Laman

Minggu, 08 Desember 2013

Rahasia Do'a Pernikahan

 Bismillahir Rahmanir Rahim.

Assallamu allaikum wr. wb

Rahasia Do'a Pernikahan
Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara hukum agama, hukum negara, dan hukum adat

Karena begitu sakralnya upacara ini, maka ketika kita menghadiri suatu upacara pernikahan, entah itu pernikahan sahabat, rekan, handai tolan, sudah lazimnya kita memberikan ucapan atau do'a kepada mereka.

Dan mungkin di antara kita ada yang masih mengucapkan do'a "Selamat berbagia, semoga murah rizki dan banyak anak." Atau mungkin ucapan-ucapan selamat lainnya.

Tahukah kawan, hukum dari pengucapan ini adalah “makruh”. Hal ini diceritakan dalam sebuah hadist sebagai berikut : Dari Al-Hasan, pada waktu pernikahan ‘Aqil bin Abi Thalib nikah dengan seorang wanita dari Jasyam, para tamu mengucapkan selamat dengan ucapan jahiliyah yaitu, "Birafa’ Wal Banin" (semoga mempelai murah rezeki dan banyak anak).

Kemudian Aqil bin Abi Thalib melarang mereka seraya berkata : “Janganlah kalian ucapkan demikian . Karena Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam melarang ucapan demikian”. Para tamu bertanya :”Lalu apa yang harus kami ucapkan?”. Aqil menjelaskan :
“Ucapkanlah : Barakallahu lakum wa Baraka ‘Alaiykum”. Demikianlah ucapan yang diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. [Hadits Shahih Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Darimi 2:134, Nasa'i, Ibnu Majah, Ahmad 3:451, dan lain-lain].

Atau lebih lengkapnya seperti ini :
باَرَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِيْ خَيْرٍ

“Semoga Allah memberi berkah padamu, semoga Allah memberi berkah atasmu, dan semoga Ia mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan” (HR. Abu Dawud (1819), Tirmidzi (1011), dan yang lainnya, dishohihkan oleh Albani)

Dalam hadits tersebut terdapat 2 preposisi yaitu للام dan على . Preposisi اللام /laam/ secara harfiyah artinya memang bisa diterjemahkan ‘pada’. Adapun على /’alaa/ dapat diterjemahkan ‘di atas’. Akan tetapi, jika kedua preposisi tersebut terdapat dalam satu kalimat secara bersamaan, makna preposisi tersebut tidak bisa lagi diterjemahkan secara harfiyah 'pada’ atau ‘di atas’ lagi.

Dari perbedaan ini, maka muncul berbagai versi terjemahan, antara lain :
• Terjemahan Pertama
“Semoga Allah memberikan berkah (yang bermanfaat) untukmu, semoga Dia (juga) memberikan berkah (yang turun) atasmu, dan semoga Dia mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”.

Menurut As-Sindi dalam kitab syarahnya untuk Sunan Ibnu Majah, ia mengatakan :
الْبَرَكَة لِكَوْنِهَا نَافِعَة تَتَعَدَّى بِاللَّامِ وَلِكَوْنِهَا نَازِلَة مِنْ السَّمَاء تَتَعَدَّى بِعَلَى فَجَاءَتْ فِي الْحَدِيث بِالْوَجْهَيْنِ لِلتَّأْكِيدِ وَالتَّفَنُّن وَالدُّعَاء مَحَلّ لِلتَّأْكِيدِ وَاَللَّه تَعَالَى اِعْلَمْ

“Berkah itu, karena bermanfaat (untuk hamba) maka dipakailah preposisi “Laam”, dan karena berkah (juga) turunnya dari langit, maka dipakailah preposisi “Alaa”.

Oleh karenanya dalam hadits ini dipakai dua-duanya untuk lebih memperkuat makna, dan lebih memvariasikan kata. (Yang demikian itu), karena doa itu momen (yang tepat) untuk memperkuat (makna), wallahu a’lam”. (lihat di syarah As-Sindi untuk Sunan Ibnu Majah, hadits no: 1895, lihat juga di Mirqotul Mafatih 8/377)

* Rahasia Do’a pertikahan Terjemahan Kedua.*
 “Semoga Allah memberkahimu (dalam urusan duniamu), semoga Dia (juga) memberkahimu (dalam urusan akhiratmu), dan semoga Dia mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”.
 Terjemahan ini didasarkan pada adanya beberapa nash yang menghubungkan manfaat duniawi dengan preposisi “Laam”, di sisi lain ada beberapa nash yang menghubungkan urusan akhirat dengan preposisi “Alaa”.

Adapun nash-nash tersebut antara lain :
Sabda Nabi -shollallahu alaihi wasallam-:

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا
Dua pelaku teransaksi itu masih dalam khiyar selama belum pisah, lalu jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya diberkahi dalam transaksinya. (HR. Bukhori:1937 dan Muslim: 2825).

* Rahasia Do’a pertikahan. Terjemahan Ketiga.*

“Semoga Allah memberkahimu (di saat rumah tanggamu harmonis), semoga Dia (tetap) memberkahimu (di saat rumah tanggamu lagi renggang), dan semoga Dia mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”

Preposisi “Laam” dan “Alaa” disandingkan dalam doa ini, berarti keduanya memiliki arti yang berbeda, dan sesuai kaidah bahasa arab, biasanya preposisi “Laam” itu dipakai untuk menunjukkan makna yang baik, sedangkan preposisi “Alaa” digunakan untuk menunjukkan makna yang buruk.

Dan keadaan baik ketika berkeluarga adalah ketika terwujud suasana yang harmonis antara keduanya, sedang keadaan yang buruk dalam berkeluarga adalah ketika hubungan keduanya sedang renggang dan banyak masalah.

* Rahasia Do’a pertikahan. Terjemahan Keempat*
 “Semoga Allah memberkahi (istrimu) untukmu,
semoga Allah menurunkan berkah atasmu (dalam menafkahi dan memudahkan rizkinya), dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”.

Makna “Alaa” itu identik untuk menerangkan sesuatu yang datang dari atas, maka ditentukanlah makna rizki dan nafkah dalam doa itu.

Allah berfirman: “Dan di langit itu, terdapat rizki dan apa yang dijanjikan untuk kalian” (Surat Adz-Dzariyat: 22).

Dan karena preposisi “Alaa” dipakai untuk menerangkan datangnya sesuatu dari atas yang berupa rizki dan nafkah, berarti preposisi “Laa” bermakna sebaliknya, yakni untuk menerangkan sesuatu yang dari sesama manusia, dan karena momen doa ini adalah ketika baru mendapat nikmat istri yang halal, maka ditentukanlah kata istri dalam memaknainya. (kitab Faidhul Qodir, karya Al-Munawi 1/406).

