Bismillaah...
Jika bangun setiap malam sunah membaca akhir Surat
Ali-Imran dari firman Allah swt: Inna fii khalqis samaawaati wal ardhi
sehingga akhir ayat.
Mengikuti riwayat yang terdapat di dalam Shahihain:
“Sesungguhnya Rasulullah saw membaca akhir Surat Ali Imran apabila bangun dari tidur
Tentang apa yang dibacakan untuk orang sakit. Sunah membaca AlFatihah
di samping orang sakit berdasarkan sabda Nabi saw dalam hadits sahih
berkenaan dengan perkara tersebut:
“Dari mana engkau tahu bahwa Al-Fatihah adalah ruqtah (sejenis obat dan mantera)?”
Sunah membaca Qul Huwallaahu Ahad, Qul A’uudzu bi rabbil falaq dan Qul
A’uudzu bi rabbin Naas untuk orang sakit dengan meniup pada kedua
telapak tangan.
Hal tersebut diriwayatkan dalam Shahihain dari
perbuatan Rasulullah saw yang telah dijelaskan dalam bab meniup di
akhir bagian yang sebelum ini.
Diriwayatkan dari Thalhah bin
Mutharif, katanya: “Jika Al-Qur’an dibaca di dekat orang sakit, dia
merasa lebih ringan. “Pada suatu hari aku memasuki khemah seseorang yang
sedang sakit”. Aku berkata: “Aku melihatmu hari ini dalam keadaan
baik.”
Dia berkata: “Telah dibacakan AlQur’an di dekatku.”
Diriwayatkan oleh Al-Khatib Abu Bakar Al-Baghdadi rahimahullah dengan
isnadnya, bahwa Ar-Ramadi ra ketika menderita sakit, katanya: bacakan
hadits kepadaku. Ini baru hadits, apalagi Al-Qur’an.
: Tentang
apa yang dibacakan di dekat mayat. Para ulama sahabat kami dan yang
berkata, sunah membaca surat yasiin di dekatnya berdasarkan hadits
Ma’qil bin Yasar ra bahwa Nabi saw bersabda: “Bacakanlah surat Yasiin
untuk mayatmu.” (Riwayat Abu dawud dan Nasa’I, dalam Amalul Yaum wal
Lailah dan Ibnu Majah dengan isnad dha’if)
Diriwayatkan oleh
Mujalid dari Asy-Sya’bi, katanya: “Kaum Anshor apabila hadir di dekat
mayat, mereka membaca surat Al-Baqarah.” Dan orang bernama Mujalid ini
adalah sha’if. Wallahua’lam.
Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Rabu, 12 Februari 2014
Orang Sufi anti Syurga dan Tidak Takut Neraka?
Diantara tuduhan yang dilontarkan kepada kaum Sufi, bahwa dalam tasawuf, seorang Sufi itu tidak mau syurga dan tidak takut neraka. Padahal Rasulullah pernah berharap syurga dan dihindarkan dari neraka. Rasulullah paripurna saja masih demikian, kenapa kaum Sufi enggan dengan syurga dan tidak takut neraka?
Tuduhan dan pertanyaan berikutnya seputar syurga dan neraka, bahwa kaum Sufi dalam tujuannya untuk beribadah hanya kepada Allah, tidak menuju syurga dan tidak menghindar dari neraka, dianggap sebagai akidah yang salah. Padahal dalam ayat Al-Qur’an disebutkan, “Makan dan minumlah (di syurga) dengan nikmat yang disebabkan oleh amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang lampau….” (al-Haaqqah, 24) . Jadi kaum Sufi pandangannya bertentangan dengan ayat tersebut.
JAWABAN
Dalam Al-Qur’an dan Hadits soal syurga dan neraka disebut berkali-kali dalam berbagai ayat dan surat. Tentu saja, sebagai janji dan peringatan Allah swt. Namun memahami ayat tersebut atau pun hadits Nabi saw, harus dilihat dari berbagai sudut pandang, tidak sekadar formalisme ayat atau teks hadits saja.
Contoh soal rasa takut. Dalam Al-Qur’an disebut beberapa kali bentuk takut itu. Ada yang menggunakan kata Taqwa, ada yang menggunakan kata Khauf dan ada pula Khasyyah, dan berbagai bentuk kata yang ditampilkan Allah Ta’ala yang memiliki hubungan erat dengan bentuk takut itu sendiri, sesuai dengan kapasitas hamba dengan Allah Ta’ala. Makna takut dengan penyebutan yang berbeda-beda itu pasti memiliki dimensi yang berbeda pula, khususnya dalam responsi psikhologi keimanan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, berkaitan dengan frekwensi dan derajat keimanan seseorang.
