Bertanya imam Ali kepada nabi : "YA RASUL, JIKA YG MENYEMBAH ITU TUBUH
SERTA NYAWA DAN YG DISEMBAH ITU SIFAT KETUHANAN, JIKA DEMIKIAN SIFAT
KETUHAN ITUKAH ALLAH,?"
---------------------------------
Jawab nabi : "YA ALI KETAHUILAH OLEHMU, ADAPUN ALLAH ITU HANYA SEBUAH NAMA ADANYA"
---------------------------------
Ali bertanya lagi : "JIKA SESEORANG ITU MENYEMBAH NAMA SAJA, APAKAH HUKUMNYA ORANG ITU?"
---------------------------------
Jawan nabi : "JIKA IA MENYEMBAH NAMA SAJA TIADA DENGAN ILMUNYA, SESAT SEMATA-MATA HUKUMNYA ORANG ITU"
---------------------------------
Ali bertanya : "YA RASUL BAGAIMANA PAHAMNYA MENGATAKAN ORANG ITU SESAT?"
---------------------------------
Jawab nabi : "BARANG SIAPA MENYEMBAH NAMA TIADA DENGAN MAKNA MAKA
SESUNGGUHNYA IA TELAH KAFIR DAN LAGI BARANG SIAPA MENYEMBAH AKAN MAKNA
MAKA SESUNGGUHNYA IA TELAH MUNAFIK DAN BARANG SIAPA MENYEMBAH AKAN NAMA
DAN MAKNA MAKA SESUNGGUHNYA IA TELAH SYIRIK DAN BARANG SIAPA MENYEMBAH
AKAN MAKNA DENGAN HAKIKAT DAN MARIFAT MAKA ITULAH MUKMIN YG SEBENARNYA
DAN LAGI BARANG SIAPA MENINGGALKAN NAMA DAN MAKNA MAKA YAITULAH MARIFAT
DARIPADA SEGALA MARIFAT ADANYA"
---------------------------------
Ali bertanya lagi : "YA RASUL BAGAIMANAKAH PAHAMNYA MENYEMBAH NAMA DAN
HAKIKAT MARIFAT ITU? DAN BAGAIMANAKAH PAHAMNYA MENINGGALKAN NAMA DENGAN
MAKNA ITU? HAMBA TIADA PAHAM YA JUNJUNGANKU"
---------------------------------
Sabda nabi : "KETAHUILAH OLEHMU YA ALI, JIKA AKU KHABARKAN KEPADAMU NISCAYA SEMPURNALAH SEKALIAN MUKMIN, ISLAM SEMUANYA"
---------------------------------
Ali kembali bertanya : "YA JUNJUNGANKU, KHABARKANLAH RAHASIA ITU KEPADA HAMBA"
---------------------------------
Sabda nabi : "YA ALI, BARANG SIAPA YANG MELIHATKU, IA MELIHAT AL HAQ" (shahih bukhari, kitab ta'bir halaman 72)
---------------------------------
Sabda nabi dalam hadist Qudsi : "MARRALHABBA FAQADRAL HAQ" Artinya
sesungguhnya siapa yg melihat muka atau rupa, itulah wujud yg sebenarnya
---------------------------------
Wahai tuan...tiada gunanya engkau banyak cerita BAB ilmu ketuhanan ini
pada kaum SYARIAT, dia pasti akan mendustakan engkau, dan mengatakan
bahwa engkau itu BAHLOL, karna kaum SYARIAT itu adalah kaum yg MUNAFIK,
sabda nabi : "ORANG MUNAFIK ADALAH ORANG YANG BANYAK MENCELA, DAN MERASA
DIRINYA LEBIH BAIK DIBANDINGKAN SAUDARANYA" (HR. Tirmidzi)
---------------------------------
"Kaum SYARIAT itu merasa bisa tapi tidak bisa merasa, merasa sempurna
tapi tidak sempurna merasa, merasa paling taat ibadah tapi tidak tahu
kalau hakikatnya dia BODOH".
Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Minggu, 05 November 2017
*NAFSU TERSEMBUNYI..*
Beberapa pakar sejarah Islam meriwayatkan sebuah kisah menarik, kisah Imam Ahmad bin Miskin, seorang ulama abad ke-3 dari kota Basrah, Iraq. Beliau bercerita:
Aku pernah diuji dengan kemiskinan pada tahun 219 Hijriyah.
Saat itu, aku sama sekali tidak memiliki apapun, sementara aku harus menafkahi seorang isteri dan seorang anak.
Lilitan hebat rasa lapar terbiasa mengiringi hari-hari kami.
Maka aku bertekad untuk menjual rumah dan pindah ke tempat lain. Akupun berjalan mencari orang yang bersedia membeli rumahku.
Bertemulah aku dengan sahabatku Abu Nashr dan kuceritakan keadaanku. Lantas, dia malah memberiku 2 lembar roti isi manisan dan berkata: “Berikan makanan ini kepada keluargamu.”
Di tengah perjalanan pulang,
aku berselisihan dengan seorang wanita faqir bersama anaknya. Tatapannya jatuh di kedua lembar rotiku.
Dengan nada yang sayu dia memohon:
“Wahai Tuan, anak yatim ini belum makan, tak terdaya terlalu lama menahan rasa lapar yang melilit diri.
Tolong beri dia sesuatu yang boleh dia makan.
Semoga Allah Ta'ala merahmati Tuan.”
Sementara itu, si anak menatapku tekun dengan tatapan yang takkan kulupakan sepanjang hayat.
Tatapan matanya menghanyutkan fikiranku dalam khayalan ukhrawi, seolah-olah syurga turun ke bumi, menawarkan dirinya kepada siapapun yang ingin meminangnya, dengan mahar mengenyangkan anak yatim miskin dan ibunya ini.
Tanpa ragu sedetikpun, kuserahkan semua yang ada ditanganku. “Ambillah, beri dia makan”, kataku pada si ibu.
Demi Allah, padahal waktu itu tak sesen pun dinar atau dirham kumiliki. Sementara di rumah, keluargaku sangat memerlukan makanan itu.
Spontan, si ibu tak dapat membendung air matanya(menangis) dan si kecilpun tersenyum indah bak purnama.
Kutinggalkan mereka berdua dan kulanjutkan langkah kakiku,
sementara beban hidup terus bergelutan dipikiranku.
Sejenak, kusandarkan tubuh ini di sebuah dinding, sambil terus memikirkan rencanaku menjual rumah.
Dalam posisi seperti itu, tiba-tiba Abu Nashr dengan kegirangan mendatangiku.
“Hei, Abu Muhammad...!
Kenapa kau duduk duduk di sini sementara limpahan harta sedang memenuhi rumahmu?”, tanyanya.
"Masyaallah....!”,
jawabku terkejut.
“Dari mana datangnya?”
“Tadi ada lelaki datang dari Khurasan.
Dia bertanya-tanya tentang ayahmu atau siapapun yang punya hubungan kerabat dengannya.
Dia membawa berduyun-duyun kenderaan barang penuh berisi harta,” ujarnya.
“Jadi?”, tanyaku kehairanan.
“Dia itu dahulu saudagar kaya di Basrah ini. Kawan ayahmu,dulu ayahmu pernah memberikan kepadanya harta yang telah
ia kumpulkan selama 30 tahun.
Lantas dia rugi besar dan bangkrap.
Semua hartanya musnah, termasuk harta ayahmu.Lalu dia lari meninggalkan kota ini menuju Khurasan.
Di sana, keadaan ekonominya beransur-ansur baik.
Bisnesnya meningkat jaya.
Kesulitan hidupnya perlahan-lahan pergi,
berganti dengan limpahan kekayaan.
Lantas dia kembali ke kota ini, ingin meminta maaf dan memohon keikhlasan ayahmu atau keluarganya atas kesalahannya yang lalu.
Maka sekarang, dia datang membawa seluruh harta hasil keuntungan niaganya yang telah dia kumpulkan selama 30 tahun berniaga dan ingin berikan semuanya kepadamu,
berharap ayahmu dan keluarganya berkenan memaafkannya.”
Ahmad bin Miskin melanjutkan ceritanya:
“Kalimah puji dan syukur kepada Allah Ta'ala meluncur dari lisanku.
Sebagai bentuk syukur.
Segera kucari wanita faqir dan anaknya tadi.
Aku menyantuni dan menanggung hidup mereka seumur hidup.
Aku pun terjun di dunia perniagaan seraya menyibukkan diri dengan kegiatan sosial, sedekah, santunan dan berbagai bentuk amal solih.
Adapun hartaku, terus bertambah melimpah ruah tanpa berkurang.
Tanpa sedar, aku merasa TAKJUB dengan amal solihku.
Aku MERASA, telah MENGUKIR lembaran catatan malaikat dengan hiasan AMAL KEBAIKAN. Ada semacam HARAPAN PASTI dalam diri, bahawa namaku mungkin telah TERTULIS di sisi Allah Ta'ala dalam daftar orang orang SOLIH.
Suatu malam, aku tidur dan bermimpi.
Aku lihat, diriku tengah berhadapan dengan hari kiamat.
Aku juga lihat, manusia bagaikan berombak lautan.
Aku juga lihat, badan mereka membesar.
Dosa-dosa pada hari itu berwujud dan berupa, dan setiap orang memikul dosa-dosa itu masing-masing di punggungnya.
Bahkan aku melihat, ada seorang pendosa yang memikul di punggungnya beban besar seukuran kota Basrah,
isinya hanyalah dosa-dosa dan hal-hal yang menghinakan.
Kemudian, timbangan amal pun ditegakkan, dan tiba giliranku untuk perhitungan amal.
Seluruh amal burukku diletakkan di salah satu sisi timbangan,
sedangkan amal baikku di sisi timbangan yang lain.
Ternyata, amal burukku jauh lebih berat daripada amal baikku..!
Tapi ternyata, perhitungan belum selesai.
Mereka mulai meletakkn satu persatu berbagai jenis amal baik yang pernah kulakukan.
Namun alangkah ruginya aku.
Ternyata dibalik semua amal itu terdapat "NAFSU TERSEMBUNYI".
Nafsu tersembunyi itu adalah riya', ingin dipuji, merasa bangga dengan amal solih.
Semua itu membuat amalku tak berharga. Lebih buruk lagi, ternyata tidak ada satupun amalku yang terlepas dari nafsu-nafsu itu.Aku putus asa.
Aku yakin aku akan binasa.
Aku tidak punya alasan lagi untuk selamat dari seksa neraka.
Tiba-tiba, aku mendengar suara,
“Masihkah orang ini punya amal baik?”
“Masih...”,
jawab suara lain. “Masih berbaki ini.”
Aku pun menjadi tidak tentu, amal baik apakah gerangan yang masih berbaki?
Aku berusaha melihatnya.
Ternyata, itu HANYALAH dua LEMBAR ROTI isi manisan yang pernah kusedekahkan kepada wanita fakir dan anaknya.
Habis sudah harapanku...
Sekarang aku benar benar yakin akan binasa sebinasanya.
Bagaimana mungkin dua lembar roti ini menyelamatkanku,
sedangkan dulu aku pernah bersedekah 100 dinar sekali sedekah dan itu tidak berguna sedikit pun.
Aku merasa benar-benar tertipu habis-habisan.
Segera 2 lembar roti itu diletakkan di timbanganku.
Tak kusangka, ternyata timbangan kebaikanku bergerak
turun sedikit demi sedikit, dan terus bergerak turun sehingga lebih berat sedikit dibandingkan timbangan keburukkanku.
Tak sampai disitu, tenyata masih ada lagi amal baikku.
Iaitu berupa AIR MATA wanita faqir itu yang mengalir saat aku berikan sedekah.
Air mata tak terbendung yang mengalir kala tersentuh akan kebaikanku. Aku, yang kala itu lebih mementingkan dia dan anaknya dibanding keluargaku.
Sungguh tak terbayang, saat air mata itu diletakkan, ternyata timbangan baikku semakin turun dan terus memberat.
Hingga akhirnya aku mendengar suatu suara berkata,
“Orang ini selamat dari seksa neraka...!
Masih adakah terselit dalam hati kita nafsu ingin dilihat hebat oleh orang lain pada ibadah dan amal-amal kita..????!!!
*Payahnya IKHLAS*
Allahuakbar!!!aku bermohon kehadrat Allah Tuhan Pemilik Hari Pembalasan agar diriku,keturunanku juga sahabat²ku semua dijauhkan dari sifat dan juga amal dari Nafsu Yang Tersembunyi.
