Laman

Senin, 15 September 2014

JALAN KEMESRAAN

JALAN KEMESRAAN
“Manakala makhluk Allah membuatmu merasa gentar maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah hendak membukakan pintu kemesraan denganNya kepadamu”.
Kemesraan Ilahiyah terkadang muncul ketika seseorang menghadapi kegentaran dengan sesama makhluk yang membuatnya lari kepada Allah, dengan menggantungkan masalahnya kepada Allah Ta’ala dan pada saat rasa butuhnya begitu menguat maka ia dapatkan kemesraan kepada Allah secara total.
Al-Qadhy Abdurrahim al-Qusyairy ra, mengatakan: “Kemesraan adalah kegembiraan rahasia jiwa, tanpa terlibatnya hati dalam urusan makhluk. Kemesraan adalah kehidupan hati dengan kemuliaan qurb (kedekatan).
Kemesraan adalah sejuknya kehidupan dengan keleburan kedekatan padaNya.
Kemesraaan adalah ekstase pada Sang Kekasih dengan tanpa mengintaiNya. Kemesraan di bawah wushul dan di atas angan.”
Diantara Jalan Kemesraan adalah rasa mencekam yang muncul akibat interaksi dengan sesama makhluk yang menimbulkan berbagai masalah dalam hidupnya, sehingga hamba lari dari makhluk menuju Allah Ta’ala. Wujud pelariannya bukannya ia anti terhadap makhluk, tetapi hatinya sama sekali tidak berkait dengan mereka, hanya kepada Allah Azza wa-Jalla.
Terkadang manusia enggan melepaskan bebannya dalam jiwanya, dengan berbagai alasan keluhan, rasa jengkel, rasa dendam, rasa gelisah, yang sengaja dipeliharanya, padahal Allah menunggu para hambaNya untuk segera datang kepadaNya.
Beliau melanjutkan:
“Sepanjang (manakala) dirimu mengucapkan keinginan (melalui doa) sesungguhnya Allah hendak memberimu anugerah.”
Namun ungkapan itu sebagai wujud dari ubudiyah, berdoa dalam rangka meraih rasa butuh kepada Allah Ta’ala. Doa sebagai pertanda, bahwa anugerah Allah bakal tiba, dimana kehendak anda didahului oleh KehendakNya.
Dalam sebuah riwayat dari Abdullah bin Umar ra, bahwa Rasulullah saw, bersabda:
“Siapa yang di izinkan dirinya untuk berdoa kepadaNya, maka pintu-pintu rahmat dibukakan padanya, dan tak ada yang lebih dicintai oleh Allah dari pada memohon kepada Allah ampunan dan kesejahteraan.”
Karena itu sebagai hamba harus berdoa, karena berdoa itu pertanda turunnya anugerah. Sekaligus menjaga rasa butuh kita kepada Allah, bukannya memaksa Allah mengikuti selera kita, karena hakikatnya kehendak Allah menurunkan anugerah itu lebih dahulu ketimbang doa kita.

ISTIQOMAH ADALAH KARUNIA ALLAH


Jika kamu melihat seorang hamba yang telah ditetapkan Allah untuk menjaga wirid, tapi lama sekali datangnya pertolongan Allah kepadanya, maka janganlah meremehkan. Karena sesungguhnya engkau tidak mengerti tanda-tanda orang yang diberi jalan makrifat dan orang-orang yang dicintai-Nya, maka seandainya tidak ada warid (karunia Allah) tentu tidak ada wirid (istiqamah dalam menjalankan ibadah tertentu).

Jika seseorang telah tekun menjalankan amal ibadah – dilakukan secara kontinu – akan tetapi ia melihat tidak ada tanda-tanda keistimewaan baginya, maka janganlah ia meremehkan. Jangan lalu memandang rendah terhadap orang tersebut. Mungkin ia belum tahu akan tanda-tanda orang makrifat dan orang-orang yang dicintai Allah.

Bagi orang yang telah menempuh jalan makrifat, ia tidak butuh keistimewaan. Sesungguhnya ia telah sangat bersyukur kepada Allah, sebab baginya bisa menjalankan wirid (amalan tertentu secara kontinu) merupakan warid (karunia yang sangat besar dari Allah). Dia menyadari secara ikhlas, tanpa adanya warid (karunia) maka ia tak akan mampu menjalankan wirid.

Jadi, ‘kenikmatan’ menurut pandangan orang awam, barangkali berbeda dengan ‘kenikmatan’ yang dirasakan oleh orang-orang makrifat. Bagi orang makrifat, pertolongan Allah yang membuatnya mampu menggerakkan dirinya secara kontinu menjalankan wirid, merupakan karunia yang besar. Sebagaimana orang awam, selalu berpendapat bahwa orang yang sudah menduduki tingkat makrifat selalu memiliki keistimewaan. Selalu berbeda dengan orang awam.

Keistimewaan yang mana? Sesungguhnya keistimewaan orang makrifat itu tidak menurut pandangan manusia, namun menurut pandangan Allah. Sehingga engkau tidak pernah tahu orang yang mendapat keistimewaan atau tidak. Kalaupun ada orang yang mengaku dirinya sudah makrifat dan mempunyai keistimewaan, misalnya doanya makbul mustajab, bisa meramal nasib, mengaku bisa bertemu dengan roh yang sudah mati atau segala macam bualan, maka hal itu merupakan suatu kebohongan.

