Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Selasa, 01 September 2015
MENYELAMI MAKNA KHUSYUK
Kata Arab kbusyu’ berasal dan kata khasya'a yang artinya takut’. Misalnya, disebutkan dalam Alquran, “Wa-jah-wajah pada hari itu ketakutan (khasyi'ah)” (Q.S. al-Ghasyiyah (88: 2). Kata khasyi'ah berarti hati yang di-penuhi rasa takut; takut kepada Allah Swt. dan takut bila masa hidupnya tak kan sempat untuk mengumpulkan bekal buat hari akhir nanti.
Khusyuk tidak sama dengan konsentrasi, karena konsentrasi lebih pada pikiran. Khusyuk juga bermakna rendah, merunduk, atau tunduk. Orang yang khusyuk dalam shalatnya berari orang yang menyadari sepenuhnya hakikat dan tujuan salatnya. Dan Alquran menyebutkan kata khusyuk tidak hanya berkaitan dengan shalat, tapi juga dengan berbagai aktifitas kehidupan di dunia, misalnya Allah berfirman “Suara-suara itu khusyu dihadapan yang Maha Rahman (Q.S: Thaha [20]: 128). Disini, Tuhan menyatakan bahwa suara-suara itu tunduk dan diam.
Diayat lain Allah berfirman “Seandainya kami turunkan Al Quran diatas gunung, maka engkau akan dapati gunung itu khusyuk .. (Al Hasyr [59]:21). Disini makna khusyuk tidak secara spiritual tapi khusyuk secara lahiriah, yakni gunung itu menjadi diam, tunduk dan runduk dihadapan Tuhan.
Dua Jenis Hati: ‘Isyqi dan Khawfi
Khusyuk berkaitan erat dengan hati. Menurut para sufi, untuk meraih hati yang khusyuk, pertama-tama harus melewati ilmu. Dalam konteks ini, kita harus benar-benar memahami fiingsi hati ketika akan menghadap Allah. Kaitannya dengan khusyuk, ada dua jenis kualitas hati: qalb 'isyqi (hati yang rindu kepada Allah) dan qalb khawfi(hati yang takut kepada Allah). Sebagian orang memperoleh kualitas kedua-duanya, sebagian lagi hanya isyqi atau khawft saja, dan sebagian besar tidak memiliki kedua-duanya. Hati yang rindu kepada Allah {isyqi) dan hati yang takut kepada-Nya (khawft) ini sebenarnya mengejar salah satu sifat jamaliah dan jalaliah Allah Swt. Kalau jamaliah itu sisi keindahan dan kasih sayang Allah, maka jalaliah adalah keperkasaan dan keagungan Allah.
Hati yang penuh kerinduan (qalb 'isyqi) mengejar keindahan Allah (Jamaliah). la merindukan untuk melakukan kebaikan, karena Allah Mahabaik. Rindu tidak akan diperoleh tanpa ada cinta. Maka dalam tasawuf ada yang dikenal dengan mazhab cinta. Mereka beribadah dengan cinta, menghampiri Allah melalaui pintu kasih-Nya. Bagaimana mengembangkan rasa rindu kepada Allah? Belajar mencintai Allah dan mencintai segala sesuatu yang ber-hubungan dengan-Nya!
Cinta kepada Allah memiliki beberapa tingkatan. Menurut Ibn 'Arabi, cinta ada tiga macam: cinta natural, cinta supranatural, dan cinta ilahi. Cinta natural tidak hanya dimiliki manusia. Hewan pun memilikinya. Cinta ini seperti cinta kita terhadap orang yang berbuat baik kepada kita. Cirinya bersifat sangat subjektif, karena kita mementing diri kita sendiri. Kita pun mencintai Allah karena Dia limpahkan rezekinya kepada kita. Bukankah seekor anjing mencintai tuannya lantaran setiap hari si tuan memberi makan dan merawatnya?
Cinta spiritual tidak dimiliki hewan tapi hanya oleh manusia. Orang yang mencintai dengan cinta ini tidak memikirkan kepentingan dirinya, tetapi kepentingan yang dicintainya. Ini seprti seorang ibu terhadap anaknya yang tanpa pamrih ia tidak pernah mengharap balasan, bahkan rela menderita asal anaknya bahagia. Kita harus mengembangkan cinta seperti ini kepada Allah, harus lebih dari hanya cinta natural. Misalnya Allah menyuruh kita untuk menginfakkan harta kita maka kita melakukannya, bukan untuk mengharap pahala melainkan mendambakan ridha-Nya. Cinta ini tumbuh bersamaan dengan kesadaran betapa banyaknya anugerah Allah yang telah kita terima. Apa pun yang kita lakukan tidak akan sebanding dengan apa yang kita peroleh.
Cinta ilahi lebih dalam lagi. Dengan cinta ini, orang bukan hanya mendahulukan kepentingan objek yang dicintai, tapi tidak lagi melihat dirinya sebagai sesuatu yang ia miliki. Semua dilihat sebagai milik Allah. Karenanya, tidak ada suatu aktivitas pun kecuali yang diinginkan Allah. Menurut Ibn 'Arabi, jenis cinta ketiga ini tidak bisa dibayangkan. Itulah cinta Nabi Muhammad saw. kepada Allah Swt. dan para kekasih-Nya.