Sumber tazkirah telah kupetik dari kitab"KISAH TAULADAN"
"Ar-Rafi’i dalam Qalam (2/153-160)".
semoga bersama kita beroleh manfaat.
Selamat beramal dan beristiqomah
Semoga kita amalkan dan sampaikan kpd orang lain...
IKHLASKAN DIRI KERANA ALLAHswt..
*Pesan Pada Hati
Beberapa pakar sejarah Islam meriwayatkan sebuah kisah menarik, kisah Imam Ahmad bin Miskin, seorang ulama abad ke-3 dari kota Basrah, Iraq. Beliau bercerita:
Aku pernah diuji dengan kemiskinan pada tahun 219 Hijriyah.
Saat itu, aku sama sekali tidak memiliki apapun, sementara aku harus menafkahi seorang isteri dan seorang anak.
Lilitan hebat rasa lapar terbiasa mengiringi hari-hari kami.
Maka aku bertekad untuk menjual rumah dan pindah ke tempat lain. Akupun berjalan mencari orang yang bersedia membeli rumahku.
Bertemulah aku dengan sahabatku Abu Nashr dan kuceritakan keadaanku. Lantas, dia malah memberiku 2 lembar roti isi manisan dan berkata: “Berikan makanan ini kepada keluargamu.”
Di tengah perjalanan pulang,
aku berselisihan dengan seorang wanita faqir bersama anaknya. Tatapannya jatuh di kedua lembar rotiku.
Dengan nada yang sayu dia memohon:
“Wahai Tuan, anak yatim ini belum makan, tak terdaya terlalu lama menahan rasa lapar yang melilit diri.
Tolong beri dia sesuatu yang boleh dia makan.
Semoga Allah Ta'ala merahmati Tuan.”
Sementara itu, si anak menatapku tekun dengan tatapan yang takkan kulupakan sepanjang hayat.
Tatapan matanya menghanyutkan fikiranku dalam khayalan ukhrawi, seolah-olah syurga turun ke bumi, menawarkan dirinya kepada siapapun yang ingin meminangnya, dengan mahar mengenyangkan anak yatim miskin dan ibunya ini.
Tanpa ragu sedetikpun, kuserahkan semua yang ada ditanganku. “Ambillah, beri dia makan”, kataku pada si ibu.
Demi Allah, padahal waktu itu tak sesen pun dinar atau dirham kumiliki. Sementara di rumah, keluargaku sangat memerlukan makanan itu.
Spontan, si ibu tak dapat membendung air matanya(menangis) dan si kecilpun tersenyum indah bak purnama.
Kutinggalkan mereka berdua dan kulanjutkan langkah kakiku,
sementara beban hidup terus bergelutan dipikiranku.
Sejenak, kusandarkan tubuh ini di sebuah dinding, sambil terus memikirkan rencanaku menjual rumah.
Dalam posisi seperti itu, tiba-tiba Abu Nashr dengan kegirangan mendatangiku.
“Hei, Abu Muhammad...!
Kenapa kau duduk duduk di sini sementara limpahan harta sedang memenuhi rumahmu?”, tanyanya.
"Masyaallah....!”,
jawabku terkejut.
“Dari mana datangnya?”
“Tadi ada lelaki datang dari Khurasan.
Dia bertanya-tanya tentang ayahmu atau siapapun yang punya hubungan kerabat dengannya.
Dia membawa berduyun-duyun kenderaan barang penuh berisi harta,” ujarnya.
“Jadi?”, tanyaku kehairanan.
“Dia itu dahulu saudagar kaya di Basrah ini. Kawan ayahmu,dulu ayahmu pernah memberikan kepadanya harta yang telah
ia kumpulkan selama 30 tahun.
Lantas dia rugi besar dan bangkrap.
Semua hartanya musnah, termasuk harta ayahmu.Lalu dia lari meninggalkan kota ini menuju Khurasan.
Di sana, keadaan ekonominya beransur-ansur baik.
Bisnesnya meningkat jaya.
Kesulitan hidupnya perlahan-lahan pergi,
berganti dengan limpahan kekayaan.
Lantas dia kembali ke kota ini, ingin meminta maaf dan memohon keikhlasan ayahmu atau keluarganya atas kesalahannya yang lalu.
Maka sekarang, dia datang membawa seluruh harta hasil keuntungan niaganya yang telah dia kumpulkan selama 30 tahun berniaga dan ingin berikan semuanya kepadamu,
berharap ayahmu dan keluarganya berkenan memaafkannya.”
Ahmad bin Miskin melanjutkan ceritanya:
“Kalimah puji dan syukur kepada Allah Ta'ala meluncur dari lisanku.
Sebagai bentuk syukur.
Segera kucari wanita faqir dan anaknya tadi.
Aku menyantuni dan menanggung hidup mereka seumur hidup.
Aku pun terjun di dunia perniagaan seraya menyibukkan diri dengan kegiatan sosial, sedekah, santunan dan berbagai bentuk amal solih.
Adapun hartaku, terus bertambah melimpah ruah tanpa berkurang.
Tanpa sedar, aku merasa TAKJUB dengan amal solihku.
Aku MERASA, telah MENGUKIR lembaran catatan malaikat dengan hiasan AMAL KEBAIKAN. Ada semacam HARAPAN PASTI dalam diri, bahawa namaku mungkin telah TERTULIS di sisi Allah Ta'ala dalam daftar orang orang SOLIH.
Suatu malam, aku tidur dan bermimpi.
Aku lihat, diriku tengah berhadapan dengan hari kiamat.
Aku juga lihat, manusia bagaikan berombak lautan.
Aku juga lihat, badan mereka membesar.
Dosa-dosa pada hari itu berwujud dan berupa, dan setiap orang memikul dosa-dosa itu masing-masing di punggungnya.
Bahkan aku melihat, ada seorang pendosa yang memikul di punggungnya beban besar seukuran kota Basrah,
isinya hanyalah dosa-dosa dan hal-hal yang menghinakan.
Kemudian, timbangan amal pun ditegakkan, dan tiba giliranku untuk perhitungan amal.
Seluruh amal burukku diletakkan di salah satu sisi timbangan,
sedangkan amal baikku di sisi timbangan yang lain.
Ternyata, amal burukku jauh lebih berat daripada amal baikku..!
Tapi ternyata, perhitungan belum selesai.
Mereka mulai meletakkn satu persatu berbagai jenis amal baik yang pernah kulakukan.
Namun alangkah ruginya aku.
Ternyata dibalik semua amal itu terdapat "NAFSU TERSEMBUNYI".
Nafsu tersembunyi itu adalah riya', ingin dipuji, merasa bangga dengan amal solih.
Semua itu membuat amalku tak berharga. Lebih buruk lagi, ternyata tidak ada satupun amalku yang terlepas dari nafsu-nafsu itu.Aku putus asa.
Aku yakin aku akan binasa.
Aku tidak punya alasan lagi untuk selamat dari seksa neraka.
Tiba-tiba, aku mendengar suara,
“Masihkah orang ini punya amal baik?”
“Masih...”,
jawab suara lain. “Masih berbaki ini.”
Aku pun menjadi tidak tentu, amal baik apakah gerangan yang masih berbaki?
Aku berusaha melihatnya.
Ternyata, itu HANYALAH dua LEMBAR ROTI isi manisan yang pernah kusedekahkan kepada wanita fakir dan anaknya.
Habis sudah harapanku...
Sekarang aku benar benar yakin akan binasa sebinasanya.
Bagaimana mungkin dua lembar roti ini menyelamatkanku,
sedangkan dulu aku pernah bersedekah 100 dinar sekali sedekah dan itu tidak berguna sedikit pun.
Aku merasa benar-benar tertipu habis-habisan.
Segera 2 lembar roti itu diletakkan di timbanganku.
Tak kusangka, ternyata timbangan kebaikanku bergerak
turun sedikit demi sedikit, dan terus bergerak turun sehingga lebih berat sedikit dibandingkan timbangan keburukkanku.
Tak sampai disitu, tenyata masih ada lagi amal baikku.
Iaitu berupa AIR MATA wanita faqir itu yang mengalir saat aku berikan sedekah.
Air mata tak terbendung yang mengalir kala tersentuh akan kebaikanku. Aku, yang kala itu lebih mementingkan dia dan anaknya dibanding keluargaku.
Sungguh tak terbayang, saat air mata itu diletakkan, ternyata timbangan baikku semakin turun dan terus memberat.
Hingga akhirnya aku mendengar suatu suara berkata,
“Orang ini selamat dari seksa neraka...!
Masih adakah terselit dalam hati kita nafsu ingin dilihat hebat oleh orang lain pada ibadah dan amal-amal kita..????!!!
*Payahnya IKHLAS*
Allahuakbar!!!aku bermohon kehadrat Allah Pemilik Hari Pembalasan agar diriku,keturunanku juga sahabat²ku semua dijauhkan dari sifat dan juga amal dari Nafsu Yang Tersembunyi.
Sumber tazkirah telah kupetik dari kitab"KISAH TAULADAN"
"Ar-Rafi’i dalam Qalam (2/153-160)".
semoga bersama kita beroleh manfaat.
Selamat beramal dan beristiqomah
Semoga kita amalkan dan sampaikan kpd orang lain...
IKHLASKAN DIRI KERANA ALLAHswt..
*Pesan Pada Hati
Rabu, 01 November 2017
WILAYAH NOL
Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamu'alaikum
Warahmatullahi
Wabarakatuh.
Ketika Si Hamba masuk dalam wilayah NOL (yang Maha Ada yang menghendakinya untuk NOL), semua tidak menjadi acara:
Yang membenci maupun orang yang dibenci
Yang difitnah maupun yang menfitnah
Yang dikritik maupun yang mengkritik
Yang dihina maupun yang menghina
Yang dimusuhi maupun yang memusuhi
Yang memuji maupun yang dipuji
Yang disanjung maupun yang menyanjung
Yang kaya maupun yang miskin
Yang pandai maupun yang bodoh
Yang mulia maupun yang terhina
PADA HAKIKATNYA SEMUA ITU TIDAK ADA (NOL).
Kerana semua adalah permainan, pelakun, dan sandiwara belaka!
“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau” (Q.S Muhammad [47]: 36 )
Kerana yang ada hanya Dia, Dialah yang Maha Ada, Sang Sutradara dan Sang pelakun dalam kehidupan ini.
Semuanya selain Dia adalah pelaku-pelaku sandiwaraNYA, kita adalah sebagai pemain atau pelaku sandiwara dalam kehidupan ini
Kerana hakikatnya semua adalah tiada, bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa
MAKA
Ketika aku didalam diri lebur, maka muncullah AKU yang hakiki yang wujud
Ketika aku didalam diri ini mati, maka muncullah AKU yang hakiki yang HIDUP
Ketika AKU SEJATI (Tuhan) muncul, maka tiadalah aku (NOL) kerana tidak mungkin AKU SEJATI (TUHAN) bersanding dan bersekutu dengan ciptaanNYA
LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAASYARIIKALAH
TIADA TUHAN SELAIN ALLAH YANG MAHA ESA DAN TIADA SEKUTU BAGINYA
Ketika manusia lebur kedalam keesaanNYA (NOL) maka kekuatan KEHAMBAAN muncul pada diri manusia, sehingga timbullah perasaan NOL, tidak mampu, tidak boleh merasa apa-apa, kerana semuanya adalah ciptaanNYA dan kehendakNYA.
“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu." Ash Shaaffaat [37]: 96
Kerana sesungguhnya diri ini perlu kepada AKU yang hakiki (Sang Pencipta)
Sebab aku ada kerana AKU yang hakiki yang mengadakan, kerana aku (diri ini) bukanlah apa-apa dan bukanlah siapa-siapa (NOL).
Maka sumber dari semua kehidupan, ilmu pengetahuan, bahkan agamapun berasal dari AKU HAKIKI bagi yang mampu melebur kepadaNYA (NOL).
Maka bahgialah bagi diri yang hina ini bila dikaruniai untuk lebur (NOL) kedalam samudera TAUHID
Assalamu'alaikum
Warahmatullahi
Wabarakatuh.
Ketika Si Hamba masuk dalam wilayah NOL (yang Maha Ada yang menghendakinya untuk NOL), semua tidak menjadi acara:
Yang membenci maupun orang yang dibenci
Yang difitnah maupun yang menfitnah
Yang dikritik maupun yang mengkritik
Yang dihina maupun yang menghina
Yang dimusuhi maupun yang memusuhi
Yang memuji maupun yang dipuji
Yang disanjung maupun yang menyanjung
Yang kaya maupun yang miskin
Yang pandai maupun yang bodoh
Yang mulia maupun yang terhina
PADA HAKIKATNYA SEMUA ITU TIDAK ADA (NOL).
