Laman

Senin, 13 Januari 2014

NUR ADALAH TENTARA HATI


النور جند القلب كما أن الظلمة جند النفس . فإذا أراد الله أن ينصر عبده أمده بجنود الأنوار وقطع عنه مدد الظلم والأغيار

"Cahaya adalah Tentara kalbu sebagaiman kegelapan adalah tentara nafsu. Ketika Allah hendak menolong hambanya, dia membantunya dengan tentara cahaya dan memutus bantuan kegelapan dan kepalsuan"

Hati bisa sampai kepada Allah karena ada nur (cahaya) yang dibaratkan oleh Ibnu Athaillah sebagi tentara hati, sedangkan kegelapan adalah tentara nafsu. Nur di sini bukanlah sinar seperti matahari tapi nur adalah suatu perasaan dalam hati sehingga manusia bisa merasakan enak dan luasnya perasaan. Kalau nur dan nafsu berperang maka semuanya tergantung kepada Allah. Kalau Allah menghendaki kemenangan nur maka manusia akan menjadi baik dan sebaliknya jika nafsu yang menang maka dia akan menjadi jahat.

Sekarang bagaimana kita mendapatkan nur?

Kita harus menawarkan diri kita kepada Allah sehingga mendapatkan rahmat dari-Nya. Kalau kita telah diberi jalan oleh Allah maka tidak ada yang bisa menghalang-halanginya. Allah telah berfirman dalam surat Al-Ankabut : 69

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (69) [العنكبوت/69]

69. Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

Kalau kita telah diberi rahmat oleh Allah maka kita akan dekat dengan-Nya. Dan ini adalah nikmat yang paling besar. Allah tidak akan merubah nikmat yang telah dia berikan kecuali manusia sendiri yang telah merubah. Sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Anfal : 53

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (53) [الأنفال/53]

53. (siksaan) yang demikian itu adalah Karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang Telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri[621], dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

[621] Allah tidak mencabut nikmat yang Telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan bersyukur kepada Allah.

Kalau kita memperlihatkan diri kita pada Allah maka Allah akan mendekat pada kita. Tapi kalau kita memperlihatkan diri kita pada dunia maka Allah akan menjauh. Oleh karena itu kita tidak boleh meninggalkan Al-Qur'an karena itu adalah kitab Allah yang dapat mendekatkan diri kita dengan-Nya. Dalam surat Fathir ayat 29 telah dijelaskan

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (29)

[فاطر/29]

29. Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,

Di dunia ini kalau kita berdagang maka bisa untung dan bisa rugi. Kalau ingin beruntung maka kita tidak boleh meninggalkan Al-Qur'an, harus membaca sesuai makhrajnya dan jangan lupa mengangan-angan artinya. Kita juga tidak boleh meninggalkan shalat tahajjud sebelum subuh, memperbanyak istighfar dan membaca

سبحان الله والحمد لله ولا اله الا الله هو الله اكبر

sebanyak 100 kali serta sholawat sebanyak 100 kali. Sholawat ini bukanlah untuk mendoakan nabi tapi kitalah yang membutuhkan barokah dari nabi karena kita juga telah tahu bahwa kebaikan adalah hidayah dari nabi dan kita harus membalas budinya. Dalam hadits telah disebutkan

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ عَنْ الطُّفَيْلِ بْنِ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَهَبَ ثُلُثَا اللَّيْلِ قَامَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا اللَّهَ اذْكُرُوا اللَّهَ جَاءَتْ الرَّاجِفَةُ تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ جَاءَ الْمَوْتُ بِمَا فِيهِ جَاءَ الْمَوْتُ بِمَا فِيهِ قَالَ أُبَيٌّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي فَقَالَ مَا شِئْتَ قَالَ قُلْتُ الرُّبُعَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ النِّصْفَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قَالَ قُلْتُ فَالثُّلُثَيْنِ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا قَالَ إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ

سنن الترمذى - (ج 8 / ص 497)

Dalam hadits di atas dijelaskan bahwa sahabat Ubay bertanya kepada Rasulullah : "wahai Rasulullah saya telah memperbanyak sholawat kepada engkau, berapa saya harus membacanya?" Rasulullah menjawab : "terserah kamu" sahabat Ubay menjawab : "seperempat dari waktuku", Rasulullah menjawab : "terserah kamu jika kamu mau menambah maka itu lebih baik" sahabat Ubay menjawab : setengah dari waktuku, Rasulullah menjawab : "terserah kamu jika kamu mau menambah maka itu lebih baik" sahabat Ubay menjawab : dua pertiga dari waktuku", Rasulullah menjawab : "terserah kamu jika kamu mau menambah maka itu lebih baik", sahabat Ubay menjawab : "saya akan menjadikan semua waktuku untuk sholawat kepadamu". Rasulullah menjawab : "jika demikian maka kesusahanmu akan dihilangkan dan dosamu akan diampuni".

