M. RAHIM BAWA MUHAIYADDEEN
SALAM
sayangku padamu, cucu-cucuku, putra-putriku, saudara-saudaraku. Dapatkah
kita pergi keluar sejenak? Datanglah, mari kita naik mobil ke taman
safari di mana kita dapat menjumpai binatang-binatang hidup di
lingkungan alaminya. Singa, harimau, macan tutul, dan binatang lain
pemakan daging mengembara bebas, tapi mereka terpisah dari sekawanan
rusa, gajah, dan binatang lain pemakan tumbuh-tumbuhan. Penjaga
membangun pagar untuk memisahkan dua kelompok ini.
Marilah kita
pergi mendekat. Inilah tempat di mana rusa dan kambing hidup. Jangan
khawatir, mereka tidak berbahaya. Mereka tidak akan membahayakan atau
membunuh kita. Tapi kita harus tetap berhati-hati dan menjaga jarak
dengan mereka, sebab gajah juga masuk ke wilayah ini. Akan lebih aman
jika kita berdiri di luar pagar dan melihat.
Apakah engkau
melihat anak gajah? Bagaimana cantiknya ia. Rusa dan anak rusa cantik
juga, bukankah begitu? Anak-anak kuda, keledai, dan kambing juga cantik.
Apakah engkau memperhatikan bagaimana bulu-bulu mereka berubah warna
ketika mereka menjadi besar? Lihatlah ibunya! Mereka tidak lagi memiliki
kecantikan masa muda itu. Anak-anak berlari dan berlompatan serta
bermain dengan bahagianya semasa muda, tapi ibunya tidak bahagia lagi.
Mereka telah berubah. Mereka hanya menggelengkan kepala dan makan
rumput.
Oh lihatlah, kambing muda itu jatuh ke dalam kubangan!
Anak-anak kambing lainnya mampu melompati kubangan itu, tapi yang satu
itu jatuh. “Mbek! Mbek!” ia menangis, dan ibunya datang berlari untuk
menolong anaknya. Awalnya ia mencoba menarik keluar dengan mulutnya,
tapi tidak berhasil. Berikutnya ia meletakkan dua kakinya di dalam
kubangan dan mencoba mendorongnya keluar dengan kepalanya. Nah, tuntas
sudah, dan anak kambing itu pun terus berlari bermain. Ibunya selalu
sibuk dengan pekerjaannya. Mereka tidak bebas untuk bermain seperti
anak-anak kambing itu.
Apakah engkau melihat anak rusa di sana?
Lihatlah, mereka meletakkan hidung mereka pada pagar. Mari kita mencoba
bicara dengan mereka. Mereka tidak takut kepada orang sekarang, tapi
ketika mereka tumbuh dewasa, mereka akan lari dari kita.
Sekarang
mari kita berjalan berkeliling ke sisi yang lain, di wilayah berpagar
di mana macan tutul dan singa berada. Anak-anak mereka juga sangat
bahagia. Lihatlah bagaimana mereka berlari dan berlompatan serta
berkejaran dan menggigit satu dengan yang lainnya! Mereka
berguling-guling bersama di atas tanah seperti kancil dan anak anjing!
Mereka hanya bermain, tanpa saling melukai satu sama lain atau melukai
makhluk-makhluk lain mana pun. Anak-anak yang masih muda begitu
menyenangkan, tapi lihatlah ibunya. Sifat-sifatnya sungguh berbeda;
mereka meraung dan mengancam akan membunuh yang lainnya. Anak-anak singa
menjadi kejam seperti ibunya ketika sudah tumbuh dewasa. Mereka akan
menjadi kejam seperti ibunya. Hari ini mereka bahagia, tapi nantinya
setelah dewasa akan mengajari anak-anak mereka dengan sifat-sifat dan
perilaku-perilaku mereka sendiri. Mereka akan menunjukkan pada anak
singa bagaimana menangkap dan membunuh hewan lainnya serta menghisap
darah mereka untuk menghilangkan rasa haus dan lapar.
Tapi untuk
sekarang semua anak bermain bersama dengan senang. Anak-anak singa,
harimau, dan macan tutul mendatangi kita, membuat suara yang lembut, dan
mengendus kita. Apakah engkau melihat bagaimana ibu mereka mengawasi
untuk meyakinkan bahwa kita tidak menyakiti mereka? Ibunya mempunyai
kekuatan yang dapat menghancurkan kita, tapi engkau tidak perlu merasa
takut. Sepanjang kita berada di luar penghalang ini, kita akan baik-baik
saja.
Cucu-cucuku, apakah engkau memahami apa yang telah kita
lihat? Pikirkanlah tentang hal ini! Ini adalah taman safari, tempat di
mana engkau akan menemukan binatang-binatang yang damai dan berbahaya.
Dunia juga sama seperti tempat ini. Di sana engkau akan menemukan
kehidupan manusia dan kehidupan binatang. Dapatkah engkau mengatakan
perbedaan antara keduanya setelah melihat mereka? Tidak. Sungguh mudah
untuk melihat perbedaan antara harimau dengan rusa, tetapi engkau tidak
dapat melihat perbedaan antara manusia-binatang dan manusia sejati.
Mereka semua tampaknya serupa.
Kita tahu bahwa ketakutan akan menghinggapi kita ketika melihat singa dewasa, karena kita tahu bahwa singa itu berbahaya.
Tapi ketika kita melihat manusia, kita tidak bisa mengatakan apakah
mereka baik atau jahat, apakah mereka akan menyakiti atau tidak. Mereka
semua kelihatan seperti manusia, tapi ketika sifat jahat dan tindakan
merasuki mereka, mereka berubah menjadi binatang-binatang yang
berbahaya. Ini sangat penting untuk kita pelajari dan mengetahui
perbedaannya. Kita harus mengetahui itu untuk menyelamatkan diri.
Bagaimana engkau mengatakan apakah seseorang itu adalah manusia atau
binatang? Manusia-binatang akan mempunyai banyak hubungan dengan dunia.
Mereka akan mempunyai sifat egois, amarah, iri, dan cemburu. Manusia
semacam itu tidak mempunyai kedamaian dalam hidupnya. Mereka hanya akan
mempunyai keraguan dan kecurigaan, ketergesa-gesaan dan ketidaksabaran,
kebencian, dan kesombongan. Mereka akan mencari pujian, gelar, dan
penghargaan serta selalu berkata, “Aku, Aku, Aku!” Mereka selalu
berprasangka terhadap kepercayaan, ras dan warna [kulit], dan bahkan
menentang setiap jenis doa. Mereka akan mempunyai empat ratus triliun
plus sepuluh ribu perbedaan spiritual dan dipenuhi dengan kesombongan,
karma, ilusi, nafsu, dan sikap egois.
Segala sesuatu yang
dilakukan manusia-binatang didorong oleh keakuan, kebanggaan, dan
kesombongan. Mereka membahayakan makhluk lain, mereka menciptakan
masalah dan menyebabkan perselisihan, mereka menyiksa, menyakiti, dan
membunuh yang lain. Mereka membuat perbedaanperbedaan politis yang
mengarah pada peperangan. Mereka berperang melawan ras, perang agama,
perang wilayah, dan perang untuk kebebasan. Mereka perang antara aku dan
dirimu.
