Laman

Rabu, 05 Januari 2022

Nikmat dalam Sakit

 Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh


Seorang yang hidup di dunia pasti akan mengalami berbagai jenis keadaan yang berbeda. Terkadang ia sehat, namun di lain waktu ia juga sakit. Tentunya yang diinginkan setiap orang adalah kondisi sehat. Makanya banyak yang mengeluh saat diuji Allah dengan sakit.


Namun tahukah Anda bahwa di balik sakit itu ternyata ada berbagai kenikmatan? Apa saja? Di antaranya:


Pertama: Sakit itu mengurangi dosa


Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,


“مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ“


“Tidaklah ada kelelahan, sakit, kesedihan, kekhawatiran, gangguan dan kesusahan yang sangat yang diderita seorang muslim, bahkan sampai duri yang menancap di tubuhnya; melainkan Allah akan menjadikannya sebagai penggugur sebagian dosa-dosanya.” [HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudry dan Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma.] 


Kedua: Dengan bersabar, sakit akan menjadi ‘mesin’ pahala


Allah ta’ala berfirman,


“إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“


Artinya: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang diberi pahala sempurna tanpa batas”. [QS. Az-Zumar (39): 10.] 


Ketiga: Sakit bisa menyadarkan diri dari kelalaian


Dalam al-Qur’an ditegaskan,


“ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“


Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena pebuatan tangan manusia. Allah mengehendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. [QS. Ar-Rum (30): 41.] 


Keempat: Sakit mengingatkan nikmat sehat


Seorang penyair berkata,


“الصِّحَّةُ تَاجٌ عَلَى رُؤُوْسِ الْأَصِحَّاءِ لاَ يَرَاهَا إِلاَّ الْمَرْضَى“


“Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang-orang yang sehat. Yang bisa melihatnya hanyalah orang-orang yang sakit”.


Dan masih banyak lagi hikmah-hikmah di balik sakit. Maka janganlah habiskan waktu Anda untuk banyak mengeluh, sebab ternyata di balik sakit terdapat nikmat tak terhingga.


Catatan Penting:


Segala keterangan di atas tidak berarti bahwa kita diperintahkan untuk meminta sakit. Juga bukan berarti pula bahwa kita dilarang untuk berupaya mencari penyembuhan sakit kita. Yang benar, kita selalu berusaha memohon kesehatan kepada Allah ta’ala. Dan apabila suatu saat diuji dengan sakit, maka kita berusaha untuk mencari kesembuhan dengan cara-cara yang dibenarkan agama. Andaikan belum sembuh juga, maka ingatlah berbagai hikmah di atas, niscaya penderitaan Anda akan terasa lebih ringan. Dan yang lebih penting dari itu, Anda akan mendapatkan keberuntungan di akhirat, in sya Allah…

MENJELASKAN BID'AH BUKAN BERARTI MEMVONIS NERAKA

 Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh

Ketika pada da’i menasihati dan melarang amalan-amalan bid’ah, maka sama sekali bukan berarti memvonis pelakunya penghuni neraka.


📌  Ini adalah kesalahpahaman yang menjalar di tengah masyarakat. Yang kesalahpahaman ini juga dijadikan senjata untuk menentang dakwah Sunnah dan melarang orang membahas masalah bid’ah. Oleh karena ini mari kita luruskan duduk perkaranya.


Rasulullah ﷺ teladan dalam mengingkari bid’ah.


Orang yang mencontohkan dan memberi kita teladan untuk menjauhi bid’ah serta melarang bid’ah adalah Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ bersabda,


مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ


“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak”.

📘  (HR. Bukhari No. 2697 dan Muslim No. 1718).


Rasulullah ﷺ juga bersabda,


مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ


“Barang siapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak”.

📘  (HR. Muslim No. 1718).


Bahkan tidak hanya sekali-dua kali Beliau ﷺ bicara masalah bid’ah. Rasulullah ﷺ setiap memulai khutbah . Beliau ﷺ mengucap


أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ


“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan”.

📘  (HR. Muslim No. 867).


Tidak hanya itu, di akhir-akhir hidup Beliau ﷺ, Beliau ﷺ masih mewanti-wanti masalah bid’ah. 


Al Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ’anhu mengatakan:


صلَّى بنا رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ذاتَ يَومٍ، ثُمَّ أقبَلَ علينا، فوَعَظَنا مَوعِظةً بَليغةً ذَرَفَتْ منها العُيونُ، ووَجِلَتْ منها القُلوبُ، فقال قائلٌ: يا رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، كأنَّ هذه مَوعِظةُ مُودِّعٍ، فماذا تَعهَدُ إلينا؟


"Rasulullah ﷺ shalat bersama kami suatu hari. Setelah shalat Beliau ﷺ menghadap kami kemudian memberikan nasihat yang mendalam yang membuat air mata berlinang dan hati bergetar. Maka ada yang berkata:


"Wahai Rasulullah ﷺ, seakan-akan ini adalah nasihat orang yang akan berpisah, apa yang engkau pesankan kepada kami?”


Maka Rasulullah ﷺ pun bersabda,


أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ


“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah ﷻ, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada Sunnah-ku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”.

📘  (HR. At Tirmidzi No. 2676. Ia berkata: “hadits ini hasan shahih”).

ENAM JERATAN IBLIS

 Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh


▫️Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa jerat-jerat iblis terfokus pada enam poin. Ia akan mengajak manusia kepada hal yang paling berbahaya, yaitu poin pertama. Bila belum berhasil, maka ia akan menggodanya menuju poin kedua, dan seterusnya. Berikut keenam poin tersebut:


1⃣ Pertama: Mengajak manusia kepada kakafiran, kemusyrikan dan permusuhan terhadap Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Hal inilah yang pertama diinginkan setan dari manusia. Betapa banyak manusia yang terjerumus ke dalam poin ini hingga menjadi bala tentaranya. Allahul-musta’aan


2⃣ Kedua: Menarik manusia kepada bid’ah dan perkara baru dalam agama, baik dalam masalah akidah maupun ibadah. Bid’ah begitu berbahaya, sebab begitu kecil kesempatan bertaubat dari pelakunya. Selain itu, bid’ah juga dapat membawa kepada kekafiran.


3⃣ Ketiga: Menggoda manusia agar mengerjakan dosa besar dengan berbagai macamnya. Dosa besar juga merupakan pengantar kepada kekafiran. Betapa banyak manusia yang terjerumus ke dalam dosa besar. Sehingga hati mereka menjadi keras sehingga dapat menghalangi mereka dari menerima kebenaran. 


4⃣ Keempat: Menggodanya dengan dosa-dosa kecil. Dosa-dosa ini menjadi mukadimah kepada dosa besar. Bila terus dikerjakan, maka statusnya berubah menjadi dosa besar. Meskipun disebut dosa kecil, namun tetap saja haram dilakukan dan tidak sepatutnya diremehkan. Mereka dahulu berkata, “Janganlah engkau melihat kepada kecilnya dosa, tapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat


5⃣ Kelima: Menjadikan manusia tersibukkan dengan hal-hal mubah hingga banyak menyia-nyiakan waktu dan usia, tanpa memanfaatkannya untuk kebaikan dan amal saleh. Sebagian orang berlebihan dalam hal mubah, seperti dalam hal makan dan minum, tempat tinggal maupun pakaian. Mereka menyia-nyiakan banyak harta dan waktu, serta jauh dari berbuat kebaikan. Hingga menyebabkan mereka lupa bersiap-siap berbekal menuju negeri akhirat


6⃣ Keenam: Memalingkannya dari amalan utama kepada selainnya. Seperti mengeluarkan harta pada perkara tidak penting, menyibukkan diri dengan amalan rendahan, belajar cabang ilmu yang tidak bermanfaat, mementingkan usaha syubhat (yang tidak jelas halal haramnya) dari pada yang jelas halalnya, mendahulukan ibadah yang keutamaannya hanya kembali kepada diri sendiri dari pada ibadah yang keutamaannya kembali kepada orang banyak.