Kerana semua adalah permainan, pelakun, dan sandiwara belaka!
“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau” (Q.S Muhammad [47]: 36 )
Kerana yang ada hanya Dia, Dialah yang Maha Ada, Sang Sutradara dan Sang pelakun dalam kehidupan ini.
Semuanya selain Dia adalah pelaku-pelaku sandiwaraNYA, kita adalah sebagai pemain atau pelaku sandiwara dalam kehidupan ini
Kerana hakikatnya semua adalah tiada, bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa
MAKA
Ketika aku didalam diri lebur, maka muncullah AKU yang hakiki yang wujud
Ketika aku didalam diri ini mati, maka muncullah AKU yang hakiki yang HIDUP
Ketika AKU SEJATI (Tuhan) muncul, maka tiadalah aku (NOL) kerana tidak mungkin AKU SEJATI (TUHAN) bersanding dan bersekutu dengan ciptaanNYA
LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAASYARIIKALAH
TIADA TUHAN SELAIN ALLAH YANG MAHA ESA DAN TIADA SEKUTU BAGINYA
Ketika manusia lebur kedalam keesaanNYA (NOL) maka kekuatan KEHAMBAAN muncul pada diri manusia, sehingga timbullah perasaan NOL, tidak mampu, tidak boleh merasa apa-apa, kerana semuanya adalah ciptaanNYA dan kehendakNYA.
“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu." Ash Shaaffaat [37]: 96
Kerana sesungguhnya diri ini perlu kepada AKU yang hakiki (Sang Pencipta)
Sebab aku ada kerana AKU yang hakiki yang mengadakan, kerana aku (diri ini) bukanlah apa-apa dan bukanlah siapa-siapa (NOL).
Maka sumber dari semua kehidupan, ilmu pengetahuan, bahkan agamapun berasal dari AKU HAKIKI bagi yang mampu melebur kepadaNYA (NOL).
Maka bahgialah bagi diri yang hina ini bila dikaruniai untuk lebur (NOL) kedalam samudera TAUHID
.MEGENAL DIRI MELALUI PERBEDAAN FAHAMAN?
Bismillahirrahmanirrahiim.
Assalamu'alaikum
Warahmatullahi
Wabarakatuh.
TAMPA HIJAB KITA TIDAK AKAN DAPAT DAN
TIDAK AKAN BOLEH MELIHAT DAN MEMAND-
ANG) ALLAH SWT.
HIJAB ALLAH ITU,
ADALAH DIRI MAKHLUK ITU SENDIRI.DIMASA ALLAH BERSENDIRIAN
TAMPA KEJADIAN MAKHLUK TAMPA HIJAB,
TIDAK ADA SIAPA YANG KENAL ALLAH DAN TIDAK ADA SIAPA YANG
MENYEMBAH ALLAH.
SEUMPAMA PEMERINT-
AH) RAJA TAMPA RAKYAT. SIAPALAH RAJA
TAMPA RAKYAT,SIAPA
YANG AKAN MENYEMB-
AH) RAJA.BEGITUJUGA
ALLAH SWT,ALLAH ITU HANYA BOLEH DISEMBAH SETELAH TERCIPTA NYA SETELAH
WUJUDNYA MAKHLUK.
BILA WUJUD MAKHLUK, MAKA WUJUDLAH HIJAB.
MAKHLUK ATAU DIRI KITA ITULAH, YANG DIKATAKAN SEBENAR-BENAR HIJAB DIANTARA
ALLAH DENGAN KITA,
KERANA MAKHLUK ITU
SENDIRI HIJAB ALLAH TA'ALA.UNTUK MENGEN-
AL) DAN MEMANDANG
ALLAH ITU, LIHAT DAN
PANDANLAH HIJAB DIRI
SENDIRI. BILAMANA KITA
SUDAH DAPAT MENGEN-
AL) HIJAB MENGENAL DIRI,MAKA AKAN TERBUKALAH HIJAB ITU
SEUMPAMA KITA TANGGAL BAJU DARI BADAN.YANG DIBUKA DAN YANG DITINGGAL
KAN ITU ADALAH MERUPAKAN BAJU, TETAPI YANG DILIHAT, DIPANDANG DAN YANG
DIKENALI ITU JASAD. BAJU YANG DIBUKA TETAPI JASAD YANG DIKENAL.DIBUKANYA BAJU,BUKAN BERTUJU-
AN) UNTUK MENGENAL
BAJU. TUJUAN BAJU DITANGGAL ADALAH UNTUK MELIHAT DAN MENGENAL DIRI, SEBAGAI TUAN YANG EMPUNYA BAJU. BILAMANA BAJU DIRI
DAPAT DITINGGAL,MAKA
YANG AKAN TERPANDA-
NG) ITU ADALAH DIRI
KITA SENDIRI DIRI YANG ASLI BERMAKNA NYA DI
SINI BAHAWA,UNTUK MELIHAT DAN MEMAND-ANG) ALLAH TA'ALA ITU,
HENDAKLAH KITA TERLEBIH DAHULU MENGENAL DIRI SEUMPAMA MENANGG-
ALKAN) BAJU YANG TERLEKAT DI BADAN. BAYU ITULAH HIJAB YANG MERUPAKAN PENITUP TUBUH BADAN
KITA DIKENALI. BEGITU JUGA HALNYA DALAM PERKARA MENUJU JALAN MEGENAL ALLAH TA'ALA. DIRI KITA SENDIRI ITULAH SEBENAR NYA YANG DIKATAKAN HIJAB, PENUTUP, DINDING,
PEMISAH DAN SEMPAD-
AN) DARI MELIHAT DAN MEMANDANG ALLAH TA'ALA. OLEH ITU SEDAR
LAH WAHAI SEKALIAN UMAT NABI MUHAMMAD BAHAWASANYA ALLAH
ITU, HANYA BOLEH DIKENAL,DILIHAT, DIPANDANG DAN DISEM-
BAH) SETELAH ADANYA
MAKHLUK DAN MAKHL-
UK) ITU SENDIRILAH HIJAB ALLAH. BILAMA-
NA) KITA DAPAT MENGENAL MAKHLUK KENAL DIRI, BERETI DENGAN SENDIRINYA AKAN KENALLAH KITA KEPADA ALLAH SWT.
BILAMANA MAKHLUK TELAH DAPAT MENGEN-
AL) MAKLUK BILA DIRI TELAH DAPAT MEGENAL
DIRINYA SENDIRI. MAKA
AKAN TERBUKALAH HIJAB ALLAH.BILA TERBUKA DAN TERSING-
KAPNYA) HIJAB, DISITU
LAH ALLAH AKAN DAPAT
KITA INGAT DAN KITA KENAL DENGAN SETERANG-TERANG DAN
SENYATA-YATANYA.
HIJAB ITU BERUPA JASAD SIFAT TUBUH BADAN,SEUMPAMA SIFAT
TUBUH BADAN BINATANG. BILA KITA LIHAT KEPADA SIFAT FIZIKAL TUBUH BADAN BINATANG, KITA DAPAT
BEZAKAN ANTARA KERA
DENGAN BERUK,KANCIL
DENGAN PELANDUK DAN PERBEZAAN ANTARA SIFAT LEMBU DENGAN KERBAU. APA LAGI JIKA
DIBANDINGKAN ANTARA
PERBEZAAN SIFAT MANUSIA DENGAN SIFAT
BINATANG.JIKA KITA HANYA MEMANDANG KEPADA SIFAT FIZIKAL LAHIRIAH,DI SITULAH KITA AKAN TERHIJAB
DARI MEMANDANG HAKIKAT SIFAT YANG SEBENAR. HAKIKAT SEBENAR KEPADA SIFAT
TUBUH BADAN DIRI ZAHIRIAH ITU, ADALAH ROH, YANG TERKANDU-
NG) DIDALAM JASAD MASING-MASING.YANG
MENGHIJAB MATA KITA
DARI MELIHAT ALLAH SWTITU, ADALAH DIRI ATAU SIFAT TUBUH BADAN KITA SENDIRI. JIKA KITA DAPAT MEMBUKA HIJAB TUBUH
BADAN ZAHIR.MAKA DI
SITULAH KITA AKAN DAPAT MELIHAT ALLAH SWT.
DARISEGI SIFAT ATAU TUBUH DIRI ROHANI KITA
TIDAK ADA PERBEZAAN
DENGAN SIFAT ATAU BENTUK TUBUH DIRI ROHANI BINATANG.
HAKIKAT SEBENAR DIRI KITA DAN HAKIKAT SEBENAR DIRI BINATANG
ITU,YANG SEBENAR NYA ADALAH SAMA DAN SERUPA.YANG MEMBEZ-
AKAN) SIFAT KITA DENGAN BINATANG ITU,
HANYA DARI SEGI BENTUK FIZIKAL LAHIRIAH NYA SAHAJA,
PADA HAKIKAT SEBENAR
KITA, INI ADALAH SATU DAN SAMA SATU ROH.....
Assalamu'alaikum
Warahmatullahi
Wabarakatuh.
TAMPA HIJAB KITA TIDAK AKAN DAPAT DAN
TIDAK AKAN BOLEH MELIHAT DAN MEMAND-
ANG) ALLAH SWT.
HIJAB ALLAH ITU,
ADALAH DIRI MAKHLUK ITU SENDIRI.DIMASA ALLAH BERSENDIRIAN
TAMPA KEJADIAN MAKHLUK TAMPA HIJAB,
TIDAK ADA SIAPA YANG KENAL ALLAH DAN TIDAK ADA SIAPA YANG
MENYEMBAH ALLAH.
SEUMPAMA PEMERINT-
AH) RAJA TAMPA RAKYAT. SIAPALAH RAJA
TAMPA RAKYAT,SIAPA
YANG AKAN MENYEMB-
AH) RAJA.BEGITUJUGA
ALLAH SWT,ALLAH ITU HANYA BOLEH DISEMBAH SETELAH TERCIPTA NYA SETELAH
WUJUDNYA MAKHLUK.
BILA WUJUD MAKHLUK, MAKA WUJUDLAH HIJAB.
MAKHLUK ATAU DIRI KITA ITULAH, YANG DIKATAKAN SEBENAR-BENAR HIJAB DIANTARA
ALLAH DENGAN KITA,
KERANA MAKHLUK ITU
SENDIRI HIJAB ALLAH TA'ALA.UNTUK MENGEN-
AL) DAN MEMANDANG
ALLAH ITU, LIHAT DAN
PANDANLAH HIJAB DIRI
SENDIRI. BILAMANA KITA
SUDAH DAPAT MENGEN-
AL) HIJAB MENGENAL DIRI,MAKA AKAN TERBUKALAH HIJAB ITU
SEUMPAMA KITA TANGGAL BAJU DARI BADAN.YANG DIBUKA DAN YANG DITINGGAL
KAN ITU ADALAH MERUPAKAN BAJU, TETAPI YANG DILIHAT, DIPANDANG DAN YANG
DIKENALI ITU JASAD. BAJU YANG DIBUKA TETAPI JASAD YANG DIKENAL.DIBUKANYA BAJU,BUKAN BERTUJU-
AN) UNTUK MENGENAL
BAJU. TUJUAN BAJU DITANGGAL ADALAH UNTUK MELIHAT DAN MENGENAL DIRI, SEBAGAI TUAN YANG EMPUNYA BAJU. BILAMANA BAJU DIRI
DAPAT DITINGGAL,MAKA
YANG AKAN TERPANDA-
NG) ITU ADALAH DIRI
KITA SENDIRI DIRI YANG ASLI BERMAKNA NYA DI
SINI BAHAWA,UNTUK MELIHAT DAN MEMAND-ANG) ALLAH TA'ALA ITU,
HENDAKLAH KITA TERLEBIH DAHULU MENGENAL DIRI SEUMPAMA MENANGG-
ALKAN) BAJU YANG TERLEKAT DI BADAN. BAYU ITULAH HIJAB YANG MERUPAKAN PENITUP TUBUH BADAN
KITA DIKENALI. BEGITU JUGA HALNYA DALAM PERKARA MENUJU JALAN MEGENAL ALLAH TA'ALA. DIRI KITA SENDIRI ITULAH SEBENAR NYA YANG DIKATAKAN HIJAB, PENUTUP, DINDING,
PEMISAH DAN SEMPAD-
AN) DARI MELIHAT DAN MEMANDANG ALLAH TA'ALA. OLEH ITU SEDAR
LAH WAHAI SEKALIAN UMAT NABI MUHAMMAD BAHAWASANYA ALLAH
ITU, HANYA BOLEH DIKENAL,DILIHAT, DIPANDANG DAN DISEM-
BAH) SETELAH ADANYA
MAKHLUK DAN MAKHL-
UK) ITU SENDIRILAH HIJAB ALLAH. BILAMA-
NA) KITA DAPAT MENGENAL MAKHLUK KENAL DIRI, BERETI DENGAN SENDIRINYA AKAN KENALLAH KITA KEPADA ALLAH SWT.