Begitu juga kata Jannah dan Naar, syurga dan neraka. Penekanan-penekanan kata Naar dalam Al-Qur’an juga memiliki struktur hubungan yang berbeda. Naar disebutkan untuk orang kafir, memiliki tekanan berbeda dengan orang munafik, orang fasik, dan orang beriman yang ahli maksiat. Itu berarti berhubungan dengan kata Naar, yang disandarkan pada macam-macam ruang neraka: Ada Neraka Jahim, Neraka Jahanam, Neraka Sa’ir, Neraka Saqar, Neraka Abadi, dan penyebutan kata Naar yang tidak disandarkan pada sifat dan karakter neraka tertentu.
Jika Naar kita maknai secara gradual, justru menjadi zalim, karena faktanya tidak demikian. Hal yang sama jika para Sufi memahami Naar dari segi hakikatnya neraka, juga tidak bisa disalahkan. Apalagi jika seseorang memahami neraka itu sebagai api yang berkobar.
Kalimat Naar tanpa disandari oleh Azab, juga berbeda dengan Neraka yang ansickh belaka. Misalnya kalimat dalam ayat di surat Al-Baqarah, “Wattaqun Naar al-llaty waquduhannaasu wal-Hijarah” dengan ayat yang sering kita baca, “Waqinaa ‘adzaban-Naar,” memiliki dimensi berbeda. Ayat pertama, menunjukkan betapa pada umumnya manusia, karena didahului dengan panggilan Ilahi ”Wahai manusia”. Maka Allah langsung membuat ancaman serius dengan menyebutkan kata Naar. Tetapi pada doa seorang beriman, “Lindungi kami dari siksa neraka,” maknanya sangat berbeda. Karena yang terakhir ini berhubungan dengan kualifikasi keimanan hamba kepada Allah, bahwa yang ditakuti adalah Azabnya neraka, bukan apinya. Sebab api tanpa azab, jelas tidak panas, seperti api yang membakar Ibrahim as.
Oleh sebab itu, jika seorang Sufi menegaskan keikhlasan ubudiyahnya hanya kepada Allah, memang demikian perintah dan kehendak Allah. Bahwa seorang mukmin menyembah Allah dengan harapan syurga dan ingin dijauhkan neraka, dengan perpekstifnya sendiri, tentu kualifikasi keikhlasannya di bawah yang pertama. Dalam berbagai ayat mengenai Ikhlas, sebagai Ruh amal, disebutkan agar kita hanya menyembah Lillahi Ta’ala. Tetapi kalau punya harapan lain selain Allah termasuk di sana harapan syurga dan neraka, sebagai bentuk kenikmatan fisik dan siksa fisik, itu juga diterima oleh Allah. Namun, kualifikasinya adalah bentuk responsi mukmin pada syurga dan neraka paling rendah.
Semua mengenal bagaimana Allah membangun contoh dan perumpamaan, baik untuk menjelaskan dirinya, syurga maupun neraka. Kaum Sufi memilih perumpamaan paling hakiki, karena perumpamaan neraka yang paling rendah sudah dilampauinya. Sebagaimana kualitas moral seorang pekerja di perusahaan juga berbeda-beda, walau pun teknis dan cara kerjanya sama.
Orang yang bekerja hanya mencari uang dan untung, tidak boleh mencaci dan mengecam orang yang bekerja dengan motivasi mencintai pekerjaan dan mencintai direktur perusahaan tersebut. Walau pun cara bekerjanya sama, namun kualitas moral dan etos kerjanya yang berbeda. Bagi seorang direktur yang bijaksana, pasti ia lebih mencintai pekerja yang didasari oleh motivasi cinta yang luhur pada pekerjaan, perusahaan dan mencintai dirinya, disbanding para pekerja yang hanya mencari untung be laka, sehingga mereka bekerja tanpa ruh dan spirit yang luhur.
Karena itu syurga pun demikian. Persepsi syurga bagi kaum Sufi memiliki kualifikasi ruhani dan spiritual yang berbeda dengan persepsi syurga kaum awam biasa. Hal yang sama persepsi mengenai bidadari. Bagi kaum Sufi bidadari yang digambarkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah, adalah Tajalli (penampakan) sifat-sfat dan Asma Kemahaindahan Ilahi, yang tentu saja berbeda dengan kaum awam yang dipersepsi sebagai kenikmatan bilogis seksual-hewani.