Mereka menghancurkan satu sama lain, dan menghancurkan
kesatuan dan cinta. Mereka menghancurkan kedamaian dan menentang kasih
sayang sepanjang waktu. Kesabaran nurani, kepuasan diri, kepasrahan, dan
memberikan semua tanggung jawab serta pujian kepada Tuhan tidak ada
dalam kehidupan binatang-binatang manusia ini.
Buah hatiku,
anak-anakku. Bukankah engkau melihat orang seperti ini? Orang seperti
itu menghancurkan orang lain sama seperti singa dewasa menelan
mangsanya. Mereka mencoba menghancurkan segalanya. Lihatlah bagaimana
mereka menghancurkan kesatuanmu, kedamaian, dan kebahagiaan. Prasangka
mereka membuatmu bersedih. Dalam waktu singkat, mereka dapat membuatmu
sangat tertekan. Mereka berkata, “Aku berbeda dengan dirimu. Engkau
mempunyai Tuhan dan aku mempunyai Tuhan yang lain. Aku menyembah Tuhanku
dan engkau menyembah Tuhanmu.” Mereka tidak akan membiarkanmu
mendapatkan kedamaian, meskipun hanya untuk sedetik saja.
Kasihku, anak-anakku, cahaya mataku yang berkilauan. Inilah jalan hidup manusia. Hanya orang tertentu mendapatkan kedamaian.
Kebanyakan manusia adalah binatang. Penyakit karma yang buruk ini, penyakit kesombongan dan khayalan, telah membelenggunya.
Cucu-cucuku, sebagai anak kecil, engkau sekarang menjalin hubungan dengan Tuhan, dan engkau akan mempunyai kedamaian.
Tuhan bermain denganmu dan engkau bermain dengan-Nya. Engkau bermain dengan benar, dan merasa tenang.
Hatimu begitu bersih, tubuhmu bersih, cintamu suci, dan kedamaianmu
bersih. Begitulah anak-anak sekarang adanya. Apakah mereka putih, hitam,
coklat, merah, atau kuning. Semua anak muda menggunakan satu bahasa dan
dapat berkomunikasi dengan yang lainnya secara sempurna. Sebagian dari
kalian masih begitu muda untuk mengerti satu bahasa itu, dan ketika
engkau bicara, Tuhan mengerti. Engkau bahagia dan tenang dan memeluk
setiap orang tanpa melihat warna mereka atau perbedaan yang lainnya.
Tapi orang-orang yang mempunyai banyak penyakit tidak akan mengerti
bahasamu. Orangtua tidak akan mengerti jenis komunikasi itu. Mereka
tidak akan mengerti jenis kebahagiaan, ketenangan, ketenteraman, dan
kedamaian itu.
Cucu-cucu kecilku, tetaplah untuk menjaga
keelokan yang engkau miliki sejak engkau dilahirkan. Hargailah kesatuan
dan sifat-sifat baik dan jagalah mereka sampai segalanya berakhir!
Jika engkau menjaga sifat-sifat ini, dirimu akan selalu ada dalam lindungan Tuhan. Engkau harus menetapkan ini dalam hidupmu!
Anak-anakku, saudara-saudaraku, barangsiapa yang lebih tua harus
menganalisa keadaan kita dan berubah kembali menjadi manusia yang
sesungguhnya. Kita harus menemukan kedamaian melalui sifat-sifat dan
tindakan-tindakan Tuhan. Kita harus menghindari musuh-musuh hewaniah
dalam diri kita agar menjadi manusia sejati. Sepanjang sifat binatang
ada dalam diri kita, maka kita tidak akan pernah menemukan ketenangan.
Kita tidak akan pernah tahu kecantikan dan ketenangan Tuhan. Kita tidak
akan mempunyai cahaya dan kecantikan serta kedamaian jiwa. Kita
kehilangan semuanya itu ketika penyakit sombong, karma, dan ilusi
menghinggapi kita.
Engkau dan aku harus berpikir tentang hal ini
dan berusaha untuk mengusir hal-hal tersebut. Maka Tuhan kita Yang
menciptakan kita dapat hidup damai bersama kita, dan kita dapat hidup
damai bersama-Nya. Kita dapat memelihara kecantikan kita, cahaya,
kesucian, dan kesempurnaan kita. Dan kita dapat berbagi kedamaian dalam
hati dan hidup dengan orang lain. Orang yang melakukan ini adalah
manusia sejati.
Buah hatiku, cucu-cucuku. Marilah kita renungkan
tentang hal ini. Semoga Tuhan melindungi kita. Dia akan memberi kita
kesatuan dan kebajikan. Dia akan memberi kita jalan untuk mendapatkan
kedamaian dengan keagungan-Nya. Amin.
Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Senin, 22 Februari 2016
Dialog Antara Akal Nafsu Dengan Tuhan
Dalam dialog ini sangat besar manfaat nya jika kita menyimak dan mengambil
kesimpulan dari Dialog Antara Akal Nafsu Dengan Tuhan ini, jika kita bisa menempatkan Antara Akal Dan Nafsu Tersebut, maka yang jadi kendali dalam diri kita bukan nafsu lagi.
Allah menciptakan akal dan nafsu dalam diri manusia, Nafsu dan akal mengaku bahwa mereka hanyalah sebuah makhluk yang tidak berdaya.
AKAL
Allah SWT berfirman,"Wahai akal, menghadaplah engkau."
Maka akal pun menghadap Allah SWT, kemudian Allah SWT berfirman,
"Wahai akal, berbaliklah engkau."Lalu akal pun berbalik.
PENGAKUAN AKAL.
Kemudian Allah SWT berfirman,"Wahai akal, siapakah aku?".
Lalu akal pun menjawab,
"Engkau adalah Tuhan yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu yang dhaif dan lemah."
Lalu Allah SWT berfirman,
"Wahai akal, tidak Aku ciptakan makhluk yang lebih mulia daripada engkau.
PENGAKUAN NAFSU.
Setelah itu Allah SWT menciptakan nafsu.
Allah SWT berfirman,
"Wahai nafsu, menghadaplah kamu.".
Nafsu tidak menjawab sepatah kata pun, malah sebaliknya, mendiamkan diri.
Kemudian Allah SWT berfirman lagi,
"Siapakah engkau dan siapakah aku?" Lalu nafsu berkata,
"Aku adalah aku, dan Engkau adalah Engkau."Setelah itu Allah SWT menyiksanya di neraka Jahannam selama 100 tahun, dan kemudian mengeluarkannya.
Allah SWT berfirman lagi, "Siapakah engkau dan siapakah aku?".
Lalu nafsu berkata, "Aku adalah aku dan Engkau adalah Engkau."
Lalu Allah SWT menyiksa nafsu itu dalam neraka lagi selama 100 tahun.
Setelah itu nafsu dikeluarkan dan Allah SWT berfirman lagi,
"Siapakah engkau dan siapakah Aku?" Akhirnya nafsu mengakui dengan berkata,
"Aku adalah hamba-Mu dan Engkau adalah Tuhanku."
PUASA BISA MELAWAN NAFSU.
Untuk itulah Allah SWT mewajibkan kita berpuasa, karena nafsu itu sangat jahat.
