Laman

Jumat, 17 Maret 2017

< HURUF PADA ALLAH >

BISMILAAHI ALLAAHUMMA YAA ALLAAHU......
YAA ALLAAHU......
YAA ALLAAHU......
YAA ALLAAHU......
YAA MUHAMMAD.....
YAA MUHAMMAD.....
YAA MUHAMMAD.....
*
*
IKHWANI..... :-)
.
Nama Allah adalah Asma yang ter-Agung.
Nama Allah dijadikan tempatnya Dzikir didalam hati.
Ditempatkan diujung Lidah kita, dan Istananya didalam Nur Qalbu.
Bila ingin mengetahui rahasia Asma huruf Allah ini yakni yang dinamakan :
" JANIBU JANIBUNI "
*
Maka hilangkanlah huruf Allah itu satu persatu yakni :
.
ALIF >
.
NAFYAN HARFUN ALIFI JA'ALA ASMA-I INSAANI.
.
Yakni :
> " Menghilangkan Huruf Alif itu. Lalu jadikanlah ia nama Manusia ( Insan ).
Nama kita juga.
Lalu fanakan DIRI mu itu didalam DZAT ALLAH Ta'ala.
Ini sebagai tanda...
Cara Ingin melakukannya adalah :
" Mesrakanlah Nafasmu itu dengan turun naiknya nafasmu.... @
*
*
LAM AWAL >
.
" NAFYAL HARFAL LAMIL AWWALI JA'ALA NAFSUL INSAANI "
.
Yaitu :
Menghilangkan Huruf LAM Awal itu. Lalu Jadikanlah ia Nafas Manusia ( Insan ).
Nafas kita juga.
Fanakan SIFAT mu didalam SIFAT ALLAH Ta'ala.
Ini sebagai tanda....
Cara melakukannya adalah :
" Tahankan Nafasmu itu sejenak saja, diantara turun-naiknya Nafasmu itu...
(Pertengahan)@
*
*
LAM AKHIR >
.
" NAFYAL LAMIL AAKHIRI JA'ALA DAMUL INSAANI "
.
Yaitu :
.
" Menghilangkan Huruf LAM Akhir itu.
Lalu jadikanlah ia darah Manusia ( Insan ).
Darah kita juga...
Fanakan Namamu didalam ASMA ALLAH.
Yakni :
NUR...
Ini Isyarat...
Cara melakukannya adalah :
" Apa yang engkau pandang dan engkau lihat tiada lain kecuali :
HANYA NUR....
Biasakan pandanganmu.... Pendengaranmu.....
Penciumanmu.....
Kepada yang SATU@
*
*
HA >
.
" NAFYAL HARFAL HA-I JA'ALA JASADAL INSAANI "
.
Yakni :
.
Menghilangkan Huruf " HA " pada Allah Ta'ala. Lalu jadikanlah ia JASAD mu Manusia...
Fanakan AF'AL mu didalam AF'AL ALLAH Ta'ala...
Ini juga Isyarat..,
cara menggunakannya adalah :
.
Gerakmu dan Diammu.
Maka engkau tidak ada ujud lagi kecuali hanya Ujud Nur.
Yakni :
NUR MUHAMMAD.
.
.
Nah Ikhwani...
.
Semoga pelajaran Ruh Tauhid ini akan menjadikan kita benar- benar menjadi Mukmin sejati.
Mukmin yang diridhai Allah.
Dan Mukmin yang dicintai Allah.
Agar kelak kita mendapat Syafa'at dari Allah Ta'ala dalam Naungan Nur-Nya... @
.
Aamiin...

### SALAM JUMA'AT ###


Berkata pengarang dlm kitab yg saya namakan : RAHASIA INSAN KAMIL tentang: Qasad , Ta'rudh , Ta'yin :
Ketika mengata : " ALLAH " itu maka naiklah rantai yg tiada berkeputusan hingga tujuh petala langit menyembah Tuhannya , maka baharulah dapat NAFI .
Dan ketika mengata : " HU " itu ia pun turun hingga sampai kpd tujuh petala bumi , iaitu sudah dpt ITSBAT .
Dan ketika mengata : " AKBAR " itu , Allah Taala sudah meliputi sekalian alam.
Perbuatan ini adalah dgn iktibar DZAUQ semata-mata.
Adapun QASAD itu adalah utk menyatakan NIAT , sdg niat itu sendiri sebenarnya tdk berhuruf n tdk bersuara.
Inilah yg dikatakan ZAT ALLAH TAALA , iaitu RAHSIA kpd kita n inilah ASAL NIAT.
Jadi , tempat berniat itu sebenarnya adalah TUHAN MUTHLAQ yg Wajibul Wujud lagi bersifat Kamalaat ( Sempurna ).
Adapun TA'RUDH itu adalah utk menyatakan FARDHU , sdg yg fardhu itu sebenarnya ialah :
* TAJALLI SIFAT ALLAH TAALA.
* NUR MUHAMMAD pun ia
* INSAN pun ia juga.
Sementara Asal Fardhu itu ialah NYAWA kita , lantaran Nyawa itulah yg memerintah TUBUH.
Ini kerana jika TUBUH itu tdk digerakkan oleh NYAWA sudah tentu TUBUH itu tdk bergerak.
Adapun TA'YIN itu adalah utk menyatakan WAKTU seperti Zohor.
Apa yg dimaksudkan dgn nyata itu ialah :
NYATA AFA'AL ALLAH kpd JASAD ADAM , yakni tubuh kita yg kasar ini. Itulah yg sebenar-benar NYATA.
****
ALLAHU AKBAR
 

RUHANI DAN RUHUL AL-QUDS.

