Laman

Rabu, 15 Januari 2014

Qasidah Huwan Nur

ﺍﻟﺤﺎﺋﺮﻳﻦ
ﺿﻴﺎﺅﻩ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺤﺸﺮﻇﻞُ
ﺍﻟﻤﺮﺳﻠﻴﻦ ﻟِﻮﺍﺅُﻩ
Dialah Nabi ﷺ Pelita Cahaya
yang memberi petunjuk orang-
orang yang bimbang di Padang
Mahsyar Panjinya sebagai
pemberi naungan ...
ﺗﻠﻘﻰ ﻣﻦ ﺍﻟﻐﻴﺐ ﺍﻟﻤﺠﺮﺩ
ﺣﻜﻤﺔ ﺑﻬﺎ ﺍﻣﻄﺮﺕ ﻓﻲ
ﺍﻟﺨﺎﻓﻘﻴﻦ ﺳﻤﺎﺅﻩ
Sampaikanlah kepadanya hikmah
tanpa perantara apapun
dengan hikmah itu hujanlah
langit (dengan Rahmat) di
segala penjuru barat dan
...timur
ﻭﻣﺸﻬﻮﺩ ﺍﻫﻞ ﺍﻟﺤﻖ ﻣﻨﻪ
ﻟﻄﺎﺋﻒ ﺗﺨﺒﺮ ﺍﻥ ﺍﻟﻤﺠﺪ
ﻭﺍﻟﺸﺄﻭ ﺷﺄﻭﻩ
Para saksi dari para Ahli
Ma`rifah yang dalam
kebenaran, menyaksikan dari
Beliau ﷺ kasih sayang dan
kelembutan-kelembutan,
dikhabarkan sungguh apa yang
terjadi adalah dengan
keinginanmu
ﻓﻠﻠﻪ ﻣﺎﻟﻠﻌﻴﻦ ﻣﻦ ﻣﺸﻬﺪ
ﺍﺟﺘﻼ ﻳﻌﺰﻋﻠﻰ ﺍﻫﻞ
ﺍﻟﺤﺠﺎﺏ ﺍﺟﺘﻼﺅﻩ
Padaku penglihatan apa-apa
yang kusaksikan sangatlah
berpijar luhur, menundukkan
para pemilik kemuliaan yang
masih tertutup penglihatannya
dari pandangan keluhuran
...ini
ﺍﻳﺎﻧﺎﺯﺣﺎ ﻋﻨﻲ ﻭﻣﺴﻜﻨﻪ
ﺍﻟﺤﺸﺎ ﺍﺟﺐ ﻣﻦ ﻣﻼ ﻛﻞ
ﺍﻟﻨﻮﺍﺣﻲ ﻧﺪﺍﺅﻩ
Wahai yang jauh dariku dan
tempatnya di lubuk hati yang
terdalam, jawablah wahai
Saudaraku seruan ﷺ yang memenuhi segala
...penjuru
ﺍﺟﺐ ﻣﻦ ﺗﻮﻻﻩ ﺍﻟﻬﻮﻯ
ﻓﻴﻚ ﻭﺍﻣﺾ ﻓﻲ ﻓﺆﺍﺩﻱ
ﻣﺎﻳﻬﻮﻯ ﻭﻳﺸﺎﺅﻩ
Jawablah wahai yang diriku
adalah terbenam dalam rindu
padamu ( ﷺ ) dan mengalir pada
sanubariku apa-apa yang
dirindukan sanubari ini dan
yang ia (diriku) dambakan ...
ﺑﻨﻰ ﺍﻟﺤﺐ ﻓﻲ ﻭﺳﻂ
ﺍﻟﻔﻮﺍﺩ ﻣﻨﺎﺯﻻ ﻓﻠﻠﻪ ﺑﺎﻥ
ﻓﺎﻕ ﺻﻨﻌﺎ ﺑﻨﺎﺅﻩ
Cinta membangun Istana
Agung di dalam hati yang
terdalam, demi ALLAH,
sungguh tempat itu paling
tinggi dan indah di antara
bangunan (tempat) yang lain ..
ﺑﺤﻜﻢ ﺍﻟﻮﻻ ﺟﺮﺩﺕ ﻗﺼﺪﻱ
ﻭﺣﺒﺬﺍ ﻣﻮﺍﻝ ﺍﺭﻭﺍﺡ
ﺍﻟﻘﻠﺐ ﻣﻨﻪ ﻭﻻﺅﻩ
Dengan keputusan pasrah
kubiarkan yang lainnya berlalu
dari semua keinginanku, dan
alangkah indahnya Sang
Baginda menenangkan hati ini
dari wewenang lembutnya ...
ﻣﺮﺿﺖ ﻓﻜﺎﻥ ﺍﻟﺬﻛﺮ ﺑﺮﺍﺀﺍ
ﻟﻌﻠﺘﻲ ﻓﻴﺎﺣﺒﺬﺍ ﺫﻛﺮﺍ
ﻟﻘﻠﺒﻲ ﺷﻔﺎﺅﻩ
( Jika) aku sakit, maka
menceritakan tentangnya
adalah obat bagi penyakitku,
sungguh indah, menyebutnya
adalah obat bagi hatiku ...
ﺍﺫﺍ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻌﺸﺎﻕ ﺩﺍﻱ ﻓﻘﻞ
ﻟﻬﻢ ﻓﺎﻥ ﻟﻘﺎ ﺍﺣﺒﺎﺏ
ﻗﻠﺒﻲ ﺩﻭﺍﺅﻩ
Jika para perindu mengetahui
penyakitku, maka katakan
kepada mereka, sesungguhnya
perjumpaan dengan kekasih
hati itulah obatnya ...
ﺍﻳﺎ ﺭﺍﺣﻼ ﺑﻠﻎ ﺣﺒﻴﺒﻲ
ﺭﺳﺎﻟﺔ ﺑﺤﺮﻑ ﻣﻦ
ﺍﻻﺷﻮﺍﻕ ﻳﺤﻠﻮ ﻫﺠﺎﺅﻩ
Wahai orang yang berjalan (ke
Madinah) sampaikan lembaran
cinta kepada Kekasihku
dengan indahnya ejaan huruf-
huruf kerinduan ...
ﻭﻫﻴﻬﺎﺕ ﺍﻥ ﻳﻠﻘﻰ ﺍﻟﻌﺬﻭﻝ
ﺍﻟﻰ ﺍﻟﺤﺸﺎ ﺳﺒﻴﻼ ﺳﻮﺍﺀ
ﻣﺪﺣﻪ ﻭﻫﺠﺎﺅﻩ
Maka sulitlah bagi yang
memusuhi cinta ini sampai ke
batas yang tidak mungkin,
mencapai jalan kebenaran
dengan memujinya dan
mengucapkan padanya
ﻓﻮﺍﺩﻱ ﺑﺨﻴﺮ ﺍﻟﻤﺮﺳﻠﻴﻦ
ﻣﻮﻟﻊ ﻭﺍﺷﺮﻑ ﻣﺎﻳﺤﻠﻮ
ﻟﺴﻤﻌﻲ ﺛﻨﺎﺅﻩ
Jiwaku terbakar (karena
cinta) dengan sebaik-baik
Utusan, dan yang terindah di
pendengaranku adalah
mendengar pujiannya ...
ﺭﻗﻰ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻠﻰ ﻭﺍﻟﻤﺠﺪ
ﺍﺷﺮﻑ ﺭﺗﺒﺔ ﺑﻤﺒﺪﺍﻩ ﺣﺎﺭ
ﺍﻟﺨﻠﻖ ﻛﻴﻒ ﺍﻧﺘﻬﺎﺅﻩ
Mulia dalam tangga-tangga
keluhuran, semulia-mulia
tingkatan yang semakin luhur,
dalam awal cinta dan rindu
pada Beliau ﷺ akan muncul
hangat membara di hati
makhluk, maka bagaimana
keadaan yang telah mencapai
...puncaknya ?
ﺍﻳﺎ ﺳﻴﺪﻱ ﻗﻠﺒﻲ ﺑﺤﺒﻚ
ﺑﺎﻳﺢ ﻭﻃﺮﻓﻲ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺪﻣﻊ
ﺗﺠﺮﻱ ﺩﻣﺎﺅﻩ
Wahai Tuanku, hatiku lebur
dengan kecintaan kepadamu,
mata ini niscaya menangis
darah setelah air mata
mengering dan tidak
...mengalir
ﺍﺫﺍ ﺭﻣﺖ ﻛﺘﻢ ﺍﻟﺤﺐ ﺯﺍﺩﺕ
ﺻﺒﺎﺑﺘﻲ ﻓﺴﻴﺎﻥ ﻋﻨﺪﻱ
ﺑﺜﻪ ﻭﺧﻔﺎﺅﻩ
Jika engkau sembunyikan cinta
maka akan bertambah
kecintaanku dan airmataku,
maka sama sahja bagiku, ku
ungkapkan cinta itu atau ku
.sembunyikannya ..
ﺍﺟﺐ ﻳﺎﺣﺒﻴﺐ ﺍﻟﻘﻠﺐ
ﺩﻋﻮﺓ ﺷﻴﻖ ﺷﻜﻰ ﻟﻔﺢ
ﻧﺎﺭ ﻗﺪ ﺣﻮﺗﻬﺎ ﺣﺸﺎﺅﻩ
Jawablah seruan kerinduan ini
wahai Kekasih hati, rintihan
api kerinduan telah
menyelimuti lubuk hatiku ...
ﻭﻣﺮﻃﻴﻔﻚ ﺍﻟﻤﻴﻤﻮﻥ ﻓﻲ
ﻏﻔﻠﺔ ﺍﻟﻌﺪﺍ ﻳﻤﺮ ﺑﻄﺮﻑ
ﺯﺍﺩ ﻓﻴﻚ ﺑﻜﺎﺅﻩ
Maka lewatkanlah keindahan
dan kelembutanmu saat
hamba-hamba ummatmu
yang tenggelam dalam
kelupaan, lintasan keindahan
dan kemuliaanmu yang
membuat berlinangnya
...airmata
ﻟﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺣﺐ ﺗﻌﺴﺮ
ﻭﺻﻔﻪ ﻭﻟﻠﻪ ﺍﻣﺮﻱ
ﻭﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﻗﻀﺎﺅﻩ
Duhai ALLAH, sungguh sulit
cinta ini di ungkapkan, semua
ini hanya kepada ALLAH
kupasrahkan karena
ketentuan adalah
...KetentuanNYA
ﻓﻴﺎﺭﺏ ﺷﺮﻓﻨﻲ ﺑﺮﺅﻳﺔ
ﺳﻴﺪﻱ ﻭﺍﺟﻞ ﺻﺪﻯ
ﺍﻟﻘﻠﺐ ﺍﻟﻜﺜﻴﺮ ﺻﺪﺍﺅﻩ
Wahai ALLAH, Muliakanlah
aku dengan memandang
Tuanku (Sayyidina
Muhammad) dan Bersihkanlah
hati yang penuh dengan
kekeruhan ini ...
ﻭﺑﻠﻎ ﻋﻠﻴﺎ ﻣﺎﻳﺮﻭﻡ ﻣﻦ
ﺍﻟﻠﻘﺎ ﺑﺎﺷﺮﻑ ﻋﺒﺪ ﺟﻞ
ﻗﺼﺪﻱ ﻟﻘﺎﺅﻩ
Dan Sampaikanlah pada diriku
pada
puncak harapan untuk
berjumpa dengan semulia-
mulia hamba,dan perjumpaan
dengannya adalah segala
...tujuanku
ﻋﻠﻴﻪ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺎﻫﺒﺖ
ﺍﻟﺼﺒﺎ ﻭﻣﺎ ﺍﻃﺮﺏ
ﺍﻟﺤﺎﺩﻱ ﻓﻄﺎﺏ ﺣﺪﺍﺅﻩ
Atasnya Curahan Selawat
selama angin berhembus
sebanyak asyik merdunya
Qasidah pujian yang
memadukan cinta padamu
maka semakin indahlah yang
menyatukan hati dalam cinta
padanya
ﻣﻊ ﺍﻻﻝ ﻭﺍﻟﺼﺤﺐ ﻣﺎﻗﺎﻝ
ﻣﻨﺸﺪ ﻫﻮ ﺍﻟﻨﻮﺭ ﻳﻬﺪﻱ
ﺍﻟﺤﺎﺋﺮﻳﻦ ﺿﻴﺎﺅﻩ
Beserta Keluarga, Sahabat dan
yang diucapkan oleh Munsyid dialah
Pelita Cahaya yang memberi
petunjuk orang-orang yang
bimbang...
Qasidah Huwannur karya yang
indah Al-Habib `Ali ibn
Muhammad al-Habsyi (By-Akhi Nhawan (

