Khodam Jin Dan Khodam Malaikat
Yang dimaksud khodam dalam uraian ini adalah penjaga yang didatangkan
dari dunia ghaib untuk manusia, bukan untuk benda bertuah. Didatangkan
dari rahasia urusan Ilahiyah yang terkadang banyak diminati oleh
sebagian kalangan ahli mujahadah dan riyadlah tetapi dengan cara yang
kurang benar.
Para ahli mujahadah itu sengaja berburu khodam
dengan bersungguh-sungguh. Mereka melakukan wirid-wirid khusus, bahkan
datang ke tempat-tempat yang terpencil. Di kuburan-kuburan tua yang
angker, di dalam gua, atau di tengah hutan. Ternyata keberadaan khodam
tersebut memang ada, mereka disebutkan di dalam al-Qur’an al-Karim.
Diantara mereka ada yang datang dari golongan Jin dan ada juga dari
Malaikat, namun barangkali pengertiannya yang berbeda. Karena khodam
yang dinyatakan dalam Al- Qur’an itu bukan berupa kelebihan atau linuwih
yang terbit dari basyariah manusia yang disebut “kesaktian”, melainkan
berupa sistem penjagaan dan perlindungan yang diperuntukkan bagi
orang-orang yang beriman dan beramal shaleh sebagai buah ibadah yang
mereka lakukan.
Sistem perlindungan tersebut dibangun oleh
rahasia urusan Allah s.w.t yang disebut “walayah”, dengan itu supaya
fitrah orang beriman tersebut tetap terjaga dalam kondisi sebaik-baik
ciptaan. Allah s.w.t menyatakan keberadaan khodam-khodam tersebut dengan
firman-Nya: ﻟَﻪُ ﻣُﻌَﻘِّﺒَﺎﺕٌ ﻣِﻦْ ﺑَﻴْﻦِ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻭَﻣِﻦْ ﺧَﻠْﻔِﻪِ
ﻳَﺤْﻔَﻈُﻮﻧَﻪُ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﺎ ﻳُﻐَﻴِّﺮُ ﻣَﺎ
ﺑِﻘَﻮْﻡٍ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻐَﻴِّﺮُﻭﺍ ﻣَﺎ ﺑِﺄَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ “Bagi manusia ada
penjaga-penjaga yang selalu mengikutinya, di muka dan di belakangnya,
menjaga manusia dari apa yang sudah ditetapkan Allah baginya.
Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka
merubahnya sendiri”. (QS. ar-Ra’d; 13/11)
Lebih jelas dan detail
adalah sabda Baginda Nabi s.a.w dalam sebuah hadits shahihnya: ﺣَﺪِﻳﺚُ
ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ
ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺇِﺫَﺍ ﺃَﺣَﺐَّ ﻋَﺒْﺪًﺍ
ﺩَﻋَﺎ ﺟِﺒْﺮِﻳﻞَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺇِﻧِّﻲ ﺃُﺣِﺐُّ ﻓُﻠَﺎﻧًﺎ ﻓَﺄَﺣِﺒَّﻪُ ﻗَﺎﻝَ
ﻓَﻴُﺤِﺒُّﻪُ ﺟِﺒْﺮِﻳﻞُ ﺛُﻢَّ ﻳُﻨَﺎﺩِﻱ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﺇِﻥَّ
ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳُﺤِﺐُّ ﻓُﻠَﺎﻧًﺎ ﻓَﺄَﺣِﺒُّﻮﻩُ ﻓَﻴُﺤِﺒُّﻪُ ﺃَﻫْﻞُ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ
ﻗَﺎﻝَ ﺛُﻢَّ ﻳُﻮﺿَﻊُ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻘَﺒُﻮﻝُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭ ﻣﺴﻠﻢ *
“Hadits Abi Hurairah r.a berkata: Rasulullah s.a.w bersabda:
“Sesungguhnya Allah apabila mencintai seorang hamba, memanggil malaikat
Jibril dan berfirman : “Sungguh Aku mencintai seseorang ini maka
cintailah ia”. Nabi s.a.w bersabda: “Maka Jibril mencintainya”. Kemudian
malaikat Jibril memanggil- manggil di langit dan mengatakan: “Sungguh
Allah telah mencintai seseorang ini maka cintailah ia, maka penduduk
langit mencintai kepadanya. Kemudian baginda Nabi bersabda: “Maka
kemudian seseorang tadi ditempatkan di bumi di dalam kedudukan dapat
diterima oleh orang banyak”. (HR Bukhori dan Muslim )
Dan juga
sabdanya: ﺣَﺪِﻳﺚُ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ : ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ
ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ ﻳَﺘَﻌَﺎﻗَﺒُﻮﻥَ ﻓِﻴﻜُﻢْ
ﻣَﻠَﺎﺋِﻜَﺔٌ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻭَﻣَﻠَﺎﺋِﻜَﺔٌ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﻭَﻳَﺠْﺘَﻤِﻌُﻮﻥَ ﻓِﻲ