==================================
SALAAMUN HIYAS SALAAM...................
WAS SALAAMU ALAIKUM WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH....................
====================================
Wahai...
Tenggelamkanlah seluruh anggota tubuhmu itu didalam dasar bait-Ku....., Dengan begitu, engkau tidak akan pernah lupa memuji-Ku.......
Karena sesungguhnya Aku- ini tidak pernah lupa memuji Diri-Ku sendiri. Dan tidak pernah lupa berbunyi " HU- ALLAH " Dari itu, dengarkanlah didalam dirimu itu. Bahwa sesungguhnya .... Wujud Dzat itulah yang berbunyi :
< TIK... TIK... TIK >
Bahwasanya Ruh itulah yang tidak pernah lupa akan Diri-Nya
==================================
Ikhwanil Muslimiina Rahima kumulllah......
=================
Ketahuilah kalian semua...
Bahwa didalam setiap diri kalian itu, bahwasanya :
ada dua Unsur halus yang menyatu atau yang meliputi komponen didalam tubuhmu yakni ada dua Ruh yang suci.
===================
Pertama yaitu :
Ruhani kaliang.
Yang kedua yaitu : Ar-RuhuL Al-Quds.
===================
RUHANI Adalah :
" ALLAH "
Dan RUHUL AL-QUDS.
Dan RUHUL AL- QUDS adalah :
" HU "
===================
Kedua Unsur halus inilah yang harus kalian ketahui.
Kedua Ruh itulah yang wajib kalian kenal.
Inilah yang disebut :
"SIRRULLAH "
yakni : Rahasia Tuhan. Dan Rahasia Muhammad.,,.
===================IKHWAN.....
===================
Nah, jika kalian itu ingin belajar memahami dan mengetahuinya Rahasia dua unsur yang ada pada diri kita ini.
Maka kalian itu mestilah dengan tekad yang sungguh- sungguh mau mempelajari ilmu rahasia itu.
< MAN JADDA WA JADA >
" Barangsiapa yang benar bersungguh, niscaya ia akan mendapat "
===================
jalan arah Inilah yang kelak akan membuat kalian itu bisa selamat dari dunia dan akherat.
===================
Jalan mengenal itulah suatu Rahasi Tuhan yang tersirat dan tersembunyi didalam tubuh kalian itu.
Maka...
Bersungguh- sungguhlah kalian itu untuk mengetahuinya...
Tetaplah kalian bersama Guru yang telah memahami rahasia itu. Karena Guru para Sufilah yang memahami rahasia hakikat keduanya itu tadi, yang disebutkan diatas.
===================
Karena Rahasia itu ke-Tuhanan itu memang benar dilarang untuk mengupasnya dihadapan para khalayak umum.
Maka teruskan saja Mutu kwalitas kalian itu untuk mencapai suatu tahapan yang penuh rahasia terselubung.
===================
Maka dari itu...
Jangan terlalu susah untuk mencari Allah, karena Allah itu melingkupi tubuhmu
dan Allah itu sudah ghaib, hilang, lenyap, melebur menjadi : " Nyawa "
jangan terlalu sulit mencari Bilah.
Karna Bilah itu, sesungguhnya ada didalam : " Buluh "
Dan jangan terlalu susah- susah mencari Allah, karena Allah ada didalam Tubuh.

Nah inilah jalan pengenalan diri batin yang penuh rahasia.
Karena Rahasia Itu ada pada jalan ruh tadi.
Cukup sampai disini, dan lain waktu lagi bertemu lagi.

