Laman

Rabu, 29 Desember 2021

SUKMA diikat oleh RASA.

 RAGA supaya HIDUP harus dihidupkan oleh SUKMA..


SUKMA diikat oleh RASA. 


Ikatan RASA akan pudar dan lama-kelamaan akan habis apabila RASA tidak kuat lagi menahan penderitaan dan trauma yang dialami oleh RAGA. 


Bila seseorang tak kuat lagi menahan RASA sakit, kesadaran JASADnya akan hilang atau mengalami pingsan, dan bahkan kesadaran JASADnya akan sirna samasekali alias mengalami kematian.


Peristiwa kematian di sini adalah padamnya “alat nirkabel” atau semacam “bluetooth” bikinan tuhan sehingga terputuslah hubungan antara JASAD dan SUKMA. 


Lain halnya dengan aksi meraga sukma, sejauh manapun SUKMA berkelana ia tetap terhubung dengan RAGA melalui “teknologi” bluetooth bikinan tuhan bernama NYAWA.


Banyak orang yang bertanya, mengapa dalam mempelajari Agama mesti harus mengenal RASA ? 


Memang kalau hanya sampai pada tingkat Syariat, bab RASA tidak pernah dibicarakan atau disinggung. 


Tetapi pada tingkat Tarekat ke atas bab RASA ini mulai disinggung. 


Karena bila belajar ilmu Agama itu berarti mulai mengenal siapa Sang Percipta itu.


Karena ALLAH maha GHAIB maka dalam mengenal hal GHAIB kita wajib mengaji RASA ..!!


Jadi jelas berbeda dengan tingkat syariat yang memang mengaji telinga dan mulut saja. Dan mereka hanya yakin akan hasil kerja panca inderanya.. Bukan Batin..!


DAIM ini butuh konsentrasi yg tinggi, pikiran harus nol. 


Tentu hal ini sulit dilakukan oleh para syariat karena terlalu banyak urusan dunia yang dipikirkan. 


Tapi tidak menutup kemungkinan ada para syariat yg memiliki kemampuan lebih atas ijin Allah bisa melakukannya, tentu dengan bimbingan seorang mursyid loo yaaa... ๐Ÿ˜Š


RASA dibagi dalam beberapa golongan .Yaitu : 

- RASA TUNGGAL, 

- SEJATINYA RASA, 

- RASA SEJATI, 

- RASA TUNGGAL JATI


Mengaji RASA sangat diperlukan dalam mengenal GHAIB... Karena hanya dengan mengaji RASA yang dimiliki oleh batin itulah maka kita akan mengenal dalam arti yang sebenarnya, apa itu GHAIB...


1. RASA TUNGGAL

Yang empunya Rasa Tunggal ini ialah jasad/jasmani. Yaitu rasa lelah, lemah dan capai. 


Kalau Rasa lapar dan haus itu bukan milik jasmani melainkan milik Nafsu.


Mengapa jasmani memiliki rasa Tunggal ini..? 


Itu karena sesungguhnya dalam jasmani/jasad ada penguasanya/penunggunya. 


Orang tentu mengenal nama QODHAM atau ALIF LAM ALIF. 


Itulah sebabnya maka di dalam AL QUR’AN, ALLAH memerintahkan agar kita mau merawat jasad/jasmani. Kalau perlu, kita harus menanyakan kepada orang yang ahli/mengerti. 


Selain merawatnya agar tidak terkena penyakit jasmani, kita pun harus merawatnya agar tidak menjadi korban karena ulah hawa nafsu maka jasad kedinginan, kepanasan ataupun masuk angin.


Bila soal-soal ini kita perhatikan dengan sungguh-sungguh, niscaya jasad kita juga tahu terima kasih. 


Dan kalau dia kita perlakukan dengan baik, maka kebaikan kita pun akan dibalas dengan kebaikan pula. Karena sesungguhnya jasad itu pakaian sementara untuk hidup sementara di alam fana ini. 


Kalau selama hidup jasad kita rawat dengan sungguh-sungguh (kita bersihkan 2 x sehari/mandi, sebelum puasa keramas, sebelum sholat berwudhu dulu, dan tidak menjadi korban hawa nafsu, serta kita lindungi dari pengaruh alam), maka dikala hendak mati jasad yang sudah suci itu pasti akan mau diajak bersama-sama kembali ke asal, untuk kembali ke sang pencipta. 


Seperti halnya kita bersama-sama pada waktu datang/lahir ke alam fana ini. 


Mati yang demikian dinamakan mati Tilem (tidur) atau mati sempurna. 


Tetapi Pandangan yang kita lakukan malah sebaliknya. Mati dengan meninggalkan jasad.. 


Kalau jasad sampai dikubur, maka QODHAM atau ALIF LAM ALIF, akan mengalami siksa kubur. Dan kelak dihari kiamat akan dibangkitkan.


Dalam mencari nafkah baik lahir maupun batin, jangan mengabaikan jasad. Jangan melupakan waktu istirahat. Sebab itu ALLAH ciptakan waktu 24 jam (8 jam untuk mencari nafkah, 8 jam untuk beribadah, dan 8 jam untuk beristirahat).


Juga dalam hal berpuasa, jangan sampai mengabaikan jasad. Sebab itu ALLAH tidak suka yang berlebih-lebihan. Karena yang suka berlebih-lebihan itu adalah Dzad (angan-angan). Karena dzad mempunyai sifat selalu tidak merasa puas.


2. SEJATINYA RASA

Apapun yang datangnya dari luar tubuh dan menimbulkan adanya RASA, maka Rasa itu dinamakan Sejatinya RASA . 


Jadi Sejatinya RASA adalah milik Panca Indera:


1.MATA : 

Senang karena mata dapat melihat sesuatu yang indah atau tidak senang bila mata melihat hal-hal yang tidak pada tempatnya.


2.TELINGA : 

Senang karena mendengar suara yang merdu atau tidak senang mendengar isu atau fitnahan orang.


3.HIDUNG : 

Senang mencium bebauan wangi/harum atau tidak senang mencium bebauan yang busuk.


4.KULIT : 

Senang kalau bersinggungan dengan orang yang disayang atau tidak senang bersunggungan dengan orang yang nerpenyakitan.


