Laman

Jumat, 25 Juli 2014

FUTUHUL GHOIB AJARAN 35

AJARAN 35

Kamu harus menjauhkan dirimu dari perkara-perkara yang haram. Jika tidak, maka kamu akan dibinasakan. Kamu tidak akan dapat lepas dari cengkeraman bahaya perkara-perkara yang haram itu, kecuali jika Allah menolongmu dengan kasih sayang-Nya. Ada satu hadits yang menerangkan bahwa dasar agama itu adalah menjauhkan diri dari hal-hal yang haram dan yang merusakkan agama itu adalah ketamakan. Janganlah kamu mendekati perkara-perkara yang haram itu, karena boleh jadi kamu akan mencoba-coba merasakannya. Mendekatpun jangan. Dikhawatirkan kamu akan terpengaruh. Mar bin Khattab pernah berkata, “Biasanya kami menjauhkan diri dari sembilan persepuluh perkara-perkara yang halal, karena kami khawatair terjerumus ke dalam perkara-perkara yang haram.”

Abu Bakar Shiddiq ra pernah berkata, “Kami biasa menjauhkan diri kami dari tujuhpuluh pintu menuju perkara-perkara yang diolehkan, karena khawatir terjerumus ke dalam dosa.”

Baik Umar maupun Abu Bakar, keduanya sangat menjauhkan diri dari mendekati perkara-perkara yang haram, dan di dalam berbuat demikian, mereka mengambil sikap bagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, “Berhati-hatilah ! Sesungguhnya setiap raja itu mempunyai taman larangannya sendiri-sendiri, sedangkan taman larangan Allah itu adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.”

Barang siapa berjalan di sekeliling taman itu, maka mungkin ia akan masuk ke dalamnya. Tetapi, barangsiapa memasuki pintu istana raja dan terus melewati pintu kedua dan ketiga, hingga akhirnya sampai ke kamar raja, maka hal itu adalah lebih daripada orang yang berada di luar pintu pertama, karena ia berada di luar. Jika pintu ketiga tertutup, maka orang ini tidak akan terkena bahaya. Sebab, ia berada di antara dua pintu dan berada dekat dengan raja dan bala tentaranya. Sebaliknya bagi orang yang berada di luar tadi, jika pintu pertama itu tertutup, maka tetap saja ia berada di luar, tanpa tempat berlindung dan mungkin ia akan dimakan binatang buas atau dibunuh musuh.

Begitu pula halnya bagi orang yang patuh kepada Allah dan mengikuti jalan Allah. Kemudian, jika pertolongan kekuasaan dan karunia-Nya diambil darinya, ia terputus dari pertolongan-Nya, tetapi ia masih tetap menjalankan hukum-hukum-Nya, maka apabila ia mati, ia masih berada dalam keta’atan dan menyembah kepada Allah, lalu segala amal baiknya itu akan menjadi saksi baginya.

Lain halnya dengan orang yang tidak menjalankan kewajiban-kewajibannya terhadap Allah. Jika Allah tidak menolongnya, hawa nafsu kebinatangannya menguasainya, dia terus melakukan perkara-perkara yang haram, keluar dari hukum-hukum syari’at Allah, ia terus menjadi sekutu setan yang dikutuk Allah dan ia jauh dari jalan yang lurus dan benar, maka jika ia mati sebelum bertobat, ia akan termasuk dalam golongan orang-orang yang merugi, kecuali jika Allah mengampuni dan memberinya rahmat. Oleh karena itu, orang-orang yang menjalankan kewajiban berada dalam keselamatan dan orang-orang yang tidak menjalankan kewajiban berada dalam bahaya.

FUTUHUL GHOIB AJARAN 34

AJARAN 34

Sungguh mengherankan, jika kamu membuat Tuhanmu murka, menyalahkan-Nya atau mengatakan bahwa Dia tidak adil, merendahkan pemberian atau menyingkirkan marabahaya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa setiap kejadian atau peristiwa itu telah ditetapkan masanya dan setiap marabahaya itu telah ditetapkan temponya yang tidak boleh ditangguhkan atau dipercepat: Masa bahaya tidak dapat ditukar dengan masa aman dan masa aman pun tidak dapat ditukar dengan masa huru-hara. Oleh karena itu, hendaklah kamu bersopan-santun, diam dan jangan banyak bicara, bersabar, berserah diri sepenuhnya dengan tulus ikhlas kepada-Nya, menyesuaikan kehendakmu dengan kehendak-Nya dan bertobat kepada Allah karena kesalahan yang telah kamu perbuat.