Seorang kyai, ulama' dan ustadz harus tahu bagaimana agar dakwahnya berhasil yaitu harus menuju kepada Allah sehingga hati mereka mendapatkan nur ilahi. Pakar-pakar islam bisa berhasil dalam dakwah mereka kalau mereka memiliki nur. Oleh karena itu orang islam sekarang ini mengalami banyak kemunduran karena meninggalkan hati (dari nur ilahi) dan mengedepankan akal mereka. Sekali lagi kita harus tahu bahwa nur adalah tentara hati sedangkan kegelapan adalah tentara nafsu.

Jangan Tinggalkan Dzikir



لا تترك الذكر لعدم حضورك مع الله فيه لان غفلتك عن وجود ذكره أشد من غفلتك في وجود ذكره فعسى ان يرفعك من ذكر مع وجود غفلة الى ذكر مع وجود يقظة ومن ذكر مع وجود يقظة الى ذكر مع وجود حضور ومن ذكر مع وجود حضور الى ذكر مع وجود غيبة عما سوى المذكور وما ذلك علي الله بعزيز

"Janganlah kamu meninggalkan dzikir karena tidak adanya kehadiranmu kepada Allah, kelalaianmu dari dzikir kepada Allah itu lebih berat dari kelalaianmu dalam atau ketika berdzikir kepada Allah, Mungkin saja Allah akan mengangkatmu dari dzikir (disertai adanya lupa) menuju dzikir yang disertai ingat kepada Allah dan dari dzikir yang disertai ingat kepada Allah menuju dzikir yang disertai hadirnya hati dan dari dzikir yang disertai hadirnya hati menuju dzikir yang disertai hilangnya sesuatu selain Allah SWT. Dan semua itu bukanlah hal yang sulit bagi Allah SWT.

Dari hikmah di atas Ibnu Athaillah menjelaskan bahwa dzikir itu ada 4 tahap :
1. lisan لسان )
2. Ingat dalam hati يقظة)
3. Hadirnya Hati حضور)
4. Hilangnya sesuatu selain Allah (غيبة عما سوى المذكور )

Kita dzikir kepada Allah tapi akal kita lupa lalu kita meninggalkannya, maka hal ini adalah suatu kesalahan yang sangat fatal. Lebih baik kita berdzikir walaupun hati kita lupa, karena suatu ketika Allah akan menjadikan kita dalam derajat يقظة lalu menuju derajat حضور dan sampai pada derajat غيبة عما سوى المذكور.

Orang ingat kepada Allah adalah dalam hati bukan di lisan. Hal ini telah dijelaskan Allah dalam surat Al-A'raf ayat 205 :

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ (205)
205. Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

Dalam ayat di atas Allah mentaukidi dengan وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ, jadi kalau kita tidak ingat kepada Allah maka kita termasuk orang yang lupa. Dzikir dengan lisan adalah sebagai wasilah (penghubung) untuk ingat dalam hati. Seperti halnya kita ingin pergi menggunakan sepeda, kita tidak akan sampai pada tujuan kecuali dengan adanya sepeda tersebut.

Dzikir merupakan ibadah yang sangat penting. Dalam hadits yang diriwayatkan Abdullah Ibn Bisr dijelaskan :
ان رجلا قال يا رسول الله ان شرائع الاسلام قد كثرت علي فأخبرني بشيئ اتشبت به قال لا يزال لسانك رطبا من ذكر الله
"Seseorang pernah berkata : Wahai Rasulullah syariat-syariat islam telah banyak maka beritahulah aku tentang suatu amal yang bisa kupegang teguh, Rasulullah bersabda : jangan henti-henti lisanmu untuk selalu basah dari dzikir Allah"