ﺻَﻠَﺎﺓِ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ ﻭَﺻَﻠَﺎﺓِ ﺍﻟْﻌَﺼْﺮِ ﺛُﻢَّ ﻳَﻌْﺮُﺝُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺑَﺎﺗُﻮﺍ
ﻓِﻴﻜُﻢْ ﻓَﻴَﺴْﺄَﻟُﻬُﻢْ ﺭَﺑُّﻬُﻢْ ﻭَﻫُﻮَ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﻬِﻢْ ﻛَﻴْﻒَ
ﺗَﺮَﻛْﺘُﻢْ ﻋِﺒَﺎﺩِﻱ ﻓَﻴَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺗَﺮَﻛْﻨَﺎﻫُﻢْ ﻭَﻫُﻢْ ﻳُﺼَﻠُّﻮﻥَ
ﻭَﺃَﺗَﻴْﻨَﺎﻫُﻢْ ﻭَﻫُﻢْ ﻳُﺼَﻠُّﻮﻥَ “Hadits Abi Hurairah r.a Sesungguhnya
Rasulullah s.w.t bersabda: “Mengikuti bersama kalian, malaikat penjaga
malam dan malaikat penjaga siang dan mereka berkumpul di waktu shalat
fajar dan shalat ashar kemudian mereka yang bermalam dengan kalian naik
(ke langit), Tuhannya bertanya kepada mereka padahal sesungguhnya Dia
lebih mengetahui keadaan mereka: di dalam keadaan apa hambaku engkau
tinggalkan?, mereka menjawab: mereka kami tinggalkan sedang dalam
keadaan shalat dan mereka kami datangi sedang dalam keadaan shalat”. (HR
Buhori dan Muslim)
Setiap yang mencintai pasti menyayangi. Sang
Pecinta, diminta ataupun tidak pasti akan menjaga dan melindungi orang
yang disayangi. Manusia, walaupun tanpa susah-susah mencari khodam,
ternyata sudah mempunyai khodam-khodam, bahkan sejak dilahirkan ibunya.
Khodam-khodam itu ada yang golongan malaikat dan ada yang golongan Jin.
Diantara mereka bernama malaikat Hafadhoh (penjaga), yang dijadikan
tentara- tentara yang tidak dapat dilihat manusia.menurut sebuah riwayat
jumlah mereka 180 malaikat. Mereka menjaga manusia secara bergiliran di
waktu ashar dan subuh, hal itu bertujuan untuk menjaga apa yang sudah
ditetapkan Allah s.w.t bagi manusia yang dijaganya. Itulah sistem
penjagaan yang diberikan Allah s.w.t kepada manusia yang sejatinya akan
diberikan seumur hidup, yaitu selama fitrah manusia belum berubah. Namun
karena fitrah itu terlebih dahulu dirubah sendiri oleh manusia, hingga
tercemar oleh kehendak hawa nafsu dan kekeruhan akal pikiran, akibat
dari itu, matahati yang semula cemerlang menjadi tertutup oleh hijab
dosa-dosa dan hijab-hijab karakter tidak terpuji, sehingga sistem
penjagaan itu menjadi berubah.
KHODAM JIN DAN KHODAM MALAIKAT
‘Setan’,menurut istilah bahasa Arab berasal dari kata syathona yang
berarti ba’uda atau jauh. Jadi yang dimaksud ‘setan’ adalah makhluk yang
jauh dari kebaikan. Oleh karena hati terlebih dahulu jauh dari
kebaikan, maka selanjutnya cenderung mengajak orang lain menjauhi
kebaikan. Apabila setan itu dari golongan Jin, berarti setan Jin, dan
apabila dari golongan manusia, berarti setan manusia. Manusia bisa
menjadi setan manusia, apabila setan Jin telah menguasai hatinya
sehingga perangainya menjelma menjadi perangai setan. Rasulullah s.a.w
menggambarkan potensi tersebut dan sekaligus memberikan peringatan
kepada manusia melalui sabdanya: ﻟَﻮْﻻَ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴْﻦَ
ﻳَﺤُﻮْﻣُﻮْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻗُﻠُﻮْﺏِ ﺑَﻨِﻰ ﺁَﺩَﻡَ ﻟَﻨَﻈَﺮُﻭْﺍ ﺍِﻟَﻰ ﻣَﻠَﻜُﻮْﺕِ
ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ “Kalau sekiranya setan tidak meliputi hati anak Adam,
pasti dia akan melihat alam kerajaan langit”. Di dalam hadits lain
Rasulullah s.a.w bersabda: ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥَ ﻟَﻴَﺠْﺮِﻯ ﻣِﻦِ ﺍﺑْﻦِ
ﺁَﺩَﻡَ ﻣَﺠْﺮَﻯ ﺍﻟﺪَّﻡِ ﻓَﻀَﻴِّﻘُﻮْﺍ ﻣَﺠَﺎِﺭﻳَﻪُ .ِﻉْﻮُﺠْﻟﺎﺑِ
“Sesungguhnya setan masuk (mengalir) ke dalam tubuh anak Adam mengikuti
aliran darahnya, maka sempitkanlah jalan masuknya dengan puasa”. Setan
jin menguasai manusia dengan cara mengendarai nafsu syahwatnya.
