Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Sabtu, 08 April 2023
Lenyap didalam ke-esaannya ALLAH
PERJALANAN NYAWA DI DALAM SHOLAT
Kamis, 06 April 2023
Muraqabah Aqrabiyah
Pelaksanaan
dzikir ini pada dasarnya menurut Thariqat An-Naqsyabandi adalah dengan
membaca kalimah laa ilahaa illallah dengan tertib dan aturan
pelaksanaannya secara dzahir dan bathin, adapun tata caranya adalah
sebagai berikut :
- Niat, maksudnya hendaklah kita niatkan terlebih dahulu semoga pahala dari tahlil ini yang 70.000 dapat menjadi tebusan diri kita dari siksa neraka dan atas segala dosa yang kita perbuat di dunia ini, dengan do’a ini : “Ya Allah, jadikanlah kalimat laa ilahaa illallaah sekhatam (70.000) ini sebagai hadiah bagi Rasulullah Saw, Amiin.
- Mengingat akan Allah (konsentrasi) secara hati sanubari yang bersih dan ikhlas;
- Menggunakan maqamat (lathaif) dengan memandang gurisan kalimah Laa ilahaa illallah pada titik tempat di tubuh jasmani, yaitu : “Kalimah Laa ilahaa illallah di tarik kira-kira dua jari di bawah susu kiri menuju kira-kira dua jari keatas susu kiri, lalu terus kira-kira dua jari di atas susu kanan selanjutnya terus menuju kira-kira dua jari di bawah susu kanan terus pukulan akhirnya kembali ke bawah susu kiri lagi;
- Ucapkanlah kalimah Laa ilahaa illallah ini dengan tartil dan benar dan secara jihar;
- Hadirkan maknanya (Laa ilahaa illallah) dalam hati;
- Telinga mendengarkan ucapan kalimah laa ilahaa illallah ini melalui lidah untuk sebagai saksi;
- Semua titik maqam yang di lewati kalimah laa ilahaa illallah tadi mengingat akan Allah;
- Menyadari dan mengintai bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya.
- Pada ucapan kalimah tadi yang terakhir (Allah) hempaskan pada hati sanubari (Maqam Idzmu dzat/Lathifatul Qalbiy).
Inti pelaksanaan pada dzikir ini adalah dengan duduk tafakkur dan senantiasa mengintai dan menyadari akan sesungguhnya Allah selalu hambaNya (kita).
Sebelum melaksanakan dzikir tahlil ini, maka sampaikanlah pahalanya secara khusus kepada seluruh para Nabi dan Rasul yang ada pada Al-Qur’an, jika telah menyelesaikan jumlahnya sekhatam (70.000) maka berdo’alah dengan do’a berikut : Yaa Allah, sampaikanlah sekhatam tahlil ini kepada arwah Nabi Muhammad Saw dan anak cucunya serta para sahabat-sahabat beliau beserta para keluarganya dan kepada para Nabi dan Rasul terdahulunya, amiin.
Muraqabah Ahdiyatul Af'al
Muraqabah juga merupakan menjaga hati dari segala hal bermacam-macam rasa atau lintasan hati yang terlintas, seperti was-was dan khawatir walaupun hal baik atau buruknya suatu hal keadaan seseorang hamba saat bertafakkur kepada tuhannya, pengamalan muraqabah ini seseorang hamba tidaklah perlu mengerjakan dzikir, tetapi tertibnya hanya perlu mengheningkan akan keberadaan hati dan pikirannya serta berniat hanya tertuju kepada Allah saja, caranya duduk tafakkur dalam waktu yang tidak terbatas sambil mengintai bahwa i’tikad pada diri kita secara lahir dan bathin yakin bahwa di lihat oleh Allah dan segala yang kita tuju selalu di ketahui dan di ridhai-Nya.
