Laman

Rabu, 22 Desember 2021

HAKIKAT MAKSUD DISEBALIK ADAM"

 Allah Hu.


Bismillah


"HAKIKAT MAKSUD DISEBALIK ADAM"


Adam Bermaksud Allah dan Manusia tidak bercerai (Allah dan Muhammad tidak bercerai) 

Allah ada Zahir dan ada pula batiNya, sebab itu Al-Qu'ran Menerangkan "Huwal Awwalu, Wal Akhiru, Wazzohiru dan Wal Batinu" 

Sementara Manusia ada juga Zahir dan Batinnya, akan tetapi Zahir Batin Allah tidak sama dengan Zahir dan Batin Manusia, 

sebab itu di katakan bahwa Zahir Manusia adalah Jasmani dan Batin Manusia ialah Rohani,

Rohani Memiliki Kuasa Roh Artinya Kudrat,

Rohani Memiliki Kuasa Berkehendak Artinya Iradat,


Rohani Memiliki Daya Fikir, Artinya ia Memiliki Kuasa Ilmu (akal) dan Rohani Memiliki Kuasa Hidup Artinya Sifat Hayat, Adapun Sifat Roh, Akal dan Nafsu ini adalah Bertaraf Rohanian Sementara Sifat Hayat ini bertaraf berkeadaan Dzat yang bertaraf Man Rohani ataupun Kerohanian sama ada ia bertaraf Dzat ataupun Rohanian ia tetap Man yang di jadikan Artinya mereka bukannya Tuhan ataupun sebagian daripada Tuhan atau penjelmaan daripada Tuhan, mereka inilah letaknya Rahasia beserta dengan Tuhan.


Artinya di mana juga kita berada maka di situlah ada Tuhan, dan kita hendaklah ingat kita dengan Tuhan bukan bermaksud bersekutu !

Tuhan dengan Rohani tidak bercerai, ini berarti jika Asal Kejadian ADAM pada Awal Allah hendak menyempurnakan kejadiannya maka Allah tiupkan Rohani yang beserta dengan Tuhan itu kedalam Jasad Adam, maka Adam pun menjadilah sebagai seorang Manusia, setelah itu barulah Allah menyuruh Malaikat Sujud pada ADAM, mengapa Allah suruh Malaikat Sujud pada ADAM. Karena beserta ADAM ialah Allah, Artinya Ke-Esaan Allah, 

maka itulah Rahasia di antara Sifat.


QAHAR DAN SIFAT KAMAL 

di dalam Ilmu Akidah Sifat 20 Maksud 

Qalbun dan Qalbi dalam Islam, Imam selalu membacakan do'a dengan menyentuh perkataan Qalbun dan juga Qalbi, ada di antara orang Islam mentafsirkan Qalbun dan Qalbi ini dengan istilah hati, ini karena Doa tersebut berbunyi :

ALLAHUMMAS SAWABA QALBUN QALBI BI NUURIKAL AZIM ABADAN ABADA BIRAHMATIKA YA ARHAMARRAHIMIN"

(Wahai Tuhanku berikanlah qalbun dan qalbiku senantiasa bercahaya dengan kekal buat selama-lamanya)


Demikian lebih kurang maksud Doa tersebut, Yaitu Manusia mengharapkan Qalbun dan Qalbi itu sentiasa bercahaya, artinya dua hatinya bercahaya, walaupun setiap Manusia hanya ada satu hati, Dalam ilmu Kerohanian Qalbun dan Qalbi itu bermaksud dua mata hati bukannya dua hati, Allah SWT jadikan Manusia ini terdiri dari dua unsur, Yaitu unsur Jasmani dan Unsur Rohani,

Unsur Jasmani di cipta oleh Allah mengikut fitrah hanya dari sumber tanah di Syurga Khuldi Yaitu Penciptaan ADAM, Sementara Unsur Rohani dijadikan oleh Allah daripadaNya disuatu Alam, Yaitu Alam Ulwi sebelum Allah jadikan Makhluk-Makhluknya yang lain, ini berarti Manusia.


Batinlah yang Allah ciptakan terlebih dahulu, Mengikut Ilmu Kerohanian juga bahwa Manusia Jasmani Allah karuniakan dua biji mata, Yaitu mata yang kita dapat lihat dan yang kita semua maklum, mata ini dapat melihat Alam yang Nyata saja, dia tidak boleh melihat Alam yang Ghaib, sementara Rohani juga Allah karuniakan dengan dua biji mata Yaitu Qalbun dan juga Qalbi, dua mata inilah yang menjadi focus kita sekarang yang tidak ramai orang yang memahaminya karena ia berada pada Roh, bukan pada Akal dan juga Nafsu Yaitu komponen Ruhul Yaqazah, 

Adapun Qalbun ini ialah mata hati yang memandang dunia dan seluruh isinya serta memandang kepada Allah, maksudnya mata yang wajib baginya mengenal dunia tempat mereka berlakon (beribadat) selaku Khalifah 

di bumi sementara Ta'arif yang lain ialah memandang kepada Allah.


Yaitu Mengenal DzatNya, AsmaNya, SifatNya dan juga Af'alNya, dengan lain perkataan ialah Mengenal Tuhannya, itulah tugas Mata hati ini, ini berarti jika seseorang tidak mengenal pentas mereka beribadat sebagai Khalifah dan juga Mengenal Tuhan-Nya maka kehidupan mereka samalah seperti Hewan.


Sementara Qalbi ialah mata hati yang memandang kepada Allah dan juga Akhirat, Artinya Mengenal Tuhan dan kerja Tuhan yang meliputi seluruh Alam, di samping itu Mengenal Akhirat, ini berarti kedua mata hati ini akan memandang menyeluruh dunia dan akhirat, sebab itu kita apabila berdoa yang bermaksud :


"Wahai TuhanKu berikanlah aku satu kesenangan dunia dan satu kesenangan akhirat" ini berarti jika kita mampu menyebut Dunia dan Akhirat maka kita juga mampu melihat serta mengenalnya, dan sebab itulah juga apabila kita bersembahyang maka hukum Qalbi itu tersangat penting karena ia menjurus kepada penumpuan kita memakrifatkan yang ghaib.

Sabtu, 18 Desember 2021

Mengenal Diri

 Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

"MAN ARAFA NAFSAHU FAQOD ARAFA ROBBAHU"

~> Barang siapa mengenal Dirinya niscaya akan mengenal Tuhannya"

Maksudnya ialah Man ini adlh bertaraf makhluk, namun apabila ia sdh mengenal dirinya NAFSAHU(Manusia) mk barulah ia mengenal Tuhannya yg bernama ROBBAHU, yaitu Tuhan yg bertaraf Laisa Kamislihi Sai'un (yg tdk serupa dan menyerupai apapun).

Maksudnya lagi ialah Man ini jika kita bawa pd pengertian NAFSAHU mk ia akan membawah kpd manusia yg "Laisa Kamislihi Sai'un" yaitu manusia(diri) yg bathin atau INSAN atau Diri sebenar Diri yg bertaraf Nyawa atau Nafas.


Mengenal Diri itu adlh mengetahui asal mula Nabi Adam as sebagai Bapak dari segala Tubuh Adam Abu Basar.

Asalnya Nabi Allah, Adam itu nasarnya dari Tanah, Air Angin dan Api, mk turunlah kpd kita. 

Tanah itu~>Tubuh kita

Air itu~>Rasa kita

Angin itu~>Nafas kita

Api itu~>Darah kita. 


Semua itu menyatu menjadi sebagai satu kesatuan yg tdk terpisahkan, tdk bercerai. Mk dari itulah kita ketahui arti namanya Mengenal Diri. 

*Kejadiannya tanah bernama Syariat~> Tubuh pd kita

*Kejadiannya Angin bernama Tariqat~> Laku pd kita

*Kejadiannya Api bernama Haqiqat~> Hati pd kita

*Kejadiannya Air bernama Ma'rifat~> Rasa pd kita. 

Itulah namanya Mengenal Diri. 