* Rahasia Do’a pertikahan. Terjemahan Kelima*
 “Semoga Allah memberkahi dirimu (dalam pernikahan ini), semoga Allah juga memberikan berkah atas (anak dan keturunan)-mu, dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”.
 Karena keberkahan dari pernikahan itu bergantung dari masing-masing mempelai, maka dipakailah preposisi “Laam” yang menunjukkan makna kepemilikan.

Sedang alasan ditentukannya preposisi “Alaa” untuk makna “anak dan keturunan” adalah, karena tujuan utama pernikahan itu “berputar” pada anak dan keturunan. (Kitab Mirqotul Mafatih 8/377 dan Faidhul Qodir 1/176)

Penjelasan Rahasia Do’a pertikahan penutup. (akhir).

Begitu pula sabda beliau berikut ini:

*Rahasia Do’a pertikahan.Terjemahan Keenam.*

“Semoga Allah memberikan berkah pada (hak)-mu (dari pernikahan ini), semoga Allah juga memberikan berkah atas (kewajiban)-mu (karena pernikahan ini), dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”.

Karena biasanya dalam bahasa arab, preposisi “laam” itu digunakan untuk menyebutkan sesuatu yang menjadi hak dan kepunyaannya, sedang preposisi “alaa” digunakan untuk menyebutkan sesuatu yang menjadi kewajiban seseorang.

Dari berbagai versi terjemahan tersebut, maka makna do'a tersebut bisa dijabarkan sebagai berikut :

“Semoga Allah memberikan berkah (yang bermanfaat) untukmu”, baik berkah itu dalam urusan dunia maupun akhirat, baik berkah itu disaat rumah tanggamu sedang harmonis atau tidak, baik berkah itu pada rizki dan nafkah yang kau berikan kepada istri atau pada yang lainnya, baik berkah itu dari istrimu atau dari yang lain, baik berkah itu dalam hakmu atau kewajibanmu.

“Semoga Dia (juga) memberikan berkah (yang turun) atasmu”, baik berkah itu dalam urusan dunia maupun akhirat, baik berkah itu disaat rumah tanggamu sedang harmonis atau tidak, baik berkah itu pada rizki dan nafkah yang kau berikan kepada istri atau pada yang lainnya, dan baik berkah itu dari istrimu atau dari keturunanmu, atau dari yang lain, baik berkah itu dalam hakmu atau kewajibanmu.

“Dan semoga Dia mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”
Cakupan do'a ini begitu luas dari sekedar "semoga berbagia, murah rizki dan banyak anak" yang biasa kita ucapkan pada suatu pernikahan. Inilah diantara mukjizat kenabian Beliau yang biasa disebut dengan mukjizat “Jawami’ul Kalim” (Kata yang singkat, tapi maknanya padat).

Dan dari do'a di atas, kalau kita cermati, semua kuncinya terletak pada kata "keberkahan".

Sebagaimana kita ketahui bahwa keberkahan sendiri berasal dari kata “Berkah” atau “al-barakah” yang secara bahasa bisa diartikan “berkembang, bertambah dan kebahagiaan.” (Al-Misbah al-Munir oleh al-Faiyyumy 1/45, al-Qamus al-Muhith oleh al-Fairuz Abadi 2/1236, dan Lisanul Arab oleh Ibnu Manzhur 10/395).

Sementara Imam an-Nawawi mengatakan “asal makna keberkahan ialah kebaikan yang banyak dan abadi.” (Syarah Shahih Muslim oleh an-Nawawi, 1/225).

Dengan do'a yang penuh keberkahan ini, diharapkan kebahagiaan, keharmonisan, limpahan rizki serta faktor penunjang keharmonisan suatu keluarga itu sendiri akan terus bertambah dan abadi. InsyaAllah . . . Aamiin.

* dari berbagai sumber
Demikianlah yang dapat aku haturkan semoga saja ada manfaatnya bagi kita semua Aamiin...Wassalam.






Jumat, 06 Desember 2013

BAHTERA DHUHA DISAMUDERA ALFATIHAH.


Dipagi hari nan sejuk
Bahtera Dhuha mengembang layar.
Disamudera akbar, damai AlFatihah.
Angin semilir mendorong bahtera ketenggah.
Tiada badai , gelombang dan karang.
Hening dalam khusu'
Dimigrabnya.
Dengan nama pengasih diatas para pengasih.
Penyayang diatas para penyanyang.

Bahtera Dhuha disamudera AlFatihah.
Setiap kata dalam hening dimigrabnya.
Segala puja pembina alam.
Pengasih diatas para pengasih.
Penyayang diatas para penyayang.
Penguasa diatas para penguasa.
Hari pembalasan.

Bahtera Dhuha disamudera AlFatihah.
Berulang dan teruskan berulang.
Tujuh ayat yang diulang dari subuh, zhohor , Ashar, Magrib, Isya dan kembali ke Dhuha.
Dalam hening khusu' dimigrabnya.
Diatas Shirat lurus , shirat kenikmatan bukan menyesatkan.

Bahtera Dhuha disamudera AlFatihah.
Ditunjuki bahtera ketenggah Samudera.
Metetes air mata menyesak dada.
Hening khusu" dalam migrabnya.
Tampa hijab tercurah nikmat.

disadur dari
naskah sahabatku;  Padanglua Manyusun Kaba


Sebuah Kisah Yang Patut Untuk Dijadikan Bahan Renungan.


Boleh Jadi Kamu Membenci Sesuatu Padahal Ia Amat Baik Bagimu

Dahulu, sebelum ada vaksinasi, cacar adalah salah satu penyakit yang tersebar di mana-mana, dan atas kehendak Allah Yang Maha Hidup dan Maha Mengurus segala sesuatu, sering kali (penyakit cacar itu) mengakibatkan kematian di kalangan masyarakat.

Syahdan, di antara mereka ada yang terjangkit bencana ini; seorang lelaki berumur 6 tahun dari sebuah dusun di utara kota Buraidah di wilayah Al-Qashim. Peristiwa ini terjadi di abad 14 H. Akibatnya, ia mengalami kebutaan total dan berwajah bopeng.

Anak ini tinggal di tengah saudara-saudaranya yang bekerja sebagai petani di sawah. Dia sering berlari-lari di belakang mereka, hendak mengejar mereka saat berjalan bersama.

Akan tetapi, tentu saja hal ini sering kali menyebabkannya tersandung dan terjerembab di mana-mana, lalu terluka. Namun, ia segera bangkit mengejar arah datangnya suara mereka, lalu ia menabrak pohon di mana-mana, sementara saudara-saudaranya hanya menertawainya ketika ia jatuh, bahkan (mereka) mengejeknya, “Buta …! Buta …!”

Mereka tidak peduli dan tidak menanyakan apabila dia tidak ada dan (mereka) bersikap acuh kalau dia ada di tengah mereka. Bahkan, di kala orang tuanya tidak ada dirumah, sering kali ia menjadi bulan-bulanan saudara-saudaranya, yaitu ketika dia disuruh berjalan lalu terantuk dan terjatuh, maka ia menjadi bahan tertawaan.

