Laman

Rabu, 18 September 2019

"PENYUCIAN DIRI"

Dua jenis penyucian: Pertama zahir, ditentukan oleh peraturan agama dan dilakukan dengan membasuh tubuh badan dengan air yang bersih. Keduanya ialah penyucian batin, diperolehi dengan menyedari kekotoran di dalam diri, menyedari dosanya dan bertaubat dengan ikhlas. Penyucian batin memerlukan perjalanan kerohanian dan dibimbing oleh guru kerohanian.
Menurut hukum dan peraturan agama, seseorang menjadi tidak suci dan wuduk menjadi batal jika keluar sesuatu dari rongga badan. Ini perlu diperbaharui dengan wuduk. Dalam hal keluar mani dan darah haid mandi wajib diperlukan. Dalam hal lain, bahagian tubuh yang terdedah - tangan, lengan, muka dan kaki - mesti dibasuh. Mengenai pembaharuan wuduk Nabi s.a.w bersabda, "Pada setiap pembaharuan wuduk Allah perbaharui kepercayaan hamba-Nya yang cahaya iman digilap dan memancar dengan lebih bercahaya". Dan, "Mengulangi bersuci dengan wuduk adalah cahaya di atas cahaya".

Kesucian batin juga boleh hilang, mungkin lebih kerap daripada kesucian zahir, dengan sifat buruk, buruk perangai, perbuatan dan sifat yang merosakkan seperti sombong, takabur, menipu, mengumpat, fitnah, dengki dan marah. Perbuatan secara sedar dan tidak sedar memberi kesan kepada roh: mulut yang memakan makanan haram, bibir yang berdusta, telinga yang mendengar umpatan dan fitnah, tangan yang memukul, kaki yang membawa kepada kejahatan. Zina, yang juga satu dosa, bukan sahaja dilakukan di atas katil. Nabi s.a.w bersabda, "Mata juga berzina".

Bila kesucian batin ditanamkan demikian dan wuduk kerohanian batal, membaharui wuduk demikian adalah dengan taubat yang ikhlas, yang dilakukan dengan menyedari kesalahan sendiri, dengan penyesalan yang mendalam disertai oleh tangisan (yang menjadi air yang membasuh kekotoran jiwa), dengan berazam tidak akan mengulangi kesalahan tersebut, berhasrat meninggalkan semua kesalahan, dengan memohon keampunan Allah, dan dengan berdoa agar Dia mencegahnya daripada melakukan dosa lagi.

Sembahyang adalah menghadap Tuhan. Berwuduk, berada di dalam keadaan suci, menjadi syarat untuk bersembahyang. Orang arif tahu penyucian zahir sahaja tidak memadai, kerana Allah melihat jauh ke dalam lubuk hati, yang perlu diberi wuduk dengan cara bertaubat. Firman Allah:
Inilah apa yang dijanjikan untuk kamu, untuk tiap-tiap orang yang bertaubat, yang menjaga (batas-batas). (Surah Qaaf, ayat 32).

Penyucian tubuh dan wuduk zahir terikat dengan masa kerana tidur membatalkan wuduk. Penyucian ini terikat dengan siang dan malam bagi kehidupan di dalam dunia. Penyucian alam batin, wuduk bagi diri yang tidak kelihatan, tidak ditentukan oleh masa. Ia untuk seluruh kehidupan - bukan sahaja kehidupan sementara di dunia tetapi juga kehidupan abadi di akhirat.
Sumber : Kitab Sirr Al Asror Karangan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani

Minggu, 15 September 2019

KAYA Atau MISKIN

KAYA Atau  Miskin, Siapa Yang Paling Bertaqwa ?
kaya atau miskin

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (QS. Al Hujurat: 13)
Pengantar
passopatifm.com| Islam tidak mewajibkan kekayaan seperti juga tidak mengharamkan kemiskinan. Untuk itu seorang Muslim tidak perlu terjebak untuk membenci orang kaya atau justru menyintai orang miskin. Sebab kalau soalnya adalah menyintai orang miskin, maka Anda butuh memelihara kemiskinannya agar cinta Anda tetap terpelihara. Juga kalau soalnya adalah membenci orang kaya, maka kasusnya adalah kecemburuan terhadap kekayaannya. Sejauh yang saya mengerti, yang menjadi pokok soal dalam Islam ialah bagaimana kekayaan diperoleh dan bagaimana derita kemiskinan sampai menimpa. Yang diajarkan oleh Islam bukanlah ‘kaya’ atau ‘miskin’, melainkan sikap terhadap kekayaan dan kemiskinan itu. Lihatlah kartu domino. Kartu-kartu sudah tertentu. Berbagai kemungkinan permainan juga bisa dipelajari. Namun persoalan pembagian kartu, kapasitas manusia hanya mengocoknya. Silahkan lakukan seratus atau seribu kocokan, tapi Anda tidak bisa menentukan apa dan bagaimana kartu Anda. Anda tidak bisa menjamin bahwa Anda akan bebas dari balok-6. Dikutip dari: Emha Ainun Nadjib/”Nasionalisme Muhammad – Islam Menyongsong Masa Depan”/Sipress/PadhangmBulanNetDok
Kaya atau Miskin
Imam Ahmad rahimahullah juga memiliki dua pendapat dalam hal ini. Pendapat pertama: orang kaya yang pandai bersyukur lebih utama. Pendapat kedua: orang miskin yang selalu bersabar lebih utama.
Di antara para ulama yang menyatakan bahwa orang miskin yang sabar lebih utama beralasan: orang miskin lebih cepat dihisab di akhirat nanti daripada orang kaya. Sedangkan ulama yang menyatakan bahwa orang kaya yang pandai bersyukur lebih utama beralasan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri selalu meminta pada Allah agar diberi sifat ghina (kaya, merasa cukup dari apa yang ada di hadapan manusia).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanyakan mengenai keutamaan suatu hal dari yang lainnya, di antaranya beliau ditanyakan mengenai manakah yang lebih utama antara orang kaya yang pandai bersyukur atau orang miskin yang selalu bersabar. Lalu beliau jawab dengan jawaban yang sangat memuaskan, “Yang paling afdhol (utama) di antara keduanya adalah yang paling bertaqwa kepada Allah Ta’ala. Jika orang kaya dan orang miskin tadi sama dalam taqwa, maka berarti mereka sama derajatnya.” (Badai’ul Fawaidh, 3/683). Itu pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Al Furqon hal. 67.
Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Menurut para peneliti dan ahli ilmu bahwa keutamaan di antara orang kaya dan orang miskin tidak kembali pada miskin atau pun kayanya. Namun itu semua kembali pada amalan, keadaan, dan hakikatnya. … Keutamaan di antara keduanya di sisi Allah dilihat dari ketakwan, hakikat iman, bukan dilihat dari miskin atau kayanya. Karena Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (QS. Al Hujurat: 13)
Dalam shohih Bukhari dan Muslim, terdapat riwayat dari Abu Hurairah, “Ada yang mengatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling mulia?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yang paling bertakwa.”
Membelanjakan Harta Untuk Kebaikan
Dalam Islam, yang diperintahkan adalah membelanjakan harta untuk kebaikan. Bukan menjadi kaya. Misalnya dalam rukun Islam tidak ada perintah jadi orang kaya. Yang ada adalah membayar zakat dan pergi berhaji JIKA mampu.
Saat ini saya melihat sebagian orang menganggap bahwa Islam mengharuskan ummat Islam harus kaya dengan alasan Nabi dulu kaya dan banyak perintah Islam seperti Zakat, Haji, Sedekah mensyaratkan adanya kekayaan.
Meski sekilas kelihatan benar, namun kiranya hal itu kurang tepat. Apalagi jika akhirnya untuk menjadi kaya semua cara dihalalkan dan membelanjakannya pun dengan bermewah-mewah serta memandang hina orang miskin.
”Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’” [Al Baqarah:43]
”Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.” [Al Baqarah:83]
”Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” [Al Baqarah:110]
Ayat-ayat Al Qur’an di atas cukup jelas bahwa Islam memerintahkan ummatnya untuk membayar zakat dan bersedekah kepada kerabat dan fakir miskin. Bukan menjadi kaya karena berapa banyak orang yang kaya tapi tidak bayar zakat dan bersedekah.
Saat ini bermunculan motivator Islam. Ini bagus. Tapi jangan sampai kita mengikuti motivator Barat sehingga akhirnya tenggelam pada materialisme/duniawi. Meski Islam melarang kita melupakan dunia, namun Islam mengajarkan kita mengutamakan akhirat.
Berlomba Memberi
Dari berbagai ayat Al Qur’an dan Hadits yang saya baca, saya mengambil kesimpulan bahwa Islam itu menganjurkan ummatnya untuk memberi. Bukan untuk menjadi kaya. Contohnya kita disuruh membayar zakat dan juga bersedekah.
Mungkin ada yang bertanya, ”Apa bedanya ”Memberi” dengan ”Menjadi Kaya”? Bukankah untuk memberi kita harus kaya?”
Meski sekilas ”Memberi” sama dengan ”Menjadi Kaya”, tapi tidak serupa. Betapa banyak orang yang kaya tapi tidak mau bayar zakat atau bersedekah? Sebaliknya berapa banyak orang miskin atau yang hidupnya biasa saja tapi justru rajin berzakat dan sedekah? Banyak orang yang kaya tapi tidak berhaji. Sebaliknya banyak orang yang pas-pasan seperti TKI dan TKW malah bisa naik haji.
Mungkin ada yang bertanya, ”Apa iya orang miskin atau pas-pasan bisa sedekah/bayar zakat?” Jawabnya bisa:
Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya: Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling mulia? Beliau menjawab: “Sedekah orang yang tak punya, dan mulailah memberi sedekah atas orang yang banyak tanggungannya. Dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim.
Akhirat Lebih Utama Daripada Dunia
”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi” [Al Qashash:77]
”Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia, maka Kami segerakan baginya di dunia dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir” [Al Israa’:18]
Allah mengingatkan kita bahwa akhirat lebih baik dan kekal dari dunia karena manusia memang cenderung pada dunia hingga banyak yang lupa akan akhirat:
”Sungguh hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada dunia” [Adh Dhuhaa:4]
”Akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” [Al A’laa:17]
Di Indonesia banyak orang miskin. Menurut media VHR, 50.000 rakyat Indonesia bunuh diri karena kemiskinan dalam 3 tahun terakhir. Bahkan di media Surya Online diberitakan ada anak SD usia 11 tahun yang bunuh diri karena tidak kuat menahan lapar dan sakit maag yang diderita karena dia hanya sanggup makan sekali sehari. Tidak sepantasnya ummat Islam hidup bermewah-mewah sementara mayoritas rakyat hidup miskin karena ini tanda dari kurangnya iman:
”Tidak beriman kepadaku orang yang tidur dengan kenyang sementara tetangganya lapar padahal dia mengetahui hal itu.” (HR. Al Bazzaar)
201.  Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" AL-BAQARAH. Amin Ya Rabbal Alamin