Tidak Boleh Fanatik !

Larangan Fanatik pada Kyai dan Habib yang
Menyimpang..!!!! (Oleh : Asy-Syaikh Shalih bin
Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan)
Soal :
Apa hukumnya seseorang yang menyukai
seorang yang berilmu atau Kyai dan Habib dan
dia mengatakan : “Aku sangat menyukainya, aku
tidak ingin mendengar ada seseorang yang
membantahnya dan aku akan mengikuti
pendapatnya walaupun dia menyelisihi dalil Al-
Qur’an atau As-Sunnah. Karena Kyai dan Habib
tersebut lebih tahu dari kita tentang dalil..
Jawaban :
TIDAK BOLEH seseorang melakukan hal tersebut
karena ini adalah sikap FANATIK yang di-BENCI
oleh ALLAH Ta’ala dan merupakan sikap yang
TERCELA.
Kita mencintai para ulama dan Alhamdulillah kita
juga mencintai para Kyai dan Habib di jalan
ALLAH, namun apabila SALAH SEORANG DARI
MEREKA MELAKUKAN KESALAHAN DALAM
SUATU PERMASALAHAN MAKA KITA
MENJELASKAN KEPADA MANUSIA TENTANG
KEBENARAN DALAM PERMASALAHAN
TERSEBUT, DAN ITU TIDAKLAH MENGURANGI
KECINTAAN TERHADAP KYAI/HABIB YANG
DIBANTAH ITU, BAHKAN TIDAK PULA
KEDUDUKANNYA.
Berkata Al-Imam Malik : ” Siapapun dari kita
bisa saja diterima atau ditolak pendapatnya
kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam”.
Apabila kita menolak pendapat seorang ulama,
bukanlah berarti kita membenci dan
menjatuhkannya, namun kita hanya ingin
menjelaskan DUDUK PERKARA YANG BENAR.
Oleh karena itu sebagian ulama mengatakan
ketika salah seorang rekan mereka melakukan
kesalahan, dia mengatakan : ” FULAN ITU
ORANG YANG KITA CINTAI, AKAN TETAPI
KEBENARAN LEBIH KITA CINTAI DARINYA.”. Ini
adalah jalan yang benar.
Jangan kalian pahami bahwa bantahan terhadap
seorang ulama dalam suatu permasalahan yang
dia terjatuh padanya adalah celaan baginya atau
rasa benci kita kepadanya, bahkan senantiasa
para ulama sebagian dari mereka membantah
sebagian yang lain dalam keadaan mereka
bersaudara dan saling mencintai.
Tidak boleh kita menerima sepenuh hati semua
pendapat seorang tokoh tertentu, benar ataupun
salah, karena ini adalah sikap fanatik.
Orang yang diambil semua pendapatnya dan
tidak ditinggalkan sedikitpun adalah Rasulullah
Shallallahu ‘alayhi wasallam karena beliau
adalah orang yang menyampaikan risalah dari
Rabb-Nya dan tidak berkata dengan hawa nafsu,
adapun yang selain beliau maka mereka
terkadang salah dan terkadang benar. Tidak ada
satupun manusia yang terjaga dari kesalahan
kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam.
Wajib bagi kita untuk mengetahui permasalahan
ini dan kita TIDAK berbicara tentang yang salah
dikarenakan kecintaan/berpihak terhadap
seseorang, bahkan wajib bagi kita untuk
menjelaskan kesalahan tersebut, Nabi
Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda :
” Agama ini adalah nasehat, kita katakan : untuk
siapa ? Maka Beliau Shallallahu ‘alayhi
wasallam bersabda : “Untuk ALLAH, Kitab-Nya,
Rosul-Nya dan para pemimpin kaum muslimin
serta kaum muslimin pada umumnya.”
Menjelaskan kesalahan seseorang termasuk
NASEHAT untuk semuanya, adapun MENUTUPI
kesalahannya maka hal itu MENYELISIHI nasehat
yang telah diperintahkan oleh ALLAH ‘Azza wa
Jalla.
Dampak Fanatik Buta
Fanatik memunculkan berbagai dampak negatif
yang sangat berbahaya bagi pribadi secara
khusus dan masyarakat secara umum. Berikut
ini kami paparkan beberapa dampak yang
terjadi karena fanatik buta.
[1] Memejamkan mata dari dalil yang kuat dan
berpegang dengan dalil yang rapuh
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
mengatakan, “Mayoritas orang-orang fanatik
madzhab tidak mendalami Al Qur’an dan As
Sunnah kecuali segilintir orang saja. Sandaran
mereka hanyalah hadit-hadits yang rapuh atau
hikayat-hikayat dari para tokoh ulama yang bisa
jadi benar dan bisa jadi bohong.”
[2] Merubah dalil untuk membela pendapatnya
Contohnya adalah atsar tentang qunut shubuh
yang diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah,
Tirmidzi, dan beliau menshohihkannya. Dari
Malik Al Asyja’i rodiyallohu ‘anhu berkata, “Saya
pernah bertanya kepada ayahku,’Wahai ayahku!
Sesungguhnya engkau pernah sholat di belakang
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar,
Umar, Utsman, dan Ali di sini -di Kufah-.
Apakah mereka melakukan qunut shubuh?’
Jawab beliau,’Wahai anakku, itu merupakan
perkara muhdats (perkara baru yang diada-
adakan dalam agama -pen)’ “.
Tetapi seorang tokoh bermadzhab Syafi’i di
Mesir malah mengganti hadits tersebut dengan
lafadz yang artinya, ‘Wahai anakku, ceritakanlah
(kata muhdats diganti dengan fahaddits yang
berarti ceritakanlah-pen) [!]‘ Dan tokoh ini juga
mengatakan, “Sholatnya orang yang
meninggalkan qunut shubuh secara sengaja,
maka sholatnya batal yaitu tidak sah.”
Sungguh perbuatan tokoh ini dikarenakan sikap
fanatik beliau pada madzhabnya yang mengakar
kuat pada dirinya. Tetapi lihatlah perbedaan
yang sangat menonjol dengan orang yang
mengikuti kebenaran, walaupun madzhabnya
sama dengan tokoh fanatik di atas. Beliau -Abul
Hasan Al Kurjiy Asy Syafi’i- tidak pernah
melakukan qunut shubuh dan beliau pernah
berkata,”Tidak ada hadits shohih tentang hal itu
(yaitu qunut shubuh,-pen).”
[3] Sering memalsukan hadits
Di antara hadits palsu hasil rekayasa orang-
orang yang fanatik madzhab untuk membela
madzhabnya, yaitu dari Ahmad bin Abdilllah bin
Mi’dan dari Anas secara marfu’ : “Akan datang
pada umatku seorang yang bernama Muhammad
bin Idris (yakni Imam Syafi’i-pen), dia lebih
berbahaya bagi umatku daripada Iblis. Dan akan
datang pada umatku seorang bernama Abu
Hanifah, dia adalah pelita umatku”.
Hadits ini selain palsu, juga bertentangan
dengan nash yang menyatakan bahwa pelita
umat ini adalah Nabi Muhammad shollallohu
‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang terdapat
dalam surat Al Ahzab ayat 46.
[4] Menfatwakan bahwa taqlid hukumnya wajib
Para fanatisme madzhab atau kelompok akan
menyerukan kepada pengikutnya tentang
kewajiban taqlid yaitu mengambil pendapat
seseorang tanpa mengetahui dalilnya.
Hal ini sebagaimana yang diwajibkan organisasi
Islam terbesar di Indonesia. Salah seorang tokoh
organisasi tersebut mengatakan, “Sejak ratusan
tahun yang lalu sampai sekarang sebagian besar
umat Islam di seluruh dunia yang termasuk
dalam golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah
membenarkan adanya kewajiban taqlid bagi
orang yang tidak memenuhi syarat untuk
berijtihad …”
Ini adalah ucapan yang bathil. Tidak pernah ada
kewajiban seperti ini dari Alloh, Rosululloh,
sampai-sampai imam madzhab sekalipun.
Karena pendapat imam madzhab itu kadangkala
benar dan kadangkala juga salah.
Seringkali para imam madzhab berpegang pada
suatu pendapat dan beliau meralat pendapatnya
tersebut. Dan para imam itu sendiri melarang
untuk taqlid kepadanya, sebagaimana Imam
Syafi’i rohimahulloh (imam madzhab yang
organisasi ini ikuti) mengatakan,
“Setiap yang aku katakan, kemudian ada hadits
shohih yang menyelisihinya, maka hadits Nabi
tersebut lebih utama untuk diikuti. Janganlah
kalian taqlid kepadaku”.
Janganlah Menolak Kebenaran
Sesungguhnya Allah telah mengutus para rosul
untuk segenap manusia. Alloh mengutus para
rasul untuk mendakwahi manusia agar mereka
beribadah dan menyembah kepada Allah
semata. Akan tetapi kebanyakan mereka
mendustakan rosul-rosul utusan Alloh itu;
mereka tolak kebenaran yang dibawanya, yaitu
ketauhidan. Akhirnya mereka pun menemui
kebinasaan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di
dalam hatinya ada kesombongan meskipun
sebesar biji sawi.” Kemudian beliau melanjutkan
hadits ini dengan berkata, “Kesombongan
adalah menolak kebenaran dan merendahkan
orang lain.” (HR. Muslim)
Berdasarkan hadits di atas, tidak diperbolehkan
bagi seorang mukmin menolak kebenaran atau
nasehat yang disampaikan kepadanya. Karena
jika demikian berarti mereka telah menyerupai
orang-orang kafir dan telah menjerumuskan
dirinya ke dalam sifat sombong yang bisa
menghalanginya masuk surga.
Maka, sikap hikmah (yaitu sikap menerima
kebenaran dan tidak meremehkan siapapun
yang menyampaikannya -pen) menjadi senjata
yang ampuh bagi seorang mukmin yang selalu
siap digunakan. Maka dari itu, kita wajib
menerima kebenaran dari siapapun datangnya,
bahkan dari setan sekalipun.
Ya Alloh, tunjukilah -dengan izin-Mu- bagi kami
pada kebenaran dalam perkara yang kami
perselisihkan. Sesungguhnya Engkaulah yang
menunjuki siapa yang Engkau kehendaki ke jalan
yang lurus.

