Laman

Jumat, 08 Mei 2020

AKIBAT DAN BAHAYANYA BILA TIDAK BERTAREKAT*

*Tanya :*Apa akibat dan bahayanya jika seorang Muslim yang mengaku beriman tidak mempelajari Tarekat?
*Jawab Jika seorang Muslim yang mengaku beriman hanya mempelajari Ilmu Syari’at saja dan tidak mempelajari Tarekat sampai akhir hayatnya, maka nanti pada saat sakaratul maut *segala amalan Syari’atnya (shalat, puasa, zakat, dan haji) tidak akan dapat menolongnya.* Menurut Al-Ghazali, yang dimaksud dengan sakaratul maut yaitu, dikatakan telah mati, nyawanya masih ada, dikatakan masih hidup, sudah tidak bisa apa-apa. Ada tujuh sifat ma'ani pada Allah Taala yang telah dipinjamkan kepada manusia, diantaranya yaitu :
1. *Hayat,* sedangkan pada manusia adalah yang dihidupkan.
2. *Ilmu,*sedangkan pada manusia adalah yang diberi ilmu.
3. *Iradat,* sedangkan pada manusia adalah yang diberi kehendak.
4. *Qudrat,* sedangkan pada manusia adalah yang diberi kemampuan.
5. *Bashar,* sedangkan pada manusia adalah yang diberi penglihatan.
6. *Sama’*sedangkan pada manusia adalah yang diberi pendengaran.
7. *Kalam,* sedangkan pada manusia adalah yang diberi kemampuan berkata-kata.
Setiap barang pinjaman, pasti akan kembali kepada pemiliknya. Maka pada saat sakaratul maut , *Allah akan mengangkat sifat-Nya yang lima, yang telah ia pinjamkan kepada hamba-hamba-Nya,* diantaranya yaitu sifat
iradat, qudrat, basar, sama’ dan kalam. Maka tinggallah dua sifat yang masih tersisa pada saat sakaratul maut yaitu, *sifat hayat dan ilmu.* Maka pada saat
sakaratul maut tidak ada yang dapat kita lakukan dan siapapun tidak akan ada yang dapat menolong kita sebagaimana *firman Allah dalamm surat as-Syuara ayat 88
ﻳَﻮْﻡَ ﻻَﻳَﻨْﻔَﻊُ ﻣَﺎﻝٌ ﻭَﻻَﺑَﻨُﻮْﻥَ . ﺍِﻻَّﻣَﻦْ ﺃَﺗَﻰ ﺍﻟﻠﻪَ ﺑِﻘَﻠْﺐٍ ﺳَﻠِﻴْﻢٍ .
Artinya : “Pada hari itu harta anak-anak laki-laki tiada berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
Jadi berdasarkan ayat di atas bahwa yang dapat menyelamatkan manusia pada saat sakaratul maut adalah hati yang bersih. Adapun yang *dimaksud dengan hati yang bersih yaitu hati yang selalu mengingat Allah.*Jadi jelaslah *Ilmu Syari’at tidak berlaku dan tidak dapat digunakan pada saat*
*sakaratul maut* , sebab Ilmu Syari’at terkait dengan sifat iradat, qudrat, basar, sama’, dan kalam. Sedangkan kelima sifat tersebut telah diangkat oleh Allah pada saat sakaratul maut. Oleh sebab itu Hadis Nabi yang berbunyi :
ﻟَﻘِّﻨُﻮﺍْ ﻣَﻮْﺗَﺎﻛُﻢْ ﻻَﺍِﻟَﻪَ ﺍِﻻَّﺍﻟﻠﻪُ
Artinya : “Bimbinglah orang yang hendak meninggal dunia dengan ucapan: la ilaha illallah”. (H.R. Muslim).
Hadis di atas *sesungguhnya diperuntukkan kepada orang yang akan mati,* yaitu setiap orang yang masih hidup dan *bukan kepada orang yang akan mati pada saat sakaratul maut.*
Hadis di atas merupakan peringatan kepada orang-orang yang masih hidup supaya mengenal Allah, *sebab apabila kalimah la ilaha illallah dibisikkan kepada* *orang yang akan mati pada saat*
*sakaratul maut tidak akan ada gunanya,* sebab Allah telah mengangkat sifat
sama’ (pendengaran) padanya, mata telah buta, anggota badan telah lumpuh dan kaku.
Maka *tiadalah yang* *dapat menyelamatkan manusia pada saat*
*sakaratul maut selain dirinya sendiri.*
*Apabila ia semasa hidupnya hanya mempelajari Ilmu Syari’at saja, maka binasalah ia, sebab Ilmu Syari’at tidak berlaku pada saat sakaratul maut.*
Lalu ilmu apakah yang berlaku pada saat
sakaratul maut? maka jawabannya dapat diperoleh dari pantun yang berisi nasehat kepada manusia tentang
sakaratul maut:
Pohon jelatang di tepi laut
Gugur bunganya dimakan ikan
Kalaulah datang si Malaikal maut
Ilmu apa yang akan digunakan
Orang nelayan pergi ke laut
Pukat dibawa penangkap ikan
Kalaulah datang si Malaikal maut
Ilmu Hakikat itulah gunakan
Kata bismillah asal mula jadi
Makrifat iman itulah nur Ilahi
Apalah gunanya ilmu dicari
Kalaulah tidak kenal diri
Pandang makrifat di dalam diri
Tempat terjadi ismu Ilahi
Amalan Syari’at belumlah berarti kali
*Amalan hakikat itulah yang dibawa mati*
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa *Ilmu Hakikatlah yang berlaku pada saat sakaratul maut* , sebab hanya dengan *Ilmu Hakikatlah manusia dapat mengingat Allah.* Apabila pada saat akhir hayatnya ia dapat mengingat Allah, maka inilah yang disebut dengan hati yang bersih/selamat (qalbin salim), yaitu *tidak ada yang diingatnya selain Allah.* Di sinilah penentuan apakah manusia itu masuk surga atau neraka. Apabila pada saat akhir hayatnya ia dapat mengingat Allah, maka surgalah baginya. *Adapun orang yang tidak dapat mengingat Allah pada akhir hayatnya, maka nerakalah baginya.*
Adapun *bagi orang yang dapat mengingat Allah, maka tidak ada hak bagi Malaikat maut untuk mencabut nyawanya. Allahlah yang langsung mencabut nyawanya*
sebagaimana firman Allah dalam surat az-Zumar ayat 42 :
ﺍﻟﻠﻪُ ﻳَﺘَﻮَﻓَّﻰ ﺍْﻷَﻧْﻔُﺲَ ﺣِﻴْﻦَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ
Artinya : *Allahlah yang mencabut nyawa orang yang mengingat Allah ketika matinya.”*