Manusia dan mahlukalah yang tunduk takluk kepada Allah, dan bukannya Allah yang tunduk takluk kepada manusia dan mahluk. Kembalilah kepada manusia untuk meminta kepadanya, dia akan memberikan permintaannya, tetapi tidak musti Allah akan memberi permintaan hamba-hamba-Nya. Kembalilah kepada Allah, baik Dia akan mengabulkan maupun tidak mengabulkan permintaan hamba-hamba-Nya. Dia-lah Yang Maha Agung dan Maha Kaya, dan Dia-lah Yang Maha Berdiri Sendiri, tanpa mempunyai sekutu. Dia menjadikan sesuatu dan Dia menentukan kebaikan atau kejahatan. Dia mengetahui awal dan akhir serta tujuan mahluk. Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung itu Maha Bijaksana di dalam berbuat dan Maha Tegas di dalam membuat peraturan, tidak ada yang berlawanan di dalam perbuatan-Nya itu. Dia tidak menjadikan sesuatu dengan sia-sia atau tanpa tujuan. Pekerjaan-Nya bukan merupakan permainan. Tidaklah wajar, jika di dalam perbuatan-Nya itu terdapat cacad atau cela, karena Dia Maha Bijaksana dan Maha Tahu. Hendaklah kamu bersabar menanti, jika kamu belum dapat menyesuaikan dirimu dengan Dia, belum dapat menunjukkan penyerahanmu kepada-Nya dan mem-fana’-kan dirimu kepada-Nya, sampai takdir Illahi datang pada tempo yang telah cukup dan masa bertukarpun telah datang bagaikan siang berganti malam atau musim panas berganti musim dingin.

Jika kamu meminta cahaya siang di waktu malam, tentulah kamu tidak akan diberi. Malam tetap malam, tidak ada cahaya siang di waktu itu. Oleh karena itu, sabarlah menanti sampai malam itu berakhir dan siangpun datang. Demikian sebaliknya, jika pada waktu siang kamu meminta kegelapan malam, maka tidak mungkin kamu akan mendapatkannya. Sebab, siang itu tetap siang, dan kamu meminta bukan pada tempatnya. Maka, hendaklah kamu selalu ridha, sabar dan berpegang teguh kepada Tuhan Yang Maha Tahu itu. Percayalah bahwa apa yang telah ditetapkan untuk kamu itu pasti akan kamu dapatkan dan apa saja yang telah ditetapkan untuk orang lain itu pasti tidak akan pernah kamu dapatkan. Demikianlah yang aku percayai, kecuali jika kamu meminta kepada Allah dengan mengharapkan pertolongan-Nya dengan shalat dan berdoa bersungguh-sungguh, menyembah-Nya, patuh kepada-Nya dan menjalankan perintah-Nya, seperti firman-Nya, “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS 40:60) Dan firman-Nya pula, “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS 4:32)

Dan masih banyak lagi keterangan-keterangan lainnya, baik dari ayat-ayat maupun sabda-sabda Nabi. Jika kamu berdoa kepada-Nya, maka Dia akan mengabulkan doamu itu dalam tempo yang telah ditentukan-Nya dan di akhir tempo itu. Itupun bila Dia menghendaki dan ada kebaikan bagi kamu di dalam hal ini, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Atau karena semua itu bertepatan dengan takdir-Nya dan di ujung waktu yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Janganlah kamu menyalahkan Tuhanmu jika permohonanmu lambat Dia terima. Dan janganlah kamu bosan untuk meminta, kerena sebenarnya kamu tidak akan merasa untung dan juga tidak akan merugi. Jika permintaan kamu itu tidak diterima di dunia ini, maka Allah akan memenuhinya di akhirat kelak. Ada suatu hadits Nabi yang menyatakan bahwa di hari kebangkitan kelak, hamba-hamba Allah akan mendapatkan buku yang memuat catatan-catatan tentang perbuatan hamba-hamba-Nya. Dalam buku itu diterangkan bahwa ada perbuatan baik yang tidak diketahui oleh hamba itu. Maka ketika itu akan diberitahukan kepadanya bahwa balasan yang diterimanya ini adalah sebagai ganti dari doanya di dunia yang ditakdirkan untuk tidak diterimanya. Sekurang-kurangnya, hamba itu harus selalu ingat kepada Allah, berpegang teguh kepada-Nya dan bertauhid kepada-Nya sambil memohon kepada-Nya. Janganlah kamu meminta kepada mahluk, tetapi memintalah kepada Allah. Oleh karena itu, dalam pertukaran siang dengan malam, sehat dengan sakit, waktu perang dengan waktu aman atau waktu senang dengan waktu susah, kamu berada dalam salah satu di antara dua kedaan di bawah ini :
1. Baik kamu memohon, tetap berpuas hati, rela dan menyerah kepada perbuatan Allah seperti mayat yang sedang dimandikan, atau seperti bayi yang berada di pangkuan ibunya dan atau seperti bola yang berada di kaki pemain. Orang seperti ini, dengan sukarela, selalu mengikuti apa yang ditakdirkan Tuhan. Jika kebaikan datang kepadanya, maka ia bersyukur, sebagaimana firman-Nya, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema’lumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat-Ku) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS 14:7)

Dan jika malapetaka yang datang kepadanya, maka ia bersabar dan ridha, dengan pertolongan daya upaya Allah, dengan keteguhan hati dan dengan rahmat Allah, seperti firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS 2:153)

Dengan kata lain, Dia beserta orang-orang yang sabar dengan karunia-Nya yang berupa pertolongan dan kekuatan, sebagaimana firman-Nya, “…jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS 47:7)

Apabila kamu telah menolong Allah dengan jalan menumpaskan hawa nafsumu, tidak menyalahkan Dia, dengan menghindarkan diri dari tidak rela terhadap perlakuan-Nya kepadamu, kamu menjadi musuh bagi diri kamu sendiri karena Allah, bersedia memancungnya dengan pedang jika ia bergerak hendak kufur atau syirik dan memenggalnya dengan kesabaran dan bersesuaian dengan Allah, dan dengan kamu rela terhadap perbuatan dan janji-janji-Nya, maka Allah akan menjadi penolong kamu. Allah berfirman, “…dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali).” (QS 2:155-156)

Mereka inilah yang mendapatkan limpahan rahmat Allah dan merekalah pengikut-pengikut jalan yang benar.

