Laman

Minggu, 29 September 2013

Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad Al-Husayni Al-Uwaysi Al-Bukhari.


 
SILISILAH GURU2 KU

Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad Al-Husayni Al-Uwaysi Al-Bukhari. Ia lahir di Qasrel Arifan, sebuah desa di kawasan Bukhara, Asia Tengah, pada bulan Muharram tahun 717 H/1317 M. Nasabnya bersambung kepada Rasulullah SAW melalui Sayyidina Al-Husain RA. Semua keturunan Al-Husain di Asia Tengah dan anak benua India lazim diberi gelar shah, sedangkan keturunan Al-Hasan biasa dikenal dengan gelar zadah dari kata bahasa Arab saadah (bentuk plural dari kata sayyid) sesuai dengan sabda Rasulullah SAW tentang Al-Hasan RA, ”Sesungguhnya anakku ini adalah seorang sayyid.” Shah Naqshaband diberi gelar Bahauddin karena berhasil menonjolkan sikap beragama yang lurus, tetapi tidak kering. Kemudian, sikap beragama yang benar, tetapi penuh penghayatan yang indah.

Pada masanya, tradisi keagamaan Islam di Asia Tengah berada di bawah bimbingan para guru besar sufi yang dikenal sebagai khwajakan (bentuk plural dari ‘khwaja’ atau ‘khoja’ dalam bahasa Persia berarti para kiai agung). Dan, pembesar mereka adalah Khoja Baba Sammasi yang ketika Muhammad Bahauddin lahir, ia melihat cahaya menyemburat dari arah Qasrel Arifan, yaitu saat Sammasi mengunjungi desa sebelah.

Sammasi lalu memberitahukan bahwa dari desa itu akan muncul seorang wali agung. Sekitar 18 tahun kemudian, Khoja Baba Sammasi memanggil kakek Bahauddin agar membawanya ke hadapan dirinya dan langsung dibaiat. Ia lalu mengangkat Bahauddin sebagai putranya.

Sebelum meninggal dunia, Baba Sammasi memberi wasiat kepada penggantinya, Sayyid Amir Kulali, agar mendidik Bahauddin meniti suluk sufi sampai ke puncaknya seraya menegaskan, “Semua ilmu dan pencerahan spiritual yang telah kuberikan menjadi tidak halal bagimu kalau kamu lalai melaksanakan wasiat ini!”

Meniti jalan spiritual
Bahauddin pun berangkat ke kediaman Sayyid Amir Kulali di Nasaf dengan membawa bekal dasar yang telah diberikan oleh Baba Sammasi. Sammasi menyatakan jalan tasawuf dimulai dengan menjaga kesopanan tindak-tanduk dan perasaan hati agar tidak lancang kepada Allah, Rasulullah, dan guru.

Bahauddin juga percaya bahwa sebuah jalan spiritual hanya bisa mengantarkan tujuan kalau dilalui dengan sikap rendah hati dan penuh konsistensi. Karena itu, melakukan makna eksplisit dari sebuah perintah barangkali harus diundurkan demi menjaga kesantunan.

Inilah yang dilakukan oleh Bahauddin ketika dihentikan oleh seorang lelaki berkuda yang memerintahkan dirinya agar berguru pada orang tersebut. Dengan tegas, tetapi sopan; ia menolak seraya menyatakan bahwa dia tahu siapa lelaki itu. Masalah berguru kepada seorang tokoh adalah persoalan jodoh; meskipun lelaki berkuda tadi sangat mumpuni, ia tidak berjodoh dengan Bahauddin.

Setelah tiba di hadapan Sayyid Amir Kulali, Bahauddin langsung ditanya mengapa menolak perintah lelaki berkuda yang sebenarnya adalah Nabi Khidir AS? Beliau menjawab, “Karena, hamba diperintahkan untuk berguru kepada Anda semata!”

Di bawah asuhan Amir Kulali, Bahauddin mengalami berbagai peristiwa yang mencengangkan. Di antaranya, beliau pernah ditangkap oleh dua orang tak dikenal dan dikirimkan ke makam seorang wali. Di sana, dia mendapatkan lentera yang minyaknya masih banyak dan sumbunya juga masih panjang, tetapi apinya hampir padam.

Bahauddin mendapat ilham untuk menggerakkan sedikit sumbu itu agar aliran bahan bakar menjadi lancar. Dengan khusyuk, ia melakukannya, tahu-tahu sekat pembatas antara dunia nyata dan alam barzakh terbuka di hadapan beliau. Di balik tabir ruang dan waktu itu, Bahauddin mendapatkan semua mahaguru khawajakan yang sudah meninggal dunia, termasuk guru pertamanya, Khoja Baba Sammasi.

Oleh salah seorang guru mereka, Bahauddin dihadapkan kepada kepala aliran khawajakan, yaitu Khoja Abdul Khaliq Gujdawani. Dari mahaguru yang agung ini, Bahauddin mendapatkan bimbingan langsung dalam meniti suluk sufi. Sejak saat itu, Bahauddin dikenal dengan gelar Al-Uwaysi karena mendapatkan pelajaran spiritual langsung dari seorang guru yang sudah meninggal dan tidak pernah ditemuinya di dunia. Hal ini sama dengan Uways Al-Qarny, seorang tabiin yang mendapatkan pelajaran spiritual langsung dari roh Sayyidina Rasulillah SAW.

Di bawah bimbingan Amir Kulali pula, Bahauddin terus mempraktikkan semua ajaran Abdul Khaliq Gujdawani, sebagaimana beliau juga mempelajari dengan tekun ilmu-ilmu Islam lainnya, khususnya akidah, fikih, hadis, dan sirah Nabi SAW.

Dan, karena wasiat dari Baba Sammasi, tidak heran kalau Amir Kulali memberikan perhatian khusus kepada Bahauddin. Setelah semua ilmu dan pencerahan spiritual yang ada pada gurunya diserap habis, Sayyid Amir Kulali memerintahkan Bahauddin untuk mengembara seraya menunjuk ke puting dadanya dan berkata, “Semua yang ada di sumber ini sudah habis kamu sedot, maka mengembaralah!”

Bahauddin kemudian belajar kepada beberapa mahaguru lain, seperti Khoja Arif Dikkarani dan Hakim Ata, hingga beliau menjadi mahaguru sufi terbesar yang pernah muncul dari kawasan Asia Tengah (sekarang adalah negara-negara persemakmuran bekas USSR), Persia, Turki, dan Eropa Timur. Beliau meninggal pada malam Senin, 3 Rabiul Awwal 791 H/1391 M.

Karena di dadanya terukir Lafdzul Jalalah (Allah) yang bercahaya, ia dikenal juga sebagai “Naqshaband” (bahasa Persia yang berarti: gambar yang berbuhul). Dan, kepada beliau, dinisbahkan Tarekat Naqshabandiyah yang merupakan salah satu tarekat terbesar di dunia. Tarekat ini tersebar luas di Turki, Hejaz, kawasan Persia, Asia Tengah, serta anak benua India dan Indonesia.

Adanya Tarekat Naqshabandiyah ternyata mampu mempertahankan identitas keislaman di Asia Tengah dan Eropa Timur, di tengah prahara komunisme yang menerpa selama lebih dari setengah abad. Para pemimpin kebangkitan Islam di Turki, seperti Erbakan dan Erdogan, juga berafiliasi kepada tarekat ini. Bahkan, akhir-akhir ini, Tarekat Naqshabandiyah memainkan peranan sangat penting dalam penyebaran Islam di Eropah dan Amerika.