Senin, 09 September 2019

SOAL JAWAB TENTANG SHOLAT


SOAL : Apakah maksud Solat.?
JAWAB : Maksud sholat adalah menyembah dzat, memuji Asma dan mengakui Af'al Allah.
.
SOAL. : Apakah kesempurnaan sholat.?
JAWAB. Kesempurnaan sholat apabila kerja­-kerja yang mengandungi:
1. Kerja-kerja hati (Qalbi)
2. Kerja-kerja lidah (Qouli)
3. Kerja-kerja pergerakan anggota (Fe'li)
.
SOAL. : Apakah kandungan rukun Qalbi,
Qouli dan Fe'li.?
JAWAB : Adapun kandungan rukun Qalbi
itu dua perkara;
1. Niat
2. Tertib
Rukun Qouli itu lima perkara :
1. Takbiratul Ihram
2. Membaca Al-Fatihah
3. Membaca Tahiyat Akhir
4. Selawat Nabi pada tahiyat Akhir
5. Mengucap salam yang pertama
Rukun Fe’li itu enam perkara;
1. Berdiri betul
2. Ruku'
3. Iktidal
4. Sujud
5. Duduk diantara dua sujud
6. Duduk membaca Tahiyat Akhir
.
SOAL : Apakah kandungan niat (hakikat niat)?
JAWAB. : Kandungan niat itu adalah perkara yang berkait dengan ilmu qasad, ta'aradh dan ta'ayien
1. Qasad - menyehajakan kerja solat
2. Ta'aradh - menyatakan fardhu (kefardhuan)
3. Ta'ayien - menentukan waktu
(nama sembahyang)
.
SOAL. : Mengapa wujud Sholat.?
JAWAB : Wujud sholat karena wujud hamba
dan wujud Tuhan.
.
SOAL : Mengapa ada yang belajar agama tetapi tiada sholat.?
JAWAB : Karena tiada sampai kepada kefahaman Ma'rifat Hakikat, yang sesunguhnya.
.
SOAL : Apa rahasia rukuk dan sujud.?
JAWAB. :
- Rahasia rukuk karena tunduk kepada kebesaran Allah
- Rahasia sujud bermaksud mempraktikkan pengabdian diri seorang hamba zahir dan batin.
.
SOAL : Berapa jenis takbir di dalam sembahyang dan di luar sembahyang.?
JAWAB. : Di dalam sembahyang ada dua takbir dan di luar sembahyang pun ada dua takbir.
- Dalam sembahyang Takbiratul Ihram dan Takbiratul Intiqal
- Di luar sembahyang Takbir Mursal dan Takbir Muqid.
.
SOAL : Apa maksud sebenar Usolli.?
JAWAB : Usolli itu maksudnya mahu melaksanakan sembahyang akan tetapi ia bukan Mahiyyah atau Hakikat sembahyang
dan Hakikat sembahyang itu drp takbir
hingga salam.
.
SOAL : .. Bila hendak memakrifatkan
Laa haula wala quwwata illa billah?
JAWAB : Ketika qiam dan sebelum takbir.
.SOAL : Mengapa rukun sembahyang itu
13 perkara ?
JAWAB. : Rukun sembahyang 13 perkara karena mengikut fitrah kejadian manusia yang terdiri daripada 13 bagian.
* Daripada Allah satu iaitu Nyawa,
* Daripada Rasul empat iaitu. :
1. Pendengaran
2. Penglihatan
3. Penciuman
4. Perasaan
5. Daripada Ibu empat yaitu - Darah
6. Roma
7. Daging
8. Otak
9. Daripada Bapa empat yaitu - Kulit
10. Urat kecil
11. Urat besar
12. Tulang
.
SOAL : Apakah rahasia ujud sholat.?
JAWAB : Rahasia sholat adalah karena menunaikan janji semasa di alam Roh
(semasa manusia belum ujud).
Firman Allah yang ertinya :
"Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah kamu itu sesudah kamu meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (sebagai sumpah itu) sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu lakukan"
(An-Nahl ayat 91).
.
SOAL : Mengapa apabila sholat
terpaksa keluar dari sifat makhluk kepada
sifat Insan Kamil.?
JAWAB. : Karena mengelakkan drp perbuatan syirik dan untuk menepati penyerahan diri kepada Allah.
Firman Allah yang artinya :
"Dan kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan khabar gembira bagi orang-orang yang menyerahkan dirinya"
(An­Nahl ayat 89).
.
SOAL : Membaca Al-Fatihah tanpa Bismillah di dalam sholat.?
JAWAB. : Al-fatihah semasa sholat sepertimana firman Allah di dalam hadis Qudsi.
Sabda Rasullullah saw maksudnya:
Telah berfirman Allah Azza Wajalla
"Aku bagi shalat (Al-Fatihah) di antara Aku dan hambaKu menjadi dua bagian, setengah untuk Aku dan setengah untuk hambaKu.
Bagi hambaKu apa yang mereka minta, apabila hambaKu berkata:
Alhamdulillahirobbil'alamiin!
Allah menjawab: HambaKu telah memujikan Aku,
dan apabila hambaKu berkata:
Arrahmaanirrahiim!
Allah menjawab: HambaKu telah menyanjung Aku,
apabila hambaKu berkata:
Maaliki yaumiddiin!
Allah menjawab: hambaKu telah memuliakan Aku,
dan apabila hambaku berkata:
Iyyakana' budu wa iyyakanasta'iin!
Allah menjawab : Ini setengah untukKu dan setengah lagi untukmu, bagi hambaKu apa yang mereka minta dan apabila hambaKu berkata :
Ihdinas shirothol mustaqim, shirothollazinaan'amta 'alaihim, ghoiril maghduubi 'alaihim, waladdhooliin!
Allah menjawab : Ini semua untuk hambaKu dan untuk hambaKu apa yang mereka pinta"
(H.R Imam Muslim drp Abu Hurairah)
.
Firman Allah yang ertinya :
"Wahai anak Adam.! Aku telah turunkan tujuh ayat.
* Tiga daripadanya untuk Aku,
* Tiga untuk engkau.
* Satu lagi
Antara Aku dan engkau.
Adapun tiga untuk Aku, iaitu :
* Alhamdulillahi Rabbil Aalamiin
(segala pujian bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam).
* Ar-RahmaanirRahiim
(Yang Maha Pengasih Maha Penyayang).
* Maaliki Yaumiddiin
(Yang menguasai hari kiamat).
Yang antara Aku dan engkau ialah :
* Iyyaaka Na'budu Wa Iyyaa ka Nasta'iin
(Hanya kepada Engkau sajalah kami menyembah, dan kepada Engkau pulalah
kami meminta pertolongan)
Daripadamulah penyembahan, dan atas
Aku pula pertolongan.
Dan yang tiga untuk engkau ialah :
* Ihdinash-shiraathal Mustaqiim
(tunjukilah kami jalan yang lurus!)
* Shiraathal ladziina An'amta alaihim
(jalan orang-orang yang Engkau kurniakan nikmat kepada mereka).
* Ghairil Maghduubi alaihim Waladh-Dh aalliin
(bukan mereka yang dimurkai dan bukan pula mereka yang sesat.)"
(Riwayat Thabarani)
.
SOAL. : Apakah maksud menyerahkan diri kepada Tuhan di dalam sembahyang.?
JAWAB. : Maksudnya Rohani dikuasai oleh Allah (ertinya ikut kata Allah) sementara Jasmani fana dalam Af'al Allah ertinya di bawah pentadbiran Bismillahirrahmanirrahim.
.
SOAL. : Jika sembahyang fana dan dikuasai oleh Allah, siapa yang membaca setiap pujian dan pujaan.?
JAWAB. : Yang melaksanakan ialah Mutakallimun, iaitu Dzat yang bersifat Kalam inilah yang mesti di'iktikadkan bukan sifat Kalam atau menta'wil kaunuhu Mutakallimun.
.
SOAL. : Adakah sembahyang itu wajib.?
JAWAB. : Sembahyang itu Fardhu lagi wajib.
.
SOAL : Apakah maksud sholat dalam sholat.?
JAWAB. : Ada yang menyebut Dan itulah sholat Daim.
.
SOAL. : Sembahyang dikatakan tidak boleh syirik. Apakah syirik itu.?
JAWAB : Syirik bermaksud menyekutukan Allah pada DzatNya, pada SifatNya dan pada Af'alNya.
.
SOAL. : Mengapa kita Sholat sehari-semalam 17 rakaat
JAWAB : Pengertiannya sebagai berikut :
Hawa, Adam, Muhammad, Allah dan Ah.
1. AH itu menandakan sholat subuh. '2'
= Dzat dan Sifat
2. ALLAH itu menandakan sholat Zuhur. '4'
= Wujud, Alam, Nur dan Syahadah.
3. MUHAMMAD itu menandakan sholat Ashar '4'
= Tanah, Air, Api dan Angin.
4. ADAM itu menandakan sholat Magrib. '3'
= Ahdah Wahdah, dan Wahidiyah.
5. HAWA itu menandakan sholat Isya' '4'.
= Mani, Manikam, Madi, dan Di.
.
SOAL. : Mengapa kita mengucapkan 2 kalimah Syahadat 9X dalam 5 waktu Sholat..?
JAWAB : Sebab diri batin manusia mempunyai 9 wajah.
Dua kalimah syahadat pada :
# Sholat SUBUH 1X itu memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat SIR USIR
(Rahasia di dalam Rahasia)
#Sholat ZUHUR 2X itu memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat SIR dan AHDAH
#Sholat ASHAR 2X itu memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat WAHDA dan WAHDIAH
#Sholat MAGHRIB 2X itu memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat AHAD dan MUHAMMAD
#Sholat ISYA 2X itu memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat MUSTAFA dan MUHAMMAD
.
SOAL. : Mengapa kita harus berniat dalam Sholat… ?
JAWAB. : Karena, Niat itu merupakan kepala sembahyang.
Hakikat niat letaknya pada martabat 'Alif' dan qalbu manusia di dalam sholat itu kita lafazkan di dalam hati :
Niat Sholat : "Aku hendak Sholat menyaksikan diriku karena Allah semata-mata".
Dalilnya :
"LAA SOH SHOLATAN ILLA BI HUDHURIL QALBI"
Ertinya : Tidak Sah Sholat-Nya melainkan dengan Hadir Hatinya (Qalbunya)
.
"LAA YASHIHUS SHOLAT ILLA BIL MA’RIFATILLAH"
Ertinya : Tidak sah Sholat melainkan dengan Mengenal Allah
.
"QALBUL MU'MININ BAITULLAH"
Ertinya : Jiwa Orang Mu'min Itulah Rumah Allah
.
"WANAHNU AQRABU ILAIHI MIN HABIL WARID
Ertinya : Aku (Allah) Lebih Dekat Dari
Urat Nadi Lehermu
.
"AQIMIS SHOLATA LI ZIKRI"
Ertinya : Dirikan Solat Untuk Mengingati Aku ( Allah ) agar bersih drp sifat "dengki iri hati sombong" sebab di dalam al-Qur'an tidak ada kata untuk mengatakan orang Lain kafir 'sesat.
Yang ada hanya mengajak orang dijalan yang benar. (QS. Thaha : 145)
.
Sedangkan :
* Al-Fatihah ialah merupakan tubuh sembahyang
* Tahiyat ialah merupakan hati sembahyang
* Salam ialah merupakan kaki tangan sembahyang.
ALLAHU AKBAR