Sedangkan urat darah dijadikan jalan untuk masuk dalam hati, hal itu
bertujuan supaya dari hati itu setan dapat mengendalikan hidup manusia.
Supaya manusia terhindar dari tipu daya setan, maka manusia harus mampu
menjaga dan mengendalikan nafsu syahwatnya, padahal manusia dilarang
membunuh nafsu syahwat itu, karena dengan nafsu syahwat manusia tumbuh
dan hidup sehat, mengembangkan keturunan, bahkan menolong untuk
menjalankan ibadah. Dengan melaksanakan ibadah puasa secara teratur dan
istiqomah, di samping dapat menyempitkan jalan masuk setan dalam tubuh
manusia, juga manusia dapat menguasai nafsu syahwatnya sendiri, sehingga
manusia dapat terjaga dari tipudaya setan. Itulah hakekat mujahadah.
Jadi mujahadah adalah perwujudan pelaksanaan pengabdian seorang hamba
kepada Tuhannya secara keseluruhan, baik dengan puasa, shalat maupun
dzikir. Mujahadah itu merupakan sarana yang sangat efektif bagi manusia
untuk mengendalikan nafsu syahwat dan sekaligus untuk menolak setan.
Allah s.w.t berfirman: ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺍﺗَّﻘَﻮْﺍ ﺇِﺫَﺍ ﻣَﺴَّﻬُﻢْ ﻃَﺎﺋِﻒٌ
ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺗَﺬَﻛَّﺮُﻭﺍ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻫُﻢْ ﻣُﺒْﺼِﺮُﻭﻥَ “Sesungguhnya
orang-orang yang bertakwa, bila mereka ditimpa was-was dari setan,
mereka berdzikir kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat”.
(QS.al- A’raaf.7/201) Firman Allah s.w.t di atas, yang dimaksud dengan
lafad “Tadzakkaruu” ialah, melaksanakan dzikir dan wirid-wirid yang
sudah diistiqamahkan, sedangkan yang dimaksud “Mubshiruun”, adalah
melihat.
Maka itu berarti, ketika hijab-hijab hati manusia sudah
dihapuskan sebagai buah dzikir yang dijalani, maka sorot matahati
manusia menjadi tajam dan tembus pandang. Jadi, berdzikir kepada Allah
s.w.t yang dilaksanakan dengan dasar Takwa kepada-Nya, di samping dapat
menolak setan, juga bisa menjadikan hati seorang hamba cemerlang, karena
hati itu telah dipenuhi Nur ma’rifatullah. Selanjutnya, ketika manusia
telah berhasil menolak setan Jin, maka khodamnya yang asalnya setan Jin
akan kembali berganti menjadi golongan malaikat. ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ
ﺭَﺑُّﻨَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺛُﻢ
َّ ﺍﺳْﺘَﻘَﺎﻣُﻮﺍ ﺗَﺘَﻨَﺰَّﻝُ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢُ
ﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔُ ﺃَﻟَّﺎ ﺗَﺨَﺎﻓُﻮﺍ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺤْﺰَﻧُﻮﺍ ﻭَﺃَﺑْﺸِﺮُﻭﺍ
ﺑِﺎﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗُﻮﻋَﺪُﻭﻥَ(30)ﻧَﺤْﻦُ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺅُﻛُﻢْ ﻓِﻲ
ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻓِﻲ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓِ ﻭَﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣَﺎ ﺗَﺸْﺘَﻬِﻲ
ﺃَﻧْﻔُﺴُﻜُﻢْ ﻭَﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣَﺎ ﺗَﺪَّﻋُﻮﻥَ “Sesungguhnya orang-orang
yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan
pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka
(dengan mengatakan) “Janganlah kamu merasa takut janganlah kamu merasa
sedih dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah
dijanjikan Allah kepadamu”(30)Kamilah pelindung- pelindungmu di dalam
kehidupan di dunia maupun di akherat”. (QS. Fushilat; 41/30-31) Firman
Allah s.w.t di atas yang artinya: “Kami adalah pelindung-pelindungmu di
dalam kehidupan di dunia maupun di akherat”, itu menunjukkan bahwa
malaikat- malaikat yang diturunkan Allah s.w.t kepada orang yang
istiqamah tersebut adalah untuk dijadikan khodam- khodam baginya.