Syurga bagi kaum Sufi adalah Ma’rifatullah dengan derajat kema’rifatan yang berbeda-beda. Karena nikmat tertinggi di syurga adalah Ma’rifat Dzatullah. Jadi kalimat Rabi’ah Adawiyah tentang ibadah tanpa keinginan syurga adalah syurga fisik dengan kenikmatan fisik yang selama ini kita persepsikan. Dan hal demikian memang bisa menjadi penghalang (hijab) antara hamba dengan Allah dalam prosesi kema’rifatan.
Bahkan Allah pun membagi-bagi syurga dengan symbol berbeda-beda, ada Jannatul Ma’wa, Jannatul Khuldi, Jannatun Na’im, Jannatul Firdaus, yang tentu saja menunjukkan kualifikasi yang bersifat lahiriyah maupun bathiniyah. Bagi orang beriman yang masih bergelimang dengan nafsunya, maka perspesi tentang nikmat syurga, adalah pantulan nafsu hewaninya dan syahwatnya, lalu persepsi kesenangan duniawi ingin dikorelasikan dengan rasa nikmat syurgawi yang identik dengan syahwatiyah.
Rabi’ah Adawiyah dan para Sufi lainnya ingin membersihkan jiwa dan hatinya dari segala bentuk dan motivasi selain Allah yang bisa menghambat perjalanan menuju kepada Allah. Dengan bahasa seni yang indah dan tajam, mereka hanya menginginkan Allah, bukan menginginkan makhluk Allah. Amaliyah di dunia sebagi visa syurga hanyalah untuk menentukan kualifikasi kesyurgawiannya, bukan sebagai kunci masuk syurganya. Karena hanya Fadhal dan RahmatNya saja yang menyebabkan kita masuk syurga. “karena Fadhal dan Rahmat itulah kamu sekalian bergembira…” Demikian dalam Al-Qur’an. Bukan gembira karena syurgaNya.
Syurga dan neraka adalah makhluk Allah. Apakah seseorang bisa wushul (sampai kepada) Allah, manakala perjalanannya dari makhluk menuju makhluk? Apakah itu tidak lebih dari sapi atau khimar yang menjalankan roda gilingan, yang berputar-putar terus menerus tanpa tujuan?
Nah anda bisa merenungkan sendiri, betapa tudingan-tudingan mereka yang anti tasawuf soal persepsi syurga dan neraka ini, bisa terbantahkan dengan sendirinya, tanpa harus berdebat lebih panjang.
Hanya mereka yang tolol dan bodoh saja, jika ada ucapan seperti ini dikecam habis, “Tuhanku, hanya engkau tujuanku, dan hanya ridloMulah yang kucari. Limpahkan Cinta dan Ma’rifatMu kepadaku…” Ucapan yang menjadi munajat para Sufi. Lalu mereka mengecam ucapan ini, sebagai bentuk anti syurga dan tak takut neraka?
Maqam dan Haal
Al-Haal (kondisi ruhani) menurut banyak
orang merupakan arti yang intuitif dalam hati;
tanpa adanya unsur sengaja, usaha menarik,
dan usaha lainnya, dari rasa senang atau
sedih, leluasa atau tergenggam, rindu atau
berontak, rasa takut atau suka cinta, maka
setiap al-Haal merupakan karunia.
Dan stiap
Maqam adalah upaya.
Pada al-Haal datang
dari Wujud itu sendiri, sedang al-Maqam
diperoleh melalui upaya perjuangan.
Orang
yang memilik Maqam, menempati maqamnya,
dan orang yang berada dalam Haal, bebas
dari kondisinya.
Salah seorang guru berkata : “Beberapa
al-Haal seperti kilatan kalau menetap, itu
sekedar omongan nafsu.”
Mereka berkata : “Al-Haal sebagaimana
namanya, yakni al-Haal seperti ketika
menempati dalam kalbu, kemudian hilang.
Kalau tidak menempati, pasti tidak
dinamakan haal.
Dan setiap yang menempati, pastilah
hilang,
Lihatlah pada bayangan ketika sampai
ujungnya
Berkuranglah ketika ia memanjang
Beberpa kalangan mengisyaratkan
abadinya al-Haal.
Mereka berkata :
“Sebenarnya jika al-Haal tidak abadi dan tidak
terdelegasi, itu hanyalah kilatan belaka.