Selasa, 27 Agustus 2019

Pada Mulanya Adalah Cahaya

Yaa................................... .salam 🙏
^Pada Mulanya Adalah Cahaya^
>Semoga Allah memberimu keberhasilan dalam melakukan segala tindakan yang diridai-Nya.
>Pikirkanlah, tanamkan dalam pikiran, dan pahamilah segala yang kukatakan.
>Makhluk pertama yang diciptakan Allah swt. dari Cahaya Ilahi Yang Maha indah adalah cahaya. Muhammad saw. Dalam sebuah hadis qudsi Dia menyatakan:
“Telah Aku Ciptakan ruh Muhammad dari cahaya zat-Ku (Wajh).”
>Pemimpin kita, Rasulullah saw. pun menyatakan dalam sabdanya:
“Pertama-tma Allah menciptakan ruhku, yang diciptakan-Nya sebagai cahaya Ilahi.”
“Pertama-tama Allah menciptakan Pena.”
“Allah pertama-tama menciptakan akal.”
>Ciptaan pertama yang dimaksudkan dalam hadis-hadis itu adalah hakikat Muhammad, yang dirahasiaskan. Seperti Tuhannya, Muhammad juga memiliki nama-nama yang indah. Ia diberi nama Nur, Cahaya Ilahi, karena ia disucikan dari kegelapan yang tersembunyi di balik sifat kuasa dan keagungan Allah.
^Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:
"Telah diturunkan kepadamu dari Allah cahaya dan Kitab yang terang"
(Al-Ma’idah (3) : 15).
>Ia juga disebut Akal Universal ‘aql al-kulli) karena ia melihat dan memahami segala sesuatu. Ia disebut Pena (Al-Qalam), karena ia menyebarkan hikmah dan ilmu, serta menorehkan ilmu ke hamparan alam huruf.
>Ruh Muhammad adalah hakikat semeua wujud. Ia adalah awal dan hakiakt alam semesta. Nabi saw. menyatakan hal ini dalam sabdanya:
“Aku berasal dari Allah dan orang beriman berasal dari diriku.”
>Allah Swt. menciptakan semua ruh dari ruhnya di alam penciptaan pertama dengan sebaik-baik bentuk. Muhamamd adalah nama semua manusisa di alam arwah (‘alam al-arwah). Ia adalah sumber dan tempat kembali masing-masing dan segala sesuatu. Empatribu tahun setelah penciptaan Nur Muhammad, Allah menciptakan Arasy dari cahaya mata Muhammad. Dia menciptakan seluruh makhluk dari Arasy.
>Kemudian Dia mengutus ruh untuk turun kepada tingkatan penciptaan terendah, ke alam dunia ini, ke alam materi, atau alam jasadi.
"Kemudian Kami kembalikan dia kepada (tingkatan) yang terendah."
(Al-Thin : 5).
>Dia mengirim cahaya dari tempat penciptaannya, Alam Ketuhanan (‘alam al-lahut), yakni alam manifestasi zat, keesaan, wujud mutlak Allah, ke alam manifestasi nama-nama Allah, manifestasi sifat-sifat, alam akal kausal, alam Ruh Universal. Di sana, jiwa itu diberi pakaian jubah cahaya.
>Di sana pula jiwa itu diberi nama “jiwa sultan”. Berpakaian cahaya, mereka turun ke alam malaikat. Di sana mereka dipakaikan jubah terang para malaikat, lalu diberi nama “jiwa Ruhani”. Kemudian Dia memerintahkan mereka untuk turun ke alam materi, alam air, alam api, tanah dan eter, lalu mereka menjadi jiwa manusia. Dari alam inilah Dia menciptakan raga:
"Darinya Kami ciptakan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan, lalu darinya Kami bangkitkan kamu sekalian untuk kedua kalinya."
(Thaha (20) : 55).
>Setelah semua tahapan ini, Allah memerintahkan ruh untuk masuk ke dalam raga, dan atas kehendak-Nya, ia memasukinya:
"Maka apabila telah Kusempurnakan kejadian dan Kutiupkan ke dalamnya ruh-Ku ....
(Shad (38) : 72).
>Seiring bergulirnya waktu, ruh-ruh itu mulai terikat kepada daging serta melupakan asal dan sumpah yang mereka ucapkan di alam arwah. Di sana, Allah bertanya kepada mereka, “Apakah Aku Tuhanmu?” dan mereka menjawab, “Ya!”. Mereka melupakan janji dan sumber mereka lupa jalan pulang mereka. Namun, Allah Maha Penyayang, sumber segala pertolongan dan keselamatan bagi makhluk-Nya. Dia mengasihi mereka sehingga diturunkan-Nya kitab-kitab suci dan para rasul untuk mengingatkan mereka akan sumber azali mereka.
>Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami (dan Kami perintahkan kepadanya):
“Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang, dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah .....
(Ibrahim (14) : 5).
Maksudnya, “Ingatkanlah ruh-ruh itu akan amsa-masa ketika mereka masih menyatu dengan Allah.”
>Banyak rasul yang telah diutus ke dunia ini, melaksanakan tugas mereka dan kemudian wafat. Tujuannya adalah membawa pesan kepada ummat manusia dan meneyadarkan mereka dari kelalaian. Tetapi dari amsa ke masa, orang yang mengingat-Nya, yang kembali kepada-Nya, yang ingin menyatu kepada sumber Ilahi mereka, dan yang tiba pada sumber azali mereka, jumlahnya semakin sedikit.
>Para nabi datang dan pergi, dan pesan Ilahi terus disampaikan hingga datangnya risalah Muhammad saw, rasul terakhir yang menyelamatkan manusia dari kesesatan. Allah Swt. mengutusnya untuk membebaskan matahari dari kelalaian. Tujuan-Nya adalah membangkitkan mereka dari kealpaan dan menyatukan mereka dengan Keindahan Abadi, dengan zat Allah sebagaimana firman-Nya:
"Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yangg mengikutiku mengajakmu kepada Allah dengan hujjah yang nyata.....”
(Yusuf (12) : 108).
>Rasulullah yang dimaksudkan dalam ayat itu adalah jalan Nabi Muhammad saw.
>Rasulullah, dengan maksud menunjukkan tujuan kita, bersabda:
"Sahabat-sahabatku laksana bintang di langit. Siapa saja di antara mereka yang kamu ikuti, niscaya kamu akan mendapati jalan yang benar.”
>Pandangan ini muncul dari mata jiwa, mata yang dapat membuka sanubari orang yang dekat kepada Allah, yakni para kekasih Allah. Pandangan semacam ini takkan dilahirkan oleh semua pengetahuan lahiriah. Hanya pengetahuan ruhani, yang berasal dan mengalir dari kesadaran Ilahi saja yang dapat melahirkannya:
yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami"
(al-Kahfi (18) : 65).
>Untuk meraihnya, manusia harus mencari orang yang memiliki pandangan batin, yang dibimbing oleh matahatinya. Guru yang menanamkan ilmu seperti itu haruslah orang yang dekat kepada Allah dan mampu mencapai Alam Tertinggi.
>Wahai manusia, bangunlah dan bertobatlah agar mendapatkan ilmu dari Tuhanmu. Berjuanglah! Allah memerintahkanmu:
"Dan bergeraklah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yagn disediakan untuk orang yang bertakawa. (Yaitu) Orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan yang menahan amarahnya, dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang yang berbuat kebaikan."
(Al-Imran (3) : 133 – 134).
>Pilihlah jalan itu dan bergabunglah dengan kafilah ruhani yang menempuh jalan kembali kepada Allah. Sebentar lagi jalan itu akan ditutup, dan takkan kau dapati seorang pun teman seperjalanan. Kita tidak ditutunkan ke dunia yang luas dan rusak ini untuk bersanati kita tidak diutus ke sini hanya untuk makan minum, dan buang hajat. Nabi kita, Muhammad saw. selalu mengamatimu. Ia prihatin melihat keadaanmu. Ia tahu apa yang akan terjadi saat ia bersabda:
"Rasa sakitku disebabkan oleh ummatku di akhir zaman.”
>Hanya ada dua hal yagn kita dapatkan, yaitu yang nyata dan yang gaib yang nyata berbentuk ajaran-ajaran agama atau yang gaib dalam bentuk hikmah, Allah Swt. memerintahkan kita untuk menyelaraskan wujud lahiriah kita dengan ajaran agama dan menata wujud batiniah kita dengan hikmah. Jika yang lahir dan yang batin telah menyatu, jika antara agama dan hikmah telah berpadu, kita akan meraih tingkatan hakikat. Perjalanan itu seperti pohon kebenaran yang menumbuhkan daun, lalu kuncup, dan kemudian bunga yang akhirnya menjadi buah.