Oleh karena itu Ibnu Athaillah menyuruh kita untuk selalu berdzikir walaupun dengan lisan dan lupa kepada Allah. Kita diperintahkan untuk membaca Al-Qur'an walaupun tidak ingat kepada Allah, karena suatu ketika cahaya Al-Qur'an (نور القران) akan menghilangkan lupa tersebut. Jika lupa tersebut telah hilang maka kita akan paham apa yang kita ucapkan. Walaupun tidak ada kontak (berdzikir tanpa ada rasa takut kepada Allah) tapi kalau kita sudah sampai pada maqam حضور maka kita akan paham dan takut kepada Allah dengan sendirinya. Dan ketika kita telah ingat kepada Allah dengan adanya kontak seperti Rasulullah dan Sahabat maka di mana pun kita berada yang kita ingat hanyalah Allah SWT.
كان رسول الله يذكر الله في كل حال
"Rasulullah SAW selalu ingat kepada Allah dalam semua keadaan"

Dzikir adalah amal ibadah yang sangat penting, banyak sekali dalam Al-Qur'an telah dijelaskan tentang urgensi dzikir bagi seorang hamba. Allah telah berfirman dalam surat Al-Imran ayat 190-191 :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191

190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Dalam hadits nabi juga disebutkan :

سبق المفردون قالوا ما المفردون يا رسول الله ؟ قال المستهترون بذكر الله يضع الذكر عنهم اثقالهم فيأتون الله يوم القيامة خفافا (رواه مسلم والترمذي وغيرهما

"Orang-orang yang memencil dari manusia telah mendahului (dalam beribadah), para sahabat bertanya: Siapakah orang yang memencil dari manusia wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: Yaitu orang-orang yang memperbanyak dan selalu berdzikir kepada Allah, dzikir tersebut menghilangkan dosa-dosanya sehingga mereka datang kepada Allah pada hari kiamat dalam keadaan ringan"

الا انبئكم بخير اعمالكم وازكاها عند مليككم وارفعها في درجاتكم وخير لكم من انفاق الذهب والورق وخير لكم من ان تلقوا عدوكم فتضربوا اعناقهم ويضربوا اعناقكم ؟ قالوا بلى قال : ذكر الله

"Maukah kuberi tahu kalian tentang sebaik-baik dan sebersih-bersih amal kalian dihadapan tuhan, serta lebih tingginya amal dalam mengangkat derajat dan lebih baik dari pada menginfaqkan emas perak serta lebih baik dari pada berperang melawan musuh (kalian memukul leher-leher mereka dan mereka memukul leher-leher kalian). Para sahabat menjawab : ya , Nabi bersabda : Yaitu dzikir kepada Allah"

Hadits di atas menunjukkan bahwa shodaqah ataupun jihad jika tidak disertai dzikir kepada Allah maka tidak ada gunanya. Seperti halnya rumah dan segala isinya dengan kunci rumah tersebut, sudah pasti yang paling bagus adalah rumah dan isinya bukan kunci, namun kita tidak bisa mengambil isi rumah tersebut tanpa menggunakan kuncinya. Amal pun demikian, amal tidak bisa besar pahalanya tanpa disertai dzikir kepada Allah SWT

Lanjutan bab 2.. Permulaan Hidayah



Nabi saw. berdoa:
Allahumma innii a'udzubika min 'ilmi
laa yanfa'u wa qalbin laa yakhsya'
wa 'amalin laa yurfa'u wa du'ain laa
yusma'u

"Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ilmu
yang tak bermanfaat, dari hati yang tidak
khusyuk, dari amal yang tak diterima, dan dari
doa yang tak didengar."

Sabda Nabi saw., "Di malam aku melakukan
Israk, aku melewati sekelompok kaum yang bibir
mereka digunting dengan gunting api neraka.
Lalu aku bertanya, 'Siapa kalian?' Mereka
menjawab, 'Kami adalah orang-orang yang
memerintahkan kebaikan tapi tidak melakukan­
nya, dan mencegah keburukan tapi kami sendiri
mengerjakannya!"
Oleh karena itu, jangan engkau serahkan dirimu
untuk diperdaya oleh jerat tipuannya.