Pelakunya tidak sampai pada al-Haal yang
sebenarnya. Apabila predikat tersebut
menetap terus, Baru dinamkan al-Haal.”
Di sinilah Abu Utsman al-Hiry berkata
“Aku tidak pernah benci terhadap maqam
yang telah diberikan Allah swt. kepadaku.”
Ia
mengisyaratkan ketetapan abadinya dalam
ridha. Dan ridha merupakan bagian dari al-
Haal.
Seharusnya dikatakan : Orang yang
mengisyaratkan abadinya al-Haal, maka apa
yang dikatakannya benar.
Terkadang al-Haal
berarti bagian dari seseorang kemudian
terpelihara di dalamnya. Tetapi yang memiliki
al-Haal ini memiliki beberapa ihwal, yaitu
jalan-jalan yang tak menetap di atas ihwal-
ihwalnya yang menjadi bagiannya.
Bila jalan-
jalan yang ditempuh menetap secara
konsisten, seperti menetapnya ihwal-ihwal
tersebut, ia naik ke ihwal lain yang lebih
lembut. Dan begitu selanjutnya, naik ke tahap
seterusnya.
MASA MUDA
Bismillaah..
LirdhaIllaahita'ala wali syafa'ati rasulillaah wali
karamati aulia illaah..
Al faatihah..
MASA MUDA
Sejak kecil, ia pendiam, nrimo, bertafakur dan
sering melakukan agar lebih baik, apa yang
disebut “pengalaman-pengalaman mistik.” Ketika
berusia delapan belas tahun, kehausan akan ilmu
dan kegairahan untuk bersama para saleh, telah
membawanya ke Baghdad, yang kala itu
merupakan pusat ilmu dan peradaban.
Kemudian, beliau digelari orang Ghaust Al-Azam
atau Wali Ghaust terbesar. Dalam terminologi
kaum Sufi, seorang Ghaust menduduki jenjang
rohani dan keistimewaan kedua dalam hal
memohon ampunan dan ridha Allah bagi umat
manusia setelah para Nabi. Seorang Ulama
besar di masa kini, telah menggolongkannya ke
dalam Shiddiqin, sebagaimana sebutan Al-
Qur’an bagi orang semacam itu.
Ulama ini
mendasarkan pandangannya pada peristiwa yang
terjadi pada perjalanan pertama Sayid Abdul
Qadir ke Baghdad.
Diriwayatkan bahwa menjelang
keberangkatannya ke Baghdad, ibunya yang
sudah menjanda, membekalinya delapan puluh
keping emas yang dijahitkan pada bagian dalam
mantelnya, persis di bawah ketiaknya, sebagai
bekal. Uang ini adalah warisan dari almarhum
ayahnya, dimaksudkan untuk menghadapi masa-
masa sulit. Kala hendak berangkat, sang Ibu,
diantaranya, berpesan agar jangan berdusta
dalam segala keadaan. Sang anak berjanji untuk
senantiasa mencamkan pesan tersebut. Begitu
kereta yang ditumpanginya tiba di Hamadan,
menghadanglah segerombolan perampok. Kala
menjarahi, para perampok samak sekali tak
memperhatikannya, karena ia tampak begitu
sederhana dan miskin. Kebetulan salah seorang
perampok menanyainya apakah ia mempunyai
uang atau tidak.
Ingat akan janjinya kepada sang
Ibu, si kecil Abdul Qadir segera menjawab : “Ya,
aku punya delapan puluh keping emas yang
dijahitkan di dalam baju oleh ibuku.” Tentu, para
perampok terperanjat keheranan. Merekaheran,
ada manusia sejujur ini. Mereka membawanya
kepada pemimpin mereka, lalu menanyainya,
dan jawabannya pun sama. Begitu jahitan pada
baju Abdul Qadir dibuka, didapatilah delapan
puluh keping emas, sebagaimana dinyatakannya.
Sang kepala perampok terhenyak kagum. Ia
kisahkan segala yang terjadi antara dia dan
ibunya pada saat berangkat, dan
ditambahkannya jika ia berbohong, maka akan
tak bermakna upayanya menimba ilmu agama.
Mendengar hal ini, menagislah sang kepala
perampok, jatuh terduduk di kaki Abdul Qadir,
dan menyesali segala dosa yang pernah
dilakukannya. Diriwiyatkan, bahwa kepala
perampok ini adalah murid pertamanya.