BILAMANA MAKHLUK TELAH DAPAT MENGEN-
AL) MAKLUK BILA DIRI TELAH DAPAT MEGENAL
DIRINYA SENDIRI. MAKA
AKAN TERBUKALAH HIJAB ALLAH.BILA TERBUKA DAN TERSING-
KAPNYA) HIJAB, DISITU
LAH ALLAH AKAN DAPAT
KITA INGAT DAN KITA KENAL DENGAN SETERANG-TERANG DAN
SENYATA-YATANYA.
HIJAB ITU BERUPA JASAD SIFAT TUBUH BADAN,SEUMPAMA SIFAT
TUBUH BADAN BINATANG. BILA KITA LIHAT KEPADA SIFAT FIZIKAL TUBUH BADAN BINATANG, KITA DAPAT
BEZAKAN ANTARA KERA
DENGAN BERUK,KANCIL
DENGAN PELANDUK DAN PERBEZAAN ANTARA SIFAT LEMBU DENGAN KERBAU. APA LAGI JIKA
DIBANDINGKAN ANTARA
PERBEZAAN SIFAT MANUSIA DENGAN SIFAT
BINATANG.JIKA KITA HANYA MEMANDANG KEPADA SIFAT FIZIKAL LAHIRIAH,DI SITULAH KITA AKAN TERHIJAB
DARI MEMANDANG HAKIKAT SIFAT YANG SEBENAR. HAKIKAT SEBENAR KEPADA SIFAT
TUBUH BADAN DIRI ZAHIRIAH ITU, ADALAH ROH, YANG TERKANDU-
NG) DIDALAM JASAD MASING-MASING.YANG
MENGHIJAB MATA KITA
DARI MELIHAT ALLAH SWTITU, ADALAH DIRI ATAU SIFAT TUBUH BADAN KITA SENDIRI. JIKA KITA DAPAT MEMBUKA HIJAB TUBUH
BADAN ZAHIR.MAKA DI
SITULAH KITA AKAN DAPAT MELIHAT ALLAH SWT.
DARISEGI SIFAT ATAU TUBUH DIRI ROHANI KITA
TIDAK ADA PERBEZAAN
DENGAN SIFAT ATAU BENTUK TUBUH DIRI ROHANI BINATANG.
HAKIKAT SEBENAR DIRI KITA DAN HAKIKAT SEBENAR DIRI BINATANG
ITU,YANG SEBENAR NYA ADALAH SAMA DAN SERUPA.YANG MEMBEZ-
AKAN) SIFAT KITA DENGAN BINATANG ITU,
HANYA DARI SEGI BENTUK FIZIKAL LAHIRIAH NYA SAHAJA,
PADA HAKIKAT SEBENAR
KITA, INI ADALAH SATU DAN SAMA SATU ROH.....
TENTANG SOLAT
Bismillahirrahmanirrahiim.
Assalamu'alaikum
Warahmatullahi
Wabarakatuh.
Sebelum kita memulakan solat terlebih dahulu kita fahami akan PERATURAN & PEGANGAN dalam solat itu kerana ia amat PENTING bagi kita. Tanpa pengertian ini, solat kita tidak akan diterima oleh Allah dan tidak diakui oleh Nabi Muhammad SAW.
Sabda Nabi SAW:
Sollu kama roai tumuni usolli
Sembahyanglah kamu sebagaimana kamu lihat aku
sembahyang.
Perkara perkara itu adalah :-
1. AHDAH
Kita hendaklah mengerti bahawa ZAT YANG QODIM itulah
DIRI BAGI MUHAMMAD ( ruh ) kerana AHDAH itulah
MERTABAT ZAT atau MUHAMMAD AWAL ( Ta'ain Awal )
2. WAHDAH
Sesungguhnya SEGALA PERBUATAN dan KEJADIAN itu DARI
NUR MUHAMMAD…DIRI bagi ADAM ( Tubuh ) kerana ia
adalah MERTABAT TA'AIN TSANI ..SIFAT bagi ZAT.
3. WAHDIAH
PENGAKUAN kita pada Allah kerana MENERIMA JASAD,
hakikatnya ialah KUDRAT & IRADAT Allah jua didalam
sembahyang itu atau dengan kata lain YANG SEMBAHYANG
ITU adalah RUH atau ZATUL BUKTI. Hilangkan perasaan kita
pada pebuatan kita. YAND ADA HANYA DIRINYA semata-
mata.
La failun filsolati bihakikati illallah
Tidak ada perbuatan dalam solat itu melainkan Allah.
4. MIKRAJ
Semasa kita mengatakan ALLAH HU AKBAR maka yang naik
atau MIKRAJ ialah KUDRAT & IRADAT Allah jua beserta
naiknya NAFAS kita . Maka hilanglah UJUD kita pada
UJUDNYA dibawa WAHDATUL AF'AL.
5. IHRAM – TERCENGANG
Hilang perasaan kita ketika mengatakan ALLAH HU AKBAR ,fana'kan perasaan kita sampai kepada LA HAULAWALA QUWWATA ILLA BILLAHI ALIYYU ADZIM.
6. TUBADIL – TERGANTI
Gantikan pakaian zahir atau perbuatan zahir dengan
perbuatanNYA. Jadi yang sembahyang itu adalah DIA juga pada hakikatnya.
7. MUNAJAT – PERMOHONAN
Yang meminta itu adalah sebenarnya KUDRAT IRADATNYA
jua…maknanya diri kita bermunajat dengan HAKIKATNYA.
Assalamu'alaikum
Warahmatullahi
Wabarakatuh.
Sebelum kita memulakan solat terlebih dahulu kita fahami akan PERATURAN & PEGANGAN dalam solat itu kerana ia amat PENTING bagi kita. Tanpa pengertian ini, solat kita tidak akan diterima oleh Allah dan tidak diakui oleh Nabi Muhammad SAW.
Sabda Nabi SAW:
Sollu kama roai tumuni usolli
Sembahyanglah kamu sebagaimana kamu lihat aku
sembahyang.
Perkara perkara itu adalah :-
1. AHDAH
Kita hendaklah mengerti bahawa ZAT YANG QODIM itulah
DIRI BAGI MUHAMMAD ( ruh ) kerana AHDAH itulah
MERTABAT ZAT atau MUHAMMAD AWAL ( Ta'ain Awal )
2. WAHDAH
Sesungguhnya SEGALA PERBUATAN dan KEJADIAN itu DARI
NUR MUHAMMAD…DIRI bagi ADAM ( Tubuh ) kerana ia
adalah MERTABAT TA'AIN TSANI ..SIFAT bagi ZAT.
3. WAHDIAH
PENGAKUAN kita pada Allah kerana MENERIMA JASAD,
hakikatnya ialah KUDRAT & IRADAT Allah jua didalam
sembahyang itu atau dengan kata lain YANG SEMBAHYANG
ITU adalah RUH atau ZATUL BUKTI. Hilangkan perasaan kita
pada pebuatan kita. YAND ADA HANYA DIRINYA semata-
mata.
La failun filsolati bihakikati illallah
Tidak ada perbuatan dalam solat itu melainkan Allah.
4. MIKRAJ
Semasa kita mengatakan ALLAH HU AKBAR maka yang naik
atau MIKRAJ ialah KUDRAT & IRADAT Allah jua beserta
naiknya NAFAS kita . Maka hilanglah UJUD kita pada
UJUDNYA dibawa WAHDATUL AF'AL.
5. IHRAM – TERCENGANG
Hilang perasaan kita ketika mengatakan ALLAH HU AKBAR ,fana'kan perasaan kita sampai kepada LA HAULAWALA QUWWATA ILLA BILLAHI ALIYYU ADZIM.
6. TUBADIL – TERGANTI
Gantikan pakaian zahir atau perbuatan zahir dengan
perbuatanNYA. Jadi yang sembahyang itu adalah DIA juga pada hakikatnya.
7. MUNAJAT – PERMOHONAN
Yang meminta itu adalah sebenarnya KUDRAT IRADATNYA
jua…maknanya diri kita bermunajat dengan HAKIKATNYA.
"SYARIAT DAN HAKIKAT ADALAH SAMA PENTING"
Bismillahirrahmanirrahiim.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Dinul Islam itu adalah satu ajaran yang mencakup seluruh ruang hidup manusia lahir, batin, dunia dan Akhirat. Mengkaji ilmu Islam yang sangat luas ini tidak cukup kalau dibuat setakat beberapa jam sahaja dalam satu minggu sepertimana berlaku di sekolah-sekolah sekular sekarang ini. Sebab itulah hari ini, ramai umat Islam yang tidak tahu betul tentang agama anutannya sendiri sekalipun mereka beranggapan mereka lebih tahu dan faham serta berautoriti kerana mereka lulusan dari universiti Islam. Walhal hakikat sebenarnya, mereka belum mengetahuinya.
Ajaran Islam itu selain daripada ilmu usuluddin (ilmu yang mengkaji tentang ketuhanan) yang menjadi asas kepada ajaran Islam, terdapat juga ilmu syariat dan ilmu hakikat. Disebut juga keduanya sebagai ilmu feqah dan ilmu tasawuf. Kedua-duanya termasuk perkara yang penting yang turut dituntut oleh Al Quran dan Hadis. Bidang kajian ilmu syariat ialah tentang kehidupan lahiriah manusia.
1. Ilmu Syariat Definisi ilmu syariat itu ialah: hukum-hakam yang datang daripada Allah, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW terdiri daripada lima hukum iaitu wajib, sunat, haram, makruh dan harus (mubah). Dengan hukum-hakam ini, syariat menentukan seluruh kehidupan ini ada yang mesti dibuat, yakni perkara-perkara yang wajib. Ada yang elok dibuat yakni perkara sunat. Ada pula yang mesti ditinggalkan iaitu perkara haram. Manakala yang makruh elok ditinggalkan. Terdapat juga sebahagian daripada kehidupan ini yang boleh dibuat dan boleh ditinggalkan, yakni perkaraperkara yang dikategorikan sebagai harus (mubah) hukumnya. Dengan kata lain, setiap apa sahaja bidang yang kita ceburi di seluruh aspek kehidupan seperti dalam sistem pendidikan, ekonomi, pertanian, kebudayaan, teknologi dan lain-lain sistem hidup, tidak akan terlepas dari lima hukum ini.
2. Ilmu Hakikat Ilmu hakikat itu bidang kajiannya ialah tentang alam rohani atau hati nurani manusia atau mengkaji tentang sifat-sifat nafsu. Sifat-sifat nafsu yang terdiri daripada nafsu ammarah, nafsu lawwamah, nafsu mulhamah, nafsu mutmainnah, nafsu radhiah, nafsu mardhiah dan nafsu kamilah. Termasuk juga di dalamnya perihal sifat-sifat gerakan serta dorongan hati. Definisi ilmu hakikat ialah rasa-rasa hati (zauk) atau syu’ur ) yang ada di dalam hati atau jiwa manusia yang sifatnya berubah-ubah dari satu bentuk rasa kepada rasa yang lain. Bergantung kepada bentuk-bentuk rangsangan-rangsangan lahir yang mendatangi manusia itu. Ada yang mahmudah dan ada yang mazmumah.
Di antara rasa-rasa hati yang mahmudah (sifat positif) itu ialah ikhlas, cinta Allah, rasa kehebatan Allah, rasa gerun dengan Neraka, rasa berdosa, malu, rasa diawasi, kasih sayang, simpati, merendah diri, yakin, tawakal dan sebagainya. Sementara rasarasa hati yang mazmumah (sifat negatif) itu pula di antaranya riyak, ujub, sombong, pemarah, hasad, dendam, tamak, bakhil, penakut, jahat sangka dan lain-lain lagi. Rasa-rasa hati yang telah disebutkan di atas sentiasa silih berganti menguasai hati atau roh. Oleh kerana itu, hati sentiasa berbolak-balik. Sebab itulah di dalam kitab, hati berbolak-balik itu dikatakan qalbun. Tidak dinamakan hati itu melainkan kerana berbolak-baliknya. Hati juga wajib bersyariat iaitu menyuburkan sifat-sifat mahmudah. Inilah yang dikatakan syariat batin.