Walhasil, bagi pengembara-pengembara di jalan Allah, kalau pengembaraan
yang dilakukan benar dan pas jalannya, maka mereka akan mendapatkan
khodam- khodam malaikat. Seandainya orang yang mempunyai khodam Malaikat
itu disebut wali, maka mereka adalah waliyullah. Adapun pengembara yang
pas dengan jalan yang kedua, yaitu jalan hawa nafsunya, maka mereka
akan mendapatkan khodam Jin. Apabila khodam jin itu ternyata setan maka
pengembara itu dinamakan walinya setan.
Jadi Wali itu ada dua
(1) Auliyaaur-Rohmaan (Wali- walinya Allah), dan (2)
Auliyaausy-Syayaathiin (Walinya setan). Allah s.w.t menegaskan dengan
firman-Nya: ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﻟِﻲُّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﻳُﺨْﺮِﺟُﻬُﻢْ ﻣِﻦَ
ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺅُﻫُﻢُ
ﺍﻟﻄَّﺎﻏُﻮﺕُ ﻳُﺨْﺮِﺟُﻮﻧَﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ
ﺃَﺻْﺤَﺎﺏُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻫُﻢْ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺧَﺎﻟِﺪُﻭﻥَ “Dan orang-orang yang tidak
percaya, Wali-walinya adalah setan yang mengeluarkan dari Nur kepada
kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”.
(QS.al-Baqoroh.2/257) Dan juga firman-Nya: ﺇِﻧَّﺎ ﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ
ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦَ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺀَ ﻟِﻠَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﺎ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ “Sesungguhnya kami
telah menjadikan setan-setan sebagai Wali-wali bagi orang yang tidak
percaya “. (QS. Al- A’raaf; 7/27) Seorang pengembara di jalan Allah,
baik dengan dzikir maupun wirid, mujahadah maupun riyadlah, kadang-
kadang dengan melaksanakan wirid-wirid khusus di tempat yang khusus
pula, perbuatan itu mereka lakukan sekaligus dengan tujuan untuk berburu
khodam-khodam yang diingini.
Khodam-khodam tersebut dicari dari
rahasia ayat-ayat yang dibaca. Semisal mereka membaca ayat kursi
sebanyak seratus ribu dalam sehari semalam, dengan ritual tersebut
mereka berharap mendapatkan khodamnya ayat kursi. Sebagai pemburu
khodam, mereka juga kadang-kadang mendatangi tempat-tempat yang
terpencil, di kuburan- kuburan yang dikeramatkan, di dalam gua di tengah
hutan belantara. Mereka mengira khodam itu bisa diburu di tempat-tempat
seperti itu. Kalau dengan itu ternyata mereka mendapatkan khodam yang
diingini, maka boleh jadi mereka justru terkena tipudaya setan Jin.
Artinya, bukan Jin dan bukan Malaikat yang telah menjadi khodam mereka,
akan tetapi sebaliknya, tanpa disadari sesungguhnya mereka sendiri yang
menjadi khodam Jin yang sudah didapatkan itu. Akibat dari itu, bukan
manusia yang dilayani Jin, tapi merekalah yang akan menjadi pelayan Jin
dengan selalu setia memberikan sesaji kepadanya. Sesaji-sesaji itu
diberikan sesuai yang dikehendaki oleh khodam Jin tersebut. Memberi
makan kepadanya, dengan kembang telon atau membakar kemenyan serta apa
saja sesuai yang diminta oleh khodam- khodam tersebut, bahkan dengan
melarungkan sesajen di tengah laut dan memberikan tumbal.
Mengapa hal tersebut harus dilakukan, karena apabila itu tidak
dilaksanakan, maka khodam Jin itu akan pergi dan tidak mau membantunya
lagi. Apabila perbuatan seperti itu dilakukan, berarti saat itu manusia
telah berbuat syirik kepada Allah s.w.t. Kita berlindung kepada Allah
s.w.t dari godaan setan yang terkutuk. Memang yang dimaksud khodam
adalah “rahasia bacaan” dari wirid-wirid yang didawamkan manusia. Namun,
apabila dengan wirid-wirid itu kemudian manusia mendapatkan khodam,
maka khodam tersebut hanya didatangkan sebagai anugerah Allah s.w.t
dengan proses yang diatur oleh-Nya. Khodam itu didatangkan dengan
izin-Nya, sebagai buah ibadah yang ikhlas semata-mata karena pengabdian
kepada-Nya, bukan dihasilkan karena sengaja diusahakan untuk mendapatkan
khodam.
Apabila khodam-khodam itu diburu, kemudian orang
mendapatkan, yang pasti khodam itu bukan datang dari sumber yang
diridlai Allah s.w.t, walaupun datang dengan izin-Nya pula. Sebab,
tanda-tanda sesuatu yang datangnya dari ridho Allah, di samping datang
dari arah yang tidak disangka-sangka, bentuk dan kondisi pemberian itu
juga tidak seperti yang diperkiraan oleh manusia.