TINGKAT ILMU

 Assalamualaikum

1.. ILMU USULUDDIN.

Ilmu Usuluddin batasnya adalah Mengenal Allah swt dibatas Akal yang membezakan HAQ dan yang BATHIL dengan Akal dan Dalil dari Firman-Firman Allah swt. Keyakinan maksima hanyalah kepada Ilmul Yaqin iaitu di Yakini dengan Ilmu Kalam atau Ilmu Akal.


2.. ILMU TASAWWSUF.

Menjalani proses Kerohanian seperti Salik Majzub yang mendaki atau Tanazul Rohaninya kepada wilayah KEESAAN Allah swt adalah punca terbitnya keadaan Hulul atau Mabuk dengan kesan daripada wilayah Wahdatul Wujud, samada seseorang itu tenggelam didalam Syuhudul Kasrah Fil Wahdah mahupun didalam Syuhudul Wahdah Fil Kasrah, bagi Majzub Salik yang di sentap Rohaninya kepada isim Ar-Rahman.


3... ILMU TAUHID.

Peringkat Ilmu Tauhid adalah proses Mengenal Allah swt dengan Ilmu dan Pengalaman Rohani yang tidak terhenti, sampailah kita mati walaupun kita telah mengalami Pengalaman-pengalaman Rohani yang mistik, kerana Anugerah Ma'krifat bagi setiap hamba Allah itu tidak sama.

Ma'krifat Nabi Musa as dengan Ma'krifat Nabi Khidir as tidak sama. Dan tiada Nabi yang mampu mencapai Ma'krifat yang Sempurna kecuali Nabi Muhammad saw, kerana Roh Nabi Muhammad saw adalah Roh yang paling hampir kepada Allah swt.


"Maka umat yang paling beruntung adalah kita iaitu umat Nabi Muhammad saw."

Dan tiada jalan yang paling SELAMAT dan yang paling baik untuk sampai kepada Hakikat Ahad melainkan Manhaj Nubuwwah iaitu jalan Sunnah Kenabian Nabi Muhammad saw. Dan jalan yang tersisa kini adalah jalan Kewalian iaitu Manhaj Kesufian dari keturunan Baginda sendiri.


Pensucian "ANA AL-HAQ" adalah bagi Mensucikan fahaman Wahdatul Wujud yang telah tercemar kerana salah faham orang awam yang hanya memilki Ilmu Usuluddin dan Tasawwuf yang tidak melalui Manhaj Kesufian juga meniti amalan-amalan Kesufian yang mistik seperti; 

Uzlah'... Suluk.. klawat..


Dan juga bagi mencerahkan kepura-puraan orang-orang yang merasakan ia telah Hulul di Maqam Latah iaitu Maqam Syatahat.


Maqam-Maqam Wali Allah itu banyak, dari Salik, Wali kecil hinggalah ke Maqam Wali Qutub atau Aqtab iaitu penghulu sekalian Wali.


Maka Insan Sejati yang Muhaqqiqin itu hanya ada satu, pada satu-satu zaman yang menjaga HAQ KEESAAAN Allah yang AHAD, iaitu Maha ESA dan HAQ ketinggian Azzawajala yang tiada tandingan.


Sementara fahaman Wahdatul Wujud ini sudah mula dirasai oleh permulaan Kewalian apabila ASYIK dengan Anugerah Tajali Ma'krifat ataupun telah tenggelam didalam Maqam Ma'krifat.

Maka kita tidak boleh menyalahkan Wali-Wali Allah ini kerana mereka seperti orang yang mabuk kepayang atau gila angau. Cuma kita perlu nilai mereka ini agar tidak melanggar HAQ KEESAAAN Allah yang Maha ESA (Ahad) dan ketinggian Allah yang Maha Sempurna Kemuliaan-Nya.


مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ


"Siapa yang memusuhi Wali-Ku maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang terhadapnya. Dan tidaklah Hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan senantiasa seorang Hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan Sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta (sesuatu) kepada-Ku pasti Aku akan memberinya, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku pasti Aku akan melindunginya.”


Hadis Qudsi ini menjadi bukti bahawa adanya keadaan Hulul yang berlaku kepada Wali-Wali Allah swt dan hadis sebelumnya membuktikan bahawa adanya wilayah kedalaman hati yang berbeza-beza dari wilayah Kerinduan, kemudian Fana dan Lebur di wilayah Rahasia Allah swt dan akhirnya hati itu sampai kepada Allah swt.


Maka ayat-ayat Al-Qur'an yang Mahkamat adalah ayat yang berguna sebagai batu penguji atau perisai untuk menilai maksud bagi Bathin Kalam-kalam yang Musyabihat dan batu penilai kepada kitab-kitab yang terdahulu seperti Kitab Zabur, Taurat dan Injil, termasuklah Suhuf-Suhuf sekalian Nabi seperti Suhuf Ibrahim as dan Suhuf Musa as.


هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنسَانِ حِينٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْئًا مَّذْكُورًا


"Bukankah telah datang kepada manusia satu ketika dari masa (yang beredar), sedang ia (masih belum wujud lagi, dan tidak menjadi sesuatu benda yang disebut-sebut."

(QS. Al-Insan : 1)


Maka apakah maksud kepada "Al-insanu Sirri" ?

Apakah maksud kepada “Insan Rahasia-Ku” ?


Jawaban petunjuk bagi ayat itu kepada "Sirri" adalah “Wa Ana Sirruhu”

 “Dan AKU-lah Rahasia itu”...


Maka huraian maksud Insan itu Rahasia-Ku akan menjadi berlapis-lapis dari berbagai-bagai Maqam seseorang Mursyid.


Ia boleh jadi Insan itu DIRAHSIAKAN oleh Allah swt. Maka Insan itu menjadi Martabat manusia yang memiliki Sifat-Sifat Terpuji iaitu Wali-Wali Allah yang Allah swt RAHSIAKAN.

Soalnya bukan semua Wali-Wali Allah itu DIRAHSIAKAN seperti Sultanul Aulia Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, al-Imam al-Ghazali dan lain-lainnya, dan semua Khulafa al-Rasyidin itu adalah Penghulu sekalian Wali yang tidak DIRAHSIAKAN Allah swt.


Terdapat juga Wali-Wali yang Allah RAHSIAKAN seperti Uwais Al-Qarni, Abdullah Fasik dan yang lain-lainnya.


Petunjuk “Wa Ana Sirruhu” adalah Balaghoh atau Petunjuk yang lebih tepat bagi Kalam Allah pada Hadis Qudsi ini.


Insan itu adalah orang-orang yang Dianugerahkan Rahasia Allah swt. Mustahil Allah swt mahu Menganugerahkan Rahasia-Nya kepada orang-orang Kafir Harbi yang memusuhi Nabi-Nya.


Allah swt berfirman;

“Allahu Nuurrus Samawatiwal Ardh.”