5.LIDAH : 

Senang makan atau minum yang enak-enak atau tidak senang memakan makanan yang busuk.


3. RASA SEJATI

Rasa sejati akan timbul bila terdapat rangsangan dari luar, dan dari tubuh kita akan mengeluarkan sesuatu. 


Pada waktu keluarnya sesuatu dari tubuh kita itu, maka timbul Rasa Sejati. 


Untuk jelasnya lagi Rasa Sejati timbul pada waktu klimaks/pada waktu melakukan hubungan seksual.


4. RASA TUNGGAL JATI

Rasa Tunggal Jati sering diperoleh oleh mereka yang sudah dapat melakukan Meraga Sukma (keluar dari jasad) dan Salat Da’im.


Beda antara Meraga Sukma dan Shalat Da’im ialah :


1.Kalau Meraga Sukma jasad masih ada, batin keluar dan dapat pergi kemana saja.


2.Kalau Shalat Da’im jasad dan batin kembali keujud NUR dan lalu dapat pergi kemana saja yang dikehendaki. Juga dapat kembali / bepergian ke ALAM LAUHUL MAKHFUZ.


Bila kita Meraga Sukma maupun Shalat Da’im, mula pertama dari ujung kaki akan terasa seperti ada “aliran“ yang menuju ke atas / ke kepala. 


Pada Meraga sukma, 

bila “aliran“ itu setibanya didada akan menimbulkan rasa ragu-ragu/khawatir atau was-was... Namun bila kita ikhlas, maka kejadian selanjutnya kita dapat keluar dari jasad, dan yang keluar itu ternyata masih memiliki jasad. 


Memang sesungguhnya setiap manusia itu memiliki 3 buah wadah lagi, selain jasad/jasmani yang tampak oleh mata lahir ini.


Kalau Shalat Da’im bertepatan dengan adanya “Aliran“ dari arah ujung kaki, maka dengan cepat bagian tubuh kita akan “Menghilang“ dan kita akan berubah menjadi seberkas NUR sebesar biji ketumbar dibelah 7 bagian. 


Bercahaya bagai sebutir berlian yang berkilauan. 


Nah, RASA keluar dari jasad atau rasa berubah menjadi setitik NUR. 


NUR inilah yang disebut sebagai Rasa Tunggal Jati. 


Selain itu, baik dalam Meraga Sukma maupun Shalat Da’im. Bila hendak bepergian kemana-mana kita tinggal meniatkan saja maka sudah sampai.. Rasa ini juga dapat disebut Rasa Tunggal Jati. Sebab dalam bepergian itu kita sudah tidak merasakan haus, lapar, kehausan, kedinginan dan lain sebagainya. 


Bagi mereka yang berkeinginan untuk dapat melakukan Meraga Sukma dianjurkan untuk sering Tirakat/Kannat puasa. 


Jadikanlah puasa itu sebagai suatu kegemaran. 


Dan yang penting juga jangan dilupakan melakukan Dzikir gabungan NAFI-ISBAT dan QOLBU.. Dalam sehari-hari sudah pada tahapan Lillahi Ta’ala.


Hal ini berlaku baik mereka yang menghendaki untuk dapat melakukan SHALAT DA’IM. 


Kalau Meraga Sukma mempergunakan NUR ALLAH, tapi bila SHALAT DA’IM sudah mempergunakan NUR ILLAHI. 


Karena ada Rasa Sejati, maka Rasa merupakan asal usul segala sesuatu yang ada. 


Oleh sebab itu bila hendak mendalami ilmu MA’RIFAT Islam dianjurkan untuk selalu bertindak berdasarkan RASA .. 


Artinya jangan membenci, jangan menaruh dendam, jangan iri, jangan sirik, jangan bertindak sembrono, jangan bertindak kasar terhadap sesama manusia, dll. Sebab dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa, kita ini semua sama, karena masing-masing memiliki RASA . 


RASA merupakan lingkaran penghubung antara etika pergaulan antar manusia, juga sebagai lingkaran penghubung pergaulan umat dengan Penciptanya. 


Rasa Tunggal jati ini mempunyai arti dan makna yang luas... Karena bagai hidup itu sendiri. 


Apapun yang hidup mempunyai arti. 


Dan apapun yang mempunyai arti itu hidup. 


Sama halnya 


Apapun yang hidup mempunyai Rasa.


Dan apapun yang mempunyai Rasa itu Hidup.


Dengan penjelasan ini, maka dapat diambil kesimpulan bahwa yang mendiami Rasa itu adalah Hidup. Dan Hidup itu sendiri ialah Sang Pencipta/ALLAH. 


Padahal kita semua ini umat yang hidup. Jadi sama, ada Penciptanya. 


Oleh sebab itu, umat manusia harus saling menghormati, tidak saling merugikan, bahkan harus saling tolong menolong dll.


Dan hal ini sesuai dalam firman ALLAH : 

“HAI MANUSIA ! MASUKLAH KALIAN DALAM PERDAMAIAN, JANGAN BERPECAH BELAH MENGIKUTI LANGKAH SYAITAN, SESUNGGUHNYA SYAITAN ITU MUSUHMU YANG NYATA”.


๐ŸŽKeilmuan ZIKIR NAFAS akan menunjukkan pada anda, bagaimana caranya mengatasi berbagai masalah yang mengintai dalam kehidupan serta memuat berbagai alternatif solusinya, rahasia ilmu ini masih banyak hikmah dan manfaat lainnya dan akan sangat bermanfaat pada orang-orang beristiqomah dalam mengamalkan suatu ilmu 


BISMILLAHIRAHMANIRRAHIM ALLAHUMMA KUN HU SIRRULLAH, HU ALLAH MENJADI RASA, RASA SIRR TA 'AZZAZTU BIROBBIL 'IZZATI WAL JABARUUT, WA TAWAKKALTU 'ALAL HAYYIL LADZII LAA YAMUUT, SYAAHATIL WUJUUH, WA 'AMATIL ABSHOORU, TAWAKKALTU 'ALAL WAAHIDIL QOHHAR, WA LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL 'ALIYYIL 'AZHIIM

.