Untuk memperoleh kekhusyukan, kita mesti mengembangkan kualitas hati yang penuh kerinduan kepada Allah. Sholat tidak lagi dipandang sebagai sebuah kewajiban, melainkan sarana penjumpaan dengan Allah. Sehingga, waktu shalat adalah saat-saat yang kita rindukan. Rasulullah bahkan menyebut sholat sebagai lahan nyawanya. Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda: “Cahaya mataku adalah sholat (Qurratu ‘aini al sholah)
Diantara ciri-ciri rindu adalah suka “menyendiri” dengan kekasih. Sekali-kali menyediakan waktu untuk berkhalwat-menjaga jarak dari anak dan istri, duduk bertafakur dan berdzikir kepada Allah. Waktu yang paling pas adalah di sepertiga malam terakhir. Maka itu sholat tahajud dianggap sebagai salah satu media yang paling efektif mengangkat manusia menuju Allah. Sebab saat itu dia sendirian (khalwat), hanya berduaan bersama Allah. Imam 'Ali k.w. bermunajat, “Ya Allah, di tengah malam ini, ketika semua orang mencari kekasihnya, ketika istri mencari suaminya, anak-anak bersama ibunya, aku bangun mencari kekasihku yang paling kasih, Engkau Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim.”
Kalau seseorang dapat mengembangkan kualitas hati demikian, ia akan meraih kedamaian. Dalam tasawuf di-kenal dengan uns, intimasi (keakraban). Dia akan merasa akrab dengan Allah. Dia akan merasa bahagia yang tak terkira ketika bersama Allah. Tidak hanya itu. Orang yang mencapai maqam ini, doanya dikabulkan oleh Allah. Bahkan dalam hadis qudsi, Allah menyatakan, “… bila ia melihat, Aku menjadi penglihatannya; bila ia mendengar, Aku menjadi pendengarannya; bila ia melangkah, Aku menjadi kakinya. Bila dia menghampiri-Ku sejengkal, Aku me-dekatinya sehasta; bila ia menuju Aku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”
Intinya, kualitas hati yang 'isyqi tidak hanya meng-antarkan kepada salat yang khusyuk, tetapi juga pada kehidupan yang damai dan merindukan perjumpaan dengan Allah Swt. Allah berfirman, “Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. Sungguh salat itu berat sekali kecuali bagi mereka yang khusyuk. Yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan berjumpa dengan Tuhan mereka dan kepada-Nya mereka kembali (Q.S. al-Baqarah [2]: 45).
Hati yang takut kepada Allah (qalb khawfi) mengejar keperkasaan dan keagungan Allah (Jalaliah). Sebagaimana cinta, takut juga ada tingkatannya. Pertama, takut yang paling rendah adalah takut kepada ancaman Allah, seperti pembantu takut pada ancaman tuannya. Dalam tingkat ini, salat dilakukan karena takut diazab Allah di alam kubur atau takut tidak memperoleh rezeki di dunia. Kalau kita beribadah karena takut akan ancaman siksa Allah, itu termasuk khauf yang positif. Mesinya kita mempunyai takut seperti itu, tetapi itu tingkatan takwa terendah.
Kedua, takut dalam pengertian hormat dan takzim terhadap orang yang kita agungkan. Misalnya takut kepada kedua orang tua. Kita takut bukan karena ancaman melainkan kita menghormati dan mentakzimkan mereka. Demikian juga takut kepada kepada Allah, setidaknya takut karena memang Allah Maha adil, Maha agung, dan sungguh jasanya tak terkira-kira. Itulah takutnya orang-orang saleh. Dalam sejarah diceritakan bahwa ketika Nabi mau salat, kadang-kadang tubuhnya bergetar, mukanya pucat pasi dan sebagainya. Bukan karena beliau takut diazab oleh Allah, tapi beliau memang melihat bahwa yang layak disembah demikian hanyalah Allah Swt.
Ketiga, takut dalam arti kesadaran penuh bahwa Allah adalah segala-galanya dalam dirinya. Oleh karena itu, ada sebuah doa yang sering dibaca oleh Nabi: Ya Allah perlakukanlah kami dengan rahmat-Mu, jangan perlakukan kami dengan keadilan-Mu. Makna doa ini sangat dalam. Kita memohon kepada Allah agar memperlakukan kita dengan rahmatNya, dengan anugerah-Nya, bukan keadilan Nya, sebab kalau Allah memperlakukan kita dengan adil , kita tidak akan bisa masuk surga. Bayangkan, bagaimana mungkin kita bisa menghitung secara adil limpahan rezeki dari Allah, sedangkan yang kita berikan sangatlah sedikit. Sejauh mana kita mensyukurinya? Apa yang kita berikan di jalan Allah sangat kecil dibandingkan dengan yang Allah berikan kepada kita. Karena itu, yang ditakuti oleh Nabi bukanlah ancaman Allah, melainkan keadilan-Nya.
Jadi, untuk memperoleh khusyuk, kembangkan kualitas hati yang khawfi, dengan menyadari sifat-sifat jalaliah Allah: Yang Maha Perkasa, Mahaadil, Mahabesar, Maha-agung, dan sebagainya.