Umpama Hidayah itu hanyalah milik Allah swt apabila dibukakan penutup hati-hati manusia, begitu juga dengan Nur Petunjuk dari Allah swt.


Maka Nur Petunjuk dari Allah swt itulah yang menjadi Tajali (Permata Kanzun Makfiyan) yang dipertaruhkan di wilayah hati yang paling dalam kepada Hamba-hamba-Nya yang sangat Dikasihi-Nya.


Hadis Qudsi;

“Kelak mereka akan melihat Tuhannya seperti cahaya bulan yang terang benderang”


Inilah batas Ma'krifat tertinggi didunia sebelum kita berjumpa Allah swt bagi melihat Keindahan Wajah-Nya yang tidak Terhijab lagi.

Selasa, 04 Januari 2022

HAQIKAT SH0LAT

 Assalamualaikum wb wt


HAQIKAT SH0LAT 


Bila berdiri untuk sembahyang pada hakikatnya ALIF itulah yg berdiri untuk sholat

maksudnya naikkan terdahulu nafas, kemudian berdiri. 


Nyawa yg terdahulu berdiri, kemudian tubuh. 


Karna tidak mungkin tubuh yg mendirikan nyawa, sebaliknya nyawa itulah yg mendirikan tubuh. 


Jangan bertentangan perbuatan tubuh dengan nyawa, yg demikian itu sama halnya mensyarikatkan TUHAN. 

Hal inilah yg menunjukan bahwa nyawa itu ibarat IMAM dalam sholat, sudah tentu imam itu terdahulu berdiri, kemudian ma'muman, itulah sebabnya maka IMAM itu wajib di ketahui. 


Bilamana ada orang bertanya, "SIAPAKAH IMAM MU DALAM SH0LAT ?"


Jawablah, bahwa AL QUR'AN itulah IMAM saya. 


AL QUR'AN itu adalah KALAMULLAH perkataan tuhan, dan tuhan itu bersifat QADIM, jadi AL QUR'AN itu Qadim

Jadi pada hakikatnya tuhan itulah imam, tanpa demikian ini berarti sholat tidak sah. 

Sebab yg di maksud sholat ialah dzahirnya perbuatan, dzahir Artinya perbuatan tuhan pada kita, Allah jua pada hakikatnya sehingga kita bersatu kata atau sekata dengan imam (imam dan ma'mum). 


Dikatakan IMAMAN LILLAHI TA'ALA Artinya imam karna Allah, imam itulah yg menggerakkan TUBUH dan tidaklah nyawa itu dapat bergerak jika tidak karna kehendak TUHAN. 


Bila ruku' turunkan nafas terlebih dahulu, kemudian badan ruku' begitu pula i'tidal (bangun dari ruku') naikkan kembali nafas. 


Waktu sujud juga demikian, nafas turun kemudian naikkan nafas pada saat bangun dari sujud, demikianlah nafas itu mengikuti naik turunNya dalam sholat. 


Inilah yg dikatakan IMAM TANPA DI IMAMI. 


Ada orang telah memiliki hal ini, itulah orang yg sah jadi imam, bila orang tidak mengetahui jadi imam, dapat dikatakan imam yg di imami oleh ma'mum, lalu bila telah membuang takbiratul ihram, tahanlah nafas sebentar, INILAH YG DINAMAKAN LENYAP PADA NUR MUHAMMAD. 


 INI MAKNA TERSIRAT AL FATIHAH

Al-hamdu lillaahi rabbil-'aalamiin: DZAT MEMUJI SENDIRINYA, DAN AKULAH DZAT YG WAJIBUL WUJUD YG MENGETAHUI ZAHIR DAN BATHIN 


Ar-rahmaanir-rahiim: PENGETAHUANMU NYATA KEBESARANKU, YG SEBENARNYA HANYALAH AKU 


Maaliki yaumid-diin: RAJA DUNIA DAN AKHIRAT YG MEMPUNYAI KEBESARAN AKU ZAHIR DAN BATHIN 

Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin: AKU YG MENYEMBAH AKU, KEADAANKU ITU YG KAMU LAKUKAN 


Ihdinash-shiraathal-mustaqiim: KENYATAANKU ATAS MU DAN MUTLAK GANTIKU YAITU KELAKUAN KU TELAH SATU PADAMU 

Shiraathal-ladziina an'amta 'alaihim: SUATU ENGKAU BIRAHI RUPAKU SEPERTI RUPA MU 

Ghairil-maghdhuubi 'alaihim: ADAM ITU SEPERTI AKU 


Wa ladh-dhaalliin: TIADA PERBEDAAN ENGKAU DENGAN AKU 


Aamiin: ENGKAU RAHASIAKU DAN AKU RAHASIA MU 


INI AL FATIHAH PADA DIRI QITA


Bismillaahir: KEPALA 


Rahmaanir-rahiim: 0TAK 


Al-hamdu lillaahi: MUKA 


Rabbil-'aalamiin: TELINGA KANAN 


Ar-rahmaanir: TELINGA KIRI 


Rahiim: TANGAN KANAN 


Maliki: TANGAN KIRI 


Yaumid-diin: BELAKANG 


Iyyaaka na'budu: LEHER 

Wa iyyaaka nasta'iin: DADA 

Ihdinash-shiraathal-mustaqiim: URAT DAN LIDAH 


Shiraathal-ladziina an'amta 'alaihim: PUSAT 


Ghairil-maghdhuubi: EMPEDU 


'Alaihim: HATI 


Wa ladh-dhaalliin: DARAH 


Aamiin: JANTUNG 

.....

PUJIAN YG TERHIMPUN DALAM FATIHAH


Bismillaahir: AKU MENJADIKAN DIRIKU 


Rahmaanir: AKU MENGADAKAN MUHAMMAD 

Rahiim: AKU MENGATAKAN RAHASIAKU 


Al-hamdu lillaahi: YA MUHAMMAD AKU JUA YG MEMUJI DIRIKU 


Rabbil 'aalamiin: YA MUHAMMAD PEKERJAAN ITU AKU JUA ZAHIR DAN BATHIN 


Ar-rahmaanir-rahiim: YA MUHAMMAD YG MEMBACA FATIHAH ITU AKU JUA MEMUJI DIRIKU 

Maaliki yaumid-diin: YA MUHAMMAD ENGKAU JUA GANTI KERAJAANKU TIADA LAIN YG SEMBAHYANG ITU AKU JUA 


Iyyaaka na'budu: YA MUHAMMAD AKU MEMUJI AKAN DIRIKU 


Wa iyyaaka nasta'iin: YA MUHAMMAD TIADA YG TAHU AKAN DIRIKU KECUALI ENGKAU 


Ihdinash-shiraathal-mustaqiim: YA MUHAMMAD YG GHAIB ITU AKU DENGAN ENGKAU TERLETAK DALAM KEMULIAANKU 


Shiraathal-ladziina an'amta 'alaihim: YA MUHAMMAD DENGAN KARNA SABDAKU MAKA JADILAH SEMUA YG ADA INI 


Ghairil-maghdhuubi 'alaihim walad-dhaalliin: YA MUHAMMAD TIADA AKU KATAKAN KEPADA MEREKA AKAN RAHASIAKU, KARNA AKU KASIH KEPADA UMAT 

Aamiin: YA MUHAMMAD GANTI RAHASIAKU

Sepuluh Latifah - Risalah Aliyah

 Bismillahirohmannirrohim

Assalamualaikum wr wb...