Jadilah contoh Kebaikan( by: Shalih)

Bismillaah ..
Tatkala para hamba duduk didalam naungan ilmu
menghadiri majelis dzikir (ta’lim), terdapat ajang
tanya-jawab oleh sang ustadz terhadap
jama’ahnya. Ada seorang hamba yang
kelihatannya baru berjinak-jinak dalam mengenal
dan memperdalami ilmu agama yang mulia ini.
Kemudian beliau memberanikan diri untuk
bertanya:
“Ustadz, apakah mengejek dan menghina orang tu
berdosa?”
Spontan, sebagian besar jema’ah memasang
muka sinis sembari diiringi dengan senyuman
kecut. Dan ternyata rata-rata yang berbuat
demikian adalah ikhwan yang sudah lama
mengikuti majelis ta’lim tersebut. Sementara
sebagian lainnya menggeleng-gelengkan kepala
sambil melirik kepada si penanya (tanda heran
akan pertanyaan yang konyol?!!), ada yang
berbisik-bisik antar satu dengan lainnya, dan ada
juga yang tanpa respon, alias tidak bergeming dan
terpengaruh sama sekali akan kondisi
sekelilingnya.
Subhaanallaah! Contoh apakah ini?
Inikah teladan yang dipaparkan oleh seorang
penuntut ilmu sejati?
Bukankah kita suatu waktu kemarin pernah berada
dalam kebodohan, jauh dari mengenali ilmu dien
yang mulia ini?
Lalu Allaahu Tabaaraka wa Ta’ala menganugerahi
cahaya berupa hidayah, agar kita mampu sadar
sahyugia kembali meniti jalan sunnah yang selama
ini hilang didalam gelapnya kehidupan?
Apakah kemudian kita tega berbuat demikian
kepada insan yang, sebagaimana halnya dulu kita
pernah jua rasakan, hanya saja kita telah lama
belajar dan getol mengikuti kajian selama ini?
Sungguh, janganlah kita menganggap diri ini
senantiasa selamat dari dosa dan maksiat hanya
karena kita telah mengenal da’wah sunnah,
kemudian kepada insan yang baru menginjakkan
kaki untuk membuka pintu dirinya terhadap ilmu
pengetahuan, kita berlaku sinis dan terkesan
merendahkan?
ﻓَﻠَﺎ ﺗُﺰَﻛُّﻮﺍ ﺃَﻧﻔُﺴَﻜُﻢْ ﻫُﻮَ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﻤَﻦِ ﺍﺗَّﻘَﻰ
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci.
Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang
bertaqwa.”
(an Najm: 32).
Ingatlah wahai jiwa! Dengan akhlaq yang kita
contohkan, dapat pula menjadi penentu atas dekat
dan jauhnya manusia serta datang dan larinya
mereka dari agama ini ..
Dan jangan lupa pula! Kita tidak memiliki
kekuasaan untuk memberikan hidayah kepada
mereka, karena hal demikian (hidayah) hanyalah
milik Rabb Tabaaraka wa Ta’ala semata. Kendati,
melalui akhlaq mulia yang dipaparkanlah, maka
kita mampu mengumpulkan contoh yang kelak
akan menimbulkan pengaruh, sekaligus menjadi
sebuah pembuktian tentang keindahan serta
kemuliaan Islam diatas semua agama-agama
lainnya, beserta dampak-dampak positif yang
akan dihasilkan melaluinya ..
Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
ﻳَﺴِّﺮُﻭﺍ ﻭَﻟَﺎ ﺗُﻌَﺴِّﺮُﻭﺍ ﻭَﺑَﺸِّﺮُﻭﺍ ﻭَﻟَﺎ ﺗُﻨَﻔِّﺮُﻭﺍ
“Mudahkan dan jangan mempersulit, berikan
kabar gembira dan jangan membuat manusia
lari.”
(HR. Bukhari; Kitaabul ‘Ilm: 69).
Bukankah Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa
sallam telah menekankan, kemudian menekankan,
kemudian beliau menekankan lagi, bahwasanya:
ﺍﻟﺪِّﻳْﻦُ ﺍﻟﻨَّﺼِﻴْﺤَﺔُ، ﺍﻟﺪِّﻳْﻦُ ﺍﻟﻨَّﺼِﻴْﺤَﺔُ، ﺍﻟﺪِّﻳْﻦُ ﺍﻟﻨَّﺼِﻴْﺤَﺔُ ،
“Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah
nasihat, agama itu adalah nasihat?”
(HR. Muslim: 55/ 95).
Inikah contoh nasihat yang kita berikan kepada
mereka yang haus akan tegukan dan siraman ilmu,
yang selama ini menghilang dan menghadang
dalam nafas kehidupan?
Ataukah ini bagian dari da’wah yang selama ini
dibina oleh sang perintis da’wah (shallallaahu
‘alaihi wa sallam) beserta sahabat-sahabatnya
(ridwaanullaah ajma’iin) selama hidup dizaman
mereka dulu?
Apakah dengan cara ini Islam akan tegak berdiri,
dimana umat bisa bersatu dalam shaf-shaf kokoh,
berpijak diatas naungan Qur’an dan Sunnah yang
didambakan selama ini?
Atau kemudian setelahnya kita dapati sang
penanyapun mulai mundur teratur, menghilangkan
jejak, sehingga tidak ingin menghadiri majelis
seperti itu lagi?
Kemudian, sebuah sambaran nasihat terlontar dari
sang ustadz yang mawas akan keadaan
jama’ahnya, tatkala dianggap perlu diberikan
sebuah pengertian dan pembenahan. Sejurus
beliau menjawab:
“Na’am akhy, mengejek dan menghina adalah
sebuah perbuatan dosa, dan ini terlebih menjadi
nasihat berharga bagi diri ana pribadi yang tidak
makhsum, kemudian para ikhwan semua yang
baru dan telah lama mengaji, semoga Allaahu
Ta’ala menjaga kalian semua dan juga untuk yang
bertanya tanpa terkecuali ..
Beliau juga, hafizhaahullaah, menyambung:
"Rabb Tabaaraka wa Ta’ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah
suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, bisa
jadi yang diolok-olok itu lebih baik dari mereka
(yang mengolok-olok).”
(al-Hujuurat: 11).
Hamba yang lebih awal mengenal Islam ini, ya’ni
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, telah
berwasiat kepada para penuntut kebenaran dan
mengajarkan bagaimana selayaknya kita sesama
saudara seiman dan seaqidah, ketika
bermuamalah. Beliau berpesan:
“Jangan kalian saling hasad, jangan saling
melakukan najaasy, jangan kalian saling
membenci, jangan kalian saling membelakangi,
jangan sebagian kalian membeli barang yang telah
dibeli orang lain dan jadilah kalian sebagai
hamba-hamba Allaah yang bersaudara.
Seorang muslim adalah saudara muslim bagi
lainnya, karenanya, jangan dia menzhaliminya,
jangan menghinanya, jangan berdusta kepadanya,
dan jangan merendahkannya.”
(HR. Muslim: 2564).
Kemudian kita juga dapati beliau shallallaahu
‘alaihi wa sallam mengajarkan bagaimana
sepatutnya kita memperlakukan saudara seagama
sendiri:
“Janganlah engkau remehkan suatu kebajikan
sedikitpun, walaupun engkau bertemu dengan
saudaramu dengan wajah yang ceria (bermanis
muka).”
(HR. Muslim: 2626)."
Setelah mendengarkan jawaban yang mencairkan
hati-hati yang beku, melenturkan qalbu-qalbu
kaku, tanya-jawab ditutup dengan penuh khidmat,
masing-masing jiwa membawa pulang
bersamanya bekal yang berharga buat
menyongsong kehidupan sehari-hari, dalam
rangka menjadi hamba-hamba yang memiliki
pribadi akhlaq nan tinggi dalam mencontohi
lagikan dicontohi ..

