Jalan syariat Islam dalam meraih
kesempurnaan dan kebahagiaan insani (sebagaiman telah diisyaratkan pada
paparan-paparan sebelumnya) adalah makrifat kepada Tuhan dengan jalan
makrifat kepada nafs, di mana jalan ini merupakan paling dekatnya jalan
dan paling sempurnanya natijah yang akan dicapai; sebab jalan ini
merupakan paling kuat dan kokohnya jalan dalam membangun dan membentuk
manusia menjadi manusia paripurna. Oleh karenanya ayat-ayat Al-Quran dan
riwayat serta sunnah maksumin menjadikan titik perhatian jalan ini.
Dengan berbagai bahasa dan ungkapan, manusia diajak kepada jalan lempang
dan lurus ini, Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman!
Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa
yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah
kepada Allah. Sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa Allah, sehingga Allah
menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang
fasik.” Ayat ini merupakan penjelasan yang menggambarkan kebalikan dari
sabda Rasulullah SAW yang telah disebutkan sebelumnya: “Barang siapa
yang mengenal dirinya maka sungguh dia mengenal Tuhannya.” Yakni,
apabila orang melupakan Tuhan maka niscaya dia akan melupakan dirinya
sendiri. Sementara jika orang mengenal dirinya maka dia akan mengenal
Tuhannya.
Perlu diketahui bahwa salah satu implikasi dari pengenalan
diri yang akan membawa kepada pengenalan Tuhan adalah mengetahui hak
Tuhan dan mengetahui tugas serta kewajibannya sebagai hamba-Nya. Dan
salah satu dari kewajiban hamba kepada Tuhan adalah mematuhi segala
perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Seluruh bangunan akidah,
hukum, sosial, politik, ekonomi, dan lainnya dalam Islam, serta akhlak
sosial dan individual, semuanya bertujuan untuk menyempurnakan manusia.
Oleh karenanya menaati dan mematuhinya akan membersihkan dan
menyempurnakan nafs manusia serta membawa manusia kepada kebahagiaan.
Sebaliknya, menentang dan melanggarnya akan mendegradasikan jiwa manusia
dan menyeret manusia kepada penderitaan akhirat. Bersedekah dan
berinfak sebagai salah satu wujud perbuatan sosial dan ekonomi Islam
memiliki efek kepada nafs manusia. Sebagaimana dijelaskan oleh naql
bahwa bersedekah dan berinfaklah supaya nafs kamu terbersihkan. Karena
itu, pada hakikatnya seluruh bangunan syariat Islam adalah jalan untuk
memsucikan jiwa dan menyempurnakan manusia.
Di dalam kitab Gurarul
Hikam wa Durarul Kalim yang menyebutkan kalimat-kalimat qishâr Imam Ali,
terdapat sekitar 22 hadis yang mengungkapkan tentang makrifat nafs, di
antaranya: “Orang pintar dan cerdik adalah orang yang mengenal dirinya
dan ikhlas (untuk Tuhan) dalam amal serta perbuatannya”, “Orang arif
adalah orang yang mengenal nafsnya dan membebaskannya serta
mensucikannya dari segala yang menjauhkannya (dari Tuhan)”, “Paling
tingginya hikmah adalah pengetahuan manusia pada nafsnya”, “Makrifat
pada nafs adalah paling bermanfaatnya dua makrifat.”
Allamah
Thabathabai mengatakan dalam Tafsir Al-Mizan, secara zahir maksud dari
Para Imam dari dua makrifat adalah makrifat terhadap ayat-ayat anfusi
dan ayat-ayat afaqi, di mana Tuhan berfirman: “Kami akan memperlihatkan
kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada
diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Tuhan adalah
hak. Tidak cukupkah untuk jelasnya kebenaran Tuhanmu bahwa Dia hadir dan
syahid atas segala sesuatu?”
Dengan melakukan perenungan dan
kontemplasi terhadap ayat-ayat anfusi dan âfaqi akan membawa kita kepada
pengenalan kepada Tuhan, dimana ini akan berimplikasi kepada pemahaman
akan kehidupan abadi manusia yang dapat mendidik manusia untuk meraih
kesempurnaan akhlak dan insaniah. Di samping itu, untuk mendapatkan
kesempurnaan mesti berpegang kepada keyakinan tauhid, nubuwwah, dan
maad. Maka peran agama hak dan syariat Ilahi dalam membimbing manusia
dalam meraih kesempurnaan dan kebahagiaan sangatlahsangatlah urgen dan
dalam menapaki jalan hidayah ini, kedua jalan, yakni jalan anfusi dan
âfaqi sangatlah berpengaruh dan bermanfaat dalam mengantarkan manusia
kepada agama, keimanan, dan ketakwaan, namun berjalan pada jalan
ayat-ayat anfusi lebih bermanfaat. Sebab berjalan pada jalan anfusi akan
memberikan hasil makrifat hakiki dan hakikat makrifat.
Sebagian
ulama berpandangan bahwa pengenalan nafs sebagai kait kepada pengenalan
Tuhan (Barang siapa yang mengenal dirinya maka sungguh dia mengenal
Tuhannya) adalah suatu perkara yang mustahil, sebab pengenalan Tuhan
merupakan perkara mustahil; jadi pengenalan nafs juga adalah perkara
yang tidak mungkin. Akan tetapi hadis di atas dan lahiriah hadis-hadis
yang dikatakan Imam Ali dalam kalimat qisharnya menolak pandangan ini.
Dan demikian pula sabda Nabi SAW lainnya yang menyatakan, “Paling
arifnya kamu terhadap nafsnya adalah yang paling arifnya kamu kepada
Tuhannya.” Padahal sebagaimana kita ketahui bahwa makrifat kepada Tuhan,
bukanlah suatu perkara mustahil (maksudnya makrifat dengan perantara
ilmu hushuli, bukan hudhuri dan syuhudi) dan dalam batas kemungkinan
manusia mengenal-Nya, bukan pengenalan dan pengetahuan yang mencakup
secara sempurna kepada Tuhan, yang mana ini adalah perkara yang mustahil
untuk dicapai manusia. Oleh karena itu, pengenalan manusia kepada Tuhan
sebatas kemampuan manusia mengenal-Nya adalah suatu perkara mungkin dan
natijah dari ini adalah kemungkinan manusia juga mengenal nafsnya (dan
ini lebih mungkin lagi dan lebih terjangkau oleh fakultas makrifat
manusia, sebab nafs, kendatipun ia wujud non-materi tetapi ia adalah
wujud mumkin).
Jadi, jalan makrifat nafs merupakan perkara mungkin
bagi setiap orang dan ini juga merupakan jalan yang disyariatkan Islam,
sebagaimana dalil naqli dan aqli yang kita ungkapkan. Dan karena jalan
ini adalah jalan yang paling dekat untuk sampai pada kesempurnaan maka
sangat urgen untuk diketahui cara sayr dan suluk pada jalan ini.
Pertanyaan kita sekarang adalah, bagaimana cara sayr dan suluk pada
jalan ini? Siapa yang dapat menunjukkan kepada kita cara menapak pada
jalan ini? Apakah berbagai cara dapat ditempuh dalam menapak jalan ini?
Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang berhubungan dengan masalah ini.
Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Selasa, 02 Januari 2018
Mahabbah Kepada Tuhan
Mahabbah dan kecintaan memiliki pengertian
yang dalam dan penuh makna di dalam relung jiwa setiap pemiliknya. Ia
bermakna kenyataan sempurna dan realitas keindahan serta keterpesonaan.
Ia menjadi penyebab terciptanya hubungan mesra dan harmoni antara muhib
(pecinta) dengan mahbub (dicintai). Karena itu, mahabbah merupakan
wasilah bagi terjalinnya hubungan antara setiap pencari dan tujuan
akhir, antara setiap murid dengan muradnya. Setiap pecinta mendapatkan
daya tarik kepada yang dicintainya sehingga dia dengan perantara
pertemuan (wusul) dengan mahbub (yang dicintai) menemukan hakikat
keterpesonaan dan kefanaan.
Orang yang meyakini eksistensi pemilik keindahan mutlak, amat sangat kecintaannya kepada-Nya dan hatinya senantiasa terikat serta terpaut terhadap-Nya.
“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.”
Orang mukmin, hatinya terikat kepada Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai pusat perhatian dan kecintaannya. Para penyembah berhala menjadikan berhala-berhalanya sebagai teman sejatinya dan kecintaannya. Akan tetapi kecintaan orang-orang mukmin kepada Tuhan adalah lebih sangat dibandingkan kecintaan para penyembah berhala terhadap berhala-berhala mereka. Sebab, tidak ada keindahan seukuran kesempurnaan keindahan Tuhan dan tidak ada makrifat sempurna seukuran kesempurnaan makrifat kepada-Nya. Dan orang mukmin adalah orang yang paling arif (mengetahui) tentang keindahan dan kesempurnaan. Karena itu, orang mukmin adalah orang yang paling pecinta terhadap pemilik keindahan dan kesempurnaan mutlak.
Kecintaan tidak memiliki ukuran kuantitatif, kendatipun ia mempunyai tingkatan-tingkatan kualitatif. Ia memiliki gradasi keberadaan sesuai dengan derajat kecintaan itu sendiri. Sebab itu keistimewaan dan keutamaan kecintaan orang mukmin kepada Tuhan dibandingkan kecintaan penyembah berhala terhadap berhalanya dikarenakan; berhala (apapun bentuknya, termasuk syahwat hawa nafsu), kendatipun ia indah tapi keindahannya sebatas penglihatan dan pandangan atau sebatas keindahan imajinasi dan fantasi. Mempersepsi keindahan seperti ini dengan perantara indera dan imajinasi serta pengaruhnya sebatas alam penginderaan atau sebatas alam imajinasi dan fantasi. Oleh karena itu, mereka yang tenggelam dalam kecintaan berhala pada hakikatnya mereka yang tidak mempunyai kedalaman makrifat tentang alam realitas dan eksistensi. Mereka hanya mempunyai pengetahuan terhadap alam ini sebatas penginderaan, imajinasi, dan fantasi. Dan tentu saja persepsi keindahan mereka tidak akan melampaui batas-batas makrifat mereka terhadap alam realitas dan eksistensi tersebut. Karenanya mereka tidak akan pernah sampai pada kedalaman hakikat realitas dan eksistensi.
Adapun orang-orang mukmin tidak hanya memandang dengan penglihatan inderawi yang efeknya sebatas efek alam tabiat, atau memandang dengan pandangan imajinasi dan fantasi yang efeknya sebatas efek alam mitsali, tetapi mereka juga memandang dari jalan akal yang memiliki kesempurnaan efek lebih dari kedua alam tersebut. Maka dari itu pandangan orang-orang mukmin terhadap alam realitas dan eksistensi jauh lebih kuat dan lebih sempurna dari pandangan para penyembah berhala dan ini tentu saja melahirkan kecintaan yang lebih kuat mereka kepada Tuhan ketimbang kecintaan penyembah berhala terhadap berhala-berhala mereka.
“Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.”
Kesimpulannya, jika mahabbah dan kecintaan seseorang kepada dunia dan akhirat atau kepada Tuhan dan selain Tuhan adalah sama maka ia sebenarnya bukanlah seorang mukmin; sebab orang seperti ini tidak memiliki makrifat sempurna tentang alam realitas dan eksistensi. Padahal makrifat itu sendiri merupakan landasan fundamental mahabbah dan kecintaan terhadap sesuatu.