Berdasarkan ayat di atas, Allahlah yang langsung mencabut nyawa orang yang dapat mengingat-Nya di saat wafatnya.
*Para sufi berkata bahwa sesakit-sakit orang yang dicabut oleh Allah nyawanya adalah seperti ia mengangkat takbir ketika hendak sembahnyang. Adapun cara Allah mewafatkan hamba-hamba-Nya yang dapat mengingat-Nya, maka Allah cukup hanya dengan memanggilnya,* sebagaimana dijelaskan di dalam firman Allah dalam surat al-Fajri ayat 27-30 :
ﻳَﺄَﻳَّﺘُﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲُ ﺍﻟْﻤُﻄْﻤَﺌِﻨَّﺔٌ . ﺍِﺭْﺟِﻌِﻰ ﺍِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻚَ ﺭَﺍﺿِﻴَﺔً ﻣَﺮْﺿِﻴَﺔً . ﻓَﺎﺩْﺧُﻠِﻰ ﻓِﻰ ﻋِﺒَﺪِﻯ . ﻭَﺍﺩْﺧُﻠِﻰ ﺟَﻨَّﺘِﻰ .
Artinya : *“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.*
Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Q.S. 89 al-Fajri: 27-30).
Demikianlah penghargaan Allah bagi orang yang dapat mengingat-Nya pada saat wafatnya. Para Malaikat yang mengelilinginya hanya mengucapkan salam kepadanya dan menggiring ruh tersebut ke baitul makmur.
*Adapun bagi orang yang tidak dapat mengingat Allah pada saat wafatnya, maka Allah mewakilkan kepada Malaikat Maut untuk mencabut nyawanya,* sebagaimana firman Allah :
ﻗُﻞْ ﻳَﺘَﻮَﻓَّﻜُﻢْ ﻣَّﻠَﻚُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﻭُﻛِّﻞَ ﺑِﻜُﻢْ ﺛُﻢَّ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮْﻥَ .
Artinya : “Katakanlah Allah akan mewakilkan Malaikal maut untuk mencabut nyawamu, kemudian kepada Tuhanmulah kamu akan kembali”. (Q.S. 32 as-Sajadah: 11).
Selanjutnya di dalam surat an-Nisa Allah menjelaskan orang yang bagaimana yang dicabut oleh Malaikat maut nyawanya, sebagaimana firman Allah :
ﺍِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺗَﻮَﻓَّﻬُﻢُ ﺍﻟْﻤَﻠَﺌِﻜَﺔُ ﻇَﺎﻟِﻤِﻰ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ
Artinya : “Sesungguhnya orang yang diwafatkan Malaikat maut adalah mereka yang menzalimi diri mereka sendiri”. (Q.S. 4 an-Nisa: 97).
Berdasarkan penjelasan ayat di atas bahwa *sesungguhnya orang-orang yang tidak dapat mengenal Allah pada hakikatnya adalah orang-orang yang menzalimi diri mereka sendiri.*
Adapun seenak-enak atau seringan-ringan *Malaikat maut mencabut nyawa manusia adalah seperti kambing dikuliti hidup-hidup.* *Demikianlah jijiknya Allah terhadap orang yang tidak dapat mengingat-Nya,* sehingga Allah mewakilkan kepada Malaikat maut untuk mencabut nyawanya.
*Demikianlah betapa meruginya orang-orang yang hanya mengandalkan amal Syari’at saja* dan mengabaikan *Hakikat*
. *"Orang-orang yang mengabaikan hakikat adalah orang-orang yang menzalimi diri mereka sendiri. Hal ini disebabkan karena *sesungguhnya mereka tidak mengenal yang mereka sembah.* Inilah yang menyebabkan mereka tidak dapat kembali kepada Allah karena sesunggunya sewaktu di dunia mereka tidak pernah mengenal Allah.
*Adapun bagi orang-orang mukmin yang dapat mengingat Tuhannya semasa hidupnya di dunia, maka di yaumil mahsyar wajah mereka pada hari itu berseri-seri* sebagaimana firman Allah :
ﻭُﺟُﻮﻩٌ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻧَّﺎﺿِﺮَﺓٌ . ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻬَﺎ ﻧَﺎﻇِﺮَﺓٌ .
Artinya : “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannyalah mereka melihat. (Q.S. 75 al-Qiyamah: 22-23).
Hadis Nabi SAW :
ﻛُﻨَّﺎﺟُﻠُﻮْﺳًﺎ ﻣَﻊَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻞَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻨَﻈَﺮَ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮِ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺍَﺭْﺑَﻊَ ﻋَﺸَﺮَﺓَ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺍِﻧَّﻜُﻢْ ﺳَﺘَﺮُﻭْﻥَ ﺭَﺑَّﻜُﻢْ ﻋَﻴَﺎﻧًﺎ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺮَﻭْﻥَ ﻫَﺬَﺍﺍﻟْﻘَﻤَﺮَ ﻻَﺗُﻀَﻤُّﻮْﻥَ ﻓِﻰ ﺭُﺅْﻳَﺘِﻪِ ﻓَﺈِﻥِ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﺍَﻥْ ﻻَ ﺗُﻐْﻠَﺒُﻮْﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺻَﻼَﺓٍ ﻗَﺒْﻞَ ﻃُﻠُﻮْﻉِ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲِ ﻭَﺻَﻼَﺓٍ ﻗَﺒْﻞَ ﻏُﺮُﻭْﺑِﻬَﺎ ﻓَﺎﻓْﻌَﻠُﻮﺍْ .
“Kami pernah duduk bersama Rasulullah SAW, lalu beliau memandang rembulan tanggal empat belas, lantas bersabda, “Sesungguhnya kamu akan melihat Tuhanmu dengan terang sebagaimana kamu melihat rembulan itu. Kamu tidak akan ragu sedikitpun dalam melihat-Nya. Dan kalau kamu mampu janganlah terlalaikan melakukan shalat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya, maka kerjakan itu. (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi).
*Adapun bagi orang-orang yang tidak dapat mengingat Allah semasa hidupnya di dunia, maka Allah akan mengumpulkannya dalam keadaan buta, bisu, dan pekak* sebagaimana firman Allah :
ﻭَﻧَﺤْﺸُﺮُﻫُﻢْ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﻤَﺔِ ﻋَﻠَﻰ ﻭُﺟُﻮﻫِﻬِﻢْ ﻋُﻤْﻴًﺎ ﻭَﺑُﻜْﻤًﺎ ﻭَﺻُﻤًّﺎ ﻣَّﺄْﻭَﻫُﻢْ ﺟَﻬَﻨَّﻢُ .
Artinya : “Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu, dan pekak, tempat kediaman mereka adalah neraka jahannam”. (Q.S. 83 al-Isra’: 97).