Celaka
sekali bagi orang bodoh, karena ia tidak belajar.
Tapi celaka seribu bagi orang alim yang tak
mengamalkan ilmunya!
Ketahuilah bahwa dalam menuntut ilmu, manusia
terbagi atas tiga jenis:

(1) Seseorang yang menuntut ilmu guna dijadikan
bekal untuk akhirat dimana ia hanya ingin
mengharap rida Allah dan negeri akhirat. Ini
termasuk kelompok yang beruntung;

(2) Seseorang yang menuntut ilmu guna
dimanfaatkan dalam kehidupannya di dunia
sehingga ia bisa memperoleh kemuliaan,
kedudukan, dan harta. Ia tahu dan sadar bahwa
keadaannya lemah dan niatnya hina. Orang ini
termasuk ke dalam kelompok yang berisiko. Jika
ajalnya tiba sebelum sempat bertobat, yang
dikhawatirkan adalah penghabisan yang buruk
( su' al-khatimah ) dan keadaannya menjadi
berbahaya. Tapi jika ia sempat bertobat sebelum
ajal tiba, lalu berilmu dan beramal serta
menutupi kekurangan yang ada, maka ia
termasuk orang yang beruntung pula. Sebab,
orang yang bertobat dari dosanya seperti orang
yang tak berdosa;

(3) Seseorang yang terperdaya oleh setan. Ia
pergunakan ilmunya sebagai sarana untuk
memperbanyak harta, serta untuk berbangga
dengan kedudukannya dan menyombongkan diri
dengan besarnya jumlah pengikut.

Ilmunya
menjadi turmpuan untuk meraih sasaran duniawi.
Bersamaan dengan itu, ia masih mengira bahwa
dirinya mempunyai posisi khusus di sisi Allah
karena ciri-ciri, pakaian, dan kepandaian
berbicaranya yang seperti ulama, padahal ia
begitu tamak kepada dunia lahir dan batin.

Orang dari kelompok ketiga di atas termasuk
golongan yang binasa, dungu, dan tertipu. Ia tak
bisa diharapkan bertobat karena ia tetap
beranggapan dirinya termasuk orang baik.

Ia lalai
dari firman Allah Swt. yang berbunyi,
"Wahai
orang-orang yang beriman. Mengapa kalian
mengatakan apa-apa yang tak kalian
lakukan?!" (Q.S. ash-Shaff: 2).
Ia termasuk
mereka yang disebutkan Rasul saw., "Ada yang
paling aku khawatirkan dari kalian ketimbang
Dajjal." Beliau kemudian ditanya, "Apa itu wahai
Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ulama su' (bu­
ruk)."

Sebab, Dajal memang bertujuan
menyesatkan, sedangkan ulama ini, walaupun
lidah dan ucapannya memalingkan manusia dari
dunia, tapi amal perbuatan dan keadaannya
mengajak manusia ke sana.

Padahal, realita lebih berbekas dibandingkan
ucapan. Tabiat manusia lebih terpengaruh oleh
apa yang dilihat ketimbang mengikuti apa yang
diucap.
Kerusakan yang ditimbulkan oleh
perbuatannya lebih banyak daripada perbaikan
yang disebabkan oleh ucapannya. Karena,
biasanya orang bodoh mencintai dunia setelah
melihat si alim cinta pada dunia.
Ilmu
pengetahuan yang dimilikinya, menjadi faktor
yang menyebabkan para hamba Allah berani ber­
maksiat pada-Nya. Nafsunya yang bodoh tertipu,
tapi masih memberi angan-angan dan harapan
padanya.
Bahka, ia mengajaknya untuk
mempersembahkan sesuatu untuk Allah dengan
ilmunya.

Nafsu tersebut membuatnya
beranggapan bahwa ia lebih baik dibandingkan
hamba Allah yang lain.
Maka dari itu, jadilah engkau termasuk golongan
yang pertama.
Waspadalah agar tidak menjadi
golongan kedua karena betapa banyak orang
yang menunda-nunda, ternyata ajalnya tiba
sebelum bertaubat sehingga akhirnya rugi dan
kecewa.

Lebih dari itu, waspadalah! Jangan
sampai engkau menjadi golongan ketiga karena
engkau betul-betul akan binasa, tak mungkin
selamat dan bahagia.

Apabila engkau bertanya, "Apa permulaan dari
hidayah tersebut sehingga aku bisa menguji
diriku dengannya?" Maka ketahuilah bahwa
hidayah bermula dari ketakwaan lahiriah dan
berakhir dengan ketakwaan batiniah. Tak ada
balasan kecuali dengan takwa dan tak ada
hidayah kecuali bagi orang-orang bertakwa.