Jadilah Kunci Kunci Kebaikan


Oleh: Ustadz Abu Ahmad Said Yai, Lc.
LAFAZ HADÎTS:
ﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻗﺎﻝ : ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ:
ﺇِﻥَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻣَﻔَﺎﺗِﻴﺢَ ﻟِﻠْﺨَﻴْﺮِ ﻣَﻐَﺎﻟِﻴﻖَ ﻟِﻠﺸَّﺮِّ ﻭَﺇِﻥَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻣَﻔَﺎﺗِﻴﺢَ ﻟِﻠﺸَّﺮِّ
ﻣَﻐَﺎﻟِﻴﻖَ ﻟِﻠْﺨَﻴْﺮِ ﻓَﻄُﻮﺑَﻰ ﻟِﻤَﻦْ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣَﻔَﺎﺗِﻴﺢَ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻋَﻠَﻰ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻭَﻭَﻳْﻞٌ ﻟِﻤَﻦْ
ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣَﻔَﺎﺗِﻴﺢَ ﺍﻟﺸَّﺮِّ ﻋَﻠَﻰ ﻳَﺪَﻳْﻪِ
Dari Anas bin Mâlik radhiallâhu ‘anhu, dia
berkata, “Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam
pernah bersabda, “Sesungguhnya di antara
manusia ada kunci-kunci pembuka kebaikan dan
gembok-gembok penutup keburukan. Di antara
manusia ada gembok-gembok penutup kebaikan
dan kunci-kunci pembuka keburukan.
Beruntunglah orang-orang yang Allah letakkan
kunci-kunci pembuka kebaikan di tangannya dan
celakalah orang-orang yang Allah letakkan kunci-
kunci pembuka keburukan di tangannya.”
TAKHRÎJ:
Hadîts ini diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah di Sunan-
nya di Pembukaan Kitab Sunan Ibnu Mâjah, bab
Man Kâna miftâhan lilkhair (no. 237) dan Ibnu Abi
‘Âshim di As-Sunnah (no. 232).
Hadîts ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albâni di
Ash-Shahîhah (1332) dan Dzhilâlul-jannah
(297/299) dengan syawâhid-nya.
SYARH (PENJELASAN) HADÎTS:
Sesungguhnya di antara manusia ada (pemilik)
kunci-kunci pembuka (pintu-pintu) kebaikan dan
(pemilik) gembok-gembok penutup (pintu-pintu)
keburukan (yaitu orang-orang yang dijadikan oleh
Allah sebab, dimana orang-orang lain bisa
mengerjakan kebaikan dan meninggalkan
keburukan, seperti ulama, pemegang kekuasaan,
mujahid dll). Di antara manusia ada (pemilik)
gembok-gembok penutup (pintu-pintu) kebaikan
dan (pemilik) kunci-kunci pembuka (pintu-pintu)
keburukan (yaitu orang-orang yang dijadikan oleh
Allah sebab, dimana orang-orang tidak bisa
mengerjakan kebaikan dan tidak bisa
meninggalkan keburukan).[1]
FAIDAH-FAIDAH Yang berhubungan dengan
HADÎTS
Sesungguhnya Allâh-lah yang membuka dan
menutup segala segala sesuatu yang dikehendaki-
Nya. Allah memiliki ism (nama) Al-Fattâh. Di
dalam Al-Qur’an dan Al-Hadîts Al-Fattah memiliki
tiga makna, yaitu: Al-Hâkim (Yang Maha
Memutuskan Perkara), An-Nâshir (Yang Maha
Menolong) dan Al-Fattâh (Yang Maha Membuka).
[2]
Berkata Ibnul-Qayyim rahimahullâh, “Kunci semua
kebaikan adalah keinginan bertemu dengan Allah
dan mendapatkan akhirat (surga). Kunci semua
keburukan adalah cinta dunia dan panjangnya
angan-angan. Mengetahui hal ini adalah suatu hal
yang sangat agung dan termasuk ilmu yang paling
bermanfaat di antara ilmu-ilmu yang lain, yaitu
mengetahui kunci-kunci kebaikan dan keburukan.
Tidaklah ada orang-orang yang mengenal dan
memperhatikan hal ini kecuali orang-orang yang
sangat beruntung dan mendapatkan taufik”[3]
Berkata Syaikh Abdurrazzâq Al-’Abbâd
hafidzhahullah, “Ketahuilah! Orang-orang yang
terjatuh ke dalam kemaksiatan tidak akan
membiarkan dirinya terjatuh sendirian di dalam
kemaksiatan. Dia akan mengajak orang lain
bersamanya. Oleh karena itu, berhati-hatilah!”[4]
Pintu-pintu kebaikan itu banyak sekali. Barang
siapa yang telah dibukakan salah satu pintu
kebaikan maka janganlah mengejek atau
merendahkan orang lain yang telah dibukakan
pintu kebaikan yang lain. Ada kisah yang menarik
sekali, “Abdullah Al-’Umari seorang ahli ibadah
mengirim surat ke Imam Mâlik (yang isinya)
menyarankan agar sang Imam menyendiri (dari
orang-orang) dan beramal. Maka sang Imam pun
membalas surat tersebut, “Sesungguhnya Allah
membagi amalan-amalan sebagaimana membagi
rezeki. Banyak orang yang dibukakan baginya
pintu shalat, tetapi tidak dibukakan baginya pintu
puasa. Begitu pula yang lainnya, dibukakan pintu
sedekah tidak dibukakan pintu puasa. Dan yang
lainnya lagi, dibukakan pintu jihad. Menyebarkan
ilmu termasuk diantara amalan-amalan yang
sangat afdhal. Saya telah rida dengan apa yang
telah Allah bukakan untuk saya. Saya mengangap
apa yang sekarang saya jalani tidaklah lebih
rendah dari apa yang Anda amalkan. Saya
berharap kita berdua berada dalam kebaikan dan
ketakwaan.“[5]
Miftâhul-khair (kunci kebaikan) tidak hanya para
ustadz atau para dai, tetapi juga meliputi setiap
orang yang bisa mengajak orang-orang lain untuk
taat dan menjauhi perbuatan maksiat, seperti:
pemimpin daerah atau suatu organisasi, guru,
orang tua, mujâhid (orang yang berjihad), orang
kaya yang memanfaatkan hartanya untuk kebaikan
dll.
Menjadi miftâhul-khair termasuk salah satu cara
untuk menjadi orang yang bermanfaat untuk orang
lain dan menjadi orang yang paling dicintai oleh
Allah. Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
ﺃَﺣَﺐُّ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻧْﻔَﻌُﻬُﻢْ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ
Artinya: “Orang yang paling dicintai oleh Allah
adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”[6]
Bagaimana caranya agar kita bisa menjadi
miftâhul-khair?
Orang-orang yang ingin menjadi miftâhul-khair
harus memiliki atau mengerjakan hal-hal sebagai
berikut:
- Al-’azm (tekad yang bulat) dan niat yang benar
Hendaknya kita tanamkan di dalam hati kita
keinginan yang kuat untuk mengubah dan
mengajak orang-orang di sekeliling kita kepada
kebaikan. Dengan demikian, kita akan senantiasa
berpikir bagaimana cara yang tepat untuk
mewujudkan hal tersebut. Terkadang kita agak
malu, tapi ingatlah bahwa “malu itu tidak datang
kecuali untuk kebaikan.” Jika kita malu untuk