Peristiwa ini menunjukkan proses menjadi
Shiddiq. Andaikata ia tak benar, maka
keberanian kukuh semacam itu demi kebenaran,
dalam saat-saat kritis, tak mungkin baginya.
LirdhaIllaahita'ala wali syafa'ati rasulillaah wali
karamati aulia illaah..
Al faatihah..
MASA MUDA
Sejak kecil, ia pendiam, nrimo, bertafakur dan
sering melakukan agar lebih baik, apa yang
disebut “pengalaman-pengalaman mistik.” Ketika
berusia delapan belas tahun, kehausan akan ilmu
dan kegairahan untuk bersama para saleh, telah
membawanya ke Baghdad, yang kala itu
merupakan pusat ilmu dan peradaban.
Kemudian, beliau digelari orang Ghaust Al-Azam
atau Wali Ghaust terbesar. Dalam terminologi
kaum Sufi, seorang Ghaust menduduki jenjang
rohani dan keistimewaan kedua dalam hal
memohon ampunan dan ridha Allah bagi umat
manusia setelah para Nabi. Seorang Ulama
besar di masa kini, telah menggolongkannya ke
dalam Shiddiqin, sebagaimana sebutan Al-
Qur’an bagi orang semacam itu.
Ulama ini
mendasarkan pandangannya pada peristiwa yang
terjadi pada perjalanan pertama Sayid Abdul
Qadir ke Baghdad.
Diriwayatkan bahwa menjelang
keberangkatannya ke Baghdad, ibunya yang
sudah menjanda, membekalinya delapan puluh
keping emas yang dijahitkan pada bagian dalam
mantelnya, persis di bawah ketiaknya, sebagai
bekal. Uang ini adalah warisan dari almarhum
ayahnya, dimaksudkan untuk menghadapi masa-
masa sulit. Kala hendak berangkat, sang Ibu,
diantaranya, berpesan agar jangan berdusta
dalam segala keadaan. Sang anak berjanji untuk
senantiasa mencamkan pesan tersebut. Begitu
kereta yang ditumpanginya tiba di Hamadan,
menghadanglah segerombolan perampok. Kala
menjarahi, para perampok samak sekali tak
memperhatikannya, karena ia tampak begitu
sederhana dan miskin. Kebetulan salah seorang
perampok menanyainya apakah ia mempunyai
uang atau tidak.
Ingat akan janjinya kepada sang
Ibu, si kecil Abdul Qadir segera menjawab : “Ya,
aku punya delapan puluh keping emas yang
dijahitkan di dalam baju oleh ibuku.” Tentu, para
perampok terperanjat keheranan. Merekaheran,
ada manusia sejujur ini. Mereka membawanya
kepada pemimpin mereka, lalu menanyainya,
dan jawabannya pun sama. Begitu jahitan pada
baju Abdul Qadir dibuka, didapatilah delapan
puluh keping emas, sebagaimana dinyatakannya.
Sang kepala perampok terhenyak kagum. Ia
kisahkan segala yang terjadi antara dia dan
ibunya pada saat berangkat, dan
ditambahkannya jika ia berbohong, maka akan
tak bermakna upayanya menimba ilmu agama.
Mendengar hal ini, menagislah sang kepala
perampok, jatuh terduduk di kaki Abdul Qadir,
dan menyesali segala dosa yang pernah
dilakukannya. Diriwiyatkan, bahwa kepala
perampok ini adalah murid pertamanya.
Peristiwa ini menunjukkan proses menjadi
Shiddiq. Andaikata ia tak benar, maka
keberanian kukuh semacam itu demi kebenaran,
dalam saat-saat kritis, tak mungkin baginya.
CINTA DAN TASAWUF
Bismillahi Ar Rahmaani Ar Rahiimi
Benarkah cinta itu mengharapkan upah? Padahal cinta itu sendiri sudahlah upah bagi para pecinta.
Perasaan iman manusia itu bertingkat, maka bertingkat pula cara Tuhan memberikan tuntunan. Ada orang yang diberi ancaman dengan neraka, maka timbullah khauf. Ada orang yang diberi harapan dengan syurga, maka timbullah raja’a. Tetapi orang yang telah berpengalaman lebih tinggi, maka terpadulah raja’a dengan khaufnya kepada satu hal, yaitu CINTA.
Disinilah kita akan tahu sebuah pelajaran dari seorang Rabi’atul ‘Adawiyah (seorang Zahid perempuan yang telah menaikkan tingkat zuhud).