"Dia membiarkan dua lautan mengalir yagn kemudian keduanya bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing."
(Al-Rahman (55) : 20).
>Dua harus menjadi satu, Hakikat takkan bisa diraih hanya melalui pengetahuan inderawi, yang berkaitan dengan alam lahir. Tujuan akhir manusia, yaitu sumber azali, tidak dapat dicapai dengan cara itu. Ibadah sejati membutuhkan agama sekaligus pengetahuan.
Allah Swt. berfirman:
"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku"
(al-Dzariyat (51) : 56).
>Dengan kata lain, “Mereka diciptakan agar mengenal-Ku.” Bagaimana mungkin orang yang tidak mengenal Dia dapat sungguh-sungguh memuji-Nya, memohon pertolongan, dan mengabdi kepada-Nya?
>Ilmu yang dibutuhkan untuk mengenal-Nya hanay dapat diraih dengan membuka tabir yang menutupi cermin hati, dan membersihkannya hingga berkilau. Barulah kemudian keindahan Ilahi yang selama ini tersembunyi akan memancar darinya.
Allah Swt., dalam sebuah hadis qudi, berfirman: “Aku adalah harta tersembunyi. Aku ingin dikenal, karena itulah Kuciptakan makhluk.”
>Jadi, manusia diciptakan oleh Allah agar ia berusahha memperoleh pengetahuan dan mengenal Penciptanya.
>Ilmu Ilahi terbagi ke dalam dua tingkatan. Tingkatan pertama adalah mengenal sifat-sifat dan manifestasi Allah. Tingkatan kedua adalah mengenal zat Allah. Pada tingkatan pertama, manusia yang bersifat jasmani merasakan dunia ini maupun akhirat.
>Namun, ilmu yang menuntun kepada pengetahuan tentang zat Allah berada dalam ruh suci yang memungkin manusia mengetahui rahasia-rahasia akhirat.
Allah menegaskan hal ini dalam Firman-Nya:
.... dan Kami perkuat dia dengan ruh kudus ..... (Al-Baqarah
(2) : 87).
>Orang yang mengenal zat Allah memperoleh kekuatan ini melalui ruh suci yang telah dianugerahkan kepada mereka.
>Kedua jenis pengetahuan ini diperoleh melalui dia macam ilmu, yaitu ilmu batin dan ilmu lahir. Setiap orang membutuhkan keduanya untuk meraih kebaikan. Rasulullah saw., menjelaskan bahwa:
Ilmu terbagi ke dalam dua bagian, yaitu ilmu yang berada dalam lidah yang menjadi hujjah atas keberadaan Allah, dan ilmu yang berada dalam hati. Ilmu inilah yang dibutuhkan untuk mewujudkan harapan-harapan kita.
>Manusia sangat membutuhkan ilmu agama untuk mengetahui manifestasi lahir zat Allah yagn tercermin pada alam sifat-sifat dan alam nama-nama. Setelah menguasainya, seseorang harus mendidik batinnya untuk memahami berbagai rahasia sehingga ia dapat memasuki alam ilmu ilahi dan mengenal hakikat. Pada tingkatan pertama, ia harus meninggalkan segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama. Bahkan, kaum Sufi menganjurkan agar kita meninggalkan segala perilaku dan akhlak yang salah.
>Caranya adalah melatih diri melaksanakan segala hal yang dibenci hawa nafsu, serta melakukan segala hal yang menahan hasrat jasmani. Untuk meraih semua tujuan ini, ia harus melatih dirinya secara sungguh-sungguh agar hawa nafsunya benar-benar lumpuh; dak dapat melihat atau pun mendengar. Lakukanlah semua itu semata-mata karena Allah dan demi kehadiran-Nya.
Allah berfirman:
"Barang siapa berharap akan bertemu dengan Tuhan, hendaklah ia beramal saleh dan tidak menyekutukan Tuhannya dalam beribadah kepada-Nya. "
(Al-Kahfi (18) : 110).
>Inilah alam tertinggi, alam yang pertama diciptakan. Alam ini adalah sumber azali, tanah air yang didambakan setiap manusia. Di alam itulah ruh suci ruh manusia – diciptakan dalam bentuk yang terbaik.
Hakikat itu telah ditanamkan pada inti hati sebagai amanat Allah yang diserahkan kepadamu untuk kau jaga. Hakikat ini akan mewujud melalui pertobatan dan upaya sungguh-sungguh mempelajari ilmu agama. Keindahannya akan memancar ke permukaan ketika seseorang senantiasa mengingat Allah dan selalu membaca kalimat penyaksian: La ilaha ilalah. Pada mulanya, ia membaca kalimat tauhid itu dengan lidanya, lalu hatinya menjadi hidup, dan akhirnya ia membacanya secara sirr dalam hatinya.
>Kaum sufi menyebut berbagai tahapan ruhani ini dengan sebutan “thifl – bayi”, karena bayi dilahirkan dalam hati, lalu diasuh dan dibesarkan di sana. Hati. Layaknya seorang ibu, melahirkan, menyusui, dan mengasuh anaknya. Ketika anak dunia diajari ilmu duniawi, anak hati diajari ilmu ruhani.
>Sebagaimana seorang anak kecil suci dari dosa, anak hati pun suci dari kealpaan, sifat keras kepala, dan keraguan. Kesucian seorang anak sering kali tampak melalui keindahan fisik. Sedangkan kesucian anak hati tampak dalam bentuk malaikat, yang mewujud di alam mimpi. Manusia boleh mengharapkan surga sebagai balasan atas amal salehnya, namun karunia surga ini hanya akan mewujud melalui upaya anak hati.
"Berada dalam surga kenikmatan ..... mereka dikelilingi anak-anak muda yang tetap muda. "
(Al-Waqi’ah (56) : 12 – 17).
"Berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan."
(al-Thur (53) : 24).
Itulah anak-anak hati yang didambakan kaum sufi. Mereka disebut “anak-anak” karena keindahan dan keucian mereka, yang terpantul pada alam lahiriah dalam wujud manusia. Dari sisi kelembutan dan keluuannya, mereka adalah anak-anak hati, namun dari sisi fisik, mereka adalah manusia yang mampu mengubah penampilan karena ia terhubung kepada Sang Pencipta. Inilah gambaran sejati manusia. Baginya, tak ada materi, dan dirinya pun bukan materi. Tak ada tabir atau pun sekat antara wujud dirinya dan zat Allah.
Rasulullah saw., menjelaskan keadaan ini dalam sabdanya:
“Aku pernah berada bersama Allah. Ketika itu, tak ada pemisah antara kami, baik malaikat terdekat maupun seorang nabi.”
“Nabi yang tak dapat menyela antara Nabi dan Allah adalah raga rasulullah saw., sendiri. Malaikat yang terdekat kepada Allah adalah nur Muhammad, makhluk pertama. Dalam keadaan yang didamba semua sufi itu, ia berada sangat dekat dengan Tuhannya sehingga baik raga maupun jiwanya tak dapat memisahkan keduanya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Allah memiliki surga yang di dalamnya tidak terdapat istana, tanah, sungai madu, dan susu; surga yang hanya dapat dilihat seseorang saat bertemu dengan Allah.”
^Allah menegaskan hal ini dalam firmannya:
Wajah-wajah (orang beriman) apda hari itu berseri-seri. Kepada Tuhan merekalah mereka melihat.
(Al-Qiyamah (75) : 22-23).
Rasulullah saw. bersabda:
“Pada hari itu kau akan melihat Tuhanmu laksana melihat bulan purnama.”
>Kendati demikian, keadaan ini, jika didekati oleh makhluk, bahkan malaikat sekalipun, akan menghancurkannya menjadi debu.
Dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman:
“Seandainya Kubuka tabir sifat-Ku Yang Maha perkasa meski sesaat, niscaya segalanya terbakar musnah sejauh mata-Ku memandang.”
^Malaikat Jibril, yang menemani Nabi Muhammad saw. dalam mikrajnya ke langit ke tujuh, mengatakan bahwa seandainya ia maju selangkah dari tempatnya saat itu, nisaya ia akan hangus terbakar.
~ alfatih alfatih ~
^Barakallahi wallahum.... Semoga bermanfaat buat sahabat semua wassalam

