Laman

Kamis, 19 September 2013

Tanda-Tanda Husnul Khotimah

Kematian merupakan suatu hal yang telah ditakdirkan oleh Allah swt. Setiap makhluk pasti akan kembali kepada-Nya. Dan setiap muslim yang beriman tentunya ingin kembali ke pangkuan Illahi dalam kondisi yang baik dan diridhoi oleh Allah swt, atau husnul khotimah. Sebagai makhluk ciptaan-Nya kita hanya bisa berdoa kepada Allah swt agar diberikan akhir yang baik pada hidup kita di dunia. Allah swt telah menetapkan tanda-tanda husnul khotimah. Berikut ini adalah tanda-tanda husnul khotimah serta golongan-golongan yang akan mendapatkannya:
1. Mengucapkan kalimat syahadat ketika wafat
Rasulullah bersabda:”Barangsiapa yang pada akhir kalimatnya mengucapkan “Laa ilaaha illallah” maka ia dimasukkan ke dalam surga.” (HR. Hakim)
2. Ketika wafat dahinya berkeringat
Hal ini berdasarkan hadits dari Buraidah Ibnul Khasib, adalah dahulu ketika Buraidah di Khurasan, menengok saudaranya yang tengah sakit, namun didapatinya ia telah wafat, dan terlihat pada jidatnya berkeringat, kemudian ia berkata,”Allahu Akbar, sungguh aku telah mendengar Rasulullah bersabda: “Matinya seorang mukmin adalah dengan berkeringat dahinya.” (HR. Ahmad, AN-Nasai, at-Tirmidzi, Ibnu MAjah, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan ath-Thayalusi dari Abdullah bin Mas’ud)
3. Wafat pada malam Jumat
Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah seorang muslim yang wafat pada hari jumat atau pada malam jumat kecuali pastilah Allah menghindarkannya dari siksa kubur.” (HR. Ahmad)
4. Mati syahid dalam medan perang dan berjuang di jalan Allah
Hal ini terdapat dalam firman Allah swt: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup disisi Tuhan-Nya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikanNya kepada mereka dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka bahwa tidak ada kekawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahal orang-orang yang beriman.” (Ali Imran:169-171)
Selain itu, terdapat pula dalam hadits sebagai berikut:
Rasulullah saw bersabda: “Bagi orang yang mati syahid ada 6 keistimewaan yaitu: diampuni dosanya sejak mulai pertama darahnya mengucur, melihat tempatnya di dalam surga, dilindungi dari adzab kubur, dan terjamin keamanannya dari malapetaka besar, merasakan kemanisan iman, dikawinkan dengan bidadari, dan diperkenankan memberikan syafa’at bagi 70 orang kerabatnya.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Seorang sahabat Rasulullah berkata: “Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata: Wahai Rasulullah mengapa orang mukmin mengalami fitnah di kuburan mereka kecuali yang mati syahid? Beliau menjawab: Cukuplah ia menghadapi gemerlapnya pedang di atas kepalanya sebagai fitnah.”  (HR. an-Nasai)
Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang memohon mati syahid kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan menyampaikannya derajat para syuhada sekalipun ia mati diatas ranjangnya.” (HR. Imam Muslim dan al-Baihaqi)
5. Wafat karena tenggelam serta karena penyakit tertentu seperti kolera, tuberculosis (TBC), dan busung perut
Rasulullah saw bersabda: “Mati di jalan Allah adalah syahid, dan perempuan yang mati ketika tengah melahirkan adalah syahid, mati karena terbakar adalah syahid, mati karena tenggelam adalah syahid, mati karena penyakit TBC adalah syahid, dan mati karena penyakit perut adalah syahid.” (HR.Thabrani)
Dari Hafshah binti Sirin bahwa Anas bin Malik berkata: “Bagaimana Yahya bin Umrah mati? Aku jawab: “Karena terserang penyakit kolera.” ia berkata: Rasulullah telah bersabda: penyakit kolera adalah penyebab mati syahid bagi setiap muslim.” (HR. Bukhari, ath-Thayalusi dan Ahmad)
Aisyah bertanya kepada Rasulullah saw tentang penyakit kolera. Lalu beliau menjawab;”Adalah dahulunya penyakit kolera merupakan adzab yang Allah timpakan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya kemudia Dia jadikan sebagai rahmat bagi kaum mukmin. Maka tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah kolera lalu ia menetap dikampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah tetapkan baginya pahala orang yang mati syahid”(HR. Bukhari, al-Baihaqi dan Ahmad)
6. Perempuan yang wafat karena melahirkan
Dari Ubadah ibnush Shamit ra bahwa Rasulullah saw menjenguk Abdullah bin Rawahah yang tidak bisa beranjak dari pembaringannya, kemudian beliau bertanya : “Tahukah kalian siapa syuhada dari ummatku? Orang-orang yang ada menjawab: Muslim yang mati terbunuh” Beliau bersabda: “Kalau hanya itu para syuhada dari ummatku hanya sedikit. Muslim yang mati terbunuh adalah syahid, dan mati karena penyakit kolera adalah syahid, begitu pula perempuan yang mati karena bersalin adalah syahid (anaknya yang akan menariknya dengan tali pusarnya kesurga).” (HR. Ahmad, Darimi, dan ath-Thayalusi)
7. Wafat karena mempertahankan harta dari perampok
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang mati karena mempertahankan hartanya adalah syahid.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu DAud, an-Nasa’i, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Abu Hurairah berkata, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw seraya berkata: “Ya, Rasulullah, beritahukanlah kepadaku bagaimana bila ada seseorang yang datang dan akan merampas hartaku” Beliau menjawab: “jangan engkau berikan”  Ia bertanya; bagaimana kalau ia membunuhku? Beliau menjawab: Engkau mati syahid. Orang itu bertanya kembali; Bagaimana kalau aku yang membunuhnya? Beliau menjawab:  ia masuk neraka.” (HR. Imam Muslim, an-Nasa’i dan Ahmad)
8. Mati dalam membela agama dan jiwa
Rasulullah saw bersanda: “Barangsiapa mati terbunuh dalam membela hartanya maka ia mati syahid, dan siapa saja yang mati dalam membela keluarganya maka ia mati syahid, dan barang siapa yang mati dlam rangka membela agama(keyakinannya) maka ia mati syahid, dan siapa saja yang mati mempertahankan darah (jiwanya) maka ia syahid.” (HR. Abu Daud, an-Nasa’i, at-tirmidzi, dan Ahmad)
9. Orang yang selalu mengerjakan amal saleh hingga akhir hidupnya, termasuk meninggal dalam keadaan sedang menjalankan ibadah kepada Allah swt.
Dari Ali bin Abi Tholib ra, dia berkata : “Suatu hari saya akan menunaikan sholat subuh di masjid bersama Rasulullah saw, tapi di tengah jalan aku bertemu dengan seseorang yang sudah renta juga mau ke masjid untuk menunaikan sholat subuh, aku terus berjalan di belakangnya, dan ketika kami berdua sampai di masjid ternyata sholat berjamaah sudah usai, akhirnya aku sholat subuh berjamaah dengan kakek itu, dan ketika aku salam tahiyyat akhir si kakek tetap bersujud dan ternyata si kakek telah meninggal dunia, lalu para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, bagaimana keadaan kakek ini di akhirat?” Rasulullah saw menjawab, “Dia masuk surga” (HR Ahmad & Daruqutni)
10. Ketika wafat, wajahnya terlihat tenang, damai, dan tersenyum seolah-olah ia melihat bidadari di syurga
Dari Abu Darda ra, Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan keluar ruhnya seorang mukmin sampai dia melihat tempatnya di surga, dan tidak akan keluar ruhnya seorang kafir sampai dia melihat tempatnya di neraka” (HR Al-Baihaqi)