Cinta sejati tidak lagi mengenal berbagai hal. Kalau dalam hati kita masih ada rasa aku adalah aku, dan engkau adalah engkau, maka itu belumlah sampai pada inti cinta.
Kadang-kadang kita tak tahu apa yang harus kita bicarakan lagi, bahkan bisa jadi mulutpun “ngelantur”. Bahkan saking cintanya bisa jadi akan muncul kata-kata bahwa “Engkau adalah aku”. Kadang-kadang juga kemanapun kita menoleh, hanya Sang Kekasih itulah yang terlihat. Ke matahari terbit, ke bulan purnama kita melihat...hanya Sang Kekasih itulah yang tampak. Ke angin sepoi-sepoi sekalipun, Hangat hembusan Sang Kekasih itulah yang terasa. Bahkan juga jika rasa cinta itu telah memuncak, merasa ingin mati saja dalam cinta.
“Kalaupun engkau ingin hidup berbahagia, matilah dengan dan karena Sang Kekasih (dalam keadaan syahid)
Dan jika tidak begitu, rindu adalah ahlinya untuk menggantikan itu”.
Pada suatu hari, timbul Tanya jawab diantara burung satu dengan burung yang lain tentang keindahan dan kemesraan bila berjumpa dengan Nur dan Narr, Cahaya dan Api.
Masing-masing bercerita tentang pengalaman mereka. Seekor burung yang lebih tua menyuruh anak-anaknya merasakan kemesraan cahaya itu. Ada salah satu diantara anak-anak burung itu, dirasakannya cahaya itu dan dirasakannya pula panas itu, lalu ia pulang. Seekor lagi mendekat ke cahaya itu, dan tersentuh pula panas itu, hamper saja sayapnya terbakar. Ia pun pulang membawa bukti sayapnya yang nyaris terbakar itu. Kemudian maju satu ekor lagi ke muka, terbang menuju cahaya dan terbang menuju api lantas menghilang. Burung tua itupun berkata : “Ia yang hilang kedalam cahaya dan kedalam api, maka dialah yang sampai”.
Cinta akan melarutkan jiwa kita dalam cahaya yang tiada dua hangatnya, tak satu pun di hati kita yang lebih tinggi dari pada Sang Kekasih. Keindahan dan kemesraan bersama-Nya akan mengalirkan anggur cinta yang tiada dua rasanya. Menari dengan senandung cinta yang tiada dua merdunya. Terbang dengan sayap cinta yang tiada dua kuat kepakan sayapnya.
Benarkah cinta itu mengharapkan upah? Padahal cinta itu sendiri sudahlah upah bagi para pecinta.
Perasaan iman manusia itu bertingkat, maka bertingkat pula cara Tuhan memberikan tuntunan. Ada orang yang diberi ancaman dengan neraka, maka timbullah khauf. Ada orang yang diberi harapan dengan syurga, maka timbullah raja’a. Tetapi orang yang telah berpengalaman lebih tinggi, maka terpadulah raja’a dengan khaufnya kepada satu hal, yaitu CINTA.
Disinilah kita akan tahu sebuah pelajaran dari seorang Rabi’atul ‘Adawiyah (seorang Zahid perempuan yang telah menaikkan tingkat zuhud).
Cinta sejati tidak lagi mengenal berbagai hal. Kalau dalam hati kita masih ada rasa aku adalah aku, dan engkau adalah engkau, maka itu belumlah sampai pada inti cinta.
Kadang-kadang kita tak tahu apa yang harus kita bicarakan lagi, bahkan bisa jadi mulutpun “ngelantur”. Bahkan saking cintanya bisa jadi akan muncul kata-kata bahwa “Engkau adalah aku”. Kadang-kadang juga kemanapun kita menoleh, hanya Sang Kekasih itulah yang terlihat. Ke matahari terbit, ke bulan purnama kita melihat...hanya Sang Kekasih itulah yang tampak. Ke angin sepoi-sepoi sekalipun, Hangat hembusan Sang Kekasih itulah yang terasa. Bahkan juga jika rasa cinta itu telah memuncak, merasa ingin mati saja dalam cinta.
“Kalaupun engkau ingin hidup berbahagia, matilah dengan dan karena Sang Kekasih (dalam keadaan syahid)
Dan jika tidak begitu, rindu adalah ahlinya untuk menggantikan itu”.
Pada suatu hari, timbul Tanya jawab diantara burung satu dengan burung yang lain tentang keindahan dan kemesraan bila berjumpa dengan Nur dan Narr, Cahaya dan Api.
