(kisah tauladan)
``Suatu hari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dikunjungi seorang
wanita yang ingin mengadu.``` ```“Ustadz, saya adalah seorang ibu rumah
tangga yang sudah lama ditinggal mati suami.``` ```Saya ini sangat
miskin, sehingga untuk menghidupi anak-anak saya, saya merajut benang di
malam hari, sementara siang hari saya gunakan untuk mengurus anak-anak
saya dan menyambi sebagai buruh kasar di sela waktu yang ada.```
```Karena saya tak mampu membeli lampu, maka pekerjaan merajut itu saya
lakukan apabila sedang terang bulan".``` ```Imam Ahmad rahimahullah
menyimak dengan serius penuturan ibu tadi.``` ```Perasaannya miris
mendengar ceritanya yang memprihatinkan.``` ```Dia adalah seorang ulama
besar yang kaya raya dan dermawan.``` ```Sebenarnya hatinya telah
tergerak untuk memberi sedekah kepada wanita itu,``` ```namun ia
urungkan dahulu karena wanita itu melanjutkan pengaduannya.``` ```“Pada
suatu hari, ada rombongan pejabat negara berkemah di depan rumah
saya.``` ```Mereka menyalakan lampu yang jumlahnya amat banyak sehingga
sinarnya terang benderang.``` ```Tanpa sepengetahuan mereka, saya segera
merajut benang dengan memanfaatkan cahaya lampu-lampu itu.``` ```Tetapi
setelah selesai saya sulam, saya bimbang, apakah hasilnya halal atau
haram kalau saya jual```? ```Bolehkah saya makan dari hasil penjualan
itu? Sebab, saya melakukan pekerjaan itu dengan diterangi lampu yang
minyaknya dibeli dengan uang negara, dan tentu saja itu tidak lain
adalah uang rakyat".``` ```Imam Ahmad rahimahullah terpesona dengan
kemuliaan jiwa wanita itu. Ia begitu jujur, di tengah masyarakat yang
bobrok akhlaknya dan hanya memikirkan kesenangan sendiri, tanpa peduli
halal haram lagi.``` ``` Padahal jelas, wanita ini begitu miskin dan
papa. Maka dengan penuh rasa ingin tahu, Imam Ahmad rahimahullah
bertanya,``` ``` “Ibu, sebenarnya engkau ini siapa?”. Dengan suara serak
karena penderitaannya yang berkepanjangan, wanita ini mengaku, “Saya
ini adik perempuan Basyar Al-Hafi.” ``` ```Imam Ahmad rahimahullah makin
terkejut. Basyar Al-Hafi rahimahullah adalah Gubernur yang terkenal
sangat adil dan dihormati rakyatnya semasa hidupnya. Rupanya, jabatannya
yg tinggi tidak disalah-gunakannya untuk kepentingan keluarga dan
kerabatnya. ``` ```Sampai-sampai adik kandungnya pun hidup dalam keadaan
miskin. Dengan menghela nafas berat, Imam Ahmad rahimahullah berkata,
"Pada masa kini, ketika orang-orang sibuk memupuk kekayaan dengan
berbagai cara, bahkan dengan menggerogoti uang negara dan menipu serta
membebani rakyat yang sudah miskin, ternyata masih ada wanita terhormat
seperti engkau, ibu.``` ``` Sungguh, sehelai rambutmu yang terurai dari
sela-sela jilbabmu jauh lebih mulia dibanding dengan berlapis-lapis
sorban yang kupakai dan berlembar-lembar jubah yang dikenakan para
ulama. ``` ```Subhanallah, sungguh mulianya engkau. Hasil rajutan itu
engkau haramkan? Padahal bagi kami itu tidak apa-apa, sebab yang engkau
lakukan itu tidak merugikan keuangan negara…”.``` ``` Kemudian Imam
Ahmad rahimahullah melanjutkan, “Ibu, izinkan aku memberi penghormatan
untukmu. ``` ```Silahkan engkau meminta apa saja dariku, bahkan sebagian
besar hartaku, niscaya akan kuberikan kepada wanita semulia engkau…”.
``` Diriwayatkan dari Abu Bakr Ash-Shiddiq, dari Rasulullah, beliau
bersabda: *لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ جَسَدٌ غُذِيَ بِحَرَامٍ* “Tidak akan
masuk ke dalam surga jasad yang diberi makan dengan yang haram.”
Saudara/ri ku...
Jangan hanya sekedar cari harta. Carilah keberkahan dalam harta tsb...
Mudah2an kisah ini dpt kita ambil hikmahnya...!!!!
Smg bermanfaat untuk kita semua.
Amiin
Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Kamis, 12 April 2018
(WUSHUL)
"YA RASULULLAH...
ANTA ROHMATIKA FIL ALAMIIN...
ANTA BHABULLAH WA BHABUL GHOIB...
ANTA HABIBULLAH..
QALBU adalah
sebagai tempat ajaran Islam, yang memerlukan syiar melalui peryataan lisan, dengan terlebih dahulu mengucapkan dua kalimat syahadat LAA ILAAHA ILLALLOH MUHAMMADUR ROSULULLOH sebagai saksi secara lisan bahwa tiada Tuhan selain Alloh dan Muhammad adalah Rosululloh.
Lubang Jantung Pertama(QALBUN) adalah sebagai tempat huruf dan asal keluarnya suara, baik suara QULUUB yang diperagakan melalui isyarat-isyarat, maupun suara mulut yang jelas atautidak jelas.
Lubang Jantung Kedua ( SYAGHOF ) tepatnya adalah sebagai tempat Kehidupan manusia, yang
eksistensinya ialah Jantung, lebih dominan kepada gerak NAFSU (JIWA), yangdipenuhi dengan keinginan-keinginan.
Selama para makhluk termasuk manusia masih keluar masuk pernafasan melalui lubang jantung kedua ( SYAGHOF ), mereka pasti mempunyai keinginan-keinginan baik yang positif maupun negatif.
Jika lubang Jantung kedua ini tidak ditanam CHIP ISMU DZAT, maka kita tidak bisa mengontrol dan membedakan mana nafsu positif dan mana nafsu negatif.
Lubang Jantung Ketiga (FU'AD) Dan perlu kita ketahui bahwa istilah FU'AD, AF'IDAH, QALB, QALBAINI, QULUUB dan kata SYAGHOF dari isyrah fi'il
madhinya, yang semua kata tersebut secara umum diartikan HATI Orang yang mengistiqomahkan dzikir khofi itu secara otomatis mengisi 3 lubang, yaitu:
1. Lubang yang menjadi tempathuruf (Ismu Dzat )
2. Lubang yang menjadi tempat nafsu (nafsu positif dan nafsu negatif)
3. Lubang yang menjadi tempat At-Tauhid ( meng-Esakan )
Dengan demikian, barang siapa yg sudah mampu mengisi lubang-lubang Jantung tersebut, artinya dia sudah
benar-benar mampu berakhlaq dengan akhlaq Ahli LAA ILAAHA ILLALLOH.
Dan barangsiapa yang ingin do'anya diijabah oleh Alloh, diterima hajatnya oleh Alloh, maka kita harus bisa
mengosongkan lubang yang ketiga tersebut dari selain Alloh. Kemudian lubang-lubang itu diisi dengan dzikir yang berwasilah.Menyatukan raga, jiwa dan nyawa dengan dzikir adalah hakikat dzikir khofi. Secara otomatis kita dilatih untukmenempatkan khusyu didalam panca indera.
Lisan berdzikir, hati dan akalpun ikut bebarengan berdzikir dan inilah yang diisyaratkan oleh ayat berikut:
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik"kalau saya tak hilaf (QS AL- Hadiid ayat 16 )
Dengan demikian kita dituntut supaya bisa " Huduu'ul Khusyuu'i Bilkhowasil Khomsi " (menempatkan khusyu didalam panca indera). Artinya ada penglihatan jangan dilihat, ada suara jangan dihiaraukan, ada aroma jangan dicium, ada rabaan jangan diraba, ada rasa jangan dirasakan, bersedakep, menghadap, mantap dan yakin, serta menutup sembilan lubang ( 2 mata, 2 telinga, 2 lubang hidung, mulut, dubur dan anus )Sehingga menenteramkan panca indera yang ada didalam raga, jiwa dan nyawa..Saudaraku...Duda janda gadis tua muda..Dalam waktu 24 jam manusia dituntut untuk mengosongkan QULUB dari selain Alloh dengan DZIKRULLOH Ini sesuai dengan Isyarat dari kalimat LAA ILAAHA ILLALLOHU MUHAMMADUR ROSULULLOHI yg berjumlah 24 huruf.
Pengosongan QULUB dari selain Allah dengan dzikir adalah syarat utama bagi amal yg dapat diterima oleh Alloh.
Dengan alat dzikir itulah dapat
membersihkan Raga, Jiwa dan Ruh (NYAWA).
Ketahuilah Kalau hanya ingin disebut muslim yang baik di mata manusia adalah mudah..., asal jangan berbuat jahat saja dikatakan baik. Akan tetapi ukuran baik menurut Alloh bukan sekedar tidak berbuat jahat, tetapi yang dikatakan baik itu harus wushul (sampai) kepada Allah.
Di lingkungan bukan Tarekat tidak dikenal kalimat wushul.
Wushul atau sampai ini terkait dengan kembali.. => Kembali kepada Alloh berarti MATI. Kita dari Alloh dan harus kembali lagi kepada Alloh. Orang disebut mati kalau mati, kenyataannya banyak orang mati tetapi tidak kembali kepada Alloh, malah masuk ke Jahannam.
Kapan kita harus kembali..?
Sejak sekarang juga kita harus kembali. Alloh itu dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher.
Dekat-jauhnya Alloh tidak diukur jarak, karena bukan benda.
(Rumusnya sesungguhnya Alloh itu dekat dengan kita, hanya saja kita yang jauh dari Alloh. Karena kalau Alloh itu jauh dari kita, sudah tentu kita pun tidak mampu mengedipkan mata,tdk mampu bergerak dan sebagainya...
Cukuplah Allah itu sgt luas,ini yg perlu diluruskan agar kita kembali kpd Allah.
Maka..
Kita harus melakukan perjalanan Ruhani menembus 4 lapis alam.
??? Bagaimanakah caranya ????
1-Terus berusaha menembus hatinya ( alam malakut ) berarti dia berada di estafet.
2-Terus berusaha menembus alam jabarut,lalu ke sirri yg berarti dia menembus alam lahut. Barulah kalau sdh menembus alam lahut ini dia sampai (WUSHUL) kpd Allah.
ANTA ROHMATIKA FIL ALAMIIN...
ANTA BHABULLAH WA BHABUL GHOIB...
ANTA HABIBULLAH..
QALBU adalah
sebagai tempat ajaran Islam, yang memerlukan syiar melalui peryataan lisan, dengan terlebih dahulu mengucapkan dua kalimat syahadat LAA ILAAHA ILLALLOH MUHAMMADUR ROSULULLOH sebagai saksi secara lisan bahwa tiada Tuhan selain Alloh dan Muhammad adalah Rosululloh.
Lubang Jantung Pertama(QALBUN) adalah sebagai tempat huruf dan asal keluarnya suara, baik suara QULUUB yang diperagakan melalui isyarat-isyarat, maupun suara mulut yang jelas atautidak jelas.
Lubang Jantung Kedua ( SYAGHOF ) tepatnya adalah sebagai tempat Kehidupan manusia, yang
eksistensinya ialah Jantung, lebih dominan kepada gerak NAFSU (JIWA), yangdipenuhi dengan keinginan-keinginan.
Selama para makhluk termasuk manusia masih keluar masuk pernafasan melalui lubang jantung kedua ( SYAGHOF ), mereka pasti mempunyai keinginan-keinginan baik yang positif maupun negatif.
Jika lubang Jantung kedua ini tidak ditanam CHIP ISMU DZAT, maka kita tidak bisa mengontrol dan membedakan mana nafsu positif dan mana nafsu negatif.
Lubang Jantung Ketiga (FU'AD) Dan perlu kita ketahui bahwa istilah FU'AD, AF'IDAH, QALB, QALBAINI, QULUUB dan kata SYAGHOF dari isyrah fi'il
madhinya, yang semua kata tersebut secara umum diartikan HATI Orang yang mengistiqomahkan dzikir khofi itu secara otomatis mengisi 3 lubang, yaitu:
1. Lubang yang menjadi tempathuruf (Ismu Dzat )
2. Lubang yang menjadi tempat nafsu (nafsu positif dan nafsu negatif)
3. Lubang yang menjadi tempat At-Tauhid ( meng-Esakan )
Dengan demikian, barang siapa yg sudah mampu mengisi lubang-lubang Jantung tersebut, artinya dia sudah
benar-benar mampu berakhlaq dengan akhlaq Ahli LAA ILAAHA ILLALLOH.
Dan barangsiapa yang ingin do'anya diijabah oleh Alloh, diterima hajatnya oleh Alloh, maka kita harus bisa
mengosongkan lubang yang ketiga tersebut dari selain Alloh. Kemudian lubang-lubang itu diisi dengan dzikir yang berwasilah.Menyatukan raga, jiwa dan nyawa dengan dzikir adalah hakikat dzikir khofi. Secara otomatis kita dilatih untukmenempatkan khusyu didalam panca indera.
Lisan berdzikir, hati dan akalpun ikut bebarengan berdzikir dan inilah yang diisyaratkan oleh ayat berikut:
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik"kalau saya tak hilaf (QS AL- Hadiid ayat 16 )
Dengan demikian kita dituntut supaya bisa " Huduu'ul Khusyuu'i Bilkhowasil Khomsi " (menempatkan khusyu didalam panca indera). Artinya ada penglihatan jangan dilihat, ada suara jangan dihiaraukan, ada aroma jangan dicium, ada rabaan jangan diraba, ada rasa jangan dirasakan, bersedakep, menghadap, mantap dan yakin, serta menutup sembilan lubang ( 2 mata, 2 telinga, 2 lubang hidung, mulut, dubur dan anus )Sehingga menenteramkan panca indera yang ada didalam raga, jiwa dan nyawa..Saudaraku...Duda janda gadis tua muda..Dalam waktu 24 jam manusia dituntut untuk mengosongkan QULUB dari selain Alloh dengan DZIKRULLOH Ini sesuai dengan Isyarat dari kalimat LAA ILAAHA ILLALLOHU MUHAMMADUR ROSULULLOHI yg berjumlah 24 huruf.
Pengosongan QULUB dari selain Allah dengan dzikir adalah syarat utama bagi amal yg dapat diterima oleh Alloh.
Dengan alat dzikir itulah dapat
membersihkan Raga, Jiwa dan Ruh (NYAWA).
Ketahuilah Kalau hanya ingin disebut muslim yang baik di mata manusia adalah mudah..., asal jangan berbuat jahat saja dikatakan baik. Akan tetapi ukuran baik menurut Alloh bukan sekedar tidak berbuat jahat, tetapi yang dikatakan baik itu harus wushul (sampai) kepada Allah.
Di lingkungan bukan Tarekat tidak dikenal kalimat wushul.
Wushul atau sampai ini terkait dengan kembali.. => Kembali kepada Alloh berarti MATI. Kita dari Alloh dan harus kembali lagi kepada Alloh. Orang disebut mati kalau mati, kenyataannya banyak orang mati tetapi tidak kembali kepada Alloh, malah masuk ke Jahannam.
Kapan kita harus kembali..?
Sejak sekarang juga kita harus kembali. Alloh itu dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher.
Dekat-jauhnya Alloh tidak diukur jarak, karena bukan benda.
(Rumusnya sesungguhnya Alloh itu dekat dengan kita, hanya saja kita yang jauh dari Alloh. Karena kalau Alloh itu jauh dari kita, sudah tentu kita pun tidak mampu mengedipkan mata,tdk mampu bergerak dan sebagainya...
Cukuplah Allah itu sgt luas,ini yg perlu diluruskan agar kita kembali kpd Allah.
Maka..
Kita harus melakukan perjalanan Ruhani menembus 4 lapis alam.
??? Bagaimanakah caranya ????
1-Terus berusaha menembus hatinya ( alam malakut ) berarti dia berada di estafet.
2-Terus berusaha menembus alam jabarut,lalu ke sirri yg berarti dia menembus alam lahut. Barulah kalau sdh menembus alam lahut ini dia sampai (WUSHUL) kpd Allah.
MANDI SYAHADAT
Setiap umat islam sangat di
anjurkan memelihara kesucian secara lahir maupun bathin ( suci jasmani
dan rohani ) agar selalu terpelihara dari perbuatan syetan,iblis,maupun
jin yang terkutuk.
_______________________________________________________
Allah Swt Berfirman ( Q.S.2.Al - Baqorah)
Innallaha yuhibbut tawwabiina wa yuhibbul mutatohhiriin
Artinya : sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri
_______________________________________________________
Naaaah Ayat tersebut di atas menjadi dasar hokum bahwa bersuci atau thaharah penting dan utama. Bersuci mencakup dua hal,yakni bersuci dari hadast dan najis. Suci dari hadast dan najis menjadi syarat mutlak sahnya ibadah shalat. Selain berhadast seseorang menjadi batal atau tidak sah ibadah shalatnya kalau ia dalam keadaan junub,demikian juga wanita yang haid, Tidak di wajibkan bagi seorang mu’min laki-laki maupun perempuan melaksanakan shalat sebelum mereka suci dari hadast dan najis. Kecuali mereka telah suci dengan cara mandi wajib atau mandi jinabat.
_______________________________________________________
Diluar mandi wajib ada mandi lain yang sudah popular dan dilaksanakan oleh sebagian umat muslim yaitu mandi sebelum shalat jum’at,sebelum shalat Idul fitri dan Idul Adha. Dalam Khazanah keilmuan Islam ada mandi yang semisal dengan itu,Namanya mandi syahadat,yaitu mandi membuang sial.
_______________________________________________________
Keutamaan mandi syahadat selain membersihkan kotoran maupun najis dari seluruh anggota tubuh juga mensucikan rohani dari pengaruh,gangguan dan godaan syetan terkutuk. Sehingga orang yang mandi syahadat akan terpelihara dari penyakit rohani seperti sombong,iri hati,dengki,hasud,syirik,zalim,musyrik,dan masih banyak lagi dalil yang menjadi dasar “mandi syahadat” atau mandi membuang sial.
_______________________________________________________
Ini lagi Firman Allah Swt ( Q.S.38.As-Shad:41-42 )
…annii massaniya asysyaythaanu binushbin wa'adzaabi. urkudh birijlika haadzaa mughtasalun baaridun wasyaraabun
Ini Artinya : Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan. Hantamkanlah kakimu. inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum
_______________________________________________________
Ayat itu turun berkenaan dengan nabi ayub As saat ditimpa mudharat/penyakit,kemudian dia pun menyeru tuhannya. Maka turunlah perintah kepada ayub untuk mandi. Dan setelah ia mandi,penyakitnya disembuhkan Allah Swt. Dalam ilmu tasawuf mandi seperti yang di lakukan Nabi Ayub As itu disebut mandi syahadat atau mandi membuang sial. Demikian ayat yang menjadi dasar mandi syahadat.
_______________________________________________________
Ini Manfaat lain dari mandi syahadat selain mebuang sial adalah :
1.Mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki kadar keimanan.
2.Membuka aura atau penutup dalam diri.
3.Menghilangkan penyakit kejiwaan seperti stress,gila atau hilang ingatan.
4.Membuang sial atau mengubah nasib.
5.Mempermudah segala urusan.
6.Menyembuhkan penyakit jasmani.
_______________________________________________________
Ini TATA CARA MANDI
1.Niat Mandi Syahadat
Niat mandi syahadat hendaknya di ucapkan di luar kamar mandi dan dalam keadaan aurat tertutup,karena ada ayat al-Quran yang di baca. Sedangkan membaca ayat Al-Quran dalam keadaan aurat terbuka dilarang. Batas aurat laki-laki sekurang-kurangnya tali pusar sampai lutut harus tertutup.Sedang aurat wanita sekurang-kurangnya menutup payudara sampai di bawah lutut.
_______________________________________________________
2.Lafadz Niat Mandi
A’uidzu billahi minas syaithaanir rajiim.Bismillah hirohmaanir rohiim. Asyhadu anlaa ilaaha illallaah, waasyhadu anna Muhammadar rasulullah, Allahuma shalli’alla Muhammad wa ala’aali Muhammad, Annii massaniyasy syaithoni binusbiw wa’adzabi.Anni massaniyadh dhurru wa anta arhamur rohimiin, Nawaitu ghusla lirof’il was waasisy syayathiin-wal iblis-wal jinni-wal insi min syari maa kholaq, fardhan lillahi ta’allaa.
_______________________________________________________
INI Artinya :’aku berlindung kepada allah dari godaan syetan yang terkutuk.Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.Aku bersaksi tidak ada tuhan selain Allah dan Aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan ( rasul ) Allah. Ya Allah aku disentuh syetan dengan kepayahan dan siksaan. Ya Allah aku disentuh kemudharatan/penyakit,sedang engkau maha pengasih dari segala pengasih.
_______________________________________________________
Sengaja aku mandi/mandi syahadat untuk membersihkan dan mensucikan jasmani dan rohani dari segala kotoran dan penyakit dan juga menghilangkan godaan,gangguan dan pengaruh syetan,iblis,jin serta kejahatan makhluk ciptaan Allah semata-mata karena Allah Ta’ala”.
_______________________________________________________
3. Kesempurnaan Mandi
Cara mandi syahadat sama seperti mandi wajib,yakni menyiram/membasuh air ke seluruh anggota tubuh dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1.Membasuh kulit kepala
2.Membasuh lubang hidung
3.Membasuh telinga dan daun telinga
4.Mabasuh ketiak
5.Membasuh sekitar payudara ( bagi wanita )
6.Membasuh lubang pusar
7.Membasuh bagian vital ( kubul dan dubur )
8.Membasuh sela-sela jari kaki.
_______________________________________________________
Penting untuk diperhatikan bahwa melaksanaka mandi wajib dan mandi syahadat harus hati-hati dan teliti. Seluruh bagian anggota tubuh harus terbasuh air supaya mandinya tidak batal. Kalau mandinya batal maka batal pula ibadah shalatnya Pun janda juga sama batal shalatNa.
_______________________________________________________
Allah Swt Berfirman ( Q.S.2.Al - Baqorah)
Innallaha yuhibbut tawwabiina wa yuhibbul mutatohhiriin
Artinya : sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri
_______________________________________________________
Naaaah Ayat tersebut di atas menjadi dasar hokum bahwa bersuci atau thaharah penting dan utama. Bersuci mencakup dua hal,yakni bersuci dari hadast dan najis. Suci dari hadast dan najis menjadi syarat mutlak sahnya ibadah shalat. Selain berhadast seseorang menjadi batal atau tidak sah ibadah shalatnya kalau ia dalam keadaan junub,demikian juga wanita yang haid, Tidak di wajibkan bagi seorang mu’min laki-laki maupun perempuan melaksanakan shalat sebelum mereka suci dari hadast dan najis. Kecuali mereka telah suci dengan cara mandi wajib atau mandi jinabat.
_______________________________________________________
Diluar mandi wajib ada mandi lain yang sudah popular dan dilaksanakan oleh sebagian umat muslim yaitu mandi sebelum shalat jum’at,sebelum shalat Idul fitri dan Idul Adha. Dalam Khazanah keilmuan Islam ada mandi yang semisal dengan itu,Namanya mandi syahadat,yaitu mandi membuang sial.
_______________________________________________________
Keutamaan mandi syahadat selain membersihkan kotoran maupun najis dari seluruh anggota tubuh juga mensucikan rohani dari pengaruh,gangguan dan godaan syetan terkutuk. Sehingga orang yang mandi syahadat akan terpelihara dari penyakit rohani seperti sombong,iri hati,dengki,hasud,syirik,zalim,musyrik,dan masih banyak lagi dalil yang menjadi dasar “mandi syahadat” atau mandi membuang sial.
_______________________________________________________
Ini lagi Firman Allah Swt ( Q.S.38.As-Shad:41-42 )
…annii massaniya asysyaythaanu binushbin wa'adzaabi. urkudh birijlika haadzaa mughtasalun baaridun wasyaraabun
Ini Artinya : Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan. Hantamkanlah kakimu. inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum
_______________________________________________________
Ayat itu turun berkenaan dengan nabi ayub As saat ditimpa mudharat/penyakit,kemudian dia pun menyeru tuhannya. Maka turunlah perintah kepada ayub untuk mandi. Dan setelah ia mandi,penyakitnya disembuhkan Allah Swt. Dalam ilmu tasawuf mandi seperti yang di lakukan Nabi Ayub As itu disebut mandi syahadat atau mandi membuang sial. Demikian ayat yang menjadi dasar mandi syahadat.
_______________________________________________________
Ini Manfaat lain dari mandi syahadat selain mebuang sial adalah :
1.Mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki kadar keimanan.
2.Membuka aura atau penutup dalam diri.
3.Menghilangkan penyakit kejiwaan seperti stress,gila atau hilang ingatan.
4.Membuang sial atau mengubah nasib.
5.Mempermudah segala urusan.
6.Menyembuhkan penyakit jasmani.
_______________________________________________________
Ini TATA CARA MANDI
1.Niat Mandi Syahadat
Niat mandi syahadat hendaknya di ucapkan di luar kamar mandi dan dalam keadaan aurat tertutup,karena ada ayat al-Quran yang di baca. Sedangkan membaca ayat Al-Quran dalam keadaan aurat terbuka dilarang. Batas aurat laki-laki sekurang-kurangnya tali pusar sampai lutut harus tertutup.Sedang aurat wanita sekurang-kurangnya menutup payudara sampai di bawah lutut.
_______________________________________________________
2.Lafadz Niat Mandi
A’uidzu billahi minas syaithaanir rajiim.Bismillah hirohmaanir rohiim. Asyhadu anlaa ilaaha illallaah, waasyhadu anna Muhammadar rasulullah, Allahuma shalli’alla Muhammad wa ala’aali Muhammad, Annii massaniyasy syaithoni binusbiw wa’adzabi.Anni massaniyadh dhurru wa anta arhamur rohimiin, Nawaitu ghusla lirof’il was waasisy syayathiin-wal iblis-wal jinni-wal insi min syari maa kholaq, fardhan lillahi ta’allaa.
_______________________________________________________
INI Artinya :’aku berlindung kepada allah dari godaan syetan yang terkutuk.Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.Aku bersaksi tidak ada tuhan selain Allah dan Aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan ( rasul ) Allah. Ya Allah aku disentuh syetan dengan kepayahan dan siksaan. Ya Allah aku disentuh kemudharatan/penyakit,sedang engkau maha pengasih dari segala pengasih.
_______________________________________________________
Sengaja aku mandi/mandi syahadat untuk membersihkan dan mensucikan jasmani dan rohani dari segala kotoran dan penyakit dan juga menghilangkan godaan,gangguan dan pengaruh syetan,iblis,jin serta kejahatan makhluk ciptaan Allah semata-mata karena Allah Ta’ala”.
_______________________________________________________
3. Kesempurnaan Mandi
Cara mandi syahadat sama seperti mandi wajib,yakni menyiram/membasuh air ke seluruh anggota tubuh dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1.Membasuh kulit kepala
2.Membasuh lubang hidung
3.Membasuh telinga dan daun telinga
4.Mabasuh ketiak
5.Membasuh sekitar payudara ( bagi wanita )
6.Membasuh lubang pusar
7.Membasuh bagian vital ( kubul dan dubur )
8.Membasuh sela-sela jari kaki.
_______________________________________________________
Penting untuk diperhatikan bahwa melaksanaka mandi wajib dan mandi syahadat harus hati-hati dan teliti. Seluruh bagian anggota tubuh harus terbasuh air supaya mandinya tidak batal. Kalau mandinya batal maka batal pula ibadah shalatnya Pun janda juga sama batal shalatNa.
Senin, 09 April 2018
DZIKIR NAFAS
- Mengenal Nafas
- Mengenal Asal usul nya Nafas
- Mengenal Datang nya Nafas
- Mengenal Reservoir Nafas
- Mengenal Puncak Kedatangnya Nafas
- Menghargai Nafas dengan Haqqul Yakin
- Melihat kedatangan Nafas dari Pandangan Ainul Yakin
- Tarbiyyah diri dengan Muttu Qablaan
tammutu [ hadits]
★ Latih MEMATIKAN DIRI
- Latih pergerakan ALLAH (memulangkan Zat, Sifat, Asma, Af’al ALLAH) Dengan Muraqabah dan Musyahadah
- Latih Ilmu ALLAH dengan KALIMAH SYAHADAH dan SYUHUD
(Qudrat ”Kuasa”, Iradat” berkehendak”, Ilmu ”ilmu”, Hayat ”hidup”)
Bagi kaum Aribillah,
NAFAS adalah Imej cermin dari ROH ,
NAFAS adalah kembaran bagi RUH.
RUH adalah Hakikat
NAFAS adalah Syariatnya di alam ini.
RUH ibarat kapal,
NAFAS bagaikan ombak
Jika tenang ombak, tenanglah perjalanan kapal.
Begitu juga RUH,
Jika NAFAS seorang hamba tenang, maka ia memberi kesan pada RUHnya.
Kaum Aribillah dan ahli Rohani amat mementingkan latihan PERNAFASAN.
Bila PERNAFASAN baik, maka akan baiklah perjalanan RUH dengan ROBBnya.
EMOSI amat mempengaruhi PERNAFASAN, baik ia dalam keadaan marah, “stress” atau tenang.
Jika seseorang itu berhasil mengawal EMOSInya maka tenanglah ia.
Mereka yang tidak mementingkan rohani
adalah seperti jasad yang tidak ada Roh,
mereka itu amat dibodohi oleh syaitan..
apa gunanya sebatang JASAD walaupun ia seorang raja, seorang yang cantik dan kaya jika tidak ada ROH dan NYAWA, maka akan di kebumikan dengan secepat mungkin (mayat namanya).
ROH dan KEROHANIAN amat penting dalam memahami pengertian hidup dan perjalanan hidup ini .
NAFAS berasal dari ROBBUL ALAMIN.
Bagiamana mengenal turunnya dan naiknya NAFAS ini dari sebatang tubuh
yang tidak ada Hawl dan Quwwah..??
Bagaimana ratusan ribu bahkan jutaan
makhluk menerima NAFAS Turun, NAFAS Naik dengan secara sistematik dan
secara teratur tanpa ada gangguan,
dan tidak kehilangan satu NAFASpun yang terkendala dalam jutaan tahun kecuali
jika sudah sampai ajal maut seseorang
itu dengan Taqdir Nafas dan Usia Hayyatnya.
NAFAS adalah sumber kehidupan,
tanpa NAFAS hancurlah kehidupan.
NAFAS adalah Al-Hayat yang datang dari Tuhan, NAFAS adalah RAHASIA ILAHI.
Para ulama sufi mengamalkan Zikir NAFAS untuk PEMBERSIHAN ROHANI
manakala para ahli “tenaga dalam” mengamalkan PERNAFASAN untuk mengaktifkan tenaga ghaibnya sehingga dapat melakukan perkara dg kekuatan JASAD.
Kaum Sufi menamakannya sebagai NASMA yaitu gabungan antara RUH, JASMANI dan JASAD.
Zikir NAFAS adalah lentera pengerak semua sistem ROHANI dan JASMANI.
*Zikir NAFAS adalah merupakan IBU dari
segala Zikir yang mempunyai banyak keistimewaan yaitu mampu membersihkan segala kotoran dalam dan ROHANI.*
Zikir NAFAS ini ada pecahan dan rangkaiannya tersendiri.
Pecahan zikir ini ialah zikir NUFUS, zikir TANAFAS dan zikir ANFAS. ~> Keempat-empatnya saling berkaitan diantara satu sama lain.
Bermula dari NAFAS itu karena ANFAS, Hidup ANFAS itu karena NUFUS,
Hidup NUFUS itu dengan RAHASIA
dan RAHASIA itulah merupakan DIRI RAHASIA ALLAH.