Meskipun demikian, dia termasuk anak yang lincah dan gerakannya ringan. Kemauannya keras dan mempunyai ketabahan, dan Allah telah mengaruniakan kepadanya kecerdasan dan kemauan yang keras. Dia selalu berupaya melakukan apa saja yang dia mau. Dia ingin mengerjakan lebih banyak daripada yang dilakukan orang normal.

Ayahnya adalah orang yang miskin. Dia memandang anaknya yang buta ini hanya menjadi beban saja, karena dia tidak mendapatkan manfaat dan keuntungan darinya sebagaimana saudara-saudaranya yang lain.


Suatu hari, salah seorang temannya datang ke rumah. Sudah beberapa tahun mereka tidak jumpa. Dia lalu mengadukan kepada temannya tersebut perihal anaknya yang buta bahwa anak itu tidak berguna, bahkan mereka sekeluarga selalu sibuk mengurus dan melayaninya, sehingga menghambat sebagian pekerjaan mereka.

Tamu tersebut menyarankan agar anak itu dikirim ke Riyadh agar mendapat jaminan makanan dari jamuan yang selalu diadakan oleh Ibnu Sa’ud (Setelah keamanan dalam negeri di seluruh Jazirah Arab terkendali di tangan Raja Abdul ‘Aziz rahimahullah, dia mengadakan jamuan khusus untuk memberi makan kaum fakir miskin dan orang orang terlantar.

Pada masa itu, jamuan tersebut sangat terkenal), sehingga (ia) akan selalu bertemu dengan orang orang yang mengasihinya setiap saat.

Ide tersebut diterima dengan baik oleh ayahnya. Ketika ada seorang tukang unta tampak sedang membuat kayu ke atas punggung untanya yang biasanya menjual barang dagangan di Riyadh, ayahnya menghampiri tukang unta dan berkata, “Aku hendak menitipkan anakku ini padamu.

Bawalah dia pergi ke Riyadh dan saya beri kamu dua riyal, dengan syarat: kamu taruh dia di masjid, dan kamu tunjukkan di mana letak jamuan makan dan sumur masjid agar dia bisa minum dan berwudhu, dan serahkan dia kepada orang yang mau berbuat kebajikan kepadanya.”

Berikut ini penuturan kisah sang anak setelah (ia) dewasa,
Aku dipanggil ayahku -rahimahullah-. Pada waktu iu, umurku baru mendekati 13 tahun. Beliau berkata, “Anakku, di Riyadh itu ada halaqah-halaqah ilmu, ada jamuan makan yang akan memberimu makan malam setiap hari, dan lain sebagainya.

Kamu akan betah disana, insya Allah. Kamu akan ayah titipkan pada orang ini. Dia akan memberitahu kamu apa saja yang kamu inginkan ….”
Tentu saja, aku menangis keras-keras dan mengatakan, “Benarkah orang sepertiku tidak memerlukan lagi keluarga?

Bagaimana mungkin aku berpisah dengan ibuku, saudara-saudara, dan orang orang yang aku sayangi? Bagaimana aku akan mengurus diriku di negeri yang sama sekali asing bagiku, sedangkan di tengah keluargaku saja aku mengalami kesulitan? Aku tidak mau!”

Aku dibentak oleh ayahku. Beliau berkata kasar kepadaku. Selanjutanya, beliau memberiku pakaian-pakaianku seraya berkata, “Tawakal kepada Allah dan pergilah …. Kalau tidak, kamu akan aku begini dan begini ….”

Suara tangisku makin keras, sementara saudara-saudaraku hanya diam saja di sekelilingku. Selanjutnya, aku dibimbing oleh si tukang unta sambil menjanjikan kepadaku hal-hal yang baik baik dan meyakinkan aku bahwa aku akan hidup enak di sana.

Aku pun berjalan sambil tetap menangis. Tukang unta itu menyuruh aku berpegangan pada ujung kayu di bagian kelakang unta. Dia berjalan di depan unta, sedangkan aku di belakangnya, sementara suara tangisku masih tetap meninggi. Aku menyesali perpisahanku dengan keluargaku.

Setelah lewat sembilan hari perjalanan, tibalah kami di tengah kota Riyadh. Tukang unta itu benar benar menaruh aku di masjid dan menunjukkan aku letak sumur dan jamuan makan. Akan tetapi aku masih tetap tidak menyukai semuanya dan masih merasa sedih. Aku menangis dari waktu ke waktu.

Dalam hati, aku berkata, “Bagaimana mungkin aku hidup di suatu negeri yang aku tidak mengetahui apa pun dan tidak mengenal siapa pun? Aku berangan-angan, andaikan aku bisa melihat, pastilah aku sudah berlari entah kemana … ke padang pasir barangkali.

Akan tetapi, atas rahmat Allah, ada beberapa orang yang menaruh perhatian kepadaku di masjid itu. Mereka menaruh belas kasihan kepadaku, lalu mereka membawaku kepada Syekh Abdurrahman Al-Qasim rahmahullah dan mereka katakan, “Ini orang asing, hidup sebatang kara.”

Syekh menghampiri aku, lalu menanyai siapa namaku dan nama julukanku, dan dari negeri mana. Kemudian, beliau menyuruh aku duduk di dekatnya, sementara aku menyeka air mataku. Beliau berkata, “Anakku, bagaimana ceritamu?” Kemudian, aku pun menceritakan kisahku kepada beliau.

“Kamu akan baik baik saja, insya Allah. Semoga Allah memberimu manfaat dan membuat kamu bermanfaat. Kamu adalah anak kami dan kami adalah keluargamu. Kamu akan melihat nanti hal-hal yang menggembirakanmu di sisi kami.

Kamu akan kami gabungkan dengan para pelajar yang sedang menuntut ilmu dan akan kami beri tempat tinggal dan makanan. Di sana ada saudara-saudara di jalan Allah yang akan selalu memperhatikan dirimu.”

Aku menjawab, “Semoga Allah memberi Tuan balasan yang terbaik, tetapi aku tidak menghendaki semua itu. Aku ingin Tuan berbaik hati kepadaku, kembalikan aku kepada keluargaku bersama salah satu kafilah yang menuju Al-Qashim.”

Syekh berkata, “Anakku, coba dulu kamu tinggal bersama kami, barangkali kamu akan merasa nyaman. Kalau tidak, kami akan mengirim kamu kembali kepada keluargamu, insya Allah.”

Selanjutnya, Syekh memanggil seseorang lalu berkata, “Gabungkan anak ini dengan Fulan dan Fulan, dan katakan kepada mereka, perlakukan dia dengan baik.”

Orang itu membimbing dan membawaku menemui dua orang teman yang baik hati. Keduanya menyambut kedatanganku dengan baik dan aku pun duduk di sisi mereka berdua, lalu aku ceritakan kepada mereka berdua keadaanku dan mengatakan bahwa aku tidak betah tinggal di situ karena harus berpisah dari keluargaku.