Syariat ~> kaki

Tariqat ~> tangan

Haqiqat ~> tubuh

Ma'rifat ~> kapala


Semua itu menyatu sebagai satu kesatuan  yg tdk terpisahkan, tdk bercerai. 

Mk dari itulah kita ketahui arti namanya Mengenal Diri jalan mengenal ALLAH...


Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu Syariat dari urusan(Agama) itu mk ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang2 yg tdk mengetahui. (QS Jatsiyah 018)

Wallahu a'lam. 

Wassalam,

Minggu, 12 Desember 2021

SYAHADAT

Assalamualaikum...
Syahadat Itu Saksinya ialah Seorang Penyaksi, Yang Menyaksikan Kepada Siapa Dia Bersaksi
Sejauh Mana Maqam Kesaksian kita Kepada Allah dan Rasul-Nya,
Sedalam Itu Pula Mata Hati kita Menyaksikan Kehadiran Allah dan Rasul-Nya Di dalam Kedalaman Diri kita
Jadi , Syahadat itu Merupakan Pengakuan drp Sebuah Penyaksian. Penyaksian Atas Kehadiran Allah dan Rasul-nya
Syahadat Merupakan Iman Tertinggi drp Tingkat Iman.
Iman Yang Telah Menempatkan si Penyaksi ke tingkat Isbatul Yakin.
Syarat orang yg membaca Syahadat harus memenuhi Tiga ( 3 ) perkara 
 
1. NUR HIDAYAH
Sesiapa yang mendapat nur hidayah , ia akan dijaga drp sifat musyrik dan perilaku syirik.
2. NUR 'INAYAH
Sesiapa yang mendapat nur 'inayah maka ia akan dijaga drp dosa besar.
3. NUR KIFAYAH,
Sesiapa mendapat nur kifayah maka ia akan dijaga drp bersitat hati yang kotor dan jelek
 
SYAHADAT MUTAAWWILAH
Ertinya Syahadat Yang Pertama, Syahadatnya Allah itu Sendiri
"Innanii Anallahu Laa ilaaha Illa Ana"
(Sesungguhnya Aku inilah Allah, tidak ada tuhan hanya Aku sahaja ).
(Qs Thoha 14
 
SYAHADAT MUTAWASHITOH
Ertinya Syahadat Yang Tengah-Tengah, Seperti Syahadatnya Malaikat, Para Nabi dan Rasul dan Para Mukmin Semua ...... Ucapan Org Nur
iaitu :
"Asyahadu An Laa Ilaha Illallah"
"Syahidallahu Annahu Laa ilaaha illa Huwa Wal Malaikatu Wa Ulul 'Ilmi"
(QS Al Imron 18).
 
SYAHADAT MUTAAKHIRAH Ertinya Syahadat Yang Terakhir , Seperti Syahadatnya Org Islam Awam Semua .... Org-Org yg tdk ada Nur ,
Aqulu An Laa ilaha illa Allah
Wa Aqulu Anna Muhammadar Rasulullah
Ada yang bertanya -> Laa ilaha illa Allah Muhammadur Rasul Allah.
Itu termasuk golongan Syahadat Mutaswashitoh atau Syahadat Umum ?
"Laa Ilaaha Illa Allah Muhammadur Rasul Allah".
adalah termasuk Syahadat Mutaakhirah
Namun erti dan maknanya memiliki Empat
"SYARIAT, THARIKAT, HAKIKAT, MA'RIFAT.
"Asyahadu an laa ilaaha illa Allah"
Ini Merupakan Syahadat Tauhid atau Hakikat Ketuhanan iaitu diri bathin Manusia ( Rohani )
"Wa-Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah"
Ini Merupakan Syahadat Rasul atau Hakikat Kerasulan iaitu Diri zahir Manusia. (Jasmani).
Diri Bathin ( rohani ) Adalah Sebenar-Benarnya Diri Yang Menyatakan Rahasia Allah.
Untuk Menyatakan Diri Rahasia Allah Adalah Diri zahir Manusia.
Sedangkan Kata Muhammad Pada Syahadat Rasul Mengandung erti aitu Diri zahir Manusia Yang Menanggung Rahasia Allah.
"Kejadian Manusia Adalah Satu-Satunya Kejadian Yang Paling Rapi. (QS. Attin-
"Kemuliaan Manusia Karena Manusialah Yang Sanggup Menanggung Rahasia Allah" (Q.S. Al-Ahzab 72).
 
Dan karena firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat : 72 ( menanggung amanah ) inilah kita Mengucapkan Syahadat Tahkik :
"Asyahadu An Laa Ilaaha Illa Allah Wa Asyahadu Anna Muhammadar Rasulullah"
Ertinya
Aku bersaksi dengan Diri aku sendiri bahwa Tiada yang Nyata pada Diri aku ini hanya Allah Semata-mata dengan Tubuh Dzahir aku sebagai tempat menanggung Rahasia Allah dan aku akan menjaganya buat selama-lamanya
 
Mengapa Kita Mengucap Dua Kalimah Syahadat 9 kali dalam 5 Waktu Sembahyang Sholat ?
Sebab Diri Bathin Manusia Mempunyai 9 Wajah.
wal arda hanifam wama ana min-al-mushrikin.
" Ilmu tentang wajah-wajah akan terbuka ketika telah menguasai Ilmu tentang Nafas, Anfas, Tanafas dan Nufus, setelah melewati beberapa tahapan, misalnya dengan Nafas Ar-Rahman dan Wajah Ar-Rahman.

 

Sabtu, 11 Desember 2021

R I Y A


Assalamu alaikum.wr.wb.


                    (   RIYA  )

                      ------------

           Bismillah


وَالْمُرَائُ بِهِ كَثِيْرٌ وَتَجْمَعُهُ خَمْسَةُ أَقْسَامٍ وَهِيَ الْقِسْمُ الْأَوَّلُ الرِّيَاءُ فِى الدِّيْنِ بِالْبَدَنِ: وَذَلِكَ بِإِظْهَارِ النُّحُوْلِ وَالصَّفَارِ لِيُوْهَمَ بِذَلِكَ شِدَّةَ الْاِجْتِهَادِ وَعَظُمَ الْحُزْنِ عَلَى أَمْرِ الدِّيْنِ وَغَلَبَةِ خَوْفِ الآخِرَةِ، فَأَمَّا أَهْلُ الدُّنْيَا فَيُرَاؤُوْنَ بِإِظْهَارِ السِّمَنِ وَصَفَاءِ اللَّوْنِ وَاعْتِدَالِ الْقَامَةِ وَحُسْنِ الْوَجْهِ وَنَظَافَةِ الْبَدَنِ وَقُوَّةِ الْأَعْضَاءِ وَتَنَاسُبِهَا، الثَّانِى الرِّيَاءُ بِالْهَيْئَةِ وَالزِّيِّ: أَمَّا الْهَيْئَةُ فَبِتَشْعِيْثِ شَعْرِ الرَّأْسِ وَحَلْقِ الشَّارِبِ وَإِطْرَاقِ الرَّأْسِ فِى الْمَشِيِّ وَالْهُدُوْءِ فِى الْحَرَكَةِ وَإِبْقَاءِ أَثَرِ السُّجُوْدِ عَلَى الْوَجْهِ، وَالْمُرَاؤُوْنَ بِالزِّيِّ عَلَى طَبَقَاتٍ: فَمِنْهُمْ مَنْ يَطْلُبُ الْمَنْزِلَةَ عِنْدَ أَهْلِ الصَّلَاحِ بِإِظْهَارِ الزُّهْدِ فَيَلْبِسُ الثِّيَابَ الْمُخْرِقَةَ الْوَسَخَةَ الْقَصِيْرَةَ الْغَلِيْظَةَ لِيُرَائِيَ بِغَلَظِهَا وَوَسَخِهَا وَقَصْرِهَا وَتَخَرُّقِهَا أَنَّهُ غَيْرُ مُكْتَرِثٍ بِالدُّنْيَا، الثَّالِثُ الرِّيَاءُ بِالْقَوْلِ: وَرِيَاءُ أَهْلِ الدِّيْنِ بِالْوَعْظِ وَالتَّذْكِيْرِ وَالنُّطْقِ بِالْحِكْمَةِ وَحِفْظِ اْلأَخْبَارِ وَالآثَارِ، وَأَمَّا أَهْلُ الدُّنْيَا فَمُراَءَاتُهُمْ بِالْقَوْلِ بِحِفْظِ الْأَشْعَارِ وَالْأَمْثَالِ والتَّفَاصُحِ فِى الْعِبَارَاتِ وَحِفْظِ النَّحْوِ الْغَرِيْبِ لِلْإِغْرَابِ عَلَى أَهْلِ الْفَضْلِ وَإِظْهَارِ التَّوَدُّدِ إِلَى النَّاسِ لِاسْتِمَالَةِ الْقُلُوْبِ، الرَّابِعُ الرِّياَءُ بِالْعَمَلِ: كَمُرَاءَاةِ الْمُصَلِّى بِطُوْلِ الْقِيَامِ وَمَدِّ الظَّهْرِ وَطُوْلِ السُّجُوْدِ وَالرُّكُوْعِ وَإِطْرَاقِ الرَّأْسِ، وَأَمَّا أَهْلُ الدُّنْيَا فَمُرَاءَاتُهُمْ بِالتَّبَخْتُرِ وَالْإِخْتِيَالِ وَتَحْرِيْكِ الْيَدَيْنِ وَتَقْرِيْبِ الْخَطَا وَالْأَخْذِ بِأَطْرَافِ الذَّيْلِ وَإِدَارَةِ الْعَطْفَيْنِ لِيَدُلُّوْا بِذَالِكَ عَلَى الْجَاهِ وَالْخَشَمَةِ، الْخَامِسُ: الْمُرَاءَاةُ بِالْأَصْحَابِ وَالزَّائِرِيْنَ وَالْمُخَالَطِيْنَ كَالَّذِيْ يَتَكَلَّفُ أَنْ يَسْتَزِيْرَ عَالِمًا مِنَ الْعُلَمَاءِ لِيُقَالَ إِنَّ فُلَانًا قَدْ زَارَ فُلَانًا، 