NUFUS, ANFAS dan TANAFAS itu adalah satu perkara yang ghaib ~> yang wujud tanpa dapat dirasakan dan tak bisa dilihat seperti juga NAFAS.
Kurang etis jika membicarakan sesuatu yang tidak boleh dibuktikan dengan ILMU YAKIN, ataupun AINUL YAKIN. Karena ini akan menimbulkan fitnah besar kepada pembicaranya kelak.
Sudah menjadi ghalibnya manusia akan menolak sesuatu yang tidak tercapai oleh AKAL dan ILMUnya, meskipun jalan paling baik adalah jika ia mendiamkan diri (tawakuf) disamping belajar untuk memahaminya.
Kedudukan Sistem Bathin dan Spiritual ini bergerak dengan Kuasa Qudrat yang mutlak dan hanya dapat dilihat dengan MATA HATI/ BASHIRAH oleh mereka yang telah HIDUP HATI mereka secara zahir dan bathin.
Tanpa ILMU MATA HATI memang HATI tidak akan terbuka dan hidup, dan
tidak akan dapat memperhatikan
KEAJAIBAN HATI ini.
Kedudukan ANFAS ialah di HIDUNG.
Kedudukan TANAFAS di TELINGA.
Kedudukan NUFUS di JANTUNG,
Kedudukan NAFAS ialah di MULUT.
ANFAS , NAFAS , TANAFAS dan NUFUS ini merupakan satu “kuasa” ataupun keadaan yang keluar masuk (bergerak) dalam tubuh seseorang manusia.
Apakah INSAN mudah memahami
pergerakan sistem Spiritual dan Rohani ini tanpa mengenal ROBBnya
dan ILLAH nya..??
sekali-kali INSAN tidak akan mengenal ROBB nya tanpa ILMU KALIMAH LA ILAHA ILLALLAH.
Semua sistem pengerakan NAFAS, ANFAS, TANAFAS adalah satu sistem
Unggul dan ajaib yang penuh dengan mukjizat.
TANAFAS bergerak di TELINGA,
NUFUS bergerak di JANTUNG,
ANFAS bergerak di HIDUNG,
NAFAS pula di MULUT.
Diantara keempat unsur ini, NAFASlah yang bisa dirasa dan disentuh serta mudah untuk diyakini (kalau kita membicarakannya) karena setiap orang bisa merasakan dengan perasaan zahir.
Justru itu dalam bab ini kita membicarakan Zikir NAFAS saja.
NAFAS adalah sumber utama dalam
menghidupkan HATI dan JASAD, memahaminya dan menguasainya akan membawa INSAN itu pada kebahagiaan.
NAFAS adalah saluran penting bagi kita
untuk meneruskan HIDUP di atas bumi ini, kalau ada JASAD tanpa NAFAS, tidak berguna JASAD ini.
Ada ROH tapi tidak ada NAFAS, tidak akan bermanfaat ROH itu pada JASAD itu.
NAFAS yaitu angin yang keluar masuk dari lubang hidung dan mulut (dari luar tubuh ke dalam tubuh).
Kalau menurut pengertian sains,
udara yang "keluar" dari mulut atau hidung itu ialah Karbondioksida (CO²) sementara yang disebut udara yang masuk itu ialah Oksigen (O²).
Fungsi Oksigen (O²) ini ialah untuk memutarkan DARAH dalam JANTUNG, menyebabkan NYAWA bergerak.
Oksigen (O²) itu dihirup dari luar yang diproses oleh tumbuh-tumbuhan dan alam seluruhnya.
Pikirlah dan renungkanlah...
*betapa pentingnya penguasan NAFAS
dalam hidup dan tanpa penguasan ini anda tidak akan bahagia secara zahir dan bathin.*
Ahli sains mengakui hakikat ini,
bahwa semua puncak masalah hidup yang membawa pada keadaan tidak bahagia adalah karena ketidak harmonisan antara JASAD dan QALBU, ketidak stabilan EMOSI atau masalah PSIKOLOGI.
EMOSI dan JASAD sangat berkaitan,
jika tidak dikendalikan akan membawa mudarat pada tubuh badan dan juga
anggota badan yang menjalankan tugas
penting dalam sistem PEREDARAN DARAH dan sistem OXYGENASI.
Justru perawatan yang paling baik ialah membina motivasi seseorang pada kekuatan dalam tubuh dg mendekatkan manusia itu dengan ROBBnya.
Zikir yang digabungkan dengan teknik pernafasan yang betul, atau disebut oleh ahli Tasawuf sebagai ZIKIR NAFAS, akan memberi kesan yang hebat.
Imam Ghazali mengatakan ZIKIR yang dilakukan dengan cara menahan NAFAS akan mempercepat proses PENSUCIAN HATI (membakar MAZMUMAH).
Pernafasan yang betul akan memaksimumkan penyerapan OKSIGEN (O²) yang amat penting dalam kehidupan dan kesehatan manusia.
Kekurangan Oksigen (O²) menyebabkan seseorang mengalami berbagai penyakit seperti kanker, gangguan saraf, leukemia dll.
Teknik Terapi Zikir PERNAFASAN:
> Kita Hendaklah Bersuci Terlebih dahulu.
Duduk rileks dengan punggung tegak,
lalu amati NAFAS yang keluar masuk, kemudian ikuti gerak NAFAS ,
Jangan mengatur NAFAS,
biarkan NAFAS keluar masuk dengan bebas.
> Posisi badan tegak, kepala lurus dg tulang punggung,
Sebaiknya bagi Pemula Mata Dipejamkan, mulut tertutup rapat dan lidah sedikit ditekuk diatas ( langit-lagit).
Tarik NAFAS perlahan-lahan dan dalam-dalam, dada digembungkan, perut dikempeskan se-kempes mungkin dan dikeraskan, agar energi yang dibangkitkan besar, dengan penuh perasaan,
Rasakan seolah – olah energi ILAHI masuk melalui pusat ( umbilicus ) naik keatas menembus ubun-ubun sampai ke titik omega (titik tak berhingga).
Tahan selama beberapa detik agar diproses oleh paru-paru,
Tahan napas di bawah pusar,
kemudian Energi ILAHI yang terang benderang diturunkan kembali ke kepala sampai ke tengah dada
dan Keluarkan nafas perlahan – lahan dari lubang hidung.
Berarti 1 x putaran NAFAS sudah kita selesaikan.
> Penarikan Nafas harus dengan tertib dan juga *secara natural tanpa dipaksa
atau pun didesak,* sebab hal ini akan gagal menghasilkan satu proses yang mukammil.
> Kemudian tarik NAFAS kembali dalam-dalam,
Tahan selama beberapa detik, dan selanjutnya [ sebaiknya 5-1-5 atau 10-1-10 atau pun 3-1-3] , tarik 3 saat -tahan 1 saat dan lepas 3 saat ] atau ikut kekuatan daya tarikan dan hembusan.
> Lanjutkan terapi pernapasan dengan dada tetap digembungkan, dan perut tetap dikempeskan dan dikeraskan.
Menarik NAFAS dengan membayangkan menghirup udara yang bersih dan sehat, lepaskan napas dengan membayangkan membuang penyakit, racun dan udara kotor.
NAFAS ditahan agar proses biologis didalam paru-paru berlangsung sempurna, yaitu : oksigen (O²) yang di udara diserap oleh paru-paru ( secara maximal ) dan udara kotor beracun ( CO2 ) dilepaskan ke-udara untuk kemudian di buang keluar saat melepaskan napas.
( Dengan bernapas biasa maka proses berlangsung tidak sempurna, karena belum sempat terjadi pertukaran secara lengkap, udara sudah dikeluarkan lagi dari paru-paru ).
Ketika anda berNAFAS tepat pada tarikan Oksigen (O²), maka yang harus anda fokuskan ialah lafadz "HU (Dia)".
baru setelah hembusan NAFAS maka fokuskan pada lafadz "ALLAH". begitu terus berulang- ulang.
Perlu diingat,
bahwa pada lafadz "HU" harus benar-benar anda rasakan,
"HU" mengalir di pembuluh-pembuluh nadi dan menyebar ke segenap penjuru organ tubuh.
Pada lafadz "ALLAH" ketika dihembuskan, rasakan bahwa yang diluar tubuh anda tidak lepas dari "Tangan-NYA".
Jika anda ikhlas karena ALLAH semata , maka anda akan bertatapan dengan- NYA, tentunya bukan dengan panca indera, tapi lebih dari itu.
Jika anda ingin tahu metode Zikir NAFAS Wali Songo yang lain (kecuali Raden Syarif Hidayatullah/Sunan Gunung Jati) tinggal membalik "HU" pada Hembusan NAFAS, dan "ALLAH" pada Tarikan NAFAS .
Waktu ingin melakukan zikir NAFAS kita wajib memulangkan Zat, Sifat, Af’al kita kepada Zat, Sifat, Af’al ALLAH ~> yang berarti memulangkan segala wujud kita yang zahir kepada wujud kita yang batin yaitu RUH
dan pulangkan wujud RUH pada hakikatnya Wujud Yang Qadim Zat ALLAH juga.
La maujud illaLlah
tiada yang ada di alam ini pada
hakikatnya melainkan ALLAH juga.
Hakikat NAFI pada diri kita ialah
La wujud (tiada yg wujud) ,
La qadir (tiada yg Maha kuasa),
La hayun,
La muridun,
La alimun (tiada yg Maha mengetahui),
La samiiun (tiada yg mendengar) ,
La basirun (tiada yg Maha melihat),
La mutakalimun fil haqiqah illaLah.
Berkata para Arifbillah,
”matikan diri kamu sebelum kamu dimatikan”.[ Hadits Sohih].
MATI disini dibagi empat (4) :
1) Mati Hissii
yaitu seolah-olah sudah bercerai RUH dari JASAD, tidak ada daya upaya walau sedikitpun juga, pada hakikatnya hanya ALLAH yang berkuasa, kemudian dimusyahadahkan di dalam HATI dengan menyaksikan kebesaran sifat JALAL dan JAMAL-NYA serta KESUCIAN-NYA.
2) Apa hakikat Asolatu Miraju lil Mukminiin.
MIRAJ yaitu lepas sempurna mematikan diri kita,
Hendaklah melakukan MIRAJ artinya menaikkan NAFAS kita melalui alam “Qaba qawsain au adna” yaitu
antara kening merasa penuh limpah dalam alam Qudus yaitu dalam benak kepala kita hingga hilang segala ingatan yang lainnya.
Ini dinamakan mati ma’nawi yaitu hilang segala sesuatu didalam HATImu melainkan hanya berhadapan pada ALLAH juga.
3) Mati dalam Hidup dan Hidup dalam kematian, inilah hakikat matilah kamu sebelum kamu di matikan.
Mati segala usaha ikhtiar segala daya upaya diri kita, kita hanya mendirikan sembahyang dengan melihat pada mata hati, dari ALLAH, dengan ALLAH dan untuk ALLAH.
Dari ALLAH yg mengerakkan RUHANIAH,
Dari RUHANIAH yg mengerakan AL-HAYAT,
Dari AL-HAYAT yg menggerakkan NAFAS
Dari NAFAS yg menggerakkan JASAD dan pada hakikatnya, semua itu ALLAH juga yang menggerakkan semuanya..
sebagaimana firmaNYA:
“Dan tiadalah yang melontar oleh engkau ya MUHAMMAD Sala Allahu Alaihi Wasalam - ketika engkau melontar tetapi ALLAH yang melontarnya…”.
Pada pandangan dzahirnya perbuatan hamba, tetapi pada pandangan matahati perbuatan ALLAH juga.
4) Mati dalam tidur
Ini adalah satu Rahasia Marifat dalam
hidup yang hanya diketahui oleh para
Arif Billah dan Alimbillah, bukan oleh
alimbil kitaab.
Zikir NAFAS adalah Ummul Zikir yang mampu memberi kekuatan Rohani
adalah Zikir Khafi, ini di jelaskan dalam beberapa hadits sohih.
Zikir NAFAS adalah sebagai NUR CAHAYA yang memancar keseluruh JIWA seorang pengamal Zikir NAFAS , besar faedahnya untuk memecahkan kekentalan darah hitam yang berada dihati yang dianggap sebagai istana Iblis itu.
Selagi istana Iblis tidak terpecah dan hancur musnah, NUR QALBI sebagai penyuluh lampu Ma’rifat yang diharapkan itu tidak mungkin diperoleh.
NUR itu tidak akan bersinar menyuluh kegelapan dalam diri. Kalau pun ia menyala tetapi cahayanya tidak terang
Sabda Rasulullah saw:
MAN ARAFA NAFSA FAQAD ARAFA RAB’BAH WAMAN ARAFA RAB’BAH FASADA JASAD.
“Siapa yang mengenal dirinya, tentu dia mengenal ROBBnya dan siapa yang mengenal ROBBnya, maka binasalah dirinya.”
Firman ALLAH swt:
“Dari ALLAH kau datang kepada ALLAH kau dikembalikan” (QS. al-Baqarah:156)
Apabila RUH diturunkan ke bumi, RUH berhajat pada Sifat IFTIQAR ALLAH untuk berfungsi di atas muka bumi ini..
Jika tidak ada Sifat IFTIQAR, RUH tidak berfungsi. Ini disebabkan karena RUH memiliki sifat yang suci dan tinggi yang tidak ada pengetahuan dan kehendak terhadap alam yang rendah (dunia).
Oleh karena itu diperlukan Sifat IFTIQAR untuk melaksanakan tugas sebagai KHALIFAH, di kehidupannya dan dunia.
4 Sifat IFTIQAR yaitu :
Sifat Qudrat,
Hayat,
Iradat,
Ilmu.
Sebelum RUH dimasukkan ke dalam JASAD, ALLAH melapisi RUH AL-QUDSI dengan lapisan-lapisan sampai ke Alam “MULKIAH” yang disebut “QISWAH UNSURIAH” yaitu
Alam JABARUT,
Alam MALAKUT
Alam MULKI
karena kekuatan RUH AL-QUDSI dapat menghancurkan JASAD, sebagaimana cahaya matahari yang dihalangi cahayanya dengan berbagai lapisan Ozone agar tidak terbakar bumi ini karena kepanasannya.
Firman ALLAH swt:
“Lalu kutiupkan Roh-KU dalam tubuh manusia.” (Al-Hijr:29)
1. QUDRAT (Kuasa)
yaitu dinyatakan pada (RUH JASMANI) dan diletakkan dalam JASAD.
RUH memerlukan JASAD untuk bergerak di atas muka bumi. (NASMA “fizikal”: kuasa batin yang hebat).
TANAH: tubuh badan - istana hakikat.
2. ILMU (ilmu)
dinyatakan pada (RUH SULTANI) dan menjadi AKAL apabila digabungkan dgn unsur AIR dan diletakkan pd OTAK.
RUH tidak akan dapat berfikir untuk kehidupan di dunia tanpa ILMU bangsa dunia. (AIR: akal - ilham, laduni pandangan tajam hikmah).
AIR: otak - istana syariat.
3. HAYAT (hidup)
ia dinyatakan pada (RUH AL HAYAT) dan menjadi NAFAS apabila bergabung dgn UDARA.
Ruh memerlukan NAFAS untuk berhubung dgn NAFAS.
(NAFAS: menstabilkan EMOSI, AKAL, KESEHATAN dan perjalanan RUH).
ANGIN/udara: sistem pernafasan - istana tarikat.
4. IRADAT (berkehendak)
ia dinyatakan pada (RUH SAIRANI RAWANI) dan menjadi NAFAS apabila digabungkan dgn unsur API dan diletakkan di JANTUNG/ QALBU.
RUH memerlukan NAFSU bangsa dunia untuk memakmurkan dunia.
(NAFSU: ketenangan, kasyaf, asyik, cinta, rindu, syuhud, makrifat)
API: jantung - istana makrifat.
Syaik Abdul Qadir Jailani, Di dalam Kitab SIRRUL ASRAR mengatakan:
RUH adalah hakikat DIRI manusia yang sebenarnya.
RUH adalah NUR CAHAYA yang tinggi yang dibalut dengan beberapa lapisan pakaian sebelum di turunkan ke alam dunia ini agar JASAD tidak terbakar.
“Manusia itu rahasiaKU dan AKU adalah rahasia manusia.” (Hadits Qudsi)
Setiap RUH mempunyai tempat/ daerah ketika RUH berada dalam JASAD
Setiap INSAN wajib mengetahui bagaimana mengolah setiap lapisan tersebut agar tersingkap baginya Rahasia.
Kenali dirimu dengan merenungkan kedalam dirimu, niscaya engkau akan mengenali Tuhanmu tanpa huruf, tanpa suara, tanpa dalil dan tanpa perantara.
Galillah Rahasia alam dirimu sendiri sehingga berjumpa dengan air dari alam Malakut, alam Jabarut dan akhirnya Lahut, niscaya kamu akan dapat menyaksikan kembali bagaimana dirimu berhimpun dan bertasbih di alam Lahut serta menyaksikan bagaimana dirimu bersaksi akan diri KeTuhanan
sebagaimana firmannya:
”Adakah AKU Tuhan Kamu, (Ruh menjawab) Bahkan! Kami menyaksikan.” (QS. al-Araf:172)
Siapa yang sampai ke alam ini, ia mengambil ilmunya dari ALLAH tanpa perantara yaitu ilmu LADUNI.
Di alam ini, ia beribadah dari ALLAH, dengan ALLAH dan untuk ALLAH. Pandangannya senantiasa melihat pada 2 alam, melihat diriNya di alam zahir yaitu Af’al, Sifat dan Asma, bermusyahadah dengan ZatNYA di alam lahut.
Adakala mereka itu FANA (lebur) penglihatan di alam ini ketika mentajallikan rahasiaNYA sehingga tidak ada yang dilihat melainkan ALLAH swt.
Bagaimana hendak Mengenal Diri ?
Apa yang harus di kenali dengan Diri ini ?
Adakah Mengenal JASAD yang di kenali oleh semua orang kafir dan mushrik agar dengan itu mereka bisa mengenal ROBB mereka?
Adakah mengenal BATHIN saja tanpa mengetahui soal ROHANI ?
Mengenal Diri tanpa mengenal Jalan
Mengenal Diri, anda tidak akan sampai pada kehendak.
Mengenal Jalan tanpa mengenal Musuh akan tewas di separuh jalan.
Mengenal Musuh tanpa bersenjata akan dikalahkan.
Mempunyai senjata lengkap namun tidak mengenal maqam Musuh akan menempuh kekalahan.
Mengenal senjata dan musuh tetapi tidak ada tarbiyah dari orang yg mengenal perjalanan dan kaidah juga akan binasa dalam kesesatan.
Siapa yang benar Mengenal Dirinya, akan binasalah dirinya, tenggelamlah ia dalam lautan kefakiran, tenggelam ia dalam lautan ketiadaan ke-Aku-an.
Didalam Kitab Kasaful Asrar dinyatakan bahwa wujud INSAN adalah bayang-bayang kepada wujud Tuhan.
Tidak akan wujud bayang-bayang ini jika tidak ada yang empunya bayang-bayang, tidak bergerak bayan-bayang melainkan bergeraknya tuan empunya bayang-bayang.
Apabila kamu memandang diri kamu, memandang kewujudan dirimu, maka kamu wajib memahami bahwa kamu ada pemiliknya.
Wujud kamu menyatakan wujud diri-NYA. DIA ghaib dan kamu nyata,
DIA hakikat dan kamu syariat,
DIA adalah wujud dan kamu adalah bayang bagi wujud-NYA.
Lihatlah diri kamu lagi..,
pandanglah segala sifat yang ada pada diri kamu, lihatlah matamu, lihatlah telingmu, lihatlah mulutmu,lihatlah akalmu, lihatlah gerak diammu, lihat rasa hatimu. Semuanya tidak lain melainkan kenyataan sifat-sifat-NYA.
Semoga HATI kita tidak dibutakan sama sekali, sehingga tidak mengenal Diri-NYA, yang meskipun Al-Ghaib tetapi sangat dekat sekali, bahkan lebih dekat DIA bila dibandingkan dengan urat nadi yang ada di lehernya sendiri.
Itu Berarti lebih dekat DIA meskipun dibandingkan dengan keluar masuknya NAFAS dalam dada.
Maka firman-NYA yang memutuskan:
“Barang siapa yang hidupnya sekarang ini (di dunia) buta (mata hatinya tidak mengetahui keberadaan Diri Tuhannya yang dekat sekali dan Wajib Wujud-Nya), maka kelak di akhirat juga akan lebih buta dan lebih sesat jalannya.” (Al-Isra:72)
Tauhidul Af'al (Ke-Esa'an Perbuatan)
Hendaklah anda ketahui bahwa segala apapun juga yang terjadi di alam ini pada hakekatnya adalah Af'al (perbuatan) ALLAH s.w.t. yang terjadi di alam ini dapat digolongkan pada 2 golongan.
1) Baik pada bentuk (rupa) dan isi (hakekatnya) seperti iman dan taat.
2) Buruk pada bentuk (rupa) namun baik pada pengertian isi (hakekat) seperti kufur dan maksiat.
Dikatakan ini buruk pada bentuk karena adanya ketentuan hukum/syarak yang mengatakan demikian.
Dikatakan baik pada pengertian isi (hakikat) karena hal itu adalah sutu ketentuan dan perbuatan dari pada Allah Yang Maha Baik.
Maka "kaifiat" cara untuk melakukan pandangan (syuhud/musyahadah) sebagaimana dimaksudkan diatas ialah:
"Setiap apapun yang disaksikan oleh mata hendaklah ditanggapi oleh hati bahwa semua itu adalah Af'al (perbuatan) dari ALLAH s.w.t."
Bila ada sementara anggapan tentang ikut sertakan "yang lain dari pada ALLAH" di dalam proses kejadian sesuatu, maka hal tersebut tidak lain hanya dalam pengertian majazi (bayangan) bukan menurut pengertian hakiki.
Misalnya
si A bekerja untuk mencari makan atau memberi makan anak-anaknya maka si A tergolong dalam pengertian "yang lain dari pada ALLAH" dan juga dapat dianggap "ikut serta dalam proses memberi makan anaknya.
Fungsi si A dalam keterlibatan ini hanya majaz (bayangan) saja, bukan dalam arti hakiki. Karena menurut pengerti hakiki yang memberi makan dan minum pada hakikatnya ialah ALLAH,
sebagaimana tersebut dalam AL-QUR'AN Surah:
“Dialah (ALLAH) yang memberi makan dan minum kepada saya.” (As-Syu'ara ayat 79.)
Segala macam perbuatan (sikap laku) apakah perbuatan diri sendiri ataupun perbuatan yang terjadi di luar dirinya, adalah termasuk dalam 2 macam pengertian.
Pengertian pertama dinamakan MUBASYARAH
Pengertian kedua dinamakan TAWALLUD.
Kedua macam pengertian ini tidak terpisah satu sama lain.
Contohnya adalah sebagai berikut:
1) Gerak pena ditangan seorang penulis,
ini dinamakan MUBASYARAH (terpadu) karena adanya "perpaduan" dua kemampuan Qudrat yaitu kemampuan kodrat gerak tangan kemampuan kodrat gerak pena.
Bagaimana kita dapat memahami gerak Qudrat ALLAH dan bagaimana kita dapat bersyuhud dengan Qudrat ALLAH dalam setiap keadaan.
2) Gerak batu yang lepas dari tangan pelempar.
Hal ini dinamakan TAWALLUD (terlahir) karena lahirnya gerakan batu yang dilemparkan itu adalah kemampuan kodrat gerakan tangan.
Namun pada hakekatnya, kedua macam pengertian itu (Mubasyarah dan Tawallud) adalah Af'al ALLAH s.w.t., didasarkan kepada dalil nas AL-QUR'AN:
WALLAHU KHOLAQAKUM WA MA TA'MALUN
ALLAH yang mencipta kamu dan apa yang kamu lakukan.
Apa-apa juga yang dilakukan oleh hamba, perkataan, tingkah laku, gerak dan diam, namun semua itu sudah lebih dahulu pada Ilmu, Qoda dan Qadar/Takdir ALLAH s.w.t.
Firman ALLAH di dalam AL-QUR'AN:
WA MA RAMAITA IDAZ RAMAITA WALAKINNALLAHURAMA
Tidaklah anda yang melempar (Hai MUHAMMAD) tetapi ALLAH -lah yang melepar ketika anda melempar.
LA HAULA WA LA QUWWATA ILLA BILLAHIL ALIYYIL AZHIEM
Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan (daya dan kekuatan) ALLAH Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.
Hadits Rasullah s.a.w.
LA TATAHARRAKU DZARRATUN ILLA BI IDZNILLAHI
Tidak bergerak satu zarrah juapun melainkan atas izin ALLAH .
Atas dasar pandangan (musyahadah) inilah, maka Nabi s.a.w. tidak mendoakan kehancuran bagi kaumnya yang telah menyakiti beliau.
Apabila anda selalu atas pandang (musyahadah) Tauhidul-Af'al dengan penuh yakin (tahkik) maka terlepaslah anda dari pada penyakit dan bahaya syirik-khofi sebagaimana tersebut di atas.
Sehingga akhirnya anda akan dapat menyaksikan dengan jelas bahwa segala yang berupa UJUD MAJAZI (ujud bayangan) ini, lenyap dan hilang sirna, dengan NYATANYA NUR UJUDULLAH yang hakiki.
Apabila secara terus menerus anda latih dengan pandangan musyahadah demikian, sedikit demi sedikit dengan tidak tercampur baur antara pandangan lahir dan pandangan batin, maka sampailah anda pada suatu makom (tingkatan) yang di namakan MAQOM WIHDATUL AF'AL.
Pada tingkatan ini berarti FANA (lenyap) segala perbuatan makhluk, perbuatan anda sendiri atau perbuatan yang lain dari anda karena "nyatanya" perbuatan ALLAH Yang Maha Hebat.Tauhidul Asma (Ke-Esa'an Nama ALLAH s.w.t.)
Kafiat (cara-cara) memusyahadahkan tentang keEsaan nama-nama ALLAH s.w.t. adalah sebagai berikut:
"Pandang dengan mata kepala kita lalu syuhud (pandang) dengan mata hati, bahwa segala nama apapun juga pada hakikatnya kembali kepada sumbernya ialah nama ALLAH s.w.t."
Alasanya ialah, bahwa nama apapun juga yang ada di dalam alam ini tentu ada yang memberi nama (ujud musamma).
Dalam arti hakiki sudah jelas bahwa "tidak ada yang maujud/diadakan kecuali ALLAH ."
Firman ALLAH swt:
“Tiap sesuatu itu “halikun” (maujudnya) bukan di atas wujud yang sebenar benarnya) kecuali (setiap sesuatu itu) wajah ALLAH semata-mata.” (28:20:88)
Segala yang maujud (yang diadakan) pada hakikatnya hanyalah khayalan (kosong) atau waham (sangkaan) saja, bila dinisbahkan (dibandingkan) dengan UJUD ALLAH.
Contoh
sekeping kaca yang tembus warnanya, lalu diwarnakan dengan bermacam-macam warna. Kemudian diletakkan di bawah cahaya matahari, tentu akan terlihat beraneka warna pada bumi sebagaimana warna yang tercantum pada kaca tadi.
Disitu dapat terlihat jelas bahwa cahaya matahari tidak terpisah cerai dengan zat matahari sendiri dan tidak pula berpindah cahaya matahari itu tadi. Adanya bermacam warna pada bumi menunjukkan keEsa'an matahari.
Maha suci ALLAH dari contoh dan misal, maka pahamilah dengan kata-kata yang baik dan sempurna, semoga anda dapat memahaminya dengan kasih sayang ALLAH s.w.t. dan dapat sesuai dengan maksud yang sebenarnya.
Andai kata telah berhasil pada maqom (tingkatan) ini lalu kemudian TAJALLI HAK TA'ALA (nampak nyata kebenaran ALLAH Ta'ala) bagi kita dari celah-celah dinding mazhar (kenyataan) ini dengan 2 macam nama (isim) maka semua yang berupa mashar tersebut lenyap sirna didalam keEsa'an (ahadiyat) ALLAH s.w.t.
Apabila TAJALLI ALLAH TA'ALA (nampak nyata) dengan asmaNYA/ nama-namaNYA ZHOHIRUN terhadap hambaNYA, niscaya si hamba itu akan dapat melihat bahwa segala akwan (kejadian) semua ini adalah KEBENARAN ALLAH, sepanjang pengertian bahwa zohir akwan itu adalah dengan ZOHIRNYA ALLAH.
Berdirinya akwan itu dengan nyatanya qoyyumiyahNYA (sifat qiyamuhu ta'ala binafsi)
Berdiri ALLAH dengan sendirinya dan KEKALNYA ALLAH s.w.t. karena tidak akan mungkin bagi akwan ini ada dengan sendirinya. Dan tidak akan mampu si hamba membedakan satu persatu segala akwan ini.
Jelasnya hanya pada suatu pengertian bahwa makhluk ini hanya sekedar mazhar/sandaran semata-mata. Si hamba dapat memandang (musyahadah) bahwa ALLAH adalah hakikat segala sesuatu sebagaimana yang difirmankan oleh ALLAH didalam AL-QUR'AN:
"FA AINAMA TUWALLU FASTAMMA WAJHULLAHI"
Kemanapun kamu mengadap, disanalah Ujud ALLAH .
Maksudnya,
kemanapun dan dimanapun AKAL, HATI dan ROH ini berhadapan maka di sanalah adanya ALLAH s.w.t.
Makom Tauhidul Asma ini merupakan makom yang kedua dari makom orang-orang Arifin yang dianugerahkan ALLAH Ta'ala kepada orang yang salik atau kepada orang lain seperti orang yang majzub.
Makam inilah merupakan Natijah yaitu faedah yang diperoleh dan juga merupakan lanjutan makom yang pertama, makom bagi orang yang senantiasa memandang wahdatul Af'al. Makom Tauhidul Asma inilah yang menyampaikan anda kepada makom yang seterusnya yaitu "Tauhidul Sifat" makom yang ketiga dari orang-orang A'rif.
Tauhidus Sifat (Ke-Esa’an Sifat ALLAH swt)
Tauhid Fil Siffat.
Bagaimana dapat memahami Tauhid dalam Maqam ini?.
ILMU Kalimah yang menyampaikan ke Maqam ini harus di praktekkan dengan Ammali Tauhid Fi Siffat.
Bab yang ketiga ini menerangkan tauhidus sifat yang bermaksud meng-esakan ALLAH Taala pada sifat yang berdiri pada zat-NYA:
yaitu memfanakan segala sifat makhluk sama ada sifat dirinya atau yang lain, di dalam sifat-sifat ALLAH .
Kaifiatnya ialah anda memandang dan musyahadah dengan mata hati dan beriktikad bahwa segala sifat yang berdiri pada zat-NYA seperti semuanya itu sifat-sifat ALLAH Taala.
Karena tidak ada zat yang bersifat dengan sifat-sifat tersebut pada hakikatnya melainkan Zat ALLAH Taala juga.
Di adakan sifat-sifat ini pada makhluk, sekadar pinjaman (majaz) dan bukan pada hakikatnya. Cuma sifat-sifat tersebut adalah sifat-sifat ALLAH Taala juga.
Apabila sudah Tahkik pandanganmu dengan keadaan demikian, niscaya segala sifat makhluk FANA dalam sifat-sifat ALLAH Taala,
Hamba itu tidak mendengar melainkan dengan pendengaran ALLAH Taala,
Hamba itu tidak melihat melainkan dengan penglihatan ALLAH Taala,
Hamba itu tidak tahu melainkan dengan pengetahuan ALLAH Taala,
Hamba itu tidak hidup melainkan dengan hayat Allah Taala,
Hamba itu tidak berkata-kata melainkan dengan perkataan Allah Taala,
dan begitulah seterusnya dengan sifat-sifat-NYA yang lain.