Akhlak Istri Terhadap Suami

Akhlak seorang istri terhadap suami adalah sebagai berikut:
  • Wajib mentaati suami, selama bukan untuk bermaksiat kepada Allah SWT.
    Al Bazzar dan Ath Thabrani meriwayatkan bahwa seorang wanita pernah datang kepada Rasulullah SAW lalu berkata, “Aku adalah utusan para wanita kepada engkau: jihad ini telah diwajibkan Allah kepada kaum laki-laki; jika menang diberi pahala, dan jika terbunuh mereka tetap hidup diberi rezeki oleh Rabb mereka, tetapi kami kaum wanita yang membantu mereka, pahala apa yang kami dapatkan?” Nabi SAW menjawab, “Sampaikanlah kepada wanita yang engkau jumpai bahwa taat kepada suami dan mengakui haknya itu sama dengan jihad di jalan Allah, tetapi sedikit sekali di antara kamu yang melakukannya.”
  • Menjaga kehormatan dan harta suami
    Allah SWT berfirman, “Maka wanita-wanita yangbaik itu ialah yang mentaati suaminya dan menjaga hal-hal yang tersembunyi dengan cara yang dipelihara oleh Allah.” (QS. An Nisa’:34)
  • Menjaga kemuliaan dan perasaan suami
    Ketika Asma bin Kharijah Al-Fazariyah menyerahkan anak perempuanya kepada suaminya di malam pernikahannya, ia berkata,”Wahai anakku, sesungguhnya engkau telah keluar dari kehiduoan yang selama ini engkau kenal. Sekarang engkau akan berada di ranjang yang belum pernah engkau ketahui, bersama pasangan yang belum sepenuhnya engkau kenali. Karena itu, jadilah engkau bumi baginya dan dia akan menjadi langit bagimu, jadilah engkau hamparan baginya dan dia akan menjadi hamba sahaya bagimu. Janganlah engkau menentangnya, sehingga ia membencimu. Jangankah engkau menjauh darinya, sehingga ia melupakanmu. Jika ia menjauh darimu, maka menjauh pulalah engkau darinya, dan jagalah hidungnya, pendengarannya dan matanya; jangan sampai ia mencium darimu kecuali yang harum, janganlah ia mendengar kecuali yang baik, dan jangan ia memandang kecuali yang cantik.”
  • Melaksanakan hak suami, mengatur rumah dan mendidik anak
    Anas r.a berkata, “Para sahabat Rasulullah SAW apabila menyerahkan pengantin wanita kepada suaminya, mereka memerintahkan agar melayani suami, menjaga haknya, dan mendidik anak-anak.”
  • Tidak boleh seorang istri menerima tamu yang tidak disenangi suaminya.
  • Seorang istri tidak boleh melawan suaminya, baik dengan kata-kata kasar maupun dengan sikap sombong.
  • Tidak boleh membanggakan sesuatu tentang diri dan keluarganya di hadapan suami, baik kekayaan, keturunan maupun kecantikannya.
  • Tidak boleh menilai dan memandang rendah suaminya.
  • Tidak boleh menuduh kesalahan atau mendakwa suaminya, tanpa bukti-bukti dan saksi-saksi.
  • Tidak boleh menjelek-jelekkan keluarga suami.
  • Tidak boleh menunjukkan pertentangan di hadapan anak-anak.
  • Agar perempuan (istri) menjaga iddahnya, bila ditalak atau ditinggal mati oleh suaminya, demi kesucian ikatan perkawinannya.
  • Apabila melepas suami pergi bekerja, lepaslah suami dengan sikap kasih, dan apabila menerima suami pulang bekerja, sambutlah kedatangannya dengan muka manis/tersenyum, pakaian bersih dan berhias.
  • Setiap wanita (istri) harus dapat mempersiapkan keperluan makan, minum, dan pakaian suaminya.
  • Seorang istri harus pandai mengatur dan mengerjakan tugas-tugas rumah tangganya.