Masing-masing bercerita tentang pengalaman mereka. Seekor burung yang lebih tua menyuruh anak-anaknya merasakan kemesraan cahaya itu. Ada salah satu diantara anak-anak burung itu, dirasakannya cahaya itu dan dirasakannya pula panas itu, lalu ia pulang. Seekor lagi mendekat ke cahaya itu, dan tersentuh pula panas itu, hamper saja sayapnya terbakar. Ia pun pulang membawa bukti sayapnya yang nyaris terbakar itu. Kemudian maju satu ekor lagi ke muka, terbang menuju cahaya dan terbang menuju api lantas menghilang. Burung tua itupun berkata : “Ia yang hilang kedalam cahaya dan kedalam api, maka dialah yang sampai”.
Cinta akan melarutkan jiwa kita dalam cahaya yang tiada dua hangatnya, tak satu pun di hati kita yang lebih tinggi dari pada Sang Kekasih. Keindahan dan kemesraan bersama-Nya akan mengalirkan anggur cinta yang tiada dua rasanya. Menari dengan senandung cinta yang tiada dua merdunya. Terbang dengan sayap cinta yang tiada dua kuat kepakan sayapnya.
TINGKATAN MANUSIA
Bismillahi Ar Rahmaani Ar Rahiimi
Semoga catatan ini bisa bermanfaat bagi para pembaca dan semoga Allah SWT selalu memberikan hidayah-Nya pada kita semua, amin.
Kecerdasan dan kesanggupan akal seseorang itu tidaklah sama. senantiasa ada orang awam, yaitu seorang yang biasa. dan ada pula orang khawas, yang berfikir lebih cerdas. Imam Ghazali menasehatkan, orang awam yang belum sanggup berfikir cerdas, teratur dan meluaskan ilmu pengetahuannya, tak perlu memasuki sesuatu secara begitu dalam. karena hal itu akan menimbulkan keraguan dalam hatinya sendiri. sedangkan ilmu yang canggung lebih banyak merusak daripada memperbaiki. bagi orang awam, cukuplah ia berpegang dengan Nash Quran dan sunnah. tak usah banyak tanya, terelebih ikut campur menta'wilkan ayat dan hadits yang dalam fahamnya. karena itu akan merusak pendirian orang itu sendiri. ta'wil orang awam adalah ibarat orang yang tak pandai berenang mencoba merenangi lautan.
Ada lagi sebagian orang, yang ilmunya baru setengah perjalanan, baru mendapatkan perkakas, tetapi bukan alat dan hasilnya sendiri, melainkan hanya diambil dari orang lain. belum ada kesanggupan membandingkan sesuatu.
Ada lagi orang yang mencapai tingkat lebih tinggi. orang itu tidak lagi semata-mata berpegang pada kulit lahir dari Nash. tetapi meningkat pada sesuatu yang lebih tinggi dari itu, yaitu ilmu yang lebih banyak dirasakannya dari pada dikatakan (didapat / diterima dari orang lain). itulah anugerah istimewa dari Allah SWT. dia dapat menyaksikan yang Haqq dengan Nur Cahaya keyakinan.
Maka terbagilah derajat keimanan dan keyakinan manusia itu dalam tiga tingkat, antara lain :
1. Iman orang awam
Orang awam itu mempercayai kabar berita yang dibawa oleh orang yang dipercayainya.
2. Iman orang Alim
Dia mendapat kepercayaan dari jalan membanding, meneliti dan memeriksa dengansegenap kekuatan akal dan manthiknya (intelektualitas).
3. Iman orang 'Arifin
Dia beriman dan tumbuh keyakinan setelah menyaksikan sendiri akan kebenaran itu dengan tidak ada dinding lagi.
Pengibaratan dari ketiganya adalah sebagai berikut :
Ada seseorang didalam rumah...
Orang awam mendengar kabar itu dari orang yang tahu bahwa si fulan ada dalam rumah itu, lantas percayalah ia (orang awam itu).
Orang Alim menyaksikan tanda-tanda (misalkan baju yang ada didepan rumah, atau adanya suara dari dalam rumah itu), maka dapatlah ia menyimpulkan fikiran dan percaya bahwa si fulan memang ada didalam rumah.
Sedangkan orang 'Arifin telah masuk sendiri ke dalam rumah itu, dan bertemu dengan si fulan dalam rumah itu.
