Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Jumat, 10 Januari 2014
SETIAP JIWA ADALAH SEJATINYA JIWA YANG BAIK.
IA MENCINTAI KEDAMAIAN,
berupaya membangun kehidupan yang bergembira,
mengagumi keindahan,
menemukan kebahagiaan dalam membahagiakan yang dicintainya,
dan memiliki dorongan asli untuk menegakkan keadilan bagi kebaikan hidup sesama.
Tapi, KENYATAAN HIDUP YANG TAK MUDAH,
masalah dan kesulitan yang harus dihadapinya,
tuntutan biaya hidup yang lebih besar daripada pendapatan,
perlakuan orang lain yang tidak adil,
pameran ketidak-jujuran oleh mereka yang seharusnya menyejahterakan masyarakat,
kepalsuan para pemimpin,
dan keberingasan masyarakat,
membuat jiwa-jiwa baik di antara kita itu goyah,
gelisah,
dan merasa terpinggirkan.
Dan jika kegalauan jiwa dari banyak orang ini tidak kita damaikan,
mereka akan berlaku seperti api dalam sekam,
yang akan membawa ketidak-damaian yang lebih luas,
yang sesungguhnya hanya akan merugikan diri mereka sendiri.
Maka, demi kasih sayang Tuhan kepada saudara dan sahabat kita,
marilah setiap jiwa dari kita berupaya untuk MELINDUNGI DIRI KITA MASING-MASING DARI PERUSAKAN ATAS RASA HORMAT kita kepada nilai-nilai mulia kemanusiaan kita,
agar kita tumbuh menjadi pribadi yang berwenang mempengaruhkan kebaikan.
Marilah kita menyegarkan kembali tugas dari kehadiran kita dalam kehidupan ini,
yaitu untuk menjadi PEMAJU KEBAIKAN DAN PENCEGAH TERJADINYA KEBURUKAN kepada sesama dan alam.
Karena itulah tugas kekhalifahan kita dalam hidup ini.
Marilah masing-masing dari kita MEMBANGUN PENGHORMATAN YANG LEBIH DAMAI DAN UTUH KEPADA DIRI SENDIRI,
untuk memenangkan kembali perasaan berhak untuk berhasil,
keyakinan bahwa kewenangan untuk membangun kualitas kehidupan kita sudah diwariskan oleh Tuhan kepada kita,
dan bahwa jika bukan kita yang mengindahkan jiwa kita masing-masing, siapa lagi?
Dan jika tidak sekarang, kapan lagi?
Sahabatku yang baik hatinya,
HATI KITA ADALAH WAJAH DARI JIWA KITA.
Dan keindahan hati kita berpendar dan memancar dalam dan dari setiap hal yang kita lakukan.
Jika kebaikan yang kita inginkan dalam kehidupan kita, maka kebaikan pula-lah yang kita harapkan dari sesama dan lingkungan kita.
Dan kebaikan orang lain dan lingkungan, hanyalah sebanding dengan kualitas penghormatan kita kepada mereka.
Maka jiwa yang baik,akan diwakili oleh hati yang baik,
yang TAMPIL SEBAGAI PRIBADI YANG BERPEKERTI BAIK,
yang akan menerima perlakuan yang baik dari sesama dan lingkungannya.
Marilah kita yakini, bahwa HANYA KEBAIKAN YANG MEMBAIKKAN.
Dan dalam ketidak-jelasan mengenai janji-janji masa depan, ingatlah selalu, bahwa
JIKA YANG ANDA LAKUKAN ADALAH KEBAIKAN, MAKA KEBAIKANLAH YANG AKAN MENCARIKAN JALAN.
Tidak ada yang lebih indah, daripada mengikhlaskan diri untuk menjadi pribadi yang baik.
Sahabatku yang baik hatinya,
Semoga hari ini,
Tuhan menghadiahi kesungguhanmu untuk bekerja keras dalam kejujuran,
dengan rezeki-rezeki besar yang telah lama menjadi kerinduan hatimu.
Aamiin
Tetaplah menjadi jiwa kecintaan Tuhan.
BERKAH
Engkau yang berbicara tentang Berkah, mungkin musuh dari Berkah itu sendiri. Laki-laki maupun perempuan seharusnya menjadi musuh dari apa yang ingin ia cintai yang melekat dalam diri manusia -- tetapi hanya beberapa jenis manusia.Dalam bahasa biasa, Berkah adalah sesuatu, yang melalui pengaruh keilahian, menyelamatkan manusia. Ini kebenaran; tetapi selamat hanya untuk sebuah tujuan. Lagi, dalam pembicaraan biasa, masyarakat berusaha memanfaatkan Berkah untuk memberi mereka sesuatu. Ini keserakahan yang samar. Orang-orang yang bertakhayul meminta Berkah dari makam orang suci. Memang ada, tetapi apa yang mereka dapatkan bukan Berkah, kecuali kalau tujuannya benar. Berkah melekat pada sesuatu seperti halnya pada masyarakat, tetapi hanya diberikan kepada yang layak. Karena tujuan praktis Berkah, sama sekali tidak ada di sana.Ketika tidak ada Berkah sejati, dari kehausan manusia seperti itu, maka emosionalitasnya dianggap berasal dari harapan dan ketakutannya terhadap kebaikan Berkah. Jadi ia akan merasa bangga, kesedihan, emosi yang kuat, dan menyebutnya Berkah. Sesuatu yang sangat mudah dianggap sebagai Berkah adalah: suatu perasaan yang didapatkan manusia dari sesuatu yang aman, dikenal, menggetarkan.Tetapi hanya kaum Sufi yang memiliki Berkah sejati. Mereka adalah salurannya, sebagaimana mawar sebagai saluran aroma wewangiannya. Mereka dapat memberimu Berkah, tetapi hanya jika engkau setia pada mereka, yang artinya setia terhadap apa yang mereka wakili.Jika engkau mencari Berkah, temanku, carilah Sufi. Jika ia tampak brutal, berarti ia berterus terang, dan itulah takdir Berkahnya. Jika engkau ingin membayangkan, engkau akan sering-sering berada di dekat mereka yang tampak olehmu memberi jaminan dan pengangkatan depresi. Ambillah ini jika memang engkau perlu. Tetapi jangan sebut Berkah. Untuk mendapatkan Berkah, engkau harus memberi apa yang engkau miliki terus-menerus, sebelum engkau dapat menerima. Menerima sebelum engkau memberi adalah ilusi dan pikiran dosa. Bila engkau sudah memberi -- beri lagi, sepenuh jiwa.