Hendaknya kitalah yang mengawal nafsu itu dan jangan biarkan nafsu yang mengawal kita, karena kalau dia yang mengawal, maka kita akan menjadi musnah.Setelah itu Allah SWT memasukkan akal dan nafsu ke dalam diri Adam a.s.
Pada saat Nabi Adam a.s datang ke bumi, keturunan manusia bertambah banyak, maka peranan nafsu dan akal tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.
Kemungkaran yang terjadi di atas bumi ini adalah dari nafsu, bukan dari akal.
Karena akal dan nafsu ada dalam diri manusia, maka terjadilah pertentangan antara nafsu dan akal, bertentangan antara satu dengan yang lain.
Peperangan nafsu dan akal tidak pernah ada henti-hentinya, terkadang nafsu yang menang, terkadang akal yang menang.
Misal saja kita sedang berhadapan dengan sesuatu yang baik, maka nafsu akan menolaknya dan mengajak kepada kejahatan, sedangkan akal mengajak kepada kebaikan. Kalau kita mengikuti nafsu, artinya kita kalah, dan sebaliknya, jika kita mengikuti akal maka kita akan menang.
Namun bagaiman pun juga, nafsu ini tetap diperlukan oleh manusia, bila nafsu musnah, manusia juga akan musnah.Sebagai contoh saja nafsu makan, kalau nafsu makan kita tidak ada, maka manusia akan mati, dan nafsu makan ini merupakan fitrah alami jadi tidak akan hilang.
Begitu juga dengan nafsu terhadap lawan jenis, jika nafsu ini tidak ada, maka manusia tidak akan berketurunan dan akhirnya musnahlah manusia.
PEDAGANG YANG DIJAMIN SURGA...
Imam Bukhari meriwayatkan dari Hudzaifah, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda : ‘Ada seorang laki-laki dari umat sebelum kalian yang didatangi oleh Malaikat maut untuk mencabut nyawanya. Dia ditanya, ‘Adakah kebaikan yang kamu lakukan?’. Dia menjawab, ‘Aku tidak tahu’. Dikatakan kepadanya, ‘Lihatlah’. Dia menjawab, ‘Aku tidak mengetahui apa pun. Hanya saja, di dunia aku berjual-beli dengan orang-orang dan saling tukar menukar barang. Lalu aku memberi kesempatan kepada orang yang mampu dan memaafkan kepada orang yang kesulitan’. Maka Allah memasukkannya ke dalam surga”.
Dalam riwayat Hudzaifah juga, “Para Malaikat menerima ruh seorang
laki-laki dari kalangan umat sebelum kalian. Mereka bertanya, ‘Apakah
kamu melakukan suatu kebaikan?’. Dia menjawab, ‘Aku memerintahkan
pegawaiku agar memberi kesempatan kepada orang yang mampu dan memaafkan
kepada orang yang tidak mampu’. Maka mereka memaafkannya”.
Dalam riwayat Abu Hurairah disebutkan, “Ada seorang saudagar yang memberi hutang kepada orang-orang. Jika dia melihat seseorang dalam kesulitan, dia berkata kepada para pegawainya, ‘Maafkanlah dia, mudah-mudahan Allah memaafkan kita’. Maka Allah benar-benar memaafkannya”.
Dalam riwayat Abu Hurairah disebutkan, “Ada seorang saudagar yang memberi hutang kepada orang-orang. Jika dia melihat seseorang dalam kesulitan, dia berkata kepada para pegawainya, ‘Maafkanlah dia, mudah-mudahan Allah memaafkan kita’. Maka Allah benar-benar memaafkannya”.
KISAH JASAD WAJAH NABI YUSUF YANG BERCAHAYA
Imam Hakim meriwayatkan dalam kitab Mustadrak, dari Abu Musa, bahwa Rasulullah saw. singgah di rumah seorang Badui. Beliau dimuliakan, maka beliau bersabda kepadanya, “Wahai Badui, katakan keperluanmu?”. Badui menjawab, “Ya Rasulullah, seekor unta betina dengan pelananya dan domba betina yang diperah oleh keluargaku”. Ini diucapkannya sampai dua kali.
Rasulullah bersabda, “Mengapa engkau tidak seperti nenek tua Bani Israil?”. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah nenek tua Bani Israil itu?”.
Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya Nabi Musa hendak berjalan membawa Bani Israil, tetapi dia tersesat di jalan. Maka para ulama Bani Israil berkata kepadanya, ‘Kami katakan kepadamu bahwa Nabi Yusuf mengambil janji-janji Allah atas kami, agar kami tidak pergi dari Mesir sehingga kami memindahkan jasadnya bersama kami’. Nabi Musa bertanya, ‘Siapa diantara kalian yang mengetahui makam Nabi Yusuf?’.
Mereka menjawab, ‘Yang tahu dimana kuburan Nabi Yusuf hanyalah seorang nenek tua Bani Israil’. Nabi Musa memintanya agar dihadirkan. Kemudian Nabi Musa berkata kepadanya, ‘Tunjukkan kepadaku dimana makam Nabi Yusuf’. Nenek itu menjawab, ‘Aku tidak mau memberitahu hingga aku menemanimu di surga’. Sebenarnya Nabi Musa tidak menyukai permintaannya, namun para ulama Bani Israil menyerukan, 'Kabulkan permintaannya’. Nabi Musa pun mengabulkan permintaan nenek tua itu. Lalu nenek tua itu mendatangi sebuah danau bersama Nabi Musa dan kaumnya dan berkata, ‘Kuraslah airnya’. Setelah air telah surut, nenek tua itu berkata, ‘Galilah disini’. Begitu mereka menggali, mereka menemukan jasad Nabi Yusuf. Saat jasad Nabi Yusuf diangkat dari tanah, jalanan langsung terlihat nyala seperti cahaya pada siang hari
Kisah Wanita Yang Menasihati Ulama Besar
Di dalam kitab Al-Muwattha’ dijelaskan, bahwa Imam Malik meriwayatkan dari Al-Qasim bin Muhammad bahwa dia berkata, “Istriku wafat, maka Muhammad bin Kaab Al-Qurazhi mendatangiku untuk bertakziah”. Muhammad bin Kaab berkata, “Di kalangan Bani Israil terdapat seorang faqih, ‘alim, ahli ibadah dan ahli berijtihad. Dia sangat mengagumi dan mencintai istrinya. Ketika istrinya wafat, dia sangat bersedih dan sangat menyesalinya, hingga dia menyendiri di rumah, menutup diri dan menghindari orang-orang. Tidak ada seorang pun yang berani menemuinya karena menghormati sang ‘alim.
Ada seorang wanita yang mendengar berita tersebut. Lalu dia
memberanikan diri untuk mendatangi rumah sang ‘alim. Setelah sampai di
rumah sang ‘alim, wanita itu ditemui oleh murid sang ‘alim, lalu wanita
itu berkata, “Aku ada perlu dengan sang ‘alim, aku ingin meminta fatwa
dan tidak bisa diwakilkan”. Orang-orang yang saat itu berada di rumah
sang ‘alim sudah pulang, namun wanita itu masih menunggu di pintu.
Wanita itu berkata kepada murid sang ‘alim, “Aku harus bertemu
dengannya.”