ﻛَﻶَّ ﺇِﻧَّﻬُﻢْ ﻋَﻦْ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻟَّﻤَﺤْﺠُﻮﺑُﻮﻥَ .
Artinya : “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terlarang dari (melihat) Tuhan mereka.” (Q.S. 83 al-Mutaffifin: 15)
Demikianlah siksaan yang Allah berikan bagi orang-orang yang tidak dapat menggunakan mata, hati, dan pendengarannya untuk mengenal Allah semasa hidupnya di dunia. Adapun bagi orang-orang yang dapat mengingat Allah, maka Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya. *Adapun bagi orang-orang yang tidak dapat mengingat Allah pada saat matinya, maka nerakalah baginya.* Orang-orang yang tidak dapat mengenal Allah sewaktu di dunia, maka *sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang buta di dunia dan di akhirat serta mereka akan dibangkitkan dalam keadaan buta pula* sebagaimana firman Allah :
ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻰ ﻫَﺬِﻩِ ﺃَﻋْﻤَﻰ ﻓَﻬُﻮَ ﻓِﻰ ﺍْﻷَﺧِﺮَﺓِ ﺃَﻋْﻤَﻰ ﻭَﺃَﺿَﻞَّ ﺳَﺒِﻴْﻼً
Artinya : “Barangsiapa yang buta di dunia ini, maka di akhirat nanti ia lebih buta lagi dan lebih sesat jalannya”. (Q.S. 17 al-Isra’: 72).
*Sesungguhnya yang dimaksud dengan buta pada ayat di atas adalah butanya mata hati,* sebagaimana firman Allah :
ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﻻَﺗَﻌْﻤَﻰ ﺍْﻷَﺑْﺼَﺮُ ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﺗَﻌْﻤَﻰ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮْﺏُ ﺍﻟﻠّّﺘِﻲْ ﻓِﻰ ﺍﻟﺼُّﺪُﻭْﺭِ
Artinya : “Sesungguhnya yang buta itu bukanlah mata kepala, tetapi yang buta itu adalah mata hati yang ada di dalam dada.” (Q.S. 22 al-Hadid: 46).
Berdasarkan penjelasan kedua ayat di atas, dapatlah kita ketahui bahwa *sesungguhnya orang-orang yang tidak dapat mengenal Allah pada hakikatnya adalah orang-orang yang buta di dunia dan di akhirat kelak*. Mereka akan dibangkitkan dalam keadaan buta. Ketauhilah sesungguhnya buta mata hati itu lebih parah daripada butanya mata kepala. Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mengutamakan Ilmu Syari’at dan *mengabaikan Hakikat pada hakikatnya adalah membiarkan diri mereka dalam kebutaan dan tidak mengenal Tuhannya.*
ketahuilah, sesungguhnya hanya *dengan mempelajari hakikat/bertarekatlah* manusia akan mengetahui bahwa hati yang bernama
*latifah robbaniyah* itulah yang mengetahui tentang hakikat Allah Ta’ala dan tidak dapat dicapai oleh oleh khayal, pikiran serta sangka-sangka manusia. Dan hati latifah robbaniyah
itulah yang akan dihisab atau ditanyai oleh Allah Ta’ala kelak.
*RINGKASAN DAN HIMBAUAN PENTING BAGI PARA PEMBACA**
Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa Tasawuf dan Tarekat adalah bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. *Orang yang bertarekat sudah barang tentu bertasawuf,*
namun *orang yang mengkaji Tasawuf tanpa bertarekat adalah *_mustahil_* bagaikan orang yang ingin menyeberangi lautan yang luas tanpa perahu. Oleh sebab itu
*Mempelajari Tarekat/Tasawuf Hukumnya adalah Wajib bagi setiap Muslimin dan Muslimat,* sebab *tanpa Bertarekat* Sudah Pasti *Sesat* , sebab *tidak mengenal yang disembahnya* dan Allah tidak akan memberikan penilaian apa-apa terhadap amal ibadah yang mereka lakukan. Mereka akan dibangkitkan Allah dalam keadaan buta disebabkan butanya mata hati mereka dari mengenal Allah sewaktu di dunia dan *tidak ada tempat bagi mereka (orang-orang yang tidak bertarekat)* selain Neraka.
Mengingat begitu urgennya,
*Tarekat/Tasawuf sebagai satu-satunya cara untuk mentauhidkan Allah,* maka segala paham yang berupaya merongrong dan menolak ajaran Tarekat/Tasawuf adalah wajib ditolak.
Ajaran Wahabi (yang saat ini menamakan diri mereka dengan paham
Salafi atau sejenisnya) adalah salah satu paham yang harus diwaspadai, disebabkan kebencian mereka terhadap ajaran Tarekat/Tasawuf. Paham Wahabi dengan segala ajarannya harus dijauhi sebab dapat menyebabkan umat Islam menjadi sesat karena tidak mengenal Tuhan yang disembahnya. Sudah sewajarnya umat Islam menyadari bahwa segala tuduhan negatif yang dilontarkan kepada Ahli Tasawuf dan ajarannya adalah propaganda yang bersumber dari orang-orang yang awam dan sama sekali tidak paham tentang Tasawuf.
Meskipun penulis telah berupaya semaksimal mungkin dalam membela Tarekat/Tasawuf dengan berdasarkan dalil naqli dan aqli serta telah menyebutkan *bahwa bertarekat itu wajib hukumnya,*namun lewat tulisan ini penulis juga menghimbau kepada para pembaca agar terlebih dahulu menguji atau meneliti kebenaran ajaran Tarekat yang akan diikutinya, karena tidak ada jaminan bahwa semua Tarekat itu benar-benar dapat menyampaikan pengenalan kepada Allah. Berdasarkan kriteria Tarekat yang telah penulis sebutkan kiranya dapat dijadikan pedoman untuk menyeleksi kebenaran Tarekat yang akan diikuti ajarannya. *Semoga Allah menunjuki kita semua sehingga dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.*
Mari kita kita bertareqoh utk sampai ke hakikat.
#SemogaBermanfaat

