Laman

Kamis, 09 Januari 2014

Syair malam sang Terpindah...


Bismillaah..

Wahai Allaah..
Karena Rahman dan Rahim Mu ,kini Kau pindahkan aku pada satu ruang yang jauh dari keramaian..
Jika memang ini baik untukku dan sesuai rencanaMu..
Laksanakanlah..
anaa sami'na wa atha'na ilaika..
biidznika warahmatika..

Dan ijinkanlah aku memperbaiki serpihan serpihan cintaku PadaMu di tempat ini..
Tempat yang sunyi ..
Ijinkanlah aku memugar cinta yang telah usang ..
Bawalah aku kembali dalam samudera tak bertepiMu..
BersamaMu dan Bersama para KekasihMu..

Jadikanlah kesunyian kesunyian ini saksi atas
Usahaku dalam menggapai cintaMu seperti dulu...

Kesadaran yang Kau berikan padaku membuatku kian terpikat padaMu..

Oh..
Dzat Yang maha Mulia..
Betapa kini Kau membuatku berfikir dengan dalam..dalam kerenungan hening dan redupnya duniawi...

Oh ..
Dzat Yang Maha pengasih kepada seluruh makhluq..
Kasihanilah Hatiku ini..
Telah lama Kering hati ku ini dengan basuhan samudera tangis..
Berkeluh kesah pada Dunia yang akan rusakkan ku..
Tahulah Engkau tubuh kcil ini lemah karena Dunia..
Ranting ranting perusak kesucian hati dan ruhMu..
Andaikan kini ku berhenti menghirup NafasMu..

Oh..
sungguh malang lah Nasibku ..
Tidak ingin..
Aku tidak ingin itu terjadi..

Wahai Dzat yang Maha, Maha Kasih Sayang.

Siramkanlah air RahmatMu pada Tubuh kecil dan penuh dosa ini..
Basahilah tubuh kecil dan penuh dosa ini dengan Ampunan tak terbatasMu..
Aku mohon..
Aku mohon padaMu...
Biarkan cahaya cahaya penerang itu turun sebagai saksi..
saksi untukMu dan Untuk ku..

DALAM DUNIA SUFI, SEORANG MAJENUN ITU TIDAK SAJA NYENTRIK TAPI JUGA UNIK.