RUH YANG TIDAK BINASA
Ruh yang memikul Amanat itu adalah ruh istimewa manusia (ar-ruhul
khassah lil insaan). Yang kami maksudkan dengan amanat adalah penguasaan
terhadap janji taklif dalam bentuk keterbukaan terhadap kemungkinan
memperoleh pahala dan siksa dengan kepatuhan dan kedurhakaan. Ruh ini
tidak pernah mati dan tidak pula binasa, malah justru kekal setelah
mati; baik itu dalam kesenangan dan kebahagiaan ataupun dalam Jahannam
dan kesengsaraan. Itulah ruh tempat ma’rifat. Pada dasarnya tanah tidak
memakan tempatnya iman dan ma’rifat, seperti yang dibeberkan oleh hadis
dan disaksikan oleh kesaksian-kesaksian kontemplasi. Ajaran agama
melarang meneliti sifat dan karakteristik ruh tersebut, sebab yang bisa
menjangkaunya hanyalah orang-orang yang mendalam ilmunya (arrasyikhuna
fil-ilmi).
Bagaimana hal itu akan dituturkan atau diceritakan,
padahal ruh itu memiliki karakteristik-karakteristik yang menakjubkan
yang belum mampu ditangkap atau dicerna oleh sebagian besar pikiran atau
salah satu lubang dari lubang-lubang neraka, sebab hubungannya dengan
badan hanya berupa pemanfaatan badan sebagai instrumen pemburu
pengetahuan melalui sarana jaring indera. Jadi, badan atau tubuh
merupakan alat, kendaran dan jaring ruh. Kepunahan atau kebinasaan alat,
kerusakan kendaraan dan jaring tidak mengharuskan rusaknya si pemburu.
Benar, jika jaring atau perangkap itu rusak sehabis berburu, maka
kerusakannya (kebinasaannya) merupakan harta rampasan, sebab dia
terhindar dari beban. Karena itulah, Rasulullah Saw. bersabda, “Maut itu
merupakan sesuatu yang amat berharga bagi orang Mukmin.”
Jika
jaring itu rusak sebelum berakhirnya pemburuan, yang terjadi adalah
kerugian, rasa sesal dan duka yang amat sangat. Karena itulah, orang
lalai berkata:
“Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku
berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” (Q.s.
Al-Mu’minun: 99-100).
Akan tetapi, jika ia suka pada dunia,
menyenanginya dan kalbunya juga mencintainya, kemudian ia juga
memperindah bentuknya dari apa yang berkaitan dengan dunia, maka siksa
yang menimpa padanya justru menjadi dua kali lipat: Pertama, kerugian
karena habisnya masa berburu yang hanya bisa dilakukan dengan
jaring-jaring tubuh. Kedua, hilangnya jaring-jaring berikut rasa
cintanya terhadap jaring tersebut.
Ini merupakan salah satu asas
pengetahuan tentang siksa kubur. Jika terus menyelidiki secara mendalam,
Anda akan mengetahui hakikatnya secara pasti.
Barangkali Anda
ingin menyelidikinya secara mendalam hingga mengetahui hakikatnya. Di
sini perlu Anda ketahui, bahwa buku ini tidak mencakup hal tersebut;
Anda cukup merasa puas dengan contoh-contoh kecil. Seyogyanya Anda paham
bahwa maut itu adalah hal yang membinasakan tubuh. Anda tahu, bahwa
rusaknya tangan adalah ketika tangan tidak lagi mematuhi Anda, padahal
fisiknya masih utuh, sementara kekuatannya lumpuh. Dengan kekuatan
tersebut Anda bisa memanfaatkan tangan.
Maka, Anda harus paham
dan mengerti bahwa maut merupakan hancurnya kekuatan energi tubuh.
Kemudian maut itu merusak Anda, tangan, kaki, mata dan seluruh indera
Anda, sementara Anda sendiri tetap kekal. Yakni hakikat atau jatidiri
Anda, dimana dengan jatidiri itu, Anda adalah Anda.
Sekarang
Anda adalah manusia seperti dalam keadaan masih bayi, barangkali tidak
satu pun dan jasad-jasad Anda itu yang melekat pada diri Anda. Semuanya
telah punah, dan hal itu bisa terwujud dengan adanya makanan sebagai
penggantinya. Sedangkan Anda adalah Anda, jasad Anda bukanlah jasad itu.