Demikianlah
yang dinyatakan Allah s.w.t: ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺘَّﻖِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﺠْﻌَﻞْ ﻟَﻪُ
ﻣَﺨْﺮَﺟًﺎ(2)ﻭَﻳَﺮْﺯُﻗْﻪُ ﻣِﻦْ ﺣَﻴْﺚُ ﻟَﺎ ﻳَﺤْﺘَﺴِﺐُ “Dan barangsiapa
bertakwa kepada Allah. Allah akan menjadikan jalan keluar baginya (untuk
menyelesaikan urusannya) (2) Dan memberikan rizki kepadanya dari arah
yang tidak terduga”. (QS. ath-Tholaq; 65/2-3) Khodam-khodam tersebut
didatangkan Allah s.w.t sesuai yang dikehendaki-Nya, dalam bentuk dan
keadaan yang dikehendaki-Nya pula, bukan mengikuti kehendak hamba-Nya.
Bahkan juga tidak dengan sebab apa-apa, tidak sebab ibadah dan mujahadah
yang dijalani seorang hamba, tetapi semata sebab kehendakNya. Hanya
saja, ketika Allah sudah menyatakan janji maka Dia tidak akan
mengingkari janji-janji-Nya.
Ilmu Khodam
Khodam adalah
merupakan manifestasi energi pintar yang terlahir dari sebuah doa,
mantra dan tatalaku ritual spiritual tertentu yang mengandung tingkatan
konsentrasi yang tinggi kepada sang pencipta alam dibarengi doa doa atau
cita – cita agar terkabulnya suatu maksud dan tujuan.
khodam adalah bahasa arab yang memiliki arti yaitu pembantu. ( khodam = pembantu wanita. khadam = pembantu pria ).
Kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh orang yang melakukan olah batin
seperti puasa, bertapa, semedi, membaca mantra atau wirid amalan
tertentu sebetulnya adalah dari Khodam. Disadari ataupun tidak, setiap
olah batin yang dilakukan manusia selalu menimbulkan energi-energi yang
memiliki kesadaran/kecerdasan sendiri. Inilah peran dari khodam.
Mereka diciptakan Tuhan sebagai perantara yang membawa kekuatan
supranatural bagi orang-orang yang dikehendaki.Sebagian orang
beranggapan bahwa memiliki khodam (atau ilmu spiritual yang ada
khodamnya) adalah sebuah kesyirikan atau dosa besar. Bagi kami, pendapat
ini adalah pendapat yang “membabi buta” karena pengertian khodam sangat
luas. Sedangkan khodam sendiri terdiri dari berbagai jenis yang tidak
mampu disamakan. Berikut ini pembahasan panjang mengenai khodam.
Istilah “khodam” berasal dari bahasa arab yang berarti pembantu,
penjaga atau pengawal yang selalu mengikuti. Dalam bahasa arab pembantu
rumah tangga, sopir, tukang kebun dan satpam juga mampu disebut sebagai
khodam. Namun dalam konteks ilmu spiritual, istilah “khodam” digunakan
khusus untuk menyebut makhluk gaib yang mengikuti pemilik ilmu spiritual
atau yang mendiami suatu benda pusaka. Dalam konsep spiritual jawa,
khodam disebut sebagai “prewangan” yang artinya adalah orang yang
membantu.
Khodam dalam konsep mistik islam dan jawa diyakini
sebagai “jiwa” suatu ilmu. Khodam memberi energi pada pemilik ilmu
sehingga mampu melakukan hal-hal diluar kewajaran. Tentu saja ada khodam
yang minta imbalan ada pula yang “gratis” karena khodam ini datang
karena kehendak Allah, bukan “dipaksakan” oleh manusia. Yang dimaksud
“dipaksakan” adalah khodam ini datang karena seseorang melakukan ritual
pemanggilan yang ditujukan untuk meminta tolong kepada khodam dari
golongan jin.
Mengenai siapakah sebernarnya khodam, para
spiritualist berpendapat berbeda-beda. Kelompok pertama mengatakan
khodam adalah jenis makhluk tertentu yang khusus diciptakan Tuhan
sebagai “pembawa” kekuatan bagi para pemilik ilmu dan benda pusaka.
Kelompok ini tidak punya dalil yang kuat untuk mendukung pendapatnya,
jadi pendapat ini boleh kita abaikan.
Kelompok kedua berpendapat
bahwa khodam hanyalah sebutan atau julukan bagi Jin, Qorin dan Malaikat
yang membantu manusia. Seperti istilah “setan” yang sebetulnya bukanlah
jenis mahluk, melainkan hanya julukan bagi jin atau manusia yang suka
berbuat kejahatan. Dalam kitab Al-Quran pun diterangkan bahwa Tuhan
hanya menciptakan hambanya yang berakal dalam tiga bentuk saja, yaitu:
Malaikat, Manusia dan Jin.
Ustadz Firman sendiri lebih meyakini pendapat kedua ini.
Mengapa Khodam membantu manusia?
