Sahabat jiwa-ku yang dimuliakan Allah..
Tak terasa semakin hari umur kita semakin habis ditelan oleh masa..
Dalam kurun waktu...,
Kita semakin menua dan semakin tak berdaya apa-apa..
Saat kita muda, saat kita masih remaja segala macam apapun kita bisa lakukan,
Mau berbuat baik,
Mau berbuat maksiat,
Mau berbuat zholim pada diri sendiri atau..
Mau berbuat yang menyenangkan semua orang disekitar kita..,
Apapun kita bisa lakukan sesuka hati kita dengan mudah..
Karena kita masih mampu berbuat sesuka hati kita..
Tak terasa..,
Waktu terengut oleh masa..
Tak terasa pula..,
Usia kita mereot alias menua dengan cepatnya..
Tak terasa kulit kita pun mulai uzur seperti benang kusut yang sudah tidak dapat diuraikan dengan teratur..
Dan saat itupula kita terperanjat mengatakan dalam hati..
"..OMG
( Oh My GOD) .. Masyaallah Tak terasa aku sudah menua, umurku sudah
berkepala 5.., Subahanallah selama ini aku hidup hanya melakukan
kegiatan yang aku inginkan sesuai hawa nafsuku dan egoku. Masyaallah
selama ini pula aku hidup hanya untuk mencari kesenangan duniawi 'tuk
menikmati rasa keinginan`ku, 'tuk memenuhi rasa kepuasan`ku dan tuk
mencukupi kebutuhan hawa nafsu`ku hanya untuk hidup di dunia ini..
OMG..!!.."
Tanpa disadari apa yang kita
lakukan itu hanya untuk mementingkan diri kita, kepuasan kita dan sejuta
keinginan2 hati yang menyenangkan hati kita tanpa memperdulikan apakah
itu baik atau buruk..
Tapi apakah kita
sadar, bahwa selama yang kita raih itu ada nilai pahalanya, ada nilai
amalyahnya dan pasti semua itu ada pertanggung jawaban kita kepada yang
menghidupkan kita yaitu ALLAH - Al Haq azza Wa Jalla..
Yuukk, coba kita hitung dalam hati kita sendiri..
Sudah berapa banyak nilai yang manfaat, yang kita keluarkan di muka bumi`Nya ini selama kita hidup..!!?
Sudah
berapa banyak nilai yang tak manfaat, yang sudah kita keluarkan atas
dasar hawa nafsu kita selama kita dihidupkan oleh`Nya..!?
Hmm.. yang mengetahui itu semua adalah kita sendiri..
Coz
itu urusan dapur kita dan hanya kita yang bisa menghitung pengeluaran
atas apa yang sudah kita keluarkan selama kita masih hidup di bumi`Nya
ini..
Sangat kita ketahui bahwa..,
ALLAH itu MAHA BAIK, MAHA ADIL, MAHA BIJAKSANA dan MAHA MENGETAHUI.
Apa yang kita keluarkan, DIA melihat dan menghitung`Nya..
Apa yang sudah kita pakai, kita pinjam dari`Nya, DIA pun mengetahui`Nya..
Lalu DIA membuat neraca bagi amal baik kita selama kita dihidupkan dari`Nya..
Ya karena.. "..(Dia-lah)
yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai 'Arsy, yang mengutus
Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki- Nya
diantara hamba-hamba- Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang
hari pertemuan (hari kiamat)". (QS. Al-Mu'min 40 : 15)
Lalu apa yang sudah kita perbuat di dunia ini, pasti sudah dalam hitungan`Nya.. So,
sadarkah kita apa yang kita perbuat selama ini lebih banyak mengandung
kebaikan atau mengandung kemudaratan bagi diri kita sendiri..
Hmm..
balik lagi bahwa itu semua urusan dapur kita, dan kita sendiri yang
bisa menilai sejauh mana kita bisa bersikap bijak dan arief dalam
menentukan atas perbuatan kita sendiri..
My Soulmate, ketahuilah bahwa..
Saat kita menua, Bumi`pun ikut menua..,
Saat kita berbuat zhalim dimuka bumi ini, Bumi pun merasakan kezhaliman itu..
Dan saat kita harus sudah siap-siap dipanggil oleh`Nya,
Bumi`pun mengucapkan 'say goodbye' pada kita..
Apa yang kita bisa bawa keluar dari bumi`Nya,
Setelah kita ucapkan 'Sayonara' pada dunia`Nya..??
Apa yang bisa kita hantarkan ke Singgasana`Nya,
Setelah kita berhijrah dari dunia ke akherat`Nya..??
Lalu apa yang sudah kita punyai 'tuk modal pulang kita ke Kampung 'Akherat.Country'..
Semua
orang sudah tau dan pasti paham, hanya 'Amalyah' yang bisa kita bawa ke
negeri akherat`Nya and not, uang kita- Harta kita - Jabatan kita
right..?
Hmm.. itu semua urusan dapur kita sendiri yang tau..
Dan hanya kita yang bisa menilai atas apa yang sudah kita perbuat selama kita hidup hanya karena Allah..
OMG... Tak Terasa sudah semua telah berlalu..
Kita sudah tidak bisa mengais-ngais atas apa yang sudah kita lakukan selama ini dalam tong sampah kehidupan..
Karena semua sudah 'The Past..,
Sudah berlalu bersama masa..
Or Gone With The Wind..
Sadarkah
selama ini apa yang kita lakukan hanya untuk kenyamanan hati kita tanpa
menghiraukan atas kenyamana hati setiap makhluk.
Bagaimana ego-nya kita tidak mau berbagi kesenangan kepada mereka yang merindukan kesenangan hidup..
Bukankah
berbagi kesenangan dengan bersedekah kepada anak yatim, kaum fakir
ataupun kaum yang tidak mampu itu adalah nilai ibadah yang sangat mahal
pada diri kita..?
Dan itulah nilai mulia
cara kita beribadah dimata Allah dan pasti Allah akan mengangkat derajat
bagi mereka yang sudi hatinya berbagi hanya karena Allah..
Berapa
banyak uang yang kita hambur-hamburkan hanya untuk kesenangan diri kita
ketimbang uang yang kita hambur2kan untuk kebutuhan orang lain yang
memerlukan rizky dari kita..
Hmmm itu
semua hanya kita yang bisa menghitung banyak tidaknya uang yang kita
pakai digunakan untuk melampiaskan hawa nafsu kita atau untuk
kesejahteraan makhluk-makhluk Allah yang jelas butuh pertolongan kita..
OMG.. Tak terasa apa yang kita lakukan adalah dalam hitungan`Nya dalam neraca`Nya dan semua ada pertanggung jawaban`Nya..
Yukk sayangku sahabat fillah`ku..
Selagi kita masih bernafas..,
Selagi masih diizinkan hidup di dunia`Nya dan.,
Selama kita masih menginjak tanah`Nya..
Tidak ada kata terlambat tuk memulai hal kebaikan tuk diri kita sendiri..
Coz, apa yang kita perbuat itulah yang kita hasilkan..
