Dikutip oleh :
جعفررالدين الجيلان الصدق
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم
بسم ربك الأعلى
- Disini saya sedikit akan menjelaskan mengenai maksud tujuan hakkat
shalat, tetapi yang saya tuliskan hanyalah i'tibar atau tamsilannya
saja, sedangkan pemahaman tuk mendalaminya haruslah Anda bertanya pada
Guru disekitar Anda, karena dia akan menjelaskan dan membimbing Anda
bagaimana melaksanakan shalat hakikat tersebut. Dan shalat hakikat ini
sama shalatnya dengan shalatnya orang syari'at yang sebanyak lima waktu
dan sama seperti apa yang dianjurkan Rasilullah saw. sebagaimana beliau
shalat.
Namun didalam shalat ini, ada satu anugerah yang
diperlihatkan kepada sang pelaku shalat itu, jika hatinya sudah sampai
pada pengenalan shalat.
Mari menyimak bersama- sama apa yang saya tulis dibawah ini dan semoga pelajaran ini ada manfaat besar untuk kita semua ●
Aamiin Allaahumma aamiin ●●●
_____________________________________
Saudara- saudariku sekalian...
Ketahuilah Anda bahwa sumber ilmu tashawuf itu ada tiga macam yakni :
طصوف عند الأخلاق والأداب
طصوف عند الفقاه
طصوف عند الأهل المعرفة
TASHAWUF 'INDAL AKHLAQ WAL ADAB.
TASHAWUF 'INDAL FUQAHA.
TASHAWUF 'INDAL AHLIL MA'RIFAT.
Ketiga ini sangat perlu Anda ketahui...
-Tashawuf 'indal akhlaq wal adab itu bisa kita terapkan sendiri,
mungkin untuk-anak kita terutama makan dengan tangan kanan, masuk kamar
mandi didahulukan kaki sebelah kiri, mau keluar kamar mandi tentunya
dengan kaki sebelah kanan.
Sebab - Tashawuf itu berakhlaq dan beradab. Karena sumbernya ilmu ini adalah :
" MIN AKHLAQI WAL ADAB "
Dari prilaku dan tata kerama ●
- Yang kedua :
Tashawuf indal Fuqaha...
Adalah bagaimana ilmu fiqih ini tidak berhenti hanya fiqih saja. Contoh :
" Orang kalau sudah berwudhu' hendak shalat, sesudah dipake shalat wudhu'nya kemana ?
Selesaikan ???
Nah.... kalau orang tashawuf tak begitu....
Tetapi tashawuf dituntut, sejauh mana ia membawa wudhu'nya itu terlepas
dari kewajiban didalam shalat, hanya terikat dengan syarat- syarat dan
hukum hukum syari'at...
Anda itu dituntut oleh ulama tashawuf supaya wudhu' Anda itu dapat mewudhu' kan batin Anda atau tidak dan seterusnya....
Disinilah hebatnya ilmu tashawuf...... ●
_______________________________________
Tashawuf dan ahli ma'rifat.
Nah saudaraku sekalian.....
Disnii banyak orang terjebak dalam dunia tashawuf, dalam ilmu ma'rifat
mereka yang perbendarahannya belum mumpuni, belum mencukupi seringkali
terjebak..
Akhirnya memunculkan analisis-analisis, seolah-olah tashawuf berbaur Budha tashawuf.
Karena apa ???
Karena mereka itu belum memahami dan mengetahuinya..
Ilmu ma'rifatnya saja mereka tidak ngerti, apa sebetulnya ma'rifat itu.
Dari kekosongan itu, mereka belajar menganalisis tashawuf.
" Orang- orang yang sudah ahli ma'rifat , tinggi sekali dengan bahasanya yang luar biasa
Orang dalam tashawuf Fuqaha saja, mereka sudah tak bisa memahami. Contoh :
" Imam Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad al- Ghazali menjawab dunia
falsafah, menjawab dunia tauhid aliran Kalam pada waktu berkembang
macam-macam faham."
Dijawab dengan tashawuf Fuqaha yaitu :
" Dengan munculnya Ihya' Umuluddin."
Mengapa dalam kitab Ihya' Umuluddin, banyak hadits- hadist maudhu' disamping dha'if.
Karena apa ???
Karena pendapatnya ahli falsafah dijawab oleh Imam al- Ghazali dengan
hadits yang maudhu' saja, masih lebih baik hadits maudhu' daripada
pendapat-pendapat kaum falasifah.
Masih tepat karena apa ????
Karena, walaupun maudhu', tapi yang menggunakannya adalah orang-orang yang mengerti ma'rifat kepada Allah.
Makanya disini digunakan oleh Imam Abu Muhammad bin Muhammad al- Ghazali ●
_______________________________________
SHALAT YANG SESUAI AJARAN TASHAWUF
______________________________________
Saudara- saudariku sekalian.....
Menurut ilmu tashawuf, jika orang itu shalat , walau dengan syarat
rukunnya, tapi dia makan barang haram, dan melakukan semua perbuatan
yang tercela seperti sombong, zina, membunuh, membicarakan kejelekan
orang, mengadu domba, melakukan riba, minum khamar, atau dosa-dosa
lainnya, maka shalatnya itu " Tidak sah "
Dalam artian : Tidak menerima pahala atau makin shalat, makin menjadi-jadi dosanya ●
_______________________________________
SHALAT DALAM PANDANGAN AHLI SUFI
_______________________________________
- TAKBIRATUL IHRAM -
Maksudnya ialah :
" Berpisah dari alam Mulki dan Fana' lah hamba ketika ia mengucapkan " ALLAAHU AKBAR "
Hanya sifat yang menyembah saja yang tinggal sebagai penzahiran. Wujud Allah yang ia sembah...
Dia bergerak dengan gerak Allah...
Dia berkata, mengucap dengan kata kata ucapan Allah...
Tunduknya ia dalam rahasia " NUKHTAH bagi ALIF "
Berarti " TIDAK ADA "
Seperti kata Abu Yazid Busthami :
ارفت رب برب
- ARIFTU RABBI BI RABBI -
Aku mengenal Tuhanku dengan Tuhanku..... ●
______________________________________
MEMBACA AL- FATIHAH
_________________________
Ketika membaca Fatihah, terbukalah pintu alam Malakut bagi sang penyembah.
Dia menyaksikan kalimat Allah melalui penyingkapan (Syuhud) akan Kalam Allah :
" MAALIKI YAUMID DIIN "
Di dalam Malikillah (Kebesaran Allah).
Dari tunduknya " Tidak ada " dia menjadi setitik dari Nur-Nya yakni Nur Muhammad...
Dan dengan Nur inilah lalu dia menyembah dan mengenall dirinya yang disebut ;
" MAN 'ARAFA NAFSAHU " sebagai Ruh-Nya yang pernah di himpunkan di
alam Lahut sewaktu Adam baru sempurna kejadiannya yaitu ketika Jibril
menepuk tulang sulbinya Adam. Maka keluarlah seluruh ruh anak cucu Adam
dari tulang sulbinya itu ●
_______________________________________
Adapun Ruh-Nya itu, pada hakikatnta adalah satu jua yaitu dari Rahasi Ilahiah.
Ruh anak cucu Adam itu hanyalah suatu gambaran yang menumpang pada lahiriah pada jasmani yang merupakan bayangan dari Ruh-Nya.
Tanpa adanya Nur Muhammad itu, maka yang bersangkutan tuk menyembah, mustahil dapat berhadapan Sang Maha di Sembah .
Dengan adanya perwujudan Nur Muhammad inilah maka si penyembah itu " ....."
" Kepada Engkau- lah kami menyembah...
Dan kepada Engkau- lah kami meminta pertolongan..
Tunjukkan kami kejalan yang lurus, jalan mereka yang Engkau-berikan
kenikmatan. Bukan jalan mereka yang Engkau- murkai. Dan bukan pula jalan
yang sesat."
Maka.. di amin kan akhir Fatihah itu oleh para malaikat dari setiap 7 lapis langit yaitu :
Alam Mulki.
Alam Malakut.
Alam Jabarut.
Alam Bahut.
Alam Lahut.
Alam Ahud.
Dan yang tertinggi adalah alam Al-Insani yang di sinilah kemuncaknya shalat itu.
Adapun maksud " Jalan yang lurus " ialah " Mi'raj " sebagaimana sabda Nabi saw :
" Shalat adalah mi'raj bagi mukmin "
Tujuan mi'raj itu adalah Penyatuan yaitu kembalinya yang menyembah kepada yang dia sembah ●
_______________________________________
RUKUK
_______
Tunduknya kepada huruf " Lam " yang terlahir daripada " Alif " yang menyembah menampakkan kepada yang disembah.
Alif adalah Kanzun Mahfiah yakni yang tersembunyi. Yang tersembunyi ingin dikenali, maka di lahirkanlah Lam sebagai tabirnya.
Nabi saw. bersabda :
" Dirikanlah shalat, seakan-akan engkau melihat Allah."
Para arif billah berkata bahwa siapa- siapa yang mengenal akan dirinya
itu, maka rahasia-Nya akan menampakkan dan mengenalkan ke-Tuhanan-Nya.
Yang menyembah di natijahkan seperti :
Angin, manakala ketika yang menyembah pada posisi berdiri tadi.
Natijahnya adalah Api... fana' dalam wujud .
Api itu sifatnya membakar yaitu melenyapkan keakuan, ke egoan dan kedirian...
Pada tahap berdiri ini, yang menyembah berada dalam suatu tarikan yang teramat kuat dari Nur Muhammad.
Justru itulah ia di natijahkan kepada Angin yang tunduk dan menderu.
Yang menyembah ditarik masuk kedalam alam Jabarut dan berpisah dari alam Malakut.
Justru itulah para arif billah mengatakan bahwa siapa- siapa yang yang
mencari Tuhan diluar dirinya, dipastikam akan tersesat...
Pada tahap
inilah si penyembah melepaskan qalbunya. Hanya tinggal padanya ialah
Ruh-Nya yang hendak naik kelapisan yang lebih tinggi untuk bertemu
Tuhan.
Alam Jabarut yang menghubungkan perbendarahaan wujud yakni
batas larangan yang tak bisa ditembus kecuali hanya Nur Muhammad saja
yang di antara maujud yakni yang menyembah.
Yang menyembah
mengenal dirinya di alam Jabarut, maka tersingkaplah kepadanya
seluas-luas nya wujud Allah tanpa ada tabir penghalang.
Bahwa, yang menyembah telah bersatu dengan yang disembah sebagaimana adanya didalam misykat itu adalah " Nur- Nya.
Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.
Perumpamaan cahaya Allah adalah :
" Seperti satu lubang yang tidak bisa ditembuskan. Yang ada didalamnya
itu satu pelita yang sangat besar. Dan pelita itu didalam kaca...
Kaca itu seakan seperti sebuah bintang yang bercahaya terang laksana
mutiara. Yang dihidupkan atau di nyalakan dengan minyak dari pohon yang
barakahnya yakni pohon zaitun yang tumbuh tidak sebelah timur (sesuatu).
Dan tidal juga sebelah baratnya. Yang minyaknya saja hampir-hampir
menerangi walaupun tak disentuh api.
Itulah disebut cahaya diatas
cahaya yang berlapis- lapis . Lalu Allah membimbing Cahaya-Nya itu
kepada siapa- siapa yang Dia- inginkan.
Semua itu, Allah yang membuat perumpamaan- perumpamaan itu untuk manusia.
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu apapun itu.. maka bertasbihlah si penyembah :
" Maha Suci Allah yang Maha Agung dengan segala sifat kepujian-Nya."
Jika kita fahami ayat surah Nur ayat 35 ini saudara- saudariku.... maka
mengertilah kita makna satu yang disembah yaitu Allah sebenar yang kita
sembah. Bukan pemahaman makna bersatu dengan yang disembah, Tidak !!!
Tetapi satu yang disembah. Ini bukan mengambil pemahaman " Hulul " sebagaimana yang diyakini oleh Mansyur Al- Hallaj.
Yang lebih saya tekankan disini adakah :
" WAHDATUSY SYAHADAH yakni Kesaksian Penyatuan."
_______________________________________
I'TIDAL
_______
Si penyembah adalah yang dibangkitkan...
Si penyembah masuk kedalam pintu kematian.
Dan masuk didalamnya itu bukan mati benaran tapi matinya kesadaran
seluruh prilaku lahiriah kecuali dalam kesadaran kekuasaan Allah.
Mati tapi sadar dan memiliki hidupnya Allah semata. Namun tidak
seterusnya, si penyembah nanti akan disadarkan dari kematian sementara.
Artinya
Si penyembah tak menyadari bahwa dia di lenyapkan oleh Nur Allah..
Ini juga disebut " Waqaf " yaitu sementara didalam shalat ●
_____________________________________
SUJUD AWAL
___________
Tunduknya kepada huruf Lam dan juga Mim.
Nabi saw. bersabda :
" Aku di lahirkan kedunia dalam keadaan sujud."
Yang menyembah di natijahkan kepada Air.
Dan air adalah sumber kejadian alam Mulki.
Arsy Allah berada diatas Air, maka yang menyembah di natijahkan kepada Air. Karena :
Disinilah yang menyembah sampai di alam Bahut.
Dan alam Bahut adalah pembatasan terakhir segala penzahiran.
Ungkapan syaikh Akbar Ibnu Arabi bahwa :
" Syajaratul Kaun (pohon kejadian) atau sebutan yang sering juga disebut dengan Sidratul Muntaha.
Pada tahap ini, yang menyembah adalah Ruh-Nya yang didalam " Sir "
Sabda Nabi saw. Beliau menceritakan bahwa ketika ia di mi'rajkan, ia melihat wajah Allah :
" Aku tidak tahu dimana aku berada."
Pada tahap ini juga yang menyembah menyerap kepada yang di Sembah.
Yang Disembah itulah yang menyembah...
Yang pada hakikatnya wujud terurai dalam fana' fil sifat dan lebur dalam fana' fil dzat yaitu :
" Melihat Allah dengan Allah, maka yang menyembah diberi pengetahuan-Nya - ANA AL-HAQ (Aku-lah Yang Benar) ●
Dari sisi tahap ini saudaraku sekalian....
Lihatlah kepada BISMILLAH, hanya BA dalam BISMILLAH saja yang tercantum dengan ALIF.
Nabi saw. bersabda :
" Seluruh isi kitab Al-Qur'an itu terkandung dalam Al-fatihah, dan
seluruh Al-Fatihah itu terkandung dalam Bismillah. Dan Bismillah
terkandung dalam Ba, dan rahasia Ba itu adalah Titik di bawahnya."
Inilah yang dimaksud oleh Syaikh Ibnu Arabi Wujud kesatuan- Wahdatul
Wujud. Maka bertasbihlah yang menyembah :
" Maha SuciTuhanku yang Maha Mulia dengan sifat kepujian-Nya."
_______________________________________
DUDUK DI ANTARA DUA SUJUD
___________________________________
Tunduk pada huruf " Ha besar " dan juga " Ha kecil " maksudnya setelah huruf Jim.
Yang menyembah (hamba) sudah dikaruniai " Baqa ".setelah ia fana' fil sifat dan fana fil dzat.
Dengan dikaruniai ke baqa'an, barulah yang menyembah bisa masuk perbendaharaan rahasia Ilahiah.
Jadi, pada sujud terakhir nanti, sebagaimana yang di istilahkan oleh para Arif billah melalui 3 tahapan yaitu :
" Ahadiah- Wahdah- dan Wahidiah "
-
Pada tahap ini, yang menyembah berada di alam Lahut - alam tidak ada
yakni yang tidak ada satupun yang tercipta. Tiada awal dan tiada akhir.
Yang menyembah menyaksikan kekosongan tanpa perbatasan. Dan di sinilah awal " Diri " yang kemudian di lahirkan sebagai Adam
Di kalangan sufi, ia juga di istilahkan " Negeri Adami ". Diri (Sang Penyembah), di nisbatkan kepada Air yakni " AIR MUTLAQ "
Inilah asal- usul manusia dari alam tidak ada (LAA)●
Pada tahap ini juga, yang menyembah adalah di dalam rahasia-Nya.
Ruh-Nya dalam ke ghaiban Nur Muhammad.
Dan hakikat Ruh-Nya adalah Nur Muhammad..
Disinilah ia bermunajah :
" Ilahii... ampunilah hamba, rahmatilah hamba, cukupilah hamba, angkatlah derajat hamba, berilah hamba rezaki, berilah hamba Hidayah, sehatkanlah hamba dan maafkanlah hamba."
______________________________________
SUJUD AKHIR
______________
Tunduknya pada rahasia huruf " Ha " yang tak kelihatan atau bunyi ujungnya " Hu " dan juga huruf " Mim "
Pada tahap ini, yang menyembah berada di alam Ahud pada nisbahnya air yang dibawah 'Arsy Ilahi.
Jadi, yang tinggal pada si penyembah adalah Rahasia Ilahiah.
Nah.... di dalam Rahasia-Nya itulah " ANA (Aku).
Para sufi berkata :
" Air di dalam gelas, tidak dapat dibedakan lagi.
Air itulah gelas, dan gelas itulah air.
Yang menyembah itulah yang Disembah dalam istana ma'rifat, bukan dalam
gudang syari'at, bukan gudang thariqat dan bukan gudang hakikat. Ini
hanya pada ma'rifar semata-mata.
Ingatlah !! Camkan air di dalam
gelas, bersatu dalam kejernihan. Lihatlah pada ombak-ombak, hanya pada
nama yang diberikan, padahal itu air yang beriak dan menggelora ●
___________________________________
Pada sujud akhir inilah yang menyembah memasuki wilayah Ilahiah yaitu :
- Ahadiah = Dzat Mutlaq atau Dzat Wajibul Wujud.
- Wahdah = Dzat Yang Maha Esa.
- Wahidiah- ILAH = Dzat yang Maha Kaya dari segala sesuatu apapun dan sesuatu yang selain-Nya memerlukan pada Allah ●
_____________________________________
Dzat ingin dikenal sebagai " KANZUN MAHFIAN "
Disinilah terbitnya " KUN ILAHI "
" Jadilah .... maka jadilah ia
____________________________________
DUDUK TAHIYYAT UL AKHIR
______________________________
Tunduknya pada huruf " Dal "
Pada tahap ini, yang menyembah berada pada Alam Al-Insan, di nisbatkan pada tanah ketika ia duduk- dalam kesempurnaan.
Dia yang mengenal dan Dia-lah yang dikenal pada akhirnya. Dia yang turun dan naik dalam mi'raj :
" Rahasia Insan Rahasia-Ku, Rahasia- Ku rahasia Insan."