Etika Berdebat

Perdebatan adalah hal yang biasa dan lumrah dalam kehidupan. Perdebatan dapat timbul karena tak semua isi kepala manusia itu sama. Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia dengan segala kesempurnaannya. Allah Subhanahu wa ta’ala juga menciptakan perbedaan-perbedaan diantara setiap manusia. Menurut saya, dengan adanya perbedaan itulah kita  diajarkan untuk saling menghargai sesama, juga melatih kesabaran kita, apakah kita cukup berbesar hati menerima segala perbedaan yang ada?
Justru perbedaan itulah yang akan membuat dunia ini semakin berwarna, meski harus ada perdebatan di dalamnya.  Namun sebagai manusia yang mencoba untuk lebih baik lagi, ada baiknya kita tetap selalu berada di koridor syariah. Berdebat secara sehat, misalnya. Tanpa panjang lebar lagi (karena sudah terlalu panjang kali lebar saya berkata-kata), saya coba uraikan etika berdebat dalam Islam dari beberapa sumber yang telah saya baca. Semoga berguna bagi para debaters, baik saat berdebat/diskusi di dunia nyata maupun dunia maya.
Dalam bahasa Arab, perdebatan dikenal dengan istilah al-mujadalah. Kata al-mujadalah seakar dengan kata al-jidal yang artinya perdebatan sengit. Pendapat lain mengartikannya dengan tali yang terikat kokoh. Dari sini, kata al-jidal mengandung arti debat yang dilakukan dengan cara yang baik dan didasari dalil yang kuat dan benar. Pertama, debat harus dilakukan dengan tertib. Artinya, berbicara dan mengeluarkan pendapat tidak tergesa-gesa. Ada baiknya masalah yang akan diperdebatkan itu dicerna dan dipahami dulu dengan baik. Bila sudah dipikirkan dengan matang, barulah mengeluarkan pendapat dan gagasan yang aktual. Perlu diingat bahwa dalam mengeluarkan opini sebisa mungkin bergantian agar diskusi tetap tertib, menunggu dengan sabar sampai lawan debat selesai berbicara.
Kedua, gunakan bahasa yang tidak bertele-tele dalam berdebat. Langsung saja utarakan pendapat yang berkaitan dengan masalahnya secara singkat dan padat. Berbicara sedikit tetapi sarat makna, serta tepat dan sesuai dengan sasaran. Hal ini untuk menghindari pembicaraan di luar konteks. Bukankah perdebatan dalam sebuah diskusi itu bertujuan untuk untuk mencapai yang haq dan membatalkan yang batil?
Yang ketiga adalah hal yang tidak kalah penting yaitu cara kita dalam berbicara/mengeluarkan pendapat. Tentunya berbicara dengan kata-kata sopan, tidak menyinggung ataupun menyudutkan orang lain. Janganlah meremehkan dan menghinakan keberadaan lawan debat. Dengan  demikian, perdebatan akan terhindar dari pembicaraan yang bernada cercaan dan mengundang kemarahan. “Bukanlah orang beriman, yang suka mencerca, melaknat, berbicara kotor, dan menyakiti,” sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.
Etika berdebat tersebut hendaknya dilakukan dengan rasa kesadaran yang tinggi, otomatis perdebatan tidak berubah menjadi keributan seperti yang sering kita lihat di televisi saat dewan terhormat sedang berdiskusi. Insya Allah dengan mengedepankan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala kesepakatan akan diraih dengan perdebatan yang damai dan sehat.