Dibaca selama 7 hari dimulai pada hari Senin, khasiatnya tergantung niat sipengamalnya untuk apa..

MELEBURKAN DIRI DENGAN ALLAH

 Pemahaman didalam nama ALLAH itu sebenarnya Adalah DZat, SIFAT, ASMA dan AF'AL, sebab pada Lafadz ALLAH itu adalah sebagai berikut :

- Huruf (ALIF) pada kalimah ALLAH itu masuk pada DZAT,

- Huruf (LAM AWAL) pada kalimah ALLAH itu masuk pada SIFAT,

- Huruf (LAM AKHIR) pada kalimah ALLAH itu masuk pada ASMA

- Dan Huruf (HA) pada kalimah ALLAH itu masuk pada AF'AL,

maka itulah yang bernama ALLAH.


Jika memang diri itu HAYAT (Ruh), hendaknya kita jangan berhenti pada RUH saja, akan tetapi teruskan dan tembuskan pandanganmu itu kepada Hal dan SIFAT Allah TA'ALA.

Sekiranya pandanganmu itu berhenti hanya kepada NYAWA saja, maka sesungguhnya kita salah dalam memahami pernyataan bahwa "DIRI ITU RUH".


- Sebab Tatkala Ia Nasab bagi sekalian TUBUH NYAWA Namanya,

- Tatkala Ia keluar masuk NAPAS Namanya,

- Tatkala Ia berkehendak HATI Namanya,

- Tatkala Ia percaya akan sesuatu IMAN Namanya,

- Dan Tatkala Ia dapat memperbuat sesuatu AKAL Namanya.


Pohon AKAL itu adalah ILMU, inilah jalannya dan inilah yang disebut sebenar-benarnya DIRI. Jika demikian adanya maka dapat dikatakan bahwa sekarang ini kita hanya bertubuhkan RUH semata-mata. Mengapa demikian . .?


"KITA" disini sudah FANA LAHIR dan BATHIN kepada RUH, disini jangan diartikan bahwa kita yang MEMFANAKAN DIRI, akan tetapi FANA itu dari ALLAH jua adanya, sedangkan kata "KITA" itu pun sudah LEBUR kedalam FANA itu sendiri.

Itu sebabnya jika ada orang yang mengatakan telah dapat dan mampu MEMFANAKAN DIRI akan tetapi Ia sendiri tidak tau dan tidak kenal akan DIRINYA, maka sesungguhnya itu omong kosong dan bohong besar saja, mengapa demikian ?


Sebab jika seseorang itu tidak tau atau kenal siapa DIRINYA yang sesungguhnya, maka mau di-FANA-kan kemana dirinya itu......?

NYAWA itu adalah NUR MUHAMMAD,

NUR MUHAMMAD itu adalah SIFAT,

dan SIFAT itulah HAYAT,


Akan tetapi ingat olehmu bahwasannya RUH itu bukan TUHAN, Tetapi Tiada lain dari Pada TUHAN, asalkan saja diteruskan kepada DZAT dan SIFAT.

Jika ini dapat dipahami, maka jangan kamu cari lagi akan Ia, karena bila dicari lagi bukannya semakin dekat akan tetapi malah semakin jauh.


Siapa saja yang telah sampai pada MAQOM ini, pastilah Ia tidak akan mau mengatakan kata-kata SYARIAT, TARIKAT, HAKIKAT, MARIFAT, dan...

- Ahli SYARIAT tidak BERSYARIAT lagi,

- Ahli TARIKAT tidak BERTARIKAT lagi,

- Ahli HAKIKAT tidak BERHAKIKAT lagi,

- Ahli MARIFAT tidak BERMARIFAT lagi . .

silahkan direnungkan.


Seseorang yang sampai kepada TUHAN, Ia tidak tahu lagi akan DIRINYA, dan tidak tahu lagi siapa TUHAN-NYA. Emas, Pasir , Syurga, Neraka, sama saja.

Ia lebih senang Diam. Karena diam itu adalah kedudukan Tuhan yang maha Agung dan maha Mulia serta maha Tinggi.

Sebagai tambahan agar kita benar-benar mengenal akan diri yang sebenar-benarnya diri, maka ketahuilah olehmu :


Rasulullah SAW bersabda:

"AKU ADALAH BAPAK DARI SEGALA RUH SEDANGKAN ADAM ITU ADALAH BAPAK DARI SEKALIAN BATANG JASAD/TUBUH".


Batang Tubuh manusia itu dijadikan oleh ALLAH SWT dari pada Tanah.

"AKU JADIKAN INSAN (Adam) ITU DARIPADA TANAH" (Al-Qur'an)


TANAH itu dari pada AIR, AIR itu dijadikan daripada NUR MUHAMMAD.

Dengan demikian maka Nyatalah bahwasannya Batang TUBUH dan RUH kita ini jadi dari pada NUR MUHAMMAD, maka MUHAMMAD Jua Namanya, tiada yang lain.


Sesungguhnya TUBUH kita yang kasar ini tidak akan pernah dan tidak akan dapat mengadakan pengenalan kepada ALLAH melainkan dengan NUR MUHAMMAD jua.

Itulah sebabnya maka dinamakan POHON BUSTAH Artinya yang hampir pada UJUDNYA.


Adapun UJUD itu, adalah UJUD ALLAH TA'ALA jua adanya, sekali-kali jangan ada UJUD yang lain dari pada UJUD ALLAH TA'ALA, itulah yang sebenar-benarnya DIRI, begitu pula dengan kelakuan, jangan ada yang lain, karena tidak ada kelakuan yang lain selain kelakuan ALLAH TA'ALA. Sebab kalimah "FAQAD ARAFAH" itu Tiada akan menerima salah satu, melainkan suci ZAHIR dan BATHIN adanya.


DZAT Artinya UJUD ALLAH semata-mata, itulah yang sebenarnya, Melihat itu BASYAR ALLAH, berkata-kata itu KALAM ALLAH dan seterusnya.

Seandainya ada yang lain dari diri-Nya maka seluruh pengenalanmu itu akan menjadi BATAL.


Semoga bermanfaat...

Salam

Selasa, 28 Desember 2021

SIFAT MA’ANI

 Allah Hu.