Takwa adalah ungkapan yang mengandung
makna melaksanakan perintah Allah Swt. dan
menghindarkan larangan-larangan-Nya. Masing-
masing ada dua bagian. Di sini aku akan
menunjukkan kepadamu secara ringkas aspek
lahiriah dari takwa dalam dua bagian tersebut
secara bersamaan. Aku masukkan bagian ketiga
agar tulisan menjadi lengkap dan cukup.
Allah
tempat meminta pertolongan.

Menjadi Seorang Muslim Sejati

Menjadi seorang muslim berarti selalu tersenyum, betapa pun sulitnya hidup yang dijalani. Menjadi seorang muslim berarti bersikap ramah kepada setiap saudaranya, membantu orang yang lebih tua, yang sedang membutuhkan, atau yang sedang kesulitan. Menjadi seorang muslim juga berarti banyak bersedekah, tidak menjadi orang yang tamak dan rakus.

Seorang muslim harus memiliki semangat yang tinggi untuk menjadi hamba yang shaleh dan bersyukur. Harus senantiasa rendah hati dan tidak tinggi hati. Menjadi seorang muslim berarti menghormati kedua orangtua, tidak meninggikan suara di hadapan mereka, dan mengalah serta menghindar jika ada seseorang yang mengajak berkelahi.

Jadilah muslim dalam setiap tindakanmu, jangan menjadi seorang muslim hanya dalam nama saja. Karena yang pertama adalah karakteristik orang beriman, dan yang kedua adalah seseorang yang memalukan.

...Jadilah muslim dalam setiap tindakanmu, jangan menjadi seorang muslim hanya dalam nama saja...

Seorang muslim dilarang untuk arogan, sombong, membanggakan diri, tidak mengeluarkan kata-kata keji atau kotor. Menjadi seorang muslim harus mengetahui mana yang benar dan mana yang salah berdasarkan aturan-aturan syariat. Seorang muslim harus selalu memperbaiki diri dan bertaubat dari segenap kesalahan. Karena hidup itu begitu singkat.

Menjadi seorang muslim tidak lantas menjadi seorang yang istimewa. Karena seorang muslim pun tetap akan mendapatkan hukuman dan siksa jika melakukan kesalahan dan dosa. Dengan demikian, seorang muslim harus melakukan ibadah dan amalan-amalan shaleh sebagai bekal menghadap Rabbnya.

Selain itu, seorang muslim harus bangkit mendirikan shalat, memohon kepada Rabbnya untuk memberikan cahaya dan jalan terang kepadanya, berjalan dengan penuh kerendahan hati, dan memasrahkan diri untuk hidup dengan aturan-aturan-Nya. Seorang muslim diciptakan Allah penuh kelemahan. Maka dia harus selalu berpaling kepada-Nya setiap kali kehidupannya penuh dengan kekacauan.

Seorang muslim diciptakan Allah untuk menyembah kepada-Nya. Bukan karena Dia membutuhkan kita, karena sekali-kali Dia tidak membutuhkannya. Bahkan seorang muslimlah yang membutuhkan-Nya. Jika dia dengan Allah, maka Dia akan menunjukkan jalan untuknya meniti kehidupan bahagia, penuh harmoni, dan jauh dari pertikaian. Dia mengenalkan kepada kita tujuan penciptaan dan memberikan kita arah kehidupan yang benar.

...Sungguh keliru jika engkau berpikiran bahwa engkau bisa meningkatkan taraf kehidupan lebih baik tanpa harus melibatkan kuasa Allah. Dia akan memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya...

Sungguh keliru jika engkau berpikiran bahwa engkau bisa meningkatkan taraf kehidupan lebih baik tanpa harus melibatkan kuasa Allah. Dia akan memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Orang yang akan mendapatkan petunjuk Allah adalah dia yang bersujud khusyuk menghadap-Nya. Seorang muslim harus menjadi teladan dalam kebaikan, keshalehan, dan ketaatan terhadap setiap hukum Allah. Dia-lah tuhan Yang Maha Esa. Jika engkau tidak menyembah dan beribadah kepada-Nya, maka engkau senantiasa merasa sendiri.

Dia-lah yang menghidupkan kembali manusia dari kematiannya. Maka memohonlah kepada-Nya di malam hari ketika banyak manusia lelap dalam tidur mereka. Berterimakasihlah kepada Allah, atas segala karunia dan anugerah-Nya. Jika engkau kufur, maka siksanya menghambur. Allah menetapkan kita di bumi untuk melihat bagaimana reaksi kita terhadap ayat-ayat-Nya. Namun faktanya, kita terkadang gagal menyadarinya.