Dalam tasawuf disebutkan: Sesungguhnya di dalam jamaliah Allah ada jalaliah’-Nya, dan di dalam jalaliah Allah ada jamaliah-Nya (inna ft kulli jalalin jamalun wa fi kulli jamalin jalalun). Artinya, di dalam sifat Mahaindah-Nya ada keperkasaan-Nya, dan di dalam sifat Mahaperkasa-Nya ada keindahan-Nya. Keduanya bukanlah sifat yang kontradiktif, tetapi saling melengkapi. Mana yang lebih dominan, tergantung kualitas hati. Rasulullah saw. memiliki qalb 'isyqi (hati yang rindu kepada Allah) dan qalb khawfi (hati yang takut kepada Allah) sekaligus. Kita juga mesti menyeimbangkan antara keduanya. Dengan demikian, kekhusyukan akan menjadi kenyataan.
Senin, 17 Agustus 2015
Kehidupan Alam Barzah, Setiap Hari Alam Barzah Rindu Orang Mati
Kisah tentang sifat kehidupan alam barzah, bermula ketika Rasulullah SAW berangkat ke Masjid. Beliau hendak melaksanakan Shalat berjamaah. Saat Beliau tiba di Masjid mendapati pemuda dan para sahabat sedang tertawa riuh rendah, hingga tertawa itu sambung menyambung. Menyaksikan hal itu, Baginda Rasulullah SAW bersabda; "Wahai sahabat sahabatku, seandainya engkau sempat mengingat mati, pastilah engkau tidak akan sempat tertawa tertawa seperti hari ini. Sepanjang hidupmu akan terkesan oleh proses mati itu (karena sangat memprihatinkan), setiap hari pekuburan menanti kedatangan orang orang yang akan dikuburkan - Aku merupakan semak semak atau debu yang angker, penuh dengan serangga (maksudnya, menunggu orang mati).
Saat, alam barzah melihat orang orang yang beriman meninggal dunia, maka alam barzah bergembira sambil mengucapkan; "Aku sampaikan selamat datang wahai orang mukmin, diantara manusia yang ada di bumi, hanya engkaulah manusia yang aku senangi. Bagus benar hatimu, sebab engkau dikuburkan di tempatku. Kini, lihatlah bagaimana aku (barzah) menghibur dan menyenangkan hatimu. Pada saat itu, liang kubur yang sempit itu melebarkan dirinya (barzah) seluas luasnya dengan pemandangan yang sangat indah untuk orang yang beriman tersebut. Salah satu pintu pintu surga terbuka dan membawa keharuman semerbak dan wewangian menerpa si mukmin yang bahagia.
Namun sebaliknya, jika yang mati orang orang yang tidak beriman. Maka barzah menjadi geram dan marah. Maka ia berkata; Wahai engkau, sungguh malang nasibmu, engkaulah manusia yang paling aku benci. Sekarang rasakanlah pembalasanku di kubur ini. Lantas, kubur yang sangat sempit itu makin menyempit dan menghimpit manusia yang tidak beriman tersebut. Seluruh tubuh dan tulang belulang si kafir saling berhimpitan, jerit dan tangis si kafir tak dihiraukan oleh kubur.. (naudzubillah min dzalik). Setelah itu, datanglah 70 ekor ular naga dan binatang berbisa menyiksa si kafir hingga hari kiamat.
Jika ular naga itu melepasakan racunnya ke bumi, maka tak selembar daunpun dari pohon dan rerumputan di bumi bisa hidup, saking dahsyatnya. Begitulah, orang orang yang tidak beriman menangis dam menjerit melolong-lolong mendapat siksa, akibat perbuatannya sewaktu di dunia.
Alam Barzah, Pintu Awal Alam Akhirat
Dalam sebuah Hadits, Rasulullah SAW bersabda;
"innal qabra awwalu manazilil aakhirati fain najaa minhu famaa ba'dahu aisara minhu wain lam yanzu minhu famaa ba'dahu asyhaddu minhu""Sesungguhnya alam kubur itu merupakan awal dari alam akhirat. Siapa yang selamat dalam tahab pertama itu, untuk selanjutnya akan lebih ringan. Namun, siapa yang tidak selamat, maka untuk tahab tahab selanjutnya akan lebih berat." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim).
Rasul SAW juga bersabda,"kubur itu bisa menjadi surga bagi orang yang baik amalnya, dan bisa jadi neraka bagi orang orang yang dzalim".
Abu Laits menasehati kita, "Barangsiapa yang yakin adanya mati, maka seharusnya bersiap-siap membawa bekal yang banyak, beramal shaleh di dalam kehidupan ini dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ayat Al Quran Tentang Kematian, Sebuah Renungan
Inilah beberapa ayat Al Quran tentang kematian, semoga dapat menjadi renungan bagi kita semua;
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari
kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari
neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.
Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan."
(QS. Ali 'Imran : 185) Kematian Sebuah Proses Alami
Setiap makhluk yang berjiwa (bernyawa) pasti dan haq mengalami kematian. Dan kematian itu, sangat ditakuti setiap manusia. Sebab, mereka belum pernah mengalami kematian. Kalau kita tengok kebelakang, sebenarnya manusia pernah mengalami kematian. Ya kematian (ketiadaan manusia) di muka bumi adalah juga sebuah kematian. Kenapa, karena kematian yang akan dihadapi setiap manusia adalah kematian (ketiadaan) manusia dari muka bumi dan akan mati (berpindah) ke dalam bumi. Setiap kita, pasti! secara lahir akan membayangkan tentang bagaimana tempat baru kita di dalam kubur; sebuah tempat yang hanya seluas dua meter atau bahkan bisa kurang dan lebih. Tanpa penerangan, tanpa teman, tanpa ranjang dan tanpa tanpa yang lain. Begitu pula, bayangan kita tentang kematian, ketika kita melihat gambaran dari media tv maupun internet tentang tengkorak dan tulang belulang manusia yang telah mati.