berbuat baik, maka ketahuilah itu datangnya dari
setan.
Allah ta’âla berfirman:
Artinya: “Jika kamu telah ber-’azm maka
tawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
mencintai orang-orang yang bertawakkal.” (QS Ali
‘Imran : 159)
- Ilmu
Dengan ilmu kita bisa mengetahui mana yang
merupakan miftâhul-khair dan mana yang
merupakan miftâhus-syarr (kunci keburukan).
Dengan ilmu kita bisa membedakaan yang mana
termasuk perbuatan taat dan yang mana termasuk
perbuatan maksiat. Dengan ilmu kita mengetahui
halal dan haram. Semakin tinggi ilmu seseorang
maka perkara-perkara yang menurutnya syubhat
akan semakin berkurang.
Di antara dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan
ilmu adalah hadits berikut:
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﺧَﻴْﺮُ ﻣَﺎ ﻳَﺨْﻠُﻒُ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀُ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﺛَﻠَﺎﺛًﺎ : ﻭَﻟَﺪًﺍ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﻟَﻪُ ﻓَﻴَﺒْﻠُﻐُﻪُ ﺩُﻋَﺎﺅُﻩُ ، ﺃَﻭْ
ﺻَﺪَﻗَﺔً ﺗَﺠْﺮِﻱ ﻓَﻴَﺒْﻠُﻐُﻪُ ﺃَﺟْﺮُﻫَﺎ ، ﺃَﻭْ ﻋِﻠْﻤًﺎ ﻳُﻌْﻤَﻞُ ﺑِﻪِ ﺑَﻌْﺪَﻩُ
Artinya: “Sebaik-baik yang ditinggalkan oleh
seseorang setelah dia meninggal ada tiga: (1)
Anak yang soleh yang selalu berdoa kepadanya,
sehingga sampailah kepadanya apa yang di
doakan, (2) sedekah yang pahalanya mengalir
kepadanya, dan (3) ilmu yang diamalkan (oleh
orang lain) setelahnya.“[7]
Qatadah rahimahullâh berkata,
ﺑَﺎﺏٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻳَﺤْﻔَﻈُﻪُ ﺍﻟَّﺮﺟُﻞُ ﻟِﺼَﻠَﺎﺡِ ﻧَﻔْﺴِﻪِ ﻭَﺻَﻠَﺎﺡِ ﻣَﻦْ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﻣِﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩَﺓِ
ﺣَﻮْﻝٍ
Artinya: “Seseorang yang menghapal satu bab
ilmu (diniatkan) untuk kesolehan dirinya dan
kesolehan orang-orang setelahnya, lebih afdhal
daripada beribadah sepanjang tahun.”[8]
- Beramal dengan ilmu
Mungkin di antara kita pernah mengeluh, “Saya
sudah lama berdakwah, tetapi mengapa tidak
banyak memberikan pengaruh?” Kita harus sadar
dan muhâsabah (introspeksi) diri kita sendiri.
Bagaimana mungkin orang yang tidak memiliki
kesolehan akan “menularkan” kesolehannya
kepada orang lain? Oleh karena itu, kerjakanlah
kewajiban-kewajiban dan jauhilah larangan-
larangan Allah dan Rasul-Nya! Adapun amalan-
amalan yang sifatnya nâfilah (sunnah) maka kita
amalkan semampu kita dan kita pertimbangkan
manakah di antara amalan-amalan tersebut yang
lebih mudah dan lebih afdhal untuk diri kita dari
yang amalan-amalan lainnya.[9]
Sebagian dari kita mungkin memandang bahwa
amalan itu hanya dikhususkan pada amalan yang
dzhâhir saja. Pandangan ini salah. Amalan-amalan
itu meliputi amalan-amalan zhâhir dan juga batin.
Bahkan amalan yang paling besar menurut Allah
adalah tauhid. Sedangkan tauhid, sebagaimana
kita ketahui, termasuk amalan batin.
- Mengikuti cara yang dicontohkan oleh Nabi
shallallâhu ‘alaihi wa sallam
Syaikh Rabî’ Al-Madkhali telah menulis buku
khusus tentang ini.[10]
- Menjadi An-Nâshih (Orang yang selalu
menasihati)
Menjadi An-Nâshih (Orang yang selalu
menasehati) adalah nikmat yang sangat besar
sekali. Coba bayangkan, seandainya kita sedang
melakukan perbuatan dosa, kemudian ditegur atau
dilarang oleh seseorang, maka betapa senangnya
hati kita, karena tidak jadi melakukan maksiat
kepada Allah. Begitu pula, ketika di suatu masjid
tidak hidup amalan-amalan sunnah kemudian
datang seseorang menasihati dan menganjurkan
untuk beramal dan menghidupkan sunnah, maka
betapa senangnya hati kita. Senantiasa kita akan
mengucapkan kepada orang tersebut “terima
kasih” atau paling tidak, kita akan selalu
mendoakan kebaikan untuknya.
Selama ada orang-orang yang seperti itu, maka
Allah akan senantiasa menurunkan keberkahan-
Nya.
Allah subhânu wa ta’âla menceritakan perkataan
Nabi ‘Isa ‘alaihis-salâm,
Artinya: “Dan Dialah (Allah) yang telah menjadikan
saya mubarak (penuh dengan keberkahan) di
mana pun saya berada.” (QS Maryam : 31)
Di antara tafsiran ayat ini sebagaimana disebutkan
oleh Ibnu Katsîr rahimahullâh di dalam tafsirnya
adalah “menjadi mubârak yaitu dengan ber-amr
bil-ma’rûf wa nahi ‘anil-munkar (Menyuruh kepada
kebaikan dan melarang dari kemungkaran).”
- Berakhlak yang mulia dan menjaga murû’ah[11]
(wibawa, citra atau kehormatan diri)
Meskipun menjaga murû’ah bukanlah sesuatu
yang wajib, tetapi hal ini sangat memberikan
pengaruh terhadap orang-orang di sekeliling kita.
Imam As-Syafi’i rahimahullâh pernah berkata,
ﻟَﻮْ ﺃَﻥَّ ﺍﻟْﻤَﺎﺀَ ﺍﻟْﺒَﺎﺭِﺩَ ﻳَﺜْﻠَﻢُ ﻣِﻦْ ﻣُﺮُﻭْﺀَﺗِﻲ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻣَﺎ ﺷَﺮِﺑْﺖُ ﺍﻟْﻤَﺎﺀَ ﺇِﻟَّﺎ ﺣَﺎﺭًّﺍ
Artinya : “Seandainya air yang dingin (dapat)
merusak sesuatu dari kewibawaanku
(kehormatanku) maka saya tidak akan minum air
kecuali yang panas.”[12]
- Berteman dengan orang-orang yang telah dikenal
sebagai miftâhul-khair
Ketahuilah! Hewan-hewan saja bisa memberikan
pengaruh terhadap watak seseorang, jika dia
sering bersamanya. Padahal hewan-hewan
tersebut tidak bisa berbicara. Apalagi jika yang
sering bersamanya adalah orang-orang yang bisa
berbicara, tentu pengaruhnya akan semakin besar.
Janganlah malu mendekati miftâhul-khair meski
umur kita masih terlalu muda! Begitu pula orang
yang sudah diberi hidayah oleh Allah sebagai
miftâhul-khair, janganlah gengsi bergaul dengan
yang lebih muda. Bisa jadi kebaikan-kebaikan
“mengalir” melalui yang lebih muda.
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah
berkata,
ﺍﻟْﻔَﺨْﺮُ ﻭَ ﺍﻟْﺨُﻴَﻠَﺎﺀُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻔَﺪَّﺍﺩِﻳْﻦَ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻮَﺑَﺮِ ﻭَ ﺍﻟﺴَّﻜِﻴْﻨَﺔُ ﻓِﻲ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻐَﻨَﻢِ
Artinya : “Kesombongan dan keangkuhan terdapat