Karena khodam terdiri dari tiga jenis makhluk yaitu Jin, Qorin dan
Malaikat, maka alasan mereka bersedia membantu manusia juga
berbeda-beda. agar Anda lebih paham, kami jelaskan satu per satu dibawah
ini:
1. Khodam Jin
Pelu Anda ketahui bahwa kehidupan sosial
jin sama seperti manusia. Mereka terdiri dari bermacam-macam ras dan
kelompok yang sangat kompleks. Setiap jin punya sifat dan kebutuhan yang
berbeda-beda seperti pada manusia. Begitu pula dalam dalam membantu
manusia, mereka punya alasan yang berbeda-beda. Namun secara garis
besar, ada 5 alasan mengapa jin mau membantu manusia.
#Ingin
menyesatkan manusia. Kelompok jin ini adalah tentara ilbis yang
ditugaskan untuk membantu para tukang sihir dan penganut ilmu hitam.
Orang yang ingin memiliki khodam jenis ini harus melakukan perbuatan
atau ritual yang melanggar aturan Tuhan. Misalnya untuk medapatkan ilmu
sihir mereka harus menyediakan sesaji, makan darah, membunuh, melakukan
dosa besar dan sebagainya. Jin jenis ini sangat senang jika manusia yang
didampinginya jauh dari agama.
Bukan hanya penganut ilmu hitam saja
yang dibantu oleh jin tentara iblis ini. Para penganut thariqoh (orang
yang menapaki jalan spiritual menuju Tuhan) dan orang soleh yang kurang
waspada pun disesatkan oleh jin golongan ini. Awalnya jin mengaku
sebagai guru spiritual yang sudah meninggal atau malaikat yang akan
membimbingnya dan membantu segala usahanya. Seketika seorang ahli
thariqoh pun memiliki banyak “kesaktian”. Namun perlahan-lahan jin
cerdas ini memperdaya ahli thariqoh hingga dia melanggar aturan agama.
#Ingin mendapat keuntungan dari manusia. Khodam Jin jenis ini selalu
meminta imbalan dalam bentuk sesaji, persembahan, korban, bahkan ada
yang mengadakan perjanjian, jika sudah sampai waktu yang ditentukan
pemilik ilmu bersedia menjadi budak/pengikut di alam jin. Orang yang
menjadi budak jin, meniggalkan jasadnya, kemudian jiwanya dibawa ke alam
jin. Sehingga dia tampak mati bagi orang awam, padahal dia sebetulnya
belum mati. Nanti ketika sudah sampai batas usianya, malaikat maut baru
menjemputnya untuk dihadapkan kepada Tuhan. Oleh karena itu jangan
pernah berniat untuk mendapatkan pesugihan atau “harta gaib” yang datang
tiba-tiba dengan bantuan jin.
Keadaan ini sesuai dengan Al-Quran
surah Al-Jin ayat 6, yang terjemahnya: Dan bahwasanya ada beberapa orang
laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa
laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan
kesalahan.
#Karena
mencintai manusia. Kadang kami menemui ada jin yang mengikuti manusia
dengan alasan cinta. Cinta yang kami maksud adalah seperti cinta pria
kepada wanita. Umumnya jin yang seperti ini selalu berusaha membantu
manusia yang dicintainya, sekaligus mengganggu. Bentuk bantuannya mampu
berupa kemampuan mengobati, perlindungan dari kejahatan, kemampuan
mengetahui rahasia orang dan sebagainya. Sedangkan gangguannya biasanya
berupa: merasa diikuti seseorang, sulit mencintai, hubungan cinta selalu
gagal, kesurupan/kerasukan dan sering mimpi bersetubuh. Bahkan kadang
ada jin yang datang dalam wujud manusia untuk menyetubuhi manusia dalam
keadaan sadar.
#Persahabatan.
Bagi sebagian orang yang memiliki ilmu spiritual tertentu, bersahabat
dengan jin bukanlah hal mustahil. Idealnya hubungan persahabatan adalah
saling membantu dan berbagi. Namun kenyataannya hubungan persahabatan
dengan jin mampu menguntungkan atau merugikan Anda, bahkan kadang juga
menyesatkan Anda. hal ini sama jika kita bersahabat dengan sesama
manusia. Jika sahabat kita adalah orang baik, maka kita pun terbawa
menjadi baik. Tapi jika kita berteman dengan penjahat, maka kita pun
mampu dirugikan atau malah bergabung menjadi penjahat. Semua itu
tergantung sifat dan kepribadian Anda. Hubungan persahabatan inilah yang
menjadi dasar
MENGENALI KHODAM
Setiap manusia sesungguhnya
sudah dibekali Allah s.w.t dengan teman (qorin) dari golongan Jin,
bahkan sejak manusia dilahirkan oleh ibunya. Rasulullah s.a.w telah
menegaskan hal itu dengan sabdanya:
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ
وَقَدْ وَكَّلَ قََرِيْنَهُ مِنَ الْجِنِّ . قَاُلْوا أَاَنْتَ يَارَسُوْلَ
اللهِ . قَالَ: وَإِيَّايَ إِلاَّ أَنَّ اللهَ قَدْ أَعَانَنِي عَلَيْهِ
فَأَسْلَمَ فَلاَ يَأْمُرُنِي إِلاَّ بِالْخَيْرِ . رواه مسلم.