Tak ada yang dilakukan kedua temanku itu selain mengatakan kepadaku perkataan yang menghiburku. Keduanya menjanjikan kepadaku yang baik-baik dan bahwa kami akan sama sama mencari ilmu, sehingga aku sedikit merasa tenteram dan senang kepada mereka. Keduanya selalu bersikap baik padaku.

Semoga Allah memberi mereka dariku balasan yang terbaik. Akan tetapi, aku sendiri belum juga terlepas dari kesedihan dan keenggananku tinggal di sana. Aku masih tetap menangis dari waktu ke waktu atas perpisahanku dengan keluargaku.

Kedua temanku itu tinggal di sebuah kamar dekat masjid. Aku tinggal bersama mereka. Keseharianku selalu bersama mereka. Pagi-pagi benar, kami pergi shalat subuh, lalu duduk di masjid mengikuti pengajian Alquran sampai menjelang siang. Syekh menyuruh kami menghapal Alquran.

Sesudah itu, kami kembali ke kamar, istirahat beberapa saat, makan ala kadarnya, kemudian kembali lagi ke pengajian hingga tiba waktu zuhur. Barulah setelah itu, kami istirahat, yakni tidur siang (qailulah), dan sesudah shalat Ashar kami kembali lagi mengikuti pengajian.

Demikian yang kami lakukan setiap hari hingga akhirnya mulailah aku merasa betah sedikit demi sedikit, makin membaik dari hari ke hari, bahkan akhirnya Allah melapangkan dadaku untuk menghapal Al Quran, terutama setelah Syekh–rahimahullah–memberi dorongan dan perhatian khusus kepadaku.

Aku pun melihat diriku mengalami kemajuan dan menghapal hari demi hari. Sementara itu, Syekh selalu mempertajam minat para santrinya. Pernah suatu kali, beliau berkata, “Kenapa kalian tidak meniru si Hamud itu? Lihatlah bagaimana kesungguhan dan ketekunannya, padahal ia orang buta!”

Dengan kata-kata itu, aku semakin bersemangat, karena timbul persaingan antara aku dan teman temanku dalam kebaikan. Oleh karena itu, kurang dari satu setengah bulan, Allah ta’ala telah mengaruniai aku ketenteraman dan ketenangan hati, sehingga dapatlah aku menikmati hidup baru ini.

Syahdan, setelah tujuh bulan lamanya aku tinggal di sana, aku katakan dalam diriku, “Subhanallah, betapa banyak kebaikan yang terdapat dalam hal-hal yang tidak disukai hawa nafsu, sementara diri kita melalaikannya!

Kenapa aku harus sedih dan menangisi kehidupan yang serba kekurangan di tengah keluargaku, yang ada hanya kebodohan, kemiskinan, kepayahan ketidakpedulian, dan penghinaan, sedangkan aku merasa menjadi beban mereka?”

Demikianlah kehidupan yang aku jalani di Riyadh setiap harinya, sehingga kurang dari sepuluh bulan aku sudah dapat menghafal Alquran sepenuhnya, alhamdulillah. Kemudian, aku ajukan hapalanku itu kehadapan Syekh sebanyak dua kali.

Selanjutnya, Syekh mengajak aku pergi menemui para guru besar, yaitu Syekh Muhammad bin Ibrahim dan Syekh Abdul Latif bin Ibrahim. Aku diperkenalkan kepada mereka. Kemudian, guruku itu berkata, “Kamu akan ikut bergabung dalam halaqah-halaqah ilmu.

Adapun murajaah Alquran, dilakukan sehabis shalat subuh, kamu akan dipandu oleh Fulan. Sesudah magrib, kamu akan dipandu oleh Fulan.”

Sejak saat itu, mulailah aku menghadiri halaqah-halaqah dari para guru besar itu, yang bisa menimba ilmu dengan kesungguhan hati. Materi pelajaran yang diberikan meliputi Akidah, Tafsir, Fikih, Ushul Fikih, Hadits, Ulumul Hadits, dan Fara’idh. Seluruh materi diberikan secara teratur, masing-masing untuk materi tertentu.

Sementara itu, aku sendiri, hari demi hari semakin merasa betah, semakin senang, dan tenteram hidup di lingkungan itu. Aku benar benar merasa bahagia mendapat kesempatan mencari ilmu.

Sementara itu, agaknya orang tuaku di kampung selalu bertanya kepada orang-orang yang bepergian ke Riyadh, dan tanpa sepengetahuanku beliau mendapat berita-berita tentang perkembanganku.

Demikianlah, alhamdulillah, aku berkesempatan untuk terus mencari ilmu dan menikmati taman-taman ilmu. Setelah tiga tahun, aku meminta izin kepada guru-guruku untuk menjenguk keluargaku di kampung. Kemudian, mereka menyuruh orang untuk mengurus perjalananku bersama seorang tukang unta.

Dengan memuji Allah, aku pun berangkat hingga sampailah aku kepada keluargaku. Tentu saja, mereka sangat gembira dan kegirangan menyambut kedatanganku, terutama Ibuku–rahimahallah–. Mereka menanyakan kepadaku tentang keadaanku dan aku katakan, “Aku kira, tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang lebih bahagia selain aku ….”

Ya, kini mereka melihatku dengan senang dan santun. Demikian pula, aku melihat mereka menghargai dan menghormati aku, bahkan menyuruhku mengimami shalat mereka. Aku menceritakan kepada mereka pengalaman-pengalaman yang telah aku alami selama ini. Mereka senang mendengarnya dan memuji kepada Allah.

Setelah beberapa hari berada di lingkungan keluargaku, aku pun meminta izin untuk pergi meninggalkan mereka kembali. Mereka bersikeras memintaku untuk tetap tinggal, tapi aku segera mencium kepada ayah-bundaku.

Aku meminta pengertian dan izin kepada keduanya, dan alhamdulillah mereka mengizinkan. Akhirnya aku kembali ke Riyadh meneruskan pelajaranku. Aku makin bersemangat mencari ilmu.

Adapun dari teman-temannya yang seangkatan, ada di antaranya yang menceritakan, “Dia sangat rajin dan bersemangat dalam mencari ilmu, sehingga dikagumi guru-gurunya dan teman-teman seangkatannya. Sangat banyak ilmu yang dia peroleh.

Adapun hal yang sangat ia sukai adalah apabila ada seseorang yang duduk bersamanya dengan membacakan kepadanya sebuah kitab yang belum pernah ia dengar, atau ada orang yang berdiskusi dengannya mengenai berbagai masalah ilmu. Dia memiliki daya hapal yang sangat mengagumkan dan daya tangkap yang luar biasa.