Nizhami, di akhir cerita Laila dan Majnun menuturkan: Laila, di akhir-akhir hayatnya mengalami sakit dan kesegarannya perlahan-lahan pupus. Ia mewasiatkan kepada ibunya, sampaikan pesanku kepada Majnun dan katakan kepadanya: Jika ia ingin memilih kekasih maka janganlah memilih teman dan kekasih sepertiku, dimana dengan satu sakit seluruh kesegarannya akan punah; ambillah teman yang selamanya tetap langgeng dan tidak akan pernah musnah.
Oleh karena itu, makrifat akan memberikan kecintaan hakiki dan kelalaian serta ketidaktahuan akan memberikan kecintaan palsu dan imitasi.
Makrifat, Ibadah, dan Kecintaan
Orang-orang mukmin hakiki memandang eksistensi ini memiliki ketunggalan dan keesaan. Mereka memandang realitas hanya milik eksistensi Tuhan beserta asma-Nya dan tajalli-Nya. Sebab sebagaimana dalil membuktikan bahwa tidak mungkin ada eksistensi lain selain eksistensi maha sempuna dan absolut Tuhan. Jika ada eksistensi lain, kendatipun ia wujud mungkin dan bergradasi rendah, selama ia diyakini memiliki hakikat dan realitas maka selama itu ia menjadi pembatas dari kesempurnaan absolut eksistensi Tuhan. Dan ini menyalahi statemen kesempurnaan tak terbatas dan absolut eksistensi Tuhan.
Ibadah kepada Tuhan tidak mungkin terealisasi secara maksimum dan sempurna tanpa dibarengi dengan makrifat yang sempurna kepada-Nya. Kendatipun ibadah itu sendiri juga merupakan mukaddimah dan persiapan untuk meraih makrifat yang lebih sempurna terhadap-Nya, tetapi untuk merealisasikan ibadah hakiki dibutuhkan perjalanan makrifat. Karena itu, ibadah dan makrifat memiliki hubungan saling meniscayakan satu sama lainnya, sebagaimana dinukil riwayat dari Ismail bin Jabir dimana Imam Shadiq bersabda : Ilmu dan amal saling meniscayakan satu sama lain; maka barangsiapa yang mengetahui dan mengamalkannya maka niscaya dia akan mendapatkan ilmu. Dan juga hadis dari Rasulullah SAW : Barangsiapa mengamalkan apa yang dia ketahui maka Allah akan merezekikan kepadanya ilmu terhadap perkara yang belum diketahuinya.
Dari kedua hadis tersebut di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa ibadah mesti dilaksanakan berdasarkan makrifat sehingga ia dapat menciptakan ilmu dan makrifat yang lebih dalam dan hakiki. Dan sebaliknya makrifat yang hakiki dapat mengantarkan pada ibadah yang hakiki pula.
Firman Tuhan: “Barangsiapa menghendaki kemuliaan maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan baik, dan amal shaleh akan mengangkatnya.”
Demikian juga persepsi akal akan menguatkan statemen kita tentang kecintaan. Yakni kadar kecintaan dan keterikatan kepada sesuatu akan melahirkan kadar perhatian terhadapnya. Dan perhatian yang diejawantahkan dalam bentuk amal perbuatan akan menguatkan ilmu dan kecintaan.
Perlu diketahui bahwa dari ketiga kategori di atas; makrifat, ibadah, dan kecintaan, maka yang prinsipil dan asalah adalah makrifat. Sebab makrifatlah yang menjadi landasan ibadah dan kecintaan. Semakin dalam dan hakiki makrifat maka semakin hakiki ibadah dan kecintaan. Dan sebagaimana disinggung sebelumnya, untuk mendapatkan makrifat dibutuhkan pergerakan afaqi (di luar nafs) dan pergerakan anfusi (dalam nafs). Pergerakan afaqi adalah memikirkan, merenungkan, dan memandang kepada maujud-maujud afaqi (maujud-maujud di luar nafs manusia) seperti ciptaan dan karya Tuhan di langit dan di bumi; sehingga pergerakan afaqi ini membuahkan keyakinan kepada Tuhan, asma, dan perbuatan-Nya. Sebab maujud-maujud, efek-efek, dan makhluk-makhluk ini membuktikan keberadaan pengadanya Yang Maha Tunggal dan Maha Perkasa.
Adapun pergerakan anfusi adalah merujuk kepada nafs dan mengenal Tuhan dari jalannya; sebab nafs ditinjau dari segi keberadaan adalah tidak mandiri secara murni dan mengetahui maujud mandiri yang menjadi penegaknya tidak bisa dipisahkan darinya.
Kesimpulannya, untuk mencapai tujuan ini terdapat dua jalan; pergerakan afaqi dan pergerakan anfusi. Dan sebagaimana dijelaskan sebelumnya pergerakan anfusi atau maktrifat nafs adalah lebih utama dari pergerakan afaqi; sebab pengetahuan terhadap maujud-maujud afaqi ditinjau ia sebagai alamat dan efek Tuhan hanya akan membuahkan ilmu husuli terhadap wujud Tuhan dan sifat-sfat-Nya. Dan ilmu seperti ini hanya berhubungan dengan qadiyah yang memiliki subyek dan predikat dan keduanya tidak lain hanyalah mafhum atau komprehensi. Untuk menjelaskan masalah ini lebih jauh dibutuhkan uraian dan penjelasan filsafat yang bukan tempatnya di sini.
Adapun makrifat nafs, natijahnya adalah makrifat hakiki; sebab seseorang yang ingin memusatkan perhatiannya kepada Tuhan dan meninggalkan setiap apa yang menjadi penghalang yang menyibukkan dirinya kepada selain Tuhan, ia mesti menyibukkan diri terhadap makrifat nafs sampai ia menyaksikan (dengan jalan musyahadah) bahwa nafsnya secara zat butuh kepada Tuhan. Dan barangsiapa yang mencapai maqam seperti ini, ia menyaksikan dirinya tidak terpisahkan dari menyaksikan penegaknya, yakni Tuhan. Dengan demikian ia akan mengenal Tuhan dengan makrifat badihi dan jelas.
Tidak diragukan bahwa setiap orang secara fitrah menginginkan kesempurnaan sejati dan keindahan hakiki dan jalan untuk menggapai tujuan ini tidak lain adalah makrifat, ibadah, dan kecintaan kepada eksistensi pemilik kesempurnaan dan keindahan absolut. Dengan pergerakan anfusi (makrifat nafs dan sayr suluk), manusia selangkah demi selangkah akan bergerak menuju tingkatan kesempurnaan insani dan menjadi manusia sempurna atau insan kamil. Dan orang yang mencapai maqam ini layak diseru oleh Al-Quran dengan, “Wahai jiwa (nafs) yang tenang ! Kembalilah kepada Tuhan-mu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku
Orang yang meyakini eksistensi pemilik keindahan mutlak, amat sangat kecintaannya kepada-Nya dan hatinya senantiasa terikat serta terpaut terhadap-Nya.
“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.”
Orang mukmin, hatinya terikat kepada Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai pusat perhatian dan kecintaannya. Para penyembah berhala menjadikan berhala-berhalanya sebagai teman sejatinya dan kecintaannya. Akan tetapi kecintaan orang-orang mukmin kepada Tuhan adalah lebih sangat dibandingkan kecintaan para penyembah berhala terhadap berhala-berhala mereka. Sebab, tidak ada keindahan seukuran kesempurnaan keindahan Tuhan dan tidak ada makrifat sempurna seukuran kesempurnaan makrifat kepada-Nya. Dan orang mukmin adalah orang yang paling arif (mengetahui) tentang keindahan dan kesempurnaan. Karena itu, orang mukmin adalah orang yang paling pecinta terhadap pemilik keindahan dan kesempurnaan mutlak.
Kecintaan tidak memiliki ukuran kuantitatif, kendatipun ia mempunyai tingkatan-tingkatan kualitatif. Ia memiliki gradasi keberadaan sesuai dengan derajat kecintaan itu sendiri. Sebab itu keistimewaan dan keutamaan kecintaan orang mukmin kepada Tuhan dibandingkan kecintaan penyembah berhala terhadap berhalanya dikarenakan; berhala (apapun bentuknya, termasuk syahwat hawa nafsu), kendatipun ia indah tapi keindahannya sebatas penglihatan dan pandangan atau sebatas keindahan imajinasi dan fantasi. Mempersepsi keindahan seperti ini dengan perantara indera dan imajinasi serta pengaruhnya sebatas alam penginderaan atau sebatas alam imajinasi dan fantasi. Oleh karena itu, mereka yang tenggelam dalam kecintaan berhala pada hakikatnya mereka yang tidak mempunyai kedalaman makrifat tentang alam realitas dan eksistensi. Mereka hanya mempunyai pengetahuan terhadap alam ini sebatas penginderaan, imajinasi, dan fantasi. Dan tentu saja persepsi keindahan mereka tidak akan melampaui batas-batas makrifat mereka terhadap alam realitas dan eksistensi tersebut. Karenanya mereka tidak akan pernah sampai pada kedalaman hakikat realitas dan eksistensi.
Adapun orang-orang mukmin tidak hanya memandang dengan penglihatan inderawi yang efeknya sebatas efek alam tabiat, atau memandang dengan pandangan imajinasi dan fantasi yang efeknya sebatas efek alam mitsali, tetapi mereka juga memandang dari jalan akal yang memiliki kesempurnaan efek lebih dari kedua alam tersebut. Maka dari itu pandangan orang-orang mukmin terhadap alam realitas dan eksistensi jauh lebih kuat dan lebih sempurna dari pandangan para penyembah berhala dan ini tentu saja melahirkan kecintaan yang lebih kuat mereka kepada Tuhan ketimbang kecintaan penyembah berhala terhadap berhala-berhala mereka.
“Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.”
Kesimpulannya, jika mahabbah dan kecintaan seseorang kepada dunia dan akhirat atau kepada Tuhan dan selain Tuhan adalah sama maka ia sebenarnya bukanlah seorang mukmin; sebab orang seperti ini tidak memiliki makrifat sempurna tentang alam realitas dan eksistensi. Padahal makrifat itu sendiri merupakan landasan fundamental mahabbah dan kecintaan terhadap sesuatu.
Nizhami, di akhir cerita Laila dan Majnun menuturkan: Laila, di akhir-akhir hayatnya mengalami sakit dan kesegarannya perlahan-lahan pupus. Ia mewasiatkan kepada ibunya, sampaikan pesanku kepada Majnun dan katakan kepadanya: Jika ia ingin memilih kekasih maka janganlah memilih teman dan kekasih sepertiku, dimana dengan satu sakit seluruh kesegarannya akan punah; ambillah teman yang selamanya tetap langgeng dan tidak akan pernah musnah.
Oleh karena itu, makrifat akan memberikan kecintaan hakiki dan kelalaian serta ketidaktahuan akan memberikan kecintaan palsu dan imitasi.