Kamis, 16 Maret 2017

Perjalanan jiwa 4

Reinkarnasi = “Kembali kedalam bentuk manusia,”
(Re=Kembali, In=kedalam Kar=bentuk Nasi=Manusia)
Dalam agama Budha ada Punabbava, dalam agama Hindu ada Karma pala, dalam mitologi china dan jepang ada “phoenix” yang melambangkan kebangkitan, …..
Kalau saja kita yang “memandang miring” terhadap mereka saja bisa memahaminya, lalu bagaiman kita yang katanya “memandang lurus” t
erhadp agama kita?
Coba-lah kita buka dan kaji kembali ke-dalam kitab suci kita masing-masing, nanti-nya kita akan mendapatkan “sinyalemen” yang meng-indikasikan kearah itu.
Bahwa pengetahuan Reinkarnasi ini sifatnya UNIVERSAL. Ingat..! Pembahasan ini hanya satu dari sekian banyak sudut pandang yang ada…
Surah Al-Maidah ayat 60 :
Sesungguhnya orang-orang yang Aku marahi itu maka Aku jadikan mereka itu Kera, Aku jadikan mereka itu Babi dan aku jadikan mereka itu penyembah-penyembah Berhala maka itulah seburuk-buruknya jalan kembali.
Dalam ayat-ayat yang lain : Taha:53, Al fathir:27, Ibrahim:32, Al-An’aam:99, An-Nur:43, Al A’raf:57, Ar-Rum:48, Qaaf:9, Al-Hajj:63, Lukman:10, Al-A’raaf:153, Az-Zumar:21, Al-Baqarah:22 ….. silahkan cari lagi “sinyalemen-sinyalemen” yang lainnya…>
“Aku tumbuhkan kamu dari bumi sebagai Tumbuh-tumbuhan, Kami jadikan kamu Batu, kami jadikan kamu Tumbuh-tumbuhan yang telah dipetik… “
…………..
“Proses Perjalanan Jiwa”
Reinkarnasi 1 s/d 7 = Mineral s/d Manusia = Hidup terikat grafitasi Bumi = Lingkaran Hukum Alam.
Reinkarnasi 8 s/d 11 = Jalur Gaib = Rijalul Gaib = Hidup berteman dengan Maut = (keputusannya=keputusanNya)
Inilah golongan yang disebut dengan ”Tanazzalul malaaikatu warruhu….”
Sesungguhnya para wali-wali Allah itu tidak-lah mati, tingkatan ini adalah untuk mereka yang ditugaskan membantu pekerjaan Allah s.w.t.
Reinkarnasi 12 s/d 13 = Gaibul Gaib = Rijalullah = Maqom Al-Ikhlas “Qul Huallahu Ahad” (Maksudnya : Katakanlah, “Hua/Rijalullah” = DIA = Rahasia Allah Yang Esa)
“Tingkatan ini adalah pengembalian Rahasia kepada Empunya Rahasia”
Akhirul kalam
Mari-lah kita ber-evolusi untuk tetap menjadi manusia, karena kalau tidak menjadi manusia lalu mau jadi apa lagi?
Salam