Jumat, 16 Agustus 2019

Faktor penting dalam Makrifat

3 faktor penting dalam Makrifat adalah :
PERTAMA
La ta’yin = Belum ada ketentuan
Ahadiyah = Maha Tunggal
Dzatul Buhti = Dzat yang kekal

Penjelasan :
Disini Allah di umpamakan laut yang tiada bergelombang..
Dia-lah Tuhan yang maha suci dan maha tinggi, tiada martabat diatasNya lagi.
Bahwa manusia sudah ada sejak dahulu dan tiada terpisah dengan Tuhannya,
Bahwa kita sudah berada dalam rahasia Allah SWT, namun karena Allah belum ada nampak maka kita belum juga di tampakkanNya, jadi sejak La ta’yin manusia sudah tetap dalam rahasia Allah tetapi belum ada pengakuan apa-apa karena belum nampak dan belum ditampakkan.
KEDUA
Ta’yin awal = Ketentuan yang pertama
Wahdah = Tunggal
Hakekatul Muhammadiyah = Asal mula segala yang ada
Penjelasan :
Disini Tuhan telah menampakkan diriNya, maka ditampakkan-Nyalah manusia itu dahulu (titik) didalam dirinya sendiri seraya melihat dan berkata :
ALASTU BIRABBIKUM?
Maka di jawab dengan :
BALA SYAHIDNA
Setelah pengakuan ini terjadi maka Tuhan berkata :
“Saat ini Aku akan mengambil empat anasar dari tubuhmu Ku jadikan alam agar engkau menetap kelak”, maka kita menjawab dengan kalimat :
‘LA HAULA WALA KUATA ILLABILLAH’
Setelah itu diambillah :
– Dari Rahasia dijadikan Api
– Dari Ruh dijadikan Angin
– Dari Hati dijadikan Air
– Dari Tubuh dijadikan Tanah
Maka jadilah Alam semesta dengan segala isinya,
Selanjutnya “titik” itu mengembang menjadi banyak, tumbuh dan besar menjadi ALIF.
KETIGA
Ta’yin tsani = Ketentuan kedua
Wahdiyah = Mentauhidkan
Hakekatul Adam = Asal mula manusia
Penjelasan :
Bahwa Alif pada Dzat menyelubungi semua rahasia yang ada,
Disini Allah seumpama laut dengan gelombangnya, sesungguhnya Allah SWT Tuhan yang maha suci lagi maha tinggi diumpamakan laut, sedangkan semua yang ada diumpamakan gelombang, adapun gelombang itu tiada terpisah dari laut adanya.
Bahwa :
Ketiga martabat diatas semuanya adalah Qadim.
Yang terdahulu atau terbelakang hanya lah sebutan saja, bukan karena waktu.
Ketika kita mengatakan Ahdah (maha tunggal), Wahdah (tunggal), Wahdiyah (menunggalkan
Atau..
Ketika kita mengatakan La Ta’yin (belum tentu), Ta’yin awal (sudah tentu), Ta’yin tsani (ketentuan berikutnya)
Maka..
Ketiga martabat itu semua adalah Qadim.
Sedangkan yang awal dan yang akhir hanya perkataan saja, bukan karena waktu namun karena sesungguhnya laut yang tiada bergelombang, disitu juga terdapat satu gelombang (titik), maka dari titik itu berkembang menjadi banyak, itulah yang dinamakn ALIF, pada hakekatnya satu saja namun tiga dalam sebutan.
Mengertilah akan hal ini betul-betul..
Jadikan dasar pegangan dalam hati sanubari,
Bahwa tiada terpisah kita dengan Allah SWT,
Dari awal yang tiada berawal hingga akhir yang tiada berakhir.
Inilah satu pemahaman Makrifat yang sempurna.
_____________________________________________
Kosong (0) itulah yang disebut LAISA yang bernama Wajibul ujud,
Tajjali sendiri menjadi Nur Muhammad bernama titik zarrah,
Dari titik menjadi Alif yaitu terjadinya alam semesta.
Kosong (0) nafas turun menahan itulah kesempurnaan syahadat, adanya denyut kita.
Titik adalah rahasia Nabi kita ‘Nur Salasia’ yang ter-rahasia yaitu ‘…’
Dua nama satu wujud, yaitu rahasia titik dan kosong itulah adanya.
Alif waktu keluar nafas kita, kodrat dan iradatnya, bernama Allah Ta’ala, semata-mata asma dan af’al.
Kembali dari asalku (dzahir dan batin)
Asal Alif dari pada bapak (Hak Allah),
Jadi tubuh kita HAKULLAH (sudah diterima oleh ibu)
Kenyataannya, nama dan yang punya nama memuji nama,
Jadi yang berkata dan yang bersuara ‘Nur Salasia’
Itulah nama Allah yang ter-rahasia.
Itulah yang menggenapkan 99 nama Allah menjadi 100 = 1 yaitu ‘…’
______________________________________________
‘Nur Salasiah’ itulah yang benar-benar LAISA, Nur yang awal-awal muncul karena kedzahiran Nabi Muhammad SAW yang luar biasa, semata-mata hanya ikhtibar bagi kita umat Rasulullah SAW.
“Aku adalah seperti kamu jua..” ini perkataan ikhtibar saja.
Rasulullah SAW itu ‘U’ Ahad.
Ke dzahiran kita manusia Muhammad namanya.
Laki-laki dan perempuan, Adam dan Hawa, tiada lain adalah dari satu titik noktah.
Itulah yang dikatakan satu kesatuan,
Itulah ujud hakiki Rasulullah SAW
Sudah Nampak..? jangan di pahami lagi..!
____________________________________________
Barang siapa sholat, maka hendak-lah tahu hal ini :
– Yang berbuat hanya Allah fana pada Sifat
– Yang hidup hanya Allah fana kepada Dzat
– Dzahir sifat Allah dan yang sebenar-benar sifat kita yaitu Allah
– Dzahir dzat Allah yaitu dzat kita yang batin
Bahwa, Tiada yang maujud hanya Allah.
Syahadat itu saksi, yang disaksi ILLAHA itu Tuhan, dan ILLALLAH itu Esa.
Saksi itu ikral dengan lidah,
yang dipersaksi tilik dalam hati,
mengaku saksi badan
tempat bersaksi Tuhan HAQ Subhana watala.
Karena..
ASYHADU itu tubuh kita
ALLA itu darah kita
ILAAHA itu Nyawa kita
ILLALLAH itu rupa kita sendiri dengan dirinya.
“ASYHADU ALLA ILLAHA ILLALLAH = U = MUHAMMADAR RASULULLAH”
“U” itulah kesempurnaan syahadat,
Naik nafas.. turun nafas.. mesrakan.
Menilik…
Yang diumpamakan cermin itu badan kita, dan yang diumpamakan menilik cermin itu kembalilah pandang yang cermin itu kepada yang menilik.
Berdiri sholat ingat hati akan Allah taala
AKU rahasia yang memerintah ruh
Ruh memerintah hati
Hati memerintah tubuh
Berdiri sembahyang itu Allah jua yang ada yang esa sendirinya
Tiada dua..
Allah memuji dirinya sendiri
Itulah fana kita
Tiada kita lagi bertubuh batin dan dzahir
Hanya Allah taala bertubuh Muhammad batin dan dzahir
Muhammad itulah rahasia atau sirr
Di dalam sirr itu AKU (Allah)
Itulah hakekat Takbir ratul ihram
Tatkala mengatakan ALLAHUAKBAR maka :
Yang mengatakan Allahu Akbar itu Muhammad dan yang empunya kata itu Dzat Allah Subhanahuwatala
Tatkala mengatakan AlLLAHU AKBAR maka :
Allah itu Dzatnya dan Muhammad itu sifatNya.
ALLAH (Dzat Allah bagi diri, Sifat Allah bagi Rupa, Asma Allah bagi nama, Af’al Allah bagi kelakuan)
AKBAR (Hayat itu hidup, Ilmu itu tahu, Kodrat itu kuasa, Iradat itu berkehendak)
Nyawa sholat = Takbir ratul Ihram
Nafas sholat = Niat
Kepala sholat = Fatihah
Tubuh sholat = Tuma’ninah
Tangan sholat = sujud
Telinga sholat = setengah qiyam ruku
Kaki sholat = salam
_____________________________________________
MUHAMMAD ….
Mim =Wal Mim ul awwalu yadullu nara siha
Ha =Wal Ha ul yadullu ala dzohiri
Mim =Wal Mim us tsani yadullu ala surati
Dal =Wad Dallu yadullu ala qoda mihi
HU ……
Awal nabi kita Muhammad SAW atau yang LAISA mengucap nama “ALLAH”
ALIF = ibarat Dzat kepada nabi kita, itulah Rahasia yang tersirat bernama Muhammad Aminullah
LAM AWAL = ibarat Sifat kepada nabi kita, itulah Nyawa yang bernama Muhammad Rasulullah
LAM AKHIR = ibarat Asma kepada nabi kita, itulah Hati yang bernama Muhammad Nurani
HA = ibarat Af’al kepada nabi kita, itulah Rupa yang bernama Muhammad Jasmani
Pandanglah ke dalam..
Kembalikan..
Tidak lain satu kesatuan adanya..
Apa jua pun…
Karena,
Dzat Allah gaib pada alam Ruh
Sifat Allah gaib pada alam Misal
Asma Allah gaib pada alam Ajsam
Af’al Allah gaib pada alam Insan
Dan,
Dzat Allah pada alam Ruh bernama Nur
Sifat Allah pada alam Misal bernama Ke-dzahiran
Asma Allah pada alam Ajsam bernama Mu-dzahir
Af’al Allah pada alam Insan bernama Manusia
Ingatlah.!!
Kesemuanya tiada bercerai dari pada asal…
Maujud-lah Dzat-Sifat-Asma-Af’al, itulah MUHAMMAD.
Kuasa sendirnya,
Wujudnya Makrifat,
Lakunya Suci,
Jalannya SEMPURNA,
Tempatnya halus,
Sifatnya Syukur,
Hendaklah jangan perkataan ini diasa-asakan lagi.
Jangan pula tanyakan pada sembarang orang!
Belajarlah pada ahlinya agar bertambah IMAN di dada dan SEMPURNA ilmunya.
Wallahu'allam bissawab.