2. Maupun kamu bermohon kepada Allah dengan shalat dan berdoa dengan sepenuh harapan, mengagungkan-Nya dan patuh kepada-Nya. Ya, serulah Allah. Itulah yang baik untuk kamu lakukan, karena Allah sendiri menyuruh kamu untuk bermohon kepada-Nya, menghadapkan diri kepada-Nya dan menjadikan-Nya sebagai jalan untuk mencapai kesenanganmu, utusanmu kepada Dia dan perhubunganmu dengan-Nya. Dengan syarat, kamu tidak menyalahkan-Nya dan membuat-Nya murka, sekiranya permohonanmu Dia tangguhkan sampai masa yang akan datang yang telah ditentukan-Nya.

Oleh karena itu, perhatikanlah perbedaan diantara dua alternatif itu. Janganlah kamu melampaui batas-batas keduanya, karena tidak ada alternatif lain selain dua alternatif tersebut. Maka berhati-hatilah kamu agar jangan sampai kamu menjadi orang yang dholim dan melampaui batas. Jika kamu dholim dan melampaui batas, maka Allah akan membinasakan kamu dan membiarkan kamu seperti orang-orang sebelum kamu yang telah dibinasakan dan dihancurkan oleh Tuhan di dunia ini, dan di akhirat kelak kamu akan disiksa dan dihukum dengan siksaan yang amat pedih. Segala puja dan puji hanyalah bagi Allah Yang Maha Besar dan Maha Agung. Wahai Tuhan Yang Maha Mengetahui keadaanku, hanya kepada-Mu-lah aku menyerahkan diriku.

FUTUHUL GHOIB AJARAN 33

AJARAN 33

Ada empat macam manusia. Pertama, mereka yang tidak mempunyai lidah dan hati. Mereka ini adalah rang-orang bertarap bebas, berotak tumpul dan berjiwa kerdil, yang tidak mau mengingat Allah dan tidak memiliki kebaikan. Mereka ini bagaikan molekul yang ringan kecuali bila mereka itu dikaruniai kasih sayang-Nya, hati mereka dibimbing supaya beriman dan anggota-anggota tubuh mereka digerakkan supaya patuh kepada Allah. Berhati-hatilah, agar jangan sampai kamu termasuk ke dalam golongan mereka. Janganlah kamu melayani mereka dan jangan pula kamu bergaul dengan mereka. Merekalah orang-orang yang dimurkai oleh Allah dan penghuni neraka. Kita memohon kepada Allah supaya melindungi kita dari pengaruh mereka. Sebaliknya, hendaklah kamu berupaya menjadikan diri kamu sebagai orang yang dilengkapi dengan ilmu ke-Tuhan-an, guru yang mengajarkan kebaikan, pembimbing manusia dalam agama Allah dan pemimpin serta pengajak manusia kepada jalan Allah. Berhati-hatilah jika kamu hendak mempengaruhi mereka supaya mereka patuh kepada Allah dan memberikan peringatan kepada mereka tentang apa-apa yang memusuhi Allah. Jika kamu berjuang di jalan Allah untuk mengajak mereka menuju Allah, maka kamu akan menjadi seorang pejuang dan pahlawan di jalan Allah, dan kamu akan diberi pahala seperti yang diberikan kepada para Nabi dan para Rasul.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda kepada Sayyidina Ali, “Jika Allah membimbing seseorang melalui bimbinganmu yang diberikan kepadanya, maka hal itu adalah lebih baik bagimu dari apa saja yang disinari oleh matahari.”

Kedua, mereka yang mempunyai lidah, tetapi tidak mempunyai hati. Mereka pandai berbicara, tetapi tidak melakukan apa yang mereka bicarakan. Mereka mengajak manusia untuk menuju Allah, tetapi mereka sendiri lari dari Allah. Mereka membenci maksiat yang dilakukan oleh orang lain, tetapi mereka sendiri bergelimang di dalam maksiat itu. Mereka menunjukkan kepada orang lain bahwa mereka itu saleh, tetapi sebenarnya mereka sendiri melakukan dosa-dosa besar. Bila mereka sedang menyendiri, maka mereka bersikap seperti harimau yang berpakaian. Inilah orang-orang yang seperti disabdakan oleh Nabi SAW, “Orang yang paling ditakuti di kalangan umatku dan akupun menakutinya adalah orang alim yang jahat.”

Kita berlindung kepada Allah dari orang alim seperti itu. Oleh karena itu, larilah dan jauhilah orang-orang seperti itu. Jika tidak, maka kamu akan terpengaruh oleh kata-kata manisnya yang muluk itu, api dosanya itu akan membakar kamu dan kekotoran hatinya akan membunuh kamu.

Ketiga, mereka yang mempunyai hati, tetapi tidak mempunyai lidah, sedangkan dia adalah orang yang beriman. Allah telah menutup mereka dari mahluk-Nya, menggantungkan tabir-Nya di sekeliling mereka dan memberikan kesadaran kepada mereka tentang cacad-cidera diri mereka. Allah menyinari hati mereka dan menyadarkan mereka akan kejahatan yang timbul akibat bercampur dengan orang banyak serta kejahatan akibat banyak berbicara. Mereka mengetahui bahwa keselamatan itu terletak dalam ‘diam’ dan berkhalwat (menyendiri).