Bila seseorang hamba berhasil dalam pelaksanaan ini maka akan merasakan dengan haqqul yakin bahwa Allah selalu memperhatikan dan bersama dengan kita di mana saja berada, jika sudah sedemikian maka akan terasalah ketenangan bathin yang tenang dan tentram, bahkan di sinilah timbul tetesan air mata pengakuan yang tulus akan kerendahan seseorang hamba di hadapan khalik-Nya dan menumbuhkan rasa takut kepada Allah. Jika seseorang hamba merasakan dalam bathinnya bahwa Allah senantiasa selalu memperhatikan dan melihat kita, maka sudah pasti hidayah akan selalu mengerjakan suruhan dan menjauhi larangan-Nya akan terlaksana dengan baik dan meningkatkan serta mempertebal tingkat ketaqwaan seseorang hamba.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran Ayat : 191 yang berbunyi : "(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : "Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia, maha suci engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
Rasulullah Saw juga bersabda : “Bertafakkur sesaat itu lebih baik daripada ibadah selama 60 tahun.”(H.R. Abu Dzar Al-Ghifari).Do’anya seseorang hamba dalam bermuraqabah ini adalah : “Antaridzu wurudal faidli minallahi subhanahu wata’ala alfaidhli ‘alaa lathiifatil qalbiy syayyidina jibril alaihissalam wa’alaa lathifatiil syayyidina adam alaihissalam wa’alaa lathiifati qalbiy syayyidina muhammadin wa’alaa lathiifati qalbiy biwaa ashithati masya’ikhunal kiraami ridhwanullahi ta’ala ‘alahi ‘ajma’iin.” Artinya : Hamba mengharapkan turunnya limpahan dari Allah yang mengalir ke hati Jibril AS dan ke hati Adam As dan ke hati junjungan kami Muhammad Saw ke dalam hatiku, dengan perantaraan para orang shaleh terdahulu, semoga Allah ridha kepada beliau-beliau sekaliannya.”
Tertibnya adalah duduk tafakkur dalam keadaan hening dan konsentrasi penuh kepada mengingat Allah sambil mengintai bahwa sesungguhnya Allah adalah dzat yang maha kuasa atas segala sesuatu dan yang menggerakkan atau mendiamkan setiap segala sesuatu yang terkecil (dzarrah) pada seluruh alam ini.
Jika telah terasa dalam gerak diam tersebut pada jiwa, maka akan terasa bahwa ini semua adalah perbuatan Allah semata (Af’al Allah), dengan demikian maka seseorang hamba tersebut akan dapat hidayah sifat yang baik berupa jika seorang lawan maka di pandang sebagai kawan dan musuh sebagai sahabat, apapun yang di lakukan orang lain terhadapnya maka di terima dengan hati yang lapang walaupun buruk itu adanya dan merupakan bahwa itu datangnya hanyalah daripada Allah semata, sedangkan manusia tadi hanya sebagai majadzinya (bayangan) saja dan bukanlah sebagai wujud hakikat yang sebenarnya. Nah, barangsiapa yang mencapai derajad maqam ini akan tentu ia bersikap segala sesuatu di pandangnya baik, karena pada dasarnya adalah perbuatan Allah semata yang di sandarkan kepada makhluk-Nya, segala gerak gerik pada alam ini adalah merupakan madzhar akan perbuatan (af’al) Allah.
Seseorang yang telah mengerjakan dan merasakan akan hasil Muraqabah Mutlak dan Muraqabah Ahdiyatul Af’al ini biasanya telah mencapai tingkatan Chalifah Mursyid dan Chalifah Pembantu Mursyidin, akan tetapi harus memenuhi persyaratan yang mutlak dalam Thariqat An-Naqsyabandi, yaitu harus menyelesaikan atau menamatkan Tahlil Lisan (jihar) sebanyak 7 (tujuh) khatam yang masing-masing sekhatamnya adalah 70.000 dzikir tahlil, jadi bila di jumlahkan adalah sebanyak 490.000 dzikir tahlil lisan atau jihar berikut dengan syarat-syarat pelaksanaan tahlil tersebut. Ini merupakan inti gabungan dzikir tahlil lisan pada muraqabah yang lain dan merupakan saling terhubung dengan 7 (tujuh) macam muraqabah pada tingkatan ajaran An-Naqsyabandi.