pada pengembala-pengembala (yang meninggikan
suaranya terhadap hewan-hewan) dari kalangan
pengembala-pengembala unta. Sedangkan
ketenangan terdapat pada pengembala kambing
”[13]
- Hikmah dalam berdakwah
Allah ta’ala berfirman:
Artinya: “Berdakwahlah ke jalan Rab-mu dengan
berhikmah dan nasihat yang baik. Serta debatlah
mereka dengan yang lebih baik.” (QS An-Nahl:
125)
Al-Ustâdz Abdullah Zaen hafidzhahullâh telah
menulis buku khusus dalam permasalahan ini.
Silahkan merujuknya.[14]
- Berlemah lembut terhadap yang lain
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah
berkata,
ﻣَﻦْ ﻳُﺤْﺮَﻡِ ﺍﻟﺮِّﻓْﻖَ ﻳُﺤْﺮَﻡِ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮَ
Artinya: “Barang siapa dijauhkan dari kelemah-
lembutan maka akan dijauhkan dari kebaikan.”[15]
- Sabar
Menjadi miftâhul-khair tidaklah mudah. Tentu ada
saja hambatan-hambatan dan rintangan-rintangan
baik dari dalam diri kita sendiri ataupun dari orang
lain. Perjuangan dakwah kita belumlah seberapa
bila dibanding para Nabi ‘alaihimush-shalâtu
wassalâm. Rasululullah shallallâhu ‘alaihi wa
sallam pernah ditanya oleh Saad bin Abi Waqqâsh
radhiallâhu ‘anhu
ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻯُّ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺃَﺷَﺪُّ ﺑَﻼَﺀً ﻗَﺎﻝَ ﺍﻷَﻧْﺒِﻴَﺎﺀُ ﺛُﻢَّ ﺍﻷَﻣْﺜَﻞُ ﻓَﺎﻷَﻣْﺜَﻞُ ﻓَﻴُﺒْﺘَﻠَﻰ
ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻋَﻠَﻰ ﺣَﺴَﺐِ ﺩِﻳﻨِﻪِ ﻓَﺈِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﺩِﻳﻨُﻪُ ﺻُﻠْﺒًﺎ ﺍﺷْﺘَﺪَّ ﺑَﻼَﺅُﻩُ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻰ ﺩِﻳﻨِﻪِ
ﺭِﻗَّﺔٌ ﺍﺑْﺘُﻠِﻰَ ﻋَﻠَﻰ ﺣَﺴَﺐِ ﺩِﻳﻨِﻪِ
Artinya: “Ya Rasulullah! Manusia manakah yang
paling berat ujiannya? Beliau menjawab, “Para
Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya.
Seseorang akan diuji sesuai kadar
keberagamaannya. Jika agamanya kuat maka akan
ditambahkan ujian itu. Jika agamanya lemah maka
akan diuji sesuai kadar keberagamaannya.”[16]
- Banyak berdoa
Jangan lupa banyak berdoa kepada Allah agar
dijadikan miftâhul-khair dan mendoakan kebaikan
untuk orang-orang di sekitar kita di waktu-waktu
yang mustajab. Hal ini banyak dilupakan oleh
kebanyakan orang.
Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat untuk
semua. Billâhit-taufîq walhamdulillâh.
[1] Lihat Syarh Sunan Ibn Mâjah li As-Sindi dan li
As-Suyûthi
[2] Lihat Shifâtullah ‘Azza wa jalla Al-Wâridah fil-
Kitâb was-Sunnah li As-Seggâf Hal. 270
[3] Hâdil-arwâh hal. 39. Beirut: Dârul-kutub
Al-’ilmiyah
[4]Ceramah umum beliau di Universitas Islam
Madinah yang berjudul ‘Kaifa takûnu miftâhan
lilkhair?‘. Jazâhullah khairan.
[5] Siyar A’lâm An-Nubalâ’ tentang Imam Malik
rahimahullah
[6] Diriwayatkan oleh Ath-Thabrâni dari hadis Ibnu
‘Umar dengan lafaz, “Bahwasanya seseorang
mendatangi Rasululah shallallahu ‘alahi wa sallam.
Kemudian dia bertanya, ‘Ya Rasulullah, siapakah
manusia yang paling dicintai oleh Allah? Dan
Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?’
Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam pun
menjawab, ‘Manusia yang paling dicintai oleh
Allah adalah yang paling bermanfaat di antara
mereka. Amalan yang paling dicintai oleh Allah
adalah kebahagiaan yang engkau berikan kepada
seorang muslim, engkau menghilangkan kesusahan
dari dirinya, engkau membayarkan hutangnya,
atau engkau menghilangkan kelaparan darinya.
Berjalan bersama saudaraku untuk suatu
keperluan, lebih saya sukai daripada ber-i’tikaf di
masjid ini –yaitu masjid nabawi- selama sebulan.
Barang siapa yang menahan marahnya, maka
Allah akan menutupi auratnya. Barang siapa yang
mengekang marahnya, walaupun sebenarnya dia
mampu untuk melampiaskan, maka Allah ‘Azza
wa Jalla akan mengisi hatinya dengan keamanan
pada hari kiamat. Barang siapa yang berjalan
bersama saudaranya untuk suatu keperluan
sampai saudaranya mendapatkannya, maka Allah
akan menetapkan kakinya di atas Ash-Shirat
(jembatan) di hari banyak orang-orang terpeleset
di atasnya.”
Lihat Al-Mu’jam Al-Kabir no. 13646 (12/453), Al-
Mu’jam Al-Ausath no. 6026 (6/139-140), Al-
Mu’jam Ash-Shaghir no. 861 hal. 106, dan di Al-
Ausath juga diriwayatkan dari hadis Jabir no. 5787
(6/58), dangan lafaz, “Sebaik-baik manusia adalah
yang paling bermanfaat untuk manusia.”
Hadis ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di
Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 906 (2/573),
dan no. 426 (1/787), dan di Shahihul-Jami’ no.
4289 dan di Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no.
2623.
[7] HR Ibnu Mâjah No. 241 dan Ibnu Khuzaimah
No. 2495. Di-shahîh-kan oleh Syaikh Al-Albâni di
At-Ta’lîq (1/58), Ahkâmul-janâ’iz Hal. 176 dan Ar-
Raudh hal. 1013
[8] Jâmi’ bayan al-’ilmi wa fadhlihi jilid I hal 111.
Dâr Ibnil-Jauzi
[9] Syaikh Ibrâhim Ar-Ruhaili telah menulis buku
berjudul ‘Tajrîdul-ittibâ’ fi bayâni asbâb tafâdhulil-
a’mâl‘. Silakan merujuknya.
[10]Judul bukunya Manhajul-anbiyâ’ fid-da’wah
ilallâh fîhi alhikmah wal-’aql’
[11] Murû’ah adalah kehormatan atau citra diri
atau sesuatu yang sudah sepantasnya ada pada
seseorang, sebagai contoh: Di suatu daerah
sesuatu yang aib sekali jika seorang thalibul-ilmi
shalat dengan memakai celana, maka untuk
menjaga murû’ah-nya dia shalat dengan memakai
sarung. Hukumnya kembali kepada adat masing-
masing daerah.
[12] Manâqib Asy-Syafî li-Ar-Râzy hal 85 dinukil
dari Ma’âlim fî tharîq thalabil’ilm hal 166
[13] HR Al-Bukhâri No. 3499 dan Muslim No. 187.
Ahlul-wabar dapat diartikan orang-orang
pedalaman (baduwi) karena rumah-rumah mereka
dulunya terbuat dari al-wabr atau bulu. Adapun
makna hadits di atas penulis ambilkan dari Syarh
Shahih Muslim li An-Nawawi
[14] Judul bukunya ’14 CONTOH PRAKTEK
HIKMAH DALAM BERDAKWAH’
[15] HR Muslim No. 2592
[16] HR At-Tirmidzi No. 2398 dan Ibnu Mâjah No.
4523