Cobalah
untuk setiap hari melatih diri kita tuk melakukan kebaikan lalu
berusaha setiap saat tuk bertafakkur dan ber-islah diri atas apa yang
pernah kita lakukan..
Karena Tafakkur adalah ibadah yang menghasilkan kebaikan hati dan nilai ibadahnya lebih baik daripada ibadah satu tahun. Itu kata habibku Rasulullah..
Dan tafakkur akan menghasilkan kebaikan dalam hati dan melatih
agar hati kita selalu istiqomah mengingat`Nya disetiap waktu. Tidak
hanya itu saja bahwa tafakkur dapat memperoleh hasil yang lebih baik dan
lebih kekal adalah lebih pantas.
Dan tujuan dari tafakur adalah membuahkan ilmu didalam hati. Maka akan terciptanya buah iman dan taqwa dalam hati yang selalu istiqomah mengingat`Nya, sungguh indah bukan..
Kau tau sayangku itulah hakikat dari keindahan hidup yang di hidupkan dari`Nya.
Yuk mulailah berlatih membiasakan diri tuk bertaffakur setiap saat dan renungkan atas apa yang sudah kita perbuat setiap hari, lalu lakukan perbaikan pada diri kita untuk lebih baik lagi dan lakukan semua hanya karena Allah..
So please..
Jangan menunggu disaat kita berulang tahun, lalu kita sadar umur kita sudah berubah angkanya. Dan disaat itu pula kita mulai merenung atas apa yang kita perbuat selama ini.
Itu berarti kita hanya bisa bertaffakur sekali dalam setahun saat berulang tahun. Bukankah Rasulullah bersabda bawah :
"Tafakur sesaat adalah lebih baik daripada ibadah satu tahun..."
Dan bukanya : "..Dalam setahun hanya sekali kita bertaffakur saat kita berulang tahun.."
Yukk mari kita sama-sama perbanyak amalyiah dalam diri kita dan memperkaya keimanan dan ketaqwaan dalam hati kita. Kau tau kenapa kita harus banyak-banyak bertafakkur setiap saat tuk diri kita. Itulah hakikat dari yang namanya surga kenikmatan kita tuk meraih kunci 'husnul qhotimah..'
Semoga kita bisa meraih gelar husnul qhotimah`Nya dan meraih kedudukan mulia dihadapan`Nya..
Amin Allahumma amin..
Happy Milad sahabat akherat`ku..
DOa ku selalu menyertai`mu disaat kau menghelakan nafas dalam setiap langkah2`mu menuju`Nya. Amin ya mujibasailin..
Teruslah
raih surga`Nya karena itu adalah kemenangan hidup dan ketenangan hati
sehingga menghasilkan keindahan yang hakiki dari`Nya dalam keadaan kita
berserah diri hanya kepada`Nya..
Lakukan yang TERBAIK hanya karena`Nya..
Itulah sebaik2 jihad kita yang sungguh-sungguh hanya karena Allah dan demi cinta kita kepada`Nya..
"Janganlah
kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan ke-islam-anmu,
sebenarnya Allah, Dia-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan
menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar".
(QS. Al-Hujurat 49 : 17).
"Maka
sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak
beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang
menyebabkan kamu jadi binasa ". (QS. THAHA:16)
"Tuhan
kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan
antara kita dengan benar. Dan Dialah Maha Pemberi keputusan lagi Maha
Mengetahui." (QS. SABA':26)
"Dan
masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa
yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka
kerjakan." (QS. AL AN'AAM:132)
Maaf lahir bathin
Salam alaika
msa@
Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Minggu, 13 Oktober 2013
Sabtu, 12 Oktober 2013
~:[ SUAMI`KU adalah PERHIASAN`KU.. ]:~
Yaa Ilahi Rabbi...
Aku sadar apa yang menjadi milik`ku bukanlah ketetapan yang menyeluruh..,
Apa yang menjadi ketetapan`ku..,
Juga bukanlah hak atas milik`ku..,
Rabb.., hanya ENGKAU-lah yang menjadi ketetapan atas diri`ku...
Yang sudah pasti menjadi milik`MU seutuhnya...
Hanya dengan`MU, aku taat dan patuh..,
Dan hanya dengan`MU aku berserah diri...
Ilahii`ku.., ambillah aku selalu dalam ketetapan`MU..,
Agar semua yang aku lakukan biarlah ini menjadi ketetapan`MU...
Rabb.., jiwa dan raga`ku hanya milik`MU...
Tak satu kaum pun bisa memilikinya...
Sadar`ku atas semua ini..
Karena suatu kebaikan buat`ku..
Belum tentu itu menjadi kebaikan buat`MU..
Dan kebaikan buat `MU.. ,
Juga belum tentu menjadi kebaikkan`ku..
Apapun suatu kebaikan`MU adalah baik buat`ku..
Dan kebaikan`ku mungkin bukan`lah hal yg baik atas diri`ku...
Dan aku menyadarinya apabila suami`ku tidak bisa membahagiakan`ku..,
Aku harus berusaha mensyukurinya dengan baik..,
Apabila suami`ku tidak bisa membuatku merasa senang..,
Ya aku harus selalu mensyukurinya dengan baik dan indah..,
Dan apabila suami`ku tidak bisa menciptakan kenikmatan yang haqiqi..,
Yaa aku istiqomah tuk 'qana'ah selalu mensyukurinya dengan indah, baik dan pasrah...
Karena dengan aku banyak bersyukur atas keadaan itu..
Disitulah amalyiah`ku bertambah..,
Disitulah aku bisa dekat dengan`MU..
Disitulah aku bisa mengatasi semua hawa nafsu`ku..
Disitulah aku bisa mengendalikan kesenangan duniawi`ku..
Dan disitulah aku bisa menciptakan keindahan diri sejati`ku..
Bisa memahami sejati murni`ku..
Dan bisa mensyukuri bahwa aku dapat 'HIDUP...'
Ya dapat menghidupkan yang mati dalam jiwa`ku
Menghidupkan yang semestinya dihidupkan oleh`MU..
Hidup dalam diri yang sesungguhnya..
Hidup dalam alam akherat`ku bersama`MU...
Ya Ilahii Rabbii..,
Biarkan-lah yang semestinya itu berjalan apa adanya..
Mengalir dalam hulu tak berbatas..
Berjalan dalam aliran sungai`MU tak bertepi..
Berlari dalam masa tak beruang..
Rabb..., aku sadar..., aku yaqin... dan aku 'ISLAM...
Bahwa ENGKAU`lah yang akan menggantikan.. kebahagiaan`ku..,
Kesenangan`ku.. dan kenikmatan`ku...
Karena.. Aku yaqin...
ENGKAU sangat memahami isi hati`ku dan bukan suami`ku.
ENGKAU-lah yang bisa membulak-balikkan siang dan malam..
Dan yang membulak-balikan hati setiap hamba-hamba`MU.
Dan aku hanya bisa menjadi ISLAM...
ISLAM dalam berpasrah diri atas ketetapan`MU..