Jelaslah bahawa syariat dan hakikat sama pentingnya. Kita tidak boleh menolak salah satu dan mengambil salah satunya sahaja. Kedua-duanya mesti diamalkan serentak atau berjalan seiring. Oleh itu dalam siri tertib untuk mengamalkan ajaran Islam bolehlah disusun begini:
1. Syariat
2. Tareqat
3. Hakikat
4. Makrifat
Ertinya kita mulakan dengan bersyariat, kemudian bertareqat, seterusnya berhakikat dan akhirnya bermakrifat. Semuanya saling berhubungan. Hubungan antara satu dengan yang lain seolah-olah anak tangga pertama dengan berikutnya, hinggalah selesai di anak tangga tertinggi sekali. Maksudnya, mula-mula kita memahami syariat iaitu peraturan-Nya, yakni mengetahui hukum-hakam. Mana yang halal, mana yang haram, yang sunat, makruh dan mubah. Juga sah dan batal sama ada mengenai sembahyang, puasa, jihad, dakwah, ekonomi, pendidikan dan lain-lain lagi. Kemudian apabila kita mengamalkannya bersungguh-sungguh dan istiqamah, ertinya kita telah menempuh jalan-Nya iaitu yang dikatakan tareqat. Yakni mengamalkan apa yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang secara serius.
Jadi tidaklah salah kalau syariat itu disebut jalan. Cuma be-lum ditempuhi jalan itu hanya sekadar mengetahuinya terlebih dahulu. Bila jalan tadi telah ditempuh atau digunakan, barulah dinamakan tareqat.
Syariat dan tareqat itu kalau dibuat dengan faham dan di-hayati akan berlakulah nanti ahwal (perubahan jiwa) atau perubahan peringkat-peringkat nafsu. Misalnya perubahan rasa kehambaan, rasa cinta kepada Allah, rasa rendah diri kepada Tuhan, rasa tawakal, rasa penyerahan diri, rasa berani, rasa kasih sayang sesama makhluk, rasa redha, rasa sabar, rasa ikhlas kepada Allah dan mahmudah-mahmudah yang lainnya. Atau kalau hendak dinisbahkan pada peringkat nafsu, prosesnya berlaku daripada nafsu ammarah kepada nafsu lawwamah, berperingkat-peringkat sehinggalah ke peringkat kemuncak kebersihan nafsu iaitu nafsu kamilah.
Orang yang mendapat ahwal (perubahan jiwa) secara istiqamah (tetap tidak turun naik), inilah yang dikatakan telah mendapat maqam. Yakni dia mendapat darjat mengikut sifat mahmudah yang diperolehinya. Biasanya ia berlaku bertahap-tahap. Umpamanya maqam sabar, maqam tawakal, maqam redha sehinggalah kesemua sifat-sifat mahmudah itu diperolehi secara tetap (istiqamah). Boleh jadi ada yang mendapat secara serentak sifat-sifat mahmudah itu. Inilah juga yang dikatakan dia telah mendapat hakikat. Iaitu mendapat intipati Islam (lubbun).
Erti lain maksud hakikat itu ialah batin Islam atau intipati Islam (lubbun). Bilamana hal-hal hakikat tadi dapat dialami secara kekal (istiqamah) berterusan, bahkan makin menebal dan subur, maka akan terbukalah nanti rahsia-rahsia ghaib atau rahsia Allah. Ini sangat sulit untuk digambarkan kecuali dirasai oleh orang-orang yang mengalami dan merasainya.
Sebagaimana lautan dalam yang penuh dengan pelbagai misteri, bukan semua orang dapat mengetahui rahsia di dalamnya kecuali yang ahli tentangnya sahaja. Itupun perlu dibantu dengan peralatan yang canggih, barulah dapat menyelami hingga ke dasarnya. Sehingga terbongkarlah pelbagai rahsia yang tidak pernah diketahui oleh manusia lain selama ini. Kebanyakan orang hanya tahu di permukaannya sahaja.
Hasil berhakikat pula kita akan mendapat makrifat. Iaitu sampai ke peringkat hal-hal hakikat dapat dialami secara istiqamah. Allah akan kurniakan satu peringkat kemuncak yang mana dapat mencapai ke satu tahap keyakinan yang tertinggi. Di waktu itu, dia telah sampai ke peringkat makrifat, yakni dapat benar-benar mengenal Allah dan rahsia-rahsia-Nya. Gelaran untuk mereka ini lebih dikenali sebagai al ‘arifbillah.
Bandingan adalah seperti berikut. Mula-mula kita semai sebiji benih. Kemudian ia tumbuh menjadi sebatang pokok. Pokok itu akhirnya berbuah dan buah itu bila masak memberikan kita kesedapan rasanya, yang tidak dapat kita ceritakan pada orang yang tidak memakannya.
Maka:
. biji benih itu umpama syariat.
. menanam pokok itu umpama tareqat.
. buah itu umpama hakikat.
. rasa buah itu umpama makrifat.
Sebab itu dikatakan syariat menghasilkan tareqat. Tareqat membuahkan hakikat. Hakikat buahnya adalah makrifat. Semuanya saling melengkapi, perlu-memerlukan, sandar-menyandar dan mesti berjalan seiring. Yang lahir menggambarkan yang batin. Maka kalau dipisah-pisahkan, akan cacat dan rosaklah keislaman seseorang itu.
Imam Malik r.hm. berkata: “Barangsiapa berfeqah (syariat) tanpa tasawuf (hakikat), maka ia jadi fasik. Barangsiapa bertasawuf (hakikat) tanpa feqah (syariat), maka ia jadi kafir zindik (kafir secara tidak sedar).”
Supaya lebih jelas lagi, mari kita lihat contoh-contoh berikut:
1. Berfeqah tanpa tasawuf Seseorang itu hanya melakukan amalan-amalan lahir. Katalah semua rukun Islam yang lima itu beres dilakukannya. Ditambah lagi dengan berjuang fisabilillah, berdakwah, belajar, mengajar, menziarah, berkorban dan menutup aurat. Dijaga juga dari melakukan perkara-perkara lahir yang haram dan makruh. Ditambah lagi dengan amalan-amalan sunat. Pendek kata, semua perintah atau larangan lahir ditaati, tetapi amalan batin yakni hatinya tidak diambil pusing.
Dibiarkan saja riyak, ujub, gila nama, ingin glamour, sombong, tamak, bakhil, pemarah, dendam, dengki, cinta dunia dan lain-lain lagi sifat negatif mencorak sikapnya. Inilah dia orang syariat atau orang berfeqah sahaja. Pada pandangan mata lahir, dia seorang yang sangat baik kerana hukum Islam yang lahir sangat dijaganya. Tetapi di sisi Allah orang ini masih berdosa, yakni derhaka pada Allah kerana dia tidak menjalankan syariat batin yang diperintahkan oleh Allah. Lihatlah sabda Rasulullah SAW:
Maksudnya: “Sesungguhnya Allah Taala tidak memandang gambaran rupa kamu dan tidak kepada bangsa kamu dan tidak kepada harta benda kamu tapi Dia memandang hati kamu dan amalan-amalan kamu.” (Riwayat At Tabrani)
Maka orang yang melanggar syariat batin ini, Imam Malik menjatuhkan hukum fasik. Yakni orang berdosa, kalau mati tanpa taubat akan masuk Neraka tetapi tidak kekal di dalam Neraka.
2. Bertasawuf tanpa feqah Seseorang yang menjaga hati sahaja, seluruh atau sebahagian dari syariat batin (amalan batin) tetapi menolak dan meninggalkan syariat lahir semua sekali. Katakanlah dia sangat menjagai hati dari hasad, dendam, pemarah, jahat sangka di samping menyuburkan kasih sayang, simpati, tawakal, tawadhuk, sabar dan lain-lain sifat mahmudah lagi. Tetapi dia tidak melaksanakan rukun Islam yang lima dan lain-lain lagi. Inilah orang yang berhakikat tetapi menafikan syariat. Pada Imam Malik, orang ini dikatakan kafir zindiq iaitu kafir secara tidak sedar. Bila mati tanpa taubat, akan dimasukkan ke Neraka dan kekal di dalam-nya. Wal’iyazubillah.
Dalam masyarakat hari ini banyak kita temui mereka yang memisahkan ajaran Islam dan beramal dengan salah satu dari-nya. Ada yang bersyariat sahaja. Ada yang berhakikat saja. Bahkan ada yang meninggalkan kedua-duanya sekali. Hal ini sebenarnya menyimpang dari ajaran Islam. Islam yang sebenarnya bukan begitu. Ia mesti diamalkan serentak antara syariat dan hakikat. Bila diamalkan, kita akan memperolehi hasilnya iaitu makrifatullah. Seperti sebiji buah, ada yang jadi kulit, ada isi dan ada rasa. Mana boleh kita pisahkan-pisahkan antara ketiga-tiganya. Semuanya mesti bagus, barulah kita mengatakan buah itu bagus. Kalau kulit saja busuk, tentu sudah ditolak orang kerana dikatakan buah itu tidak bagus.
Kesimpulannya, Islam seseorang itu hanya akan sempurna kalau dia mengamalkan syariat, tareqat dan hakikat secara serentak. Maka layaklah ia digelar taslim, yakni tunduk lahir dan batin. Siapa yang tidak sedemikian halnya maka Allah menempelak dengan firman-Nya: “Mereka bercakap dengan mulut mereka tetapi tidak seperti dalam hati-hati mereka.” (Ali Imran: 167)
Ciri-ciri yang menyamai sifat orang munafik yang lahirnya lain, dalam hati pula lain. Moga-moga kita diberi hidayah dan taufik dari Allah SWT.
Aamiin Allahumma Aamiin.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Dinul Islam itu adalah satu ajaran yang mencakup seluruh ruang hidup manusia lahir, batin, dunia dan Akhirat. Mengkaji ilmu Islam yang sangat luas ini tidak cukup kalau dibuat setakat beberapa jam sahaja dalam satu minggu sepertimana berlaku di sekolah-sekolah sekular sekarang ini. Sebab itulah hari ini, ramai umat Islam yang tidak tahu betul tentang agama anutannya sendiri sekalipun mereka beranggapan mereka lebih tahu dan faham serta berautoriti kerana mereka lulusan dari universiti Islam. Walhal hakikat sebenarnya, mereka belum mengetahuinya.
Ajaran Islam itu selain daripada ilmu usuluddin (ilmu yang mengkaji tentang ketuhanan) yang menjadi asas kepada ajaran Islam, terdapat juga ilmu syariat dan ilmu hakikat. Disebut juga keduanya sebagai ilmu feqah dan ilmu tasawuf. Kedua-duanya termasuk perkara yang penting yang turut dituntut oleh Al Quran dan Hadis. Bidang kajian ilmu syariat ialah tentang kehidupan lahiriah manusia.
1. Ilmu Syariat Definisi ilmu syariat itu ialah: hukum-hakam yang datang daripada Allah, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW terdiri daripada lima hukum iaitu wajib, sunat, haram, makruh dan harus (mubah). Dengan hukum-hakam ini, syariat menentukan seluruh kehidupan ini ada yang mesti dibuat, yakni perkara-perkara yang wajib. Ada yang elok dibuat yakni perkara sunat. Ada pula yang mesti ditinggalkan iaitu perkara haram. Manakala yang makruh elok ditinggalkan. Terdapat juga sebahagian daripada kehidupan ini yang boleh dibuat dan boleh ditinggalkan, yakni perkaraperkara yang dikategorikan sebagai harus (mubah) hukumnya. Dengan kata lain, setiap apa sahaja bidang yang kita ceburi di seluruh aspek kehidupan seperti dalam sistem pendidikan, ekonomi, pertanian, kebudayaan, teknologi dan lain-lain sistem hidup, tidak akan terlepas dari lima hukum ini.
