Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Kamis, 13 April 2023
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐
Makna Rahasia Alif
Minggu, 09 April 2023
Adab Jama'ah Naqsyabandi
- Berpegang teguh terhadap ajaran Al-Qur’an dan Hadist Rasulullah serta paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah;
- Mengamalkan sesuatu pekerjaan (apapun) yang halal;
- Mengurangi tidur supaya dapat berdzikir dengan baik;
- Berhati-hati terhadap masalah subhat dalam syari’at agama;
- Senantiasa merasa di awasi oleh Allah (Muraqabah);
- Selalu menghadapkan diri (hati) kepada Allah sepanjang nafas (kontinyu);
- Berpaling (tidak tergiur) dalam arti terhadap kemewahan dunia;
- Merasa sepi kesendirian dan dalam suasana ramai serta hati selalu hadir kepada Allah;
- Menjaga aurat (berpakaian yang rapi);
- Melazimkan ibadah dengan dzikir khafi (samar atau tersembunyi/syir);
- Senantiasa menjaga keluar masuknya nafas, jangan sampai lupa dan lalai dalam mengingat Allah, daN
- Berakhlak perilaku yang luhur seperti yang di contohkan Rasulullah Saw.
- Menyerahkan segala-galanya lahir dan batin kepada guru;
- Harus patuh terhadap terhadap perintah guru;
- Tidak boleh syak wasangka pada guru;
- Tidak boleh melepas ikhtiarnya.
- Harus selalu mengingat pada petuah dari gurunya;
- Tidak boleh menyembunyikan rahasia hatinya.
- Memelihara keluarga dan kerabat guru;
- Kesenangan murid tidak boleh sama dengan guru.
- Tidak boleh mempunyai keinginan lebih dalam bergaul dengan gurunya;
- Harus yakin bahwa gurunya sebagai perantara;
- Tidak boleh memberi saran kepada gurunya kecuali hanya menambah kebaikan dan mengingatkan, artinya boleh untuk saling mengingatkan;
- Di larang memandang guru bahwa gurunya mempunyai kekurangan;
- Harus rela memberikan sebagian hartanya apabila di butuhkan atas kepentingan gurunya;
- Tidak boleh bergaul dengan orang yang di benci gurunya;
- Tidak melakukan sesuatu yang di benci gurunya;
- Tidak boleh iri dengan murid lain;
- Segala sesuatu yang menyangkut dirinya harus mendapat izin dari gurunya, dan
- Tidak boleh menempati tempat duduk yang biasa di tempati gurunya.
Bedakan Antara ‘Kehendak’ dan ‘Ridha’

Seorang Ibu melihat anaknya bermain di semak-semak. Ia khawatir anaknya digigit ular, disengat lebah, atau binatang berbahaya lainnya. Ketika ditegur, si anak tidak mau nurut. Ia memohon untuk tetap diizinkan bermain di sana.
Si Ibu tidak ingin memaksa. Tapi ia juga tidak ingin anaknya mendapat bahaya. Akhirnya ia mengizinkan. Tapi ia tetap tidak ridha. Izin itu ia berikan agar anaknya menyadari sendiri bahaya bermain di daerah itu. Jelas ia tidak ingin anaknya kenapa-kenapa. Tapi kalau untuk sadar ia perlu merasakan dulu secara langsung dampak negatif bermain di sana, ya tidak mengapa.
***
Ini ilustrasi sederhana (yang mungkin kurang begitu tepat), bahwa ‘menghendaki’ tidak mesti ‘meridhai’. Ibu ini ‘mengizinkan’ anaknya bermain di sema-semak, tapi ia tidak ‘meridhai’ itu. Ia bahkan juga ‘berkehendak’ anaknya mendapat sedikit ‘bahaya’ agar ia menyadari langsung dampak negatif bermain di sana, meskipun ia tidak ‘ridha’ hal itu terjadi.
Jadi antara ‘kehendak’ dan ‘ridha’ itu berbeda.
***
Kita yakin bahwa tidak ada satu pun yang terjadi di alam ini di luar kehendak (masyi`ah/iradah) Allah Swt. Apapun itu, termasuk kemusyrikan dan kekufuran. Karena kalau dikatakan kemusyrikan dan kekufuran terjadi di luar kehendak Allah, ini sama saja mengatakan Allah Swt tidak Maha Berkuasa atas segala sesuatu, dan ini mustahil. Tapi apakah Allah meridhai terjadinya kemusyrikan dan kekufuran? Tentu tidak.
Seseorang melakukan kezaliman, apakah juga atas kehendak Allah? Ya, jelas. Tapi apakah Allah ridha? Jelas tidak. ini semakin menegaskan bahwa ‘kehendak’ tidak berarti ‘ridha’.