Di alam insan , sang penyembah diliputi dengan wujud, ilmu, nur dan
syuhud. Maka Dzat adalah " Rahasianya "- Sifat adalah " Ruhnya "- Asma
adalah " Qalbunya "- Dan Af'al adalah " Tubuhnya "
Disinilah ia
mengucap " Salam terakhir (Tahiyyat akhir) kepada Nabi saw. dan rahmat
Allah beserta ke barakahan- Nya, juga kepada hamba- hamba yang
shalihin sekalian.
Dialah yang menyaksi.....
Dan dialah yang bersaksi....
" ASYHADU AN LAA ILAAHA ILAALLAAHU WA ASYHADU ANNA MUHAMMADUR RASUULULLAHI "
_______________________________________
SALAAM
_________
سلاما قول رب الرحيم
" SALAAMUN QAULAN MIN RABBIR RAHIIM "
Inilah salam ahli Syurga .
Syurga inilah yang di nikmati oleh ahli sang penyembah yaitu Syurga
yang di dalamnya tak ada bidadari, sungai, buah- buaham dan pepohonan.
Didalam syurga inilah , yang menyembah terlena memandang Wajah Rabb
semesta alam ●
___________________________________________
Saudara- saudariku sekalian....
Di sini Anda perlu ketahui bahwa :
Suatu konsep atau pandangan dari para Arif Billah yang memahaminya, mereka itu sudah jauh dari manusia awam..
Yang perlu saya tekanlah adalah :
Shalat (Sujud) adalah suatu rahasia diri kita...
Jadi tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata bagaimana aku shalat (Sujud)....
Cukuplah untuk diri kita pribadi, (semuanya jadi kosong), tapi bila kita berkhalwat, Silahkan berbicara sebebas-bebasnya ●
___________________________________
PERBANDINGAN SHALAT DALAM PERSEPEKTIF FIQIH DAN TASHAWUF
_______________________________________
(1) - Shalat dalam persepektif Fiqih (Shalat formal)
.
Adalah sebagai ibadah pokok utama dalam Islam.
Shalat menjadi trade mark bagi siapapun yang mengaku beragama Islam. Artinya :
Ke Islaman seseorang secara lahiriah dapat dilihat dari shalatnya.
Jika shalatnya baik, maka orang tersebut dikenal sebagai Islam santri atau Islam hijau, terkadang disebut Islam putih.
Sebaliknya, jika shalatnya jelek atau justru tidak shalat, maka orang
tersebut akan dikatakan sebagai Islam KTP atau Islam abal- abal.
Lebih dari sekedar trade mark.....
Ada sebuah hadits shahih yang di riwayatkan oleh At-Turmudzi dll, bahwa ;
Nabi saw.menegaskan betapa pentingnya shalat :
" Sungguh amal seorang hamba yang pertama kali diperhitungkan pada hari kiamat adalah shalat.
Jika shalatnya baik, maka dia benar- benar beruntung. Tetapi bila shalatnya jelek, maka dia benar- benar merugi.."
Dalam tataran fiqih, shalat dikatakan baik manakala sudah memenuhi
syaratntya yaitu sesuatu yang mesti dipenuhi sebelum melakukan shalat.
Dan rukun yaitu sesuatu yang harus dipenuhi ketika mengerjakan
shalat.nya. sebagaimana bisa dfahami didalam kitab- kitab fiqih.
_____________________________________________
SYARAT SHALAT ADA DUA MACAM
Yakni syarat wajib shalat dan syarat sahnya shalat.
Syarat wajib shalat adalah :
(1) - Islam.
(2) - Baligh yaitu bagi laki-laki bila telah mimpi keluar mani. Dan perempuan bila datang mentsruasi atau haid atas dirinya.
(2) - Berakal sehat, tidak gila.
Sedangkan syarat sahnya shalat ialah :
(1) - Mengetahui masuknya waktu shalat.
(2) - Suci dari hadats, baik hadats besar maupun hadats kecil. Dan najis.
(3) - Menutup aurat yaitu bagi laki- laki bagiannya adalah antara
pusat dan lututnya. Bagi perempuan ialah seluruh tubuhnya kecuali muka
dan dua telapak tangannya.
(4) - Menghadap Qiblat bagi yang memungkinkan.
Sementara rukun shalat adalah :
(1) - Berdiri bagi yang mampu, kalau tak mampu berdiri, duduk, kalau ia
tak sanggup duduk, berbaring dalam keadaan terlentang dengan posisi
kaki ke arah qiblat.
(2) - Niat shalat
(3)- Takbiratul ihram membaca Allahu Akbar.
(4) - Membaca Al- fatihah dalam keadaan berdiri bagi yang mampu.
(5) - Ruku', membungkuk 90 derajat.
(6) - I'tidal yakni setelah bangkit dari ruku'.
(7) - Sujud. 7 anggota badan harus menyentuh tempat shalat yaitu Dahi, 2
tapak tangan bagian dalam 2 lutut dan jari- jari 2 kaki dengan posisi
pantat diangkat lebih tinggi dari kepala.
(8) - Duduk diantara dua sujud.
(9) - Duduk Tahiyyat awal yakni tasyahud awal membaca Attahiyyah.. dan membaca syahadatain pertama.
(10) - DudukTahiyyat akhir yakni tasyahud akhir membaca Attahiyyah.... dan membaca syahadatain kedua.
(11) - Shalawatun 'alan Nabi saw.
(12) - Salam yakni salam kekanan dan kekiri
(13) - Tertib (thu'maninah), teratur, tidak terburu- buru dilakukan secara berurut ●
____________________________________
Seorang muslim dan muslimah yang melakukan shalat dengan memenuhi
syarat dan rukunnya, berarti dia sudah menunaikan kewajibannya.
Mengenai bacaan ayat selain Al-Fatihah dan membaca doa selain rukun
diatas yang megiringi semua gerakan dalam shalat, hukumnya sunnah
kecuali membaca tasbih hukumnya wajib 1x saja , 3x sunnah. Sebaiknya
dibaca saja, tetapi kalau tak dibacakan 3x, shalatnya tetap sah ●
Akhirul kalam :
Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Senin, 11 Mei 2020
Jumat, 08 Mei 2020
Guru Sejati(Dalam Tasawuf Jawa).
Dalam Tasawuf Jawa dijelaskan bahwa guru manusia itu adalah bersifat perantara untuk menuntun sang murid agar ketemu dengan guru sejatinya masing-masing. Guru Sejati adalah proyeksi dari rahsa(rasa/sirr) yang sumbernya adalah kehendak Tuhan; terminologi Jawa menyebutnya sebagai Rasa Sejati. Dengan kata lain rasa sejati sebagai proyeksi atas “rahsaning” Tuhan (sirrullah).
Sukma sejati atau dalam terminologi Arab disebut ruh al quds, dalam bahasa tasawufnya disebut sebagai an-nafs al-muthmainah, adalah sebagai “penasihat spiritual” bagi jiwa. Setiap Jiwa manusia perlu di dampingi oleh Guru Sejati karena ia dapat dikalahkan oleh nafsu yang berasal dari jasad (Raga dan Hawa Nafsu) manusia. Dalam Jiwa ini terjadi pertempuran tiap hari antara Hati Nurani dan hawa Nafsu.
Menurut ngelmu Kejawen, ilmu seseorang dikatakan sudah mencapai puncaknya apabila sudah bisa menemui wujud Guru Sejati. Guru Sejati benar-benar bisa mewujud dalam bentuk “halus”, wujudnya mirip dengan diri kita sendiri. Mungkin sebagian pembaca yang budiman ada yang secara sengaja atau tidak pernah menyaksikan, berdialog, atau sekedar melihat diri sendiri, seperti melihat cermin.
Itulah Guru Sejati anda. Guru Sejati memiliki sifat-sifat pancaran dari Cahaya Tuhan, maka segala nasehatnya akan tepat dan benar adanya.
Jika sang murid sudah bisa ketemu dengan sejatinya sendiri atau guru sejati, maka tugas guru manusia (dhohir) berikutnya hanya memantau agar sang murid bisa istiqomah dan bersatu dan manunggal dengan guru sejatinya. Oleh karena itu dalam tasawuf jawa sebelum meditasi tidak ada tawasul atau kirim fateha kepada para guru-guru sebelumnya. Karena dalam pandangan mereka hakekat guru sejati itu ada dalam diri setiap manusia.
Oleh sebab itu bagi yang dapat bertemu Guru Sejati, saran dan nasehatnya layak diikuti. Bagi yang belum bisa bertemu Guru Sejati, anda jangan pesimis, sebab Guru Sejati akan selalu mengirim pesan-pesan berupa sinyal dan getaran melalui Hati Nurani anda. Maka anda dapat mencermati suara hati nurani anda sendiri untuk memperoleh petunjuk penting bagi permasalahan yang anda hadapi.
Suatu hari ada orang datang ke rumah dengan membawa beras, ketika saya terima tangan saya terasa panas, gurusejati (sejatidiri) berkata, “beras itu hasil dari cara haram”. Lalu saya berpesan kepada ibu saya, agar beras ini jangan dimasak, karena dari cara haram, ibu saya tidak percaya, lalu bertanya langsung kepada yang memberi beras, ternyata beras tersebut berasal dari menang judi Pilkades.
Pernah juga ada orang datang mintak tolong katanya anaknya di rumah kerasukan Jin sudah satu bulan tidak sembuh, Guru sejati (hati Nurani) berkata, “ Jangan pergi, anak itu tidak kena Jin, tapi sakit typus, habis ini takdirnya mati”. Sayapun menjelaskan kepada orng tuanya kalau anaknaya tidak kena Jin, dia masih tetap tidak percaya. Lalu saya berkata, “saya tidak bisa menolong, ini sudah terlambat, anakmu sakit typus, harus ke rumah sakit.”
Satu jam kemudian anak tersebut meninggal dunia. Masih banyak lagi kisah-kisah yang saya alami berkaitan dengan nasehat dan bimbingan guru sejati.
Kenapa kalau sudah menemukan jadi diri dianggap aman dalam perjalanan spritual? Karena itu adalah dasar dalam makrifat kepada Allah, jika sudah berhasil menemukan jati diri, maka gurunya sudah bukan manusia lagi, melainkan guru sejati yang ada pada diri sendiri. Dalam istilah jawa disebutkan Guru Sejati Dumunung Ono Ing Telenging Ati, artinya guru yang akan kita tanya ataupun yang akan selalu mengingatkan kita adalah hati kita sendiri yang sudah kita kenali.
Bagaimana caranya guru sejati mengingatkan atau menjawab pertanyaan kita? Inilah misteri yang paling dicari dan paling dibutuhkan oleh semua orang. Guru sejati adalah roh yang memiliki wujud (tajalli) dan bisa diajak berdialog dengan kita, tidak bisa diajak dialog oleh orang lain, wajahnya juga seperti kita, yang bisa menemuinya hanya kita sendiri.
Nasehat dan suara guru sejati itu berasal dari hat nurani, dipancarkan ke atas di dada bisa di dengar oleh telinga atau dipancarkan ke atas di otak untuk diproyeksikan jadi sebuah gambar atau tulisan. Dalam tasawuf jawa dikenal dengan istilah, Suoro tanpo rupo(suara tanpa ada wujud), tulisan tanpo papan (tulisan tanpa dipapan tulis). Jika kita mendengar suara itu tepat disebelah telinga kanan atau kiri, maka itu adalah suara Jin, atau khodam anda. Jika sudah mengalami sendiri, maka akan bisa bedakan antara suara guru sejati atau Jin dan hawa nafsu.
Nah, bagaimana agar kita bisa bertemu atau dibimbing oleh guru sejati...? kita harus bisa mengalahkan nafsu atau jiwa Ammarah, Aluwamah, Mulhimah dengan berbagi macam laku dan tirakat. Kebanyakan metode tasawuf Jawa tirakatnya banyak yang berat, misalkan puasa mutih, ngebleng (didalam kamar/ruangan), melekan (tidak tidur dimalam hari), ngrowot (makan dedaunan), topo pendem (dikubur Hidup-hidup) dll. Tujuannya adalah agar dominasi tubuh jadi lemah dan menderita, sehingga guru sejati kasihan dan mau keluar untuk menemuinya dan membimbing orangnya.
Sebagian dari mereka ketika ketemu dengan guru sejati (sejatidiri) menganggap sudah sempurna perjalanan spritualnya, sehingga mereka meninggalkan Sholat, karena menganggap sudah makrifat, padahal ketika seseorang ketemu dengan guru sejati itu masih tahap dasar makrifat dan masih panjang perjalanan berikutnya.
Cukup sekian pembahasan tentang guru sejati, Insya Allah lain kali saya akan menulis tentang sholat dengan guru sejati, sehingga antara syareat dan hekekat bisa bersatu padu.
Salam🙏
TAFAKUR MEMFANAKAN DIRI.
TAFAKUR MEMFANAKAN DIRI
” Wahai manusia ! Sesungguhnya kamu harus berusaha dengan usaha yang sungguh-sungguh untuk bertemu dengan Tuhanmu, sampai kamu bertemu dengan-Nya “. ( QS Al Insyiqoq 84 : 6 )
Abu Huroiroh r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Solallohu Alaihi Wasallam bersabda, “Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: Apabila hamba-Ku senang untuk bertemu dengan-Ku, Aku pun senang untuk bertemu ...dengannya. Dan jika dia tidak suka untuk bertemu dengan-Ku, Aku pun tidak suka untuk bertemu dengannya.” (HR. Imam Malik, hadits shahih)
Membuka Rahasia Diri melalui ILMU TAFAKUR.” “Membina kekuatan jiwa,mental dan penyembuhan penyakit zahir dan batin” Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala “Maka ingatlah kepada-Ku, nescaya Aku ingat kepadamu (bersama dan melindungi hambaNya)… “(al-Baqoroh: 152)
adalah tenaga dari Illahi, ia mempunyai cahaya yang hebat yang datang dari alam Lahut. Energi zikir akan menysucikan segala kekotoran pada qolbu sehingga qolbunya akan terkeluar cahaya alam Lahut yang tertutup selama ini disebabkan kekotorannya.
Cahaya ini akan bersinar dan meningkatkan frekuensi cahaya pada qolbi dan seterusnya mengeluarkan segala tenaga yang rendah pada jiwanya (mazmumah). Ia juga akan bergerak menguatkan Ruh Sultoni yaitu cahaya akal sehingga akalnya mempunyai daya ketahanan yang kuat, berfikir tajam dan kreatif.
Zikir yang digabungkan dengan teknik pernafasan yang betul, akan memberikan kesan yang lebih hebat.
Imam Ghazali mengatakan zikir yang dilakukan dengan cara menahan nafas akan mempercepatkan proses penyucian hati (membakar mazhumah). Pernafasan yang betul akan memaksimumkan penyerapan oksigen yang amat penting dalam kehidupan dan kesehatan manusia.Kekurangan oksigen menyebabkan seseorang terdedah pada berbagai penyakit.
Tafakur juga dapat merawat gangguan halus sama ada dari sihir atau pun jin ialah dengan mengeluarkan penyakit dari diri serta memastikan pesakit mempunyai sistem pertahanan yang kuat agar segala iblis atau sihir tidak dapat menembusinya lagi setelah ia sembuh. Rawatan energi zikir juga akan menumpukan pengumpulan tenaga zikir pada qolbu untuk mengeluarkan syaitan dari dalam darah. Apabila tenaga zikir terkumpul di jantung, maka ia akan menghantar tenaga itu ke seluruh badan melalui sistem peredaran darah, seterusnya menghancurkan segala tenaga yang rendah (jin dan syaitan) tidak kira di mana ia berada dalam tubuh pesakit.
(Zikir Nafas)
Setiap kita yang hidup mesti mempunyai nafas, melihat, mendengar, merasa dan ini semua termasuk di dalam sifat al hayat. Kita boleh hidup tanpa mata, telinga, tangan dan anggota tubuh yang lain tetapi kita tidak boleh hidup tanpa nafas. Kita boleh berjalan, berkata-kata dan melakukan apa saja, ini semua berlaku kerana qudrot dan irodat dari Allah. Dan nafas berada didalam qudrot dan irodat Allah.
Di mana permulaan dan letaknya nafas ini?
Untuk mengetahuinya kita harus kembali pada asal kejadian kita yaitu di antara pertalian ibu dan anaknya. Mula terjadi benih diperut ibu ialah di bagian PUSAT. Di situlah mulanya nafas dan dari situ bermula benih itu membesar menjadi anggota tubuh yang sempurna.
Dimanakah letaknya rahasia diri kita yang sebenarnya?
Letaknya rahsia diri kita ialah di atas PUSAT (jaraknya dua jari diatas pusat). Kerana di situlah mulanya kejadian kita. Dan situlah letaknya pengenalan kita pada Allah. Untuk mencapai kemaqom tersebut ada 3 tahap atau latihan yang perlu kita lakukan.
-Menfanakan diri (mematikan diri)
-Mengqasadkan diri dalam afal Allah (perbuatan Allah)
-Mengqasadkan diri dalam ilmu Allah (pengetahuan Allah)
Pengetahuan Allah amat luas dan tidak terbatas.
Kalau Dia tidak berpengetahuan, munkinkah terjadi segala sesuatu ini?
Tentu tidak akan terjadi.
Mustahil kalau Allah itu tidak tahu. Adapun pengetahuan manusia makhluk tetap terbatas. Sedang Allah Yang Maha Ada, justeru Dialah yang mencipta akal dan pengetahuan.
Dan kunci/pokoknya amalan ini ialah: Lahaulawala quwwata illa billahil aliyyil azhim
Tahap 1:
Ucapkan Dua Kalimah Syahadah secara tidak putus sebanyak 3 kali. Iaitu لااله الا الله tarik nafas ( memberi makna هو tanpa kita sebut samada melalui mulut atau dengan hati)
Perhatikan turun naiknya nafas kita. Tarik dan hembuskan nafas kita dengan menggunakan kaedah pernafasan perut.
