pujian kepada dirinya, padahal di sisi Allah dia tidak lebih berharga daripada sayap seekor nyamuk.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 573)
Jalan Untuk Meraih Keikhlasan
Sufyan bin Uyainah berkata: Abu Hazim rahimahullah berkata, “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu lebih daripada kesungguhanmu dalam menyembunyikan kejelekan-kejelekanmu.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 231).
al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Ilmu dan amal terbaik adalah yang tersembunyi dari pandangan manusia.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 231)
Ibrahim at-Taimi rahimahullah berkata, “Orang yang ikhlas adalah yang berusaha menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana dia suka menyembunyikan kejelekan-kejelakannya.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 252)
al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah mengatakan, “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ sedangkan beramal untuk dipersembahkan kepada manusia merupakan kemusyrikan. Adapun ikhlas itu adalah tatkala Allah menyelamatkan dirimu dari keduanya.” (lihat Adab al-’Alim wa al-Muta’allim, hal.
Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Dahulu dikatakan: Bahwa seorang hamba akan senantiasa berada dalam kebaikan, selama jika dia berkata maka dia berkata karena Allah, dan apabila dia beramal maka dia pun beramal karena Allah.” (lihat Ta’thir al-Anfas min Hadits al-Ikhlas, hal. 592)
Wallahu a’lam bishawab. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Semoga Allah memberi kemampuan selalu bagi kita dan menyampaikan kita pada rahmat ridha serta cinta Nya
Langganan:
Postingan (Atom)