Bismillahi Ar Rahmaani Ar Rahiimi
Benarkah cinta itu mengharapkan upah? Padahal cinta itu sendiri sudahlah upah bagi para pecinta.
Perasaan iman manusia itu bertingkat, maka bertingkat pula cara Tuhan
memberikan tuntunan. Ada orang yang diberi ancaman dengan neraka, maka
timbullah khauf. Ada orang yang diberi harapan dengan syurga, maka
timbullah raja’a. Tetapi orang yang telah berpengalaman lebih tinggi,
maka terpadulah raja’a dengan khaufnya kepada satu hal, yaitu CINTA.
Disinilah kita akan tahu sebuah pelajaran dari seorang Rabi’atul
‘Adawiyah (seorang Zahid perempuan yang telah menaikkan tingkat zuhud).
Cinta sejati tidak lagi mengenal berbagai hal. Kalau dalam hati kita
masih ada rasa aku adalah aku, dan engkau adalah engkau, maka itu
belumlah sampai pada inti cinta.
Kadang-kadang kita tak tahu apa
yang harus kita bicarakan lagi, bahkan bisa jadi mulutpun “ngelantur”.
Bahkan saking cintanya bisa jadi akan muncul kata-kata bahwa “Engkau
adalah aku”. Kadang-kadang juga kemanapun kita menoleh, hanya Sang
Kekasih itulah yang terlihat. Ke matahari terbit, ke bulan purnama kita
melihat...hanya Sang Kekasih itulah yang tampak. Ke angin sepoi-sepoi
sekalipun, Hangat hembusan Sang Kekasih itulah yang terasa. Bahkan juga
jika rasa cinta itu telah memuncak, merasa ingin mati saja dalam cinta.
“Kalaupun engkau ingin hidup berbahagia, matilah dengan dan karena Sang Kekasih (dalam keadaan syahid)
Dan jika tidak begitu, rindu adalah ahlinya untuk menggantikan itu”.
Pada suatu hari, timbul Tanya jawab diantara burung satu dengan burung
yang lain tentang keindahan dan kemesraan bila berjumpa dengan Nur dan
Narr, Cahaya dan Api.
Masing-masing bercerita tentang pengalaman
mereka. Seekor burung yang lebih tua menyuruh anak-anaknya merasakan
kemesraan cahaya itu. Ada salah satu diantara anak-anak burung itu,
dirasakannya cahaya itu dan dirasakannya pula panas itu, lalu ia pulang.
Seekor lagi mendekat ke cahaya itu, dan tersentuh pula panas itu,
hamper saja sayapnya terbakar. Ia pun pulang membawa bukti sayapnya yang
nyaris terbakar itu. Kemudian maju satu ekor lagi ke muka, terbang
menuju cahaya dan terbang menuju api lantas menghilang. Burung tua
itupun berkata : “Ia yang hilang kedalam cahaya dan kedalam api, maka
dialah yang sampai”.
Cinta akan melarutkan jiwa kita dalam
cahaya yang tiada dua hangatnya, tak satu pun di hati kita yang lebih
tinggi dari pada Sang Kekasih. Keindahan dan kemesraan bersama-Nya akan
mengalirkan anggur cinta yang tiada dua rasanya. Menari dengan senandung
cinta yang tiada dua merdunya. Terbang dengan sayap cinta yang tiada
dua kuat kepakan sayapnya.
Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Rabu, 12 Februari 2014
TINGKATAN MANUSIA
Bismillahi Ar Rahmaani Ar Rahiimi
Semoga catatan ini bisa bermanfaat bagi para pembaca dan semoga Allah SWT selalu memberikan hidayah-Nya pada kita semua, amin.
Kecerdasan dan kesanggupan akal seseorang itu tidaklah sama. senantiasa ada orang awam, yaitu seorang yang biasa. dan ada pula orang khawas, yang berfikir lebih cerdas. Imam Ghazali menasehatkan, orang awam yang belum sanggup berfikir cerdas, teratur dan meluaskan ilmu pengetahuannya, tak perlu memasuki sesuatu secara begitu dalam. karena hal itu akan menimbulkan keraguan dalam hatinya sendiri. sedangkan ilmu yang canggung lebih banyak merusak daripada memperbaiki. bagi orang awam, cukuplah ia berpegang dengan Nash Quran dan sunnah. tak usah banyak tanya, terelebih ikut campur menta'wilkan ayat dan hadits yang dalam fahamnya. karena itu akan merusak pendirian orang itu sendiri. ta'wil orang awam adalah ibarat orang yang tak pandai berenang mencoba merenangi lautan.
Ada lagi sebagian orang, yang ilmunya baru setengah perjalanan, baru mendapatkan perkakas, tetapi bukan alat dan hasilnya sendiri, melainkan hanya diambil dari orang lain. belum ada kesanggupan membandingkan sesuatu.