Sementara itu, di Indonesia, ada beberapa cabang Tarekat Naqshabandiyah, seperti Khalidiyah, Mujaddidiyah, dan Muzhariyah. Yang terbesar adalah Tarekat Qadiriyah-Naqshabandiyah yang–sesuai namanya–merupakan hasil simbiosis dua tarekat terbesar di dunia.

Mengembalikan Esensi Tasawuf
Shah Naqshaband muncul untuk merevitalisasi perilaku beragama dengan mengajak kembali kepada tradisi yang hidup pada zaman Nabi SAW. Bagi Shah Naqshaband, hakikat sebuah tarekat adalah penerapan ajaran syariat dalam wujud yang paling sempurna dan konsisten. Sementara itu, hakikat adalah terealisasikannya “maqam kehambaan” seorang anak manusia di hadapan Allah semata.

Shah Naqshaband menyatakan bahwa tasawuf adalah inti agama dan inti terdalam dari tasawuf itu sendiri adalah muraqabah, musyahadah, dan muhasabah. Muraqabah adalah melupakan segala sesuatu yang selain Allah dengan hanya memfokuskan hati dan perbuatan hanya kepada-Nya.

Musyahadah adalah menyaksikan keagungan dan keindahan Allah dalam seluruh eksistensi. Sementara itu, muhasabah adalah instropeksi diri yang terus-menerus agar tidak lalai dari jalan yang mulia ini. Dengan ketiga inti tasawuf itu, hati seorang saleh terus hidup dan dihidupkan oleh zikir dan kebersamaan bersama Allah dalam setiap detak jantung dan embusan napasnya sampai dia tertidur sekalipun!

Agar mencapai maqam tersebut, seorang saleh harus menjalani pelatihan di bawah bimbingan seorang mahaguru spiritual. Dialah yang akan mengajarkannya prosesi berzikir dalam hati sesuai dengan firman Allah, “Dan, sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan penuh kesungguhan dan rasa takut (akan tidak diterima amal perbuatanmu), tanpa mengangkat suara pada siang dan sore hari dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah” (QS Al-A`raaf: 205).

Zikir dalam hati dipilih karena silsilah utama tarekat ini bersambung melalui Abu Bakar Ash-Shiddiq. Metode zikir ini diajari oleh Rasulullah dan berbeda dengan tarekat lain yang semuanya bersambung melalui Ali bin Abi Thalib yang diajari berzikir dengan menggunakan suara jelas. Zikir dalam hati adalah ibadah yang terbesar (sesuai dengan bunyi tekstual QS Al-`Ankabuut: 45) dan bisa dilaksanakan dalam keadaan apa pun.

Zikir dalam hati yang dilakukan oleh seorang Naqsyabandi menggunakan Lafdzul Jalalah (Allah) dan Laa Ilaaha illalLaah yang dilafalkan dengan cara tertentu sebagaimana diajarkan langsung oleh seorang mahaguru sufi (syekh). Dengan prosesi zikir ini, seorang Naqshabandi meniti tangga-tangga makrifat.

Shah Naqshaband pernah menyatakan bahwa shalat adalah titian spiritual yang paling efektif bagi seorang saleh asalkan shalatnya khusyuk. Untuk mewujudkannya, seorang saleh diharuskan mengonsumsi makanan yang halal baginya dan tidak pernah lalai mengingat atau “bersama” dengan Allah dalam kesehariannya, lebih khusus lagi saat berwudhu serta bertakbiratul ihram.

Di sisi lain, bertasawuf bagi Shah Naqshaband adalah sebuah perilaku sosial yang positif. Bukan sekadar berbudi pekerti yang luhur, melainkan juga berbuat kebajikan kepada sesama makhluk Allah. Seorang saleh tidak boleh merasa dirinya lebih mulia dari seekor anjing sekalipun. Dia juga selalu siap mengulurkan tangan kepada siapa pun yang membutuhkan bantuan. Bahkan, bantuan tersebut bukan sekadar diberikan dalam bentuk material semata, tetapi juga rohaniah dan spiritual.

Selain itu, bertasawuf juga berarti menghormati waktu. Shah Naqshaband pernah menegaskannya dalam bahasa Persia, “Orang yang berakal pasti tidak suka berkawan dengan seorang yang suka menunda-nunda pekerjaan jika mampu dilakukannya hari ini.” Waktu harus digunakan untuk ibadah dalam pengertiannya yang paling komprehensif: berbuat kebajikan, baik yang ritual maupun yang sosial. Dan, tidak boleh ada waktu yang berlalu sedetik pun tanpa yakin bahwa kita selalu “mengingat” dan “bersama” Allah.

Dengan demikian, bertasawuf bagi Shah Naqshaband adalah mewujudkan ketundukan penuh kepada Nabi Muhammad SAW secara paripurna: menjalankan perintahnya, menghindari larangannya, meneladani perbuatannya, dan menghayati spiritualitasnya, sesuai dengan ajaran Islam menurut mazhab ahlussunnah wal jamaah.

Tidak heran kalau banyak ulama yang mengakui bahwa Tarekat Naqshabandiyah adalah saripati semua tarekat sufi. Dan, barang siapa yang suluknya tidak sesuai dengan ajaran Shah Naqshaband di atas berarti sudah keluar dari jalur yang benar meskipun mengaku sebagai pengikut beliau.

Shah Naqshaband pernah menegaskan, “Tasawuf adalah syariat. Dan, barang siapa yang mengaku sebagai pengikut tasawuf, tetapi tidak menerapkan syariat, berarti dia telah tersesat!”

Syekh Abdul Rahman Al Khalidi yang bernama kecil Alam Basifat. Syekh Abdul Rahman Al Khalidi



Silsilah saya dari kakek guru (langsung)
Illa hadroti Nabiyil Musthofaa Syafa’ati Rosulilallahi Solallahu ‘Alahi Wasallam
Wa Azawaajihi, Wa Auladiihi, Wa Dzurriyatihii, Wa Ahli Baitihi, Wa Ashaabihii, Wa tabi’inna, Wa Tabi’in, Humbi Ihsanin ilayaw Midhin Syaiu Lillahi Lahumul Fatihah....

Illahii… Anta Maqsuudii Waridhoka Mathluubii ‘Atini Mahabataka Wama’rifataka
Illahi… Ampunilah dosa-dosa dan kesalahan guru-guru kami, terimalah amal baiknya, lipatkan pahalanya…rahmatilah dan sejahterakanlah mereka.
Illahii… Tempatkanlah guru-guruku disisi-Mu bersama para Nabi-nabi-Mu dan Wali-wali-Mu juga para syuhada…
Illahii….Bersihkanlah hati kami sebagaimana Engkau membersihkan hati guru-guru kami, dan tanamkanlah niat baik dan suci dihatiku seperti Engkau tanamkan niat baik di hati para guru-guruku
Illahii… Hidupkanlah kami dalam selalu mengingat, mengenal dan mencintai-Mu
Illahii… Matikanlah kami dalam selalu mengingat dan mengenal-Mu dalam keridhoan-Mu.
Illahii.... Bangkitkanlah kami dalam selalu mengingat dan mengenal-Mu dipadang mahsyar nanti dalam naungan-Mu, dengan Syafa’at Baginda Besar Rasulullah SAW.