Dalil yang menunjukkan bahwa hamba tidak mempunyai sifat-sifat tersebut dan yang ada pada hamba itu muzhar sifat-sifat ALLAH Taala ialah sebagaimana firman Allah Taala, dalam hadis Qudsi:
”Tidak menghampiri orang-orang yang menghampiri diri-KU umpama mengerjakan apa yang AKU fardukan ke atas mereka dan senantiasalah hamba-KU berdamping diri kepada-KU dengan mengerjakan ibadat sunat hingga AKU kasihan dia. Maka apabila AKU kasihan dia, niscaya adalah AKU pendengarannya yang ia mendengar dengan DIA, pertuturan lidahnya yang ia bertutur dengan DIA, penampar tangan yang ia menampar dengan DIA, berjalan kakinya yang ia berjalan dengan DIA, dan fikiran hatinya yang ia berfikir dengan DIA.”
Kaifiat mentajalli sifat ALLAH Taala ialah memandang hak Taala, bahwa hamba yang mendengar itu dengan ALLAH Taala, maka segala keadaan yang didengar oleh hamba fana bersama diri-NYA.
Apabila telah tetap mentajalli sifat mendengar itu dalam HATI, maka akan melihat sifat yang lain pula sehingga habis satu persatu seperti sifat Basar, Kalam, Ilmu dan Iradat.
Anda juga akan melihat hamba itu tidak melihat dirinya bersifat demikian yang hanya menerima daripada sifat-sifat ALLAH Taala jua.
Apabila semua sifat yang lain terhapus, maka tajalli pula sifat-sifat ALLAH Taala ke atas kita dan kita akan melihat, hamba itu yang bersifat Haiyun (hidup).
Apabila sifat Hayat itu Fana dari diri, ternyatalah bahwa tidak ada yang hidup melainkan ALLAH Taala.
Apabila anda telah berhasil memperoleh makam fana, ketika itu jadilah kita baqa bisifatillah (kekal dengan sifat-sifat ALLAH ). Ketika itu juga, kita memperoleh kemenangan kerana dapat mengenal-NYA dengan pengenalan yang layak dan sempurna.
Oleh karena itu jadilah kita ketika itu fana fisifatillah (terhapus dalam sifat-sifat ALLAH ) dan baqa bisifatillah.
Ketika itu juga, ALLAH Ta’ala akan memberitahu kepada kita segala rahasia sifat-NYA yang mulia.
Kesimpulannya,
makam tauhidus sifat inilah makam yang tetap dan teguh.
Apabila sudah habis mentajallikan semua sifat itu di dalam HATI, maka dianugerahkan oleh ALLAH Ta’ala kepadanya pada saat itu kekuatan yang dapat menanggung Tajalli Zat jika dikehendakiNYA.
Makam inilah yang akan menyampaikan orang yang Arif itu kepada makam yang di atasnya yaitu makam Tauhiduz Zat, makam yang keempat dari semua makam orang-orang Arif.
Tauhiduz Zat (Mengesakan Zat)
Kafiat mengesakan ALLAH Taala pada zat itu ialah melihat dengan mata kepala dan mata hati, sesungguhnya tidak ada yang maujud dalam wujud ini hanya ALLAH Taala saja.
Cara ini dilakukan dengan menfana’kan kesemua zat kita dan zat yang lain dari zat kita (segala makhluk) di bawah Zat ALLAH Taala.
Atau dengan kata lain, tidak ada yang maujud melainkan ALLAH Taala sendiri yang wujud dan wujud yang lain selain ALLAH Taala.
Oleh karena itu,
wujud yang lain itu bukanlah maujud dengan sendirinya, hanya ia maujud dengan ALLAH Taala itu qiam (berdiri) dengan wujud ALLAH Taala dan ia tidak qiam dengan sendiri.
Oleh karena itu wujud yang lain dari ALLAH Taala itu adalah khayalan berlaka.
Ini berarti ia ditempatkan pada yang sudah maklum yaitu pada tempat yang diadakan dan waham (sangkaan dan batal) yang dinisbahkan kepada wujud ALLAH Taala.
Tujuh Tingkatan NAFS
Firman Allah swt:
“Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu .Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu, maka ALLAH akan menerima taubatmu”. (Al-Baqarah:54)
Maksudnya,
yang dibunuh adalah WATAK Aku-nya NAFSU, supaya si nafsu menjadi patuh dan tunduk mengikut HATI NURANI, RUH dan RASA dekat kepada-NYA.
Melahirkan manusia yang hanya (mempunyai) ILMU semata-mata tanpa disertakan kebersihan rohani akan membawa kepada ke-egoan dan perdebatan yang tidak ada habis²nya.
7 NAFSU beserta tentaranya adalah sebagai berikut:
1) Nafsu AMARAH.
Letaknya di dada agak sebelah kiri.
Tentaranya : senang berlebihan, dengki, dendam, iri hati, sombong, riya, takabbur, suka marah, dan akhirnya tidak mengenal Tuhannya.
(Yusuf:53)
”Sesungguhnya Nafs (manusia) menyuruh berbuat kejahatan rendah.”
2) Nafsu LAWAMAH
Di Manakah Maqamnya dalam Jasad Insan?
Nafsu LAWAMAH, letaknya di dalam HATI SANUBARI, di bawah susu yang kiri kira-kira 2 jari.
Tentaranya: Ujub, senang di puji, memuji diri, menunjuk, khianat, menganiaya, bohong.
ALLAH menyebut JIWA ini dalam AL-QUR’AN surah Qiyamah ayat 2,
”Dan Aku bersumpah demi jiwa yang mencela.”
3) Nafsu MULHIMAH.
Tempatnya kira-kira 2 jari ke arah susu yang kanan dari tengah dada.
Tentaranya : suka memberi, sederhana, menerima apa adanya, belas kasih, lemah lembut, merendah diri, taubat, sabar dan tahan menghadapi kesulitan serta siap menanggung betapa beratnya melaksanakan kewajiban.
ALLAH menyebut JIWA ini di dalam AL-QUR’AN surah Al-Syam ayat 7-8,
”Demi diri (manusia) dan yang menyempurnakannya (Allah).Lalu diilhamkan (Allah) kepadanya mana yang buruk dan mana yang baiknya.”
4) Nafsu MUTHMAINNAH.
Tempatnya dalam RASA kira-kira 2 jari ke arah susu kiri dari tengah dada.
Tentaranya: Senang sedekah, tawakkal, senag ibadah, senang bersukur kepada Tuhan, ridha kepada hukum dan ketentuan ALLAH dan takut pada ALLAH.
ALLAH menyebut JIWA ini di alam AL-QUR’AN surah Al-Fajr ayat 27,
”Hai jiwa yang tenang.”
5) Nafsu RADHIYAH.
Tempatnya dalam RASA, dalam HATI NURANI dan seluruh JASAD.
Tentaranya: pribadi yang mulia, zuhud, ikhlas, wara, ridha, menepati janji.
ALLAH menyebut JIWA ini di dalam AL-QUR’AN surah Al-Fajr ayat 28,
”Kembalikanlah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha.”
6)Nafsu MARDHIYAH.
Tempatnya di alam yang samar, mengarah kira-kira 2 jari ke tengah dada.
Tentaranya: Baik budi pekerti, bersih dari segala dosa makhluk, rela membantu kesusahan makhluk, senang mengajak dan memberi pandangan kepada RUHnya makhluk.
ALLAH menyebut JIWA ini di dalam AL-QUR’AN surah Al-Fajr ayat 28,
“Dan di RidhaiNYA.”
7) Nafsu KAMILAH.
Letaknya mengarah ke dalam dada yang paling dalam.
Tentaranya: ILMU YAKIN dan HAQQUL YAKIN.
ALLAH menyebut JIWA ini di dalam AL-QUR’AN surah Al-Fajr ayat 29-30,
”Masuklah dalam golongan hamba-hambaKU dan masuklah kedalam syurgaKU.”
Wa Allahu a'lam bishowab
- Mengenal Asal usul nya Nafas
- Mengenal Datang nya Nafas
- Mengenal Reservoir Nafas
- Mengenal Puncak Kedatangnya Nafas
- Menghargai Nafas dengan Haqqul Yakin
- Melihat kedatangan Nafas dari Pandangan Ainul Yakin
- Tarbiyyah diri dengan Muttu Qablaan
tammutu [ hadits]
★ Latih MEMATIKAN DIRI
- Latih pergerakan ALLAH (memulangkan Zat, Sifat, Asma, Af’al ALLAH) Dengan Muraqabah dan Musyahadah
- Latih Ilmu ALLAH dengan KALIMAH SYAHADAH dan SYUHUD
(Qudrat ”Kuasa”, Iradat” berkehendak”, Ilmu ”ilmu”, Hayat ”hidup”)
Bagi kaum Aribillah,
NAFAS adalah Imej cermin dari ROH ,
NAFAS adalah kembaran bagi RUH.
RUH adalah Hakikat
NAFAS adalah Syariatnya di alam ini.
RUH ibarat kapal,
NAFAS bagaikan ombak
Jika tenang ombak, tenanglah perjalanan kapal.
Begitu juga RUH,
Jika NAFAS seorang hamba tenang, maka ia memberi kesan pada RUHnya.
Kaum Aribillah dan ahli Rohani amat mementingkan latihan PERNAFASAN.
Bila PERNAFASAN baik, maka akan baiklah perjalanan RUH dengan ROBBnya.
EMOSI amat mempengaruhi PERNAFASAN, baik ia dalam keadaan marah, “stress” atau tenang.
Jika seseorang itu berhasil mengawal EMOSInya maka tenanglah ia.
Mereka yang tidak mementingkan rohani
adalah seperti jasad yang tidak ada Roh,
mereka itu amat dibodohi oleh syaitan..
apa gunanya sebatang JASAD walaupun ia seorang raja, seorang yang cantik dan kaya jika tidak ada ROH dan NYAWA, maka akan di kebumikan dengan secepat mungkin (mayat namanya).
ROH dan KEROHANIAN amat penting dalam memahami pengertian hidup dan perjalanan hidup ini .
NAFAS berasal dari ROBBUL ALAMIN.
Bagiamana mengenal turunnya dan naiknya NAFAS ini dari sebatang tubuh
yang tidak ada Hawl dan Quwwah..??
Bagaimana ratusan ribu bahkan jutaan
makhluk menerima NAFAS Turun, NAFAS Naik dengan secara sistematik dan
secara teratur tanpa ada gangguan,
dan tidak kehilangan satu NAFASpun yang terkendala dalam jutaan tahun kecuali
jika sudah sampai ajal maut seseorang
itu dengan Taqdir Nafas dan Usia Hayyatnya.
NAFAS adalah sumber kehidupan,
tanpa NAFAS hancurlah kehidupan.
NAFAS adalah Al-Hayat yang datang dari Tuhan, NAFAS adalah RAHASIA ILAHI.
Para ulama sufi mengamalkan Zikir NAFAS untuk PEMBERSIHAN ROHANI
manakala para ahli “tenaga dalam” mengamalkan PERNAFASAN untuk mengaktifkan tenaga ghaibnya sehingga dapat melakukan perkara dg kekuatan JASAD.
Kaum Sufi menamakannya sebagai NASMA yaitu gabungan antara RUH, JASMANI dan JASAD.
Zikir NAFAS adalah lentera pengerak semua sistem ROHANI dan JASMANI.
*Zikir NAFAS adalah merupakan IBU dari
segala Zikir yang mempunyai banyak keistimewaan yaitu mampu membersihkan segala kotoran dalam dan ROHANI.*
Zikir NAFAS ini ada pecahan dan rangkaiannya tersendiri.
Pecahan zikir ini ialah zikir NUFUS, zikir TANAFAS dan zikir ANFAS. ~> Keempat-empatnya saling berkaitan diantara satu sama lain.
Bermula dari NAFAS itu karena ANFAS, Hidup ANFAS itu karena NUFUS,
Hidup NUFUS itu dengan RAHASIA
dan RAHASIA itulah merupakan DIRI RAHASIA ALLAH.
NUFUS, ANFAS dan TANAFAS itu adalah satu perkara yang ghaib ~> yang wujud tanpa dapat dirasakan dan tak bisa dilihat seperti juga NAFAS.
Kurang etis jika membicarakan sesuatu yang tidak boleh dibuktikan dengan ILMU YAKIN, ataupun AINUL YAKIN. Karena ini akan menimbulkan fitnah besar kepada pembicaranya kelak.
Sudah menjadi ghalibnya manusia akan menolak sesuatu yang tidak tercapai oleh AKAL dan ILMUnya, meskipun jalan paling baik adalah jika ia mendiamkan diri (tawakuf) disamping belajar untuk memahaminya.
Kedudukan Sistem Bathin dan Spiritual ini bergerak dengan Kuasa Qudrat yang mutlak dan hanya dapat dilihat dengan MATA HATI/ BASHIRAH oleh mereka yang telah HIDUP HATI mereka secara zahir dan bathin.
Tanpa ILMU MATA HATI memang HATI tidak akan terbuka dan hidup, dan
tidak akan dapat memperhatikan
KEAJAIBAN HATI ini.
Kedudukan ANFAS ialah di HIDUNG.
Kedudukan TANAFAS di TELINGA.
Kedudukan NUFUS di JANTUNG,
Kedudukan NAFAS ialah di MULUT.
ANFAS , NAFAS , TANAFAS dan NUFUS ini merupakan satu “kuasa” ataupun keadaan yang keluar masuk (bergerak) dalam tubuh seseorang manusia.
Apakah INSAN mudah memahami
pergerakan sistem Spiritual dan Rohani ini tanpa mengenal ROBBnya
dan ILLAH nya..??
sekali-kali INSAN tidak akan mengenal ROBB nya tanpa ILMU KALIMAH LA ILAHA ILLALLAH.
Semua sistem pengerakan NAFAS, ANFAS, TANAFAS adalah satu sistem
Unggul dan ajaib yang penuh dengan mukjizat.
TANAFAS bergerak di TELINGA,
NUFUS bergerak di JANTUNG,
ANFAS bergerak di HIDUNG,
NAFAS pula di MULUT.
Diantara keempat unsur ini, NAFASlah yang bisa dirasa dan disentuh serta mudah untuk diyakini (kalau kita membicarakannya) karena setiap orang bisa merasakan dengan perasaan zahir.
Justru itu dalam bab ini kita membicarakan Zikir NAFAS saja.
NAFAS adalah sumber utama dalam
menghidupkan HATI dan JASAD, memahaminya dan menguasainya akan membawa INSAN itu pada kebahagiaan.
NAFAS adalah saluran penting bagi kita
untuk meneruskan HIDUP di atas bumi ini, kalau ada JASAD tanpa NAFAS, tidak berguna JASAD ini.
Ada ROH tapi tidak ada NAFAS, tidak akan bermanfaat ROH itu pada JASAD itu.
NAFAS yaitu angin yang keluar masuk dari lubang hidung dan mulut (dari luar tubuh ke dalam tubuh).
Kalau menurut pengertian sains,
udara yang "keluar" dari mulut atau hidung itu ialah Karbondioksida (CO²) sementara yang disebut udara yang masuk itu ialah Oksigen (O²).
Fungsi Oksigen (O²) ini ialah untuk memutarkan DARAH dalam JANTUNG, menyebabkan NYAWA bergerak.
Oksigen (O²) itu dihirup dari luar yang diproses oleh tumbuh-tumbuhan dan alam seluruhnya.
Pikirlah dan renungkanlah...
*betapa pentingnya penguasan NAFAS
dalam hidup dan tanpa penguasan ini anda tidak akan bahagia secara zahir dan bathin.*
Ahli sains mengakui hakikat ini,
bahwa semua puncak masalah hidup yang membawa pada keadaan tidak bahagia adalah karena ketidak harmonisan antara JASAD dan QALBU, ketidak stabilan EMOSI atau masalah PSIKOLOGI.
EMOSI dan JASAD sangat berkaitan,
jika tidak dikendalikan akan membawa mudarat pada tubuh badan dan juga
anggota badan yang menjalankan tugas
penting dalam sistem PEREDARAN DARAH dan sistem OXYGENASI.
Justru perawatan yang paling baik ialah membina motivasi seseorang pada kekuatan dalam tubuh dg mendekatkan manusia itu dengan ROBBnya.
Zikir yang digabungkan dengan teknik pernafasan yang betul, atau disebut oleh ahli Tasawuf sebagai ZIKIR NAFAS, akan memberi kesan yang hebat.
Imam Ghazali mengatakan ZIKIR yang dilakukan dengan cara menahan NAFAS akan mempercepat proses PENSUCIAN HATI (membakar MAZMUMAH).
Pernafasan yang betul akan memaksimumkan penyerapan OKSIGEN (O²) yang amat penting dalam kehidupan dan kesehatan manusia.
Kekurangan Oksigen (O²) menyebabkan seseorang mengalami berbagai penyakit seperti kanker, gangguan saraf, leukemia dll.
Teknik Terapi Zikir PERNAFASAN:
> Kita Hendaklah Bersuci Terlebih dahulu.
Duduk rileks dengan punggung tegak,
lalu amati NAFAS yang keluar masuk, kemudian ikuti gerak NAFAS ,
Jangan mengatur NAFAS,
biarkan NAFAS keluar masuk dengan bebas.
> Posisi badan tegak, kepala lurus dg tulang punggung,
Sebaiknya bagi Pemula Mata Dipejamkan, mulut tertutup rapat dan lidah sedikit ditekuk diatas ( langit-lagit).
Tarik NAFAS perlahan-lahan dan dalam-dalam, dada digembungkan, perut dikempeskan se-kempes mungkin dan dikeraskan, agar energi yang dibangkitkan besar, dengan penuh perasaan,
Rasakan seolah – olah energi ILAHI masuk melalui pusat ( umbilicus ) naik keatas menembus ubun-ubun sampai ke titik omega (titik tak berhingga).
Tahan selama beberapa detik agar diproses oleh paru-paru,
Tahan napas di bawah pusar,
kemudian Energi ILAHI yang terang benderang diturunkan kembali ke kepala sampai ke tengah dada
dan Keluarkan nafas perlahan – lahan dari lubang hidung.
Berarti 1 x putaran NAFAS sudah kita selesaikan.
> Penarikan Nafas harus dengan tertib dan juga *secara natural tanpa dipaksa
atau pun didesak,* sebab hal ini akan gagal menghasilkan satu proses yang mukammil.
> Kemudian tarik NAFAS kembali dalam-dalam,
Tahan selama beberapa detik, dan selanjutnya [ sebaiknya 5-1-5 atau 10-1-10 atau pun 3-1-3] , tarik 3 saat -tahan 1 saat dan lepas 3 saat ] atau ikut kekuatan daya tarikan dan hembusan.
> Lanjutkan terapi pernapasan dengan dada tetap digembungkan, dan perut tetap dikempeskan dan dikeraskan.
Menarik NAFAS dengan membayangkan menghirup udara yang bersih dan sehat, lepaskan napas dengan membayangkan membuang penyakit, racun dan udara kotor.
NAFAS ditahan agar proses biologis didalam paru-paru berlangsung sempurna, yaitu : oksigen (O²) yang di udara diserap oleh paru-paru ( secara maximal ) dan udara kotor beracun ( CO2 ) dilepaskan ke-udara untuk kemudian di buang keluar saat melepaskan napas.
( Dengan bernapas biasa maka proses berlangsung tidak sempurna, karena belum sempat terjadi pertukaran secara lengkap, udara sudah dikeluarkan lagi dari paru-paru ).
Ketika anda berNAFAS tepat pada tarikan Oksigen (O²), maka yang harus anda fokuskan ialah lafadz "HU (Dia)".
baru setelah hembusan NAFAS maka fokuskan pada lafadz "ALLAH". begitu terus berulang- ulang.
Perlu diingat,
bahwa pada lafadz "HU" harus benar-benar anda rasakan,
"HU" mengalir di pembuluh-pembuluh nadi dan menyebar ke segenap penjuru organ tubuh.
Pada lafadz "ALLAH" ketika dihembuskan, rasakan bahwa yang diluar tubuh anda tidak lepas dari "Tangan-NYA".
Jika anda ikhlas karena ALLAH semata , maka anda akan bertatapan dengan- NYA, tentunya bukan dengan panca indera, tapi lebih dari itu.
Jika anda ingin tahu metode Zikir NAFAS Wali Songo yang lain (kecuali Raden Syarif Hidayatullah/Sunan Gunung Jati) tinggal membalik "HU" pada Hembusan NAFAS, dan "ALLAH" pada Tarikan NAFAS .
Waktu ingin melakukan zikir NAFAS kita wajib memulangkan Zat, Sifat, Af’al kita kepada Zat, Sifat, Af’al ALLAH ~> yang berarti memulangkan segala wujud kita yang zahir kepada wujud kita yang batin yaitu RUH
dan pulangkan wujud RUH pada hakikatnya Wujud Yang Qadim Zat ALLAH juga.
La maujud illaLlah
tiada yang ada di alam ini pada
hakikatnya melainkan ALLAH juga.
Hakikat NAFI pada diri kita ialah
La wujud (tiada yg wujud) ,
La qadir (tiada yg Maha kuasa),
La hayun,
La muridun,
La alimun (tiada yg Maha mengetahui),
La samiiun (tiada yg mendengar) ,
La basirun (tiada yg Maha melihat),
La mutakalimun fil haqiqah illaLah.
Berkata para Arifbillah,
”matikan diri kamu sebelum kamu dimatikan”.[ Hadits Sohih].
MATI disini dibagi empat (4) :
1) Mati Hissii
yaitu seolah-olah sudah bercerai RUH dari JASAD, tidak ada daya upaya walau sedikitpun juga, pada hakikatnya hanya ALLAH yang berkuasa, kemudian dimusyahadahkan di dalam HATI dengan menyaksikan kebesaran sifat JALAL dan JAMAL-NYA serta KESUCIAN-NYA.
2) Apa hakikat Asolatu Miraju lil Mukminiin.
MIRAJ yaitu lepas sempurna mematikan diri kita,
Hendaklah melakukan MIRAJ artinya menaikkan NAFAS kita melalui alam “Qaba qawsain au adna” yaitu
antara kening merasa penuh limpah dalam alam Qudus yaitu dalam benak kepala kita hingga hilang segala ingatan yang lainnya.
Ini dinamakan mati ma’nawi yaitu hilang segala sesuatu didalam HATImu melainkan hanya berhadapan pada ALLAH juga.
3) Mati dalam Hidup dan Hidup dalam kematian, inilah hakikat matilah kamu sebelum kamu di matikan.
Mati segala usaha ikhtiar segala daya upaya diri kita, kita hanya mendirikan sembahyang dengan melihat pada mata hati, dari ALLAH, dengan ALLAH dan untuk ALLAH.
Dari ALLAH yg mengerakkan RUHANIAH,
Dari RUHANIAH yg mengerakan AL-HAYAT,
Dari AL-HAYAT yg menggerakkan NAFAS
Dari NAFAS yg menggerakkan JASAD dan pada hakikatnya, semua itu ALLAH juga yang menggerakkan semuanya..
sebagaimana firmaNYA:
“Dan tiadalah yang melontar oleh engkau ya MUHAMMAD Sala Allahu Alaihi Wasalam - ketika engkau melontar tetapi ALLAH yang melontarnya…”.
Pada pandangan dzahirnya perbuatan hamba, tetapi pada pandangan matahati perbuatan ALLAH juga.
4) Mati dalam tidur
Ini adalah satu Rahasia Marifat dalam
hidup yang hanya diketahui oleh para
Arif Billah dan Alimbillah, bukan oleh
alimbil kitaab.
Zikir NAFAS adalah Ummul Zikir yang mampu memberi kekuatan Rohani
adalah Zikir Khafi, ini di jelaskan dalam beberapa hadits sohih.
Zikir NAFAS adalah sebagai NUR CAHAYA yang memancar keseluruh JIWA seorang pengamal Zikir NAFAS , besar faedahnya untuk memecahkan kekentalan darah hitam yang berada dihati yang dianggap sebagai istana Iblis itu.
Selagi istana Iblis tidak terpecah dan hancur musnah, NUR QALBI sebagai penyuluh lampu Ma’rifat yang diharapkan itu tidak mungkin diperoleh.
NUR itu tidak akan bersinar menyuluh kegelapan dalam diri. Kalau pun ia menyala tetapi cahayanya tidak terang
Sabda Rasulullah saw:
MAN ARAFA NAFSA FAQAD ARAFA RAB’BAH WAMAN ARAFA RAB’BAH FASADA JASAD.
“Siapa yang mengenal dirinya, tentu dia mengenal ROBBnya dan siapa yang mengenal ROBBnya, maka binasalah dirinya.”
Firman ALLAH swt:
“Dari ALLAH kau datang kepada ALLAH kau dikembalikan” (QS. al-Baqarah:156)
Apabila RUH diturunkan ke bumi, RUH berhajat pada Sifat IFTIQAR ALLAH untuk berfungsi di atas muka bumi ini..
Jika tidak ada Sifat IFTIQAR, RUH tidak berfungsi. Ini disebabkan karena RUH memiliki sifat yang suci dan tinggi yang tidak ada pengetahuan dan kehendak terhadap alam yang rendah (dunia).
Oleh karena itu diperlukan Sifat IFTIQAR untuk melaksanakan tugas sebagai KHALIFAH, di kehidupannya dan dunia.
4 Sifat IFTIQAR yaitu :
Sifat Qudrat,
Hayat,
Iradat,
Ilmu.
Sebelum RUH dimasukkan ke dalam JASAD, ALLAH melapisi RUH AL-QUDSI dengan lapisan-lapisan sampai ke Alam “MULKIAH” yang disebut “QISWAH UNSURIAH” yaitu
Alam JABARUT,
Alam MALAKUT
Alam MULKI
karena kekuatan RUH AL-QUDSI dapat menghancurkan JASAD, sebagaimana cahaya matahari yang dihalangi cahayanya dengan berbagai lapisan Ozone agar tidak terbakar bumi ini karena kepanasannya.
Firman ALLAH swt:
“Lalu kutiupkan Roh-KU dalam tubuh manusia.” (Al-Hijr:29)
1. QUDRAT (Kuasa)
yaitu dinyatakan pada (RUH JASMANI) dan diletakkan dalam JASAD.
RUH memerlukan JASAD untuk bergerak di atas muka bumi. (NASMA “fizikal”: kuasa batin yang hebat).
TANAH: tubuh badan - istana hakikat.
2. ILMU (ilmu)
dinyatakan pada (RUH SULTANI) dan menjadi AKAL apabila digabungkan dgn unsur AIR dan diletakkan pd OTAK.
RUH tidak akan dapat berfikir untuk kehidupan di dunia tanpa ILMU bangsa dunia. (AIR: akal - ilham, laduni pandangan tajam hikmah).
AIR: otak - istana syariat.
3. HAYAT (hidup)
ia dinyatakan pada (RUH AL HAYAT) dan menjadi NAFAS apabila bergabung dgn UDARA.
Ruh memerlukan NAFAS untuk berhubung dgn NAFAS.
(NAFAS: menstabilkan EMOSI, AKAL, KESEHATAN dan perjalanan RUH).
ANGIN/udara: sistem pernafasan - istana tarikat.
4. IRADAT (berkehendak)
ia dinyatakan pada (RUH SAIRANI RAWANI) dan menjadi NAFAS apabila digabungkan dgn unsur API dan diletakkan di JANTUNG/ QALBU.
RUH memerlukan NAFSU bangsa dunia untuk memakmurkan dunia.
(NAFSU: ketenangan, kasyaf, asyik, cinta, rindu, syuhud, makrifat)
API: jantung - istana makrifat.
Syaik Abdul Qadir Jailani, Di dalam Kitab SIRRUL ASRAR mengatakan:
RUH adalah hakikat DIRI manusia yang sebenarnya.
RUH adalah NUR CAHAYA yang tinggi yang dibalut dengan beberapa lapisan pakaian sebelum di turunkan ke alam dunia ini agar JASAD tidak terbakar.
“Manusia itu rahasiaKU dan AKU adalah rahasia manusia.” (Hadits Qudsi)
Setiap RUH mempunyai tempat/ daerah ketika RUH berada dalam JASAD
Setiap INSAN wajib mengetahui bagaimana mengolah setiap lapisan tersebut agar tersingkap baginya Rahasia.
Kenali dirimu dengan merenungkan kedalam dirimu, niscaya engkau akan mengenali Tuhanmu tanpa huruf, tanpa suara, tanpa dalil dan tanpa perantara.
Galillah Rahasia alam dirimu sendiri sehingga berjumpa dengan air dari alam Malakut, alam Jabarut dan akhirnya Lahut, niscaya kamu akan dapat menyaksikan kembali bagaimana dirimu berhimpun dan bertasbih di alam Lahut serta menyaksikan bagaimana dirimu bersaksi akan diri KeTuhanan
sebagaimana firmannya:
”Adakah AKU Tuhan Kamu, (Ruh menjawab) Bahkan! Kami menyaksikan.” (QS. al-Araf:172)
Siapa yang sampai ke alam ini, ia mengambil ilmunya dari ALLAH tanpa perantara yaitu ilmu LADUNI.
Di alam ini, ia beribadah dari ALLAH, dengan ALLAH dan untuk ALLAH. Pandangannya senantiasa melihat pada 2 alam, melihat diriNya di alam zahir yaitu Af’al, Sifat dan Asma, bermusyahadah dengan ZatNYA di alam lahut.
Adakala mereka itu FANA (lebur) penglihatan di alam ini ketika mentajallikan rahasiaNYA sehingga tidak ada yang dilihat melainkan ALLAH swt.
Bagaimana hendak Mengenal Diri ?
Apa yang harus di kenali dengan Diri ini ?
Adakah Mengenal JASAD yang di kenali oleh semua orang kafir dan mushrik agar dengan itu mereka bisa mengenal ROBB mereka?
Adakah mengenal BATHIN saja tanpa mengetahui soal ROHANI ?
Mengenal Diri tanpa mengenal Jalan
Mengenal Diri, anda tidak akan sampai pada kehendak.
Mengenal Jalan tanpa mengenal Musuh akan tewas di separuh jalan.
Mengenal Musuh tanpa bersenjata akan dikalahkan.
Mempunyai senjata lengkap namun tidak mengenal maqam Musuh akan menempuh kekalahan.
Mengenal senjata dan musuh tetapi tidak ada tarbiyah dari orang yg mengenal perjalanan dan kaidah juga akan binasa dalam kesesatan.
Siapa yang benar Mengenal Dirinya, akan binasalah dirinya, tenggelamlah ia dalam lautan kefakiran, tenggelam ia dalam lautan ketiadaan ke-Aku-an.
Didalam Kitab Kasaful Asrar dinyatakan bahwa wujud INSAN adalah bayang-bayang kepada wujud Tuhan.
Tidak akan wujud bayang-bayang ini jika tidak ada yang empunya bayang-bayang, tidak bergerak bayan-bayang melainkan bergeraknya tuan empunya bayang-bayang.
Apabila kamu memandang diri kamu, memandang kewujudan dirimu, maka kamu wajib memahami bahwa kamu ada pemiliknya.
Wujud kamu menyatakan wujud diri-NYA. DIA ghaib dan kamu nyata,
DIA hakikat dan kamu syariat,
DIA adalah wujud dan kamu adalah bayang bagi wujud-NYA.
Lihatlah diri kamu lagi..,
pandanglah segala sifat yang ada pada diri kamu, lihatlah matamu, lihatlah telingmu, lihatlah mulutmu,lihatlah akalmu, lihatlah gerak diammu, lihat rasa hatimu. Semuanya tidak lain melainkan kenyataan sifat-sifat-NYA.
Semoga HATI kita tidak dibutakan sama sekali, sehingga tidak mengenal Diri-NYA, yang meskipun Al-Ghaib tetapi sangat dekat sekali, bahkan lebih dekat DIA bila dibandingkan dengan urat nadi yang ada di lehernya sendiri.