Mari renungi firman Allah Swt berikut :
ุฅِْู ุชَُْููุฑُูุง َูุฅَِّู ุงََّููู ุบٌَِّูู ุนَُْููู ْ ََููุง َูุฑْุถَู ِูุนِุจَุงุฏِِู ุงُْْูููุฑَ َูุฅِْู ุชَุดُْูุฑُูุง َูุฑْุถَُู َُููู ْ … (ุงูุฒู ุฑ : 7)
“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah Maha Kaya darimu (Dia tidak membutuhkanmu), dan Dia tidak meridhai kekafiran untuk hamba-hamba-Nya. Dan jika kamu bersyukur Dia meridhai itu untukmu…”
***
Jadi ketika terjadi kezaliman jangan katakan, “Ini semua sudah kehendak Allah, kita mesti menerima dengan sabar”. Benar bahwa semua terjadi atas kehendak Allah. Tapi apakah Allah Swt meridhai semua itu? Apakah kita dituntut untuk menerima saja (pasif)? Ataukah Allah menghendaki itu terjadi untuk melihat respon yang benar dan terbaik dari hamba-hamba-Nya?
Tidak satu pun yang terjadi kalau bukan kehendak Allah. Tapi tidak semua yang terjadi kita mesti menerima dengan pasif. Banyak hal yang Allah izinkan terjadi, dan Allah ‘ridha’ kalau kita melakukan perubahan.
(Jangan tanya saya apakah kenaikan BBM saat ini termasuk sesuatu yang Allah kehendaki sekaligus Allah ridhai atau tidak?)
Sufi; Suci Qalbu, Pikiran, dan Indra
Sebagian orang menjadikan label ‘sufi’ sebagai ejekan dan penghinaan. Itu karena sufi yang mereka kenal adalah sufi-sufi yang menyimpang. Orang-orang yang sesungguhnya tidak pantas dijuluki sebagai ‘sufi’.
Andaikan mereka mengenal sufi yang sesungguhnya mereka akan tahu bahwa label sufi itu sesungguhnya adalah penghormatan. Tidak banyak orang yang berhak menyandang label itu.
Sufi itu suci dan bersih. Suci hati, suci pikiran dan suci panca indera.
Seorang sufi senantiasa memaafkan, tidak pendendam, selalu berprasangka baik dan melihat orang lain lebih baik dari dirinya.
***
Syaikhul Akbar Ibnu Arabi rahimahullah bercerita. Gurunya yang paling senior bernama Abu Ishaq bin Tharif. Ia bertemu dengannya di Jazirah Khadra` pada tahun 589 H.
Gurunya berkata:
ูุง ุฃุฎู ، ูุงููู ู ุง ุฃุฑู ุงููุงุณ ูู ุญูู ุฅูุง ุฃูููุงุก ุนู ุขุฎุฑูู ู ู ู ูุนุฑููู، ููุช ูู : ููู ุชููู ูุง ุฃุจุง ุฅุณุญุงู؟ ููุงู : ุฅู ุงููุงุณ ุฅุฐุง ุฑุฃููู ุฃู ุณู ุนูุง ุจู ุฅู ุง ุฃู ูููููุง ูู ุญูู ุฎูุฑุง ุฃู ูููููุง ุถุฏ ุฐูู ، ูู ู ูุงู ูู ุญูู ุฎูุฑุง ูุฃุซูู ุนูู ูู ุง ูุตููู ุฅูุง ุจุตูุชู ، ููููุง ู ุง ูู ุฃูู ูู ุญู ูุชูู ุงูุตูุฉ ู ุง ูุตููู ุจูุง ، ููุฐุง ุนูุฏู ู ู ุฃูููุงุก ุงููู ุชุนุงูู ، ูู ู ูุงู ูู ุดุฑุง ููู ุนูุฏู ููู ุฃุทูุนู ุงููู ุนูู ุญุงูู ูุฅูู ุตุงุญุจ ูุฑุงุณุฉ ููุดู ، ูุงุธุฑ ุจููุฑ ุงููู ، ููู ุนูุฏู ููู .
“Saudaraku, demi Allah, aku melihat semua orang yang membicarakan tentang diriku dan mereka mengenalku adalah para wali.”
Aku (Ibnu Arabi) bertanya, “Apa maksudmu, Abu Ishaq?”
“Orang-orang yang melihat diriku atau mendengar tentangku terbagi dua; ada yang membicarakan tentangku hal-hal yang baik, atau sebaliknya.