Kusadari kembali.. bahwa.. pasrah`ku adalah jalan akhir`ku..
Pasrah`ku awal aku berjumpa dengan`MU
Pasrah`ku permulaan yang baik tanpa akhir`ku...
Bahwa inilah jalan awal`ku memasuki dunia akherat`MU...
Dunia akherat yang penuh kenikmatan, keindahan dan kesenangan haqiqi...
Rabb..., masukkan aku kedalam ISLAM`MU...
Masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang selamat,
Masukkan aku ke dalam orang-orang yang Engkau kasihi,
Dan masukkan aku ke dalam surga akherat`MU,
Yaa Rabb ... Matikan aku dalam hidayah`MU..
Matikan aku dalam ketetapan Al Qur'an Hadits`MU..
"Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Al Qur'an) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu untuk kecelakaan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu ." (QS. Yunus (10) : 108)
"Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya." (QS. Yunus (10) : 109)
Wahai makhluk... kau tau bahwa....
"Thaa siin. (Surat) ini adalah ayat-ayat Al Qur'an, dan (ayat-ayat) Kitab yang menjelaskan, untuk menjadi petunjuk dan berita gembira untuk orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri Akhirat." (QS. an-Naml (27) : 1-3)
"Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan). (QS. an-Naml (27) : 4)
"Mereka itulah orang-orang yang mendapat (di dunia) azab yang buruk dan mereka di akhirat adalah orang-orang yang paling merugi." (QS. an-Naml (27) : 5)
"Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi Al Qur'an dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." (QS. an-Naml (27) : 6)..
Dan... "Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Yunus (10) : 6)
"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan." (QS. Yunus (10) : 7-8)
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan." (QS. Yunus (10) : 9)
"Doa mereka di dalamnya ialah: "Subhanakallahumma ", dan salam penghormatan mereka ialah: "Salam ". Dan penutup doa mereka ialah: "Alhamdulillaahi Rabbilaalamin." (QS. Yunus (10) : 10)..
Amin...Alhamdulillaahi Rabbilaalamin...
Yaa Rahmaan, Yaa Rohiiim, Yaa Malik., Yaa Kudduus, Ya Salaam...
Sulbi Perindu cinta`Nya
Aku sadar apa yang menjadi milik`ku bukanlah ketetapan yang menyeluruh..,
Apa yang menjadi ketetapan`ku..,
Juga bukanlah hak atas milik`ku..,
Rabb.., hanya ENGKAU-lah yang menjadi ketetapan atas diri`ku...
Yang sudah pasti menjadi milik`MU seutuhnya...
Hanya dengan`MU, aku taat dan patuh..,
Dan hanya dengan`MU aku berserah diri...
Ilahii`ku.., ambillah aku selalu dalam ketetapan`MU..,
Agar semua yang aku lakukan biarlah ini menjadi ketetapan`MU...
Rabb.., jiwa dan raga`ku hanya milik`MU...
Tak satu kaum pun bisa memilikinya...
Sadar`ku atas semua ini..
Karena suatu kebaikan buat`ku..
Belum tentu itu menjadi kebaikan buat`MU..
Dan kebaikan buat `MU.. ,
Juga belum tentu menjadi kebaikkan`ku..
Apapun suatu kebaikan`MU adalah baik buat`ku..
Dan kebaikan`ku mungkin bukan`lah hal yg baik atas diri`ku...
Dan aku menyadarinya apabila suami`ku tidak bisa membahagiakan`ku..,
Aku harus berusaha mensyukurinya dengan baik..,
Apabila suami`ku tidak bisa membuatku merasa senang..,
Ya aku harus selalu mensyukurinya dengan baik dan indah..,
Dan apabila suami`ku tidak bisa menciptakan kenikmatan yang haqiqi..,
Yaa aku istiqomah tuk 'qana'ah selalu mensyukurinya dengan indah, baik dan pasrah...
Karena dengan aku banyak bersyukur atas keadaan itu..
Disitulah amalyiah`ku bertambah..,
Disitulah aku bisa dekat dengan`MU..
Disitulah aku bisa mengatasi semua hawa nafsu`ku..
Disitulah aku bisa mengendalikan kesenangan duniawi`ku..
Dan disitulah aku bisa menciptakan keindahan diri sejati`ku..
Bisa memahami sejati murni`ku..
Dan bisa mensyukuri bahwa aku dapat 'HIDUP...'
Ya dapat menghidupkan yang mati dalam jiwa`ku
Menghidupkan yang semestinya dihidupkan oleh`MU..
Hidup dalam diri yang sesungguhnya..
Hidup dalam alam akherat`ku bersama`MU...
Ya Ilahii Rabbii..,
Biarkan-lah yang semestinya itu berjalan apa adanya..
Mengalir dalam hulu tak berbatas..
Berjalan dalam aliran sungai`MU tak bertepi..
Berlari dalam masa tak beruang..
Rabb..., aku sadar..., aku yaqin... dan aku 'ISLAM...
Bahwa ENGKAU`lah yang akan menggantikan.. kebahagiaan`ku..,
Kesenangan`ku.. dan kenikmatan`ku...
Karena.. Aku yaqin...
ENGKAU sangat memahami isi hati`ku dan bukan suami`ku.
ENGKAU-lah yang bisa membulak-balikkan siang dan malam..
Dan yang membulak-balikan hati setiap hamba-hamba`MU.
Dan aku hanya bisa menjadi ISLAM...
ISLAM dalam berpasrah diri atas ketetapan`MU..
Kusadari kembali.. bahwa.. pasrah`ku adalah jalan akhir`ku..
Pasrah`ku awal aku berjumpa dengan`MU
Pasrah`ku permulaan yang baik tanpa akhir`ku...
Bahwa inilah jalan awal`ku memasuki dunia akherat`MU...
Dunia akherat yang penuh kenikmatan, keindahan dan kesenangan haqiqi...
Rabb..., masukkan aku kedalam ISLAM`MU...
Masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang selamat,
Masukkan aku ke dalam orang-orang yang Engkau kasihi,
Dan masukkan aku ke dalam surga akherat`MU,
Yaa Rabb ... Matikan aku dalam hidayah`MU..
Matikan aku dalam ketetapan Al Qur'an Hadits`MU..
"Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Al Qur'an) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu untuk kecelakaan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu ." (QS. Yunus (10) : 108)
"Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya." (QS. Yunus (10) : 109)
Wahai makhluk... kau tau bahwa....
"Thaa siin. (Surat) ini adalah ayat-ayat Al Qur'an, dan (ayat-ayat) Kitab yang menjelaskan, untuk menjadi petunjuk dan berita gembira untuk orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri Akhirat." (QS. an-Naml (27) : 1-3)
"Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan). (QS. an-Naml (27) : 4)
"Mereka itulah orang-orang yang mendapat (di dunia) azab yang buruk dan mereka di akhirat adalah orang-orang yang paling merugi." (QS. an-Naml (27) : 5)
"Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi Al Qur'an dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." (QS. an-Naml (27) : 6)..