Itu Berarti lebih dekat DIA meskipun dibandingkan dengan keluar masuknya NAFAS dalam dada.
Maka firman-NYA yang memutuskan:
“Barang siapa yang hidupnya sekarang ini (di dunia) buta (mata hatinya tidak mengetahui keberadaan Diri Tuhannya yang dekat sekali dan Wajib Wujud-Nya), maka kelak di akhirat juga akan lebih buta dan lebih sesat jalannya.” (Al-Isra:72)
Tauhidul Af'al (Ke-Esa'an Perbuatan)
Hendaklah anda ketahui bahwa segala apapun juga yang terjadi di alam ini pada hakekatnya adalah Af'al (perbuatan) ALLAH s.w.t. yang terjadi di alam ini dapat digolongkan pada 2 golongan.
1) Baik pada bentuk (rupa) dan isi (hakekatnya) seperti iman dan taat.
2) Buruk pada bentuk (rupa) namun baik pada pengertian isi (hakekat) seperti kufur dan maksiat.
Dikatakan ini buruk pada bentuk karena adanya ketentuan hukum/syarak yang mengatakan demikian.
Dikatakan baik pada pengertian isi (hakikat) karena hal itu adalah sutu ketentuan dan perbuatan dari pada Allah Yang Maha Baik.
Maka "kaifiat" cara untuk melakukan pandangan (syuhud/musyahadah) sebagaimana dimaksudkan diatas ialah:
"Setiap apapun yang disaksikan oleh mata hendaklah ditanggapi oleh hati bahwa semua itu adalah Af'al (perbuatan) dari ALLAH s.w.t."
Bila ada sementara anggapan tentang ikut sertakan "yang lain dari pada ALLAH" di dalam proses kejadian sesuatu, maka hal tersebut tidak lain hanya dalam pengertian majazi (bayangan) bukan menurut pengertian hakiki.
Misalnya
si A bekerja untuk mencari makan atau memberi makan anak-anaknya maka si A tergolong dalam pengertian "yang lain dari pada ALLAH" dan juga dapat dianggap "ikut serta dalam proses memberi makan anaknya.
Fungsi si A dalam keterlibatan ini hanya majaz (bayangan) saja, bukan dalam arti hakiki. Karena menurut pengerti hakiki yang memberi makan dan minum pada hakikatnya ialah ALLAH,
sebagaimana tersebut dalam AL-QUR'AN Surah:
“Dialah (ALLAH) yang memberi makan dan minum kepada saya.” (As-Syu'ara ayat 79.)
Segala macam perbuatan (sikap laku) apakah perbuatan diri sendiri ataupun perbuatan yang terjadi di luar dirinya, adalah termasuk dalam 2 macam pengertian.
Pengertian pertama dinamakan MUBASYARAH
Pengertian kedua dinamakan TAWALLUD.
Kedua macam pengertian ini tidak terpisah satu sama lain.
Contohnya adalah sebagai berikut:
1) Gerak pena ditangan seorang penulis,
ini dinamakan MUBASYARAH (terpadu) karena adanya "perpaduan" dua kemampuan Qudrat yaitu kemampuan kodrat gerak tangan kemampuan kodrat gerak pena.
Bagaimana kita dapat memahami gerak Qudrat ALLAH dan bagaimana kita dapat bersyuhud dengan Qudrat ALLAH dalam setiap keadaan.
2) Gerak batu yang lepas dari tangan pelempar.
Hal ini dinamakan TAWALLUD (terlahir) karena lahirnya gerakan batu yang dilemparkan itu adalah kemampuan kodrat gerakan tangan.
Namun pada hakekatnya, kedua macam pengertian itu (Mubasyarah dan Tawallud) adalah Af'al ALLAH s.w.t., didasarkan kepada dalil nas AL-QUR'AN:
WALLAHU KHOLAQAKUM WA MA TA'MALUN
ALLAH yang mencipta kamu dan apa yang kamu lakukan.
Apa-apa juga yang dilakukan oleh hamba, perkataan, tingkah laku, gerak dan diam, namun semua itu sudah lebih dahulu pada Ilmu, Qoda dan Qadar/Takdir ALLAH s.w.t.
Firman ALLAH di dalam AL-QUR'AN:
WA MA RAMAITA IDAZ RAMAITA WALAKINNALLAHURAMA
Tidaklah anda yang melempar (Hai MUHAMMAD) tetapi ALLAH -lah yang melepar ketika anda melempar.
LA HAULA WA LA QUWWATA ILLA BILLAHIL ALIYYIL AZHIEM
Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan (daya dan kekuatan) ALLAH Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.
Hadits Rasullah s.a.w.
LA TATAHARRAKU DZARRATUN ILLA BI IDZNILLAHI
Tidak bergerak satu zarrah juapun melainkan atas izin ALLAH .
Atas dasar pandangan (musyahadah) inilah, maka Nabi s.a.w. tidak mendoakan kehancuran bagi kaumnya yang telah menyakiti beliau.
Apabila anda selalu atas pandang (musyahadah) Tauhidul-Af'al dengan penuh yakin (tahkik) maka terlepaslah anda dari pada penyakit dan bahaya syirik-khofi sebagaimana tersebut di atas.
Sehingga akhirnya anda akan dapat menyaksikan dengan jelas bahwa segala yang berupa UJUD MAJAZI (ujud bayangan) ini, lenyap dan hilang sirna, dengan NYATANYA NUR UJUDULLAH yang hakiki.
Apabila secara terus menerus anda latih dengan pandangan musyahadah demikian, sedikit demi sedikit dengan tidak tercampur baur antara pandangan lahir dan pandangan batin, maka sampailah anda pada suatu makom (tingkatan) yang di namakan MAQOM WIHDATUL AF'AL.
Pada tingkatan ini berarti FANA (lenyap) segala perbuatan makhluk, perbuatan anda sendiri atau perbuatan yang lain dari anda karena "nyatanya" perbuatan ALLAH Yang Maha Hebat.Tauhidul Asma (Ke-Esa'an Nama ALLAH s.w.t.)
Kafiat (cara-cara) memusyahadahkan tentang keEsaan nama-nama ALLAH s.w.t. adalah sebagai berikut:
"Pandang dengan mata kepala kita lalu syuhud (pandang) dengan mata hati, bahwa segala nama apapun juga pada hakikatnya kembali kepada sumbernya ialah nama ALLAH s.w.t."
Alasanya ialah, bahwa nama apapun juga yang ada di dalam alam ini tentu ada yang memberi nama (ujud musamma).
Dalam arti hakiki sudah jelas bahwa "tidak ada yang maujud/diadakan kecuali ALLAH ."
Firman ALLAH swt:
“Tiap sesuatu itu “halikun” (maujudnya) bukan di atas wujud yang sebenar benarnya) kecuali (setiap sesuatu itu) wajah ALLAH semata-mata.” (28:20:88)
Segala yang maujud (yang diadakan) pada hakikatnya hanyalah khayalan (kosong) atau waham (sangkaan) saja, bila dinisbahkan (dibandingkan) dengan UJUD ALLAH.
Contoh
sekeping kaca yang tembus warnanya, lalu diwarnakan dengan bermacam-macam warna. Kemudian diletakkan di bawah cahaya matahari, tentu akan terlihat beraneka warna pada bumi sebagaimana warna yang tercantum pada kaca tadi.
Disitu dapat terlihat jelas bahwa cahaya matahari tidak terpisah cerai dengan zat matahari sendiri dan tidak pula berpindah cahaya matahari itu tadi. Adanya bermacam warna pada bumi menunjukkan keEsa'an matahari.
Maha suci ALLAH dari contoh dan misal, maka pahamilah dengan kata-kata yang baik dan sempurna, semoga anda dapat memahaminya dengan kasih sayang ALLAH s.w.t. dan dapat sesuai dengan maksud yang sebenarnya.
Andai kata telah berhasil pada maqom (tingkatan) ini lalu kemudian TAJALLI HAK TA'ALA (nampak nyata kebenaran ALLAH Ta'ala) bagi kita dari celah-celah dinding mazhar (kenyataan) ini dengan 2 macam nama (isim) maka semua yang berupa mashar tersebut lenyap sirna didalam keEsa'an (ahadiyat) ALLAH s.w.t.
Apabila TAJALLI ALLAH TA'ALA (nampak nyata) dengan asmaNYA/ nama-namaNYA ZHOHIRUN terhadap hambaNYA, niscaya si hamba itu akan dapat melihat bahwa segala akwan (kejadian) semua ini adalah KEBENARAN ALLAH, sepanjang pengertian bahwa zohir akwan itu adalah dengan ZOHIRNYA ALLAH.
Berdirinya akwan itu dengan nyatanya qoyyumiyahNYA (sifat qiyamuhu ta'ala binafsi)
Berdiri ALLAH dengan sendirinya dan KEKALNYA ALLAH s.w.t. karena tidak akan mungkin bagi akwan ini ada dengan sendirinya. Dan tidak akan mampu si hamba membedakan satu persatu segala akwan ini.
Jelasnya hanya pada suatu pengertian bahwa makhluk ini hanya sekedar mazhar/sandaran semata-mata. Si hamba dapat memandang (musyahadah) bahwa ALLAH adalah hakikat segala sesuatu sebagaimana yang difirmankan oleh ALLAH didalam AL-QUR'AN:
"FA AINAMA TUWALLU FASTAMMA WAJHULLAHI"
Kemanapun kamu mengadap, disanalah Ujud ALLAH .
Maksudnya,
kemanapun dan dimanapun AKAL, HATI dan ROH ini berhadapan maka di sanalah adanya ALLAH s.w.t.
Makom Tauhidul Asma ini merupakan makom yang kedua dari makom orang-orang Arifin yang dianugerahkan ALLAH Ta'ala kepada orang yang salik atau kepada orang lain seperti orang yang majzub.
Makam inilah merupakan Natijah yaitu faedah yang diperoleh dan juga merupakan lanjutan makom yang pertama, makom bagi orang yang senantiasa memandang wahdatul Af'al. Makom Tauhidul Asma inilah yang menyampaikan anda kepada makom yang seterusnya yaitu "Tauhidul Sifat" makom yang ketiga dari orang-orang A'rif.
Tauhidus Sifat (Ke-Esa’an Sifat ALLAH swt)
Tauhid Fil Siffat.
Bagaimana dapat memahami Tauhid dalam Maqam ini?.
ILMU Kalimah yang menyampaikan ke Maqam ini harus di praktekkan dengan Ammali Tauhid Fi Siffat.
Bab yang ketiga ini menerangkan tauhidus sifat yang bermaksud meng-esakan ALLAH Taala pada sifat yang berdiri pada zat-NYA:
yaitu memfanakan segala sifat makhluk sama ada sifat dirinya atau yang lain, di dalam sifat-sifat ALLAH .
Kaifiatnya ialah anda memandang dan musyahadah dengan mata hati dan beriktikad bahwa segala sifat yang berdiri pada zat-NYA seperti semuanya itu sifat-sifat ALLAH Taala.
Karena tidak ada zat yang bersifat dengan sifat-sifat tersebut pada hakikatnya melainkan Zat ALLAH Taala juga.
Di adakan sifat-sifat ini pada makhluk, sekadar pinjaman (majaz) dan bukan pada hakikatnya. Cuma sifat-sifat tersebut adalah sifat-sifat ALLAH Taala juga.
Apabila sudah Tahkik pandanganmu dengan keadaan demikian, niscaya segala sifat makhluk FANA dalam sifat-sifat ALLAH Taala,
Hamba itu tidak mendengar melainkan dengan pendengaran ALLAH Taala,
Hamba itu tidak melihat melainkan dengan penglihatan ALLAH Taala,
Hamba itu tidak tahu melainkan dengan pengetahuan ALLAH Taala,
Hamba itu tidak hidup melainkan dengan hayat Allah Taala,
Hamba itu tidak berkata-kata melainkan dengan perkataan Allah Taala,
dan begitulah seterusnya dengan sifat-sifat-NYA yang lain.
Dalil yang menunjukkan bahwa hamba tidak mempunyai sifat-sifat tersebut dan yang ada pada hamba itu muzhar sifat-sifat ALLAH Taala ialah sebagaimana firman Allah Taala, dalam hadis Qudsi:
”Tidak menghampiri orang-orang yang menghampiri diri-KU umpama mengerjakan apa yang AKU fardukan ke atas mereka dan senantiasalah hamba-KU berdamping diri kepada-KU dengan mengerjakan ibadat sunat hingga AKU kasihan dia. Maka apabila AKU kasihan dia, niscaya adalah AKU pendengarannya yang ia mendengar dengan DIA, pertuturan lidahnya yang ia bertutur dengan DIA, penampar tangan yang ia menampar dengan DIA, berjalan kakinya yang ia berjalan dengan DIA, dan fikiran hatinya yang ia berfikir dengan DIA.”
Kaifiat mentajalli sifat ALLAH Taala ialah memandang hak Taala, bahwa hamba yang mendengar itu dengan ALLAH Taala, maka segala keadaan yang didengar oleh hamba fana bersama diri-NYA.
Apabila telah tetap mentajalli sifat mendengar itu dalam HATI, maka akan melihat sifat yang lain pula sehingga habis satu persatu seperti sifat Basar, Kalam, Ilmu dan Iradat.
Anda juga akan melihat hamba itu tidak melihat dirinya bersifat demikian yang hanya menerima daripada sifat-sifat ALLAH Taala jua.
Apabila semua sifat yang lain terhapus, maka tajalli pula sifat-sifat ALLAH Taala ke atas kita dan kita akan melihat, hamba itu yang bersifat Haiyun (hidup).
Apabila sifat Hayat itu Fana dari diri, ternyatalah bahwa tidak ada yang hidup melainkan ALLAH Taala.
Apabila anda telah berhasil memperoleh makam fana, ketika itu jadilah kita baqa bisifatillah (kekal dengan sifat-sifat ALLAH ). Ketika itu juga, kita memperoleh kemenangan kerana dapat mengenal-NYA dengan pengenalan yang layak dan sempurna.
Oleh karena itu jadilah kita ketika itu fana fisifatillah (terhapus dalam sifat-sifat ALLAH ) dan baqa bisifatillah.
Ketika itu juga, ALLAH Ta’ala akan memberitahu kepada kita segala rahasia sifat-NYA yang mulia.
Kesimpulannya,
makam tauhidus sifat inilah makam yang tetap dan teguh.
Apabila sudah habis mentajallikan semua sifat itu di dalam HATI, maka dianugerahkan oleh ALLAH Ta’ala kepadanya pada saat itu kekuatan yang dapat menanggung Tajalli Zat jika dikehendakiNYA.
Makam inilah yang akan menyampaikan orang yang Arif itu kepada makam yang di atasnya yaitu makam Tauhiduz Zat, makam yang keempat dari semua makam orang-orang Arif.
Tauhiduz Zat (Mengesakan Zat)
Kafiat mengesakan ALLAH Taala pada zat itu ialah melihat dengan mata kepala dan mata hati, sesungguhnya tidak ada yang maujud dalam wujud ini hanya ALLAH Taala saja.
Cara ini dilakukan dengan menfana’kan kesemua zat kita dan zat yang lain dari zat kita (segala makhluk) di bawah Zat ALLAH Taala.
Atau dengan kata lain, tidak ada yang maujud melainkan ALLAH Taala sendiri yang wujud dan wujud yang lain selain ALLAH Taala.
Oleh karena itu,
wujud yang lain itu bukanlah maujud dengan sendirinya, hanya ia maujud dengan ALLAH Taala itu qiam (berdiri) dengan wujud ALLAH Taala dan ia tidak qiam dengan sendiri.
Oleh karena itu wujud yang lain dari ALLAH Taala itu adalah khayalan berlaka.
Ini berarti ia ditempatkan pada yang sudah maklum yaitu pada tempat yang diadakan dan waham (sangkaan dan batal) yang dinisbahkan kepada wujud ALLAH Taala.
Tujuh Tingkatan NAFS
Firman Allah swt:
“Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu .Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu, maka ALLAH akan menerima taubatmu”. (Al-Baqarah:54)
Maksudnya,
yang dibunuh adalah WATAK Aku-nya NAFSU, supaya si nafsu menjadi patuh dan tunduk mengikut HATI NURANI, RUH dan RASA dekat kepada-NYA.
Melahirkan manusia yang hanya (mempunyai) ILMU semata-mata tanpa disertakan kebersihan rohani akan membawa kepada ke-egoan dan perdebatan yang tidak ada habis²nya.
7 NAFSU beserta tentaranya adalah sebagai berikut:
1) Nafsu AMARAH.
Letaknya di dada agak sebelah kiri.
Tentaranya : senang berlebihan, dengki, dendam, iri hati, sombong, riya, takabbur, suka marah, dan akhirnya tidak mengenal Tuhannya.
(Yusuf:53)
”Sesungguhnya Nafs (manusia) menyuruh berbuat kejahatan rendah.”
2) Nafsu LAWAMAH
Di Manakah Maqamnya dalam Jasad Insan?
Nafsu LAWAMAH, letaknya di dalam HATI SANUBARI, di bawah susu yang kiri kira-kira 2 jari.
Tentaranya: Ujub, senang di puji, memuji diri, menunjuk, khianat, menganiaya, bohong.
ALLAH menyebut JIWA ini dalam AL-QUR’AN surah Qiyamah ayat 2,
”Dan Aku bersumpah demi jiwa yang mencela.”
3) Nafsu MULHIMAH.
Tempatnya kira-kira 2 jari ke arah susu yang kanan dari tengah dada.
Tentaranya : suka memberi, sederhana, menerima apa adanya, belas kasih, lemah lembut, merendah diri, taubat, sabar dan tahan menghadapi kesulitan serta siap menanggung betapa beratnya melaksanakan kewajiban.
ALLAH menyebut JIWA ini di dalam AL-QUR’AN surah Al-Syam ayat 7-8,
”Demi diri (manusia) dan yang menyempurnakannya (Allah).Lalu diilhamkan (Allah) kepadanya mana yang buruk dan mana yang baiknya.”
4) Nafsu MUTHMAINNAH.
Tempatnya dalam RASA kira-kira 2 jari ke arah susu kiri dari tengah dada.
Tentaranya: Senang sedekah, tawakkal, senag ibadah, senang bersukur kepada Tuhan, ridha kepada hukum dan ketentuan ALLAH dan takut pada ALLAH.
ALLAH menyebut JIWA ini di alam AL-QUR’AN surah Al-Fajr ayat 27,
”Hai jiwa yang tenang.”
5) Nafsu RADHIYAH.
Tempatnya dalam RASA, dalam HATI NURANI dan seluruh JASAD.
Tentaranya: pribadi yang mulia, zuhud, ikhlas, wara, ridha, menepati janji.
ALLAH menyebut JIWA ini di dalam AL-QUR’AN surah Al-Fajr ayat 28,
”Kembalikanlah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha.”
6)Nafsu MARDHIYAH.
Tempatnya di alam yang samar, mengarah kira-kira 2 jari ke tengah dada.
Tentaranya: Baik budi pekerti, bersih dari segala dosa makhluk, rela membantu kesusahan makhluk, senang mengajak dan memberi pandangan kepada RUHnya makhluk.
ALLAH menyebut JIWA ini di dalam AL-QUR’AN surah Al-Fajr ayat 28,
“Dan di RidhaiNYA.”
7) Nafsu KAMILAH.
Letaknya mengarah ke dalam dada yang paling dalam.
Tentaranya: ILMU YAKIN dan HAQQUL YAKIN.
ALLAH menyebut JIWA ini di dalam AL-QUR’AN surah Al-Fajr ayat 29-30,
”Masuklah dalam golongan hamba-hambaKU dan masuklah kedalam syurgaKU.”
Wa Allahu a'lam bishowab
Sabtu, 07 April 2018
SUARA YANG DI DENGAR KETIKA KITA SUDAH JADI MAYAT
۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞
Yang Akan Ikut Mayat Adalah Tiga: Keluarga, Hartanya, Dan Amalnya.
Ada Dua Yang Kembali Dan Satu Tinggal Bersamanya; Keluarga Dan Hartanya Akan Kembali Sementara Amalnya Akan Tinggal
Bersamanya.
Ketika Roh Meninggalkan Jasad...
Terdengar Suara Dari Langit Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Apakah Kau Yang Telah Meninggalkan Dunia,
Atau Dunia Yang Meninggalkanmu. Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Harta Kekayaan,
Atau Kekayaan Yang Telah Menumpukmu.
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Dunia,
Atau Dunia Yang Telah Menumpukmu, Apakah Kau Yang Telah Mengubur Dunia, Atau Dunia Yang Telah Menguburmu."
Ketika Mayat Tergeletak Akan Dimandikan....
Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Mana Badanmu Yang Dahulunya Kuat, Mengapa Kini Terkulai Lemah, Mana Lisanmu Yang Dahulunya Fasih, Mengapa Kini Bungkam Tak Bersuara, Mana Telingamu Yang Dahulunya Mendengar, Mengapa Kini Tuli Dari Seribu Bahasa, Mana Sahabat-Sahabatmu Yang Dahulunya Setia, Mengapa Kini Raib Tak Bersuara.
Ketika Mayat Siap Dikafan...
Suara dari Langit Terdengar Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan Berbahagialah Apabila Kau Bersahabat Dengan Ridho ALLOHﷻ , Celakalah Apabila Kau Bersahabat Dengan Murka ALLOHﷻ , Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Kini Kau Tengah Berada dalam Sebuah Perjalanan Sangat Jauh.. Tanpa Bekal, Kau Telah Keluar Dari Rumahmu Dan Tidak Akan Kembali Selamanya, Kini Kau Tengah Safar Pada Sebuah Tujuan Yang Penuh Pertanyaan."
Ketika Mayat di usung....
Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan.. Berbahagialah, Apabila Amalmu Adalah Kebajikan. Berbahagialah, Apabila Matimu Diawali Taubat,
Berbahagialah Apabila Hidupmu Penuh Dengan Ta'at."
Ketika Mayat Siap di Sholatkan....
Terdengar Dari Langit Suara Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan.. Setiap Pekerjaan Yang Kau Lakukan Kelak Kau Lihat Hasilnya Di Akhirat, Apabila Baik Maka Kau Akan Melihatnya Baik. Apabila Buruk, Kau Akan Melihatnya Buruk."
Ketika Mayat Dibaringkan di Liang Lahat....
Terdengar Suara Memekik Dari Langit, "Wahai Fulan Anak Si Fulan... Apa Yang Telah Kau Siapkan Dari Rumahmu Yang Luas Di Dunia Untuk Kehidupan Yang Penuh Gelap Gulita Di Sini, Wahai Fulan Anak Si Fulan... Dahulu Kau Tertawa Kini Dalam Perutku Kau Menangis, Dahulu Kau Bergembira Kini Dalam Perutku Kau Berduka, Dahulu Kau Bertutur Kata Kini Dalam Perutku Kau Bungkam Seribu Bahasa."
Ketika Semua Manusia Meninggalkannya Sendirian.... ALLOHﷻ Berkata Kepadanya, "Wahai Hamba-Ku..... Kini Kau Tinggal Seorang Diri Tiada Teman Dan Tiada Kerabat Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan Gelap.. Mereka Pergi Meninggalkanmu.. Seorang Diri Padahal, Karena Mereka Kau Pernah Langgar Perintahku Hari Ini,.... Akan Kutunjukan Kepadamu Kasih Sayang-Ku, Yang Akan Takjub Seisi Alam.. AKU Akan Menyayangimu Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada Anaknya. Kepada Jiwa-Jiwa Yang Tenang ALLOHﷻ Berfirman, "Wahai Jiwa Yang Tenang Kembalilah Kepada Tuhanmu Dengan Hati Yang Puas Lagi di Ridhoi-Nya. Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba-Hamba-Ku Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku.
Nasehat KUBUR:
1. Aku adalah tempat paling gelap maka terangilah aku dengan tahajjud.
2. Aku adalah tempat yang paling sempit maka luaskanlah aku dengan silaturahmi dengan orang-orang sholeh.
3. Aku adalah tempat yang paling sepi maka ramaikanlah aku dengan perbanyak membaca Al-Qur'an.
4. Aku adalah tempatnya Munkar dan Nakir bertanya, maka persiapkanlah jawabanmu dengan perbanyak berdzikir dengan lisan dan hatimu, "Laa ilaaha Illallaah".
Mudah2an kita diberi hidayah oleh ALLOHﷻ sebelum meninggal dunia sempat bertaubat.
Rahsia ayat ayat surah yaasiin
RASULULLAH s. a. w telah bersabda yang bermaksud:
“Bacalah surah Yassin kerana ia mengandungi keberkatan”,
iaitu:
1. Apabila orang lapar membaca surah Yassin, ia boleh menjadi kenyang.
2. Jika orang tiada pakaian boleh mendapat pakaian.
3. Jika orang belum berkahwin akan mendapat jodoh.
4. Jika dalam ketakutan boleh hilang perasaan takut.
5. Jika terpenjara akan dibebaskan.
6. Jika musafir membacanya, akan mendapat kesenangan apa yang dilihatnya.
7. Jika tersesat boleh sampai ke tempat yang ditujuinya.
8. Jika dibacakan kepada orang yang telah meninggal dunia, Allah meringankan siksanya.
9. Jika orang yang dahaga membacanya, hilang rasa hausnya.
10. Jika dibacakan kepada orang yang sakit, terhindar daripada penyakitnya.
11. Rasulullah s. a. w bersabda: “Sesungguhnya setiap sesuatu mempunyai hati dan hati al-Quran itu ialah Yassin. Sesiapa membaca surah Yassin, nescaya Allah menuliskan pahalanya seperti pahala membaca al-Quran sebanyak 10 kali.
12. Sabda Rasulullah s. a. w lagi, “Apabila datang ajal orang yang suka membaca surah Yassin pada setiap hari, turunlah beberapa malaikat berbaris bersama Malaikat Maut. Mereka berdoa dan meminta dosanya diampunkan Allah, menyaksikan ketika mayatnya dimandikan dan turut menyembahyangkan jenazahnya”.
13. Malaikat Maut tidak mahu memaksa mencabut nyawa orang yang suka membaca Yassin sehingga datang Malaikat Redwan dari syurga membawa minuman untuknya. Ketika dia meminumnya alangkah nikmat perasaannya dan dimasukkan ke dalam kubur dengan rasa bahagia dan tidak merasa sakit ketika nyawanya diambil.
14. Rasulullah s. a. w bersabda selanjutnya: “Sesiapa bersembahyang sunat dua rakaat pada malam Jumaat, dibaca pada rakaat pertama surah Yassin dan rakaat kedua Tabaroka, Allah jadikan setiap huruf cahaya dihadapannya pada hari kemudian dan dia akan menerima suratan amalannya ditangan kanan dan diberi kesempatan membela 70 orang daripada ahli rumahnya tetapi sesiapa yang meragui keterangan ini, dia adalah orang-orang yang munafik.
Rahsia Kelebihan Ayat 1 – 9 :
Untuk keselamatan diri
Rahsia Kelebihan Ayat 9 :
Orang jahat tak nampak kita especially orang kafir. Tapi janganlah digunakan utk elak daripada Kastam/polis. Tu dah niat lain.
Rahsia Kelebihan Ayat 12 :
Merupakan Jantung Yaasiin – Rasulullah s.a.w. berharap ayat ini di hafal oleh setiap mukmin dan mukminat.
Rahsia Kelebihan Ayat 13 – 35 :
Mengisahkan orang-orang yang mati syahid.
Rahsia Kelebihan Ayat 22 – 23 :
Untuk menjaga aqidah Memberi hidayah kepada anak.
Rahsia Kelebihan Ayat 29 :
Sebagai amalan untuk mengelakkan diri dari di fitnah dan kejahatan mulut & juga utk digunakan jika kita rasa orang nak fitnah or aniaya kita. Lebih elok selepas baca di semburkan ke muka orang tsbt.
Rahsia Kelebihan Ayat 30 :
Untuk keinsafan – Supaya dapat dipertemukan dengan Allah s.w.t. (harus sentiasa berada dihati – beramal dengannya).
Rahsia Kelebihan Ayat 32 :
Untuk menginsafkan orang lain supaya menjadi baik.
Caranya: Ingat yang segalanya datang dari Allah s.w.t. Kita umat Muhammad & kita orang Islam
Rahsia Kelebihan Ayat 33 – 35 :
Elok dijadikan amalan bagi sesiapa yang suka bercucuk tanam. Tanaman akan subur
Rahsia Kelebihan Ayat 36 :
Menerangkan yang kehidupan ataupun kejadian di dunia ini dijadikan berpasang-pasangan. Ayat ini elok diamalkan bagi sesiapa yang belum berkahwin supaya di pertemukan jodoh.
Caranya: Baca dan berdoa. Hembus dan sapu pada muka setiap pagi sebelum keluar rumah.
Rahsia Kelebihan Ayat 37 :
Adalah untuk menetapkan aqidah diri sendiri. Hati yang kering akan hidup semula.
Rahsia Kelebihan Ayat 38 :
Mengisahkan yang bulan dan matahari pun sujud pada Allah s.w.t. yang satu.
Rahsia Kelebihan Ayat 39 :
Mengisahkan ilmu falak.
Rahsia Kelebihan Ayat 40 :
Merupakan kenyataan Allah s.w.t. yang satu.
Rahsia Kelebihan Ayat 41 :
Mengisahkan Nabi Noh a.s. naik kapal – Elok di baca sewaktu menaiki kenderaan.
Rahsia Kelebihan Ayat 44 :
Mengisahkan keseronokan hidup di dunia – Di baca untuk dijauhkan fitnah dalam hidup.
Rahsia Kelebihan Ayat 45 – 48 :
Merupakan kedegilan orang kafir kepada Allah s.w.t.
Rahsia Kelebihan Ayat 49 :
Menceritakan hari akhirat dan kehidupannya.
Tiupan 1 – Datang dengan tiba-tiba
Tiupan 11 – Hancur
Tiupan 111 – Semua orang di hidupkan semula dan hadir dipadang Mahsyar.
Rahsia Kelebihan Ayat 50 :
Setiap orang akan dihisap mengikut amalannya.
Rahsia Kelebihan Ayat 58 :
Merupakan salam daripada Allah. Jika rasa sakit kepala, baca dan sapukan ke kepala. Ulang sebanyak 3x.
Rahsia Kelebihan Ayat 76 :
Dibaca untuk mententeramkan diri dari fitnah orang. Dijadikan amalan & jika hati rasa sedih, sebak atau pun kecewa.Sambil pegang dan urut dada, bacalah ayat tsbt.
Rahsia Kelebihan Ayat 78 – 79 :
Dikhaskan untuk sakit urat, tulang dan badan.Untuk doa ayat 78. “dia berkata, Siapakah (yang dapat) menghidupkan tulang belulang padahal telah hancur?. Juga bacalah jika sakit tulang, urat atau tulang patah berikan ayat ini.
Rahsia Kelebihan Ayat 79 :
Katakanlah, Yang akan menghidupkannya ialah yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.”
Rahsia Kelebihan Ayat 82 :
Untuk Hajat – Jika berhajat sesuatu bacalah 100x.
Dibaca pada air dan minum selama 40 hari boleh menjadi penawar.
Jika air habis ulang bacaan tersebut sehingga 40 hari.
Caranya: Sembahyang Tahajjud (3x) berturut-turut pastu baca pada air 100x & berdoa apa sahaja hajat
* Buah-buahan yang diceritakan dari dalam Al-Quran adalah:
Buah Zaiton – Elok untuk kulit
Kurma – Berkhasiat (memberi tenaga)
Delima – Dalam sebiji buah ada sebutir biji yang menjadi penawar ubat yang mujarab
Ad Tin – Memberi kekuatan – tenaga, fikiran lemah, tidak boleh beranak.