** MENGENAL RUKUN & HUKUM SOLAT **

Sholat itu ada Nyawanya,
ada Nafsunya,
ada Tulangnya,
ada Kepalanya,
ada Tangan dan Kakinya,

1. TAKBIRATUL IHRAM itu Nyawa Sholat.
Karena di dalam Takbiratul Ihram tersimpan 4 Rahasia yaitu :
1.1. Tuba’dil
1.2. Munajat
1.3. Mi’raj
1.4. Ihram
2. NIAT itu Nafsu Sholat.
Karena Niat adalah pernyataan dari pada kehendak untuk mewujudkan asal dari pada cita-cita Manusia.
3. AL-FATIHAH itu Kepala Sholat.
Karena membaca Al-Fatihah itu adalah antara Tuhan dengan hambanya, maka hendaklah ketika membaca Al-Fatihah seolah-olah jika tiada sesungguhnya, bahwa kita sedang berkata-kata langsung dengan Tuhan.
4. TUMA’NINAH itu Tubuh Sholat.
Karena tanpa Tuma’ninah di dalam Sholat itu tiada beradab maka hendaklah perangai tubuh di hadapan Tuhan yang Maha Mulia lagi Maha besar harus tertib.
5. RUKU dan SUJUD itu Tulang.
Tatkala Ruku itu di umpamakan engkau menilik kebawah Arsyil Azim, bahwa engkau tunduk dibawah kebesaran Allah SWT, maka hendaknya menilik kepada hakekat diri engkau yang suci,
Tunduk dan patuhlah sambil menyatakan puji, tatkala sudah nyata yang ditilik itu baru boleh bangkit dari Ruku,
Tatkala bangkit, di umpamakan pula menilik kepada Nubuah Rasulullah SAW, dan menilik kepada keesaan Allah SWT.
Tatkala Sujud, engkau menyatakan atas hak kepada Tuhan, bahwasanya kita fakir, dhoif, lemah dan bodoh.
Sujud juga diumpamakan tersungkur dibawah Arsyil Azim, yang menyatakan bahwa kita telah kembali dari pada semula dalam keadaan suci, saat mana didalam alam Arwah sejak hari ALASTU.
Demikian hendaknya ketika Ruku dan Sujud.
6. TAHYAT itu tangan Sholat.
Setelah bangkit dari Sujud yakni engkau duduk diantara dua sujud, di umpamakan engkau duduk tajjali berhadapan nyata dengan Tuhan.
Saat itu engkau menerima atas pernyataan keampunan, rahmat dan petunjukNya.
Duduk itu di umpamakan engkau berada di dalam Qalbu LATIFAH, Qalbu Mu’minin, di atas Baitullah.
Tatkala engkau membaca TASYAHUD yaitu dengan isyarat telunjuk kanan itulah hakekat pernyataan atas janji, sumpah dan saksi semula di dalam hari ALASTU yakni membenarkan bahwa Allah itu Tuhan yang sebenarnya,
sehingga engkau KARAM di dalam lautan Murakabah, asyik di bawah kebesaran Allah hingga diri yang pasrah itu tersungkur suci di dalam tubuh INSANUL KAMIL.
Bahwa,
Tahyat itu asal Sholat,
6.1. Puji Nabi Muhammad SAW kepada Allah Ta’ala ketika dibawah Arsyi.
6.2. Puji Allah SWT kepada diri Nabi Muhammad SAW.
6.3. Puji Malaikat didalam Arsyi dan sekalian hamba yang Latif.