AKU MERASA RIDHA DENGAN KETENTUAN TUHANKU


(Kisah Teladan Saidina Abu Bakar as-Shiddiq)

Pada suatu hari, Abu Bakar r.a duduk di sisi Rasulullah saw dengan menggunakan jubah yang lusuh, tua, dan robek-robek, bahkan hingga pinggir-pinggirnya disambung dengan pelepah kurma dan ranting pepohonan.

Kemudian Jibril as turun kepada mereka dan berkata, “ Wahai Muhammad, mengapa Abu Bakar mengenakan jubah dengan kayu-kayu?”

Maka Rasulullah saw menjawab pertanyaan itu,”Wahai Jibril, ia telah menginfaqkan semua hartanya untukku sebelum kejadian fathu Mekkah”.

Kemudian Jibril as kembali berkata,”Allah memberikan salam kepadamu dan memerintahkan aku bertanya kepadamu, apakah kamu ridha denganKu dengan kondisi kemiskinanmu ini ataukah kamu merasa marah?”

Mendengar perkataan jibril itu, Rasulullah saw berkata kepada Abu Bakar,”Wahai Abu Bakar, Allah memberikan salam kepadamu dan bertanya kepadamu, apakah kamu ridha denganku dengan kondisi kemiskinanmu ini ataukah kamu merasa marah?”

Maka Abu Bakar r.a menjawab pertanyaan Rasulullah itu dengan suara yang dipenuhi rasa cinta yang meluap-luap, “Bagaimana aku bisa marah dengan Tuhanku?” setelah itu ia melanjutkan kata-katanya, “ Aku merasa ridha dengan ketentuan Tuhanku….Aku merasa ridha dengan ketentuan Tuhanku……Aku merasa ridha dengan semua ketentuan Tuhanku”.

Jumat, 12 September 2014

PANDANGAN YANG MENGANDUNG KEKUATAN


Darwisy (nama lain dari Sufi) yang sedang belajar di kaki seorang guru besar Sufi disuruh menyempurnakan pengetahuannya untuk melatih perasaannya, dan kemudian kembali menemui gurunya untuk mendapat petunjuk lebih lanjut. Dia beristirahat di sebuah hutan dan memusatkan perhatiannya untuk melakukan meditasi batin dengan begitu sungguh-sungguh sehingga hampir tidak ada yang dapat mengganggunya.
Tetapi, dia tidak cukup berkosentrasi sebagaimana yang diharuskan agar seluruh tujuannya tetap tersimpan dalam hatinya, dan semangatnya untuk berhasil dalam latihannya ternyata lebih kuat daripada tekadnya untuk kembali ke sekolah, yang menyuruhnya untuk berlatih meditasi.
Demikianlah sehingga suatu hari, saat dia berkosentrasi pada bathinya, sebuah suara samar-samar tertangkap oleh telingany. Jengkel dengan adanya gangguan ini, Darwisy itu memandang ke atas pada cabang-cabang pohon tempat asal suara tersebut, dan melihat seekor burung. Terlintas dalam pikirannya bahwa burung ini tidak berhak mengganggu latihan yang dilakukan oleh seorang yang begitu tekun. Tidak lama setelah dia memikirkan gagasan ini, burung itu jatuh di kakinya dan mati.
Nah, darwisy itu belum begitu jauh melangkah di jalan Sufi sehingga dia tidak menyadari bahwa selalu ada ujian di sepanjang perjalanannya. Yang dapat dilihatnya pada saat itu hanyalah bahwa dia telah mendapatkan kekuatan sedemikian rupa yang belum pernah dimilikinya sebelumnya. Dia dapat membunuh seekor makhluk hidup; atau ada kemungkinan bahwa burung itu dibunuh oleh sesuatu kekuatan yang ada di luar dirinya, dan semua itu hanya karena makhluk tersebut telah mengganggu ibadahnya!
“Aku pastilah seorang Sufi besar,” pikir sang darwisy.
Dia bangkit dan mulai berjalan menuju kota terdekat.
Ketika tiba disana, dia melihat sebuah rumah yang indah dan datng ke sana untuk minta makanan. Waktu pintu dibuka oleh seorang wanita setelah diketuk olehnya, darwisy itu berkata :
“Perempuan, bawakan aku makanan, sebab aku seorang darwisy yang pandai, dan akan ada pahala bagi mereka yang member makan orang-orang yang melangkah dijalan itu.”
“secepat mungkin. Guru yang agung,” sahut wanita itu, lalu dia menghilang ke dalam.
Tetapi waktu telah berjalan lama sekali, dan wanita itu tetap belum kembali. Semakin lama, darwisy itu semakin menjadi semakin tidak sabar. Ketika wanita itu kembali, dia berkata keapdanya;