Ada lagi orang yang mencapai tingkat lebih tinggi. orang itu tidak lagi semata-mata berpegang pada kulit lahir dari Nash. tetapi meningkat pada sesuatu yang lebih tinggi dari itu, yaitu ilmu yang lebih banyak dirasakannya dari pada dikatakan (didapat / diterima dari orang lain). itulah anugerah istimewa dari Allah SWT. dia dapat menyaksikan yang Haqq dengan Nur Cahaya keyakinan.
Maka terbagilah derajat keimanan dan keyakinan manusia itu dalam tiga tingkat, antara lain :
1. Iman orang awam
Orang awam itu mempercayai kabar berita yang dibawa oleh orang yang dipercayainya.
2. Iman orang Alim
Dia mendapat kepercayaan dari jalan membanding, meneliti dan memeriksa dengansegenap kekuatan akal dan manthiknya (intelektualitas).
3. Iman orang 'Arifin
Dia beriman dan tumbuh keyakinan setelah menyaksikan sendiri akan kebenaran itu dengan tidak ada dinding lagi.
Pengibaratan dari ketiganya adalah sebagai berikut :
Ada seseorang didalam rumah...
Orang awam mendengar kabar itu dari orang yang tahu bahwa si fulan ada dalam rumah itu, lantas percayalah ia (orang awam itu).
Orang Alim menyaksikan tanda-tanda (misalkan baju yang ada didepan rumah, atau adanya suara dari dalam rumah itu), maka dapatlah ia menyimpulkan fikiran dan percaya bahwa si fulan memang ada didalam rumah.
Sedangkan orang 'Arifin telah masuk sendiri ke dalam rumah itu, dan bertemu dengan si fulan dalam rumah itu.
Orang 'Arifin yang telah mencapai martabat ini, itulah ke-Cintaan Tuhan yang bertemu dengan inti sari ilmu. orang-orang Alim (pada tingkat kedua) belumlah sampai pada tingkat ini. untuk mencapai tingkat ini, mulailah ia menaklukkan akal kepada jalan kecintaan. menghadap semata-mata kepada Allah SWT dengan membesarkan Himmah (cita-cita dan kemauan). menaklukkan diri, nafsu dan keinginan kedalam suatu latihan batin dan perjuangan (mujahadah). dengan kesetiaan yang sedemikian rupa, sedikit demi sedikit akan terbukalah hijab yang menutupi antara aku dengan ENGKAU, sehingga dapatlah menyaksikan sendiri dengan penglihatan hati, bukan dengan penglihatan mata.
Kesungguhuan, ketaatan dan kesetiaan menjaga segala syarat rukunnya, menghentikan segala larangan dan pantangannya, membuat jiwa sendiri suci bersih sehingga menimbulkan cahaya diri dengan Cahaya Hidayah petunjuk Tuhan. orang seperti inilah yang akan mencapai derajat Wali. derajat Wali-ul-Lah adalah dibawah derajat Nabi, Nabi mendapat "Wahyu dengan teratur" sedangkan Wali mendapatkan "Ilham". ada bebrapa macam cara datangnya, ada dengan perantara mimpi, ada juga dengan perantaraan tafakkur. dan sesungguhnya sumber dari semua itu ialah sama-sama dari Allah SWT.
Aku belum tahu (Dont Know yet what The Name of This)
Ada begitu banyak sesuatu yg terkurung di dalam pikiran ini..
Dia selalu memberikan penglihatan berunsurkan cahaya saat hati ini kuhadapkan padaNya..terlebih saat menghadap dalam shalat.. Gerak dan
Perpindahan nya hanya seperti berkedip mata..
Dia begitu banyak menyimpan "sesuatu" disana dan dsini(hati)
Namun
tak ada yg bisa ku katakan dalam kata atau ku tulis dalam huruf dan angka..
Sepertinya aku harus memahami untuk diriku sendiri..
mata ini selalu berkaca kaca sat melihat itu semua .. dan darah yg mengalir merespon itu dengan "kesejukan" pasi
.
bulir bulir air jernih adalah respon penglihatan itu..
Hati dan pikiran
ini tak mau beranjak kala melihatnya ...
Bgitu indah..
Andaikan aku bisa bersama mereka dlm waktu yg lama. Ingin ku tanyakan pda mereka tentang banyak hal..
dan satu Hal yg banyak orang mempertanyakannya
Wahai para pencari..
Hadapkanlah dirimu pada Nya..akan ada cahaya terang yg kluar dari hatimu..
Begitu
Menyilaukan..
Jangan khawatir..
Cahayaitu akan membawamu pada satu jalan dan satu kefahaman..