Saat Ruh Dicabut

Pernahkah kita mencoba berpikir mengenai bagaimanakah nanti para malaikat akan mencabut ruh kita dari dalam jasad ini? Atau, pernahkah kita merenung sejenak mengenai apa yang akan terjadi setelah malaikat melakukan tugasnya mencabut nyawa kita, akan dikemanakankah ruh kita? Bagaimanakah nasib ruh kita kelak?
Tentunya, kita semua sepakat bahwa tidak ada satupun makhluk hidup bergerak yang akan memperoleh keabadian di dunia yang fana ini. Untuk itu, aneh sekali jika setelah mengetahui dan menyetujui hal tersebut, namun kita tidak pernah berpikir dan berjuang untuk memperoleh kebaikan pada hari setelah kita dimusnahkan dari dunia ini.
Manisnya kehidupandi dunia yang hanya sementara telah membuat kita lupa untuk berpikir akan hari esok. Glamor duniawi menyilaukan mata hingga menjadi buta, dan menutup telinga hingga menjadi tuli. Banyak manusia tenggelam dalam kenikmatan sesaat yang akan berujung pada azab.
Sesungguhnya, nasib manusia di dunia maupun di akhirat itu hanya terdiri atas dua macam, yaitu bahagia atau sengsara, surga atau neraka. Dan Allah swt swt telah memberikan jalan kepada seluruh umatnya untuk memilih diantara kedua pilihan tersebut. Tapi, berapa banyakkah manusia yang berharap memperoleh kebahagiaan namun hanya memperoleh kebahagiaan sesaat saja. Justru kebagaiaan sesaat yang dibanggakaanya itulah yang kelak akan menjerumsukannya ke neraka Jahanam.
Berikut ini adalah sebuah hadits yang kami kutip dari riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud, yang mengisahkan tentang keadaan ruh ketika malaikat pencabut nyawa telah melakukan tugasnya. Semoga melalui sekelumit kutipan hadits ini dapat membukakan hati dan pikiran kita untuk senantiasa mengingat kepada Allah swt swt, mengingat sebuah masa dimana kita sudah tidak memiliki daya dan upaya setitikpun, mengingat sebuah masa yang akan membeberkan seluruh aib kita tanpa sisa, dan kemudian menutup mata kita dari silaunya dunia. Amin.
Imam Ahmad dalam Musnad-nya, demikian juga Ibnu Hibban, Abu ‘Awanah Al-Isfirayaini dalam kitab Shahih keduanya, meriwayatkan dari Al-Manhal dari Zadan bin Al-Bara’ bin ‘Azib bahwa ia berkata, “Kami pernah pergi bersama Rasulullah saw untuk mengantar jenazah. Beliau duduk di atas kuburan dan kami duduk di sebelahnya. Kami diam dan tenang laksana di atas kepala kami terdapat seekor burung. Sambil menguburkan jenazah tersebut, Beliau berkata, “Aku berlindung diri kepada Allah swt dari siksa kubur.” Beliau mengucapkannya tiga kali.
Kemudian Rasulullah saw pun bersabda, “Sesungguhnya orang yang beriman jika akan pindah ke alam akhirat dan meninggalkan dunia, maka para malaikat itu turun kepadanya. Wajah mereka seperti matahari dan setiap dari mereka membawa wewangian dari surga dan kain kafan. Mereka duduk di dekat orang yang beriman sebatas pandangan kemudian malaikat pencabut nyawa duduk di dekat kepalanya dan berkata, “Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan Allah swt.”
Rasulullah saw kembali bersabda, “Ruh orang beriman pun keluar dari jasadnya seperti halnya air keluar dari mulut teko. Malaikat pencabut nyawa segera mengambilnya. Ketika ruh orang itu telah berada dalam genggamannya, para malaikat yang lain tidak membiarkan ruh orang beriman itu berada di tangan malaikat pencabut nyawa sekejap mata hingga kemudian mereka mengambilnya dan menaruhnya di atas kain kafan surga dan wewangian tersebut. Dari ruh orang beriman, keluarlah wewangian paling harum yang pernah ada di bumi.”
Lalu Rasulullah saw berkata, “Kemudian para malaikat naik membawa ruh orang beriman dan setiap kali mereka melewati para malaikat, maka mereka bertanya, “Ruh siapa yang harum ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah si fulan bin fulan,” seraya menyebutkan nama terbaik yang pernah menjadi sebutannya ketika di dunia hingga kemudian mereka berhenti di langit kedua. Mereka minta dibukakan bagi ruh tersebut kemudian dibukakanlah untuknya. Ruh tersebut disambut seluruh makhluk di langit kedua dan mereka mendekatkan ruh tersebut ke langit berikutnya hingga mereka membawa ruh itu tiba di langit di mana Allah swt berada. Kemudian Allah swt berfirman, “Tuliskan kitab hamba-Ku ini dalam ‘Illiyyin, lalu kembalikanlah ia ke bumi. Sebab, dari bumi itulah Kami menciptakan mereka, ke dalamnya Kami kembalikan mereka, dan darinya pula Kami keluarkan mereka sekali lagi.”
Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Dan sesungguhnya orang kafir itu jika meninggal dunia menuju ke akhirat, maka para malaikat turun kepadanya dari langit dengan wajah yang hitam dan membawa kain kafan kasar, lalu duduk di dekatnya sebatas pandangan.”
Malaikat pencabut nyawa datang kepadanya dan duduk di dekat kepalanya lantas berkata, “Wahai ruh yang kotor, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan dari Allah swt!” Lalu ruhnya berpisah dari jasadnya dan malaikat mencabutnya seperti mencabut besi pembakar dari wol yang basah. Selanjutnya malaikat pencabut nyawa mengambilnya dan jika sudah ia ambil, maka para malaikat yang lain tidak membiarkan ruh tersebut di tangannya sekejap mata hingga kemudian mereka meletakkannya di dalam kain kasar tersebut. Dari padanya keluar bau paling busuk yang pernah ada di muka bumi.
Para malaikat membawanya naik dan setiap kali mereka melewati malaikat, mereka bertanya, “Ruh busuk siapa ini?” Para malaikat menjawab, “Ini adalah si fulan bin fulan,” seraya menyebutkan sejelek-jeleknya nama yang dialamatkan kepadanya ketika di dunia. Ruh itu terus dibawa naik hingga sampai ke langit dunia. Ia meminta agar pintu langit itu dibuka, namun tidak juga dibukakan untuknya.
Kemudian Beliau membacakan firman Allah swt swt, “Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.” (Al A’raf: 40).
Allah swt swt kemudian berkata, “Tuliskan kitabnya di Sijjin, di bumi yang terbawah!” Lalu ruh tersebut dilemparkan begitu saja. Selanjutnya Rasulullah membacakan firman Allah swt, “Barangsiapa menyekutukan sesuatu dengan Allah swt, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (Al Hajj: 31) (Diriwayatkan oleh Ahmad (VI/287 dan 295) dan Abu Dawud (4753))
Demikian disampaikan oleh Rasulullah saw dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud. Semoga pesan yang terkandung dalam riwayat di atas dapat menjadikan kita sebagai umat yang senantiasa mempersiapkan diri untuk menghadapi satu peristiwa yang Rasululullah saw pun tidak dapat menyembunyikan rasa sakitnya, yaitu peristiwa pencabutan ruh. Amin.
Wallahua’lam bishshowab

Teruntuk Istriku…,

Istriku…, engkau adalah satu dari sekian ujian yang harus aku lalui dengan bermalam-malam munajat, berbulan-bulan renungan, berpuluh-puluh doa, beribu-ribu aksara ….