Orang 'Arifin yang telah mencapai martabat ini, itulah ke-Cintaan Tuhan yang bertemu dengan inti sari ilmu. orang-orang Alim (pada tingkat kedua) belumlah sampai pada tingkat ini. untuk mencapai tingkat ini, mulailah ia menaklukkan akal kepada jalan kecintaan. menghadap semata-mata kepada Allah SWT dengan membesarkan Himmah (cita-cita dan kemauan). menaklukkan diri, nafsu dan keinginan kedalam suatu latihan batin dan perjuangan (mujahadah). dengan kesetiaan yang sedemikian rupa, sedikit demi sedikit akan terbukalah hijab yang menutupi antara aku dengan ENGKAU, sehingga dapatlah menyaksikan sendiri dengan penglihatan hati, bukan dengan penglihatan mata.
Kesungguhuan, ketaatan dan kesetiaan menjaga segala syarat rukunnya, menghentikan segala larangan dan pantangannya, membuat jiwa sendiri suci bersih sehingga menimbulkan cahaya diri dengan Cahaya Hidayah petunjuk Tuhan. orang seperti inilah yang akan mencapai derajat Wali. derajat Wali-ul-Lah adalah dibawah derajat Nabi, Nabi mendapat "Wahyu dengan teratur" sedangkan Wali mendapatkan "Ilham". ada bebrapa macam cara datangnya, ada dengan perantara mimpi, ada juga dengan perantaraan tafakkur. dan sesungguhnya sumber dari semua itu ialah sama-sama dari Allah SWT.
Aku belum tahu (Dont Know yet what The Name of This)
Ada begitu banyak sesuatu yg terkurung di dalam pikiran ini..
Dia selalu memberikan penglihatan berunsurkan cahaya saat hati ini kuhadapkan padaNya..terlebih saat menghadap dalam shalat.. Gerak dan
Perpindahan nya hanya seperti berkedip mata..
Dia begitu banyak menyimpan "sesuatu" disana dan dsini(hati)
Namun
tak ada yg bisa ku katakan dalam kata atau ku tulis dalam huruf dan angka..
Sepertinya aku harus memahami untuk diriku sendiri..
mata ini selalu berkaca kaca sat melihat itu semua .. dan darah yg mengalir merespon itu dengan "kesejukan" pasi
.
bulir bulir air jernih adalah respon penglihatan itu..
Hati dan pikiran
ini tak mau beranjak kala melihatnya ...
Bgitu indah..
Andaikan aku bisa bersama mereka dlm waktu yg lama. Ingin ku tanyakan pda mereka tentang banyak hal..
dan satu Hal yg banyak orang mempertanyakannya
Wahai para pencari..
Hadapkanlah dirimu pada Nya..akan ada cahaya terang yg kluar dari hatimu..
Begitu
Menyilaukan..
Jangan khawatir..
Cahayaitu akan membawamu pada satu jalan dan satu kefahaman..
Kalian akan menemukan jejak mereka ..
Suasana yg akan meleburkan kalian dengan mereka..
Dia dekat ..
Dan Dia selalu ada di depanmu..
Dia selalu memberikan penglihatan berunsurkan cahaya saat hati ini kuhadapkan padaNya..terlebih saat menghadap dalam shalat.. Gerak dan
Perpindahan nya hanya seperti berkedip mata..
Dia begitu banyak menyimpan "sesuatu" disana dan dsini(hati)
Namun
tak ada yg bisa ku katakan dalam kata atau ku tulis dalam huruf dan angka..
Sepertinya aku harus memahami untuk diriku sendiri..
mata ini selalu berkaca kaca sat melihat itu semua .. dan darah yg mengalir merespon itu dengan "kesejukan" pasi
.
bulir bulir air jernih adalah respon penglihatan itu..
Hati dan pikiran
ini tak mau beranjak kala melihatnya ...
Bgitu indah..
Andaikan aku bisa bersama mereka dlm waktu yg lama. Ingin ku tanyakan pda mereka tentang banyak hal..
dan satu Hal yg banyak orang mempertanyakannya
Wahai para pencari..
Hadapkanlah dirimu pada Nya..akan ada cahaya terang yg kluar dari hatimu..
Begitu
Menyilaukan..
Jangan khawatir..
Cahayaitu akan membawamu pada satu jalan dan satu kefahaman..
Kalian akan menemukan jejak mereka ..
Suasana yg akan meleburkan kalian dengan mereka..
Dia dekat ..
Dan Dia selalu ada di depanmu..
Langganan:
Postingan (Atom)