Andaikata Anda memiliki seorang kekasih yang sangat Anda rindukan,
melalui indera-indera Anda, maka perpisahan dengan kekasih Anda itu
merupakan siksa yang amat pedih.
Seluruh kelezatan dan
kenikmatan dunia sangat disenangi dan dirindukan, namun tidak dapat
dicapai kecuali dengan indera. Tidak ada bedanya siksaan bagi si pemabuk
cinta, apakah ia dipisahkan dengan kekasihnya atau ia dibatasi oleh
tirai dan dengan mencungkil biji matanya sebagai siksaan. Atau dia
diculik dari kekasihnya ke sebuah tempat, hingga dia tidak dapat
melihatnya. Rasa pedih yang dialaminya karena tidak dapat melihat atau
memandangnya.
Orang yang mencintai harta, keluarga, perabot
rumah, budak wanita dan pakaiannya, merasakan kepedihan ketika berpisah
dengan semua itu. Apakah semua benda dunia itu dirampas orang atau dia
sendiri dijauhkan dari benda-benda tersebut, seperti ketika hartabenda
itu dipindah ke tempat lain, lalu dibangun tirai di antara dirinya dan
barang-barang miliknya itu.
Mautlah yang menghancurkan Anda dan
harta-benda tersebut, dia menjadi dinding antara diri Anda. Rasa siksa
dan kepedihan yang menimpa Anda bergantung pada sejauhmana Anda
mencintai dan menyukai barang-barang tersebut.
Maut
mempertemukan Anda dengan Allah, dan memutuskan hubungan Anda dengan
segenap indera yang menyibukkan dan membingungkan. Kenikmatan dan
kelezatan Anda menghadap Allah bergantung pada kadar rasa cinta Anda
kepada-Nya, kesenangan Anda mengingat dan menyebut-Nya. Karena itulah,
Allah memberi peringatan kepada Anda, Dia berfirman dalam Hadis Qudsi,
“Aku adalah bagianmu yang pasti, maka pastikan dan tekunilah bagianmu.”
Ungkapan terlengkap untuk mendeskripsikan kenikmatan dan kebahagiaan
surga adalah, “Sungguh bagi mereka di dalam surga adalah apa yang mereka
senangi dan mereka sukai.”
Ungkapan yang paling sempurna untuk mewakili dan mendeskripsikan siksa akhirat adalah firman Allah yang berbunyi:
“Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini.” (Q.s. Saba’: 54).
Yang membuatnya lezat hanyalah selera, namun kelezatan itu muncul
ketika bertemu dengan apa yang diingini, dan tak ada yang menyedihkan,
kecuali selera itu pula. Kepedihan datang ketika berpisah dengan yang
apa dicintai.
Sekarang Anda jangan sampai tertipu dengan
menyatakan, “Jika hal ini merupakan sebab dari siksa kubur, maka
akujelas bebas dan aman dari siksa tersebut, sebab tidak ada ikatan
hubungan antara kalbuku dengan kenikmatan-kenikmatan duniawi.”
Hal ini tidak akan dapat Anda ketahui dengan sebenarnya, selama Anda
belum membuang dunia dan keluar dari dunia sepenuhnya. Berapa banyak
laki-laki menjual budak wanitanya, dengan dugaan bahwa tidak ada kaitan
hati apa pun antara dirinya dengan dia. Namun, setelah budak wanita
tersebut dibawa oleh si pembeli, kalbunya menyala dalam api perpisahan,
dan terus berkobar. Bahkan, bisa-bisa ia bunuh diri karenanya, dengan
menenggelamkan diri ke dalam sungai atau lautan, atau membakar diri pada
kobaran api.
Demikian pula dengan kondisi Anda dalam kubur
tentang segala hal duniawi yang disenangi oleh kalbu Anda. Karena
itulah, Rasulullah Saw. bersabda, “Cintailah apa yang kamu cintai, sebab
sesungguhnya kamu akan berpisah dan meninggalkannya.”
Di balik
ini ada siksa yang lebih dahsyat dari hal di atas, yaitu penyesalan
ketika dirinya terhalangi memandang wajah Allah Yang Maha Mulia.
Besarnya nilai yang hilang tersingkap dengan kematian, walaupun sebelum
mati nilai tersebut sangat kecil menurut Anda, karena maut merupakan
sebab dari ketersingkapan, ketampakan yang sebelumnya tidak tampak.
Sebagaimana tidur merupakan sebab dari tersingkapnya hal-hal gaib,
melalui lambang ataupun tanpa lambang.
Tidur adalah saudara
kematian. Hanya saja nilainya lebih rendah. Itulah dua bentuk siksa yang
berlipat ganda atas setiap orang mati, karena lebih mencintai selain
Allah. Suka citanya ditujukan pada selain Allah dibanding kecintaannya
kepada-Nya. Dua-duanya sangat penting, jika Anda mengetahui hakikat ruh
dan keabadiannya dalam kehidupan setelah mati, serta hubungan atau
kaitan-kaitannya, dan hal-hal yang kontra dan selaras naluri manusia.
APABILA TUHAN MEMBUKAKAN BAGIMU JALAN UNTUK MAKRIFAT, MAKA JANGAN HIRAUKAN TENTANG AMALMU YANG MASIH SEDIKIT KERANA ALLAH SWT...