Seelok-eloknya dibaca :
1. Selepas sembahyang subuh
2. 3 Jumaat berturut-turut
3. Ayat 1 – Yassin baca 7x
4. Ayat 38 – 12x
5. Ayat 58 – 7x
6. Ayat 82 – 14x
7. Habis, diulang semula step 3 hingga 6. Kesemuanya Surah Yassin dibaca sebanyak 3x.
8. Habis baca surah Yassin, baca Al- Fatihah, bacalah hajat yg dihajati dan selepas hajat dibaca semula Al- Fatihah.
9. Perlu yakin, insyallah dgn berkat Allah ianya termakbul.
iaitu:
1. Apabila orang lapar membaca surah Yassin, ia boleh menjadi kenyang.
2. Jika orang tiada pakaian boleh mendapat pakaian.
3. Jika orang belum berkahwin akan mendapat jodoh.
4. Jika dalam ketakutan boleh hilang perasaan takut.
5. Jika terpenjara akan dibebaskan.
6. Jika musafir membacanya, akan mendapat kesenangan apa yang dilihatnya.
7. Jika tersesat boleh sampai ke tempat yang ditujuinya.
8. Jika dibacakan kepada orang yang telah meninggal dunia, Allah meringankan siksanya.
9. Jika orang yang dahaga membacanya, hilang rasa hausnya.
10. Jika dibacakan kepada orang yang sakit, terhindar daripada penyakitnya.
11. Rasulullah s. a. w bersabda: “Sesungguhnya setiap sesuatu mempunyai hati dan hati al-Quran itu ialah Yassin. Sesiapa membaca surah Yassin, nescaya Allah menuliskan pahalanya seperti pahala membaca al-Quran sebanyak 10 kali.
12. Sabda Rasulullah s. a. w lagi, “Apabila datang ajal orang yang suka membaca surah Yassin pada setiap hari, turunlah beberapa malaikat berbaris bersama Malaikat Maut. Mereka berdoa dan meminta dosanya diampunkan Allah, menyaksikan ketika mayatnya dimandikan dan turut menyembahyangkan jenazahnya”.
13. Malaikat Maut tidak mahu memaksa mencabut nyawa orang yang suka membaca Yassin sehingga datang Malaikat Redwan dari syurga membawa minuman untuknya. Ketika dia meminumnya alangkah nikmat perasaannya dan dimasukkan ke dalam kubur dengan rasa bahagia dan tidak merasa sakit ketika nyawanya diambil.
14. Rasulullah s. a. w bersabda selanjutnya: “Sesiapa bersembahyang sunat dua rakaat pada malam Jumaat, dibaca pada rakaat pertama surah Yassin dan rakaat kedua Tabaroka, Allah jadikan setiap huruf cahaya dihadapannya pada hari kemudian dan dia akan menerima suratan amalannya ditangan kanan dan diberi kesempatan membela 70 orang daripada ahli rumahnya tetapi sesiapa yang meragui keterangan ini, dia adalah orang-orang yang munafik.
Rahsia Kelebihan Ayat 1 – 9 :
Untuk keselamatan diri
Rahsia Kelebihan Ayat 9 :
Orang jahat tak nampak kita especially orang kafir. Tapi janganlah digunakan utk elak daripada Kastam/polis. Tu dah niat lain.
Rahsia Kelebihan Ayat 12 :
Merupakan Jantung Yaasiin – Rasulullah s.a.w. berharap ayat ini di hafal oleh setiap mukmin dan mukminat.
Rahsia Kelebihan Ayat 13 – 35 :
Mengisahkan orang-orang yang mati syahid.
Rahsia Kelebihan Ayat 22 – 23 :
Untuk menjaga aqidah Memberi hidayah kepada anak.
Rahsia Kelebihan Ayat 29 :
Sebagai amalan untuk mengelakkan diri dari di fitnah dan kejahatan mulut & juga utk digunakan jika kita rasa orang nak fitnah or aniaya kita. Lebih elok selepas baca di semburkan ke muka orang tsbt.
Rahsia Kelebihan Ayat 30 :
Untuk keinsafan – Supaya dapat dipertemukan dengan Allah s.w.t. (harus sentiasa berada dihati – beramal dengannya).
Rahsia Kelebihan Ayat 32 :
Untuk menginsafkan orang lain supaya menjadi baik.
Caranya: Ingat yang segalanya datang dari Allah s.w.t. Kita umat Muhammad & kita orang Islam
Rahsia Kelebihan Ayat 33 – 35 :
Elok dijadikan amalan bagi sesiapa yang suka bercucuk tanam. Tanaman akan subur
Rahsia Kelebihan Ayat 36 :
Menerangkan yang kehidupan ataupun kejadian di dunia ini dijadikan berpasang-pasangan. Ayat ini elok diamalkan bagi sesiapa yang belum berkahwin supaya di pertemukan jodoh.
Caranya: Baca dan berdoa. Hembus dan sapu pada muka setiap pagi sebelum keluar rumah.
Rahsia Kelebihan Ayat 37 :
Adalah untuk menetapkan aqidah diri sendiri. Hati yang kering akan hidup semula.
Rahsia Kelebihan Ayat 38 :
Mengisahkan yang bulan dan matahari pun sujud pada Allah s.w.t. yang satu.
Rahsia Kelebihan Ayat 39 :
Mengisahkan ilmu falak.
Rahsia Kelebihan Ayat 40 :
Merupakan kenyataan Allah s.w.t. yang satu.
Rahsia Kelebihan Ayat 41 :
Mengisahkan Nabi Noh a.s. naik kapal – Elok di baca sewaktu menaiki kenderaan.
Rahsia Kelebihan Ayat 44 :
Mengisahkan keseronokan hidup di dunia – Di baca untuk dijauhkan fitnah dalam hidup.
Rahsia Kelebihan Ayat 45 – 48 :
Merupakan kedegilan orang kafir kepada Allah s.w.t.
Rahsia Kelebihan Ayat 49 :
Menceritakan hari akhirat dan kehidupannya.
Tiupan 1 – Datang dengan tiba-tiba
Tiupan 11 – Hancur
Tiupan 111 – Semua orang di hidupkan semula dan hadir dipadang Mahsyar.
Rahsia Kelebihan Ayat 50 :
Setiap orang akan dihisap mengikut amalannya.
Rahsia Kelebihan Ayat 58 :
Merupakan salam daripada Allah. Jika rasa sakit kepala, baca dan sapukan ke kepala. Ulang sebanyak 3x.
Rahsia Kelebihan Ayat 76 :
Dibaca untuk mententeramkan diri dari fitnah orang. Dijadikan amalan & jika hati rasa sedih, sebak atau pun kecewa.Sambil pegang dan urut dada, bacalah ayat tsbt.
Rahsia Kelebihan Ayat 78 – 79 :
Dikhaskan untuk sakit urat, tulang dan badan.Untuk doa ayat 78. “dia berkata, Siapakah (yang dapat) menghidupkan tulang belulang padahal telah hancur?. Juga bacalah jika sakit tulang, urat atau tulang patah berikan ayat ini.
Rahsia Kelebihan Ayat 79 :
Katakanlah, Yang akan menghidupkannya ialah yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.”
Rahsia Kelebihan Ayat 82 :
Untuk Hajat – Jika berhajat sesuatu bacalah 100x.
Dibaca pada air dan minum selama 40 hari boleh menjadi penawar.
Jika air habis ulang bacaan tersebut sehingga 40 hari.
Caranya: Sembahyang Tahajjud (3x) berturut-turut pastu baca pada air 100x & berdoa apa sahaja hajat
* Buah-buahan yang diceritakan dari dalam Al-Quran adalah:
Buah Zaiton – Elok untuk kulit
Kurma – Berkhasiat (memberi tenaga)
Delima – Dalam sebiji buah ada sebutir biji yang menjadi penawar ubat yang mujarab
Ad Tin – Memberi kekuatan – tenaga, fikiran lemah, tidak boleh beranak.
Seelok-eloknya dibaca :
1. Selepas sembahyang subuh
2. 3 Jumaat berturut-turut
3. Ayat 1 – Yassin baca 7x
4. Ayat 38 – 12x
5. Ayat 58 – 7x
6. Ayat 82 – 14x
7. Habis, diulang semula step 3 hingga 6. Kesemuanya Surah Yassin dibaca sebanyak 3x.
8. Habis baca surah Yassin, baca Al- Fatihah, bacalah hajat yg dihajati dan selepas hajat dibaca semula Al- Fatihah.
9. Perlu yakin, insyallah dgn berkat Allah ianya termakbul.
SIFAT DUA PULUH.
Apakah maksud sifat dua puluh ?
Sifat dua puluh adalah satu konsep ilmu yang ciptaannya sangat ajaib, didalam mentafsir kaedah mengenal Allah melalui ilmu makrifat.
Sifat 20 dicipta oleh ilham para sufi dan para aulia' terdahulu, bagi tujuan mengajar kita menuju jalan mengenal Allah. Barang siapa mempelajari sifat 20 dengan bersungguh-sungguh, berserta faham akan maksud dan makna yang tersirat, InsyaAllah ia akan dapat mengenal Allah swt dengan nyata dan terang. Banyak cabang ilmu dan banyak kaedah pembelajaran yang telah didedahkan melalui kitab, melalui pondok, melalui sekolah dan tidak kurang pula melalui guru-guru agama.
Semua itu bertujuan bagi mencari jalan, mencari cara dan mencari kaedah untuk mengenal Allah. Diantara banyak-banyak cara dan diantara banyak-banyak kaedah, cara dan kaedah terbaik bagi mengenal Allah swt adalah dengan mempelajari sifat 20.
Allah tidak akan dapat dikenal melalui mata zahir, ianya dapat dikenal melalui mata hati dengan mempelajari sifat-sifatnya. Tidak ada jalan, tidak ada cara dan tidak ada kaedah lain untuk mengenal Allah, melainkan melalui ilmu mengenal sifat-sifatNya. Hanya melalui sifat-sifatNya sahaja yang membolehkan kita mengenal Allah Ta'ala. Andaikata adanya jalan lain, selain dari kaedah itu, ternyata ianya adalah dusta yang teramat besar.
ADAKAH ALLAH LAYAK UNTUK DISIFAT-SIFATKAN ?
Sebelum sifat 20 diperjelaskan, suka dingatkan disini bahawa, Allah sebenarnya tidak bersifat dan Allah sebenarnya tidak boleh disifatkan. Seandainya Allah bersifat bererti Allah itu boleh di kualiti dan boleh dikuantitikan. Sedangkan Allah tidak berbilang, tidak berkualiti dan tidak berkuantiti. Maha suci Allah dari sifat berbilang-bilang yang menyerupai sifat makhloknya. Allah tidak boleh dipersifatkan.
Allah itu sangat tinggi, sangat jauh, lebih tinggi dan lebih jauh dari kedudukanNya. Hingga tidak sampi akal untuk mengkajiNya. Allah tidak terhad dan Allah tidak terbatas, sedangkan akal kita amat terhad dan amat terbatas. Allah tidak ada awal, dan tidak ada akhirnya. Tidak mungkin tercapai oleh akal untuk menjangkaunya.
Mana mungkin Allah bersifat, Allah adalah suatu zat yang bukan Ain ( bukan benda ). Allah bukan barang, dan Allah bukan sesuatu. Allah adalah perkara yang tidak boleh disifatkan. Sifat yang disifatkan dan sifat yang dinyatakan itu adalah semata-mata thamsil, semata-mata misalan, semata-mata usul, semata-mata perumpamaan dan semata-mata sekadar contoh bagi mempermudahkan faham
APAKAH ASAS SIFAT 20 ?
Sifat 20 berasaskan kepada 4 perkara ;
1). Zat. ( roh )
2). Sifat. ( rupa )
3). Afa'al ( perangai-perbuatan )
4. Asma' ( nama )
APAKAH SIFAT ALLAH YANG 20 ITU ?
1. Ujud = Ada
2. Qidam = sedia
3. Baqa' = kekal
4. Mukholafatuhu lilhawadis = bersalahan dengan yang baharu
5. Qiamuhu binafsih = berdiri sendiri
6. Wahdaniah = esa
7. Qudrat = kuasa
8. Irodat = menghendaki
9. Ilmu = mengetahui
10. Hayat = hidup
11. Sama' = mendengar
12. Basor = melihat
13. Kalam = berkata-kata
14. Qodirun = maha berkuasa
15. Muridun = maha menghendaki
16. Alimun = maha mengetahui
17. Hayyun = maha hidup
18. Sami'un = maha mendengar
19. Basirun = maha melihat
20. Muutakallimun = maha berkata-kata
20 sifat Allah itu terbahagi kepada berapa bahagian ?
20 sifat-sifat Allah terbahagi kepada 4 bahagian.
1. Bahagian sifat Nafsiah
2. Bahagian sifat ma'ani
3. Bahagian sifat ma'nawiah
4. Bahagian sifat salbiah
Bahagian yang empat inilah yang dikatakan menjadi intipati dan isi kepada ilmu mengenal Allah. 4 bahagian inilah nantinya yang akan mengupas dan yang akan menterjemahkan sifat 20. Barang siapa yang berhajat untuk mengenal Allah, perlu diambil perhatian kepada ke empat-empat bahagian tersebut.
SIFAT NAFSIAH
Apakah sifat yang terkandung dalam nafsiah ?
Sifat yang terkandung didalam nafsiah itu, hanya satu iaitu sifat wujud. Wujud yang membawa maksud ada. Adanya Allah itu, meliputi segala yang zahir mahupun yang batin.
Apakah maksud sifat nafsiah (menolak) ?
Sifat nafsiah itu, bermaksud menafikan keujudan yang lain selain Allah. Hanya Allah sahaja yang ada dan hanya Allah sahaja yang wujud.
Wujudnya Allah itu, adalah ujud yang disertai sekali dengan zat, sifat, afa'al dan asma'Nya. Zat Allah itu merupakan sifatNya dan sifat Allah itu adalah juga merupakan zatNya. Zat dengan sifat Allah itu adalah ujud yang terpisah, berpisah, bercerai dan ujud yang tidak berasingan.
Keujudan zat dengan keujudan sifat Allah itu, adalah esa (satu juga pada hakikatnya). Seumpama sifat ilmu dengan sifat kalam Allah. Apabila sifatnya bersifat mendengar (sama'), bererti zatnya juga, bersifat berpendengaran (sami'un). Apabila Allah bersifat melihat (basor), bererti zatNya bersifat berpenglihatan (basirun). Apabila Allah bersifat kuasa (kudrat), bererti zatNya bersifat kekuasaan (kodirun). Begitulah seterusnya dengan sifat-sifatnya yang lain.
Sifat Allah itu seumpama sifat angin dengan sifat bergoyang (bertiup). Apabila kita melihat pokok bergoyang, itu menandakan adanya angin. Bergoyangnya pokok, adalah bagi menandakan bergoyangnya angin. Sifat bergoyang itu sebenarnya bukan sifat pokok, yang bergoyang itu sebenarnya adalah sifat angin. Walau bagaimana pun sifat angin dan sifat bergoyangnya pokok itu, adalah satu sifat yang sama. Jika tidak ada angin, masakan pokok bergoyang. Pokok tidak boleh bergoyang dengan sendiri, jika bukan kerana digoyang dan ditiup oleh angin. Begitulah juga sifat Allah dengan ZatNya, tidak boleh bercerai.
Begitulah juga kaedahnya kita mentafsir sifat 20. Apabila ianya dirujuk kepada diri. Barulah kita dapat melihat dan mengenal Allah melaluinya. Seandainya sifat 20 itu, tidak dirujuk kepada diri, selama itulah kita tidak akan dapat mengenal dan melihat Allah. Dalam memahami sifat nafsiah (nafi) iaitu sifat menafikan, menidakkan, atau sifat menolak. Kita dikehendaki menidakkan sifat-sifat yang lain selain Allah. Kita dikehendaki menidakkan kewujudan sifat alam dan sifat diri kita sendiri. Menidakkan sifat diri kita, supaya ianya menjadi tidak ada dan tidak wujud (binasa). Cara untuk menidakkan sifat diri kita dan untuk mewujudkan sifat Allah itu, adalah dengan cara, menyerah atau membinasakan diri kepada Allah.
Bilamana sifat telinga telah dipulangkan, ianya akan disambut dengan sifat pendengaran Allah. Bilamana sifat mata telah binasa, akan disambut dengan sifat penglihatan Allah. Sifat berfikir, akan disambut dengan ilmu Allah. Selagi sifat mata menjadi sebahagian daripada sifat kita, sudah pasti kita tidak akan dapat melihat Allah melalui pandangan dan penglihatanNya.
Setelah sifat mata kita itu dipulangkan kepada Allah, akan bertukar menjadi sifat basor Allah, barulah sifat penglihatan basirun Allah itu, boleh melalui sifat mata kita. Bermaknanya disini bahawa, sifat mata yang ada pada kita sekarang ini, tidak boleh dan tidak layak menerima penglihatan Allah melaluinya, melainkan sifat mata makhlok telah binasa dan bertukar kepada sifat wajah Allah.
Maka kita tidak layak untuk menanggung atau menerima sifat penglihatan Allah yang maha tinggi. Sifat makhlok tidak layak untuk menanggong sifat Allah, melainkan sifat kita itu ditukar milik, supaya menjadi milik Allah, setelah melalui proses penyerahan diri (penyerahan tugas dan penyerahan hak milik) kepada Allah. Apabila sudah menjadi milik Allah, barulah mata kita itu, dapat melihat melalui penglihatan Allah. Apabila mata kita itu telah menjadi milik Allah, barulah sifat basirun (penglihatan) Allah itu dapat terpancar melalui mata kita.
Apabila penglihatan Allah sudah menembusi mata kita, dengan sendirinya sifat mata akan binasa. Mata makhlok akan hangus terbakar, binasa dan lenyap lantaran dipenuhi oleh cahaya Allah. Cahaya penglihatan Allah itu sendiri, yang membinasakan sifat mata kita. Hanya Allah sahaja yang dapat menanggung sifat Allah. Sifat mata kita tidak dapat untuk menanggung sifat penglihatan Allah.
Selagi mata masih bersifat makhlok atau masih menjadi sebahagian dari anggota diri kita, selagi itulah wajah Allah tidak boleh mengambil tempat. Selagi sifat Allah tidak dapat mengambil tempat, selagi itulah, kita tidak akan dapat mengenal dan melihat Allah melaluinya. Inilah konsep nafsiah, iaitu konsep menidakkan sifat makhlok supaya dapat menjadikan semuanya bersifat wajah Allah. Setelah kita berjaya dalam menidakkan, fana' dan leburkan diri kita ke dalam cahaya Allah, maka jadilah telinga kita itu, merupakan pendengaran Allah, jadilah mata kita itu, penglihatan Allah dan sebagainya.
Mata kita tidak layak untuk menanggung penglihatan Allah. Begitu juga dengan sifat-sifat yang lain, ianya merupakan pakaian dan persalinan Allah. Sifat kita selaku makhlok, tidak layak untuk memakai yang menjadi persalinan Allah. Seandainya kita terpakai persalinan Allah, cepat-cepatlah bertaubat.
Apabila Allah bersifat basor, Allah juga bersifat basirun. Apabila Allah bersifat qudrat, Allah juga bersifat Qodirun dan sebagainya. Oleh yang demikian bagi yang telah sampi kepada mskam (tahap) makrifat, menjadikan yang dilihat itu, adalah juga yang melihat dan yang melihat itu, adalah juga yang dilihat, yang disembah itu, adalah yang menyembah dan yang menyembah itu, adalah juga yang disembah. Dengan syarat diri kita telah binasa, mati, lebur, dan karam dalam zuk cahaya wajah Allah. Walaupun Allah itu bersifat dengan 20 sifat, namun semua 20 sifat itu, adalah esa (satu) juga dalam zatNya. Walaupun sifat Allah itu banyak, tetapi ia satu dalam zatNya.
Yang menjadikan sifat Allah itu berbilang-bilang adalah dikeranakan khayalan fikiran dan lemahnya sangkaan akal manusia. Sedangkan pada dasar dan pada hakikatnya, kesemua sifat Allah itu adaslah satu (esa), tidak berbilang-bilang.
Mempelajari, memahami serta mengetahui sifat nafsiah bertujuan memberi peringatan kepada kita bahawa, tidak ada yang berbentuk, melainkan yang berbentuk itu adalah bentuk bagi Allah dan tidak ada yang bersifat, melainkan yang bersifat itu hanya sifat bagi Allah. Tidak ada yang berupa melainkan yang berupa itu adalah rupa bagi Allah.
Di dalam memahami sifat nafsiah, kita dikehendaki menafikan, mematikan, melenyapkan, menghilangkan dan membinasakan semua sifat-sifat yang lain selain dari sifat Allah. Di peringkat pengajian ilmu sifat nafsiah, kita dikehendaki melihat bahawa hanya Allah sahaja yang ada, ujud, wujud dan maujud. Keujudan makhlok alam pada peringkat ini belum lagi boleh diletak dalam gambaran fikiran dan belum lagi boleh dibayangkan dalam ciptaan khayalan akal. Yang ada dan yang ujud pada peringkat sifat nafsiah itu, hanyalah Allah semata-mata.
Sifat nafsiah adalah sifat bagi mengajar kits tentang kewujudan Allah secara mutlak dan secara "wujudiah". (wujud yang meliputi), meliputi sekslian alam, meliputi sekalian makhlok dan meliputi sekalian diri kita. Sifat nafsiah dalam wujudiah itu adalah membawa makna keujudan Allah secara mutlak, secara bersendirian, secara keesaanNya, tanpa adanya lagi yang lain selain Allah. Seumpama bukan pokok yang bergoyang tetapi yang bergoyang itu adalah angin. Walaupun kita nampak yang bergoyang itu pokok, didalam kefahaman pengajian ilmu makrifah yang bergoyang itu bukan lagi pokok, sesungguhnya yang bergoyang itu adalah sifat angin. Inilah kedudukan sifat nafsiah dalam tafsiran makrifat.
Di dalam kita belajar sifat nafsiah dalam sifat 20 kita jangan lupa untuk menghubungkaitkan dengan kalimah syahadah. Pelajaran sifat nafsiah dalam sifat 20, bukan sekadar bertujuan untuk dihafal. Pelajara sifat nafsiah itu selain bertujuan untuk mengenal sifat Allah melalui sifat 20, ianya juga adalah bertujuan bagi mentafsir kalimah syahdah. Sifat nafsiah itu, adalah satu kaedah kiasan sahaja. Tujuan sebenar kiasan sifat nafsiah itu, adalah disasarkan kepada tafsiran dan pemahaman kalimah syahdah.
Sifat nafsiah apabila dikaitkan, diletak atau diterjemahkan pada tafsiran syahadah, ia berada pada kedudukan kalimah "LAA" (iaitu kalimah nafi). Kalimah nafi adalah kalimah menolak yang lain selain Allah, membinasakan yang lain selain Allah. Kuwujudan sifat-sifat yang lain itu, seumpama bayang cahaya. Apabila hilang cahaya maka hilanglah bayang.
Apabila kita dapat memahami dan menghayati pengertian isi ilmu nafsiah dalam sifat 20 dengan penuh penghayatan, ianya membuatkan ucapan syahdah kita, benar-benar diterima Allah.
Bagaimana cara ucapan syahdah yang penuh makna ! Adapun ucapan syahdah yang penuh makna itu, adalah dengan melafazkan ungkapan kalimah "Laa" dengan menghilangkan dan membinasakan sifat-sifat yang lain, selain Allah. Sehingga tidak ada lagi keujudan bulan, bintang, alam, dunia dan keujudan kehidupan diri, melainkan Allahlah yang ujud, wujud dan maujud, pada sekalian wajah alam.
Ucapan perkataan "Laa" adalah tahap ucapan yang tidak ada lagi sesiapa. Tidak ada apa-apa dikiri, dikanan, diatas, dan tidak apa-apa lagi dibawah kita, melainkan semasa melafazkan kalimah "Laa" kita dikehendaki mengisi keyakinan hati dan mengisi kepercaysan akal, bahawa tidak ada yang lain lagi pada keujudan alam ini, melainkan sekalian yang ada ini, adalah wajah Allah (yang meliputi segalanya). Itulah diantara tujuan kita mempelajari sifat nafsiah ( sifat 20 )
APAKAH BENTUK SIFAT NAFSIAH ?
Sifat nafsiah adalaj berbentuk "PERKHABARAN", sifat yang hanya ada pada zat Allah dan tidak memberi bekas kepada alam, sifat nafsiah itu, tidak pula boleh dikualiti dan tidak boleh dikuantitikan. Adanya Allah adalah ada yang mutlak, ada yang tidak dikeranakan oleh suatu kerana yang lain.
Sifat nafsiah adalah sifat yang mengkhabarkan kepada kita bahawa Allah itu ada, adanya Allah itu melalui perkhabaran yang tidak dapat dipegang atau dirasa dengan tangan, tidak dapat dizahirkan untuk dilihat. Perkhabaran adalah perkara yang tidak boleh disifatkan, tidak boleh dikualiti atau dikuantitikan. Ia hanya boleh dirasa dan diyakini oleh hati tanpa usul
SIFAT MA'ANI
Apakah maksud sifat ma'ani ?
Pengertian sifat ma'ani adalah membawa maksud "PERGANTUNGAN". Ma'ani adalah sifat yang menumpang kepada sifat lain, seumpama sifat hidup yang bergantung kepada sifat haiyun, seumpama sifat basor, yang bergantung kepada sifat basiron dan sebagainya. Sifat ma'ani adalah sifat yang bergantunh kepada sifat maknawiyah. Tanpa maknawiyah sifat ma'ani tidak berfungsi. Berfungsinya sifat ma'ani adalah dengan kerana limpahan rahmat dari sifat maknawiyah ( kuasa Allah ). Sifat ma'ani itu, bergantung dan menumpang sifat maknawitah.
Sifat Apakah Yang Terkandung DI Dalam Ma'ani ?
Sifat yang terkandung di dalam sifat ma'ani ada 7 perkara:-
1. Hayat. = hidup
2. Qudrat. = kuasa
3. Irodat. = berkehendak
4. Ilmu =. Mengetahui
5. Sama'. = mendengar
6, basot. = melihat
7. Qalam = berkata-kata
Apakah Bentuk Sifat Ma'ani ?
Bentuk sifat ma'ani itu, adalah sifat yang boleh dilihat dan boleh digambarkan oleh akal. Ianya juga merupakan sifat yang terzahit (tergambar) pada fikiran dan terbayang pada khayalan. Seumpama sifat hayat (hidup), ianya terbaayang kepada sifat nyawa, sifat melihat, terbayang pada sifat mata dan pendengaran, terbayang kepada sifat telinga. Kita boleh bayangkan sifat ma'ani, melalui pendengaran, penglihatan dan sebagainya.
Sifat ma'ani bukan sahaja terzahir pada khabar tetapi terzahir juga pada kenyataan, ertinya maujud pada khayalan fikiran dan maujud juga pada kenyataan sebenar. Ujud sifat ma'ani itu, adalah dikeranakan dengan sesuatu, kerana yang lain. Tanpa kerana sifat yang lain, sifat ma'ani tidak boleh wujud dan tidak boleh zahir. Wujudnya sifat ma'ani adalah dikeranakan menumpang sifat maknawiyah.
Bagaimana Menterjemah Sifat Ma'ani Pada Diri Kita ?
Sifat ma'ani Allah Ta'ala yang jelas terzahir pada diri kita ada 7.
1. Hidup
2. Mengetahui
3. Berkuasa
4. Berkehendak
5. Melihat
6. Mendengar
7. Berkata-kata
Ada dengan terang dan jelas menzahir sifat-sifatNya ke atas diri kita. Tujuan dizahirkan sifatNya supaya dijadikan sebagai pedoman, sebagai panduan dan sebagai iktibar untuk kita mengenal, melihat dan memandang Allah melaluinya. Allah bukan ain (bukan benda) yang boleh dikenal melalui bentuk hitam dan putih. Allah menzahirkan sifat-sifatnya ke atas diri kita adalah bertujuan supaya dijadikan "Tempat memandang sifat-sifatnya" kepada mereka-mereka yang berpandangan jauh.
Tetapi ramai yang masih tidak memerhatikannya. Sifat hidup, sifat mengetahui, sifat berkuasa, sifat berkehendak, sifat melihat dan sifat berkata-kata yang dipakai Allah atas diri kita, adalah menjadi tanda kebesaranNya atas diri kita supaya kita memerhati dan melihatnya. Sifat-sifat tersebut bukannya sifat peribadi kita tetapi sifat tersebut sebenarnya adalah hak kepunyaan mutlak Allah Ta'ala.
Sifat yang kita pakai ini adalah pinjaman semata-mata. Dari itu hendaklah kita sedar dan insaf akan hal itu. Kesemua sifat-sifat tersebut adalah hak milik Allah dan kepunyaan Allah swt yang sepatutnya dikembalikan semula kepada tuan yang empunya, sementara hayat masih dikandung badan. Penzahiran sifat ma'ani (angin) atas makluk (diri kita) adalah sekadar pinjaman yang berupa pakaian sementara, yang akhirnya dikehendaki kembali semula kepada tuan yang empunya. Allah tidak boleh diibarat atau dimisalkan dengan sesuatu.
Maha seci Allah dari ibarat dan misal. Segala misalan atau segala perumpamaan yang dinukilkan itu, hanya sekadar mempermudahkan faham. Sifat ma'ani itu, adalah seumpama bayang-bayang, manakala Allah Ta'ala itu, adalah seumpama tuan yang empunya bayang.
Firman Allah :-
25.Surah Al-Furqān (Verse 45)
أَلَمْ تَرَ إِلَىٰ رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ وَلَوْ شَاءَ لَجَعَلَهُ سَاكِنًا ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلًا
Tidakkah engkau melihat kekuasaan Tuhanmu? - bagaimana Ia menjadikan
bayang-bayang itu terbentang (luas kawasannya) dan jika Ia kehendaki tentulah Ia menjadikannya tetap (tidak bergerak dan tidak berubah)!
Kemudian Kami jadikan matahari sebagai tanda yang menunjukkan perubahan bayang-bayang itu;
Maksud hadis:-
"Allah Jadikan Manusia dalam bayangNya"
Maksud bayang itu, adalah merujuk kepada makhlok dan diri kita. Bayang (diri) sebenarnya tidak mempunyai apa-apa sifat. Bayang hanya sekadar sifat yang menumpang dari yang empunya bayang. Bergeraknya bayang adalah gerak daripada yang empunya bayang. Berdirinya bayang adalah dengan berdirinya tuan yang empunya bayang (Allah). Mustahil bayang itu boleh berdiri dengan sendiri tanpa kuasa dari yang empunya bayang (Allah). Bayang dengan yang empunya bayang itu, mustahil bersatu dan mustahil bercerai.
Diri kita dengan wajah Allah itu, adalah seumpama ujud bayang dengan yang empunya bayang atau seumpama bayangan wajah dipermukaan cermin. Sifat ma'ani itu tidak boleh berdiri dengan sendiri tanpa bergantung dari sifat maknawiah. Hubungan antara sifat ma'ani dengan sifat maknawiah itu, adalah seumpama hubungan antara bayang dengan yang empunya bayang, Contohnya seumpama sifat mata dengan penglihatan, sifat telinga dengan pendengaran dan sifat mulut dengan yang berkata-kata. Walau bagaimana keadaan sekalipun, ianya tetap tidak boleh bercerai dan juga boleh bercantum. Inilah yang dikatakan hubungan sifat ma'ani dengan sifat ma'anawiyah itu, bercantum tidak bercerai tiada.
Maksud hadis :-
"Tiada bercerai antara nafi dan isbat, dan siapa-siapa ceraikan antara keduanya maka ora g itu kafir adanya"
Bayang bukan cahaya tapi tidak lain dari cahaya. Cahaya bukan matahari tapi tidak lain dari matahari. Begitu jugalah contohnya hubungan antara Allah dengan diri kita. Dari itu marilah kita sama-sama mengambil faham dan insaf bahawa sifat yang kita miliki ini, sebenarnya hak kepunyaan Allah, yang harus kita serah kembali kepada yang empunya.