Orang yang berkomentar tentang diriku hal yang baik-baik dan memujiku, sesungguhnya hal itu karena ia memang orang yang baik. Sifat yang ia lekatkan pada diriku itu sesungguhnya adalah sifat yang melekat pada dirinya. Kalau ia tidak memiliki sifat itu tentu ia tidak akan mensifatiku dengan sifat-sifat baik itu. Orang ini dalam pandanganku adalah wali Allah.
Adapun orang yang berkomentar tentang diriku hal-hal yang buruk maka ia pun dalam pandanganku juga seorang wali, karena Allah telah memperlihatkan padanya sifatku yang sesungguhnya. Ia adalah orang yang memiliki firasat dan kasyf. Ia meihat dengan cahaya Allah. Karena itu dalam pandanganku ia adalah seorang wali.”
Imam Syafii pernah mendendangkan sebait syair :
ู ู ูุงู ู ูู ุฃู ุนَِْููุชُ ุจุฐู ุชู ุฃุจุฑุฃุชู ููู ุดุงูุฑ ูุนู ุชู
ูู ูุง ุฃُุฑَู ู ู ู ูุนูู ู ูุญุฏุง ุฃู ู ู ูุณูุก ู ุญู ุฏุง ูู ุฃู ุชู
Siapapun yang menyakitiku atau punya ‘hutang’ terhadapku
Aku bebaskan semua itu karena Allah, bersyukur atas nikmat-Nya
Agar aku tak menjadi penghalang kebaikan bagi ahli tauhid
Atau menyakiti perasaan Nabi Muhammad terhadap umatnya
***
Apa yang dikejar oleh seorang sufi, dan –tentunya- juga oleh setiap mukmin? Qalbun salim ; hati yang bersih. Bersih dari apa?
ุงูููุจ ุงูุณููู ู ุง ุงุฌุชู ุนุช ููู ุฃูุตุงู ุฃุฑุจุนุฉ
Qalbun Salim itu kalau sudah terhimpun empat sifat
ู ุง ุณูู ู ู ุดุจูุฉ ุชุนุงุฑุถ ุฎุจุฑ ุงููู
1. Bersih dari syubhat yang bertentangan dengan apa yang datang dari Allah
ู ุง ุณูู ู ู ุดููุฉ ุชุนุงุฑุถ ุฃู ุฑ ุงููู
2. Bersih dari syahwat yang bertentangan dengan perintah Allah
ู ุง ุณูู ู ู ุฅุฑุงุฏุฉ ุชุนุงุฑุถ ู ุฑุงุฏ ุงููู
3. Bersih dari kehendak yang bertentangan dengan kehendak Allah
ู ุง ุณูู ู ู ูุงุทุน ููุทุน ุนู ุงููู
4. Bersih dari apapun yang menghalangi dari Allah
***
Umar bin Abdul Aziz rahimahullah meninggal karena diracun.
Ia tahu yang meracuninya adalah pembantunya sendiri.
Setelah diracun dan sambil menahan sakit, ia memanggil pembantunya itu.
Ia bertanya, “Kenapa engkau kau lakukan ini?” Dengan jujur, pembantunya menjawab, “Mereka memberiku uang seribu dinar dan mereka berjanji akan memerdekakanku.”
Umar berkata, “Berikan padaku uang seribu dinar itu.”
Kemudian Umar memerintahkan agar uang itu diserahkan ke baitul mal.
Lalu ia berkata pada pembantunya itu, “Pergilah jauh-jauh dari sini sampai engkau tidak bisa ditemukan.”
Umar tahu bahwa orang-orang yang berada di balik semua itu dan menyogok sang pembantu untuk meracuni dirinya pasti akan membunuhnya untuk menghilangkan jejak. Karena itu ia menyuruhnya untuk pergi jauh.
Subhanallah… Di detik-detik terakhir hidupnya, Umar bin Abdul Aziz tetap memikirkan kemaslahatan rakyatnya sehingga uang sogok 1000 dinar itu ia perintahkan untuk diserahkan ke baitul mal.
Dan, tak sedikitpun rasa dendam dalam dirinya terhadap pembantu yang telah meracuninya. Ia bahkan menyuruhnya pergi jauh agar ia tidak dibunuh oleh mereka yang telah menyogoknya.
Itulah qalbun salim.