Akhirnya, si murid menyampaikan kepada sang ‘alim, “Ada seorang wanita di depan pintu yang ingin meminta fatwamu. Wanita itu berkata bahwa ia hanya ingin bertemu denganmu”. Orang-orang sudah bubar sementara dia tetap menunggu di depan pintu. Sang ‘alim itu pun berkata, “Suruh dia masuk”. Wanita itu pun masuk dan berkata, “Aku datang untuk meminta fatwamu dalam suatu perkara”. Sang ‘alim bertanya, “Apa itu?”.
Wanita itu berkata, “Aku meminjam perhiasan dari tetanggaku. Aku memakainya dan meminjamkannya beberapa waktu, kemudian mereka memintaku untuk mengembalikannya. Apakah aku harus mengembalikannya?”. Sang ‘alim menjawab, “Ya, demi Allah”. Wanita itu berkata, “Perhiasan itu telah berada padaku selama beberapa waktu”. Sang ‘alim menjawab, “Hal itu lebih wajib atasmu untuk mengembalikannya kepada mereka ketika mereka meminjamkannya beberapa waktu”. Wanita itu pun berkata, “Semoga Allah merahmatimu. Apakah kamu menyesali apa yang Allah pinjamkan kepadamu (maksudnya; istrinya) kemudian Dia mengambilnya darimu sementara Dia lebih berhak daripada dirimu?”. Sang ‘alim pun tersadar dari kekeliruannya selama ini dengan mengurung diri di rumah dan menyesali kepergian istrinya. Ternyata, kedatangan dan pertanyaan-pertanyaan wanita itu mengandung nasihat berharga bagi dirinya sehingga menggugah hatinya yang tadinya susah dan sedih.
Akhirnya, si murid menyampaikan kepada sang ‘alim, “Ada seorang wanita di depan pintu yang ingin meminta fatwamu. Wanita itu berkata bahwa ia hanya ingin bertemu denganmu”. Orang-orang sudah bubar sementara dia tetap menunggu di depan pintu. Sang ‘alim itu pun berkata, “Suruh dia masuk”. Wanita itu pun masuk dan berkata, “Aku datang untuk meminta fatwamu dalam suatu perkara”. Sang ‘alim bertanya, “Apa itu?”.
Wanita itu berkata, “Aku meminjam perhiasan dari tetanggaku. Aku memakainya dan meminjamkannya beberapa waktu, kemudian mereka memintaku untuk mengembalikannya. Apakah aku harus mengembalikannya?”. Sang ‘alim menjawab, “Ya, demi Allah”. Wanita itu berkata, “Perhiasan itu telah berada padaku selama beberapa waktu”. Sang ‘alim menjawab, “Hal itu lebih wajib atasmu untuk mengembalikannya kepada mereka ketika mereka meminjamkannya beberapa waktu”. Wanita itu pun berkata, “Semoga Allah merahmatimu. Apakah kamu menyesali apa yang Allah pinjamkan kepadamu (maksudnya; istrinya) kemudian Dia mengambilnya darimu sementara Dia lebih berhak daripada dirimu?”. Sang ‘alim pun tersadar dari kekeliruannya selama ini dengan mengurung diri di rumah dan menyesali kepergian istrinya. Ternyata, kedatangan dan pertanyaan-pertanyaan wanita itu mengandung nasihat berharga bagi dirinya sehingga menggugah hatinya yang tadinya susah dan sedih.
RAHASIA - RAHASIA ALLAH SWT
Di dalam Kitab al-Isti'dad lil Mauti Wasualil Qabri juz 1 hlm. 20 dijelaskan, bahwa Allah swt. menyembunyikan 3 perkara di dalam tiga perkara. Yang pertama, Allah menyembunyikan Ridha-Nya di dalam perbuatan taat (takwa) seseorang kepada Allah, maka jangan sekali-kali meremehkan atau menghina perbuatan taat seseorang, karena banyak sekali ketaatan seseorang yang diremehken justru itu yang diridhai Allah, (sesungguhnya kita semua tidak tahu taat siapa/perbuatan taat kita yang bagaimana / yang seperti apa yang di terima Allah).
Yang kedua, Allah menyembunyikan murka-Nya di dalam kemaksiatan menusia kepada Allah, maka jangan sekali-kali meremehkan kemaksiatan sekecil apapun, karena seringkali kemaksiatan yang diremehkan justru yang di murkai Allah.
Yang ketiga, Allah menyembunyikan kekasih-Nya di antara makhluk-makhluk-Nya, maka jangan pernah menghina seseorang dari makhluk-Nya walaupun menurut kita remeh/hina, karena banyak manusia yang tidak di perdulikan manusia lain ternyata justru yang dikasihi Allah swt.
Ikhlas, Rahasia Allah dengan Hamba-Nya
Seorang sahabat dengan mimik serius mengajukan sebuah pertanyaan kepada Rasulullah swt. ,“Duhai kekasih Allah, bantulah aku mengetahui perihal kebodohanku ini. Kiranya engkau dapat menjelaskan kepadaku, apa yang dimaksud ikhlas itu?“
Rasulullah, kekasih Allah yang paling mulia bersabda, “Berkaitan dengan ikhlas, aku bertanya kepada Jibril as. apakah ikhlas itu? Lalu Jibril berkata,“Aku bertanya kepada Tuhan yang Maha Suci tentang ikhlas, apakah ikhlas itu sebenarnya? “
Allah swt. yang Mahaluas Pengetahuan-Nya menjawab, “Ikhlas adalah suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai.“(HR. al-Qazwini).
Dari hadits diatas nampaklah bahwa rahasia ikhlas itu diketahui oleh hamba-hamba Allah yang dicintai-Nya. Untuk mengetahui rahasia ikhlas, kita harus menggali hikmah dari kaum arif, salafus shalih dan para ulama kekasih Allah. Antara lain Imam Qusyairy dalam kitabnya Risalatul Qusyairiyah menyebutkan bahwa ikhlas berarti bermaksud menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan/pengabdian. Keikhlasan berarti menyucikan amal-amal perbuatan dari campur tangan sesama makhluk. Dikatakan juga, keikhlasan berarti melindungi diri sendiri dari urusan individu manusia.
Hamba Allah yang ikhlas mampu beribadah secara istiqamah dan terus menerus/kontinu. Orang-orang yang ikhlas adalah orang yang kualitas amalnya dalam kondisi ada atau tidak adanya orang yang memperhatikan adalah sama. Berbeda dengan orang yang kurang ikhlas, ibadahnya justru lebih bagus ketika ada orang lain memperhatikannya.
Seorang pembicara yang tulus tidak harus merekayasa aneka kata-kata agar penuh pesona, tetapi dia usahakan agar setiap kata-kata yang diucapkan benar-benar menjadi kata-kata yang disukai Allah. Bisa dipertanggungjawabkan kebenaran dan maknanya, selebihnya terserah Allah, kalau ikhlas walaupun sederhana kata-kata kita, Allah-lah yang Maha Kuasa menghunjamkannya ke dalam setiap kalbu/hati.
Oleh karena itu, tidak perlu terjebak oleh rekayasa-rekayasa, Allah sama sekali tidak membutuhkan rekayasa, karena Dia Maha Tahu segala lintasan hati, Maha Tahu segalanya. Semakin jernih, semakin bening, dan semakin bersih segala apa yang kita lakukan atau semakin seluruh aktifitas ditujukan semata-mata karena Allah, maka kekuatan Allah-lah yang akan menolong segalanya.