Jika kita mau merenung sejenak, pada hakikatnya kematian yang kita takut kan itu adalah sebuah proses alami dari hukum Allah (Sunnatullah). Bukankah, kehidupan ini? diciptakan berpasang-pasang; ada laki ada perempuan, ada siang ada malam, ada langit ada bumi, ada hidup ada mati. Bukankah sudah klop? Saling berpasangan. Saya teringat sebuah motto, disebuah buku yang dicetak oleh Pondok Pesantren Gontor Ponorogo, "Berani hidup, tak takut mati; Takut hidup mati saja", Tapi jangan dibalik "Takut mati, hidup saja".
Demikian, Ayat Al Quran Tentang Kematian, Sebuah Renungan. Semoga Bermanfaat.
Referensi Ayat: http: www.quran.com
Tasawuf, Pengertian Tasawuf dan Thoriqoh
Kita ketahui di masyarakat terdapat gerakan Tasawuf dan Thoriqoh, apa sebenarnya pengertian Tasawuf dan Thoriqoh dan apa pula tujuan daripada Thoriqoh dan Tasawuf.
Tasawuf
Tasawuf, kata Thasawuf dapat diambil dari dua arti kata, yaitu : dari kata shofwun-shofaaun-shofwatun diartikan "kejernihan, pilihan, yang terbaik. Shofaa-yashfuu-shofwan, artinya "jernih".
Dari kata Shofwaatun-shuufiyun-shuufun, artinya: pakaian dari wol, sufi pedagang wol."(Kamus Arab-Indonesia-Inggris. Abd. bin Nuh dan Osman Bakry, Mutiara Jakarta 1964, halam 159-162).
Setengah ahli bahasa dan riwayat pada akhir-akhir ini, ada yang berpendapat bahwa perkataan "shufi" itu bukanlah bahasa Arab, melainkan dari bahasa Yunani lama yang telah di-Arab-kan, berasal dari kata theosofie, artinya "Ilmu Ketuhanan", kemudian di-Arab-kan, kemudian diucapkan dengan lidah orang Arab sehingga berubah menjadi Tasawuf (Tasauf Modern-Hamka-1980 Jakarta, halaman 7).
Ada lagi setengah ahli yang mengambil dari nama kaum "shuffah", ialah segolongan sahabat-sahabat Nabi yang menyisihkan diri dari satu tempat terpencil di Masjid Nabi. Ada lagi yang mengambil makna dari kata "shufanah" ialah sebangsa kayu yang mersik tumbuh di padang pasar tanah Arab.
Thoriqoh
Perkataan Thoriqoh, sering ditulis Tarekat dan akhirnya menjadi bahasa Jawa Tirakat, berasal dari kata "thoriq"
(Arab) artinya "Jalan". Dalam sejarah ada seorang Panglima Perang
bernama Thariq bin Ziyad yang memimpin serangan ke Spanyol melalui selat
yang sampai sekarang bernama "Jibral Tar", ini adalah berasal dari
pengabdian nama Panglima itu.
Di dalam Al Qur'an, kita jumpai sebuah Surat bernama "Ath-Thoriq" (Surat 86). Dalam Al Qur'an dan Terjemahnya Proyek Departemen Agama. "Ath-Thaariq" diterjemahkan "yang datang pada malam hari" (ayat 1), dan dijelaskan pada ayat 3 "(yaitu) bintang yang cahayanya menembus".
Dapatlah diambil kesimpulan dari deretan ketiga ayat ini, bahwa di dalam cakrawala itu ada suatu bintang yang melancar dengan keras dan cepat, laksana mengetok pintu yang terkunci sehingga orang yang enak tidur jadi terbangun. Sifatnya ialah menembus. Yang ditembus adalah kegelapan malam". (halaman 100).
Kapan dan Siapa Yang Memulai Thoriqoh dan Tasawuf?
Siapa yang mula-mula mengambil inisiatif untuk mengadakan gerakan
Thoriqoh, masih perlu penelitian lebih lanjut. Tetapi kalau menurut Buya
Hamka dalam bukunya "Mengembalikan Tasawuf ke Pangkalnya" Tahun 1973
antara lain diterangkan : "Bahwa tumbuhnya gerakan tasawuf di Indonesia
bersamaan dengan masuknya Madzab (sekte-sekte dalam Islam). Tahun
berapa? Dalam sejarah Islam adanya madzab-madzab, dapat diteliti menurut
catatan berdirinya madzhab. Seperti Hanafi (699-767 M), Maliki (714-798
M), Syafi'i (767-854 M) dan Hambali (780-885 M).
Thoriqoh adalah bagian dari Tasawuf. Thoriqoh merupakan jalan atau cara untuk menuju pada kesucian atau keheningan hati dalam usaha makrifatullah (mengenal Allah)
Pertanyaannya, Apakah kalau orang tidak masuk Thoriqoh, ibadahnya dianggap belum sempurna?