Sepuluh Latifah - Risalah Aliyah


1. QALB


TITIK kedudukannya pada tubuh badan jasmani adalah pada anggaran dua jari di bawah tetek kiri dan cenderung sedikit ke arah ketiak. Latifah Qalb juga disebut Latifah Adami adalah dari takluk Alam Malakut yakni Alam Para Malaikat dan ianya merupakan pusat ‘Arasy Mu’alla Allah Ta’ala di dalam diri Insan.


Latifah Qalb adalah suatu pusat perhentian di Alam Amar. Sifat yang dikurniakan Allah dengan Latifah Qalb ialah pendengaran dan ianya merupakan Tajalli Sifat Allah As-Sami’ iaitu Yang Maha Mendengar.


Mendengar merupakan suatu sifat utama Para Malaikat kerana mereka dijadikan oleh Allah Ta’ala untuk mendengar segala perintahNya dan taat. Seseorang Salik perlu menggunakan sifat pendengarannya untuk mendengar seruan Agama Islam dan mengamalkan Syari’at Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.


Para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum memiliki sifat Sami’na Wa Ata’na iaitu mendengar dalam ertikata yang sebenar yang mana apabila mereka mendengar sebarang perintah dari Allah Ta’ala dan RasulNya Sallallahu ‘Alaihi Wasallam mereka akan terus mentaatinya.


Alam Malakut adalah wilayah Hadhrat Nabi Adam ‘Alaihissalam dan merupakan tingkatan langit pertama di atas ‘Arasy. Cahaya Nur dan limpahan keberkatan dari Hadhrat Nabi Adam ‘Alaihissalam terlimpah pada Latifah Qalb Hadhrat Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan terlimpah kepada sekelian orang yang beriman.


Cahayanya adalah dari langit yang pertama dan warna Nurnya adalah kekuningan. Seseorang Salik yang telah sempurna penyucian Latifah Qalbnya menerusi Tasfiyatul Qalb maka akan terhasillah padanya Kasyful Qulub yakni pandangan mata hatinya celik dan memperolehi Basirah serta Kasyaf iaitu melihat perkara-perkara yang Ghaib menerusi mata hati.


2. RUH


TITIK kedudukannya pada tubuh badan adalah pada anggaran dua jari di bawah tetek kanan. Latifah Ruh juga disebut sebagai Latifah Ibrahimi adalah bertakluk dengan Alam Jabarut yakni Alam Para Roh atau dikenali juga sebagai Alam Arwah.


Sepertimana Latifah Qalb, Latifah Ruh ini juga merupakan suatu pusat perhentian di Alam Amar. Sifat yang dikurniakan dengan Latifah Ruh ialah melihat dan ianya juga merupakan Tajalli dari Sifat Allah Al-Basir Yang Maha Melihat dan As-Syahid Yang Maha Menyaksi. Melihat dan menyaksikan adalah sifat-sifat yang Allah Ta’ala kurniakan kepada Ruh ketika berada di Alam Amar.


Seluruh Para Roh bersaksi bahawa Allah Ta’ala adalah Rabb, Tuhan Yang Maha Pemelihara. Melihat, memerhati dan menyaksi adalah suatu sifat utama bagi Roh. Sifat ini ada pada diri zahir iaitu melihat dengan kedua biji mata zahir dan sifat ini juga ada pada diri batin iaitu menerusi pandangan mata hati iaitu Basirah.


Seseorang Salik perlu melihat tanda-tanda kebesaran Allah Ta’ala dan memerhatikan perjalanan Tariqatnya agar sentiasa selari dengan petunjuk Baginda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, banyak mengucapkan Selawat dan membaca Al-Quran.


Alam Jabarut adalah wilayah Hadhrat Nabi Ibrahim dan Hadhrat Nabi Nuh ‘Alaihimassalam. Latifah Ruh merupakan tingkatan langit kedua di atas ‘Arasy. Cahaya Nur dan limpahan keberkatan dari Hadhrat Nabi Ibrahim dan Hadhrat Nabi Nuh ‘Alaihimassalam terlimpah pada Latifah Ruh Hadhrat Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.


Cahayanya adalah dari langit yang kedua dan warnanya adalah kemerahan. Seseorang Salik yang telah sempurna penyucian Latifah Ruhnya akan terhasillah Kasyful Qubur yakni terbukanya pandangan ghaib tentang alam kehidupan sesudah mati di dalam kubur. Dia juga akan dapat berhubungan dengan Ruh-Ruh Para Masyaikh yang telah meninggal dunia dan mengambil limpahan kerohanian dari mereka dengan menziarahi maqam-maqam yang menjadi tempat pengkebumian mereka.


3. SIRR


TITIK kedudukannya pada tubuh badan adalah pada tetek kiri dengan anggaran dua jari ke arah tengah dada. Latifah Sirr juga disebut sebagai Latifah Musawi adalah dari taklukan Alam Lahut yakni Alam Bayangan Sifat-Sifat Allah Ta’ala dan merupakan suatu pusat perhentian di Alam Amar.


Sifat yang Allah Ta’ala kurniakan dengan Latifah Sirr adalah menyentuh. Latifah Sirr adalah suatu alam di mana tersimpannya segala rahsia-rahsia tentang Bayangan Sifat-Sifat Allah Ta’ala dan seharusnya menjadi rahsia bagi seseorang Salik.


Latifah Sirr merupakan tahap di mana seseorang Salik itu akan mengalami perbualan dengan Hadhrat Zat Yang Maha Suci di dalam hatinya di mana dia akan berinteraksi dengan limpahan cahaya dari Hadhrat Zat dan akan mendengar suara-suara Ketuhanan.


Alam Lahut adalah wilayah Hadhrat Nabi Musa ‘Alaihissalam yang telah dapat berkata-kata dengan Allah dan telah mendengar suaraNya. Alam Lahut merupakan tingkatan langit yang ketiga di atas ‘Arasy.


Cahaya Nur dan limpahan keberkatan dari Hadhrat Nabi Musa ‘Alaihissalam terlimpah pada Latifah Sirr Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Cahayanya adalah dari langit yang ketiga dan warna Nurnya adalah keputihan.


Menurut Hadhrat Imam Rabbani Mujaddid Alf-Tsani Syeikh Ahmad Faruqi Sirhindi Rahmatullah ‘alaih seseorang Salik akan mengalami Jazbah pada tahap ini iaitu penarikan dan penyatuan dengan Cahaya Allah Ta’ala. Apabila dia mengalami Jazbah untuk menuju kepada Rahmat Allah maka dia digelar Majzub. Dan menurut beliau, ini merupakan tahap Sukr yakni Ruhaniah seseorang itu akan mabuk dalam melihat kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


4. KHAFI


TITIK kedudukannya pada tubuh badan adalah pada tetek kanan dengan anggaran dua jari ke arah tengah dada dan Latifah Khafi ini juga disebut sebagai Latifah ‘Isawi adalah bertakluk dengan Alam Bahut yakni Alam Sifat-Sifat Allah Ta’ala.


Ia juga merupakan suatu pusat perhentian di Alam Amar yang berada di atas ‘Arash Mu’alla. Allah Ta’ala mengurniakan sifat menghidu beserta dengan Latifah Khafi dan ianya menampilkan bunyi yang tersembunyi pada Perkataan-Perkataan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


Apabila sesuatu perkataan itu tertulis terdapat bunyi yang dikaitkan dengannya namun bunyi tersebut tidak akan didengari melainkan apabila perkataan itu disebutkan. Maka itulah bunyi adalah tersembunyi dan terkandung didalam huruf-huruf pada perkataan tersebut. Ia hanya menantikan masa untuk terzahir apabila bunyi huruf-huruf perkataan itu disebutkan.