Kalian akan menemukan jejak mereka ..
Suasana yg akan meleburkan kalian dengan mereka..
Dia dekat ..
Dan Dia selalu ada di depanmu..
Dia selalu memberikan penglihatan berunsurkan cahaya saat hati ini kuhadapkan padaNya..terlebih saat menghadap dalam shalat.. Gerak dan
Perpindahan nya hanya seperti berkedip mata..
Dia begitu banyak menyimpan "sesuatu" disana dan dsini(hati)
Namun
tak ada yg bisa ku katakan dalam kata atau ku tulis dalam huruf dan angka..
Sepertinya aku harus memahami untuk diriku sendiri..
mata ini selalu berkaca kaca sat melihat itu semua .. dan darah yg mengalir merespon itu dengan "kesejukan" pasi
.
bulir bulir air jernih adalah respon penglihatan itu..
Hati dan pikiran
ini tak mau beranjak kala melihatnya ...
Bgitu indah..
Andaikan aku bisa bersama mereka dlm waktu yg lama. Ingin ku tanyakan pda mereka tentang banyak hal..
dan satu Hal yg banyak orang mempertanyakannya
Wahai para pencari..
Hadapkanlah dirimu pada Nya..akan ada cahaya terang yg kluar dari hatimu..
Begitu
Menyilaukan..
Jangan khawatir..
Cahayaitu akan membawamu pada satu jalan dan satu kefahaman..
Kalian akan menemukan jejak mereka ..
Suasana yg akan meleburkan kalian dengan mereka..
Dia dekat ..
Dan Dia selalu ada di depanmu..
Selasa, 11 Februari 2014
Keutamaan Wali di atas Alim
Penghargaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan sangatlah tinggi. Setinggi penghargaan mereka terhadap para pemiliknya (ulama). Betapa taat dan ta’dhimnya para santri kepada para ulama dapat dilihat ketika mereka berbondong-bondong mendengarkan petuah, pengajian dan ta’limnya. Hal ini sesuai dengan petunjuk agama untuk menghargai ilmu dan para pemegangnya.
Penghargaan yang serupa juga diberikan kepada para wali, bahkan penghormatan itu jauh lebih dalam ketika mereka telah tiada. Lihatlah beberapa makam para wali yang berada di Nusantara ini selalu penuh dengan peziarah. Sebagian masyarakat mampu memahamai fenomena ini dengan jernih. Dan membacanya sebagai bagian dari tradisi Islam. Tetapi sebagian orang tidak memahami hal ini, dan menganggap penghormatan kepada wali dan orang mati tidaklah pantas dilakukan. Mereka menganggap posisi seorang wali tidaklah lebih tinggi dari seorang ‘alim. Padahal tidak demikian, karena posisi wali ada di atas posisi alim.
Karena jika para alim adalah mereka yang menguasai masalah furu’ dan ushul dalam ajaran agama Islam yang membentang dari hal aqidah, syariah, tafsir, hadits dan seterusntya. Maka sesungguhnya para wali yang telah mencapai ma’rifat kepada Allah swt, dan membenamkan diri dalam pengabdian kepada-Nya setulus hati untuk selamanya dengan rela mengorbankan berbagai kesenangan duniawi dan syahwat rohani, maka sesungguhnya wali itu lebih utama posisinya dibandingkan para alim.
As-Syaikh Zainuddin al-Malibary mengatakan dalam Hidayatul Adzqiya’ sebagai berikut:
Dan mereka orang-orang yang mengenal (makrifat) Tuhannya lebih afdhal (utama) dibandingkan para ahli furu’ dan ahli ushul yang sempurna. Sesungguhnya satu raka’at yang dilakukan orang arif (wali) itu lebih utama dibandingkan seribu raka’at orang alim. Terimalah keterangan ini.
Begitu pula keterangan Sayyid al-Bakri Ibn Sajjid Muhammad Syatha ad-Dimyathi dalam kitabnya Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Ashfiya’ beliau menjelaskan bahwa kemuliaan orang yang berilmu (alim) itu sangat tergantung dengan ilmunya dan fungsi dari ilmu tersebut yang sangat terbatas. Akan tetapi kemuliaan para wali (al’arifuuna billah)orang yang mengerti Allah swt itu tergantung kepada yang Maha Mengetahui yang pengetahuan-Nya sangat sempurna dan amat mulia (yang tanpa batas – tanpa tanding).
KHULAFA' RASYIDIN SEMUANYA DARI KETURUNAN QURAISY.