Untuk menentukan suatu ibadah itu sempurna atau tidak, diterima atau tidak diterima oleh Allah SWT, itu sepenuhnya menjadi wewenang Allah SWT sendiri. Berdasarkan Al Qur'an dan As Sunnah, dapat disimpulkan bahwa setidaknya ada dua syarat yang harus terpenuhi bagi ibadah yang diterima oleh Allah, dua syarat tersebut yaitu :
Pertama, Ikhlas. Maksudnya bahwa ibadah itu harus dilakukan
dengan penuh ketulusan, semata-mata mengharap dan mendambakan keridhaan
Allah saja. Tidak boleh dicampuri dengan noda syirik sedikitpun. Sebagai
dasar antara lain firman Allah :
"Dan tidaklah mereka diperintah melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dengan mengamalkan agama yang lurus". (QS. 98:5)
"Maka barangsiapa yakin akan perjumpaan (dengan) Tuhan-nya, hendaklah ia kerjakan amal shaleh dan janganlah ia menyekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhan-nya". (QS. 18:110).
Kedua, sesuai dengan syariat. Maksudnya dalam mengamalkan ibadah
harus sesuai dengan tuntunan dan aturan syariat, tidak boleh menyebal
dari padanya. Sebagai landasan atau dalil antara lain firman Allah :
"Dan barangsiapa menghendaki selain Islam sebagai agama (aturan), maka tidak akan diterima (amal ibadah) dari padanya, dan di akhirat (kelak) termasuk orang-orang yang merugi".(QS, 3:85)
Nabi SAW sendiri bersabda :
"Barangsiapa mengamalkan suatu amalan (ibadah) yang tidak didasarkan atas perintah Kami, maka amalan itu akan tertolak". (HR. Muslim)
Kesimpulan
Dalam situasi makin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, memang tidak
dapat dihindari percampuran pengertian dari suatu istilah, dengan
pengertian atau paham lain, karena dunia ilmu pengetahuan makin terbuka,
juga tidak terkecuali dalam tasawuf atau thoriqoh.
Oleh karena itu, supaya tidak kehilangan tongkat, sebaiknya kita kembali berpangkal pada sumber aslinya, bahwa seluruh ibadah dalam Islam dasarnya bersumber dari Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW, bisa saja kita mempelajari dari ajaran-ajaran lain sebagai perbandingan untuk memperluas wawasan dan pandangan hidup kita.
Demikian, Tasawuf, Pengertian Tasawuf dan Thoriqoh. Baca juga "Pengertian Tasawuf, Oleh Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj ". Semoga Bermanfaat
Sabtu, 15 Agustus 2015
Bai’at
Abu
Bakar menjadi khalifah yang pertama melalui pemilihan dalam satu
pertemuan yang berlangsung pada hari kedua setelah Nabi Wafat dan
sebelum jenazah beliau di makamkan. Itulah antara lain yang menyebabkan
kemarahan keluarga Nabi, khususnya Fatimah, putri tunggal beliau.
Pada
hari itu Umar Bin Khattab mendengar berita bahwa kelompok ansar
mendengar berita sedang melangsungkan pertemuan di Saqifah atau Balai
pertemuan Bani Saidah, Madinah, Untuk mengangkat Saad Bin Ubadah,
seorang tokoh ansar dari suku khazraj, sebagai khalifah. Dalam keadaan
gusar umat cepat cepat pergi kerumah kediaman Nabi dan menyuruh
seseorang untuk menghubungi Abu Bakar, yang berada dalam rumah, dan
memintanya supaya keluar. Semula Abu Bakar menolak denagan alsan sedang
sibuk. Tetapi akhirnya dia keluar setelah di beritahu telah terjadi
peristiwa penting yang mengharuskan kehadiran Abu Bakar.
Sampai
di balai pertemuan ternyata sudah datang pula sejumlah orang Muhajirin,
dan bahkan telah terjadi perdebatan sengit antara kelompok Ansar dan
kelompok Muhajirin. Lalu Abu Bakar dengan nada tenang mulai berbicara.
Kepada kelopok Ansar beliau mengingatkan bukan kah Nabi pernah bersabda
bahwa kepemimpinan umat islam itu seyogianya berada pada tengah suku
Quraisy, dan bahwa hanya pada di bawah pimpinan itulah akan terjamin
keutuhan, keselamatan dan kesejahteraan bangsa Arab. Kemudian Abu Bakar
menawarkan dua tokoh Quraisy untuk dipilih sebagai khalifah, Umar Bin
Khattab atau Abu Ubaidah bin Jarah. Orang orang ansar tampaknya sangat
terkesan oleh ucapan Abu Bakar itu, dan Umar tidak menyia nyiakan
momentum yang sangat baik itu. Dia bangun dari tempat duduknya dan
menuju ke tempat Abu Bakar untuk ber baiat dan menyatakan kesetiaannya
kepada Abu Bakar sebagai Khalifah, seraya menyatakan bahwa bukanlah Abu
Bakar yang selalu di minta oleh Nabi untuk menggantikan beliau sebagai
imam shalat bilamana Nabi sakit, dan bahwa Abu Bakar adalah sahabat yang
paling di sayangi oleh Nabi. Gerakan Umar itu diikuti oleh Abu Ubaidah
bin Jarah. Tetapi sebelum kedua tokoh Quraisy itu tiba di depan Abu
Bakar dan mengucapkan baiat, Basyir bin Saad, seorang tokoh Ansar dari
suku Khazraj, mendahului mengucapkan baiatnya kepada Abu Bakar. Barulah
kemudian Umar dan Abu Ubaidah serta para hadirin, baik dari kelompok
Muhajirin maupun kelompok Ansar dari Aus. Baiat terbats ini kemudian
terkenal dala sejarah Islam dengan nama Bai’at Saqifah atau baiat di
balai pertemuan. Para sahabat senior tersebut kemudian seorang demi
seorang, kecuali Zubair, dengan sukarela berbaiat kepada Abu Bakar.