7. SALAM itu Kaki Sholat.
Maka, sebelum memberi Salam ke kanan dan ke kiri hendaklah lebih dahulu tilik nyata-nyata bahwa diri yang suci itu tersungkur sunyi sejahtera, bahagia, segan rasanya hendak salam karena asyik Murakabah dengan Allah SWT,
Memberi salam itulah suatu pernyataan kepada malaikat yang di kanan dan di kiri, bahwa kita telah datang kembali dari alam Munajat kepada Allah SWT.
Demikian, sekedar fakir sampaikan “Mengenal RUKUN & HUKUM Solat”
** SOLAT DALAM ILMU HAKIKAT **
Pandangan Hakekat : Sholat bukan menyembah namun Sholat adalah berdiri menyaksikan diri sendiri yaitu bersaksi diri kita sendiri bahwa Tiada Nyata pada Diri Kita Hanya Allah yaitu Diri Batin ( Muhammad Mustaffa ) dan Diri Dzahir kita itu menanggung Rahasia Allah.
Pengertian SHOLAT HAKIKI ter-urai dalam kalimah ALHAMDU (alif–lam–ha–mim-dal) yang bermaksud SEGALA PUJI MILIK ALLAH. Inilah perkataan yang mula mula dilafazkan oleh manusia yaitu Nabi Allah Adam a.s
“ALIF” Melambangkan NIAT karena niat itu ialah mendzahirkan DIRI BATIN. Diri inilah IMAM yang kita ikuti yaitu ULIL AMRI atau pemerintah = pemimpin.
“LAM” Bila telah nyata Diri Batin, maka kita lafazkan TAKBIR RATUL IHRAM. Maka berawal dari sini bukanlah manusia yang berkehendak tetapi segala-galanya adalah digerakkan oleh Allah.
“HA” Apabila telah nyata Allah menguasai diri kita, maka kita pun rukuk menandakan kita tunduk patuh akan Kebesaran Allah dan siap menerima segala PerintahNya.
“MIM” Maka diri kita mengakui bahwa Dzat Allah itulah Tuhan Sekalian Alam yang meliputi seluruh diri kita mengwujudkan dan menghidupkan kita. Kita pun sujud menandakan rasa syukur kita.
“DAL” Satelah kita tahu Dzat telah meng-karunia-kan kepada diri kita menjadi KhalifahNya dibumi ini, maka kita pun merendah diri atas Karuniah itu (yang tidak dikaruniahkan Allah kepada makhluk lain selain manusia )
.
RINGKASAN ALHAMDU
.
ALIF = Niat
LAM = Berdiri Betul
HA = Ruku’
MIM = Sujud
DAL = Duduk Antara Dua Sujud
.
URAIAN TENTANG NIAT
Usalli, Fardhu, Rakaat, Lillah Hi Ta’ala
Usul Diri Rangka Nyata Allah
Usalli = Kita berniat untuk mengusul asal diri kita
Fardhu = Fardhu ialah Diri Yang Di-usul
Rakaat = Rangka kita ialah Jasad yang di dzahirkan
Lillah Hi Taala = Nyata Allah melalui jasad yang dzahir. Barulah dapat diusul akan Asal Usul Diri. Maka setelah diusul nyatalah Allah itu Meliputi Diri Dzahir dan Diri Batin.
Diri Dzahir tiada mempunyai daya dan upaya melainkan melakukan Af’al Allah semata-mata. Dengan KESADARAN itu maka Nyatalah Kebesaran Allah dan kita-pun TAKBIR untuk meng-ESA-kan Dzat Tuhan itu meliputi sekalian diri.
.
URAIAN TAKBIRATUL IHRAM
Allah = Sifat Napsiah = 1
Hu = Sifat Salbiah = 5
Akbar = Sifat Maani & Maknuyah = 14
Maka nyatalah ke 20 Sifat-sifat Kebesaran Allah didalam ucapan “ALLAH HU AKBAR”.
.
CARA- CARA SHOLAT HAKIKI
.
HAKEKAT SHOLAT :
Artinya berdiri menyaksikan diri sendiri, kita bersaksi dengan diri kita sendiri bahwa tiada yang nyata pada diri kita.. Hanya diri batin (Allah) dan diri dzahir kita (Muhammad) yang membawa dan menanggung rahasia Allah swt.
Hal ini terkandung dalam surat Al-Fatihah yaitu :
Alhamdu (Alif, Lam, Ha, Mim, Dal)
Kalimah Alhamdu ini diterima ketika Rasulullah isra’ dan mi’raj.
Mengambil pengertian akan hakekat manusia pertama yang diciptakan Allah swt yaitu Adam as.
Takkala Roh (diri batin) Adam as. sampai ketahap dada, Adam as pun bersin dan berkata Alhamdulillah = Segala puji bagi Allah
Apa yang dipuji adalah : Dzat (Allah), Sifat (Muhammad), Asma’(Adam) dan Afa’al (Manusia)
Jadi sholat itu bukan berarti : Menyembah tapi suatu “cara” penyaksian diri sendiri dan sesungguhnya tiada diri kita melainkan diri Allah semata.
Kita menyaksikan bahwa diri kitalah yang membawa dan menanggung rahasia Allah swt. Dan tiada sesuatu pada diri kita hanya rahasia Allah semata serta..tiada sesuatu yang kita punya kecuali Hak Allah semata.
Sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Ahzab : 72
“Inna ‘aradnal amanata ‘alas samawati wal ardi wal jibal. Fa abaina anyah milnaha wa’asfakna minha wahamalahal insanu”
Artinya :
“Sesungguhnya kami telah menawarkan suatu amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung tapi mereka enggan menerimannya (memikulnya) karena merasa tidak akan sanggup, lantas hanya manusia yang sanggup menerimanya”
Dan karena firman Allah inilah kita mengucap :
“Asyhaduanlla Ilaaha Illallah Wa Asyahadu Anna Muhammadar Rasulullah”
.
“Kita bersaksi dengan diri kita sendiri bahwa tiada yang nyata pada diri kita sendiri hanya Allah semata-mata dengan tubuh dzahir kita sebagai tempat menanggung rahasia Allah dan akan menjaganya sampai pada masa yang telah ditentukan.”
Manusia akan berguna disisi Allah jika dapat menjaga amanah Rahasia Allah dan berusaha mengenal dirinya sendiri. Bila manusia dapat mengenal dirinya maka dengan sendirinya ia dapat mengenal Allah.
.
Hadits Qudsi….
“MAN ARAFA NAFSAHU FAKAD ARAFA RABBAHU”
“Barang siapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Allah Tuhannya”
.
Perkataan pertama dalam sembahyang itu adalah : Allahu Akbar (Allah Maha Besar)
Perkataan ini diambil dari asal ketika Roh diri Rahasia Allah itu dimasukkan kedalam tubuh Adam as. Kemudian Adam berusaha berdiri sambil menyaksikan keindahan tubuhnya dan berkata : Allahu Akbar (Allah Maha Besar).
Dalam Sholat harus memenuhi 3 syarat :
a. Fiqli (perbuatan)
b. Qauli (bacaan)
c. Qalbi (Hati atau roh atau qalbu).
.
Mengapa kita Sholat sehari-semalam 17 rakaat… ?
.
Pengertiannya sebagai berikut :
Hawa, Adam, Muhammad, Allah dan Ah .
1. AH itu menandakan sholat subuh,”2”= Dzat dan Sifat
2. ALLAH itu menandakan sholat Zohor, “4” = Wujud, Alam, Nur dan Syahadah.
3. MUHAMMAD itu menandakan sholat Ashar “4” = Tanah, Air, Api dan Angin.
4. ADAM itu menandakan sholat Magrib, “3” = Ahda, Wahda, dan Wahdiah.
5. HAWA itu menandakan sholat Isya ,“4” = Mani, Manikam, Madi, dan Di.
.
Mengapa kita mengucapkan 2 kalimah Syahadat 9X dalam 5 waktu Sholat .. ?
.
Sebab diri batin manusia mempunyai 9 wajah.
Dua kalimah syahadat pada :
Sholat SUBUH 1X itu memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat SIR USIR (Rahasia di dalam Rahasia)
Sholat ZOHOR 2X memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat SIR dan AHDAH
Sholat ASHAR 2X memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat WAHDA dan WAHDIAH
Sholat MAGHRIB 2X memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat AHAD dan MUHAMMAD
Sholat ISYA 2X memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat MUSTAFA dan MUHAMMAD
.
Mengapa kita harus berniat dalam Sholat… ?
.
Karena= Niat itu merupakan kepala sembahyang.
Hakekat niat letaknya pada martabat “Alif” dan kalbu manusia di dalam sholat itu kita lafazkan di dalam hati :
Niat Sholat : “Aku hendak Sholat menyaksikan diriku karena Allah semata-mata.”
Dalilnya :
“LA SHOLATAN ILLA BI HUDURIL QALBI”
Artinya : Tidak Sah Sholat-Nya Kalau Tidak Hadir Hatinya (Qalbunya)
“LAYASUL SHOLAT ILLA BIN MA’RIFATULLAH”
Artinya : Tidak sah Sholat Tanpa Mengenal Allah
“WAKALBUL MU’MININ BAITULLAH”
Artinya : Jiwa Orang Mu’min Itu Rumahnya Allah
“WANAHNU AKRABI MIN HABIL WARIZ”
Artinya : Aku (Allah) Lebih Dekat Dari Urat Nadi Lehermu
“IN NAMAS SHOLATU TAMAS KUNU TAWADU’U”
Artinya : Hubungan Antara Manusia Dengan Tuhannya Adalah Cinta. Cintailah Allah Yang Karena Allah Engkau Hidup Dan Kepada Allah Engkau Kembali.
“AQIMIS SHOLATA LI ZIKRI”
Artinya : Dirikan Solat Untuk Mengingat Allah (QS. Taha : 145)
.
Sedangkan :
Al-Fatihah ialah merupakan tubuh sembahyang
Tahayat ialah merupakan hati sembahyang
Salam ialah merupakan kaki tangan sembahyang.
.
HAKEKAT AL-FATIHAH DALAM SHOLAT
Membersihkan hati dari pada syirik kepada Allah swt
Mengingat kita bahwa tubuh manusia itu mempunyai 7 lapis susunan jasad yaitu :
1. Bulu
2. Kulit
3. Daging
4. Darah
5. Tulang
6. Lemak
7. Lendir
.
7 ayat dalam Al-Fatihah merupakan tawaf 7 kali keliling Ka’abah.
.
HAKEKAT ALLAHU AKBAR DALAM SHOLAT :
.
“Mengambil makna ucapan Nabi Adam as. Ketika berdiri menyaksikan dirinya sendiri dan Nabi Adam as, mengucap kalimah Allahu Akbar”
Peristiwa ini merupakan tajjali (perpindahan) diri rahasia Allah sehingga dapat di tanggung oleh manusia dengan 4 perkara yaitu :
1. Wujud
2. Ilmu
3. Nur
4. Syahadah
Perkataan Allah pada Allahu Akbar mengandungi makna atau martabat dzat sedangkan perkataan “Akbar” pada Allahu Akbar mengandungi makna atau martabat sifat.
Jadi Dzat dan Sifat itu tidak boleh berpisah. Dzat dan Sifat sama-sama saling puji memuji.
.
DALAM SHOLAT ITU JUGA MENGANDUNGI HAKEKAT ZAKAT.
.
Hakekat zakat dalam sholat ialah :
Mengandungi makna“Pembersih hati“ daripada syirik kepada Allah SWT.
“iiya Kanak Budu Wa iiya Kanasta’in”
Hanya kepada Allah lah aku menyembah dan hanya kepada Allah lah aku mohon pertolongan.
.
HAKEKAT PUASA DALAM SHOLAT :
.
a. Tidak Boleh Makan Dan Minum
b. Mata Berpuasa
c. Telinga Berpuasa
d. Kulit Berpuasa
e. Hati Berpuasa.
.
SHOLAT HAKIKI
.
Sesungguhnya Sholat itu ada 4 jenis yaitu :-
1 Sholat Syariat
2 Sholat Tharikat
3 Sholat Hakikat
4 Sholat Makrifat
ke 4 jenis Sholat diatas berkaitan antara satu dengan yang lainya.
Firman Allah swt :
“Inna sholati kaanat ala mukminina kitabin mauquta”
Sesungguhnya sholat itu adalah WAJIB bagi orang orang yang beriman.
Hadist Nabi :
“Assholatu imanuddin”
Sholat itu tiang agama.