Apabila kita tarik nafas perut kita akan kembung, bukannya dada (boleh dilakukan samada nak menahan nafas selama mana yang kita mampu - atau tidak menahan nafas. Ingat saja kepada Allah - semasa menarik nafas biarkan udara masuk melalui hidung)
Jika kita guna kaedah menahan nafas, - Bila nafas tak tertahan lagi lepaskan perlahan-lahan. dan semasa kita menghembuskan nafas perut kita menjadi kempes seolah-olah kulit perut bertemu dengan tulang belakang. ( juga biarkan udara keluar ikut hidung )
Apabila kita melakukan kaedah diatas secara automatik akan berlaku kaedah yang dipanggil Mematikan diri dengan cara mengumpulkan segala nafas kita di bahgian qolbu (maqomnya alam malakut) lalu ditarik ke atas di bahgian ubun-ubun kepala (maqomnya alam jabarut) sambil tarik nafas dan bila sudah sampai kebahgian umbun-umbun kepala lalu tahan nafas untuk seketika. Selepas itu turunkan/lepaskan nafas hingga kebagian 2 jari di atas PUSAT (maqomnya alam lahut) lalu tahan nafas untuk seketika. Kosongkan fikiran dan tumpukan pada point iaitu 2 jari di atas PUSAT. Rasakan pada waktu itu kewujudan kita telah tiada yang ada hanya Allah. Selepas itu ambil nafas seperti biasa seketika dan lakukan lagi latihan 1.( tidak perlu diingat akan pergerakkan nafas itu ianya berlaku secara automatik - dengan sendiri)
Tahap 2
Mengqasadkan diri kita pada pergerakan Allah yaitu segala gerakan yang berlaku pada diri kita bukan lagi gerakan kita tetapi adalah gerakan Allah. Kembali pada pokoknya Lahalauwala quwata illabillahil aliyil azhim. Bahawasanya apa saja gerakan yang berlaku pada diri kita bukan lagi gerakan kita tapi adalah qudrat dan iradat Allah.
Misalnya: Kita lakukan latihan 1 dan bila sampai saja di point (PUSAT - setelah nafas habis dilepaskan) kita bermohan pada Allah agar memberi kita pergerakan . Dan selepas itu serahkan segala-galanya pada gerakan Allah. jangan difikirkan apakah gerakan yang hendak kita lakukan. Pergerakan ini boleh digunakan dalam membantu dalam kesusahan seperti scan tubuh pesakit. Kosongkan fikiran kita dan biarkan tubuh kita beregrak dengan sendirinya. Waktu itu bukan kita lagi yang mengawal tubuh kita tetapi adalah dari gerakan qudrat iradat Allah. Setiap apapun yang disaksikan oleh mata hendaklah ditanggapi oleh hati bahwa itu adalah af’al Allah (perbuatan) dari pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala
Tahap 3
Mengqasadkan diri kita di dalam ilmu Allah iatu segala apa yang akan berlaku semuanya adalah di dalam ilmu dan ketentuan Allah. (LA HAULA WA LA QUWWATA ILLA BILLAHIL-ALIYYIL AZHIM) Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan(daya dan kekuatan) Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.
Hadis Rosulullah Solallohu Alayhi Wasallam
LA TATAHARROKU DZARROTUN ILLA BI IDZNILLAHI.
Tidak bergerak satu zarrah juapun melainkan atas izin Allah.
Untuk mencapai tahap yang sempurna harus perbanyakanlah kita beribadah kepada Allah kerana semakin kita dekat dan mesra dengan Allah semakin tinggi dan menyerahlah apa yang kita tuntut ini.
Di dalam mengamalkan amalan ini janganlah ada sifat sombong, riya, takabbur, hasad dengki di dalam diri kita kerana sekiranya ada salah satu dari sifat-sifat ini di dalam diri kita maka amalan ini tidak akan menjadi kerana ilmu ini juga berada di dalam qudrot irodat Allah. Serahkan segala-galanya pada urusan Allah kerana kita adalah manusia yang lemah yang tiada daya dan kekuatan.
Siapa yang mengenal dirinya, tentu dia mengenal Tuhannya dan siapa yang mengenal Tuhannya, maka binasalah dirinya.”
Tambahan :-
Ucapkan Dua Kalimah Syahadah secara tidak putus sebanyak 3 kali. Iaitu لااله الا الله tarik nafas ( memberi makna هو tanpa kita sebut samada melalui mulut atau dengan hati)
Sesudah nafas tak tertarik lagi lalu sebutkan kalimah محمد روسول الله kemudian teruskan dengan berzikir الله...... الله ...... الله kalau boleh yang sedang menyebut الله itu ialah Allah.. ( tanpa ada kesedaran kita sedang berzikir )
URUTAN AMALAN ( tertib )
1-Pembukaan Amalan...
2-Perjalanan GERAK..
3-Pengisian NURILAHI...
4-Kunci Wasiat..
5-Tafakur Nafas
6-Tafakur Nafas 3 – Segi
7-Simpan Amal
Tafakkur atau Gerak Bapak Bagindo Muchtar
Boleh dilakukan setiap masa tanpa apa apa syarat ..dalam keadaan duduk selesa atau baring …
CARA PERSEDIAAN
Matikan segala gerak fizikal
Mati segala gerakan otak = fikiran
Letakkan kedua tapaktangan diatas kepala lutut atau didepan dada selaras dgn kedudukan JANTUNG
Tundukkan kepala dan pandang jantung
Boleh buka mata atau lelap mata
Fokuskan perhatian kepada keluar masuk nafas
Ujudkan RASA TENANG ..kemudian
Baca …Istiqfar…….3x
Baca…Auzubillahi minash syaitonil rojim
Baca….Bismilahi rahmani rahim
Mengucap…….3x
PERJALANAN SIROTHOL MUSTAQIM
(HAKIKAT GERAK KALIMAH TAUHID)
PEMBUKAAN AMALAN
Auzubillahi minassyaitonir rojim
Bismillahi rahmani rahim
Ashadu an la ilaha illallah wa ashadu anna muhammadur rosulullah
La haula wala quwwata illa billahi aliyul adzim
Astaqfirullahal adzim………3x
Selawat……..3x
1) ila hadratin nabi muhammadin Mustafa rosulillahi s.a.w saiun lillahi lahu………al-fatihah
2) ya Allah hamba hadiahkan al-fatihah ini kepada….rasul-rasul,nabi-nabi Allah,keluarga dan sahabat-sahabat Rasulullah,para wali-wali Allah,kedua ibu bapaku,kepada arwah bapak bagindo muchtar dan guru-guru serta kepada kaum muslimin dan muslimat,mukminin dan mukminat dan juga kepada diriku sendiri…………..al-fatihah.
AMALAN PERJALANAN / GERAK
Bismillah & Mengucap 3 x
BACA DOA INI
Ya Allah Ya Rabbi Ya Tuhanku
Makbulkanlah permintaanku Ya Allah
Ampunilah dosa dosaku zahir dan batin Ya Allah
Bersihkanlah Ruhani, Jasmaniku serta Jasadku
Tiada aku yang berkuasa – Allah Yang Berkuasa
Allah Maha Tahu segala-galanya
Ya Allah Tunjukkanlah PENGAKUAN DIRIKU yang sebenar-benarnya
Ya Allah Tunjukkanlah SIAPA AKU SEBENARNYA
Ya Allah Tunjukkanlah PERJALANAN AKU yang sebenarnya yakni PERJALANAN SIRATUL MUSTAQIM
Ya Allah KEMBALIKAN aku ke PANGKAL JALAN.
Tiada aku yang berkuasa – Allah-lah Yang Maha Berkuasa
Plus DOA PERIBADI ( jika ada )
DOA PENUTUP / KEMBALI
Ya Allah Ya Rabbi Ya Tuhanku
MAKBULKAN-lah permintaanku Ya Allah
KEMBALIKAN-lah aku SEPERTI BIASA
Tiada aku yang berkuasa – Allah –lah Yang Maha Berkuasa
CARA
Tutup 10 jari
Istighafar 3 x
Alhamdulillah 1 xSalam kekanan – Ya Allah - Salam kekiri – Ya Muhammad
PENGISIAN CAHAYA NURILAHI
Bismillah
Mengucap
DOA
Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim
Makbulkan permohonanku ini
ISIKAN-lah PANCARAN CAHAYA NURILAHI
melalui UBUN UBUNKU
kedua belah tapak tanganku
seluruh anggotaku
seluruh jasadku
ruhani dan jasmaniku
Tiada aku yang berkuasa
Allah-lah Yang Maha Berkuasa
BERZIKIR-lah
Allah – Allah - Allah
RAHSIA KUNCI WASIAT
Anak kunci Serbaguna - Cara Cara mengamalkannya
Istighafar 3 X
A-uuzubillah minash syaitonil rojim
Bismillahi Rahmani Rahim
MENGUCAP 3 X
Mohon hajat kepada Allah
kemudian pegang kunci itu (Alif,Lam,Mim)
Tarik nafas sambil silang kedua tangan=kanan didalam dan kiri diluar berbentuk lam jalallah,
sambil zikr allah 9x,
kemudian letak kunci didahi sambil ucapkan
kalimah syahadah 1 X,
dan turun kearah pusat kemudian telan air liur,
pastu buat kalimah lam jalallah dengan jari kanan dimulai di bahu kanan sambil membaca bismillahi rahmani rahim dan allahu akbar.....
PENUTUP ..sama dengan amalan sebelumnya
UNTUK PAGAR DIRI CARANYA SAMA SEPERTI DIATAS.
kalau kita nak buat ubat guna air jadi guna tangan kanan yg ada kunci tu atau kedua dua tangan...pun boleh juga arahkan kepada air tu.....
SEMIDI / ZIKIR NAFAS 3 SEGI
Pilihan je – tak buat takpe
Baca Password
Sambil tangan diletakkan atas peha dengan keadaan terbuka, dan pejamkan mata serta memandang dengan mata hati kedalam diri sambil berzikir ikut aturan nafas
Iaitu…
Nafas masuk……….5 hitungan
Tahan nafas…………5 hitungan
Nafas keluar………..5 hitungan
Jika kita telah lama membawa hitungan ini maka naikkanlah bilangan nya itu
10……..hitungan
15……..hitungan
20……..hitungan
*masuk dan keluar nafas melalui hidung
PENUTUP – SAMA DENGAN AMALAN SEBELUMNYA
SIMPAN AMAL
Ya Allah Ya Tuhanku…
Simpanlah amal rahsiaku didalam
SIFAT MA’BUD ZAT TUHAN,
simpan didalam FUAD, didalam JANTUNG didalam INSAN .
Insan BERKAMIL INSAN dengan SIFAT 20..
Sifat yang terkandung didalam Kalimah ….
LA ILAHA ILLALLAH HU HAQ.
.............................................................................
TAFAKUR 1 (TATA CARA BERSERAH DIRI KEPADA ALLAH)
Ibarat Bayi Tidak Bisa Apa-apa
Tafakur adalah perilaku seseorang dalam rangka berserah diri pada Tuhan.Ia tidak tahu apa-apa,karenanya tidak mempunyai tujuan.Ibarat bayi yg hanya manut-manut saja,menjalankan pepesten(takdir).Apa saja diterima.Duduk tafakur melakukan perenungan.Bagaimana tafakur yg benar?
Tafakur berbeda dengan meditasi.Perbedaannya pada: tata cara dan aturan-aturan khusus.Tafakur adalah mengheningkan cipta,tafakur memusatkan segenap pikiran (dengan meniadakan segala hasrat jasmaniah).Aturan khususnya,diam dengan posisi duduk tegak(bersila).Mengatur pernapasan sedemikian rupa,halus,keluar masuknya nafas tidak boleh tersedak-sedak (megap-megap).
orang yg melakukan tafakur adalah orang yg tidak tahu,belum mengerti apa-apa,tidak memiliki apa-apa.Bertafakur berarti melakukan perenungan.Berserah diri.Intinya pendekatan diri kepada tuhan sama sekali tidak memiliki tujuan juga tidak memiliki keinginan atau tuntutan.
Orang yg melakukan tafakur diibaratkan bayi.Tidak tahu apa-apa,tidak tahu mana arah utara,selatan,timur maupun barat.Ia tidak memiliki kemampuan apa-apa,sehingga dipukul,dibentak,dibunuh atau diapakan diam saja.apakah bayi itu akan diberi umur hanya 2tahun atau hidup sampai 100tahun,hanya menjalani saja.
Panembahan
Orang yg berserah diri pada tuhan sudah barang tentu berkaidah dengan panembahan(menyembah).Orang yg beribadah,yg perlu dipahami bahwa panembahan yg dimaksud bukan sholat.Sebab,bertafakur tidak sama dengan sholat.Tetapi menyembah dalam arti beribadah.Tata caranya dengan duduk bersila,mengosongkan pikiran,berkonsentrasi penuh.
Karena menyembah ,maka berhubungan dengan tuhan.orang yg sedang melakukan kontak dengan Tuhan,alam pikir harus dikosongkan.Pikiran yg macam-macam,ingatan yg macam-macam,keinginan keinginan yg macam-macam,harus diusir jauh-jauh.Yg harus difungsikan adalah hati.suara hati,jeritan hati,keinginan hati untuk menuju Tuhan.
Melakukan tafakur bukan berarti diam membisu dan mematung.Secara fisik memang demikian,tapi dalam ruhani harus ramai,bergemuruh ramai dalam diam,bergemuruh dalam kesunyian.Yg ramai ialah suara hati.
Selaras
Agar pikiran tidak melayang ke mana-mana,maka harus diisi.Isinya adalah dzikir.Dzikir yg harus dibaca,harus selaras antara hati dan pikiran.Artinya,dzikir yg dibaca didengar sendiri,dibaca terus menerus,diresapi dan dijaga sedemikian rupa agar alam pikir tidak melayang kemana-mana.kalau pikiran keluar jalur,harus dikembalikan ke jalur hati,sehingga terjaga terus.Dzikir yg harus dibaca banyak sekali.Setiap guru punya anjuran sendiri-sendiri.ada yg mewajibkan berdzikir kalimat tauhid”Laa ilaaha illallah”.Ada yg kalimat pendek mengambil dari asmaul husna ,misalnya ” Yaa hayyu yaa Qoyyum”.
Tapi,biasanya untuk penyerahan diri adalah berdzikir memuji Tuhan,yaitu membaca tasbih “Subhaanallah walhamdulilah walaailla haillallahu allahu akbar laa haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim.Kalimat dzikir tsb dibaca dalam kondisi duduk bersila secara terus menerus.Tidak merasa bosan.Malahan harus merasa enjoy.Jika sudah merasa enak,maka senantiasa akan kurang.Lamanya juga tidak diperdulikan
Waktu untuk bertafakur sebenarnya tidak ada aturan,bisa siang,sore,pagi,atau malam.Tetapi yg paling baik dilakukan pada tengah malam tatkala orang-orang sudah terlelap,sehingga memperoleh kesunyian-kesunyian di malam hari.
Dzikir dalam tafakur berarti suara hati.Tanpa suara,tanpa kata-kata juga gerakan-gerakan.Ini berbeda dengan tata cara berdzikir yg ada cara duduk,gerakan badan dan suara.Ada geleng-geleng ,manggut-manggut dan lainnya.
” Wahai manusia ! Sesungguhnya kamu harus berusaha dengan usaha yang sungguh-sungguh untuk bertemu dengan Tuhanmu, sampai kamu bertemu dengan-Nya “. ( QS Al Insyiqoq 84 : 6 )
Abu Huroiroh r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Solallohu Alaihi Wasallam bersabda, “Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: Apabila hamba-Ku senang untuk bertemu dengan-Ku, Aku pun senang untuk bertemu ...dengannya. Dan jika dia tidak suka untuk bertemu dengan-Ku, Aku pun tidak suka untuk bertemu dengannya.” (HR. Imam Malik, hadits shahih)
Membuka Rahasia Diri melalui ILMU TAFAKUR.” “Membina kekuatan jiwa,mental dan penyembuhan penyakit zahir dan batin” Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala “Maka ingatlah kepada-Ku, nescaya Aku ingat kepadamu (bersama dan melindungi hambaNya)… “(al-Baqoroh: 152)
adalah tenaga dari Illahi, ia mempunyai cahaya yang hebat yang datang dari alam Lahut. Energi zikir akan menysucikan segala kekotoran pada qolbu sehingga qolbunya akan terkeluar cahaya alam Lahut yang tertutup selama ini disebabkan kekotorannya.
Cahaya ini akan bersinar dan meningkatkan frekuensi cahaya pada qolbi dan seterusnya mengeluarkan segala tenaga yang rendah pada jiwanya (mazmumah). Ia juga akan bergerak menguatkan Ruh Sultoni yaitu cahaya akal sehingga akalnya mempunyai daya ketahanan yang kuat, berfikir tajam dan kreatif.
Zikir yang digabungkan dengan teknik pernafasan yang betul, akan memberikan kesan yang lebih hebat.
Imam Ghazali mengatakan zikir yang dilakukan dengan cara menahan nafas akan mempercepatkan proses penyucian hati (membakar mazhumah). Pernafasan yang betul akan memaksimumkan penyerapan oksigen yang amat penting dalam kehidupan dan kesehatan manusia.Kekurangan oksigen menyebabkan seseorang terdedah pada berbagai penyakit.
Tafakur juga dapat merawat gangguan halus sama ada dari sihir atau pun jin ialah dengan mengeluarkan penyakit dari diri serta memastikan pesakit mempunyai sistem pertahanan yang kuat agar segala iblis atau sihir tidak dapat menembusinya lagi setelah ia sembuh. Rawatan energi zikir juga akan menumpukan pengumpulan tenaga zikir pada qolbu untuk mengeluarkan syaitan dari dalam darah. Apabila tenaga zikir terkumpul di jantung, maka ia akan menghantar tenaga itu ke seluruh badan melalui sistem peredaran darah, seterusnya menghancurkan segala tenaga yang rendah (jin dan syaitan) tidak kira di mana ia berada dalam tubuh pesakit.
(Zikir Nafas)
Setiap kita yang hidup mesti mempunyai nafas, melihat, mendengar, merasa dan ini semua termasuk di dalam sifat al hayat. Kita boleh hidup tanpa mata, telinga, tangan dan anggota tubuh yang lain tetapi kita tidak boleh hidup tanpa nafas. Kita boleh berjalan, berkata-kata dan melakukan apa saja, ini semua berlaku kerana qudrot dan irodat dari Allah. Dan nafas berada didalam qudrot dan irodat Allah.
Di mana permulaan dan letaknya nafas ini?
Untuk mengetahuinya kita harus kembali pada asal kejadian kita yaitu di antara pertalian ibu dan anaknya. Mula terjadi benih diperut ibu ialah di bagian PUSAT. Di situlah mulanya nafas dan dari situ bermula benih itu membesar menjadi anggota tubuh yang sempurna.
Dimanakah letaknya rahasia diri kita yang sebenarnya?
Letaknya rahsia diri kita ialah di atas PUSAT (jaraknya dua jari diatas pusat). Kerana di situlah mulanya kejadian kita. Dan situlah letaknya pengenalan kita pada Allah. Untuk mencapai kemaqom tersebut ada 3 tahap atau latihan yang perlu kita lakukan.