Tatkala umunya mencapai 18 tahun, dia diperintahkan oleh guru didiknya dihadapan santri santri kecil dan agar menyuruh mereka menghapalkan beberapa matan kitab.

Ketika Fakultas Syariah Riyadh dibuka, beberapa orang gurunya menyarankan dia mengikuti kuliah. Dia mengikutinya, dan dengan demikian dia, termasuk angakatan pertama yang dihasilkan oleh fakultas tersebut pada tahun 1377 H. Kemudian, dia ditunjuk menjadi tenaga pengajar di Fakultas Syariah di kota itu.

Pada akhir hayatnya, dia pindah mengajar di fakultas yang sama di Al-Qashim, dan lewat tangannya muncullah sekian banyak mahasiswa yang kelak menjadi hakim, orator, guru, direktur, dan sebagainya.

Pada tiap musim haji, dia tergabung dalam rombongan pada mufti dan da’i, di samping kesibukannya sebagai pebisnis tanah dan rumah, sehingga dia bisa memberi nafkah kepada keluarganya dan saudara saudaranya, dan dapat pula membantu kerabat-kerabatnya yang lain.

Adapun saudara saudaranya yang dulu sering mengejeknya semasa kecil, kini mereka mendapatkan kebaikan yang melimpah darinya, karena sebagian mereka, ada yang kebetulan tidak pandai mencari uang.

Betapa banyak karunia dan nikmat yang terkandung pada hal-hal yang tidak disukai dari diri kita. Akan tetapi, firman Allah yang Maha Agung tentu lebih tepat,

عَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ (٢١٦)

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)
***

Disalin dari buku berjudul “Obat Penawar Hati yang Sedih“, karya Sulaiman bin Muhammad bin Abdullah Al-’Utsaimin. Penerbit: Darus Sunnah.

Demikianlah Saudaraku semoga saja sajian ini ada manfaatnya bagi kita semua Aamiin Wassalam.
— bersama ms@

* MENGAPA HATI MEMBATU..?


Assalamu Allaikum Wr.Wb.

Saudaraku...

Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengatakan dalam kitabnya Bada’i al-Fawa’id [3/743], “Tatkala mata telah mengalami kekeringan disebabkan tidak pernah menangis karena takut kepada Allah ta’ala, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya keringnya mata itu adalah bersumber dari kerasnya hati.

Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa kepada Allah agar terlindung dari hati yang tidak khusyu’, sebagaimana terdapat dalam hadits,

“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari hawa nafsu yang tidak pernah merasa kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim [2722]).

Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu, dia berkata,
“Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu? Apakah keselamatan itu?”.

Maka Nabi menjawab, “Tahanlah lisanmu, hendaknya rumah terasa luas untukmu, dan tangisilah kesalahan-kesalahanmu.” (HR. Tirmidzi [2406], dia mengatakan;
hadits hasan. Hadits ini disahihkan al-Albani dalam Shahih at-Targhib [2741]).

Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah mengatakan [al-Bidayah wa an-Nihayah, 10/256], “Segala sesuatu memiliki ciri, sedangkan ciri orang yang dibiarkan binasa adalah tidak bisa menangis karena takut kepada Allah.”

Dan diantara sebab kerasnya hati adalah :

* Berlebihan dalam berbicara
* Melakukan kemaksiatan atau tidak menunaikan kewajiban
* Terlalu banyak tertawa
* Terlalu banyak makan
* Banyak berbuat dosa
* Berteman dengan orang-orang yang jelek agamanya

Agar hati yang keras menjadi lembut
Disebutkan oleh Ibnu al-Qayyim di dalam al-Wabil as-Shayyib [hal.99] bahwa suatu ketika ada seorang lelaki yang berkata kepada Hasan al-Bashri, “Wahai Abu Sa’id! Aku mengadu kepadamu tentang kerasnya hatiku.” Maka Beliau menjawab, “Lembutkanlah hatimu dengan berdzikir.”

Sebab-sebab agar hati menjadi lembut dan mudah menangis karena Allah antara lain :

* Mengenal Allah melalui nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya
* Membaca al-Qur’an dan merenungi kandungan maknanya
* Banyak berdzikir kepada Allah
* Memperbanyak ketaatan
* Mengingat kematian, menyaksikan orang yang sedang di ambang kematian atau
melihat jenazah orang

* Mengkonsumsi makanan yang halal
* Menjauhi perbuatan-perbuatan maksiat
* Sering mendengarkan nasehat
* Mengingat kengerian hari kiamat, sedikitnya bekal kita dan merasa takut kepada
Allah
* Meneteskan air mata ketika berziarah kubur
* Mengambil pelajaran dari kejadian di dunia seperti melihat api lalu teringat akan
neraka
* Berdoa
* Memaksa diri agar bisa menangis di kala sendiri

Tidak mengamalkan ilmu, sebab hati menjadi keras
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Disebabkan tindakan (ahli kitab) membatalkan ikatan perjanjian mereka, maka Kami pun melaknat mereka, dan Kami jadikan keras hati mereka. Mereka menyelewengkan kata-kata (ayat-ayat) dari tempat (makna) yang semestinya, dan mereka juga telah melupakan sebagian besar peringatan yang diberikan kepadanya.” (QS. Al-Maa’idah : 13).

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa kerasnya hati ini termasuk hukuman paling parah yang menimpa manusia (akibat dosanya). Ayat-ayat dan peringatan tidak lagi bermanfaat baginya. Dia tidak merasa takut melakukan kejelekan, dan tidak terpacu melakukan kebaikan, sehingga petunjuk (ilmu) yang sampai kepadanya bukannya menambah baik justru malah semakin menambah buruk keadaannya.

Untuk itu maka renungkanlah wahai Saudaraku semoga saja kita kan terbebas dari kekerasan hati yang hanya akan menjerumuskan diri kita pada ajab serta siksa-Nya nudzubillahimindzalik. sekian dan Wassalam moga saja ada manfaatnya buat kita semua Aamiin Wassalam.
ms@

*Jangan Pernah Menghindar.*


Assalamu Allaikum Wr. Wb.