Pengertian
amal, Qada’ dan Qadar, tadbir dan ikhtiar, doa dan janji Allah swt,
semuanya itu mendidik rohani agar melihat ke dalam diri betapa kecilnya
apa yang datang dari seorang hamba dan sebaliknya betapa besar apa yang
dikurniakan oleh Allah swt. Rohani yang terdidik begini akan membentuk
sikap beramal tanpa melihat kepada amalan itu tapi sebaliknya melihat
amalan itu sebagai kurniaan Allah swt yang wajib disyukuri. Orang yang
terdidik seperti ini tidak lagi membuat tuntutan kepada Allah swt tetapi
membuka hati nuraninya untuk menerima taufik dan hidayat daripada Allah
swt. Orang berpikiran jernih akan menuju kepada kesucian hati dan akan
mudah menerima pancaran Nur Sir. Mata hatinya akan melihat kepada
hakikat bahwa Allah swt, Tuhan Yang Maha Mulia, Maha Suci dan Maha
Tinggi tidak mungkin ditemui dan dikenali kecuali jika Dia ingin ditemui
dan dikenali. Tidak ada ilmu dan amal yang mampu menyampaikan seseorang
kepada Allah swt. Allah swt hanya dikenali apabila Dia memperkenalkan
‘diri-Nya’. Penemuan kepada hakikat bahwa “tidak ada jalan yang terhulur
kepada gerbang makrifat” merupakan puncak yang dapat dicapai oleh ilmu.
Karena “pengertian” itu tidak ada dalam Ilmu apapun. Ilmu tidak mampu
menelurkanpengertian itu. Apabila mengetahui dan mengakui bahwa “tidak
ada jalan atau tangga yang dapat mencapai Allah swt” maka seseorang itu
tidak lagi bersandar kepada ilmu dan amalnya, apa lagi kepada ilmu dan
amal orang lain. Bila sampai di sini seseorang itu tidak ada pilihan
lagi melainkan menyerah sepenuhnya kepada Allah swt. Ada orang yang
mengetuk pintu gerbang makrifat dengan doanya. Jika pintu itu tidak
terbuka maka semangatnya akan menurun, hingga akhirnya membawa kepada
berputus asa. Ada pula orang yang berpegang dengan janji Allah swt bahwa
Dia akan membuka jalan-Nya kepada hamba-Nya yang berjuang pada
jalan-Nya. Kuatlah dia beramal agar dia lebih layak untuk menerima
kurniaan Allah swt sebagaimana janji-Nya. Dia menggunakan kekuatan
amalannya untuk mengetuk pintu gerbang makrifat. Bila pintu tersebut
tidak terbuka juga maka dia akan berasa ragu-ragu. Dalam perjalanan
mencari makrifat, seseorang tidak terlepas daripada kemungkinan menjadi
ragu-ragu, lemah semangat dan berputus asa. Hal itu menandakan dia masih
bersandar kepada sesuatu selain Allah swt. Hamba tidak ada pilihan
kecuali berserah kepada Allah swt, hanya Dia yang memiliki kuasa Mutlak
dalam menentukan siapakah antara hamba-hamba-Nya yang layak mengenali
Diri-Nya. Ilmu dan amal hanya digunakan untuk membentuk hati yang
berserah diri kepada Allah swt. Menyerahkan diri atau Aslim kepada Allah
swt itulah yang dapat membawa kehadapan pintu gerbang makrifat. Hanya
para hamba yang sampai di perhentian aslim ini yang berkemungkinan
menerima kurniaan makrifat. Allah swt menyampaikan hamba-Nya di sini
adalah tanda bahwa si hamba tersebut dipersiapkan untuk menemui-Nya.
Aslim adalah makam tertinggi untuk menghampiri Allah swt. Seseorang yang
sampai kepada makam ini haruslah terus membenamkan dirinya ke dalam
lautan penyerahan tanpa menghiraukan banyak atau sedikit ilmu dan amal
yang dimilikinya. Sekiranya Allah swt kehendaki dari makam inilah hamba
diangkat ke Hadrat-Nya. Jalan Aslim menuju pintu gerbang makrifat pada
umumnya terbagi kepada dua; 1. Jalan orang yang mencari dan 2. Jalan
orang yang dicari. 1. Orang yang mencari akan melalui jalan di mana dia
kuat melakukan mujahadah (perjuangan/usaha), Berjuang melawan godaan
hawa nafsu, kuat melakukan amal ibadat dan gemar menuntut ilmu. Zahirnya
sibuk melaksanakan tuntutan syariat dan batinnya memperteguhkan iman.
Dipelajarinya tarekat tasauf, mengenal sifat-sifat yang tercela dan
berusaha mengikiskannya daripada dirinya. Kemudian diisikan dengan
sifat-sifat yang terpuji. Dipelajarinya perjalanan nafsu dan melatihkan
dirinya agar semakin lepas dari nafsunya itu agar menjadi bertambah suci
hingga meningkat ke tahap yang diredai Allah swt. Inilah orang yang
dimaksudkan Allah swt dalam firman-Nya : “Dan orang-orang yang berusaha
dengan bersungguh-sungguh karena memenuhi kehendak agama Kami,
sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami (yang
menjadikan mereka bergembira serta memperoleh keridhaan); dan
sesungguhnya (pertolongan dan bantuan) Allah adalah beserta orang-orang
yang berusaha membaiki amalannya. ( Ayat 69 : Surah al-‘Ankabut ) “Wahai
manusia ! Sesungguhnya engkau sentiasa berpenat – (menjalankan keadaan
hidupmu) dengan segala upayamu sehingga sampai (semasa engkau) kembali
kepada Tuhanmu, dan engkau akan tetap menemui balasan apa yang telah
engkau usahakan itu (tercatat semuanya). (Ayat 6 : Surah al-Insyiqaaq )
Orang yang bermujahadah pada jalan Allah swt dengan cara menuntut ilmu,
mengamalkan ilmu yang dituntut, memperbanyakkan ibadat, berzikir,
menyucikan hati, maka Allah swt menunjukkan jalan dengan memberikan
taufik dan hidayat sehingga terbuka kepadanya suasana berserah diri
kepada Allah swt tanpa ragu-ragu dan ridha dengan aturan/perlakuan Allah
swt. Dia akan dibawa kedekat pintu gerbang makrifat dan hanya Allah swt
saja yang menentukan apakah orang tadi akan dibawa ke Hadrat-Nya
ataupun tidak, dikurniakan makrifat ataupun tidak. 2. Golongan orang
yang dicari menempuh jalan yang berbeda daripada golongan yang mencari.