“Anggaplah dirimu beruntung karena aku tidak megarahkan kepadamu kemurkaan darwisy, sebab bukankah semua orang tahu musibah akan datang jika dia tidak mematuhi orang yang terpilih?”
“Musibah pasit akan datang, kecuali jika orang itu tidak dapat menolaknya melalui pengalamannya sendiri,” kata wanita itu.
“Betapa beraninya kamu berkata kepadaku seperti itu!” sang darwisy berseru, “ Dan apa yang kamu maksud dengan perkataanmu?”
“Maksudku hanyalah, “kata wanita itu, “bahwa aku bukan seekor burung di hutan.”
Mendengar kata-kata itu, sang darwisy terhenyak. “Kemurkaan tidak mencelakaimu, dan kamu bahkan bisa membaca pikiranku,” katany dengan gugup.
Dan dia memohon agar wanita itu menjadi gurunya.
“Jika kamu telah membangkang pada gurumu yang terdahulu, kamu pasti akan berbuat begitu pula terhadapku,” kata wanita itu.
“Yah, setidak-tidaknya, beritahulah aku bagaimana kamu bisa mencapai tahap pemahaman yang jauh lebih hebat daripadaku,” pinta sang darwisy.
“Dengan mematuhi guruku. Dia menyuruhku untuk mendengarkan kuliahnya dan memperhatikan latihan-latihan yang diberikannya; jika tidak, berarti aku menganggap tugas-tugas duniaku sebagai latihan bagiku. Dengan cara ini, meskipun aku tidak mendengar kabar darinya selama bertahun-tahun, kehidupan batinku akan terus berkembang, dan memberiku kekuatan seperti yang telah kamu lihat tadi, dan banyak lagi yang lainnya.”
Darwisy itu kembali ke tekke gurunya untuk mendapatkan bimbingan lebih lanjut. Sang guru tidak mengizinkannya untuk berbicara apa-apa, tetapi hanya berkata begini saat dia muncul:
“Pergi dan bekerjalah membantu seorang penyapu jalan di kota anu.”
Karena darwisy itu sangat menghormati gurunya, dia pun pergi ke kota itu. Tetapi dia tiba di tempat di mana penyapu jalan tersebut bekerja, dan dia melihatnya berdiri di sana berbalut kotoran, dia segan mendekatinya dan tidak dapat membayangkan dirinya menjadi pelayan orang itu. Saat dia berdiri di sana denga ragu-ragu, penyapu jalan itu berkata, memanggil namanya:
“Lajaward, burung apa yang akan kamu bunuh hari ini? Lajaward, wanita mana yang akan membaca pikiranmu hari ini? Lajaward, tugas sulit apa yang dibebankan gurumu kepadamu besok?”
Lajaward bertanya kepadanya:
“Bagaimana kamu bisa melihat ke dalam pikiranku? Bagaimana seorang penyapu jalan melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan para petapa yang saleh? Siapa kamu?”
Penyapu jalan itu berkata :
“Sebagian peretapa yang saleh dapat melakukan hal seperti ini, tetapi mereka tidak melakukannya untukmu sebab hal-hal lain yang harus mereka lakukan. Di matamu aku tampak seperti seorang penyapu jalan sebab memang itulah pekerjaanku. Karena kamu tidak menyukai pekerjaannya, kamu tidak menyukai orangnya. Karena kamu membayangkan bahwa kesucian berarti mencuci dan berjongkok dan bermeditasi, kamu tidak akan pernah menemuinya. Aku berhasil mencapai kemampuanku yang sekarang sebab aku tidak pernah memikirkan tentang kesucian: yang kupikirakan hany kewajiban. Jika orang mengajarkan kewajiban kepada seorang guru, atau kewajiban untuk melakukan sesuatu yang menakutkan, berarti mereka mengajarkan kepadamu kewajiban, tolol! Yang dapat kamu lihat hanyalah ‘kewajiban kepada manusia, ‘ atau ‘kewajiban pada kuil.’ Karena kamu tidak berkonsentrasi pada kewajiban, berarti kamu tersesat.”
Dan Lajaward, ketika dia mampu melupakan bahwa dia hanyalah pelayan seorang penyapu jalan, dan sadar bahwa menjadi pelayan berarti menjalankan kewajiban, menjadi orang yang kita kenal sebagai Syaikh ‘Abdurrazzaq Lajawardi dari Badakhshan yang panda, pembawa mukjizat, dan pembawa wangi yang langka.