            Maka, ketika kuputuskan untuk memilihmu…, hanya memilihmu dari sekian akhwat yang ada, itu berarti aku mengharap engkau mau menjadi parter hidupku, menjadi kakak bagi adik-adikku, adik bagi kakakku, menantu bagi orangtuaku. Itu berarti, aku mengharapmu mau menemaniku; mengisi dan mewarnai sisa hidupku, dalam suka-dukaku, berjuang bersama mengarungi bahtera hidup berumah tangga; melangkahkan kaki bersama untuk ikut andil membaktikan diri kita untuk umat ini, dengan melahirkan generasi-generasi yang akan memberatkan bumi ini dengan kalimat “Lâ ilâha illallâh”.
            Jatuhnya pilihanku kepadamu adalah buah dari kemantapan hati dari istikharah panjangku. “Ya Allah, jika dia baik bagiku, bagi dien, dunia dan akhiratku, maka takdirkanlah dia untukku; tautkanlah hatinya dengan hatiku, dekatkanlah, mudahkanlah kemudian berkahilah ya Rabb….” Maka, setelah mendapat kemantapan hati bahwa engkaulah tulang rusuk yang selama ini aku cari-cari, aku berani maju untuk mendapatkanmu. Bukan, sama sekali bukan karena apa-apa; bukan karena kecantikan, kedudukan sosial, apalagi harta yang menjadi sebab aku memilihmu. Aku memilihmu karena engkaulah jawaban dari istikharahku; Allah memberikan kemantapan hati bahwa engkaulah bidadariku, di dunia dan akhirat nanti –insyaAllah. Allah memberikan rasa suka dan cinta tanpa aku tahu sebab apa; karena aku sama sekali belum mengenalmu, bahkan bertemu pun tidak pernah, apalagi melihat wajahmu. Aku memberanikan diri taaruf dan menghitbahmu adalah karena, sekali lagi, aku mendapatkan kemantapan hati dengan jawaban istikharahku…., terlebih, setelah itu aku tahu bahwa pertanda engkau benar-benar jodohku adalah kemudahan dalam berproses, dan semakin mendekatkan diriku kepada Allah; aku mendapatkan keduanya…, dan aku takjub dengan skenario-Nya; bener-bener indah.
            Niatku menikah pun sudah aku tata; aku ingin melaksanakan perintah Allah, “wa ankihu l-ayâma minkum wa-shshâlihîna min ‘ibâdikum wa imâ’ikum, in yakûnû fuqarâ’a yughnihimullâhu min fadhlih, wallâhu wâsi’un ‘alîm” dan juga meneladani sunah Nabi kita, Muhammad Shallalallahu alaihi wa sallam, “Yâ ma’syara sy-syabâb, man-istathâ’a minkumu-lbâ’ah fa-lyatazawwaj” yaitu menikah, demi mencari ridha Allah, dan ingin menjaga iffah; menjaga mata dan apa yang ada di antara dua paha.
            Istriku…, ketika ijab qabul terlafazhkan, pada saat itu aku sedang mengambil perjanjian yang berat. Ketika itu Arsy ar Rahman berguncang karena perjanjian yang kuat dan berat itu; Allah menyebutnya mîtsâqan ghalîzhan, sama sebagaimana Dia mengambil perjanjian dari para Nabi; Nabi Muhammad, Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa serta nabi-nabi yang lainnya –‘alaihimush shalatu was salam–. Perjanjian itu berat karena aku mengambil-alih amanah dari pundak ayahmu ke pundakku.
            Saat itulah, kita sudah resmi menjadi suami-istri, dan kehidupan dalam hidup berumah tangga kita mulai…., maka mari bergandengan tangan untuk saling bersinergi, saling menutupi, saling melengkapi. Allah membahasakannya dengan kekata, “Hunna libâsun lakum wa antum libâsun lahunna, engkau adalah pakaian bagiku, dan aku pakaian bagimu”; saling menutupi, melindungi, menjaga, dan memberikan kehangatan-kesejukan-ketenangan-ketentraman.
            Aku sadar sesadar-sadarnya bahwa aku hanya lelaki biasa yang banyak kekurangannya; aku tidak sesantun Abu Bakar, setegas Umar, sedermawan Utsman, sebijaksana Ali apalagi semulia Nabi Muhammad –Shallallâhu ‘alaihi wa sallam; aku hanya lelaki akhir zaman yang mencintai mereka, dan berusaha meneladaninya…..,
            Maka, bila aku salah ingatkanlah, bila aku sedih hiburlah, bila aku gelisah tenangkanlah, bila aku marah redamkanlah, bila aku tidak memahami maumu maka beritahukanlah aku apa sebenarnya pintamu.…,
Aku hanya bisa menasehatkan sebagaimana nasehat seorang ibu kepada putri tercintanya yang akan hidup bersama suaminya; lelaki asing yang baru dikenalnya, “Kamu wajib untuk qona’ah, mendengar dan taat, menjaga diri dan tenang. Jagalah cintamu kepadanya, peliharalah harta bendanya. Bantulah pekerjaannya. Kerjakan apa yang menyenangkannya. Simpanlah rahasianya. Janganlah menentang perintahnya. Tutuplah cela dan aibnya. Cintailah dia ketika masih muda, dan juga ketika sudah tua. Jagalah lisanmu dan kokohkanlah keimananmu.”
Kalau toh engkau nanti merasakan lelah-letih dengan semua pekerjaan rumah, ingatlah kisah Asma’ binti Yazid bin Sakan Rahimahallah; duta para wanita yang mengadukan kegundahan mereka tentang kelebihan-kelebihan amalan yang hanya dikhususkan bagi lelaki saja, tidak kepada para wanita; baik tentang jihad, shalat jum’at dan mengantar jenazah. Asma’, shahabiyah yang dikenal ahli dalam berorasi itu mendatangi majlis Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasul Allah, sungguh, aku adalah utusan bagi semua wanita muslimah di belakangku. Seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan, dan berpendapat sebagaimana yang aku sampaikan. Sungguh, Allah mengutusmu kepada kaum lelaki dan kaum wanita, kemudian kami beriman kepadamu dan kepada Rabbmu.” Kemudian Asma’ melanjutkan kalimat inti dari kegelisahan para wanita, dulu hingga kini, “Adapaun kami, para wanita, terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum lelaki, dan kami adalah tempat mereka menyalurkan syahwatnya. Kami pula yang mengandung anak-anak mereka, akan tetapi kaum lelaki mendapatkan keutamaan melebihi kami dengan shalat jum’at, mengantarkan jenazah, dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kami-lah yang menjaga harta mereka dan mendidik anak-anak mereka.”
Setelah mengutarakan itu semua, Asma’ kemudian bertanya, “Lantas, apakah kami, kaum wanita, juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat?”
Coba baca sekali lagi pertanyaan Asma’ yang begitu mengagumkan, “Lantas, apakah kami, kaum wanita, juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat?”
Rasulullah tersenyum, dan takjub dengan tanyanya; luar biasa indahnya. Pertanyaan luar biasa yang terlontar dari segenap kaum wanita karena ingin mendapatkan pahala berlimpah dari profesi ibu rumah tangga; menjaga dirinya, harta suaminya dan mendidik anak-anaknya.
Rasulullah pun bertanya kepada segenap shahabat yang mengelilingi majlisnya, “Pernahkah kalian mendengar pertanyaan tentang agama dari seorang wanita yang lebih baik dari tanyanya?” semuanya menjawab, “Belum, belum pernah”
Beliau kemudian bersabda, “Kembalilah wahai Asma’ dan beritahukan kepada para wanita yang berada di belakangmu; bahwa perlakuan baik salah seorang di antara mereka kepada suaminya, upayanya untuk mendapat keridhaan suaminya, dan ketundukkannya untuk senantiasa mentaati suami; itu semua dapat mengimbangi seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum laki-laki.” Subhanallah. Jawaban yang sejuk dan indah. Mengobati semua kegundahan para wanita, yang iri dengan berbagai pahala yang diperoleh kaum lelaki. Inilah pahala yang akan diberikan kepada ibu rumah tangga yang membaktikan dirinya untuk taat kepada suaminya. Sekali lagi, bila engkau merasakan lelah-letih dengan semua pekerjaan rumah kita nanti, ingatlah kisah Asma’ ini; betapa mulianya berprofesi sebagai ibu rumah tangga…, karena sejatinya itulah jihad seorang istri yang sesungguhnya.
            Terakhir, pintaku kepadamu hanya satu; jadilah istri yang shalihah…., wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya –Mencintai Allah Ta’ala dan Rasulullah –Shallallâhu ‘alaihi wa salla di atas segala-galanya, menutup aurat, tidak berhias dan berperangai seperti wanita jahiliah, tidak bermusafir atau bersama dengan lelaki ajnabi kecuali ada bersama mahramnya,  sering membantu dalam kebenaran, kebajikan dan takwa, berbuat baik kepada orangtua, senantiasa bersedekah baik itu dalam keadaan susah ataupun senang, tidak berkhalwat dengan lelaki ajnabi, dan bersikap baik terhadap tetangga serta suaminya—, serta taat kepada suami –Memelihara kewajiban terhadap suami, senantiasa menyenangkan suami, menjaga kehormatan diri dan harta suaminya semasa suami tiada di rumah, tidak cemberut di hadapan suami, tidak menolak ajakan suami untuk tidur, tidak keluar tanpa izin suami, tidak meninggikan suara melebihi suara suami, tidak membantah suaminya dalam kebenaran, tidak menerima tamu yang dibenci suami dan senantiasa memelihara diri, kebersihan fisikal dan kecantikannya serta kebersihan rumahtangga-,  dan jadilah kupu-kupu tercantik yang hanya hinggap di hatiku, selamanya…., ^_^