Makrifat, Ibadah, dan Kecintaan
Orang-orang mukmin hakiki memandang eksistensi ini memiliki ketunggalan dan keesaan. Mereka memandang realitas hanya milik eksistensi Tuhan beserta asma-Nya dan tajalli-Nya. Sebab sebagaimana dalil membuktikan bahwa tidak mungkin ada eksistensi lain selain eksistensi maha sempuna dan absolut Tuhan. Jika ada eksistensi lain, kendatipun ia wujud mungkin dan bergradasi rendah, selama ia diyakini memiliki hakikat dan realitas maka selama itu ia menjadi pembatas dari kesempurnaan absolut eksistensi Tuhan. Dan ini menyalahi statemen kesempurnaan tak terbatas dan absolut eksistensi Tuhan.
Ibadah kepada Tuhan tidak mungkin terealisasi secara maksimum dan sempurna tanpa dibarengi dengan makrifat yang sempurna kepada-Nya. Kendatipun ibadah itu sendiri juga merupakan mukaddimah dan persiapan untuk meraih makrifat yang lebih sempurna terhadap-Nya, tetapi untuk merealisasikan ibadah hakiki dibutuhkan perjalanan makrifat. Karena itu, ibadah dan makrifat memiliki hubungan saling meniscayakan satu sama lainnya, sebagaimana dinukil riwayat dari Ismail bin Jabir dimana Imam Shadiq bersabda : Ilmu dan amal saling meniscayakan satu sama lain; maka barangsiapa yang mengetahui dan mengamalkannya maka niscaya dia akan mendapatkan ilmu. Dan juga hadis dari Rasulullah SAW : Barangsiapa mengamalkan apa yang dia ketahui maka Allah akan merezekikan kepadanya ilmu terhadap perkara yang belum diketahuinya.
Dari kedua hadis tersebut di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa ibadah mesti dilaksanakan berdasarkan makrifat sehingga ia dapat menciptakan ilmu dan makrifat yang lebih dalam dan hakiki. Dan sebaliknya makrifat yang hakiki dapat mengantarkan pada ibadah yang hakiki pula.
Firman Tuhan: “Barangsiapa menghendaki kemuliaan maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan baik, dan amal shaleh akan mengangkatnya.”
Demikian juga persepsi akal akan menguatkan statemen kita tentang kecintaan. Yakni kadar kecintaan dan keterikatan kepada sesuatu akan melahirkan kadar perhatian terhadapnya. Dan perhatian yang diejawantahkan dalam bentuk amal perbuatan akan menguatkan ilmu dan kecintaan.
Perlu diketahui bahwa dari ketiga kategori di atas; makrifat, ibadah, dan kecintaan, maka yang prinsipil dan asalah adalah makrifat. Sebab makrifatlah yang menjadi landasan ibadah dan kecintaan. Semakin dalam dan hakiki makrifat maka semakin hakiki ibadah dan kecintaan. Dan sebagaimana disinggung sebelumnya, untuk mendapatkan makrifat dibutuhkan pergerakan afaqi (di luar nafs) dan pergerakan anfusi (dalam nafs). Pergerakan afaqi adalah memikirkan, merenungkan, dan memandang kepada maujud-maujud afaqi (maujud-maujud di luar nafs manusia) seperti ciptaan dan karya Tuhan di langit dan di bumi; sehingga pergerakan afaqi ini membuahkan keyakinan kepada Tuhan, asma, dan perbuatan-Nya. Sebab maujud-maujud, efek-efek, dan makhluk-makhluk ini membuktikan keberadaan pengadanya Yang Maha Tunggal dan Maha Perkasa.
Adapun pergerakan anfusi adalah merujuk kepada nafs dan mengenal Tuhan dari jalannya; sebab nafs ditinjau dari segi keberadaan adalah tidak mandiri secara murni dan mengetahui maujud mandiri yang menjadi penegaknya tidak bisa dipisahkan darinya.
Kesimpulannya, untuk mencapai tujuan ini terdapat dua jalan; pergerakan afaqi dan pergerakan anfusi. Dan sebagaimana dijelaskan sebelumnya pergerakan anfusi atau maktrifat nafs adalah lebih utama dari pergerakan afaqi; sebab pengetahuan terhadap maujud-maujud afaqi ditinjau ia sebagai alamat dan efek Tuhan hanya akan membuahkan ilmu husuli terhadap wujud Tuhan dan sifat-sfat-Nya. Dan ilmu seperti ini hanya berhubungan dengan qadiyah yang memiliki subyek dan predikat dan keduanya tidak lain hanyalah mafhum atau komprehensi. Untuk menjelaskan masalah ini lebih jauh dibutuhkan uraian dan penjelasan filsafat yang bukan tempatnya di sini.
Adapun makrifat nafs, natijahnya adalah makrifat hakiki; sebab seseorang yang ingin memusatkan perhatiannya kepada Tuhan dan meninggalkan setiap apa yang menjadi penghalang yang menyibukkan dirinya kepada selain Tuhan, ia mesti menyibukkan diri terhadap makrifat nafs sampai ia menyaksikan (dengan jalan musyahadah) bahwa nafsnya secara zat butuh kepada Tuhan. Dan barangsiapa yang mencapai maqam seperti ini, ia menyaksikan dirinya tidak terpisahkan dari menyaksikan penegaknya, yakni Tuhan. Dengan demikian ia akan mengenal Tuhan dengan makrifat badihi dan jelas.
Tidak diragukan bahwa setiap orang secara fitrah menginginkan kesempurnaan sejati dan keindahan hakiki dan jalan untuk menggapai tujuan ini tidak lain adalah makrifat, ibadah, dan kecintaan kepada eksistensi pemilik kesempurnaan dan keindahan absolut. Dengan pergerakan anfusi (makrifat nafs dan sayr suluk), manusia selangkah demi selangkah akan bergerak menuju tingkatan kesempurnaan insani dan menjadi manusia sempurna atau insan kamil. Dan orang yang mencapai maqam ini layak diseru oleh Al-Quran dengan, “Wahai jiwa (nafs) yang tenang ! Kembalilah kepada Tuhan-mu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku
Ibadah dengan Jalan Syariat
Sesuai dengan apa yang telah dijelaskan
sebelumnya, jelaslah bahwa kadar kesempurnaan seorang hamba sesuai
dengan kadar ketaatan dan kepatuhannya kepada syariat Ilahi. Dan perkara
kesempurnaan ini memiliki gradasi dan tingkatan-tingkatan derajat.
Sebagian ahli sayr dan suluk menyatakan bahwa meninggalkan sayr suluk syariat dan beralih kepada riyadah-riyadah yang berat merupakan suatu bentuk pelarian dari sayr suluk yang lebih sulit kepada yang lebih mudah!? Sebab mematuhi syariat itu sendiri merupakan suatu bentuk mematikan nafs secara berkesinambungan dan berangsur-angsur. Dan selama nafas masih ada maka selama itu juga mesti riyadah-riyadah syar’i dijalankan. Akan tetapi riyadah-riyadah berat (dimana syariat tidak mengizinkannya) terhitung sebagai mematikan nafs secara sekaligus dan tidak berangsur-angsur, karena itu bentuk riyadah ini lebih pendek, lebih mudah, dan lebih sedikit pengorbanannya.
Singkat matlab, syariat tidak melepaskan jalan sayr dan suluk dari jalan nafs dan makrifat terhadapnya.
Di dalam hadis Maksumin disebutkan bahwa terdapat tiga bentuk ibadah hamba: Pertama, hamba beribadah dikarenakan menginginkan surga, kedua, hamba beribadah dikarenakan takut dari neraka, ketiga, hamba beribadah semata-mata dikarenakan untuk Tuhan, tidak karena takut dari neraka dan tidak karena menginginkan surga.
Dari ketiga bentuk ibadah yang disebutkan dalam hadis tersebut, selain bentuk ketiga, kedua bentuk lainnya ditinjau dari aspek tujuan untuk mendapatkan kemudahan dan terbebas dari azab maka tujuan akhirnya juga terhitung sebagai hasil dari keinginan nafsâni manusia. Oleh karena itu, arah dan tujuan ibadah kepada Tuhan dalam bentuk seperti ini, hanya dikarenakan untuk memenuhi keinginan nafsâni. Dalam ibadah ini manusia menjadikan Tuhan sebagai perantara untuk mencapai keinginan-keinginan nafsâni dirinya. Karena itu, ditinjau dari dimensi ini maka perantara sebagaimana ia perantara, tidak akan pernah menjadi maksud dan tujuan secara zat. Ia hanya akan menjadi maksud dan tujuan secara aksiden.
Hakikat ibadah seperti ini tidak lain merupakan pengejewantahan ibadah syahwat nafsâni, karenanya hanya ibadah bentuk ketiga, yakni ibadah murni untuk Tuhan yang dapat dihitung sebagai ibadah hakiki dan menjadi jalan sayr suluk para nabi-nabi Tuhan serta para wali-wali-Nya. Di dalam kitab suci Al-Quran diisyaratkan: “Katakanlah (Muhammad), jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Dalam hadis Maksumin diriwayatkan: “Barang siapa mencintai Allah Azza wa Jalla maka niscaya Allah mencintainya; dan barang siapa yang dicintai Allah, niscaya dia berada di antara orang-orang aman.”
Dinukil dalam kitab Manaqib bahwa Rasulullah SAW sedemikian menangis hingga sampai pingsan. Kemudian mereka berkata kepada Nabi SAW, Wahai Rasulullah! Bukankah Tuhan telah mengampuni seluruh dosa-dosa kamu yang telah lalu dan akan datang?! (maksudnya ini semua tangisan untuk apa?) Nabi SAW lantas berkata, Apakah tidak ada aku sebagai hamba yang bersyukur ?!….
Sebenarnya, kembalinya syukur dan kecintaan itu hanya kepada satu hal, sebab syukur itu sendiri tidak lain adalah pujian terhadap sesuatu yang indah sebagaimana ia indah. Oleh Karena itu, ibadah murni tidak lain merupakan perhatian yang sungguh-sungguh dan merendah serendah-rendahnya dalam berhadapan dengan Allah SWT, sebab hanya Dia yang secara zat Maha Indah dan Maha Agung. Jadi hanya dengan ini ibadah kepada-Nya dapat menjadi maksud dan tujuan bagi diri-Nya, bukan untuk maksud dan tujuan selain-Nya. Sebagaimana difirmankan-Nya: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
Sebagian ahli sayr dan suluk menyatakan bahwa meninggalkan sayr suluk syariat dan beralih kepada riyadah-riyadah yang berat merupakan suatu bentuk pelarian dari sayr suluk yang lebih sulit kepada yang lebih mudah!? Sebab mematuhi syariat itu sendiri merupakan suatu bentuk mematikan nafs secara berkesinambungan dan berangsur-angsur. Dan selama nafas masih ada maka selama itu juga mesti riyadah-riyadah syar’i dijalankan. Akan tetapi riyadah-riyadah berat (dimana syariat tidak mengizinkannya) terhitung sebagai mematikan nafs secara sekaligus dan tidak berangsur-angsur, karena itu bentuk riyadah ini lebih pendek, lebih mudah, dan lebih sedikit pengorbanannya.
Singkat matlab, syariat tidak melepaskan jalan sayr dan suluk dari jalan nafs dan makrifat terhadapnya.
Di dalam hadis Maksumin disebutkan bahwa terdapat tiga bentuk ibadah hamba: Pertama, hamba beribadah dikarenakan menginginkan surga, kedua, hamba beribadah dikarenakan takut dari neraka, ketiga, hamba beribadah semata-mata dikarenakan untuk Tuhan, tidak karena takut dari neraka dan tidak karena menginginkan surga.