Tujuan mempelajari sifat ma'ani adalah bertujuan supaya kita mengaku bahawa sebenarnya diri kita ini tidak ada, tidak wujud dan terjadi. Yang wujud, yang ada dan yang terjadi adalah hanya semata-mata Allah, seumpama sifat bayang, terzahirnya bayang itu, adalah bagi tujuan menampakkan dan menyatan sifat yang empunya bayang itu sendiri.
Di dalam keghairahan membicarakan soal sifat ma'ani, harus diingat bahawa Allah tidak bertempat. Allah tidak menjelma keatas jasad. Allah tidak bertempat di dalam atau di luar badan, Allah tidak bersatu, tidak bercantum dengan badan, Allah bukan kesatuan, Allah bukan bersyarikat, bukan bercantum dengan jasad kita. Orang-orang yang mengaku bahawa Allah menjelma di dalam jasad dan tidak kurang pula ada yang mengaku Tuhan dan sebagainya. Sesungguhnya mereka-mereka itu, adalah tergolong dikalangan mereka-mereka yang sesat dan sejahil-jahil manusia.
Allah tidak ada dalam diri kita, tetapi kitalah yang ada dalam Allah. Bukan kita mengandungi Allah, tetapi Allahlah yang mengandungi kita. Bukan kita yang meliputi Allah, tetapi Allahlah yang meliputi kita. Kesemua sifat yang kita miliki ini adalah milik Allah, sifat yang ada pada diri kita akan hancur, binasa dan hilang lenyap, sifat yang kekal dan yang abadi itu, hanyalah Allah swt.
Firman Allah :-
28.Surah Al-Qaşaş (Verse 88)
وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَۘ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Dan janganlah engkau menyembah tuhan yang lain bersama-sama Allah. Tiada
Tuhan melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu akan binasa melainkan Zat Allah. BagiNyalah kuasa memutuskan segala hukum, dan kepadaNyalah kamu semua
dikembalikan.
Apa Hubungan Sifat Maani Dengan Roh ?
Sifat ma'ani adalah wajah Allah yang terzahir melalui sifat dan rupa paras roh, melalui sifat mata, mulut, telinga, dan anggota tubuh seluruhnya. Sebagaimana rupa dan paras roh, sebegitulah wajah ma'ani Allah, kerana rohlah sifat ma'ani Allah. Untuk melihat sifat ma'ani Allah lihatlah pada wajah dan sifat rupa paras diri kita sendiri. Hubungan roh dengan sifat ma'ani itu, seumpama sifat mata pada roh, penglihatan bagi Allah, telinga pada roh, pendengaran bagi Allah dan begitulah seterusnya.
Apakah Hubungannya Sifat Ma'ani Dengan Kalimah Syahdah?
Tujuan kita mempelajari dan mendalami ilmu ma'ani itu, adalah untuk membawa kepada pemahaman kalimah syahadah. Tujuan nafsiah membawa pengertian kepada lalimah "Laa" adalah kslimah bagi menafikan kewujudan sifat makhlok. Manakala sifat ma'ani kalimah "Ila ha" pula, bermaksud mengadakan atau mengiakan dan mengambil balik segala apa yang kita telah tolak dalam kalimah "Laa". Jika dalam kalimah "Laa" kita tolak semua sifat makhlok, manakala dalam kalimak "Ila ha" pula, ianya kita adakan semula. Walaupun sifatnya diadakannya kembali, ianya adalah sekadar sifat yang menumpang.
Jika dalam kalumah "Laa" kita mengaku bahawa tidak ada lain, selain Allah, manakala dalam kalimah "Ila ha" pula kita mengaku bahawa Allah telah menzahirkan makhloknya melalui 7 sifatNya, seumpama sifat hidup, kuasa, berkehendak, mengetahui, mendengar, melihat dan sifat berkata-kata. Walau bagaimana pun 7 sifat tersebut diatas hanya sekadar sifat menumpang. Seumpama sifat sama' menumpang sifat sami'un, sifat basor menumpang sifat basirun dan begitulah seterusnya.
Untuk dihubung kaitkan dengan kalimah syahdah, kita hendaklah melihat sifat mata yang kita miliki, tidak berguna, tanpa penglihatan Allah, telinga kita tidak akan bermakna tanpa pendengaran Allah, mulut tidak bererti tanpa berkata-kata Allah, hidung tidak berguna tanpa hidup Allah, akal tidak bererti jika tanpa ilmu Allah, anggota tidak bermakna tanpa kuasa Allah. Segala-galanya yang ada pada kita bergantung dan menumpang sifat Allah.
Semasa melafazkan kalimah "Ila ha" dalam bersyahadah, kita dikehendaki mengingati diri kita bahawa sifat yang ada pada diri dan yang kita bawa ini, tidak boleh berdiri sendiri, hanyalah sekadar sifat yang menumpang dan bergantung kepada sifat Allah. Diri kita tidak memiliki apa-apa. Kita tidak akan dapat melihat tanpa basirun Allah dan kita tidak akan dapat mendengar tanpa samiun Allah. Dari kesedaran dan keinsafan itu, membawa hati kita kepada suatu perasaan kosong, hiba, hina, kerdil, miskin, kecil dan perasaan fakir dihadapan Allah. Inilah tujuan kita mempelajari sifat ma'ani.
Diri kita ini sesungguhnya yatim piatu yang tidak punya apa-apa. Ibubapa, anak-isteri, kaum-keluarga, harta benda, hidup mati dan kaya miskin itu, adala hak Allah ta'ala, yang boleh diambilnya balik pada bila-bila masa. Yang kita miliki ini, adalah semata-mata hak kepunyaan Allah. Ditangan Allahlah diri kita, segala kekuatan, kecantikan, kekayaan dan kegagahan yang selama ini kita megah-megahkan itu, sebenarnya adalah milik kepunyaan Allah. Dengan kefahaman bahawa, sifat diri kita ini, sebenarnya mati dan menumpang. Seumpama sifat mata, telinga, mulut, tangan, kaki dan seluruh anggota, menumpang wajah kebesaran Allah. Yang hendahnya dikembalikan semula sifat itu kepada Allah.
Anggaplah diri kita ini, sudah mati, binasa, hilang dan lenyap dalam wajah Allah. Yang kita miliki ini, semuanya adalah hak Allah Ta'ala belaka. Hendaklah kita serah kembali kepada Allah. Kembalikan sifat-sifat tersebut kepada Allah. Jadikanlah diri kita ini seumpama fakir, muflis, hina, mati, binasa dan hilang dalam kekuasaan Allah. Inilah diantara hikmah dan diantara intipati mempelajari sifat ma'ani dalam sifat 20.
Bagaimana Mengenal Allah Melalui Sifat Ma'ani ?
Peranan sifat ma'ani hanya sekadar menjadi saksi (kesaksian) Sifat ma'ani berperanan sekadar sifat menumpang. Seumpama basor, hanya menumpang kepada sifat basirun. Telinga menumpang sifat sama', manakala sama' pula menumpang sifat samiun. Lidah menumpang sifat kalam, manakala kalam pula menumpang sifat mutakallimun. Sifat ma'ani adalah sifat menumpang sifat maknawiah (sifat kekuasaan Allahh).
Dari kefahaman itu, dapatlah kita tilik diri sendiri, betapa sifat yang ada pada diri kita ini, semuanya kepunyaan Allah. Kita ada mata, tatapi Allah yang memiliki sifat penglihatan. Kita ada telinga tetapi Allah yang memiliki sifat pendengaran. Kita ada mulut tetapi Allah yang memiliki sifat berkata-kata. Begitulah seterusnya, yang menggambarkan bahawa diri kita ini adalah kepunyaan Allah.
Sifat ma'ani bertujuan supaya sifat Allah dapat dilihat melalui pancaindera, pada roh dan pada diri kita sendiri. Allah berilmu manakala diri pula bersifat mengetahui melalui akal. Allah berkudrat, manakala diri pula bersifat berkuasa melalui pancaindera. Allah berirodat, manakala diri pula bersifat berkehendak ( dapat berkeinginan melalalui rasa ). Allah bersifat sama' manakala diri pula bersifat mendengar melalui telinga. Allah bersifat basor manakala diri pula bersifat melihat melalui mata. Allah bersifat kalam, manakala diri pula bersifat berkata-kata melalui lidah.
Jangan sekali-kali kita menjadi lupa diri, bahawa semua sifat-sifat yang kita miliki ini, adalah kepunyaan Allah, diri kita ini, hanya sekadar menumpang sifat Allah. Apabila kita faham sifat ma'ani, dengan sendirinya membawa diti kita pulang kepangkuan Allah dengan tangan kosong, dengan menyerahkan segala sifat kepada Allah. Bahawasanya diri kita ini, sebenar nya adalah kepunyaan dan milik Allah sepenuhnya secara mutlak. Sifat yang kita pakai dan yang ada pada kita ini, seumpama sifat bayang (menumpang yang empunya bayang).
Setelah kita sedar, bahawa sifat yang kita pakai ini adalah sifat pinjaman dan menumpang sifat Allah, sebaiknya kembalikanlah semua sifat-sifat itu kepada Allah. Jangan sekali-kali cuba memakai pakaian Allah, walaupun secara percuma atau secara pinjaman, kerana kita tahu bahawa pakaian Allah itu, amat tidak layak untuk dipakai oleh kita. Kita tidak layak memakai pakaian Allah dan kita tidak sajak untuk menerima pijaman Allah. Pakaian Allah itu, Allahlah pemiliknya, Allahlah yang layak memakainya. Sebenarnya kita ini, tidak punya apa-apa pakaian atau persalinan. Kita ini adalah ibarat tangan kosong. Yang menjadi milik dan kepunyaan kita bukan pakaian atau persalinan, yang menjadi mikik dan kepunyaan kita yang mutlak, adalah Allah itu sendiri.
Inilah konsep yang hendak diketengahkan dan yang hendak diterapkan melalui sifat ma'ani. Konsep serta kefahaman inilah yang benar-benar perlu kita fahami. Cuba fahami dan hayati betul-betul sifat ma'ani yang tujuh itu, apabila kita telah kasyaf dalam menghayati sifat ma'ani, di sinilah membawanya lebur dan terbakarnya sifat diri yang palsu dan yang menumpang ini.
Bagi mereka-mereka yang mengenal Allah, apabila dia cuba untuk memakai sifat Allah. maka hancur terbakarlah anggotanya, lebur musnahlah sifat jasadnya. Mereka tidak sekali-kali berani memakai sifat pakaian Allah. Pakaian Allah itu ada tujuh iaitu seumpama sifat hidup, ilmu, kudrat, irodat, samak, basor dan kalam, manakala pakaian kita juga tujuh isitu seumpama
1. Pakaian sifat mati (binasa)
2. Pakaian sifat bodoh dungu
3. Pakaian sifat lemah, lumpuh tidsk berupaya.
4. Pakaian sifat tidak berkemahuan, tidak berkehendak
5. Pakaisn sifat pekak dan tuli.
6. Pakaian sifat buta
7. Pakaian sifat bisu.
Inilah pakaian dan sifat-sifat yang kita pakai serta pakaian mereka-mereka yang mengenal diri dan yang mengenal Allah swt. Mereka ini beranggapan dan beriktikat bahawa, diri serta jasad mereka sudah mati, tidak ada, lebur dan binasa. Mereka tidak lagi berakal tidak lagi mempunyai kekuatan, tidak lagi berkemahuan, tidak berpendengaran, tidak lagi berpenglihatan dan tidak lagi bersuara,diri da. Jasad mereka sudah fana', sudah baqo' dan karam dalam wajah Allah swt.
Diri mereka tidak ubah seumpama manyat yang hidup. Mereka tidak memakai pakaian Allah, mereka tidak meminjam pakaian Allah, mereka tidak mengambil persalinan Allah, mereka tidak memakai apa-apa yang menjadi haq Allah. Tidak layak bagi mereka untuk menerima apa-apa yang menjadi milik Allah. Bagi mereka, segala-galanya adalah dari Allah, kepada Allah dan berserta Allah. Baiklah didalam tidur, dalam jaga, dalam gerak, dalam tutur kata, dalam penglihatan, pendengaran, berkeinginan Dan sebagainya, semuanya milik Allah
Bukan sifat mata yang mereka pandang, tetapi penglihatan Allah, bukan sifat telinga menjadi tumpuan, tetapi pendengaran Allah, bukan mulut menjadi keinginan, yang menjadi keinginan mereka ialah suara (kata-kata) Allah Allah. Yang berkeinginan dan berkehendak itu, adalah Allah swt. Yang berkuasa dan berilmu itu adalah Allah. Inilah kaedah pegangan iktikad orang makrifat, dalam menterjemah sifat ma'ani. Yang menjadikan hati kita penuh yakin kepada Allah.
Tujuan sifat ma'ani diketengahkan untuk dipelajari dan difahami, adalah untuk membawa kita kepada suatu keinsafan diri, bahawa semua yang kita miliki dan yang ada pada diri kita ini, sebenarnya adalah milik Allah. Setelah kita sedar yang segala-gala sifat itu menjadi milik Allah, hendaklah kita kembalikannya semula kepada Allah. Seandainya yang menjadi milik Allah itu telah kita serahkan semula kepada Allah, semasa hayat masih dikandung badan dan semasa masih berada didalam dunia, apabila kita pulang kerahmatullah kelak (setelah kita mati nanti), tidak ada apa-apa lagi yang perli ditanya, perlu dihisab dan perlu dipersoalkan oleh Malaikat Mungkar Dan Nakir.
Perkara yang membuat kita ditanya dan disoal itu, adalah kerana hutang sifat kita semasa di dunia masih belum dijelaskan, mereka yang belum melangsaikan pinjaman dan yang belum mengembalikan hak Allah semasa hayat masih ada dan semasa masih hidup didunia, hutang sifat yang kita pinjam dari Allah, hendaklah dikembalikan semula kepada Allah. Jika ianya dilangsaikan semasa di dunia, tidaklah ada lagi sial jawab dari Mungkar dan Nakir didalam kubur.
Apa lagi yang Allah hendak tuntut, apa lagi yang Allah hendak tagih dari kita, jika semuanya telah dikembalikan dan diserahkan kepadaNya. Hidup dan mati kita telah kita serahkan kepada Allah, jasad zahir dan batin telah dikembalikan kepada Allah. Apa lagi yang hendak Allah dakwa!, apa lagi yang hendak Allah tuntut !, yang hendak Allah dakwa dan tuntut itu, bagi mereka-mereka yang kembali kepangkuannya dengan tidak menjelaskan hutang sifat dan tidak mengembalikan hakNya. HakNya diambil pakai, diambil guna, tapi tidak pandai untuk memulangkan dan tidak pula pandai mengembalikannya semula kepada Allah.
Jika semuanya telah dikembalikan kepada yang empunya, nescaya tidak ada lagi, tuntut menuntut, dakwa-dakwi dan tidak lagi ada soal jawab kubur, malah dipintu surgalah kita disambut oleh Allah swt.
Inilah tujuan pengajaran sifat ma'ani diperkenalkan. Ini adalah tujuan sifat ma'ani diketengahkan untuk di ambil tahu oleh sekalian kita. Dengan mempelajari sifat ma'ani, akan membawa kita tahu untuk membezakan, yang mana hak kita dan yang mana hak Allah swt. Perhatikan sekali lagi perkara ma'ani dan hendaknya kita hayati dan tilik dengan mata hati yang kasyaf.
Selagi hayat masih dikandung jasad, kita di kehendaki mengembalikan hak kepada yang berhak, nantinya bila tiba di alam akhirat kelak, kita akan mendapat layanan dan sambutan yang istimewa dari penguasa langit, lain dari yang lain. Kita akan ditempatkan bersama orang yang sempurna lagi terpuji. Roh orang-orang sebeginilah di namakan roh mutmainnah, roh yang diterima Allah. Tempat kita itu, adalah disisi Allah, bukannya disisi tanah yang mengandungi ulat dan cacing.
Roh sebeginilah yang dikatakan roh yang suci bersih, roh yang sentiasa disertai air sembahyang, roh yang sentiasa di iringi dengan kalimah syahdah. Inilah roh mereka-mereka yang mati sebelum mati dan roh mereka-mereka yang mengenal diri semasa didunia. Inilah yang dikatakan roh yang mengenal tuannya. Tuan yang empunya roh itu, tidak lain dan tidak bukan hanya Allah swt yang satu lagi esa. Inilah penjelasan dan kupasan tentang kefahaman ilmu mengenal Allah (makrifat) melalui pelajaran sifat ma'ani dalam sifat 20, yang bukan sahaja setakat tahu makna tetapi hendaklah dihayati dengan isi disebaliknya.
SIFAT MAKNAWIYAH.
Apakah maksud sifat maknawiyah?
Pengertian sifat maknawiyah itu, membawa maksud sifat kekuasaan Allah, menjadi tempat pergantungan segala rupa (sifat), nama (asma'), berperangai (fe'el) dan pergantungan segala berzat (roh) krpadanya. Maknawiyah adalah tempat bergantungnya sifat ma'ani. Contohnya, bergantungnya sifat mendengar kepada pendengaran Allah, bergantung sifat melihat kepada penglihatan Allah dan begitulah seterusnya. Seumpama sifat cahaya (ma'ani) yang bergantung harap kepada sifat matahari (maknawiyah).
Begitu jugalah hubungan di antara sifat maknawiyah dengan sifat ma'ani, sebagaimana sifat ma'ani, sebegitulah rupanya sifat maknawiyah. Sebagaimana ciptaan, sedemikianlah penciptanya. Sebagaimana hasil, sedemikianlah acuannya. Sebagaimana yang awal sedemikianlah akhirnya, semuanya itu, adalah satu dari segi zatnya, cuma berbeza pada panggilan nama. Sifat Allah dengan hasil nukilannya seumpama bercerai tidak bersatu tiada. Pencipta (zat) dan ciptaan (sifatnya) adalah satu. Sifat bukan zat tetapi tidak lain dari zat. Sifat ma'ani dengan sifat maknawiyah, seumpama wajah orang yang menilik, dengan bayangan wajah di dalam cermin. Sifat maknawiyah bermaksud adalah bagi menggambarkan kekuasaan Allah. Sifat bagi menggambarkan akan kehebatan kekuasaannya.
Sebagaimana kuasanya Allah itu, sebegitulah besarnya Dia. Walau bagaimana besar dan kuasanya Allah itu, tidak bermakna tanpa ciptaannya (makluk kejadiannya). Tanpa kejadian alam dan tanpa penzahiran makhlok, segala kehebatan, kekuasaannya, dan segala kehebatan kebesaranNya tidak akan dapat diterjemah dan diperzahirkan untuk dilihat makhlukNya.
Kekuasaan Allah di dalam sifat maknawiyah, diterjemah melalui sifat ma'ani, manakala sifat ma'ani pula, diterjemah melakui pancaindera kita. Kejadian dan penzahiran sifat makhloknya yang bersifat ma'ani. Allah yang bersifat dengan segala keperkasaan pengetahuanNya, ianya tidak membawa apa-apa makna, tanpa diterjemahkan melalui diri kita ( sifat makhlok ).
Sifat kepandaian yang ada pada kita itu, sebenarnya ilmu Allah, dengan itu, walau setinggi manapun darjat kepandaian kita, kita tetap selaku hamba disisi Allah. Oleh itu janganlah kita bersifat sombong dan angkoh bila berada dan berjalan dibumi Allah. Dengan sifat mata yang cantik, wajah yang ayu, kuasa yang besar dan kekayaan yang menimbun, jangan pula menjauhkan dari mengingati Allah. Ingatlah segala sifat yang ada pada kita itu adalah wajah bagi Allah. Hendaknya kita itu, bersifat rendah diri, pemalu, tidak sombong, murah hati dan bersifat sopan santun di dalam menzahirkan sifat Allah atas diri kita. Jangan bakhil atau kedekut dengan harta yang Allah hamburkan melalui kita, rajin-rajinlah bersedekah dan bantu membantu kepada orang yang memerlukan, samada dalam bentuk wang ringgit, mahupun tenaga dari anggota zahir. Semua sifat itu, bukannya untuk menggambarkan kebaikan atau kebesaran diri kita, tetapi bagi menzahirkan sifat kekeasaan Allah Ta'ala.
Maksud diperkenalkan ilmu sifat maknawiyah, adalah bertujuan supaya kita dapat memati, membinasa, dan mengembalikan sifat anggota jasad. Seumpamanya dengan membinasakan sifat mata, dengan sendirinya akan membinasakan pula sifat meluhat. Setelah kedua-dua sifat mata dan sifat melihat (basor) telah dapat dibinasakan (dikembalikan) kepada Allah, dengan sendirinya sifat basirun Allah (sifat yang memberi pengkihatan) akan dapat kita lihat.
Setelah ketiga-tiga sifat pancaindera, sifat ma'ani dan sifat maknawiyah dapat kita serahkan semula kepada Allah. Disitulah nantinya, kita akan dapat melihat, bahawa diri kita telah lebur, disitulah, kita akan dapat menatap dan memandang bahawa, semua yang ada itu, adalah wajah Allah. Tidak sempurna ilmu maknawiyah jika kita tidak mengembalikan ketiga-tiga sifat tersebut, jangan pula kita kembalikan sebahagian dan meninggalkan sebahagian yang lain. Seandainya dikembalikan sifat penglihatan sedangkan sifat mata tidak dikembalikan, ini tidak membawa makna dan konsep maknawiyah. Maknawiyah bukan sahaja sifat yang terletak pada kita, tetapi juga terletak pada sekalian makhlok alam seluruhnya. Termasuklah alam haiwan, alam bukit bukau, alam jin dan seluruhnya seisi alam.
Sifat Apakah Yang Terkandung Di Dalam Maknawiyah ?
7 Sifat maknawiyah yang terkandung didalam sifat 20
1. Haiyun = Yang hidup
2. Alimun = Yang tahu
3. Muridun = Yang berkehendak
4. Qodirun = Yang berkuasa
5. Samiun = Yang mendengar
6. Basirun = Yang melihat
7. Mutakallimun = Yang berkata-kata.
Apakah Bentuk Sifat Maknawiah ?
Sifat maknawiyah (sifat kekuasaan Allah Ta'ala), hanya ujud pada zat Allah, tidak memberi bekas kepada alam. Maknawiyah tidak boleh dikualiti atau dikuantiti. Maknawiyah adalah suatu sifat yang menggambarkan ketinggian, kebesaran dan kekuasaan Allah. Sifat kebesaran Allah itu tidak boleh diterjemahkan kepada penglihatan. Seumpama Allah bersifat tinggi atau besar setinggi dan sebesar mana Allah itu, tidak dapat dizahirkan melalui kuantiti penglihatan atau jangkauan akal. Tujuh sifat maknawiyah adalah tempat bergantung tujuh sifat ma'ani. Maknawiyah menanggung dan mendukungi sifat ma'ani. Sifat maknawiyah adalah tempat tumpang dan pergantungan sifat ma'ani.
Apakah Peranan Sifat Maknawiyah ?
Tujuan sifat maknawiyah dijadikan dan diciptakan Allah itu, adalah bertujuan untuk menzahirkan, mempernampak dan untuk memperlihatkan sifat kekuasaannya atas makhlok. Hendaknya dengan ciptaan sifat maknawiyah itu, makhlok akan dapat mengenal Allah melalui tujuh sifat kekuasaanNya.
Rupa alam ini, adalah merupakan bekas, bayang atau wajah Allah. Oleh itu bagi sesiapa yang berhajat untuk mengenal Allah, maka lihatlah alam dan jangan lupa untuk melihat pula kepada diri sendiri. Diri kita ini hanya bersifat ma'ani (tetamu) yang menumpang sifat maknawiyah Allah. Sifat maknawiyah Allah yang ternyata atas diri kita itu, adalah seumpama rumah, manakala sifat ma'ani pula seumpama tetamu. Diri kita ini, merupakan tetamu yang menumpang rumah Allah (ma'ani menumpang sifat maknawiyah). Sifat tuan itu hanya ada pada Allah dan bukan pada diri kita, kita hanya selaku hamba (tetamu).
Oleh itu kita jangan sekali-kali bersifat angkoh. Jangan anggkoh sesama manusia, apa lagi kepada Allah, kerana semua sifat yang ada pada kita itu adalah sifat menumpang, jadi sedarlah diri itu sikit. Selaku menumpang, buatlah cara menumpang, jangan pula tinggi kadok dari junjung. Untuk mengatakan alam ini merupakan Allah, sudah tentu kurang manis pada pandangan syara' dan tidak layak pada hukum, mana mungkin sifat Allah untuk disamakan dengan sifat makhlok, tetapi menurut pengajian ilmu makrifat dalam mentafsir sifat 20, telah mengisyaratkan bahawa, segala sifat yang bersifat itu, sebenarnya adalah sifat bagi Allah, segala nama yang bernama itu, adalah nama bagi Allah, segala perangai atau gerak geri yang bergerak itu, adalah gerak Allah dan segala zat yang berzat itu, adalah zat bagi Allah. Menurut kacamata ilmu makrifat, alam ini sudah binasa, sudah hilang ghaib dalam wajah Allah. Yang ada (yang wujud) hanyalah Allah. Jikalau pun ada yang bersifat wujud selain dari Allah, itu cuma sekadar bayangan nama dari hayalan akal.
Sifat Allah itu termasuk segala-galanya, yang batin mahupun yang zahir, termasuk sifat yang dulu mahupun sifat yang sekarang. Awal itu adalah Allah, maka akhir pun juga adalah Allah. Tinggal lagi cara mana kita memahami sifat 20 dan cara mana kita mentafsir sifat maknawiyah dan sifat ma'ani keatas diri kita. Ianya bergantung kepada cara mana kita meletakkan diri dalam wajah Allah dan cara mana wajah Allah itu, terletak pada diri kita. Bagi yang pandai meletakkan sesuai pada tempatnya disitu kita akan dapat melihat dan mengenal Allah melaluinya. Ianya saling berkaitan antara satu sifat dengan sifat yang lain. Alam mendukung dan mengandungi sifat ma'ani, manakala ma'ani pula didukungi dan dikandungi oleh sifat maknawiyah.
Maknawiyah pula didukung oleh sifat salbiah, manakala sifat salbiah pula mendukung kesemua sifat. Sifat ma'ani dan sifat maknawiyah (sifat menumpang dan sifat yang ditumpangi) adalah menumpang pula sifat salbiah Allah (sifat kebesaran dan kesempurnaan Allah)
Tujuan sifat maknawiyah dicipta adalah, bagi menyedarkan diri-diri kita semua, bahawa hidup ini, adalah kerana ada Yang Maha Menghidupkan, psndainya kita ini, adalah kerena adanya Yang Maha berilmu, kuasanya kita ini adalah kerana adanya Yang Maha Berkuasa, kemahuan kita ini adalah kerana ada Yang Maha Berkehendak. Makhlok tidak boleh hidup tanpa yang empunya hidup, makhlok tidak berfikiran tanpa yang empunya ilmu, makhlok tidak berupaya dan tidak berkemahuan, jika tidak dengan keupayaan dan kemahuan Allah swt.
Apakah Hubungan Sifat Ma'ani dan Maknawiyah Dengan Diri Kita?
Perhubungan diantara sifat ma'ani dengan sifat maknawiyah itu, adalah seperti berikut;
1. Bukan hayat yang hidup, sifat hidup yang ada pada hayat kita adalah bagi menyatakan dan menzahirkan haiyun yang ada pada zat Allah.
2. Bukan ilmu yang tahu, sifat tahu yang ada pada ilmu kita itu adalah bagi menyatakan dan menzahirkan sifat Alimun yang ada pada zat Allah
3. Bukan irodat yang berkehendak, sifat berkehendak yang ada pada irodat kita itu adalah bagi menyatakan dan bagi menzahirkan sifat muridun yang ada pada zat Allah.
4. Bukan kudrat yang berkuasa, sifat berkuasa yang ada pada kita itu adalah bagi menyata dan bagi menzahirkan sifat kodirun yang ada pada zat Allah.
5. Bukan samak yang mendengar, sifat mendengar yang ada pada kita itu adalah bagi menyatakan dan bagi menzahirkan sifat samiun yang ada pada zat Allah.
6. Bukan basor yang melihat, melihat yang ada pada kita itu adalah bagi menyatakan dan bagi menzahirkan sifat basirun yang ada pada zat Allah.
7. Bukan kalam yang berkata-kata, sifat berkata-kata yang ada pada kita itu adalah bagi menyatakan dan bagi menzahirkan sifat mutakallimun yang ada pada zat Allah.
Sifat ma'ani menumpang sifat maknawiyah, sifat maknawiyah pula menjadi tempat bergantungnya sifat ma'ani. Seumpama sifat penglihatan (ma'ani) bergantung kepada yang memberi penglihatan (makknawiyah), manakala sifat yang memberi penglihatan (maknawiyah) menumpang dan bergantung pula kepada Yang Maha Esa (salbiah). Mempelajari sifat ma'ani yang tujuh dan mempelajari sifat maknawiyah yang tujuh tidak akan memberi apa-apa menafaat, jika ianya tidak dihubungkaitkan dan jika tidak dirujuk kepada diri kita sendiri. Dengan cara menghubungkaitkan pelajaran sifat-sifat tersebut keatas diri kita, barulah ianya mendatangkan menafaat kepada diri.
Bagaimana cara untuk menghubungkaitkan sifat tersebut dengan diri kita ?. Kaedah untuk menghubung kaitkan sifat tersebut dengan diri kita adalah dengan cara melihat kepada sifat mata kita, yang berfungsi selaku untuk menzahirkan sifat basor (melihat), melalui basirun Allah (penglihatan Allah).
Begitu juga dengan sifat nyawa kita, yang berfungsi selaku untuk menzahirkan sifat hayat (hidup), melalui sifat haiyun Allah (penghidupan Allah). Apabila kita lihat sifat basor, sifat hayat, sifat sama', dan lain-lainnya, yang ada pada diri kita ini, hendaknya jangan kita lupa untuk memandang kepada tuan yang empunya sifat. Apa gunanya mata, jika tidak dilengkapi dengan penglihatan, apa gunanya telinga, jika tidak dengan pendengaran.
Segala penglihatan dan segala pendengaran kita itu, dari mana asal datangnya, jika bukan daripada Allah. Apabila kita tahu bahawa semua itu datangnya dari Allah, hendaknya jangan kita lupa akan asal usul diri kita. Bila kita tidak lupa asal usul, membuatkan kita tidak lupa kepada Allah selaku tuan punya kepada sifat yang ada atas diri kita ini. Apabila kita sedar bahawa sifat-sifat yang kita miliki dan yang ada atas diri kita ini sebenarnya adalah hak Allah. Dari itu jangan pula kita lupa untuk dikembalikannya semula kepada tuannya yang asal (Allah). Inilah kaedah mengenal sifat maknawiyah Allah atas diri kita. Apa sahaja ilmu yang kita belajar, semuanya menuju kepada penyerahan dan mengenal Allah Ta'ala.
Kita ada mata, telinga, mulut dan sebagainya, namun sifat-sifat tersebut, hanyalah sekadar menumpang sifat penglihatan, pendengaran dan kalam Allah. Sifat yang ada pada diri kita itu juga, hanyalah sifat sementara yang menumpang kasih dari sifat Allah. Setelah sedar yang diri kita sekadar menumpang, janganlah kita bersifat anggkoh, bakhil, kedekut, tamak, dengki, khianat dan jangan bersifat sombong. Buat apa sombong, sedangkan pakaian yang kita pakai ini, bukannya milik kita.
Jika kita sudah sedar bahawa itu adalah barang pinjaman, harapnya dikembalikan dengan seberapa segera yang boleh, jangan bertangguh-tangguh lagi. Jika ditangguh-tangguh, bimbang nanti kalau-kalau ajal terlebih dahulu datang menjemput sebelum sempat untuk dikembalikan.