Rabu, 10 September 2014

DUNIA SUFI YANG MISTERI 2


Seperti yang saya kemukakan pada tulisan yang lalu banyak pendapat atau kesan yang kurang tepat atau keliru tentang bagaimana seharusnya kehidupan para sufi. Salah satu pandangan negatif orang terhadap kaum sufi adalah tentang Zuhud yang merupakan salah satu maqam yang harus dilewati oleh para sufi. Tentang zuhud sekilas telah pernah saya bahas dalam tulisan Zuhud Yang Sebenarnya dan disini saya ingin menulis dua pendapat yang berbeda tentang zuhud.
Pendapat pertama, zuhud berarti berpaling dan meninggalkan sesuatu yang disayangi yang bersifat material atau kemewahan duniawi dengan mengharapkan dan menginginkan suatu wujud yang lebih baik dan bersifat spiritual atau kebahagiaan akhirati. Pengertian pertama ini akhirnya berkembang ekstrim sehingga zuhud berarti benci dan meninggalkan sama sekali sesuatu yang bersifat duniawiyah.
Pendapat kedua, zuhud tidak berarti semata-mata tidak mau memiliki harta dan tidak suka mengenyam nikmat duniawi. Tapi zuhud sebenarnya adalah kondsi mental yang tidak mau terpengaruh oleh harta dan kesenangan duniawi dalam pengabdian diri kepada Allah SWT.
Saya pribadi lebih condong kepada pengertian kedua dengan alasan selain Al Qur’an dan Hadist yang tidak menyuruh kita kearah pengertian zuhud yang ekstrim pertama, juga kehidupan para sahabat zaman Rasulullah dan kehidupan sahabat semasa Khulafaur Rasyidin. Sahabat-sahabat utama Rasulullah seperti Abu Bakar AsShiddiq, Usman bin Affan dan Abdul Rahman bin ‘Auf adalah orang-orang yang kaya. Walaupun mereka kaya, mereka tetap hidup sebagai orang zuhud, yaitu hidup sederhana, dimana kekayaan mereka tidak akan mengurangi apalagi memalingkan pengabdian diri mereka kepada Allah SWT.
Pengertian zuhud yang kedua ini sesuai dengan firman Allah SWT :
“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri“. (Q.S. Al Hadid : 23).
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) kampong akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik padamu.” (Q.S. Al Qashash : 57).
Pengertian kedua ayat ini adalah bahwa kita manusia tidak dapat memisahkan diri sama sekali dari harta dan segala bentuk kesenangan duniawi yang di ridhai Allah, sebab kita masih hidup di alam dunia. Pengertian lain adalah bahwa harta benda tidak dilarang untuk dimiliki, tetapi harta benda tersebut tidak boleh mempengaruhi atau memperbudak seseorang, sehingga menghalangi yang bersangkutan untuk menghampirkan dirinya kepada Allah SWT, atau dengan kata lain, sikap seorang sufi tidak boleh diperbudak oleh harta duniawi, tetapi hata duniawi itu dijadikan persembahan, pengabdian ubudiyah lebih banyak lagi kepada Allah SWT.
Yang menjadi pertanyaan, “Apa sebab terjadinya sikap zuhud ini, dan kenapa muncul anggapan bahwa sufi identik dengan sikap zuhud?”. Harus di akui bahwa Kajian dan gerakan zuhud ini memang muncul pertama kali di kalangan pengamal tasawuf pada akhir abad pertama hijriah. Gerakan ini muncul sebagai reaksi terhadap pola hidup mewah para khalifah dan keluarganya serta pembesar Negara yang merupakan dampak dri kekayaan yang diperoleh kaum muslim dalam pembebasan, penaklukan negeri-negeri Suriah, Mesir, Mesopotamia (Irak) dan Persia.
Semasa Dinasti Umayah pola hidup sederhana berubah menjadi pola hidup mewah dikalangan para Khalifah dan pembesar-pembesar Negara dan timbulnya jurang pemisah antara rakyat dan penguasa. Pola hidup mewah dan kondisi mental yang demikian tidak sesuai dengan ajaran dan amal agama seperti yang dicontohkan olh Rasulullah dan para sahabat. Disinilah awal timbulnya gerakan Zuhud sebagai wujud untuk menentang sikap dari Para penguasa yang hidup dalam kemewahan.
Tasawuf sebagai ajaran Islam harus sesuai dengan Al Qur’an dan Hadist sebagai rujukan semua orang Islam dan kajian-kajian tasawuf yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Hadist harus dipertanyakan kebenarannya walaupun meninjau Al Qur’an tidak selalu harus dari segi tekstual semata.
Islam menganjurkan pemeluknya untuk sunguh-sungguh mencari rizki dan tentang keutamaan mencari rizki anda bisa membuka Al Qur’an Surat : Al Jumu’ah ayat 10, Al Muzammil ayat 20 dan surat Al Baqarah ayat 198, dan ini menjadi petunjuk bagi kita tentang keutamaan mencari rizki agar hidup menjadi lebih baik di dunia ini.
Diriwayatkan bahwa Nabi Isa a.s melihat seorang laki-laki, maka Beliau besabda, “Apakah yang kamu kerjakan?”. Ia menjawab, “Saya beribadat”. Isa bersabda,”Siapakah yang menanggungmu?”. Ia jawab, “Saudaraku”. Isa bersabda,”Saudaramu lebih baik ibadahnya daripada kamu”.
Dalam sejarah, para sufi pada umumnya bekerja sendiri untuk mencari nafkahnya dalam berbagai bidang usaha, sehingga ada diantara mereka itu diberikan julukan-julukan sesuai bidang usahanya itu. Seperti Al Hallaaj (Pembersih kulit kapas), Al Qashar (Tukang Penatu), Al Waraak (Tukang Kertas), Al Kharraaz (Penjahit Kulit Hewan), Al Bazzaaz (Perajin Tikar Daun Kurma), Az Zujaaji (Pengrajin dari kaca) dan Al Farraa’ (Penyamak Kulit).
Tidak terkecuali juga sufi zaman sekarang, mereka tidak melupakan kewajibannya mencari nafkah diberbagai usaha menghidupi dirinya dan keluarganya. Menjadi seorang sufi tidak harus miskin dan melarat namun jika Tuhan memberikan anda cobaan dalam bentuk kemiskinan berarti Dia senang dengan kondisi tersebut dan anda harus tetap mensyukuri apapun yang diberikan oleh-Nya. Kemulyaan seseorang dimata Tuhan tidak terletak pada banyak atau sedikit harta tapi bagaimana hatinya selalu bisa mengingat Allah siang dan malam, sunyi dan ramai, susah dan senang sehingga kondisi apapun tidak mempengaruhi dirinya untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya.
Gambaran Sufi yang saya kemukakan diatas mudah-mudahan bisa sedikit menghapus prasangka buruk orang-orang yang tidak paham dengan tasawuf atau orang-orang yang belum pernah belajar tasawuf namun sudah merasa menjadi sufi dengan kesusahan dan kemiskinannya. Anda menjadi miskin dan susah tidak berarti anda menjadi seorang sufi begitu juga anda menjadi kaya juga tidak berarti anda menjadi sufi Karena kesufian itu terletak di hati. Lanjutan dari tulisan ini akan kami ceritakan tentang tokoh-tokoh sufi yang kehidupannya kaya raya bahkan ada yang sangat kaya yang kekayaannya mengalahkan seorang Raja. Mudah2an tulisan ini bermanfaat hendaknya, salam.

