Laman

Selasa, 18 Januari 2022

FANA BIL BAQO'

الســـــــلام عليــكم ورحمة الله وبركاتــــــــــــــه.

Assalaamu'alaykum Warohmatulloohi Wabarokaatuh.


MANUSIA (M-A-N-U-S-I-A).

.

M = Man ( Barang siapa ),

A  = Arofa ( Mengenal ),

N  = Nafsahu ( Akan dirinya ),

U  = Ujudu ( Maka ujudnya ),

S  = Sirr ( Menjadi Rahasia ),

I   = I'tihaj ( Kenyataan ),

A  = An HU ( Akan diriKU ).


MAN AROFA NAFSAHU BIL FANA FAQOD AROFA ROBBAHU BIL BAQO'.


Barang siapa mengenal dirinya yang fana maka dikenalinyalah Alloh yang kekal dan abadi.


FANAFILLAH TABADAL BAQOBILLAH FAQOD MINALLOH.

“Fanafillah terganti Baqobillah sehingga Minalloh”.


– MANUSIA itu ialah DIRI yang menerima PERINTAH RAHASIA, Jadi PERINTAH RAHASIA itu yang dikatakan DIRI.


SIAPA DIRI ?


DIRI terbagi menjadi 3 (tiga), yakni ;

1. DIRI TERDIRI,

2. DIRI TERPERI, dan

3. DIRI SEBENAR DIRI.


1).  DIRI TERDIRI Adalah JASAD INI.

       Dikatakan "Diri Terdiri" karena pada jasad itu diliputi Diri yang lain Yaitu Hakikat Diri.


2).  DIRI TERPERI Adalah RUH.

       Dikatakan Diri Terperi karena didalam jasad itu adanya sesuatu yang Menyatu pada jasad Yaitu Ruh.


3).  DIRI SEBENAR DIRI / HAKIKAT DIRI Adalah YANG DIKATAKAN SIRR ( RAHASIA ALLOH ).

       Dikatakan Diri Sebenar Diri Karena Diri Terperi atau Ruh itu mengandungi Bayang-bayang Wujud Alloh, 


HAQIQAT DIRI ini atau DIRI SEBENAR DIRI ini adalah yang dikatakan SIFAT ASALNYA atau SIFAT WAHDAT yang tiada lain adalah NUR-NYA sendiri yang di beri nama MUHAMMAD atau KUNHI DZAT MUHAMMAD.


Oleh karena itulah yang berhak menaungi seluruh makhluk adalah Muhammad itu sendiri yang bersifat Rahasia atau Nur Muhammad.


Jadi siapa yang pengenalannya sesuai AF'AL-NYA (Perbuatannya), ASMA-NYA (namanya atau ucapannya), SIFAT-NYA (bayang-bayang dzat), DZAT-NYA (yang sebenarnya diri), maka sungguh ia dalam naungan Muhammad yang bersifat rahasia atau Nur Muhammad.


– Jadi RUH itu tiada lain adalah Nur Muhammad.

– Nur Muhammad itulah yang di katakan menaungi Dzahir dan Bhatin sekalian alam dan seluruh makhluk.

– Nur Muhammad itulah kesejatian Makhluk Alloh yang sebenarnya.

– Nur Muhammad itulah yang dikatakan sebenar-benarnya bhatin Hamba. Bhatin inilah yang dikatakan Dzahir Alloh, sebagaimana sabdanya ;

ILAAHI ROBBI DZAHIRU WAL BATHINU ABDI.


Jadi, Nur Muhammad ini adalah Pancaran Nur Alloh dari Wahdatul wujud yang Kamistlihi Syai'un.


Oleh karena itu Para Arifbillah terdahulu mengisyaratkan melalui 4 (empat) metode pembagian agar mudah untuk di fahami dan tidak Aku-akuan oleh ummat-Nya, Yang tiada lain adalah :

1. Dzat-NYA,

2. Sifat-NYA,

3. Asma'-NYA, dan

4. Af'aal-NYA.


Dzat, Sifat, Asma', Af'al yang ada pada sekalian makhluk, yang kenyataannya adalah Nur Muhammad daripada Dzat, Sifat, Asma dan Af'al dari Tajalli Alloh sendiri.


– Nur Muhammad itu tiada lain adalah Rahasia Sifat Wahdat.

– Nur Muhammad itulah Pendzahiran atau Kenyataan ( Tajalli ALLOH itu sendiri ).


Siapa yang mengenal Diri dengan ma'rifat, Maka tidak ada yang lain hanya Alloh dan Muhammad.


– Awal Muhammad itulah Nurani Yaitu RUH pada kita.

– Akhir Muhammad itulah Ruhani Yaitu Hati pada kita.

– Dzahir Muhammad itulah Insani Yaitu Jasad pada kita ( Bagaimana Rupa jasad begitulah Rupa ruh kita ).

– Bathin Muhammad itulah Robbani Yaitu Sirr atau Rahasia pada kita ( Tiada sekutu Tiada bercerai )


BERLAKU JUGA SEBAGAI SYAHADAT DIRI :

– Muhammad itu bayangan Wujud Alloh.

– Yang sebenar-benarnya bayangan itulah yang Punya bayangan pada jasad kita.

– Bayangan dan M'pu-nya bayang menyatu Tiada sekutu.


Jadi jelas bahwa ALLOH itu Maha Suci ( Layisa Kamistlihi Syai'un ),

Bayangan-NYA itulah NUR MUHAMMAD yang tiada lain Pendzahiran ALLOH.


Sungguh berdosa diri ini jika tidak mengetahui atau mengenal akan DIRI dan SEBENAR DIRI dengan sesuai, maka senantiasa hidupnya akan selalu dalam keadaan berdosa dan terjerat ke-AKU-an.


Walloohu A'lam......

SIAPAKAH RIJALUL GHAIB

 Rijalul Ghaib adalah makhluk ciptaan Allah yang tidak kasat mata yaitu tidak tampak oleh mata manusia. Tugasnya adalah untuk menjalankan perintah Allah dalam membantu manusia memenuhi segala hajat dan keperluannya.

Tentang Rijalul ghaib ini pernah di sebutkan oleh Imam Ahmad Al Buni dalam kitabnya Manba Ushulul Hikmah halaman 230 mengatakan:


“Ketahuilah, bahwa Allah Yang Maha Agung dan Maha Tinggi dengan kemurahan-Nya yang besar terhadap manusia, Dia ciptakan ruh-ruh dari bangsa malaikat yang berkeliling ke seluruh pelosok bumi, membantu orang-orang yang mempunyai hajat, supaya hajatnya itu terpenuhi dan keinginannya tercapai. Barang siapa yang bertepatan waktu hajatnya dengan arah tempat mereka berada, kemudian berdoa kepada Allah Ta’ala, mereka akan mengaminkan doanya itu, maka doa akan dikabulkan dan permintaannya akan diperolehnya.’’ Ada petunjuk atau cara untuk mengetahui posisi Rijalul Ghaib itu tiap-tiap dalam sebulan (menurut perhitungan bulan Hijriah). Posisi tempat keberadaan mereka itu selalu berpindah-pindah.