• NASAB SAYYIDINA ABU BAKR AS-SIDDIQ
Sayyidina abu bakr bin abi Quhafah bin amir bin amr bin ka'ab bin sa'd bin taim bin murrah bin ka'ab bin lu'ay bin ghalib bin fihr bin malik bin Nadr bin kinanah bin khuzaimah bin mudrikah bin ilyas bin mudor bin nizar bin ma'ad bin adnan. (Al fasawi. Al ma'rifah wattarikh: 3/225)
• NASAB SAYYIDINA UMAR BIN KHATTAB.
Sayyidina Umar bin khattab bin naufal bin abdul uzza bin riyah bin abdullah bin Qurt bin razah bin adi bin ka'ab bin lu'ay bin ghalib bin fihr bin malik bin Nadr bin kinanah bin khuzaimah bin mudrikah bin ilyas bin mudor bin nizar bin ma'ad bin adnan.
(ibnu katsair. Al bidayah wan nihayah: 7/150) (Al fasawi. Al ma'rifah wattarikh: 3/225)
• NASAB SAYYIDINA UTSMAN
Sayyidina utsman bin affan bin abil ash bin umayyah bin abdi syams bin abdi manaf bin Qusay bin kilab bin murrah bin ka'ab bin lu'ay bin ghalib bin fihr bin malik bin nadr bin kinanah bin khuzaimah bin mudrikah bin ilyas bin mudor bin nizar bin ma'ad bin Adnan
(Al fasawi. Al ma'rifah wattarikh: 3/225)
• NASAB SAYYIDINA ALI
Ali bin abi thalib bin abdul mutthalib bin bin hasyim bin abdi manaf bin Qusay bin kilab bin murrah bin ka'ab bin lu'ay bin ghalib bin fihr bin malik bin Nadr bin kinanah bin khuzaimah bin mudrikah bin ilyas bin mudor bin nizar bin ma'ad bin adnan. (Al fasawi. Al ma'rifah wattarikh: 3/225)
SAHKAH PERNIKAHAN YANG DILAKUKAN DALAM KEADAAN SI WANITA TELAH HAMIL?
Saya menjalin hubungan dengan lelaki yang kurang disukai orangtua. Karena khilaf, saya hamil darinya. Oleh orangtua, kami dinikahkan (namun ayah saya tidak sanggup dan diserahkan kepada wali hakim) di KUA dengan syarat setelah menikah, kami tetap tinggal bersama orangtua masing-masing.
Pertanyaan saya adalah:
a. Apakah pernikahan kami sah?
b. Bagaimana dengan sikap ibu saya yang hanya memformalkan pernikahan?
Tantri, Jakarta Timur
Jawaban: Pada dasarnya, pria yang menikahi wanita yang pernah dizinai hukumnya sah-sah saja. Anak yang dikandungnya dinilai anaknya bila dia lahir setelah enam bulan dari masa akad nikahnya, dan bila kurang dari enam bulan si suami itu mengakui anak yang dikandung sebagai anaknya--tanpa berkata bahwa itu anak zina--pengakuannya pun dibenarkan sehingga anak itu dinisbahkan namanya kepada yang bersangkutan. Ini karena boleh jadi telah terlaksana perkawinan sah--tanpa diketahui sebelum kehamilan dan juga agar nama baik seseorang dapat terpelihara.
Dengan demikian, perkawinan Anda sah. Kendati demikian, hendaknya Anda banyak beristighfar dan memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa-Ta'ala, karena ketetapan hukum ini tidak membebaskan si pezina dari dosa besar akibat perzinahannya, ketetapan hukum ini hanya duniawi, sedangkan yang ukhrawi ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wa-Ta'ala. Adapun menyangkut ibu Anda, berbaik-baiklah kepadanya dan berupayalah mendapat ridha-Nya semoga sikapnya dapat berubah. Demikian, WALLOOHU A'LAM.
Dikutip dari buku Prof Dr Muhammad Quraish Shihab MA menjawab 1001 soal keislaman yang patut anda ketahui (bagian ketiga: Muamalah, halaman 529)
Kesiapan Menerima Pancaran Cahaya
Kesiapan Menerima Pancaran Cahaya
Datangnya anugerah itu menurut kadar kesiapan jiwa, sedangkan pancaran cahaya-Nya menurut kadar kebeningan rahasia jiwa. Anugerah, berupa pahala dan ma’rifat serta yang lainnya, sesungguhnya tergantung kesiapan para hamba Allah. Rasulullah Saw bersabda:
“Allah SWT berfirman di hari kiamat (kelak): “Masuklah kalian ke dalam syurga dengan rahmat-Ku dan saling menerima bagianlah kalian pada syurga itu melalui amal-amalmu.” Lalu Rasulullah Saw, membaca firman Allah Ta’ala: “Dan syurga yang kalian mewarisinya adalah dengan apa yang kalian amalkan.” (QS. Az-Zukhruf: 72)
Adapan pancaran cahaya-cahaya-Nya berupa cahaya yaqin dan iman menurut kadar bersih dan beningnya hati dan rahasia hati. Beningnya rahasia hati diukur menurut kualitas wirid dan dzikir seseorang.