Nabi pernah bersabda, “Barangsiapa ‘diam’, maka ia akan mencapai keselamatan.” Sabdanya pula, “Sesungguhnya berkhidmat kepada Allah itu terdiri atas sepuluh macam, sembilan di antaranya adalah terletak dalam ‘diam’.

Oleh karena itu, mereka yang termasuk dalam golongan ini adalah wali Allah yang secara tersembunyi. Mereka akan diberi perlindungan dan keselamatan. Mereka adalah orang-orang yang bijaksana dan rekan Allah. Mereka akan diberkati dengan keridhaan-Nya dan segala yang baik akan diberikan kepada mereka. Maka, hendaklah kamu berteman dan bergaul dengan orang-orang ini serta berikanlah pertolongan kepada mereka. Jika kamu berbuat demikian, maka kamu akan dikasihi oleh Allah, kamu akan dipilih oleh-Nya dan akan dimasukkan ke dalam golongan mereka yang menjadi wali Allah dan hamba-hamba-Nya yang saleh.

Keempat, mereka yang diajak ke dunia tidak nyata dan diberi pakaian kemuliaan, seperti dalam sabda Nabi, “Barangsiapa menuntut ilmu lalu ia mengamalkan ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain, maka ia akan dibawa ke alam ghaib dan dimuliakan.”

Orang-orang yang termasuk dalam golongan ini mempunyai ilmu-ilmu ke-Tuhan-an dan tanda-tanda Allah. Hati mereka akan menjadi gedung ilmu Allah yang sangat agung dan Allah akan memberinya rahasia-rahasia yang tidak diberikan kepada orang lain. Allah telah memilih mereka dan membawa mereka dekat kepada-Nya. Allah akan membimbing mereka dan membawa mereka ke sisi-Nya. Hati mereka akan dibuka untuk menerima rahasia-rahasia dan ilmu-ilmu yang tinggi ini. Allah akan menjadikan mereka sebagai pelaku perbuatan-Nya, pengajak manusia ke jalan Allah dan pelarang mereka untuk berbuat dosa dan maksiat. Mereka menjadi ‘orang-orang’ Allah. Mereka mendapatkan bimbingan yang benar. Mereka dapat memberikan pertolongan kepada orang-orang yang menuju jalan Allah. Mereka menjadi orang-orang yang benar dan mengesahkan kebenaran orang lain. Mereka diibaratkan sebagai pantulan sinar para Nabi dan Rasul Allah. Mareka senantiasa mendapat taufiq dan hidayah dari Allah Yang Maha Agung.

Orang yang termasuk dalam golongan ini berada dalam peringkat terakhir atau puncak kemanusiaan yang tidak ada kedudukan lain di atasnya, kecuali ke-Nabi-an. Oleh karena itu, berhati-hatilah, agar tidak sampai kamu memusuhi dan menentang orang-orang seperti ini. Dengarkanlah dan perhatikanlah pembicaraan dan nasehat mereka. Karena, keselamatan itu berada dalam memperhatikan pembicaraan mereka dan berdampingan dengan mereka. Sebaliknya, kebinasaan dan kerusakan akan datang jika berjauhan dengan mereka, kecuali bagi mereka yang diberi kekuasaan dan pertolongan oleh Allah untuk menerima hak dan ampunan.

Demikianlah, aku telah membagi manusia atas empat golongan. Sekarang, terserah kepada kamu untuk mengintrospeksi diri kamu sendiri, jika memang kamu berpikir. Dan selamatkanlah diri kamu, jika memang kamu menginginkan keselematan. Mudah-mudahan Allah mebimbing kita dalam menuju kesenangan dan keridhaan-Nya di dunia ini dan di akhirat kelak.

FUTUHUL GHOIB AJARAN 31 & 32

AJARAN 31

Jika terdapat di dalam hatimu suatu perasaan benci atau sayang kepada seseorang, maka telitilah perbuatannya itu berdasarkan Al Qur’an dan hadits. Jika benci kamu itu sesuai dengan Al Qur’an dan hadits, maka bergembiralah kamu, karena kamu bertindak sesuai dengan Allah dan Rasul-Nya. Tetapi, jika benci kamu itu tidak sesuai dengan Al Qur’an dan hadits, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu telah mengikuti hawa nafsu kamu. Jika kamu membenci orang itu karena terpengaruh oleh hawa nafsu kamu, maka berarti kamu tidak berlaku adil dan kamu telah menentang Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, kembalilah kamu kepada Allah, bertobatlah karena kebencian kamu itu dan bermohonlah kepada-Nya supaya kamu mengasihi orang itu dan orang-orang lain, yang terdiri atas orang-orang yang beriman, wali-wali-Nya, orang-orang pilihan-Nya dan orang-orang saleh dari hamba-hamba-Nya serta hendaklah kamu menyesuaikan dirimu dengan Allah di dalam mengasihi orang itu.