"LA TAHSABANNAL LADZI QUTILUU FI SABILILLAHI AMWATAN, BAL AHYAUN INDA ROBBIHIM YURZAQUNA" (ALI IMRON : 169)

”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu MATI bahkan mereka itu hidup di sisi tuhannya dengan mendapat rezqi “


Kehidupan mereka yang dimaksudkan adalah alam yang lain, bukanlah alam dunia ini, mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, Dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan kehidupan nya itu.

Dari kitab Jawahir Al-Khomsi Syeikh Khotiruddin Bayazid Al-Khowajah dan Kitab Jami’u Karomatil Aulia kepunyaan Syeikh Yusuf ibni Isma’il An-Nabhani R.A , bahwa Rizalul Ghaib merupakan salah satu pangkat kewalian dari 37 pangkat/Maqom para Wali.

Berikut ini Pangkat/Maqom nya para Aulia Allah :


1. Qutub Atau Ghauts (1 abad 1 Orang)


2. Aimmah (1 Abad 2 orang)


3. Autad (1 Abad 4 Orang di 4 penjuru Mata Angin)


4. Abdal (1 Abad 7 Orang tidak akan bertambah dan berkurang Apabila ada wali Abdal yang Wafat Alloh menggantikannya dengan mengangkat Wali abdal Yg Lain ( Abdal=Pengganti ) Wali Abdal juga ada yang Waliyahnya ( Wanita )


5. Nuqoba’/Naqib (1 Abad 12 orang Di Wakilkan Alloh Masing-masing pada tiap-tiap Bulan)


6. Nujaba’ (1 Abad 8 Orang)


7. Hawariyyun (1 Abad 1 Orang) Wali Hawariyyun di beri kelebihan Oleh Alloh dalam hal keberanian, Pedang (Zihad) di dalam menegakkan Agama Islam Di muka bumi.


8. Rojabiyyun (1 Abad 40 Orang Yg tidak akan bertambah & Berkurang Apabila ada salah satu Wali Rojabiyyun yg meninggal Alloh kembali mengangkat Wali rojabiyyun yg lainnya, Dan Alloh mengangkatnya menjadi wali Khusus di bulan Rajab dari Awal bulan sampai Akhir Bulan oleh karena itu Namanya Rojabiyyun.


9. Khotam (penutup Wali)(1 Alam dunia hanya 1 orang) Yaitu Nabi Isa A.S ketika diturunkan kembali ke dunia Alloh Angkat menjadi Wali Khotam (Penutup).


10. Qolbu Adam A.S (1 Abad 300 orang)


11. Qolbu Nuh A.S (1 Abad 40 Orang)


12. Qolbu Ibrohim A.S (1 Abad 7 Orang)


13. Qolbu Jibril A.S (1 Abad 5 Orang)


14. Qolbu Mikail A.S (1 Abad 3 Orang tidak kurang dan tidak lebih Alloh selau mengangkat wali lainnya Apabila ada salah satu Dari Wali qolbu Mikail Yg Wafat)


15. Qolbu Isrofil A.S (1 Abad 1 Orang)


16. Rijalul ‘Alamul Anfas (1 Abad 313 Orang)


17. Rijalul Ghoib (1 Abad 10 orang tidak bertambah dan berkurang tiap2 Wali Rizalul Ghoib ada yg Wafat seketika juga Alloh mengangkat Wali Rizalul Ghoib Yg lain, Wali Rizalul Ghoib merupakan Wali yang di sembunyikan oleh Alloh dari penglihatannya Makhluq2 Bumi dan Langit tiap2 wali Rizalul Ghoib tidak dapat mengetahui Wali Rizalul Ghoib yang lainnya, Dan ada juga Wali dengan pangkat Rijalul Ghoib dari golongan Jin Mu’min, Semua Wali Rizalul Ghoib tidak mengambil sesuatupun dari Rizqi Alam nyata ini tetapi mereka mengambil atau menggunakan Rizqi dari Alam Ghaib.


18. Adz-Dzohirun (1 Abad 18 orang)


19. Rijalul Quwwatul Ilahiyyah (1 Abad 8 Orang)


20. Khomsatur Rizal (1 Abad 5 orang)


21. Rijalul Hanan (1 Abad 15 Orang)


22. Rijalul Haybati Wal Jalal (1 Abad 4 Orang)


23. Rijalul Fath (1 Abad 24 Orang) Alloh mewakilkannya di tiap Sa’ah (Jam) Wali Rizalul Fath tersebar di seluruh Dunia 2 Orang di Yaman, 6 orang di Negara Barat, 4 orang di negara timur, dan sisanya di semua Jihat (Arah Mata Angin)


23. Rijalul Ma’arijil ‘Ula (1 Abad 7 Orang)


24. Rijalut Tahtil Asfal (1 Abad 21 orang)


25. Rijalul Imdad (1 Abad 3 Orang)


26. Ilahiyyun Ruhamaniyyun (1 Abad 3 Orang) Pangkat ini menyerupai Pangkatnya Wali Abdal


27. Rijalun Wahidun (1 Abad 1 Orang)


28. Rijalun Wahidun Markabun Mumtaz (1 Abad 1 Orang) Wali dengan Maqom Rijalun Wahidun Markab ini di lahirkan antara Manusia dan Golongan Ruhanny (Bukan Murni Manusia), Beliau tidak mengetahui Siapa Ayahnya dari golongan Manusia, Wali dengan Pangkat ini tubuhnya terdiri dari 2 jenis yang berbeda, Pangkat Wali ini ada juga yang menyebut ”Rijalun Barzakh ” Ibunya Dari Wali Pangkat ini dari Golongan Ruhanny Air INNALLOHA ‘ALA KULLI SAY IN QODIRUN ” Sesungguhnya Alloh S.W.T atas segala sesuatu Kuasa.


29. Syakhsun Ghorib (di dunia hanya ada 1 orang)


30. Saqit Arofrof Ibni Saqitil ‘Arsy (1 Abad 1 Orang)


31. Rijalun Ghina ( 1 Abad 2 Orang) sesuai Nama Maqomnya/Pangkatnya Rizalul Ghina ”Wali ini Sangat kaya baik kaya Ilmu Agama, Kaya Ma’rifatnya kepada Alloh maupun Kaya Harta yang di jalankan di jalan Alloh, Pangkat Wali ini juga ada Waliahnya (Wanita).