Dalam kitabnya Latha'iful Minan, Syaikh Ibnu Atha'illah as-Sakandari menegaskan, “Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala menanamkan cahaya tersembunyi dalam berbagai ragam taat. Siapa yang kehilangan taat satu macam ibadah saja dan terkaburkan dari keselarasan Ilahiyah satu macam saja, maka ia telah kehilangan nur menurut kadarnya masing-masing. Karenanya jangan mengabaikan sedikit pun atas ketaatan kalian. Jangan pula merasa cukup wirid anda, hanya karena anugerah yang tiba. Jangan pula rela pada nafsu anda, sebagaimana diklaim oleh mereka yang merasa dirinya telah meraih hakikat dalam ungkapannya, sedangkan hatinya kosong…” Jangan keblinger dengan Cahaya atau bentuk Cahaya sebagaimana tergambar dalam pengalaman mengenai Cahaya lahiriyah, baik yang berwarna warni atau satu warna. Cahaya batin sangat berhubungan erat dengan kebeningan batin, tidak ada rupa dan warna yang tercetak. Melainkan pancaran Cahaya keyakinan total kepada-Nya.
Dalam kitab Al-Hikam dijelaskan: “Bagaimana hati bisa cemerlang jika wajah semesta tercetak di hatinya? Bagaimana bisa berjalan menuju Allah sedangkan punggungnya dipenuhi beban syahwatnya? Bagaimana berharap memasuki hadhirat Ilahi sedangkan ia belum bersuci dari jinabat kealpaannya? Atau bagaimana ia faham detil rahasia-rahasia-Nya, sedangkan ia tidak taubat dari kelengahannya?”
Semesta kemakhlukan adalah awal dari hijab Cahaya, dan ikonnya ada pada nafsu syahwat dan kealpaannya. “Siapa yang cemerlang di awal penempuhannya akan cemerlang pula di akhir perjalanannya.” Kecemerlangan ruhani dengan niat suci bersama Allah dalam awal perjalanan hamba, adalah wujud pantulan Cahaya yang diterima hamba-Nya, karena yang bersama Allah awalnya akan bersama Allah di akhirnya.
“Orang-orang yang sedang menempuh perjalanan menuju kepada Allah menggunakan petunjuk Cahaya Tawajjuh (menghadap Allah) dan orang-orang yang sudah sampai kepada Allah, baginya mendapatkan Cahaya Muwajahah (limpahan Cahaya). Kelompok yang pertama demi meraih Cahaya, sedangkan yang kedua, justru Cahaya-cahaya itu bagi-Nya. Karena mereka hanya bagi Allah semata, bukan untuk lain-Nya. Sebagaimana dalam Al Qur’an, “Katakan, Allah” lalu tinggalkan mereka (selain Allah) terjun dalam permainan.” Itulah hubungan Cahaya dengan para penempuh dan para ‘arifun, begitu jauh berbeda.
“Cahaya adalah medan qalbu dan rahasia qalbu. Cahaya adalah pasukan qalbu, sebagaimana kegelapan adalah pasukan nafsu. Bila Allah hendak menolong hamba-Nya, maka Allah melimpahkan padanya pasukan-pasukan Cahaya, dan memutus lapisan kegelapan dan tipu daya.”
Wilayah Cahaya adalah qalbu, ruh dan sirr. Cahaya akan memancar sebagai instrument, wujud adalah hakikat yaqin yang memancar melalui instrumen pengetahuan yang dalam tentang Allah. “Allah mencahayai alam lahiriyah melalui Cahaya-cahaya makhluk-Nya. Dan Allah mencahayai rahasia batin (sirr) melalui Cahaya-cahaya Sifat-Nya. Karena itulah cahaya semesta lahiriyah bisa sirna, dan Cahaya qalbu dan sirr tidak pernah sirna.”
Pencerahan Cahaya menurut kebeningan rahasia batin jiwa
“Shalat merupakan tempat munajat dan sumber penjernihan dimana medan-medan rahasia batin terbentang, dan di dalamnya Cahaya-cahaya memancarkan pencerahan.” Karena itu cita dan hasrat anda, hendaknya pada penegakan shalat, bukan wujud shalatnya.
“Apabila cahaya yaqin memancar padamu, pasti anda lebih dekat pada akhirat dibanding jarak anda menempuh akhirat itu sendiri. Dan bila anda tahu kebaikan dunia, pasti menampakkan gerhana kefanaan pada dunia itu sendiri.” Maksudnya, nuansa ukhrowi menjadi lapisan baju anda, yang melapisi Nuansa Ilahi. Segalanya terasa dekat tanpa jarak padamu.