(احياء علوم الدين، ج 3، ص: ٢٦٣-٢٦٤).


Riya’ (pamer) banyak sekali macamnya dan dikelompokkan menjadi lima bagian:


الْأَوَّلُ الرِّيَاءُ فِى الدِّيْنِ بِالْبَدَنِ


Riya’ dalam masalah agama dengan badannya, yaitu dengan memperlihatkan kurusnya badan dan pucatnya wajah agar orang tersebut disangka sebagai orang yang sangat bersungguh2 dalam beribadah dan sangat prihatin atas perkara agama dan sangat takut kepada akhirat.

Adapun ahli dunia maka dia memamerkan dengan menampakkan kegemukannya, bersihnya kulit, tegak bentuk tubuhnya, ketampanan wajahnya, bersih dan kuatnya anggota badan, dsb.


الثَّانِى الرِّيَاءُ بِالْهَيْئَةِ وَالزِّيِّ


Riya’ dengan keadaaan tubuh dan penampilan. Adapun riya dengan keadaan tubuh adalah kumalnya rambut, memotong kumis, menundukkan kepala ketika berjalan, pelan2 dalam bergerak dan menetapkan bekasnya sujud pada kening.

Sedangkan riya’ dengan penampilan adalah orang yang mendapatkan kedudukan menurut ahli shalah (ahli kebaikan) dengan menampakkan kezuhudannya dengan menggunakan pakaian kotor, pendek, kasar kainnya supaya terlihat jelek, kumuh, pendek, dengan pakaian tersebut sesungguhnya dia ndak termasuk orang yang susah di dunia.


الثَّالِثُ الرِّيَاءُ بِالْقَوْلِ


Riya’ dengan ucapan. Riya’ ahli agama adalah dengan petuah, memberi nasihat, ucapan yang bijaksana, menjaga Hadits Nabi dan atsar sahabat Nabi. 

Adapun riya’ ahli dunia adalah dengan ucapan, yaitu dengan menghafal syair-syair serta pribahasa, fasih dalam mengucapkan kalimat, menjaga kaidah bahasa yang aneh.

Bagi orang yang memiliki keutamaan menampakkan Rasa senang pada manusia supaya mendapatkan simpati


الرَّابِعُ الرِّياَءُ بِالْعَمَلِ


Riya’ dengan perbuatan, seperti riya’nya orang yang sholat dengan memperpanjang berdiri ketika sholat, menegakkan punggung, memanjangkan sujud dan ruku’ dan menundukkan kepala. Adapun ahli dunia, riya’nya dengan sombong, menghayal, menggerak2kan kedua tangan, memperpendek langkah kaki, mengambil sesuatu dengan saputangan, mencari simpati supaya memperoleh jabatan dan nama baik


الْخَامِسُ: الْمُرَاءَاةُ بِالْأَصْحَابِ وَالزَّائِرِيْنَ وَالْمُخَالَطِيْنَ


Riya’ dengan banyaknya sahabat, orang yang berkunjung, teman sejawat, seperti orang yang mempertajam ucapan dengan tujuan supaya para ‘Ulama’ mendatanginya sehingga dia mengatakan sesungguhnya ‘Ulama’ ini telah mendatangi seseorang,....wallahu a,lam bishawaf..... Wassalam


Dalam kitab ihya ulumuddin..juz 3 .hal 263/264

ALLAH MAHA MELIPUTI

 "ALLAH MAHA MELIPUTI"


Soudaraku, Muslimin dan muslimat ,Jika kau telah mengenal diriMu yang Sejati maka kau bukan lagi seonggok daging atau sekujur tubuh Apabila saat perkenalan itu telah tiba atau hari terahirmu, maka dzikirmu tak lagi dengan suara atau dengan gerak, tetapi zikirMu adalah melihat siapa yang kau ingat, Kau akan melihat wajah Allah dimanapun kau berada, dan kau tak lagi akan melihat mati itu satu kematian, karena sesungguhnya ketika itu kau menyusuri ruang waktu, ketika itu kau adalah cahaya Allah di bumi ini

Dan kau akan tetap menjadi cahaya milik Allah saat di akhirat nanti, dan sesungguhnya karena kau adalah milik Allah, terserah kepada Allah mau dibuat apa engkau itu karena kembali kepada AsalMu, Setelah itu baru apa yang kelihatan itu akan berwajah kau, dan disitu jugalah keadaan yang mana yang memandang dan yang dipandang itu adalah kau yang esa, Kau melihat wajahMu sendiri ketika pandang memandang itu.


Jikalau kau sudah paham dan yakin segala sesuatu selain kau telah fana, itulah tandanya hatiMu itu telah mencapai ketahap puncak Ma'rifat, tahap mengenal dia dengan sebenar-benarnya pengenalan, Jika kau masih juga tidak faham dan yakin, maka akan diterangkan seperti ini untukMu yaitu berawal dari mengenal mani adalah penjelmaan dari bapak dan ibu atau yang disebut sulbi dan taraib ,Jadi mani itu adalah mulanya seberkas cahaya yang dikeluarkan oleh Allah dari mutu manikam

sehingga para Ulama berpendapat yaitu:

Mani adalah salah satunya dzat penjelmaan dari dua macam dzat (sulbi dan taraib).


Dengan adanya KUDRATILLAHI yaitu berasal dari sulbi bapak, dan yang menjadi IRADATILLAHI yaitu berasal dari ibu ,Oleh sebab itu bagaimanapun birahinya kaum ibu, hal ini tidak terlalu nampak karena birahinya kaum ibu ini tidak dapat melampaui batasnya kudrat kaum bapak, Karna kaum ibu ini hanyalah iradat, maka ulama mengistilahkan "

SYURGA ITU DI ATAS TELAPAK KAKI IBU"


Untuk lebih jelasnya akan diterangkan dibawah bagian-bagian dari maksud yang di atas:

BAGIAN BAPAK: wadi, madi, mutu, mani, atau disebut sulbi.