Orang yang dicari tidak cenderung untuk menuntut ilmu atau beramal
dengan tekun. Dia hidup selaku orang awam tanpa kesungguhan
bermujahadah. Tetapi, Allah swt telah menentukan satu kedudukan
kerohaniankepadanya, maka takdir akan menyeretnya sampai ke kedudukan
yang telah ditentukan itu. Orang dalam golongan ini biasanya
berhadapandengan sesuatu peristiwa yang dengan serta-merta membawa
perubahan kepada hidupnya. Perubahan sikap dan kelakuan berlaku secara
mendadak. Kejadian yang menimpanya selalu berbentuk ujian yang
memutuskan hubungannya dengan sesuatu yang menjadi penghalangantaranya
dengan Allah swt. Semisalnya dia seorang raja yang beban kerajaannya
menyebabkan dia tidak mampu mendekati Allah swt, maka Allah swt mencabut
kerajaan itu daripadanya. Terlepaslah dia daripada beban tersebut dan
saat itu juga timbul satu keinsafan di dalam hatinya, yang membuatnya
menyerahkan diri kepada Allah swt dengan sepenuh hatinya. Sekiranya dia
seorang hartawan takdir akan memupuskanhartanya sehingga dia tidak ada
tempat bergantung kecuali Tuhan sendiri. Sekiranya dia berkedudukan
tinggi, takdir mencabut kedudukan tersebut dan ikut tercabut kemuliaan
yang dimilikinya dan digantikan pula dengan kehinaan sehingga dia tidak
ada tempat untuk dituju lagi kecuali kepada Allah swt. Orang dalam
golongan ke dua ini dihalang oleh takdir daripada menerima bantuan
daripada makhluk. Sehingga mereka berputus asa terhadap makhluk. Lalu
mereka kembali dengan penuh kerendahan hati kepada Allah swt dan
timbullah dalam hatinya suasana penyerahanatau aslim yang benar-benar
terhadap Allah swt. Penyerahan yang tidak mengharapkan apa-apa daripada
makhluk menjadikan mereka ridha dengan apa saja takdir dan perlakuan
Allah swt. Suasana begini membuat mereka sampai dengan cepat ke
perhentian pintu gerbang makrifat walaupun ilmu dan amal mereka masih
sedikit. Orang yang berjalan dengan kendaraan bala bencana dan tetap
dalam istiqamah (ridha dalam perlakuan Allah swt) akan lebih cepat
sampai ke pintu gerbang kema’rifatan. Abu Hurairah r.a menceritakan,
yang beliau dengar Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya : Allah
berfirman: “ Apabila Aku menguji hamba-Ku yang beriman kemudian dia
tidak mengeluh kepada pengunjung-pengunjungnya maka Aku lepaskan dia
dari belenggu-Ku dan Aku gantikan baginya daging dan darah yang lebih
baik dari yang dahulu dan dia boleh memperbaharui amalnya sebab yang
lalu telah diampuni semua”. Amal kebaikan dan ilmunya tidak mampu
membawanya kepada kedudukan kerohanianyang telah ditentukan Allah swt,
lalu Allah swt dengan rahmat-Nya mengenakan ujian bala bencana yang
menariknya dengan cepat kepada kedudukan berhampiran dengan Allah swt.
Akhir kata … semoga kita semua diberikan taufik dan hidayah-Nya untuk
memperoleh pengertian-pengertian seperti ini meskipun tidak sekarang.
Sehingga kita benar-benar mengerti makna dari Hakikat berMa’rifatullah.
Jadi ternyata bukan sekedar “ngelmu2an dan atau berharap dari amal2an”
tapi sesungguhnya memang seperti uraian2 pengertian diatas. Kalo boleh
saya ringkaskan bahwa Jalan tertinggi dalam makam berma’rifatullah
adalah “bersabar dalam perjuangan dengan segala Ujian2 (perlakuan-Nya)” –
yang sering kita dengan sebutan RIDHA. Untuk mengerti makna dari
tulisan ini hendaknya membacanya harus “lepas” dari nafsu dan dari
segala ke“ILMU”an yang ada di diri. Harus dengan kehati2an dan
setenang-tenang dalam rasa cinta kepada Allah swt.