Bersikaplah kamu terhadap seseorang, seperti kamu bersikap terhadap orang yang kamu kasihi. Pendek kata, hendaklah kamu meneliti perbuatan orang itu berdasarkan Al Qur’an dan hadits. Sekiranya Al Qur’an dan hadits membenarkan dan menyukai perbuatan orang itu, maka kamupun harus membenarkan dan menyukainya. Tetapi, jika keduanya membencinya, maka kamupun hendaklah membencinya. Jelasnya, kamu harus menyayangi dan membenci sesuai dengan Al Qur’an dan hadits. Sesuaikanlah perasaan dan perbuatanmu dengan Al Qur’an dan hadits. Jika kamu mengasihi seseorang, sedangkan Al Qur’an dan hadits membencinya, maka janganlah kamu mengasihinya, supaya kamu tidak menuruti hawa nafsumu. Kamu diperintahkan untuk melawan hawa nafsumu, sebagaimana firman Allah, “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS 38:26)

AJARAN 32

Mungkin kamu berkata, “Siapa saja yang aku kasihi, maka kasihku padanya itu tidak akan kekal. Kami selalu saja berpisah, baik karena berjauhan, mati, bermusuhan atau kehilangan harta.” Oleh karena itu, kamu diberi tahu, dan sadarkah kamu, wahai orang-orang yang percaya kepada Allah bahwa kamu diberi karunia, dipelihara dan dijaga dengan sebaik-baiknya ? Tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah itu cemburu ? Dia menciptakan kamu hanya untuk Dia saja. Mengapa kamu menghendaki yang lain selain Dia ? Tidakkah kamu mendengar firman-Nya ini, “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang Mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS 5:54) Dan tidakkah kamu mendengar pula firman-Nya ini, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah Aku.” (QS 51:56) Dan apakah kamu belum pernah mendengar sabda Nabi Muhammad SAW, “Apabila Allah mengasihi hamba-hamba-Nya, maka diberilah hamba itu ujian. Jika hamba itu bersabar, maka hamba itu akan dijaga-Nya.” Beliau ditanya, “Wahai Nabi Allah, apakah yang dijaga-Nya itu ?” Beliau menjawab, “Dia tidak akan meninggalkan anak dan harta kepada hamba itu.”

Ini disebabkan, jika si hamba itu mempunyai anak dan harta, maka cintanya itu akan terbagi-bagi. Cinta yang seharusnya diserahkan bulat-bulat kepada Allah, telah ia bagikan kepada anak dan hartanya. Allah tidak mau untuk disekutukan. Dia cemburu. Dia menguasai segalanya. Karenanya, Dia menghancurkan segala apa yang menjadi sekutu bagi-Nya, agar Dia dapat menguasai sepenuh hati hamba untuk Dia saja dan tidak ada yang lain selain Dia di hatinya. Setelah itu, barulah Allah akan membuktikan firman-Nya, “Dia akan mencintai mereka dan mereka akan mencintai-Nya.”

Sehinga hati si hamba itu benar-benar bebas dan bersih dari sekutu-sekutu Allah seperti anak, istri, harta-benda, pangkat, kekuasaan, kemuliaan, keadaan atau peringkat kerohanian, makan, kedudukan, dunia, surga, kedekatan kepada Tuhan dan bahkan apa saja selain Dia tidak ada lagi di dalam hatinya. Tidak ada nafsu dan tidak pula ada cita-cita. Kosongkanlah hati itu sampai seperti tong yang penuh dengan lubang, sehingga tidak lagi dapat menampung air. Leburlah hati itu dengan perbuatan Allah. Apabila selalu ada suatu tujuan yang tumbuh di dalam hatimu, maka hati akan dihancurkan oleh perbuatan Allah, karena Dia cemburu. Kemudian, si hamba itu akan dipenuhi dengan kemuliaan, kekuatan, keagungan, dan kesempurnaan Illahi.

Dengan demikian, maka tidak ada sesuatupun yang dapat menembus hati semacam itu. Harta benda, anak dan istri, teman dan handai tolan, mu’jizat dan keramat serta kekuasaan dan pengetahuan tentang masa depan tidak akan dapat mempengaruhi dan merusak hati itu. Semua itu akan tinggal di luar hati dan tidak akan masuk ke dalamnya. Semua ini adalah tanda-tanda kemuliaan, kehormatan, kasih sayang dan rizki yang diberikan Allah kepada hamba-hamba yang benar-benar mau menuju kepada-Nya. Hamba-hamba seperti ini senantiasa akan diberi perlindungan, pertolongan dan keridhaan dari dunia hingga akhirat.

FUTUHUL GHOIB AJARAN 28 29 & 30

AJARAN 28

Kamu menginginkan kesentosaan, kebahagiaan, keselamatan, kedamaian, keberkatan dan kemerdekaan, sedangkan kamu masih saja berada dalam proses penghapusan nafsu-nafsu kebinatanganmu, kamu masih berjuang dengan hawa nafsumu, masih juga ingin kembali ke dunia atau ke akhirat dan masih ada sisa-sisa semua itu dalam diri kamu. Berjuanglah lagi sampai kamu kuat. Jangan terburu-buru. Berjalanlah dengan lambat, asalkan kamu selamat. Bersihkan diri kamu dari sisa-sisa semua itu. Kamu belum masuk ke dalam ‘fana’, selagi kamu masih mempunyai keinginan-keinginan kepada dunia atau mahluk-mahluk lain. Dengan lain perkataan, kamu masih juga menginginkan selain Allah. Jika kamu telah dapat melepaskan hati kamu dari apa saja selain Allah, maka barulah kamu terlepas dari ikatan-ikatan yang menambat kamu untuk menuju kepada Allah. Apabila kamu telah terlepas dari semua itu dan kamu sedang berada di hadapan Allah, maka kamu akan dimuliakan dan firman Allah berikut ini akan ditujukan kepada kamu, “Dan raja berkata, “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.” Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata, “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami.” (QS 12:54)