Dari ketiga bentuk ibadah yang disebutkan dalam hadis tersebut, selain bentuk ketiga, kedua bentuk lainnya ditinjau dari aspek tujuan untuk mendapatkan kemudahan dan terbebas dari azab maka tujuan akhirnya juga terhitung sebagai hasil dari keinginan nafsâni manusia. Oleh karena itu, arah dan tujuan ibadah kepada Tuhan dalam bentuk seperti ini, hanya dikarenakan untuk memenuhi keinginan nafsâni. Dalam ibadah ini manusia menjadikan Tuhan sebagai perantara untuk mencapai keinginan-keinginan nafsâni dirinya. Karena itu, ditinjau dari dimensi ini maka perantara sebagaimana ia perantara, tidak akan pernah menjadi maksud dan tujuan secara zat. Ia hanya akan menjadi maksud dan tujuan secara aksiden.
Hakikat ibadah seperti ini tidak lain merupakan pengejewantahan ibadah syahwat nafsâni, karenanya hanya ibadah bentuk ketiga, yakni ibadah murni untuk Tuhan yang dapat dihitung sebagai ibadah hakiki dan menjadi jalan sayr suluk para nabi-nabi Tuhan serta para wali-wali-Nya. Di dalam kitab suci Al-Quran diisyaratkan: “Katakanlah (Muhammad), jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Dalam hadis Maksumin diriwayatkan: “Barang siapa mencintai Allah Azza wa Jalla maka niscaya Allah mencintainya; dan barang siapa yang dicintai Allah, niscaya dia berada di antara orang-orang aman.”
Dinukil dalam kitab Manaqib bahwa Rasulullah SAW sedemikian menangis hingga sampai pingsan. Kemudian mereka berkata kepada Nabi SAW, Wahai Rasulullah! Bukankah Tuhan telah mengampuni seluruh dosa-dosa kamu yang telah lalu dan akan datang?! (maksudnya ini semua tangisan untuk apa?) Nabi SAW lantas berkata, Apakah tidak ada aku sebagai hamba yang bersyukur ?!….
Sebenarnya, kembalinya syukur dan kecintaan itu hanya kepada satu hal, sebab syukur itu sendiri tidak lain adalah pujian terhadap sesuatu yang indah sebagaimana ia indah. Oleh Karena itu, ibadah murni tidak lain merupakan perhatian yang sungguh-sungguh dan merendah serendah-rendahnya dalam berhadapan dengan Allah SWT, sebab hanya Dia yang secara zat Maha Indah dan Maha Agung. Jadi hanya dengan ini ibadah kepada-Nya dapat menjadi maksud dan tujuan bagi diri-Nya, bukan untuk maksud dan tujuan selain-Nya. Sebagaimana difirmankan-Nya: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
Lembah Cinta Sang Wali 1 -( Ibnu Ajibah Al-Hasany )
“Segala puji bagi Allah yang telah meluapi lembah kalbu para wali-Nya dengan luapan Cinta kepada-Nya. Dia yang membangunkan
istana khusus agar luapan arwah para kekasih-Nya itu, senantiasa
menyaksikan keagungan-Nya. Dia pula yang menghamparkan padang
ma’rifatullah melalui rahasia-rahasia jiwanya. Lalu kalbunya berada di
sebuah taman surga. Taman itu penuh dengan lukisan-lukisan ma’rifatullah
yang tiada tara. Sedangkan arwah-arwah mereka berada di Taman Malakut,
tak sejenak pun arwah itu melainkan berada dalam keabadian penyucian
pada-Nya. Duh, rahasia arwahnya, mendendangkan tasbih dalam tarian
Lautan Jabarut-Nya
Aku Adalah Dia - Al-Hallaj
Hari-hari ini, betapa sempitnya dada orang, ketika rasa syukur saja telah hilang dari lembah jiwanya. Apalagi mengembangkan senyum bunga di hatinya. Mereka lebih senang memuja egonya daripada memuja Allah atas nikmat-nikmatNya. Padahal Allah dengan segala CintaNya tak henti-hentinya memanggil, “Ingatlah kepadaKu, niscaya Aku ingat kepadamu…..Bersyukurlah kepadaKu dan janganlah mengingkari diriKu….”
Aku adalah Dia yang kucintai dan Dia yang kucintai adalah aku
Kami adalah dua jiwa yang bertempat dalam satu tubuh.
Jika engkau lihat aku, engkau lihat Dia,
Dan jika engkau lihat Dia, engkau lihat aku.
Tarian Semesta - Muhammad Luqman Hakim
Sungguh, kedahsyatan Cinta itu, telah membawa tarian semesta ini, seperti gerak rancak yang gemulai dalam senandung musik Ilahiyah yang Sempurna. Bagaimana tidak, ketika kita sebut KekasihNya, Muhammad Rasul SAW yang tercinta, tiba-tiba segalanya mekar bagai bunga, lalu membentuk jadi Kauniyah, lahiriyah dan batiniyah kita semua. Bagaimana tidak, sehari semalam kita selalu senandungkan ungkapan Cinta kasih dan kedamaian abadi lewat getaran-getaran milyaran bibir yang menyanyikan sholawat dan salam kepada kekasihNya itu.
Sholawat Cinta - Muhammad Luqman Hakim
Sholawat dan salam yang kita ungkapkan lewat bibir-bibir mungil para bayi yang tersenyum dengan mata telanjang bening berbinar, lebih dari kejujuran hati kita masing-masing. Sampai Nabi Saw, menyebutkan, “Tak seorang pun akan menggapai kesempurnaan imannya, sampai Allah dan RasulNya lebih dicintainya, ketimbang keluarga, harta dan sesama manusia.”
Tiba-tiba setelah itu, segala yang muncul dari nafas para hamba, dari gerak gerik hati para pecintaNya, dari detak jantung para perinduNya, dalam sauh rasa yang mencekam, karena menahan keharuan indahnya Cinta, adalah kebajikan-kebajikan sejati yang maujud dalam gerak dan ucapan, kebajikan hidup ini, dan kebajikan kehidupan di akhir nanti. Sebuah Peradaban Cinta yang luhur dan agung, sampai diperjuangkan dengan darah dari bekaman airmata, atau pun dari airmata yang tersaring dari beningnya darah perjuangan kita semua. Sebab setelah itu, keringat yang menetes dari peluh tubuh kita, adalah mutiara-mutiara bening dari getaran jantung kecintaan, dari sungai yang mengalir menuju Lautan Cinta Sang Kekasih, dari gairah yang tak henti-hentinya, dari mata air di puncak bukit kemakhlukan, pada titik air kehambaan.
Gelora Cinta Allah - Hadits Qudsi
“Wahai Jibril!”. Tiba-tiba suara Allah bergelora memenuhi langit bumi seisinya. “Aku telah mencintai seseorang, maka cintailah dia!.” Lalu Jibril pun mencintai orang itu, bahkan Jibril menggelorakan cintanya melalui ungkapannya yang agung di seluruh langit, “Wahai….Sesungguhnya Allah ta’ala telah mencintai seorang hamba, maka, cintailah wahai kalian semua pada hamba ini.” Lalu gemuruh cinta bertaburan dari penghuni langit melimpahi sang hamba itu, dan penghuni bumi pun menerima sepenuhnya.” Tapi jika Allah Azza wa Jalla membenci seorang hamba, hanya Dia katakan, “Entahlah, Aku tak peduli padanya…”.
Sedikit dan Banyak - Abu Yazid al-Bisthamy
“Cinta adalah menganggap kecil dan sedikit apa saja yang kau anggap banyak dalam dirimu, lalu menganggap banyak apa saja yang sedikit dari Sang Kekasih.”
Lukisan Cinta - Muhammad Luqman Hakim
Para Sufi lalu membuat lukisan Cinta itu, dengan ungkapan-ungkapan surrealis yang indah. Mereka katakan, CintaNya kepada hamba merupakan salah satu dari manifestasi Af’alNya, yaitu kebajikan spesial yang bertemu antara Dia dengan hambaNya, sekaligus juga kondisi anugerah ruhani yang yang membubung pada cinta itu. Cinta adalah dendam kebimbangan hati yang abadi.
Cinta adalah segalanya bagi yang dicintai, melamapaui apa saja yang dekat dengannya. Cinta adalah keselarasan demi keselarasan jiwa, baik di alam nyata maupun alam ghaib. Cinta adalah terhangusnya pecinta karena Sifat-sifatNya, dan kemandirian Yang Dicinta dengan DzatNya. Cinta adalah langkah-langkah jalan Qalbu bagi hasrat Rabgbnya. Cinta adalah ketakutan-ketakutan untuk kehilangan kehormatan cinta dengan segala bakti sepenuhnya.
Jendela Cinta - Muhammad Luqman Hakim
Karena itu, bukalah jendela-jendela hatimu. Bukalah pintu-pintu jiwamu. Bukalah gerbang-gerbang akal dan fikiranmu. Bukalah lambang-lambang pengetahuanmu, agar Cahaya yang memendar abadi dari Kecintaan Ilahi, memasuki relung-relungmu, memenuhi seluruh dinding hatimu, mengembangkan bibir mungil dari bayi suci fitrahmu. Pintalah CintaNya dan Ma’rifatNya, agar memenuhi jiwamu. Namun, agar Jalan Cinta di depanmu begitu lempang ke Istana CintaNya, raihlah tangan-tangan Suci yang telah dilimpahi Cinta dan Ma’rifatNya, agar bisa membimbingmu ke Jalan Cinta yang sesungguhnya. Tangan-tangan para KekasihNya.
Selingkuh Kita - Muhammad Luqman Hakim
Dalam pergumulan jiwa kita sehari-hari, -- diakui atau tidak -- seringkali terjadi perselingkuhan spiritual. Yang paling sederhana dari perselingkuhan itu ketika kita sedang menutupi jiwa kita dari pandangan Allah, kemudian kita bersembunyi dari Allah, berakhir dengan tindakan kita: melanggar aturan Allah.
Begitu kita langgar “janji cinta” antara kita dengan Allah, Kemahacemburuan Allah telah mengoyak jiwa kita, tanpa kita sadari sudah begitu lama kita berpaling dari Allah. Bahkan Allah hanya kita jadikan alibi sehari-hari, kita jadikan alasan-alasan kegagalan, kalau perlu Nama Allah kita jualbelikan dalam pasar kebudayaan dan politik, atau kepentingan nafsu lainnya.
Lalu, Allah kita bikin tarik ulur dalam qalbu kita. Terkadang Allah begitu jauh, terkadang begitu dekat, terkadang hadir, terkadang hilang, terkadang pula kita hempaskan ke hamparan hawa nafsu kita. Seakan-akan kita ini memiliki kekuasaan untuk mengatur segalanya, bahkan termasuk mengatur Allah dalam gerak gerik jiwa kita, khayalan dan persepsi kita. Bahkan Nama Allah sering kita sebut hanya untuk diketahui public bahwa kita akrab dengan Allah, kita ahli dzikir, kita sering munajat pada Allah. Padahal hanya kebusukan jiwa kita yang mendorong demikian. Seperti seseorang yang berteriak, “Saya lakukan ini Lillahi Ta’ala,….! Saya ikhlas, lho…ini demi Allah!”, sadar atau tidak ia menikmati riya’ jiwanya, agar disebut sebagai orang yang ikhlas. Dan inilah yang memang dimaui oleh masyarakat syetan. Perselingkuhan hebat.