Seseorang Salik akan memperolehi pengetahuan dan ilham dengan sentiasa membaca Al-Quran dan Asma-ul Husna. Salik juga akan menghidu wangi-wangian ketika berada dalam kehadiran Hadhrat Zat. Kerana itulah menjadi Sunnah Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk memakai wangi-wangian.


Adapun pada tubuh badan Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam sentiasa terbit keringat yang harum kerana Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wasallam sentiasa berada dalam kehadiran Hadhrat Zat Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada setiap masa dan keadaan.


Di Alam Bahut ini terdapatnya rahsia-rahsia yang tersembunyi tentang Sifat-Sifat Allah Ta’ala dan ia merupakan wilayah Hadhrat ‘Isa ‘Alaihissalam. Alam Bahut ini berada pada tingkatan langit yang keempat di atas ‘Arasy dan cahaya Nur serta keberkatan daripada Hadhrat Nabi ‘Isa ‘Alaihissalam yang berada pada langit keempat itu terlimpah pada Latifah Khafi Hadhrat Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan cahaya kehitaman.


Seseorang Salik perlu meninggalkan Sifat Basyariyat iaitu sifat-sifat kemanusiawian. Menurut Hadhrat Imam Rabbani Mujaddid Alf Tsani Syeikh Ahmad Faruqi Sirhindi Rahmatullah ‘alaih bahawa seseorang yang telah mencapai Latifah Khafi, dia akan mengalami Hairat Sughra yakni ketakjuban yang kecil kerana dapat merasai Kehadiran Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


5. AKHFA


TITIK kedudukannya pada tubuh badan adalah pada tengah dada di antara Latifah Sir dan Latifah Khafi dan ianya bertaaluk dengan Alam Hahut yakni Alam Zat Allah Ta’ala. Latifah Akhfa juga disebut sebagai Latifah Muhammadi. Alam Hahut berada pada tingkatan yang kelima di atas ‘Arash pada Alam Amar. Pada Latifah Akhfa tersembunyinya rahsia-rahsia yang lebih dalam tentang Hakikat Zat Ketuhanan Allah Ta’ala. Alam ini adalah suatu alam yang sunyi di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


Seseorang Salik akan merasai kehadiran Hadhrat Zat ketika melakukan sunyi diri dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kerana itulah Hadhrat Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam sering bersunyi diri dengan melakukan Khalwat Saghirah di Gua Hira’.


Alam Hahut merupakan wilayah Hadhrat Baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan berada pada tingkatan langit yang kelima di atas ‘Arasy. Cahaya Nur serta limpahan keberkatan dari Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam di Alam Hahut itu terlimpah pada Latifah Akhfanya dengan cahaya kehijauan.


Menurut Para Masyaikh Naqshbandiyah, hati Ruhaniah seseorang itu adalah biasan dari hati Ruhaniah Hadhrat Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam yang disebut Haqiqat Muhammadiyah.


Hati Ruhaniah ini menampilkan Bahrul Qudrah yakni Lautan Kekuasaan Allah Ta’ala yang merupakan sumber kejadian awal sekelian makhluk. Barangsiapa yang dapat mencapai ilmu pengetahuan tentang hati, akan mampu mencapai kefahaman tentang kebenaran Haqiqat Kenabian, Nur Muhammad dan Haqiqat Muhammadiyah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Limpahan cahaya Nur Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam berada di dalam lautan kekuasaan Bahrul Qudrah itu.


Setiap alam yang berada di Alam Amar merupakan suatu alam yang lengkap dengan membawa ciri-ciri yang tertentu. Ada sebilangan Masyaikh yang mengaitkan latifah-latifah Alam Amar ini dengan bunyi dan sunyi yang mana mereka menyatakan bahawa Latifah Qalb, Ruh, Sir dan Khafi adalah berada pada tingkatan zikir bunyi manakala Latifah Akhfa pula berada pada tingkatan zikir sunyi.


Sunyi bererti menjauhkan diri dari sebarang bentuk bunyi yang bersifat zahir kemudian menjadikan hatinya sentiasa bersunyian dengan Hadhrat Zat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Akhfa merupakan maqam Fana sehingga seseorang Salik itu mencapai erti sunyi yang hakiki di mana bunyi sekelian makhluk juga telah terlenyap.


Apabila telah terlenyapnya segala bunyi yang tinggal hanyalah sunyi dan sunyi merupakan suatu bunyi yang tidak diketahui. Lenyapnya bunyi makhluk tidak bermakna lenyapnya bunyi dari Hadhrat Zat Yang Maha Suci bahkan akan tetap terus kedengaran bunyi-bunyian yang bertasbih memuji kesucian ZatNya. Kesemua bunyi-bunyi ini adalah bersumber dari Hadhrat Zat Yang Maha Suci dan mengambil tempat di dalam lautan kekuasaan Bahrul QudrahNya.


Ada Para Masyaikh yang menyatakan bahawa,


“Sunyi adalah bunyi dari Hadhrat Zat.”


Apabila seseorang Salik maju atas jalan Tariqat sehingga dia mencapai Fana, Murshid akan melimpahkan ilmu yang berkaitan dengan alam-alam di Alam Amar tersebut ke dalam hati Muridnya.


Antara maksud yang utama adalah untuk sampai ke pusat perhentian Alam Hahut di Latifah Akhfa ini kerana ianya merupakan tempat persinggahan terakhir bagi Alam Amar dan merupakan tempat yang tertinggi bagi lautan kekuasaan Allah Ta’ala di mana Allah Ta’ala mula-mula menjadikan Nur Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.


Kelima-lima maqam bagi Lataif yang berada di dalam dada tersebut merupakan pusat perhentian dan ianya bagi menyatakan suatu perjalanan menuju kepada penyatuan dengan Hadhrat Zat Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerusi cahaya Kenabian Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam kerana Hadhrat Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah satu-satunya manusia yang telah benar-benar mencapai Hadhrat Zat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


Kemuliaan ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala kurniakan ketika peristiwa Mi’raj iaitu perjalanan menaiki tingkatan-tingkatan langit menuju Kehadhrat Zat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


6. NAFS


KEDUDUKANNYA ialah pada otak dan titiknya ada di bahagian dahi di antara dua kening. Taaluknya adalah dengan Alam Khalaq yakni alam ciptaan yang berada di bawah ‘Arash. Ia adalah tempat penzahiran ‘Aqal manusia yang bersifat halus pada otak yang berada di dalam tempurung kepala.


Perkataan Nafs lazimnya merujuk kepada diri seseorang atau jiwa pada tahap yang rendah atau keakuan diri seseorang. Sifat semulajadinya terdiri dari sifat-sifat kemanusiawian dan kehaiwanan. Perkataan Nafs juga merujuk kepada perkataan Nafas yang bererti pernafasan dan perkara ini merupakan suatu intipati dalam perkerjaan zikir kerana ia merupakan sumber tenaga dan menjadi asas sebilangan besar Tariqat.


Sebilangan Para Sufi berpendapat perkataan Nafs ini merujuk kepada peringkat kejiwaan yang merangkumi seluruh minda, emosi dan keinginan dalam diri seseorang.