Tanda-Tanda Ikhlas Seorang Hamba
1. Tidak mencari populartias dan tidak menonjolkan diri
2. Tidak rindu pujian dan tidak terkecoh pujian. Pujian hanyalah sangkaan orang kepada kita, padahal kita sendiri yang tahu keadaan kita yang sebenarnya. Pujian adalah ujian Allah, hampir tidak pernah ada pujian yang sama persis dengan kondisi dan keadaan diri kita yang sebenarnya. 3. Tidak silau dan cinta jabatan
4. Tidak diperbudak imbalan dan balas budi
5. Tidak mudah kecewa.
Seorang hamba Allah yang ikhlas yakin benar bahwa apa yang diniatkan dengan baik lalu terjadi atau tidak yang dia niatkan semuanya pasti telah dilihat dan dinilai oleh Allah swt. Misalnya, ketika kita hendak menjenguk teman sakit di luar kota, ternyata ketika kita sampai yang bersangkutan telah sembuh dan pulang. Tentu saja kita tidak harus kecewa karena niat dan perjalanan kita termasuk ongkos dan keletihannya sudah mutlak tercatat dan tidak akan disia-siakan Allah swt.
Seorang hamba yang ikhlas sadar bahwa manusia hanya memiliki kewajiban menyempurnakan niat dan menyempurnakan ikhtiar. Perkara yang terbaik terjadi itu adalah urusan Allah.
6. Tidak membedakan amal yang besar dan amal yang kecil
7. Tidak fanatik golongan
8. Ridha dan marahnya bukan karena perasaan pribadi
9. Ringan, lahap dan nikmat dalam beramal
10. Tidak egois karena selalu mementingkan kepentingan bersama.
11. Tidak membeda-bedakan pergaulan.
Tingkatan Ikhlas
Dalam kitab al-Hikam, karya Syeikh Ibnu Atho’ilah tentang kedudukan seorang hamba dalam amal perbuatannya, terdapat dua tingkatan kemuliaan seorang hamba ahli ikhlas, yakni hamba Allah yang abrar dan yang muqarrabin.
Keikhlasan seorang abrar adalah apabila amal perbuatannya telah bersih dari riya baik yang jelas maupun samar/tersembunyi. Sedangkan tujuan amal perbuatannya selalu hanya pahala yang dijanjikan Allah swt.
Adapun keikhlasan seorang hamba yang muqarrabin adalah ia merasa bahwa semua amal kebaikannya semata-mata karunia Allah kepadanya, sebab Allah yang memberi hidayah dan taufik.
Dengan kata lain, amalan seorang hamba yang abrar dinamakan amalan lillah, yaitu beramal karena Allah. Sedangkan amalan seorang hamba yang muqarrabin dinamakan amalan billah, yaitu beramal dengan bantuan karunia Allah. Amal lillah menghasilkan sekedar memperhatikan hukum zahir/yang jelas, sedang amal billah menembus ke dalam perasaan kalbu/hati.
Pantaslah seorang ulama ahli hikmah menasihatkan, “Perbaikilah amal perbuatanmu dengan ikhlas, dan perbaikilah keikhlasanmu itu dengan perasaan bahwa tidak ada kekuatan sendiri, bahwa semua kejadian itu hanya semata-mata karena bantuan dan pertolongan Allah saja.“
Minggu, 21 Februari 2016
Rahasia hati dan alam yang tidak bisa dilihat
(Hikmah Ibnu Atha'illah As-Syakandary)
Oleh: KH. M.Wafi MZ. Lc. Msi
ربما أطلعك علي غيب ملكوته وحجب عنك الإستشراف علي أسرارعبا ده
"Kadang kala Allah subhanahu wata'ala Memperlihatkan kepadamu bagian-bagian ghoib kerajaan-Nya,namun Dia menghalangimu untuk mengetahui rahasia-rahasia (hati) hamba-hamba-Nya."
A. Penjelasan
Yang dimaksud dengan kerajaan Allah adalah makhluk-makhluk-Nya yang berada diatas, di bawah dan sekitar kita tanpa terkecuali, saat kita memandang perkara-perkara itu, maka yang tampak oleh mata kita hanyalah bentuk luarnya saja. Sedangkan hal-hal yang terdapat dibalik luar itu tetap tersembunyi dari pandangan kedua mata kita, meskipun kita menggunakan kaca pembesar misalnya, atau teropong yang mampu mendekatkan jarak, atau pun sinar infra merah dan sinar-sinar lain yang bisa menerobos benda-benda padat, semua itu hanya memperlihatkan sedikit rahasia yang ada di balik bentuk luar sebuah perkara.
Ini hanya membahas hal-hal yang berhubungan dengan kekuatan dan kemampuan manusia biasa, serta kemungkinan-kemungkinan ilmiyah yang dapat diperkirakan. Mengenai penyingkapan robbani yang diberikan Allah kepada hamba-hamba yang terpilih sehingga di depan indra penglihatan atau mata batinnya terhampar rahasia-rahasia kerajaan-Nya serta pengetahuan-pengetaahuan tentang makhluk-makhluk langit dan bumi, maka hal ini adalah murni anugerah yang tidak terbatasi fikiran-fikiran manusia.
Sering kali Allah subhanahu wata'ala memeberikan karunia dan kemuliaan ini kepada para nabi,rosul,aulia atau kepada hamba-hamba-Nya yang sholeh. Salah satu contoh tersingkapnya rahasia-rahasia kerajaan Allah adalah apa yang bisa kita ketahui dari sabda Rasulallahu ‘alaihi wasalam.
إني أرى مالاترون أطت السماء وحق لها أن تئط ما فيها موضع أربع أصابع الا وملك واضع حبهته ساجدا لله تعالى. والله لو تعلمون ما أعلم لضحكتم قليلا ولبكيتم كثيرا وما تلذذتم بالنساء على الفرش . ولخرجتم إلي الصعدات تجأرون إلي الله تعالى (رواه الترمذي من حديث أبي ذر رضي الله عنه)
Artinya: "sesungguhnya aku bisa melihat apa yang tidak mampu kalian lihat, langit berteriak dan memang layak jika ia berteriak, tak ada tempat di dalamya yang sebesar bentangan empat jari kecuali disitu terdapat malaikat yang menundukkan dahinya bersujud keapada Allah subhanahu wata'ala. Demi Allah, seandainya kalian mengerti apa yang aku ketahui niscaya kalian akan sedikit tersenyum dan lebih banyak menangis, kalian tidak mampu merasakan kenikmatan Wanita-wanita di atas ranjang dan kalian akan menaiki tempat-tempat yang tinggi untuk berdo'a sepenuh hati memohon pertolongan Allah subhanahu wata'ala." (HR. Tirmidzi,dari riwayat Abu Dzar RA)
Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam yang menunjukkan contoh rahasia-rahasia kerajaan Allah yang lain adalah:
إن الله زوى لي الأرض فرأيت مشارقها ومغاربها وإن أمتي سيبلغ ملكها ما زوي لي منها (رواه مسلم من حد يث ثوبان)
Artinya: "Sesungguhnya Allah telah menghimpun bumi untukku, maka aku mampu melihat bagian timur sekaligus bagian baratnya. Dan sesungguhnya umatku akan sampai kapada karajaan bumi seperti apa yang dihimpun Allah untuk ku." (HR. Muslim dan Ahmad dari riwayat Tsauban RA).