BAGIAN IBU: tanah, air, angin, api, atau disebut taraib.

BAGIAN ALLAH: ruh idhafi, ruh ruhani, ruh rahmani, ruh jasmani


BAGIAN DARI GUDANG RAHASIA DISEBUT MUTU MANIKAM YAITU:

-Tanah itu ialah badan muhammad

-Air itu ialah nur .muhammad

-Angin itu ialah nafas muhammad

-Api itu ialah penglihatan muhammad


Awal itu ialah nurani„

Akhir itu ialah ruhani„

Zahir itu ialah insani„

Bathin itu ialah rabbani„ Nurani itu ialah nyawa„

Ruhani itu ialah hati„

Insani itu ialah tubuh„

Rabbani itu ialah rahasia


Nyawa itu ialah hidhafi„

Hati itu ialah ruhani„

Tubuh itu ialah jasmani„

Rahasia itu ialah aku yang sejati„

Tubuh itu menyatu kepada hati Hati itu menyatu kepada nyawa„

Nyawa itu menyatu kepada rahasia„

Rahasia itu menyatu kepada nur„

Nur itulah bayang-bayang Allah yang sebenar-benarnya...


Semoga bermanfaat.....

Assalamualaikum 🙏🙏🙏

Salam Damai Sejahterah 🙏🙏🙏"ALLAH MAHA MELIPUTI"


Soudaraku, Muslimin dan muslimat ,Jika kau telah mengenal diriMu yang Sejati maka kau bukan lagi seonggok daging atau sekujur tubuh Apabila saat perkenalan itu telah tiba atau hari terahirmu, maka dzikirmu tak lagi dengan suara atau dengan gerak, tetapi zikirMu adalah melihat siapa yang kau ingat, Kau akan melihat wajah Allah dimanapun kau berada, dan kau tak lagi akan melihat mati itu satu kematian, karena sesungguhnya ketika itu kau menyusuri ruang waktu, ketika itu kau adalah cahaya Allah di bumi ini

Dan kau akan tetap menjadi cahaya milik Allah saat di akhirat nanti, dan sesungguhnya karena kau adalah milik Allah, terserah kepada Allah mau dibuat apa engkau itu karena kembali kepada AsalMu, Setelah itu baru apa yang kelihatan itu akan berwajah kau, dan disitu jugalah keadaan yang mana yang memandang dan yang dipandang itu adalah kau yang esa, Kau melihat wajahMu sendiri ketika pandang memandang itu.


Jikalau kau sudah paham dan yakin segala sesuatu selain kau telah fana, itulah tandanya hatiMu itu telah mencapai ketahap puncak Ma'rifat, tahap mengenal dia dengan sebenar-benarnya pengenalan, Jika kau masih juga tidak faham dan yakin, maka akan diterangkan seperti ini untukMu yaitu berawal dari mengenal mani adalah penjelmaan dari bapak dan ibu atau yang disebut sulbi dan taraib ,Jadi mani itu adalah mulanya seberkas cahaya yang dikeluarkan oleh Allah dari mutu manikam

sehingga para Ulama berpendapat yaitu:

Mani adalah salah satunya dzat penjelmaan dari dua macam dzat (sulbi dan taraib).


Dengan adanya KUDRATILLAHI yaitu berasal dari sulbi bapak, dan yang menjadi IRADATILLAHI yaitu berasal dari ibu ,Oleh sebab itu bagaimanapun birahinya kaum ibu, hal ini tidak terlalu nampak karena birahinya kaum ibu ini tidak dapat melampaui batasnya kudrat kaum bapak, Karna kaum ibu ini hanyalah iradat, maka ulama mengistilahkan "

SYURGA ITU DI ATAS TELAPAK KAKI IBU"


Untuk lebih jelasnya akan diterangkan dibawah bagian-bagian dari maksud yang di atas:

BAGIAN BAPAK: wadi, madi, mutu, mani, atau disebut sulbi.

BAGIAN IBU: tanah, air, angin, api, atau disebut taraib.

BAGIAN ALLAH: ruh idhafi, ruh ruhani, ruh rahmani, ruh jasmani


BAGIAN DARI GUDANG RAHASIA DISEBUT MUTU MANIKAM YAITU:

-Tanah itu ialah badan muhammad

-Air itu ialah nur .muhammad

-Angin itu ialah nafas muhammad

-Api itu ialah penglihatan muhammad


Awal itu ialah nurani„

Akhir itu ialah ruhani„

Zahir itu ialah insani„

Bathin itu ialah rabbani„ Nurani itu ialah nyawa„

Ruhani itu ialah hati„

Insani itu ialah tubuh„

Rabbani itu ialah rahasia


Nyawa itu ialah hidhafi„

Hati itu ialah ruhani„

Tubuh itu ialah jasmani„

Rahasia itu ialah aku yang sejati„

Tubuh itu menyatu kepada hati Hati itu menyatu kepada nyawa„

Nyawa itu menyatu kepada rahasia„

Rahasia itu menyatu kepada nur„

Nur itulah bayang-bayang Allah yang sebenar-benarnya...


Semoga bermanfaat.....

Assalamualaikum 🙏🙏🙏

Salam Damai Sejahterah 🙏🙏🙏

Minggu, 05 Desember 2021

MUSYAHADAH AF’AL [HU]

 Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum wr wb..

Adalah Ke-Esa-an Allah pada segala perbuatan. Ketahuilah oleh engkau wahai salik bahwa segala perbuatan apapun yang terjadi dan berlaku di dalam alam ini pada hakikatnya adalah Af’al (Perbuatan) Allah ta’ala, sama saja perbuatan itu baik maupun jahat adalah perbuatan Allah jua.

– Perbuatan baik, yaitu perbuatan yang baik pada rupa dan pada hakikatnya, seperti iman dan takwa.

– Perbuatan Jahat, yaitu perbuatan yang jahat pada rupa tapi tidak pada hakikatnya, seperti kafir dan maksiat. Kafir dan maksiat pada hakikatnya baik juga karena terbit dari yang baik yaitu dari Allah. Dan tiap-tiap yang terbit dari Allah itu baik.

Ingatlah bahwa segala yang terjadi di alam semesta ini pasti ada manfaatnya, karena Allah tidak menjadikan sesuatu dengan sia-sia. Salah satu contoh adalah Allah menciptakan nyamuk, dan nyamuk diciptakan hanya untuk berbuat jahat yaitu menghisap darah. Tapi walaupun hanya menghisap darah, nyamuk tetap mempunyai manfaat.

Qs. 2 : 26 ;
“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini? Dengan itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan itu selain orang-orang fasik.”

Qs. 3 : 191 ;
“Tidaklah Engkau jadikan semua ini dengan sia-sia, maha suci Engkau.”

Cara Musyahadah (menyaksikan) Tauhid Af’al adalah : Engkau syuhud (pandang/saksikan) dan di yakinkan di dalam hati bahwa segala perbuatan yang menurut kita baik dan jahat itu semua terbit dari Allah. Jadi kenalilah dan saksikanlah bahwa Allah ta’ala itulah pelaku dibalik segala af’al (perbuatan) yang terjadi di alam semesta ini.

Dalil yang menunjukkan bahwa segala perbuatan itu terbit dari Allah dan tidak dari selain-Nya, yaitu ;

Qs.Ash shoffat : 96 ;
“Allah yang menjadikan kamu dan apa yang kamu perbuat.”

Syekh sulaiman Al Jazuli rohimahullah menjelaskan dalam kitab dalailul khoirot, bahwa “Tidak ada dari seseorang dan dari seluruh hamba-Nya suatu perkataan, perbuatan, gerak dan diam melainkan sudah lebih dahulu pada ilmu (pengetahuan) Allah ta’ala, Qodho dan Qodrat (ketentuan dan kehendak) Nya.”

Qs. 9 : 51 :
“Katakanlah, tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.”

Qs. 57 : 22-23 ;
“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (laughul mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.”