Bismillahifat Apakah Yang Terkandung Di Dalam Ma’ani.?


Sifat yang terkandung di dalam sifat ma’ani ada tujuh perkara:


1. Qudrat = kuasa

2. Iradat = berkehendak

3. Ilmu = mengetahui

4. Hayat = hidup

5. Sama’ = mendengar

6. Basar = melihat

7. Qalam = berkata-kata


Bagaimana Menterjemah Sifat Ma’ani Pada 

Diri Kita.?


Sifat ma’ani Allah Ta’ala yang jelas terzahir pada diri kita ada tujuh:


1. Hidup

2. Mengetahui

3. Berkuasa

4. Berkehendak

5. Melihat

6. Mendengar

7. Berkata-kata


Ada dengan terang dan jelas menzahir Sifat-Sifat-Nya ke atas Diri kita. Tujuan dizahirkan Sifat-nya supaya dijadikan sebagai pedoman, sebagai panduan dan sebagai iktibar untuk kita mengenal, melihat dan memandang Allah melaluinya.


Allah bukan Ain (bukan benda) yang boleh dikenal melalui bentuk hitam dan putih. 

Allah menzahirkan Sifat-Sifat-Nya ke atas Diri kita adalah bertujuan supaya dijadikan Tempat memandang Sifat-Sifat-Nya kepada mereka-mereka yang berpandangan jauh.


Ramai yang masih tidak memerhatikannya. Sifat hidup, Sifat mengetahui, Sifat berkuasa, Sifat berkehendak, Sifat melihat, dan Sifat berkata-kata yang dipakaikan Allah atas Diri kita, adalah menjadi tanda kebesaran-Nya atas Diri kita supaya kita memerhati dan melihatnya. Sifat-Sifat tersebut bukannya Sifat peribadi kita tetapi Sifat tersebut sebenarnya adalah hak kepunyaan Mutlak Allah Ta’ala.


Sifat yang kita pakai ini adalah pinjaman semata-mata. Dari itu hendaklah kita sedar dan insaf akan hal itu. Kesemua Sifat-Sifat tersebut adalah hak milik Allah dan kepunyaan Allah swt yang sepatutnya dikembalikan semula kepada Tuan yang Ampunya, *sementara hayat masih dikandung badan*.


Penzahiran Sifat ma’ani (Angin) atas Makluk (Diri kita) adalah sekadar pinjaman yang berupa pakaian sementara, yang Akhirnya dikehendaki kembali semula kepada Tuan 

yang Ampunya. Allah tidak boleh diibarat atau dimisalkan dengan sesuatu.


Maha suci Allah dari ibarat dan misal. Segala misalan atau segala perumpamaan yang dinukilkan itu, hanyalah sekadar untuk mempermudahkan faham. Sifat ma’ani itu, adalah seumpama Bayang-Bayang, manakala Allah Ta’ala itu, adalah seumpama Tuan yang Ampunya bayang.


Tidakkah engkau melihat kekuasaan Tuhanmu.? – bagaimana ia menjadikan Bayang-Bayang itu terbentang luas kawasannya dan jika ia kehendaki tentulah ia menjadikannya tetap tidak bergerak dan tidak berubah Kemudian Kami jadikan matahari sebagai tanda yang menunjukkan perubahan bayang-bayang itu;


Allah Jadikan Manusia dalam Bayang-Nya


Maksud Bayang itu, adalah merujuk kepada Makhluk dan Diri kita. Bayang (Diri) sebenarnya tidak mempunyai apa-apa Sifat. Bayang hanya sekadar Sifat yang menumpang dari yang Ampunya bayang. Bergeraknya bayang adalah gerak daripada yang Ampunya Bayang. Berdirinya Bayang adalah dengan berdirinya Tuan yang Ampunya Bayang (Allah). Mustahil Bayang itu boleh berdiri dengan sendiri tanpa kuasa dari yang Ampunya Bayang (Allah). Bayang dengan yang Ampunya Bayang itu, mustahil bersatu dan mustahil bercerai.


Diri kita dengan wajah Allah itu, adalah seumpama ujud Bayang dengan yang Ampunya Bayang atau seumpama Bayangan wajah di permukaan cermin. Sifat ma’ani itu tidak boleh berdiri dengan sendiri tanpa bergantung dari sifat maknawiah. Hubungan antara sifat ma’ani dengan sifat maknawiah itu, adalah seumpama hubungan antara Bayang dengan yang Ampunya Bayang.


Contohnya seumpama Sifat mata dengan penglihatan, Sifat telinga dengan pendengaran dan Sifat mulut dengan yang berkata-kata. Walau bagaimana keadaan sekalipun, ianya tetap tidak boleh bercerai dan juga boleh bercantum. Inilah yang dikatakan hubungan Sifat ma’ani dengan sifat ma’anawiah itu, bercantum tidak bercerai tiada.


Tiada bercerai antara Nafi dan Isbat, dan siapa-siapa yang menceraikan antara keduanya maka orang itu kafir adanya.


Bayang bukan Cahaya tetapi tidak lain dari Cahaya. Cahaya bukan Matahari tetapi tidak lain dari Matahari. Begitu jugalah contohnya hubungan antara Allah dengan Diri kita. Dari itu marilah kita sama-sama mengambil faham dan insaf bahawa Sifat yang kita miliki ini, sebenarnya hak kepunyaan Allah, yang harus kita serah kembali kepada yang Ampunya.


Tujuan mempelajari Sifat ma’ani adalah bertujuan supaya kita mengaku bahawa sebenarnya Diri kita ini tidak ada, tidak wujud, dan tidak terjadi. Yang wujud, yang ada dan yang terjadi adalah hanya semata-mata Allah, seumpama Sifat Bayang, terzahirnya Bayang itu, adalah bagi tujuan menampakkan dan menyata Sifat yang Ampunya Bayang itu sendiri.