PELITA MAKRIFAT

- Apakah arti Lailatul Qadar ?
LAILATUL QADAR Apakah erti Lailatul Qadar ?
Mengikut pengertian bahasa perkataan laila bermaksud malam. Manakala perkataan Qadar pula bermaksud mubarokatin (keberkatan) atau saat yang diperingati. Jika kedua-dua perkataan itu digabungkan, ianya maksud Lailatul Qodar iaitu malam keberkatan atau malam yang diperingati.
Mengikut tafsiran ilmu makrifat perkataan Laila merujuk kepada jahil, manakala perkataan Qadar pula merujuk kepada berilmu (alim). Jika kedua-dua perkataan itu digabungkan, ianya membawa maksud iaitu dari bersifat seorang yang jahil kembali bertukar kepada seorang alim yang berilmu. Iaitu terbuka hijab pintu hatinya daripada seorang yang tidak mengenal Allah ianya berubah krpada seorang yang mengenal Allah swt. Saat mengenal Allah itulah yang dikatakan saat keberkatan dan saat-saat yang tidak akan dapat dilupakan buat selama-lamanya.
Ianya juga membawa maksud, daripada suasana gelap dzulmat, hitam kotor, dan jahil fasiq hatinya dari ilmu makrifat bertukar kepada suasana yang gemilang sirna cahaya keberkatan yang amat terang benderang hatinya setelah mendapat ilmu mengenal Allah. Daripada bersifat jahil bertukar kepada sifat mengenal dirinya dan bertukar kepada mengenal Allah.
Dari asalnya bersifat fasiq (tidak mengenal Allah), kini bertukar dan berubah kepada seorang yang bersifat alim (mengenal Allah). Inilah pengertian malam LIlatul Qadar yang sebenar. Kebanyakkan dari kita, bila sebut sahaja malam Lailatul Qadar yang mereka ingat hanya keajaiban pada bulan ramadhan. Seumpama perigi yang kering akan menjadi penuh (melimpah).
Pokok kayu-kayan akan jadi tunduk (rebah) menyembah bumi, angin dan burung yang sedang berlalu, akan jadi berhenti dan sebagainya. Sedangkan intisari daripada maksud Lailatul Qadar itu, sebenarnya bermaksud dari sifat seorang yang buta mata hatinya bertukar kepada cerah mata hatinya kerana memandang dan mengenal Allah.
Menurut Asy Sya'rani, menterjemahkan erti dan makna Lailatul Qadar itu sebagai "SUASANA HATI" Berkata lagi beliau ;- "Apabila engkau ingin hatimu hidup, iaitu hidup yang tidak ada mati sesudahnya lagi, maka keluarlah engkau dari menyandarkan harapan kepada makhlok. Matikan hawamu dan irodatmu.
Diwaktu itulah engkau mulai akan diberi oleh Allah hidup yang sejati, hidup yang tidak ada mati sesudahnya lagi. Pemberian yang tidak ada henti-hentinya lagi. Lalu diangkat nilai engkau dalam hati hamba-hambanya. Sehingga engkau tidak akan sesat untuk selama-lamanya." Apakah erti hidup yang tiada mati sesudahnya ?
Arti hidup yang tiada mati itu, adalah merujuk kepada ilmu mengenal Allah. Sesudah kita berjaya sampi kepada tahap ilmu mengenal Allah, ilmu itu akan tetap hidup di dalam hati-hati kita untuk selama-lamanya, yang tidak akan ada kesudahannya. Dan tidak akan pernah padam dan terhapus dari ingatan hati kita buat selama-lamanya. Wajah Allah inilah yang akan kita bawa sampai kehari kiamat dan hari mengadap Allah Ta'ala.
Apabila kita telah berjumpa dengan ilmu mengenal Allah, ingatan hati kita kepada Allah tidak akan pernah terlupus, walaupun sesaat, walaupun ketika jasad sedang tidur. Sesudah kita mengenal Allah (Mendapat Lailatul Qadar) iktikad atau pegangan hati kita, akan berubah sepenuhnya, daripada bersifat gelap kepada terang, daripada bersifat mati hati bertukar kepada hati yang sentiasa hidup.
Yang tetap hidup tiada mati itu, adalah ingatan kita kepada Allah, ianya akan tetap hidup dihati kita, yang tidak akan ada matinya, bukan bermakna tidak mati jasad, tetapi tidak mati ingatan kita kepada Allah. Bagi yang mendapat Lailatul Qadar ia juga tidak akan sesat selamanya. Apabila ingatan kita kepada Allah tidak pernah mati dan tidak pernah padam, disitulah segala kebesaran Allah, akan dapat kita miliki dan menjiwainya dengan penuh pengertian.
Pengertian itu nantinya akan terzahir keluar, sehingga melimpah ruah. Rasanya seumpama kita ini kaya, yang kekayaannya itu, tidak akan menemui jalan kemiskinan.

Selasa, 05 Mei 2020

## WAJAHKU WAJAHMU ##

Bertanya imam Ali kepada Nabi SAW
Imam 'Ali : YA RASULALLAH !
* JIKA YG MENYEMBAH ITU TUBUH SERTA NYAWA ,
* DAN YG DISEMBAH ITU SIFAT KETUHANAN,
* JIKA DEMIKIAN , SIFAT KETUHANAN ITUKAH ALLAH ?
Nabi SAW. : YA ALI !
KETAHUILAH OLEHMU ,
ADAPUN ALLAH ITU HANYA NAMA SAJA
=========
Imam 'Ali. : : JIKA SESEORANG ITU MENYEMBAH NAMA SAJA , APAKAH HUKUMNYA ORANG ITU ?
Nabi SAW : JIKA IA MENYEMBAH NAMA SAJA TIADA DENGAN ILMUNYA , HUKUMNYA ORANG ITU SESAT SEMATA-MATA.
==========
Imam 'Ali. : YA RASULULLAH !
BAGAIMANA FAHAMNYA MENGATAKAN ORANG ITU SESAT ?
Nabi. SAW :
* BARANG SIAPA MENYEMBAH NAMA TIADA DENGAN MAKNA MAKA SESUNGGUHNYA IA TELAH KAFIR
* BARANG SIAPA MENYEMBAH MAKNA , MAKA SESUNGGUHNYA IA TELAH MUNAFIK
* BARANG SIAPA MENYEMBAH NAMA DAN MAKNA , MAKA SESUNGGUHNYA IA TELAH SYIRIK
* BARANG SIAPA MENYEMBAH MAKNA DENGAN HAKIKAT DAN MARIFAT , MAKA ITULAH MUKMIN YG SEBENARNYA
* DAN BARANG SIAPA MENINGGALKAN NAMA DAN MAKNA , MAKA IAITULAH MA'RIFAT DARIPADA SEGALA MA'RIFAT ADANYA.
============
Imam 'Ali : YA RASULULLAH !
BAGAIMANAKAH FAHAMNYA MENYEMBAH NAMA DAN HAKIKAT MARIFAT ITU ?
DAN BAGAIMANAKAH FAHAMNYA MENINGGALKAN NAMA DENGAN MAKNA ITU ?
HAMBA TIADA FAHAM YA JUNJUNGANKU !
Nabi. SAW : KETAHUILAH OLEHMU YA ALI !
JIKA AKU KHABARKAN KEPADAMU NESCAYA SEMPURNALAH SEKALIAN MUKMIN , ISLAM LAH SEMUANYA
============
Imam 'Ali : YA JUNJUNGANKU !
KHABARKANLAH RAHASIA ITU KEPADA HAMBA"
Nabi. SAW. : YA ALI ! BARANG SIAPA YANG MELIHATKU, IA MELIHAT AL HAQ
( Shohih Bukhari, kitab Ta'bir halaman 72 )
Sabda Nabi dalam hadist Qudsi :
"MAN RAANI FAQAD RAAL HAQ"
Ertinya : Sesiapa yg melihat ( rupa )-Ku, maka sesungguhnya ia melihat Al-Haq , Tuhan yg sebenar.
---------------
Tidak ada gunanya engkau banyak bercerita BAB ilmu Ketuhanan ini pada kaum SYARIAT, dia pasti akan mendustakan engkau, dan mengatakan bahawa engkau itu SESAT lagi BAHLOL.
Ini kerana kebanyakan kaum SYARIAT itu adalah kaum yg suka menyalahkan org lain , yg adakalanya layak digelar org MUNAFIK.
Sabda Nabi SAW :
"ORANG MUNAFIK ADALAH ORANG YANG BANYAK MENCELA , DAN MERASAKAN DIRINYA LEBIH BAIK DIBANDINGKAN SAUDARANYA"
(HR. Tirmidzi)
Kaum SYARIAT itu :
* merasa bisa , tetapi tidak bisa merasa,
* merasa sempurna tetapi tidak sempurna merasa,
* merasa paling taat ibadah tetapi tidak tahu ( JAHIL ).
****
ALLAHU AKBAR
cc Guru Batin