Muraqabah Mutlaq
Muraqabah Mutlaq adalah lanjutan tehnik dzikir Nafi Isbat, Muraqabah
Mutlaq adalah menjaga hati dari segala hal bermacam – macam rasa atau
lintasan hati yang terlintas, seperti was – was dan khawatir
walaupun
hal baik atau buruknya suatu hal keadaan seseorang hamba saat
bertafakkur kepada tuhannya, pengamalan muraqabah ini seseorang hamba
tidaklah perlu mengerjakan dzikir, tetapi tertibnya hanya perlu
mengheningkan akan keberadaan hati dan pikirannya serta berniat hanya
tertuju kepada Allah Swt saja, caranya duduk tafakkur dalam waktu yang
tidak terbatas sambil mengintai bahwa i’tikad pada diri kita secara
lahir dan bathin yakin bahwa di lihat oleh Allah Swt dan segala yang
kita tuju selalu di ketahui dan di ridhaiNya. Hal ini tercantum dalam
firman Allah Swt
وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ
مِنْ قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ
شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ ۚ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ
مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِنْ
ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Kamu tidak
berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur’an
dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi
atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu
biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang
lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan
(semua tercatat) dalam kitab yang nyata .” (QS. Yunus Ayat : 61)
Bila seseorang hamba berhasil dalam pelaksanaan ini maka akan merasakan
dengan haqqul yakin bahwa Allah Swt selalu memperhatikan dan bersama
dengan kita di mana saja berada, jika sudah sedemikian maka akan
terasalah ketenangan bathin yang tenang dan tentram, bahkan di sinilah
timbul tetesan air mata pengakuan yang tulus akan kerendahan seseorang
hamba di hadapan khalikNya dan menumbuhkan rasa takut kepada Allah Swt.
Dalam mengamalkan Muraqabah Mutlaq caranya adalah sebagai berikut:
1. Posisi duduk yang santai dan rileks
2. Niatkan dalam Hati agar dapat limpahan dari Allah
إِلَـهِيْ اَنْتَ مَقْصًودِيْ وَرِضَاكَ مَطْلًـوبِيْ اَعْـطِنِي مَحَبَّتـَكَ وَمَعْرِفَتَـكَ
” Wahai Tuhanku hanya Engkaulah yang kutuju, dan keridhoan-Mu yang ku
cari, berikan kepada ku kemampuan untuk mencintai-Mu dan Makrifat
kepada-Mu “.
3. Fokuskan di dada selama meditasi berlangsung
4. Heningkan hati, perasaan dan pikiran dalam meditasi/muraqabah ini tidak membaca apa-apa kecuali hanya hening.
5. Sugestikan diri anda secara dhohir dan bathin bahwa kita dilihat
oleh Allah dan segala gerak-gerik kita diperhatikan oleh Allah.
6. Waktu lamanya meditasi ini terserah anda.
Tehnik di atas sama dengan tehnik meditasi, ketika seseorang
meditasinya sudah meningkat dan mendalam, maka dalam meditasi tidak
membaca atau berdzikir apapun, kecuali hanya diam, hening dan bening.
Dalam konsep meditasi ada tiga tahapan
1. Dharana
Artinya
mengendalikan pikiran agar terpusat pada suatu objek konsentrasi.
Misalkan seseorang yang meditasi masih menggunakan obyek misalkan
bacaan dzikir atau nafas. Kemampuan melaksanakan Dharana dengan baik
akan memudahkan mencapai berikutnya.
Dzikir Ismu Dzat, Dzikir
Lathaif, Dzikir Nafi Isbat tergolong pada tahapan dharana, dzikir-dzikir
tersebut adalah dasar pondasi, jika hasilnya bagus dan kuat, maka dalam
perjalanannya berikutnya akan mudah, karena tahapan dzikir dalam
tharekot adalah sebuah sistem, antara tahap pertama dan kedua saling
berkaitan.
2. Dhyana
Adalah suatu keadaan di mana arus
pikiran tertuju tanpa putus-putus pada objek yang disebutkan dalam
Dharana itu, tanpa tergoyahkan oleh objek atau gangguan/ godaan lain
baik yang nyata maupun yang tidak nyata. Gangguan/ godaan yang nyata
dirasakan oleh Panca Indria baik melalui pendengaran, penglihatan,
penciuman, rasa lidah maupun rasa kulit. Gangguan/ godan yang tidak
nyata adalah dari pikiran sendiri yang menyimpang dari sasaran objek
Dharana.
Tujuan Dhyana adalah aliran pikiran yang terus menerus
kepada Tuhan melalui objek Dharana. Maharsi Patanjali menyatakan: "Tatra
pradyaya ekatana dhyanam" Artinya: Arus buddhi (pikiran) yang tiada
putus-putusnya menuju tujuan (Hyang Widhi). Dalam tasawuf, muraqabah
Mutlak tergolong tahapan meditasi Dhyana sehingga dalam meditasi/dzikir
tidak membaca apapun, kecuali hanya iam dan pasrah kepada Allah.