31. Syakhsun Wahidun (1 Abad 1 Orang)


32. Rijalun Ainit Tahkimi waz Zawaid (1 Abad 10 Orang)


33. Budala’ (1 Abad 12 orang) Budala’ Jama’ nya/Jama’ Sigoh Muntahal Jumu’ dari Abdal tapi bukan Pangkat Wali Abdal


34. Rijalun Istiyaq (1 Abad 5 Orang


35. Sittata Anfas (1 Abad 6 Orang) salah satu wali dari pangkat ini adalah Putranya Raja Harun Ar-Royid yaitu Syeikh Al-’Alim Al-’Allamah Ahmad As-Sibt


36. Rizalul Ma’ (1 Abad 124 Orang) Wali dengan Pangkat Ini beribadahnya di dalam Air di riwayatkan oleh Syeikh Abi Su’ud Ibni Syabil ” Pada suatu ketika aku berada di pinggir sungai tikrit di Bagdad dan aku termenung dan terbersit dalam hatiku “Apakah ada hamba2 Alloh yang beribadah di sungai2 atau di Lautan” Belum sampai perkataan hatiku tiba2 dari dalam sungai muncullah seseorang yang berkata “akulah salah satu hamba Alloh yang di tugaskan untuk beribadah di dalam Air”, Maka akupun mengucapkan salam padanya lalu Dia pun membalas salam aku tiba-tiba orang tersebut hilang dari pandanganku.


37. Dakhilul Hizab (1 Abad 4 Orang) Wali dengan Pangkat Dakhilul Hizab sesuai nama Pangkatnya , Wali ini tidak dapat di ketahui Kewaliannya oleh para wali yang lain sekalipun sekelas Qutbil Aqtob Seperti Syeikh Abdul Qodir Jailani, Karena Wali ini ada di dalam Hizab nya Alloh, Namanya tidak tertera di Lauhil Mahfudz sebagai barisan para Aulia, Namun Nur Ilahiyyahnya dapat terlihat oleh para Aulia Seperti di riwayatkan dalam kitab Nitajul Arwah bahwa suatu ketika Syeikh Abdul Qodir Jailani Melaksanakan Towaf di Baitulloh Mekkah Mukarromah tiba-tiba Syeikh melihat seorang Perempuan dengan Nur Ilahiyyahnya yang begitu terang benderang sehingga Syeikh Abdul qodir Al-Jailani Mukasyafah ke Lauhil Mahfudz dilihat di lauhil mahfudz nama perempuan ini tidak ada di barisan para Wali-wali Alloh, Lalu Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani bermunajat kepada Alloh untuk mengetahui siapa Perempuan ini dan apa yang menjadi Amalnya sehingga Nur Ilahiyyahnya terpancar begitu dahsyat , Kemudian Allah memerintahkan Malaikat Jibril A.S untuk memberitahukan kepada Syeikh bahwa wanita tersebut adalah seorang Waliyyah dengan Maqom/ Pangkat Dakhilul Hizab “Berada di Dalam Hizabnya Alloh”, Kisah ini mengisyaratkan kepada kita semua agar senantiasa BerHusnudzon ( Berbaik Sangka ) kepada semua Makhluq nya Alloh, Sebetulnya Masih ada lagi Maqom-maqom Para Aulia yang tidak diketahui oleh kita, Karna Alloh S.W.T menurunkan para Aulia di bumi ini dalam 1 Abad 124000 Orang, yang mempunyai tugasnya Masing-masing sesuai Pangkatnya atau Maqomnya.

Susunan Maqom/Pangkat Para Aulia ini bersumber dari terjemahan kitab Jami’u Karomatil Aulia (Kumpulan Karomah-karomah Para Wali), Perlu di ketahui bahwa Maqomnya para Aulia tidak tetap tapi naik walaupun mereka sudah Meninggal..

ROH TIDAK DAPAT PULANG

Assalamualaikum..

ROH  itu  NYAWA  dan  bilamana Nyawa itu berpisah dgn Jasad ,  maka mati lah Jasad ( pada namanya ).


 Apbla Roh dapat  KEMBALI  SEMULA  kpd  Jasad nya ,  maka Jasad akan  GHAIB. 


 Sebaliknya ,  Roh yg  TIDAK DAPAT PULANG  ke dalam Jasad akan  BERKELIARAN  di bumi ini. Roh ini menanti perintah hukuman Allah.

Oleh sbb kebijaksanaan Allah ,  maka Roh ini akan  DIBERI  LAGI  SIFAT  mengikut  KELAKUAN  semasa hidup nya sebagai manusia dahulu.


 Klu dahulu ia suka  MELAGA-LAGAKAN  ORANG  ,  maka Allah memasukkan nya ke dalam SARUNG  BINATANG.  Sebagai contoh kambing , jumpa sahaja kambing lain ia akan   BERLAWAN  HANTUK  KEPALA  sehingga Roh di dlm kambing itu  MERAUNG  KESAKITAN. 


 Ini adalah  JALAN  PENAMAT  bagi manusia yg  TIDAK  MENGETAHUI  cara mana hendak  MENGEMBALIKAN  NYAWA  SEMULA  ke tempat nya ,  iaitu ke dalam  DIRI  MANUSIA  itu sendiri.

Sebagaimana firman Allah Taala dlm Surah Al-A'raf  ayat :  25


 Allah berfirman lagi :  " Dibumi ini kamu hidup n di bumi ini juga kamu akan dikeluarkan ( dibangkitkan hidup semula pada hari kiamat ). "


 Ini lah dalilnya bahawa manusia yg  MATI  akan  DIHIDUPKAN  SEMULA di muka bumi ini.  Sebagaimana firman Allah Taala dlm Surah Al-Waqi'ah ayat :  87


" Kamu boleh mengembalikan Roh ( Nyawa ) itu ( kpd keadaan sebelumnya  / ke tempat asalnya ) jika kamu orang yg benar ? "


SYURGA hanya klu manusia  DAPAT  KEMBALI  ke dalam Jasad manusia ,  tetapi klu dapat KEMBALIKAN  DIRI  SENDIRI  kpd  ZAT ,  maka inilah  KEBESARAN ,  KEMULIAAN  n  KESEMPURNAAN  YANG  HAQ.


Oleh itu,  sayangi lah rumah ( Jasad )  anda itu,  jgn biarkan ia hancur dimakan oleh cacing n anai2 ... Hargailah ia selalu n berilah perhatian sepenuh kpdnya. Ini kerana anda memperolehnya dgn percuma tanpa apa2 bayaran. 


       Jgn jadi seperti KACANG LUPAKAN KULIT... Jgn sama sekali anda meninggalkan rumah anda itu. Jagalah ia baik2.. Jgn biarkan ia kotor..  Pastikan ia sentiasa bersih, sentiasa nyaman n seronok tinggal di dlmnya.. Apa akan jadi klu rumah anda itu kotor akibat selalu ditinggalkan?


Sudah tentu ia akan dimakan oleh anai2 n dimasuki oleh jin syaitan kerana menyibuk rumah org lain, rumah sendiri ditinggalkan..

Akibatnya,  rumah anda itu rosak n biasa.. Mahukah anda bila balik ke tempat asal anda tak ada rumah.. Nak tinggal kat mana?

 Sbb itu ,  jadikanlah diri anda itu penduduk tetap di rumah anda itu ( mustautin) itu, bkn org yg menumpang ( pendatang asing)  n dihalau selepas mati paspot sehingga terpaksa berkeliaran tanpa rumah...