Assalamu’alaikum warohmatullahi
wabarokatuh…
Dalam dunia sufi, “majenun”
menjadi sesuatu yang wajar. Nama-
nama seperti Abu Nawas dan
Nasaruddin Hoja dianggap mewakili
orang “gila”. Mereka tidak saja
“nyentrik” tapi juga “unik”. Kisah-
kisahnya muncul dengan aroma
humor yang kental. Bahkan cerita-
cerita tentang keduanya hingga
sekarang masih terus ditulis. Salah
satu nama generasi sufi “gila”
lainnya adalah BUHLUL bin AMR
ASH-SHAIRAFI. Menurut catatan Abu
Qasim an-Naisaburi, Buhlul
dikatagorikan sebagai orang
majenun yang banyak akal. Ia
dipanggil dengan sebutan ABU
WUHAIB, seorang sufi tinggal di
Kuffah dan hidup sejaman dengan
Khalifah Harun al-Rasyid.
Salah satu kisah Buhlul yang
diceriterakan oleh Muhammad bin
Ismail bin Abu Fudaik, yaitu pada
suatu hari mendengar Buhlul berada
di kuburan. Ia sedang menjulurkan
kakinya di atas sebuah kuburan dan
mempermainkan tanahnya.
Kemudian kutanyakan kepadanya,
“Apa yang engkau lakukan disini
wahai Buhlul?”. Mendengar
pertanyaanku, ia menjawab, “Aku
duduk bersama kaum yang tidak
menyakitiku, dan bila aku pergi,
mereka tidak menggunjingku”.
Kemudian, aku berkata, “Krisis
sedang melanda di negeri ini. Harga
barang terus naik membumbung.
Alangkah baiknya, bila engkau
berdoa kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala agar kesulitan ini usai dan
harga-harga turun kembali”.
Mendengar permintaanku, Buhlul
pun menjawab, “Demi Allah, aku
tidak memperdulikan semua itu.
Sekalipun satu biji gandum berharga
satu dinas. Sesungguhnya Allah
Subhanahu wa Ta’ala telah meminta
kepada kita agar segera
menyembah-Nya. Dan Allah
bertanggung jawab untuk
memberikan rejeki kepada kita
sebagaimana telah dijanjikan-Nya”.
Kemudian Buhlul bersyair, “Wahai
orang-orang yang bersuka ria
dengan harta dunia dan segala
perhiasan. Kedua matanya tak
pernah tidur hanyut dalam
kelezatannya. Kau sibukkan dirimu
pada yang tak mampu, kau raih apa
yang dikatakan kepada Allah
manakala menghadap-Nya”.
Ceritera yang lain, datanglah dari
Abdurrahman al-Kufi. Suatu hari
Abdurrahman bertemu dengan
Buhlul, dan berkata, “Aku akan
bertanya kepadamu”. Abdurrahman
pun menjawab, “Bertanyalah”. Lalu
Buhlul berkata, “Apakah
kedermawanan, menurutmu?”.
Abdurrahman menjawab, “Ya, satu
perbuatan baik dibalas sepuluh kali”.
Buhlul serta merta membantahnya,
“Itu bukan kedermawanan, tetapi
perdagangan yang mencari
keuntingan !”. Mendengar hal itu,
Abdurrahman pun balik bertanya,
“Lalu bagaimana pendapatmu?”.
Maka Buhlul menjawab,
“Kedermawanan adalah jika Allah
melihat hatimu sepi dari keinginan
terhadap sesuatu karena
menjalankan sesuatu”.
Ceritera lain tentang Buhlul dengan
Khalifah Harun al-Rasyid, yaitu
suatu ketika Khalifah Harun al-
Rasyid menunaikan ibadah haji
(ketika berada di luar kota Kuffah)
tiba-tiba ia melihat Buhlul berjalan
membawa tongkat dengan diikuti
anak-anak di belakangnya. Lalu
Buhlul lari menghindar. Melihat hal
itu, Harun al-Rasyid bertanya
kepada anak-anak tersebut,
“Siapakah orang itu?”. Mereka pun
menjawab, “Dia Buhlul si gila”.
Kemudian Harun al-Rasyid berkata,
“Aku ingin menemuinya, panggillah
dia, jangan ditakut-takui”. Anak-
anak itu pun berlari dan membujuk
Buhlul. “Penuhilah panggilan Amirul
Mukminin”, pinta mereka. Lalu
Buhlul berlari sambil membawa
tongkatnya menuju Khalifah Harun
al-Rasyid. Khalifah Harun al-Rasyid
memberi salam, dan berkata, “Aku
sedang merindukanmu, wahai
Buhlul”. Mendengar perkataan
Khalifah, Buhlul pun menjawab,
“Tetapi aku tidak merindukanmu”.
Khalifah lalu meminta, “Berilah aku
nasehat”. Buhlul pun menjawab,
“Dengan apa, aku memberi nasehat
padamu?”. Khalifah terus mendesak
dan meminta nasehat, maka Buhlul
kemudian berkata, “Wahai Amirun
Mukminin ! Barangsiapa yang diberi
ketampanan dan rizki harta oleh
Allah, dia tidak berbuat kejahatan
dengan ketampanannya, dan belas
kasihan dengan hartanya, maka ia
dicatat dalam kitab amal sebagai
orang baik”. Mendengar jawaban itu,
Harun al-Rasyid mengira Buhlul
menghendaki sesuatu. Khalifah
kemudian berkata, “Aku telah
memerintahkan agar semua
utangmu dilunasi”. Mendengar itu,
Buhlul menjawab, “Tidak, wahai
Amirul Mukminin. Utang tidak
dibayar dengan utang, tetapi
kembalikan hak kepada yang punya
dan bayarlah utamnu sendiri !”.
Harun al-Rasyid kemudian berkata,
“Kami telah memerintahkan kamu
diberi gaji tetap !”. Buhlul pun
menjawab, “Wahai Amirul
Mukminin, apakah engkaubh
berpendapat bahwa Allah
memberimu tetapi Dia lupa
kepadaku?”. Selanjutnya Buhlul
pergi dengan berlari.
Dalam kisah yang lain, Buhlul
pernah berkata kepada Harun al-
Rasyid, “Wahai Amirul Mukminin,
bagaimanakah bila Allah
menempatkanmu di sisi-Nya? Lalu,
engkau ditanya tentang perahu kecil,
sumbu lampu dan kulit?”. Kata-kata
ini membuat Khalifah Harun al-
Rasyid tercekik sehingga pengawal
menegur Buhlul, “Engkau telah
melukai hati Amirul Mukminin”, kata
pengawal. Ternyata, tidak demikian
dengan sikap Harun al-Rasyid. Ia
berkata, “Biarkan dia”. Buhlul pun
berkata sambil menuding pengawal,
“Sebenarnya al-Rasyid ini rusak
karena ulah kamu dan orang-orang
sepertimu !”. Khalifah pun berkata,
“Aku ingin memberikan tali kasih
kepadamu”. Buhlul menjawab,
“Kembalikan saja kepada orang-
orang yang telah kamu ambil
hartanya”. Harun al-Rasyid
kemudian bertanya, “Lantas apa
keperluanmu kesini?”. Buhlul
menjawab, “Aku ingin agar engkau
tidak melihatku dan aku tidak
melihatmu”. Lalu ia berlari sambil
membawa tongkatnya dan berkata,
“Sungguh kamu termasuk orang
ternama di muka bumi ini. Para
hamba telah mendekat kepadamu.
Kemudian apakah gerangan yang
akan terjadi?. Bukankah kamu akan
mati dan ditanam di dalam tanah?
Lalu, peninggalanmu akan dibagi-
bagikan diantara ahli warismu !”.
Semoga dapat mengambil pelajaran
dari salah seorang majenun…amiin.