Zubair memerlukan tekanan dari Umar agar bersedia berbaiat. Adapun Ali
bin Abu Thalib, menurut banyak ahli sejarah baru berbaiat kepada Abu
Bakar setelah Fatimah, istri Ali, dan putri tunggal Nabi wafat 6 bulan
kemudian. (Helmi Dakwah)
Abu
Bakar di pilih oleh sahabat dan ummat zaman tersebut sebagai pemimpin
berdasarkan petunjuk dari Nabi baik berupa ucapan maupun kepercayaan
yang diberikan Nabi kepada Abu Bakar sehingga menjadikan beliau sebagai
sahabat yang paling utama. Setelah Abu Bakar wafat, para sahabat
berbai’at kepada Umar bin Khattab, kemudian Usman bin Affan dan kemudian
Ali bin Abi Thalib, mareka 4 orang dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin.
Secara sederhana, arti bai’at itu adalah janji atau sumpah setia.
Ibnu Khaldun di dalam kitabnya, Al Muqadimah, mengatakan, bahwa “Bai’at
ialah janji untuk taat. Seakan-akan orang yang berbai’at itu berjanji
kepada pemimpinnya untuk menyerahkan kepadanya segala kebijaksanaan
tentang urusan dirinya dan urusan kaum muslimin, sedikitpun tanpa
menentangnya; serta taat kepada perintah pimpinan yang dibebankan
kepadanya, suka maupun tidak.”
Sebagaimana
pula tercatat dalam sejarah Islam, adanya bai’at Aqabah pertama, dimana
terjadi bai’at antara Nabi Muhammad dengan 12 orang dari Yatsrib yang
kemudian mereka memeluk Islam. Bai’at ‘Aqabah ini terjadi pada tahun
kedua belas kenabiannya. Kemudian mereka berbaiat (bersumpah setia)
kepada Muhammad. Isi baiat itu ada tiga perkara, yaitu: Tidak
menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, Melaksanakan apa yang Allah
perintahkan, Meninggalkan apa yang Allah larang.
Jadi Bai’at atau sumpah setia itu merupakan tradisi yang sudah ada sejak zaman Nabi, sebagaimana hadist ini :
Dari
‘Abdullah bin ‘Umar r.a, ia berkata, “Dahulu kami berbai’at pada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendengar (menerima
perintah) dan taat pada pemimpin kaum muslimin. Beliau bersabda pada
kami, “Hendaklah engkau taat semampu engkau.” (HR. Bukhari)
Secara khusus dalam ilmu tarekat, Bai’at bisa bermakna pelantikan, peresmian, penobatan (tahbis)
seorang yang memiliki keseriusan dalam menempuh jalan pengetahuan
(makrifat) Allah melalui seorang Mursyid yang diyakini memiliki hubungan
khusus secara jasmani dan ruhani kepada Rasulullah Saw. Bai’at, talqin, pemberian ijazah atau inisiasi spiritual dikaitkan dengan peristiwa Bai’atur Ridwan
yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat. Ketika itu
para sahabat menyatakan janji setia dalam kondisi apapun untuk mengabdi
kepada Allah dan Rasul-Nya.
Sesungguhnya
Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji
setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam
hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan
kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya) (Q.S Al-Fath, 18)
Bai’at
atau sumpah setia dari murid kepada Guru Mursyid bermakna bahwa dia
akan melaksanakan apa yang diperintahkan Gurunya dan meninggalkan apa
yang diarang oleh Gurunya dengan ikhlas hati. Ini memerlukan proses yang
panjang, bukan serta merta. Tidak mungkin sumpah setia berlaku pada
level “murid-murid-an”, pada level coba-coba, juga tidak berlaku pada
murid yang tidak mengerjakan hal paling sederhana seperti ibadah wajib
dan sunnat, termasuk zikir yang diamanahkan Guru kepadanya. Sumpah Setia
merupakan kepasrahan dan keikhlasan, bukan keterpaksaan.
Guru
saya pernah berkata bahwa bai’at itu hanya berlaku untuk murid yang
sudah “jadi”, murid yang telah mengetahui hakikat dari Guru Mursyid,
sebelum sampai kesana tidak ada janji apa-apa. Dari sekian banyak murid,
hanya sedikit yang bisa memahami hakikat Guru dan dari sedikit itu pula
yang dengan ikhlas menyatakan kesetiaan kepada Guru secara zahir dan
bathin.
sMoga kita semua menjadi murid yang taat kepada Guru, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, amin ya Rabbal ‘Alamin.
Guru mu MENGETAHUI……
Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha melawan ego yang sepertinya sia-sia…
Guru mu mengetahui betapa keras engkau sudah berusaha.
Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih…
Guru mu sudah menghitung airmatamu.
Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berlalu begitu saja…
Guru mu sedang menunggu bersama denganmu.
Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelepon.
Guru mu selalu berada disampingmu.
Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi…
Guru mu punya jawabannya.
Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan…
Guru mu dapat menenangkanmu.
Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan…
Guru mu sedang berbisik kepadamu.
Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur…
Guru mu telah mendoakanmu .
Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban…
Guru mu telah tersenyum padamu.
Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk diwujudkan…
Guru mu sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.