Minggu, 16 Januari 2022

ZIKIR MAKRIFAT

Bagaimana cara berdzikir kepada Allah SWT sehingga kita siap untuk bertemu denganNYA?


Dzikir adalah sebuah aktivitas yang kaya akan aspek esoteris. Ia adalah bagian laku yang harus ada dalam sebuah perjalanan suluk menempuh jalan ruhani untuk mendekatkan diri dengan Tuhan Semesta Alam. 

Dalam praktiknya, berdzikir harus mengikuti aturan-aturan dan adab tertentu sesuai dengan cara yang dituntunkan oleh para guru spiritual sepanjang masa. 


Pada kesempatan kali ini, akan dipaparkan adab berzikir dan tata cara zikir dengan harapan agar kita mendapatkan pengetahuan bagaimana berdzikir yang khusyuk agar kita bisa bertemu Allah SWT.


1. Membaca lafaz LA ILAHA ILLA ALLAH. 

Artinya: Tiada Tuhan selain Allah. 

Zikir ini disebut zikir NAFI ISBAT. Paling tidak dibaca 100 kali setiap hari terutama dibaca setelah sholat fardhu. Khususnya setelah Maghrib, Isya dan setelah sholat subuh. 

Lafaz ILLA ALLAH ini disebut Isbat yang artinya pengecualian atas segala sesembahan kecuali hanya Allah SWT.


2. Membaca lafaz ALLAHU. Zikir ini disebut ISMU AL-ASMA, dibaca sebanyak 33 kali sehabis sholat fardhu, terutama setelah sholat Isya.


3. Membaca lafaz zikir HUWA ALLAH. Zikir inilah yang disebut sebagai zikir GHAIB AL ISMI. Zikir ini dibaca setiap hari sebanyak 33 kali, setelah sholat fardhu, terutama setelah sholat Isya.


4. Membaca zikir HUWA, HUWA. Zikir ini disebut sebagai zikir GHAIB AL GHAIB. Zikir ini dibaca sebanyak 34 kali setelah sholat fardhu, sehingga jumlahnya (total item 2,3,4) sebanyak 100 kali.


Adapun gerakan dalam melafazkan zikir NAFI ISBAT tersebut haruslah mengikuti aturan sebagai berikut:


1. Ketika membaca lafaz LA, maka dengan gerakan kepala, lafaz LA tersebut dimulai dari bahu kiri menuju ke bawah ke arah perut, kemudian diputarkan mengelilingi tali pusat lalu diteruskan ke arah atas menuju bahu kanan;


2. Pada waktu berada di bahu kanan itulah lafaz ILAHA diucapan sambil kepalanya dimiringkan ke arah belikat kanannya;


3. Sambil kepala ditekan ke arah hati sanubarinya, lafaz ILA ALLAH diucapkan dengan penekanan pada sudut kiri bawah dada.


TIGA TAHAP BERDZIKIR


Ada tiga tahap adab berdzikir. 


Pertama, ada lima perkara sebelum berdzikir. Kedua, dua belas perkara pada saat mengerjakan zikir dan ketiga, ada tiga perkara setelah berdzikir.


Lima perkara yang harus dilakukan sebelum berdzikir adalah sebagai berikut:


1. Bertaubat kepada Allah SWT


2. Mandi atau mengambil air wudhu


3. Diam sambil mengkonsentrasikan diri pada zikir dengan mengikhlaskan hati sebelum berdzikir


4. Hatinya meminta tolong kepada para wali-wali Allah


5. Hatinya meminta tolong kepada Nabi Muhammad SAW.


Sedangkan dua belas perkara saat berzikir adalah sebagaoi berikut:


1. Duduk bersila di tempat yang suci


2. Meletakkan kedua tangan di atas kedua paha


3. Membuat bau harum di tempat zikir


4. Memakai pakaian yang halal dan pakai wangi-wangian


5. Pilih tempat yang tenang dan sunyi


6. Pejamkan mata


7. Bayangkan wajah wali Allah di antara kedua mata agak maju ke depan


8. Tetap istiqomah baik dalam keadaan ada orang maupun sepi


9. Tulus ikhlas hatinya saat berdzikir


10. Dzikir utama adalah LA ILAHA ILLA ALLAH


11. Berusaha menghadirkan ALLAH SWT dalam setiap mengucapkan dzikir LA ILAHA ILLA ALLAH


12. Meniadakan wujud lain selain Allah.


Sedangkan tiga macam adab lainnya setelah selesai berdzikir adalah:


1. Diam sejenak sesaat setelah usai melakukan dzikir dan tetap diam di tempat


2. Mengatur dan mengembalikan nafas seperti semula


3. Menahan diri untuk minum air

Sangat dianjurkan untuk melakukan pemutihan diri dari semua amalan negatif sebelum menjalankan ritual dzikir. 

Caranya adalah menjalankan PUASA selama 7 hari. Usai menjalankan puasa baru kemudian menjalankan amalan zikir rutin. 


Bagi para pejalan spiritual yang ingin lebih mendalami laku suluknya, maka disarankan untuk melakukan dzikir dengan cara:


1. BERTAPA (Uzlah). 

Ini adalah syarat agar laku suluk kita semakin bagus. Uzlah adalah mengasingkan diri untuk sementara waktu dari keramaian dan dari pergaulan sehari-hari. Ini biasa dilakukan oleh murid-murid tarekat di masa silam. Bila anda berkesempatan untuk uzlah, silahkan pergi ke gunung atau hutan dan carilah sebuah gua. Siapkan bekal makan dan minum yang cukup untuk sekian lama Anda inginkan. Pedoman selesainya uzlah adalah KEMANTAPAN HATI setelah bertemu dengan apa yang dicari. Namun kini, uzlah dianggap terlalu berat sehingga sebagai penggantinya adalah menjauhkan diri dari segala bentuk perbuatan maksiyat dan terlarang syariat.


2. NGAWULO (Mengabdi). 

Mengabdi pada “sang guru” selama berbulan-bulan atau mungkin juga hingga bertahun-tahun. Dalam konteks sekarang, cukup kita mengabdi kepada instruksi-instruksi yang diyakini benar dan tawadhu’ (merendahkan diri) untuk tidak mengaku dirinya paling benar dibanding diri yang lain.


3. AMAL SHOLDAQOH. 

Mengadakan amal shodaqoh dan infaq sesuai dengan kemampuan. Ini sebuah bentuk pengorbanan dan kerelaan melepaskan apa yang dimiliki karena sesungguhnya kita hakekatnya tidak memiliki apa-apa. Hanya DIA yang Maha Memiliki.

Dalam keadaan bersih lahir batin dan untuk sementara mengosongkan diri dari pengaruh duniawi itulah kita menghadap Sang Khalik Yang Maha Suci. 