Dan... "Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Yunus (10) : 6)
"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan." (QS. Yunus (10) : 7-8)
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan." (QS. Yunus (10) : 9)
"Doa mereka di dalamnya ialah: "Subhanakallahumma ", dan salam penghormatan mereka ialah: "Salam ". Dan penutup doa mereka ialah: "Alhamdulillaahi Rabbilaalamin." (QS. Yunus (10) : 10)..
Amin...Alhamdulillaahi Rabbilaalamin...
Yaa Rahmaan, Yaa Rohiiim, Yaa Malik., Yaa Kudduus, Ya Salaam...
Sulbi Perindu cinta`Nya
Jumat, 11 Oktober 2013
Rahasia Berkah Idul Adha
Berqurban merupakan hal yang selalu dilakukan oleh umat Islam di hari
raya ’Idul Adha. Qurban dilaksanakan dengan hati yang penuh keikhlasan
tanpa ada paksaan dan jauh dari sifat riya. Dalam hal berqurban sudah
selayaknya mulai hari ini kita menyusun kiat-kiat terbaik dalam
melaksanakan ibadah qurban.
Qurban adalah suatu amalan yang
disyariatkan Islam pada tahun kedua hijriyah berdasarkan dalil al-Quran,
hadits, dan ijma’. Al-Quran mensyari’atkannya melalui surat Al-Kautsar
(QS. 108:1-2).
Adapun hukum berqurban sebagaimana jumhur (mayoritas
ulama) selain Abu Hanifah adalah sunnah muakkadah artinya sunnah yang
sangat dianjurkan. Dalil sunnahnya adalah hadits Nabi SAW. : “Tiga hal
yang merupakan kewajiban atasku dan sunnah atas kalian adalah shalat
witr, nahr (qurban) dan shala dhuha.” (HR. Ahmad, Hakim, dan Daruquthni)
Imam at-Turmudzi meriwayatkan sabda Nabi: “Saya diperintahkan untuk melakukan qurban dan ia merupakan sunnah bagi kalian.“
Dalil yang menegaskan anjuran sunnah ini sehingga menjadi muakkadah
adalah hadits Nabi SAW: “Barangsiapa yang memiliki kelonggaran dan tidak
mau berqurban maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR
Ahmad dan Ibnu Majah)
KETENTUAN-KETENTUAN DALAM QURBAN
istilah udlhiyyah adalah nama untuk hewan qurban yang disembelih pada
hari raya qurban (10 dzulhijah) dan hari-hari tasyriq, dengan tujuan
untuk tawarrub (mendekatkan diri kepada Allah). kata udlhiyyah juga
terkadang digunakan untuk makna tadlhliyyah (berqurban atau melakukan
qurban)
udlhiyyah dengan menggunakan makna tadlhiyyah (melakukan
ibadah qurban) hukumnya adalah sunah muakkad bagi setiap orang islam,
baligh, berakal, dan mampu. Yang dimaksud mampu disini adalah orang yang
mampu melakukan ibadah qurban. dengan cara menyembelih hewan,bersamaan
ia memiliki sesuatu kelebihan untuk memenuhi kebutuhan hidup untuk
dirinya dan orang yang wajib dinafkahinya, pada saat hari raya qurban
dan pada hari tasyriq, yaitu pada tanggal 11.12 dan 13 Dzulhijjah.
Namun berqurban hukumnya dapat wajib apabila dinadzari. Misalnya jika
seorang berjanji akan berqurban jika ia berhasil mendapatkan prestasi
tertentu.
Adapun hewan yang mencukupi dan sah digunakan berqurban adalah:
1.Domba (dlo'nu),apabila sudah berumur satu tahun sempurna dan memasuki tahun yang ke dua.
2. Kambing kacang/jenis kecil (ma'zu), apabila sudah berumur dua tahun sempurna dan memasuki tahun yang ke tiga
3.sapi, apabila sudah berumur dua tahun dan akan memasuki tahun yang ke tiga.
untuk satu ekor sapi dan unta itu mencukupi untuk qurbanya tujuh orang,
sedangkan untuk satu ekor kambing itu hanya cukup untuk berqurbanya
satu orang. Satu orang yang berqurban dengan satu ekor kambing itu
hukumnya lebih utama dibanding oang yang berkurban dengan seekor unta
atau sapi yang digunakan berqurban secara musyarakah (persekutuan)
Ada beberapa hal yang menyebabkan hewan tidak sah untuk berqurban, yaitu:
1. hewan yang buta salah satu matanya
2. hewan yang pincang salah satu kakinya, walaupunitu terjadi ketika
akan disembelih, yaitu ketika dirubuhkan dan ia bergerak sangat kuat.
3. hewan yang sakit,seperti sakit yang menyebabkan hewan tampak kurus dan dagingnya rusak
4. hewan yang sangat kurus hingga menyebabkan hilang akalnya
5.hewan yang terputus sebagian/seluruh telinganya
6.hewan yang terputus sebagian/seluruh ekornya
sedangkan hewan yang pecah/patah tanduknya itu sah digunakan berqurban, begitu pula hewan yang tidak memiliki tanduk.
hewan qurban itu diperboleh disembelih mulai kira2 lewatnya waktu yang
cukup untuk melakukan dua rakaat dan dua khutbah yang cepat terhitung
dari terbitnya matahari pada saat hari idul adha sampai
terbenamnyamatahari pada hari ahir hari tasyriq, yaitu tanggal 13
Dzulhijjah.
sedangkan waktu penyembelihan yang utama adala ketika
matahari sudah ada satu tombak dalam pandangan mata pada saat hari raya
idul adha.
Keutamaan berqurban
“Maka dirikanlah (kerjakan) shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah.” (QS Al-Kautsar: 1-2)
Berqurban merupakan amalan yang paling dicintai ALLAH SWT pada saat Idul Adha. Sabda Nabi SAW:
“Tidak ada suatu amal anak Adam pada hari raya qurban yang lebih dicintai ALLAH selain menyembelih qurban.” (HR. Tirmidzi)
Berdasarkan hadits itu Imam Ahmad bin Hambal, Abu Zanad, dan Ibnu
Taimiyah berpendapat, “Menyembelih hewan pada hari raya qurban, aqiqah
(setelah mendapat anak), dan hadyu (ketika haji), lebih utama daripada
shadaqah yang nilainya sama.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi)
diperbolehkan bagi orang yang berqurban untuk menyerahkan niatnya pada
orang islam yang telah terkategori tamyiz, baik ia statusnya sebagai
wakil atau bukan.
1. Bagi orang laki-laki hewan qurban sunnah disembelih sendiri, karena itba' (mengikuti para nabi).
2. bagi orang perempuan sunnah untuk diwakilkan,dan sunnah baginya untuk melihat penyembelihan yang dilakukan oleh wakilnya.