Jumat, 01 Mei 2020

SIRRUL ASRAR, BAB 24: DO’A DAN DZIKIR DI JALAN SULUK

Siapapun yang memilih untuk memisahkan dirinya dari dunia agar supaya dapat menghampiri Allah, hendaklah mengetahui ibadat-ibadat, seperti do’a dan dzikir yang sesuai untuk tujuan tersebut. Melakukan ibadat tersebut memerlukan suasana yang suci dan sebaik-baiknya berada di dalam keadaan berpuasa. Usahakan agar ruang khalwat berdekatan dengan masjid, karena syarat bagi salik agar dapat meninggalkan ruang khalwatnya lima kali sehari untuk melaksanakan shalat fardhu berjama’ah dan pada ketika tersebut hendaklah menjaga dirinya agar tidak menonjol, menyembunyikan diri dan tidak berkata-kata walau sepatah kata pun. Siapapun yang sedang dalam suluk hendaklah mengambil langkah tegas untuk lebih menghayati dan mematuhi prinsip-prinsip, dasar-dasar dan syarat-syarat shalat fardhu berjamaah.

Setiap malam, ketika tengah malam, salik harus bangun untuk mengerjakan shalat tahajjud, yang artinya tetap dalam suasana terjaga sepenuhnya di sa’at-sa’at tidur. Shalat tahajjud membawa symbol kebangkitan setelah mati. Apabila seseorang berhasil bangun untuk melakukan shalat tahajjud, maka dia adalah Pemilik hatinya dan pemikirannya akan jernih. Agar “suasana jaga” ini tidak rusak, janganlah melibatkan diri dengan kegiatan harian seperti makan dan minum.

Sebaiknya, sa’at bangun dari tidur dan menyadari telah dibangkitkan dari kelalaian kepada kesadaran, maka ucapkanlah:
“Alhamduli-Llahi ahyani ba’da ma amatani wa-ilaihin-nusyur- Segala puji bagi Allah yang telah membangkitkan aku setelah mengambil hidupku. Sesudah mati, semua akan dibangkitkan dan kembali kepada-Nya”.

Kemudian bacalah sepuluh ayat terakhir surah al-‘Imraan, yaitu ayat 190–200. Selepas itu ambil wudhu’ dan berdo’a:
“Kemenangan untuk Allah! Segala puji untuk-Mu. Tidak ada yang lain daripada-Mu yang layak menerima ibadat. Aku bertaubat dari dosaku. Ampuni dosaku, maafkan kehadiranku, terimalah taubatku. Engkau Maha Pengampun, Engkau suka memaafkan. Wahai Tuhanku! Masukkan aku ke dalam golongan mereka yang menyadari kesalahan mereka  dan masukkan aku ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih yang memiliki kesabaran, yang bersyukur, yang selalu mengingat Engkau dan yang memuji Engkau malam dan siang hari”.

Kemudian dongakkan pandangan ke langit dan buat pengakuan:
“Aku bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah, Esa, tiada sekutu, dan aku bersaksi Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku berlindung dengan keampunan-Mu daripada azab-Mu. Aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari murka-Mu. Aku berlindung dengan-Mu dari-Mu. Aku tidak mampu mengenali-Mu sebagaimana Engkau kenali Diri-Mu. Aku tidak mampu memuji-Mu selayaknya. Aku adalah hamba-Mu, aku adalah anak dari hamba-Mu. Dahiku yang di atasnya Engkau tuliskan takdir adalah dalam tangan-Mu. Perintah-Mu berlaku atas aku. Apa yang Engkau tentukan untukku adalah baik bagiku. Aku serahkan kepada-Mu tanganku dan kekuatan yang Engkau letakkan padanya. Aku buka diriku di hadapan-Mu, mengakui semua dosaku. Tiada Tuhan kecuali Engkau, dan Engkau Maha Pengampun, aku yang zhalim, aku yang berbuat kejahatan, aku menzhalimi diriku. Untukku karena aku adalah hamba-Mu ampunkan dosa-dosaku. Engkau jualah Tuhan, hanya Engkau yang dapat mengampunkan”.

Kemudian menghadap ke arah kiblat dan ucapkan:
“Allah Maha Besar! Segala puji untuk-Nya. Aku ingat dan membesarkan-Nya”.

Kemudian ucapkan sepuluh kali:
“Segala kemenangan buat Allah”.

Kemudian ucapkan sepuluh kali:
“Segala puji dan syukur untuk Allah”.

Kemudian ucapkan sepuluh kali:
“Tiada Tuhan melainkan Allah”.

Kemudian lakukan shalat sepuluh rakaat, dua rakaat satu salam. Nabi saw bersabda, “Shalat malam dua, dua”. Allah memuji orang yang melaksanakan shalat malam.

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. (QS. Al Isra: 79).

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan”. (QS. As-Sajadah: 16).

Kemudian pada akhir malam bangkit kembali untuk melaksanakan shalat witir tiga rakaat, shalat yang menutup semua shalat pada hari itu. Pada rakaat ketiga selepas al-Fatihah bacakan satu surah dari al Quran, kemudian angkatkan tangan seperti pada permulaan shalat sambil ucapkan “Allahu Akbar!” dan bacalah do’a qunut. Kemudian selesaikan shalat seperti biasa.

Setelah matahari terbit orang yang di dalam suluk perlu melaksanakan shalat isyraq, shalat yang menerangi, dua rakaat. Selepas itu melakukan shalat istiazhah dua rakaat, mencari perlindungan dan keselamatan dari gangguan syaitan. Pada rakaat pertama selepas al-Fatihah bacalah surah al-Falaq. Dalam rakaat kedua selepas al-Fatihah bacalah surah an-Nas.

Untuk mempersiapkan diri pada hari itu, lakukan shalat sunat istikharah, shalat meminta petunjuk Allah untuk keputusan yang benar pada hari itu. Pada tiap rakaat selepas al-Fatihah bacalah ayat al-Kursi. Kemudian tujuh kali surah al-Ikhlas.

Kemudian pagi itu lakukan shalat dhuha, shalat keshalihan dan kedamaian hati. Lakukan enam rakaat. Bacalah surah asy-Syams dan surah ad-Dhuha.