Minggu, 12 Januari 2014

[HARGA NAFAS KITA]

-sebuah renungan agar kita bersyukur-

Bernafas, mungkin sudah dianggap biasa dan tak lagi menarik dibahas oleh sebagian orang. Pasalnya, sejak bangun tidur sampai terlelap, manusia tak lepas dari kegiatan mengambil udara di alam bebas ini. Namun, pernahkah Anda memperhatikan bagaimana nikmat Allah ini sebenarnya bernilai miliaran rupiah ? Tak perlu menghitung kegiatan bernafas secara keseluruhan yang melibatkan berbagai organ tubuh, cukup kiranya menjumlah rupiah dari setiap udara yang dihirup.

Sekali bernafas, umumnya manusia memerlukan 0,5 liter udara. Bila perorang bernafas 20 kali setiap menitnya, berarti udara yang dibutuhkan sebanyak 10 liter. Dalam sehari, setiap orang memerlukan 14.400 liter udara.

Lalu, berapa nilai tersebut bila dirupiahkan ? Sebagaimana diketahui, udara yang dihirup manusia terdiri dari beragam gas semisal oksigen dan nitrogen. Keduanya, berturut-turut 20% dan 79% mengisi udara yang ada di sekitar manusia. Bila perbandingan oksigen dan nitrogen dalam udara yang manusia hirup sama, maka setiap kali bernafas manusia membutuhkan oksigen sebanyak 100 ml dan 395 ml lainnya berupa nitrogen. Artinya, dalam sehari manusia menghirup 2880 liter oksigen dan 11.376 liter nitrogen.

Jika harga oksigen yang dijual saat ini adalah Rp 25.000 per liter dan biaya nitrogen per liternya Rp 9.950 (harga nitrogen $ 2.75 per 2,83 liter), maka setiap harinya manusia menghirup udara yang sekurang-kurangnya setara dengan Rp 176.652.165. Dengan kata lain, bila manusia diminta membayar sejumlah udara yang dihirup berarti setiap bulannya harus menyediakan uang sebesar 5,3 Miliar rupiah. Dalam setahun, manusia dapat menghabiskan dana 63,6 Miliar.

Dalam sehari manusia menghirup 2.880 liter Oksigen dan 11.376 liter Nitrogen

2.880 x Rp.25.000,- = Rp. 72.000.000,-

11.376 x Rp. 9.950,- = Rp.113.191.200,-

Total biaya sehari = Rp.185.191.200,-

Biaya bernafas 1 bulan = 30 x 185.191.200,- = Rp.5.555.736.000,-

Untuk 1 tahun 365 hari, maka biaya untuk bernafas selama 1 tahun : 365 x 185.191.200 = Rp.67.594.788.000,-

Jika harus dihargai dengan Rupiah maka Oksigen & Nitrogen yang kita hirup, akan mencapai Rp.185 Juta lebih/ hari/ manusia.

Itu hanya jumlah uang yang diperlukan dalam setahun. Bila dihitung seluruh kebutuhan seumur hidup, pastilah nilainya lebih mencengangkan lagi. Sungguh, Allah maha pemurah atas segala karunia-Nya. Tak terkecuali nikmat Allah dari udara yang digunakan manusia sebagai bahan bernafas setiap saatnya.

Udara yang melimpah ruah di alam adalah bukti kasih sayang Allah yang luar biasa. Sekumpulan gas tersebut diberikan Allah kepada manusia dengan cuma-cuma. Tak sepeser pun dipungut dari manusia atas nikmat yang amat penting tersebut. Oleh karenanya, sudah sepantasnyalah manusia bersyukur kepada Sang Pencipta. Dia-lah Rabb yang mengurus kita di siang dan di malam hari sebagaimana firman Allah, “Katakanlah: ‘Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah?’…”(QS Al Anbiyaa’ 21: 42)

Masihkah kita belum mau BERSYUKUR ? ? !