-Menfanakan diri (mematikan diri)
-Mengqasadkan diri dalam afal Allah (perbuatan Allah)
-Mengqasadkan diri dalam ilmu Allah (pengetahuan Allah)
Pengetahuan Allah amat luas dan tidak terbatas.
Kalau Dia tidak berpengetahuan, munkinkah terjadi segala sesuatu ini?
Tentu tidak akan terjadi.
Mustahil kalau Allah itu tidak tahu. Adapun pengetahuan manusia makhluk tetap terbatas. Sedang Allah Yang Maha Ada, justeru Dialah yang mencipta akal dan pengetahuan.
Dan kunci/pokoknya amalan ini ialah: Lahaulawala quwwata illa billahil aliyyil azhim
Tahap 1:
Ucapkan Dua Kalimah Syahadah secara tidak putus sebanyak 3 kali. Iaitu لااله الا الله tarik nafas ( memberi makna هو tanpa kita sebut samada melalui mulut atau dengan hati)
Perhatikan turun naiknya nafas kita. Tarik dan hembuskan nafas kita dengan menggunakan kaedah pernafasan perut.
Apabila kita tarik nafas perut kita akan kembung, bukannya dada (boleh dilakukan samada nak menahan nafas selama mana yang kita mampu - atau tidak menahan nafas. Ingat saja kepada Allah - semasa menarik nafas biarkan udara masuk melalui hidung)
Jika kita guna kaedah menahan nafas, - Bila nafas tak tertahan lagi lepaskan perlahan-lahan. dan semasa kita menghembuskan nafas perut kita menjadi kempes seolah-olah kulit perut bertemu dengan tulang belakang. ( juga biarkan udara keluar ikut hidung )
Apabila kita melakukan kaedah diatas secara automatik akan berlaku kaedah yang dipanggil Mematikan diri dengan cara mengumpulkan segala nafas kita di bahgian qolbu (maqomnya alam malakut) lalu ditarik ke atas di bahgian ubun-ubun kepala (maqomnya alam jabarut) sambil tarik nafas dan bila sudah sampai kebahgian umbun-umbun kepala lalu tahan nafas untuk seketika. Selepas itu turunkan/lepaskan nafas hingga kebagian 2 jari di atas PUSAT (maqomnya alam lahut) lalu tahan nafas untuk seketika. Kosongkan fikiran dan tumpukan pada point iaitu 2 jari di atas PUSAT. Rasakan pada waktu itu kewujudan kita telah tiada yang ada hanya Allah. Selepas itu ambil nafas seperti biasa seketika dan lakukan lagi latihan 1.( tidak perlu diingat akan pergerakkan nafas itu ianya berlaku secara automatik - dengan sendiri)
Tahap 2
Mengqasadkan diri kita pada pergerakan Allah yaitu segala gerakan yang berlaku pada diri kita bukan lagi gerakan kita tetapi adalah gerakan Allah. Kembali pada pokoknya Lahalauwala quwata illabillahil aliyil azhim. Bahawasanya apa saja gerakan yang berlaku pada diri kita bukan lagi gerakan kita tapi adalah qudrat dan iradat Allah.
Misalnya: Kita lakukan latihan 1 dan bila sampai saja di point (PUSAT - setelah nafas habis dilepaskan) kita bermohan pada Allah agar memberi kita pergerakan . Dan selepas itu serahkan segala-galanya pada gerakan Allah. jangan difikirkan apakah gerakan yang hendak kita lakukan. Pergerakan ini boleh digunakan dalam membantu dalam kesusahan seperti scan tubuh pesakit. Kosongkan fikiran kita dan biarkan tubuh kita beregrak dengan sendirinya. Waktu itu bukan kita lagi yang mengawal tubuh kita tetapi adalah dari gerakan qudrat iradat Allah. Setiap apapun yang disaksikan oleh mata hendaklah ditanggapi oleh hati bahwa itu adalah af’al Allah (perbuatan) dari pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala
Tahap 3
Mengqasadkan diri kita di dalam ilmu Allah iatu segala apa yang akan berlaku semuanya adalah di dalam ilmu dan ketentuan Allah. (LA HAULA WA LA QUWWATA ILLA BILLAHIL-ALIYYIL AZHIM) Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan(daya dan kekuatan) Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.
Hadis Rosulullah Solallohu Alayhi Wasallam
LA TATAHARROKU DZARROTUN ILLA BI IDZNILLAHI.
Tidak bergerak satu zarrah juapun melainkan atas izin Allah.
Untuk mencapai tahap yang sempurna harus perbanyakanlah kita beribadah kepada Allah kerana semakin kita dekat dan mesra dengan Allah semakin tinggi dan menyerahlah apa yang kita tuntut ini.
Di dalam mengamalkan amalan ini janganlah ada sifat sombong, riya, takabbur, hasad dengki di dalam diri kita kerana sekiranya ada salah satu dari sifat-sifat ini di dalam diri kita maka amalan ini tidak akan menjadi kerana ilmu ini juga berada di dalam qudrot irodat Allah. Serahkan segala-galanya pada urusan Allah kerana kita adalah manusia yang lemah yang tiada daya dan kekuatan.
Siapa yang mengenal dirinya, tentu dia mengenal Tuhannya dan siapa yang mengenal Tuhannya, maka binasalah dirinya.”
Tambahan :-
Ucapkan Dua Kalimah Syahadah secara tidak putus sebanyak 3 kali. Iaitu لااله الا الله tarik nafas ( memberi makna هو tanpa kita sebut samada melalui mulut atau dengan hati)
Sesudah nafas tak tertarik lagi lalu sebutkan kalimah محمد روسول الله kemudian teruskan dengan berzikir الله...... الله ...... الله kalau boleh yang sedang menyebut الله itu ialah Allah.. ( tanpa ada kesedaran kita sedang berzikir )
URUTAN AMALAN ( tertib )
1-Pembukaan Amalan...
2-Perjalanan GERAK..
3-Pengisian NURILAHI...
4-Kunci Wasiat..
5-Tafakur Nafas
6-Tafakur Nafas 3 – Segi
7-Simpan Amal
Tafakkur atau Gerak Bapak Bagindo Muchtar
Boleh dilakukan setiap masa tanpa apa apa syarat ..dalam keadaan duduk selesa atau baring …
CARA PERSEDIAAN
Matikan segala gerak fizikal
Mati segala gerakan otak = fikiran
Letakkan kedua tapaktangan diatas kepala lutut atau didepan dada selaras dgn kedudukan JANTUNG
Tundukkan kepala dan pandang jantung
Boleh buka mata atau lelap mata
Fokuskan perhatian kepada keluar masuk nafas
Ujudkan RASA TENANG ..kemudian
Baca …Istiqfar…….3x
Baca…Auzubillahi minash syaitonil rojim
Baca….Bismilahi rahmani rahim
Mengucap…….3x
PERJALANAN SIROTHOL MUSTAQIM
(HAKIKAT GERAK KALIMAH TAUHID)
PEMBUKAAN AMALAN
Auzubillahi minassyaitonir rojim
Bismillahi rahmani rahim
Ashadu an la ilaha illallah wa ashadu anna muhammadur rosulullah
La haula wala quwwata illa billahi aliyul adzim
Astaqfirullahal adzim………3x
Selawat……..3x
1) ila hadratin nabi muhammadin Mustafa rosulillahi s.a.w saiun lillahi lahu………al-fatihah
2) ya Allah hamba hadiahkan al-fatihah ini kepada….rasul-rasul,nabi-nabi Allah,keluarga dan sahabat-sahabat Rasulullah,para wali-wali Allah,kedua ibu bapaku,kepada arwah bapak bagindo muchtar dan guru-guru serta kepada kaum muslimin dan muslimat,mukminin dan mukminat dan juga kepada diriku sendiri…………..al-fatihah.
AMALAN PERJALANAN / GERAK
Bismillah & Mengucap 3 x
BACA DOA INI
Ya Allah Ya Rabbi Ya Tuhanku
Makbulkanlah permintaanku Ya Allah
Ampunilah dosa dosaku zahir dan batin Ya Allah
Bersihkanlah Ruhani, Jasmaniku serta Jasadku
Tiada aku yang berkuasa – Allah Yang Berkuasa
Allah Maha Tahu segala-galanya
Ya Allah Tunjukkanlah PENGAKUAN DIRIKU yang sebenar-benarnya
Ya Allah Tunjukkanlah SIAPA AKU SEBENARNYA
Ya Allah Tunjukkanlah PERJALANAN AKU yang sebenarnya yakni PERJALANAN SIRATUL MUSTAQIM
Ya Allah KEMBALIKAN aku ke PANGKAL JALAN.
Tiada aku yang berkuasa – Allah-lah Yang Maha Berkuasa
Plus DOA PERIBADI ( jika ada )
DOA PENUTUP / KEMBALI
Ya Allah Ya Rabbi Ya Tuhanku
MAKBULKAN-lah permintaanku Ya Allah
KEMBALIKAN-lah aku SEPERTI BIASA
Tiada aku yang berkuasa – Allah –lah Yang Maha Berkuasa
CARA
Tutup 10 jari
Istighafar 3 x
Alhamdulillah 1 xSalam kekanan – Ya Allah - Salam kekiri – Ya Muhammad
PENGISIAN CAHAYA NURILAHI
Bismillah
Mengucap
DOA
Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim
Makbulkan permohonanku ini
ISIKAN-lah PANCARAN CAHAYA NURILAHI
melalui UBUN UBUNKU
kedua belah tapak tanganku
seluruh anggotaku
seluruh jasadku
ruhani dan jasmaniku
Tiada aku yang berkuasa
Allah-lah Yang Maha Berkuasa
BERZIKIR-lah
Allah – Allah - Allah
RAHSIA KUNCI WASIAT
Anak kunci Serbaguna - Cara Cara mengamalkannya
Istighafar 3 X
A-uuzubillah minash syaitonil rojim
Bismillahi Rahmani Rahim
MENGUCAP 3 X
Mohon hajat kepada Allah
kemudian pegang kunci itu (Alif,Lam,Mim)
Tarik nafas sambil silang kedua tangan=kanan didalam dan kiri diluar berbentuk lam jalallah,
sambil zikr allah 9x,
kemudian letak kunci didahi sambil ucapkan
kalimah syahadah 1 X,
dan turun kearah pusat kemudian telan air liur,
pastu buat kalimah lam jalallah dengan jari kanan dimulai di bahu kanan sambil membaca bismillahi rahmani rahim dan allahu akbar.....
PENUTUP ..sama dengan amalan sebelumnya
UNTUK PAGAR DIRI CARANYA SAMA SEPERTI DIATAS.
kalau kita nak buat ubat guna air jadi guna tangan kanan yg ada kunci tu atau kedua dua tangan...pun boleh juga arahkan kepada air tu.....
SEMIDI / ZIKIR NAFAS 3 SEGI
Pilihan je – tak buat takpe
Baca Password
Sambil tangan diletakkan atas peha dengan keadaan terbuka, dan pejamkan mata serta memandang dengan mata hati kedalam diri sambil berzikir ikut aturan nafas
Iaitu…
Nafas masuk……….5 hitungan
Tahan nafas…………5 hitungan
Nafas keluar………..5 hitungan
Jika kita telah lama membawa hitungan ini maka naikkanlah bilangan nya itu
10……..hitungan
15……..hitungan
20……..hitungan
*masuk dan keluar nafas melalui hidung
PENUTUP – SAMA DENGAN AMALAN SEBELUMNYA
SIMPAN AMAL
Ya Allah Ya Tuhanku…
Simpanlah amal rahsiaku didalam
SIFAT MA’BUD ZAT TUHAN,
simpan didalam FUAD, didalam JANTUNG didalam INSAN .
Insan BERKAMIL INSAN dengan SIFAT 20..
Sifat yang terkandung didalam Kalimah ….
LA ILAHA ILLALLAH HU HAQ.
.............................................................................
TAFAKUR 1 (TATA CARA BERSERAH DIRI KEPADA ALLAH)
Ibarat Bayi Tidak Bisa Apa-apa
Tafakur adalah perilaku seseorang dalam rangka berserah diri pada Tuhan.Ia tidak tahu apa-apa,karenanya tidak mempunyai tujuan.Ibarat bayi yg hanya manut-manut saja,menjalankan pepesten(takdir).Apa saja diterima.Duduk tafakur melakukan perenungan.Bagaimana tafakur yg benar?
Tafakur berbeda dengan meditasi.Perbedaannya pada: tata cara dan aturan-aturan khusus.Tafakur adalah mengheningkan cipta,tafakur memusatkan segenap pikiran (dengan meniadakan segala hasrat jasmaniah).Aturan khususnya,diam dengan posisi duduk tegak(bersila).Mengatur pernapasan sedemikian rupa,halus,keluar masuknya nafas tidak boleh tersedak-sedak (megap-megap).
orang yg melakukan tafakur adalah orang yg tidak tahu,belum mengerti apa-apa,tidak memiliki apa-apa.Bertafakur berarti melakukan perenungan.Berserah diri.Intinya pendekatan diri kepada tuhan sama sekali tidak memiliki tujuan juga tidak memiliki keinginan atau tuntutan.
Orang yg melakukan tafakur diibaratkan bayi.Tidak tahu apa-apa,tidak tahu mana arah utara,selatan,timur maupun barat.Ia tidak memiliki kemampuan apa-apa,sehingga dipukul,dibentak,dibunuh atau diapakan diam saja.apakah bayi itu akan diberi umur hanya 2tahun atau hidup sampai 100tahun,hanya menjalani saja.
Panembahan
Orang yg berserah diri pada tuhan sudah barang tentu berkaidah dengan panembahan(menyembah).Orang yg beribadah,yg perlu dipahami bahwa panembahan yg dimaksud bukan sholat.Sebab,bertafakur tidak sama dengan sholat.Tetapi menyembah dalam arti beribadah.Tata caranya dengan duduk bersila,mengosongkan pikiran,berkonsentrasi penuh.
Karena menyembah ,maka berhubungan dengan tuhan.orang yg sedang melakukan kontak dengan Tuhan,alam pikir harus dikosongkan.Pikiran yg macam-macam,ingatan yg macam-macam,keinginan keinginan yg macam-macam,harus diusir jauh-jauh.Yg harus difungsikan adalah hati.suara hati,jeritan hati,keinginan hati untuk menuju Tuhan.
Melakukan tafakur bukan berarti diam membisu dan mematung.Secara fisik memang demikian,tapi dalam ruhani harus ramai,bergemuruh ramai dalam diam,bergemuruh dalam kesunyian.Yg ramai ialah suara hati.
Selaras
Agar pikiran tidak melayang ke mana-mana,maka harus diisi.Isinya adalah dzikir.Dzikir yg harus dibaca,harus selaras antara hati dan pikiran.Artinya,dzikir yg dibaca didengar sendiri,dibaca terus menerus,diresapi dan dijaga sedemikian rupa agar alam pikir tidak melayang kemana-mana.kalau pikiran keluar jalur,harus dikembalikan ke jalur hati,sehingga terjaga terus.Dzikir yg harus dibaca banyak sekali.Setiap guru punya anjuran sendiri-sendiri.ada yg mewajibkan berdzikir kalimat tauhid”Laa ilaaha illallah”.Ada yg kalimat pendek mengambil dari asmaul husna ,misalnya ” Yaa hayyu yaa Qoyyum”.
Tapi,biasanya untuk penyerahan diri adalah berdzikir memuji Tuhan,yaitu membaca tasbih “Subhaanallah walhamdulilah walaailla haillallahu allahu akbar laa haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim.Kalimat dzikir tsb dibaca dalam kondisi duduk bersila secara terus menerus.Tidak merasa bosan.Malahan harus merasa enjoy.Jika sudah merasa enak,maka senantiasa akan kurang.Lamanya juga tidak diperdulikan
Waktu untuk bertafakur sebenarnya tidak ada aturan,bisa siang,sore,pagi,atau malam.Tetapi yg paling baik dilakukan pada tengah malam tatkala orang-orang sudah terlelap,sehingga memperoleh kesunyian-kesunyian di malam hari.
Dzikir dalam tafakur berarti suara hati.Tanpa suara,tanpa kata-kata juga gerakan-gerakan.Ini berbeda dengan tata cara berdzikir yg ada cara duduk,gerakan badan dan suara.Ada geleng-geleng ,manggut-manggut dan lainnya.
AKIBAT DAN BAHAYANYA BILA TIDAK BERTAREKAT*
*Tanya :*Apa akibat dan bahayanya jika seorang Muslim yang mengaku beriman tidak mempelajari Tarekat?
*Jawab :* Jika seorang Muslim yang mengaku beriman hanya mempelajari Ilmu Syari’at saja dan tidak mempelajari Tarekat sampai akhir hayatnya, maka nanti pada saat sakaratul maut *segala amalan Syari’atnya (shalat, puasa, zakat, dan haji) tidak akan dapat menolongnya.* Menurut Al-Ghazali, yang dimaksud dengan sakaratul maut yaitu, dikatakan telah mati, nyawanya masih ada, dikatakan masih hidup, sudah tidak bisa apa-apa. Ada tujuh sifat ma'ani pada Allah Taala yang telah dipinjamkan kepada manusia, diantaranya yaitu :
1. *Hayat,* sedangkan pada manusia adalah yang dihidupkan.
2. *Ilmu,*sedangkan pada manusia adalah yang diberi ilmu.
3. *Iradat,* sedangkan pada manusia adalah yang diberi kehendak.
4. *Qudrat,* sedangkan pada manusia adalah yang diberi kemampuan.
5. *Bashar,* sedangkan pada manusia adalah yang diberi penglihatan.
6. *Sama’*sedangkan pada manusia adalah yang diberi pendengaran.
7. *Kalam,* sedangkan pada manusia adalah yang diberi kemampuan berkata-kata.
Setiap barang pinjaman, pasti akan kembali kepada pemiliknya. Maka pada saat sakaratul maut , *Allah akan mengangkat sifat-Nya yang lima, yang telah ia pinjamkan kepada hamba-hamba-Nya,* diantaranya yaitu sifat
iradat, qudrat, basar, sama’ dan kalam. Maka tinggallah dua sifat yang masih tersisa pada saat sakaratul maut yaitu, *sifat hayat dan ilmu.* Maka pada saat
sakaratul maut tidak ada yang dapat kita lakukan dan siapapun tidak akan ada yang dapat menolong kita sebagaimana *firman Allah dalamm surat as-Syuara ayat 88 :*
ﻳَﻮْﻡَ ﻻَﻳَﻨْﻔَﻊُ ﻣَﺎﻝٌ ﻭَﻻَﺑَﻨُﻮْﻥَ . ﺍِﻻَّﻣَﻦْ ﺃَﺗَﻰ ﺍﻟﻠﻪَ ﺑِﻘَﻠْﺐٍ ﺳَﻠِﻴْﻢٍ .