Dan dalil-dalil lainnya;
Qs. 4 : 108, 8 : 41, 11 : 92 ;
“Allah ta’ala berfirman dengan perkataan yang sama, yaitu; Dan Allah meliputi apa yang kamu kerjakan.”

Qs. 8 : 17 ;
“Tidaklah kamu yang melempar tetapi Allah-lah yang melempar ketika engkau melempar.”

Qs. 10 : 22 ;
“Dialah Allah yang menjadikan kamu dapat berjalan didaratan.”

Qs. 26 : 78-81 ;
“Yang telah mejadikan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku, dan yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku, dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku.”

Qs. 53 : 43 ;
“Dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.”

Dan sabda nabi Muhammad saw;
“Laahaula wala quwwata illa billahil Aliyyil Adziim / Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan Allah yang maha tinggi, maha agung.”

Dan lagi sabda nabi saw;
“Laa tataharroka dzarrotun illaa bi iznillah / Tiada bergerak suatu zarroh pun melainkan dengan izin Allah.”

Dan sabda nabi saw;
“Sesungguhnya Allah yang menjadikan semua pekerja dan pekerjaannya.” (HR. Al Hakim).

Dan suatu isyarat dari nabi kita Muhammad saw, yaitu tidak pernah mendo’akan kehancuran kaum Quraisy yang telah menyakiti dirinya. Hal ini karena beliau musyahadah (memandang) bahwa perbuatan itu dari Allah. Dan Allah berfirman kepada nabi Muhammad saw di Qs.10:65; “Dan janganlah engkau sedih oleh perkataan meraka. Sungguh, kekuasaan (akan perkataan mereka) itu seluruhnya milik Allah. Dia maha mendengar, maha mengetahui.”

Apabila engkau senantiasa musyahadah (menyaksikan) yang seperti yang demikian ini dengan penuh keyakinan, niscaya engkau terlepas dari bahaya syirik khofi dan mendapat maqom wihdatul af’al yang artinya meng-Esa-kan Allah ta’ala pada segala perbuatan sehingga fana’ (lenyap) segala perbuatan makhluk termasuk perbuatan dirinya, karena nyatanya perbuatan Allah yang Maha Nyata. Jadi, engkau saksikan dengan jelas bahwa segala wujud majazi ini hilang sirna dan lenyap tiada arti dibawah Nur Wujud Allah yang sebenarnya. Seperti tiada arti cahaya lilin yang dinyalakan dibawah Cahaya Wujud Matahari.

Dari berbagai uraian ini, maka kita ketahui bahwa sama saja perbuatan itu baik ataupun jahat pada hakikatnya dari Allah ta’ala jua.
Dalil yang menunjukkan akan hal ini didasarkan atas hadits nabi saw, di dalam do’a beliau;
“Allahumma innii ‘audzu bika minka / yaa Allah, Aku berlindung dengan Engkau dari Engkau.” (HR. Abu Daud dari Ali bin Abi tholib)
Dan dalam riwayat lain nabi bersabda;
“Allahumma inni ‘audzu bika min syarri maa kholaq / Yaa Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan yang engkau jadikan.”

Dan hal ini juga sesuai firman Allah Qs.113:1-2; “Qul a’udzu bi robbil falaq, min syarri ma kholaq / Katakanlah: aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh dari kejahatan yang Dia jadikan.”

Maka kalau sekiranya kejahatan itu bukan dijadikan Allah, maka tidak mungkin nabi mengucapkan do’a demikian. Jadi, jelaslah bahwa perbuatan baik dan jahat pada hakikatnya dari Allah.

Dan Dalil-dalil lainnya;
Qs. Annisa’ 4: 78; “Dimanapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada dalam benteng yang tinggi dan kokoh. JIKA MEREKA MEMPEROLEH KEBAIKAN, MEREKA MENGATAKAN “INI DARI ALLAH”, DAN JIKA MEREKA MENDAPAT KEBURUKAN MEREKA MENGATAKAN, “INI DARI ENGKAU”. KATAKANLAH SEMUANYA DARI ALLAH. MAKA MENGAPA ORANG-ORANG ITU (ORANG-ORANG MUNAFIK) HAMPIR-HAMPIR TIDAK MEMAHAMI PEMBICARAAN (INI SEDIKITPUN)?”

Qs. Al-A’rof 7:131; “Kemudian apabila KEBAIKAN datang kepada mereka, mereka berkata, “ini adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka mendapat KESUSAHAN, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan pengikutnya. KETAHUILAH, SESUNGGUHNYA NASIB MEREKA DITANGAN ALLAH, namun kebanyakan mereka tidak mengetahui.”

Qs.10:107; “Dan jika Allah menimpakan suatu Bencana (keburukan/kejahatan) kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki Kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan Kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba Nya. Dia maha pengampun, maha penyayang.”

Qs.27:47; “Mereka menjawab, kami mendapat nasib yang Buruk disebabkan oleh kamu dan orang-orang yang bersamamu. Dia berkata, “Nasibmu ada pada Allah, tetapi kamu adalah kaum yang sedang diuji”.

Qs.28:68; “Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) TIDAK ADA PILIHAN. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”

Qs.33:17; “Katakanlah, siapakah yang dapat melindungi kamu dari Allah jika Dia menghendaki Bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu? Mereka itu tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.”

Qs.43:32; “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? KAMILAH YANG MENENTUKAN KEHIDUPAN MEREKA DALAM KEHIDUPAN DUNIA, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".

Qs.48:14; “Dan hanya milik Allah kerajaan langit dan bumi. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki, dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah maha pengampun, maha penyayang.”

Qs.64:11; “Tidak ada suatu Musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah.”

Sebagian Arifbillah membuat perumpamaan untuk memahami hal ini, yaitu seperti; Wayang yang dimainkan oleh dalang dengan berbagai macam gerak. Jadi wayang itu tidak mempunyai perbuatan sendiri, dan berbagai macam gerak wayang itu adalah mazhar (kenyataan) dari dalang itu sendiri. Maka seperti itulah antara hamba dengan Tuhannya.

Walaupun segala perbuatan, gerak dan kejadian pada hakikatnya adalah dari Allah jua, maka janganlah engkau melanggar syariat nabi kita Muhammad saw dan tetap teguhlah dalam Takwa (mengerjakan segala yang diperintahkan Allah dan Rosul-Nya serta menjauhi segala yang dilarang-Nya).

Jadi janganlah sekali-kali menafsirkan bahwa gugur taklif syara’ (tidak ada kewajiban hukum syariat). Apabila engkau beiktiqod (berkeyakinan) demikian, jadilah engkau kafir zindik. Na udzubillahi min dzalik.

Oleh karena itu, istiqomahlah dalam melaksanakan syariat nabi Muhammad saw dan juga tetaplah engkau Musyahadah dengan mata hatimu secara terus menerus berkekalan bahwa segala Kebaikan dan Keburukan adalah dari Allah jua. Sehingga lepaslah engkau dari syirik khofi (syirik yg halus tidak kelihatan). Apabila engkau memandang dirimu masih merasa ada suatu perbuatan pun, maka itulah syirik khofi walaupun engkau tidak berbuat syirik jalli (syiri yang nyata).

Allah ta’ala berfirman;
Qs.yusuf:106; “Sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan (masih) dalam keadaan menyekutukan-Nya (dengan memandang Wujud dan perbuatan selain Allah).”

Karena itulah sayyid umar bin Al Farid rohimahullah berkata ; “Andaikata terlintas didalam fikiranku suatu kehendak yang lain dari Mu karena lalai (lupa), maka aku sebut diriku ini dengan murtad”.

Dan syekh Abu Abbas Al Mursi rohimahullah berkata ; “Andaikata aku terhijab (terlupa) dari Tuhanku meskipun sekejap mata, maka tidaklah lagi aku termasuk manusia”.