Di dalam keghairahan membicarakan soal Sifat ma’ani, harus diingat bahawa Allah tidak bertempat. Allah tidak menjelma ke atas jasad. Allah tidak bertempat di dalam atau di luar badan, Allah tidak bersatu, tidak bercantum dengan badan, Allah bukan kesatuan, Allah bukan bersyarikat, bukan bercantum dengan jasad kita. Ada orang yang mengaku bahawa Allah menjelma di dalam jasad dan tidak kurang pula ada yang mengaku menjadi Allah dan sebagainya.


Bukan kita yang meliputi Allah, tetapi Allah lah yang meliputi kita. Kesemua Sifat yang kita miliki ini adalah milik Allah, Sifat yang ada pada diri kita akan hancur, binasa dan hilang lenyap, Sifat yang kekal dan yang Abadi itu, hanyalah Allah swt.


Dan janganlah engkau menyembah tuhan yang lain bersama Allah. Tiada Tuhan melainkan Allah. Tiap-tiap sesuatu akan binasa melainkan Zat Allah. Bagi-Nya lah kuasa memutuskan segala hukum, dan kepada-Nya lah kamu semua dikembalikan.


Apa Hubungan Sifat Maani Dengan Roh.


Sifat ma’ani adalah wajah Allah yang terzahir melalui Sifat dan rupa paras Roh, melalui Sifat mata, mulut, telinga, dan anggota tubuh seluruhnya. Sebagaimana rupa dan paras Roh, sebegitulah Wajah ma’ani Allah, kerana Rohlah Sifat ma’ani Allah.


Untuk melihat Sifat ma’ani Allah, lihatlah pada Wajah dan Sifat rupa paras Diri kita sendiri.

NUR SEBAGAI BUAH DZIKIR.

 Asalamualaikum Warahmatullahu Wabarahkatuh.


l  Bismillahirahmanirahim.


NUR SEBAGAI BUAH DZIKIR.


٭٭ ู‚ูˆู…ٌ ุชุณุจِู‚ُ ุงู†ูˆุงุฑู‡ُู… ุงุฐูƒุงุฑู‡ُู… ูˆู‚ูˆู…ٌ ุชุณุจِู‚ُ ุงุฐูƒุงุฑู‡ُู… ุงู†ูˆุงุฑู‡ُู… ูˆู‚ูˆู…ٌ ุชุชุณุงูˆٰู‰ ุงุฐูƒุงุฑู‡ُู… ูˆ ุงู†ูˆุงุฑู‡ُู… ูˆู‚ูˆู…ٌ ู„ุง ุงุฐูƒุงุฑ ูˆู„ุง ุงู†ูˆุงุฑ. ู†ุนูˆุฐ ุจุงู„ู„ู‡ ู…ู† ุฐุงู„ูƒ ٭٭.


 Sebahagian kaum ada yang Nur (makrifat)nya mendahului dzikirnya,  dan sebahagian kaum dzikirnya mendahului Nur-nya, dan sebahagian lagi kaum yang tidak berdzikir dan tidak punya nur., Na’udzubillahi-min-dzalik.


Kaum yang Nur-nya mendahului dzikirnya yaitu : Maj-dzubuun atau Murooduun (orang yang langsung ditarik oleh Allah bolih makrifat), mereka setelah mendapat nur makrifat lalu berdzikir, sedang kaum yang dzikirnya mendahului Nurnya yaitu para Salikuun atau Murii-duun ( orang yang berusaha mencapai makrifat atau wushul kepada Allah), mereka bermujahadah/memerangi nafsunya dengan berdzikir sehingga mendapatkan nur makrifat.


ุฐุงูƒِุฑٌ ุฐูƒุฑَ ู„ูŠَุณْุชู†ูŠุฑَ ู‚ู„ุจู‡ ููƒุงู† ุฐุงูƒِุฑุงً ูˆุฐุงูƒุฑٌ ุงِุณุชู†ุงุฑَ ู‚ู„ุจู‡ ููƒุงู† ุฐุงูƒِุฑุงً ูˆุงู„ุฐูŠ ุงุณุชَูˆَุช ุงَุฐูƒุงุฑُู‡ُ ูˆุงَู†ูˆุงุฑُู‡ُ ูุจุฐِูƒุฑู‡ِ ูŠَู‡ุชุฏู‰ ูˆุจู†ُูˆุฑู‡ِ ูŠู‚ุชุฏู‰ ٭٭


Orang berdzikir yang dzikirnya untuk mendapatkan terang hatinya (yaitu salikuun/muriduun, dan ada orang yang berdzikir sedang hatinya telah terang/mendapat nur (yaitu Majdzubuun/murooduun)mereka semua disebut berdzikir.”


Golongan kaum yang mendapat nur sebelum dzikir itu di sebut dalam ayat  :  ูŠَุฎุชุตُّ ุจุฑَุญْู…َุชู‡ِ ู…ู† ูŠุดู€َุงุกُ “Allah menentukan/mengkhususkan rahmat-Nya pada siapa yang dikehendaki-Nya.”


Sedangkan golongan yang berdzikir kemudian mendapatkan Nur, disebutkan dalam ayat :  “ ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ุฌุงَู‡َุฏُูˆุง ูِูŠْู†ุงَ ู„ู†َู‡ْุฏِูŠَู†ู€َّู‡ُู…ْ ุณُุจُู„َู†ู€ุงَ

 Dan mereka yang benar-benar berjuang dijalan kerirhoan-Ku, pasti Aku pimpin (Aku tunjukkan jalan kami).”


Syeih Abul-Abbas Al-Mursy berkata : sebagian kaum ada yang mendapatkan karunia/karomah dari Alloh dengan taat kepada Alloh(salikuun), dan ada yang bisa taat kepada Alloh sebab karunia/karomah dari Alloh(majdzubuun).


٭٭ ู…ุงูƒุงู† ุธุงู‡ุฑُ ุฐูƒุฑٍ ุงู„ุง ุนَู† ุจุงุทู† ุดู‡ูˆุฏٍ ูˆููƒْุฑٍ ٭٭


 Tidak akan terjadi dzikir pada anggota lahir kecuali sebab musyahadah dan berfikir (tentang keagungan Allah) dalam bathin (hati)nya .”


Yang dimaksud dzikir disini yaitu semua amal lahir, sebab semua amal lahir itu pasti timbul dari hati yang memandang Allah(musyahadah) dan berfikir tentang keagungan Allah.