Perjalanan jiwa 3

Musibah atau bencana di bumi adalah dari manusia untuk manusia, dan merupakan suatu pelajaran agar manusia dapat menyadari kesalahannya dan kembali kepada jalan Tuhan.
Perhatikan Surah Al-Rûm ayat : 41 sampai dengan 45,
41. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) per
buatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). 42. Katakanlah: “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”
43. Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (kedatangannya): pada hari itu mereka terpisah-pisah.
44. Barangsiapa yang kafir maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu dan barangsiapa yang beramal saleh maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan),
45. agar Allah memberi pahala kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar.
Simak kembali ke lima ayat dalam surah Al-Rum diatas, lalu perhatikan penjabaran dibawahnya,
Ayat (41) :
Ketika ayat ini diturunkan, daratan dan laut telah mengalami kerusakan, dan dinyatakan dengan tegas bahwa kerusakan itu akibat perbuatan manusia, bukan disebabkan oleh perilaku hewan atau yang lainnya.
Bahwa ternyata kerusakan di darat dan laut itu dibiarkan oleh Allah agar manusia (yang melakukan kerusakan itu) merasakan sebagian dari akibat perbuatannya.
Untuk apa?
Agar yang pernah melakukan kerusakan itu mendapat pelajaran untuk kembali kepada jalan yang benar. (maksudnya : yang akan merasakan akibat perbuatannya adalah yang pernah hidup pada masa lampau dan yang pernah berbuat kerusakan, bukan orang yang baru pertama kali dilahirkan di muka bumi ini)
Bukankah Tuhan telah menyatakan bahwa Dia tidak merugikan manusia sedikitpun?
Tidak mungkin manusia yang tidak tahu apa-apa dan tidak berbuat suatu kesalahan dikenakan azab oleh Allah, itu suatu tuduhan yang “keji” dan sifat itu sangat mustahil dimiliki Tuhan..
Sebaliknya, dengan sifat Rahman dan RahimNya, maka manusia yang jelas-jelas sudah melakukan “kerusakan di muka bumi” ketika dibangkitkan lagi hanya merasakan sebagian saja dari akibat perbuatannya.
Manusia itu tidak merasakan seluruh akibat perbuatan buruknya.
Hal semacam inilah yang disebutkan pada ayat lain bahwa Tuhan itu memaafkan sebagian besar kesalahan manusia.
Ayat (42)
Bahwa, manusia diperintah Tuhan untuk melakukan perjalanan di muka bumi.
Pada ayat ini kita diperintah untuk memperhatikan akibat perbuatan buruk orang-orang yang hidup pada masa lalu.
Apa kata ayat tersebut?
Bahwa : banyaknya kerusakan di darat dan laut itu ternyata dilakukan oleh orang-orang Musyrik. orang-orang yang menyekutukan Tuhan.
Orang yang menyekutukan Tuhan = Orang yang membuat kerusakan di bumi
Orang yang menyekutukan Tuhan bukanlah orang yang beribadah dan menyembah patung
“Karena kemusyrikan terkait erat dengan amal perbuatan manusia”.
Jika amalan itu merusak bumi, maka itu namanya tindakan “Syirik”.
Jika perusakan bumi itu merupakan perilaku seseorang, maka orang itu disebut sebagai orang “Musyrik” = menyekutukan Tuhan.
Agar tidak terjerumus ke jurang kemusyrikan maka manusia diperintah untuk menghadapkan dirinya kepada Agama (cara hidup yang benar), yaitu : jalan hidup yang lurus yang tidak menimbulkan kerusakan dan merugikan orang lain dan dirinya sendiri.
Jalan hidup yang demikian inilah yang disebut “ISLAM”
(Maksudnya : Islam adalah jalan selamat dunia + akhirat, jalan ini sifatnya universal jadi siapa saja orangnya yang mengunakan jalan ini dalam kehidupan aktual termasuk dia itu Yahudi = mau Kristen = mau Hindu = mau Buddha dia itu Islam jua)
Ayat (43)
Bahwa : manusia harus berusaha berada di jalan yang lurus.
Dalam ayat lain disebut sebagai orang yang Bertakwa.
Usaha ini harus ditempuh sebelum datangnya hari dari Allah yang disebut sebagai “hari yang tidak dapat ditolak”.
Hari apa gerangan?
Itulah hari Kematian dan sekaligus Kebangkitan bagi seseorang.
Seandainya dalam satu hari ini orang yang mati itu banyak, maka yang dibangkitkan/yang dilahirkan juga banyak, hal ini harus berjalan seimbang demi kelangsungan bumi ini.
Semua sudah tersedia dari awalnya, tidak di-kurangi dan tidak di tambah-tambah lagi, itu-itu juga dari awalnya…
Yang mati = yang bangkit
Yang bangkit bisa jadi manusia juga..
Yang bangkit bisa jadi malaikat
Yang bangkit bisa jadi hewan
Yang bangkit bisa jadi tumbuh-tumbuhan
Yang bangkit bisa jadi mineral = gentayangan
Inilah adalah pilihan-pilihan, silahkan memilih sendiri….
Di mana dibangkitkan?
Ya, di bumi ini!
Lihat kembali QS 7:25.
“Manusia dibangkitkan melalui kelahiran melalui ibunya masing-masing”
Dalam ayat ini mereka disebut menjadi terpisah-pisah.
Ayat (44)
Dan, disebutkan pada ayat ini bahwa, mereka yang kafir akan menanggung perbuatan kekafirannya, yaitu, dilahirkan ditempat “yang sengsara”, sedangkan yang dahulunya berbuat amal saleh, maka akan dilahirkan di tempat yang penuh anugerah Tuhan.
Sekarang perhatikan kata Musyrik dan Kafir, pada ayat (44) diatas…
Kalau yang dirujuk itu sikap hidup, maka namanya “Musyrik”,. tapi, kalau yang dirujuk itu keyakinan dan tindakannya yang mengingkari kebenaran, maka namanya “Kafir”. Jadi, kafir itu tak ada kaitannya dengan agama yang dipeluk.
Agama apa saja yang dipeluknya, kalau ia mengingkari kebenaran dan melakukan kerusakan maka ia termasuk orang kafir!
Ayat (45)
Allah tidak mencintai orang-orang yang ingkar.
Perhatikan pernyataan “tidak mencintai” = “Lâ Yuhibbu”
Ayat ini tidak boleh diterjemahkan menjadi tidak menyukai. Berbeda!
Allah tidak terlibat dalam suka atau tidak suka. Allah juga tidak terlibat dalam soal membenci atau tidak membenci.
Allah itu bersifat Mahabbah, mencintai hamba-Nya. Tetapi, kalau si hamba itu mengingkari-Nya, maka Dia tidak mencintainya.
Apa bedanya “tidak mencintainya” dengan “membenci”?
Benci adalah perasaan tidak suka.
Jadi, kalau Tuhan membenci berarti dalam diri Tuhan itu terkandung perasaan tidak suka, hal ini tentu saja berlawanan dengan sifat-Nya yang Rahman dan Rahim.
Jelas, tidak mungkin terjadi sifat yang saling berlawanan pada diriNya. Sifat Tuhan adalah Cinta. Oleh karena itu para ahli Tasawuf menyebut Tuhan itu sendiri “Cinta”.
Cinta itu bukan suka!
Cinta mengandung makna karunia. Artinya, sesuatu yang dicintai niscaya mendapat perhatian atau karunia dari yang mencintai.
Kalau Tuhan mencintai seorang hamba, maka hamba itu akan mendapatkan cucuran rahmat dan karunia dari-Nya. misalnya, sang hamba yang dicintai Tuhan itu akan mendapatkan perlindungan, pertolongan dan kenikmatan.
Kalau Tuhan “tidak mencintai” orang kafir, artinya Tuhan akan membiarkan si kafir itu menerima akibat perbuatan-Nya.
Jadi, apa yang kita harapkan?
Tentu saja, rahmat dan perlindungan-Nya,
Dengan rahmat dan perlindungan-Nya, maka seorang manusia dapat terus-menerus berusaha di jalan yang benar.
Salam