Proses penyembelihan hewan qurban didahului dengan:
1.Membaca basmalah
2.membaca shalawat kepada NAbi
3.menghadap kearah kiblat (bagi hewan yang disembelih dan orang yang menyembelih)
4. membaca takbir 3 kali bersama-sama
5. berdoa agar qurbanya diterima oleh Allah
Rukun penyembelihan itu ada 4, yaitu:
1.Dzabhu (pekerjaan menyembelih)
2.Dzabih (orang yang menyembelih)
3.hewan yang disembelih
4.alat menyembelih
Mau Berqurban Tapi Pakai Utang, Bolehkah?
Pertama. Berqurban dengan biaya dari utang.
Tidak ada larangan dalam nash, tentang melakukan amal shalih yang
sifatnya maaliyah (harta) seperti qurban, aqiqah, dan haji[1], yang
pembiayaannya berasal dari utang. Maka, dia kembali pada bab utang
piutang yang memang dibolehkan syariat. Dengan catatan:
1.Ketika dia berutang mesti dalam keadaan yakin mampu membayarnya
2.Utang tersebut tidak menambah beban berat utang lama yang masih
banyak dan belum dilunaskan, sebab, semua ibadah qurban ini memang
dianjurkan bagi mereka yang sedang dalam keadaan lapang rezeki dan
istitha’ah (mampu).
Para ulama salaf pun melakukannya, dan
mereka tidak memandang masalah dengan berutang untuk berqurban (atau
juga aqiqah). Dalam Tafsir-nya, Imam Ibnu Katsir menceritakan dari Imam
Sufyan Ats Tsauri tentang Imam Abu Hatim (riwayat lain menyebut Imam Abu
Hazim) yang berutang untuk membeli Unta buat qurban.
وقال سفيان
الثوري: كان أبو حاتم يستدين ويسوق البُدْن، فقيل له: تستدين وتسوق البدن؟
فقال: إني سمعت الله يقول: { لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ }
Berkata Sufyan
Ats Tsauri: Dahulu Abu Hatim berutang untuk membeli Unta qurban, lalu
ada yang bertanya kepadanya: “Anda berutang untuk membeli unta? Beliau
menjawab: Saya mendengar Allah Ta’ala berfirman: Kamu memperoleh
kebaikan yang banyak padanya (unta-unta kurban tersebut).” (Q.s. Al
Hajj: 36). (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 5/426)
Imam Ibnu Qayyim
Al Jauziyah menceritakan dari Al Haarits tentang dialog antara Imam
Ahmad bin Hambal dan Shalih (anaknya), katanya:
وقال له صالح ابنه
الرجل يولد له وليس عنده ما يعق أحب إليك أن يستقرض ويعق عنه أم يؤخر ذلك
حتى يوسر قال أشد ما سمعنا في العقيقة حديث الحسن عن سمرة عن النبي كل غلام
رهينة بعقيقته وإني لأرجو إن استقرض أن يعجل الله الخلف لأنه أحيا سنة من
سنن رسول الله واتبع ما جاء عنه انتهى
Shalih –anak laki-laki Imam
Ahmad- berkata kepadanya bahwa dia kelahiran seorang anak tetapi tidak
memiliki sesuatu buat aqiqah, mana yang engkau sukai berutang untuk
aqiqah ataukah menundanya sampai lapang keadaan finansialnya. Imam Ahmad
menjawab: “Sejauh yang aku dengar, hadits yang paling kuat anjurannya
tentang aqiqah adalah hadits Al Hasan dari Samurah, dari Nabi bahwa,
“Semua bayi tergadaikan oleh aqiqahnya,” aku berharap jika berutang
untuk aqiqah semoga Allah segera menggantinya karena dia telah
menghidupkan sunah di antara sunah-sunah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam dan telah mengikuti apa-apa yang Beliau bawa. Selesai.
(Tuhfatul Maudud fi Ahkamil Maulud, Hal. 64. Cet. 1, 1971M-1391H.
Maktabah Darul Bayan)
Demikianlah kebolehan berutang untuk
berqurban, namun “boleh” bukan berarti lebih utama, sebab lebih utamanya
adalah justru membayar utang dahulu, bukan menambah dengan utang baru.
Membayar utang adalah wajib, dan tidak ada khilafiyah atas kewajibannya,
sedangkan berqurban adalah sunah muakadah bagi yang sedang lapang
rezeki menurut jumhur ulama, kecuali Imam Abu Hanifah yang mengatakan
wajib. Maka, wajar jika sebagian ulama justru menganjurkan untuk
melunaskan utang dulu barulah dia berqurban jika sudah lunas utangnya.
Bagaimana dengan utang yang jangka waktunya panjang, seperti cicilan
mobil atau rumah yang mencapai belasan tahun? Apakah orang seperti ini
harus menunggu belasan tahun dulu untuk berqurban?
Tidak juga
demikian, dia bisa dan boleh saja berutang untuk qurban selama memang
dia mampu untuk melunasinya dan tidak mengganggu cicilan lainnya.
Tetapi, bukan pilihan yang bijak jika dia tetap ngotot berutang tetapi
keluarganya sendiri sangat merana hidupnya, atau ada kebutuhan mendesak
seperti biaya sekolah yang besar, rumah sakit, dan semisalnya.
Wallahu A’lam.
syarat dalam menyembelih adalah memotong hulqum (jalan nafas) dan mari'
(jalan makanan). hal ini apabila hewanya maqdur (mampu disembelih dan
dikendalikan)
Kesunahanya :
a.memotong wadajain (dua otot yng berada disamping kanan &kiri)
b.menggunakan alat penyembelih yang tajam
c.membaca basmallah
d.membaca shalawat dan salam pada nabi Muhammad SAW
Syarat orang yang menyembelih :
1.Islam / orang yang halal dinikahi orang islam
2.bila hewanya ghairu maqdur, maka disyariatkan orang yag menyembelih
adalah orang yang bisa melihat. dimakhrukhan sembelihanya orang yang
buta, anak yang belum tamyiz dan orang yang mabuk
Syarat hewan yang disembelih :
a.hewanya termasuk hewan yang halal dimakan
b.masih memiliki hayatun mustaqirrah (kehidupan yang masih tetap)
Syarat alat penyembelih:
YAitu berupa sesuatu yang tajam yang bisa melukai, selain tulang belulang
CATATAN:
1.Daging qurban tidak boleh dibagikan kepada non muslim meski dijual
2.disunahkan pengkorban melihat proses kuscuran darah hewan kurban
3.disunahkan pengorban tidak memotong kuku,rambut dari Id sampai hewan dipotong.