3. Samadhi
Samadhi adalah tingkatan tertinggi dari Astangga-yoga, yang dibagi dalam dua keadaan yaitu:
1) Sabija-samadhi, adalah keadaan di mana yogin masih mempunyai kesadaran, dan
2) Asamprajnata-samadhi, adalah keadaan di mana yogi (sang Pesuluk)
sudah tidak sadar akan diri dan lingkungannya, karena bathinnya penuh
diresapi oleh kebahagiaan tiada tara, diresapi oleh cinta kasih Tuhan.
Baik dalam keadaan Sabija-samadhi maupun Nirbija-samadhi, seorang yogi
(sang Pesuluk) merasa sangat berbahagia, sangat puas, tidak cemas, tidak
merasa memiliki apapun, tidak mempunyai keinginan, pikiran yang tidak
tercela, bebas dari "catur kalpana" (yaitu: TAHU, DIKETAHUI, MENGETAHUI,
PENGETAHUAN), tidak lalai, tidak ada ke-"aku"-an, tenang, tentram dan
damai.
Dalam Thoriqot Naqsyabandiyah, kondisi meditasi tahap
Samadhi adalah sama dengan kondsisi Muraqabah Ahdiyatul af’al. Nah,
barangsiapa yang mencapai derajad maqam ini akan tentu ia bersikap
segala sesuatu di pandangnya baik, karena pada dasarnya adalah perbuatan
Allah Swt. semata yang di sandarkan kepada makhlukNya, segala gerak
gerik pada alam ini adalah merupakan madzhar akan perbuatan (af’al)
Allah Swt.
……………..فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُوْنَ
“……. maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada
rasa takut bagi mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati” (
al-Baqarah : 38)
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا
وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ
وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ
Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil
berdiri dan duduk, dan dalam keadaan berharing, dan mereka memikirkan
tentang penciptaan langit dan bumi sambil berkata: "Ya Tuhan kami,
Engkau tidak menciptakan ini dengan sia-sia! Maha Suci Engkau! Maka
peliharalah kami dari siksa neraka." (Qs. Yunus:191)
Dalam
Tulisan ini sengaja saya gabungkan pembahasan antara Muraqabah Mutlaq
dengan Muraqabah Ahdiyatul Af’al. Karena keduanya tehniknya sama, hanya
saja dalam Muraqabah Ahdiyatul Af’al lebih dipertajam dan lebih
dikuatkan ketika duduk diam dan pasrahnya.
Ada sebagian orang
yang menyatakan, bagaimana jika seseorang pesuluk (pencari Tuhan)
langsung memakai tehnik Muraqabah Mutlaq, yaitu duduk diam fokus di hati
dan pasrah diri pada Allah tanpa membaca apapun. Jika orangnya sudah
berpengalaman dalam berbagai bidang tehnik dzikir dan meditasi tidak
masalah, akan tetapi bagi orang yang dasarnya belum pernah olah
spritual, maka jika langsung memakai tehnik Muraqabah Mutlaq maka
hasilnya adalah sia-sia, hanya rasa kantuk dan capek, sehingga menjadi
malas dalam mengamalkannya.
Antara Dzikir Ismu Dzat, Dzikir
Lathoif, dan Dzikir Nafi Isbat adalah ibarat sebuah jaringan komunikasi
yang canggih, Dzikir Ismu Dzat adalah pancang tower agar bisa nyambung
ke satelit, Dzikir Lathoif, adalah kabel-kabel cangggih untuk membangun
jaringan dalam sebuah bangunan kantor, sedangkan Dzikir Nafi Isbat
adalah sistem otomatisnya yang berupa software program dengan berbagai
bentuk vitur yang lengkap. Nah Muroqbah Mutlaq adalah mulai fungsinya
jaringan komunikasi tersebut yaitu antara makhluk dan Khalik.
Maka jika seseorang pesuluk langsung memakai tehnik dzikir muraqabah
mutlaq tanpa di dasari dengan jaringan sistem lainnya, bagaimana mungkin
dia bisa tersambung dan komunikasi....?
Semoga semua makhluk diberi cahaya oleh Allah.....