Apabila anggota lahir disibukkan dengan berdzikir kepada Allah, itu sebagai tanda adanya cinta kepada Allah dalam hatinya; ketika seseorang cinta sesuatu maka banyak menyebutnya, dan tidak ada cinta kecuali dari mengenal (makrifat).


Alhasil adanya dzikir pada anggota lahir itu timbul dari adanya musyahadah dalam bathinnya, bagi para arifiin. Atau timbul dari berfikir tentang anugerah dari Allah, bagi orang-orang yang mencari pahala.


Dalam hal dzikir manusia terbagi menjadi tiga bahagian : 

1. Orang yang mencari pahala(awam).

 2. Orang yang berharap sampai/wushul kepada Allah(salik). Dan 

3. Orang yang mengagungkan dan memuliakan Allah(’Arif).


٭٭ ุฃุดู‡ุฏูƒَ ู…ู† ู‚ุจู„ ุฃู† ูŠุณุชุดู‡ِุฏ ูƒ ูู†ุทู‚ุช ุจุงุกู„ٰู‡ูŠุชู‡ِ ุงู„ุธูˆุงู‡ุฑُ ูˆَุชุญู‚ู‚ุช ุจุฃุญุฏูŠุชู‡ ุงู„ู‚ู„ُูˆุจُ ูˆَุงู„ุณุฑَุงุฆุฑُ ٭٭


Allah ta’ala telah memberi syuhud (kesaksian) kepadamu, untuk menyaksikan ke-Tuhanan-Nya Allah sebelum  Allah menuntut kamu supaya menyaksikan keagungan Allah , lalu anggota lahirmu mengucapkan (menyatakan) ke-Tuhanan-Nya Allah dan hatimu menyaksikan sifat Esa-Nya Allah.”


Allah telah membukakan pada semua ruh manusia dialam ghaib tentang ke-Tuhanan Allah dan sifat Esa Dzatnya Allah, dan tentang Allah meliputi dan mengurusi semua makhluknya, lalu setelah Allah melahirkan arwah tadi kealam dunia yakni Allah mngumpulkan ruh dengan jasad lahir, lalu Allah menuntut ruh tadi untuk menyaksikan ke-Tuhanan-Nya Allah, maka ruh tadi menyaksikan dengan lisan lahirnya,. Jadi kesaksian ruh itu mengikuti penyaksian ruh dialam ghaib.


Dalam keterangan kitab lain hikmah ini juga diartikan : Allah sudah memperlihatkan Dzatnya kepadamu, sebelum Ia menuntut kepadamu harus mengakui kebesarannya, sehingga nyata mengakui ke-TuhananNya segala makhluk lahir, dan nyata hakikat ke-Esa-anNya dalam hati dan sir.


٭٭ ุฃูƒุฑู…ูƒ ุจูƒุฑุงู…ุงุชٍ ุซู„ุงุซ ุฌุนู„ูƒ ุฐุงูƒِุฑًุง ู„ู‡ ูˆู„ูˆู„ุง ูَุถู„ู‡ ู„ู… ุชูƒู† ุฃู‡ู„ุงً ู„ِุฌุฑَูŠุงู† ุฐِูƒุฑِู‡ ุนู„ูŠูƒَ، ูˆุฌุนู„ูƒ ู…ุฐูƒูˆุฑุงً ุจู‡ ุงِุฐْ ุญู‚ู‚ ู†ِุณุจุชَู‡ ُ ู„ุฏูŠูƒَ ูˆุฌุนู„ูƒ ู…ุฐูƒูˆุฑุงً ุนู†ุฏู‡ ูุชู…ู… ู†ِุนْู…ุชู‡ ุนู„ูŠูƒَ ٭٭


 Allah telah memuliakan engkau dengan tiga karomah (kemuliaan): Allah telah menjadikan engkau seorang yang berdzikir kepada-Nya, jika tidak karena anugerah-Nya, nescaya  engkau tidak pantas/layak untuk berdzikir kepada-Nya. Allah telah menjadikan engkau disebut dengan asma Allah, karena Allah telah menisbatkan asma itu kepada engkau. Allah telah menjadikan engkau disebut  disisi Allah , maka dengan demikian Allah telah menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu.”


Allah berfirman :  

 Dan sesungguhnya dzikir Allahh kepada hamba itu lebih besar (dari pada dzikir hamba kepada Allah)”.


Bagaimana seorang hamba yang hina boleh menyebut dan mengabdi kepada Tuannya yang maha agung, kalaulah tidak karena anugrah Tuhan tidaklah mungkin engkau bolih berdzikir dengan lisanmu.


Karomah yang kedua, Engkau dijadikan orang yang disebut dengan asma Allah (Allah sendiri yang menisbatkan asma/dzikir itu kepadamu) , seperti contoh : Ya waliyyallah, Ya shafiyullah, itu kerana Allah sudah memberikan sifat khususiyyah pada kamu.


Karomah yang ketiga,Engkau disebut-sebut disisi Allah dihadapan para malaikat al-muqorrobin. Itulah sempurna-sempurnanya nikmat.


Dalam sebuah hadits qudsi , dari Abi Hurairah ra. Berkata : Rasulullah saw. Bersabda : Allah berfirman : Aku selalu mengikuti perasangka hambaku, dan aku selalu mendampinginya selama ia berdzikir  pada-Ku,  jika ia berdzikir padaKu dalamhatinya, Aku ingat padanya dalam Dzatku, dan bila ia dzikir pada-Ku di muka umum, aku ingati dia didalam umum yang lebih baik dari golongannya,  dan bila ia mendekat padaKu sejengkal maka Aku mendekat padanya sehasta, bila ia mendekat padaKu sesehasta maka Aku mendekat padanya sedepa, dan bila ia datang kepadaKu berjalan, Aku datang kepadanya berlari.

Salam Santun Dan Salam Tauhid

Ma'rifat itu SANGAT BIASA

 Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh.


Setelah orang mencapai ma'rifat, apa yang selanjutnya dilakukannya ???

Setelah sampai MENGENAL ALLAH, bisa terhubung, terkoneksi,  lantas apa yang terjadi ???


Tidak ada !!"