Jadi, engkau disebut musyrik apabila engkau tidak mengikuti jalan mukmin yang sebenarnya. Dan jalan mukmin itu adalah memandang bahwa Tiada yang berbuat, yang hidup, dan yang Maujud dalam wujud ini hanya Allah ta’ala sendiri. Maka apabila engkau mengikuti jalan mukmin yang sebenarnya barulah engkau disebut mukmin yang benar dan lepaslah engkau dari syirik khofi, serta keluarlah engkau dari yang disebut Allah dengan musyrik. Dan jadilah engkau Ahli Tauhid yang benar yang disegerakan surga di dalam dunia ini. Serta patutlah atas engkau dimuliakan oleh Allah dalam akhirat.

Allah ta’ala berfirman;
Qs. Arrohman:46; “Dan dua surga bagi siapa saja yang takut saat menghadap Tuhannya.”
Surga pertama adalah surga Musyahadah (menyaksian) Allah yang di dapat dari Ma’rifatullah di dunia ini. Surga kedua adalah surga Akhirat yang disebutkan oleh Allah ta’ala di dalam alqur’anul karim.

Syekh Al ‘alimul Allamah Al Bahrur Ghoriq Marlan Abdullah ibnu Hijazi As Syarqowi Al Mishri rohimahullah, berkata; “Barang siapa yang telah memasuki surga ma’rifatullah di dunia ini, niscaya tiada berhasrat lagi kepada surga akhirat yang berupa bidadari, istana, dan segala sesuatu yang disana. Hasratnya hanya ingin sedekat-dekatnya pada hadirat Allah dan Rukyatullah (melihat Allah). Maka nikmat yang paling tinggi di akhira adalah Rukyatullah, sebagaimana firman Allah ; Qs.75;22-23; “Wajah-wajah orang mukmin pada hari itu berseri-seri, melihat Tuhannya.”

Jadi jauh sekali perbedaannya antara nikmat Rukyatullah (melihat Allah) dibandingkan nikmat seperti bidadari, istana, dan segala sesuatu yang ada disana.

Begitu pula tentang Musyahadah (menyaksikan) Allah di dunia ini dalam arti ma’rifatullah yang telah terbuka pada hati orang-orang yang Arifbillah, itu hanya sebagian kecil saja dibandingkan dengan Rukyatullah di akhirat kelak.

Walaupun demikian, niscaya mereka akan mendapatkannya karena mereka telah menyaksikan Allah di dunia ini.

Seperti firman Allah:
Qs.17:72; “Barang siapa buta didunia ini, maka di akherat lebih buta dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.”

Dari ayat ini, dapat kita ketahui bahwa mereka para Arifbillah telah mendapat jaminan dari Allah karena mereka tidak buta terhadap-Nya di dunia ini.

Suatu perkataan dari Arifbillah Maulana syekh Abdul Wahab Sya’roni qoddasallahu sirrahu dalam kitab jawahirul wad daruri, ia menukil dari perkataan syekh Al Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi rohimahullah, yaitu bahwa;
Segala Akwan (keadaan/kejadian) ini adalah dinding yang mendidingi kita dari HAQ ta’ala. Padahal hanya HAQ ta’ala inilah yang berbuat dibalik hijab semua akwan ini.

Seperti; bayang-bayang kayu di dalam air sungai yang seakan-akan merintangi jalannya perahu. Adapun perahu yang tidak mau melewatinya, karena menyangka itu kayu yang sebenarnya, maka ia telah terhijab. Jadi barang siapa terbuka hijab niscaya dilihatnya bahwa yang berbuat pada segala perbuatan itu adalah Allah ta’ala sendiri. Dan barang siapa tidak terbuka hijab, maka ia terdinding dari akwan ini, sehingga ia tidak mampu memandang Fa’il (pelaku) yang sebenarnya yaitu Allah.

Berikut ini adalah masalah pengertian Af’al Hamba, yang terbagi menjadi 4 mazhab:

1. Mazhab Mu’tazilah
Golongan ini ber iktiqod bahwa makhluklah yang berbuat pada setiap perbuatan yang terjadi. Dan qodrat (kemampuan) perbuatan makhluklah yang menentukan akibat dari perbuatan itu. Dan golongan ini tidak mau tahu bahwa sesungguhnya Allah itulah yang memperbuat pada segala perbuatan. Jadi, dari dalil-dalil yang sudah dijelaskan sebelumnya, jelas bahwa golongan ini fasiq.
Golongan ini seperti firman Allah;
Qs.39:49; …..kemudian apabila Kami berikan nikmat Kami kepadanya dia berkata, Sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanyalah karena kepintaranku (usahaku). Sebenarnya, itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

2. Mazhab Jabariyah
Golongan ini beriktiqod bahwa segala perbuatan adalah perbuatan Allah sendiri, tetapi dalam hal ini mereka tidak memandang kenyataan perbuatan Tuhan pada makhluknya, sehingga mereka tidak mau tahu bahwa setiap perbuatan Allah itu disandarkan pada hamba. Jadi mereka cenderung pasrah dan berpangku tangan saja, tidak mau berusaha. Dengan demikian, maka mereka tidak dapat mencapai derajat kamal (sempurna) dan bertentangan dengan jalan syariat.
Jabariyah artinya paksaan, maksudnya manusia ini dipaksa oleh Tuhan untuk berbuat. Jadi apabila mengerjakan maksiat, tidak perlu minta ampun, karena itu adalah terpaksa. Jadi jelas golongan ini munafik dan zindik.
Golongan ini seperti dalam firman Allah:
Qs.16:35; Dan orang musyrik berkata, jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak kami mengharamkan sesuatu pun tanpa -Nya. Demikianlah yang diperbuat oleh orang sebelum mereka. Bukankah kewajiban para rosul hanya menyampaikan dengan jelas.

3. Mazhab Asy ‘Ariyah
Golongan ini beriktiqod bahwa segala perbuatan itu dari Allah, tetapi bagi makhluk masih ada usaha ikhtiar. Dengan usaha ikhtiar, makhluk itu berbuat dan berlaku hukum syara’ sebagai sunatullah (hukum alam). Bagi mereka, usaha ikhtiar makhluk tidak menentukan tetapi Allah ta’ala itulah yang menentukan hasil (akibat) dari usaha ikhtiar makhluk.
Maka Mazhab ini adalah iktiqod yang dapat dipegang. Hanya saja golongan ini masih belum dapat mencapai martabat kasyaf. Hal ini karena mereka masih terhijab (terdinding) dengan sebab masih memandang bahwa usaha ikhtiar itu dari hamba itu sendiri, sehingga tidak ada pandangan bahwa usaha ikhtiar itu adalah perbuatan Allah yang disandarkan pada makhluknya.
Jadi 3 golongan yang telah dijelaskan sebelumnya itu masih dalam keadaan tertutup dari musyahadah Wihdatul Af’al, hal ini dikarenakan belum mendapat kasyaf (terbuka hijab/dinding).

4. Mazhab Ahlul Kasyaf
Golongan ini adalah golongan orang-orang yang sudah terbuka dari hijab (tabir) Ketuhanan sehingga dapat Musyahadah (Menyaksikan) dengan sebenar-benarnya bahwa segala perbuatan itu dari Allah yang disandarkan kepada hamba. Seperti; Pena ditangan seorang penulis, yang menulis huruf-huruf dengan goresan pena tersebut. Pena itu pada hakikatnya tidak mempunyai kemampuan berbuat untuk huruf-huruf, dan huruf-huruf itu adalah dari Si Penulis pemegang Pena. Maka demikianlah yang berlaku dan terjadi di dalam alam ini, Allah ta’ala itulah yang memperbuat pada setiap perbuatan.

Arifbillah syekh Abdul Wahab Sya’roni q.s berkata; bahwa Syekh Muhyidin Al Akbar Ibnu Arabi rohimahullah mengatakan dalam bukunya Futuhatul Makiyah bab ke 422 yaitu;
“Sesungguhnya segala perbuatan itu dari Allah ta’ala dan makhluk adalah sebagai sandaran perbuatan-Nya. Hal ini karena keadaan kita sebagai hamba tempat menanggung siksa dan pahala.”