Terkadang juga Allah azza wajalla memperlihatkan misteri-misteri keajaiban dunia yang sangat rahasia kepada kekasih-Nya, Aulia ataupun hamba-hamba piliha-Nya. Ada sebuah kaidah umum yang disepakati semua ulama' tauhid bahwa setiap perkara luar biasa yang pernah menjadi mu'jizat bagi seorang nabi, mungkin saja terjadi sabagai karomah untuk seorang waliyullah.
B. Rahasia hati
Hal-hal yang bersifat material dan tampak dalam pandangan kasat mata akan berubah menjadi sesuatu yang tidak terlihat ketika dibatasi oleh jarak,ruang,waktu. Namun Allah subhanahu wata'ala mampu menyingkap semua itu dan memperlihatkan kepada hamba-hamba pilihan-Nya, hanya saja ketika membahas perkara abstrak yang berada dalam diri seorang manusia, misalnya tabiat,kenginan,niat,fikiran dan perasaan-perasaan yang tersimpan dalam hati, maka kita harus bahwa hal-hal seperti ini merupakan sesuatu yang misterius. Tidak bisa ditembus dan dilihat oleh orang lain.
Mungkin saja bagi Allah, Memberikan kemampuan kepada seorang manusia untuk memandang benda-benda di balik gunung atau melihat perkara yang berada pada jarak sangat jauh ataupun hal-hal yang terjadi di masa lampau. Contohnya adalah peristiwa yang dialami Umar bin Khothob R.A. ketika beliau sedang berkhotbah di madinah tiba-tiba berteriak memanggil-manggil pasukan perang yang beliau kirim ke Syam, "Hai para pasukan berlindunglah di balik bukit, dan berlindunglah di balik bukit". Dan masih banyak contoh-contoh lain yang bisa kita ketahui dari riwayat yang masyhur terpercaya.
Berbicara mengenai isi hati, adalah sesuatu yang tidak mudah dan bahkan sangat sulit untuk menembus batas-batas yang menutupinya hingga bisa diketahui apa yang ada di dalamnya. Artinya, bukanlah termasuk sunnatullah untuk membuka dan dan memperlihatkan rahasia hati kepada orang lain layaknya sebuah fenomena yang nyata atau seperti suara yang menggelegar hingga mudah didengar.
Sebuah pepatah mengatakan, "Dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu?" Jika kita merenungi mengapa isi hati tetap menjadi rahasia yang tersembunyi dari orang lain, maka kita akan menyadari bahwa ini adalah bentuk anugerah Allah Yang Sangat Agung.
Andaikan apa yang ada didalam hati, menjadi suatu perkara yang jelas dan bisa diketahui setiap orang, pasti semua orang akan diliputi kebencian terhadap orang lain. Mengapa? Karena mereka akan melihat ‘aib, cela dan kekurangan yang tersembunyi dalam hati teman-temanya. Bentuk-bentuk kebaikan lahiriyah yang menjadi faktor pendorong timbulnya persaudaraan dan persahabatan akan terhapus oleh keburukan-keburukan hati yang tampak jelas dan akhirnya berganti rasa benci dan muak. Selanjutnya kita bisa membayangkan sendiri apa yang akan terjadi saat keadaan berubah menjadi seperti ini.
C. Misteri sang pemilik rahasia
Salah satu bentuk belas kasih Allah kepada manusia adalah menjadikannya tidak mengerti dan menyadari kesalahan dan kukurangan yang ada pada dirinya sendiri. Hal ini ternyata karena ia menganggap keburukan yang ia lakukan adalah sesuatu yang biasa saja, bahkan terkadang seorang manusia menjalani kehidupannya dengan penuh kejelekan dan kejahatan, namun ia merasa bahwa semua itu merupakan perkara-perkara yang normal dan manusiawi. Hal ini cocok dengan sebuah peribahasa, "kuman di seberang lautan akan tampak dengan jelas, namun Gajah di pelupuk Mata tidak terlihat oleh pandangan."
Seandainya saja Allah subhanahu wata'ala menjadikan kita mengerti satu persatu kejelekan-kejelakan yang ada pada diri kita, mengetahui semua keburukan dan ‘aib yang tersimpan dalam diri kita sendiri, bosan dan menganggap hina tubuh ini, hidup kita akan senantiasa terpenuhi kesedihan dan kesusahan yang tiada berujung tak berakhir.
Namun Allah Yang Maha Bijaksana selalu memberikan kemudahan dan kemurahan kepada hamba-hamba-Nya. Dia menutupi dan menghalangi kita untuk mengetahui sebagian besar ‘aib dan cela yang berada dalam diri kita sendiri. Allah subhanahu wata'ala menghilangkan kemampuan indera perasaan kita untuk meraba-raba semua keburukan diri dan hati agar kita menganggap bahwa Jiwa dan badan ini masih mempunyai nilai yang layak diperhitungkan, masih memilki kegunaan dan fungsi yang harus dijalanakan.
Kenyataan seperti ini akan menyadarkan kita bahwa pastinya Allah subhanahu wata'ala tidak akan membiarkan kita untuk melihat dan mengerti kejelekan dan kekurangan orang lain tanpa terkecuali, karena jika hal ini terjadi akan menimbulkan bencana dan bahaya yang tidak mampu kita bayangkan.
D. Mengapa rahasia hati terbuka?
Kenyataan yang terjadi, sering kita melihat dan mengetahui keburukan serta kejahatan orang-orang fasik yang kerap kali meremehkan syari'at-syari'at Allah. Akibatnya masyarakat membicarakan dan menyebarluaskan kejelakan perangai dan sifat orang-orang tersebut. Apakah hal ini bertentangan dengan perkataan Ibnu Atho'illah bahwasanya Allah menghalangi kita untuk mengetahui rahasia-rahasia yang tersimpan dalam hati dan jiwa hamba-hamba-Nya?.
Sebenarnya Allah azza wajalla tidak pernah merobohkan batas-batas yang telah didirikan untuk menutupi rahasi-rahasia hati orang-orang seperti itu. Hanya saja, mereka sendirillah yang berusaha membuka pembatas hatinya dengan cara memperlihatkan keburukan mereka di mata khalayak ramai. Mereka melakukan kejahatan secara terang-terangan tanpa malu, bahkan mereka menganggap perbuatan buruk yang mereka jalankan adalah sesuatu yang harus dibanggakan , layak disebut sebagai kehormatan dan kemuliaan hingga mereka menyebarluaskan ‘aib dan cela mereka dengan penuh keberanian dan kecongkokan.
Seandainya mereka lebih memilih untuk menyembunyikan keburukan yang mereka miliki, merasa malu atas ‘aib yang ada pada dirinya serta hawatir dan takut akan tercemarnya nama baik mereka, pasti Allah subhanahu wata'ala akan menjaga kekurangan, dan ‘aib mereka tetap tersembunyi. Allah subhanahu wata'ala akan mendirikan batas-batas yang selalu menutupi rahasi-rahasia tersebut di dunia ini. Mungkin juga Allah azza wajalla akan mengabadikan batas-batas ini sampai di akhirat nanti sebagai bentuk anugerah dan karunia-Nya.