Saat bersuluk ini, kita diharapkan untuk selalu menjauhi pikiran kotor dan suci dari batin yang penuh prasangka negatif (suudzon) dan menggantinya dengan prasangka baik (husnudzan) kepada Allah dan kita yakin bahwa hanya DIA-lah sebaik-baiknya tempat bergantung. 


HASBUNA ALLAH WA NI’MAL WAKIL, NI’MAL MAULA WA NI’MA N-NASIR (Cukuplah Allah sebagai tempat bersandar bagi kami dan Dialah tempat memohon pertolongan manusia). 


Apa yang akan terjadi bila kita sudah melengkapi laku suluk mulai Dzikir dan Uzlah secara lengkap? 


Silahkan ditunggu kejadian-kejadian gaib luar biasa yang akan merubah hidup Anda selamanya.


Sekiranya tiada apa-apa tanda teruskanlah berzikir... ubudiah kerana Allah semata-mata.


Rabu, 12 Januari 2022

Tampa Huruf Tampa Suara"

 Alhamdulillah

Apa Allah itu? Tidak ada tafsirnya.

Apa itu Allah? Dirinya alam. 

Siapa itu Allah? Satu Maharuang dan semesta alam. 

Bagaimana Allah itu? Meliputi alam dunia dan akhirat.


Yang dapat mengalahkan pengaruh ketuhanan dan kenabian, yaitu dengan kesadaran tinggi dalam pengenalan. Kalau kita musyahadah pada kosong, kita berada dalam kosong. Sadari kita benar-benar dalam kosong. Itulah yang tidak ada tafsirnya. Yang tidak ada tafsirnya itulah ھ , maka kosonglah dia. Ini pribadi antara kita dengan Tuhan.


Perasaannya perasaan itu Ruh Qudus. Hendaklah kita rasakan sampai kepada yang diam itu (sama-tengah-hati). Inilah diistilahkan: "Ada di dalam diam." Tubuh yang diam inilah yang tajalli. Syahadat ada di dalam diam. 


Ruh Qudus itu zat mutlak. Dan zat mutlak itu Rahasia Tuhan. Kalau ruh rayhan itu sifat atau cahaya zat (mutlak) itu. Cahaya zat itu menjadi manusia. Cahaya zat inilah cahaya Ruh Qudus (cahaya diri Ruh Qudus).


Tubuh yang diam itulah yang tajalli. Syahadat ada di dalam diam. Ruh Qudus itu zat; Rahasia Tuhan. Sedangkan zat dan sifat itu satu, maka ingatan dan perasaan itu musti satu.


Sahnya tafakur: Ruh Qudus diam. Kosong itu nyawa hakiki atau Nur. Muhammad itu nyawa majati, artinya yang ada di sama-tengah-hati.


Musyahadah pada kosong, kita berada dalam kosong. Sadari kita berada dalam kosong. Itulah ھ yang tidak ada tafsirnya. Jadi, ھ ini tidak diucapkan dengan huruf atau dengan suara; tidak dibunyi-bunyikan. Cukup disadari kita berada dalam kosong.


“Tafakur tidak boleh lama-lama. Jika lama, jahat. Hanya satu saat saja. Untuk cepat berhasil, bawalah dengan mengaji Quran. Jangan ingat-ingat kosong dan sesuatu lagi. Apabila merenyamnya hilang, sampailah orang itu.

Orang yang sempurna mengenal Allah itu, apa yang terlintas, terdengar, teringat, terpandang, dan lain-lain itu, semuanya BUKAN Allah. Jadi, penghabisan tafakur, siapa memandang putih dirinya, sampailah ilmunya.

Wasalam

ALLOH MAHA MELIPUTI

 BISMILLAHIRROHMANIRROHIM

Sadaraku. Muslimin dan muslimat .Jika kau telah mengenal diriMu yang Sejati maka kau bukan lagi seonggok daging atau sekujur tubuh.

Apabila saat perkenalan itu telah tiba atau hari terahirmu.maka zikirMu tak lagi dengan suara atau dengan gerak. tetapi zikirMu adalah melihat siapa yang kau ingat. Kau akan melihat wajah Allah dimanapun kau berada. dan kau tak lagi akan melihat mati itu satu kematian. karena sesungguhnya ketika itu kau menyusuri ruang waktu.

ketika itu kau adalah cahaya Allah di bumi ini

Dan kau akan tetap menjadi cahaya milik Allah saat di akhirat nanti. dan sesungguhnya karena kau adalah milik Allah. terserah kepada Allah mau dibuat apa engkau itu karena kembali kepada AsalMu. Setelah itu baru apa yang kelihatan itu akan berwajah kau. dan disitu jugalah keadaan yang mana yang memandang dan yang dipandang itu adalah kau yang esa. Kau melihat wajahMu sendiri ketika pandang memandang itu.

Jikalau kau sudah paham dan yakin segala sesuatu selain kau telah fana. itulah tandanya hatiMu itu telah mencapai ketahap puncak Ma'rifat. tahap mengenal dia dengan sebenar-benarnya pengenalan. Jika kau masih juga tidak faham dan yakin. maka akan diterangkan seperti ini untukMu yaitu berawal dari mengenal mani adalah penjelmaan dari bapak dan ibu atau yang disebut sulbi dan taraib .Jadi mani itu adalah mulanya seberkas cahaya yang dikeluarkan oleh Allah dari mutu manikam

sehingga para Ulama berpendapat yaitu:

Mani adalah salah satunya dzat penjelmaan dari dua macam dzat (sulbi dan taraib)....

Dengan adanya KUDRATILLAHI yaitu berasal dari sulbi bapak. dan yang menjadi IRADATILLAHI yaitu berasal dari ibu .Oleh sebab itu bagaimanapun birahinya kaum ibu. hal ini tidak terlalu nampak karena birahinya kaum ibu ini tidak dapat melampaui batasnya kudrat kaum bapak. Karna kaum ibu ini hanyalah iradat. maka ulama mengistilahkan 

SYURGA ITU DI ATAS TELAPAK KAKI IBU :


Untuk lebih jelasnya akan diterangkan dibawah bagian-bagian dari maksud yang di atas:

BAGIAN BAPAK: wadi. madi. mutu. mani. atau disebut sulbi.

BAGIAN IBU: tanah. air

angin. api. atau disebut taraib.