Minggu, 16 Juni 2019

Matilah Sebelum Engkau Mati

Nasihat dari Maulana Rumi ra.
[Mengenai sabda Rasulullah SAW, ‘Matilah sebelum
engkau mati:’ “Wahai sahabat, matilah sebelum
engkau mati, jika yang paling engkau kehendaki
adalah hidup; karena dengan mati seperti itu Idris a.s.
menjadi seorang penghuni al-Jannah terlebih dahulu
daripada kita semua.”]
Maulana Rumi
Engkau telah banyak menderita,
tetapi engkau masih tetap terhijab, karena
kematian itu suatu pokok yang mendasar, dan
engkau belum mencapainya.
Deritamu tidak akan berakhir sampai engkau mati:
engkau tidak dapat menjangkau atap tanpa
menyelesaikan tangga panjatan.
Walau hanya tersisa dua buah dari seratus anak-tangga,
sang pemanjat yang telah keras berjuang tetap
saja terhalang dari menjejakkan kaki di atas atap.
Walau tambang hanya kurang satu dari seratus depa,
bagaimanakah caranya air-sumur masuk ke dalam timba.
Wahai pejalan, tidak akan pernah engkau mengalami
kehancuran kapal keberadaan-diri ini, sampai
engkau meletakkan pemberat terakhir.
Ketahuilah pemberat terakhir itu sangatlah pokok,
ia bagaikan bintang yang menembus, yang muncul pada
malam hari: ia menghancurkan kapal yang penuh
ide-jahat dan kesalahan ini.
Kapal bangga-diri ini, ketika ia sepenuhnya hancur,
menjadi matahari di tengah lengkung biru al-Jannah.
Selama engkau belum mati, deritamu akan terus berkepanjangan:
engkau akan dipadamkan manakala fajar merekah,
wahai lilin dari Thiraz!
Ketahuilah, Matahari dari alam ini tetap tersembunyi
sampai bintang-bintang kita tertutup.
Gunakanlah tongkat itu kepada dirimu-sendiri:
hancurkanlah cinta-dirimu, karena mata jasmaniah ini
bagaikan sumbat pada pendengaranmu.
Engkau tengah menggunakan tongkat itu kepada dirimu-sendiri,
wahai manusia rendah: cinta-diri ini adalah bayangan dari
dirimu-sendiri dalam cermin dari tindakan-tindakan-Ku
Engkau telah melihat bayangan dari dirimu-sendiri dalam
cermin dari bentuk-Ku, dan telah meradang,
ingin menempur dirimu-sendiri,
Bagaikan singa yang terjun ke dalam sumur;
karena menyangka bayangan dirinya-sendiri adalah musuhnya.
Tidak diragukan lagi, ketiadaan (‘adam) adalah lawan
dari keberadaan (wujud), maksudnya adalah agar dari
lawannya ini, engkau memperoleh sedikit pengetahuan
tentang yang sebaliknya.
Pada saat ini tidak ada sarana yang menyebabkan diketahuinya
Tuhan, kecuali dengan penyangkalan kebalikan:
dalam kehidupan kini tiada saat yang tanpa jebakan.
Wahai pemilik kesejatian,
jika engkau menginginkan ketersingkapan-hijab al-Haqq,
pilihlah kematian dan robeklah hijab.
Bukanlah ini kematian yang kemudian membawamu
ke dalam kubur, melainkan suatu kematian berupa
transformasi jiwa, sehingga ia akan membawamu ke dalam
suatu Cahaya.
Ketika seseorang beranjak dewasa, masa kanak-kanaknya mati;
ketika dia tumbuh putih seperti orang Yunani,
ia menanggalkan celupan hitamnya yang bagaikan orang Afrika.
Ketika bumi menjadi emas, tiada tertinggal unsur kebumiannya;
ketika sedih menjadi gembira, duri kesedihan tiada tersisa.
Karenanya, Sang Mustafa bersabda: “Wahai pencari
rahasia-rahasia, jika engkau hendak melihat orang mati yang hidup,
Yang berjalan-jalan di atas bumi, seperti orang yang masih hidup,
namun dia telah mati dan jiwanya telah pergi ke al-Jannah;
Orang yang jiwanya memiliki tempat-tinggal yang tinggi saat ini,
ketika ajalnya tiba, tidaklah jiwanya dipindahkan.
Karena dia telah dipindahkan sebelum mati:
rahasia ini hanya dimengerti dengan mengalami kematian,
bukannya dengan menggunakan nalar seseorang;
Tetaplah itu sebuah pemindahan, tetapi tidak sama
dengan pemindahan jiwa-jiwa dari mereka yang rendah:
itu mirip dengan suatu perpindahan dalam hidup ini,
dari suatu tempat ke tempat lain.
Jika ada yang ingin melihat seseorang yang telah mati,
tapi masih tampak berjalan di bumi,
Biarkanlah dia memperhatikan Abu Bakar,
sang shalih, yang dengan menjadi seorang saksi yang shiddiq,
menjadi Pangeran Kebangkitan.
Dalam hidup kebumian kini, tataplah sang shiddiq,
sehingga lebih yakin lagi engkau percaya kepada Kebangkitan.”
Karena itulah, Muhammad merupakan seratus kebangkitan jiwa,
di sini dan kini; sebab terlarutkan dia dalam kematian,
dari kehilangan dan keterikatan sementara.
Ahmad itu lahir dua-kali di alam ini:
dia memanifestasi dalam seratus kebangkitan.
Mereka bertanya kepadanya mengenai Kebangkitan:
“Wahai (engkau yang adalah) Sang Kebangkitan,
berapa jauhkah jalan menuju Kebangkitan?”
Dan sering dia akan berkata, dengan kefasihan bisu:
“Adakah seseorang menanyakan (kepadaku, yang adalah)
Sang Kebangkitan, mengenai Kebangkitan?”
Oleh karenanya, Sang Rasul yang membawa kabar-kabar gembira
berkata, dengan penuh-makna: “Matilah sebelum engkau mati,
wahai jiwa-jiwa mulia,
Seperti aku telah mati sebelum mati,
dan membawa dari Sana kemasyhuran dan keterkenalan ini.”
Sebab itu, jadilah kebangkitan dan, dengan demikian,
lihatlah kebangkitan: menjadi kebangkitan adalah syarat
yang diperlukan agar dapat melihat segala sesuatu
sebagaimana adanya.
Sampai engkau menjadi hal itu,
tidaklah akan engkau ketahui dengan sempurna,
apakah hal itu terang atau gelap.
Jika engkau menjadi ‘Aql,
engkau akan mengetahui ‘Aql dengan sempurna; jika
engkau menjadi Cinta, akan engkau ketahui nyala sumbu Cinta.
Akan aku nyatakan dengan jelas bukti dari pernyataan ini,
jika ada pengertian yang tepat untuk menerimanya.
Buah-ara mudah diperoleh di sekitar sini,
jika ada burung pemakan buah-ara yang mau bertamu.
Semuanya saja, lelaki ataupun perempuan, di seluruh alam,
tiada hentinya dalam sekarat, dan tengah mati.
Anggaplah kata-kata mereka sebagai wasiat kepada anaknya,
yang disampaikan seorang ayah pada saat seperti itu.
Sehingga dengan demikian, semoga tumbuh
di hatimu pertimbangan dan belas-kasih,
supaya akar kebencian dan kecemburuan dan permusuhan
dapat tercabut.
Pandanglah sesamamu dengan cara demikian,
sehingga terbakarlah hatimu dengan belas-kasih,
bagi sekaratnya.
“Semua yang mesti datang, akan datang:”
anggaplah dia sudah datang di sini dan kini,
anggaplah sahabatmu sedang sekarat dan tengah mati.
Dan jika kehendak-kehendak yang mementingkan diri-sendiri
menghalangimu dari pandangan seperti ini,
buanglah kehendak seperti ini dari dadamu;
Dan jika engkau tidak-mampu, janganlah
terus berdiam-diri dalam keadaan tidak-mampu itu:
ketahuilah bersama dengan setiap ketidak-mampuan terdapat
Yang-Membuat-tidak-mampu.
Ketidak-mampuan itu adalah sebuah belenggu:
Dia mengikatmu dengannya, engkau harus membuka
matamu untuk menatap Dia yang mengikatkan belenggu.
Karenanya, bermohonlah dengan rendah-hati, katakanlah:
“Wahai Sang Pemandu kehidupan, sebelumnya aku merdeka,
dan kini aku terjatuh dalam keterikatan;
gerangan apakah sebabnya?
Telah lebih keras dari sebelumnya kuinjak-injakan kakiku
pada kejahatan, karena Engkaulah Sang Maha Kuasa,
dan aku senantiasa berada dalam kerugian.
Selama ini aku tuli kepada seruan-Mu:
seraya mengaku-aku diri seorang penghancur berhala,
padahal sesungguhnya aku adalah seorang pembuat berhala.
Apakah lebih pantas bagiku merenungkan tentang
karya-karya-Mu atau tentang kematian?
(Tentang kematian): Kematian itu bagaikan musim-gugur, dan
Engkau adalah (akar yang merupakan) sumber dari dedaunan.”
Telah bertahun lamanya, kematian ini memukul-mukul
genderangnya, (tetapi hanya ketika) telah terlambat telingamu
tergerak mendengarkan.
Dalam kesakitannya (manusia yang lalai) menjerit dari kedalaman
jiwanya: “Wahai, aku tengah sekarat!” Apakah baru sekarang ini
Kematian membuatmu sadar akan kehadirannya?
Tenggorokan kematian serak karena teriakan-teriakannya;
genderangnya robek karena kerasnya pukulan-pukulan
yang diterimanya.
Tetapi engkau menghancurkan dirimu-sendiri dalam
remeh-temeh: baru kini engkau menangkap rahasia kematian.