ุงูููู ุงุฌุนู ูููุจูุง ูููุจุง ุณููู ุฉ ูุขุช ูููุณูุง ุชููุงูุง ูุฒููุง ุฃูุช ุฎูุฑ ู ู ุฒูุงูุง ุฃูุช ููููุง ูู ููุงูุง، ุขู ูู
[Yendri Junaidi]
Musuh utama jamaah thariqat adalah kemiskinan dan kebodohan
Acara sidang Munaqasyah Syekh Muda / Syarifah ke-27 tahun 2017 berlangsung khidmat dan sukses bertempat di Pondok Pesantren Bandar Tinggi Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara dibuka sejak tanggal 27 Desember 2017. Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Al-Kholidiyah Jalaliyah (TNAJ), Tuan guru dalam tausiahnya menyampaikan bahwa tema tahun ini adalah ‘Dengan suksesnya sidang Munaqasyah Wisuda ke 27, kita tingkatkan kualitas sumber daya manusia Da’i dan Da’iyah untuk menjawab problematika masyarakat kotemporer’. Tema ini juga merupakan jawaban salah satu visi dan misi Thariqat Naqsyabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah diantaranya adalah mensosialisasikan thariqat keseluruh Nusantara dan Mancanegara”, kata Buya.
Tuan
guru dengan sapaan buya menambahkan, keberhasilan yang dicapai saat ini
bukanlah akhir dari perjuangan melainkan proses untuk mencapai
kebahagian dan kesejahteraan. Banyak tantangan dan rintangan yang selalu menghampiri dalam proses tersebut.
Lanjutnya, Oleh sebab itu para Da’i dan Da’iyah TNAJ harus dibekali
dengan ilmu guna mencapai visi dan misi itu yakni mencetak ulama yang
intelektual atau intelektual yang ulama, menciptakan ekonomi kerakyatan
yang mantap dan global, selain itu pengembangan sumber daya terus
ditingkatkan yakni sumber daya manusia (SDM), sumber daya ekonomi (SDE)
dan sumber daya (SDA) bagi Jamaah TNAJ.
“Musuh Thariqat yang utama adalah kemiskinan dan kebodohan”tegas Buya.
Diakhir tausiah tuan guru menerangkan bahwa untuk mencapai semua visi misi Thariqat Naqsyabandiyah Al-Kholidiyah Jalaliyah
tersebut, semua jamaah hendaknya tetap konsisten berpegang teguh didalam
thariqat ini, karena Allah SWT akan memberikan ganjaran yakni
diberikannya rejeki yang melimpah dan tidak ada musuh
didalamnya,tandasnya.
Pertemuan dengan Tuhannya
Barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan amal saleh dan janganlah dia mempersekutukan sesuatupun dalam beribadah ke- pada Tuhannya. (QS. Al-Kahfi : 110).
Amal saleh itu adalah amalan-amalan yang baik yang dilakukan dengan di landasi karena iman kepada Allah, baik untuk pribadi, untuk masyarakat, sama ada untuk orang Islam maupun non islam. Ironisnya sekarang banyak terjadi orang beramal tidak saleh malah menyekutukan Allah dalam beribadahnya. Dalam beramal saleh ada yang masuk kategori hablum minallah , yaitu hubungan secara vertikal kepada Allah dan hablum-minannas, yaitu hubungan secara horizontal dengan sesama manusia yang tidak membedakan orang, suku, agama dan kepercayaannya, yang penting pekerjaan yang dilakukan itu baik menurut kacamata syariat islam, sebagaimana sudah termaktub dalam Qur’an dan Hadits. Rasulullah dalam sejarah hidupnya sudah memberi teladan dalam kaitan berhubungan baik dengan sesama manusia. Tidak hanya terhadap orang yang masih hidup , bahkan seorang Yahudi yang sudah meninggal melintas iring-iringannya di depan Rasulullah, beliau ikut berdiri tanda menghormatinya. Ketika hal itu di perjelas oleh sahabat bahwa rombongan jenazah yang baru melintas tersebut adalah mayat seorang Yahudi, Rasulullah dengan sederhana menyatakan “bukankah mereka juga makhluk ciptaan Allah”.
Untuk sampai kepada Allah kita dituntut melakukan yang terbaik apakah itu kepada lingkungan, manusia atau makhluk ciptaan Allah lainnya. Buatlah yang terbaik kepada diri kita sendiri, keluarga, jiran tetangga, kelompok kita atau kelompok lain di luar kelompok kita, orang islam dan bahkan kepada non Islam sekalipun. Karena orang yang beriman itu memahami bahwa buruk dan baik semua datangnya dari Allah SWT.
Ibadah adalah segala bentuk pengabdian atau penghambaan diri, dalam konteks ayat di atas yang dimaksudkan adalah pengabdian diri semata-mata kepada Al- lah SWT, tidak kepada selain-Nya. Segala bentuk kegiatan yang baik bisa bernilai ibadah bila di landasi dengan niat melakukannya semata-mata karena Allah. Bukan karena niat pamer (ria), bukan pula karena ingin menunjukkan kehebatan diri (sombong) supaya disebut-sebut lebih hebat dari yang lainnya.