Shalat dhuha diikuti oleh dua rakaat kaffarat, shalat penebusan terhadap kekotoran yang mengenai seseorang yang tidak disadari. Tersentuh dengan kotoran walaupun secara tidak di sengaja masih berdosa, dapat dihukum. Ini bias terjadi walaupun di dalam suluk, misalnya melalui keperluan tubuh badan. Nabi saw bersabda, “Jaga dari najis – walaupun ketika kamu buang air kecil satu titik tidak mengenai kamu – karena sesungguhnya dapat mendatangkan siksaan di alam kubur”. Setiap rakaat, selepas membaca al-Fatihah, bacalah surah al-Kautsar tujuh kali.

Satu lagi shalat sunnah – panjang, walaupun hanya empat rakaat – harus dilakukan dalam satu hari sewaktu berkhalwat atau suluk. Ini adalah shalat tasbih – shalat penyucian atau pemujaan. Jika seseorang itu mengikuti mazhab Hanafi dia melakukannya empat rakaat satu salam. Jika dia berfaham Syafi’e dilakukannya dua rakaat satu salam, dua kali. Ini jika dilakukan di siang hari. Jika dilakukan malam hari Hanafi dan Syafi’e sependapat, dua rakaat satu salam, dua kali.

Nabi saw memberitahu mengenai shalat ini kepada saudara baginda, Ibnu Abbas, “Wahai  saudaraku yang ku kasihi. Ingatlah, akan aku berikan kepadamu satu pemberian. Perhatikanlah, aku akan sampaikan kepadamu satu yang sangat baik. Ingatlah, aku akan memberikan kepadamu kehidupan dan harapan baru. Ingatlah, aku akan berikan kepada kamu sesuatu yang bernilai sepuluh kali perbuatan-perbuatan yang baik. Jika kamu kerjakan apa yang aku beritahu dan ajarkan kepada kamu ini, Allah akan ampunkan dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang, yang lama dan yang baru, yang kecil dan yang besar. Lakukan secara tersembunyi atau terbuka”.

“Engkau kerjakan shalat empat rakaat. Pada tiap-tiap rakaat selepas al-Fatihah, bacalah satu surah dari al Quran. Ketika kamu berdiri, bacalah lima belas kali:
Subhana Llahi il-hamdu li-Llahi la ilaha illa Llahu wa-Llahu akbar, wa-la hawla wa-la quwwata illa billahil l-‘Ali I-‘Azim.
Bila kamu ruku’, tangan di atas lutut, bacalah sepuluh kali. Ketika berdiri ulangilah sepuluh kali lagi. Ketika kamu sujud bacalah sepuluh kali. Bila kamu bangun dari sujud bacalah sepuluh kali. Ketika duduk bacalah sepuluh kali. Kemudian sujud lagi, bacalah sepuluh kali. Duduk lagi sebelum bangkit, bacalah sepuluh kali. Kemudian bangun untuk rakaat kedua. Lakukan serupa untuk rakaat yang lain sehingga empat rakaat”.
“Jika kamu mampu lakukan shalat ini setiap hari. Jika tidak lakukan sekali sebulan. Jika tidak mampu juga lakukanlah sekali setahun. Jika masih tidak mampu juga lakukanlah sekali seumur hidup”.

Jadi, empat rakaat itu tasbih diucapkan sebanyak tiga ratus kali. Sebagaimana Nabi saw ajarkan kepada saudara baginda Ibnu Abbas, dianjurkan juga kepada orang yang bersuluk melakukan shalat tersebut.

Selain dari tugas tersebut, orang yang di dalam suluk juga dianjurkan membaca al Quran sekurang-kurangnya sebanyak 200 ayat sehari. Dia juga hendaknya mengingat Allah secara terus menerus dan menurut suasana ruhani, baik dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah secara kuat atau senyap di dalam hati. Ingatan di dalam hati secara senyap hanya terjadi bila hati selalu terjaga dan hidup. Dzikir ini adalah ucapan rahasia yang tersembunyi.

Setiap orang (salik) mengingat Allah menurut keupayaan masing-masing. Allah berfirman:
“Hendaklah kamu sebut Dia sebagaimana Dia pimpin kamu”. (Surah al-Baqarah, ayat 198).

Ingatlah kepada-Nya menurut kemampuan kamu. Pada setiap tahap keruhanian ingatan itu berbeda-beda. Dia memiliki satu nama lagi, Dia memiliki satu sifat lagi, satu cara lagi. Hanya salik yang ditahap itu lah yang tahu dzikir yang sesuai.

Orang yang di dalam suluk juga dianjurkan membaca surah al-Ikhlas seratus kali sehari. Perlu juga membaca Shalawat seratus kali sehari. Dia juga perlu membaca doa ini sebanyak seratus kali:
“Astaghfiru Llah al-‘Azim, la ilaha illa Huwa l-Hayy ul-Qayyum – mimma qaddamtu wa-ma akhkhartu wa-ma ‘alantu wa-ma asrartu wa-ma anta a’lamu bihi minni. Anta l-Muqaddimu wa-antal Muakhkhiru wa-anta ‘ala kulli syai in Qadir”.

Masa yang selebihnya, setelah melakukan ibadat-ibadat yang telah dinyatakan diatas, gunakan untuk membaca Quran dan lain-lain pekerjaan ibadat.

Senin, 27 April 2020

*DAHSYATNYA SURAT AL- IKHLAS*

Assalamu`alaikum
Warahmatullahi
Wabarakaatuh..
{ Sempatkanlah sebentar untuk membaca tulisan ini }
Rasulullah Muhammad SAW pada suatu ketika bersabda :
”Demi Allah yang jiwaku di GenggamanNYA, sesungguhnya :
*QUL HUWALLAHU AHAD* itu tertulis di sayap Malaikat Jibril.
*ALLAHHUS SOMAD* itu tertulis disayap Malaikat Mikail.
*LAMYALID WALAM YUULAD* tertulis
pada, sayap Malaikat Izra'il ,
*WALAM YAKULLAHU KUFUWAN AHAD* tertulis pada sayap Malaikat Israfil "
Berkata Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: *Ketika saya {Rasulullah SAW} Isra’ ke langit, saya melihat Arasy di atas 360,000 pilar dan jarak jauh antara satu pilar ke satu pilar yang lain ialah 300,000 tahun perjalanan* . .
*Pada tiap-tiap pilar itu terdapat padang pasir yang jumlahnya 12,000 dan luasnya setiap satu padang itu seluas dari Timur hingga ke Barat* .
*Pada setiap padang itu terdapat 80,000 Malaikat yang mana kesemuanya membaca surat Al-Ikhlas* .
Setelah mereka selesai membaca Surah tersebut maka berkata mereka :
”Wahai Tuhan kami, sesungguhnya pahala dari bacaan ini kami berikan kepada orang yang membaca surah
Al-Ikhlas baik lelaki maupun perempuan.”.
Riwayat Anas bin Malik juga merekam kisah berkaitan surat Al-Ikhlas.
*Suatu ketika 70.000 Malaikat diutus datang kepada seorang sahabat di Madinah yang meninggal* .
Kedatangan para Malaikat itu hingga meredupkan cahaya matahari. *70.000 Malaikat itu diutus hanya karena almarhum sering membaca surat ini* .
Anas bin Malik yang saat itu bersama Nabi Muhammad SAW di Tabuk merasakan cahaya matahari redup tidak seperti biasanya dan Malaikat Jibril datang kepada Nabi untuk memberitakan kejadian yang sedang terjadi di Madinah.
Rasulullah S.A.W bersabda :
Barangsiapa membaca surah Al-Ikhlas sewaktu sakit sehingga dia meninggal dunia, maka tubuhnya tidak akan membusuk didalam kuburnya, akan selamat dia dari kesempitan kuburnya dan para Malaikat akan membawanya dengan sayap mereka melintasi Titian Siratul Mustaqim lalu menuju ke Surga. (HR Qurthuby).
*SUBHANALLAH* ..........
Jika Anda men- Share ini kepada 1 orang artinya Anda sudah menyebarkan 10 kebaikan di Akhirat.
Ya Allah, jadikanlah kami langgeng dalam membaca Surotul Al Ikhlas dan mengucapkan " *SUBHANALLAH* "
menjadi manusia, sesuai yang disabdakan Nabi SAW, sehat, bermanfaat
dan wafat dalam keadaan *HUSNUL KHATIMAH*
*Aamiin ya Rabbal 'Aalamiin*