2. Ilmu Hakikat Ilmu hakikat itu bidang kajiannya ialah tentang alam rohani atau hati nurani manusia atau mengkaji tentang sifat-sifat nafsu. Sifat-sifat nafsu yang terdiri daripada nafsu ammarah, nafsu lawwamah, nafsu mulhamah, nafsu mutmainnah, nafsu radhiah, nafsu mardhiah dan nafsu kamilah. Termasuk juga di dalamnya perihal sifat-sifat gerakan serta dorongan hati. Definisi ilmu hakikat ialah rasa-rasa hati (zauk) atau syu’ur ) yang ada di dalam hati atau jiwa manusia yang sifatnya berubah-ubah dari satu bentuk rasa kepada rasa yang lain. Bergantung kepada bentuk-bentuk rangsangan-rangsangan lahir yang mendatangi manusia itu. Ada yang mahmudah dan ada yang mazmumah.
Di antara rasa-rasa hati yang mahmudah (sifat positif) itu ialah ikhlas, cinta Allah, rasa kehebatan Allah, rasa gerun dengan Neraka, rasa berdosa, malu, rasa diawasi, kasih sayang, simpati, merendah diri, yakin, tawakal dan sebagainya. Sementara rasarasa hati yang mazmumah (sifat negatif) itu pula di antaranya riyak, ujub, sombong, pemarah, hasad, dendam, tamak, bakhil, penakut, jahat sangka dan lain-lain lagi. Rasa-rasa hati yang telah disebutkan di atas sentiasa silih berganti menguasai hati atau roh. Oleh kerana itu, hati sentiasa berbolak-balik. Sebab itulah di dalam kitab, hati berbolak-balik itu dikatakan qalbun. Tidak dinamakan hati itu melainkan kerana berbolak-baliknya. Hati juga wajib bersyariat iaitu menyuburkan sifat-sifat mahmudah. Inilah yang dikatakan syariat batin.
Jelaslah bahawa syariat dan hakikat sama pentingnya. Kita tidak boleh menolak salah satu dan mengambil salah satunya sahaja. Kedua-duanya mesti diamalkan serentak atau berjalan seiring. Oleh itu dalam siri tertib untuk mengamalkan ajaran Islam bolehlah disusun begini:
1. Syariat
2. Tareqat
3. Hakikat
4. Makrifat
Ertinya kita mulakan dengan bersyariat, kemudian bertareqat, seterusnya berhakikat dan akhirnya bermakrifat. Semuanya saling berhubungan. Hubungan antara satu dengan yang lain seolah-olah anak tangga pertama dengan berikutnya, hinggalah selesai di anak tangga tertinggi sekali. Maksudnya, mula-mula kita memahami syariat iaitu peraturan-Nya, yakni mengetahui hukum-hakam. Mana yang halal, mana yang haram, yang sunat, makruh dan mubah. Juga sah dan batal sama ada mengenai sembahyang, puasa, jihad, dakwah, ekonomi, pendidikan dan lain-lain lagi. Kemudian apabila kita mengamalkannya bersungguh-sungguh dan istiqamah, ertinya kita telah menempuh jalan-Nya iaitu yang dikatakan tareqat. Yakni mengamalkan apa yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang secara serius.
Jadi tidaklah salah kalau syariat itu disebut jalan. Cuma be-lum ditempuhi jalan itu hanya sekadar mengetahuinya terlebih dahulu. Bila jalan tadi telah ditempuh atau digunakan, barulah dinamakan tareqat.
Syariat dan tareqat itu kalau dibuat dengan faham dan di-hayati akan berlakulah nanti ahwal (perubahan jiwa) atau perubahan peringkat-peringkat nafsu. Misalnya perubahan rasa kehambaan, rasa cinta kepada Allah, rasa rendah diri kepada Tuhan, rasa tawakal, rasa penyerahan diri, rasa berani, rasa kasih sayang sesama makhluk, rasa redha, rasa sabar, rasa ikhlas kepada Allah dan mahmudah-mahmudah yang lainnya. Atau kalau hendak dinisbahkan pada peringkat nafsu, prosesnya berlaku daripada nafsu ammarah kepada nafsu lawwamah, berperingkat-peringkat sehinggalah ke peringkat kemuncak kebersihan nafsu iaitu nafsu kamilah.
Orang yang mendapat ahwal (perubahan jiwa) secara istiqamah (tetap tidak turun naik), inilah yang dikatakan telah mendapat maqam. Yakni dia mendapat darjat mengikut sifat mahmudah yang diperolehinya. Biasanya ia berlaku bertahap-tahap. Umpamanya maqam sabar, maqam tawakal, maqam redha sehinggalah kesemua sifat-sifat mahmudah itu diperolehi secara tetap (istiqamah). Boleh jadi ada yang mendapat secara serentak sifat-sifat mahmudah itu. Inilah juga yang dikatakan dia telah mendapat hakikat. Iaitu mendapat intipati Islam (lubbun).
Erti lain maksud hakikat itu ialah batin Islam atau intipati Islam (lubbun). Bilamana hal-hal hakikat tadi dapat dialami secara kekal (istiqamah) berterusan, bahkan makin menebal dan subur, maka akan terbukalah nanti rahsia-rahsia ghaib atau rahsia Allah. Ini sangat sulit untuk digambarkan kecuali dirasai oleh orang-orang yang mengalami dan merasainya.
Sebagaimana lautan dalam yang penuh dengan pelbagai misteri, bukan semua orang dapat mengetahui rahsia di dalamnya kecuali yang ahli tentangnya sahaja. Itupun perlu dibantu dengan peralatan yang canggih, barulah dapat menyelami hingga ke dasarnya. Sehingga terbongkarlah pelbagai rahsia yang tidak pernah diketahui oleh manusia lain selama ini. Kebanyakan orang hanya tahu di permukaannya sahaja.
Hasil berhakikat pula kita akan mendapat makrifat. Iaitu sampai ke peringkat hal-hal hakikat dapat dialami secara istiqamah. Allah akan kurniakan satu peringkat kemuncak yang mana dapat mencapai ke satu tahap keyakinan yang tertinggi. Di waktu itu, dia telah sampai ke peringkat makrifat, yakni dapat benar-benar mengenal Allah dan rahsia-rahsia-Nya. Gelaran untuk mereka ini lebih dikenali sebagai al ‘arifbillah.
Bandingan adalah seperti berikut. Mula-mula kita semai sebiji benih. Kemudian ia tumbuh menjadi sebatang pokok. Pokok itu akhirnya berbuah dan buah itu bila masak memberikan kita kesedapan rasanya, yang tidak dapat kita ceritakan pada orang yang tidak memakannya.
Maka:
. biji benih itu umpama syariat.
. menanam pokok itu umpama tareqat.
. buah itu umpama hakikat.
. rasa buah itu umpama makrifat.
Sebab itu dikatakan syariat menghasilkan tareqat. Tareqat membuahkan hakikat. Hakikat buahnya adalah makrifat. Semuanya saling melengkapi, perlu-memerlukan, sandar-menyandar dan mesti berjalan seiring. Yang lahir menggambarkan yang batin. Maka kalau dipisah-pisahkan, akan cacat dan rosaklah keislaman seseorang itu.
Imam Malik r.hm. berkata: “Barangsiapa berfeqah (syariat) tanpa tasawuf (hakikat), maka ia jadi fasik. Barangsiapa bertasawuf (hakikat) tanpa feqah (syariat), maka ia jadi kafir zindik (kafir secara tidak sedar).”
Supaya lebih jelas lagi, mari kita lihat contoh-contoh berikut:
1. Berfeqah tanpa tasawuf Seseorang itu hanya melakukan amalan-amalan lahir. Katalah semua rukun Islam yang lima itu beres dilakukannya. Ditambah lagi dengan berjuang fisabilillah, berdakwah, belajar, mengajar, menziarah, berkorban dan menutup aurat. Dijaga juga dari melakukan perkara-perkara lahir yang haram dan makruh. Ditambah lagi dengan amalan-amalan sunat. Pendek kata, semua perintah atau larangan lahir ditaati, tetapi amalan batin yakni hatinya tidak diambil pusing.
Dibiarkan saja riyak, ujub, gila nama, ingin glamour, sombong, tamak, bakhil, pemarah, dendam, dengki, cinta dunia dan lain-lain lagi sifat negatif mencorak sikapnya. Inilah dia orang syariat atau orang berfeqah sahaja. Pada pandangan mata lahir, dia seorang yang sangat baik kerana hukum Islam yang lahir sangat dijaganya. Tetapi di sisi Allah orang ini masih berdosa, yakni derhaka pada Allah kerana dia tidak menjalankan syariat batin yang diperintahkan oleh Allah. Lihatlah sabda Rasulullah SAW:
Maksudnya: “Sesungguhnya Allah Taala tidak memandang gambaran rupa kamu dan tidak kepada bangsa kamu dan tidak kepada harta benda kamu tapi Dia memandang hati kamu dan amalan-amalan kamu.” (Riwayat At Tabrani)
Maka orang yang melanggar syariat batin ini, Imam Malik menjatuhkan hukum fasik. Yakni orang berdosa, kalau mati tanpa taubat akan masuk Neraka tetapi tidak kekal di dalam Neraka.
2. Bertasawuf tanpa feqah Seseorang yang menjaga hati sahaja, seluruh atau sebahagian dari syariat batin (amalan batin) tetapi menolak dan meninggalkan syariat lahir semua sekali. Katakanlah dia sangat menjagai hati dari hasad, dendam, pemarah, jahat sangka di samping menyuburkan kasih sayang, simpati, tawakal, tawadhuk, sabar dan lain-lain sifat mahmudah lagi. Tetapi dia tidak melaksanakan rukun Islam yang lima dan lain-lain lagi. Inilah orang yang berhakikat tetapi menafikan syariat. Pada Imam Malik, orang ini dikatakan kafir zindiq iaitu kafir secara tidak sedar. Bila mati tanpa taubat, akan dimasukkan ke Neraka dan kekal di dalam-nya. Wal’iyazubillah.
Dalam masyarakat hari ini banyak kita temui mereka yang memisahkan ajaran Islam dan beramal dengan salah satu dari-nya. Ada yang bersyariat sahaja. Ada yang berhakikat saja. Bahkan ada yang meninggalkan kedua-duanya sekali. Hal ini sebenarnya menyimpang dari ajaran Islam. Islam yang sebenarnya bukan begitu. Ia mesti diamalkan serentak antara syariat dan hakikat. Bila diamalkan, kita akan memperolehi hasilnya iaitu makrifatullah. Seperti sebiji buah, ada yang jadi kulit, ada isi dan ada rasa. Mana boleh kita pisahkan-pisahkan antara ketiga-tiganya. Semuanya mesti bagus, barulah kita mengatakan buah itu bagus. Kalau kulit saja busuk, tentu sudah ditolak orang kerana dikatakan buah itu tidak bagus.
Kesimpulannya, Islam seseorang itu hanya akan sempurna kalau dia mengamalkan syariat, tareqat dan hakikat secara serentak. Maka layaklah ia digelar taslim, yakni tunduk lahir dan batin. Siapa yang tidak sedemikian halnya maka Allah menempelak dengan firman-Nya: “Mereka bercakap dengan mulut mereka tetapi tidak seperti dalam hati-hati mereka.” (Ali Imran: 167)
Ciri-ciri yang menyamai sifat orang munafik yang lahirnya lain, dalam hati pula lain. Moga-moga kita diberi hidayah dan taufik dari Allah SWT.
Aamiin Allahumma Aamiin.
KENALI JASAD, JIWA, RUH DAN HATI ANDA
Bismillahirrahmanirrahiim.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Pada umumnya orang hanya mengetahui manusia itu hanya terdiri dari jasad dan ruh. Mereka tidak memahami sesungguhnya manusia terdiri dari tiga unsur , iaitu:
Jasad, Jiwa dan Ruh.
Ini dapat dibuktikan dalam firman Allah Taala surah Shaad (38:71-73) yang bermaksud:
Ingatlah ketika Tuhan-MU berfirman kepada malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah KU-sempurnakan kejadiannya, maka KU-tiupkan kepadanya Ruh-KU. Maka hendaklah kamu tunduk bersujud kepadanya. Lalu seluruh malaikat itu bersujud semuannya.
Pada ayat yang lain pula, Allah menjelaskan tentang penciptaan jiwa (nafs). Surah Asy Syams (91:7-10) . Firmanya yang bermaksud:
Dan demi nafs (jiwa) serta penyempurnaannya, maka Allah ilhamkan kepada nafs itu jalan ketaqwaaan dan kefasikannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikannya dan sesungguhnnya rugilah orang yang mengotorinya.