Literatur:
1. Syekh H. Djalaluddin, Sinar keemasan II, Persatuan Pengamal Tarikat Islam, 1987. Hal. 31 dan 32.
Maqam Wukuf Qalbiy
1. Wukuf Samani;
Artinya : Kontrol atau instropeksi yang senantiasa di lakukan oleh seseorang hamba terhadap ingat atau tidaknya dia kepada Allah sekurang-kurangnya dua atau tiga jam, jika merasakan dalam keadaan ingat kepada Allah dalam pada waktu-waktu tersebut, semestinya banyak-banyak bersyukur kepada Allah karena telah di berikan hidayah berupa ketetapan ingat kepada-Nya, jika ternyata di rasakan lupa kepada Allah, maka banyak-banyaklah melakukan taubat kepada Allah dan usahakan dengan sekeras mungkin supaya kembali ingat kepada Allah.
2. Wukuf ‘Adadi;
Artinya : Senantiasa memelihara bilangan ganjil dan menyelesaikan dzikir napi istbat pada setiap dzikir tersebut di akhiri atau di sudahi, jangan di akhiri dengan bilangan yang genap, tetapi mestilah bilangan yang ganjil, seperti ; 3, 5 atau 7 dan seterusnya.
3. Wukuf Qalby;
Artinya : Keadaan hati seseorang yang selalu ingat dan hadir kepada Allah, pikiran yang lain-lain terlebih dahulu di hilangkan dengan semampunya, kemudian sekalian panca indera yang lima tawajjuh dengan mata hati yang hakiki untuk menyelami ma’rifat kepada Allah, usahakan tidak ada terluang sedikitpun di dalam hati selain Allah.
PENERAPAN DZIKIRNYA :
Dzikir wukuf ini pelaksanaannya adalah dengan menghadirkan seluruh lathaif dan seluruh anggota badan jasmani secara keseluruhan seperti halnya pada dzikir lathifatul kullu jasad yang senantiasa di hadapkan kepada dzat yang tanpa rupa dan bentuk (Allah Swt), menghadirkannya tanpa menyertakan dzikir ismu zat atau bacaan - bacaan, tapi hanya berupa ingat dan pikir akan kebesaran Allah Swt yang telah menciptakan alam semesta ini baik nyata maupun ghaib.
Dzikir wukuf adalah intinya bersifat jenis dzikir dan pikir, dzikir dengan diam dan khusyu’ serta konsentrasi penuh semata-mata mengingat hanya kepada Allah Swt, yaitu mengingat dzat Allah Swt yang bersifat dengan segala sifat sempurna dan suci atau jauh dari segala sifat kekurangan, segala sifat kesempurnaan hanya di miliki oleh Allah Swt, sedangkan sifat kekurangan adalah milik kita dan untuk meningkatkan sifat yang kurang sempurna itu menjadi lebih mendekati kepada sempurna adalah dengan jalan dzikir inilah di lakukan oleh seseorang hamba, dzikir ini juga mengakui akan sifat segala kekurangannya seseorang hamba, senantiasa tunduk dan lemah di hadapan Allah Swt dan menyerahkan segala pengaturan hanyalah milik Allah Swt, maka dengan jalan inilah yang kita dapat mengharapkan rahmat, karunia, hidayah dan ridha Allah Swt.
Dzikir wukuf ini secara umum pelaksanaannya di rangkaikan setelah selesai melaksanakan dzikir ismu zat atau dzikir lathaif secara keseluruhan atau setelah dzikir napi istbat, dzikir wukuf ini di laksanakan dalam rangka menutup dzikir yang lain sebelumnya apapun itu jenis dzikirnya, yang ada hanya merasakan ketenangan bathin setelah melaksanakan dzikir sebelumnya.
Nafi dan isbat tentang Laa ilaaha illallaah
Ketahuilah bahwa kalimat tersebut mempunyai dua bagian. Pertama adalah bagian nafi, yaitu ucapan: “Laa ilaaha” yang artinya: “Tidak ada Tuhan.” Dan kedua adalah bagian itsbat, yaitu diucapkan: “illallaah” yang artinya: “Kecuali Allah swt.” Jika kalimat nafi dan itsbat diucapkan oleh seorang yang tidak mempersekutukan Allah swt dengan sesuatu.