Dalam hal ini kita sebagai manu- sia mestinya tetap menyadari bahwa kita adalah makhluk ciptaan Allah, di jadikan dengan tujuan yang sangat jelas, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Az-Zari- at: 56: “Tidak Kujadikan Jin dan Manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku”. Menurut ayat ini Jin dan Manusia yang tidak mau mengabdi kepada Allah SWT. Berarti lari dari maksud atau tujuan penciptaannya.
Untuk yang berharap ingin ber – temu dengan Allah menurut QS. Al- Kah : 110 di atas syaratnya tidak banyak, pertama: hendaklah beramal dengan amalan yang saleh dan kedua: jangan sekutukan Tuhan dalam beribadah dengan sesuatu yang lain. Syarat ini sangat sederhana dan mudah untuk di ingat dan dicerna, tetapi sangat sulit untuk dilakukan bagi yang tidak mau berjuang dengan penuh kesungguhan (mujahadhah) dan melatih dirinya (riyadhoh) secara berkesinambungan.
Kalau kita cerna secara akal sehat sangat logis mengapa Allah tidak mau disekutukan, terlebih ketika beribadah kepada-Nya? sederhananya saja, kita manusia baik laki-laki maupun perempuan hampir tidak ada yang mau di duakan. Coba kita tanyakan kepada muda-mudi yang ingin memilih pasangan hidupnya, jarang sekali yang mau diduakan. Kalaupun ada, mungkin karena tidak tahu atau sudah tidak bisa di hindarkan lagi, atau kemungkinan yang memang memiliki ke-imanan yang kuat kepada Allah dengan ber – pedoman kepada Qur’an dan Hadits.
Kita sadar betul tidak ada milik kita yang abadi di dunia ini, bahkan dikata orang milik kita yang ada sekarang ini, juga hakikatnya adalah kepunyaan Allah juga sesungguhnya. Ironisnya dalam kondisi seperti itupun kita sudah tidak terima kita di duakan. Oleh karena itu, benarlah Allah tidak mau disekutukan, Dia Pencipta dan pemilik alam beserta seluruh isinya. Bahkan kita juga termasuk milik Allah. Kita yang hidup diciptakan oleh Allah. Hidup di bumi Allah diperintahkan untuk mengabdi hanya kepada Allah dengan tidak mensekutukan-Nya. Kalau itupun kita tidak mau, jangan harap
bisa bertemu dengan Allah SWT. Padahal menurut keterangan sebagahagian ulama Tauhid dalam kitab-kitab mereka, bahwa kenikmatan yang paling puncak (ekstasy) bagi penduduk surga nantinya adalah ketika bertemu dengan Allah SWT.
Wala yusriq bi ibadati robbihi ahadaa. Hal ini merupakan larangan kepada kita untuk menyekutukan Allah dalam beribadah dengan sesuatu. Q.S. Al ikhlas : sudah menyatakan bahwa “Allah itu Esa”. Namun masih banyak yang melakukan penyekutuan, misalnya anak yang sakit dan dibawa berobat ke dukun, karena mempun- yai alasan keteguran (kesambat).
Allah hanya menilai hati kamu bukan harta dan rupa kamu (Al hadist), maka Jangan tinggalkanlah Allah dalam segala hal gerak gerik kita. Inna aqromakum ‘indallahi atqokum, bahwa yang lebih mulia diantara kamu di sisi Allah adalah yang paling takwa diantara kamu (atqokum). Takwa berarti mampu melaksanakan ilmu yang sedikit dan mampu mengamalkan ilmu yang diketahuinya. Karena Banyak orang yang tidak mampu melaksanakan ilmunya. Allah menyatakan, “Man amila bima ‘alima, Allamahullahu ‘ilman malam ya’lam”, “Siapa yang mengamalkan ilmu yang sedikit akan ditambah Allah ilmunya”. Sekarang kita semua sudah wajib mengajar (dakwah) karena kita sudah mengetahui lebih dari satu ayat. (perintah dakwah), Balighu anni walau ayah”. Allah akan mem- berikan paham kepada kita meski- pun yang tidak diajarkan Guru. “Man amilabimaa ‘alima warusa- hullahu ‘ilmaa maa lam yaqlam”.
TAUSIYAH TUAN GURU, JUM’AT 06 APRIL 2012
Penyunting: SM. Hasanuddin, S.Sos.I & Krishna
MEDIA MENARA | EDISI 2 | JUNI 2012