Arifbillah maulana Syekh Mahyudin Al Akbar Ibnu Arabi rohimahullah juga berkata;
“Tentang masalah tanggung jawab terhadap setiap perbuatan yang dilakukan oleh makhluk, itu adalah tanggung jawab makhluk itu sendiri bukan Robb (Tuhan). Walaupun pada hakikatnya Tuhan adalah pelaku sebenarnya, tetapi karena makhluk sebagai hamba tempat untuk patuh pada Robb yang menyuruhnya. Maka Robb tidak ditanya tetang apa yang diperbuat-Nya.”

Dalil yang menyatakan bahwa hamba yang bertanggung jawab pada segala perbuatan, bukan Robb yaitu firman-Nya ;

Qs. Ambiya’ 21:23; “Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya tetapi merekalah yang ditanya.”

Dan karena itulah Allah ta’ala juga berfirman;
Qs.91:15; “Dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan (perbuatan)-Nya.”

Dan perhatikanlah firman Allah ini;
Qs.3:129; “Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki, dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah maha pengampun, maha penyayang.”

Qs.48:14; “Dan hanya milik Allah kerajaan langit dan bumi. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki, dan akan Mengazab siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah maha pengampun, maha penyayang.”

Qs.3:26; “Katakanlah, Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Ditangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau maha kuasa atas segala sesuatu.”

Qs.5:118; “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah yang maha perkasa, maha bijaksana.”

Qs.6:17-18; “Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia maha kuasa atas segala sesuatu. Dan Dialah yang berkuasa atas hamba-hamba Nya. Dan Dia maha bijaksana, maha mengetahui.”
Qs.6:39; “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah tuli, bisu dan berada dalam gelap. Barang siapa dikehendaki Allah (dalam kesesatan), niscaya disesatkan-Nya. Dan barang siapa dikehendaki Allah (di jalan lurus), niscaya Dia menjadikannya berada diatas jalan yang lurus.”

Qs.16:93; “Dan jika Allah menghendaki niscaya Dia menjadikan kamu satu umat, tetapi Dia menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Tetapi kamu pasti yang akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.”

Qs.19:93; “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, melainkan akan datang kepada Yang Maha Pengasih sebagai Hamba.”

Jadi walaupun pada hakikatnya Allah yang menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki tetap saja kita sebagai hamba yang ditanya tentang apa yang telah dikerjakan jadi bukan Tuhan yang ditanya.

Qs.16:93; “Dan jika Allah menghendaki niscaya Dia menjadikan kamu satu umat, tetapi Dia menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. TETAPI KAMU PASTI AKAN DITANYA TENTANG APA YANG TELAH KAMU KERJAKAN.

Wahai para salik, karena manusia selalu mempunyai rasa ingin tahu dan ingin bertanya bahwa kenapa Allah menciptakan orang yang berbuat jahat dan membuat kerusakan serta menumpahkan darah di muka bumi?
Maka ketahuilah para malaikat pun pernah juga bertanya kepada Allah tentang hal ini, dan Allah menjawab; bahwa sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.

Hal ini sebagaimana firman Allah;
Qs.2:30; “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat; Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang kholifah di muka bumi. Mereka (para malaikat) berkata; MENGAPA ENGKAU HENDAK MENJADIKAN DI BUMI ITU ORANG YANG AKAN MEMBUAT KERUSAKAN PADANYA DAN MENUMPAHKAN DARAH, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau? Tuhan berfirman; SESUNGGUHNYA AKU MENGETAHUI APA YANG TIDAK KAMU KETAHUI.”

Wahai para salik, kita tidak mengetahui apa yang Allah ketahui, tapi yang pasti Allah tidak menjadikan sesuatu dengan sia-sia tanpa ada manfaatnya.

Qs.3:191; “….Tidaklah Engkau menjadikan semua ini dengan sia-sia, maha suci Engkau.”

Dan perhatikanlah hadits nabi Muhammad saw : “Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menghilangkan kalian dari muka bumi dan akan mendatangkan kaum lain yang berbuat dosa yang ber istighafar memohon ampun pada Allah dan Allah mengampuni mereka.” (HR. Muslim).

Jadi seandainya jika tidak ada orang yang berbuat dosa dan memohon ampun kepada Allah maka Allah akan mengampuni siapa?
Makhluk Tuhan di dunia ini merupakan perwujudan kasih sayang-Nya, dan bukan kemarahan-Nya. Karenanya dunia tidak dilumuri dosa sebelumnya. Di dalam neraka-Nya, kenikmatan juga akan dirasakan oleh makhluk-Nya. Syekh Al Akbar Ibnu Arabi menerangkan bahwa kata Azab (siksa) berasal dari kata Adzb (lezat), artinya bahwa dari siksa akan lahir kenikmatan. Ikan memang harus di air, sedang salamander harus berada dalam api, keduanya tidak mungkin bertukar tempat. Mereka bagaikan penderita penyakit kudis yang dikupas bagian terluar lukanya, di dalamnya masih akan ditemukan kenikmatan, dan mereka bagaikan seorang sakit yang memang harus minum obat pahit, untuk menghilangkan rasa sakit.

Renungkanlah karena masalah ini indah sekali.
Berkaitan dengan Tauhidul Af’al, Arifbillah maulana Quthubul syekh muhyidin Al Akbar Ibnu Arabi rohimahullah, menjelaskan tentang firman Allah ta’ala Qs.55:29; “Allah setiap saat dalam kesibukan.”

Hal ini berarti bahwa setiap saat alam semesta dan diri kita ini selalu mengalami perubahan, karena Allah setiap saat terus menerus sibuk dalam menciptakan sampai saat ini pun.

“Akan tetapi kebanyakan manusia ragu terhadap ciptaan baru (Qs.50:15).

Pada saat kita terhijab (belum mengetahui bahwa segala perbuatan itu dari Allah), kita menyangka bahwa setiap perbuatan itu dari kita dan untuk kita sendiri. Maka itu berarti, Allah memberi suatu cobaan dengan menyandarkan perbuatan itu kepada kita, sehingga kita menyangka bahwa kita yang berbuat.

Dan apabila kita telah masuk kehadirat ihsan (beribadah seakan-akan melihat Allah) dan terbuka dinding hijab antara kita dengan Allah, niscaya kita lihat bahwa segala perbuatan itu sebenarnya terbit bersumber dari Allah ta’ala sendiri dan kita sebenarnya tidak melakukan suatu perbuatan pun.

Hal ini seperti sabda nabi Muhammad saw;
“Laa haula walaa quwwata illa billahil aliyyil azhiim / Tidak ada daya upaya (usaha) dan kekuatan untuk berbuat kecuali dengan Allah yang maha tinggi, maha agung.”

Kemudian apabila kita sampai kepada Musyahadah ini, maka takwa lah kita dengan tetap istiqomah dalam pegangan (pendirian) syara’ yaitu Adab (akhlak) kita kepada Allah. Maka untuk itu kita harus mengamalkan firman Allah ta’ala ini ;

Qs. annisa’:78; “Apa saja yang menimpa engkau dari yang baik adalah dari Allah, dan apa saja yang menimpa engkau dari kejelekan, maka hal itu dari dirimu sendiri.”

Ketika memberikan pelajaran di masjidil Haram, Arifbillah Al Allamah maulana syekh Yusuf Abu zarroh Al Mishri q.s. Berkata; “Tidak seharusnya mengatakan bahwa kejahatan itu dari Allah ta’ala kecuali pada saat belajar-mengajar (membahas) dalam jurusan ilmu ini.”

Syekh Ibnu Hajar rohimahullah dalam syarah Arba’in menjelaskan perkataan nabi yang tercantum pada sebagian do’a iftitah yang berbunyi ; “Was syarri laisa ilaik / Dan kejelekan (kejahatan) bukan untuk Mu.” (HR. muslim, Abu Awarah, Abu Daud, An nasa’i, Ibnu Hibban, Ahmad, Asy Syafi’i, dan Tabbarani dari Ali bin Abi Tholib K.W).