Artinya : “Pada hari itu harta anak-anak laki-laki tiada berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
Jadi berdasarkan ayat di atas bahwa yang dapat menyelamatkan manusia pada saat sakaratul maut adalah hati yang bersih. Adapun yang *dimaksud dengan hati yang bersih yaitu hati yang selalu mengingat Allah.*Jadi jelaslah *Ilmu Syari’at tidak berlaku dan tidak dapat digunakan pada saat*
*sakaratul maut* , sebab Ilmu Syari’at terkait dengan sifat iradat, qudrat, basar, sama’, dan kalam. Sedangkan kelima sifat tersebut telah diangkat oleh Allah pada saat sakaratul maut. Oleh sebab itu Hadis Nabi yang berbunyi :
ﻟَﻘِّﻨُﻮﺍْ ﻣَﻮْﺗَﺎﻛُﻢْ ﻻَﺍِﻟَﻪَ ﺍِﻻَّﺍﻟﻠﻪُ
Artinya : “Bimbinglah orang yang hendak meninggal dunia dengan ucapan: la ilaha illallah”. (H.R. Muslim).
Hadis di atas *sesungguhnya diperuntukkan kepada orang yang akan mati,* yaitu setiap orang yang masih hidup dan *bukan kepada orang yang akan mati pada saat sakaratul maut.*
Hadis di atas merupakan peringatan kepada orang-orang yang masih hidup supaya mengenal Allah, *sebab apabila kalimah la ilaha illallah dibisikkan kepada* *orang yang akan mati pada saat*
*sakaratul maut tidak akan ada gunanya,* sebab Allah telah mengangkat sifat
sama’ (pendengaran) padanya, mata telah buta, anggota badan telah lumpuh dan kaku.
Maka *tiadalah yang* *dapat menyelamatkan manusia pada saat*
*sakaratul maut selain dirinya sendiri.*
*Apabila ia semasa hidupnya hanya mempelajari Ilmu Syari’at saja, maka binasalah ia, sebab Ilmu Syari’at tidak berlaku pada saat sakaratul maut.*
Lalu ilmu apakah yang berlaku pada saat
sakaratul maut? maka jawabannya dapat diperoleh dari pantun yang berisi nasehat kepada manusia tentang
sakaratul maut:
Pohon jelatang di tepi laut
Gugur bunganya dimakan ikan
Kalaulah datang si Malaikal maut
Ilmu apa yang akan digunakan
Orang nelayan pergi ke laut
Pukat dibawa penangkap ikan
Kalaulah datang si Malaikal maut
Ilmu Hakikat itulah gunakan
Kata bismillah asal mula jadi
Makrifat iman itulah nur Ilahi
Apalah gunanya ilmu dicari
Kalaulah tidak kenal diri
Pandang makrifat di dalam diri
Tempat terjadi ismu Ilahi
Amalan Syari’at belumlah berarti kali
*Amalan hakikat itulah yang dibawa mati*
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa *Ilmu Hakikatlah yang berlaku pada saat sakaratul maut* , sebab hanya dengan *Ilmu Hakikatlah manusia dapat mengingat Allah.* Apabila pada saat akhir hayatnya ia dapat mengingat Allah, maka inilah yang disebut dengan hati yang bersih/selamat (qalbin salim), yaitu *tidak ada yang diingatnya selain Allah.* Di sinilah penentuan apakah manusia itu masuk surga atau neraka. Apabila pada saat akhir hayatnya ia dapat mengingat Allah, maka surgalah baginya. *Adapun orang yang tidak dapat mengingat Allah pada akhir hayatnya, maka nerakalah baginya.*
Adapun *bagi orang yang dapat mengingat Allah, maka tidak ada hak bagi Malaikat maut untuk mencabut nyawanya. Allahlah yang langsung mencabut nyawanya*
sebagaimana firman Allah dalam surat az-Zumar ayat 42 :
ﺍﻟﻠﻪُ ﻳَﺘَﻮَﻓَّﻰ ﺍْﻷَﻧْﻔُﺲَ ﺣِﻴْﻦَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ
Artinya : *Allahlah yang mencabut nyawa orang yang mengingat Allah ketika matinya.”*
Berdasarkan ayat di atas, Allahlah yang langsung mencabut nyawa orang yang dapat mengingat-Nya di saat wafatnya.
*Para sufi berkata bahwa sesakit-sakit orang yang dicabut oleh Allah nyawanya adalah seperti ia mengangkat takbir ketika hendak sembahnyang. Adapun cara Allah mewafatkan hamba-hamba-Nya yang dapat mengingat-Nya, maka Allah cukup hanya dengan memanggilnya,* sebagaimana dijelaskan di dalam firman Allah dalam surat al-Fajri ayat 27-30 :
ﻳَﺄَﻳَّﺘُﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲُ ﺍﻟْﻤُﻄْﻤَﺌِﻨَّﺔٌ . ﺍِﺭْﺟِﻌِﻰ ﺍِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻚَ ﺭَﺍﺿِﻴَﺔً ﻣَﺮْﺿِﻴَﺔً . ﻓَﺎﺩْﺧُﻠِﻰ ﻓِﻰ ﻋِﺒَﺪِﻯ . ﻭَﺍﺩْﺧُﻠِﻰ ﺟَﻨَّﺘِﻰ .
Artinya : *“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.*
Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Q.S. 89 al-Fajri: 27-30).
Demikianlah penghargaan Allah bagi orang yang dapat mengingat-Nya pada saat wafatnya. Para Malaikat yang mengelilinginya hanya mengucapkan salam kepadanya dan menggiring ruh tersebut ke baitul makmur.
*Adapun bagi orang yang tidak dapat mengingat Allah pada saat wafatnya, maka Allah mewakilkan kepada Malaikat Maut untuk mencabut nyawanya,* sebagaimana firman Allah :
ﻗُﻞْ ﻳَﺘَﻮَﻓَّﻜُﻢْ ﻣَّﻠَﻚُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﻭُﻛِّﻞَ ﺑِﻜُﻢْ ﺛُﻢَّ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮْﻥَ .
Artinya : “Katakanlah Allah akan mewakilkan Malaikal maut untuk mencabut nyawamu, kemudian kepada Tuhanmulah kamu akan kembali”. (Q.S. 32 as-Sajadah: 11).
Selanjutnya di dalam surat an-Nisa Allah menjelaskan orang yang bagaimana yang dicabut oleh Malaikat maut nyawanya, sebagaimana firman Allah :
ﺍِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺗَﻮَﻓَّﻬُﻢُ ﺍﻟْﻤَﻠَﺌِﻜَﺔُ ﻇَﺎﻟِﻤِﻰ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ
Artinya : “Sesungguhnya orang yang diwafatkan Malaikat maut adalah mereka yang menzalimi diri mereka sendiri”. (Q.S. 4 an-Nisa: 97).
Berdasarkan penjelasan ayat di atas bahwa *sesungguhnya orang-orang yang tidak dapat mengenal Allah pada hakikatnya adalah orang-orang yang menzalimi diri mereka sendiri.*
Adapun seenak-enak atau seringan-ringan *Malaikat maut mencabut nyawa manusia adalah seperti kambing dikuliti hidup-hidup.* *Demikianlah jijiknya Allah terhadap orang yang tidak dapat mengingat-Nya,* sehingga Allah mewakilkan kepada Malaikat maut untuk mencabut nyawanya.
*Demikianlah betapa meruginya orang-orang yang hanya mengandalkan amal Syari’at saja* dan mengabaikan *Hakikat*
. *"Orang-orang yang mengabaikan hakikat adalah orang-orang yang menzalimi diri mereka sendiri. Hal ini disebabkan karena *sesungguhnya mereka tidak mengenal yang mereka sembah.* Inilah yang menyebabkan mereka tidak dapat kembali kepada Allah karena sesunggunya sewaktu di dunia mereka tidak pernah mengenal Allah.
*Adapun bagi orang-orang mukmin yang dapat mengingat Tuhannya semasa hidupnya di dunia, maka di yaumil mahsyar wajah mereka pada hari itu berseri-seri* sebagaimana firman Allah :
ﻭُﺟُﻮﻩٌ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻧَّﺎﺿِﺮَﺓٌ . ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻬَﺎ ﻧَﺎﻇِﺮَﺓٌ .
Artinya : “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannyalah mereka melihat. (Q.S. 75 al-Qiyamah: 22-23).
Hadis Nabi SAW :
ﻛُﻨَّﺎﺟُﻠُﻮْﺳًﺎ ﻣَﻊَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻞَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻨَﻈَﺮَ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮِ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺍَﺭْﺑَﻊَ ﻋَﺸَﺮَﺓَ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺍِﻧَّﻜُﻢْ ﺳَﺘَﺮُﻭْﻥَ ﺭَﺑَّﻜُﻢْ ﻋَﻴَﺎﻧًﺎ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺮَﻭْﻥَ ﻫَﺬَﺍﺍﻟْﻘَﻤَﺮَ ﻻَﺗُﻀَﻤُّﻮْﻥَ ﻓِﻰ ﺭُﺅْﻳَﺘِﻪِ ﻓَﺈِﻥِ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﺍَﻥْ ﻻَ ﺗُﻐْﻠَﺒُﻮْﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺻَﻼَﺓٍ ﻗَﺒْﻞَ ﻃُﻠُﻮْﻉِ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲِ ﻭَﺻَﻼَﺓٍ ﻗَﺒْﻞَ ﻏُﺮُﻭْﺑِﻬَﺎ ﻓَﺎﻓْﻌَﻠُﻮﺍْ .
“Kami pernah duduk bersama Rasulullah SAW, lalu beliau memandang rembulan tanggal empat belas, lantas bersabda, “Sesungguhnya kamu akan melihat Tuhanmu dengan terang sebagaimana kamu melihat rembulan itu. Kamu tidak akan ragu sedikitpun dalam melihat-Nya. Dan kalau kamu mampu janganlah terlalaikan melakukan shalat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya, maka kerjakan itu. (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi).
*Adapun bagi orang-orang yang tidak dapat mengingat Allah semasa hidupnya di dunia, maka Allah akan mengumpulkannya dalam keadaan buta, bisu, dan pekak* sebagaimana firman Allah :
ﻭَﻧَﺤْﺸُﺮُﻫُﻢْ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﻤَﺔِ ﻋَﻠَﻰ ﻭُﺟُﻮﻫِﻬِﻢْ ﻋُﻤْﻴًﺎ ﻭَﺑُﻜْﻤًﺎ ﻭَﺻُﻤًّﺎ ﻣَّﺄْﻭَﻫُﻢْ ﺟَﻬَﻨَّﻢُ .
Artinya : “Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu, dan pekak, tempat kediaman mereka adalah neraka jahannam”. (Q.S. 83 al-Isra’: 97).
ﻛَﻶَّ ﺇِﻧَّﻬُﻢْ ﻋَﻦْ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻟَّﻤَﺤْﺠُﻮﺑُﻮﻥَ .
Artinya : “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terlarang dari (melihat) Tuhan mereka.” (Q.S. 83 al-Mutaffifin: 15)
Demikianlah siksaan yang Allah berikan bagi orang-orang yang tidak dapat menggunakan mata, hati, dan pendengarannya untuk mengenal Allah semasa hidupnya di dunia. Adapun bagi orang-orang yang dapat mengingat Allah, maka Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya. *Adapun bagi orang-orang yang tidak dapat mengingat Allah pada saat matinya, maka nerakalah baginya.* Orang-orang yang tidak dapat mengenal Allah sewaktu di dunia, maka *sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang buta di dunia dan di akhirat serta mereka akan dibangkitkan dalam keadaan buta pula* sebagaimana firman Allah :
ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻰ ﻫَﺬِﻩِ ﺃَﻋْﻤَﻰ ﻓَﻬُﻮَ ﻓِﻰ ﺍْﻷَﺧِﺮَﺓِ ﺃَﻋْﻤَﻰ ﻭَﺃَﺿَﻞَّ ﺳَﺒِﻴْﻼً
Artinya : “Barangsiapa yang buta di dunia ini, maka di akhirat nanti ia lebih buta lagi dan lebih sesat jalannya”. (Q.S. 17 al-Isra’: 72).
*Sesungguhnya yang dimaksud dengan buta pada ayat di atas adalah butanya mata hati,* sebagaimana firman Allah :
ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﻻَﺗَﻌْﻤَﻰ ﺍْﻷَﺑْﺼَﺮُ ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﺗَﻌْﻤَﻰ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮْﺏُ ﺍﻟﻠّّﺘِﻲْ ﻓِﻰ ﺍﻟﺼُّﺪُﻭْﺭِ
Artinya : “Sesungguhnya yang buta itu bukanlah mata kepala, tetapi yang buta itu adalah mata hati yang ada di dalam dada.” (Q.S. 22 al-Hadid: 46).
Berdasarkan penjelasan kedua ayat di atas, dapatlah kita ketahui bahwa *sesungguhnya orang-orang yang tidak dapat mengenal Allah pada hakikatnya adalah orang-orang yang buta di dunia dan di akhirat kelak*. Mereka akan dibangkitkan dalam keadaan buta. Ketauhilah sesungguhnya buta mata hati itu lebih parah daripada butanya mata kepala. Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mengutamakan Ilmu Syari’at dan *mengabaikan Hakikat pada hakikatnya adalah membiarkan diri mereka dalam kebutaan dan tidak mengenal Tuhannya.*
ketahuilah, sesungguhnya hanya *dengan mempelajari hakikat/bertarekatlah* manusia akan mengetahui bahwa hati yang bernama
*latifah robbaniyah* itulah yang mengetahui tentang hakikat Allah Ta’ala dan tidak dapat dicapai oleh oleh khayal, pikiran serta sangka-sangka manusia. Dan hati latifah robbaniyah
itulah yang akan dihisab atau ditanyai oleh Allah Ta’ala kelak.
*RINGKASAN DAN HIMBAUAN PENTING BAGI PARA PEMBACA**
Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa Tasawuf dan Tarekat adalah bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. *Orang yang bertarekat sudah barang tentu bertasawuf,*
namun *orang yang mengkaji Tasawuf tanpa bertarekat adalah *_mustahil_* bagaikan orang yang ingin menyeberangi lautan yang luas tanpa perahu. Oleh sebab itu
*Mempelajari Tarekat/Tasawuf Hukumnya adalah Wajib bagi setiap Muslimin dan Muslimat,* sebab *tanpa Bertarekat* Sudah Pasti *Sesat* , sebab *tidak mengenal yang disembahnya* dan Allah tidak akan memberikan penilaian apa-apa terhadap amal ibadah yang mereka lakukan. Mereka akan dibangkitkan Allah dalam keadaan buta disebabkan butanya mata hati mereka dari mengenal Allah sewaktu di dunia dan *tidak ada tempat bagi mereka (orang-orang yang tidak bertarekat)* selain Neraka.
Mengingat begitu urgennya,
*Tarekat/Tasawuf sebagai satu-satunya cara untuk mentauhidkan Allah,* maka segala paham yang berupaya merongrong dan menolak ajaran Tarekat/Tasawuf adalah wajib ditolak.
Ajaran Wahabi (yang saat ini menamakan diri mereka dengan paham
Salafi atau sejenisnya) adalah salah satu paham yang harus diwaspadai, disebabkan kebencian mereka terhadap ajaran Tarekat/Tasawuf. Paham Wahabi dengan segala ajarannya harus dijauhi sebab dapat menyebabkan umat Islam menjadi sesat karena tidak mengenal Tuhan yang disembahnya. Sudah sewajarnya umat Islam menyadari bahwa segala tuduhan negatif yang dilontarkan kepada Ahli Tasawuf dan ajarannya adalah propaganda yang bersumber dari orang-orang yang awam dan sama sekali tidak paham tentang Tasawuf.
Meskipun penulis telah berupaya semaksimal mungkin dalam membela Tarekat/Tasawuf dengan berdasarkan dalil naqli dan aqli serta telah menyebutkan *bahwa bertarekat itu wajib hukumnya,*namun lewat tulisan ini penulis juga menghimbau kepada para pembaca agar terlebih dahulu menguji atau meneliti kebenaran ajaran Tarekat yang akan diikutinya, karena tidak ada jaminan bahwa semua Tarekat itu benar-benar dapat menyampaikan pengenalan kepada Allah. Berdasarkan kriteria Tarekat yang telah penulis sebutkan kiranya dapat dijadikan pedoman untuk menyeleksi kebenaran Tarekat yang akan diikuti ajarannya. *Semoga Allah menunjuki kita semua sehingga dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.*
Mari kita kita bertareqoh utk sampai ke hakikat.
#SemogaBermanfaat
*Jawab :* Jika seorang Muslim yang mengaku beriman hanya mempelajari Ilmu Syari’at saja dan tidak mempelajari Tarekat sampai akhir hayatnya, maka nanti pada saat sakaratul maut *segala amalan Syari’atnya (shalat, puasa, zakat, dan haji) tidak akan dapat menolongnya.* Menurut Al-Ghazali, yang dimaksud dengan sakaratul maut yaitu, dikatakan telah mati, nyawanya masih ada, dikatakan masih hidup, sudah tidak bisa apa-apa. Ada tujuh sifat ma'ani pada Allah Taala yang telah dipinjamkan kepada manusia, diantaranya yaitu :
1. *Hayat,* sedangkan pada manusia adalah yang dihidupkan.
2. *Ilmu,*sedangkan pada manusia adalah yang diberi ilmu.
3. *Iradat,* sedangkan pada manusia adalah yang diberi kehendak.
4. *Qudrat,* sedangkan pada manusia adalah yang diberi kemampuan.
5. *Bashar,* sedangkan pada manusia adalah yang diberi penglihatan.
6. *Sama’*sedangkan pada manusia adalah yang diberi pendengaran.
7. *Kalam,* sedangkan pada manusia adalah yang diberi kemampuan berkata-kata.
Setiap barang pinjaman, pasti akan kembali kepada pemiliknya. Maka pada saat sakaratul maut , *Allah akan mengangkat sifat-Nya yang lima, yang telah ia pinjamkan kepada hamba-hamba-Nya,* diantaranya yaitu sifat
iradat, qudrat, basar, sama’ dan kalam. Maka tinggallah dua sifat yang masih tersisa pada saat sakaratul maut yaitu, *sifat hayat dan ilmu.* Maka pada saat
sakaratul maut tidak ada yang dapat kita lakukan dan siapapun tidak akan ada yang dapat menolong kita sebagaimana *firman Allah dalamm surat as-Syuara ayat 88 :*
ﻳَﻮْﻡَ ﻻَﻳَﻨْﻔَﻊُ ﻣَﺎﻝٌ ﻭَﻻَﺑَﻨُﻮْﻥَ . ﺍِﻻَّﻣَﻦْ ﺃَﺗَﻰ ﺍﻟﻠﻪَ ﺑِﻘَﻠْﺐٍ ﺳَﻠِﻴْﻢٍ .