“Ah, semua orang lebih fakih dari aku.”

Dalam hidup ini, Allah pasti jumpakan kita dengan orang-orang yang luar biasa. Kalau kita tidak bisa mengeja tarbiyah-Nya, itu murni karena kekurangpekaan kita, atau kita malah sudah mati rasa sehingga tidak bisa mengambil pelajaran dari kejadian yang ada disekitaran kita. “Fa`tabirû yâ ulî l-abshâr.”Karenanya, belajar dari episode kehidupan di sekeliling kita adalah sebuah kemustian agar kita menjadi lebih baik, dari waktu ke waktu. Semoga kisah-kisah berikut ini bermanfaat :
Siang itu, ada sms yang masuk, “Akh, ana minta dijemput di masjid al Karim, -Pabelan.”
Mendapatkan sms dari seorang teman yang baru selesai dari acara outbondnya, aku langsung menuju tempat yang dimaksud. Sesampainya di sana, aku tidak mendapati temanku. Langsung saja aku balik kirim sms, “Antum dimana? Sudah sampai mana?”
Beberapa detik kemudian, ada jawaban yang muncul di layar hape K310-ku, “Ana masih di perjalanan. Kira-kira seperempat jam lagi.” Ah, berarti aku harus menunggu dulu. Kenapa tidak memberitahu bahwa ia belum sampai masjid ini, dan memberi keterangan sampai seperempat jam kemudian. But, no problem lah. Akhirnya, masa menunggu itu aku pergunakan untuk beristirahat dengan merebahkan tubuhku di atas lantai masjid bagian depan.
Ketika tengah merebahkan badan, ada seorang ibu yang tengah melewati pintu gerbang masjid. Ia berpakaian kumal, tertambal sana-sini tidak karuan. Kelelahan tersirat jelas dari raut wajahnya karena berjalan tanpa tujuan. Ia pun tampak kelaparan. Entah berapa kali ia tidak makan. Melihatku, ia beranikan diri meminta. Dari jarak sekitar 4 meter itu –jarak gerbang dengan serambi masjid-, ia menengadahkan tangannya, dan berkata memelas, “Mas, minta uangnya.” Langsung. Polos. Tanpa basa-basi.
Sejenak aku mengamatinya, dan memintanya untuk mendatangi tempatku berbaring. Ia mendekat, dan aku bangkit dari tidurku kemudian merogoh kantong. Kuberi uang dua lembar seribuan. Hanya 2000 rupiah. Seperti biasa, ia berucap terima kasih. Tetapi ada yang istimewa dari sekedar terima kasihnya. Ternyata ia membaca, “Alhamdulillah, subhanalllah.” Sambil melihat-lihat uang dua ribu yang sangat berharga, menurutnya.
Ia memegang erat-erat uang dua ribu itu, dan menimang-nimangnya seolah mendapatkan sesuatu yang diidamkan. Ia terus berucap hamdalah dan tasbih tanpa henti. Bahkan ketika berada di pintu gerbang masjid pun, ia masih menatapku seolah menyiratkan rasa terima kasihnya yang amat sangat. Selain itu, ia juga masih melihat uang dua ribu itu, sembari meletakkan di depan dadanya dan masih berucap, “Alhamdulillah, subhanallah.” Berulang-ulang.
Ucapnya, “Alhamdulillah, subhanallah.” berulang-ulang itu benar-benar menegurku. Dalam hati, kuberucap lirih, “Subhanallah.” Ah, semua orang memang lebih fakih daripada aku…..
Dulu, ada seorang tukang angkut air yang selalu berucap tahmid dan istighfar. Satu waktu mengangkut air, ia berucap tahmid, dan waktu yang lain ia beristighfar. Selalunya begitu. Di tengah aktivitasnya mengangkut itu, ada seorang ulama` yang memperhatikannya. Dialah Hasan al Bashri, sayyidut tabi’in.
Beliau meminta lelaki itu untuk berkunjung ke rumahnya. Selama di rumah, beliau mengamati lisan tamunya dengan seksama. Ada dzikir yang senantiasa keluar dari lisan tamunya. Beliau takjub dengan kebiasaan lelaki itu, dan hatinya tak bisa menahan untuk tidak bertanya. Tanyanya, “Kalau boleh tahu, sejak kapan anda selalu berucap tahmid dan istighfar setiap kali anda mengangkut air?” “Sudah lama.” Jawabnya. Beliau bertanya lagi, “Kenapa hanya dua kalimat thoyyibah itu saja?” ia menjawab, “Karena kita berada di antara dua hal; nikmat Allah yang harus kita syukuri dengan memuji-Nya, dan kelalaian yang selalu membersamai kita sehingga kita harus memohon ampunan-Nya.” beliau kembali bertanya, “Apa faedah dan manfaat yang kamu dapatkan dengan kebiasaanmu itu?” “Banyak. Tidak ada kebutuhan yang aku inginkan kecuali dikabulkan oleh Allah Ta’ala” jawabnya “Tetapi ada satu permintaan yang sampai saat ini belum diperkenankan.” “Apa itu?” Tanya Hasan al Bashri penasaran. Lelaki itu menjawab, “Aku belum pernah bertemu dengan orang yang kukagumi, Hasan al Bashri.”