Rabu, 08 Januari 2014

KASYAF..

.
Bakat fitrah yang mengetahui
sebagian daripada yang nyata dan yang
disembunyikan menurut apa yang dibekalkan
oleh Allah s.w.t itu dinamakan K A S Y A F

seperti Pengetahuan Adam a.s melalui kekuatan kasyaf
melebihi pengetahuan malaikat.

Keistimewaan yang ada pada fitrah insan adalah
karena kaitannya dengan tiupan Roh Allah
s.w.t.

Kadang-kadang istilah ‘Rahasia’ atau ‘Sirr
Allah s.w.t’ digunakan oleh orang sufi bagi
menceritakan maksud ‘tiupan Roh Allah s.w.t’
itu.

Istilah Rahasia digunakan untuk menerangkan
bahwa ‘tiupan Roh Allah s.w.t’ bukanlah
sesuatu yang boleh diuraikan dengan jelas.
Ia adalah rahsia karena jarang
manusia
yang diberi pengetahuan tentangnya dan
kumpulan sedikit yang diberi pengetahuan itu
tidak mampu menguraikannya dengan jelas
kepada orang lain. Pemahaman itu ditanamkan
sebagai keyakinan bukan uraian akal logika..

Rahsia
Allah s.w.t itulah yang membuka medan
perhubungan di antara Allah s.w.t dengan
hamba-Nya.
Rahsia Allah s.w.t itulah yang
menanamkan kefahaman tentang Allah s.w.t
yang
“ ”; Allah Mendengar dan Melihat;
Allah Maha Esa dan berbagai-bagai aspek
ketuhanan.

Selasa, 07 Januari 2014

Dengan Asma Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang


Wahai Tuhanku ...
Kesalahan telah menutupku dengan pakaian kehinaan
Perpisahan dari-Mu telah membungkusku dengan jubah kerendahan
Besarnya dosaku telah mematikan hatiku
Hidupkan aku dengan ampunan-Mu

Wahai Cita dan Dambaku
Wahai Ingin dan Harapku
Demi Keagungan-Mu
Tidak kudapatkan pengampun dosaku selain-Mu
Tidak kulihat penyembuh lukaku selain-Mu

Aku pasrah berserah kepada-Mu
Aku tunduk bersimpuh kepada-Mu
Jika Kau usir aku dari pintu-Mu
Kepada siapa lagi aku bernaung?
Jika Kau tolak aku dari sisi-Mu
kepada siapa lagi aku berlindung?
Celaka sudah diriku
Lantaran aib dan celaku
Malang benar aku
Karena kejelekan dan kejahatanku