Setelah itu, barulah kamu akan diberi kebahagiaan, kesentosaan, kasih saying dan ridha Illahi. Kamu akan didekatkan kepad-Nya dan segala rahasia Illahi tidak lagi tertutup bagi kamu. Kamu akan dibebaskan dari seluruh keperluan apa saja dan kamu berada di sisi Tuhan.

Tidakkah kamu melihat mas, baik buatannya itu baik maupun buruk, dari berbagai bentuk dan rupa, bertukar-tukar tangan pada pagi hari ataupun petang hari, dari dan ke tangan penjual barang, penjual obat, penjual daging, tukang kulit, tukang kayu, penjual minyak, tukang sapu dan orang-orang lainnya ? Mas-mas itu dipungut, dikumpulkan dan diletakkan dalam alat pelebur oleh tukang-tukang mas, lalu dilebur dengan menggunakan api. Setelah itu, mas-mas itu dikeluarkan dari tempat pelebur itu, ditumbuk, dilembutkan dan diukir supaya menjadi alat perhiasan yang indah. Mas itu dijadikan perhiasan dan disimpan di tempat-tempat yang aman, rumah-rumah orang kaya, di dalam lemari, di dalam peti dan lain sebagainya. Mas itu juga mungkin dijadikan perhiasan badan oleh kaum wanita. Boleh jadi orang yang memakainya itu adalah seorang yang ternama atau raja-raja. Begitulah mas itu diambil dari tempatnya semula sampai berada di tempat-tempat yang baik seperti istana-istana dan lain sebagainya. Oleh karena itu, wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bersabar dan mengikuti takdir Illahi serta dengan tulus ikhlas berserah diri kepada Allah dalam seluruh keadaan, maka kamu akan didekatkan oleh Allah ke sisi-Nya dalam dunia fana ini dan kamu akan dikaruniai ilmu-nya dan ilmu-ilmu serta rahasia-rahasia lainnya, kemudian di akhirat kelak kamu akan ditempatkan di dalam surga yang aman damai beserta para Rasul, para Nabi, orang-orang shiddiq, para syuhada dan orang-orang saleh di dalam kedekatannya kepada-Nya dan di dalam rumahnya dengan menikmati kasih saying-Nya.

Oleh karena itu, bersabarlah dan janganlah terburu-buru. Ridhalah dengan takdir Illahi dan janganlah muram, karena jika kamu berbuat demikian, kamu akan sulit untuk mendapatkan ampunan-Nya, ilmu-Nya, kasih saying-Nya dan keridhaan-Nya.

AJARAN 29

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Kemiskinan itu hampir dapat membawa kekufuran.”

Orang yang benar-benar hamba Allah akan percaya kepada-Nya dan menyerahkan seluruh keadaan dirinya kepada-Nya. Ia percaya kepada karunia-Nya, pemberian rizki-Nya dan yakin bahwa apa saja yang telah ditetapkan oleh Allah baginya, pasti akan ia dapati serta apa saja yang dijauhkan oleh Allah darinya, pasti tidak akan ia dapati.

Firman Allah, “Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS 65:2-3)

Allah berfirman demikian itu, ketika hamba-Nya berada dalam keadaan senang dan damai. Kemudian Allah mengujinya dengan bencana dan kemiskinan, maka hamba itupun bermohon dan menyerahkan dirinya kepada Allah, namun Allah tidak menghindarkan bencana dan kemiskinan itu darinya. Ketika itu betullah apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, “Kemiskinan itu hampir dapat membawa kekufuran.”

Mereka yang dilayani oleh Allah dengan lemah lembut, akan dihindarkan oleh Allah dari bencana dan kemiskinan itu. Mereka diberi kesentosaan, keamanan dan kekuatan untuk bersyukur kepada-Nya dan memuji-Nya. Mereka terus berada dalam keadaan seperti itu sampai bertemu dengan Tuhan mereka. Apabila Allah hendak menguji mereka, maka Allah mendatangkan malapetaka kepada mereka dan memutuskan pertolongan-Nya. Kemudian, merekapun menunjukkan kekufurannya dengan menyalahkan dan menuduh Allah tidak mengasihi dan menolong mereka. Maka matilah mereka dalam kekufuran dan ingkar kepada tanda-tanda Allah serta marah kepada-Nya. Kepada orang semacam inilah Nabi bersabda, yang maksudnya kurang lebih adalah, “Sesungguhnya orang yang paling berat hukumannya di hari berbangkit adalah orang yang diberi kemiskinan di dunia ini dan hukuman di akhirat kelak. Kami berlindung kepada Allah dari yang demikian itu.”