Saudaraku...
Seberat apapun masalahmu
Sekelam apapun beban hidupmu
jangan pernah kau berlari atau menghindar darinya

Karena seberapa jauhpun engkau berlari
dan sedalam apapun kau bersembunyi
dia pasti akan menemuimu

Saudaraku...
Dalam sebuah episode kehidupan
Memang takan lepas dari ujian dan cobaan
Sebab itu sudah merupakan kepastian
Bagi makhluk yang namanya manusia

Dan alangkah indahnya bila kau dapat menerimanya
dengan lapang dada dan hati terbuka dengan kesucian hati yang bersih
persilahkanlah ia masuk dan sambutlah dengan nuranimu yang suci

Hadapilah ia dengan senyum sehangat mentari pagi
ajaklah ia untuk menikmati hidangan kesabaran
dan sedikit jamuan keteguhan

Saudaraku...
dengan begitu Insya Allah kau akan dapat mengatasinya
hingga ia berlalu pulang dari kehidupanmu

Sehingga kau akan dapati dirimu menjadi sosok yang tegar
dalam semua keadaan engkau akan mampu dan lebih berani
untuk melewati jalan kehidupan yang terjal dan berliku

Saudaraku...
Yakinlah kau akan semakin bisa bertahan
Dikala badai cobaan itu datang menerpa
Maka jangan biarkan kesedihan merampas semuanya,

Biarkan waktu kan terus berjalan, lakukanlah yang terbaik sebagai rasa sayangmu pada diri sendiri

Dan hadapilah kesempatan itu datang, dan upayakan yang terbaik. Karena mungkin, kesempatan selanjutnya tidak datang dalam waktu dekat.
Sekian dan Wassalam.
—ms@-----

PERJALANANAN MENUJU ALAM KEABADIAN (SYURGA)

Catatanku Berkas Kajianku...

Bismillahi Rahmanir Rahim.

Assallamualaikum Wr. Wb.

Hidup sesudah mati menurut agama islam terbagi dlm beberapa masa. 1- Masa menunggu (Alam barzah atau alam kubur)...
2- masa peralihan (kiamat kubro).
3- masa kebangkitan
4- masa perhisaban
5- masa pembalasan.

PERJALANAN ABADI: - ALAM KUBUR
Adalah awal persinggahan menuju ke akhirat.
TIUPAN SANGKAKALA. - HARI KEBANGKITAN. - PADANG MAHSYAR Allah mengumpulkan mahluk untuk Di hisab. - SYAFA'AT. - HISAB hari perhitungan. - CATATAN AMAL. - MIZAN (NERACA)/prtimbangan. - HAUDH (telaga) - UJIAN bagi kaum mukminin - SHIRATH (TITIAN) Berupa jmbatan yg mmbentang Di atas neraka. –
NERAKA - QANTHARAH (jmbatan antara surga & neraka)
1. Alam Kubur adalah awal persinggahan menuju akhirat ia merupakan lubang neraka bagi orang 2 kafir dan orang 2 munafik,namun merupakan taman bagi orang2 mukmin.

Ada siksa di alam kubur atas beberapa maksiat seperti: . Tidak membersihkan diri dari air kencing, . Mengadu domba (namimah) . Berkhianat dalam Hal rampasan perang .
Dusta . Tidur melalaikan shalat . Tdk membaca Al-Qur'an , brzina,homoseksual . Riba,tdk mmbayar hutang dll

Yang dapat menyelamatkn adlah amal shaleh yg ikhlas karena Allah.brlindung kpd Allah dari siksa kubur,mmbaca surat Al-Mulk dsbg Yg dilindungi dari siksa kubur adalah org yg mati syahid,org yg mnjaga prbatasan dri musuh,orang yg meninggal pd hari jum'at,(tentunya bagi orang yg beriman)

Orang yg meninggal karna sakit perut dn sbaga'y. "Kubur adlah prsinggahan prtama negri akhirat,barang siapa yg dpt selamat darinya maka ap yg akn Di jumpai setelahnya lbih ringan dan barang siapa yg tdk dpt selamat darinya maka yg akn Di jumpai setelahnya lebih mngerikan."(HR.Tirmizi) "

Sesungguhnya jika seorg hamba Di masukan ke dlm kubur dan para pengiring'nya tlah pergi,ia akn mndengar langkah mereka.

Rasulullah bersabda:"Dua orang malaikat datang dan berkata","apa yg dulu engkau katakan tentang laki2 ini?" ia berkata:"aku bersaksi bahwa ia adlh hamba Allah dan Rasul-Nya.

" Rasulullah bersabda:"lihatlah tempat dudukmu Di neraka, Allah tlah mnggantinya dngn tmpt duduk Di surga.

" Rasulullah bersabda: "lalu ia melihat surga dna neraka,sdngkn org kafir dan munafik akan di tnya. "apa yg dulu engkau katakan ttg laki2 ini?" ia brkata "aku tdk tau aku brkta sprti ap yg dikatakn manusia" dikatakan kpdanya "engkau tdk tau dan tdk mmbaca.

" Lalu ia Di pukul dngn palu godam dari besi dngn sekali pukulan sampai ia mnjerit dan jeritannya terdengar oleh yg berada Di dekatnya kecuali oleh jin dn manusia."(HR.Tirmizi)

2. Tiupan sangkakala ialah sangkakala besar yg Di kulum oleh israfil.menunggu kpan Di perintahkn untk mniupnya yaitu tiupan Faza' (kematian) brdasarkn firman Allah:

Dan ingatlah hari ketika ditiup sangkakala,maka trkejutlah sgala yg Di langit dn sgala yg di bumi,kecuali siapa yg dikhehendaki Allah."(An-Naml:87) maka hancurlah alam semesta,kmudian setelah 40masa di tiuplah dngn tiupan ba'ts (kebangkitan).

Brdasarkn firman Allah s.w.t:"kmudian di tiup sangkakala sekali lagi maka tiba2 mereka brdiri menunggu (putusannya masing2)."(QS.Az-Zumar:68

3. Hari Kebangkitan,kmudian Allah menurunkan hujan mka tumbuhlah jasad2 (dari sebiji tulang pangkal ekor) dn mnjadi ciptaan baru yg tdk mati,mereka Di bangkitkan dlm keadaan tdk bralas kaki dn tdk brpakaian.mereka dpt melihat para malaikat dn jin.di bangkitkan sesuai dngn amal perbuatan mereka.

4. Padang mahsyar... Allah mngumpulkn mahluk untk di hisab.mereka semua brada dlm kondisi ketakutan sprti org mabuk,pda hari agung masa'y setara dngn 50 ribu thun.seakan-akn dunia mereka hnya sesaat saja.matahari mnjadi dekat 1 jngkal.

Dan manusia tnggelam dlm keringat mereka sesuai amal perbuatan mreka.pda hari itu trjadi prseteruan antra org2 yg lemah & para pmbesar mereka (ketika di dunia).org kafir brseteru sesamanya,dngn setan'y dn anak buahnya dan mereka saling melaknat.

Orang yg zalim akn mngigit k'2 tangannya. Neraka jahanam pun Di datangkan,di tarik dngn 70 ribu tali kekang,stiap tali kekang Di tarik oleh 70 ribu malaikat.jika org2 kafir melihat'y,ia brharap mnjadikan dirinya sbagai tebusan/debu.