Menurut Hadhrat Syeikh Shahabuddin As-Suhrawardi Rahmatullah ‘alaih, Nafs ada dua pengertian:


1. Nafs Syaik - Iaitu zat dan hakikat bagi sesuatu benda.


2. Nafs Natiqah - Suatu kehalusan dalam Ruhaniah manusia yang disebut Jiwa dan ianya bercahaya serta dikurniakan sifat keakuan. Dengan cahayanya tubuh badan menjadi tempat yang terdedah kepada berbagai jenis kejahatan dan kebaikan.


Mengenali Nafs dengan segala sifatnya adalah sukar kerana ia bersifat seperti seekor sumpah-sumpah yang boleh bertukar rupa pada sebilangan keadaan dengan warna yang berbeza.


Mencapai Ma’rifat tentang Nafs dengan segenap ilmu pengetahuan mengenai sekelian sifatnya adalah di luar kemampuan sebarang makhluk. Adalah sukar untuk mencapai Ma’rifat tentang Nafs sepertimana sukarnya mencapai Ma’rifat tentang Tuhan.


Nafs diciptakan dengan unsur keakuan diri dan ia mudah dipengaruhi Syaitan kerana adanya persamaan sifat angkuh dan bongkak dalam diri Syaitan dengan sifat keakuan yang ada pada Nafs.


Tujuan Syaitan menghasut Nafs melakukan kejahatan adalah untuk mengotorkan Qalb kerana apabila Nafs seseorang itu dikotori, Qalbnya juga akan turut dikotori. Hubungan Nafs dengan Qalb adalah dengan kelajuan cahaya dan kedua-duanya ibarat cermin yang memantulkan cahaya masing-masing antara satu sama lain.


Latifah Nafs adalah tempat perjalanan Ruhaniah melalui tingkatan nafsu-nafsu. Ada sebilangan Masyaikh yang meletakkan tiga tingkatan nafsu iaitu Nafsu Ammarah, Lawwamah dan Mutmainnah. Ada sebilangan Masyaikh yang meletakkan lima tingkatan nafsu iaitu Nafsu Ammarah, Lawwamah, Mutmainnah, Radhiyah dan Mardhiyah. Ada juga Para Masyaikh yang menetapkan tujuh tingkatan nafsu iaitu Nafsu Ammarah, Lawwamah, Mulhammah, Mutmainnah, Radhiyah, Mardhiyah dan Kamiliyah. Penyucian Latifah Nafs ini dinamakan sebagai Tazkiyatun Nafs di mana Para Masyaikh meletakkan berbagai ujian bagi menguji tahap nafsu Para Murid.


Ujian-ujian tersebut berupa Mujahadah Nafs bagi menundukkan kakuan diri dan keinginan hawa nafsu. Sebagaimana yang dinyatakan bahawa terdapat tujuh tingkatan Nafs yang perlu dilalui oleh setiap Salik seperti berikut:


1. Nafsu Ammarah - Pada tingkatan ini keakuan seseorang itu berada pada tahap kehaiwanan iaitu pada kedudukan yang rendah, tidak mengenali hakikat diri dan tidak mengenal hakikat Tuhan, boleh menjadi lebih buas dari binatang dan sentiasa mengingkari perintah-perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tahap nafsu ini berada pada tingkatan yang rendah dan perlu disucikan dengan Taubat dan Istighfar untuk menuju pada tingkatan yang lebih tinggi supaya dimuliakan oleh para Malaikat. Apabila nafsu Ammarah ini dapat dikuasai sepenuhnya, peribadi manusia itu akan menjadi lebih baik dari para Malaikat setelah dia menjalani latihan penyucian diri di bawah asuhan seorang Murshid yang sempurna. Nafsu Ammarah sentiasa mengajak diri mengingkari Allah dan Rasul, menurut ajakan Syaitan, bergelumang dengan dosa-dosa besar dan maksiyat, bertabiat dan bertingkah laku buruk, bernafsu seperti haiwan yang buas. Sentiasa memuaskan kehendak hawa nafsu dan bersikap mementingkan diri sendiri.


2. Nafsu Lawammah - Pada tingkatan ini keakuan seseorang itu berada pada tahap mula menyedari keingkaran dan sifat buruk yang ada pada dirinya dan berasa menyesal apabila melakukan perbuatan yang buruk dan tidak baik. Dia mula untuk berasa bersalah kerana menurut keakuan dirinya semata-mata dan lebih mementingkan diri sendiri. Dia akan melakukan Taubat dan Istighfar tetapi akan kembali kepada perlakuan dosa dan maksiyat kepada Allah dan Rasul. Kesedarannya baru terbit tetapi tidak kukuh. Dia perlu menjalani latihan untuk menerbitkan rasa kesedaran dan insaf pada setiap masa serta menyerahkan dirinya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kerana jika tidak, dia akan kembali terjerumus kedalam kancah keburukan.


3. Nafsu Mulhammah - Pada tingkatan ini keakuan seseorang itu berada pada tahap yang lebih kerap menyesali dirinya kerana mengingkari hukum dan perintah Allah dan Rasul, kesedaran untuk insaf semakin bertambah tetapi masih belum mampu meninggalkan perbuatan dosa dan maksiyat. Dia belum menyerahkan dirinya bulat-bulat kepada Allah kerana keakuan dirinya belum Fana atau dimatikan. Walaubagaimanapun keinginan untuk kembali sepenuhnya kepada Allah terasa amat dekat. Dia akan diilhamkan dengan amalan kebaikan yang dapat mendekatan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dengan latihan kerohanian dan asuhan Murshid dia akan berjaya mematikan keakuannya. Kerana itu amat penting bagi Murid untuk mendapat bimbingan Murshid kerana seseorang itu tidak akan mampu mencapai penyucian Nafsu Mulhammah ini dengan bersendirian melainkan melalui seorang Murshid secara zahir dan batin. Dia perlu berzikir dengan kalimah Ismu Zat iaitu Allah Allah sebanyak-banyaknya di dalam hati sehingga terbit ketenangan.


4. Nafsu Mutmainnah - Pada tingkatan ini keakuan seseorang itu berjaya mencapai Fana. Dia berjaya mematikan keakuan dirinya dan menyerahkan dirinya kepada Allah subhanahu wa Ta’ala. Apabila keakuan dimatikan maka akan lahirlah bayi maknawi dari diri insan. Insan bersifat pelupa dan apabila keakuan insan itu dimatikan maka akan lahirlah daripada dirinya, dirinya yang sebenar yang diertikan oleh Hadhrat Syeikh Abdul Qadir Jailani sebagai Tiflul Ma’ani. Pada tahap ini keimana seseorang itu menjadi semakin teguh dan kukuh. Dia perlu mendawamkan zikir kalimah Ismu Zat pada setiap latifah sehingga sempurna Sepuluh Lataif dan kekal dalam Syuhud. Ruhnya berjaya mencapai ketenangan pada Nafsu Mutmainnah dengan berkat limpahan dan asuhan Murshid.


5. Nafsu Radhiyah - Pada tingkatan ini keakuan seseorang itu telah diserahkan sepenuhnya kepada Allah dan dia redha dengan apa jua yang datang dari Allah. Tidak mementingkan apa yang telah berlaku dan apa yang akan berlaku. Dia menumpukan kesedarannya pada Kehadiran Zat Yang Suci pada setiap masa. Dia hanya menjadikan Allah sebagai maksud dan sentiasa menuntut keredhaan Allah. Dia sentiasa merasakan dirinya lemah di hadapan Allah dan sentiasa bergantung penuh kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dia mengetepikan segala kepentingan Dunia dan akhirat demi Allah Ta’ala semata-mata.