BAGIAN ALLAH: ruh idhafi. ruh ruhani. ruh rahmani.ruh jasmani


BAGIAN DARI GUDANG RAHASIA DISEBUT MUTU MANIKAM YAITU:

* Tanah itu ialah badan muhammad

* Air itu ialah nur .muhammad

* Angin itu ialah nafas muhammad

* Api itu ialah penglihatan muhammad


Awal itu ialah nurani„

Akhir itu ialah ruhani„

Zahir itu ialah insani„

Bathin itu ialah rabbani„ Nurani itu ialah nyawa„

Ruhani itu ialah hati„

Insani itu ialah tubuh„

Rabbani itu ialah rahasia


Nyawa itu ialah idhafi„

Hati itu ialah ruhani„

Tubuh itu ialah jasmani„

Rahasia itu ialah aku yang sejati„

Tubuh itu menyatu kepada hati Hati itu menyatu kepada nyawa„

Nyawa itu menyatu kepada rahasia„

Rahasia itu menyatu kepada nur„

Nur itulah bayang-bayang Allah yang sebenar-benarnya


Wadi... kalimahnya: LAA ILAHA

Madi... kalimahnya: ILALLAH

Mutu... kalimahnya: ALLAH

Mani... Kalimahnya: HU


Ruh jasmani kalimahnya:

YAHU

Ruh rahmani kalimahnya: IYAHU

Ruh ruhani kalimahnya: YAMANIHU

Ruh idhafi kalimahnya: YAMAN LAYISALAHU

Mutu manikam kalimahnya: MADAHU


TUJUH PETALA BUMI DIJADIKAN TUJUH TINGKATAN MARTABAT YAITU:

1. Sifat amarah

2. Sifat lawwamah

3. Sifat mulhimah

4. Sifat mutmainah

5. Sifat radhiyatan

6. Sifat mardhiyah

7. Sifat ubudiyah


TUJUH PETALA LANGIT YANG DIMAKSUD DENGAN TUJUH MARTABAT YAITU:

1. Lathifatul qolbi

2. Lathifatul ruuhi

3. Lathifatul sirri

4. Lathifatul ahfa

5. Lathifatul hafi

6. Lathifatul nafsu natika

7. Lathifatul kullu jasad


JIKALAU TINGKATAN SEMACAM INI YANG KITA AMBIL HAKIKATNYA PADA ALAM KECIL YANG TERSEMBUNYI (terahasia) DALAM DIRI, MAKA ULAMA MENAMAKAN SEBAGAI BERIKUT:1. Hayatun jasadi bin-nafas 

2. Hayatun nafasi bir-ruhi

3. Hayatun ruhi bis-sirr

4. Hayatun sirri bil-imani

5. Hayatun imani bin-nuri

6. Hayatun nuri bil-qudrati

7.  Hayatun qudrati bi mualamullahi ta'ala dzatullah


ARTINYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT:

1.Asal jasad dari nafas 

2.asalnya nafas dari ruh 

3.Asalnya ruh dari dalam rahasia 

4.Asal rahasia dari dalam iman 

5.Asal iman dari nur atau cahaya 

6.Asalnya nur atau cahaya dari qodrat 

7.Asalnya qodrat dari ke baqoaan Alloh 


KALIMAT SEPERTI INI : 

1.Hayatun jasad hurufnya Alif    kalimahnya LA

2.Hayatun nafasi hurufnya Lam Awal kalimahnya ILAHA 

3.Hayatun ruhi hurufnya LAM Akhir kalimahnya ILLA 

4.Hayatun sirri hurufnya Ha kalimahnya Alloh 

5.Hayatun imani hurufnya Alif (Alloh) kalihnya Yahu 

6.Hayatun nuri hurufnya Lam (jibril) kalimahnya IyaHU 

7.Hayatun qodroti hurufnya Mim (muhammad) kalimanya IYAHU YAMANIHU 


Dengan demikian apabila kesemuanya ini kau leburkan kedalam ke-baqoaan DZAT ALLOH.maka ulama menamakannya sebagai BERIKUT:

1.watujibul wajasadi fi fasaral qolbi .

2.watujibul qolbi fi fasaral ruhi .

3.watujibul ruhi fi fasaral sirri .

4.watujibul sirri fi fasaral imani .

5.watujibul imani fi fasaral nuri .

6.watujibul nuri fi fasaral qodroti .

7.watujibul qodroti fi fasaral Dzati fil Dzati .


" maka uraian atau tulisan yg diatas sempurnalah amalan" orang ARIF BILLAH"


Ugi:meresap menyerap menyerat berserah...


SAMA" BELAJAR BUKAN INGGIN MEGURUI ...


WASSALAM...

Senin, 10 Januari 2022

SIFAT RUH

Allah Yang Maha Suci dengan sengaja menciptakan ruh yang menjadi sumber kehidupan seluruh makhluk-Nya dari dunia hingga akhirat. Dan pada hakikatnya seluruh ciptaan-Nya tersebut “Hidup” karena tidaklah Ia menciptakan suatu makhluk melainkan padanya ada ruh yang meliputinya. Termasuk langit dan bumi beserta isi antara keduanya pun punya ruh. Allah Yang Hidup adalah Dzat pemberi hidup dan kehidupan pada seluruh makhluk bangsa ruhaniah yang diwujudkan pada alam semesta. Tidak ada yang hidup melainkan dengan sumber kehidupan, yaitu ruh! Adapun ruh sendiri berasal daripada-Nya, dan menjadi nur (hidup) makhluk.

Tetapi bagaimanakah sesungguhnya sifat ruh itu?

Ruh adalah sesuatu yang lembut dan halus, meliputi seluruh keadaan makhluk dan tidaklah ia bertempat pada suatu tempat yang sifatnya lokal dan mikro. Apabila ruh meliputi pada sesuatu yang mati, maka hiduplah sesuatu itu. Ruh tidak dapat diukur besar kecilnya dengan suatu wujud jasmaniah. Ruh tidak berjenis sebagaimana jenis jasmani manusia dan makhluk lainnya. Dan apabila ruh mensifati serta meliputi hati manusia, maka memancarlah “himmah” dan kestabilan serta kekuasaan dalam gerak langkah hidupnya. Dan bilamana menyelusup menyelimuti nafsu (jiwa) serta mendominasinya, tercerminlah kemauan dan semangat hidup dalam menata kehidupannya.

Iika ruh menguasai akal pikiran maka akal pikiran akan menjurus kesempurnaan di dalam pandangan dan dapat menentukan suatu sikap atas dasar pertimbangan yang matang bagi perjalanan hidupnya. Begitulah adanya, jika ruh singgah di telinga maka mendengarlah ia, manakala ruh berkelebat melalui mata maka memandanglah ia, dan ketika ruh bertamasya pada mulut maka berhamburanlah kata-kata yang punya mulut, pun bila ruh menjalar pada tangan maka bergeraklah ia meraba dan mengusap, juga apabila ruh mengalir pada kaki maka dapatlah melangkah tegap ataupun gontai. Begitu pula bila ruh meliputi dan menguasai sel–sel yang bergerak ke seluruh peredaran darah maka tampaklah gerak hidup jasmani.

Ruh adalah golongan makhluk Allahur Rabbul ‘ alamin yang dikekalkan kehidupannya. Adapun hidup serta kehidupan makhluk yang diliputi ruh selalu tumbuh dan berkembang. Allah Yang Maha Kaya menamai kehidupan langit dan bumi beserta isi keduanya dengan isyarat “Nur” (cahaya atau kehidupan), sebagaimana firman-Nya :

Allahu nuurus samaawaati wal ardhi …

“Allah (pemberi) cahaya (hidup) langit dan bumi ….” QS. 24 An Nuur : Ayat 35.