Selain itu, Allah SWT juga berfirman dalam Al Quran tentang proses kejadian jasad (jisim). Surah Al-Mukminun (23:12-14):
Dan sesungguhnya Kami telah menciptkan manusia dari saripati dari tanah, Kemudian jadilahlah saripati itu air mani yang disimpan dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-tulang, lalu tulang-tulang ini Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk berbentuk lain, maka maha suci Allah. Pencipta yang paling baik.
Jasad
Jasad atau jisim adalah angggota tubuh manusia terdiri dari mata, mulut, telinga, tangan, kaki dan lain-lain. Ia dijadikan dari tanah liat yang termasuk dalam derejat paling rendah. Keadaannya dan sifatnya dapat mecium, meraba, melihat. Dari jasad ini timbullah kecenderungan dan keinginan yang disebut Syahwat. Ini dijelaskan dalam Al Quran Surat Ali Imran, yang bermaksud:
Dijadikan indah pada pandangan manusia , merasa kecintaan apa-apa yang dingininya (syahwat) iaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang bertimbun dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatan ternakan dan sawah ladang, Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah tempat sebaik-baik kembali.
Jiwa (Nafs)
Kebanyakan orang mengaitkannya dengan diri manusia atau jiwa. Padahal ianya berkaitan dengan derejat atau kedudukan manusia yang paling rendah dan yang paling tinggi. Jiwa ini memiliki dua jalan iaitu:
Menuju hawa nafsu (nafs sebagai hawa nafsu)
Menuju hakikat manusia (nafs sebagai diri manusia)
Hawa nafsu. Hawa nafsu lebih cenderung kepada sifat-sifat tercela, yang menyesatkan dan menjauhkan dari Allah. Sebagaimana Allah Taala berfirman surah (Shaad :26) yang bermaksud:
….. dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, kerana ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah
Kaitan hati dan hawa nafsu.
Hati memainkan peranan yang sangat penting dalam diri manusia ia menjadi sasaran utama kepada Syaitan. Syaitan sedaya upaya menutupi hati manusia dari menerima Nur llahi. Sebagaimana sabda Rasulullah yang bermaksud:
Jikalau tidak kerana syaitan-syaitan itu menutupi hati anak Adam, pasti mereka boleh milihat kerajaan langit Allah.
Cara syaitan menutupi hati manusia itu dengan cara-cara tertentu iaitu dengan menghidupkan hawa nafsu tercela dan yang membawa ke arah maksiat. Semuanya sudah tersedia berada adalam diri manusia, ianya dikenali dengan nafsu ammarah bissu, nafsu sawiyah dan nafsu lawammah...
Para ahli tasawwuf mengatakan bahawa syaitan (anak iblis) memasuki hati manusia melalui sembilan lubang anggota manusia iaitu dua lubang mata, dua lubang hidung, kedua lubang kemaluan dan lubang mulut. Buta manusia bukan buta biji matanya tetapi buta hatinya sebagaimana bukti yang dijelaskan dalam Firman Allah dalam surah (Al Hajj :46) bermaksud:
Kerana sesungguhnya bukan mata yang buta, tetapi yang buta ialah hati di dalam dada.
Mereka juga mengatakan yang membutakan hati ialah kejahilan atau tidak memahami tentang hakikat perintah Allah SWT. Kejahilan yang tidak segera diubati akan menjadi semakin bertimbun. Allah SWT berfirman dalam surah (Al Baqarah:2-9) yang bermaksud:
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka yang menipu diri sendiri, sedangkan mereka tidak menyedarinya.
Demikian bahayanya penyakit hati yang dihembuskan syaitan melalui hawa nafsu manusia. Sehingga Rasulullah pernah berpesan setelah kembali dari perang Badar. Beliau bersabda :
Musuhmu yang terbesar adalah nafsumu yang berada di antara kedua lambungmu (Riwayat Al-Baihaki)
Jihad yang paling utama adalah jihad seseorang untuk dirinya dan hawa nafsunya. (Riwayat Abnu An-Najari)
Diri Manusia
Nafs atau jiwa sebagai diri manusia adalah suatu yang paling berharga kerana ia berkaitan dengan nilai hidup manusia dan nafs yang diberi rahmat dan redha oleh Allah. Sebagaimana firmannya dalam surah (Al-Fajr : 27-30 ) yang bermaksud:
Hai jiwa yang tenang (Nafsu Mutmainnah), kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang lagi diredhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, masuklah ke dalam syurgaKu.
Dan lagi dalam surah (Yusuf: 53) yang bermaksud:
Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, kerana sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh ke arah kejahatan, kecuali nafsu yang beri rahmat oleh Tuhanku.
Berkaitan dengan sabda Rasulullah yang berbunyi:
Barang siapa yang mengenal dirinya , maka ia mengenal Tuhannya.
Hadis ini menyatakan syarat untuk mengenal Allah adalah mengenal diri. Diri atau nafs di sini adalah nafs mutmainnah iaitu nafsu yang tidak terpengaruh oleh goncangan hawa nafsu dan syahwat.
Setiap manusia mempunyai nafs yang berbeza. Ada nafs yang menuju jalan cahaya ada nafs yang menuju jalan kegelapan.
Bagi nafs yang menuju kegelapan atau nafs tercela yang tidak sempurna ketenangannya terutama ketika lupa kepada Allah disebut nafsu lawammah. Firman Allah Taala dalam surah (Al Qiyammah:2) yang bermaksud:
Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat tercela (nafsu lawammah)
Nafsu ini hanya dapat dikenali dan disaksikan dengan kemampuan tertentu manusia iaitu dengan pancaran batin. Sebagaimana firman Allah dalam surah (Al-Araaf:26) yang bermaksud:
Pakaian taqwa yang menjaga mu dari kejahatan itu adalah yang paling baik.
Ruh
Ruh mempunyai dua arah pengertian iaitu :
a. Sebagai nyawa
b. Sebagai suatu yang halus dari menusia (pemberi cahaya kepada jiwa)
Ruh sebagai nyawa kepada jasad atau tubuh . Ia ibarat sebuah lampu yang menerangi ruang. Ruh adalah lampu, ruang adalah sebagai tubuh. Jika lampu menyala maka ruangan menjadi terang. Jadi tubuh kita ini boleh hidup kerana ada ruh (nyawa)
Manakala dalam pengertian yang kedua, Ruh sebagai sesuatu yang merasa, mengerti dan mengetahui. Hal ini sangat berhubung dengan hati yang halus atau hati ruhaniyyah yang disebut sebagai Latifah Rabaniyyah (hati erti kedua)
Dalam Al-Quran kata ruh disebut dengan sebutan Ruhul Amin, Ruhul Awwal dan Ruhul Qudsiyah.
Ruhul Amin yang dimaksud adalah malaikat Jibril. Firman Allah dalam surah (Asy-Syu’ araa:192-193) yang bermaksud:
Dan sesungguhnya Al- Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, Dia dibawa oleh Ar Ruh Al –Amin (Jibril)
Ruhul Awwal yang bermaksud nyawa atau sukma bagi tubuh manusia. Sebagaimana firman Allah dalam surah (As-Sajdah:9) yang bermaksud:
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam tubuhnya Ruh-NYA dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati , tetapi kamu sedikit sekali bersyukur
Ruh Qudsiyah yang dimaksud Ruh yang datang dari Allah (bukan Jibril), tetapi yang menjadi penunjuk dan pengkhabar gembira bagi orang-orang beriman. Ini adalah ruh yang disucikan dihadirat Allah. Ia bercahaya apabila nafsu mutmainnah telah sempurna.
Hati
Hati merupakan raja bagi seluruh diri manusia dan tubuh. Perilaku dan perangai seseorang merupakan cerminan hatinya. Dari hati inilah pintu dan jalan yang dapat menghubungkan manusia dengan Allah. Dengan demikian untuk mengenal diri harus dimulai dengan mengenal hati sendiri.
Hati mempunyai dua pengertian:
Hati jasmani iaitu sepotong daging yang terletak di dada sebelah kiri, hati jenis ini hewan pun memilikinya.
Hati Ruhaniyyah iaitu sesuatu yang halus. Hati yang merasa, mengerti, mengetahui, dierpinta dituntut. Dinalai juga dengan Latifah Rabaniyyah.
Hati Ruhaniyyah inilah merupakan tempat iman dan tempat mengenal diri . Sebagaimana firman Allah dalam surah (Ar-Ra’d:28) yang bermaksud:
Iaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tanang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.
Hadis qudsi yang bermaksud:
Tidak akan cukup menanggung untuk-Ku bumi dan langit-KU tetapi cukup bagi-KU hanyalah HATI (Qalb) hambaKu yang nukamin (Riwayat Ad Darimi)
Nafsu Mutmainnah
Bila hati manusia jauh dari goncangan yang disebabkan bisikan syaitan, hawa nafsu dan syahwat , maka ia disebut nafs Mutmainnah, Apabila ia tunduk dan redha kepada Allah sepenuhnya, maka ia disebut nafs mardhiyyah (nafs yang redha)
Namun jika manusia membiarkan hatinya berada dalam pengaruh hawa nafsu dan syahwat, maka ia akan menjadi orang yang tersesat, lama kelamaan tergelicir dan dimurkai Allah, Sebagaimana Firman Allah dalam surah (Jaastsiyah:23) yang bermaksud:
Maka pernahkan kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu Nya dan Allah telah mengunci mata pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya?. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah membiarkannya sesat. Maka mengapa kamu tidak mengambil iktibarnya.
Ingat hawa nafsu dan syahwat bukan dibunuh atau dihilangkan, tetapi dikawal oleh nafsu mutmainnah. Di mana ada saatnya hawa nafsu ini perlu dikeluarkan. Sebagaimana firma Allah dalam surah (An Nazi’at:40-41) yang bermaksud:
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan manahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya.
Nah, jika hati kita telah diselubungi oleh nafsu mutmainnah, maka nafsu mutmainnah ini menjadi imam (penunjuk) bagi selruh tubuh dan dirinya, sesunggunya nafsu mutmainnah inilah disebut-sebut sebagai jati diri manusia (hakikat dari manusia). Allah berfirman dalam surah (Al Araaf:172) yang bermaksud:
Dan Ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka seraya berfirman : ”Bukankah Aku ini Tuhanmu”, mereka menjawab :”Bahkan engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi”.
Kami lakukan demikian agar di hari akhirat kelak kamu tidak mengatakan: sesungguhnya kami adalah orang-orang lalai terhadap keesaaaan-Mu.
Jika hati yang sakit, maka lupa terhadap perjanjian kita dengan Allah yang pernah diucapkan seperti dalam surah Al Araaf ayat 172 di atas.
Tapi di antara sekian banyak manusia, ada yang yang berjaya menyihatkan kembali jiwanya (nafsu mutmainnah). Apabila jiwa kita telah hidup, bercahaya, sihat kembali, maka jiwa ini akan dapat melihat kerajaan langit Allah. Dalam hal ini bila Ruhul Qudsiyah telah menyala dan bersinar , maka jadilah hatinya rumah Allah , orang-orang yang berjaya ini disebut Ahli Al- Bait. Sebagiamana firman Allah dalam surah (Ali Imran:164) yang bermaksud:
Sesunggunya Allah telah memberi kurnia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan mereka al kitab dan al hikmah. Dan sesungguhnya sebelum itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Lagi sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: Hati orang-orang beriman adalah Baitullah (Rumah Allah)
Jadi, Ruhul qudsiyah adalah kenyataan Allah dalam diri manusia. Allah Taala adalah sumber cahaya langit dan bumi dan ruhul qudsiyah adalah sumber cahaya yang ada dalam hati yang digambarkan sebagai pelita, Sebagaimana firman-Nya dalam surah (An Nuur:35) yang bermaksud:
…Allah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahayaNya adalah seperti sebuah lubang yang tak tertembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita ini di dalam kaca dan kaca ini seakan-akan bintang yang memantulkan cahaya seperti mutiara.
Salam sayang....
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Pada umumnya orang hanya mengetahui manusia itu hanya terdiri dari jasad dan ruh. Mereka tidak memahami sesungguhnya manusia terdiri dari tiga unsur , iaitu:
Jasad, Jiwa dan Ruh.
Ini dapat dibuktikan dalam firman Allah Taala surah Shaad (38:71-73) yang bermaksud:
Ingatlah ketika Tuhan-MU berfirman kepada malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah KU-sempurnakan kejadiannya, maka KU-tiupkan kepadanya Ruh-KU. Maka hendaklah kamu tunduk bersujud kepadanya. Lalu seluruh malaikat itu bersujud semuannya.