Berkat rahmat-Mu illahi… berkat Syafa’at Baginda besar Rasulullah SAW… berkat Tarekat Samaniyah,Naqsyabandiyah,.. berkat doa Ruhaniyah guru-guruku,para alim ulama,kaum muslimin muslimat.. berkat keridhoan kedua Orangtuaku..kabulkanlah.. amin Allahumma amiin…

***************************
Syekh Abdul Rahman Al Khalidi yang bernama kecil Alam Basifat. Syekh Abdul Rahman Al Khalidi adalah seorang ulama yang menyebarkan tarekat Samaniyyah dan Naksyabandiyah di seluruh ranah Minang dan menyebar di seluruh pulau Sumatra dan pulau Jawa dan sebahagian di Kalimantan dan Malaysia.Almarhum juga pencipta ahli seni bela diri silat kumango(silek Tuo),yang sekarang di Indonesia telah banyak mengalami modifikasi dengan berbagai simbol.Beliau juga disebut sebagai "Syaikh Kumango".Silat kumango di zamannya sempat menjadi salah satu unsur yang sangat erat kaitannya dengan kedudukan sosial seseorang. Artinya, dengan menguasai Silat Kumango, seseorang akan dihormati karena ia mempunyai strata sosial yang tinggi dalam masyarakat. Oleh karena itu, para orang tua banyak yang mendorong anak laki-lakinya yang berumur 5—10 tahun untuk mempelajarinya agar kelak menjadi orang yang terpandang dan disegani di dalam masyarakatnya.

Konon, sebelumnya Syekh Abdul Rahman Al Khalidi pernah menjadi seorang parewa (preman) yang malang-melintang selama 15 tahun.

Suatu saat ia bertemu dengan Syekh Abdurrahman, kemudian menekuni ajaran agama Islam, dan menjadi seorang ulama.

Oleh karena Syekh Abdul Rahman Al Khalidi adalah penganut dan sekaligus penyebar tarekat Samaniyyah dan Naksyabandiyah

ni silsilah keilmuan yang saya pegang dan saya terima :
Tarikat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah:

19.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh As Sayyid Bahauddin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad As-Syarif Al-Husaini Al-Hasani Al-uwaisi Al-Bukhari q s.Beliau adalah Imam dari Tarikat Naqsyabandiyah.
20.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad ’Alauddin Ath-Hari Al-Bukhari Al-Khawarizmi q s.
21.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Ya’kub Al-Jarakhi q s.
22.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Nashiruddin ‘Ubaidullah Al-Ahrar As-Samarqandi bin Mahmud Syihabuddin q s.
23.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad Az Zahid q s.
24.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Darwisy Muhammad As-Samarqandi q s.
25.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad Al-Khawajaki As-Samarqandi q s.
26.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muayyiddin Muhammad Al-Baqi Billahi q s.
27.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Ahmad Al-Faruqi As-Sirhindi q s.
28.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad Ma’sum q s.
29.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad Syaifuddin q s.
30.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Asy Syarif Nur Muhammad Al-Badawani q s.
31.Al‘Arif Billah Asy Syaikh Syamsuddin Habibullah Jani Jaanani Mushir Al-’Alawi q s.
32.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh ’Abdullah Dahlawi Al-’Alawi q s.
33.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Dhiyauddin Khalid Al-Utsmani Al-Kurdi q s.
34.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Sulaiman Affandi q s Jabal Qubais,Mekkah Al-Mukaromah.
35.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Al-Karim Ibrohim bin pahat q s Kumpulan,Lubuk Sikaping.
36.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad Sholeh q s Padang kandis,Payakumbuh.
37.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Mudo ’Abdul Qodim q s Belubus,Payakumbuh.(KAKEK GURU LIHAT FOTONYA)
38.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Angku Dukun Juti q s Sungai naniang,Payakumbuh.
39.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Ilyas Tengku Rahman q s pandam gadang,Payakumbuh.
40.Hamba Allah yang dhoif,yang tiada daya melainkan dari pertolongan-Nya,hamba nan fakir,Angku Mudo Prolando Kamal Al-Khalidi An-Naqsyabandi , Napar,Payakumbuh.

Tarikat Sammaniyah Al-Qodiri Khilawatiyah :

33.Al‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad bin Abd Al-Karim Al-Samman Al-Madani q s. Beliau adalah Imam dari Tarikat Sammaniyah
34.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Hasib q s
35.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Sayyidina Abu Al-Hasan q s
36.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Sayyidina Muhammad Amin bin Ahmad Ar-Ridwan Al-Madinah Ar-Rasul q s.
37.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Abd Al-Rahman Al-Kholidi bin Al-Khatib Al-Alim Al-Kumangowiyah q s.
38.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Mudo ’Abdul Qodim q s Belubus,Payakumbuh.
39.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Sayuti  Sungai naniang,Payakumbuh.
40.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Ilyas Tengku Rahman q s Pandam gadang,Payakumbuh.
41.Hamba Allah yang dhoif,yang tiada daya melainkan dari pertolongan-Nya,hamba nan fakir,para murid2 di diseluruh nusantara

Sungguh tiada saya bermaksud sombong,apalagi ria dengan memperlihatkan silsilah keilmuan saya,kalau memakai ria hati maka sia-sia sajalah saya mengajak saudara-saudara semua yang ada membaca thread ini.Selaku hamba yang lemah dan penuah dosa serta khilaf maka kepada Allah saya mohon ampun,dan kepada saudara sekalian saya meminta maaf bila ada yang salah dalam penyampaian saya yang tidak berkenan dihati saudara sekalian.
Mohon maaf lahir & batin . Wasalamualikum wr wb

Ilahi anta maksudi waridhoka mathlubi
Disusun oleh:

Mudiak.Payakumbuh,SUMBAR.
By:Angku Mudo.

Pakai Mobil JIHAD yang Berbahan Bakar ISTIQOMAH, dengan Sopir KEIKHLASAN, Lewat Jalan IMAN, jangan lupa bawa peta QUR"AN & SUNNAH, juga Bekal TAQWA....
—

Sabtu, 28 September 2013

Kisah Indah Malam Pertama Seorang Pengantin Muslimah


Setelah melaksanakan shalat Maghrib dia berhias, menggunakan gaun pengantin putih yang indah, mempersiapkan diri untuk pesta pernikahannya. Namun tak lama berselang dia mendengar suara azan Isya berkumandang dan dia sadar kalau wudhunya telah batal. Dia berkata pada ibunya:
“Bu, saya mau berwudhu dan shalat Isya.”

Ibunya terkejut dengan berkata: “Apa kamu sudah gila? Tamu telah menunggumu untuk melihatmu, bagaimana dengan make-up mu? Semuanya akan terbasuh oleh air.”

Lalu ibunya menambahkan: “Aku ibumu, dan ibu katakan jangan shalat sekarang! Demi Allah, jika kamu berwudhu sekarang, ibu akan marah kepadamu”
Sang anak membalas: “Demi Allah, saya tidak akan pergi dari ruangan ini, hingga saya shalat. Ibu, ibu harus tahu bahwa tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Pencipta!”
Ibunya pun berkata: “Apa yang akan dikatakan tamu-tamu kita tentangmu, ketika kamu tampil dalam pesta pernikahanmu tanpa make-up?? Kamu tidak akan terlihat cantik dimata mereka! dan mereka akan mengolok-olok dirimu”

Sang anak membalas dengan tersenyum: “Apakah ibu takut karena saya tidak akan terrlihat cantik di mata makhluk? Bagaimana dengan Penciptaku? Yang saya takuti adalah jika dengan sebab kehilangan shalat, saya tidak akan tampak cantik di mata-Nya”.
Setelah mengatakan itu, dia tetap berwudhu, dan seluruh make-up nya terbasuh. Tapi dia tidak merasa bermasalah dengan itu. Kemudian ia memulai shalatnya. Dan pada saat bersujud, dia tidak menyadari bahwa itu akan menjadi sujud terakhirnya. Pengantin wanita itu pun wafat dengan cara yang indah, yaitu bersujud di hadapan Pencipta-Nya. Ya, ia wafat dalam keadaan bersujud, sehingga menjadi akhir kehidupan yang luar biasa bagi seorang Muslimah yang teguh untuk mematuhi Tuhannya!