E. Kesimpulan
Makhluk-makhluk Allah yang berwujud materi akan menjadi samar dan tidak terlihat karena jarak yang jauh, terhalangi oleh benda-benda lain atau karena perbadaan waktu, artinya telah terjadi di masa lalu atau terjadi di waktu yang akan datang, akan tetapii jika Allah menghendaki, maka batas-batas materi seperti ini akan lenyap sehingga seseorang akan mampu memandang perkara-perkara material tersebut tanpa batas.
Hanya saja Allah azza wajalla telah menetapkan batas-batas yang melindungi rahasia-rahasia hati agar tidak diketahui orang lain. Hal ini dimaksudkan agar di dalam masyarakat tetap terjaga semangat perdamaian dan kerukunan hidup, karena jika rahasia hati yang penuh dengan ‘aib dan cela bisa diketahui setiap orang, maka yang terjadi adalah tumbuhnya rasa benci dan muak sehingga timbullah keresahan dan perpecahan serta berbagai macam kekacauan.
Sebagai seorang hamba yang mempunyai tuhan Yang Maha Esa, yang banyak menutupi ‘aib dan cela hamba-hamba-Nya, maka kita harus menutupi ‘aib dan cela diri sendiri, lebih-lebih ‘aib orang lain. Jika kita tahu bahwa kita mempunyai banyak keburukan, maka kewajiban kita adalah bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah subhanahu wata'ala. Menyebar luaskan Aib diri sendiri apa lagi aib orang lain hanya akan menimbulkan fitnah dan kekacauan masyarakat.
Oleh: KH. M.Wafi MZ. Lc. Msi
ربما أطلعك علي غيب ملكوته وحجب عنك الإستشراف علي أسرارعبا ده
"Kadang kala Allah subhanahu wata'ala Memperlihatkan kepadamu bagian-bagian ghoib kerajaan-Nya,namun Dia menghalangimu untuk mengetahui rahasia-rahasia (hati) hamba-hamba-Nya."
A. Penjelasan
Yang dimaksud dengan kerajaan Allah adalah makhluk-makhluk-Nya yang berada diatas, di bawah dan sekitar kita tanpa terkecuali, saat kita memandang perkara-perkara itu, maka yang tampak oleh mata kita hanyalah bentuk luarnya saja. Sedangkan hal-hal yang terdapat dibalik luar itu tetap tersembunyi dari pandangan kedua mata kita, meskipun kita menggunakan kaca pembesar misalnya, atau teropong yang mampu mendekatkan jarak, atau pun sinar infra merah dan sinar-sinar lain yang bisa menerobos benda-benda padat, semua itu hanya memperlihatkan sedikit rahasia yang ada di balik bentuk luar sebuah perkara.
Ini hanya membahas hal-hal yang berhubungan dengan kekuatan dan kemampuan manusia biasa, serta kemungkinan-kemungkinan ilmiyah yang dapat diperkirakan. Mengenai penyingkapan robbani yang diberikan Allah kepada hamba-hamba yang terpilih sehingga di depan indra penglihatan atau mata batinnya terhampar rahasia-rahasia kerajaan-Nya serta pengetahuan-pengetaahuan tentang makhluk-makhluk langit dan bumi, maka hal ini adalah murni anugerah yang tidak terbatasi fikiran-fikiran manusia.
Sering kali Allah subhanahu wata'ala memeberikan karunia dan kemuliaan ini kepada para nabi,rosul,aulia atau kepada hamba-hamba-Nya yang sholeh. Salah satu contoh tersingkapnya rahasia-rahasia kerajaan Allah adalah apa yang bisa kita ketahui dari sabda Rasulallahu ‘alaihi wasalam.
إني أرى مالاترون أطت السماء وحق لها أن تئط ما فيها موضع أربع أصابع الا وملك واضع حبهته ساجدا لله تعالى. والله لو تعلمون ما أعلم لضحكتم قليلا ولبكيتم كثيرا وما تلذذتم بالنساء على الفرش . ولخرجتم إلي الصعدات تجأرون إلي الله تعالى (رواه الترمذي من حديث أبي ذر رضي الله عنه)
Artinya: "sesungguhnya aku bisa melihat apa yang tidak mampu kalian lihat, langit berteriak dan memang layak jika ia berteriak, tak ada tempat di dalamya yang sebesar bentangan empat jari kecuali disitu terdapat malaikat yang menundukkan dahinya bersujud keapada Allah subhanahu wata'ala. Demi Allah, seandainya kalian mengerti apa yang aku ketahui niscaya kalian akan sedikit tersenyum dan lebih banyak menangis, kalian tidak mampu merasakan kenikmatan Wanita-wanita di atas ranjang dan kalian akan menaiki tempat-tempat yang tinggi untuk berdo'a sepenuh hati memohon pertolongan Allah subhanahu wata'ala." (HR. Tirmidzi,dari riwayat Abu Dzar RA)
Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam yang menunjukkan contoh rahasia-rahasia kerajaan Allah yang lain adalah:
إن الله زوى لي الأرض فرأيت مشارقها ومغاربها وإن أمتي سيبلغ ملكها ما زوي لي منها (رواه مسلم من حد يث ثوبان)
Artinya: "Sesungguhnya Allah telah menghimpun bumi untukku, maka aku mampu melihat bagian timur sekaligus bagian baratnya. Dan sesungguhnya umatku akan sampai kapada karajaan bumi seperti apa yang dihimpun Allah untuk ku." (HR. Muslim dan Ahmad dari riwayat Tsauban RA).
Terkadang juga Allah azza wajalla memperlihatkan misteri-misteri keajaiban dunia yang sangat rahasia kepada kekasih-Nya, Aulia ataupun hamba-hamba piliha-Nya. Ada sebuah kaidah umum yang disepakati semua ulama' tauhid bahwa setiap perkara luar biasa yang pernah menjadi mu'jizat bagi seorang nabi, mungkin saja terjadi sabagai karomah untuk seorang waliyullah.
B. Rahasia hati
Hal-hal yang bersifat material dan tampak dalam pandangan kasat mata akan berubah menjadi sesuatu yang tidak terlihat ketika dibatasi oleh jarak,ruang,waktu. Namun Allah subhanahu wata'ala mampu menyingkap semua itu dan memperlihatkan kepada hamba-hamba pilihan-Nya, hanya saja ketika membahas perkara abstrak yang berada dalam diri seorang manusia, misalnya tabiat,kenginan,niat,fikiran dan perasaan-perasaan yang tersimpan dalam hati, maka kita harus bahwa hal-hal seperti ini merupakan sesuatu yang misterius. Tidak bisa ditembus dan dilihat oleh orang lain.