Menemui Allah

“Hai manusia, sesungguhnya engkau harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menemui Tuhan-mu, sampai engkau bertemu dengan-Nya” (QS Al Insyqaq 84 : 6)
Berjumpa dengan Tuhan adalah dambaan setiap manusia dan itu merupakan impian tertinggi yang selalu dicita-citakan oleh semua orang. Ketika berbicara tentang “Berjumpa dengan Tuhan” maka yang terbayang pada semua orang adalah Kematian, Setelah manusia meninggal dunia (nafas berhenti) barulah ada peluang berjumpa dengan Tuhannya. Berjumpa dengan Tuhan setelah kematian itu sifatnya spekulatif, (bisa ya bisa juga tidak) lalu bagaimana kalau setelah meninggal kita tidak pernah berjumpa dengan Tuhan?
Kenikmatan tertinggi bagi penduduk Surga adalah melihat wajah Tuhan, artinya ada kemungkinan orang yang di surga tidak bisa melihat Tuhan, tentu saja mustahil bagi orang yang tidak masuk surga bisa berjumpa dengan Allah.
Andai nanti kita tidak berjumpa dengan Tuhan di akhirat, lalu mau kemana kita? Mau balik ke dunia???
Ayat di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa proses perjumpaan dengan Tuhan itu berlangsung di dunia dan proses situ harus kita selesaikan di dunia ini juga sehingga di akhirat kita tidak lagi mengalami kesulitan menemui Allah. Yang diperlukan adalah kesungguhan kita untuk semaksimal mungkin berusaha menemui-Nya.
“Apabila hamba-Ku ingin menemui-Ku, Akupun ingin menemui-nya dan bila ia enggan menemui-Ku, Akupun enggan menemui-nya” (HR Bukhari dari Abu Hurairah)
Firman Allah dalam hadist qudsi di atas memberi gambaran kepada kita bahwa Allah ingin sekali ditemui namun terkadang hamba-Nya yang lalai dengan kesibukannya sendiri.
Menemui Allah, ya berjumpa dan memandang wajah-Nya itulah kenikmatan yang paling tinggi yang dirasakan oleh para pecinta-Nya.
Kalau di dalam shalat anda tidak merasakan kehadiran-Nya berarti anda belum berjumpa dengan-Nya, maka anda harus belajar lagi sampai anda bermakrifat kepada-Nya.
Saya menutup tulisan singkat ini dengan mengutip dialog antara saya dengan seseorang 7 tahun lalu tentang berjumpa dengan Allah. Suatu hari saya bertanya kepada seorang yang baru menekuni Tarekat (baru 3 hari),
“Andai anda berjumpa dengan Allah, apa yang akan anda sampaikan kepada Allah?”
Dia sepertinya terkejut dengan pertanyaan saya yang tiba-tiba dan pertanyaan tersebut belum pernah ditanyakan se umur hidupnya, dia diam tidak bisa menjawab apa2. Kemudian saya membantu dia dengan pertanyaan berikut :
“Kalau anda selesai shalat apa doa anda kepada Allah?”
Dia jawab dengan cepat, “bla bla bla…”
Dengan senyum dan dengan suara pelan saya katakan pada dia, “Berarti selama ini dalam shalat anda tidak pernah berjumpa dengan Allah?”. Dia menganguk dengan malu.
Syukur Alhamdulillah berkat Syafaat Rasulullah dan bimbingan Guru Mursyid, sahabat saya tersebut akhirnya benar-benar mengenal Allah dengan sebenar kenal dan selalu merasakan perjumpaan dengan Allah.
Mudah-mudahan tulisan ini memberikan gairah kepada para pencari dan membangkitkan rindu kepada para pecinta-Nya, salam