Adapun para pelaku maksiat,org yg tdk mmbayar zakat,hartanya Di jadikan lempengan api lalu ia disetrika dngnnya.sdang org2 sombong dn angkuh mreka Di kumpulkn bagaikn semut,para pelanggar janji,penghianat dn perampas harta org lain akn Di ungkap kejahatannya dn pncuri akn datang dngn mmbawa barang curiannya

Segala sesuatu yg trsembunyi akn Di tmpakan,adapun org2 yg brtakwa Hal itu tdk mnjadikan mreka takut,bhkan Hal itu brlalu bagaikn shalat zhuhur

Penjelasan bahwa orang yg meninggal pd hari jum'at dan org yg meninggal krn sakit perut termasuk mrk yg terhindar dr siksa kubur. Bgmn jika org tsbt penah mlakukan dosa2 besar? Apa ttep slamat dr siksa kubur jg. Blh d perjelas dg dalil yg menyangkut hal tsb.

Insya Allah,,,ia hnya trhindar dri siksa kubur,yg ku tulis pun itu dari Tafseer Qur'an Al-Usyr Al-Akhir.dan untk yg hari jum'at liat " mninggal khusnul khotimah.... Kelanjutannya

5. Syafa'at Uzhma (agung) khusua bagi Nabi Kita shallallahu alaihi wasallam untk semua umat manusia pda hari mahsyar agr Di bebaskn dari malapetaka yg hebat dn segera dihisab.adapun Syafa'at 'Ammah (umum) adlh bagi Nabi shallallahu alaihi wasallam dn selain beliau sprti mngeluarkn org2 yg briman dari neraka dn mngangkat derajat mereka.

6. Hisab (prhitungan),manusia Di hadapkn kpd Rabb mereka dngn brsaf-saf,kmudian diperlihatkn amal perbuatan mereka dn mereka dimintai prtanggung jawabannya.bgitu pula ttg umur,masa muda,harta benda,ilmu,janji,kenikmatan, pendengaran,penglihatan dn hati.

Orang kafir dn munafik akn Di hisab Di hadapan seluruh mahluk.untk mmpermalukan mereka dan menegakan hujjah atas mereka dn agr manusia,bumi,hari dn malam,harta benda,malaikat,dn seluruh anggota bdan mnjadi saksi atas mereka shingga trbuktilah dosa2 mereka dn mereka pun mengakuinya.

Sedangkan orang mukmin,Allah akn mnghisabnya secara brduan dngnnya.maka Allah akn mmberitahukn kpdnya sgala dosanya dn ia pun mengakuinya,shingga ketika ia melihat dirinya psti akn binasa,

Allah brfirman: "Aku telah menutupi dosa2mu itu Di dunia dn Aku mngampuninya bagimu pd hari ini." umat yg prtma x Di hisab adlh umat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dn amalan yg prtma x Di hisab adlah shalat,sdngkn hukum yg prtma x Di putuskn adalah perkara prtumpahan darah.

7. Catatan amal perbuatan manusia pun Di bagikan,maka mereka menerima suatu kitab yg "tdk mninggalkn sesuatu kecil dn tdk (pula) sesuatu besar,melainkan ia mncatat semuanya".(Al-Khafi:49)

8. Mizan (neraca) kmudian amal semua perbuatan mahluk Di timbang untk Di brikn kpd mereka blsannya dngn timbangan yg Hakiki & teliti sekali. Di antara yg mmberatkn neraca yaitu ucapan "ala ilaaha illallah",akhlak yg baik dn dzikir.umat manusia menerima putusan sesuai dngn kebaikan & kejelekan mereka.

9. Haudh (telaga) org2 mukmin mndatangi haudh (telaga).siapa yg meminum dari'y tdk akn prnah merasa haus selamanya.setiap Nabi mmpunyai haudh,yg paling agung adlah haudh Nabi Muhammad,airnya lbih putih dari susu,lbih manis dari madu dn lbih wangi dari minyak kasturi.bejananya trbuat dari emas & perak dn jumlahnya sprti bilangan bintang,panjangnya lbih jauh dari jarak antara kota Ailah Di Yordania dn kota Aden di Yaman.

Air'y mengalir dari sungai al-Kautsar.

10. Ujian bagi Kaum Mukminin pda hari akhir Di padang Mahsyar,org2 kafir mngikuti Tuhan2 yg mereka sembah lalu mngantarkn mereka ke neraka scara brbondong-bondong sprti kawanan binatang ternak,di atas laki2 mereka/diatas wjah2 mereka tdk ad yg trsisa kecuali org2 mukmin dn org2 munafik.

Kemudian datanglah Allah kpd mereka dn brfirman:"Apakh yg kalian tunggu?" mereka mnjawab kami menunggu Rabb kami". Maka mereka mngetahui'y ketika betis-Nya Di singkap lalu mereka brsimpuh sujud kecuali org2 munafik.

Allah sbhanahu wa Ta'ala brfirman:"Pada hari betis di singkapkan dn mereka Di panggil untk brsujud maka mereka tdk kuasa." (Al-Qalam:42) lalu mereka mngikuti Rabb mereka,DIA pun mmbentangkan shirath (titian) untk mereka lewati.org2 mukmin pda saat itu Di beri cahaya oleh-Nya,sdng cahaya org2 munafik Di padamkn.

11. Shirath (Titian) berupa jmbatan yg mmbentang di atas neraka jahanam untk di lewati oleh org2 mukmin mnuju ke surga.Nabi shallallahu alaihi wasallam mnggambarkan bhwa shirath itu:"licin dn mngelincirkan,di sana trdpt kait2 sprti duri pohon Sa'dan,lbih tipis dari rambut dn lbih tajam dari pedang." (HR.Muslim)

Di tmpt inilah org2 mukmin Di beri cahaya sesuai dngn amal perbuatan mereka.yg paling tinggi dari mereka besar cahayanya sprti gunung dn yg paling rendah dari mereka cahayanya trdapat pda ujung jempol kakinya.

Cahaya itu mnyinari mereka shingga melewati shirath sesuai dngn amal perbuatan mereka.ada org mukmin yg melewati shirath itu scepat kedipan mata,ad yg scepat kilat,ad yg scepat angin,ad yg scepat burung,ada pula yg secepat kuda pilihan trbaik dn secepat unta tunggangan."ada yg selamat tnpa cacat,ad yg trgores akn ttapi selamat,dn ada pula yg trjatuh ke dlm neraka jahanam."(Muttafaqun Alaih

12. Neraka yg masuk ke dlm'y adlh org2 kafir,kmudian org2 mukmin yg brdosa,kmudian org2 munafik.dari setiap 1.000 org yg masuk neraka 999 org.Neraka mmpunyai 7 pintu.api'y lbih panas 70x dari api dunia.tubuh org kafir di dlm neraka mnjadi besar agr merasakan pedih'y siksaan.

Maka jarak antara kedua pundak'y mnjdi sejauh prjalanan 3hari,gigi graham'y besar sprti gunung uhud.kulit'y mnjadi tebal,stiap x kulit itu hangus di ganti dngn kulit yg lain supaya mereka merasakan siksaan.

Minuman mereka dri air yg sangat panas dpt mncabik-cabik usus mreka.mkanan mreka adlh pohon Zaqqum (sjenis phon yg tmbuh Di neraka),Ghislin (darah&nanah yg keluar dari daging pnghuni neraka) dn shadid (darah yg brcampur dngn nanah).