“Tempat munculnya Cahaya adalah hati dan rahasia jiwa. Cahaya yang ditanamkan dalam hati adalah limpahan dari Cahaya yang menganugerah dari khazanah rahasia yang tersembunyi. Ada Cahaya yang tersingkapkan melalui makhluk-makhluk semesta, dan ada Cahaya yang tersingkapkan dari Sifat-sifat-Nya. Terkadang hati sejenak terhenti dengan Cahaya-cahaya, sebagaimana nafsu tertirai oleh alam kasar dunia.” Itulah ragam Cahaya, ada Cahaya muncul dari kemakhlukan ada pula Cahaya Sifat-Nya. Tetapi, jangan sampai Cahaya jadi tujuan, agar tidak terhijabi hati kita dari Sang Pemberi Cahaya, sebagaimana terhijabinya nafsu oleh alam kasar dunia.
“Cahaya-cahaya rahasia jiwa ditutupi oleh Allah melalui wujud kasarnya alam semesta lahiriyah, demi mengagungkan Cahaya itu sendiri, sehingga Cahaya tidak terobralkan dalam wujud popularitas penampakan.” Itulah Cahaya yang melimpahi para ‘arifin, auliya’ dan para sufi, yang dikemas oleh cover tampilan manusia biasa. Sebagaimana Rasulullah Saw, disebutkan , “Bukanlah Rasul itu melainkan manusia seperti kalian, makan sebagaimana kalian makan, minum sebagaimana kalian minum.” Ini semua untuk menjaga agar para hamba tidak berambisi popularitas, dan merasa bahwa Cahaya itu muncul karena upayanya.
Cahaya-cahaya para Sufi mendahului wacananya. Ketika Cahaya muncul maka muncullah wacana
Para Sufi dan arifun berbicara dan berwacana, bukan karena aksioma logika, tetapi karena limpahan Cahaya, baru muncul menjadi mutiara kata. Sementara para Ulama, wacananya mendahului cahayanya.
“Ada Cahaya yang diizinkan untuk terbiaskan, ada pula Cahaya yang diizinkan masuk di dalam jiwa.” Ada Cahaya yang hanya sampai di lapis luar hati, tidak masuk ke dalam hati, sebagaimana orang yang menasehati tentang hakikat tetapi dia sendiri belum sampai ke sana. Ada Cahaya yang menghujam dalam jiwa, dan dada menjadi meluas, dengan ditandainya sikap merasa hampa pada negeri dunia penuh tipu daya, dan menuju negeri keabadian, serta menyiapkan diri menjemput maut.
“Janganlah anda menginginkan agar warid menetap terus menerus setelah Cahaya-cahayanya membias dan rahasia-rahasia-Nya tersembunyi.” Itulah perilaku para pemula, biasanya ingin agar Cahaya-cahaya warid itu menetap terus menerus. Padahal suatu kebodohan tersendiri, karena penempuh akan lupa pada Sang Pencahaya.
“Sesungguhnya suasana keistemewaan itu ibarat pancaran matahari di siang hari yang muncul di cakrawala, tetapi Cahaya itu tidak dari cakrawala itu sendiri, dan kadang muncul dari matahari Sifat-sifat-Nya di malam wujudmu. Dan kadang hal itu tergenggam darimu lalu kembali pada batas-batas dirimu. Siang (Cahaya) bukanlah darimu untukmu. Tetapi limpahan anugerah padamu.”
“Cahaya qalbu dan rahasia jiwa tidak diketahui melainkan di dalam keghaiban alam malakut. Sebagaimana Cahaya langit tidak akan tampak melainkan dalam alam nyata semesta” Orang yang mampu memasuki alam malakut adalah yang dibukakan Cahaya qalbu dan jiwanya. Begitu juga nuansa pencerahan Cahaya qalbu dan rahasia qalbu itu, merupakan rahasia tersembunyi di alam Malakut.
Dan lain sebagainya, yang menggambarkan soal pencahayaan ini. Karena berbagai ragam, bisa memberikan sentuhan Cahaya, apakah Cahaya qalbu, Cahaya ruh dan Cahaya Sirr yang memiliki karakteristik berbeda-beda dalam kondisi ruhani para hamba Allah.