Adab Tahajjud lah yang buat kita belajar menjadi hamba yang shalih dan shalihah

(Al-'Isrā'):79 - Dan pada sebagian malam hari
bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu
ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan
Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang
terpuji.
(Al-'Isrā'):80 - Dan katakanlah: "Ya Tuhan-ku,
masukkanlah aku secara masuk yang benar dan
keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar
dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau
kekuasaan yang menolong.
(Al-'Isrā'):81 - Dan katakanlah: "Yang benar telah
datang dan yang batil telah lenyap".
Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang
pasti lenyap.
Tahajud bisa menandakan kemuliaan bagi
seseorang.
Jika kita lihat lebih dalam sebenarnya dari "adab"
tahajjud dari situlah Allah memberi pelajaran
kepada kita agar kita semakin menjadi hamba yg
lebih baik,menuju hamba yg shalih/
shalihah ,seperti contoh jika malam sebelum tidur
kita berkata dusta/bohong lalu pada saat waktu
tahajjud tiba Allah tidak membangunkan kita dari
tidur kita..Allah tidak sudi di temui hamba
pendusta..
Itu adalah pelajaran bahwa kita tidak bisa
"berjumpa" dg Allah pada saat Tahajjud karena
kita telah berkata dusta .. itu hukuman juga
pelajaran dari Allah untuk kita.
Atau bisa juga sebelum tidur kita makan banyak
hingga kenyang lalu kita tidak bisa ikut shalat
tahajjud.
Begiti juga bisa merupakan hukuman dari Allah
untuk kita.
Karena sesungguhnya orang orang shalih tidak
membiarkan perut mereka kenyang..
Orang yang telah terbiasa dan ,atau sedang
berusaha mengistiqamahkan bertahajjud jika satu
kali saja tidak bisa shalat tahajjud maka
penyeselanya begitu besar.. begitu mendalam..
Karena dia menyadari bahwa ketidakbisaanya ikut
bangun untuk shalat dan menghadap / bermunajat
kepada Allah adalah dari dosanya kepada Allah..
# Renungan_sebelum_tidur

Kalam kalam habib Umar.