Pada ayat yang lain pula, Allah menjelaskan tentang penciptaan jiwa (nafs). Surah Asy Syams (91:7-10) . Firmanya yang bermaksud:
Dan demi nafs (jiwa) serta penyempurnaannya, maka Allah ilhamkan kepada nafs itu jalan ketaqwaaan dan kefasikannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikannya dan sesungguhnnya rugilah orang yang mengotorinya.
Selain itu, Allah SWT juga berfirman dalam Al Quran tentang proses kejadian jasad (jisim). Surah Al-Mukminun (23:12-14):
Dan sesungguhnya Kami telah menciptkan manusia dari saripati dari tanah, Kemudian jadilahlah saripati itu air mani yang disimpan dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-tulang, lalu tulang-tulang ini Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk berbentuk lain, maka maha suci Allah. Pencipta yang paling baik.
Jasad
Jasad atau jisim adalah angggota tubuh manusia terdiri dari mata, mulut, telinga, tangan, kaki dan lain-lain. Ia dijadikan dari tanah liat yang termasuk dalam derejat paling rendah. Keadaannya dan sifatnya dapat mecium, meraba, melihat. Dari jasad ini timbullah kecenderungan dan keinginan yang disebut Syahwat. Ini dijelaskan dalam Al Quran Surat Ali Imran, yang bermaksud:
Dijadikan indah pada pandangan manusia , merasa kecintaan apa-apa yang dingininya (syahwat) iaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang bertimbun dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatan ternakan dan sawah ladang, Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah tempat sebaik-baik kembali.
Jiwa (Nafs)
Kebanyakan orang mengaitkannya dengan diri manusia atau jiwa. Padahal ianya berkaitan dengan derejat atau kedudukan manusia yang paling rendah dan yang paling tinggi. Jiwa ini memiliki dua jalan iaitu:
Menuju hawa nafsu (nafs sebagai hawa nafsu)
Menuju hakikat manusia (nafs sebagai diri manusia)
Hawa nafsu. Hawa nafsu lebih cenderung kepada sifat-sifat tercela, yang menyesatkan dan menjauhkan dari Allah. Sebagaimana Allah Taala berfirman surah (Shaad :26) yang bermaksud:
….. dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, kerana ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah
Kaitan hati dan hawa nafsu.
Hati memainkan peranan yang sangat penting dalam diri manusia ia menjadi sasaran utama kepada Syaitan. Syaitan sedaya upaya menutupi hati manusia dari menerima Nur llahi. Sebagaimana sabda Rasulullah yang bermaksud:
Jikalau tidak kerana syaitan-syaitan itu menutupi hati anak Adam, pasti mereka boleh milihat kerajaan langit Allah.
Cara syaitan menutupi hati manusia itu dengan cara-cara tertentu iaitu dengan menghidupkan hawa nafsu tercela dan yang membawa ke arah maksiat. Semuanya sudah tersedia berada adalam diri manusia, ianya dikenali dengan nafsu ammarah bissu, nafsu sawiyah dan nafsu lawammah...
Para ahli tasawwuf mengatakan bahawa syaitan (anak iblis) memasuki hati manusia melalui sembilan lubang anggota manusia iaitu dua lubang mata, dua lubang hidung, kedua lubang kemaluan dan lubang mulut. Buta manusia bukan buta biji matanya tetapi buta hatinya sebagaimana bukti yang dijelaskan dalam Firman Allah dalam surah (Al Hajj :46) bermaksud:
Kerana sesungguhnya bukan mata yang buta, tetapi yang buta ialah hati di dalam dada.
Mereka juga mengatakan yang membutakan hati ialah kejahilan atau tidak memahami tentang hakikat perintah Allah SWT. Kejahilan yang tidak segera diubati akan menjadi semakin bertimbun. Allah SWT berfirman dalam surah (Al Baqarah:2-9) yang bermaksud:
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka yang menipu diri sendiri, sedangkan mereka tidak menyedarinya.
Demikian bahayanya penyakit hati yang dihembuskan syaitan melalui hawa nafsu manusia. Sehingga Rasulullah pernah berpesan setelah kembali dari perang Badar. Beliau bersabda :
Musuhmu yang terbesar adalah nafsumu yang berada di antara kedua lambungmu (Riwayat Al-Baihaki)
Jihad yang paling utama adalah jihad seseorang untuk dirinya dan hawa nafsunya. (Riwayat Abnu An-Najari)
Diri Manusia
Nafs atau jiwa sebagai diri manusia adalah suatu yang paling berharga kerana ia berkaitan dengan nilai hidup manusia dan nafs yang diberi rahmat dan redha oleh Allah. Sebagaimana firmannya dalam surah (Al-Fajr : 27-30 ) yang bermaksud:
Hai jiwa yang tenang (Nafsu Mutmainnah), kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang lagi diredhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, masuklah ke dalam syurgaKu.
Dan lagi dalam surah (Yusuf: 53) yang bermaksud:
Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, kerana sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh ke arah kejahatan, kecuali nafsu yang beri rahmat oleh Tuhanku.
Berkaitan dengan sabda Rasulullah yang berbunyi:
Barang siapa yang mengenal dirinya , maka ia mengenal Tuhannya.
Hadis ini menyatakan syarat untuk mengenal Allah adalah mengenal diri. Diri atau nafs di sini adalah nafs mutmainnah iaitu nafsu yang tidak terpengaruh oleh goncangan hawa nafsu dan syahwat.
Setiap manusia mempunyai nafs yang berbeza. Ada nafs yang menuju jalan cahaya ada nafs yang menuju jalan kegelapan.
Bagi nafs yang menuju kegelapan atau nafs tercela yang tidak sempurna ketenangannya terutama ketika lupa kepada Allah disebut nafsu lawammah. Firman Allah Taala dalam surah (Al Qiyammah:2) yang bermaksud:
Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat tercela (nafsu lawammah)
Nafsu ini hanya dapat dikenali dan disaksikan dengan kemampuan tertentu manusia iaitu dengan pancaran batin. Sebagaimana firman Allah dalam surah (Al-Araaf:26) yang bermaksud:
Pakaian taqwa yang menjaga mu dari kejahatan itu adalah yang paling baik.
Ruh
Ruh mempunyai dua arah pengertian iaitu :
a. Sebagai nyawa
b. Sebagai suatu yang halus dari menusia (pemberi cahaya kepada jiwa)
Ruh sebagai nyawa kepada jasad atau tubuh . Ia ibarat sebuah lampu yang menerangi ruang. Ruh adalah lampu, ruang adalah sebagai tubuh. Jika lampu menyala maka ruangan menjadi terang. Jadi tubuh kita ini boleh hidup kerana ada ruh (nyawa)
Manakala dalam pengertian yang kedua, Ruh sebagai sesuatu yang merasa, mengerti dan mengetahui. Hal ini sangat berhubung dengan hati yang halus atau hati ruhaniyyah yang disebut sebagai Latifah Rabaniyyah (hati erti kedua)
Dalam Al-Quran kata ruh disebut dengan sebutan Ruhul Amin, Ruhul Awwal dan Ruhul Qudsiyah.
Ruhul Amin yang dimaksud adalah malaikat Jibril. Firman Allah dalam surah (Asy-Syu’ araa:192-193) yang bermaksud:
Dan sesungguhnya Al- Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, Dia dibawa oleh Ar Ruh Al –Amin (Jibril)
Ruhul Awwal yang bermaksud nyawa atau sukma bagi tubuh manusia. Sebagaimana firman Allah dalam surah (As-Sajdah:9) yang bermaksud:
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam tubuhnya Ruh-NYA dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati , tetapi kamu sedikit sekali bersyukur
Ruh Qudsiyah yang dimaksud Ruh yang datang dari Allah (bukan Jibril), tetapi yang menjadi penunjuk dan pengkhabar gembira bagi orang-orang beriman. Ini adalah ruh yang disucikan dihadirat Allah. Ia bercahaya apabila nafsu mutmainnah telah sempurna.
Hati
Hati merupakan raja bagi seluruh diri manusia dan tubuh. Perilaku dan perangai seseorang merupakan cerminan hatinya. Dari hati inilah pintu dan jalan yang dapat menghubungkan manusia dengan Allah. Dengan demikian untuk mengenal diri harus dimulai dengan mengenal hati sendiri.
Hati mempunyai dua pengertian:
Hati jasmani iaitu sepotong daging yang terletak di dada sebelah kiri, hati jenis ini hewan pun memilikinya.
Hati Ruhaniyyah iaitu sesuatu yang halus. Hati yang merasa, mengerti, mengetahui, dierpinta dituntut. Dinalai juga dengan Latifah Rabaniyyah.
Hati Ruhaniyyah inilah merupakan tempat iman dan tempat mengenal diri . Sebagaimana firman Allah dalam surah (Ar-Ra’d:28) yang bermaksud:
Iaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tanang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.
Hadis qudsi yang bermaksud:
Tidak akan cukup menanggung untuk-Ku bumi dan langit-KU tetapi cukup bagi-KU hanyalah HATI (Qalb) hambaKu yang nukamin (Riwayat Ad Darimi)
Nafsu Mutmainnah
Bila hati manusia jauh dari goncangan yang disebabkan bisikan syaitan, hawa nafsu dan syahwat , maka ia disebut nafs Mutmainnah, Apabila ia tunduk dan redha kepada Allah sepenuhnya, maka ia disebut nafs mardhiyyah (nafs yang redha)
Namun jika manusia membiarkan hatinya berada dalam pengaruh hawa nafsu dan syahwat, maka ia akan menjadi orang yang tersesat, lama kelamaan tergelicir dan dimurkai Allah, Sebagaimana Firman Allah dalam surah (Jaastsiyah:23) yang bermaksud:
Maka pernahkan kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu Nya dan Allah telah mengunci mata pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya?. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah membiarkannya sesat. Maka mengapa kamu tidak mengambil iktibarnya.
Ingat hawa nafsu dan syahwat bukan dibunuh atau dihilangkan, tetapi dikawal oleh nafsu mutmainnah. Di mana ada saatnya hawa nafsu ini perlu dikeluarkan. Sebagaimana firma Allah dalam surah (An Nazi’at:40-41) yang bermaksud:
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan manahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya.
Nah, jika hati kita telah diselubungi oleh nafsu mutmainnah, maka nafsu mutmainnah ini menjadi imam (penunjuk) bagi selruh tubuh dan dirinya, sesunggunya nafsu mutmainnah inilah disebut-sebut sebagai jati diri manusia (hakikat dari manusia). Allah berfirman dalam surah (Al Araaf:172) yang bermaksud:
Dan Ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka seraya berfirman : ”Bukankah Aku ini Tuhanmu”, mereka menjawab :”Bahkan engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi”.
Kami lakukan demikian agar di hari akhirat kelak kamu tidak mengatakan: sesungguhnya kami adalah orang-orang lalai terhadap keesaaaan-Mu.
Jika hati yang sakit, maka lupa terhadap perjanjian kita dengan Allah yang pernah diucapkan seperti dalam surah Al Araaf ayat 172 di atas.
Tapi di antara sekian banyak manusia, ada yang yang berjaya menyihatkan kembali jiwanya (nafsu mutmainnah). Apabila jiwa kita telah hidup, bercahaya, sihat kembali, maka jiwa ini akan dapat melihat kerajaan langit Allah. Dalam hal ini bila Ruhul Qudsiyah telah menyala dan bersinar , maka jadilah hatinya rumah Allah , orang-orang yang berjaya ini disebut Ahli Al- Bait. Sebagiamana firman Allah dalam surah (Ali Imran:164) yang bermaksud:
Sesunggunya Allah telah memberi kurnia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan mereka al kitab dan al hikmah. Dan sesungguhnya sebelum itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Lagi sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: Hati orang-orang beriman adalah Baitullah (Rumah Allah)
Jadi, Ruhul qudsiyah adalah kenyataan Allah dalam diri manusia. Allah Taala adalah sumber cahaya langit dan bumi dan ruhul qudsiyah adalah sumber cahaya yang ada dalam hati yang digambarkan sebagai pelita, Sebagaimana firman-Nya dalam surah (An Nuur:35) yang bermaksud:
…Allah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahayaNya adalah seperti sebuah lubang yang tak tertembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita ini di dalam kaca dan kaca ini seakan-akan bintang yang memantulkan cahaya seperti mutiara.
Salam sayang....
Langganan:
Postingan (Atom)