Datangnya anugerah itu menurut kadar kesiapan jiwa, sedangkan pancaran cahaya-Nya menurut kadar kebeningan rahasia jiwa. Anugerah, berupa pahala dan ma’rifat serta yang lainnya, sesungguhnya tergantung kesiapan para hamba Allah. Rasulullah Saw bersabda:
“Allah SWT berfirman di hari kiamat (kelak): “Masuklah kalian ke dalam syurga dengan rahmat-Ku dan saling menerima bagianlah kalian pada syurga itu melalui amal-amalmu.” Lalu Rasulullah Saw, membaca firman Allah Ta’ala: “Dan syurga yang kalian mewarisinya adalah dengan apa yang kalian amalkan.” (QS. Az-Zukhruf: 72)
Adapan pancaran cahaya-cahaya-Nya berupa cahaya yaqin dan iman menurut kadar bersih dan beningnya hati dan rahasia hati. Beningnya rahasia hati diukur menurut kualitas wirid dan dzikir seseorang.
Dalam kitabnya Latha'iful Minan, Syaikh Ibnu Atha'illah as-Sakandari menegaskan, “Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala menanamkan cahaya tersembunyi dalam berbagai ragam taat. Siapa yang kehilangan taat satu macam ibadah saja dan terkaburkan dari keselarasan Ilahiyah satu macam saja, maka ia telah kehilangan nur menurut kadarnya masing-masing. Karenanya jangan mengabaikan sedikit pun atas ketaatan kalian. Jangan pula merasa cukup wirid anda, hanya karena anugerah yang tiba. Jangan pula rela pada nafsu anda, sebagaimana diklaim oleh mereka yang merasa dirinya telah meraih hakikat dalam ungkapannya, sedangkan hatinya kosong…” Jangan keblinger dengan Cahaya atau bentuk Cahaya sebagaimana tergambar dalam pengalaman mengenai Cahaya lahiriyah, baik yang berwarna warni atau satu warna. Cahaya batin sangat berhubungan erat dengan kebeningan batin, tidak ada rupa dan warna yang tercetak. Melainkan pancaran Cahaya keyakinan total kepada-Nya.
Dalam kitab Al-Hikam dijelaskan: “Bagaimana hati bisa cemerlang jika wajah semesta tercetak di hatinya? Bagaimana bisa berjalan menuju Allah sedangkan punggungnya dipenuhi beban syahwatnya? Bagaimana berharap memasuki hadhirat Ilahi sedangkan ia belum bersuci dari jinabat kealpaannya? Atau bagaimana ia faham detil rahasia-rahasia-Nya, sedangkan ia tidak taubat dari kelengahannya?”
Semesta kemakhlukan adalah awal dari hijab Cahaya, dan ikonnya ada pada nafsu syahwat dan kealpaannya. “Siapa yang cemerlang di awal penempuhannya akan cemerlang pula di akhir perjalanannya.” Kecemerlangan ruhani dengan niat suci bersama Allah dalam awal perjalanan hamba, adalah wujud pantulan Cahaya yang diterima hamba-Nya, karena yang bersama Allah awalnya akan bersama Allah di akhirnya.
“Orang-orang yang sedang menempuh perjalanan menuju kepada Allah menggunakan petunjuk Cahaya Tawajjuh (menghadap Allah) dan orang-orang yang sudah sampai kepada Allah, baginya mendapatkan Cahaya Muwajahah (limpahan Cahaya). Kelompok yang pertama demi meraih Cahaya, sedangkan yang kedua, justru Cahaya-cahaya itu bagi-Nya. Karena mereka hanya bagi Allah semata, bukan untuk lain-Nya. Sebagaimana dalam Al Qur’an, “Katakan, Allah” lalu tinggalkan mereka (selain Allah) terjun dalam permainan.” Itulah hubungan Cahaya dengan para penempuh dan para ‘arifun, begitu jauh berbeda.
“Cahaya adalah medan qalbu dan rahasia qalbu. Cahaya adalah pasukan qalbu, sebagaimana kegelapan adalah pasukan nafsu. Bila Allah hendak menolong hamba-Nya, maka Allah melimpahkan padanya pasukan-pasukan Cahaya, dan memutus lapisan kegelapan dan tipu daya.”
Wilayah Cahaya adalah qalbu, ruh dan sirr. Cahaya akan memancar sebagai instrument, wujud adalah hakikat yaqin yang memancar melalui instrumen pengetahuan yang dalam tentang Allah. “Allah mencahayai alam lahiriyah melalui Cahaya-cahaya makhluk-Nya. Dan Allah mencahayai rahasia batin (sirr) melalui Cahaya-cahaya Sifat-Nya. Karena itulah cahaya semesta lahiriyah bisa sirna, dan Cahaya qalbu dan sirr tidak pernah sirna.”
Pencerahan Cahaya menurut kebeningan rahasia batin jiwa
“Shalat merupakan tempat munajat dan sumber penjernihan dimana medan-medan rahasia batin terbentang, dan di dalamnya Cahaya-cahaya memancarkan pencerahan.” Karena itu cita dan hasrat anda, hendaknya pada penegakan shalat, bukan wujud shalatnya.