Hal ini adalah untuk mengajari (mendidik) kita tentang Adab (Akhlak) kepada Allah ta’ala, karena tidak seharusnya kita berkata dalam arti untuk menghina Allah ta’ala. Seperti perkataan; Allah yang menjadikan Anjing dan babi, serta Allah yang menjadikan syetan dan maksiat. Meskipun sebenarnya di akui bahwa Anjing, babi, syetan dan maksiat itu dijadikan Allah. Dan juga perlu diketahui bahwa Allah ta’ala tidak menjadikan sesuatu pun tanpa ada manfaatnya.

Jadi, tetaplah Musyahadah pada maqom Tauhidul Af’al / perbuatan ini, niscaya akan sampai pada keridhoan-Nya. Memang diakui bahwa maqom musyahadah Af'al ini bagi orang-orang yang Arif billah adalah tingkatan musyahadah yang terbawah dari empat tingkatan maqom musyahadah.

Jangan putus di tengah jalan apabila sudah terbiasa dengan musyahadah Af'al ini, maka teruskanlah dengan musyahadah Asma' dan musyahadah sifat dan jangan pernah merasa leleh untuk mensucikan Cipta, Rasa dan Karsa, ingsya Allahu ta'ala akan sampailah pada satu titik dimana musyahadah Dzat adalah maqom tertinggi bagi kalangan Ma'rifat Billah.


A N A S I R - A N A S I R

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum wr wb..

Anasir ALLAH : Dzat, Sifat, Asma, Af’’al
Anasir MUHAMMAD : Awal, Akhir, Dzahir, Batin
Anasir HAMBA : Rasa, Nyawa, Hati, Tubuh
Anasir ADAM : Api, Angin, Air, Tanah
Anasir BAPAK : Urat, Tulang, Otak, Sumsum
Anasir IBU : Bulu, Kulit, Darah, Daging

MENG-ESA-KAN ALLAH DALAM RAGAM DIRI

Awal Muhammad itu Nurnya
Akhir Muhammad itu Ruhaninya
Dzahir Muhammad itu Rupanya
Batin Muhammad itu Dzatnya

SEKILAS TENTANG NUR MUHAMMAD

Bahwasanya kejadian Alam ini pada mulanya ialah dari pada “HAKEKATUL MUHAMMADIYAH” atau Nur Muhammad.
Nur Muhammad itulah asal segala kejadian.
Bahwa, Nabi Muhammad itu terjadi atas dua rupa.

Rupa yang Qadim dan Rupa yang Azali.

Pertama, Dialah yang telah terjadi sebelum terjadinya seluruh yang ada,
Dari padanya diserahi Ilmu dan irfan.

Kedua Dialah rupa sebagai manusia, sebagai seorang Rasul dan Nabi yang diutus Tuhan.
Rupa sebagai manusia itu menempuh Maut, tetapi rupanya yang Qadim tetap ada meliputi Alam.

Maka dari Nur rupanya yang Qadim itulah diambil segala Nur buat menciptakan segala Nabi nabi dan Rasul rasul dan Aulia-aulia..

Cahaya segala Kenabian dari pada Nur akan menyata dan Cahaya mereka dari pada Cahayanya, Tidaklah ada suatu cahaya yang bercahaya, dan lebihnya yang lebih Qadim dari cahaya yang Qadim itu yang mendahului Cahaya Beliau yang mulia.

Kehendaknya mendahului segala kehendak,
Ujudnya mendahului segala yang Adam.
Namanya mendahului akan Kalam-nya sendiri.
Karena dia telah terjadi sebelum terjadi apa yang terjadi.

Lautan Ilmunya diatas megah mengguruh, dibawah kilat menyinar dan memancar, menurunkan hujan dan memberikan subur,
Segala Ilmu adalah setetes dari air lautan.
Segala Hikmat hanyalah satu piala dari Sungainya,
Seluruh Zaman hanyalah satu sa’at kecil dari masanya yang jauh.
Dalam hal kejadian Dialah yang Awal,
Dalam Kenabian Dialah yang Akhir
“AL-HAQ” adalah dengan Dia, dan dengan Dia jualah HAKEKAT,
Dia yang pertama dalam hubungan,
Dia yang Akhir dalam Kenabian,
Dia yang Bathin dalam HAKEKAT, dan
Dialah yang dzahir dalam MAKRIFAT.

U R A I A N

Rasa hamba itu Batin Muhammad
Batin Muhammad itu Dzat Allah
Dzat Allah itu Rasa hamba

Nyawa hamba itu Awal Muhammad
Awal Muhammad itu Sifat Allah
Sifat Allah itu Nyawa hamba

Hati hamba itu Akhir Muhammad
Akhir Muhammad itu Asma Allah
Asma Allah itu Hati hamba

Tubuh hamba itu Dzahir Muhammad
Dzahir Muhammad itu Af’’al Allah
Af’’al Allah itu Tubuh hamba



PERLU DIINGAT :

Bila takut gelombang, mengapa berlayar …..? bila takut berkata cinta mengapa berikrar..

Yakin, sebelum datang ragu, sebagaimana engkau berikrar padaNya,

Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah milik Allah..

Inilah cinta yang sesungguhnya, yang sanggup arungi gelombang kehidupan menuju pantai kedamaian.

Yang tiada panas tiada pula dingin..

Perahu adalah jasadmu, layar adalah iktiarmu, kuatkan tiang layarmu. mohon padaNya kekuatan, tuk arungi lautan kehidupan ini.

Jangan… perahumu tenggelam, menabrak karang nafsumu, berupa angan-angan dalam akal khayalmu, penyesalanpun tiada arti.

Yakinlah padaNya, sesungguhnya hidup dan mati ada dalam genggamannya, bersujud kening cium bumi ketulusan, senantiasa bumi memberi meski dihina dan dicaci, ibu bagi ragaku karena tanah asal daripadaNya.

MENGALIRLAH

Pandanglah jiwa sebagai pancuran, aliran kehidupanmu mengucur dari situ, semua bentuk yang engkau lihat, memiliki “mata air tetap” di alam tak bertempat. Tidak mengapa ketika bentuk musnah, karena aslinya selalu abadi.

Semua wajah cantik yang pernah kau lihat, semua kata penuh makna yang pernah kau dengar, janganlah berduka ketika semua itu hilang, karena sesungguhnya tidaklah demikian adanya

Ketika mata air menjadi sumber tak-terhenti, cabangnya terus mengalirkan air kemana-mana, lalu.., apa yang engkau keluhkan..? apa juga yang engkau risaukan…?

Pandanglah jiwa sebagai pancuran, dan semua ciptaan ini sebagai sungai, ketika pancuran mengucur, sungai pun mengalir dari situ.

Taruhlah kesedihanmu, dan teruslah minum air sungai ini, jangan pernah pikirkan kapan surutnya, aliran ini tiada hentinya.

Dari saat pertama engkau memasuki alam wujud ini, sebuah tangga sudah ada di hadapanmu, sehingga engkau dapat menapaki tangga ini untuk naik keatasnya.

Pertama engkau adalah mineral, lalu engkau berubah menjadi tetumbuhan, kemudian engkau menjadi hewan, hal ini semua telah kau lewati dan menjadi Rasa bagimu?

Kemudian engkau menjadi insan, dengan pengetahuan, akal dan keyakinan.

Pandanglah raga ini, yang tersusun dari tanah liat kering, pandanglah bagaimana dia telah tumbuh dengan sempurna. Ketika engkau berjalan terus dari insane, tiada diragukan lagi engkau akan menjadi malaikat.

Ketika engkau telah meninggalkan bumi ini, maka kedudukanmu adalah di langit, lewatilah kemalaikatanmu, masukilah samudra itu.sehingga tetesanmu menjadi lautan yang tak terhingga luasnya. tinggalkanlah kata “manusia” katakanlah “Yang Maha Esa” dengan seluruh jiwamu.

Tidak menjadi soal bila raga menjadi tua, lemah dan lusuh; ketika jiwa senantiasa muda.

Surah An-Nisa, (4 : 79)

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah (faminallah),, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari kesalahan dirimu sendiri (faminnafsika) . Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.”

Innalillahi wainnaillaihi rojiun
DariMu aku berasal , dariMu aku kembali
.
by : Hamin Tehupelasury