Ingat bahwa dimanapun kau atau kemanapun kau menghadap…
Guru mu MENGETAHUI ………
TUHANKU TUHANMU TUHAN KITA
Kenapa
kita berdoa selalu menengadahkan tangan dan memandang ke atas? Karena
kita meyakini Tuhan berada di atas sana, berada di langit yang tinggi
dan sulit di jangkau oleh makhluknya. Seluruh agama mempunyai ajaran
seperti itu dan hampir semua kita mempunyai persepsi yang sama tentang
Tuhan yaitu: Tinggi, Agung, Mulia dan tak terjangkau. Islam
menggambarkan sifat-sifat Tuhan dalam 20 sifatnya, Wujud, Qadim dan
seterusnya juga menggambarkan nama-Nya lewat Nama-Nama Tuhan yang baik
yang kita sebut dengan Asma Al Husna yang berjumlah 99 Nama. Setelah
kita menghapal nama-nama-Nya, mengetahui sifat-sifat-Nya, sudahkah kita
benar-benar mengenal-Nya? Bisahkah kita mengenal sesuatu tanpa melihat?
Mungkinkah Tuhan yang Maha Tinggi itu tidak bisa dilihat? Lalu untuk apa
Dia menciptakan kita kalau memang Dia selalu berada pada posisi untouchable?
Pertanyaan-pertanyaan
di atas tidak mungkin bisa di jawab lewat akal dan kita tidak bisa
menemukan jawaban dengan sendirinya. Agama (dalam tataran syariat)
mengajarkan kita tentang Tuhan tapi tidak secara langsung memberikan
kita tuntunan kepada-Nya. Akal akan menemukan kebuntuan bila berhadapan
dengan yang namanya Tuhan karena akal memiliki keterbatasan. Akal hanya
bisa mengolah informasi yang diterima dari Panca Indera, padahal Tuhan
adalah diluar jangkauan panca indera.
Kita
sering kali melupakan pertanyaan “Bagaimana cara kita berjumpa dengan
Tuhan?” karena kita lebih tertarik memperdebatkan “Apakah Tuhan bisa
dilihat?” atau tentang “Bisakah Tuhan dilihat di dunia ini?. Kedua
pertanyaan terakhir memberikan gambaran kepada kita tentang seseorang
yang bingung dan putus atas belum bisa keluar dari keterbatasannya.
Orang yang mempertanyakan tentang kemungkinan melihat Tuhan tidak akan
menemukan jawaban apa-apa selain bertambah nafsunya dalam menemukan
dalil-dalil yang mengingkari bahwa Tuhan bisa dilihat. Saya pernah
mengalami hal serupa, dimana pertanyaan saya sebenarnya bukan untuk
menemukan jawaban akan tetapi justru untuk mendukung argumen saya bahwa
Tuhan memang tidak bisa dilihat sama sekali.
Hampir
sebagian besar penganut agama di dunia ini bisa dengan mudah menemukan
Tuhan mereka, Yesus Kristus, Sidharta Gautama, Krisna atau Dalai Lama
adalah orang-orang yang di posisikan sebagai Tuhan atau manifestasi
Tuhan atau inkarnasi dari Tuhan. Lalu bagaimana dengan Islam?
Islam hanya mengenal Tuhan yang bernama Allah, yang tidak pernah bisa dilihat dan tidak pernah bisa dijangkau. Al Islamamu ya’lu walaa yu’la ‘alayhi,
Islam adalah agama tertinggi dan penutup semua agama, begitulah Nabi
bersabda dan demikian juga kita semua meyakininya. Lalu apakah makna
ketinggian itu berarti Islam juag mempunyai Tuhan yang sangat tinggi
sehingga tidak pernah terjangkau dan tersentuh oleh hamba-Nya? Apakah
memang pemahaman Tuhan seperti ini yang di inginkan Tuhan atau yang
diajarkan Nabi Muhammad kepada ummatnya? Atau ajaran sebenarnya dari
Rasulullah tentang Tuhan sangat rahasia sehingga tidak semua orang Islam
mengetahuinya. Ajaran Islam tentang Tuhan yang sangat rahasia ini
akhirnya tergeser oleh pemahaman syariat semata sebagai arus besar dan
kenderaan politik dinasti-dinasti Islam tempo dulu.
Saya
lebih cenderung dengan pendapat bahwa Rasul mengajarkan kepada para
sahabat-Nya untuk berjumpa dengan Allah bukan hanya menyebut nama dan
menghapal sifatnya saja. Ketika bilal diletakkan batu di atas perutnya
dan ditanya siapa Tuhannya, dengan penuh percaya diri dia menyebut
“Ahad” seakan-akan dia melihat sang Ahad. Saat peristiwa itu terjadi,
sayangnya kita tidak berada disana, kita hanya membaca riwayat yang di
tulis kemudian, apakah Bilal benar-benar mengucapkan kata “Ahad” atau
“Ahmad”? Kalau Bilal mengucapkan nama Ahmad yang tidak lain sama dengan
Muhammad berarti Bilal telah mengucapkan nama Tuhan lewat nama
kekasih-Nya.