Maka artinya adalah penafian dan penolakan terhadap dugaan orang musyrikin yang beranggapan bahwa ada tuhan lain bersama Allah swt dan menetapkan pengertian tauhid di dalam hati, dan pengertian ini makin bertambah teguh dengan diucapkannya kalimat ini bcrulang kali, seperti yang disabdakan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam dikatakan:
جَدِّدُوْا إِيماَنَكُمْ بِقَوْلِ لَااِلَهَ اِلاَّاللهُ
Artinya: “Perbaharuilah selalu iman kalian dengan ucapan: “Laa ilaaha illallaah.”
Demikian pula kalimat syirik mempunyai berbagai arti tersembunyi dan sangat kecil, yang tidak dapat tersclamatkan daripadanya, kecuali para ‘arif ahli hakikat dan orang-orang yang diberi kasyaf yang dapat melihat kebenaran dengan mata telanjang. Ada kalanya seorang mukmin terkena sedikit penyakit syirik, meskipun ia tidak menyadarinya.
Contohnya jika seorang percaya bahwa ada selain Allah swt yang dapat mendatangkan kebaikan dan menolak malapetaka secara mandiri. Termasuk juga jika seorang mempunyai antusias untuk berkuasa atas orang lain, menguasai hak-hak mereka, menyukai kedudukan, penghormatan dan pujian dari manusia.
Sebagaimana sabda Baginda Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam:
اَلشِّرْكُ فِي أُمَّتيْ أُخْفِىْ مِنْ دَبيْبِ النَّمْلِ
Artinya: “Kemusyrikan di tengah umatku lebih tersembunyi dari merayapnya semut hitam.”
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam sendiri menyebut riya’ dengan sebutan syirik kecil. Adakalanya seorang menyekutukan Allah swt dengan dirinya sendiri atau dengan lainnya, sedang ia tidak menyadarinya. Karena itu, seorang mukmin wajib menjaga dirinya dari syirik yang samar, sebagaimana ia wajib menjaga dirinya dari syirik yang terlihat. Kemusyrikan dalam dimensi ini tidak mempengaruhi pondasi iman yang menjadi sumber keselaniatan manusia, akan tetapi ia dapat mengurangi kesempurnaannya.
Telah kami bicarakan sebelumnya, bahwa setiap muwahhid wajib menolak ketuhanan sesuatu selain Allah swt, sekaligus merupakan sanggahan bagi kaum musyrikin dan mereka yang beranggapan demikian. Kami menyebut keyakinan mereka rapuh, karena penuh berbagai angan-angan yang timbul dari pemahaman dan pemikiran yang rapuh, yang menyebabkan rusaknya metabolisme tubuh serta hilangnya akal.
Jikalau tidak, bagaimana mungkin hal itu dapat tersembunyi dari pcrasaan seorang yang mempunyai indra penglihatan dan pendengaran, apalagi dari penglihatan dan pendengaran hati sanubari seorang tentang wujud Allah swt yang menjadi satu-satunya sumber bagi segala sesuatu. Akan tetapi, siapapun yang disesatkan oleh Allah swt, maka ia tidak akan memperoleh petunjuk, dan siapapun yang diberi petunjuk oleh Allah swt, maka ia tidak akan tersesat oleh penyesat.
Mereka ituiah orang-orang yang dihilangkan pendengaran nya dan penglihatannya oleh Allah swt. dan mereka dibiarkan dalam kesesatannya, sehingga mereka tidak dapat melihat kebenaran, mereka tuli, bisu dan buta, dan mereka tidak akan kembali kepada jalan yang benar.
Dalam sebuah sya’ir disebutkan: “Sungguh amat mengherankan, bagaimana seorang dapat menentang Allah swt atau mendurhakai-Nya? Padahal, pada setiap benda ada tanda-tanda yang menyaksikan bahwa Allah swt adalah Tuhan Tang Maha Esa. Pada setiap benda yang bergerak ataupun yang menetap ada saksi bahwa Allah swt adalah Tuhan Yang Maha Esa.”
Salah seorang ‘arifbillah berkata: “Siapapun yang minta bukti atas keesaan Allah swt, maka keledai lebih mengenal Allah swt daripadanya.” Andaikata kami tidak meringkasnya, karena berbagai alasan yang hanya diketahui oleh Allah swt, tentu kami akan menguraikan masalah ini panjang lebar, sehingga orang yang berakal akan puas karenanya, dan Allah swt Maha Mengawasi apapun yang aku ucapkan.