Cinta Kepada Allah - Imam Syafi’i
Engkau durhaka kepada Allah dan sekaligus menaruh cinta kepada-Nya. Ini adalah suatu kemustahilan. Apabila benar engkau mencintai-Nya, pastilah engkau taati semua perintah-Nya. Sesungguhnya orang menaruh cinta tentulah bersedia menaati perintah orang yang dicintainya. Dia telah kirimkan nikmat-Nya kepadamu setiap saat dan tak ada rasa syukur yang engkau panjatkan kepada-Nya
Mencintai Wanita - Imam Syafi’i
Semua orang menyenangi wanita, tetapi mereka berkata, “Mencintai wanita adalah awal sebuah derita.” Bukan wanita yang membuat derita, tetapi mencintai wanita yang tidak mencintaimulah yang akan menciptakan derita bagimu
Senda Gurau - Imam Syafi’i
Yaqut al-Hamawi meriwayatkan dari Ibnu Umar al-Syafi’i, dia mengatakan bahwa Abu Abdillah al-Syafi’i pernah menikahi seorang wanita Quraisy di Mekkah. Kemudian al-Syafi’I pernah mencandai istrinya itu dengan mengatakan:
Di antara malapetaka yang sangat dahsyat adalah jika kamu mencintai wanita atau laki-laki yang tidak mencintai kamu. Ia akan selalu berpaling darimu. Meskipun kamu menungguinya dengan penuh kesabaran, ia tak akan menggrubismu
Membalas Kebaikan dengan Kejahatan - Imam Syafi’i
Malapetaka paling besar adalah bila engkau mencintai seseorang yang sedang mencintai orang lain. Atau jika engkau mengharap kebaikan seseorang, akan tetapi justru orang itu berharap agar kita celaka atau binasa.
Mencintai Orang-orang Saleh - Imam Syafi’i
Aku mencintai orang-orang saleh, meskipun aku belum termasuk golongan mereka. Aku tetap berharap semoga aku mendapatkan syafaat dari mereka.
Aku membenci orang-orang durhaka meskipun sebenarnya, mungkin, aku pun termasuk golongan mereka.
Kewajiban Mencintai Keluarga Rasulullah - Imam Syafi’i
Wahai keluarga Rasul! Mencintai kalian wajib hukumnya menurut al-Qur’an. Kami bangga dengan kalian. Orang yang tidak membaca shalawat untuk kalian, tidak akan mendapat rahmat.
Cinta Allah pada Manusia - Hadis Qudsi
Rasulullah Saw. bersabda, Allah Swt. berfirman:
Hamba-Ku yang beriman masih terus mendekatkan diri kepada-Ku sampai Aku mencitainya. Maka bila Aku mencintainya, jadilah Aku pendengarnya, penglihatannya…
Cinta Orang Kafir dan Beriman - QS. al-Baqarah: 165
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman dengan sangat mencintai Allah.
Zuhud Dunia
Rasulullah Saw bersabda:
Zuhudlah engkau pada dunia, pasti Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada pada manusia, pasti manusia mencintaimu.
Cinta bagaikan Bara Api
Cinta adalah penyembuh bagi kebanggaan dan kesombongan, dan pengobat bagi seluruh kekurangan diri. Cinta adalah bara api yang siap membakar dan menyala, selain yang dicinta. Tauhid adalah pedang, yang jika diayunkan oleh pemiliknya akan dapat membakar semuanya, selain Allah Swt.
Ibadah dengan Cinta - Khalid Muhammad Khalid
Di taman cinta yang indah mempesona, ibadah itu berubah menjadi keindahan dalam kehidupan yang membawa kesenangan, keriangan, dan kebahagiaan. Di bawah keteduhan naungan cinta, perintah ibadah tidak lagi menjadi beban yang harus dipikul, tetapi ia adalah sesuatu yang patut diterima dengan senang dan gembira.
Ingin Berjumpa dengan Allah - Khalid Muhammad Khalid
Cinta kepada Allah itu menarik-narik dari Ahlullah berbagai penjuru, maka sebagian dari mereka ada yang menghendaki hidup seribu tahun agar kelezatan ibadah itu dapat dirasakan terus menerus dalam kerinduan. Sebagian lagi ada yang menghendaki secepatnya meninggalkan dunia fana ini, bahkan mereka sanggup membayarnya dengan harga yang mahal, agar mereka dapat segera merasakan manisnya perjumpaan dengan Allah Swt.
Cinta Membersihkan Hati - Muhammad Mahdi al-Shifi
Cinta kepada Allah dapat membersihkan hati dari kenistaan dan ketergantungan terhadap dunia. Cinta kepada Allah adalah faktor yang terkuat pengaruhnya dalam hati manusia. Ia adalah api dan cahaya. Ia membersihkan hati, menerangi dan memberinya keteguhan.
Menangis Bukan Karena Cinta Dunia - Muhammad Mahdi al-Shifi
Amru bin Geis berkata sambil menangis di waktu menderita sakit yang menghantarkannya pada sang sakaratul maut:
“Saya bukan menangis karena dunia yang kalian cintai, tetapi yang kutangisi adalah terpisahnya tenggorokanku dari kehausan di musim panas dan terpisahnya diriku dari bangun malam di musim dingin.”
Rindu pada Allah - Muhammad Mahdi al-Shifi
Abdullah bin Zakaria berkata: “Sekiranya aku disuruh memilih umur sampai seratus tahun dan kugunakan untuk beribadah kepada Allah dengan nyawaku diambil hari ini juga, niscaya kupilih nyawaku dicabut sekarang juga, karena rinduku kepada Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang saleh dari hamba-hamba-Nya.
Sakit Cinta
Suatu ketika, Jalaluddin Rumi ditanya gurunya, Syamsuddin Tabriz, “Apakah Anda tidak mengetahui, bahwa semua orang sakit mendambakan kesembuhan, kecuali para penderita sakit cinta, mereka merindukan sakitnya bertambah dan berhasrat agar sakitnya itu berlipat ganda. Cinta adalah penyakit, tetap ia akan membebaskan penderitaannya dari segala penyakit lain. Apabila penyakit cinta menimpa seseorang, maka dia tidak akan ditimpa penyakit lain. Ruhaninya menjadi sehat, bahwa nyawanya adalah kesehatan, yang semua orang ingin membelinya.
Hari-hari ini, betapa sempitnya dada orang, ketika rasa syukur saja telah hilang dari lembah jiwanya. Apalagi mengembangkan senyum bunga di hatinya. Mereka lebih senang memuja egonya daripada memuja Allah atas nikmat-nikmatNya. Padahal Allah dengan segala CintaNya tak henti-hentinya memanggil, “Ingatlah kepadaKu, niscaya Aku ingat kepadamu…..Bersyukurlah kepadaKu dan janganlah mengingkari diriKu….”
Aku adalah Dia yang kucintai dan Dia yang kucintai adalah aku
Kami adalah dua jiwa yang bertempat dalam satu tubuh.
Jika engkau lihat aku, engkau lihat Dia,
Dan jika engkau lihat Dia, engkau lihat aku.
Tarian Semesta - Muhammad Luqman Hakim
Sungguh, kedahsyatan Cinta itu, telah membawa tarian semesta ini, seperti gerak rancak yang gemulai dalam senandung musik Ilahiyah yang Sempurna. Bagaimana tidak, ketika kita sebut KekasihNya, Muhammad Rasul SAW yang tercinta, tiba-tiba segalanya mekar bagai bunga, lalu membentuk jadi Kauniyah, lahiriyah dan batiniyah kita semua. Bagaimana tidak, sehari semalam kita selalu senandungkan ungkapan Cinta kasih dan kedamaian abadi lewat getaran-getaran milyaran bibir yang menyanyikan sholawat dan salam kepada kekasihNya itu.
Sholawat Cinta - Muhammad Luqman Hakim
Sholawat dan salam yang kita ungkapkan lewat bibir-bibir mungil para bayi yang tersenyum dengan mata telanjang bening berbinar, lebih dari kejujuran hati kita masing-masing. Sampai Nabi Saw, menyebutkan, “Tak seorang pun akan menggapai kesempurnaan imannya, sampai Allah dan RasulNya lebih dicintainya, ketimbang keluarga, harta dan sesama manusia.”
Tiba-tiba setelah itu, segala yang muncul dari nafas para hamba, dari gerak gerik hati para pecintaNya, dari detak jantung para perinduNya, dalam sauh rasa yang mencekam, karena menahan keharuan indahnya Cinta, adalah kebajikan-kebajikan sejati yang maujud dalam gerak dan ucapan, kebajikan hidup ini, dan kebajikan kehidupan di akhir nanti. Sebuah Peradaban Cinta yang luhur dan agung, sampai diperjuangkan dengan darah dari bekaman airmata, atau pun dari airmata yang tersaring dari beningnya darah perjuangan kita semua. Sebab setelah itu, keringat yang menetes dari peluh tubuh kita, adalah mutiara-mutiara bening dari getaran jantung kecintaan, dari sungai yang mengalir menuju Lautan Cinta Sang Kekasih, dari gairah yang tak henti-hentinya, dari mata air di puncak bukit kemakhlukan, pada titik air kehambaan.
Gelora Cinta Allah - Hadits Qudsi
“Wahai Jibril!”. Tiba-tiba suara Allah bergelora memenuhi langit bumi seisinya. “Aku telah mencintai seseorang, maka cintailah dia!.” Lalu Jibril pun mencintai orang itu, bahkan Jibril menggelorakan cintanya melalui ungkapannya yang agung di seluruh langit, “Wahai….Sesungguhnya Allah ta’ala telah mencintai seorang hamba, maka, cintailah wahai kalian semua pada hamba ini.” Lalu gemuruh cinta bertaburan dari penghuni langit melimpahi sang hamba itu, dan penghuni bumi pun menerima sepenuhnya.” Tapi jika Allah Azza wa Jalla membenci seorang hamba, hanya Dia katakan, “Entahlah, Aku tak peduli padanya…”.
Sedikit dan Banyak - Abu Yazid al-Bisthamy
“Cinta adalah menganggap kecil dan sedikit apa saja yang kau anggap banyak dalam dirimu, lalu menganggap banyak apa saja yang sedikit dari Sang Kekasih.”
Lukisan Cinta - Muhammad Luqman Hakim
Para Sufi lalu membuat lukisan Cinta itu, dengan ungkapan-ungkapan surrealis yang indah. Mereka katakan, CintaNya kepada hamba merupakan salah satu dari manifestasi Af’alNya, yaitu kebajikan spesial yang bertemu antara Dia dengan hambaNya, sekaligus juga kondisi anugerah ruhani yang yang membubung pada cinta itu. Cinta adalah dendam kebimbangan hati yang abadi.
Cinta adalah segalanya bagi yang dicintai, melamapaui apa saja yang dekat dengannya. Cinta adalah keselarasan demi keselarasan jiwa, baik di alam nyata maupun alam ghaib. Cinta adalah terhangusnya pecinta karena Sifat-sifatNya, dan kemandirian Yang Dicinta dengan DzatNya. Cinta adalah langkah-langkah jalan Qalbu bagi hasrat Rabgbnya. Cinta adalah ketakutan-ketakutan untuk kehilangan kehormatan cinta dengan segala bakti sepenuhnya.