SANG SUFI
Ia mungkin seperti Khidr, Orang Berbaju Hijau, yang berkelana di muka bumi dalam berbagai samaran, yang sama sekali tidak engkau ketahui. Bila berada di "tempat"-nya ia akan ditemukan menggembalakan domba suatu hari, berikutnya minum dari piala emas bersama raja.Bila ia gurumu, ia akan menguntungkanmudari cahayanya, engkau ketahui pada saat itu maupun tidak.Manakala engkau bertemu dengannya, ia akan bertindak terhadapmu, apakah engkau mengetahuinya atau tidak.Apa yang ia katakan atau lakukan mungkin terlihat tidak konsisten atau bahkan tidak engkau mengerti. Tetapi memiliki makna. Ia tidak hidup sepenuhnya di duniamu.Intuisinya adalah arahan yang sudah semestinya, ia selalu bekerja sesuai dengan jalan yang Benar.Ia mungkin tidak menyenangkan dirimu. Tetapi itu yang akan diharapkan dan diperlukan.Ia mungkin terlihat membalik kebaikan menjadi jahat, atau jahat menjadi baik. Tetapi apa yang sebenarnya ia lakukan hanya diketahui oleh Sebagian Kecil.Engkau mungkin mendengar bahwa beberapa orang menentangnya. Akan engkau temukan, bahwa sebagian kecil orang memang demikian. Ia sederhana dan membiarkan dirimu menemukan apa yang harus engkau temukan dengan perlahan.Ketika engkau pertama kali bertemu dengannya, ia mungkin tampak sangat berbeda dengan dirimu. Padahal tidak. Ia mungkin terlihat sangat sama seperti dirimu. Padahal tidak
Pecinta Ilahi..
PECINTA
ILAHI (Pencari Cinta)Jiwa para pecinta rindu untuk berjumpa dan
memandang wajah Allah yang Maha Agung.. “Orang orang yang yakin bahwa
mereka akan bertemu dengan Tuhan mereka “‘(QS. 2: 46). Tentang kerinduan
para pecinta terhadap Allah Swt., sufi besar Jalaluddin Rumi
menggambarkan dalam matsnawi sebagai kerinduan manusia pada pengalaman
mistikal primordial di hari “alastu” sebagai kerinduan seruling untuk
bersatu kembali pada rumpun bambu yang merupakan asal muasal ia
tercipta. Hidup di dunia merupakan perpisahan yang sangat pilu bagi para
pecinta, mereka rindu sekali kepada Rabbnya seperti seseorang yang
merindukan kampung halamannya sendiri, yang merupakan asal-usulnya. Jiwa
para pecinta selalu dipenuhi keinginan untuk melihat Allah Swt. dan itu
merupakan cita-cita hidupnya. Menurut Al-Ghazali makhluk yang paling
bahagia di akhirat adalah yang paling kuat kecintaannya kepada Allah
Swt. Menurutnya, ar-ru’yah (melihat Allah).merupakan puncak kebaikan dan
kesenangan. Bahkan kenikmatan surga tidak ada artinya dengan kenikmatan
kenikmatan perjumpaan dengan Allah Swt. Meminta surga tanpa mengharap
perjumpaan dengan-Nya merupakan tindakan “bodoh” dalam terminologi sufi
dan mukmin pecinta.“Shalat adalah mi’rajnya orang beriman” begitulah
bunyi sabda Nabi Saw. untuk menisbatkan kualitas shalat bagi para
pecinta. Shalat merupakan puncak pengalaman ruhani di mana ruh para
pecinta akan naik ke sidratul muntaha, tempat tertinggi di mana
Rasulullah di undang langsung untuk bertemu dengan-Nya. Seorang Aqwiya
(orang-orang yang kuat kecintaannya pada Tuhan) akan menjalankan shalat
sebagai media untuk melepaskan rindu mereka kepada Rabbnya, sehingga
mereka senang sekali menjalankannya dan menanti-nanti saat shalat untuk
waktu berikutnya, bukannya sebagai tugas atau kewajiban yang sifatnya
memaksa. Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata: “Ada hamba yang beribadah
kepada Allah karena ingin mendapatkan imbalan, itu ibadahnya kaum
pedagang. Ada hamba yang beribadah karena takut siksaan, itu ibadahnya
budak, dan ada sekelompok hamba yang beribadah karena cinta kepada Allah
Swt, itulah ibadahnya orang mukmin”. Seorang pecinta akan berhias wangi
dan rapi dalam shalatnya, melebihi saat pertemuan dengan orang yang
paling ia sukai sekalipun. Bahkan mereka kerap kali menangis dalam
shalatnya. Kucuran air mata para pecinta itu merupakan bentuk ungkapan
kerinduan dan kebahagiaan saat berjumpa dengan-Nya dalam
sholatnya.Mencintai Allah Swt. bisa di pelajari lewat tanda-tanda-Nya
yang tersebar di seluruh ufuk alam semesta. Pada saat yang sama,
pemahaman dan kecintaan kepada Allah ini kita manifestasikan ke bentuk
yang lebih nyata dengan amal saleh dan akhlakul karimah yang
berorientasi dalam segenap aspek kehidupan.
CARA MENGENAL ALLAH
Syeikh
Ahmad Arifin berpendapat bahwa setiap yang ada pasti dapat dikenal dan
hanya yang tidak ada yang tidak dapat dikenal. Karena Allah adalah zat
yang wajib al-wujud yaitu zat yang wajib adanya, tentulah Allah dapat
dikenal, dan kewajiban pertama bagi setiap muslim adalah terlebih dahulu
mengenal kepada yang disembahnya, barulah ia berbuat ibadah sebagimana
sabda Nabi :أَوَلُ الدِّيْنِ مَعْرِفَةُ اللهِArtinya: “Pertama sekali di
dalam agama ialah mengenal AllahKenallah dirimu, sebagaimana sabda Nabi
SAWمَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ وَمَنْ عَرَفَ رَبَّهُ
فَسَدَ جَسَدَهُArtinya: “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan
mengenal Tuhannya, dan barangsiapa yang mengenal Tuhannya maka
binasalah (fana) dirinya.Lalu diri mana yang wajib kita kenal?