Kemiskinan yang dimaksud dalam sabda beliau itu adalah kemiskinan yang menyebabkan seseorang lupa kepada Allah. Dari kelupaan semacam inilah beliau memohon untuk dilindungi. Kepada beliau Allah melimpahkan kesabaran, tawakal, ridha dan fana dalam perbuatan Allah. Beliau adalah manusia pilihan, Rasul-Nya, pemimpin seluruh Nabi, raja seluruh Wali, yang dipertuan-agungkan oleh seluruh hamba Allah, seorang alim dan seorang yang besar di sisi Tuhan, yang dapat memberikan syafa’at dan bimbingan kepada seseorang untuk sampai ke hadirat Tuhan serta sekalian alam. Allah memelihara beliau dengan kasih sayang-Nya, baik pada waktu siang maupun malam hari, baik di kala beliau sendirian maupun di kala beliau berada di tengah-tengah khalayak ramai dan baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi, sampai beliau kembali menemui Tuhannya.

AJARAN 30

Mungkin kamu bertanya-tanya, “Apa yang harus aku lakukan dan cara apa yang harus aku pergunakan untuk mencapai tujuanku ?” Untuk ini, kamu diperintahkan untuk menetap di tempatmu dan jangan melanggar batasmu sampai diberi jalan oleh Allah yang memerintahkan kepadamu untuk menetap di tempat manapun kamu berada.

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap-siap di perbatasan negerimu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS 3:200)

Wahai orang-orang yang beriman, Allah menyuruhmu supaya bersabar, berlomba-lomba dalam kesabaran, berpegang teguh kepada kesabaran itu dan senantiasa berhati-hati. Semua ini dijadikan sebagai bagian dari diri kamu. Selanjutnya, kamu diperintahkan supaya ta’at kepada Allah, jika kamu kehilangan kesabaran. Oleh karena itu, janganlah kamu menghilangkan kesabaranmu. Ketahuilah bahwa kebaikan dan keselamatan itu terletak pada kesabaran. Nabi Muhammad SAW telah bersabda, “Perumpamaan sabar dengan iman itu bagaikan kepala dengan badannya.”

Dinyatakan bahwa segala sesuatu itu akan ada balasannya sesuai dengan ukurannya masing-masing. Tetapi, balasan kesabaran itu tidak ada batasnya. Allah berfirman, “Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS 39:10)

Oleh karena itu, apabila kamu ta’at kepada Allah, bersabar dan selalu menjaga batas-batas yang telah ditentukan oleh Allah maka Allah akan memberi kamu pahala. Allah berfirman, “Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS 65:2-3)

Tetaplah kamu bersabar bersama orang-orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sehingga jalan keluar datang kepadamu, karena Allah telah menjanjikan kecukupan kepadamu, sebagaimana firman-Nya di atas, “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.”

Tetaplah kamu bersabar bertawakal kepada Allah bersama orang-orang yang berbuat baik kepada orang lain. Allah menjanjikan pahala untuk ini, seperti firman-Nya, “Ketika mereka duduk di sekitarnya.” (QS 85:6) dan Allah mengasihimu karena kebaikan ini, sebagaimana firman-Nya, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS 3:133)

Karenanya, maka kesabaran adalah sumber segala kebaikan dan keselamatan, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Dan melalui kesabaran ini, si Mu’min meningkat naik ke tarap keadaan berserah diri dengan tulus ikhlas kepada Allah, menyesuaikan dirinya dengan perbuatan Allah, dan kemudian ia mencapai keadaan tenggelam atau fana’ di dalam perbuatan Allah, dan ini adalah keadaan Badaliyyat atau Ghaibiyyat. Maka, hendaklah kamu bersungguh-sungguh untuk mencapai peringkat atau keadaan ini, supaya kamu tidak menjadi hina di dunia ini dan di akhirat kelak, dan supaya kamu tidak kehilangan kebaikan serta kenikmatan ini

AJARAN 27

AJARAN 27

Anggaplah kebaikan dan kejahatan itu sebagai dua biji dari dua dahan yang berbeda, tetapi berasal dari satu akar yang sama. Satu dahan mengeluarkan buah yang pahit, sedangkan satu dahan lagi mengeluarkan buah buah yang manis. Oleh karena itu, tinggalkanlah kampung dan pasar tempat buah-buahan itu dijajakan dan jauhkanlah dirimu dari orang-orangnya. Pergila ke akar itu sendiri, jadilah penjaga akar itu dan dapatkanlah pengetahuan tentang kedua dahan dan buah tersebut serta tentang sekitarnya, kemudian tetaplah kamu tinggal berada dekat dahan yang mengeluarkan buah-buahan yang manis. Makanlah buah yang manis itu dan jadikanlah ia sumber kekuatanmu. Jauhkanlah dirimu dari dahan yang mengeluarkan buah-buahan yang pahit, karena buah-buahan itu mungkin dapat meracuni kamu. Jika kamu bersikap demikian, maka akan selamatlah kamu dari semua kejahatan, karena kejahatan dan bencana itu datang dari buah-buahan yang pahit itu. Jika kamu menjauhi akar itu dan berada di tempat-tempat yang jauh, lalu buah-buah itu dibawa ke hadapanmu setelah dicampur adukkan antara buah-buah yang manis dengan buah-buah yang pahit, sehingga kamu tidak lagi dapat membedakannya, kemudian kamu terus memakannya, maka mungkin kamu akan mengambil buah yang pahit dan terkena racun buah yang pahit itu.