“Tidaklah dari salah satu diantara kalian kecuali sesungguhnya Allah
telah mewakilkan temannya dari jin, mereka bertanya: “Apakah engkau juga
ya Rasulullah?”, Rasul s.a.wmenjawab: “Dan juga kepadaku, hanya saja
sesungguhnya Allah telah menolongku mengalahkannya, maka ia masuk Islam,
maka ia tidak memerintah kepadaku kecuali dengan kebaikan”. (HR Muslim)
Rasulullah s.a.w meskipun dibekali teman dari Jin, namun Allah
memberikan pertolongan kepada Beliau sehingga Jin yang menyertai Nabi
s.a.w masuk Islam. Dengan itu jin tersebut tidak memberikan bisikan
kepada Baginda Nabi kecuali dalam kebaikan, demikianlah yang disampaikan
dalam sabdanya di atas. Maka hadits ini menjadi bukti bahwa bagian dari
fungsi khodam Jin itu adalah mempengaruhi manusia dengan perintahnya.
Hanya saja, oleh karena Allah s.w.t telah memberikan pertolongan kepada
Baginda Nabi s.a.w, meskipun jin itu memberikan perintah, namun itu
hanya dalam kebaikan. Melalui hadits ini juga terbukti, ternyata khodam
yang baik itu tidak hanya dari golongan malaikat saja, akan tetapi juga
ada yang dari golongan Jin. Lebih jelas lagi dari apa yang telah
disabdakan oleh Baginda Nabi s.a.w di dalam hadits yang lain:
فُضِّلْتُ عَلَى آَدَمَ بِخَصْلَتَيْنِ. اَلأَوَّلُ: إِنَّ الشَّيْطَانِي
كَانَ كَافِرًا فَأَعَانَنِيَ اللهُ عَلَيْهِ حَتَّى أَسْلَمَ.
وَالثَّانِيَةُ: إِنَّ أَزْوَاجِيْ كُنَّ عَوْنًا لِي فِي خَيْرٍ . وَأَنَّ
الشَّيْطَانَ آَدَمَ كَانَ كَافِرًا وَزَوْجَتُهُ كَانَتْ عَوْنًا
عَلَيْهِ.
“Aku diutamakan melebihi Adam dengan dua keadaan: pertama,
sesungguhnya setanku adalah kafir, kemudian Allah memberi pertolongan
kepadaku sehingga setanku masuk Islam, dan yang kedua, sesungguhnya
adalah istri-istriku selalu menolong kepadaku di dalam kebaikan,
sedangkan Adam, setannya adalah kafir dan istrinya adalah menolong
kepada setannya”.
Walhasil, dari sekian uraian di atas, baik yang
bersumber dari firman-firman Allah s.w.t maupun hadits-hadits Nabi
s.a.w dapat diambil beberapa kesimpulan: Bahwa keberadaankhodam-khodam
itu ternyata memang ada, bahkan ada yang yang sudah diikutkan manusia
sejak dilahirkan oleh ibunya. Di antara khodam-khodam itu ada yang
menguntungkan ada yang merugikan. Namun demikian, adanya khodam itu
tidak didapatkan dengan cara diburu ke sana ke mari, melainkan
didatangkan oleh Allah s.w.t sebagai bonus ibadah, baik secara langsung
mengikuti hikmah yang dikehendaki-Nya atau melalui proses dan
sebab-sebab yang berkaitan dengan ikhtiar serta amal ibadah.
Di
antara khodam-khodam itu ternyata ada yang sudah diikutsertakan Allah
kepada manusia sejak ia dilahirkan ibunya. Padahal dalam kenyataannya
tidak semua orang dapat merasakan keberadaannya terlebih mengenalinya.
Bagaimana¬kah yang demikian itu dapat dinalar secara rasional?
Manusia dengan khodamnya, ibarat manusia dengan bayang-bayangnya
sendiri. Bayang-bayang itu menjadi ada, bukan karena ada dengan
sendirinya, namun karena ada sinar yang menyinari manusia.
Seperti malam ketika sedang berkabut hingga menjadi gelap gulita,
jangankan bayang-bayang, gunung di pelupuk mata pun tidak tampak.
Demikian itu karena tidak adanya sinar yang menerangi persada. Namun
ketika matahari mulai memancarkan sinar, seiring fajar pagi kian terang,
maka sedikit demi sedikit gunung yang tadinya tidak kelihatan mulai
menampakkan diri.