Hasan al Bashri langsung memeluknya, dan memberitahukan bahwa beliaulah yang selama ini dicari-carinya. Lelaki itu terkejut, dan tak henti-henti memanjatkan puji syukur kepada Allah Ta’ala. Allah telah mengabulkan semua pintanya. Subhanallah. Dan ketika lelaki itu pulang, Hasan al Bashri tertegun, dan berkata, “Ah, semua orang lebih fakih dari Hasan, semua orang lebih fakih dari Hasan.”
Dalam kisah yang lain, tersebut sebuah kisah singkat tetapi mengandung pelajaran berharga. Umar bin Khattab radhiyallahu `anhu, khalifah kaum muslimin ke-dua, mendengarkan sebuah lantunan doa yang dipanjatkan oleh salah seorang rakyatnya. Doanya, “Ya Allah, jadikanlah aku golongan yang sedikit… Ya Allah, jadikanlah aku golongan yang sedikit…” begitu terus, berulang-ulang hingga Umar bin Khattab bosan mendengarnya. Beliaupun bertanya dengan suara keras, “Wahai hamba Allah, apa yang kamu maksudkan dengan doamu, “Ya Allah, jadikanlah aku golongan yang sedikit?” lelaki itu menjawab, “Aku ingin dimasukkan Allah menjadi golongan yang sedikit, karena Dia pernah berfirman, “Wa qalîlun min `ibadiya s-syakûr.” Dan memuji orang yang beriman, “Wa mâ âmana ma`ahu illâ qalîl.” Begitulah, aku ingin dimasukkan sebagai golongan yang sedikit yang dipuji oleh Allah.” Umar terdiam, dan pergi dengan berlinang airmata sembari berkata, “Kullu ahadin afqahu min Umar, Ah, semua orang lebih fakih dari Umar, semua orang lebih fakih dari Umar.”
Saudaraku…, dalam mengarungi episode hidup ini, kita akan dipertemukan Allah dengan orang-orang yang memiliki amalan yang mungkin tidak kita miliki. Ada amal-amal andalan yang mereka punya. Seperti halnya rizki, dimana semua orang diberi sesuai dengan ketentuan Dzat yang memiliki perbendaharaan langit dan bumi, maka begitu pula dengan amal. Masing-masing sudah ditakdirkan memiliki amalan-amalan yang menjadi kelebihan mereka. Ada yang Allah mudahkan menjaga shalat berjama`ah dan shalat sunah rawatibnya, ada yang Allah mudahkan melaksanakan shalat malam, ada yang Allah mudahkan menangis karena Allah semata lantaran teringat semua dosa-dosa-nya hingga seolah-olah dosa seluruh manusia dibebankan kepadanya, ada yang Allah mudahkan bersedekah, ada yang Allah mudahkan berdzikir sepanjang waktunya, ada yang Allah mudahkan berbagi dengan orang lain, dan kemudahan-kemudahan dalam amal yang lainnya.
Imam Malik, sebagaimana dinukil oleh Imam adz Dzahabi dalam Siyaru A`lami n-Nubala` : VIII/116, berkata,
“Sesungguhnya Allah membagi amal perbuatan sebagaimana Allah membagi-bagi rezeki. Terkadang seorang dibuka pintu hatinya untuk banyak shalat, namun tidak dibukakan pintu hatinya untuk shaum. Yang lainnya dibukakan pintu hatinya untuk banyak bersedekah, namun tidak dibukakan pintu hatinya untuk banyak shaum. Ada juga orang yang dibukakan pintu hatinya untuk berjihad. Sementara menyebarkan ilmu adalah amal kebajikan yang paling utama, dan aku sudah merasa senang dengan dibukakannya pintu hatiku dalam hal itu.”
Dari sinilah, kita harus sadar diri; jangan ada anggapan bahwa diri kita lebih baik dari orang lain, hatta kepada orang yang kita anggap tak berpendidikan sekalipun, pun begitu juga kepada orang banci. Ada pesan indah dari Sirri as Saqathi yang diabadikan oleh Ibnul Jauzi dalam kitab monumentalnya, Shifatus shafwah. (Huem, maraji` andalan nieh ^_^).
جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ نَصِيْرٍ يَقُوْلُ : سَمِعْتُ الْجُنَيْدَ يَقُوْلُ : سَمِعْتُ السِّرِّيَّ قَالَ : مَا أَرَى لِيْ عَلَى أَحَدٍ فَضْلًا قِيْلَ : وَلَا عَلَى الْمُخْنِثِيْنَ؟ قَالَ : وَلَا عَلَى الْمُخْنِثِيْنَ
Ja’far bin Muhammad bin Bashir berkata, Aku mendengar Junaid berkata, Aku mendengar Sari berkata, “Aku tidak pernah berpendapat bahwa aku memiliki keutamaan atas orang lain.” Ada yang bertanya, “Tidak juga atas orang-orang yang banci.” Beliau menjawab, “Tidak juga atas orang-orang yang banci.”
Karena, menganggap diri lebih baik dari orang lain, dan mengangap ada orang yang lebih buruk darinya adalah kesombongan. Nasehat Abu Yazid al Busthami, yang juga disebutkan oelh Ibnul Jauzi dalam kitab yang sama, Shifatus shafwah, perlu kita renungkan bersama,
وَقَالَ أَبُوْ يَزِيْدٍ: مَا دَامَ الْعَبْدُ يَظُنُّ أَنَّ فِي الْخَلْقِ مَنْ هُوَ شَرٌّ مِنْهُ فَهُوَ مُتَكَبِّرٌ.
Abu Yazid berkata, “Selama seorang hamba menganggap bahwa ada orang yang lebih buruk daripada dirinya maka ia adalah orang yang sombong.”
“Kullu ahadin afqahu min ikhwanuddin, Ah, semua orang lebih fakih daripada aku….”
Wallahu a`lam.
Salam ukhuwah dari akhukum fillah