Aku bermohon kepada-Mu
Wahai Pengampun Dosa yang Besar
Wahai Penyembuh Tulang yang Patah
Anugerahkan kepadaku penghancur dosa
Tutuplah untukku pembongkar cela
Jangan lewatkan aku-di hari kiamat
Dari sejuknya ampunan dan maghfirah-Mu
Jangan tinggalkan aku
Dari indahnya maaf dan penghapusan-Mu

Ilahi Rabbi ...
Naungi dosa-dosaku dengan awan rahmat-Mu
Curahi cela-celaku dengan hujan kasih-Mu

Ilahi Rabbi ...
Kepada siapa lagi hamba yang lari
Kecuali kepada maula-Nya
Adakah selain Dia yang melindunginya dari murka-Nya

Ilahi Rabbi ...
Sekiranya sesal atas dosa itu taubat
Sungguh demi keagungan-Mu
Aku ini orang yang menyesal
Sekiranya istighfar itu penghapus dosa
Sungguh kepada-Mu aku ini beristighfar
Terserah pada-Mu jua
(Kecamlah daku sampai Kau ridha)

Ya Allah ...
dengan kudrat-Mu ampuni aku
dengan kasih-Mu maafkan aku
dengan ilmu-Mu sayangi aku

Ya Malikul Mulki ...
Engkaulah yang membuka pintu menuju maaf-Mu
kepada hamba-hamba-Mu
Kau namai taubat
Engkau berfirman: ”Bertaubatlah, taubat nashuha”
Apa halangan orang yang lalai memasuki pintu itu
Setelah terbuka

Ya Rabbi ...
jika jelek dosa dari hamba-Mu
Baikkanlah maaf dari sisi-Mu

Ilahi ...
aku bukan yang pertama membantah-Mu dan
Kaumaafkan
dan menolak nikmat-Mu tetapi Kaukasihi

Wahai Yang Menjawab pengaduan orang yang berduka ..
Wahai pelepas derita ..
Wahai penabur karunia ..
Wahai Yang Maha Mengetahui rahasia
Wahai Yang Paling Indah dalam menutup cela ..
Aku memohon pertolongan
dengan karunia dan kebaikan-Mu
Aku bertawasul
Dengan kemuliaan dan kasih-Mu
Perkenankan doaku, jangan kecewakan harapanku
Terimalah taubatku, hapuskan kesalahanku
Dengan karunia dan rahmat-Mu
Wahai Dzat Yang Lebih Pengasih dari segala yang mengasihi ...

Aamin yaa Rabbal alamin ..

“Bermegah-megahan adalah melalaikan kamu.

Sumber utama yang membuat manusia lalai dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kehidupan akhirat adalah berlebih-lebihan dalam masalah dunia.

Berlebih-lebihan dan rakus terhadap dunia baik yang berkenaan dengan harta benda, pangkat dan jabatan, popularitas, wanita, hiburan-hiburan yang diharamkan dan perkara hina lainnya dari kehidupan dunia adalah muara dari kelalaian. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Bermegah-megahan adalah melalaikan kamu.”(At-Takatsur: 1)

Al Imam Asy-Syaukani Rahimahullah berkata: “Dalam ayat ini terdapat dalil yang menjelaskan bahwasanya kesibukan, memperbanyak, dan berbangga-banggaan dalam perkara dunia termasuk hal yang tercela.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,”Sesungguhnya pada setiap umat terdapat fitnah dan fitnah ummatku adalah harta.”

Beliau juga bersabda, “Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku takutnkan pada kalian tapi aku takut kalau dunia dibentangkan kepada kalian sebagaiman telah dibentangkan pada orang-orang sebelum kalian, maka kalian akan saling berlomba-lomba sebagaimana mereka saling berlomba-lomba. Kalian dibinasakan sebagaimana mereka telah dibinasakan.”[6]

Hasan al Basri Rahimahullah berkata, “Sejelek-jelek tempat bagi orang kafir dan munafik adalah dunia dimana mereka bersenang-senang pada malam hari sedang ia hanya mempunyai bekal menuju neraka.” Beliau juga mengatakan, “Demi Allah! Sungguh Bani Israil telah menyembah patung yagn sebelumnya mereka beribadah kepada Ar-Rahmah (Allah Subhanahu Wa Ta’ala) karena kecintaan mereka terhadap dunia.”