ENERGI AL QUR'AN


Membahas tentang sesuatu yang tidaklah kasat mata sebagaimana bahasan tentang energi memang sangatlah rumit. Hal ini dikarenakan sebagian besar umat manusia selalu ingin melihat pembuktian melalui panca inderanya. Sementara kita memahami bahwa panca indera kita memiliki keterbatasan yang pastilah tidak akan mampu untuk mendeteksi keberadaan sesuatu yang di luar ambang batas toleransi panca indera kita.
Sebagai contoh kita tidak akan mampu mendeteksi atau menerima pancaran frekwensi televisi atau radio hanya dengan panca indera kita. Maka pastilah dibutuhkan suatu mekanisme tertentu yang kemudian diwujudkan dalam piranti peralatan sehingga mata ataupun telinga kita mampu menerima pesan-pesan yang ada dalam frekwensi televisi atau radio tersebut.
“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, tetapi mereka berpaling daripadanya (tidak mau memikirkannya)” … (QS Yusuf 12 :105).
Maka demikian juga dengan Al-Qur’an yang sebenarnya bukan hanya yang termaktub di dalam kitab yang dibukukan saja. Tetapi kalau kita melihatnya dengan kacamata ilmu pengetahuan maka sebenarnya Al-Qur’an dari awal dunia berkembang sampai akhir dunia nantinya tetap menggema di seluruh alam semesta. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimanakah caranya supaya kita mampu menerima frekwensi Al-Qur’an yang konon katanya sangatlah dahsyat energinya.
“Dan kami menurunkan dari sebagian Al-Qur’an yaitu sesuatu yang merupakan obat dan rahmat untuk orang-orang mukmin” … (QS Al-Isra’ 17:82).
“Kalau sekiranya dengan Al-Qur’an dapat diperjalankan gunung-gunung (memindah-mindahkan gunung) atau dibelah-belah bumi atau orang mati diajak berbicara/dapat berbicara (niscaya mereka tiada juga mau beriman)” … (QS Ar-Ra’du 13:31).
“Andaikata Al-Qur’an Kami turunkan di atas bukit/gunung, maka engkau akan melihat bahwa gunung itu tunduk dan terbelah karena takut terhadap Allah, dan perumpamaan itu Kami jadikan untuk manusia agar mereka memikirkannya” … (QS Al-Hasyir 59:21).
Dari ayat-ayat di atas jelaslah sudah bahwa begitu dahsyat energi yang dibawa oleh Al-Qur’an tersebut. Dan diterangkan juga bahwa hanya hati hamba Allah yang tenang, lunak, dan damai saja yang mampu untuk menerimanya. Jadi hanya manusia saja yang diizinkan oleh Allah yang sudah barang tentu dengan dilengkapi piranti-piranti yang telah ditanamkan oleh Allah di dalam manusia tersebut.
Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah mengapa saat ini Islam sudah tidak lagi berenergi apabila Al-Qur’an sebagai senjatanya ? Pasti ada yang salah dalam mengurai Al-Qur’an sehingga pada akhirnya salah dalam tata cara pelaksanaannya. Energi Al-Qur’an saat ini hanya dirasakan oleh segelintir orang yang memang dengan sungguh-sungguh mau merisetnya.
Marilah kita awali dengan memandang Al-Qur’an (kitab) sebagai buku petunjuk untuk menguak rahasia yang lebih luas dari hakikat Al-Qur’an sebagai bentuk energi yang sangat dahsyat.
Perumpamaan :
Buku atau kitab Einstein yaitu KITAB TEORI ATOM. Kitab tersebut mempunyai energi yang dahsyat hingga mampu meluluhlantakkan kota Hiroshima dan Nagasaki dalam perang dunia ke 2. Lalu bagaimana caranya mengeluarkan energi dari KITAB TEORI ATOM tersebut ?
Maka yang harus dilakukan adalah :
Membacanya sebagai awal untuk mengambil informasi yang terdapat dalam kitab tersebut dan menganalisa serta mengambil intisari makna dari kitab tersebut sehingga akhirnya didapatkan rumusan-rumusan dari yang sederhana sampai yang kompleks yang sudah barang tentu harus didampingi oleh ahlinya(tahap ILMUL YAQIN).
Menguji coba rumusan-rumusan tersebut dengan serentetan proses kimiawi sehingga menghasilkan suatu hasil yang dinamakan bom nuklir (tahap AINUL YAQIN).
Meledakkan bom tersebut sehingga mendapatkan pembuktian tentang kedahsyatan energi KITAB TEORI ATOM (tahap HAQQUL YAQIN).
Maka apabila kita memakai model pendekatan yang sama terhadap Al-Qur’an maka pastilah kita akan mencapai apa yang dinamakan tahap HAQQUL YAQIN (bukan katanya tapi kataku). Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat 3 komponen dalam mengurai energi Al-Qur’an yaitu :
Buku panduan yaitu Al-Qur’an (kitab).
Pendamping yang merupakan pakar Al-Qur’an yaitu Ulama Ahli Dzikir (Pembimbing).
Periset yang menyelidiki bahasan tersebut di atas yaitu Murid.
Pertanyaannya kenapa ahli dzikir ?
“Bertanyalah kepada ahli dzikir apabila kamu sekalian tidak mengetahui. Kami utus mereka itu dengan membawa keterangan dan kitab-kitab” … (QS An-Nahl 16:43-44).
Jadi apakah inti permasalahan yang dapat kita cermati dengan contoh di atas adalah bahwa selama ini ada kesalahan dalam memperlakukan Al-Qur’an. Bukan tak ada gunanya membaca bahkan dengan lagu yang indah-indah. Tetapi lebih daripada itu bahwa sebenarnya ada hal yang lebih penting yaitu mengerjakan apa yang diperintahkan dari bacaan tersebut sehingga sampailah kita pada fase akhir yaitu membuktikan sendiri kedahsyatan energi Al-Qur’an. Al-Qur’an berisi perintah-perintah kerja dan petunjuk-petunjuk teknis bagaimana cara berhubungan dengan Allah.
“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada-Ku dan carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada-Ku dan bersungguh-sungguhlah pada jalan itu, maka kamu pasti menang” … (QS Al-Maidah 5:35)
Sehingga benarlah bahwa Al-Qur’an membawa energi yang begitu dahsyat karena ternyata yang akan kita dapatkan adalah kedekatan dengan dzat yang Maha Perkasa Allah SWT yang hasilnya akan membawa kemenangan demi kemenangan di muka bumi. Menurut hemat saya tiada urusan yang lebih penting dibandingkan urusan kedekatan kita dengan Allah, karena hanya dengan mendekat kepada Allah adalah kunci keselamatan dunia dan akhirat kita. Tiada kamus kalah bagi Allah dan para hamba-Nya.
Selanjutnya marilah kita kupas bersama bahasan tentang bagaimana petunjuk-petunjuk teknis yang terdapat dalam Al-Qur’an. Dalam firman-Nya disebutkan bahwa diperintahkan atas kita untuk bertanya kepada ahli dzikir apa-apa yang tidak kita ketahui.
Dan di berbagai ayat disebutkan juga tentang perintah Allah untuk mencari manusia yang dipilih Allah sehingga beliau bisa kita jadikan ikutan dan pemberi petunjuk berdasar pengalamannya. Sesuai dengan firman-Nya :