Subhanallah… Kisah di atas menunjukkan bahwa di dunia ini masih tersisa kebaikan, kebenaran dan kemuliaan. Kisah nyata yang diceritakan oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Ahmad ini terjadi di Abha, ibu kota Provinsi Asir, Arab Saudi. Banyak orang tersentuh mendengarkan kisah ini. Ia telah menjadikan Allah SWT dan ketaatan kepada-Nya sebagai prioritas pertama dan utama. Sehingga menjadi sebuah fenomena yang luarbiasa masih terjadi di tengah pola kehidupan duniawi yang terus di agungkan oleh sebagian besar manusia. Sehingga patut menjadi tolak ukur dan penyemangat diri – terutama kaum Muslimah – bahwa mengikuti perintah-Nya adalah yang terbaik sebagai manusia dan tetap indah.
Tidak ada alasan bagi siapapun untuk tidak takut kepada Allah SWT. Dan ketakutan yang telah di contohkan oleh pengantin wanita di atas adalah kebenaran. Inilah sikap yang akan menyelamatkan seseorang di akherat kelak. Di waktu yang penuh sesak dan tiada kesempatan untuk memperbaikinya. Sehingga mulai sekaranglah wahai saudariku tercinta engkau berbenah diri, merubah kebiasaan dan pola kehidupan yang terus menduniawi ini. Pikirkan tentang kehidupan akheratmu nanti, tentang bagaimana bisa engkau memperoleh kebaikan sementara engkau tidak berbuat baik yang sesuai ketetapan-Nya.
Benar adanya, bahwa sikap seperti pengantin wanita di atas itu sulit dan tidak sedikit yang mengabaikannya, tetapi yakinlah masih ada di antara kita yang mau melakukannya. Mereka memilih bahwa kehidupan ini harus di tempatkan pada posisi yang tepat. Pada keadaan bahwa ia hanyalah seorang hamba yang harus selalu patuh hanya kepada Tuhannya. Apapun resikonya ia tidak peduli, karena yang diinginkannya adalah mengabdi dan mencintai Tuhannya saja. Sehingga berakhirlah kehidupannya dalam keindahan. Sungguh indah dan mulia.

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalihah” (HR. Muslim)
Ya. Siapapun dari Muslimah yang menginginkan perjalanan hidupnya di akherat menjadi indah dan mudah, maka ia harus mencontoh sikap pengantin wanita di atas, karena demikianlah yang di lakukan oleh para wanita shalihah. Kaum Muslimah yang menjadi idaman bagi sosok yang shalih karena telah mengikuti jejak para Nabi. Hamba Allah yang kelak akan berdiri di belakang Fathimah Az-Zahra RA, karena menjadi penghuni Syurga selamanya.

Aku Kota Ilmu, Ali Pintunya

 
Oleh: Hasan Husen Assagaf

Sebelumnya mari kita bersama sama membuka dua bingkisan kado yang datang dari dua sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib ra dan Umar bin Khattab ra, mari kita menyimak dua kisah mereka yang cukup menarik:

Kisah pertama:

Teriakan seorang wanita muda terdengar dari jauh. Tanganya dipegang secara kasar oleh suaminya. Hidungnya berdarah dan mukanya babak belur karena dipukuli. Ia didorong maju secara kuat kehadapan khalifah Umar bin Khattab ra. Ia tersangka telah berbuat zina. Suaminya marah bukan kepalang. Sambil dilempar dihadapan khalifah Umar, laki laki itu berkata “Ya Amirul Muminin, perempuan ini telah berzina”. Khalifah Umar pun bertanya “Apa sebenarnya yang telah terjadi terhadap istrimu ini?”. Dengan sewet ia menjawab “Ya Amirul Mumini, rajamlah wanita ini. Sesungguhnya ia telah berzina. Aku baru saja kawin 6 bulan, masa sekarang sudah punya anak?”.

Setelah perkara itu diselidiki secara seksama, teliti dan semua persyaratan hukum telah dipenuhi, beliau pun dengan tegas memutuskan bahwa hukum rajam bagi wanita tadi harus segera dilaksanakan.

Pada saat itu kebetulan Imam Ali bin Abi Thalib ra sedang duduk di samping khalifah Umar ra. Beliau melihat semua yang terjadi terhadap diri wanita itu. beliau pun telah mendengar keputusan yang telah diputuskan khalifah Umar untuk merajamnya. Adapun menurut beliau wanita itu tidak sewajarnya untuk dirajam karena ia tidak bersalah. Maka dengan penuh keberanian, Sayyidina Ali ra berkata kepada khalifah Umar ra “Tunggu dulu ya Amirul Mu’mini, jangan terburu buru memutuskan suatu hukum sebelum mempunyai dalil yang kuat. Sesungguhnya wanita itu tidak bersalah dan tidak berzina”.

Mendengar ungkapan Imam Ali bin Abi Thalib ra, beliau merasa bersalah terburu buru memutuskan hukuman tanpa bermusyawarat terlebih dahulu kepada para sahabat. Lalu beliau berkata “Ya Aba al-Hasan, bagaimana kamu tahu hukumnya bahwa wanita itu tidak berzina?”. Dengan lantang Imam Ali pun menjelaskan “Bukankah Allah berfirman dalam surat Al-Ahqaf ayat 15 yang berbunyi: “mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan”, sedangkan di surat lainya yaitu surat Luqman ayat 14 Allah berfirman: “Dan menyapihnya dalam dua tahun”. Umar bin Khattab ra pun membenarkan penjelasan Imam Ali. Kemudian beliau melanjutkan penjelasanya “Jika masa kandungan dan penyapihan 30 bulan dikurangi masa penyapihan 24 bulan, maka wanita bisa melahirkan anak dalam waktu 6 bulan”.

Mendengar uraian Imam Ali tadi, khalifah Umar menganggukan kepalanya tanda salut atas keputusan beliau. Lalu berkata “Tanpa Ali, Umar bisa binasa”

Kisah kedua:

Suatu ketika, Khalifah Umar bin Khattab ra sedang duduk dengan para sahabat diantaranya ada Imam Ali bin Abi Thalib. Tiba tiba seorang laki-laki yang tak dikenal datang kepada beliau, parasnya enak dipandang, bersih dan berwibawa. Sambil duduk ia tak henti-hentinya bertasbih dan berdoa.

Melihat tindak tanduk orang tadi Khalifah Umar menjadi penasaran untuk menyapahnya. “Apa kabarmu di pagi hari ini?”. Orang itupun menjawab “Alhamdulillah pagi ini aku menyukai fitnah, membenci kebenaran (hak), sholat tanpa wudhu, dan saya memiliki di dunia apa yang tidak dimiliki Allah di langit”

Wajah khalifah Umar berobah mendengar uraian tamu tadi. Beliau marah bukan kepalang, lalu bangun dari tempat duduknya dan segera memegangnya dengan keras. Imam Ali yang berada di majlis itu tersenyum melihat kelakuan khalifah Umar ra. Beliau pun berkata kepadanya “Ya Amirul Muminin sabar dulu, apa yang telah dikatakan orang ini sesungguhnya benar”.