Innallah khalaqa ruuhan nabiyyi shalallahu ‘alaihi wasalam min dzaatihi wakhuliqal ‘aalamu biasrihi min nuuri muhammadin shalallahu ‘ alaihi wasallam. (Al – HADIS )

“Sesungguhnya Allah menciptakan ruh Nabi saw, daripada Dzat-Nya lalu diciptakan alam sekaliannya dengan rahasia-Nya dari pada Nur Muhammad saw.”

Ruh, termasuk makhluk ciptaan-Nya yang gaib dan hidup meliputi dimensi alam jasmaniah. Dan ruh memiliki sifat yang berlawanan dengan jasmani. Ruh adalah Nurullah! Tapi ruh sebagai Nurullah bukan berarti sebagaimana cahaya yang memancar dari matahari atau lampu. Nur dalam pengertian ayat dan Hadis tersebut di atas bermakna Hidup! Yakni suatu makhluk yang hidup dihidupkan Allah Yang Maha Hidup dengan ruh ciptaan-Nya! Allahul Hayyi jualah yang menghidupkannya dengan memberikan ruh ciptaan-Nya.

Kalimat “Nur” di dalam firman Allahul ‘Azhim sangat banyak, bahkan lebih dari tiga puluh (30) ayat yang menyebut tentang “Nur” sekaligus meliputi atau menjadi simbol berbagai hal seperti Muhammad Rasul Allah saw., Al Qur’aan, Agama Islam, Malaikat, Ilmu serta Hidayah (petunjuk). Istilah “Hidup” yang meliputi kehidupan seluruh makhluk juga dirumuskan dalam bahasa wahyu dengan istilah “Nur”. Apabila ruh diibaratkan nur yang terang benderang maka jasmani diibaratkan suatu tempat yang gelap gulita semisal ruangan. Padahal tidaklah akan tampak terang suatu cahaya bila ia tidak bertempat pada yang gelap gulita. Begitu pula keadaan gelap pekatnya jasmani dikatakan gelap gulita bila tidak ada sesuatu yang meneranginya. Demikianlah pengertian “Ruh” sebagai “Nur” dalam istilah wahyu-Nya. Sifat Ruh

Sufi Road : Kajian tentang Ruh

Para ulama memiliki pandangan berbeda tentang bolehnya mengkaji tema seputar ruh. Ada yang berpendapat, mengkaji ruh itu haram, karena hanya Allah yang tahu. Ada pula yang berpedapat, kajian tentang ruh itu makruh mendekati haram, karena dalam Al-Quran tidak ada nash yang menjelaskan masalah ruh secara gamblang.

Setiap pendapat tersebut memiliki dasar pemahaman yang berbeda terhadap firman Allah, “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan kalian hanya diberi sedikit pengetahuan’.” – QS Al-Isra’ (17): 85.

Mereka yang menolak kajian tentang ruh di antaranya berpandangan, pernyataan Allah pada ayat tersebut menjelaskan bahwa ruh termasuk alam metafisika, yang tidak dapat diketahui secara pasti. Ia bukan sesuatu yang bersifat inderawi, yang dapat diketahui lebih jauh. Selain itu, ilmu manusia terbatas hanya pada pengetahuan tentang penciptaan. Inilah yang dimaksud dengan kalimat dalam ayat tersebut, “Dan kalian hanya diberi sedikit pengetahuan.”

Sementara itu mereka yang memperbolehkan mengkaji tentang ruh di antaranya berpandangan, tidak ada kesepakatan para ulama yang menyatakan bahwa ruh yang ditanyakan dalam ayat itu adalah ruh (nyawa) manusia. Ada pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud ruh dalam ayat tersebut adalah Al-Quran, Jibril, Isa, atau ciptaan Allah yang ghaib, yang hanya diketahui oleh Allah SWT.

Bagaimanapun, yang lebih baik adalah tidak membahas masalah ruh terlalu dalam. Syaikh Abu An-Nashr As-Sarraj Ath-Thuusi mengatakan, “Terdapat orang-orang yang salah memahami ruh, (kesalahan) mereka ini bertingkat-tingkat, semuanya bingung dan salah paham. Sebab mereka memikirkan keadaan sesuatu (yakni ruh) yang mana Allah sendiri telah mengangkat darinya pada segala keadaan dan telah membersihkannya dari sentuhan ilmu pengetahuan, (sehingga) ia tak akan dapat disifati oleh seorang pun kecuali dengan sifat yang telah dijelaskan Allah.”

Hakikat Ruh

Habib Syaikh bin Ahmad Al-Musawa, dalam karyanya berjudul Apa itu Ruh?, menyatakan, definisi ruh adalah, “ciptaan/makhluk yang termasuk salah satu dari urusan Allah Yang, Mahatinggi. Tiada hubungan antara ia dengan Allah kecuali ia hanyalah salah satu dari milik-Nya dan berada dalam ketaatan-Nya dan dalam genggaman (kekuasaan)-Nya. Tidaklah ia menitis (bereinkarnasi) ataupun keluar dari satu badan kemudian masuk ke badan yang lain. Ia juga akan merasakan kematian sebagaimana badan merasakannya. Ia menikmati kenikmatan sebagaimana juga badan, atau akan merasakan siksa sebagaimana juga badan. Dia akan dibangkitkan pada badan yang ia keluar darinya. Dan Allah menciptakan ruh Nabi Adam AS dari alam malakut sedangkan badannya dari tanah.”

Sementara itu, sebagian besar filosof muslim, seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali, dan sekelompok kaum sufi, berpendapat, jiwa terpisah dari materi. Ia bukan jasad atau benda. Ia tidak memiliki dimensi panjang dan dalam. Jiwa sangat berhubungan dengan sistem yang bekerja dalam jasad. Dengan kata lain, jiwa menggerakkan jasad dari luar karena ia tidak menyatu dengan jasad. Jiwa adalah inti ruh murni yang dapat mempengaruhi jasad dari luar seperti magnet.

Al-Ghazali, dalam Ihya’-nya, menyebutkan, kata-kata ruh, jiwa, akal, dan hati, sejatinya merujuk pada sesuatu yang sama, namun berbeda dalam ungkapan. Sesuatu ini, jika ditinjau dari segi kehidupan jasad, disebut ruh. Jika ditinjau dari segi syahwat, ia disebut jiwa. Jika ditinjau dari segi alat berpikir, ia disebut akal. Dan jika ditinjau dari segi ma’rifat (pengetahuan), ia disebut hati (qalb).

Dalam bahasa sehari-hari, ruh dan jiwa juga acap digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang sama, seperti pada ucapan “ruhnya telah melayang”, atau “jiwanya telah melayang”. Dua kalimat tersebut bermakna sama, orang itu telah mati.