“Bertanyalah kepada ahli dzikir apabila kamu sekalian tidak mengetahui. Kami utus mereka itu dengan membawa keterangan dan kitab-kitab” … (QS An-Nahl 16:43-44).
“Allah memberi cahaya langit dan bumi. Umpama cahaya-Nya, seperti sebuah lubang di dinding rumah, di dalamnya ada pelita. Pelita itu di dalam gelas. Gelas itu seperti bintang yang berkilauan …… Cahaya berdampingan dengan cahaya. Allah menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya kepada cahaya-Nya itu. Allah menunjukkan beberapa contoh untuk manusia” … (QS An-Nur 24:35).
“Mereka itulah orang-orang yang telah ditunjuki Allah, sebab itu ikutilah petunjuk mereka itu” … (QS Al-An’am 6:90).
“Kami jadikan di antara mereka itu beberapa orang ikutan untuk menunjuki manusia perintah Kami dengan sabar serta yakin dengan keterangan Kami” … (QS AS-Sajdah 32:24).
“Barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka mereka itu bersama orang-orang yang diberikan Allah nikmat kepada mereka, yaitu nabi-nabi, orang-orang yang benar, orang-orang yang syahid dan orang-orang yang sholeh. Alangkah baiknya berteman dengan mereka itu” … (QS An-Nisa’ 4:69).
“Tunjukilah (hati) kami jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri kenikmatan sedang mereka itu bukan orang yang dimurkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat” … (QS Al-Fatihah 1:6-7).
Maka semakin teranglah sudah bahwa petunjuk teknisnya adalah mencari manusia sebagai pembimbing yang dapat memberikan penjelasan lebih rinci tentang petunjuk teknis yang sudah termaktub dalam Al-Qur’an. Karena yang akan kita riset adalah sesuatu yang tidak kasat mata maka bila tanpa pembimbing niscaya kita akan dibimbing oleh bisikan hati kita yang meragukan nilai kebenarannya sebagaimana firman-Nya :
“Aku berlindung kepada Tuhan ….. dari pada kejahatan bisikan syetan. Yang membisikkan dalam hati manusia …” … (QS An-Naas 114:1-6)
Sebelum kita bahas lebih mendalam maka ada baiknya kita urai dulu unsur manusia sehingga masalah akan semakin mudah kita teliti bersama. Seperti termaktub di dalam Al-Qur’an bahwa manusia tersusun atas 3 komponen dasar yaitu :
Jasad
Jiwa / Nafs
Ruh
Ayat-ayat yang berhubungan :
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya Ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi kamu sedikit sekali bersyukur” … (QS As-Sajdah 32:9).
“Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” … (QS Asy-Syam 91:7-10)
Dari ayat-ayat di atas jelaslah dari ke 3 komponen tersebut memiliki dzat yang berbeda-beda tetapi menjadi dalam satu wadah yaitu jasad. Bagimana memahaminya ? Sebenarnya mudah saja dengan meneliti ayat di bawah ini :
“Allah memberi cahaya langit dan bumi. Umpama cahaya-Nya, seperti sebuah lubang di dinding rumah, di dalamnya ada pelita. Pelita itu di dalam gelas. Gelas itu seperti bintang yang berkilauan …… Cahaya berdampingan dengan cahaya. Allah menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya kepada cahaya-Nya itu. Allah menunjukkan beberapa contoh untuk manusia” … (QS An-Nur 24:35).
Maka dipakailah cahaya sebagai gambaran. Ruh adalah cahaya yang ditiupkan Allah hanya ke dalam tubuh manusia. Maka berawal qolbu manusia adalah Baitullah. Karena di qolbulah ditiupkan ruh tersebut. Qolbu digambarkan sebagaimana gelas yang berada di dalam rumah atau tubuh. Apabila gelas tersebut berada di dalam lautan jiwa yang bersih dan bening berkilauan maka cahayanya akan memancar ke seluruh tubuh dan pada akhirnya akan memancar keluar dari tubuh. Maka jiwa-jiwa yang lain akan melihat pancaran cahaya tersebut dengan bentuk sama dengan tubuh yang dihuni.
Sebagaimana cahaya yang tak berbentuk, tetapi apabila cahaya tersebut berada di dalam lampu neon maka kita akan melihat bentuk cahaya itu seperti lampu neon.
Maka itulah pentingnya keberadaan sang pembimbing yang akan menjadi tolok ukur kita dalam membedakan mana cahaya iblis dan mana cahaya Allah dalam usaha kita untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga kita tidak tersesat dengan mengikuti bisikan setan yang menghembus dari dalam hati. Karena jelaslah bahwa wajah rasulullah dan para pewarisnya tidak akan mampu ditiru oleh iblis, setan ataupun jin. Karena setiap unsur di dalam tubuhnya telah tersinari oleh cahaya Ruh yang suci yang pada firman-Nya disebutkan sebagai ruh-Nya.
Maka sebenarnya setiap manusia didalam qolbunya telah tertanam ruh-Nya yang merupakan satu-satunya komponen di dunia ini yang bisa menghubungkan kita dengan Allah. Tetapi dalam proses dari lahir sampai remaja hingga dewasa qolbu tersebut terhijab oleh lautan jiwa yang kotor sehingga cahaya-Nya semakin tertutup dan akhirnya redup. Maka apabila jiwa yang telah rusak tadi sering berkumpul dengan jiwa yang telah tenang/suci (sang pembimbing), maka lambat laun jiwa yang kotor tersebut akan menjadi suci sehingga cahaya ruh yang terhijab tadi kembali bersinar dan siap untuk menyinari jiwa-jiwa yang lain atau menjadi rahmat bagi sekitarnya. Sebagaimana kawat biasa apabila bersentuhan dengan kawat berlistrik maka kawat biasa tersebut bisa menyengat. Tapi apabila dipisahkan maka kawat tersebut akan menjadi kawat biasa.
Maka dapat disimpulkan selama jiwa-jiwa tersebut tidak memutuskan tali dengan jiwa sang pembimbing yang telah tenang/suci maka cahaya Allah akan selalu terpancar di setiap sel tubuh kita dikarenakan hanya jiwa yang tenang/suci yang bisa mengimbaskan ketenangan/kesucian.
“Hai jiwa (nafs) yang tenang (suci). Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan (hati) ridha dan diridhai (Tuhan). Maka masuklah kamu dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah kalian ke dalam surga-Ku” … (QS AL-Fajr 89:27-30)
Hubungan tersebut tidak terputus walau sang pembimbing telah berpulang. Karena tiada yang mati bagi para pejuang sabilillah. Dengan syarat sang murid pernah bertemu secara lahir dengan sang pembimbing di saat masih hidup.
“Janganlah kamu katakan mati orang-orang yang terbunuh pada sabilillah, bahkan mereka hidup, tetapi kamu tiada sadar” … (QS Al-Baqarah 2:154).