TATA KRAMA MURID TERHADAP MURSYID


1. Memuliakan gurunya dhohir batin.

2. Yakin bahwa tujuan murid tidak tercapai jika tidak melalui wasilah guru

3. Pasrah, taat, dan rela (ridho) atas perintah guru, dengan mengerahkan kemampuannya baik harta maupun raga.

4. Tidak menentang apa yang dilakukan guru, meskipun secara dzahir tampak haram, namun hendaknya harus dita’wil.

5. Memilih apa yang telah dipilihkan oleh sang guru,baik segi ibadah atau kebiasaan juz-iyyah atau kulliyah.

6. Tidak membuka aib atau cacat guru, meskipun itu sudah tampak di antara masyarakat.

7. Tidak menikahi wanita yang sudah pernah dicintai guru, meskipun sudah tidak menjadi istrinya baik karena thalaq maupun thalaq mati.

8. Tidak meyakini terhadap kekurangan maqam guru.

9. Meninggalkan apa yang dibenci guru, dan melakukan hal yang disukainya.

10. Cepat melaksanakan perintah guru tanpa menunda-nunda, tidak berhenti sebelum terlaksana perintahnya.

11. Murid tidak berkumpul dengan guru kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

12. Tidak boleh menyembunyikan ahwal, getaran hati, masalah yang terjadi, terbukanya hati terhadap alam-alam ghaib, karomah di hadapan guru.

13. Tidak boleh mengambil perkataan guru dihadapan manusia kecuali menurut kadar pemahaman dan akal mereka.

14. Menjaga rabithah guru dalam keadaan ada dan tiadanya. (Tanwir al-Qulub, hlm. 528-531)

Berlari Menuju Allah Azza wa-Jalla


Wahai kaumku, larilah kalian menuju Allah Azza wa-Jalla, larilah dari makhluk, dunia, dan segala selain Dia, secara total jadikan hatimu bagiNya. Tidakkah kalian dengar firman Allah Azza wa-Jalla:

“Ingatlah, segala perkara kembali kepada Allah.” (Asy-Syuro 53)

Anak-anak sekalian, janganlah anda memandang makhluk dengan mata keabadian, tapi pandanglah dengan mata kefanaan. Janganlah anda memandang mereka dengan pandangan derita dan manfaat. Lihatlah mereka dengan pandangan lemah dan hina. Satukan hatimu pada Allah Azza wa-Jalla dan berserahlah padaNya.

Janganlah anda mengigau terhadap sesuatu yang kosong. Dunia dan segala yang muncul di dalamnya adalah kosong. Makhluk dengan segala masalahnya adalah kosong. Hati orang beriman kosong dari segala hal selain Allah Azza wa-Jalla, apalagi bila ia tidak terlibat dalam aktivitas dunia. Bila aktivitas dunia dan keluarganya muncul, ia menolong mereka dan memberikan konsumsi menurut kadar keperluannya, maka hatinya dalam segala situasi dan kondisi tetap kosong dari segalanya selain Allah Azza wa-Jalla.

Ia sama sekali tak terpengaruh oleh apa pun. Tidak pula menuntut perubahan dan pergantian. Karena ia tahu apa yang sudah ditentukan oleh Allah Azza wa-Jalla, tak akan berubah. Bagian baginya sudah selesai, tidak lebih juga tidak kurang, tidak pula minta lebih dan minta kurang, tidak pula minta disegerakan bagiannya atau ditunda bagiannya, tidak pula ingin cepat-cepat datangnya. Sebab ia tahu bahwa waktu sudah ditentukan. Ia dan hamba sepadannya adalah orang-orang yang sehat akalnya.

Sedangkan mereka yang mencari tambah dan minta dikurang, minta dipercepat maupun minta ditunda adalah orang-orang gila. Padahal siapa yang ridho terhadap yang datang dari Allah Azza wa-Jalla, ia mendapatkan pertolongan dalam segala perilaku, stiuasi maupun kondisi, senantiasa ia dicintaiNya dan dikenalNya, lalu sepanjang sisa usianya Allah Azza wa-Jalla menyertainya, dalam menempuh hasrat untuk berserasi denganNya, lalu Dia memberikan pertolongan dan mendekatkan padaNya, dan Dia berfirman: “Akulah Tuhanmu.” (Qs. Thoha 12) di saat ia bimbang dan terputus, sebagaimana firmanNya pada Nabi Musa as, “Akulah Tuhanmu.”

Allah Azza wa-Jalla berfirman kepada Nabi Musa as, secara dzahir, dan berfirman kepada sang arif ini melalui qalbunya secara batin yang bisa didengar sebagai bentuk rahmat dan kasih sayang, serta bentuk kemuliaan bagi NabiNya as.