Yahya bin Mu’adz Ar- Razi Rahimahullah berkata, “Dunia adalah khamr-nya setan, barang siapa yang mabuk maka ia tidak akan sadar hingga sakaratul maut dalam keadaan menyesal bersama orang-orang yang rugi.”

Wallahu a'alam

MENGOBATI TAKUT


1. Mengobati takut. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Allah itu Tuhan kami, kemudian mereka berpendirian teguh (istiqamah), maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (berkata): Jangan kamu takut dan jangan berduka- cita, dan terimalah berita gembira memperoleh surga yang telah dijanjikan kepada kamu. Kami menjadi pelindung kamu dalam kehidupan di dunia ini dan di hari akhirat. Di sana kamu memperoleh semua apa yang menjadi keinginan jiwamu (hatimu) dan di sana kamu memperoleh semua apa yang kamu minta.” (Fushilat : 30-32) Takut adalah penyakit rohaniah Dalam suatu perjuangan seringkali manusia dikalahkan oleh musuh-musuh yang bercokol dalam tubuhnya sendiri, yang menjadi musuh dalam selimut dan merupakan penyakit rohaniah. Penyakit itu di antaranya adalah sifat takut. Perasaan takut itu adalah satu gejala kejiwaan yang amat berbahaya. Rasa takut timbul karena jiwa tidak kuat menghadapi masalah-masalah atau tantangan yang dihadapi. Adakalanya juga karena memang ditakut-takuti, diintimidasi, mendapat teror mental dan fisik, khawatir kalau dipencilkan, dipecat, ”periuk nasi akan terbalik” (kehilangan sumber hidup), dan berbagai kesangsian lainnya. Acapkali pula kekhawatiran itu dianggap terlalu besar, bahkan ada juga orang yang takut kepada bayang-bayang, hantu di siang bolong, dan lain-lain. Ada ahli fikir yang mengibaratkan rasa takut semacam ini sebagai suatu penjajahan. Bentuk penjajahan tersebut bermacam-macam, ada yang datang dari dalam dan luar. Orang yang masih dijajah oleh rasa takut pada hakikatnya belum merdeka. Mohammad Natsir pernah mengatakan bahwa ” Penjajah yang lahir itu hanyalah manifestasi dari induk-penjajah, yang bernama rasa takut. Rasa takut ini melumpuhkan jiwa, menghilangkan inisiatif, dan mematikan daya cipta suatu masyarakat.” Hanya dalam satu hal ada kebaikan rasa takut itu, yaitu takut dalam kesalahan, takut menegakkan benang basah atau yang bathil, seperti yang disebutkan dalam peribahasa:” Takut karena salah, berani karena benar ”. Pada saat seseorang dihinggapi rasa takut ketika memulai suatu usaha atau pekerjaan, pada hakikatnya pada saat itu juga dia sudah mengahadapi kegagalan. Perhatikanlah seorang pengusaha yang takut menghadapi kerugian, dia tidak berani membuat transaksi besar dan akhirnya ia akan tetap menjadi tukang warung sepanjang zaman. Salah satu akibat yang fatal dari rasa takut itu ialah semangat maju mundur dalam menghadapi suatu hal. Hati dari dalam mengatakan supaya maju, tapi kaki menggerakkan supaya mundur. Yang lebih celaka lagi, orang-orang yang dicekam rasa takut itu pada umumnya tidak memiliki harga diri dan prestise yang dinamakan ’iffah. ’Iffah itu ialah naluri pembelaan terhadap diri sendiri apabila diperlakukan orang dengan perilaku yang tidak wajar. Orang-orang yang dihinggapi rasa takut itu akan ”menelan” saja hinaan yang dilemparkan kepadanya, walaupun hati kecilnya mengatakan perbuatan itu tidak pantas dan tidak adil. Dia tidak berani menantang dan melawan , sebab dihambat oleh rasa takut. Berbeda halnya orang yang mempunyai ’iffah itu, seluruh urat syarafnya akan bergerak, darahnya mengalir dan mendidih, dihadapinya tanpa bimbang walaupun posisi dan kekuatan lawannya itu jauh lebih besar. Dapat disimpulkan bahwa rasa takut itu adalah suatu penyakit rohani yang harus diberantas. Jiwa Tauhid memberantas rasa takut Salah satu kekuatan yang paling ampuh untuk memberantas rasa takut ialah dengan mempertebal dan menghayati jiwa Tauhid. Yaitu kepercayaan yang bulat dan tunggal terhadap kekuasaan Illahi. Dalam segala situasi dan kondisi senantiasa diingat kebesaran dan kekuasaan Allah dan hanya merasa takut kepada-Nya saja. Pada ayat yang dikutip di atas, ditegaskan bahwa saripati Tauhid itu dirangkaikan dalam pengakuan yang bulat dan mutlak bahwa Tuhan itu ialah Allah (Rabbunallah), dan supaya pengakuan itu dipegang teguh (istiqamah) dalam setiap keadaan. Dalam menafsirkan Rabbunallah itu, Sayid Quthub dalam tafsir ”Fi Zilalil Quran” (jilid VII) menyatakan: ”Perkataan Rabbunallah bukanlah semata-mata diucapkan saja. Tetapi menjadi dasar akidah di dalam jiwa, jalan