Mutiara Nasehat al-Habib Umar bin Hafidz
1. Penuhilah hatimu dengan kecintaan terhadap
saudaramu niscaya akan menyempurnakan
kekuranganmu dan mengangkat derajatmu di sisi
Allah
2. Barang siapa Semakin mengenal kepada allah
niscaya akan semakin takut.
3. Barang siapa yang tidak mau duduk dengan
orang beruntung, bagaimana mungkin ia akan
beruntung dan barang siapa yang duduk dengan
orang beruntung bagaimana mungkin ia tidak
akan beruntung.
4. Barang siapa menjadikan kematiaannya
sebagai pertemuan dengan sang kekasih (Allah),
maka kematian adalah hari raya baginya.
5. Barang siapa percaya pada Risalah
(terutusnya Rasulullah), maka ia akan mengabdi
padanya. Dan barang siapa percaya pada
risalah, maka ia akan menanggung (sabar)
karenanya. Dan barang siapa yang
membenarkan risalah, maka ia akan
mengorbankan jiwa dan hartanya untuknya.
6. Kedekatan seseorang dengan para nabi di
hari kiamat menurut kadar perhatiannya
terhadap dakwah ini.
7. Betapa anehnya bumi, semuanya adalah
pelajaran. Kukira tidak ada sejengkal tanah di
muka bumi kecuali di situ ada ibrah (pelajaran)
bagi orang yang berakal apabila mau
mempelajarinya.
8. Sebaik-baik nafsu adalah yang dilawan dan
seburuk-buruk nafsu adalah yang diikuti.
9. Tanpa menahan hawa nafsu maka manusia
tidak akan sampai pada Tuhannya sama sekali
dan kedekatan manusia terhadap Allah menurut
kadar pembersihan jiwanya.
10. Jikalau sebuah hati telah terbuka, maka akan
mendapatkan apa yang diinginkan.
11. Barang siapa yang mempunyai samudra ilmu
kemudian kejatuhan setetes hawa nafsu, maka
hawa nafsu itu akan merusak samudra tersebut.
12. Sesaat dari saat-saat khidmat (pengabdian) ,
lebih baik daripada melihat arsy dan seisinya
seribu kali.
13. Menyatunya seorang murid dengan gurunya
merupakan permulaan di dalam menyatunya
dengan Rasulullah SAW. Sedangkan menyatunya
dengan Rasulullah SAW merupakan permulaan
untuk fana pada Allah (lupa selain Allah)
14. Manusia di setiap waktu senantiasa terdiri
dari dua golongan, golongan yang diwajahnya
terdapat tanda-tanda dari bekas sujud dan
golongan yang di wajahnya terdapat tanda-tanda
dari bekas keingkaran.
15. Barang siapa yang menuntut keluhuran,
maka tidak akan peduli terhadap pengorbanan.
16. Sesungguhnya di dalam sujud terdapat
hakikat yang apabila cahanya turun pada hati
seorang hamba, maka hati tersebut akan sujud
selama-lamanya dan tidak akan mengangkat dari
sujudnya.
17. Beliau RA berkata tentang dakwah, Yang
wajib bagi kita yaitu harus menjadi daI dan tidak
harus menjadi qodli atau mufti (katakanlah
wahai Muhammad SAW inilah jalanku, aku
mengajak kepada Allah dengan hujjah yang jelas
aku dan pengikutku) apakah kita ikut padanya
(Rasulullah) atau tidak ikut padanya? Arti
dakwah adalah memindahkan manusia dari
kejelekan menuju kebaikan, dari kelalaian
menuju ingat kepada Allah, dan dari
keberpalingan kembali menuju kepada Allah,
dan dari sifat yang buruk menuju sifat yang baik.
18. Syetan itu mencari sahabat-sahabatnya dan
Allah menjaga kekasih-kekasih- Nya.
19. Apabila ibadah agung bagi seseorang maka
ringanlah adap (kebiasaan) baginya dan apabila
semakin agung nilai ibadah dalam hati
seseorang maka akan keluarlah keagungan adat
darinya.
20. Bila benar keluarnya seseorang (di dalam
berdakwah), maka ia akan naik ke derajat yang
tinggi.
21. Keluarkanlah rasa takut pada makhluk dari
hatimu maka engkau akan tenang dengan rasa
takut pada kholiq (pencipta) dan keluarkanlah
berharap pada makhluk dari hatimu maka
engkau akan merasakan kenikmatan dengan
berharap pada Sang Kholiq.
22. Banyak bergurau dan bercanda merupakan
pertanda sepinya hati dari mengagungkan Allah
dan tanda dari lemahnya iman.
23. Hakikat tauhid adalah membaca Al Qur’an
dengan merenungi artinya dan bangun malam.
24. Tidak akan naik pada derajat yang tinggi
kecuali dengan himmah (cita-cita yang kuat).
25. Barang siapa memperhatikan waktu, maka ia
akan selamat dari murka Allah.
26. Salah satu dari penyebab turunnya bencana
dan musibah adalah sedikitnya orang yang
menangis di tengah malam.
27. Orang yang selalu mempunyai hubungan
dengan Allah, Allah akan memenuhi hatinya
dengan rahmat di setiap waktu.
28. Salah satu dari penyebab turunnya bencana
dan musibah adalah sedikitnya orang yang
menangis di tengah malam.

KEMATIAN MENURUT SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI


"Gunakanlah umurmu sebaik-baiknya, sebelum
datangnya 'suatu hari dari Allah yang tidak bisa
ditolak,'(QS 30:43), yakni Hari Kebangkitan.
Engkau harus belajar memotong harapan-harapan
mu, sebab tidak ada keberhasilan tanpa
pemotongan harapan (qashrul-amal).
Habiskanlah sedikit waktu untuk hal-hal
menyangkut dunia ini, sebab bagian yang telah
dijatahkan untukmu akan datang kepadamu tanpa
bisa dielakkan lagi, meskipun engkau tidak
mengejarnya. Kecuali jika engkau telah menerima
jatahmu secara penuh, engkau tidak akan
dibiarkan meninggalkan dunia ini.
Sungguh celaka, wahai orang bodoh yang tertipu!
Janganlah engkau terikat dengan diri rendahmu
(nafs) dan hawa nafsu (hawa), sebab engkau tak
akan bisa lepas dari maut. Tak ada kekuatan yang
bisa menghadapi maut. Ke arah mana pun engkau
menghadap dan bagaimanapun engkau bergerak,
ia selalu ada di depanmu sebagai pemimpin dan
ada di belakangmu sebagai pengikut.
Namun, engkau tak perlu merasa risau dengan hari
Kebangkitan, sebab hari kematianmu adalah
kebangkitan individual bagimu secara pribadi.
Sedangkan Hari Kebangkitan adalah peristiwa
universal bagimu dan bagi setiap manusia.
Kebangkitan yang pertama akan memperlihatkan
kepadamu kebangkitan yang kedua. Semoga
ketika engkau melihat Malaikat Maut, dia akan
datang kepadamu dengan senyum di wajahnya,
demikian juga para pembantunya. Mereka akan
mengucapkan salam kepadamu, dan mereka akan
mengambil ruhmu dengan sentuhan yang lembut,
sebagaimana mereka mengambil ruh-ruh para
nabi, syuhada dan orang-orang saleh. Karena itu,
engkau bisa bergembira atas berita baik mengenai
Kebangkitan hari pertama.
Malaikat itu dan para pembantunya akan
menunjukkan kepadamu (apa yang akan kau alami)
pada Hari Kebangkitan yang kedua.
Jika apa yang kau lihat adalah baik, maka
harapanmu adalah baik. Tapi, jika yang kau lihat
adalah buruk, maka harapanmu adalah buruk."
--Syekh Abdul Qadir Jailani dalam Jala Al-
Khawathir