Medengar uraian Imam Ali, beliau pun merasa tidak enak karena telah meperlakukan tamu tadi secara kasar. Lalu beliau memandang wajah Imam Ali seraya berkata dengan suara yang agak lunak “Dapatkan kau terangkan kepadaku kebenarnya?”  Imam Ali ra bangun dari tempat dukuknya, lalu berkata “Pertama, ia menyukai fitnah berarti ia menyukai harta benda dan anak, bukankah Allah berfirman dalam ayat Nya surat al Anfal ayat 28 “Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak anakmu itu hanyalah fitnah?”. Kedua, ia membenci kebenaran atau hak. artinya ia membeci kematian. Allah berfirman dalam surat qaf 19 “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar benarnya (hak). Itulah yang kamu selalu lari daripadanya”. Ketiga, ia sholat tanpa wudhu, yaitu sholat kepada Rasulallah saw. Orang yang bershalawat kepada Rasulallah saw tidak wajib harus berwudhu. Adapun yang keempat, ia memiliki di dunia apa yang tidak dimiliki Allah di langit. Maksudnya ia memiliki di dunia anak dan istri yang tidak dimiliki Allah karena Allah adalah Maha Esa, tidak beristri, tidak beranak, dan tidak diperanakan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.

Khalifa Umar ra menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar uraian Imam Ali ra. Lalu berkata “Seburuk buruknya majlis adalah majlis yang tidak ada abu Al-Hasan (Imam Ali ra).

Dari dua kisah di atas jelas sekali kita bisa mengambi suatu bukti bahwa Imam Ali ra memiliki gudang ilmu yang tidak dimiliki para sahabat lainya. “Aku kota ilmu dan Ali pintunya”. Itulah sabda Rasulallah saw yang dicetuskan beliau kepada para sahabat. Alasanya, ketika beliau menerima wahyu, Sayyidina Ali ra adalah lelaki pertama yang mempercayai wahyu tesebut setelah istri beliau, Khadijah ra. Pada waktu itu Ali ra masih berusia sekitar 10 tahun.

Pada usia remaja setelah wahyu turun, Imam Ali ra banyak belajar langsung dari Rasulallah saw karena sebagai misanan dan sekali gus merangkat sebagai anak asuh, beliau selalu mendapat kesempatan dekat dengan Rasulallah saw. Hal ini berlanjut sampai belau menjadi menantu Rasulallah saw. Jadi banyak pelajaran pelajaran tertentu  yang diajarkan Rasulallah saw kepada beliau yang tidak diajari kepada sahabat sahabat yang lain.

Didikan langsung dari Rasulallah saw kepada imam Ali ra dalam semua ilmu agama baik secara zhahir (syariah) atau secara bathin (tasawuf), banyak menggembleng beliau menjadi seorang pemuda yang sangat cerdas, berani dan bijak. Salah satu dari kecerdasan, keberanian dan kebijaksanaan beliau kita bisa lihat dari kisah kisah di atas tadi.

Wallahua’lam

Rumah Tangga Ideal

Menurut ajaran Islam, rumah tangga yang ideal adalah rumah tangga yang diliputi sakinah (ketentraman jiwa), mawaddah (rasa cinta) dan rahmah (kasih sayang). Allah Ta’ala berfirman.

"Artinya : Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” [Ar-Ruum : 21]

Dalam rumah tangga yang Islami, seorang suami atau isteri harus saling memahami kekurangan dan kelebihannya, serta harus tahu pula hak dan kewajiban serta memahami tugas dan fungsinya masing-masing, serta melaksanakan tugasnya itu dengan penuh tanggung jawab, ikhlas serta mengharapkan ganjaran dan ridha dari Allah Ta’ala.

Sehingga, upaya untuk mewujudkan pernikahan dan rumah tangga yang mendapat keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla dapat menjadi kenyataan. Akan tetapi, mengingat kondisi manusia yang tidak bisa lepas dari kelemahan dan kekurangan, sementara ujian dan cobaan selalu mengiringi kehidupan manusia, maka tidak jarang pasangan yang sedianya hidup tenang, tenteram dan bahagia mendadak dilanda “kemelut” perselisihan dan percekcokan.

Apabila terjadi perselisihan dalam rumah tangga, maka harus ada upaya ishlah (mendamaikan). Yang harus dilakukan pertama kali oleh suami dan isteri adalah lebih dahulu saling intropeksi, menyadari kesalahan masing-masing, dan saling memaafkan, serta memohon kepada Allah agar disatukan hati, dimudahkan urusan dalam ketaatan kepadaNya, dan diberikan kedamaian dalam rumah tangganya. Jika cara tersebut gagal, maka harus ada juru damai dari pihak keluarga suami maupun isteri untuk mendamaikan keduanya. Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq kepada pasangan suami isteri tersebut.

Apabila sudah diupayakan untuk damai sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur'an, surat An-Nisaa' ayat 34-35, tetapi masih juga gagal, maka Islam memberikan jalan terakhir, yaitu “perceraian”.

Syaikh Musthafa Al-‘Adawi berkata, “Apabila masalah antara suami isteri semakin memanas, hendaklah keduanya saling memperbaiki urusan keduanya, berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk, dan meredam perselisihan antara keduanya, serta mengunci rapat-rapat setiap pintu perselisihan dan jangan menceritakannya kepada orang lain.

Apabila suami marah sementara isteri ikut emosi, hendaklah keduanya berlindung kepada Allah, berwudhu' dan shalat dua raka’at. Apabila keduanya sedang berdiri, hendaklah duduk; apabila keduanya sedang duduk, hendaklah berbaring, atau hendaklah salah seorang dari keduanya mencium, merangkul, dan menyatakan alasan kepada yang lainnya. Apabila salah seorang berbuat salah, hendaknya yang lainnya segera memaafkannya karena mengharapkan wajah Allah semata.” [1]

Di tempat lain beliau berkata, “Sedangkan berdamai adalah lebih baik, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala. Berdamai lebih baik bagi keduanya daripada berpisah dan bercerai. Berdamai lebih baik bagi anak daripada mereka terbengkalai (tidak terurus). Berdamai lebih baik daripada bercerai. Perceraian adalah rayuan iblis dan termasuk perbuatan Harut dan Marut.

Allah Ta’ala berfirman.
"Artinya : “Maka mereka mempelajari dari keduanya (Harut dan Marut) apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka tidak dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah.” [Al-Baqarah : 102]

Di dalam Shahiih Muslim dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas lautan. Kemu-dian ia mengirimkan balatentaranya. Tentara yang paling dekat kedudukannya dengan iblis adalah yang menimbulkan fitnah paling besar kepada manusia. Seorang dari mereka datang dan berkata, ‘Aku telah lakukan ini dan itu.’ Iblis menjawab, ‘Engkau belum melakukan apa-apa.’’ Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, ‘Lalu datanglah seorang dari mereka dan berkata, ‘Tidaklah aku meninggalkannya sehingga aku telah berhasil memisahkan ia (suami) dan isterinya.’’ Beliau melanjutkan, ‘Lalu iblis mendekatkan kedudukannya. Iblis berkata, ‘Sebaik-baik pekerjaan adalah yang telah engkau lakukan.” [2]

Ini menunjukkan bahwa perceraian adalah perbuatan yang dicintai syaitan.