Imam Al-Ghazali : Nasehat itu Mudah, yang Sulit adalah Menerimanya



Wahai anak! Nasehat itu mudah, yang sulit adalah menerimanya; karena terasa pahit oleh hawa nafsu yang menyukai segala yang terlarang. Terutama dikalangan penuntut ilmu yang membuang-buang waktu dalam mencari kebesaran diri dan kemegahan duniawi. Ia mengira didalam ilmu yang tak bersari itulah terkandung keselamatan dan kebahagiaan, dan ia menyangka tak perlu beramal. Inilah kepercayaan filsul-filsuf.
Ia tidak tahu bahwa ketika ada pada seseorang ilmu, maka ada yang memberatkan, seperti disabdakan Rasulallah saw: “Orang yang berat menanggung siksa di hari kiamat ialah orang yang berilmu namun tidak mendapat manfaat dari ilmunya itu.”
Wahai anak! Janganlah engkau hidup dengan kemiskinan amal dan kehilangan kemauan kerja. Yakinlah bahwa ilmu tanpa amal semata-mata tidak akan menyelamatkan orang. Jika disuatu medan pertempuran ada seorang yang gagah berani dengan persenjataan lengkap dihadapkan dengan seekor singa yang galak, dapatkah senjatanya melindungi dari bahaya, jika tidak diangkat, dipukulkan dan ditikamkan? Tentu saja tidak akan menolong, kecuali diangkat, dipukulkan dan ditikamkan. Demikian pula jika seseorang membaca dan mempelajari seratus ribu masalah ilmiah, jika tidak diamalkan maka tidaklah akan mendatangkan faedah.
Wahai anak! Berapa malam engkau berjaga guna mengulang-ulang ilmu, membaca buku, dan engkau haramkan tidur atas dirimu. Aku tak tahu, apa yang menjadi pendorongmu. Jika yang menjadi pendorongmu adalah kehendak mencari materi dan kesenangan dunia atau mengejar pangkat atau mencari kelebihan atas kawan semata, maka malanglah engkau. Namun jika yang mendorongmu adalah keinginan untuk menghidupkan syariat Rasulallah saw dan menyucikan budi pekertimu serta menundukkan nafsu yang tiada henti mengajak kepada kejahatan, maka mujurlah engkau. Benar sekali kata seorang penyair, “Biarpun kantuk menyiksa mata, Akan percuma semata-mata jika tak karena Alloh semata”.
Wahai anak! Hiduplah sebagaimana maumu, namun ingat! bahwasanya engkau akan mati. Dan cintailah siapa yang engkau sukai, namun ingat! engkau akan berpisah dengannya. Dan berbuatlah seperti yang engkau kehendaki, namun ingat! engkau pasti akan menerima balasannya nanti.