SIFAT MA’ANI

** SIFAT MA’ANI **
Sifat Apakah Yang Terkandung Di Dalam Ma’ani ?
Sifat yang terkandung di dalam sifat Ma’ani ada tujuh ( 7 ) perkara :
1. Qudrat = kuasa
2. Iradat = berkehendak
3. Ilmu = mengetahui
4. Hayat = hidup
5. Sama’ = mendengar
6. Basar = melihat
7. Qalam = berkata-kata
Bagaimana Menterjemah Sifat Ma’ani Pada Diri Kita?
Sifat Ma’ani Allah Ta’ala yang jelas terzahir pada diri kita ada tujuh :
1. Hidup
2. Mengetahui
3. Berkuasa
4. Berkehendak
5. Melihat
6. Mendengar
7. Berkata-kata
Adanya dengan terang dan jelas menzahirkan Sifat-Sifat-Nya ke atas Diri kita. Tujuan dizahirkan 7 Sifat-Nya Haqq Taala pd tujuh ( 7 ) anggota kıta supaya dijadikan sebagai pedoman, sebagai panduan dan sebagai iktibar untuk kita mengenal, melihat dan memandang Allah melaluinya.
Allah bukan 'Ain (bukan benda) yang boleh dikenal melalui bentuk hitam dan putih. Allah menzahirkan Sifat-Sifat-Nya ke atas Diri kita adalah bertujuan supaya dijadikan Tempat memandang Sifat-Sifat-Nya kepada mereka-mereka yang berpandangan jauh.
Tetapi ramai yang masih tidak memerhatikannya 7 Sıfat Haqq Taala :
Sifat hidup,
Sifat mengetahui,
Sifat berkuasa,
Sifat berkehendak,
Sifat melihat,
Sıfat mendengar dan
Sifat berkata-kata
yang dipakai Allah ke atas Diri kita, pd 7 anggota kıta ıtu adalah menjadi tanda kebesaran-Nya ke atas Diri kita supaya kita memerhati dan melihatnya.
( Klu anta ingin tahu akan rahasianya, di mana letaknya 7 Sifat Ma'ani pd anggota anda itu, bertanya lah kpd GM anta ) - in Sya Allah
Sifat-Sifat tersebut bukannya Sifat peribadi kita tetapi Sifat tersebut sebenarnya adalah hak kepunyaan Mutlak Allah Ta’ala.
Sifat yang kita pakai ini adalah pinjaman semata-mata. Oleh itu hendaklah kita sedar dan insaf akan hal itu.
Kesemua Sifat-Sifat tersebut adalah hak milik Allah dan kepunyaan Allah swt yang sepatutnya dikembalikan semula kepada Tuan yang Ampunya, sementara hayat masih dikandung badan.
Penzahiran 7 Sifat Ma’ani ke atas Makluk ( Diri kita ) adalah sekadar pinjaman yang berupa pakaian sementara, yang Akhirnya dikehendaki kembali semula kepada Tuan yang Ampunya. Allah tidak boleh diibarat atau dimisalkan dengan sesuatu.
Maha suci Allah drp ibarat dan misal. Segala misalan atau segala perumpamaan yang dinukilkan itu, hanyalah sekadar untuk mempermudahkan faham.
Sifat Ma’ani itu, adalah seumpama Bayang-Bayang, manakala Allah Ta’ala itu, adalah seumpama Tuan yang Ampunya bayang.
Tidakkah engkau melihat kekuasaan Tuhanmu? – bagaimana Ia menjadikan Bayang-Bayang itu terbentang luas kawasannya dan jika Ia kehendaki tentulah Ia menjadikannya tetap tidak bergerak dan tidak berubah Kemudian Kami jadikan matahari sebagai tanda yang menunjukkan perubahan bayang-bayang itu;
Allah Jadikan Manusia dalam Bayang-Nya
Maksud Bayang itu, adalah merujuk kepada Makhluk dan Diri kita. Bayang (Diri) sebenarnya tidak mempunyai apa-apa Sifat. Bayang hanya sekadar Sifat yang menumpang dari yang Ampunya bayang.
* Bergeraknya bayang adalah gerak daripada yang Ampunya Bayang.
* Berdirinya Bayang adalah dengan berdirinya Tuan yang Ampunya Bayang (Allah).
Mustahil Bayang itu boleh berdiri dengan sendiri tanpa kuasa drp yang Ampunya Bayang (Allah). Bayang dengan yang Ampunya Bayang itu, mustahil bersatu dan mustahil bercerai.
Diri kita dengan wajah Allah itu, adalah seumpama ujud Bayang dengan yang Ampunya Bayang atau seumpama Bayangan wajah di permukaan cermin.
* Sifat Ma’ani itu tidak boleh berdiri dengan sendiri tanpa bergantung dari sifat Maknawiah.
* Hubungan antara sifat Ma’ani dengan sifat Maknawiah itu, adalah seumpama hubungan antara Bayang dengan yang Ampunya Bayang.
Contohnya seumpama :
* Sifat mata dengan penglihatan,
* Sifat telinga dengan pendengaran dan
* Sifat mulut dengan yang berkata-kata.
Walau bagaimana keadaan sekalipun, ianya tetap tidak boleh bercerai dan juga boleh bercantum. Inilah yang dikatakan hubungan Sifat Ma’ani dengan sifat Ma’anawiah itu, bercantum tidak bercerai tiada.
Tiada bercerai antara Nafi dan Isbat, dan siapa-siapa yang menceraikan antara kedua-duanya , maka orang itu kafir adanya.
Bayang bukan Cahaya tetapi tidak lain dari Cahaya. Cahaya bukan Matahari tetapi tidak lain dari Matahari.
Begitu jugalah contohnya hubungan antara Allah dengan Diri kita. Oleh itu , marilah kita sama-sama mengambil faham dan insaf bahawa Sifat yang kita miliki ini, sebenarnya hak kepunyaan Allah, yang harus kita serah kembali kepada yang Ampunya.
Tujuan mempelajari Sifat Ma’ani adalah bertujuan supaya kita mengaku bahawa :
* sebenarnya Diri kita ini tidak ada,
* tidak wujud, dan tidak terjadi.
Yang wujud, yang ada dan yang terjadi adalah hanya semata-mata Allah, seumpama Sifat Bayang, terzahirnya Bayang itu, adalah bagi tujuan menampakkan dan menyata Sifat yang Ampunya Bayang itu sendiri.
Di dalam keghairahan membicarakan soal Sifat Ma’ani, harus diingat bahawa
* Allah itu tidak bertempat.
* Allah tidak menjelma ke atas jasad.
* Allah tidak bertempat di dalam atau di luar badan,
* Allah tidak bersatu, tidak bercantum dengan badan,
* Allah bukan kesatuan,
* Allah bukan bersyarikat, bukan bercantum dengan jasad kita.
Ada orang yang mengaku bahawa Allah menjelma di dalam jasad dan tidak kurang pula ada yang mengaku menjadi Allah dan sebagainya.
## Bukan kita yang meliputi Allah, tetapi Allah lah yang meliputi kita ##
Kesemua Sifat yang kita miliki ini adalah milik Allah, Sifat yang ada pada diri kita akan hancur, binasa dan hilang lenyap, Sifat yang kekal dan yang Abadi itu, hanyalah Allah swt.
Dan janganlah engkau menyembah tuhan yang lain bersama Allah. Tiada Tuhan melainkan Allah. Tiap-tiap sesuatu akan binasa melainkan Zat Allah. Bagi-Nya lah kuasa memutuskan segala hukum, dan kepada-Nya lah kamu semua dikembalikan.
Apa Hubungan Sifat Maani Dengan Roh.
Sifat Ma’ani adalah wajah Allah yang terzahir melalui :
* Sifat dan rupa paras Roh,
* melalui Sifat mata, mulut, telinga, dan anggota tubuh seluruhnya.
Sebagaimana rupa dan paras Roh, sebegitulah Wajah Ma’ani Allah, kerana Rohlah Sifat Ma’ani Allah.
Untuk melihat Sifat Ma’ani Allah, lihatlah pada Wajah dan Sifat rupa paras Diri kita sendiri.
### ALLAHU AKBAR ###