Apabila dikhawatirkan terjadinya perpecahan antara suami isteri, hendaklah hakim atau pemimpin mengirim dua orang juru damai. Satu dari pihak suami dan satu lagi dari pihak isteri untuk mengadakan perdamaian antara keduanya. Apabila keduanya damai, maka alhamdulillaah. Namun apabila permasalahan terus berlanjut antara keduanya kepada jalan yang telah digariskan dan keduanya tidak mampu menegakkan batasan-batasan Allah di antara keduanya. Yaitu isteri tak lagi mampu menunaikan hak suami yang disyari’atkan dan suami tidak mampu menunaikan hak isterinya, serta batas-batas Allah menjadi terabaikan di antara keduanya dan keduanya tidak mampu menegakkan ketaatan kepada Allah, maka ketika itu urusannya seperti yang Allah firmankan:

"Artinya : Dan jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya), Mahabijaksana.” [An-Nisaa' : 130] [3]

Allah Ta’ala berfirman:

"Artinya : Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz[4], hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusah-kannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar. Dan jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya (juru damai itu) bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami isteri itu. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” [An-Nisaa' : 34-35]

Pada hakikatnya, perceraian dibolehkan menurut syari’at Islam, dan ini merupakan hak suami. Hukum thalaq (cerai) dalam syari’at Islam adalah dibolehkan.

Adapun hadits yang mengatakan bahwa “perkara halal yang dibenci Allah adalah thalaq (cerai),” yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2178), Ibnu Majah (no. 2018) dan al-Hakim (II/196) adalah hadits lemah. Hadits ini dilemahkan oleh Ibnu Abi Hatim rahimahullaah dalam kitabnya, al-‘Ilal, dilemahkan juga oleh Syaikh Al-Albani rahimahullaah dalam Irwaa-ul Ghaliil (no. 2040).

Meskipun thalaq (cerai) dibolehkan dalam ajaran Islam, akan tetapi seorang suami tidak boleh terlalu memudahkan masalah ini. Ketika seorang suami akan menjatuhkan thalaq (cerai), ia harus berfikir tentang maslahat (kebaikan) dan mafsadah (kerusakan) yang mungkin timbul akibat perceraian agar jangan sampai membawa kepada penyesalan yang panjang. Ia harus berfikir tentang dirinya, isterinya dan anak-anaknya, serta tanggung jawabnya di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla pada hari Kiamat.

Kemudian bagi isteri, bagaimana pun kemarahannya kepada suami, hendaknya ia tetap sabar dan janganlah sekali-kali ia menuntut cerai kepada suaminya. Terkadang ada isteri meminta cerai disebabkan masalah kecil atau karena suaminya menikah lagi (berpoligami) atau menyuruh suaminya menceraikan madunya. Hal ini tidak dibenarkan dalam agama Islam. Jika si isteri masih terus menuntut cerai, maka haram atasnya aroma Surga, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

"Artinya : Siapa saja wanita yang menuntut cerai kepada suaminya tanpa ada alasan yang benar, maka haram atasnya aroma Surga.” [5]

Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu berkata,

"Artinya : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang: ... dan janganlah seorang isteri meminta (suaminya) untuk menceraikan saudara (madu)nya agar mem-peroleh nafkahnya.” [6]

“...Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.” [Al-Furqaan : 74].

Salam Sabar..

Segenggam Gundah


muhsyukriali
Oleh:Much Syukri Ali
Subuh tadi saya melewati sebuah rumah, 50 meter dari rumah saya dan melihat seorang isteri mengantar suaminya sampai pagar depan rumah. "Yah, beras sudah habis loh..." ujar isterinya. Suaminya hanya tersenyum dan bersiap melangkah, namun langkahnya terhenti oleh panggilan anaknya dari dalam rumah, "Ayah..., besok Agus harus bayar uang praktek". "Iya..." jawab sang Ayah. Getir terdengar di telinga saya, apalah lagi bagi lelaki itu, saya bisa menduga langkahnya semakin berat.

Ngomong-ngomong, saya jadi ingat pesan anak saya semalam, "besok beliin lengkeng ya" dan saya hanya menjawabnya dengan "Insya Allah" sambil berharap anak saya tak kecewa jika malam nanti tangan ini tak berjinjing buah kesukaannya itu.

Di kantor, seorang teman menerima SMS nyasar, "jangan lupa, pulang beliin susu Nadia ya". Kontan saja SMS itu membuat teman saya bingung dan sedikit berkelakar, "ini, anak siapa minta susunya ke siapa". Saya pun sempat berpikir, mungkin jika SMS itu benar-benar sampai ke nomor sang Ayah, tambah satu gundah lagi yang bersemayam. Kalau tersedia cukup uang di kantong, tidaklah masalah. Bagaimana jika sebaliknya?

Banyak para Ayah setiap pagi membawa serta gundah mereka, mengiringi setiap langkah hingga ke kantor. Keluhan isteri semalam tentang uang belanja yang sudah habis, bayaran sekolah anak yang tertunggak sejak bulan lalu, susu si kecil yang tersisa di sendok terakhir, bayar tagihan listrik, hutang di warung tetangga yang mulai sering mengganggu tidur, dan segunung gundah lain yang kerap membuatnya terlamun.

Tidak sedikit Ayah yang tangguh yang ingin membuat isterinya tersenyum, meyakinkan anak-anaknya tenang dengan satu kalimat, "Iya,nanti semua Ayah bereskan" meski dadanya bergemuruh kencang dan otaknya berputar mencari jalan untuk janjinya membereskan semua gundah yang ia genggam.

Maka sejarah pun berlangsung, banyak para Ayah yang berakhir di tali gantungan tak kuat menahan beban ekonomi yang semakin menjerat cekat lehernya. Baginya, tali gantungan tak bedanya dengan jeratan hutang dan rengekan keluarga yang tak pernah bisa ia sanggupi. Sama-sama menjerat, bedanya, tali gantungan menjerat lebih cepat dan tidak perlahan-lahan.

Tidak sedikit para Ayah yang membiarkan tangannya berlumuran darah sambil menggenggam sebilah pisau mengorbankan hak orang lain demi menuntaskan gundahnya. Walau akhirnya ia pun harus berakhir di dalam penjara. Yang pasti, tak henti tangis bayi di rumahnya, karena susu yang dijanjikan sang Ayah tak pernah terbeli.
Tak jarang para Ayah yang terpaksa menggadaikan keimanannya, menipu rekan sekantor, mendustai atasan dengan memanipulasi angka-angka, atau berbuat curang di balik meja teman sekerja. Isteri dan anak-anaknya tak pernah tahu dan tak pernah bertanya dari mana uang yang didapat sang Ayah. Halalkah? Karena yang penting teredam sudah gundah hari itu.

Teramat banyak para isteri dan anak-anak yang setia menunggu kepulangan Ayahnya, hingga larut yang ditunggu tak juga kembali. Sementara jauh disana, lelaki yang isteri dan anak-anaknya setia menunggu itu telah babak belur tak berkutik, hancur meregang nyawa, menahan sisa-sisa nafas terakhir setelah dihajar massa yang geram oleh aksi pencopetan yang dilakukannya. Sekali lagi, ada yang rela menanggung resiko ini demi segenggam gundah yang mesti ia tuntaskan.

Sungguh, diantara sekian banyak Ayah itu, saya teramat salut dengan sebagian Ayah lain yang tetap sabar menggenggam gundahnya, membawanya kembali ke rumah, menyertakannya dalam mimpi, mengadukannya dalam setiap sujud panjangnya di pertengahan malam, hingga membawanya kembali bersama pagi. Berharap ada rezeki yang Allah berikan hari itu, agar tuntas satu persatu gundah yang masih ia genggam. Ayah yang ini, masih percaya bahwa Allah takkan membiarkan hamba-Nya berada dalam kekufuran akibat gundah-gundah yang tak pernah usai.