Yang asalnya seperti gundukan asap hitam,
semakin lama menjadi semakin terang, dan ketika matahari semakin tinggi,
tidak ada kabut dan mendung yang menghalangi, maka gunung itupun
semakin menampakkan diri. Ketika sinar matahari telah sempurna memancar
pada titik kulminasi, maka gunung itu semakin kelihatan indah karena
bayang-bayang pemisah antara dua celah yang semula tidak kelihatan kini
ikut mempercantik wajahnya. Seperti itulah cara mengenali khodam.
Artinya,khodam itu tidak harus dicari ke sana ke mari, melainkan
didapatkan dengan jalan mendekatkan dirinya kepada titik pancaran sinar
matahari.
Yang dimaksud sinar matahari itu adalah Nur langit dan Nur
bumi, yaitu Nur dan HidayahAllah s.w.t yang menerangi rongga dada
seorang hamba sehingga matahati yang ada di dalamnya menjadi tembus
pandang. Maka mendekatkan diri kepada sinar matahari itu berarti
mendekatkan diri kepada Allah s.w.t supaya dengan itu seorang hamba
mendapatkan hidayah-Nya.
Supaya orang dapat sinar matahari, dia
harus mendekatkan diri kepada sumber sinar, sekaligus menghilangkan
sesuatu yang dapat menghalangi dirinya dari sinar tersebut. Seperti
itulah cara orang mengenali khodam-khodamnya, di samping ia harus
mendekatkan diri kepada Allah s.w.t, juga harus menghilangkan dan
menghapus hijab-hijab yang menutupi matahatinya, sehingga mampu
menangkap pancaran Nur danHidayah dengan sempurna.
Dengan sinar
hidayah itu alam yang semula gelap gulita menjadi terang benderang
karena matahati seorang hamba menjadi tembus pandang. Hamparan dada yang
semula sempit dan dangkal itu kini menjadi dalam dan luas karena bagian
rahasia alam telah tersingkapkan. Dengan semakin luasnya ilmu dan
pengenalan diri, baik kepada diri sendiri dan lingkungan, terlebih
pemahaman akan rahasia urusan Tuhannya, maka dengan izin-Nya seorang
hamba akan semakin mengenali apa-apa yang ada di sekelilingnya. Mereka
dapat menngenali dimensi-dimensi lain yang ada di alam semesta, di
antaranya adalah dimensi rahasia khodam-khodam yang menyertai hidupnya.
Ini adalah ‘kunci rahasia’ untuk membuka pintu rahasia yang selama ini
seakan tertutup rapat itu. Merupakan password yang dapat menguak dimensi
alam yang seakan terhalang. Kunci permasalahan yang dapat dijadikan
dasar kajian sekaligus bekal utama supaya seorang hamba mampu mambangun
amal untuk melatih diri membakarhijab dan menembus sekat yang
menghalangi, mengadakan pengembaraan dan bermi’raj menuju dimensi yang
diselimuti. Menyelesaikan tahapan, menempuh tanjakan, menyiasati jebakan
dan menyingkirkan rintangan, supaya perjalanan tidak tersesat di tengah
jalan, sehingga seorang pejalan mendapatkan apa-apa yang sudah
disiapkan.
Jadi, berburu khodam itu tidak harus melakukan perjalanan pergi kesana-kemari, akan tetapi dengan gerakan diam.
Artinya melakukan amal dalam pengabdian hakiki, baik dzikir dan wirid,
maupun mujahadah dan riyadlah, semuanya itu dilakukan dalam rangka
mendekatkan diri kepada Allah. Hal tersebut bisa dilakukan dimana saja,
baik di dunia rame maupun sepi, asal hanya untuk mengharapkan ridla-Nya.
Selanjutnya berserah diri kepada-Nya terhadap apa-apa yang yang
diharapkan. Demikian itu, karena Allah tidakl jauh dari hamba-Nya. Allah
sangat dekat dan bahkan lebih dekat dari urat lehernya. Allah adalah
Dzat Yang Maha Mengetahui terhadap apa-apa yang dikerjakan hamba-Nya,
baik dari perbuatan taat maupun maksiat dan Allah juga Maha Kuasa
membalas amal ibadah yang dikerjakan hamba-hamba-Nya itu.
Terlebih urusan khodam yang hanya dapat dikenali dengan ilmu rasa.
Padahal tidak ada jalan untuk menghasilkan ilmu rasa kecuali dengan amal
(praktek), maka tidak mungkin uraian tentang khodam ini dapat
diperpanjang lagi. Oleh karena itu, bagi para pembaca yang ingin
melanjutkan pencarian, silahkan meneruskan sendiri semampu mungkin
dengan mencari bahan tambahan, baik dari ayat-ayat al-Qur’an maupun
Hadits-Hadits Nabi s.a.w yang tentunya harus didampingi para Ulama’
ahlinya sebagai guru dan pembimbing, sambil memohon petunjuk dan taufiq
kepada Allah s.w.t agar kita semua terjaga dari segala tipudaya
kehidupan.