Mungkin saja bagi Allah, Memberikan kemampuan kepada seorang manusia untuk memandang benda-benda di balik gunung atau melihat perkara yang berada pada jarak sangat jauh ataupun hal-hal yang terjadi di masa lampau. Contohnya adalah peristiwa yang dialami Umar bin Khothob R.A. ketika beliau sedang berkhotbah di madinah tiba-tiba berteriak memanggil-manggil pasukan perang yang beliau kirim ke Syam, "Hai para pasukan berlindunglah di balik bukit, dan berlindunglah di balik bukit". Dan masih banyak contoh-contoh lain yang bisa kita ketahui dari riwayat yang masyhur terpercaya.
Berbicara mengenai isi hati, adalah sesuatu yang tidak mudah dan bahkan sangat sulit untuk menembus batas-batas yang menutupinya hingga bisa diketahui apa yang ada di dalamnya. Artinya, bukanlah termasuk sunnatullah untuk membuka dan dan memperlihatkan rahasia hati kepada orang lain layaknya sebuah fenomena yang nyata atau seperti suara yang menggelegar hingga mudah didengar.
Sebuah pepatah mengatakan, "Dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu?" Jika kita merenungi mengapa isi hati tetap menjadi rahasia yang tersembunyi dari orang lain, maka kita akan menyadari bahwa ini adalah bentuk anugerah Allah Yang Sangat Agung.
Andaikan apa yang ada didalam hati, menjadi suatu perkara yang jelas dan bisa diketahui setiap orang, pasti semua orang akan diliputi kebencian terhadap orang lain. Mengapa? Karena mereka akan melihat ‘aib, cela dan kekurangan yang tersembunyi dalam hati teman-temanya. Bentuk-bentuk kebaikan lahiriyah yang menjadi faktor pendorong timbulnya persaudaraan dan persahabatan akan terhapus oleh keburukan-keburukan hati yang tampak jelas dan akhirnya berganti rasa benci dan muak. Selanjutnya kita bisa membayangkan sendiri apa yang akan terjadi saat keadaan berubah menjadi seperti ini.
C. Misteri sang pemilik rahasia
Salah satu bentuk belas kasih Allah kepada manusia adalah menjadikannya tidak mengerti dan menyadari kesalahan dan kukurangan yang ada pada dirinya sendiri. Hal ini ternyata karena ia menganggap keburukan yang ia lakukan adalah sesuatu yang biasa saja, bahkan terkadang seorang manusia menjalani kehidupannya dengan penuh kejelekan dan kejahatan, namun ia merasa bahwa semua itu merupakan perkara-perkara yang normal dan manusiawi. Hal ini cocok dengan sebuah peribahasa, "kuman di seberang lautan akan tampak dengan jelas, namun Gajah di pelupuk Mata tidak terlihat oleh pandangan."
Seandainya saja Allah subhanahu wata'ala menjadikan kita mengerti satu persatu kejelekan-kejelakan yang ada pada diri kita, mengetahui semua keburukan dan ‘aib yang tersimpan dalam diri kita sendiri, bosan dan menganggap hina tubuh ini, hidup kita akan senantiasa terpenuhi kesedihan dan kesusahan yang tiada berujung tak berakhir.
Namun Allah Yang Maha Bijaksana selalu memberikan kemudahan dan kemurahan kepada hamba-hamba-Nya. Dia menutupi dan menghalangi kita untuk mengetahui sebagian besar ‘aib dan cela yang berada dalam diri kita sendiri. Allah subhanahu wata'ala menghilangkan kemampuan indera perasaan kita untuk meraba-raba semua keburukan diri dan hati agar kita menganggap bahwa Jiwa dan badan ini masih mempunyai nilai yang layak diperhitungkan, masih memilki kegunaan dan fungsi yang harus dijalanakan.
Kenyataan seperti ini akan menyadarkan kita bahwa pastinya Allah subhanahu wata'ala tidak akan membiarkan kita untuk melihat dan mengerti kejelekan dan kekurangan orang lain tanpa terkecuali, karena jika hal ini terjadi akan menimbulkan bencana dan bahaya yang tidak mampu kita bayangkan.
D. Mengapa rahasia hati terbuka?
Kenyataan yang terjadi, sering kita melihat dan mengetahui keburukan serta kejahatan orang-orang fasik yang kerap kali meremehkan syari'at-syari'at Allah. Akibatnya masyarakat membicarakan dan menyebarluaskan kejelakan perangai dan sifat orang-orang tersebut. Apakah hal ini bertentangan dengan perkataan Ibnu Atho'illah bahwasanya Allah menghalangi kita untuk mengetahui rahasia-rahasia yang tersimpan dalam hati dan jiwa hamba-hamba-Nya?.
Sebenarnya Allah azza wajalla tidak pernah merobohkan batas-batas yang telah didirikan untuk menutupi rahasi-rahasia hati orang-orang seperti itu. Hanya saja, mereka sendirillah yang berusaha membuka pembatas hatinya dengan cara memperlihatkan keburukan mereka di mata khalayak ramai. Mereka melakukan kejahatan secara terang-terangan tanpa malu, bahkan mereka menganggap perbuatan buruk yang mereka jalankan adalah sesuatu yang harus dibanggakan , layak disebut sebagai kehormatan dan kemuliaan hingga mereka menyebarluaskan ‘aib dan cela mereka dengan penuh keberanian dan kecongkokan.
Seandainya mereka lebih memilih untuk menyembunyikan keburukan yang mereka miliki, merasa malu atas ‘aib yang ada pada dirinya serta hawatir dan takut akan tercemarnya nama baik mereka, pasti Allah subhanahu wata'ala akan menjaga kekurangan, dan ‘aib mereka tetap tersembunyi. Allah subhanahu wata'ala akan mendirikan batas-batas yang selalu menutupi rahasi-rahasia tersebut di dunia ini. Mungkin juga Allah azza wajalla akan mengabadikan batas-batas ini sampai di akhirat nanti sebagai bentuk anugerah dan karunia-Nya.
E. Kesimpulan
Makhluk-makhluk Allah yang berwujud materi akan menjadi samar dan tidak terlihat karena jarak yang jauh, terhalangi oleh benda-benda lain atau karena perbadaan waktu, artinya telah terjadi di masa lalu atau terjadi di waktu yang akan datang, akan tetapii jika Allah menghendaki, maka batas-batas materi seperti ini akan lenyap sehingga seseorang akan mampu memandang perkara-perkara material tersebut tanpa batas.
Hanya saja Allah azza wajalla telah menetapkan batas-batas yang melindungi rahasia-rahasia hati agar tidak diketahui orang lain. Hal ini dimaksudkan agar di dalam masyarakat tetap terjaga semangat perdamaian dan kerukunan hidup, karena jika rahasia hati yang penuh dengan ‘aib dan cela bisa diketahui setiap orang, maka yang terjadi adalah tumbuhnya rasa benci dan muak sehingga timbullah keresahan dan perpecahan serta berbagai macam kekacauan.
Sebagai seorang hamba yang mempunyai tuhan Yang Maha Esa, yang banyak menutupi ‘aib dan cela hamba-hamba-Nya, maka kita harus menutupi ‘aib dan cela diri sendiri, lebih-lebih ‘aib orang lain. Jika kita tahu bahwa kita mempunyai banyak keburukan, maka kewajiban kita adalah bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah subhanahu wata'ala. Menyebar luaskan Aib diri sendiri apa lagi aib orang lain hanya akan menimbulkan fitnah dan kekacauan masyarakat.
Langganan:
Postingan (Atom)