Tujuh sifat ma'ani Allah dan sifat maknawiyah Allah itu, hanya akan dapat diterjemah melalui penzahiran sifat makhlok, seumpama anggota mata pada sifat ma'ani bermakna penglihatan pada sifat maknawiyah Allah, yang hanya dapat diterjemah melalui diri kita. Seumpama sifat pendengaran dan berkata-kata pada maknawiyah, bila diterjemah pada diri kita, ianya akan memperlihat dan mempamerkan sifat kekuasaan Allah atas sifat diri kita sebagai makhlok. Sifat dua puluh itu, adalah sifat Allah, sungguhpun begitu, kita hendaklah mentafsirkan ia ke atas diri kita, barulah kita dapat mengenal Allah melaluinya.
Dari itu juga, ianya menampakkan dan memperlihatkan lagi betapa kecil dan kerdilnya kita. Tanpa sifat-sifat Allah, kita bukanlah siapa-siapa. Kita tidak boleh berdiri sendiri, tanpa zat Allah. Bagi yang berpandangan, cuba-cubalah tiliki diri sendiri, dengan cara mengenal diri sendiri, InsyaAllah mudah-mudahan supaya Allah pula dapat kita knenal.
Renungi sedalam-dalamnya ke dalam diri masing-masing. Disitu akan kita temui diri kita yang sebenar dan temui juga akan kebesaran, kesempurnaan dan keagungan Allah. Sifat yang kita pakai dan sifat yang kita bawa ini adalah hak Allah Taala sepatutnyalah dan selayaknyalah dikembalikan dan dipulangkannya semula kepada yang berhak.
Diri kita tidak ubah seumpama sifat orang yang sudah mati. Sungguhpun orang mati ada mata, ada telinga dan ada mulut tetapi mata, mulut dan telinganya tidak dapat berfungsi apa-apa tanpa yang menghidupkannya. Yang menghidupkan ma'ani itu, adalah sifat maknawiyah Allah.
Pelajaran ini adalah semata-mata untuk menyedarkan kita, untuk menginsafkan kita bahawa, yang empunya penglihatan, pendengaran, suara, suami, isteri, anak, makan minum, kesihatan, pakaian, perlindungan tempat tinggal dan sebagainya itu, adalah datangnya dari Allah swt belaka dan bukannya dari hasil daya usaha atau titik peluh kita. Kebanyakkan dari kita tidak nampak dan tidak sedar, yang semua itu adalah datangnya dari Allah. Ada diantaranya, sengaja buat-buat tidak nampak.
Kebanyakkannya hanya pandang sifat mulut, hanya nampak sifat mata dan hanya lihat sifat telinga, tidak terpandang oleh mereka kepada yang empunya penglihatan, pendengaran dan tidak terpandang kepada tuan asal yang empunya segalanya. Sekali lagi marilah sama-sama kita kembali kepada Allah. Supaya dengan cara ini, kita memperolehi ketenangan jiwa, redho dengan apa yang berlaku, ikhlas dalam beribadah, jujur dalam pekerjaan dan membuatkan hati kita sentiasa berserah kepada Allah Yang Maha Esa.
Bagi yang masih tidak nampak, sesungguhnya mereka itu buta. Buta mata zahir dan buta mata hatinya. Selagi diri tidak dibinasakan (diserahkan) kepada Allah selaku tuan asal yang empunya segalanya, selagi itulah kita tidak akan dapat untuk membezakan antara sifat Allah dengan sifat diri kita. Apakah mereka sangka sifat diri kita sama dengan sifat Allah! Sifat Allah tidak sama dengan sifat makhlok, tetapi dalam masa yang sama, ianya juga tidak lain dari itu.
Hidup ini seumpama suara yang tersimpan di dalam halkum. Segala apa yang terjadi (terzahir) dan yang bakal terjadi itu, sudah sedia ada dalam pengetahuan Allah, sudah tertulis, termeterai dan terpahat di dalam ilmu Allah sejak azali lagi, tanpa berubah atau terpinda sedikitpun darinya. Segala kejadian itu, akan terjadi dan akan terzahir mengikut apa yang sudah tersurat, itulah makanya sebagai umat Islam, di sarankan supaya berserah diri dan.
Sifat dua puluh adalah satu konsep ilmu yang ciptaannya sangat ajaib, didalam mentafsir kaedah mengenal Allah melalui ilmu makrifat.
Sifat 20 dicipta oleh ilham para sufi dan para aulia' terdahulu, bagi tujuan mengajar kita menuju jalan mengenal Allah. Barang siapa mempelajari sifat 20 dengan bersungguh-sungguh, berserta faham akan maksud dan makna yang tersirat, InsyaAllah ia akan dapat mengenal Allah swt dengan nyata dan terang. Banyak cabang ilmu dan banyak kaedah pembelajaran yang telah didedahkan melalui kitab, melalui pondok, melalui sekolah dan tidak kurang pula melalui guru-guru agama.
Semua itu bertujuan bagi mencari jalan, mencari cara dan mencari kaedah untuk mengenal Allah. Diantara banyak-banyak cara dan diantara banyak-banyak kaedah, cara dan kaedah terbaik bagi mengenal Allah swt adalah dengan mempelajari sifat 20.
Allah tidak akan dapat dikenal melalui mata zahir, ianya dapat dikenal melalui mata hati dengan mempelajari sifat-sifatnya. Tidak ada jalan, tidak ada cara dan tidak ada kaedah lain untuk mengenal Allah, melainkan melalui ilmu mengenal sifat-sifatNya. Hanya melalui sifat-sifatNya sahaja yang membolehkan kita mengenal Allah Ta'ala. Andaikata adanya jalan lain, selain dari kaedah itu, ternyata ianya adalah dusta yang teramat besar.
ADAKAH ALLAH LAYAK UNTUK DISIFAT-SIFATKAN ?
Sebelum sifat 20 diperjelaskan, suka dingatkan disini bahawa, Allah sebenarnya tidak bersifat dan Allah sebenarnya tidak boleh disifatkan. Seandainya Allah bersifat bererti Allah itu boleh di kualiti dan boleh dikuantitikan. Sedangkan Allah tidak berbilang, tidak berkualiti dan tidak berkuantiti. Maha suci Allah dari sifat berbilang-bilang yang menyerupai sifat makhloknya. Allah tidak boleh dipersifatkan.
Allah itu sangat tinggi, sangat jauh, lebih tinggi dan lebih jauh dari kedudukanNya. Hingga tidak sampi akal untuk mengkajiNya. Allah tidak terhad dan Allah tidak terbatas, sedangkan akal kita amat terhad dan amat terbatas. Allah tidak ada awal, dan tidak ada akhirnya. Tidak mungkin tercapai oleh akal untuk menjangkaunya.
Mana mungkin Allah bersifat, Allah adalah suatu zat yang bukan Ain ( bukan benda ). Allah bukan barang, dan Allah bukan sesuatu. Allah adalah perkara yang tidak boleh disifatkan. Sifat yang disifatkan dan sifat yang dinyatakan itu adalah semata-mata thamsil, semata-mata misalan, semata-mata usul, semata-mata perumpamaan dan semata-mata sekadar contoh bagi mempermudahkan faham
APAKAH ASAS SIFAT 20 ?
Sifat 20 berasaskan kepada 4 perkara ;
1). Zat. ( roh )
2). Sifat. ( rupa )
3). Afa'al ( perangai-perbuatan )
4. Asma' ( nama )
APAKAH SIFAT ALLAH YANG 20 ITU ?
1. Ujud = Ada
2. Qidam = sedia
3. Baqa' = kekal
4. Mukholafatuhu lilhawadis = bersalahan dengan yang baharu
5. Qiamuhu binafsih = berdiri sendiri
6. Wahdaniah = esa
7. Qudrat = kuasa
8. Irodat = menghendaki
9. Ilmu = mengetahui
10. Hayat = hidup
11. Sama' = mendengar
12. Basor = melihat
13. Kalam = berkata-kata
14. Qodirun = maha berkuasa
15. Muridun = maha menghendaki
16. Alimun = maha mengetahui
17. Hayyun = maha hidup
18. Sami'un = maha mendengar
19. Basirun = maha melihat
20. Muutakallimun = maha berkata-kata
20 sifat Allah itu terbahagi kepada berapa bahagian ?
20 sifat-sifat Allah terbahagi kepada 4 bahagian.
1. Bahagian sifat Nafsiah
2. Bahagian sifat ma'ani
3. Bahagian sifat ma'nawiah
4. Bahagian sifat salbiah
Bahagian yang empat inilah yang dikatakan menjadi intipati dan isi kepada ilmu mengenal Allah. 4 bahagian inilah nantinya yang akan mengupas dan yang akan menterjemahkan sifat 20. Barang siapa yang berhajat untuk mengenal Allah, perlu diambil perhatian kepada ke empat-empat bahagian tersebut.
SIFAT NAFSIAH
Apakah sifat yang terkandung dalam nafsiah ?
Sifat yang terkandung didalam nafsiah itu, hanya satu iaitu sifat wujud. Wujud yang membawa maksud ada. Adanya Allah itu, meliputi segala yang zahir mahupun yang batin.
Apakah maksud sifat nafsiah (menolak) ?
Sifat nafsiah itu, bermaksud menafikan keujudan yang lain selain Allah. Hanya Allah sahaja yang ada dan hanya Allah sahaja yang wujud.
Wujudnya Allah itu, adalah ujud yang disertai sekali dengan zat, sifat, afa'al dan asma'Nya. Zat Allah itu merupakan sifatNya dan sifat Allah itu adalah juga merupakan zatNya. Zat dengan sifat Allah itu adalah ujud yang terpisah, berpisah, bercerai dan ujud yang tidak berasingan.
Keujudan zat dengan keujudan sifat Allah itu, adalah esa (satu juga pada hakikatnya). Seumpama sifat ilmu dengan sifat kalam Allah. Apabila sifatnya bersifat mendengar (sama'), bererti zatnya juga, bersifat berpendengaran (sami'un). Apabila Allah bersifat melihat (basor), bererti zatNya bersifat berpenglihatan (basirun). Apabila Allah bersifat kuasa (kudrat), bererti zatNya bersifat kekuasaan (kodirun). Begitulah seterusnya dengan sifat-sifatnya yang lain.
Sifat Allah itu seumpama sifat angin dengan sifat bergoyang (bertiup). Apabila kita melihat pokok bergoyang, itu menandakan adanya angin. Bergoyangnya pokok, adalah bagi menandakan bergoyangnya angin. Sifat bergoyang itu sebenarnya bukan sifat pokok, yang bergoyang itu sebenarnya adalah sifat angin. Walau bagaimana pun sifat angin dan sifat bergoyangnya pokok itu, adalah satu sifat yang sama. Jika tidak ada angin, masakan pokok bergoyang. Pokok tidak boleh bergoyang dengan sendiri, jika bukan kerana digoyang dan ditiup oleh angin. Begitulah juga sifat Allah dengan ZatNya, tidak boleh bercerai.
Begitulah juga kaedahnya kita mentafsir sifat 20. Apabila ianya dirujuk kepada diri. Barulah kita dapat melihat dan mengenal Allah melaluinya. Seandainya sifat 20 itu, tidak dirujuk kepada diri, selama itulah kita tidak akan dapat mengenal dan melihat Allah. Dalam memahami sifat nafsiah (nafi) iaitu sifat menafikan, menidakkan, atau sifat menolak. Kita dikehendaki menidakkan sifat-sifat yang lain selain Allah. Kita dikehendaki menidakkan kewujudan sifat alam dan sifat diri kita sendiri. Menidakkan sifat diri kita, supaya ianya menjadi tidak ada dan tidak wujud (binasa). Cara untuk menidakkan sifat diri kita dan untuk mewujudkan sifat Allah itu, adalah dengan cara, menyerah atau membinasakan diri kepada Allah.
Bilamana sifat telinga telah dipulangkan, ianya akan disambut dengan sifat pendengaran Allah. Bilamana sifat mata telah binasa, akan disambut dengan sifat penglihatan Allah. Sifat berfikir, akan disambut dengan ilmu Allah. Selagi sifat mata menjadi sebahagian daripada sifat kita, sudah pasti kita tidak akan dapat melihat Allah melalui pandangan dan penglihatanNya.
Setelah sifat mata kita itu dipulangkan kepada Allah, akan bertukar menjadi sifat basor Allah, barulah sifat penglihatan basirun Allah itu, boleh melalui sifat mata kita. Bermaknanya disini bahawa, sifat mata yang ada pada kita sekarang ini, tidak boleh dan tidak layak menerima penglihatan Allah melaluinya, melainkan sifat mata makhlok telah binasa dan bertukar kepada sifat wajah Allah.
Maka kita tidak layak untuk menanggung atau menerima sifat penglihatan Allah yang maha tinggi. Sifat makhlok tidak layak untuk menanggong sifat Allah, melainkan sifat kita itu ditukar milik, supaya menjadi milik Allah, setelah melalui proses penyerahan diri (penyerahan tugas dan penyerahan hak milik) kepada Allah. Apabila sudah menjadi milik Allah, barulah mata kita itu, dapat melihat melalui penglihatan Allah. Apabila mata kita itu telah menjadi milik Allah, barulah sifat basirun (penglihatan) Allah itu dapat terpancar melalui mata kita.
Apabila penglihatan Allah sudah menembusi mata kita, dengan sendirinya sifat mata akan binasa. Mata makhlok akan hangus terbakar, binasa dan lenyap lantaran dipenuhi oleh cahaya Allah. Cahaya penglihatan Allah itu sendiri, yang membinasakan sifat mata kita. Hanya Allah sahaja yang dapat menanggung sifat Allah. Sifat mata kita tidak dapat untuk menanggung sifat penglihatan Allah.
Selagi mata masih bersifat makhlok atau masih menjadi sebahagian dari anggota diri kita, selagi itulah wajah Allah tidak boleh mengambil tempat. Selagi sifat Allah tidak dapat mengambil tempat, selagi itulah, kita tidak akan dapat mengenal dan melihat Allah melaluinya. Inilah konsep nafsiah, iaitu konsep menidakkan sifat makhlok supaya dapat menjadikan semuanya bersifat wajah Allah. Setelah kita berjaya dalam menidakkan, fana' dan leburkan diri kita ke dalam cahaya Allah, maka jadilah telinga kita itu, merupakan pendengaran Allah, jadilah mata kita itu, penglihatan Allah dan sebagainya.
Mata kita tidak layak untuk menanggung penglihatan Allah. Begitu juga dengan sifat-sifat yang lain, ianya merupakan pakaian dan persalinan Allah. Sifat kita selaku makhlok, tidak layak untuk memakai yang menjadi persalinan Allah. Seandainya kita terpakai persalinan Allah, cepat-cepatlah bertaubat.
Apabila Allah bersifat basor, Allah juga bersifat basirun. Apabila Allah bersifat qudrat, Allah juga bersifat Qodirun dan sebagainya. Oleh yang demikian bagi yang telah sampi kepada mskam (tahap) makrifat, menjadikan yang dilihat itu, adalah juga yang melihat dan yang melihat itu, adalah juga yang dilihat, yang disembah itu, adalah yang menyembah dan yang menyembah itu, adalah juga yang disembah. Dengan syarat diri kita telah binasa, mati, lebur, dan karam dalam zuk cahaya wajah Allah. Walaupun Allah itu bersifat dengan 20 sifat, namun semua 20 sifat itu, adalah esa (satu) juga dalam zatNya. Walaupun sifat Allah itu banyak, tetapi ia satu dalam zatNya.
Yang menjadikan sifat Allah itu berbilang-bilang adalah dikeranakan khayalan fikiran dan lemahnya sangkaan akal manusia. Sedangkan pada dasar dan pada hakikatnya, kesemua sifat Allah itu adaslah satu (esa), tidak berbilang-bilang.
Mempelajari, memahami serta mengetahui sifat nafsiah bertujuan memberi peringatan kepada kita bahawa, tidak ada yang berbentuk, melainkan yang berbentuk itu adalah bentuk bagi Allah dan tidak ada yang bersifat, melainkan yang bersifat itu hanya sifat bagi Allah. Tidak ada yang berupa melainkan yang berupa itu adalah rupa bagi Allah.
Di dalam memahami sifat nafsiah, kita dikehendaki menafikan, mematikan, melenyapkan, menghilangkan dan membinasakan semua sifat-sifat yang lain selain dari sifat Allah. Di peringkat pengajian ilmu sifat nafsiah, kita dikehendaki melihat bahawa hanya Allah sahaja yang ada, ujud, wujud dan maujud. Keujudan makhlok alam pada peringkat ini belum lagi boleh diletak dalam gambaran fikiran dan belum lagi boleh dibayangkan dalam ciptaan khayalan akal. Yang ada dan yang ujud pada peringkat sifat nafsiah itu, hanyalah Allah semata-mata.
Sifat nafsiah adalah sifat bagi mengajar kits tentang kewujudan Allah secara mutlak dan secara "wujudiah". (wujud yang meliputi), meliputi sekslian alam, meliputi sekalian makhlok dan meliputi sekalian diri kita. Sifat nafsiah dalam wujudiah itu adalah membawa makna keujudan Allah secara mutlak, secara bersendirian, secara keesaanNya, tanpa adanya lagi yang lain selain Allah. Seumpama bukan pokok yang bergoyang tetapi yang bergoyang itu adalah angin. Walaupun kita nampak yang bergoyang itu pokok, didalam kefahaman pengajian ilmu makrifah yang bergoyang itu bukan lagi pokok, sesungguhnya yang bergoyang itu adalah sifat angin. Inilah kedudukan sifat nafsiah dalam tafsiran makrifat.
Di dalam kita belajar sifat nafsiah dalam sifat 20 kita jangan lupa untuk menghubungkaitkan dengan kalimah syahadah. Pelajaran sifat nafsiah dalam sifat 20, bukan sekadar bertujuan untuk dihafal. Pelajara sifat nafsiah itu selain bertujuan untuk mengenal sifat Allah melalui sifat 20, ianya juga adalah bertujuan bagi mentafsir kalimah syahdah. Sifat nafsiah itu, adalah satu kaedah kiasan sahaja. Tujuan sebenar kiasan sifat nafsiah itu, adalah disasarkan kepada tafsiran dan pemahaman kalimah syahdah.
Sifat nafsiah apabila dikaitkan, diletak atau diterjemahkan pada tafsiran syahadah, ia berada pada kedudukan kalimah "LAA" (iaitu kalimah nafi). Kalimah nafi adalah kalimah menolak yang lain selain Allah, membinasakan yang lain selain Allah. Kuwujudan sifat-sifat yang lain itu, seumpama bayang cahaya. Apabila hilang cahaya maka hilanglah bayang.
Apabila kita dapat memahami dan menghayati pengertian isi ilmu nafsiah dalam sifat 20 dengan penuh penghayatan, ianya membuatkan ucapan syahdah kita, benar-benar diterima Allah.
Bagaimana cara ucapan syahdah yang penuh makna ! Adapun ucapan syahdah yang penuh makna itu, adalah dengan melafazkan ungkapan kalimah "Laa" dengan menghilangkan dan membinasakan sifat-sifat yang lain, selain Allah. Sehingga tidak ada lagi keujudan bulan, bintang, alam, dunia dan keujudan kehidupan diri, melainkan Allahlah yang ujud, wujud dan maujud, pada sekalian wajah alam.
Ucapan perkataan "Laa" adalah tahap ucapan yang tidak ada lagi sesiapa. Tidak ada apa-apa dikiri, dikanan, diatas, dan tidak apa-apa lagi dibawah kita, melainkan semasa melafazkan kalimah "Laa" kita dikehendaki mengisi keyakinan hati dan mengisi kepercaysan akal, bahawa tidak ada yang lain lagi pada keujudan alam ini, melainkan sekalian yang ada ini, adalah wajah Allah (yang meliputi segalanya). Itulah diantara tujuan kita mempelajari sifat nafsiah ( sifat 20 )
APAKAH BENTUK SIFAT NAFSIAH ?
Sifat nafsiah adalaj berbentuk "PERKHABARAN", sifat yang hanya ada pada zat Allah dan tidak memberi bekas kepada alam, sifat nafsiah itu, tidak pula boleh dikualiti dan tidak boleh dikuantitikan. Adanya Allah adalah ada yang mutlak, ada yang tidak dikeranakan oleh suatu kerana yang lain.
Sifat nafsiah adalah sifat yang mengkhabarkan kepada kita bahawa Allah itu ada, adanya Allah itu melalui perkhabaran yang tidak dapat dipegang atau dirasa dengan tangan, tidak dapat dizahirkan untuk dilihat. Perkhabaran adalah perkara yang tidak boleh disifatkan, tidak boleh dikualiti atau dikuantitikan. Ia hanya boleh dirasa dan diyakini oleh hati tanpa usul
SIFAT MA'ANI
Apakah maksud sifat ma'ani ?
Pengertian sifat ma'ani adalah membawa maksud "PERGANTUNGAN". Ma'ani adalah sifat yang menumpang kepada sifat lain, seumpama sifat hidup yang bergantung kepada sifat haiyun, seumpama sifat basor, yang bergantung kepada sifat basiron dan sebagainya. Sifat ma'ani adalah sifat yang bergantunh kepada sifat maknawiyah. Tanpa maknawiyah sifat ma'ani tidak berfungsi. Berfungsinya sifat ma'ani adalah dengan kerana limpahan rahmat dari sifat maknawiyah ( kuasa Allah ). Sifat ma'ani itu, bergantung dan menumpang sifat maknawitah.
Sifat Apakah Yang Terkandung DI Dalam Ma'ani ?
Sifat yang terkandung di dalam sifat ma'ani ada 7 perkara:-
1. Hayat. = hidup
2. Qudrat. = kuasa
3. Irodat. = berkehendak
4. Ilmu =. Mengetahui
5. Sama'. = mendengar
6, basot. = melihat
7. Qalam = berkata-kata
Apakah Bentuk Sifat Ma'ani ?
Bentuk sifat ma'ani itu, adalah sifat yang boleh dilihat dan boleh digambarkan oleh akal. Ianya juga merupakan sifat yang terzahit (tergambar) pada fikiran dan terbayang pada khayalan. Seumpama sifat hayat (hidup), ianya terbaayang kepada sifat nyawa, sifat melihat, terbayang pada sifat mata dan pendengaran, terbayang kepada sifat telinga. Kita boleh bayangkan sifat ma'ani, melalui pendengaran, penglihatan dan sebagainya.
Sifat ma'ani bukan sahaja terzahir pada khabar tetapi terzahir juga pada kenyataan, ertinya maujud pada khayalan fikiran dan maujud juga pada kenyataan sebenar. Ujud sifat ma'ani itu, adalah dikeranakan dengan sesuatu, kerana yang lain. Tanpa kerana sifat yang lain, sifat ma'ani tidak boleh wujud dan tidak boleh zahir. Wujudnya sifat ma'ani adalah dikeranakan menumpang sifat maknawiyah.
Bagaimana Menterjemah Sifat Ma'ani Pada Diri Kita ?
Sifat ma'ani Allah Ta'ala yang jelas terzahir pada diri kita ada 7.
1. Hidup
2. Mengetahui
3. Berkuasa
4. Berkehendak
5. Melihat
6. Mendengar
7. Berkata-kata
Ada dengan terang dan jelas menzahir sifat-sifatNya ke atas diri kita. Tujuan dizahirkan sifatNya supaya dijadikan sebagai pedoman, sebagai panduan dan sebagai iktibar untuk kita mengenal, melihat dan memandang Allah melaluinya. Allah bukan ain (bukan benda) yang boleh dikenal melalui bentuk hitam dan putih. Allah menzahirkan sifat-sifatnya ke atas diri kita adalah bertujuan supaya dijadikan "Tempat memandang sifat-sifatnya" kepada mereka-mereka yang berpandangan jauh.
Tetapi ramai yang masih tidak memerhatikannya. Sifat hidup, sifat mengetahui, sifat berkuasa, sifat berkehendak, sifat melihat dan sifat berkata-kata yang dipakai Allah atas diri kita, adalah menjadi tanda kebesaranNya atas diri kita supaya kita memerhati dan melihatnya. Sifat-sifat tersebut bukannya sifat peribadi kita tetapi sifat tersebut sebenarnya adalah hak kepunyaan mutlak Allah Ta'ala.
Sifat yang kita pakai ini adalah pinjaman semata-mata. Dari itu hendaklah kita sedar dan insaf akan hal itu. Kesemua sifat-sifat tersebut adalah hak milik Allah dan kepunyaan Allah swt yang sepatutnya dikembalikan semula kepada tuan yang empunya, sementara hayat masih dikandung badan. Penzahiran sifat ma'ani (angin) atas makluk (diri kita) adalah sekadar pinjaman yang berupa pakaian sementara, yang akhirnya dikehendaki kembali semula kepada tuan yang empunya. Allah tidak boleh diibarat atau dimisalkan dengan sesuatu.
Maha seci Allah dari ibarat dan misal. Segala misalan atau segala perumpamaan yang dinukilkan itu, hanya sekadar mempermudahkan faham. Sifat ma'ani itu, adalah seumpama bayang-bayang, manakala Allah Ta'ala itu, adalah seumpama tuan yang empunya bayang.
Firman Allah :-
25.Surah Al-Furqān (Verse 45)
أَلَمْ تَرَ إِلَىٰ رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ وَلَوْ شَاءَ لَجَعَلَهُ سَاكِنًا ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلًا
Tidakkah engkau melihat kekuasaan Tuhanmu? - bagaimana Ia menjadikan
bayang-bayang itu terbentang (luas kawasannya) dan jika Ia kehendaki tentulah Ia menjadikannya tetap (tidak bergerak dan tidak berubah)!
Kemudian Kami jadikan matahari sebagai tanda yang menunjukkan perubahan bayang-bayang itu;
Maksud hadis:-
"Allah Jadikan Manusia dalam bayangNya"
Maksud bayang itu, adalah merujuk kepada makhlok dan diri kita. Bayang (diri) sebenarnya tidak mempunyai apa-apa sifat. Bayang hanya sekadar sifat yang menumpang dari yang empunya bayang. Bergeraknya bayang adalah gerak daripada yang empunya bayang. Berdirinya bayang adalah dengan berdirinya tuan yang empunya bayang (Allah). Mustahil bayang itu boleh berdiri dengan sendiri tanpa kuasa dari yang empunya bayang (Allah). Bayang dengan yang empunya bayang itu, mustahil bersatu dan mustahil bercerai.
Diri kita dengan wajah Allah itu, adalah seumpama ujud bayang dengan yang empunya bayang atau seumpama bayangan wajah dipermukaan cermin. Sifat ma'ani itu tidak boleh berdiri dengan sendiri tanpa bergantung dari sifat maknawiah. Hubungan antara sifat ma'ani dengan sifat maknawiah itu, adalah seumpama hubungan antara bayang dengan yang empunya bayang, Contohnya seumpama sifat mata dengan penglihatan, sifat telinga dengan pendengaran dan sifat mulut dengan yang berkata-kata. Walau bagaimana keadaan sekalipun, ianya tetap tidak boleh bercerai dan juga boleh bercantum. Inilah yang dikatakan hubungan sifat ma'ani dengan sifat ma'anawiyah itu, bercantum tidak bercerai tiada.
Maksud hadis :-
"Tiada bercerai antara nafi dan isbat, dan siapa-siapa ceraikan antara keduanya maka ora g itu kafir adanya"
Bayang bukan cahaya tapi tidak lain dari cahaya. Cahaya bukan matahari tapi tidak lain dari matahari. Begitu jugalah contohnya hubungan antara Allah dengan diri kita. Dari itu marilah kita sama-sama mengambil faham dan insaf bahawa sifat yang kita miliki ini, sebenarnya hak kepunyaan Allah, yang harus kita serah kembali kepada yang empunya.
Tujuan mempelajari sifat ma'ani adalah bertujuan supaya kita mengaku bahawa sebenarnya diri kita ini tidak ada, tidak wujud dan terjadi. Yang wujud, yang ada dan yang terjadi adalah hanya semata-mata Allah, seumpama sifat bayang, terzahirnya bayang itu, adalah bagi tujuan menampakkan dan menyatan sifat yang empunya bayang itu sendiri.
Di dalam keghairahan membicarakan soal sifat ma'ani, harus diingat bahawa Allah tidak bertempat. Allah tidak menjelma keatas jasad. Allah tidak bertempat di dalam atau di luar badan, Allah tidak bersatu, tidak bercantum dengan badan, Allah bukan kesatuan, Allah bukan bersyarikat, bukan bercantum dengan jasad kita. Orang-orang yang mengaku bahawa Allah menjelma di dalam jasad dan tidak kurang pula ada yang mengaku Tuhan dan sebagainya. Sesungguhnya mereka-mereka itu, adalah tergolong dikalangan mereka-mereka yang sesat dan sejahil-jahil manusia.
Allah tidak ada dalam diri kita, tetapi kitalah yang ada dalam Allah. Bukan kita mengandungi Allah, tetapi Allahlah yang mengandungi kita. Bukan kita yang meliputi Allah, tetapi Allahlah yang meliputi kita. Kesemua sifat yang kita miliki ini adalah milik Allah, sifat yang ada pada diri kita akan hancur, binasa dan hilang lenyap, sifat yang kekal dan yang abadi itu, hanyalah Allah swt.
Firman Allah :-
28.Surah Al-Qaşaş (Verse 88)
وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَۘ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Dan janganlah engkau menyembah tuhan yang lain bersama-sama Allah. Tiada
Tuhan melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu akan binasa melainkan Zat Allah. BagiNyalah kuasa memutuskan segala hukum, dan kepadaNyalah kamu semua
dikembalikan.
Apa Hubungan Sifat Maani Dengan Roh ?
Sifat ma'ani adalah wajah Allah yang terzahir melalui sifat dan rupa paras roh, melalui sifat mata, mulut, telinga, dan anggota tubuh seluruhnya. Sebagaimana rupa dan paras roh, sebegitulah wajah ma'ani Allah, kerana rohlah sifat ma'ani Allah. Untuk melihat sifat ma'ani Allah lihatlah pada wajah dan sifat rupa paras diri kita sendiri. Hubungan roh dengan sifat ma'ani itu, seumpama sifat mata pada roh, penglihatan bagi Allah, telinga pada roh, pendengaran bagi Allah dan begitulah seterusnya.
Apakah Hubungannya Sifat Ma'ani Dengan Kalimah Syahdah?
Tujuan kita mempelajari dan mendalami ilmu ma'ani itu, adalah untuk membawa kepada pemahaman kalimah syahadah. Tujuan nafsiah membawa pengertian kepada lalimah "Laa" adalah kslimah bagi menafikan kewujudan sifat makhlok. Manakala sifat ma'ani kalimah "Ila ha" pula, bermaksud mengadakan atau mengiakan dan mengambil balik segala apa yang kita telah tolak dalam kalimah "Laa". Jika dalam kalimah "Laa" kita tolak semua sifat makhlok, manakala dalam kalimak "Ila ha" pula, ianya kita adakan semula. Walaupun sifatnya diadakannya kembali, ianya adalah sekadar sifat yang menumpang.
Jika dalam kalumah "Laa" kita mengaku bahawa tidak ada lain, selain Allah, manakala dalam kalimah "Ila ha" pula kita mengaku bahawa Allah telah menzahirkan makhloknya melalui 7 sifatNya, seumpama sifat hidup, kuasa, berkehendak, mengetahui, mendengar, melihat dan sifat berkata-kata. Walau bagaimana pun 7 sifat tersebut diatas hanya sekadar sifat menumpang. Seumpama sifat sama' menumpang sifat sami'un, sifat basor menumpang sifat basirun dan begitulah seterusnya.