SEPUTAR MASALAH MELIHAT ALLAH

Melihat Tuhan bukan hal yang asing bagi para pengamal tasawuf yang telah mendapat bimbingan Guru Mursyid Kamil Mukamil Khalis Mukhlisin dan telah mencapai maqam Ma’rifat. Sebagian besar tulisan yang ditampilkan di sufimuda tentang tasawuf adalah hal-hal yang berkenaan dengan Ma’rifat, kalau anda baca Melihat Allah, Mimpi Berjumpa Rasulullah SAW, Surat Untuk Allah, Do’a Sufimuda adalah ungkapan-ungkapan betapa manisnya buah yang dihasilkan dari pohon Ma’rifat, disini kita tidak lagi membicarakan dalil-dalil bagaimana pohon itu tumbuh, cara merawatnya, pupuk apa yang cocok dan bibit mana yang bisa cepat menghasilkan buah yang manis dan ranum, kita hanya membicarakan tentang “rasa” dan pengalaman “merasakan”. Karena tasawuf adalah dunia rasa, sebagaimana ungkapan mereka, “ Tidak tahu kalau tidak merasakan ”. Kami tidak perlu tahu siapa Guru Mursyid yang membimbing anda, yang kami yakini adalah bahwa anda telah mencapai tahap ma’rifat, dan mari kita duduk bercengkerama di Surau Sufimuda membicarakan tentang buah ma’rifat yang amat manis dan harum, hanya bisa dirasakan oleh orang yang telah memiliki buahnya, dan tidak akan mungkin bisa dirasakan dengan membaca walau ditulis ribuan lembar, tetaplah tidak akan bisa mewakili manis dan nikmatnya buah ma’rifat.
Bagi anda yang belum pernah mendapat bimbingan dari seorang Guru Mursyid, akan tetapi punya keinginan untuk menemukan kebenaran lewat tasawuf silahkan anda membaca dalil-dalil yang berhubungan dengan thariqat di : 7 tanya jawab tentang thariqat, 7 tanya jawab tentang thariqat (lanjutan) , definisi tasawuf , Berguru kepada Mursyid ,
Berwasilah kepada Mursyid dan Rabithah Mursyid dan silahkan bertanya kepada orang yang ahli dibidangnya.
Bagi anda yang sangat awam tentang thariqat, mungkin juga anti thariqat sebagaimana kami dulu, kami sangat memahami kondisi anda, apalagi selama ini mungkin anda telah membaca tulisan-tulisan dari orang-orang yang sangat benci kepada Tasawuf, seperti Borok-Borok Sufi karya ulama Wahabi, atau buku-buku yang menyerang tasawuf yang rata-rata ditulis bukan atas dasar keilmuan akan tetapi lebih kepada propaganda untuk menghancurkan Tasawuf guna menghambat orang-orang yang ingin menemukan kebenaran. Silahkan anda baca disini , disini dan
disini
Setelah kami tampilkan tulisan Bisakah Melihat Allah?, banyak sekali komentar-komentar yang masuk baik yang mendukung maupun yang mengingkari dan mempertanyakan, mungkinkah kita bisa melihat Allah didunia? Dan tentu orang-orang yang tidak meyakini bahwa Allah bisa dilihat didunia ini juga mempunyai dalil yang sangat mendukung, oleh karena itu kuranglah bijak rasanya kalau kami tidak menampilkan semua dalil, baik dari kalangan yang mendukung maupun yang mengingkari, kami mengutip tulisan tentang melihat Allah dari buku :
Jalan Menuju Ma’rifatullah dengan tahap (7M) karya ust. Asrifin S.Ag Penerbit “Terbit Terang Surabaya” (hal 259-268) , semoga bermanfaat untuk kita semua.
Ma’rifat yang sebagai upaya seorang hamba untuk mengenal secara hakiki kepada tuhannya, maka dalam permasalahan ma’rifat ini ada suatu persoalan seputar “Bisakah seorang hamba itu melihat dengan matanya kepada Allah? Bisakah manusia yang bersifat fana itu melihat kepada Dzat Qodim? Walau dengan mata hatinya, bisakah manusia yang selalu terjerat dalam lingkaran keihsanan itu melihat Allah yang memang secara dzatnya itu berbeda?”
Ada tiga pendapat mengenai masalah melihat Tuhan ini yaitu:
1. Allah tidak dapat dilihat baik di dunia maupun di akhirat
Pendapat yang demikian ini terutama diwakili oleh satu golongan yang ada dalam golongan teologi (ilmu kalam) yaitu golongan mu’tazilah. Golongan ini menandaskan bahwa Tuhan tak akan pernah mungkin bisa dilihat. Ketidakbisaan Tuhan dilihat oleh manusia baik kelak di akhirat, apalagi di dunia. Golongan inimemberikan satu alasan bahwa selagi manusia itu masih dalam lingkaran keihsanan tidak akan pernah mungkin untuk melihat satu Dzat yang “Laisa kamislihi sya’un”. Golongan ini selalu beralasan pada firman Allah sendiri yang menyatakan sebagai berikut:
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu. Dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 103).
Selalu, ayat tersebut dijadikan sebagai argumentasi untuk memperkuat pendapat bagi kaum mu’tazilah dan tanpa melihat lagi atau mengkaji dan membanding-bandingkan dengan ayat lain yang menerangkan kebalikannya. Mungkin masalah melihat Tuhan ini terlalu irasional bagi mereka yang sejak semula memang selalu mengandalkan akal, sehingga mereka pun selalu meyakini bahwa mustahil Allah itu dapat di lihat oleh manusia di akhirat kelak, apalagi di dunia. Ada satu sindiran yang disampaikan oleh Syekh Allamah Al-Qori menanggapi pendapat kaum mu’tazilah tersebut yaitu:
“Orang mukmin melihat Tuhannya, tanpa bentuk tanpa umpama. Nikmat lain tiada arti, dibanding melihat Ilahi Rabbi, kaum mu’tazilah yang rugi seribu rugi.”
2. Allah dapat dilihat di akhirat