Jendela Cinta - Muhammad Luqman Hakim
Karena itu, bukalah jendela-jendela hatimu. Bukalah pintu-pintu jiwamu. Bukalah gerbang-gerbang akal dan fikiranmu. Bukalah lambang-lambang pengetahuanmu, agar Cahaya yang memendar abadi dari Kecintaan Ilahi, memasuki relung-relungmu, memenuhi seluruh dinding hatimu, mengembangkan bibir mungil dari bayi suci fitrahmu. Pintalah CintaNya dan Ma’rifatNya, agar memenuhi jiwamu. Namun, agar Jalan Cinta di depanmu begitu lempang ke Istana CintaNya, raihlah tangan-tangan Suci yang telah dilimpahi Cinta dan Ma’rifatNya, agar bisa membimbingmu ke Jalan Cinta yang sesungguhnya. Tangan-tangan para KekasihNya.
Selingkuh Kita - Muhammad Luqman Hakim
Dalam pergumulan jiwa kita sehari-hari, -- diakui atau tidak -- seringkali terjadi perselingkuhan spiritual. Yang paling sederhana dari perselingkuhan itu ketika kita sedang menutupi jiwa kita dari pandangan Allah, kemudian kita bersembunyi dari Allah, berakhir dengan tindakan kita: melanggar aturan Allah.
Begitu kita langgar “janji cinta” antara kita dengan Allah, Kemahacemburuan Allah telah mengoyak jiwa kita, tanpa kita sadari sudah begitu lama kita berpaling dari Allah. Bahkan Allah hanya kita jadikan alibi sehari-hari, kita jadikan alasan-alasan kegagalan, kalau perlu Nama Allah kita jualbelikan dalam pasar kebudayaan dan politik, atau kepentingan nafsu lainnya.
Lalu, Allah kita bikin tarik ulur dalam qalbu kita. Terkadang Allah begitu jauh, terkadang begitu dekat, terkadang hadir, terkadang hilang, terkadang pula kita hempaskan ke hamparan hawa nafsu kita. Seakan-akan kita ini memiliki kekuasaan untuk mengatur segalanya, bahkan termasuk mengatur Allah dalam gerak gerik jiwa kita, khayalan dan persepsi kita. Bahkan Nama Allah sering kita sebut hanya untuk diketahui public bahwa kita akrab dengan Allah, kita ahli dzikir, kita sering munajat pada Allah. Padahal hanya kebusukan jiwa kita yang mendorong demikian. Seperti seseorang yang berteriak, “Saya lakukan ini Lillahi Ta’ala,….! Saya ikhlas, lho…ini demi Allah!”, sadar atau tidak ia menikmati riya’ jiwanya, agar disebut sebagai orang yang ikhlas. Dan inilah yang memang dimaui oleh masyarakat syetan. Perselingkuhan hebat.
Cinta Kepada Allah - Imam Syafi’i
Engkau durhaka kepada Allah dan sekaligus menaruh cinta kepada-Nya. Ini adalah suatu kemustahilan. Apabila benar engkau mencintai-Nya, pastilah engkau taati semua perintah-Nya. Sesungguhnya orang menaruh cinta tentulah bersedia menaati perintah orang yang dicintainya. Dia telah kirimkan nikmat-Nya kepadamu setiap saat dan tak ada rasa syukur yang engkau panjatkan kepada-Nya
Mencintai Wanita - Imam Syafi’i
Semua orang menyenangi wanita, tetapi mereka berkata, “Mencintai wanita adalah awal sebuah derita.” Bukan wanita yang membuat derita, tetapi mencintai wanita yang tidak mencintaimulah yang akan menciptakan derita bagimu
Senda Gurau - Imam Syafi’i
Yaqut al-Hamawi meriwayatkan dari Ibnu Umar al-Syafi’i, dia mengatakan bahwa Abu Abdillah al-Syafi’i pernah menikahi seorang wanita Quraisy di Mekkah. Kemudian al-Syafi’I pernah mencandai istrinya itu dengan mengatakan:
Di antara malapetaka yang sangat dahsyat adalah jika kamu mencintai wanita atau laki-laki yang tidak mencintai kamu. Ia akan selalu berpaling darimu. Meskipun kamu menungguinya dengan penuh kesabaran, ia tak akan menggrubismu
Membalas Kebaikan dengan Kejahatan - Imam Syafi’i
Malapetaka paling besar adalah bila engkau mencintai seseorang yang sedang mencintai orang lain. Atau jika engkau mengharap kebaikan seseorang, akan tetapi justru orang itu berharap agar kita celaka atau binasa.
Mencintai Orang-orang Saleh - Imam Syafi’i
Aku mencintai orang-orang saleh, meskipun aku belum termasuk golongan mereka. Aku tetap berharap semoga aku mendapatkan syafaat dari mereka.
Aku membenci orang-orang durhaka meskipun sebenarnya, mungkin, aku pun termasuk golongan mereka.
Kewajiban Mencintai Keluarga Rasulullah - Imam Syafi’i
Wahai keluarga Rasul! Mencintai kalian wajib hukumnya menurut al-Qur’an. Kami bangga dengan kalian. Orang yang tidak membaca shalawat untuk kalian, tidak akan mendapat rahmat.
Cinta Allah pada Manusia - Hadis Qudsi
Rasulullah Saw. bersabda, Allah Swt. berfirman:
Hamba-Ku yang beriman masih terus mendekatkan diri kepada-Ku sampai Aku mencitainya. Maka bila Aku mencintainya, jadilah Aku pendengarnya, penglihatannya…
Cinta Orang Kafir dan Beriman - QS. al-Baqarah: 165
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman dengan sangat mencintai Allah.
Zuhud Dunia
Rasulullah Saw bersabda:
Zuhudlah engkau pada dunia, pasti Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada pada manusia, pasti manusia mencintaimu.
Cinta bagaikan Bara Api
Cinta adalah penyembuh bagi kebanggaan dan kesombongan, dan pengobat bagi seluruh kekurangan diri. Cinta adalah bara api yang siap membakar dan menyala, selain yang dicinta. Tauhid adalah pedang, yang jika diayunkan oleh pemiliknya akan dapat membakar semuanya, selain Allah Swt.
Ibadah dengan Cinta - Khalid Muhammad Khalid
Di taman cinta yang indah mempesona, ibadah itu berubah menjadi keindahan dalam kehidupan yang membawa kesenangan, keriangan, dan kebahagiaan. Di bawah keteduhan naungan cinta, perintah ibadah tidak lagi menjadi beban yang harus dipikul, tetapi ia adalah sesuatu yang patut diterima dengan senang dan gembira.
Ingin Berjumpa dengan Allah - Khalid Muhammad Khalid
Cinta kepada Allah itu menarik-narik dari Ahlullah berbagai penjuru, maka sebagian dari mereka ada yang menghendaki hidup seribu tahun agar kelezatan ibadah itu dapat dirasakan terus menerus dalam kerinduan. Sebagian lagi ada yang menghendaki secepatnya meninggalkan dunia fana ini, bahkan mereka sanggup membayarnya dengan harga yang mahal, agar mereka dapat segera merasakan manisnya perjumpaan dengan Allah Swt.
Cinta Membersihkan Hati - Muhammad Mahdi al-Shifi
Cinta kepada Allah dapat membersihkan hati dari kenistaan dan ketergantungan terhadap dunia. Cinta kepada Allah adalah faktor yang terkuat pengaruhnya dalam hati manusia. Ia adalah api dan cahaya. Ia membersihkan hati, menerangi dan memberinya keteguhan.
Menangis Bukan Karena Cinta Dunia - Muhammad Mahdi al-Shifi
Amru bin Geis berkata sambil menangis di waktu menderita sakit yang menghantarkannya pada sang sakaratul maut:
“Saya bukan menangis karena dunia yang kalian cintai, tetapi yang kutangisi adalah terpisahnya tenggorokanku dari kehausan di musim panas dan terpisahnya diriku dari bangun malam di musim dingin.”
Rindu pada Allah - Muhammad Mahdi al-Shifi
Abdullah bin Zakaria berkata: “Sekiranya aku disuruh memilih umur sampai seratus tahun dan kugunakan untuk beribadah kepada Allah dengan nyawaku diambil hari ini juga, niscaya kupilih nyawaku dicabut sekarang juga, karena rinduku kepada Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang saleh dari hamba-hamba-Nya.
Sakit Cinta
Suatu ketika, Jalaluddin Rumi ditanya gurunya, Syamsuddin Tabriz, “Apakah Anda tidak mengetahui, bahwa semua orang sakit mendambakan kesembuhan, kecuali para penderita sakit cinta, mereka merindukan sakitnya bertambah dan berhasrat agar sakitnya itu berlipat ganda. Cinta adalah penyakit, tetap ia akan membebaskan penderitaannya dari segala penyakit lain. Apabila penyakit cinta menimpa seseorang, maka dia tidak akan ditimpa penyakit lain. Ruhaninya menjadi sehat, bahwa nyawanya adalah kesehatan, yang semua orang ingin membelinya.
Senin, 01 Januari 2018
RAHASIA HURUF HIJAIYAH
1. ALIF : Tidak ada Tuhan selain Dia yg Maha hidup dan Kokoh
2. BA. ; Tetap ada setelah musnah seluruh makhluk-nya
3.TA. ; Yang Maha menerima taubat,menerima taubat dari semua hambanya
4.TSA. ; Yang mengokohkan semua makhluk,dialah yg mengkokohkan orang orang beriman dengan perkataan yg Kokoh dlm kehidupan dunia
5. JIM. ; Keluhuran sebutan dan pujiannya serta suci seluruh nama-nama Nya
6. HA. ; Al Haq Maha hidup dan Penyayang
7. KHA ; Maha mengetahui akan seluruh perbuatan Hambanya
8. DAL. ; Pemberi balasan dihari kiamat
9. DZAL. ; Pemilik segala keagungan dan kemuliaan
10. RA. ; Lemah lembut terhadap hamba" nya
11. Zat. ; Hiasan penggambaran
12. SIN ; Maha mendengar dan melihat
13. SYIN ; Yg disyukuri oleh Hamba-nya
14. SHAD ; Maha benar dlm setiap janjinya
15. SHAD. ; Yang memberi madhorot dan manfaatnya
16. THA. ; Yang suci dan mensucikan
17. Dzha ; yang Maha nampak dan menampakkan seluruh tanda tanda
18. AyN ; Maha mengetahui hamba Hambanya
19. GHOYN ; Tempat mengharap para penggarap dari semua ciptaan nya
20. FA. ; Yang menumbuhkan biji-bijian tumbuh tumbuhan
21. QOF ; Maha kuasa atas segala makhluk nya
22. KAF ; Yg Maha mencukupkan yg tdk ada satupun yg setara dengan-nya dia tdk beranak
dan di peranakan
23. LAM ; Maha lembut terhadap hamba nya
24. MIN ; Pemilik semua kerajan
25. NUN ; Cahaya bagi langit yg bersumber pada cahaya arasnya
26.WAW ; Satu Esa Tempat bergantung semua makhluk dan tdk beranak dan diamalkan
27. HA ; Memberi petunjuk bagi makhluk-nya
28. LAM ALIF ; Tdk ada Tuhan selain Alloh,satu satunya dan tdk ada sekutu baginya
29 .YA ; Tangan Alloh yg terbuka bagi seluruh makhluk nya
ALLAH MEMANDANG HATI
Pada suatu hari, Hasan Al-Basri pergi melawat Habib Ajmi, seorang sufi besar lain. Pada waktu solatnya, Hasan mendengar Ajmi banyak melafazkan bacaan solatnya dengan keliru.