PAHALA BERKURBAN
mungkin banyak yang bertanya apa pahala dari berkurban? apa manfaat berkurban.
saat ini kita telah masuk idul adha (hari raya kurban),sangat tepat dan pas membahas kurban.
mengenai besarnya pahala berqurban,sahabat Ali r.a mengatakan
:"barangsiapa berangkat dari rumah hendak membeli hewan qurban,maka
setiap langkahnya memperoleh 10 kebaikan dan dihilangkannya 10
keburukan,serta dinaikan 10 derajat..."(jawahir zadah)
Nabi SAW
bersabda kepada Aisyah :hai aisyah,majukanlah hewan kurbanmu dan
saksikanlah,sebab sejak tetes pertama darah hewan kurban itu jatuh ke
bumi,Alloh mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu.jawab Aisyah :"apakah
hal itu khusus bagi kami ataukah bagi umumnya orang mukmin,ya rosul?
beliau menjawab : ya berlaku bagi kami dan umumnya kaum mukmin".
wahab bin munabbih berkata: nabi daud as,berkata"Ya Alloh,sebesar apakah
pahala orang yang berkurban dari umat nabi muhammad saw?
jawabNya :"aku memberi pahala kepadanya,setiap bulu dari badan hewan
kurbannya 10 kebaikan,aku hapus 10 keburukan,serta kunaikan 10
derajat,baginya setiap rambut menjadi gedung di surga,seorang bidadari
yang ayu dan kendaraan bersayap berkecepatan tinggi,ia kendaraan ahli
surga..."(zahratul riyadl)
NabSAW : siapa shalat seperti yang
kulakukan,dan beribadah jahi seperti yang kulakukan,berarti ia termasuk
golonganku.dan siapa tidak shalat sebagaimana yang aku lakukan,dan
enggan berqurban,berarti ia bukan jama'ahku,jika ia termasuk orang kaya
diriwayat lain beliau juga bersabda :ingatlah bahwa kurban itu termasuk
amal-amal penyelamat,yang menyelamatkan pemiliknya dari kejelekan dunia
dan bahaya di akherat"(zubdatul wa'idhin)
mengingat begitu besarnya
pahala berkurban,hendaknya kita segera berkurban jika sudah punya
kelebihan rizki.selain sebagai kendaraan kita di hari akherat
nanti,berkurban juga sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap
orang-orang yang tak mampu,terutama bagi mereka yang tak mampu membeli
daging.
Manfaat berqurban
1. Menghidupkan sunnah Nabi ALLAH, Ibrahim a.s.,
2. Mendidik jiwa ke arah taqwa dan mendekatkan diri kepada ALLAH.
3. Mengikis sifat tamak dan mewujudkan sifat murah hatu dan berjihad di jalan ALLAH.
4. Menghapuskan dosa dan mengharap keridhaan ALLAH.
5. Menjalinkan hubungan kasih sayang sesama manusia.
Mohon maaf apabila ada salah dalam penulisan.
Semoga Bermanfaat
HIASAN HATI................ IKHLAS
Bismillahirrahmanirrahim..
Ikhlas berasal dari kata dasar kha-la-so yang
membawa maksud bersih atau suci. Menurut Ibnu al-Qayyim ikhlas ialah
"mengesakan Allah yang Haq bertujuan hanya kepadaNya tanpa
mempersekutukannya dengan sesuatu pun."
Seseorang yang ikhlas tidak akan menghiraukan
pujian, sanjungan maupun penghargaan dari manusia karena kebergantungan dan
kecintaanNya hanya semata-mata karena Allah SWT. Nilai hatinya hanya untuk
Allah tanpa mengambil bicara kata manusia. Hal ini bertujuan untuk meraih
hubungan hatinya dengan Allah. Bahkan, dalam masa yang sama dia tidak mau
orang lain mengetahui amal kebaikannya walaupun sebesar zahrah pun.
Seseorang yang ikhlas diumpakan sebagai seekor
semut yang berwarna hitam yang berjalan diatas waktu hitam diwaktu malam. sudah
pasti kita tidak nampak bukan? begitulah sikap orang yang ikhlas ketika
melakukan sesuatu amal ibadat kepada Allah.
Dan keikhlasan itu juga dapat dirasakan dari
segumpal daging didalam tubuh jasad anak Adam dan itu adalah qalbu (hati).
”Sesungguhnya dalam tubuh jasad anak Adam itu ada segumpal daging bila baik nescaya baiklah seluruh anggota tubuhnya dan bila jahat ia nescaya jahatlah seluruh anggota tubuhnya. Ketahuilah! iaitulah Qalbu (hati).” maksud Hadis.
Ingatlah!amat perlu bagi kita untuk menanamkan
sifat ikhlas kerana ia dapat menghindari diri daripada segala penyakit yang
mengotorkan hati. Selain itu, ibadat kepada Allah juga perlu diiringi dengan
rasa cinta dengan mengharapkan pertemuan dgnNya di hari akhirat kelak.
Perasaan cinta itu perlu dipupuk agar terus kekal.
Firman Allah didalam Surah Al-Bayyinah, ayat 5
maksudhya:
“Dan tiadalah mereka disuruh melainkan supaya menyembah Allah serta mengikhlaskan agama kepadanya.”
Firman Allah didalam hadis Qudsi yg bermaksud:
“Bermula ikhlas itu satu rahsia daripada rahsia aku, aku taruhkan ia dihati hamba yang aku kasihi daripada hamba-hamba ku.”
Untuk mendapat ikhlas amat susah. Tetapi bila
tidak ada ikhlas, artinya tidak ada roh amal. Tidak ada nyawa ibadah. Walaupun
manusia itu nampaknya hebat, di sisi Allah, tidak ada apa-apa nilai. Kosong.
Ibarat habaan mansura yakni debu-debu yang berterbangan, hilang begitu
sahaja.
Oleh itu marilah kita sama-sama berdoa kepada
Allah SWT: “Ya Allah jadikan kami orang yang ikhlas. Jadikan usaha kami karena-Mu. Jangan ada yg lain di hati kami selain-Mu. Pimpinlah kami wahai Tuhan.
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Agar usaha-usaha kami tidak sia-sia.
Amin. Ya Rabbal’alamin. Ya Mujibassailin, Wahai Tuhan yang menunaikan segala
permintaan orang yang meminta.”
Sesungguhnya orang-orang yang ikhlas itu balasannya ialah syurga seperti sabda Rasulullah SAW: Allah SWT berfirman, “Aku menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang soleh (ikhlas), apa yang belum terlihat oleh mata dan belum terdengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dalam hati.” (Muttafaqun ‘Alaih)-
Sesungguhnya orang-orang yang ikhlas itu balasannya ialah syurga seperti sabda Rasulullah SAW: Allah SWT berfirman, “Aku menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang soleh (ikhlas), apa yang belum terlihat oleh mata dan belum terdengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dalam hati.” (Muttafaqun ‘Alaih)-
Waullahu 'Alam
Kamis, 10 Oktober 2013
cinta Ali & Fatimah Az-zahra
Cinta adalah hal fitrah yang tentu saja dimiliki oleh setiap orang,
namun bagaimanakah membingkai perasaan tersebut
agar bukan Cinta yang mengendalikan Diri kita
Tetapi Diri kita yang mengendalikan Cinta
Mungkin cukup sulit menemukan teladan dalam hal tersebut
disekitar kita saat ini
Walaupun bukan tidak ada..
barangkali, kita saja yang tidak mengetahui saking rapatnya dikendalikan
Tapi,
kebanyakan justru yang tampak ke permukaan adalah yang justru seharusnya tidak kita contoh
Kekurangan teladan?
Mungkin..