Satu pendapat yang menyatakan bahwa Allah bisa dilihat kelak di akhirat adalah berdasarkan ayat dan hadits-hadits sebagai berikut:
“Wajah-wajah orang mukmin pada hari itu, mereka pada melihat Tuhannya.”
Dalam sebuah hadits diterangkan:
“Dari Abu Hurairah ra. Seungguhnya orang-orang (para sahabat) bertanya, “ya, Rasulullah, apakah kita bisa melihat Tuhan kita pada hari kiamat?” maka Rasulullah menjawab, “Sulitkah kamu melihat bulan di malam bulan purnama?”
Para sahabat berkata, “Tidak, ya Rasulullah.” Rasul berkata lagi, “Apakah kamu sulit melihat matahari di waktu tanpa awan? Sesungguhnya kamu akan Melihat Tuhan seperti itu.”
Dalam sebuah riwayat yang lain, yaitu dari Imam Turmudzi, dari Umar ra., bahwa Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya kedudukan surga yang paling rendah adalah penghuni surga yang melihat surganya, istrinya, pembantunya dan pelaminannya dari jarak perjalanan seribu tahun. Dan penghuni surga yang paling tinggi di antara mereka adalah yang melihat Allah setiap pagi dan petang. Kemudian Rasulullah membaca, “Wajah-wajah di hari itu penuh keceriaan memandang Tuhannya.”
3. Allah dapat dilihat di dunia dan di akhirat
Pendapat yang mengatakan bahwa Allah dapat dilihat di dunia maupun di akhirat, pertama-tama menandaskan pada landasan ajaran Nabi tentang “ihsan”, yaitu:
“Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya.”
Sabda Nabi tentang teori ihsan ini bila dilacak dari segi ilmu bahasa akan mempunyai pengertian sebagai berikut: perkataan “KAANNA” sesungguhnya terdiri dari dua unsur kata, yaitu “KA” dan “ANNA”. Dalam teori bahasa “KA” disebut
harfut tamtsil (huruf yang berfungsi untuk kata perumpamaan). Sedangkan kata “ANNA” adalah huruf yang berfungsi untuk menguatkan (lit ta’kid ) yang dalam arti bahasa Indonesia diartikan dengan “sungguh/sesungguhnya”. Dengan demikian jika kata tersebut “KAANNA” digabung menjadi satu, maka akan berarti “ seperti sungguh-sungguh”. Perkataan Nabi “seperti sungguh-sungguh engkau melihat-Nya” bukan menunjukkan arti hanya “seakan-akan” yang tidak punya kemungkinan untuk melihat, tetapi sebaliknya perkataan itu malah menunjukkan kemungkinan bahwa Allah bisa dilihat. Hal yang senada pun ditegaskan sendiri oleh Allah dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya sembahyang itu memang berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, yaitu mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada Tuhannya.”
Selain ajaran tentang ihsan tersebut, argumentasi lain yang dijadikan sebagai landasan pendapat bahwa Allah itu dapat dilihat baik di dunia maupun di akhirat adalah pada masalah kisah Nabi Musa yang menginginkan melihat Tuhannya, dimana kisah tersebut telah diabadikan dalam Al-Qur’an, yaitu pada surat Al-A’raf, ayat 143 sebagai berikut:
“Dan ketika Musa datang untuk munajat pada waktu yang telah kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, maka berkatalah Musa, “Ya, Tuhanku, nampaklah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.” Tuhan berfirman, “kamu tidak akan dapat melihat-Ku tetapi lihatlah bukit itu, maka bila bukit itu tetap di tempatnya (seperti sedia kala) niscaya kamu dapat melihat-Ku. “tatkala Tuhan tajalli/nampak pada bukit itu, kejadian itu menjadikan bukit hancur dan Musa pun pingsan. Setelah Musa sadar kembali dia berkata, “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu dan aku orang yang pertama kali beriman (percaya).” (QS. al-A’raf: 143).
Kisah tentang permintaan Nabi Musa untuk bisa melihat Tuhannya sebagaimana diabadikan dalam ayat tersebut, bila diteliti lebih mendalam sesungguhnya mempunyai kesamaan dengan kasus cerita yang dialami Nabi Ibrahim ketika memohon kepada Tuhannya untuk berkenan diperlihatkan bagaimana Allah menghidupkan seseorang yang sudah mati. Menanggapi permintaan Ibrahim tersebut Allah menjawab dengan satu perkataan, “Afalam tu’min (apakah kamu tidak percaya) ?” Seakan-akan Allah ragu dengan keimanan dan kepercayaan Ibrahim bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha segala-galanya, yang sanggup untuk menghidupkan kembali sesuatu yang telah mati. Apa jawaban Ibrahim pada waktu itu adalah “ Liyathma’inna qalbi”, yang seakan-akan Ibrahim berkata, “tidak Tuhanku. Bukannya aku tidak iman dan mempercayai-Mu. Tetapi permintaan ini aku lakukan supaya lebih mantap keimanan dan kepercayaanku kepada-Mu”, maka Allah pun mengabulkan permohonan Ibrahim.
Permintaan Ibrahim sesungguhnya mempunyai kesamaan dengan permintaan Musa. Jika Ibrahim meminta kepada Allah agar Dia berkenan menunjukkan bagaimana cara menghidupkan orang mati, maka Musa meminta kepada Allah agar Dia sudi menampakkan diri supaya Musa dapat melihat-Nya. Memang, Allah tidak mengatakan “Afalam tu’min” kepada Musa sebagaimana yang pernah Dia firmankan kepada Nabi Ibrahim. Tetapi Allah malah menyuruh Musa untuk melihat sebuah bukit. Jika bukit tersebut masih tetap sedia kala, maka Musa akan dapat melihat kepada-Nya.