Oleh kerana itu, Hasan memutuskan untuk tidak solat berjamaah dengannya. Ia menganggap kurang layaklah bagi dirinya untuk solat bersama orang yang tak boleh mengucapkan bacaan solat dengan benar.
Di malam harinya, Hasan Al-Basri bermimpi. Ia mendengar Allah berbicara kepadanya:
"Hasan, jika saja kau berdiri di belakang Habib Ajmi dan menunaikan solatmu, kau akan memperoleh keredhaan-Ku, dan solat kamu itu akan memberimu manfaat yang jauh lebih besar daripada seluruh solat dalam hidupmu.
Kau coba mencari kesalahan dalam bacaan solatnya, tapi kau tak melihat kemurnian dan kesucian hatinya. Ketahuilah, Aku lebih menyukai hati yang tulus daripada pengucapan tajwid yang sempurna"
Di zaman sekarang ini sukar sekali kita mencari orang yang benar-benar mempunyai kriteria dekat kepada Allah. Sering kali mata kita tertipu oleh penampilan zahir.
Orang dekat dengan Allah itu adalah para Aulia-Nya, para kekasih-Nya yang beribadah semata-mata untuk mencari keredhaan Allah dan menuntun orang-orang menuju ke hadrat Allah.
Seorang wali Allah dalam kehidupan sehari-hari boleh saja berprofesion sebagai seorang peniaga, petani, ulama' guru sekolah, dan lain-lain. Hanya orang yang diberi petunjuk oleh Allah yang boleh berjumpa dengan wali-Nya.
Mempunyai bacaan benar (tajwid) yang sempurna memang salah satu syarat sah seseorang menjadi imam dalam solat, akan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana hatinya boleh terus menerus bersama Allah selama dalam solat.
Ini hal yang sangat pokok, kerana seorang imam akan dipertanggung jawabkan amalan makmum nya di hadapan Allah SWT. Kalau imam sepanjang solat mengingat wanita-wanita cantik, mengenang harta, dan sejuta persoalan hidup, apakah dijadikan dijadikan sebagai imam?
Saya jadi teringat kisah Imam Al-Ghazali yang menjadi imam dalam solat Asar di sebuah masjid, Beliau baru saja mengajarkan hukum thaharah bagi wanita yang haid.
Tanpa disadari fikiran Beliau saat solat teringat kepada wanita yang sedang haid. Salah seorang yang menjadi makmum adalah adik kandung imam al-Ghazali.
Selepas selesai solat adik imam Al-Gazali menegur, "kenapa abang di rakaat kedua mengingat wanita yang sedang haid?"
Imam Al-Ghazali sangat terkejut, selaku orang yang sangat ahli dalam hukum Islam telah hafal Al-Qur'an dan ribuan hadis, telah berpuluh tahun menjadi imam baru sekarang mengetahui kekeliruannya selama ini.
Beliau berkata kepada adiknya, "Tajam sekali mata hatimu, mulai saat ini aku berguru kepada mu"
Imam Al-Ghazali yang terkenal akan ilmu syariatnya, perlu belajar lagi kepada adiknya yang ahli Tarekat, Tasawuf, dan Ahlus Sufi, bagaimana menjadi seorang Imam yang sah.
Lalu bagaimana dengan imam-imam zaman sekarang yang hanya bergantung pada hafalan dan kefasihannya?
Bacaan tetaplah bacaan, hafalan tetaplah hafalan, yang tersimpan dalam otak yang mempunyai dimensi rendah.
Seorang hamba baca, tetaplah akan menjadi hamba baca, kalau pengetahuannya tidak di upgrade.
Semoga tulisan ini menyedarkan kita semua, setelah kita fasih mengalunkan ayat Al-Qur'an, tiba saatnya untuk men-fasih-kan hati dalam mengingati-Nya. Bagaimana caranya?
"Bertanyalah kepada Ahli Zikir bila kamu tidak tahu" (An-Nahl, 43)
Daripada: Istilah Hati
ANA KHOIRU MINHU (saya lebih baik daripada dia/ gue lebih baik dari elo,ente, semuanye deh)
"Ana
khoiru minhu" adalah yang diucapkan oleh pemimpin besarku ketika Allah
s.w.t. memerintahkannya menghormat kepada manusia pertama, Adam a.s.
Pemimpinku itu menolak perintahNYA, dan ketika ditanya olehNYA alasan dia
menolak perintah maka dikatakanlah kalimat itu "aku lebih baik daripadanya,
Engkau ciptakan aku dari api sedang dia (Adam) Engkau ciptakan dari tanah"
(QS.Al A'Raaf:12). Kalimat sepotong itu rupanya dahsyat akibatnya, sejak
itulah ia keluar dari nikmat syurgawi, bahkan siksa yang abadi kelak telah dipastikanbaginya.
Dan kami, anak keturunannya, masuk dalam barisannya yang rapih, teratur dan
cerdik penuh tipu-daya, melaksanakan tugas menggelincirkan anak keturunan
manusia. Allah telah mengijinkan kami memperosokkan mereka ke dalam
kehancuran, di dunia dan di akhirat. Jika kalimat itu mengakibatkan raja
kami tak berhak tinggal dalam kenikmatan surga, maka kalimat itu pun akan
dahsyat pula akibatnya ketika kami bisikkan ke dalam hawa nafsu manusia.
Mereka akan meluncur jatuh dari kedudukannya yang paling mulia dibandingkan segala makhluk, menjadi yang bahkan lebih buruk dari hewan.
Aku tiupkan 'ana khoiru minhu' kepada orang-orang tua, sehingga mereka
merasa lebih berharga daripada yang muda-muda. Seolah dengan menjadi tua
umurnya, maka mereka pasti menguasai kebijaksanaan. Kubantu mereka lupa,
bahwa hikmah datang dengan ilmu, yang mereka usahakan dengan belajar dan
membaca, baik ayat kauniyah ataupun ayat kauliyah. Dan menuntut ilmu agama
tidaklah mudah, kecuali bagi mereka yang sabar dalam kepayahan belajar.
s.w.t. memerintahkannya menghormat kepada manusia pertama, Adam a.s.
Pemimpinku itu menolak perintahNYA, dan ketika ditanya olehNYA alasan dia
menolak perintah maka dikatakanlah kalimat itu "aku lebih baik daripadanya,
Engkau ciptakan aku dari api sedang dia (Adam) Engkau ciptakan dari tanah"
(QS.Al A'Raaf:12). Kalimat sepotong itu rupanya dahsyat akibatnya, sejak
itulah ia keluar dari nikmat syurgawi, bahkan siksa yang abadi kelak telah dipastikanbaginya.
Dan kami, anak keturunannya, masuk dalam barisannya yang rapih, teratur dan
cerdik penuh tipu-daya, melaksanakan tugas menggelincirkan anak keturunan
manusia. Allah telah mengijinkan kami memperosokkan mereka ke dalam
kehancuran, di dunia dan di akhirat. Jika kalimat itu mengakibatkan raja
kami tak berhak tinggal dalam kenikmatan surga, maka kalimat itu pun akan
dahsyat pula akibatnya ketika kami bisikkan ke dalam hawa nafsu manusia.
Mereka akan meluncur jatuh dari kedudukannya yang paling mulia dibandingkan segala makhluk, menjadi yang bahkan lebih buruk dari hewan.
Aku tiupkan 'ana khoiru minhu' kepada orang-orang tua, sehingga mereka
merasa lebih berharga daripada yang muda-muda. Seolah dengan menjadi tua
umurnya, maka mereka pasti menguasai kebijaksanaan. Kubantu mereka lupa,
bahwa hikmah datang dengan ilmu, yang mereka usahakan dengan belajar dan
membaca, baik ayat kauniyah ataupun ayat kauliyah. Dan menuntut ilmu agama
tidaklah mudah, kecuali bagi mereka yang sabar dalam kepayahan belajar.
Maka mereka akan lalai,
berpuas-diri merasa mulia, menuntut perhormatan dan ketaatan yang berlebihan
dari orang-orang muda. Pada puncaknya, mereka tidak merelakan penghormatan itu
meninggalkan mereka, maka mereka bunuh potensi orang-orang muda.
Bukankah Fir'aun menjadi contoh yang hebat, dalam
membunuh
manusia berpotensi, karena tak rela kedudukannya lepas dari tangannya?
Aku bisikkan 'ana khoiru minhu' kepada orang-orang muda. Tubuh yang kuat dan indah dari orang-orang muda, pikiran yang kuat akan kujadikan awal mereka merasa lebih baik daripada orang-orang tua yang mulai kelihatan lemah.
manusia berpotensi, karena tak rela kedudukannya lepas dari tangannya?
Aku bisikkan 'ana khoiru minhu' kepada orang-orang muda. Tubuh yang kuat dan indah dari orang-orang muda, pikiran yang kuat akan kujadikan awal mereka merasa lebih baik daripada orang-orang tua yang mulai kelihatan lemah.
Aku buat mereka lupa bahwa,
di antara orang tua, banyak yang telah melalui
berbagai peristiwa yang menambah hikmah dalam jiwa mereka. Hikmah yang
menjadi penting bagi keselamatan dan keberhasilan hidup seseorang. Tidak
akan aku biarkan orang muda memetik hikmah itu dari orang-orang tua.
Kutampakkan para orang tua menjadi makhluk lemah tak berguna bagi mereka.
Kupalingkan muka mereka kepada hal-hal yang lebih menarik hawa nafsu.
Bagiku, sangat mudah menipu orang yang diberi banyak harta, agar mereka
memiliki semangat 'ana khoiru minhu'. Menjadi sifat! sebagian manusia,
mereka merasa sedang dimuliakan Allah ketika diberi banyak harta benda (QS.
Al Fajr:15). Tak hentinya kubisikkan dalam kalbu mereka, bahwa mereka lebih
baik daripada yang kurang berharta. Maka hilanglah rasa belas kasih.
Sedangkan tanpa belas kasih, tak akan ada belas kasih yang datang baginya
dari makhluk di bumi dan langit. Maka berkembanglah sifat rakus tak pernah
puas dengan harta, sehingga tidak waspada terhadap cara mencari dan
membelanjakannya. Kubantu mereka lupa bahwa harta adalah cobaan menyenangkan yang dapat dengan sangat gampang mengakibatkan manusia terjatuhkemuliaannya.
Orang miskin dan kurang pun tak kulepaskan dari hawa 'ana khoiru minhu'.
Maka tidak dapatlah ia menerima keputusan Tuhannya, akan pembagian rezki
atau nasib di dunia. Sedangkan perhitungan Allah adalah sangat teliti. Lalu
ia menginginkan kenikmatan hilang dari orang yang dipandangnya lebih bahagia
karena berharta banyak, berkekuasaan, berparas lebih baik atau keadaan yang lebih baik lainnya.
berbagai peristiwa yang menambah hikmah dalam jiwa mereka. Hikmah yang
menjadi penting bagi keselamatan dan keberhasilan hidup seseorang. Tidak
akan aku biarkan orang muda memetik hikmah itu dari orang-orang tua.