6. Nafsu Mardhiyah - Pada tingkatan ini keakuan seseorang itu telah tenggelam dalam lautan Syuhud. Dia menyaksikan Kebesaran Allah dengan cahaya Musyahadah dan mencapai ‘Irfan. Dia berenang di lautan Makrifat mengenali hakikat diri dan hakikat Tuhannya. Ruhnya telah aman damai di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan jiwanya menjadi lembut terhadap sesama makhluk dan zahirlah akhlak yang baik serta mulia dari dirinya.


7. Nafsu Kamiliyah - Pada tingkatan ini keakuan diri seseorang itu telah mencapai penyucian yang sempurna dan berjaya menjadi insan yang sempurna dengan menuruti segala Sunnah Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam yang mana merupakan insan yang paling sempurna. Zahir mereka bersama manusia di dalam khalayak ramai dan menghadiri majlis mereka namun batin mereka sentiasa dalam keadaan berjaga-jaga memerhatikan limpahan faidhz dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Zikir mereka pada tingkatan ini adalah sentiasa bermuraqabah. Penyerahan mereka sempurna dan Allah menzahirkan Tanda-Tanda KekuasaanNya menerusi hamba tersebut. Dia menyerah kepada segala ketentuan Taqdir dan melaksanakan kewajibannya sebagai hamba dengan sebaik-baiknya. Ini merupakan tingkatan para Nabi dan Rasul ‘Alaimussolatu Wassalam dan inilah merupakan tingkatan para Sahabat Ridhwanullah ‘Alaihim Ajma’in dan tingkatan sekelian Wali Qutub.


Hadhrat Syeikh Shahabuddin As-Suhrawardi Rahmatullah ‘alaih telah menyatakan bahawa terdapat sepuluh sifat buruk yang ada pada Nafs seperti berikut:


1. Hawa


2. Nifaq


3. Riya


4. Mengaku Tuhan


5. Bangga Diri


6. Tamak


7. Haloba


8. Banyak Ketawa


9. Malas


10. Lalai


Sepuluh sifat buruk Nafs ini adalah berasal dari unsur-unsur seperti panas, sejuk, lembab dan kering. Dari sepuluh sifat yang buruk ini terbit berbagai lagi sifat-sifat yang buruk seperti hasad dengki, iri hati, bersangka buruk, putus asa dan sebagainya.


Ada sebilangan Masyaikh yang menganggap Nafs dan Qalb adalah sama kerana pada penghujungnya mereka mendapati Nafs Mutmainnah adalah jiwa yang tenang serta menganggap jiwa letaknya pada hati. Mereka menganggap tiada perbezaan antara kedua-duanya.


Sebenarnya Qalb dan Nafs adalah dua perkara yang berbeza tetapi memiliki tanggungjawab yang sama iaitu untuk disucikan dari segala sesuatu selain Allah dan menumpukan ingatan terhadapNya serta menggunakan kemampuan Qalb dan Nafs untuk Ma’rifat Allah Ta’ala seterusnya sentiasa menghadapkannya kepada Wajah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kedua-duanya merupakan dua pusat perhentian utama yang mewakili Alam Amar dan Alam Khalaq. Qalb adalah pusat perhentian bagi Alam Amar dan Nafs adalah pusat perhentian bagi Alam Khalaq.


Seseorang Salik yang telah sempurna menempuh Alam Amar bermakna dia telah berjaya menempuh Daerah Wilayah Sughra yakni daerah kewalian kecil dan merupakan Alam Bayangan Sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


Menurut Hadhrat Imam Rabbani Mujaddid Alf Tsani Syeikh Ahmad Faruqi Sarhindi Rahmatullah ‘alaih, apabila seseorang Salik telah sempurna menempuh Daerah Wilayah Sughra maka bermulalah Fana yang sebenarnya dan Salik akan terus menuju kepada Daerah Wilayah Kubra yakni daerah kewalian yang besar.


Daerah Wilayah Kubra ini berada dalam Bayangan Hadhrat Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam iaitu dalam menuruti Sunnah Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ianya merupakan daerah kewalian Para Nabi dan terdapat tiga setengah daerah di dalamnya iaitu Daerah Ula, Daerah Tsaniah, Daerah Tsalisah dan setengah Daerah Qaus.


Setelah Salik sempurna menjelajah daerah-daerah ini pada Latifah Nafsnya dia akan meneruskan perjalanan Ruhaniahnya merentasi Daerah ‘Ulya iaitu daerah Para Malaikat yang tinggi kedudukannya di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


Seterusnya Salik hendaklah menyucikan Latifah Qalibiyahnya iaitu anasir yang empat terdiri dari Tanah, Air, Api dan Angin. Pada tingkatan ini seseorang Salik tidak lagi memerlukan sebarang asbab luaran untuk mencapai KehadiranZat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


7. ANGIN


KEDUDUKANNYA adalah pada seluruh jasad tubuh badan manusia. Angin sifatnya halus dan tidak kelihatan. Angin yang besar dapat mengubah keadaan sesuatu tempat dan ia boleh bergerak ke mana-mana. Unsur Angin terdapat pada diri manusia secara zahirnya dapat kita perhatikan menerusi pernafasan keluar dan masuknya udara melalui hidung dan mulut. Udara Oksigen yang dihirup masuk ke dalam paru-paru akan diagih-agihkan ke setiap bahagian tubuh badan.


Angin juga dapat kita rasakan melalui dubur ketika telah sempurnanya penghadaman. Sifat Angin pada manusia adalah halus kerana ia menampilkan keinginan hawa nafsu yang tidak terbatas dan kecenderungannya menuruti hawa nafsu. Adakalanya ia dizahirkan menerusi kesedihan dan dukacita dan adakalanya terzahir menerusi keinginannya untuk berpindah dari suatu tempat ke suatu tempat sepertimana angin yang bertiup dari suatu tempat ke suatu tempat.


8. API


KEDUDUKANNYA adalah pada seluruh jasad tubuh badan. Api merupakan suatu unsur yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala gunakan untuk menjadikan Syaitan dan Syaitan adalah dari golongan Jin dan mereka adalah dari Api. Unsur Api juga Allah Subhanahu Wa Ta’ala kurniakan kepada manusia dan ini dapat di lihat pada ciri-ciri zahirnya iaitu pembakaran makanan di dalam perut bagi menghasilkan penghadaman, panas badan dan demam.


Unsur Api yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala kurniakan adalah bersifat halus dan ada terkandung sifat-sifat kesyaitanan dan Jin dalam diri manusia seperti kemarahan, bangga diri, bongkak dan takabbur.


9. AIR


KEDUDUKANNYA adalah pada seluruh jasad tubuh badan. Jasad sekelian manusia adalah dari Air dan ciri-ciri air itu ada pada manusia seperti air mata, air liur, air hingus, air peluh, air mani, air najis dan darah. Air sifatnya mengalir dan begitulah sifatnya dalam masyarakat, bergerak ke sana dan ke mari seperti air. Ada sifat air yang jernih dan ada yang sifatnya seperti susu.


Manusia juga mudah menuruti hawa nafsu yang jahat dan ada yang boleh menerima perubahan dan mengubah masyarakat. Ia juga bersifat pelupa dan cenderung kepada tidur.