Al
Qur’an menceritakan kepada kita ketika tukang sihir Fir’aun berhasil
dikalahkan oleh Musa, kemudian mereka sujud kepada Musa dan Harun sambil
berkata, “Kami beriman kepada Tuhan Musa dan Tuhan Harun”. Apakah
mereka beriman kepada Tuhannya Nabi Musa dan Tuhannya Nabi Harun atau
mereka mengakui Musa dan Harun sebagai perwujudan Tuhan sebagaimana juga
Fir’aun. Sebutan Tuhan Musa bisa jadi sama dengan sebutan Tuhan Allah
atau Tuhan Yesus seperti yang diyakini oleh ummat Kristiani.
Seluruh
Agama mempunyai Tuhan yang amat nyata untuk disembah, hanya Islam yang
tidak pernah nyata Tuhannya, siapa yang benar dan siapa yang salah?
Kita
tidak akan menemukan jawabannya dalam syariat, karena kalau kita
memandangnya dari kacamata syariat maka langsung timbul selera kita
untuk berdebat menyalahkan tuhan-tuhan agama lain dan menganggap Tuhan
kita yang gaib itu yang paling benar. Sebenarnya kalau kita dengan
teliti mempelajari agama, Tuhan dengan sangat jelas memberikan kepada
kita penjelasan bahwa Tuhan itu amat nyata namun kita belum bisa dengan
benar menangkap pelajaran itu.
Kalau
anda mempelajari Tasawuf dengan cara ber guru kepada seorang Mursyid
dan terus menerus berzikir sampai Tuhan berkenan memperkenalkan
diri-Nya, maka anda akan merasakan betapa Maha Benar Allah dengan segala
Firman-Nya, betapa agung dan hebatnya Islam dan betapa Mulia dan luar
biasanya para Ulama pewaris Nabi yang mampu menyimpan rahasia terbesar
dari Agama dan kemudian mampu menyalurkan kepada ummat Islam agar
terbebas dari kegelapan.
Tapi
sayang seribu kali sayang, tidak semua ummat Islam tertarik dengan
Tasawuf bahkan ada sebagian kelompok dengan bangga mencaci maki pengamal
Tasawuf/Tarekat dan menganggap sebagai aliran sempalan. Kemudian mereka
dengan bangga menyembah Tuhan menurut pikiran mereka. Tidak pernah
sedikitpun terpikir dalam hati apakah caranya menyembah Tuhan ini sudah
benar. Memang tidak semua pengamal Tasawuf sampai kepada Makrifatullah,
berjumpa dengan Allah, paling tidak jalan yang ditempuhnya sudah benar
dan minimal dia bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam hatinya.
Kalau
kita belum sepenuhnya mengenal Tuhan dan dengan nyata melihat-Nya, maka
Shalat tidak ubahnya seperti senam ala Arab, bertawaf keliling Kabah
hanya meneruskan tradisi zaman zahiliyah semata. Seluruh ibadah kita
tanpa sadar semuanya menyekutukan Tuhan. Tidak ada dosa yang paling
besar yang tidak terampuni selain dari Syirik (menyekutukan Tuhan).
Maksud hati menuduh pengamal Tasawuf berbuat syirik tanpa sadar kita
sendiri penuh dengan kemusyrikan.
Saya
masih ingat pertanyaan kedua yang ditanyakan ketika ingin menekuni
Tarekat adalah, “Apakah anda pernah menuntut ilmu kiri (perdukunan),
pernah ke dukun, mengambil jimat-jimat dari dukun?”. Kalau pada saat itu
masih ada jimat di badan langsung di suruh lepaskan dan dijelaskan juga
bahwa yang Haq dengan yang Bathil tidak akan pernah bertemu. Satu kali
kita mendatangi dukun/paranormal maka 40 hari ibadah tidak diterima
Tuhan. Itulah dasar Tauhid dalam Tasawuf yang saya pelajari. Kemudian
banyak sekarang praktek perdukunan dicampur adukkan dengan ajaran Agama
termasuk dengan ilmu Tasawuf agar bisa diterima masyarakat inilah yang
merusak ilmu Tasawuf sehingga masyarakat menganggap Tasawuf identik
dengan kesaktian dan gaib semata. Jika anda ingin menekuni sebuah
Tarekat selidiki terlebih dahulu nama Tarekatnya apakah termasuk kedalam
salah satu Tarekat muktabarah dan apakah Mursyidnya mempunyai silsilah
(tali keguruan) yang bersambung sampai ke Rasulullah SAW. Dua hal ini
sangat penting sekali agar kita tidak terjebak ke jalan yang keliru.
Lalu bagaimana dengan kami yang belum mengenal Allah?
Teruskanlah
ibadah, karena sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun dan tidak ada
satupun diantara kita yang berhak mengklaim tentang kebenaran. Seringlah
bershalat Tahajud bermohon kepada-Nya agar dipertemukan dengan orang
yang bisa mengantarkan kepada-Nya. Orang yang belum bertemu dengan Wali
Mursyid adalah orang disesatkan Tuhan (maka segeralah menjadi orang yang
diberi petunjuk agar rahmat dan karunia-Nya senantiasa mengalir selebat
hujan dari langit). Carilah metode yang bisa mengantarkan langsung
kepada-Nya, bersungguh-sungguh dijalan itu. Pastilah mendapat kemenangan
dunia dan akhirat!
Tulisan
ini semoga dapat menjadi obat dan membangunkan kita dari ketidaksadaran
untuk segera dengan sungguh-sungguh mencari dan keluar dari
keterbatasan.
Semoga Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim membukakan hijab siapapun yang membaca tulisan ini.
Amin Ya Rabbal Alamin…
Langganan:
Postingan (Atom)