Artinya : “Pada hari itu harta anak-anak laki-laki tiada berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
Jadi berdasarkan ayat di atas bahwa yang dapat menyelamatkan manusia pada saat sakaratul maut adalah hati yang bersih. Adapun yang *dimaksud dengan hati yang bersih yaitu hati yang selalu mengingat Allah.*Jadi jelaslah *Ilmu Syari’at tidak berlaku dan tidak dapat digunakan pada saat*
*sakaratul maut* , sebab Ilmu Syari’at terkait dengan sifat iradat, qudrat, basar, sama’, dan kalam. Sedangkan kelima sifat tersebut telah diangkat oleh Allah pada saat sakaratul maut. Oleh sebab itu Hadis Nabi yang berbunyi :
ﻟَﻘِّﻨُﻮﺍْ ﻣَﻮْﺗَﺎﻛُﻢْ ﻻَﺍِﻟَﻪَ ﺍِﻻَّﺍﻟﻠﻪُ
Artinya : “Bimbinglah orang yang hendak meninggal dunia dengan ucapan: la ilaha illallah”. (H.R. Muslim).
Hadis di atas *sesungguhnya diperuntukkan kepada orang yang akan mati,* yaitu setiap orang yang masih hidup dan *bukan kepada orang yang akan mati pada saat sakaratul maut.*
Hadis di atas merupakan peringatan kepada orang-orang yang masih hidup supaya mengenal Allah, *sebab apabila kalimah la ilaha illallah dibisikkan kepada* *orang yang akan mati pada saat*
*sakaratul maut tidak akan ada gunanya,* sebab Allah telah mengangkat sifat
sama’ (pendengaran) padanya, mata telah buta, anggota badan telah lumpuh dan kaku.
Maka *tiadalah yang* *dapat menyelamatkan manusia pada saat*
*sakaratul maut selain dirinya sendiri.*
*Apabila ia semasa hidupnya hanya mempelajari Ilmu Syari’at saja, maka binasalah ia, sebab Ilmu Syari’at tidak berlaku pada saat sakaratul maut.*
Lalu ilmu apakah yang berlaku pada saat
sakaratul maut? maka jawabannya dapat diperoleh dari pantun yang berisi nasehat kepada manusia tentang
sakaratul maut:
Pohon jelatang di tepi laut
Gugur bunganya dimakan ikan
Kalaulah datang si Malaikal maut
Ilmu apa yang akan digunakan
Orang nelayan pergi ke laut
Pukat dibawa penangkap ikan
Kalaulah datang si Malaikal maut
Ilmu Hakikat itulah gunakan
Kata bismillah asal mula jadi
Makrifat iman itulah nur Ilahi
Apalah gunanya ilmu dicari
Kalaulah tidak kenal diri
Pandang makrifat di dalam diri
Tempat terjadi ismu Ilahi
Amalan Syari’at belumlah berarti kali
*Amalan hakikat itulah yang dibawa mati*
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa *Ilmu Hakikatlah yang berlaku pada saat sakaratul maut* , sebab hanya dengan *Ilmu Hakikatlah manusia dapat mengingat Allah.* Apabila pada saat akhir hayatnya ia dapat mengingat Allah, maka inilah yang disebut dengan hati yang bersih/selamat (qalbin salim), yaitu *tidak ada yang diingatnya selain Allah.* Di sinilah penentuan apakah manusia itu masuk surga atau neraka. Apabila pada saat akhir hayatnya ia dapat mengingat Allah, maka surgalah baginya. *Adapun orang yang tidak dapat mengingat Allah pada akhir hayatnya, maka nerakalah baginya.*
Adapun *bagi orang yang dapat mengingat Allah, maka tidak ada hak bagi Malaikat maut untuk mencabut nyawanya. Allahlah yang langsung mencabut nyawanya*
sebagaimana firman Allah dalam surat az-Zumar ayat 42 :
ﺍﻟﻠﻪُ ﻳَﺘَﻮَﻓَّﻰ ﺍْﻷَﻧْﻔُﺲَ ﺣِﻴْﻦَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ
Artinya : *Allahlah yang mencabut nyawa orang yang mengingat Allah ketika matinya.”*
Berdasarkan ayat di atas, Allahlah yang langsung mencabut nyawa orang yang dapat mengingat-Nya di saat wafatnya.
*Para sufi berkata bahwa sesakit-sakit orang yang dicabut oleh Allah nyawanya adalah seperti ia mengangkat takbir ketika hendak sembahnyang. Adapun cara Allah mewafatkan hamba-hamba-Nya yang dapat mengingat-Nya, maka Allah cukup hanya dengan memanggilnya,* sebagaimana dijelaskan di dalam firman Allah dalam surat al-Fajri ayat 27-30 :
ﻳَﺄَﻳَّﺘُﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲُ ﺍﻟْﻤُﻄْﻤَﺌِﻨَّﺔٌ . ﺍِﺭْﺟِﻌِﻰ ﺍِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻚَ ﺭَﺍﺿِﻴَﺔً ﻣَﺮْﺿِﻴَﺔً . ﻓَﺎﺩْﺧُﻠِﻰ ﻓِﻰ ﻋِﺒَﺪِﻯ . ﻭَﺍﺩْﺧُﻠِﻰ ﺟَﻨَّﺘِﻰ .
Artinya : *“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.*
Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Q.S. 89 al-Fajri: 27-30).
Demikianlah penghargaan Allah bagi orang yang dapat mengingat-Nya pada saat wafatnya. Para Malaikat yang mengelilinginya hanya mengucapkan salam kepadanya dan menggiring ruh tersebut ke baitul makmur.
*Adapun bagi orang yang tidak dapat mengingat Allah pada saat wafatnya, maka Allah mewakilkan kepada Malaikat Maut untuk mencabut nyawanya,* sebagaimana firman Allah :
ﻗُﻞْ ﻳَﺘَﻮَﻓَّﻜُﻢْ ﻣَّﻠَﻚُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﻭُﻛِّﻞَ ﺑِﻜُﻢْ ﺛُﻢَّ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮْﻥَ .
Artinya : “Katakanlah Allah akan mewakilkan Malaikal maut untuk mencabut nyawamu, kemudian kepada Tuhanmulah kamu akan kembali”. (Q.S. 32 as-Sajadah: 11).
Selanjutnya di dalam surat an-Nisa Allah menjelaskan orang yang bagaimana yang dicabut oleh Malaikat maut nyawanya, sebagaimana firman Allah :
ﺍِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺗَﻮَﻓَّﻬُﻢُ ﺍﻟْﻤَﻠَﺌِﻜَﺔُ ﻇَﺎﻟِﻤِﻰ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ
Artinya : “Sesungguhnya orang yang diwafatkan Malaikat maut adalah mereka yang menzalimi diri mereka sendiri”. (Q.S. 4 an-Nisa: 97).
Berdasarkan penjelasan ayat di atas bahwa *sesungguhnya orang-orang yang tidak dapat mengenal Allah pada hakikatnya adalah orang-orang yang menzalimi diri mereka sendiri.*
Adapun seenak-enak atau seringan-ringan *Malaikat maut mencabut nyawa manusia adalah seperti kambing dikuliti hidup-hidup.* *Demikianlah jijiknya Allah terhadap orang yang tidak dapat mengingat-Nya,* sehingga Allah mewakilkan kepada Malaikat maut untuk mencabut nyawanya.
*Demikianlah betapa meruginya orang-orang yang hanya mengandalkan amal Syari’at saja* dan mengabaikan *Hakikat*
. *"Orang-orang yang mengabaikan hakikat adalah orang-orang yang menzalimi diri mereka sendiri. Hal ini disebabkan karena *sesungguhnya mereka tidak mengenal yang mereka sembah.* Inilah yang menyebabkan mereka tidak dapat kembali kepada Allah karena sesunggunya sewaktu di dunia mereka tidak pernah mengenal Allah.
*Adapun bagi orang-orang mukmin yang dapat mengingat Tuhannya semasa hidupnya di dunia, maka di yaumil mahsyar wajah mereka pada hari itu berseri-seri* sebagaimana firman Allah :
ﻭُﺟُﻮﻩٌ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻧَّﺎﺿِﺮَﺓٌ . ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻬَﺎ ﻧَﺎﻇِﺮَﺓٌ .
Artinya : “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannyalah mereka melihat. (Q.S. 75 al-Qiyamah: 22-23).
Hadis Nabi SAW :
ﻛُﻨَّﺎﺟُﻠُﻮْﺳًﺎ ﻣَﻊَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻞَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻨَﻈَﺮَ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮِ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺍَﺭْﺑَﻊَ ﻋَﺸَﺮَﺓَ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺍِﻧَّﻜُﻢْ ﺳَﺘَﺮُﻭْﻥَ ﺭَﺑَّﻜُﻢْ ﻋَﻴَﺎﻧًﺎ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺮَﻭْﻥَ ﻫَﺬَﺍﺍﻟْﻘَﻤَﺮَ ﻻَﺗُﻀَﻤُّﻮْﻥَ ﻓِﻰ ﺭُﺅْﻳَﺘِﻪِ ﻓَﺈِﻥِ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﺍَﻥْ ﻻَ ﺗُﻐْﻠَﺒُﻮْﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺻَﻼَﺓٍ ﻗَﺒْﻞَ ﻃُﻠُﻮْﻉِ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲِ ﻭَﺻَﻼَﺓٍ ﻗَﺒْﻞَ ﻏُﺮُﻭْﺑِﻬَﺎ ﻓَﺎﻓْﻌَﻠُﻮﺍْ .
“Kami pernah duduk bersama Rasulullah SAW, lalu beliau memandang rembulan tanggal empat belas, lantas bersabda, “Sesungguhnya kamu akan melihat Tuhanmu dengan terang sebagaimana kamu melihat rembulan itu. Kamu tidak akan ragu sedikitpun dalam melihat-Nya. Dan kalau kamu mampu janganlah terlalaikan melakukan shalat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya, maka kerjakan itu. (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi).
*Adapun bagi orang-orang yang tidak dapat mengingat Allah semasa hidupnya di dunia, maka Allah akan mengumpulkannya dalam keadaan buta, bisu, dan pekak* sebagaimana firman Allah :
ﻭَﻧَﺤْﺸُﺮُﻫُﻢْ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﻤَﺔِ ﻋَﻠَﻰ ﻭُﺟُﻮﻫِﻬِﻢْ ﻋُﻤْﻴًﺎ ﻭَﺑُﻜْﻤًﺎ ﻭَﺻُﻤًّﺎ ﻣَّﺄْﻭَﻫُﻢْ ﺟَﻬَﻨَّﻢُ .
Artinya : “Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu, dan pekak, tempat kediaman mereka adalah neraka jahannam”. (Q.S. 83 al-Isra’: 97).
ﻛَﻶَّ ﺇِﻧَّﻬُﻢْ ﻋَﻦْ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻟَّﻤَﺤْﺠُﻮﺑُﻮﻥَ .
Artinya : “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terlarang dari (melihat) Tuhan mereka.” (Q.S. 83 al-Mutaffifin: 15)
Demikianlah siksaan yang Allah berikan bagi orang-orang yang tidak dapat menggunakan mata, hati, dan pendengarannya untuk mengenal Allah semasa hidupnya di dunia. Adapun bagi orang-orang yang dapat mengingat Allah, maka Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya. *Adapun bagi orang-orang yang tidak dapat mengingat Allah pada saat matinya, maka nerakalah baginya.* Orang-orang yang tidak dapat mengenal Allah sewaktu di dunia, maka *sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang buta di dunia dan di akhirat serta mereka akan dibangkitkan dalam keadaan buta pula* sebagaimana firman Allah :
ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻰ ﻫَﺬِﻩِ ﺃَﻋْﻤَﻰ ﻓَﻬُﻮَ ﻓِﻰ ﺍْﻷَﺧِﺮَﺓِ ﺃَﻋْﻤَﻰ ﻭَﺃَﺿَﻞَّ ﺳَﺒِﻴْﻼً
Artinya : “Barangsiapa yang buta di dunia ini, maka di akhirat nanti ia lebih buta lagi dan lebih sesat jalannya”. (Q.S. 17 al-Isra’: 72).
*Sesungguhnya yang dimaksud dengan buta pada ayat di atas adalah butanya mata hati,* sebagaimana firman Allah :
ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﻻَﺗَﻌْﻤَﻰ ﺍْﻷَﺑْﺼَﺮُ ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﺗَﻌْﻤَﻰ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮْﺏُ ﺍﻟﻠّّﺘِﻲْ ﻓِﻰ ﺍﻟﺼُّﺪُﻭْﺭِ
Artinya : “Sesungguhnya yang buta itu bukanlah mata kepala, tetapi yang buta itu adalah mata hati yang ada di dalam dada.” (Q.S. 22 al-Hadid: 46).
Berdasarkan penjelasan kedua ayat di atas, dapatlah kita ketahui bahwa *sesungguhnya orang-orang yang tidak dapat mengenal Allah pada hakikatnya adalah orang-orang yang buta di dunia dan di akhirat kelak*. Mereka akan dibangkitkan dalam keadaan buta. Ketauhilah sesungguhnya buta mata hati itu lebih parah daripada butanya mata kepala. Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mengutamakan Ilmu Syari’at dan *mengabaikan Hakikat pada hakikatnya adalah membiarkan diri mereka dalam kebutaan dan tidak mengenal Tuhannya.*
ketahuilah, sesungguhnya hanya *dengan mempelajari hakikat/bertarekatlah* manusia akan mengetahui bahwa hati yang bernama
*latifah robbaniyah* itulah yang mengetahui tentang hakikat Allah Ta’ala dan tidak dapat dicapai oleh oleh khayal, pikiran serta sangka-sangka manusia. Dan hati latifah robbaniyah
itulah yang akan dihisab atau ditanyai oleh Allah Ta’ala kelak.
*RINGKASAN DAN HIMBAUAN PENTING BAGI PARA PEMBACA**
Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa Tasawuf dan Tarekat adalah bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. *Orang yang bertarekat sudah barang tentu bertasawuf,*
namun *orang yang mengkaji Tasawuf tanpa bertarekat adalah *_mustahil_* bagaikan orang yang ingin menyeberangi lautan yang luas tanpa perahu. Oleh sebab itu
*Mempelajari Tarekat/Tasawuf Hukumnya adalah Wajib bagi setiap Muslimin dan Muslimat,* sebab *tanpa Bertarekat* Sudah Pasti *Sesat* , sebab *tidak mengenal yang disembahnya* dan Allah tidak akan memberikan penilaian apa-apa terhadap amal ibadah yang mereka lakukan. Mereka akan dibangkitkan Allah dalam keadaan buta disebabkan butanya mata hati mereka dari mengenal Allah sewaktu di dunia dan *tidak ada tempat bagi mereka (orang-orang yang tidak bertarekat)* selain Neraka.
Mengingat begitu urgennya,
*Tarekat/Tasawuf sebagai satu-satunya cara untuk mentauhidkan Allah,* maka segala paham yang berupaya merongrong dan menolak ajaran Tarekat/Tasawuf adalah wajib ditolak.
Ajaran Wahabi (yang saat ini menamakan diri mereka dengan paham
Salafi atau sejenisnya) adalah salah satu paham yang harus diwaspadai, disebabkan kebencian mereka terhadap ajaran Tarekat/Tasawuf. Paham Wahabi dengan segala ajarannya harus dijauhi sebab dapat menyebabkan umat Islam menjadi sesat karena tidak mengenal Tuhan yang disembahnya. Sudah sewajarnya umat Islam menyadari bahwa segala tuduhan negatif yang dilontarkan kepada Ahli Tasawuf dan ajarannya adalah propaganda yang bersumber dari orang-orang yang awam dan sama sekali tidak paham tentang Tasawuf.
Meskipun penulis telah berupaya semaksimal mungkin dalam membela Tarekat/Tasawuf dengan berdasarkan dalil naqli dan aqli serta telah menyebutkan *bahwa bertarekat itu wajib hukumnya,*namun lewat tulisan ini penulis juga menghimbau kepada para pembaca agar terlebih dahulu menguji atau meneliti kebenaran ajaran Tarekat yang akan diikutinya, karena tidak ada jaminan bahwa semua Tarekat itu benar-benar dapat menyampaikan pengenalan kepada Allah. Berdasarkan kriteria Tarekat yang telah penulis sebutkan kiranya dapat dijadikan pedoman untuk menyeleksi kebenaran Tarekat yang akan diikuti ajarannya. *Semoga Allah menunjuki kita semua sehingga dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.*
Mari kita kita bertareqoh utk sampai ke hakikat.
#SemogaBermanfaat
PELITA MAKRIFAT
- Apakah arti Lailatul Qadar ?
LAILATUL QADAR Apakah erti Lailatul Qadar ?
Mengikut pengertian bahasa perkataan laila bermaksud malam. Manakala perkataan Qadar pula bermaksud mubarokatin (keberkatan) atau saat yang diperingati. Jika kedua-dua perkataan itu digabungkan, ianya maksud Lailatul Qodar iaitu malam keberkatan atau malam yang diperingati.
Mengikut tafsiran ilmu makrifat perkataan Laila merujuk kepada jahil, manakala perkataan Qadar pula merujuk kepada berilmu (alim). Jika kedua-dua perkataan itu digabungkan, ianya membawa maksud iaitu dari bersifat seorang yang jahil kembali bertukar kepada seorang alim yang berilmu. Iaitu terbuka hijab pintu hatinya daripada seorang yang tidak mengenal Allah ianya berubah krpada seorang yang mengenal Allah swt. Saat mengenal Allah itulah yang dikatakan saat keberkatan dan saat-saat yang tidak akan dapat dilupakan buat selama-lamanya.
Ianya juga membawa maksud, daripada suasana gelap dzulmat, hitam kotor, dan jahil fasiq hatinya dari ilmu makrifat bertukar kepada suasana yang gemilang sirna cahaya keberkatan yang amat terang benderang hatinya setelah mendapat ilmu mengenal Allah. Daripada bersifat jahil bertukar kepada sifat mengenal dirinya dan bertukar kepada mengenal Allah.