Sungguhnya diri kita terbagi dua sebagaimana firman Allah dalam surat
Luqman ayat 20 :وَأَسْبَغَ عَليْكُمْ نِعَمَهُ ظَهِرَةً
وَبَاطِنَةًArtinya : Dan Allah telah menyempurnakan bagimu nikmat zahir
dan nikmat batin.Jadi berdasarkan ayat di atas, diri kita sesungguhnya
terbagi dua:1. Diri Zahir yaitu diri yang dapat dilihat oleh mata dan
dapat diraba oleh tangan.2. Diri batin yaitu yang tidak dapat dipandang
oleh mata dan tidak dapat diraba oleh tangan, tetapi dapat dirasakan
oleh mata hati. Adapun dalil mengenai terbaginya diri manusiaKarena
sedemikian pentingnya peran diri yang batin ini di dalam upaya untuk
memperoleh pengenalan kepada Allah, itulah sebabnya kenapa kita disuruh
melihat ke dalam diri (introspeksi diri) sebagimana firman Allah dalam
surat az-Zariat ayat 21:وَفِى اَنْفُسِكُمْ اَفَلاَ تُبْصِرُوْنَArtinya :
Dan di dalam diri kamu apakah kamu tidak memperhatikannya.Allah
memerintahkan kepada manusia untuk memperhatikan ke dalam dirinya
disebabkan karena di dalam diri manusia itu Allah telah menciptakan
sebuah mahligai yang mana di dalamnya Allah telah menanamkan rahasia-Nya
sebagaimana sabda Nabi di dalam Hadis Qudsi :بَنَيْتُ فِى جَوْفِ اِبْنِ
آدَمَ قَصْرًا وَفِى الْقَصْرِ صَدْرً وَفِى الصَّدْرِ قَلْبًا وَفِى
الْقَلْبِ فُؤَادً وَفِى الْفُؤَادِ شَغْافًا وَفِى الشَّغَافِ لَبًّا
وَفِى لَبِّ سِرًّا وَفِى السِّرِّ أَنَا (الحديث القدسى)Artinya: “Aku
jadikan dalam rongga anak Adam itu mahligai dan dalam mahligai itu ada
dada dan dalam dada itu ada hati (qalbu) namanya dan dalam hati (qalbu)
ada mata hati (fuad) dan dalam mata hati (fuad) itu ada penutup mata
hati (saghaf) dan dibalik penutup mata hati (saghaf) itu ada nur/cahaya
(labban), dan di dalam nur/cahaya (labban) ada rahasia (sirr) dan di
dalam rahasia (sirr) itulah Aku kata Allah”. (Hadis Qudsi) Bagaimanakah
maksud hadis ini? Tanyalah kepada ahlinya, yaitu ahli zikir, sebagaimana
firman Allah dalam surat an-Nahal ayat 43 :فَاسَئَلُوْا أَهْلَ
الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لاَتَعْلَمُوْنَ Artinya: “Tanyalah kepada ahli
zikrullah (Ahlus Shufi) kalau kamu benar-benar tidak tahu.”Karena Allah
itu ghaib, maka perkara ini termasuk perkara yang dilarang untuk
menyampaikannya dan haram pula dipaparkan kepada yang bukan ahlinya
(orang awam), seabagimana dikatakan para sufi:وَلِلَّهِ مَحَارِمٌ فَلاَ
تَهْتَكُوْهَاArtinya: “Bagi Allah itu ada beberapa rahasia yang
diharamkan membukakannya kepada yang bukan ahlinyah”.Nabi juga ada
bersabda :وَعَائِيْنِ مِنَ الْعِلْمِ اَمَّا اَحَدُ هُمَا فَبَشَتْتُهُ
لَكُمْ وَاَمَّااْلأَخِرُ فَلَوْبَثَتْتُ شَيْئًا مِنْهُ قَطَعَ
هَذَالْعُلُوْمَ يَشِيْرُ اِلَى حَلْقِهِ Artinya: “Telah memberikan
kepadaku oleh Rasulullah SAW dua cangkir yang berisikan ilmu
pengetahuan, satu daripadanya akan saya tebarkan kepada kamu. Akan
tetapi yang lainnya bila saya tebarkan akan terputuslah sekalian ilmu
pengetahuan dengan memberikan isyarat kepada lehernya.اَفَاتُ الْعِلْمِ
النِّسْيَانُ وَاِضَاعَتُهُ اَنْ تَحَدَّثْ بِهِ غَيْرِ اَهْلِهِArtinya :
“Kerusakan dari ilmu pengetahuan ialah dengan lupa, dan menyebabkan
hilangnya ialah bila anda ajarkan kepada yang bukan ahlinya.”Adapun
tentang Ilmu Fiqih atau Syariat Nabi bersabda:بَلِّغُوْا عَنِّى وَلَوْ
اَيَةًArtinya: “Sampaikanlah oleh kamu walau satu ayat saja”.Adapun Ilmu
Fiqih tidak boleh disembunyikan, sebagaimana sabda Nabi SAW:مَنْ كَتَمَ
عِلْمًا لِجَمِّهِ اللهِ بِلِجَامٍ مِنَ النَّارِ Artinya: “Barangsiapa
yang telah menyembunyikan suatu ilmu pengetahuan (ilmu syariat) akan
dikekang oleh Allah ia kelak dengan api neraka”.Adapun ilmu hakikat atau
ilmu batin memang tidak boleh disiar-siarkan kecuali kepada orang yang
menginginkannya. Memberikan dan mengajarkan ilmu hakikat kepada yang
bukan ahlinya ditakuti jadi fitnah disebabkan pemikiran otak sebahagian
manusia ini tidak sampai mendalami ke lubuk dasarnya yaitu ilmu Allah
Ta’ala. Ibarat kayu di hutan tidak sama tingginya, air di laut tidak
sama dalamnya, dan tanah di bumi tidak sama ratanya, demikian halnya
dengan manusia. Maka ahli Zikir (ahlus Shufi) inilah yang mendekati
maqam wali-wali Allah yang berada di bawah martabat para nabi dan rasul.