Ma'rifat itu SANGAT BIASA. tidak ada yang aneh, tidak ada yang khusus, tetapi dimensinya saja yang khusus Lil khusus tetapi Zahir jasmaninya sangat biasa2 saja. 

Tidak ada perubahan dari sisi jasmaninya yang mencolok. Karena dia akan selalu SEMBUNYI DI KERAMAIAN TERANG. 

Tetapi, karena QOLBUNYA telah terhubung dengan Allah maka dia akan dipakai ALLAH sebagai #RAHMATAN LIL ALAMIN, dia akan #MEMBAWA VISI DAN MISI KETUHANAN. Dia menjadi #KHALIFAH di dunia,...yang memancarkan #CAHAYA TUHAN.  

Dia tidak keramat, tidak sakti, tidak luar biasa. Dia BIASA2 SAJA seperti pada umumnya.


Karena setinggi apapun seseorang, tetap akan ketemu ORDINAT ZERO (0,0,0,0,0,0). Akan ketemu sumbu 2 gaya yaitu syariat dan hakekat.

MA'RIFAT, ibarat ada nyala lilin dalam hatinya yang dijaga jangan sampai padam. Baik dari angin kekiri, kekanan, kedepan, kebelakang, keatas, kebawah. 

Karena nyala lilin itu BISA MATI walaupun terkena sapuan angin sekecil apapun. 

( Bermula qolbu seorang mukmin itu----BAITULLAH)#nabi

#Angin itu hanyalah kias.  Aslinya adalah tentang was2, kekhawatiran, kecintaan, harap keinginan, hasrat, marah benci, sukacita, objektifitas, dll. 

Sehingga nyala itu jangan sampai mati karena itu semua. 

(Tidak akan masuk surga seseorang yang dalam hatinya masih ada sebiji zarah kesombongan)2 #nabi


Dia akan menjaga dirinya dengan  SIFAT BAIK, PIKIRAN BAIK, PERANGAI BAIK, SIKAP BAIK, PERBUATAN BAIK.  


Dan seorang ahli MA'RIFAT akan selalu menjaga SUMBU 2 GAYA ( gaya syariat dan gaya hakekat), atau jika tidak, DIA AKAN TERJATUH dari MA'RIFATnya.  Biasanya jatuhnya bermula dengan BADAI LOGIKA. #SEHINGGA LOGIKANYA MENGALAMI TURBULENSI  dan kembali turun

 Menjadi syari'at mentah lagi,......


Logikanya, MA'RIFAT itu ada di ORDINAT ZERO, di alam mutlak, maka tidak ada lagi positif negatif. 

Jika mengaku ma'rifat tapi kok masih ributkan positif dan negatif, itu artinya bukan MUTLAK.


Positif negatif itu letaknya ada di alam AKAL SADAR manusia. Masak dialam diatas sadar masih ada baik buruk, positif negatif ????

Tapi buahnya akan selalu BAIK2 DAN POSITIF.  Tapi baik dan positif nya BUKAN DARI SEBAB  SUBJEKTIF NYA.  artinya dia bersyariat tapi DI SYARIAT KAN.  Bukan syari'at versi diri manusianya. 

SUUUUUUUULITT menjaga nyala lilin di tengah badai. Tapi harus bisa, atau nyala nya mati dan jatuh


Silahkan jika ada yang mau undang kami untuk presentasi ilmiah mengenai topik ini, di forum kajian Islam, lintas agama, praktisi, intelektual atau akademisi UNTUK MENERANGKAN URAIAN2 ILMIAH

Mengel Allah

 Puncak tertinggi adalah mengenal ALLAH… ALLAH itu ADA 

Untuk mencari yang ADA, seseorang itu perlu MATI… "… 

Oleh sebab itu jangan asyik dengan angan-angan kosong dan khayalan semata 

Salik dan dunia ini … hanya WUJUD dalam fikiran…. bagaimana pun TIDAK ADA pada hakikatnya… Kedua-duanya semata-mata... KOSONG. Sesuatu yang KOSONG tidak dapat mengenal kepada yang ADA.


MAN ini adalah bertaraf makhluk, namun apabila ia mengenal dirinya 

NAFSAHU (Manusia) maka barulah ia mengenal TuhanNya yang bernama 

RABBAHU, Yaitu Tuhan yang bertaraf LAISA KAMISLIHI SYAIUN 

( Yang tidak berupa apa pun jua) 

Maksudnya lagi : MAN ini jika kita bawa kepada pengertian NAFSAHU maka ia akan membawa kepada manusia yang " Laisa kamislihi syaiun" yaitu manusia yang Batin atau dikenal sebagai Insan atau di kenal juga sebagai DIRI SEBENAR DIRI yang bertaraf NYAWA atau NAFAS, Nyawa atau Nafas adalah bagian dari diri Rohani, fungsinya adalah menghidupkan diri Jasmani atau diri yang bernama DIRI TERPERI. 

Coba rasakan di dalam tubuh ini : 

ada yang TURUN dan NAIK atau yang KELUAR dan yang MASUK. 


Oleh karena itu jika mencari yang ADA melalui sesuatu yang TIDAK ADA adalah sia-sia belaka 

Sebab yang TIDAK ADA ... tidak akan mampu menzahirkan yang ADA 

Sebaliknya … Yang ADA lah yang mampu mewujudkan segala sesuatu "yang tidak ada"... KOSONG... kepada yang ADA 

Dzat yang ghaib lagi ghaib itu… selama-lamanya tidak akan ada kenyataannya…. tetapi ada penzairan sifat-sifatnya 

Terutamanya kepada salik yang mukmin.. salik yang mengenal-NYA. Si salik hanya menjadi kenyataan … TAJJALLI… DZAT yang GHAIBUL GHAIB 

Dari AHDAH.. timbul…WAHDAH.. Yaitu kenyataan kesempurnaan SifatNYA.. Inilah pintu untuk mengenal yang ADA…. yang TIADA... KOSONG… tidak boleh berubah menjadi Yang ADA 

DIA lah yang ADA, DIA lah Yang Zahir…Yang Batin…Yang Awal dan Yang Akhir... DIA itu adalah AKU... AKU yang bergelar TUAK LOMBOK ILAHI 

Oleh sebab itu WUJUD AKU lebih terang dan nyata daripada WUJUD-WUJUD yang lain... AKU lah Yang Melihat dan Yang Di Lihat.. WUJUD ENGKAU itu tidak ada…. Alias KOSONG….semata-mata.