Para Ayah ini, yang akan menyelesaikan semua gundahnya tanpa harus menciptakan gundah baru bagi keluarganya. Karena ia takkan menuntaskan gundahnya dengan tali gantungan, atau dengan tangan berlumur darah, atau berakhir di balik jeruji pengap, atau bahkan membiarkan seseorang tak dikenal membawa kabar buruk tentang dirinya yang hangus dibakar massa setelah tertangkap basah mencopet.

Dan saya, sebagai Ayah, akan tetap menggenggam gundah saya dengan senyum. Saya yakin, Allah suka terhadap orang-orang yang tersenyum dan ringan melangkah di balik semua keluh dan gundahnya. Semoga.
 

Melihat dan Mendengar dengan Hati

mata dan telingaWahai manusia. Apakah kalian sudah bisa melihat? Apakah kalian sudah bisa mendengar? Apakah yang kalian lihat dan dengar itu sudah benar? Apakah sudah menggunakan hatimu? Karena aku masih saja melihat bahwa kalian terus berbohong dan membohongi diri kalian sendiri. Yang oleh karena itulah kalian pun menjadi munafik.
Jangan biarkan waktumu habis hanya dalam kebohongan diri. Tetaplah dalam ikatan batin yang terikat kepada-Nya. Dan ketika engkau dapat menyadari kefanaan dirimu itu, maka bersyukurlah. Karena siapa saja yang belum bisa bersyukur dalam arti yang sebenarnya, akan cenderung menyombongkan dirinya. Ia pun – sadar atau tidak – akan merasa bisa hidup dalam waktu yang lama, bahkan abadi. Sehingga tiada yang berarti dalam hidupnya, selain kehinaan.
Ingatlah wahai manusia, ingatlah! Bahwa dalam kasih-Nya Allah SWT telah mengingatkan kita semua dengan berfirman;
”Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (QS. Al-Hajj [22] ayat 46)
Tapi, apa yang terjadi? Apa yang kebanyakan di lakukan? Tidaklah kalian senang membaca ayat ini. Kalian pun tidak memahami dan tidak pula menjalaninya. Sehingga tidak sedikit darimu yang terus ingkar kepada aturan-Nya. Hukum-hukum-Nya pun hanya di jadikan topeng yang selalu digunakan untuk menutupi keburukan akhlakmu. Engkau juga telah berlaku munafik, yang bahkan di lakukan di setiap harinya.
Ya. Demikianlah adanya dirimu hai orang-orang munafik. Tidaklah aku tertipu oleh dusta dan ketersembunyian dirimu yang licik itu. Sebab, mataku jelas melihatnya, telingaku jelas mendengarnya, sementara hatiku lebih dari pada pengetahuan itu. Dan ketika aku berdekatan denganmu, maka yang tampak bagiku hanyalah syaitan berbadan manusia.
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian dari mereka itu membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia),…..” (QS. Al-An`aam [6] ayat 112)
Bersyukurlah bagi yang hatinya tidak buta. Meskipun kebutaan zahir telah nyata di tubuhnya, maka siapa saja yang hatinya tidak buta, ia akan tetap bisa melihat dengan jelas. Sementara yang matanya normal dan sehat, tidak jarang terus buta dalam kehidupannya.
Inilah di antara pribadi yang tidak bisa menatap wajah-Nya dalam pertemuan cinta. Bagaimana ia dapat melihat, sementara mata yang harus digunakan telah ditutupi kemunafikkan diri? Dan ketika ia terus berpura-pura bisa melihat-Nya, maka disitulah tampak kehinaan dan kebodohannya semakin jelas.
O… sungguh sangat disayangkan saat ini, karena semua yang terbaik bagi manusia telah ada. Tuntunan yang benar pun sudah di wariskan oleh kekasih yang mulia; Rasulullah SAW. Namun engkau – khususnya orang Islam – tidak mengindahkannya. Kalian terus saja menjauh dari rahmat-Nya, yang tentunya akan menjauhkan dirimu dari kemuliaan.
Bahkan sebenarnya kalian sudah tahu tentang mana yang salah dan mana yang benar, mana yang hak dan mana pula yang bathil, dan banyak pula dari kalian sudah tahu tentang siksaan di Neraka dan kebahagiaan di Syurga. Tetapi kenyataannya, kalian pun tidak ber-istiqomah dalam Islam. Kalian juga tidak bersungguh-sungguh dalam menjalankan perintah dan larangan-Nya, dengan tidak sibuk mempersiapkan bekal akheratmu. Dan itu terlihat jelas, ketika di setiap harinya justru hanya duniawi dan duniawi yang di urus, tidak lebih dari itu. Sehingga yang tertinggal hanyalah kehinaan dan penyesalan belaka.
Untuk itu, janganlah engkau bersuka cita dalam kesenangan duniawi, namun jangan pula bersedih hati dalam penderitaannya. Bersedihlah di dalam kesenangan duniawi dan berbahagialah di dalam penderitaannya, karena engkau pun akan tercukupi oleh-Nya.
Ya. Beragam ujian adalah hamparan padang anugerah-Nya. Lembah kesucian dan hari raya bagi kemuliaan. Sehingga bila saat ini engkau tidak beruntung, maka yakinlah bahwa suatu saat nanti itu akan berbeda. Jika tidak di dunia, tentulah pasti di akherat nanti.
Sehingga, bagaimana bisa engkau tidak berusaha mencari, bila Dia senantiasa terhijab? Bagaimana dirimu bisa tenang, sementara Dia terus mengawasi? Engkaulah penentu! Engkaulah yang memilihnya! Sedangkan Dia telah menebarkan rahmat dan anugerah-Nya di dunia. Yang bisa kau ambil hanya dengan hati yang jujur dalam menjalankan hukum-Nya.
Namun, banyaklah dari kalian yang senang dengan kebohongan dan tidak sedikit yang cinta dengan kemunafikkan. Lihatlah ketika kalian berpuasa di bulan Ramadhan, bukankah dusta dan sifat riya`-mu semakin meningkat?. Lihatlah dirimu yang sebelumnya tidak pernah sembahyang berjamaah di masjid, lalu rajin datang ke masjid. Dirimu yang tidak biasa ber-tadarus Al-Qur`an, akhirnya rajin juga membaca ayat-ayat Al-Qur`an. Dan dirimu yang tidak pernah bersedekah, akhirnya berlombang-lomba melakukannya. Tetapi jika bulan puasa berlalu dan Syawal telah datang, engkau kembali pada kebiasaan lamamu, yaitu larut dalam kemaksiatan dan cinta duniawi lainnya. Sehingga inilah bukti nyata akan kebohongan dan kemunafikan dirimu, hai orang-orang munafik.
O… Mana penglihatanmu? Mana pendengaranmu wahai manusia? Engkau punya mata, tetapi tak melihat-Nya. Engkau punya telinga, tetapi tidak mendengar-Nya. Bahkan hatimu yang ada di dalam dada tidak bisa lagi merasakan rasa yang seharusnya engkau miliki, yaitu cinta kepada-Nya. Dan itu semua hilang bersama waktu yang bergulir, dengan tidak senang mengikuti perintah dan larangan-Nya. Yang pada akhirnya akan menjerumuskanmu semakin dalam di dalam azab-Nya.
Ya. Jika engkau mencintai sesuatu, maka hati-hatilah dengan penghambaan diri. Sebab, saat dirimu mencintai sesuatu sehingga lebih dari mencintai Dzat Allah SWT, maka sebenarnya dirimu telah menjadi hambanya. Terlalu cinta kepada duniawi, artinya engkau menuhankan dia. Terlalu cinta kepada harta dan jabatan, berarti engkau telah menjadi hambanya. Dan terlalu mencintai anak istri, kekasih atau bahkan dirimu sendiri juga berarti bahwa dirimu telah menuhankan itu semua.