Sama halnya dengan permintaan Ibrahim yang langsung dikabulkan oleh Allah, maka demikian pula pada permintaan Musa untuk bisa melihat Tuhannya. Dalam kisah Nabi Musa, memang dia tidak mengatakan “Liyathma’inna qalbi” yang artinya Musa memohon kepada Allah untuk dapat melihat Tuhannya itu supaya Musa lebih mantap keimanan dan kepercayaannya kepada Allah. Tetapi setelah kejadian itu, dimana Allah telah tajalli/menampakkan diri kepada Musa yang menjadikan bukit hancur dan Musa sendiri pingsan, maka setelah dia sadar dari pingsannya, baru dia mengatakan “Ana awwalulmu’minin”, saya orang pertama beriman. Beriman disini mempunyai arti percaya. Percaya kepada apa ? Yaitu percaya bahwa Allah itu benar-benar maujud dan Allah itu telah menampakkan diri-Nya dan mempercayai bahwa Allah bisa dilihat.
Sehubungan dengan masalah kisah Nabi Musa sebagaimana di atas, ada beberapa pendapat yang mencoba untuk memberikan penafsiran tentang hal itu yang di antaranya adalah dari Qurthubi yang mengatakan :
“Melihat Allah SWT. Di dunia adalah dapat diterima oleh akal, kalau sekiranya tidak bisa, maka tentulah permintaan Musa. as. Untuk bisa melihat Tuhan adalah hal yang mustahil. Tidak mungkin seorang Nabi tidak mengerti tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh bagi Allah. Bahkan (seandainya) Nabi musa tidak meminta hal ini , ini pun bisa terjadi dan bukan suatu hal yang mustahil.” (Al-Jami’ul Ahkamul Qur’an).
Selanjutnya, Ibnu Qoyyim pun berkata:
“Bahwa sesungguhnya permintaan Nabi Musa akan melihat Allah adalah menunjukkan atas kemungkinan. Karena sesungguhnya seorang yang berakal, apalagi seorang Nabi tidak akan meminta hal-hal yang mustahil.”
Selain kedua pendapat tersebut, dalam kitab Kawasyiful Jilliyah disebutkan sebagai berikut:
“Adapun firman Allah SWT.: ‘Tatkala Tuhan tajalli/tampak nyata pada gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur.’ Maka apabila Allah bisa tajalli pada gunung, padahal gunung itu adalah benda padat, maka kenapa tak mungkin Allah tajalli pada Rasul-rasul-Nya dan Wali-wali-Nya?”
Satu hal yang perlu ditandaskan di sini, sebelum satu argumentasi lagi disebutkan untuk mendukung pendapat yang menyatakan bahwa Allah dapat dilihat di dunia maupun di akhirat, adalah yang dimaksud dengan Allah dapat dilihat di sini adalah bukan dengan pandangan mata telanjang tetapi dengan pandangan mata batin. Sebagaimana keterangan pada bab-bab yang terdahulu, sesungguhnya pandangan mata indera sangatlah terbatas sehingga dengan demikian sudah tentu tak akan sanggup untuk bermusyahadah kepada Allah. Hanya mata batinlah yang mempunyai kesanggupan untuk bermusyahadah kepada-Nya. Dan hal ini adalah merupakan kesepakatan kebanyakan ulama tasawwuf. Umumnya mereka berpendapat tentang mata batin ini sebagaimana berikut:
“Apabila ruhaniyah telah menguasai bashirah, maka mata indera akan berlawanan dengan mata batin, mata indera tidak akan dapat melihat, kecuali pengertian-pengertian yang hanya terlihat oleh mata batin.”
Dari keterangan di atas, ketika mata indera tidak mempunyai kesanggupan untuk menjangkau pandangannya, maka mata batinlah yang nanti mempunyai kesanggupan untuk menembusnya. Berhubungan dengan masalah mata batin ini pula sebagian ulama tasawwuf pun ada yang mempunyai pendapat bahwa dalam mimpi pun ternyata seseorang bisa bermusyahadah dengan Allah. Mengenai hal ini terdapat satu keterangan dalam kitab Shirajut Thalibin sebagai berikut:
“Adapun di dalam tidur, sepakat sebagian ulama sufi kemungkinan terjadi melihat Tuhan.”
Terlepas dari permasalahan dalam mimpi melihat Tuhan atau tidak, yang jelas satu argumentasi lagi yang perlu dikemukakan untuk memperkuat pendapat bahwa Allah dapat dilihat baik di dunia maupun di akhirat adalah pada kisah Isra’ Mi’rajnya Nabi Muhammad SAW. Di mana pada saat Nabi Isra’ Mi’raj Nabi benar-benar melihat Allah, sehingga seorang sahabat, yaitu Hasan bin Ali berani bersumpah sewaktu menerangkan hal itu. Demikian pula dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Ibnu Abbas yang oleh Imam Nawawi diterangkan sebagai berikut:
“Kesimpulannya, sesungguhnya rajih (alasan yang paling kuat) menurut sebagian besar ulama bahwa Rasulullah melihat Tuhannya dengan nyata/mata pada malam Isra’ Mi’raj berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas dan lain-lain.”
Dari beberapa argumentasi dan bukti-bukti baik dari Al-Qur’an maupun Hadits dan pendapat ulama yang dijadikan sebagai landasan atas pendapat yang terakhir ini, Ibnu Taimiyah, seorang yang dikenal sebagai pembaharu islam yang mengikuti aliran rasionalis yang juga banyak memberikan kritikan terhadap dunia tasawwuf memberikan satu kesimpulan dalam bentuk satu Qa’idah sebagai berikut:
“Dan dari persoalan tentang melihat, sesungguhnya tiap-tiap yang maujud itu sah dilihat.”
Berdasarkan satu Qa’idah tersebut dapat dijelaskan bahwa semua apa yang bersifat maujud (ada) sesungguhnya masih dapat dan sah untuk dilihat, sedangkan Allah sendiri adalah Wajibul Maujud (wajib ada), maka sudah barang tentu masih membuka kemungkinan untuk bisa dilihat. Wallahu a’lam