Inilah Amaliyahnya : Pejamkan mata, tongkatkan lidah kelelangit langit mulut, lalu Tarik nafas sedalam mungkin, kemudian ditahan, sewaktu menahan nafas baca doa ini 1x: 

Bisamillahirahmanirrahim... 

HUU ALLAH HAQ... 

SIFATKU SIFAT MUHAMMAD... 

DZAT ALLAH... 

SIFAT MUHAMMAD... 

AKU DUDUK DALAM ALIF LAM LAM HA... 

HILANG DALAM KALIMAH TAUHID... 

LAILAHAILALLAH MUHAMMAD RASULULLAH 

Setelah itu keluarkan nafas seperti biasa, lakukan amaliah ini sesering mungkin sampai tercapai hajat di hati.


Hilangkan tubuh menjadi Nur,sehingga tubuh engkau menjadi Ruh.

maka hilanglah tubuh menjadi ‘TITIK’, titik itulah asal muasal kejadian ‘ALIF’.


maka Alif yang bergerak didalam lautan rahasia itulah yang disebut 

‘HAYAT’. maka hiduplah dan bergeraklah tubuh, itulah yang dinamakan SifatNya.


yang ada di dalam tubuh engkau, itulah yang disebut RahasiaNya,

 maka AKULAH yang LAISA dan jangan dicari lagi.


Apabila telah fana sifat makhluk dan sifat salik sendiri ke dalam wajahNya,maka WajahNya akan dapat terlihat, di kala itu sifat makhluk atau sifat salik telah kamil dlm WajahNya.


DIA Yang Zhahir dan Yang Bathin, Yang sesungguhnya "selalu bersama" dengan kemanusiaan. Disadari ato tidak, ....beriman ato tidak, ....muslim ato tidak,  DIA selalu ada bersama kemanusiaan dan DIA amat dekat bahkan jauh lebih dekat dari urat lehernya sendiri.


Coba renungkanlah ini, .....

Manusia zhahir terlihat nyata pada JASAD TUBUH-nya, sedangkan DIA zhahir nyata terlihat pada seluruh SIFAT-NYA...... Dan yang bathin pada manusia adalah segala SIFAT-nya, sedangkan DIA bathin justru pada DZAT-NYA.... kenyataan-NYA, DIA selalu ada bersama kemanusiaan, satu-kesatuan atau ketunggalan yang tak terpisahkan, Tauhid.


Itulah sesempurna-sempurnanya manusia yang "bersatu/manunggaling/meleburkan" zhahir dan bathin-nya kepada Zhahir dan Bathin-NYA (kembali pulang, ilayihi raji'un), yaitu mematikan/melenyapkan/membathinkan segala kehendak jasad (hawa nafs)-nya dan mewujudkan/menzhahirkan segala Sifat-NYA.....menjadi perwujudan DIA Ar Raahman, yang menjadi rahmat bagi semesta alam, fitrah kemanusiaannya yang merupakan mutlak FITRAH-NYA, tak akan pernah berubah (QS 30:30).

Jumat, 24 Desember 2021

ROH ITU DI CAHAYA

Kekuatan Rahsia Allah ini hanya Allah saja yang mengetahui sepenuhnya. Oleh sebab itu RUHKU ini telah dibalut oleh Allah dengan pelbagai balutan agar ianya tidak membakar Jasad dan agar kekuatan dan Keagungannya dibataskan sesuai dengan cara kehidupan manusia itu sendiri. Dari segi ilmunya,balutan balutan ini dikatakan sebagai BALUTAN CAHAYA mengikut kedudukan alamnya.


Butirannya adalah sebagai berikut ;

Lapisan Balutan pertama dirujuk sebagai BALUTAN CAHAYA LAHUT dan ia dikenali sebagai RUH AL-QUDSI

Lapisan Kedua ialah BALUTAN CAHAYA JABARUT dan ia dikenali sebagai RUH SULTANI

Lapisan Balutan Ketiga ialah BALUTAN CAHAYA MALAKUT dan ia dikenali sebagai RUH RUHANI

Lapisan Keempat dan terakhir ialah BALUTAN CAHAYA MULKI dan ia dikenali sebagai RUH JASMANI.

Sepertimana anggota anggota Jasad ,  juga BALUTAN BALUTAN CAHAYA ini merupakan Zat Serba Zat yang seni seni yang hanya diketahui Allah. Ia merupakan SUMBER HIDUP manusia itu sendiri


Menurut Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani tempat tempat Ruh-Ruh di atas di dalam Jasad manusia adalah seperti berikut :-

*     Ruh Jasmani Letaknya antara kulit dan daging

*     Ruh Ruhani Di dalam jantung manusia itu

*     Ruh Sultani Di Baitillah Mukmin iaitu satu bahagian khusus   -   di-jantung manusia itu

Ruh Al-Qudsi Di dalam RASA


RUH RUH yang merupakan Balutan Balutannya itulah yang dirujuk sebagai DIRI BATIN MANUSIA itu.

Sedangkan RUH AL-QUDSI itu pula dirujuk sebagai DIRI SEBENAR atau DIRI HAKIKI MANUSIA itu yang oleh Allah dirujuknya sebagai RAHSIA dan RAHSIAnya adalah ALLAH itu sendiri.

Maka inilah yang dirujuk oleh Allah di dalam Al-Quran 


Jika mereka bertanya tentang AKU Ya Muhammad maka katakanlah Aku DEKAT dan menyahut seruan orang yang memanggil Aku.

DIRI inilah yang diperintah oleh Allah untuk dikenali oleh manusia itu melalui Hadits : 

" Man Arafa Nafsahu Faqad Arafa Rabbahu "

Yang demikian jika manusia itu dapat mengenal DIRI ini maka kenal ia akan Tuhannya Allah SWT. Maka sudahlah ianya menunaikan Perintah Allah.

Salam