Dari asalnya bersifat fasiq (tidak mengenal Allah), kini bertukar dan berubah kepada seorang yang bersifat alim (mengenal Allah). Inilah pengertian malam LIlatul Qadar yang sebenar. Kebanyakkan dari kita, bila sebut sahaja malam Lailatul Qadar yang mereka ingat hanya keajaiban pada bulan ramadhan. Seumpama perigi yang kering akan menjadi penuh (melimpah).
Pokok kayu-kayan akan jadi tunduk (rebah) menyembah bumi, angin dan burung yang sedang berlalu, akan jadi berhenti dan sebagainya. Sedangkan intisari daripada maksud Lailatul Qadar itu, sebenarnya bermaksud dari sifat seorang yang buta mata hatinya bertukar kepada cerah mata hatinya kerana memandang dan mengenal Allah.
Menurut Asy Sya'rani, menterjemahkan erti dan makna Lailatul Qadar itu sebagai "SUASANA HATI" Berkata lagi beliau ;- "Apabila engkau ingin hatimu hidup, iaitu hidup yang tidak ada mati sesudahnya lagi, maka keluarlah engkau dari menyandarkan harapan kepada makhlok. Matikan hawamu dan irodatmu.
Diwaktu itulah engkau mulai akan diberi oleh Allah hidup yang sejati, hidup yang tidak ada mati sesudahnya lagi. Pemberian yang tidak ada henti-hentinya lagi. Lalu diangkat nilai engkau dalam hati hamba-hambanya. Sehingga engkau tidak akan sesat untuk selama-lamanya." Apakah erti hidup yang tiada mati sesudahnya ?
Arti hidup yang tiada mati itu, adalah merujuk kepada ilmu mengenal Allah. Sesudah kita berjaya sampi kepada tahap ilmu mengenal Allah, ilmu itu akan tetap hidup di dalam hati-hati kita untuk selama-lamanya, yang tidak akan ada kesudahannya. Dan tidak akan pernah padam dan terhapus dari ingatan hati kita buat selama-lamanya. Wajah Allah inilah yang akan kita bawa sampai kehari kiamat dan hari mengadap Allah Ta'ala.
Apabila kita telah berjumpa dengan ilmu mengenal Allah, ingatan hati kita kepada Allah tidak akan pernah terlupus, walaupun sesaat, walaupun ketika jasad sedang tidur. Sesudah kita mengenal Allah (Mendapat Lailatul Qadar) iktikad atau pegangan hati kita, akan berubah sepenuhnya, daripada bersifat gelap kepada terang, daripada bersifat mati hati bertukar kepada hati yang sentiasa hidup.
Yang tetap hidup tiada mati itu, adalah ingatan kita kepada Allah, ianya akan tetap hidup dihati kita, yang tidak akan ada matinya, bukan bermakna tidak mati jasad, tetapi tidak mati ingatan kita kepada Allah. Bagi yang mendapat Lailatul Qadar ia juga tidak akan sesat selamanya. Apabila ingatan kita kepada Allah tidak pernah mati dan tidak pernah padam, disitulah segala kebesaran Allah, akan dapat kita miliki dan menjiwainya dengan penuh pengertian.
Pengertian itu nantinya akan terzahir keluar, sehingga melimpah ruah. Rasanya seumpama kita ini kaya, yang kekayaannya itu, tidak akan menemui jalan kemiskinan.
LAILATUL QADAR Apakah erti Lailatul Qadar ?
Mengikut pengertian bahasa perkataan laila bermaksud malam. Manakala perkataan Qadar pula bermaksud mubarokatin (keberkatan) atau saat yang diperingati. Jika kedua-dua perkataan itu digabungkan, ianya maksud Lailatul Qodar iaitu malam keberkatan atau malam yang diperingati.
Mengikut tafsiran ilmu makrifat perkataan Laila merujuk kepada jahil, manakala perkataan Qadar pula merujuk kepada berilmu (alim). Jika kedua-dua perkataan itu digabungkan, ianya membawa maksud iaitu dari bersifat seorang yang jahil kembali bertukar kepada seorang alim yang berilmu. Iaitu terbuka hijab pintu hatinya daripada seorang yang tidak mengenal Allah ianya berubah krpada seorang yang mengenal Allah swt. Saat mengenal Allah itulah yang dikatakan saat keberkatan dan saat-saat yang tidak akan dapat dilupakan buat selama-lamanya.
Ianya juga membawa maksud, daripada suasana gelap dzulmat, hitam kotor, dan jahil fasiq hatinya dari ilmu makrifat bertukar kepada suasana yang gemilang sirna cahaya keberkatan yang amat terang benderang hatinya setelah mendapat ilmu mengenal Allah. Daripada bersifat jahil bertukar kepada sifat mengenal dirinya dan bertukar kepada mengenal Allah.
Dari asalnya bersifat fasiq (tidak mengenal Allah), kini bertukar dan berubah kepada seorang yang bersifat alim (mengenal Allah). Inilah pengertian malam LIlatul Qadar yang sebenar. Kebanyakkan dari kita, bila sebut sahaja malam Lailatul Qadar yang mereka ingat hanya keajaiban pada bulan ramadhan. Seumpama perigi yang kering akan menjadi penuh (melimpah).
Pokok kayu-kayan akan jadi tunduk (rebah) menyembah bumi, angin dan burung yang sedang berlalu, akan jadi berhenti dan sebagainya. Sedangkan intisari daripada maksud Lailatul Qadar itu, sebenarnya bermaksud dari sifat seorang yang buta mata hatinya bertukar kepada cerah mata hatinya kerana memandang dan mengenal Allah.
Menurut Asy Sya'rani, menterjemahkan erti dan makna Lailatul Qadar itu sebagai "SUASANA HATI" Berkata lagi beliau ;- "Apabila engkau ingin hatimu hidup, iaitu hidup yang tidak ada mati sesudahnya lagi, maka keluarlah engkau dari menyandarkan harapan kepada makhlok. Matikan hawamu dan irodatmu.
Diwaktu itulah engkau mulai akan diberi oleh Allah hidup yang sejati, hidup yang tidak ada mati sesudahnya lagi. Pemberian yang tidak ada henti-hentinya lagi. Lalu diangkat nilai engkau dalam hati hamba-hambanya. Sehingga engkau tidak akan sesat untuk selama-lamanya." Apakah erti hidup yang tiada mati sesudahnya ?
Arti hidup yang tiada mati itu, adalah merujuk kepada ilmu mengenal Allah. Sesudah kita berjaya sampi kepada tahap ilmu mengenal Allah, ilmu itu akan tetap hidup di dalam hati-hati kita untuk selama-lamanya, yang tidak akan ada kesudahannya. Dan tidak akan pernah padam dan terhapus dari ingatan hati kita buat selama-lamanya. Wajah Allah inilah yang akan kita bawa sampai kehari kiamat dan hari mengadap Allah Ta'ala.
Apabila kita telah berjumpa dengan ilmu mengenal Allah, ingatan hati kita kepada Allah tidak akan pernah terlupus, walaupun sesaat, walaupun ketika jasad sedang tidur. Sesudah kita mengenal Allah (Mendapat Lailatul Qadar) iktikad atau pegangan hati kita, akan berubah sepenuhnya, daripada bersifat gelap kepada terang, daripada bersifat mati hati bertukar kepada hati yang sentiasa hidup.
Yang tetap hidup tiada mati itu, adalah ingatan kita kepada Allah, ianya akan tetap hidup dihati kita, yang tidak akan ada matinya, bukan bermakna tidak mati jasad, tetapi tidak mati ingatan kita kepada Allah. Bagi yang mendapat Lailatul Qadar ia juga tidak akan sesat selamanya. Apabila ingatan kita kepada Allah tidak pernah mati dan tidak pernah padam, disitulah segala kebesaran Allah, akan dapat kita miliki dan menjiwainya dengan penuh pengertian.
Pengertian itu nantinya akan terzahir keluar, sehingga melimpah ruah. Rasanya seumpama kita ini kaya, yang kekayaannya itu, tidak akan menemui jalan kemiskinan.
Selasa, 05 Mei 2020
## WAJAHKU WAJAHMU ##
Bertanya imam Ali kepada Nabi SAW
Imam 'Ali : YA RASULALLAH !
* JIKA YG MENYEMBAH ITU TUBUH SERTA NYAWA ,
* DAN YG DISEMBAH ITU SIFAT KETUHANAN,
* JIKA DEMIKIAN , SIFAT KETUHANAN ITUKAH ALLAH ?
Nabi SAW. : YA ALI !
KETAHUILAH OLEHMU ,
ADAPUN ALLAH ITU HANYA NAMA SAJA
=========
Imam 'Ali. : : JIKA SESEORANG ITU MENYEMBAH NAMA SAJA , APAKAH HUKUMNYA ORANG ITU ?
Nabi SAW : JIKA IA MENYEMBAH NAMA SAJA TIADA DENGAN ILMUNYA , HUKUMNYA ORANG ITU SESAT SEMATA-MATA.
==========
Imam 'Ali. : YA RASULULLAH !
BAGAIMANA FAHAMNYA MENGATAKAN ORANG ITU SESAT ?
Nabi. SAW :
* BARANG SIAPA MENYEMBAH NAMA TIADA DENGAN MAKNA MAKA SESUNGGUHNYA IA TELAH KAFIR
* BARANG SIAPA MENYEMBAH MAKNA , MAKA SESUNGGUHNYA IA TELAH MUNAFIK
* BARANG SIAPA MENYEMBAH NAMA DAN MAKNA , MAKA SESUNGGUHNYA IA TELAH SYIRIK
* BARANG SIAPA MENYEMBAH MAKNA DENGAN HAKIKAT DAN MARIFAT , MAKA ITULAH MUKMIN YG SEBENARNYA
* DAN BARANG SIAPA MENINGGALKAN NAMA DAN MAKNA , MAKA IAITULAH MA'RIFAT DARIPADA SEGALA MA'RIFAT ADANYA.
============
Imam 'Ali : YA RASULULLAH !
BAGAIMANAKAH FAHAMNYA MENYEMBAH NAMA DAN HAKIKAT MARIFAT ITU ?
DAN BAGAIMANAKAH FAHAMNYA MENINGGALKAN NAMA DENGAN MAKNA ITU ?
HAMBA TIADA FAHAM YA JUNJUNGANKU !
Nabi. SAW : KETAHUILAH OLEHMU YA ALI !
JIKA AKU KHABARKAN KEPADAMU NESCAYA SEMPURNALAH SEKALIAN MUKMIN , ISLAM LAH SEMUANYA
============
Imam 'Ali : YA JUNJUNGANKU !
KHABARKANLAH RAHASIA ITU KEPADA HAMBA"
Nabi. SAW. : YA ALI ! BARANG SIAPA YANG MELIHATKU, IA MELIHAT AL HAQ
( Shohih Bukhari, kitab Ta'bir halaman 72 )
Sabda Nabi dalam hadist Qudsi :
"MAN RAANI FAQAD RAAL HAQ"
Ertinya : Sesiapa yg melihat ( rupa )-Ku, maka sesungguhnya ia melihat Al-Haq , Tuhan yg sebenar.
---------------
Tidak ada gunanya engkau banyak bercerita BAB ilmu Ketuhanan ini pada kaum SYARIAT, dia pasti akan mendustakan engkau, dan mengatakan bahawa engkau itu SESAT lagi BAHLOL.
Ini kerana kebanyakan kaum SYARIAT itu adalah kaum yg suka menyalahkan org lain , yg adakalanya layak digelar org MUNAFIK.
Sabda Nabi SAW :
"ORANG MUNAFIK ADALAH ORANG YANG BANYAK MENCELA , DAN MERASAKAN DIRINYA LEBIH BAIK DIBANDINGKAN SAUDARANYA"
(HR. Tirmidzi)
Kaum SYARIAT itu :
* merasa bisa , tetapi tidak bisa merasa,
* merasa sempurna tetapi tidak sempurna merasa,
* merasa paling taat ibadah tetapi tidak tahu ( JAHIL ).
****
ALLAHU AKBAR
cc Guru Batin
* JIKA YG MENYEMBAH ITU TUBUH SERTA NYAWA ,
* DAN YG DISEMBAH ITU SIFAT KETUHANAN,
* JIKA DEMIKIAN , SIFAT KETUHANAN ITUKAH ALLAH ?
Nabi SAW. : YA ALI !
KETAHUILAH OLEHMU ,
ADAPUN ALLAH ITU HANYA NAMA SAJA
=========
Imam 'Ali. : : JIKA SESEORANG ITU MENYEMBAH NAMA SAJA , APAKAH HUKUMNYA ORANG ITU ?
Nabi SAW : JIKA IA MENYEMBAH NAMA SAJA TIADA DENGAN ILMUNYA , HUKUMNYA ORANG ITU SESAT SEMATA-MATA.
==========
Imam 'Ali. : YA RASULULLAH !
BAGAIMANA FAHAMNYA MENGATAKAN ORANG ITU SESAT ?
Nabi. SAW :
* BARANG SIAPA MENYEMBAH NAMA TIADA DENGAN MAKNA MAKA SESUNGGUHNYA IA TELAH KAFIR
* BARANG SIAPA MENYEMBAH MAKNA , MAKA SESUNGGUHNYA IA TELAH MUNAFIK
* BARANG SIAPA MENYEMBAH NAMA DAN MAKNA , MAKA SESUNGGUHNYA IA TELAH SYIRIK
* BARANG SIAPA MENYEMBAH MAKNA DENGAN HAKIKAT DAN MARIFAT , MAKA ITULAH MUKMIN YG SEBENARNYA
* DAN BARANG SIAPA MENINGGALKAN NAMA DAN MAKNA , MAKA IAITULAH MA'RIFAT DARIPADA SEGALA MA'RIFAT ADANYA.
============
Imam 'Ali : YA RASULULLAH !
BAGAIMANAKAH FAHAMNYA MENYEMBAH NAMA DAN HAKIKAT MARIFAT ITU ?
DAN BAGAIMANAKAH FAHAMNYA MENINGGALKAN NAMA DENGAN MAKNA ITU ?
HAMBA TIADA FAHAM YA JUNJUNGANKU !
Nabi. SAW : KETAHUILAH OLEHMU YA ALI !
JIKA AKU KHABARKAN KEPADAMU NESCAYA SEMPURNALAH SEKALIAN MUKMIN , ISLAM LAH SEMUANYA
============
Imam 'Ali : YA JUNJUNGANKU !
KHABARKANLAH RAHASIA ITU KEPADA HAMBA"
Nabi. SAW. : YA ALI ! BARANG SIAPA YANG MELIHATKU, IA MELIHAT AL HAQ
( Shohih Bukhari, kitab Ta'bir halaman 72 )
Sabda Nabi dalam hadist Qudsi :
"MAN RAANI FAQAD RAAL HAQ"
Ertinya : Sesiapa yg melihat ( rupa )-Ku, maka sesungguhnya ia melihat Al-Haq , Tuhan yg sebenar.
---------------
Tidak ada gunanya engkau banyak bercerita BAB ilmu Ketuhanan ini pada kaum SYARIAT, dia pasti akan mendustakan engkau, dan mengatakan bahawa engkau itu SESAT lagi BAHLOL.
Ini kerana kebanyakan kaum SYARIAT itu adalah kaum yg suka menyalahkan org lain , yg adakalanya layak digelar org MUNAFIK.
Sabda Nabi SAW :
"ORANG MUNAFIK ADALAH ORANG YANG BANYAK MENCELA , DAN MERASAKAN DIRINYA LEBIH BAIK DIBANDINGKAN SAUDARANYA"
(HR. Tirmidzi)
Kaum SYARIAT itu :
* merasa bisa , tetapi tidak bisa merasa,
* merasa sempurna tetapi tidak sempurna merasa,
* merasa paling taat ibadah tetapi tidak tahu ( JAHIL ).
****
ALLAHU AKBAR
cc Guru Batin
Jumat, 01 Mei 2020
SIRRUL ASRAR, BAB 24: DO’A DAN DZIKIR DI JALAN SULUK
Siapapun
yang memilih untuk memisahkan dirinya dari dunia agar supaya dapat
menghampiri Allah, hendaklah mengetahui ibadat-ibadat, seperti do’a dan
dzikir yang sesuai untuk tujuan tersebut. Melakukan ibadat tersebut
memerlukan suasana yang suci dan sebaik-baiknya berada di dalam keadaan
berpuasa. Usahakan agar ruang khalwat berdekatan dengan masjid, karena
syarat bagi salik agar dapat meninggalkan ruang khalwatnya lima kali
sehari untuk melaksanakan shalat fardhu berjama’ah dan pada ketika
tersebut hendaklah menjaga dirinya agar tidak menonjol, menyembunyikan
diri dan tidak berkata-kata walau sepatah kata pun. Siapapun yang sedang
dalam suluk hendaklah mengambil langkah tegas untuk lebih menghayati
dan mematuhi prinsip-prinsip, dasar-dasar dan syarat-syarat shalat
fardhu berjamaah.
Setiap malam, ketika tengah malam, salik harus bangun untuk mengerjakan shalat tahajjud, yang artinya tetap dalam suasana terjaga sepenuhnya di sa’at-sa’at tidur. Shalat tahajjud membawa symbol kebangkitan setelah mati. Apabila seseorang berhasil bangun untuk melakukan shalat tahajjud, maka dia adalah Pemilik hatinya dan pemikirannya akan jernih. Agar “suasana jaga” ini tidak rusak, janganlah melibatkan diri dengan kegiatan harian seperti makan dan minum.
Sebaiknya, sa’at bangun dari tidur dan menyadari telah dibangkitkan dari kelalaian kepada kesadaran, maka ucapkanlah:
“Alhamduli-Llahi ahyani ba’da ma amatani wa-ilaihin-nusyur- Segala puji bagi Allah yang telah membangkitkan aku setelah mengambil hidupku. Sesudah mati, semua akan dibangkitkan dan kembali kepada-Nya”.
Kemudian bacalah sepuluh ayat terakhir surah al-‘Imraan, yaitu ayat 190–200. Selepas itu ambil wudhu’ dan berdo’a:
“Kemenangan untuk Allah! Segala puji untuk-Mu. Tidak ada yang lain daripada-Mu yang layak menerima ibadat. Aku bertaubat dari dosaku. Ampuni dosaku, maafkan kehadiranku, terimalah taubatku. Engkau Maha Pengampun, Engkau suka memaafkan. Wahai Tuhanku! Masukkan aku ke dalam golongan mereka yang menyadari kesalahan mereka dan masukkan aku ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih yang memiliki kesabaran, yang bersyukur, yang selalu mengingat Engkau dan yang memuji Engkau malam dan siang hari”.