Mu’jizat para Nabi as, itu nyata secara dzahir, sedangkan karomah para wali itu tersembunyi dalam batin. Merekalah pewaris para Nabi yang terus menerus menegakkan agama Allah Azza wa-Jalla, menjaganya dari syetan manusia dan jin.

Betapa bodohnya kamu terhadap Allah Azza wa-Jalla, lewat para RasulNya anda pun masih tidak mengerti. Hati orang munafik, para Sufi tidak seperti itu. Anda membaca Al-Qur’an tapi tidak mengerti. Apa yang anda baca, amalkan, apa yang anda mengerti amalkan. Jangan sampai di dunia ini anda tanpa akhirat. Apalagi setelah itu anda kontra dengan mereka.

Pakailah akal sehat, beradablah, bertobatlah dan bertanamlah. Anda saat ini tidak punya apa-apa di sisi Allah Azza wa-Jalla, begitu pula di hadapan para RasulNya dan para WaliNya, di hadapan ilmu anda sendiri dan di hadapan makhlukNya.

Disiplinlah dalam bertaubat, diam, tafakkur tentang kematianmu dan situasimu dalam kubur, sampai anda benar-benar mengenal pengetahuan. Amalkan ilmu itu bersama Allah Azza wa-Jalla hingga cahayaNya menerangimu dunia dan akhirat. Terimalah apa yang kukatakan dan seriuslah menjalaninya. Tinggalkan bergantung pada hal-hal yang sudah ditentukan, karena bisa membuatmu bingung. Tinggalkan argumen para pemalas.

Kita tak berdaya dengan ketentuan yang sudah ada. Namun kita tidak lebih dari sekadarnya, berusaha dan beramal, kita tidak mengatakan, Dia berkata dan kami mengatakan, kenapa dan bagaimana. Sungguh kita tidak memasuki pengetahuan Allah Azza wa-Jalla, kita berusaha dan Allah bertindak terhadap apa yang dikehendakiNya. Allah Azza wa-Jalla berfirman:

“Dia tidak ditanya atas apa yang dilakukan, (namun) merekalah yang ditanya (apa yang mereka lakukan)” (Al-Ambiya’ 23)

Bila perkaramu sudah tuntas, dan Allah Azza wa-Jalla mendekatkan hatimu padaNya, zuhudmu di dunia ini dan kecintaanmu pada akhirat benar, maka anda akan menemukan namamu akan tertulis di pintu kedekatanmu pada Tuhanmu Azza wa-Jalla, bahwa si Fulan bin Fulan adalah tergolong hamba Allah yang dimerdekakan. Itu tidak akan berubah, berkurang dan bertambah, hingga syukurmu semakin tambah pada Tuhanmu Azza wa-Jalla, bertambah tindakanmu untuk kebajikan dan kepatuhan di hadapanNya, dan pada saat yang sama anda tidak meninggalkan rasa takut dari hatimu dan tidak pula melemahkan KuasaNya, dan bacalah firmanNya Azza wa-Jalla:

"Allah menghapus apa yang dikehendaki dan menetapkan. Dan di sisiNya adalah Ummul Kitab” (Q.s. Ar-Ra’d: 39) dan “Dia tidak ditanya atas apa yang dikakukan (namun) merekalah yang ditanya (apa yang mereka lakukan )” (Al-Ambiya’: 23)

Janganlah anda terpaku pada yang termaktub, karena Sang Maha Kuasa bisa menghapusnya, Dia juga Kuasa merusaknya. Jadilah orang terus taat, takut, malu, waspada, sampai mati, dan anda tergolong orang yang selamat dari dunia menuju akhirat. Maka disinilah anda aman dari perubahan dan pergantian hai orang yang dipenuhi oleh kebodohan, kemunjafikan, dan ambisi duniawi.

Hai pemakan barang haram bagaimana anda ingin meraih cahaya qalbu dan kebeningan rahasia qalbu, bicara dengan penuh hikmah? Kaum sufi itu berbicara karena harus bicara, tidurnya karena ketiduran, makannya seperti makannya orang sakit, hingga maut menjemputnya. Mereka ini menyerupai malaikat, seperti yang difirmankan oleh Allah Azza wa-Jalla:

“Mereka tidak pernah maksiat kepada Allah atas apa yang diperintahkan pada mereka, dan mereka menjalankan apa yang diperintahkan itu.“ (Qs. At-Tahrim 6).