Dan inilah fragmen dari Khalifah ke-4, Suami dari Putri kesayangan Rasulullah
tentang membingkai perasaan dan
Bertanggung jawab akan perasaan tersebut
“Bukan janj-janji”
Kisah ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah
chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”
Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.
Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya.
Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.
Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta.
Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta.
Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!
Maka gadis cilik itu bangkit.
Gagah ia berjalan menuju Ka’bah.
Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.
Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.
Mengagumkan!
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.
Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan.
Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi.
Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah.
Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.
Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr.
Kedudukan di sisi Nabi?
Abu Bakr lebih utama,
mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali,
namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi.
Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah
sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah.
Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..
Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud..
Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali?
Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.
”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”
Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak.
Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
Ah, ujian itu rupanya belum berakhir.
Setelah Abu Bakr mundur,
datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa,
seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka,
seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut.
’Umar ibn Al Khaththab.
Ya, Al Faruq,
sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.
’Umar memang masuk Islam belakangan,
sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr.
Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya?
Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman?
Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin?
Dan lebih dari itu,
’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata,
”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.
Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya.
’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.
Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam.
Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir.
Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya.
Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah.
”Wahai Quraisy”, katanya.
”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah.
Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
’Umar adalah lelaki pemberani.
’Ali, sekali lagi sadar.
Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah.
Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak.
’Umar jauh lebih layak.
Dan ’Ali ridha.
Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.
Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak.
Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi?
Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah?
Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah?
Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka.
Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka?
Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu?
Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan.
”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
’Ali pun menghadap Sang Nabi.
Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah.
Ya, menikahi.
Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya.
Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya.
Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap?
Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap?
Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan.
Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya.
Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya.
Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.
Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!”
Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung.
Apa maksudnya?
Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan.
Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab.
Mungkin tidak sekarang.
Tapi ia siap ditolak.
Itu resiko.
Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab.
Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan.
Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua!
Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”
Dan ’Ali pun menikahi Fathimah.
Dengan menggadaikan baju besinya.
Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya.
Itu hutang.
Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah.
Dengan keberanian untuk menikah.
Sekarang.
Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
’Ali adalah gentleman sejati.
Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel,
“Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”
Inilah jalan cinta para pejuang.
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab.
Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Seperti ’Ali.
Ia mempersilakan.
Atau mengambil kesempatan.
Yang pertama adalah pengorbanan.
Yang kedua adalah keberanian.
Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi,
dalam suatu riwayat dikisahkan
bahwa suatu hari (setelah mereka menikah)
Fathimah berkata kepada ‘Ali,
“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”
Kisah ini disampaikan disini,
bukan untuk membuat kita menjadi mendayu-dayu atau romantis-romantis-an
Kisah ini disampaikan
agar kita bisa belajar lebih jauh dari ‘Ali dan Fathimah
bahwa ternyata keduanya telah memiliki perasaan yang sama semenjak mereka belum menikah tetapi
dengan rapat keduanya menjaga perasaan itu
Perasaan yang insyaAllah akan indah ketika waktunya tiba.
namun bagaimanakah membingkai perasaan tersebut
agar bukan Cinta yang mengendalikan Diri kita
Tetapi Diri kita yang mengendalikan Cinta
Mungkin cukup sulit menemukan teladan dalam hal tersebut
disekitar kita saat ini
Walaupun bukan tidak ada..
barangkali, kita saja yang tidak mengetahui saking rapatnya dikendalikan
Tapi,
kebanyakan justru yang tampak ke permukaan adalah yang justru seharusnya tidak kita contoh
Kekurangan teladan?
Mungkin..
Dan inilah fragmen dari Khalifah ke-4, Suami dari Putri kesayangan Rasulullah
tentang membingkai perasaan dan
Bertanggung jawab akan perasaan tersebut
“Bukan janj-janji”
Kisah ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah
chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”
Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.
Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya.
Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.
Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta.
Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta.
Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!
Maka gadis cilik itu bangkit.
Gagah ia berjalan menuju Ka’bah.
Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.
Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.
Mengagumkan!
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.
Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan.
Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi.
Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah.
Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.
Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr.
Kedudukan di sisi Nabi?
Abu Bakr lebih utama,
mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali,
namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi.
Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah
sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah.
Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..
Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud..
Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali?
Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.
”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”
Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak.
Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
Ah, ujian itu rupanya belum berakhir.
Setelah Abu Bakr mundur,
datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa,
seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka,
seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut.
’Umar ibn Al Khaththab.
Ya, Al Faruq,
sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.
’Umar memang masuk Islam belakangan,
sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr.
Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya?
Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman?
Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin?
Dan lebih dari itu,
’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata,
”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.
Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya.
’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.
Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam.
Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir.
Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya.
Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah.
”Wahai Quraisy”, katanya.
”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah.
Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
’Umar adalah lelaki pemberani.
’Ali, sekali lagi sadar.
Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah.
Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak.
’Umar jauh lebih layak.
Dan ’Ali ridha.
Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.
Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak.
Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi?
Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah?
Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah?
Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka.
Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka?
Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu?
Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan.
”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
’Ali pun menghadap Sang Nabi.
Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah.
Ya, menikahi.
Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya.
Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya.
Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap?
Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap?
Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan.
Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya.
Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya.
Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.
Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!”
Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung.
Apa maksudnya?
Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan.
Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab.
Mungkin tidak sekarang.
Tapi ia siap ditolak.
Itu resiko.
Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab.
Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan.
Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua!
Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”
Dan ’Ali pun menikahi Fathimah.
Dengan menggadaikan baju besinya.
Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya.
Itu hutang.
Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah.
Dengan keberanian untuk menikah.
Sekarang.
Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
’Ali adalah gentleman sejati.
Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel,
“Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”
Inilah jalan cinta para pejuang.
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab.
Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Seperti ’Ali.
Ia mempersilakan.
Atau mengambil kesempatan.
Yang pertama adalah pengorbanan.
Yang kedua adalah keberanian.
Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi,
dalam suatu riwayat dikisahkan
bahwa suatu hari (setelah mereka menikah)
Fathimah berkata kepada ‘Ali,
“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”
Kisah ini disampaikan disini,
bukan untuk membuat kita menjadi mendayu-dayu atau romantis-romantis-an
Kisah ini disampaikan
agar kita bisa belajar lebih jauh dari ‘Ali dan Fathimah
bahwa ternyata keduanya telah memiliki perasaan yang sama semenjak mereka belum menikah tetapi
dengan rapat keduanya menjaga perasaan itu
Perasaan yang insyaAllah akan indah ketika waktunya tiba.
Proses Penciptaan wanita
Ketika Tuhan menciptakan wanita, Malaikat datang dan bertanya, “Mengapa begitu lama Tuhan?”
Tuhan menjawab, “ Sudahkah engkau lihat semua detail yang Aku buat untuk menciptakan mereka? Dua tangan ini harus bisa membersihkan, tetapi bahannya bukan dari plastic. Setidaknya terdiri dari 200 bagian, yang bisa digerakkan dan berfungsi baik untuk segala jenis makanan. Mampu menjaga banyak anak saat bersamaan, punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan…dan semua dilakukannya dengan dua tangan ini”.