Kutampakkan para orang tua menjadi makhluk lemah tak berguna bagi mereka.
Kupalingkan muka mereka kepada hal-hal yang lebih menarik hawa nafsu.
Bagiku, sangat mudah menipu orang yang diberi banyak harta, agar mereka
memiliki semangat 'ana khoiru minhu'. Menjadi sifat! sebagian manusia,
mereka merasa sedang dimuliakan Allah ketika diberi banyak harta benda (QS.
Al Fajr:15). Tak hentinya kubisikkan dalam kalbu mereka, bahwa mereka lebih
baik daripada yang kurang berharta. Maka hilanglah rasa belas kasih.
Sedangkan tanpa belas kasih, tak akan ada belas kasih yang datang baginya
dari makhluk di bumi dan langit. Maka berkembanglah sifat rakus tak pernah
puas dengan harta, sehingga tidak waspada terhadap cara mencari dan
membelanjakannya. Kubantu mereka lupa bahwa harta adalah cobaan menyenangkan yang dapat dengan sangat gampang mengakibatkan manusia terjatuhkemuliaannya.
Orang miskin dan kurang pun tak kulepaskan dari hawa 'ana khoiru minhu'.
Maka tidak dapatlah ia menerima keputusan Tuhannya, akan pembagian rezki
atau nasib di dunia. Sedangkan perhitungan Allah adalah sangat teliti. Lalu
ia menginginkan kenikmatan hilang dari orang yang dipandangnya lebih bahagia
karena berharta banyak, berkekuasaan, berparas lebih baik atau keadaan yang lebih baik lainnya.
Ia terkena sifat
dengki, menginginkan hilangnya nikmat orang lain, dan juga sifat tidak sabar,
serta kufur nikmat.
Ketika semangat 'ana khoiru minhu' ada pada orang yang diberi kekuasaan di
antara umat manusia, maka mereka akan mengambil hak-hak orang lain dengan
tanpa sadar. Seolah hanya orang yang berkuasalah yang berhak hidup senang,
sedang manusia tanpa kekuasaan tidak berhak mendapat kelapangan hidup.
Disingkirkan oleh mereka orang yang tidak sepaham, sedangkan mereka belum
tentubenar.
Tentu aku tak lupa menziarahi orang-orang yang dianggap alim ulama di antara
manusia, dengan membawa 'ana khoiru minhu'. Maka ia merasa lebih mulia.
Jadilah ia membenci orang yang lebih alim darinya. Kadang jadi lengah pula
ia, karena penghormatan manusia yang berlebihan kepadanya, menjadikannya
merasa bahwa tanpa usaha mendekatkan diri padaNYA pun, Allah telah
membebaskannya dari dosa. Bisa pula dengan ilmu dan kedudukan serta
kepercayaan manusia kepadanya, ia mempermainkan agamaNYA, untuk
kepentingannya. Begitu beraninya ia, karena kubantu ia dengan hembusan "aku
lebih baik dari dia".
Demikianlah, takkan kubiarkan manusia mensyukuri nikmat. Aku selipkan
semangat 'ana khoiru minhu' di setiap nikmat yang diberikan Allah kepada
manusia. Nikmat kesehatan, kepandaian, kekayaan, kecantikan, kekuasaan,
kekuatan.
Ketika semangat 'ana khoiru minhu' ada pada orang yang diberi kekuasaan di
antara umat manusia, maka mereka akan mengambil hak-hak orang lain dengan
tanpa sadar. Seolah hanya orang yang berkuasalah yang berhak hidup senang,
sedang manusia tanpa kekuasaan tidak berhak mendapat kelapangan hidup.
Disingkirkan oleh mereka orang yang tidak sepaham, sedangkan mereka belum
tentubenar.
Tentu aku tak lupa menziarahi orang-orang yang dianggap alim ulama di antara
manusia, dengan membawa 'ana khoiru minhu'. Maka ia merasa lebih mulia.
Jadilah ia membenci orang yang lebih alim darinya. Kadang jadi lengah pula
ia, karena penghormatan manusia yang berlebihan kepadanya, menjadikannya
merasa bahwa tanpa usaha mendekatkan diri padaNYA pun, Allah telah
membebaskannya dari dosa. Bisa pula dengan ilmu dan kedudukan serta
kepercayaan manusia kepadanya, ia mempermainkan agamaNYA, untuk
kepentingannya. Begitu beraninya ia, karena kubantu ia dengan hembusan "aku
lebih baik dari dia".
Demikianlah, takkan kubiarkan manusia mensyukuri nikmat. Aku selipkan
semangat 'ana khoiru minhu' di setiap nikmat yang diberikan Allah kepada
manusia. Nikmat kesehatan, kepandaian, kekayaan, kecantikan, kekuasaan,
kekuatan.
Maka bukanlah mereka mensyukuri dengan
segenap jiwa dan dengan
tindakan mereka, melainkan malah memperbesar semangat 'aku lebih baik dari dia' dalam hati mereka. Demikianlah, setiap nikmat lalu menjadi niqmat
(bencana).
Aku hembuskan 'ana khoiru minhu' di mana-mana. Di antara para ibu yang
sedang berkumpul, sehingga sibuklah mereka mengumpulkan cela orang lain.
Begitu pula di antara perempuan muda, laki-laki muda dan tua, orang pandai,
orang kaya, orang kuat, orang berpengaruh, semua.....
Jika kutelah berhasil menjadikan mereka memandang rendah manusia lain, maka akan lebih mudah jalanku membimbing mereka kepada puncaknya: menolak kebenaran. Bukankah kaum Yahudi dan Nasrani sulit menerima kebenaran agamaNYA, hanya karena Nabi yang membawa petunjuk itu berasal dari garis keturunan Hajar, sang bekas budak. Sedangkan mereka berasal dari garis keturunan yang dipandangnya lebih terhormat: Sarah.
Dan dengan tipuan kami pula maka orang tua, orang muda, orang cantik dan
tampan, orang kaya, orang berkuasa, orang yang dimuliakan, orang yang
dianggap pandai tidak dapat menerima kebenaran yang dibawa oleh orang yang mereka anggap lebih rendah. Pada puncak ini, lengkaplah sudah penyakit utama dalam hati manusia: sifat kibir. Yaitu sifat merendahkan orang lain dan
menolak kebenaran.
Memang, kami tidak cuma cerdik dan pintar merencanakan seribu kelicikan,
tapi kami juga gigih. Ingatkah cerita tentang pendeta Barshisha? Ia yang
selama hidupnya beribadat kepada Allah, di akhir hayatnya menjadi kufur!
sujud di kaki Iblis, setelah menzinai gadis sakit dalam asuhannya, lalu
membunuhnya.
Tapi sayang, usaha kami akan sia-sia belaka terhadap orang-orang yang
mengikatkan seluruh aktifitas kehidupannya hanya untuk mendapat pengakuan
dan keridlaaNYA (QS. Al Hijr:40). Terhadap mereka, tak ada yang dapat kami lakukan. Mereka adalah orang-orang yang di tengah semangat dan kerja-keras selama hidupnya, dalam jiwa mereka hanya 'sepi' berdua: diri mereka dan Allah s.w.t. Jalan mereka kepada kenikmatan hakiki adalah luas dan lapang tanpa penghalang. Di dunia mereka memperoleh ketenangan batin bebas dari ketakutan betapa pun besar kesulitan menghadang (QS.AtTaubah:18), dan di akhirat nikmat abadi telah disediakan (QS. At-Taubah:21-22).
Bagaimana kami bisa menipu orang-orang seperti! ini? Sedangkan malaikat tak
putus berdoa untuk mereka? Sedangkan cinta Allah yang berlebih dilimpahkan
kepada mereka? Mendekatkan pun kami tak mampu. Allah telah bersumpah
menjamin keamanan mereka dari gangguan kamu. Sesungguhnya hamba-hamba-KU tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka kecuali, orang-orang yang mengikutimu yaitu orang-orang yang sesat. (QS. Al Hijr:42)
tindakan mereka, melainkan malah memperbesar semangat 'aku lebih baik dari dia' dalam hati mereka. Demikianlah, setiap nikmat lalu menjadi niqmat
(bencana).
Aku hembuskan 'ana khoiru minhu' di mana-mana. Di antara para ibu yang
sedang berkumpul, sehingga sibuklah mereka mengumpulkan cela orang lain.
Begitu pula di antara perempuan muda, laki-laki muda dan tua, orang pandai,
orang kaya, orang kuat, orang berpengaruh, semua.....
Jika kutelah berhasil menjadikan mereka memandang rendah manusia lain, maka akan lebih mudah jalanku membimbing mereka kepada puncaknya: menolak kebenaran. Bukankah kaum Yahudi dan Nasrani sulit menerima kebenaran agamaNYA, hanya karena Nabi yang membawa petunjuk itu berasal dari garis keturunan Hajar, sang bekas budak. Sedangkan mereka berasal dari garis keturunan yang dipandangnya lebih terhormat: Sarah.
Dan dengan tipuan kami pula maka orang tua, orang muda, orang cantik dan
tampan, orang kaya, orang berkuasa, orang yang dimuliakan, orang yang
dianggap pandai tidak dapat menerima kebenaran yang dibawa oleh orang yang mereka anggap lebih rendah. Pada puncak ini, lengkaplah sudah penyakit utama dalam hati manusia: sifat kibir. Yaitu sifat merendahkan orang lain dan
menolak kebenaran.
Memang, kami tidak cuma cerdik dan pintar merencanakan seribu kelicikan,
tapi kami juga gigih. Ingatkah cerita tentang pendeta Barshisha? Ia yang
selama hidupnya beribadat kepada Allah, di akhir hayatnya menjadi kufur!
sujud di kaki Iblis, setelah menzinai gadis sakit dalam asuhannya, lalu
membunuhnya.
Tapi sayang, usaha kami akan sia-sia belaka terhadap orang-orang yang
mengikatkan seluruh aktifitas kehidupannya hanya untuk mendapat pengakuan
dan keridlaaNYA (QS. Al Hijr:40). Terhadap mereka, tak ada yang dapat kami lakukan. Mereka adalah orang-orang yang di tengah semangat dan kerja-keras selama hidupnya, dalam jiwa mereka hanya 'sepi' berdua: diri mereka dan Allah s.w.t. Jalan mereka kepada kenikmatan hakiki adalah luas dan lapang tanpa penghalang. Di dunia mereka memperoleh ketenangan batin bebas dari ketakutan betapa pun besar kesulitan menghadang (QS.AtTaubah:18), dan di akhirat nikmat abadi telah disediakan (QS. At-Taubah:21-22).
Bagaimana kami bisa menipu orang-orang seperti! ini? Sedangkan malaikat tak
putus berdoa untuk mereka? Sedangkan cinta Allah yang berlebih dilimpahkan
kepada mereka? Mendekatkan pun kami tak mampu. Allah telah bersumpah
menjamin keamanan mereka dari gangguan kamu. Sesungguhnya hamba-hamba-KU tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka kecuali, orang-orang yang mengikutimu yaitu orang-orang yang sesat. (QS. Al Hijr:42)
Langganan:
Postingan (Atom)