Yang paling ringan siksaannya adlh org yg ke 2 tlapak kaki'nya bralaskan bara api sehingga otaknya mndidih.dlm neraka trdapat pmbakaran kulit,pelelehan,pnghangusan,pnyeretan,belenggu dn rantai.

Neraka dasar'y sngat dlm sekali.sekiranya seorng anak yg baru lahir Di lempar ke dlm'y stelah 70 thn baru mncapai dasar trsebut.bahan bakar'y org kafir dn batu,udara'y adlh angin yg sngat panas,naungannya adlah asap yg hitam pekat,pakaiannya api yg memakan sgala sesuatu tnpa mninggalkn sisa.

Ia mnggeram,bergemertak dan mmbakar kulit hingga smpai ke tulang dn jantung

13. Qantharah (jembatan) Nabi shallallahu alaihi wasallam brsabda:"org2 mukmin selamat dari neraka namun mereka Di tahan Di atas Qantharah (jmbatan) antra surga dn neraka.mka ad di antara mereka yg Di puting kebaikan'y dn diberikan kpd org lain karena kezhaliman'y yg prnah dilakukanya ketika di dunia.

Setelah Di bersihkan dn disucikn dari semua itu merekapun Di izinkn masuk surga.Demi Allah yg jika Muhammad brada Di tangan-Nya,sungguh Di antara mereka lbih mngetahui rumah'y Di surga dari pda rumah'y ketika masih di dunia".(HR.Al-Bukhari)

14. SURGA adalah tmpat kediaman bagi org2 mukmin,bangunannya trbuat dri perak dn emas,adukan'y dari minyak kasturi kerikil'y dari mutiara dn batu prmata. Dn debu'y dari za'faran.surga mmpunyai 8 pintu stiap pintu lebar'y sejauh prjalanan 3 hari,akn ttpi pintu trsebut penuh & sesak.

Di surga memiliki 100 tingkatan jarak antara 1 tingkatan dn yg lain'y sprti jarak antra langit dn bumi.tingkatan yg paling tinggi adalah Firdaus dari firdaus inilah mngalir sungai2 surga.atap dari Firdaus ini adalah Arsy Ar-Rahman.

Sungai2 surga adalah madu,susu,khamar yg tdk memabukan,dn air yg mengalir tnpa arus,org mukmin mngalirkn'y sekehendak hati'y.buah'y tiada henti,dpt di petik dari dekat dn mudah.

Di dlm surga ad tenda berongga yg trbuat dari mutiara,lbar'y 60 mil.pda setiap sudut ad pnghuninya mereka itu mulus tubuh'nya,tdk brbulu,tdk brkumis dn mata mereka seakan-akn memakai celak.ttp trjaga kemudaan mereka dn tdk binasa pakaian mereka.

Mereka tdk buang air kecil maupun besar dn juga tdk kotor.sisir mreka trbuat dari emas dn keringat mereka bagaikn minyak kasturi,bidadari surga semuanya cantik jelita.perawan,penuh cinta kasih dn umur mereka sebaya.

Yang prtma x masuk surga adalah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dn para Nabi.ahli Surga yg paling rendah tingkatan'y adlah org yg brangan-angan sesuatu lalu Di beri 10 x darinya.para pelayan surga adlh anak2 muda yg ttp muda. mereka bagaikn mutiara yg brtaburan.

Adapun nikmat surga yg paling Agung adalah melihat Allah dn keridhaan-Nya,srta keabadian. Semua nikmat surga tlh di jelaskn dlm Al-Qur'an trlebih dlm (QS.Ar-Rahman) subhanallah,,,sungguh nikmat jika kita dpt mnjadi pnhuni surga..
Hmm..skr sya mau tnya "shalat apkh yg dpt mmbangunkan kita rmh Di surga.....???"

Semoga kita menjadi salah satu di antara penghuni SYURGA..Aamin ya ALLAHMohon maaf jika ada kekurangan karena kesempurnaan hanya milik ALLAH semata.
Dan bagi saudaraku yang mau menambahkan dgn senang hati di persilahkan..
Salam ukhuwah.............

Wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh moga saja catatn ini ada guna dan dan manfaatnya bagi kita semua Aamiin...
ms@

Enam Perkara Yang Di Rahasiakan Allah SWT.


Assalamu allaikum Wr. Wb.

Saudaraku...

Sahabat Umar ra berpesan :
''Allah ta'ala menyembunyikan enam perkara dalam enam perkara yang lain,yaitu:

1.Allah menyembunyikan keridhaan-Nya dalam ketaatan kepada-Nya.
2.Allah menyembunyikan murka-Nya dalam kemaksiatan seorang hamba-Nya.
3.Allah menyembunyikan Lailatul Qodar dalam bulan Ramadhan.
4.Allah menyembunyikan para Wali di antara manusia.
5.Allah menyembunyikan kematian dalam umur.
6.Allah menyembunyikan 'ash-sholatul wushta' (sholat yang paling utama) dalam sholat lima waktu.''

''Allah merahasiakan enam hal tersebut di dalam enam yang lain maksudnya adalah :

1.Agar manusia bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ketaatan kepada-Nya,sehingga tidak sepantasnya bagi siapapun untuk meremehkan ketaatan meskipun sangat kecil,sebab boleh jadi justru di situlah ada ridha Allah.

2.agar manusia mau menjauhi segala bentuk kemaksiatan dan takut terjerumus ke dalamnya,sehingga tidak sepantasnya bagi siapapun untuk meremehkan kemaksiatan meskipun sangat kecil,sebab boleh jadi justru di situlah murka Allah.

3.agar ada kesungguhan dalam ' menghidupkan 'seluruh hari di bulan Ramadhan,sebab sebagaimana di sebutkan dalam Hadist 'pahala ibadah sunnah di bulan Ramadhan sama dengan pahala ibadah wajib pada bulan selainnya dan agar bersungguh-sungguh dalam mencari Lailatul Qadar sebab nilainya lebih baik dari 1000 bulan ( 83 tahun 4 bulan ).

4.agar manusia mau menghormati setiap orang dan tidak meremehkannya,sebab kalau seseorang meremehkan orang lain,boleh jadi orang yang diremehkannya itu justru wali Allah.

5.agar manusia selalu mempersiapkan diri untuk menyambut kematiannya.dan

6.agar seorang muslim betul - betul memelihara semua sholat wajibnya.

Di ambil dari buku Nashaihul'Ibaad,Muhammad Nawawi al Bantani
Syarh Al-Munabbihaat 'Alal Isti'daad Li Yaumil Ma'aad karya Ibnu Hajar Al-Asqalani

Demikianlah yang dapat aku haturkan semoga saja ada manfaatnya bagi kita semua Aamiin Wassalam.

ms@