“Apabila cahaya yaqin memancar padamu, pasti anda lebih dekat pada akhirat dibanding jarak anda menempuh akhirat itu sendiri. Dan bila anda tahu kebaikan dunia, pasti menampakkan gerhana kefanaan pada dunia itu sendiri.” Maksudnya, nuansa ukhrowi menjadi lapisan baju anda, yang melapisi Nuansa Ilahi. Segalanya terasa dekat tanpa jarak padamu.
“Tempat munculnya Cahaya adalah hati dan rahasia jiwa. Cahaya yang ditanamkan dalam hati adalah limpahan dari Cahaya yang menganugerah dari khazanah rahasia yang tersembunyi. Ada Cahaya yang tersingkapkan melalui makhluk-makhluk semesta, dan ada Cahaya yang tersingkapkan dari Sifat-sifat-Nya. Terkadang hati sejenak terhenti dengan Cahaya-cahaya, sebagaimana nafsu tertirai oleh alam kasar dunia.” Itulah ragam Cahaya, ada Cahaya muncul dari kemakhlukan ada pula Cahaya Sifat-Nya. Tetapi, jangan sampai Cahaya jadi tujuan, agar tidak terhijabi hati kita dari Sang Pemberi Cahaya, sebagaimana terhijabinya nafsu oleh alam kasar dunia.
“Cahaya-cahaya rahasia jiwa ditutupi oleh Allah melalui wujud kasarnya alam semesta lahiriyah, demi mengagungkan Cahaya itu sendiri, sehingga Cahaya tidak terobralkan dalam wujud popularitas penampakan.” Itulah Cahaya yang melimpahi para ‘arifin, auliya’ dan para sufi, yang dikemas oleh cover tampilan manusia biasa. Sebagaimana Rasulullah Saw, disebutkan , “Bukanlah Rasul itu melainkan manusia seperti kalian, makan sebagaimana kalian makan, minum sebagaimana kalian minum.” Ini semua untuk menjaga agar para hamba tidak berambisi popularitas, dan merasa bahwa Cahaya itu muncul karena upayanya.
Cahaya-cahaya para Sufi mendahului wacananya. Ketika Cahaya muncul maka muncullah wacana
Para Sufi dan arifun berbicara dan berwacana, bukan karena aksioma logika, tetapi karena limpahan Cahaya, baru muncul menjadi mutiara kata. Sementara para Ulama, wacananya mendahului cahayanya.
“Ada Cahaya yang diizinkan untuk terbiaskan, ada pula Cahaya yang diizinkan masuk di dalam jiwa.” Ada Cahaya yang hanya sampai di lapis luar hati, tidak masuk ke dalam hati, sebagaimana orang yang menasehati tentang hakikat tetapi dia sendiri belum sampai ke sana. Ada Cahaya yang menghujam dalam jiwa, dan dada menjadi meluas, dengan ditandainya sikap merasa hampa pada negeri dunia penuh tipu daya, dan menuju negeri keabadian, serta menyiapkan diri menjemput maut.
“Janganlah anda menginginkan agar warid menetap terus menerus setelah Cahaya-cahayanya membias dan rahasia-rahasia-Nya tersembunyi.” Itulah perilaku para pemula, biasanya ingin agar Cahaya-cahaya warid itu menetap terus menerus. Padahal suatu kebodohan tersendiri, karena penempuh akan lupa pada Sang Pencahaya.
“Sesungguhnya suasana keistemewaan itu ibarat pancaran matahari di siang hari yang muncul di cakrawala, tetapi Cahaya itu tidak dari cakrawala itu sendiri, dan kadang muncul dari matahari Sifat-sifat-Nya di malam wujudmu. Dan kadang hal itu tergenggam darimu lalu kembali pada batas-batas dirimu. Siang (Cahaya) bukanlah darimu untukmu. Tetapi limpahan anugerah padamu.”
“Cahaya qalbu dan rahasia jiwa tidak diketahui melainkan di dalam keghaiban alam malakut. Sebagaimana Cahaya langit tidak akan tampak melainkan dalam alam nyata semesta” Orang yang mampu memasuki alam malakut adalah yang dibukakan Cahaya qalbu dan jiwanya. Begitu juga nuansa pencerahan Cahaya qalbu dan rahasia qalbu itu, merupakan rahasia tersembunyi di alam Malakut.
Dan lain sebagainya, yang menggambarkan soal pencahayaan ini. Karena berbagai ragam, bisa memberikan sentuhan Cahaya, apakah Cahaya qalbu, Cahaya ruh dan Cahaya Sirr yang memiliki karakteristik berbeda-beda dalam kondisi ruhani para hamba Allah.
Langganan:
Postingan (Atom)