Dan dalam sebuah riwayat Rasulullah menyatakan bahwa kondisi dzikir Abu Bakar yang merupakan perang terhadap hawa nafsu adalah perang jantan dan kondisi Ali yang mengikuti perang badar adalah perang betina.
Dari uraian di atas semoga dapat membangkitkan semangat kita bersama untuk semakin memperkuat keyakinan dan harapan kita akan hari perjumpaan kita dengan-Nya. Karena tiada lagi yang bisa kita perbuat selain menggantungkan harapan kita kepada Allah dan sehingga pada saatnya nanti kita akan dipertemukan dengan utusan-Nya yang akan membimbing kita kehadirat-Nya.
“Barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka mereka itu bersama orang-orang yang diberikan Allah nikmat kepada mereka, yaitu nabi-nabi, orang-orang yang benar, orang-orang yang syahid dan orang-orang yang sholeh. Alangkah baiknya berteman dengan mereka itu” … (QS An-Nisa’ 4:69).
Dan semoga apabila Allah telah berkenan untuk mempertemukan kita dengan utusan-Nya maka kita diberikan kekuatan untuk bersabar di jalan tersebut. Sehingga pada akhirnya terciptalah umat percontohan yang benar-benar mengamalkan Al-Qur’an tanpa paksaan dikarenakan ketiga komponennya sudah harmonis dengan ruh-Nya yang pada gilirannya akan menampilkan sosok-sosok manusia yang menyandang sifat-sifat Allah. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya dan Allah tiada pernah mengingkari akan janji-Nya.