10. TANAH


KEDUDUKANNYA adalah pada seluruh jasad tubuh badan. Jasad jasmani Hadhrat Nabi Adam ‘Alaihissalam telah dijadikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala daripada tanah. Begitulah juga kepada sekelian anak cucu Hadhrat Nabi Adam ‘Alaihissalam kesemuanya kembali dikebumikan ke dalam tanah. Adapun sifat-sifat Tanah itu ada dalam diri manusia seperti kerendahan hati dan merendahkan diri, kehormatan, ringkas dan mudah terbentuk.


Terdapat berbaga jenis sifat tanah iaitu ada yang subur apabila menerima air hujan serta menumbuhkan rumput, ada tanah yang keras dan menakungkan air untuk manafaat makhluk yang lain dan ada jenis tanah yang keras tidak menakungkan air serta tidak menumbuhkan rumput.


Begitulah diibaratkan kepada orang yang menerima limpahan ilmu dari Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, ada yang mendapat manafaat darinya dan ada yang memanafaatkannya kepada orang lain dan ada yang tidak memanafaatkannya untuk dirinya mahupun kepada orang lain.


Sifat Tanah adalah mudah dibentukkan kepada sebarang bentuk, bijaksana, berperingkat, kejahilan, kejahatan, kegelapan dan kelemahan.

Semoga bermanfaat

Minggu, 02 Januari 2022

LAHIRKAN SEMULA BAYI SEBELUM MATIMU... ITULAH AMANAH ALLAH BAGIMU.

 Asalamualaikum Warahmatullahu Wabarahkatuh.


l  Bismillahirahmanirahim.


LAHIRKAN SEMULA BAYI  SEBELUM MATIMU... ITULAH AMANAH ALLAH BAGIMU.


Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani adalah SULTANUL atau QUTUBUL AULIA’ yakni Penghulu segala Wali wali Allah, maka wajarlah kita dalam mencari JALAN PULANG menjadikan beliau sebagai salah satu SUMBER rujukan dalam perjalanan kerohanian kita. Disini disertakan beberapa petikan dari kitab “SIRRUR ASRAR”  karangan beliau.


Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani menamakan kandungan itu sebagai TIFLUL MA’ANI atau BAYI MAKNAWI dan menjelaskan bahawa istilah itu merujuk kepada RUH SUCI didalam diri yang disebutnya sebagai RUH AL-QUDSI yang dilantik sebagai Khalifah Allah yang diamanah untuk membimbing kegelapan jasad kepada Allah sebelum dipanggil pulang, sebagai ujian bagi menyempurnakan janji yang pernah termeterai dengan Penciptanya. Inilah antara petikan-peyikan tersebut:


1. Makhluk pertama yang diciptakan Allah (ditajallikan) adalah RUH MUHAMMAD diciptakan dari Cahaya JAMAL ALLAH.


2. Ruh Muhammad adalah RUH YANG TERMURNI sebagai makhluk pertama dan ASAL seluruh makhluk. Dari Ruh Muhammad itulah Allah menciptakan semua ruh2 di Alam LAHUT yakni NEGERI ASAL bagi seluruh manusia. Maka kita sebut kita ini sebagai UMAT MUHAMMAD.


Selanjutnya ruh-ruh (perhatikan bukan ruh tetapi ruh ruh) diturunkan ke Alam TERENDAH dimasukkan pada makhluk terendah yakni JASAD setelah membuat PENGAKUAN dihari PERJANJIAN dimana Allah bertanya “Alastu birabbikum” = Bukankah Aku ini Tuhanmu ? Ruh menjawab, Benar Engkaulah Tuhan kami.


Proses turunnya (ruh) adalah setelah ruh diciptakan di Alam LAHUT , maka diturunkan ke Alam JABARUT dan DIBALUT dengan CAHAYA JABARUT sebagai pakaian antara DUA HARAM disebut sebagai RUH SULTANI. Selanjutnya diturunkan lagi ke Alam MALAKUT dan dibalut dengan cahaya MALAKUT dinamakan sebagai RUH RUHANI. Kemudian diturunkan lagi ke Alam MULKI dan dibalut dengan CAHAYA Mulki dinamakan RUH JASMANI.


Untuk KEMBALI (jalan pulang) ke negeri asalnya (Alam LAHUT) manusia perlu beribadah, maksudnya ibadah disini adalah ibadah dengan Tauhid Hakiki yakni MAKRIFATULLAH. Makrifat hanya terwujud bila manusia dapat melihat indahnya sesuatu YANG TERPENDAM dan TERTUTUP didalam diri dan didalam RASA di LUBUK HATI disebut sebagai KANZAN MAKHFIYYAN = terpendam dan tertutup, firman Allah : “ Kuciptakan makhluk agar mereka MengenalKu”.


Alam Makrifat = Alam Lahut = Negeri Asal kita = Tempat Ruh Al-Qudsi = Bayi Yang Perlu Dilahirkan semula sebelum mati = AKU yang diberi hak-hak kepada DIA yakni Allah.


Yang dimaksudkan dengan Ruh Al-Qudsi adalah HAKIKAT MANUSIA yang disimpan di LUBUK HATI, Keberadaannya akan diketahui dan dicapai dengan MENGAMALKAN secara TERUS MENERUS Kalimah Syahadah “La Ilaha illa Allah”


 Ahli tasauf menamakan Ruh Al-Qudsi dengan sebutan TIFLUL MAANI (bayi maknawi) kerana ia dari MA’NAWIYAH QUDSIYYAH. 


Pemberian nama TIFLUL MAANI didasarkan kepada :


Ia lahir dari HATI seperti lahirnya bayi dari RAHIM ibu dan ia diurus dan dibesarkan hingga dewasa (dengan gerak rasa).-dipupuk dan di asuh oleh bapa rohani iaitu mursyid dan murobbi.


Bayi bersih dari segala kotoran dosa lahirriyah. Tiflul Maani juga bersih dari SYIRIK dan GHAFLAH (lupa kepada Allah).


Tiflul Ma’ani HALUS dan SUCI dan hanya bergantung kepada yang berupaya dalam mengupayakannya.


 Ia BERWUJUD seperti RUPA MANUSIA (itu) juga kerana MANISnya bukan kerana kecilnya dan dilihat dari AWAL ADA-nya, ia adalah MANUSIA HAKIKI (yang sebenar-benarnya kita atau manusia = AKU) kerana Dialah YANG BERHUBUNGAN LANGSUNG DENGAN ALLAH. (jasad tak mampu berhubung dengan Allah secara langsung /terus-menerus).


 Firman Allah melalui Hadith Qudsi : “AKU mempunyai waktu khusus dengan Allah, Malaikat terdekat , nabi dan rasul tidak akan memilikinya”. “Kamu sekalian akan melihat Tuhanmu seperti kamu melihat sinar bulan purnama”. Al-Quran :

“Wajah wajah orang MUKMIN pada hari itu BERSER-SERI”. Yang dimaksudkan dengan MALAIKAT TERDEKAT = RUH RUHANI yang diciptakan di alam Jabarut.

Bila segala sesuatu SELAIN RUH AL-QUDSI masuk ke Alam LAHUT maka pasti akan TERBAKAR hangus.


Dalil dari Hadis Qudsi yang lainnya :


ILMU BATIN adalah RAHSIA diantara RahsiaKu. Aku jadikan didalam HATI hamba hambaKu dan tidak ada MENEMPATINYA kecuali AKU.


Aku ini BERADA pada SANGKAAN hambaKu. Aku bersamanya ketika dia MENGINGAT–Ku. Bila dia mengingatKu pada HATI-nya, Aku pun mengingatnya pada Dzat-Ku.


Salam Santun Dan Salam Tauhid.m