Malaikat itu takjub, “ Hanya dengan 2 tangan?...Impossible!”
“ Oh tidak!!Aku akan menyelesaikan ciptaan hari ini, karena ini adalah ciptaan favoritku, oh iya dia juga akan mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan bisa bekerja selama 18 jam sehari”.
Malaikat mendekat dan mengamati bentuk wanita ciptaan Tuhan itu, “ Tapi Engkau membuatnya begitu lembut Tuhan?”
“ Yah, Aku membuatnya begitu lembut, tapi engkau belum bisa bayangkan kekuatan yang Aku berikan agar mereka dapat mengatasi banyak hal yang luar biasa”.
“ Dia bisa berpikir?” Tanya Malaikat
Tuhan menjawab, “ Tak hanya berpikir, dia mampu bernegosiasi. Manusia akan menyebutnya PEREMPUAN, dia akan menjadi ciptaanKu yang paling dihormati karena darinya akan lahir pembesar dan penguasa bumi”.
Malaikat itu menyentuh dagunya..
“ Tuhan, Engkau buat ciptaan ini kelihatan lelah dan rapuh! Seolah terlalu banyak beban baginya”.
“ Itu bukan lelah atau rapuh…itu Air Mata”, jawab Tuhan.
“ Untuk apa?” Tanya Malaikat.
Tuhan melanjutkan, “Air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan dan kebahagiaan”.
“Engkau memikirkan segala sesuatunya. Wanita ciptaanMu ini akan sungguh menakjubkan!” seru Malaikat.
Tuhan tersenyum, kataNya, “Wanita ini akan mempuyai kekuatan mempesona bagi laki-laki. Dia dapat mengatasi beban bahkan laki-laki. Dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri. Dia mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit. Mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, terharu saat tertawa, bahkan tertawa saat ketakutan. Dia berkorban demi orang yang dicintainya. Dia tidak menolak kalo melihat yang lebih baik. Dia menerjunkan dirinya untuk keluarganya. Dia membawa temannya yang sakit untuk berobat”.
CINTANYA TANPA SYARAT
“ Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang. Dia girang dan bersorak saat melihat temannya tertawa. Dia begitu bahagia mendengar kelahiran. Hatinya begitu sedih saat mendengar berita sakit dan kematian. Tetapi dia selalu punya kekuatan untuk mengatasi hidup, dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka”.
Tuhan terdiam sejenak, lalu Dia berkata “Hanya 1 kekurangan dari Wanita.
“DIA LUPA BETAPA BERHARGANYA DIA..”
Karena tugasnya itulah perempuan diberi kekuatan oleh Allah..
Allah telah memberikan kekuatan pada perempuan, karena ditangannya akan terlahir penerus keturunan.
Anak yang baik terlahir dari kehebatan seorang ibu yang mengasuh dan membesarkannya.
Di balik kesuksesan suami, ada istri yang hebat yang mendampinginya.
Sejatinya wanita harus di perlakukan dengan baik, agar jiwanya terbangun dengankasih sayang dan kesabaran. Kasih dan sayang sepanjang waktu dalammendampingi anak-nak dan keluarganya tanpa perasaan tersakiti.
Sehingga di harapkan perempuan dapat menjalankan fungsinya dengan baik di dalam keluarga maupun masyarakat..
Minggu, 06 Oktober 2013
Mereka Sepasang, Jiwa dan Ruh: Jiwa yang Melakukan Perjanjian dan Disaksikan oleh Ruh
“Dan
(ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari
sulbi mereka dan Allâh mengambil kesaksian terhadap "jiwa mereka”
(anfusihim) (seraya berfirman) “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” mereka
menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan
yang demikian itu) agar pada hari kiamat kamu tidak mengatakan,
“Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap
ini (ke-Esa-an Tuhan)”. (QS. Al A’râf [7]:172).
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan (nafakha) ke dalam (tubuh) nya (manusia) ruh (ciptaan)-Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan fu’ad/hati (af’idah); (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS. As-Sajdah [32]:9).
Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Dari ubay bin Ka’ab ra, ia mengatakan, “Mereka (jiwa dan ruh tersebut) dikumpulkan, lalu dijadikan berpasang-pasangan, baru kemudian mereka dibentuk. Setelah itu mereka pun diajak berbicara, lalu diambil dari mereka janji dan kesaksian, “Bukankah Aku Tuhan mu?”, mereka menjawab “Benar”. Sesungguhnya Aku akan mempersaksikan langit tujuh tingkat dan bumi tujuh tingkat untuk menjadi saksi terhadap kalian, serta menjadikan nenek moyang kalian Adam sebagai saksi, agar kalian tidak mengatakan pada hari kiamat kelak, “Kami tidak pernah berjanji mengenai hal itu”.
Dengan demikian mereka telah mengakui hal tersebut. Kemudian Adam diangkat dihadapan mereka dan ia (Adam) pun melihat kepada mereka, lalu ia melihat orang yang kaya dan orang yang miskin, ada yang bagus dan ada juga yang sebaliknya. Lalu Adam berkata, “Ya Tuhanku, seandainya Engkau menyamakan di antara hamba-hamba-Mu itu”. Allâh menjawab, “Sesungguhnya Aku sangat suka untuk Aku disyukuri”. Dan Adam melihat para nabi di antara mereka seperti pelita yang memancarkan cahaya pada mereka”. (HR. Ahmad)
yaa Salam @msa
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan (nafakha) ke dalam (tubuh) nya (manusia) ruh (ciptaan)-Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan fu’ad/hati (af’idah); (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS. As-Sajdah [32]:9).
Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Dari ubay bin Ka’ab ra, ia mengatakan, “Mereka (jiwa dan ruh tersebut) dikumpulkan, lalu dijadikan berpasang-pasangan, baru kemudian mereka dibentuk. Setelah itu mereka pun diajak berbicara, lalu diambil dari mereka janji dan kesaksian, “Bukankah Aku Tuhan mu?”, mereka menjawab “Benar”. Sesungguhnya Aku akan mempersaksikan langit tujuh tingkat dan bumi tujuh tingkat untuk menjadi saksi terhadap kalian, serta menjadikan nenek moyang kalian Adam sebagai saksi, agar kalian tidak mengatakan pada hari kiamat kelak, “Kami tidak pernah berjanji mengenai hal itu”.
Dengan demikian mereka telah mengakui hal tersebut. Kemudian Adam diangkat dihadapan mereka dan ia (Adam) pun melihat kepada mereka, lalu ia melihat orang yang kaya dan orang yang miskin, ada yang bagus dan ada juga yang sebaliknya. Lalu Adam berkata, “Ya Tuhanku, seandainya Engkau menyamakan di antara hamba-hamba-Mu itu”. Allâh menjawab, “Sesungguhnya Aku sangat suka untuk Aku disyukuri”. Dan Adam melihat para nabi di antara mereka seperti pelita yang memancarkan cahaya pada mereka”. (HR. Ahmad)
yaa Salam @msa
Langganan:
Postingan (Atom)