*3 (tiga) Tingkatan Puasa dalam Pandangan Imam Al Ghazali*

_Assalamualaikum wr.wb_
Sahabatku rahimakumullah,
Dengan membaca tulisan Al Ghazali dalam _Al Ihya (Ihya Ulumuddin)_ di bawah ini, kita akan dapat mengukur level tingkatan apa sih puasa yang kita lakukan? Apakah Puasa Para Nabi, Puasa orang2 saleh atau yang lain?
_Sahabatku,_
Dalam pandangan Ulama besar, Guru Sufi, Hujjattul Islam, Imam Al Ghazali (1058 M – 1111 M), sesungguhnya ada 3 (tiga) tingkatan puasa :
*1. Tingkatan Awam (biasa);*
Puasa dalam tingkatan biasa, maksudnya adalah menahan diri terhadap makan, minum dan hubungan biologis antara suami istri dalam jangka waktu tertentu. Puasa dalam tingkatan ini adalah puasa kebanyakan dari kita.
*2. Tingkatan khusus*
Puasa dalam tingkatan khusus, maksudnya adalah menjaga telinga, mata, lidah, tangan serta kaki dan juga anggota badan lainnya dari berbuat dosa. Puasa dalam tingkatan ini hanya bisa dicapai oleh orang2 yang saleh.
*3. Tingkatan sangat khusus*
Sedang puasa dalam tingkatan yang sangat khusus, maksudnya adalah puasa hati dengan mencegahnya dari memikirkan perkara perkara yang hina dan duniawi, yang ada hanyalah mengingat Allah swt. dan akhirat. Dalam Jenis puasa sangat khusus ini, maka akan dianggap batal puasa kita apabila sampai mengingat perkara perkara duniawi selain Allah dan tidak untuk akhirat.
Menurut Al Ghazali, Puasa yang dilakukan dengan mengingat perkara perkara duniawi adalah batal, kecuali mendorong ke arah pemahaman agama, karena ini merupakan tanda ingat pada akhirat, dan tidak termasuk pada yang bersifat duniawi. Mereka yang masuk ke dalam tingkatan puasa sangat khusus akan merasa berdosa bila hari-harinya hanya terisi dengan hal hal yang dapat membatalkan puasa. Rasa berdosa ini bermula dari rasa takyakin terhadap karunia serta janji Allah swt. untuk mencukupkan (dengan) rezeki Nya.
Untuk tingkatan ketiga ini adalah milik atau hanya dapat dicapai oleh para Nabi dan Rasul, para wali Allah dan mereka yang selalu berupaya mendekatkan diri kepada Nya. Tidaklah cukup dilukiskan dengan kata-kata, karena hal tersebut telah menjadi nyata dalam tindakan (aksi). Tujuan mereka hanyalah semata mata mengabdi (berdedikasi) kepada Allah swt, mengabaikan segala sesuatu selain Dia. Terkait dengan makna firman Allah swt, *"Katakanlah, Allah! Kemudian biarkanlah mereka bermain main dalam kesesatannya.”* (QS. 6: 91).
Pada tulisan yg akan datang insya Allah akan saya coba uraikan syarat2 lahir dan batin puasa khusus.
_Sahabatku,_
Sebagai muslim, setiap tahun kita pasti menjalankan ibadah puasa Ramadhan
_Pertanyaannya, sudah di level manakah puasa kita?_
Jangan pesimis. Upaya Imam Al-Ghazali mengklasifikasi orang berpuasa ke dalam tiga level tersebut, tak lain tujuannya adalah agar kita yang setiap tahun berpuasa Ramadhan bisa menapaki tangga yang lebih tinggi dalam kualitas ibadah puasanya. Semoga yah. Aamiin
Semangat pagi, semangat menjalanlan ibadah Ramadhan, tetap semangat 💪💪n tetap jaga stamina, jaga kebersihan dan jaga jarak.😍 serta mohonlah kepada Allah Ta'ala agar berkah Ramadhan ini badai Covid-19 ini segera berlalu dan kita segera bisa beraktivitas normal kembali.
_Allahumma shalii ala (Sayyidina) Muhammad wa ala ali (Sayyidina) Muhammad_
_Baraka Allah fikum. Aamiin YRA_
_Wassalam_, Sahabatmu🙏🙏