2. yang sempurna dalam kehidupan untuk menghadapi setiap keadaan dan perkembangan. Menjadi landasan berfikir dan menimbang bagi manusia dalam setiap hubungan dan kegiatan dalam wujud ini.” Selanjutnya dinyatakan: a. Rabbunallah, hanya kepada Allah manusia mengabdi dan (menyembah); kepada-Nya muka dihadapkan; hanyalah Dia yang ditakuti, dan Dia-lah yang menjadi tempat bersandar dan bergantung. b. Rabbunallah, berarti tidak ada yang dapat menimpakan bala kepada seseorang kecuali Dia; tidak ada yang ditakuti dan tidak ada yang dipandang selain Allah. c. Rabbunallah, berarti setiap yang timbul, pikiran dan takdir menghadap kepada-Nya dan mengharapkan ridha- Nya. d. Rabbunallah, berarti tidak ada tempat meminta keadilan kecuali kepada-Nya; tidak ada pimpinan kecuali petunjukNya e. Rabbunallah, berarti setiap orang dan benda yang berada di alam semuanya bergantung kepada Allah. f. Rabbunallah, adalah jalan yang menuju kepada tujuan itu, bukanlah hanya kalimat yang sekedar diucapkan dan bukan pula sebagai pengikat yang tak ada kaitannya dengan peristiwa dalam kehidupan. Akhirnya Sayid Quthub mneyimpulkan, bahwa ketetapan hati (istiqamah) yang berlandasakan Rabbunallah (hanya Allah-lah Tuhan kita), adalah tali yang teguh dan kuat, yang membuat mental dan fisik bisa bertahan merupakan pegangan hidup. Istiqamah menumbuhkan sikap sabar dalam memikul semua beban, tidak ragu-ragu mengahadapi kesulitan demi kesulitan. Siapa yang mempersunting sikap jiwa yang demikian, dia akan menerima nikmat yang besar. Semangat tauhid yang memantul dari pengakuan Rabbunallah itu mampu memberantas rasa takut yang menjadi rintangan bagi manusia dalam menentukan pendirian, dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun. Efek jiwa Tauhid Adapun efek jiwa dan semangat Tauhid itu berdasarkan ungkapan pada ayat tersebut ada 5 macam, yang dapat dihayati dalam kehidupan di dunia ini maupun dalam kehidupan di akhirat kelak. Kelima nilai-nilai tersebut ialah: 1) Memberantas rasa takut 2) Menghilangkan semangat dukacita dukacita dalam kehidupan dan perjuangan adalah sikap jiwa yang negatif. Dukacita (risau) atau murung membuat manusia selalu bermenung, berkhayal, membuat ”istana di awang-awang”, menghilangkan energi, statis, tidak mempunyai gairah dan lain-lain. Fikiran selalu dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman pahit dan kegagalan di masa lampau dan tidak berusaha menarik pelajaran dari peristiwa itu. 3) Mempunyai semangat pengharapan Senantiasa mempunyai semangat pengharapan (optimisme), sebab percaya sepenuhnya janji Ilahi yang akan menganugrahkan taman kehidupan yang indah (surga) bagi orang-orang yang berpegang kepada Tauhid Uluhiyah (meng-Esakan Allah) dan melaksanakan Tauhid Ubudiyah (berbakti dan menyembah Allah) 4) Menikmati kebahagiaan dunia dan akhirat Allah SWT akan bertindak sebagai Pelindung terhadap orang-orang yang berjiwa Tauhid, mengaruniakan nikmat baik dalam kehidupan di dunia ini maupun dalam kehidupan di akhirat. 5) Sukses dalam mencapai cita-cita Segala sesuatu yang diinginkan akan dipenuhi Ilahi, diberikan kemudahan dan sukses untuk mencapai cita-cita, segala permintaan akan diperkenankan. Demikianlah pengaruh jiwa tauhid itu, bukan saja untuk memberantas rasa takut, kerisauan, sifat murung dan sikap-sikap jiwa lainnya yang negatif, tetapi selain dari itu merupakan sumber yang akan memancarkan sikap jiwa yang positif dalam menghadapi pasang-naik dan pasang surut kehidupan ini.