Inilah makna tujuan Allah memerintahkan supaya bertanya kepada ahli
Zikir, karena ahli Zikir adalah orang-orang yang senantiasa hati dan
pikirannya selalu ingat kepada Allah serta senantiasa mendapat bimbingan
ilham dari Allah SWT.Oleh karena itu, agar kita dapat mengenal Allah,
maka kita harus mempunyai pembimbing rohani atau mursyid. Tentang hal
ini Abu Ali ats-Tsaqafi bertaka, “seandainya seseorang mempelajari semua
jenis ilmu dan berguru kepada banyak ulama, maka dia tidak sampai ke
tingkat para sufi kecuali dengan melakukan latihan-latihan spiritual
bersama seorang syeikh yang memiliki akhlak luhur dan dapat memberinya
nasehat-nasehat. Dan barang siapa yang tidak mengambil akhlaknya dari
seorang syeikh yang melarangnya, serta memperlihatkan cacat-cacat dalam
amalnya dan penyakit-penyakit dalam jiwanya, maka dia tidak boleh
diikuti dalam memperbaiki muamalah”.Namun tidaklah ilmu pengenalah
kepada Allah ini diperoleh dengan mudah begitu saja seperti mempelajari
ilmu syari’at, karena ada satu syarat yang paling utama yang harus
dilakukan terlebih dahulu yaitu mengambil ilmu ini dengan dibai’at oleh
seorang mursyid yang kamil mukamil yang masuk dalam rantai silsilah para
syeikh tarekat sufi yang bersambung-sambung sampai kepada Rasulullah
SAW. Oleh karena itu jalan satu-satunya bagi kita untuk dapat mengenal
Allah adalah dengan mempelajari ilmu tarekat di bawah bimbingan seorang
mursyid. Tanya : Mengapa hati memegang peran penting di dalam mengenal
Allah?Jawab : Bila kita sebut nama hati, maka hati yang dimaksud di sini
bukanlah hati yang merah tua seperti hati ayam yang ada di sebelah kiri
yang dekat jantung kita itu. Tetapi hati ini adalah alam ghaib yang tak
dapat dilihat oleh mata dan alat panca indra karena ia termasuk alam
ghaib (bersifat rohani). Tiap-tiap diri manusia memiliki hati sanubari,
baik manusia awam maupun manusia wali, begituja para nabi dan rasul.
Pada hati sanubari ini terdapat sifat-sifat jahat (penyakit hati),
seperti : hasad, dengki, loba, tamak, rakus, pemarah, bengis, takbur,
ria, ujub, sombong, dan lain-lain. Tetapi bilamana ia bersungguh-sungguh
di dalam tarekatnya di bawah bimbingan mursyidnya, maka lambat laun
hati yang kotor dan berpenyakit tadi akan bertukar bentuknya dari rupa
yang hitam gelap pekat menjadi bersih putih dengan mengikuti kegiatan
suluk atau khalwat secara kontinyu. Manakala hati yang hitam tadi telah
berubah menjadi putih bersih, barulah ia memberikan sinar. Hati yang
putih bersih bersinar itulah yang dinamakan hati Rohani (Qalbu) atau
disebut juga dengan diri yang batin.Seumpama kita bercermin di depan
kaca, maka kita tidak akan dapat melihat apa yang ada dibalik cermin
selain muka kita, karena terhalang oleh cat merah yang melekat
disebaliknya. Tetapi bila cat merah itu kita kikis habis, maka akan
tampaklah di sebaliknya bermacam-macam dan berlapis-lapis cermin hingga
sampai menembus ke alam Nur, alam Jabarut, alam Lahut, hingga alam
Hadrat Hak Allah Ta’ala.Itulah sebabnya bila kita hanya baru sebatas
mengenal hati sanubari saja, maka yang kita lihat hanya diri kita saja,
sebab ditahan oleh cat merah tadi, yaitu sifat-sifat jahat seperti:
takabbur, ria, ujub, dengki, hasad, pemarah, loba, tamak, rakus, cinta
dunia, dan berbagai penyakit hati lainnya. Tetapi bila mana cat merah
itu telah terkikis habis, barulah ia akan menyaksikan alam yang lebih
tinggi dan mengetahuilah ia segala rahasia termasuk dirinya dan
hakikatnya dan juga alam seluruhnya dan akhirnya mengenallah ia akan
Tuhannya. Itulah sebabnya para wali-wali Allah itu lahir dari para sufi
yaitu orang-orang yang telah berhasil membersihkan hatinya dengan
bantuan mursyidnya pada zahir sedang pada hakikatnya dengan qudrat dan
iradat Allah Ta’ala. Di sinilah terletak wajibnya mengenal diri untuk
jalan mengenal Allah
Langganan:
Postingan (Atom)