UJIAN MURID


Junaid Al-Baghdadi, seorang tokoh sufi, mempunyai anak didik yang amat ia senangi. Santri-santri Junaid yang lain menjadi iri hati. Mereka tak dapat mengerti mengapa Syeikh memberi perhatian khusus kepada anak itu.
Suatu saat, Junaid menyuruh semua santrinya untuk membeli ayam di pasar untuk kemudian menyembelihnya. Namun Junaid memberi syarat bahwa mereka harus menyembelih ayam itu di tempat di mana tak ada yang dapat melihat mereka. Sebelum matahari terbenam, mereka harus dapat menyelesaikan tugas itu. Satu demi satu santri kembali ke hadapan Junaid, semua membawa ayam yang telah tersembelih.
Akhirnya ketika matahari tenggelam, murid muda itu baru datang, dengan ayam yang masih hidup. Santri-santri yang lain menertawakannya dan mengatakan bahwa santri itu tak boleh melaksanakan perintah Syeikh yang begitu mudah.
Junaid lalu meminta setiap santri untuk menceritakan bagaimana mereka melaksanakan tugasnya. Santri pertama berkata bahwa ia telah pergi membeli ayam, membawanya ke rumah, lalu mengunci pintu, menutup semua jendela, dan membunuh ayam itu. Santri kedua bercerita bahwa ia membawa pulang seekor ayam, mengunci rumah, menutup jendela, membawa ayam itu ke kamar mandi yang gelap, dan menyembelihnya di sana. Santri ketiga berkata bahwa ia pun membawa ayam itu ke kamar gelap tapi ia juga menutup matanya sendiri. Dengan itu, ia fikir, tak ada yang dapat melihat penyembelihan ayam itu. Santri yang lain pergi ke hutan yang lebat dan terpencil, lalu memotong ayamnya. Santri yang lain lagi mencari gua yang amat gelap dan membunuh ayam di sana.
Tibalah giliran santri muda yang tak berhasil memotong ayam. Ia menundukkan kepalanya, malu karena tak dapat menjalankan perintah guru, “Aku membawa ayam ke rumahku. Tapi di rumahku tak ada tempat di mana Dia tak melihatku. Aku pergi ke hutan lebat, tapi Dia masih bersamaku. Bahkan di tengah gua yang teramat gelap, Dia masih menemaniku. Aku tak boleh pergi ke tempat di mana tak ada yang melihatku.”
Sang Guru menjelaskan bahwa murid inilah yang sudah benar-benar sampai kepada pelajarannya dimana dia selalu diawasi oleh Allah SWT.
Mungkin sebagian kita sudah pernah mendengar cerita diatas dan tentu saja kita semua mempunyai kesimpulan yang berbeda. Cerita di atas mengajarkan kita bahwa di dalam menuntut ilmu mempunyai adap dan aturan tersendiri salah satunya kita dilarang iri terhadap sesama murid. Bisa jadi dalam pandangan kita Guru memberikan perhatian lebih terhadap seorang murid dan kita dilarang untuk cemburu. Guru sangat mengetahui bagaimana harus memperlakukan murid-muridnya dan Guru membagi kasih sayang yang sama kepada seluruh murid, cuma pandangan kita melihat seolah-olah ada yang lebih disayang.
Seorang Guru akan tahu jenis apa calon murid yang datang kepadanya, apakah jenis keledai atau kuda sembrani, sejenis ayam sayur atau ayam bangkok dan Guru akan mendidik sesuai dengan bakat masing-masing. Kita tidak boleh iri dan dengki kepada saudara kita.
Suatu hari pernah seorang Guru Sufi memberikan suatu rahasia kepada muridnya dalam pertemuan empat mata dan berpesan, “Rahasia ini jangan kau beritahukan kepada siapapun”. Kemudian dihari lain Guru Sufi memberikan rahasia kepada murid yang lain dan kembali berpesan, “Rahasia ini jangan kau beritahukan kepada siapapun”. Begitulah seterusnya sehingga seluruh murid diberitahukan rahasia itu. Antara sesama murid tidak ada yang tahu bahwa saudaranya juga diberitahukan rahasianya yang sama.
40 hari kemudian dari kesemua murid mulai berubah tingkah lakunya. Ada yang bersikap sombong karena merasa dia murid yang terbaik dan cuma dia yang mengetahui rahasia Guru. Murid yang lain memberitahukan kepada kawannya, “Aku diberitahukan rahasia hebat oleh Guru dan tidak boleh aku ungkapkan kepada siapapun”. Diantara banyak murid hanya sedikit yang bersikap seperti biasa dan tetap melaksanakan tugas-tugas yang diberikan Guru, bersikap santun dan hormat kepada saudaranya. Dan murid yang sedikit inilah dalam pandangan Guru telah berhasil melampaui ujiannya.
Mari kita tumbuhkan kesadaran dalam diri kita bahwa tidak ada yang hebat dari murid Guru, yang hebat adalah Guru sedangkan murid akan tetap murid. Kalaupun diberikan suatu kekeramatan itu tidak lain merupakan bentuk kasih Guru kepada kita dan kita tidak akan mampu menduduki maqam itu secara abadi.
Banyak murid-murid Guru yang tergelincir disini, merasa sudah hebat dan bisa melakukan apapun akhirnya tanpa sadar durhaka kepada Guru. Godaan terberat dan terhebat bukan berasal dari Iblis akan tetapi Ujian terberat itu ketika Tuhan langsung menguji kita dengan berkata, “Wahai hambaKu, kau sudah boleh begini, kau sudah boleh begitu, kau sudah mencapai maqam itu, kau sudah jadi wali anu”. Disinilah terkadang silapnya sang murid menurutinya tanpa menanyakan berulang kali kepada Tuhan sebagaimana Nabi Ibrahim bertanya berulang kali saat diperintahkan menyembelih anaknya.
Penutup tulisan ini saya mengutip nasehat Syekh Naqsyabandi kepada murid-muridnya mudah-mudahan berguna untuk kita semua:
“Suatu saat kalian akan berada pada maqam sangat tinggi, bisa terbang, kebal, bisa menghilang dan bahkan kalian bisa menghidupkan orang mati. Akan tetapi ingatlah wahai muridku, bahwa itu bukan maqam kalian tapi itu maqam Gurumu, kalau kalian tetap disitu maka tanpa sadar akan disusupi oleh syetan. Kembalikan semua itu kepada-Nya dan teruslah merendah dan menjadi murid yang baik. Guru itu adalah murid yang siddiq dari Gurunya”.