Nur cahaya Bathin

Hai hamba !!! Sesungguhnya alam wujud ini / alam nyata ini seluruhnya adalah gelap. Tampaknya itu adalah karena Tajjalinya Allah dan tampaknya Nur Illahi di dalamnya.
Barang siapa yang hanya melihat kepada pandangan panca inderanya saja niscaya hanya dapat melihat jenis gelapnya saja. Dan barang siapa yang dapat menembus kepada pandangan batin niscaya ia dapat melihat Nur / Alam Malakut, Alam Ghoib. Nur cahaya langit dan bumi.
Barang siapa yang diterangi oleh Allah akan hatinya untuk islam (taat lahir dan taat batin) maka orang itulah mendapat pancaran Nur cahaya dari Tuhannya.

Nur cahaya batin terbagi atas 3 (tiga) bagian :
1. Nur ilmu laksana bintang, dapat nampak malam gelap.
2. Nur Maany laksana Bulan dapat nampak diufuk tauhid, dapat nampak pada pendekatan Allah, berintai-intaian dengan Allah.
3. Nur Makrifat laksana Matahari, dapat manampak diufuk tafrid/ kemaha –Esaan Allah (lenyap diri kedalam kebaqoan Allah ) dapat memperkuat keyakinan dan menyinari muka dalam musyahadah/ berpandang-pandangan dengan Allah.

Tingkatan Nurul Qolbi ada 3 (tiga) :
· NUR MENYINGKAP MAKRIFAT PADA WUJUD CIPTAAN ALLAH , bagai cahaya bintang. Nur pada tingkat ini disebut NURUL ISLAM.
· NUR MENYINGKAP MAKRIFAT PADA SIFATULLAH: Bagaikan cahaya bulan, Nur pada tingkat ini dinamakan NURUL IMAN .
· NUR MENYINGKAP PADA DZATULLAH : Bagaikan cahaya matahari, dinamakan NURUL IHSAN.

Sesungguhnya Matahari terbenam di waktu petang, dan sesungguhnya cahaya hati tak kunjung menghilang.
Tempat terbitnya Nur adalah : di hati, di Ruh, Di Sir. Pada alam malakut/ alam ghoib merupakan Nur cahaya batiniah.

Untuk tampak Nur cahaya Allah tersebut dengan cara : ( AN-Nur 36 ) : “ Pelita itu dalam rumah (masjid) yang telah diijinkan Allah menghormatinya dan menyebut nama-Nya dalam rumah itu, serta tasbih di dalamnya pagi dan petang . “
Hendaklah pengamalan (An-Nur 36 ) ini kita lakukan dengan terus menerus tanpa putus/dawam, setiap nafas kita isi dengan dzikirullah sehari semalam tidak kurang dari 6.666 X (Hal ini mengandung it’bak dari jumlah ayat Al-Qur’an .