Kemudian dongakkan pandangan ke langit dan buat pengakuan:
“Aku bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah, Esa, tiada sekutu, dan aku bersaksi Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku berlindung dengan keampunan-Mu daripada azab-Mu. Aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari murka-Mu. Aku berlindung dengan-Mu dari-Mu. Aku tidak mampu mengenali-Mu sebagaimana Engkau kenali Diri-Mu. Aku tidak mampu memuji-Mu selayaknya. Aku adalah hamba-Mu, aku adalah anak dari hamba-Mu. Dahiku yang di atasnya Engkau tuliskan takdir adalah dalam tangan-Mu. Perintah-Mu berlaku atas aku. Apa yang Engkau tentukan untukku adalah baik bagiku. Aku serahkan kepada-Mu tanganku dan kekuatan yang Engkau letakkan padanya. Aku buka diriku di hadapan-Mu, mengakui semua dosaku. Tiada Tuhan kecuali Engkau, dan Engkau Maha Pengampun, aku yang zhalim, aku yang berbuat kejahatan, aku menzhalimi diriku. Untukku karena aku adalah hamba-Mu ampunkan dosa-dosaku. Engkau jualah Tuhan, hanya Engkau yang dapat mengampunkan”.
Kemudian menghadap ke arah kiblat dan ucapkan:
“Allah Maha Besar! Segala puji untuk-Nya. Aku ingat dan membesarkan-Nya”.
Kemudian ucapkan sepuluh kali:
“Segala kemenangan buat Allah”.
Kemudian ucapkan sepuluh kali:
“Segala puji dan syukur untuk Allah”.
Kemudian ucapkan sepuluh kali:
“Tiada Tuhan melainkan Allah”.
Kemudian lakukan shalat sepuluh rakaat, dua rakaat satu salam. Nabi saw bersabda, “Shalat malam dua, dua”. Allah memuji orang yang melaksanakan shalat malam.
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. (QS. Al Isra: 79).
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan”. (QS. As-Sajadah: 16).
Kemudian pada akhir malam bangkit kembali untuk melaksanakan shalat witir tiga rakaat, shalat yang menutup semua shalat pada hari itu. Pada rakaat ketiga selepas al-Fatihah bacakan satu surah dari al Quran, kemudian angkatkan tangan seperti pada permulaan shalat sambil ucapkan “Allahu Akbar!” dan bacalah do’a qunut. Kemudian selesaikan shalat seperti biasa.
Setelah matahari terbit orang yang di dalam suluk perlu melaksanakan shalat isyraq, shalat yang menerangi, dua rakaat. Selepas itu melakukan shalat istiazhah dua rakaat, mencari perlindungan dan keselamatan dari gangguan syaitan. Pada rakaat pertama selepas al-Fatihah bacalah surah al-Falaq. Dalam rakaat kedua selepas al-Fatihah bacalah surah an-Nas.
Untuk mempersiapkan diri pada hari itu, lakukan shalat sunat istikharah, shalat meminta petunjuk Allah untuk keputusan yang benar pada hari itu. Pada tiap rakaat selepas al-Fatihah bacalah ayat al-Kursi. Kemudian tujuh kali surah al-Ikhlas.
Kemudian pagi itu lakukan shalat dhuha, shalat keshalihan dan kedamaian hati. Lakukan enam rakaat. Bacalah surah asy-Syams dan surah ad-Dhuha.
Shalat dhuha diikuti oleh dua rakaat kaffarat, shalat penebusan terhadap kekotoran yang mengenai seseorang yang tidak disadari. Tersentuh dengan kotoran walaupun secara tidak di sengaja masih berdosa, dapat dihukum. Ini bias terjadi walaupun di dalam suluk, misalnya melalui keperluan tubuh badan. Nabi saw bersabda, “Jaga dari najis – walaupun ketika kamu buang air kecil satu titik tidak mengenai kamu – karena sesungguhnya dapat mendatangkan siksaan di alam kubur”. Setiap rakaat, selepas membaca al-Fatihah, bacalah surah al-Kautsar tujuh kali.
Satu lagi shalat sunnah – panjang, walaupun hanya empat rakaat – harus dilakukan dalam satu hari sewaktu berkhalwat atau suluk. Ini adalah shalat tasbih – shalat penyucian atau pemujaan. Jika seseorang itu mengikuti mazhab Hanafi dia melakukannya empat rakaat satu salam. Jika dia berfaham Syafi’e dilakukannya dua rakaat satu salam, dua kali. Ini jika dilakukan di siang hari. Jika dilakukan malam hari Hanafi dan Syafi’e sependapat, dua rakaat satu salam, dua kali.
Nabi saw memberitahu mengenai shalat ini kepada saudara baginda, Ibnu Abbas, “Wahai saudaraku yang ku kasihi. Ingatlah, akan aku berikan kepadamu satu pemberian. Perhatikanlah, aku akan sampaikan kepadamu satu yang sangat baik. Ingatlah, aku akan memberikan kepadamu kehidupan dan harapan baru. Ingatlah, aku akan berikan kepada kamu sesuatu yang bernilai sepuluh kali perbuatan-perbuatan yang baik. Jika kamu kerjakan apa yang aku beritahu dan ajarkan kepada kamu ini, Allah akan ampunkan dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang, yang lama dan yang baru, yang kecil dan yang besar. Lakukan secara tersembunyi atau terbuka”.
“Engkau kerjakan shalat empat rakaat. Pada tiap-tiap rakaat selepas al-Fatihah, bacalah satu surah dari al Quran. Ketika kamu berdiri, bacalah lima belas kali:
Subhana Llahi il-hamdu li-Llahi la ilaha illa Llahu wa-Llahu akbar, wa-la hawla wa-la quwwata illa billahil l-‘Ali I-‘Azim.
Bila kamu ruku’, tangan di atas lutut, bacalah sepuluh kali. Ketika berdiri ulangilah sepuluh kali lagi. Ketika kamu sujud bacalah sepuluh kali. Bila kamu bangun dari sujud bacalah sepuluh kali. Ketika duduk bacalah sepuluh kali. Kemudian sujud lagi, bacalah sepuluh kali. Duduk lagi sebelum bangkit, bacalah sepuluh kali. Kemudian bangun untuk rakaat kedua. Lakukan serupa untuk rakaat yang lain sehingga empat rakaat”.
“Jika kamu mampu lakukan shalat ini setiap hari. Jika tidak lakukan sekali sebulan. Jika tidak mampu juga lakukanlah sekali setahun. Jika masih tidak mampu juga lakukanlah sekali seumur hidup”.
Jadi, empat rakaat itu tasbih diucapkan sebanyak tiga ratus kali. Sebagaimana Nabi saw ajarkan kepada saudara baginda Ibnu Abbas, dianjurkan juga kepada orang yang bersuluk melakukan shalat tersebut.
Selain dari tugas tersebut, orang yang di dalam suluk juga dianjurkan membaca al Quran sekurang-kurangnya sebanyak 200 ayat sehari. Dia juga hendaknya mengingat Allah secara terus menerus dan menurut suasana ruhani, baik dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah secara kuat atau senyap di dalam hati. Ingatan di dalam hati secara senyap hanya terjadi bila hati selalu terjaga dan hidup. Dzikir ini adalah ucapan rahasia yang tersembunyi.
Setiap orang (salik) mengingat Allah menurut keupayaan masing-masing. Allah berfirman:
“Hendaklah kamu sebut Dia sebagaimana Dia pimpin kamu”. (Surah al-Baqarah, ayat 198).
Ingatlah kepada-Nya menurut kemampuan kamu. Pada setiap tahap keruhanian ingatan itu berbeda-beda. Dia memiliki satu nama lagi, Dia memiliki satu sifat lagi, satu cara lagi. Hanya salik yang ditahap itu lah yang tahu dzikir yang sesuai.
Orang yang di dalam suluk juga dianjurkan membaca surah al-Ikhlas seratus kali sehari. Perlu juga membaca Shalawat seratus kali sehari. Dia juga perlu membaca doa ini sebanyak seratus kali:
“Astaghfiru Llah al-‘Azim, la ilaha illa Huwa l-Hayy ul-Qayyum – mimma qaddamtu wa-ma akhkhartu wa-ma ‘alantu wa-ma asrartu wa-ma anta a’lamu bihi minni. Anta l-Muqaddimu wa-antal Muakhkhiru wa-anta ‘ala kulli syai in Qadir”.
Masa yang selebihnya, setelah melakukan ibadat-ibadat yang telah dinyatakan diatas, gunakan untuk membaca Quran dan lain-lain pekerjaan ibadat.
Setiap malam, ketika tengah malam, salik harus bangun untuk mengerjakan shalat tahajjud, yang artinya tetap dalam suasana terjaga sepenuhnya di sa’at-sa’at tidur. Shalat tahajjud membawa symbol kebangkitan setelah mati. Apabila seseorang berhasil bangun untuk melakukan shalat tahajjud, maka dia adalah Pemilik hatinya dan pemikirannya akan jernih. Agar “suasana jaga” ini tidak rusak, janganlah melibatkan diri dengan kegiatan harian seperti makan dan minum.
Sebaiknya, sa’at bangun dari tidur dan menyadari telah dibangkitkan dari kelalaian kepada kesadaran, maka ucapkanlah:
“Alhamduli-Llahi ahyani ba’da ma amatani wa-ilaihin-nusyur- Segala puji bagi Allah yang telah membangkitkan aku setelah mengambil hidupku. Sesudah mati, semua akan dibangkitkan dan kembali kepada-Nya”.
Kemudian bacalah sepuluh ayat terakhir surah al-‘Imraan, yaitu ayat 190–200. Selepas itu ambil wudhu’ dan berdo’a:
“Kemenangan untuk Allah! Segala puji untuk-Mu. Tidak ada yang lain daripada-Mu yang layak menerima ibadat. Aku bertaubat dari dosaku. Ampuni dosaku, maafkan kehadiranku, terimalah taubatku. Engkau Maha Pengampun, Engkau suka memaafkan. Wahai Tuhanku! Masukkan aku ke dalam golongan mereka yang menyadari kesalahan mereka dan masukkan aku ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih yang memiliki kesabaran, yang bersyukur, yang selalu mengingat Engkau dan yang memuji Engkau malam dan siang hari”.
Kemudian dongakkan pandangan ke langit dan buat pengakuan:
“Aku bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah, Esa, tiada sekutu, dan aku bersaksi Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku berlindung dengan keampunan-Mu daripada azab-Mu. Aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari murka-Mu. Aku berlindung dengan-Mu dari-Mu. Aku tidak mampu mengenali-Mu sebagaimana Engkau kenali Diri-Mu. Aku tidak mampu memuji-Mu selayaknya. Aku adalah hamba-Mu, aku adalah anak dari hamba-Mu. Dahiku yang di atasnya Engkau tuliskan takdir adalah dalam tangan-Mu. Perintah-Mu berlaku atas aku. Apa yang Engkau tentukan untukku adalah baik bagiku. Aku serahkan kepada-Mu tanganku dan kekuatan yang Engkau letakkan padanya. Aku buka diriku di hadapan-Mu, mengakui semua dosaku. Tiada Tuhan kecuali Engkau, dan Engkau Maha Pengampun, aku yang zhalim, aku yang berbuat kejahatan, aku menzhalimi diriku. Untukku karena aku adalah hamba-Mu ampunkan dosa-dosaku. Engkau jualah Tuhan, hanya Engkau yang dapat mengampunkan”.
Kemudian menghadap ke arah kiblat dan ucapkan:
“Allah Maha Besar! Segala puji untuk-Nya. Aku ingat dan membesarkan-Nya”.
Kemudian ucapkan sepuluh kali:
“Segala kemenangan buat Allah”.
Kemudian ucapkan sepuluh kali:
“Segala puji dan syukur untuk Allah”.
Kemudian ucapkan sepuluh kali:
“Tiada Tuhan melainkan Allah”.
Kemudian lakukan shalat sepuluh rakaat, dua rakaat satu salam. Nabi saw bersabda, “Shalat malam dua, dua”. Allah memuji orang yang melaksanakan shalat malam.
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. (QS. Al Isra: 79).
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan”. (QS. As-Sajadah: 16).
Kemudian pada akhir malam bangkit kembali untuk melaksanakan shalat witir tiga rakaat, shalat yang menutup semua shalat pada hari itu. Pada rakaat ketiga selepas al-Fatihah bacakan satu surah dari al Quran, kemudian angkatkan tangan seperti pada permulaan shalat sambil ucapkan “Allahu Akbar!” dan bacalah do’a qunut. Kemudian selesaikan shalat seperti biasa.
Setelah matahari terbit orang yang di dalam suluk perlu melaksanakan shalat isyraq, shalat yang menerangi, dua rakaat. Selepas itu melakukan shalat istiazhah dua rakaat, mencari perlindungan dan keselamatan dari gangguan syaitan. Pada rakaat pertama selepas al-Fatihah bacalah surah al-Falaq. Dalam rakaat kedua selepas al-Fatihah bacalah surah an-Nas.
Untuk mempersiapkan diri pada hari itu, lakukan shalat sunat istikharah, shalat meminta petunjuk Allah untuk keputusan yang benar pada hari itu. Pada tiap rakaat selepas al-Fatihah bacalah ayat al-Kursi. Kemudian tujuh kali surah al-Ikhlas.
Kemudian pagi itu lakukan shalat dhuha, shalat keshalihan dan kedamaian hati. Lakukan enam rakaat. Bacalah surah asy-Syams dan surah ad-Dhuha.
Shalat dhuha diikuti oleh dua rakaat kaffarat, shalat penebusan terhadap kekotoran yang mengenai seseorang yang tidak disadari. Tersentuh dengan kotoran walaupun secara tidak di sengaja masih berdosa, dapat dihukum. Ini bias terjadi walaupun di dalam suluk, misalnya melalui keperluan tubuh badan. Nabi saw bersabda, “Jaga dari najis – walaupun ketika kamu buang air kecil satu titik tidak mengenai kamu – karena sesungguhnya dapat mendatangkan siksaan di alam kubur”. Setiap rakaat, selepas membaca al-Fatihah, bacalah surah al-Kautsar tujuh kali.
Satu lagi shalat sunnah – panjang, walaupun hanya empat rakaat – harus dilakukan dalam satu hari sewaktu berkhalwat atau suluk. Ini adalah shalat tasbih – shalat penyucian atau pemujaan. Jika seseorang itu mengikuti mazhab Hanafi dia melakukannya empat rakaat satu salam. Jika dia berfaham Syafi’e dilakukannya dua rakaat satu salam, dua kali. Ini jika dilakukan di siang hari. Jika dilakukan malam hari Hanafi dan Syafi’e sependapat, dua rakaat satu salam, dua kali.
Nabi saw memberitahu mengenai shalat ini kepada saudara baginda, Ibnu Abbas, “Wahai saudaraku yang ku kasihi. Ingatlah, akan aku berikan kepadamu satu pemberian. Perhatikanlah, aku akan sampaikan kepadamu satu yang sangat baik. Ingatlah, aku akan memberikan kepadamu kehidupan dan harapan baru. Ingatlah, aku akan berikan kepada kamu sesuatu yang bernilai sepuluh kali perbuatan-perbuatan yang baik. Jika kamu kerjakan apa yang aku beritahu dan ajarkan kepada kamu ini, Allah akan ampunkan dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang, yang lama dan yang baru, yang kecil dan yang besar. Lakukan secara tersembunyi atau terbuka”.
“Engkau kerjakan shalat empat rakaat. Pada tiap-tiap rakaat selepas al-Fatihah, bacalah satu surah dari al Quran. Ketika kamu berdiri, bacalah lima belas kali:
Subhana Llahi il-hamdu li-Llahi la ilaha illa Llahu wa-Llahu akbar, wa-la hawla wa-la quwwata illa billahil l-‘Ali I-‘Azim.
Bila kamu ruku’, tangan di atas lutut, bacalah sepuluh kali. Ketika berdiri ulangilah sepuluh kali lagi. Ketika kamu sujud bacalah sepuluh kali. Bila kamu bangun dari sujud bacalah sepuluh kali. Ketika duduk bacalah sepuluh kali. Kemudian sujud lagi, bacalah sepuluh kali. Duduk lagi sebelum bangkit, bacalah sepuluh kali. Kemudian bangun untuk rakaat kedua. Lakukan serupa untuk rakaat yang lain sehingga empat rakaat”.
“Jika kamu mampu lakukan shalat ini setiap hari. Jika tidak lakukan sekali sebulan. Jika tidak mampu juga lakukanlah sekali setahun. Jika masih tidak mampu juga lakukanlah sekali seumur hidup”.
Jadi, empat rakaat itu tasbih diucapkan sebanyak tiga ratus kali. Sebagaimana Nabi saw ajarkan kepada saudara baginda Ibnu Abbas, dianjurkan juga kepada orang yang bersuluk melakukan shalat tersebut.
Selain dari tugas tersebut, orang yang di dalam suluk juga dianjurkan membaca al Quran sekurang-kurangnya sebanyak 200 ayat sehari. Dia juga hendaknya mengingat Allah secara terus menerus dan menurut suasana ruhani, baik dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah secara kuat atau senyap di dalam hati. Ingatan di dalam hati secara senyap hanya terjadi bila hati selalu terjaga dan hidup. Dzikir ini adalah ucapan rahasia yang tersembunyi.
Setiap orang (salik) mengingat Allah menurut keupayaan masing-masing. Allah berfirman:
“Hendaklah kamu sebut Dia sebagaimana Dia pimpin kamu”. (Surah al-Baqarah, ayat 198).
Ingatlah kepada-Nya menurut kemampuan kamu. Pada setiap tahap keruhanian ingatan itu berbeda-beda. Dia memiliki satu nama lagi, Dia memiliki satu sifat lagi, satu cara lagi. Hanya salik yang ditahap itu lah yang tahu dzikir yang sesuai.
Orang yang di dalam suluk juga dianjurkan membaca surah al-Ikhlas seratus kali sehari. Perlu juga membaca Shalawat seratus kali sehari. Dia juga perlu membaca doa ini sebanyak seratus kali:
“Astaghfiru Llah al-‘Azim, la ilaha illa Huwa l-Hayy ul-Qayyum – mimma qaddamtu wa-ma akhkhartu wa-ma ‘alantu wa-ma asrartu wa-ma anta a’lamu bihi minni. Anta l-Muqaddimu wa-antal Muakhkhiru wa-anta ‘ala kulli syai in Qadir”.
Masa yang selebihnya, setelah melakukan ibadat-ibadat yang telah dinyatakan diatas, gunakan untuk membaca Quran dan lain-lain pekerjaan ibadat.
Langganan:
Postingan (Atom)