Para ulama lainnya berpendapat, ruh adalah benda ruhaniah (cahaya) langit yang intinya sangat lembut, seperti sinar matahari. Ia tidak dapat berubah, tidak dapat terpisah-pisah, dan tidak dapat dikoyak. Jika proses penciptaan satu jasad telah sempurna dan telah siap, seperti dalam firman Allah “Maka, apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya – QS Al-Hijr (15): 29, benda-benda mulia (ruh) Ilahi dari langit akan beraksi di dalam tubuh, seperti api yang membakar. Inilah yang dimaksudkan dalam firman Allah “Aku meniupkan ruh (ciptaan)-Ku ke dalamnya.” – QS Al-Hijr (15): 29. Selama jasad dalam kondisi sehat, sempurna, dan siap menerima benda mulia tersebut, ia akan tetap hidup. Jika di dalam jasad ada unsur-unsur yang memberatkan, misalnya penyakit, unsur-unsur itu akan menghambat benda mulia ini sehingga ia akan terpisah dari jasad. Saat itu, jasad menjadi mati.

Beragam definisi ruh disebutkan para ulama. Intinya, manusia terdiri dari jasad dan ruh. Perbedaan pendapat para ulama seputar hakikat ruh bukan bagian dari inti aqidah Islam. Masalah ini berada dalam ranah ijtihad para ulama.

Abadi, atau Fana?

Allah menetapkan kematian atas segala yang memiliki ruh dari makhluk-Nya, penguasa maupun rakyat jelata, yang kaya atau yang miskin, yang mulia atau yang lemah, yang maksiat atau yang taat, dari seluruh penduduk alam semesta ini, dan kemudian mengadili mereka di akhirat.

Dia menggenggam ruh sebagian manusia yang telah memakmurkan dunia dan menghiasinya dengan bangunan-bangunan, kemudian manusia itu menempatinya, meski itu bukan tempat yang kekal bagi semua yang hidup.

Dia juga menggenggam ruh manusia sebagian lainnya yang bersungguh-sungguh untuk memperbaiki akhiratnya dan menjadikan dunia hanya sebagai batu loncatan untuk memperbanyak amal shalih mereka sebagai perahu dalam mengarunginya.

Ruh yang ini mendapat kebahagiaan dan kesenangan, sementara ruh yang lain mendapatkan kekecewaan, kecelakaan, dan kepayahan. Ruh yang ini bersenang-senang di kebun surga dan bernaung di lentera-lentera yang bergantung di ‘Arsy dalam kenikmatan yang menyenangkan, sedang ruh yang lain terpenjara dan tersiksa di neraka jahim. Alangkah jauh perbedaan antara kedua ruh jasad dua jenis manusia tersebut.

Setelah seseorang mati, ruh tetap ada hingga terjadi peniupan sangkakala yang pertama. Ulama sepakat akan hal itu. Selama masa itu, ruh merasakan nikmat atau adzab di alam kubur.

Adapun setelah ditiupnya sangkakala, terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama. Sebagian ulama berpendapat, ruh bersifat fana (akan sirna) dan akan mati saat peniupan sangkakala yang pertama. Dasarnya adalah firman Allah, “Setiap yang berjiwa akan merasakan kematian.” – QS Ali Imran (3): 185. Dalam ayat lainnya disebut, “Semua yang ada akan binasa.” – QS Ar-Rahman (55): 26.

Menurut pendapat terkuat, setelah peniupan sangkakala yang pertama, ruh akan tetap abadi. Hukum asal sesuatu yang abadi adalah selalu ada sampai ada sesuatu yang mengubahnya. Perdapat tentang keabadian ruh ini disimpulkan dari ayat “Dan ditiuplah sangkakala. Maka, matilah makhluk yang di langit dan di bumi kecuali makhluk yang dikehendaki Allah. Kemudian sangkakala ditiup sekali lagi. Tiba-tiba mereka berdiri menunggu (keputusannya masing-masing).” – QS Az-Zumar (39): 68. Menurut penjelasan ayat ini, ruh termasuk sesuatu yang dikecualikan.

Ruh Mengetahui saat Diziarahi

Apakah ketika orang hidup menziarahi orang mati, ruh orang mati tersebut dapat mengetahui bahwa ia tengah diziarahi? Habib Syekh menuliskan dalam bukunya, jawabannya adalah “Ya.”

Bila ditanyakan apakah jasad mereka atau arwah mereka (yang bertemu), ia menjawab, “Sungguh jauh sekali. Jasad sudah hancur, yang bertemu hanyalah arwah mereka.”

Ibnu Abdil Barr berkata, “Telah tetap riwayat dari Nabi SAW, beliau bersabda, ‘Tidaklah seorang muslim melewati kubur saudaranya yang mana dahulu ia mengenalnya di dunia, kecuali Allah akan mengembalikan ruh saudaranya itu lalu ia menjawab salamnya.” Hadits ini menunjukkan, ruh si mati mengenalinya dan menjawab salamnya.

Pada hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, disebutkan, ketika Rasulullah SAW memerintahkan agar korban yang tewas pada Perang Badar (dari kaum musyrikin) dikuburkan dalam satu lubang, kemudian beliau mendatangi lubang tempat kubur tersebut lalu berdiri dan menyeru mereka yang telah mati itu dengan namanya masing-masing, “Wahai Fulan bin Fulan, wahai Fulan bin Fulan, apakah kalian telah mendapati apa yang telah dijanjikan Tuhan kalian adalah benar? Karena sesungguhnya aku mendapati apa yang dijanjikan Tuhanku kepadaku adalah benar”, berkatalah Umar RA kepada beliau, “Ya Rasulullah, mengapakah Tuan menyeru/berbicara kepada orang-orang yang telah menjadi bangkai.”

Beliau menjawab, “Demi Allah, yang telah mengutusku dengan kebenaran, tidaklah kalian lebih mendengar apa yang kau katakan daripada mereka. Hanya saja mereka tak dapat menjawab.”

Saat memperhatikan kebiasaan sebagian besar masyarakat di Nusantara yang melakukan aktivitas ruwahan atau berkirim pahala amal kepada orang-orang yang telah wafat atau khususnya kepada arwah yang mereka ziarahi, apakah arwah orang yang telah mati itu dapat mengambil manfaat dari amal orang hidup, ataukah tidak? Berikut ini salah satu hujjah di antara luasnya bahtera hujjah yang menunjukkan sampainya amalan orang hidup kepada orang yang telah mati.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih mereka, dari Abdullah bin Abbas RA, ia berkata, “Telah datang seorang kepada Nabi SAW lalu orang itu bertanya, ‘Ya Rasulullah, ibuku meninggal dunia dan ia meninggalkan utang puasa sebulan, apakah aku dapat mengqadha puasanya?’

Rasulullah SAW balik bertanya, ‘Bagaimana pendapatmu jika ibumu berutang lalu engkau melunasi utangnya, apakah itu mencukupi/menggugurkan kewajibannya?’

Orang itu menjawab, ‘Ya.’

Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika demikian, utang kepada Allah lebih wajib untuk dilunasi’.”