Untuk dihubung kaitkan dengan kalimah syahdah, kita hendaklah melihat sifat mata yang kita miliki, tidak berguna, tanpa penglihatan Allah, telinga kita tidak akan bermakna tanpa pendengaran Allah, mulut tidak bererti tanpa berkata-kata Allah, hidung tidak berguna tanpa hidup Allah, akal tidak bererti jika tanpa ilmu Allah, anggota tidak bermakna tanpa kuasa Allah. Segala-galanya yang ada pada kita bergantung dan menumpang sifat Allah.
Semasa melafazkan kalimah "Ila ha" dalam bersyahadah, kita dikehendaki mengingati diri kita bahawa sifat yang ada pada diri dan yang kita bawa ini, tidak boleh berdiri sendiri, hanyalah sekadar sifat yang menumpang dan bergantung kepada sifat Allah. Diri kita tidak memiliki apa-apa. Kita tidak akan dapat melihat tanpa basirun Allah dan kita tidak akan dapat mendengar tanpa samiun Allah. Dari kesedaran dan keinsafan itu, membawa hati kita kepada suatu perasaan kosong, hiba, hina, kerdil, miskin, kecil dan perasaan fakir dihadapan Allah. Inilah tujuan kita mempelajari sifat ma'ani.
Diri kita ini sesungguhnya yatim piatu yang tidak punya apa-apa. Ibubapa, anak-isteri, kaum-keluarga, harta benda, hidup mati dan kaya miskin itu, adala hak Allah ta'ala, yang boleh diambilnya balik pada bila-bila masa. Yang kita miliki ini, adalah semata-mata hak kepunyaan Allah. Ditangan Allahlah diri kita, segala kekuatan, kecantikan, kekayaan dan kegagahan yang selama ini kita megah-megahkan itu, sebenarnya adalah milik kepunyaan Allah. Dengan kefahaman bahawa, sifat diri kita ini, sebenarnya mati dan menumpang. Seumpama sifat mata, telinga, mulut, tangan, kaki dan seluruh anggota, menumpang wajah kebesaran Allah. Yang hendahnya dikembalikan semula sifat itu kepada Allah.
Anggaplah diri kita ini, sudah mati, binasa, hilang dan lenyap dalam wajah Allah. Yang kita miliki ini, semuanya adalah hak Allah Ta'ala belaka. Hendaklah kita serah kembali kepada Allah. Kembalikan sifat-sifat tersebut kepada Allah. Jadikanlah diri kita ini seumpama fakir, muflis, hina, mati, binasa dan hilang dalam kekuasaan Allah. Inilah diantara hikmah dan diantara intipati mempelajari sifat ma'ani dalam sifat 20.
Bagaimana Mengenal Allah Melalui Sifat Ma'ani ?
Peranan sifat ma'ani hanya sekadar menjadi saksi (kesaksian) Sifat ma'ani berperanan sekadar sifat menumpang. Seumpama basor, hanya menumpang kepada sifat basirun. Telinga menumpang sifat sama', manakala sama' pula menumpang sifat samiun. Lidah menumpang sifat kalam, manakala kalam pula menumpang sifat mutakallimun. Sifat ma'ani adalah sifat menumpang sifat maknawiah (sifat kekuasaan Allahh).
Dari kefahaman itu, dapatlah kita tilik diri sendiri, betapa sifat yang ada pada diri kita ini, semuanya kepunyaan Allah. Kita ada mata, tatapi Allah yang memiliki sifat penglihatan. Kita ada telinga tetapi Allah yang memiliki sifat pendengaran. Kita ada mulut tetapi Allah yang memiliki sifat berkata-kata. Begitulah seterusnya, yang menggambarkan bahawa diri kita ini adalah kepunyaan Allah.
Sifat ma'ani bertujuan supaya sifat Allah dapat dilihat melalui pancaindera, pada roh dan pada diri kita sendiri. Allah berilmu manakala diri pula bersifat mengetahui melalui akal. Allah berkudrat, manakala diri pula bersifat berkuasa melalui pancaindera. Allah berirodat, manakala diri pula bersifat berkehendak ( dapat berkeinginan melalalui rasa ). Allah bersifat sama' manakala diri pula bersifat mendengar melalui telinga. Allah bersifat basor manakala diri pula bersifat melihat melalui mata. Allah bersifat kalam, manakala diri pula bersifat berkata-kata melalui lidah.
Jangan sekali-kali kita menjadi lupa diri, bahawa semua sifat-sifat yang kita miliki ini, adalah kepunyaan Allah, diri kita ini, hanya sekadar menumpang sifat Allah. Apabila kita faham sifat ma'ani, dengan sendirinya membawa diti kita pulang kepangkuan Allah dengan tangan kosong, dengan menyerahkan segala sifat kepada Allah. Bahawasanya diri kita ini, sebenar nya adalah kepunyaan dan milik Allah sepenuhnya secara mutlak. Sifat yang kita pakai dan yang ada pada kita ini, seumpama sifat bayang (menumpang yang empunya bayang).
Setelah kita sedar, bahawa sifat yang kita pakai ini adalah sifat pinjaman dan menumpang sifat Allah, sebaiknya kembalikanlah semua sifat-sifat itu kepada Allah. Jangan sekali-kali cuba memakai pakaian Allah, walaupun secara percuma atau secara pinjaman, kerana kita tahu bahawa pakaian Allah itu, amat tidak layak untuk dipakai oleh kita. Kita tidak layak memakai pakaian Allah dan kita tidak sajak untuk menerima pijaman Allah. Pakaian Allah itu, Allahlah pemiliknya, Allahlah yang layak memakainya. Sebenarnya kita ini, tidak punya apa-apa pakaian atau persalinan. Kita ini adalah ibarat tangan kosong. Yang menjadi milik dan kepunyaan kita bukan pakaian atau persalinan, yang menjadi mikik dan kepunyaan kita yang mutlak, adalah Allah itu sendiri.
Inilah konsep yang hendak diketengahkan dan yang hendak diterapkan melalui sifat ma'ani. Konsep serta kefahaman inilah yang benar-benar perlu kita fahami. Cuba fahami dan hayati betul-betul sifat ma'ani yang tujuh itu, apabila kita telah kasyaf dalam menghayati sifat ma'ani, di sinilah membawanya lebur dan terbakarnya sifat diri yang palsu dan yang menumpang ini.
Bagi mereka-mereka yang mengenal Allah, apabila dia cuba untuk memakai sifat Allah. maka hancur terbakarlah anggotanya, lebur musnahlah sifat jasadnya. Mereka tidak sekali-kali berani memakai sifat pakaian Allah. Pakaian Allah itu ada tujuh iaitu seumpama sifat hidup, ilmu, kudrat, irodat, samak, basor dan kalam, manakala pakaian kita juga tujuh isitu seumpama
1. Pakaian sifat mati (binasa)
2. Pakaian sifat bodoh dungu
3. Pakaian sifat lemah, lumpuh tidsk berupaya.
4. Pakaian sifat tidak berkemahuan, tidak berkehendak
5. Pakaisn sifat pekak dan tuli.
6. Pakaian sifat buta
7. Pakaian sifat bisu.
Inilah pakaian dan sifat-sifat yang kita pakai serta pakaian mereka-mereka yang mengenal diri dan yang mengenal Allah swt. Mereka ini beranggapan dan beriktikat bahawa, diri serta jasad mereka sudah mati, tidak ada, lebur dan binasa. Mereka tidak lagi berakal tidak lagi mempunyai kekuatan, tidak lagi berkemahuan, tidak berpendengaran, tidak lagi berpenglihatan dan tidak lagi bersuara,diri da. Jasad mereka sudah fana', sudah baqo' dan karam dalam wajah Allah swt.
Diri mereka tidak ubah seumpama manyat yang hidup. Mereka tidak memakai pakaian Allah, mereka tidak meminjam pakaian Allah, mereka tidak mengambil persalinan Allah, mereka tidak memakai apa-apa yang menjadi haq Allah. Tidak layak bagi mereka untuk menerima apa-apa yang menjadi milik Allah. Bagi mereka, segala-galanya adalah dari Allah, kepada Allah dan berserta Allah. Baiklah didalam tidur, dalam jaga, dalam gerak, dalam tutur kata, dalam penglihatan, pendengaran, berkeinginan Dan sebagainya, semuanya milik Allah
Bukan sifat mata yang mereka pandang, tetapi penglihatan Allah, bukan sifat telinga menjadi tumpuan, tetapi pendengaran Allah, bukan mulut menjadi keinginan, yang menjadi keinginan mereka ialah suara (kata-kata) Allah Allah. Yang berkeinginan dan berkehendak itu, adalah Allah swt. Yang berkuasa dan berilmu itu adalah Allah. Inilah kaedah pegangan iktikad orang makrifat, dalam menterjemah sifat ma'ani. Yang menjadikan hati kita penuh yakin kepada Allah.
Tujuan sifat ma'ani diketengahkan untuk dipelajari dan difahami, adalah untuk membawa kita kepada suatu keinsafan diri, bahawa semua yang kita miliki dan yang ada pada diri kita ini, sebenarnya adalah milik Allah. Setelah kita sedar yang segala-gala sifat itu menjadi milik Allah, hendaklah kita kembalikannya semula kepada Allah. Seandainya yang menjadi milik Allah itu telah kita serahkan semula kepada Allah, semasa hayat masih dikandung badan dan semasa masih berada didalam dunia, apabila kita pulang kerahmatullah kelak (setelah kita mati nanti), tidak ada apa-apa lagi yang perli ditanya, perlu dihisab dan perlu dipersoalkan oleh Malaikat Mungkar Dan Nakir.
Perkara yang membuat kita ditanya dan disoal itu, adalah kerana hutang sifat kita semasa di dunia masih belum dijelaskan, mereka yang belum melangsaikan pinjaman dan yang belum mengembalikan hak Allah semasa hayat masih ada dan semasa masih hidup didunia, hutang sifat yang kita pinjam dari Allah, hendaklah dikembalikan semula kepada Allah. Jika ianya dilangsaikan semasa di dunia, tidaklah ada lagi sial jawab dari Mungkar dan Nakir didalam kubur.
Apa lagi yang Allah hendak tuntut, apa lagi yang Allah hendak tagih dari kita, jika semuanya telah dikembalikan dan diserahkan kepadaNya. Hidup dan mati kita telah kita serahkan kepada Allah, jasad zahir dan batin telah dikembalikan kepada Allah. Apa lagi yang hendak Allah dakwa!, apa lagi yang hendak Allah tuntut !, yang hendak Allah dakwa dan tuntut itu, bagi mereka-mereka yang kembali kepangkuannya dengan tidak menjelaskan hutang sifat dan tidak mengembalikan hakNya. HakNya diambil pakai, diambil guna, tapi tidak pandai untuk memulangkan dan tidak pula pandai mengembalikannya semula kepada Allah.
Jika semuanya telah dikembalikan kepada yang empunya, nescaya tidak ada lagi, tuntut menuntut, dakwa-dakwi dan tidak lagi ada soal jawab kubur, malah dipintu surgalah kita disambut oleh Allah swt.
Inilah tujuan pengajaran sifat ma'ani diperkenalkan. Ini adalah tujuan sifat ma'ani diketengahkan untuk di ambil tahu oleh sekalian kita. Dengan mempelajari sifat ma'ani, akan membawa kita tahu untuk membezakan, yang mana hak kita dan yang mana hak Allah swt. Perhatikan sekali lagi perkara ma'ani dan hendaknya kita hayati dan tilik dengan mata hati yang kasyaf.
Selagi hayat masih dikandung jasad, kita di kehendaki mengembalikan hak kepada yang berhak, nantinya bila tiba di alam akhirat kelak, kita akan mendapat layanan dan sambutan yang istimewa dari penguasa langit, lain dari yang lain. Kita akan ditempatkan bersama orang yang sempurna lagi terpuji. Roh orang-orang sebeginilah di namakan roh mutmainnah, roh yang diterima Allah. Tempat kita itu, adalah disisi Allah, bukannya disisi tanah yang mengandungi ulat dan cacing.
Roh sebeginilah yang dikatakan roh yang suci bersih, roh yang sentiasa disertai air sembahyang, roh yang sentiasa di iringi dengan kalimah syahdah. Inilah roh mereka-mereka yang mati sebelum mati dan roh mereka-mereka yang mengenal diri semasa didunia. Inilah yang dikatakan roh yang mengenal tuannya. Tuan yang empunya roh itu, tidak lain dan tidak bukan hanya Allah swt yang satu lagi esa. Inilah penjelasan dan kupasan tentang kefahaman ilmu mengenal Allah (makrifat) melalui pelajaran sifat ma'ani dalam sifat 20, yang bukan sahaja setakat tahu makna tetapi hendaklah dihayati dengan isi disebaliknya.
SIFAT MAKNAWIYAH.
Apakah maksud sifat maknawiyah?
Pengertian sifat maknawiyah itu, membawa maksud sifat kekuasaan Allah, menjadi tempat pergantungan segala rupa (sifat), nama (asma'), berperangai (fe'el) dan pergantungan segala berzat (roh) krpadanya. Maknawiyah adalah tempat bergantungnya sifat ma'ani. Contohnya, bergantungnya sifat mendengar kepada pendengaran Allah, bergantung sifat melihat kepada penglihatan Allah dan begitulah seterusnya. Seumpama sifat cahaya (ma'ani) yang bergantung harap kepada sifat matahari (maknawiyah).
Begitu jugalah hubungan di antara sifat maknawiyah dengan sifat ma'ani, sebagaimana sifat ma'ani, sebegitulah rupanya sifat maknawiyah. Sebagaimana ciptaan, sedemikianlah penciptanya. Sebagaimana hasil, sedemikianlah acuannya. Sebagaimana yang awal sedemikianlah akhirnya, semuanya itu, adalah satu dari segi zatnya, cuma berbeza pada panggilan nama. Sifat Allah dengan hasil nukilannya seumpama bercerai tidak bersatu tiada. Pencipta (zat) dan ciptaan (sifatnya) adalah satu. Sifat bukan zat tetapi tidak lain dari zat. Sifat ma'ani dengan sifat maknawiyah, seumpama wajah orang yang menilik, dengan bayangan wajah di dalam cermin. Sifat maknawiyah bermaksud adalah bagi menggambarkan kekuasaan Allah. Sifat bagi menggambarkan akan kehebatan kekuasaannya.
Sebagaimana kuasanya Allah itu, sebegitulah besarnya Dia. Walau bagaimana besar dan kuasanya Allah itu, tidak bermakna tanpa ciptaannya (makluk kejadiannya). Tanpa kejadian alam dan tanpa penzahiran makhlok, segala kehebatan, kekuasaannya, dan segala kehebatan kebesaranNya tidak akan dapat diterjemah dan diperzahirkan untuk dilihat makhlukNya.
Kekuasaan Allah di dalam sifat maknawiyah, diterjemah melalui sifat ma'ani, manakala sifat ma'ani pula, diterjemah melakui pancaindera kita. Kejadian dan penzahiran sifat makhloknya yang bersifat ma'ani. Allah yang bersifat dengan segala keperkasaan pengetahuanNya, ianya tidak membawa apa-apa makna, tanpa diterjemahkan melalui diri kita ( sifat makhlok ).
Sifat kepandaian yang ada pada kita itu, sebenarnya ilmu Allah, dengan itu, walau setinggi manapun darjat kepandaian kita, kita tetap selaku hamba disisi Allah. Oleh itu janganlah kita bersifat sombong dan angkoh bila berada dan berjalan dibumi Allah. Dengan sifat mata yang cantik, wajah yang ayu, kuasa yang besar dan kekayaan yang menimbun, jangan pula menjauhkan dari mengingati Allah. Ingatlah segala sifat yang ada pada kita itu adalah wajah bagi Allah. Hendaknya kita itu, bersifat rendah diri, pemalu, tidak sombong, murah hati dan bersifat sopan santun di dalam menzahirkan sifat Allah atas diri kita. Jangan bakhil atau kedekut dengan harta yang Allah hamburkan melalui kita, rajin-rajinlah bersedekah dan bantu membantu kepada orang yang memerlukan, samada dalam bentuk wang ringgit, mahupun tenaga dari anggota zahir. Semua sifat itu, bukannya untuk menggambarkan kebaikan atau kebesaran diri kita, tetapi bagi menzahirkan sifat kekeasaan Allah Ta'ala.
Maksud diperkenalkan ilmu sifat maknawiyah, adalah bertujuan supaya kita dapat memati, membinasa, dan mengembalikan sifat anggota jasad. Seumpamanya dengan membinasakan sifat mata, dengan sendirinya akan membinasakan pula sifat meluhat. Setelah kedua-dua sifat mata dan sifat melihat (basor) telah dapat dibinasakan (dikembalikan) kepada Allah, dengan sendirinya sifat basirun Allah (sifat yang memberi pengkihatan) akan dapat kita lihat.
Setelah ketiga-tiga sifat pancaindera, sifat ma'ani dan sifat maknawiyah dapat kita serahkan semula kepada Allah. Disitulah nantinya, kita akan dapat melihat, bahawa diri kita telah lebur, disitulah, kita akan dapat menatap dan memandang bahawa, semua yang ada itu, adalah wajah Allah. Tidak sempurna ilmu maknawiyah jika kita tidak mengembalikan ketiga-tiga sifat tersebut, jangan pula kita kembalikan sebahagian dan meninggalkan sebahagian yang lain. Seandainya dikembalikan sifat penglihatan sedangkan sifat mata tidak dikembalikan, ini tidak membawa makna dan konsep maknawiyah. Maknawiyah bukan sahaja sifat yang terletak pada kita, tetapi juga terletak pada sekalian makhlok alam seluruhnya. Termasuklah alam haiwan, alam bukit bukau, alam jin dan seluruhnya seisi alam.
Sifat Apakah Yang Terkandung Di Dalam Maknawiyah ?
7 Sifat maknawiyah yang terkandung didalam sifat 20
1. Haiyun = Yang hidup
2. Alimun = Yang tahu
3. Muridun = Yang berkehendak
4. Qodirun = Yang berkuasa
5. Samiun = Yang mendengar
6. Basirun = Yang melihat
7. Mutakallimun = Yang berkata-kata.
Apakah Bentuk Sifat Maknawiah ?
Sifat maknawiyah (sifat kekuasaan Allah Ta'ala), hanya ujud pada zat Allah, tidak memberi bekas kepada alam. Maknawiyah tidak boleh dikualiti atau dikuantiti. Maknawiyah adalah suatu sifat yang menggambarkan ketinggian, kebesaran dan kekuasaan Allah. Sifat kebesaran Allah itu tidak boleh diterjemahkan kepada penglihatan. Seumpama Allah bersifat tinggi atau besar setinggi dan sebesar mana Allah itu, tidak dapat dizahirkan melalui kuantiti penglihatan atau jangkauan akal. Tujuh sifat maknawiyah adalah tempat bergantung tujuh sifat ma'ani. Maknawiyah menanggung dan mendukungi sifat ma'ani. Sifat maknawiyah adalah tempat tumpang dan pergantungan sifat ma'ani.
Apakah Peranan Sifat Maknawiyah ?
Tujuan sifat maknawiyah dijadikan dan diciptakan Allah itu, adalah bertujuan untuk menzahirkan, mempernampak dan untuk memperlihatkan sifat kekuasaannya atas makhlok. Hendaknya dengan ciptaan sifat maknawiyah itu, makhlok akan dapat mengenal Allah melalui tujuh sifat kekuasaanNya.
Rupa alam ini, adalah merupakan bekas, bayang atau wajah Allah. Oleh itu bagi sesiapa yang berhajat untuk mengenal Allah, maka lihatlah alam dan jangan lupa untuk melihat pula kepada diri sendiri. Diri kita ini hanya bersifat ma'ani (tetamu) yang menumpang sifat maknawiyah Allah. Sifat maknawiyah Allah yang ternyata atas diri kita itu, adalah seumpama rumah, manakala sifat ma'ani pula seumpama tetamu. Diri kita ini, merupakan tetamu yang menumpang rumah Allah (ma'ani menumpang sifat maknawiyah). Sifat tuan itu hanya ada pada Allah dan bukan pada diri kita, kita hanya selaku hamba (tetamu).
Oleh itu kita jangan sekali-kali bersifat angkoh. Jangan anggkoh sesama manusia, apa lagi kepada Allah, kerana semua sifat yang ada pada kita itu adalah sifat menumpang, jadi sedarlah diri itu sikit. Selaku menumpang, buatlah cara menumpang, jangan pula tinggi kadok dari junjung. Untuk mengatakan alam ini merupakan Allah, sudah tentu kurang manis pada pandangan syara' dan tidak layak pada hukum, mana mungkin sifat Allah untuk disamakan dengan sifat makhlok, tetapi menurut pengajian ilmu makrifat dalam mentafsir sifat 20, telah mengisyaratkan bahawa, segala sifat yang bersifat itu, sebenarnya adalah sifat bagi Allah, segala nama yang bernama itu, adalah nama bagi Allah, segala perangai atau gerak geri yang bergerak itu, adalah gerak Allah dan segala zat yang berzat itu, adalah zat bagi Allah. Menurut kacamata ilmu makrifat, alam ini sudah binasa, sudah hilang ghaib dalam wajah Allah. Yang ada (yang wujud) hanyalah Allah. Jikalau pun ada yang bersifat wujud selain dari Allah, itu cuma sekadar bayangan nama dari hayalan akal.
Sifat Allah itu termasuk segala-galanya, yang batin mahupun yang zahir, termasuk sifat yang dulu mahupun sifat yang sekarang. Awal itu adalah Allah, maka akhir pun juga adalah Allah. Tinggal lagi cara mana kita memahami sifat 20 dan cara mana kita mentafsir sifat maknawiyah dan sifat ma'ani keatas diri kita. Ianya bergantung kepada cara mana kita meletakkan diri dalam wajah Allah dan cara mana wajah Allah itu, terletak pada diri kita. Bagi yang pandai meletakkan sesuai pada tempatnya disitu kita akan dapat melihat dan mengenal Allah melaluinya. Ianya saling berkaitan antara satu sifat dengan sifat yang lain. Alam mendukung dan mengandungi sifat ma'ani, manakala ma'ani pula didukungi dan dikandungi oleh sifat maknawiyah.
Maknawiyah pula didukung oleh sifat salbiah, manakala sifat salbiah pula mendukung kesemua sifat. Sifat ma'ani dan sifat maknawiyah (sifat menumpang dan sifat yang ditumpangi) adalah menumpang pula sifat salbiah Allah (sifat kebesaran dan kesempurnaan Allah)
Tujuan sifat maknawiyah dicipta adalah, bagi menyedarkan diri-diri kita semua, bahawa hidup ini, adalah kerana ada Yang Maha Menghidupkan, psndainya kita ini, adalah kerena adanya Yang Maha berilmu, kuasanya kita ini adalah kerana adanya Yang Maha Berkuasa, kemahuan kita ini adalah kerana ada Yang Maha Berkehendak. Makhlok tidak boleh hidup tanpa yang empunya hidup, makhlok tidak berfikiran tanpa yang empunya ilmu, makhlok tidak berupaya dan tidak berkemahuan, jika tidak dengan keupayaan dan kemahuan Allah swt.
Apakah Hubungan Sifat Ma'ani dan Maknawiyah Dengan Diri Kita?
Perhubungan diantara sifat ma'ani dengan sifat maknawiyah itu, adalah seperti berikut;
1. Bukan hayat yang hidup, sifat hidup yang ada pada hayat kita adalah bagi menyatakan dan menzahirkan haiyun yang ada pada zat Allah.
2. Bukan ilmu yang tahu, sifat tahu yang ada pada ilmu kita itu adalah bagi menyatakan dan menzahirkan sifat Alimun yang ada pada zat Allah
3. Bukan irodat yang berkehendak, sifat berkehendak yang ada pada irodat kita itu adalah bagi menyatakan dan bagi menzahirkan sifat muridun yang ada pada zat Allah.
4. Bukan kudrat yang berkuasa, sifat berkuasa yang ada pada kita itu adalah bagi menyata dan bagi menzahirkan sifat kodirun yang ada pada zat Allah.
5. Bukan samak yang mendengar, sifat mendengar yang ada pada kita itu adalah bagi menyatakan dan bagi menzahirkan sifat samiun yang ada pada zat Allah.
6. Bukan basor yang melihat, melihat yang ada pada kita itu adalah bagi menyatakan dan bagi menzahirkan sifat basirun yang ada pada zat Allah.
7. Bukan kalam yang berkata-kata, sifat berkata-kata yang ada pada kita itu adalah bagi menyatakan dan bagi menzahirkan sifat mutakallimun yang ada pada zat Allah.
Sifat ma'ani menumpang sifat maknawiyah, sifat maknawiyah pula menjadi tempat bergantungnya sifat ma'ani. Seumpama sifat penglihatan (ma'ani) bergantung kepada yang memberi penglihatan (makknawiyah), manakala sifat yang memberi penglihatan (maknawiyah) menumpang dan bergantung pula kepada Yang Maha Esa (salbiah). Mempelajari sifat ma'ani yang tujuh dan mempelajari sifat maknawiyah yang tujuh tidak akan memberi apa-apa menafaat, jika ianya tidak dihubungkaitkan dan jika tidak dirujuk kepada diri kita sendiri. Dengan cara menghubungkaitkan pelajaran sifat-sifat tersebut keatas diri kita, barulah ianya mendatangkan menafaat kepada diri.
Bagaimana cara untuk menghubungkaitkan sifat tersebut dengan diri kita ?. Kaedah untuk menghubung kaitkan sifat tersebut dengan diri kita adalah dengan cara melihat kepada sifat mata kita, yang berfungsi selaku untuk menzahirkan sifat basor (melihat), melalui basirun Allah (penglihatan Allah).
Begitu juga dengan sifat nyawa kita, yang berfungsi selaku untuk menzahirkan sifat hayat (hidup), melalui sifat haiyun Allah (penghidupan Allah). Apabila kita lihat sifat basor, sifat hayat, sifat sama', dan lain-lainnya, yang ada pada diri kita ini, hendaknya jangan kita lupa untuk memandang kepada tuan yang empunya sifat. Apa gunanya mata, jika tidak dilengkapi dengan penglihatan, apa gunanya telinga, jika tidak dengan pendengaran.
Segala penglihatan dan segala pendengaran kita itu, dari mana asal datangnya, jika bukan daripada Allah. Apabila kita tahu bahawa semua itu datangnya dari Allah, hendaknya jangan kita lupa akan asal usul diri kita. Bila kita tidak lupa asal usul, membuatkan kita tidak lupa kepada Allah selaku tuan punya kepada sifat yang ada atas diri kita ini. Apabila kita sedar bahawa sifat-sifat yang kita miliki dan yang ada atas diri kita ini sebenarnya adalah hak Allah. Dari itu jangan pula kita lupa untuk dikembalikannya semula kepada tuannya yang asal (Allah). Inilah kaedah mengenal sifat maknawiyah Allah atas diri kita. Apa sahaja ilmu yang kita belajar, semuanya menuju kepada penyerahan dan mengenal Allah Ta'ala.
Kita ada mata, telinga, mulut dan sebagainya, namun sifat-sifat tersebut, hanyalah sekadar menumpang sifat penglihatan, pendengaran dan kalam Allah. Sifat yang ada pada diri kita itu juga, hanyalah sifat sementara yang menumpang kasih dari sifat Allah. Setelah sedar yang diri kita sekadar menumpang, janganlah kita bersifat anggkoh, bakhil, kedekut, tamak, dengki, khianat dan jangan bersifat sombong. Buat apa sombong, sedangkan pakaian yang kita pakai ini, bukannya milik kita.
Jika kita sudah sedar bahawa itu adalah barang pinjaman, harapnya dikembalikan dengan seberapa segera yang boleh, jangan bertangguh-tangguh lagi. Jika ditangguh-tangguh, bimbang nanti kalau-kalau ajal terlebih dahulu datang menjemput sebelum sempat untuk dikembalikan.
Tujuh sifat ma'ani Allah dan sifat maknawiyah Allah itu, hanya akan dapat diterjemah melalui penzahiran sifat makhlok, seumpama anggota mata pada sifat ma'ani bermakna penglihatan pada sifat maknawiyah Allah, yang hanya dapat diterjemah melalui diri kita. Seumpama sifat pendengaran dan berkata-kata pada maknawiyah, bila diterjemah pada diri kita, ianya akan memperlihat dan mempamerkan sifat kekuasaan Allah atas sifat diri kita sebagai makhlok. Sifat dua puluh itu, adalah sifat Allah, sungguhpun begitu, kita hendaklah mentafsirkan ia ke atas diri kita, barulah kita dapat mengenal Allah melaluinya.
Dari itu juga, ianya menampakkan dan memperlihatkan lagi betapa kecil dan kerdilnya kita. Tanpa sifat-sifat Allah, kita bukanlah siapa-siapa. Kita tidak boleh berdiri sendiri, tanpa zat Allah. Bagi yang berpandangan, cuba-cubalah tiliki diri sendiri, dengan cara mengenal diri sendiri, InsyaAllah mudah-mudahan supaya Allah pula dapat kita knenal.
Renungi sedalam-dalamnya ke dalam diri masing-masing. Disitu akan kita temui diri kita yang sebenar dan temui juga akan kebesaran, kesempurnaan dan keagungan Allah. Sifat yang kita pakai dan sifat yang kita bawa ini adalah hak Allah Taala sepatutnyalah dan selayaknyalah dikembalikan dan dipulangkannya semula kepada yang berhak.
Diri kita tidak ubah seumpama sifat orang yang sudah mati. Sungguhpun orang mati ada mata, ada telinga dan ada mulut tetapi mata, mulut dan telinganya tidak dapat berfungsi apa-apa tanpa yang menghidupkannya. Yang menghidupkan ma'ani itu, adalah sifat maknawiyah Allah.
Pelajaran ini adalah semata-mata untuk menyedarkan kita, untuk menginsafkan kita bahawa, yang empunya penglihatan, pendengaran, suara, suami, isteri, anak, makan minum, kesihatan, pakaian, perlindungan tempat tinggal dan sebagainya itu, adalah datangnya dari Allah swt belaka dan bukannya dari hasil daya usaha atau titik peluh kita. Kebanyakkan dari kita tidak nampak dan tidak sedar, yang semua itu adalah datangnya dari Allah. Ada diantaranya, sengaja buat-buat tidak nampak.
Kebanyakkannya hanya pandang sifat mulut, hanya nampak sifat mata dan hanya lihat sifat telinga, tidak terpandang oleh mereka kepada yang empunya penglihatan, pendengaran dan tidak terpandang kepada tuan asal yang empunya segalanya. Sekali lagi marilah sama-sama kita kembali kepada Allah. Supaya dengan cara ini, kita memperolehi ketenangan jiwa, redho dengan apa yang berlaku, ikhlas dalam beribadah, jujur dalam pekerjaan dan membuatkan hati kita sentiasa berserah kepada Allah Yang Maha Esa.
Bagi yang masih tidak nampak, sesungguhnya mereka itu buta. Buta mata zahir dan buta mata hatinya. Selagi diri tidak dibinasakan (diserahkan) kepada Allah selaku tuan asal yang empunya segalanya, selagi itulah kita tidak akan dapat untuk membezakan antara sifat Allah dengan sifat diri kita. Apakah mereka sangka sifat diri kita sama dengan sifat Allah! Sifat Allah tidak sama dengan sifat makhlok, tetapi dalam masa yang sama, ianya juga tidak lain dari itu.
Hidup ini seumpama suara yang tersimpan di dalam halkum. Segala apa yang terjadi (terzahir) dan yang bakal terjadi itu, sudah sedia ada dalam pengetahuan Allah, sudah tertulis, termeterai dan terpahat di dalam ilmu Allah sejak azali lagi, tanpa berubah atau terpinda sedikitpun darinya. Segala kejadian itu, akan terjadi dan akan terzahir mengikut apa yang sudah tersurat, itulah makanya sebagai umat Islam, di sarankan supaya berserah diri dan.
Langganan:
Postingan (Atom)