Lantas apakah masih pantas engkau mengaku sebagai hamba-Nya yang setia? Apakah layak dirimu tetap merasa masih sebagai bagian dari Mukmin yang sejati. Padahal engkau telah menduakan-Nya. Engkau pun telah jelas tertipu. Engkau telah dibohongi oleh iblis dan syaitan. Bahkan dirimu juga telah dibodohi, lantaran tidak melihat dan mendengar dengan hatimu. Sementara bila hanya mata, maka itulah gerbang kekeliruan diri.
Untuk itu, tidaklah cukup bila dirimu hanya menyaksikan apa saja yang tampak di depan mata dan di dengar oleh telinga zahirmu. Engkau harus melihat dan mendengarkan yang lainnya, yang itu semua hanya bisa di lihat dan di dengarkan oleh hatimu. Sebab, mata dan telinga hati dapat menembus apa saja, yang bahkan tidak satupun bisa di lakukan oleh mata dan telinga zahir.
Sering-seringlah engkau menyatu dengan alam bebas di luar sana. Karena dengannya, maka penglihatan dan pendengaranmu akan semakin tajam dari biasanya. Dan ini sudah terbukti pasti, sebab semua para Nabi dan Rasul adalah petualang yang sering bertadabur di alam bebas. Mereka pun senantiasa berpikir, sehingga mereka bisa merasakan yang tidak bisa dirasakan oleh kebanyakan orang. Bisa melihat dan mendengar yang tidak dapat di lakukan oleh orang-orang yang ada di sekitar mereka. Sehingga mereka pun membenarkan yang salah, memperbaiki yang rusak, dan melengkapi yang kurang dalam cinta yang murni.
Ya. Bukankah sebaik-baiknya yang kita lakukan adalah mengikuti jejak para Nabi dan Rasul? Mereka selalu menggunakan mata dan telinga hatinya, sehingga amal dan ibadahnya hanya kepada dan untuk Dzat Allah SWT. Dan ini adalah kebahagiaan yang sebenarnya, inilah keindahan yang sejati. Sementara cinta yang murni telah menjadi langkah awal, ruas jalan dan tujuan akhir dari perjalanan mereka.
Makanya, tidaklah seseorang itu akan keluar dari kesedihan bila saja ia tidak mau melihat dan mendengarkan dengan hatinya sendiri. Padahal hanya dengan bisa keluar dari kesedihanlah, maka seseorang pun akan beribadah dan melakukan penghambaan diri dengan benar kepada-Nya. Ini tidak bisa ditawar-tawar lagi, karena kesedihan yang sesungguhnya adalah kebahagiaan yang bisa dirasakan oleh yang beriman. Kesenangan yang hanya bisa dinikmati oleh pribadi yang mata dan telinga hatinya tidak buta.
Tapi dirimu senantiasa menjauh dari keimanan yang sesungguhnya. Engkau gemar sekali menumbangkan cinta yang sejati hanya kepada-Nya, dengan senang melakukan sesuatu yang dibarengi dengan riya`. Engkau kerap bekerja dan beribadah dengan mengharapkan pahala dan terhindar dari dosa. Padahal bekerja dan beribadah itu hanya Allah SWT lah yang tahu kualitasnya. Dia pula yang akan memberikan balasannya, yang akan sesuai dengan keikhlasanmu. Sementara saat dirimu masih berlaku riya` dan mengharapkan balasan yang setimpal dari-Nya, itu berarti tidak ikhlas, sehingga bahkan bisa menjadi beban dosa yang kian menumpuk di atas pundakmu.
Dia Maha Mengetahui kekurangan dirimu, tetapi engkau terus saja merasa paling sempurna. Dia Maha Melihat kebusukan perilakumu, namun dirimu masih saja terus menipu-Nya. Engkau sungguh tolol, tetapi merasa paling pintar. Sehingga yang tertinggal hanyalah kehinaan.
Allah SWT telah mengancam kalian hai orang-orang kufur dengan berfirman;
“Mereka tuli, bisu dan buta (hatinya), maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Al-Baqarah [2] ayat 18)
Ya. Demikianlah adanya, bahwa banyak sekali di antara kalian yang telah tuli, bisu dan buta, tetapi bukan secara fisik, melainkan hatinya. Sehingga tidak dapat lagi melihat, mendengar dan merasakan kebenaran yang datangnya dari kebenaran-Nya. Kalian hanya mengikuti prasangka kalian sendiri, yang juga diiringi oleh prasangka para penyembah berhala duniawi. Yang pada akhirnya mengantarkan diri kalian sendiri ke jurang kehancuran di akherat; Neraka.
Maka dari itu wahai semuanya. Tidaklah kalian bisa menjadi manusia yang sesungguhnya selama tidak mau menggunakan mata dan telinga hatimu. Tidak akan mungkin engkau bisa berada di dalam tingkat derajat kemuliaan, bila tidak mengunakan mata dan telinga hatimu. Karena segala sesuatu yang dilihat dan di dengar dengan hati adalah kebenaran yang sejati. Yang dengannya pula akan hadirlah banyak kebaikan, kebagusan dan kebenaran Ilahi. Sehingga yang tersisa nanti adalah kebahagiaan, keindahan dan kemuliaan yang sesungguhnya.
Namun, engkau tetaplah dirimu yang dungu. Tidak mau mendengar dan tidak pula mau melihat. Hatimu yang sejatinya adalah tempat cahaya Ilahi, justru di jadikan tempat bersemayamnya syaitan. Engkau pun senang dengan hal itu, sehingga terus berada di dalam kekufuran. Tidak berusaha keluar darinya, bahkan sampai harus meregang nyawa.
Ya. Kapan terakhir kalinya dirimu menangisi akheratmu? Atau malah justru banyak menangis tetapi demi duniamu. Padahal antara kehidupan dunia dan kehidupan akherat perbandingannya sangat jauh. Dunia hanya bersifat sementara, sedangkan akherat selamanya. Lantas mengapa dirimu hanya menangisi tentang masalah dunia, sementara ia hanya sementara? Mengapa tidak akheratmu saja yang banyak kau tangisi; misalnya tentang bekal yang masih sedikit, karena ia akan abadi.
Lihatlah dirimu sendiri! Engkau sudah hidup di dunia, makan dan minum, bangun dan terjaga pun di dunia. Tetapi mengapa tetap saja yang kau kejar-kejar adalah duniawi? Mengapa tidak ada yang lain dari itu, yaitu mempersiapkan bekal akheratmu? Padahal hanya dengan itulah engkau pun dapat selamat dari azab-Nya.
Untuk itulah, Allah SWT tidak pernah menyukai amal dan ibadah yang tidak diperuntukkan kepada-Nya. Jangan engkau mengira Dia membutuhkan apa yang kau berikan, karena engkaulah yang membutuhkan itu semuanya nanti. Dia Maha Kaya dan telah cukup dengan Diri-Nya sendiri. Tidak pernah ada yang bisa mempengaruhi atau mengurangi-Nya. Karena Dia-lah Sang Maha Kuasa.
Pun, janganlah engkau bangga dengan datangnya anugerah yang Dia berikan. Sebab, hal itu bisa saja sebagian dari ujian-Nya yang besar. Tetaplah engkau menggunakan mata dan telinga hatimu. Tetaplah engkau pada sikap wustha (pertengahan) dan seimbang dalam segala hal. Niscaya engkau bisa keluar dari kesedihan, sementara keselamatan dan rahmat-Nya pun tentu senang menyertaimu.

Yaa Salam ..................Cinta ALLAH 100%
@ msa