Jika pada mulanya kamu memakan buah yang manis lalu manisnya itu masuk meresap ke dalam tubuhmu dan kamu mendapatkan manfaat darinya serta menjadi bahagia, maka besar kemungkinan kamu tidak akan merasa puas dengannya dan bersar kemungkinan pula kamu akan memakan buah yang pahit, sedangkan kamu tidak yakin bahwa buah yang kamu makan itu adalah buah yang pahit, sehingga kamu akan mengalami apa yang telah aku katakana, yakni keracunan.

Oleh karena itu, tidaklah baik kamu menjauhkan diri dari akar dan tidak tahu tentang buah-buah itu. Keselamatan akan kamu dapatkan, jika kamu berada dekat akar itu. Kebaikan kejahatan adalah ketentuan Allah Yang Maha Kuasa. Firman Allah, “Mereka berkata, “Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.” (QS 37:97)

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Allah telah menjadikan manusia yang menyebelih dan juga binatang yang disembelih.”

Perbuatan hamba Allah itu adalah ciptaan Allah, begitu pula hasil atau akibat perbuatan itu. Allah berfirman, “…(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka), “Salamun ‘alaikum, masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”.” (QS 16:32)

Segala puja dan puji adalah bagi Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah memberikan perbuatan itu kepada mereka. Dan Allah mengatakan bahwa masuknya mereka ke dalam surga itu adalah karena perbuatan mereka, padahal sebenarnya adalah karena pertolongan, idzin dan rahmat Allah juga.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak ada orang yang masuk surga karena perbuatannya sendiri.” Beliau ditanya, “Apakah engkau juga tidak, wahai Nabi Allah ?” Beliau menjawab, “Ya, walaupun aku sendiri, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.” Ketika beliau mengucapkan hal itu, beliau meletakkan tangannya di atas kepalanya. Cerita ini disebutkan dalam satu hadits yang dibawa oleh Aisyah ra.

Oleh karena itu, jika kamu dapat melaksanakan perintah Allah, dapat melakukan kebaikan dan mampu manjauhkan dirimu dari hal-hal yang haram, maka hendaklah kamu kembali dan berserah diri kepada Allah yang telah menjadikan kamu dapat berbuat demikian. Dia akan melindungi kamu dari noda dan dosa serta menambahkan kebaikan kepadamu. Dia akan memelihara kamu dari ternoda oleh dosa, baik berkenaan dengan hal agama maupun dengan hal keduniaan. Berkenaan dengan hal keduniaan, Allah berfirman, “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” (QS 24:12)

Berkenaan dengan hal keagamaan, Allah berfirman, “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman ? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS 4:147)

Apa yang dapat dilakukan oleh bencana dan malapetaka terhadap orang yang beriman dan bersyukur, sedangkan dia lebih dekat kepada keselamatan daripada malapetaka, bahkan dia dalam keadaan senang lantaran dia bersyukur ? Allah berfirman, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambahkan (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengikari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS 14:7)

Bahkan iman kamu itu dapat memadamkan api neraka di akhirat kelak, api yang akan membakar orang-orang yang berdosa. Dapatkah iman itu memadamkan api malapetaka dalam hidup di dunia ini ? Dapat, ini telah dirasakan oleh orang-orang yang beriman kuat dan oleh orang-orang yang telah mencapai derajat Wali dengan ijin dan pilihan Allah sendiri. Setiap orang tidak akan lepas dari malapetaka yang menimpanya, tetapi hal ini dapat diatasi dengan keimanan yang benar-benar. Keimanan setiap orang akan diuji dengan malapetaka, bencana, kesusahan dan penderitaan, tetapi semua itu hendaklah diatasi dengan keimanan yang kuat. Orang yang lulus dalam ujian itu dapat membersihkan dirinya dan dalam dirinya akan timbul semangat tauhid, hatinya akan dipenuhi dengan ilmu hakekat dan rahasia-rahasia Allah yang ghaib lalu orang itupun akan bertambah dekat kepada Tuhan semesta alam. Hati itu diibaratkan sebagai sebuah rumah dan rumah itu tidak boleh dihuni oleh dua orang, tetapi rumah itu harus dihuni oleh Yang Satu saja, yaitu Allah.

Allah berfirman, “Sekali-kali Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).” (QS 33:4)

Allah juga berfirman, “Dia berkata, “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina, dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.” (QS 27:34)

Mereka menghinakan orang-orang yang mulia dan menyusahkan orang-orang yang senang. Jika hatimu dikawal oleh setan dan oleh hawa nafsumu, maka hati itupun akan mengawal anggota-anggota badan lalu melakukan hal-hal yang tidak senonoh. Jika hati itu telah dibersihkan dari perkara-perkara tadi, maka iman akan subur dan hati itupun akan diduduki oleh tauhid, iman dan ilmu Allah.

Semua ini baru akan didapati setelah menempuh berbagai cobaan dan godaan.

Nabi Muhammad pernah bersabda, “Kami, para Nabi adalah golongan yang paling berat diuji, sedangkan yang lainnya adalah sesuai dengan tarap mereka.”

Nabi juga bersabda, “Aku lebih mengetahui Allah daripada kamu dan aku lebih takut kepada Allah daripada kamu.”

Orang yang dekat kepada raja harus selalu waspada dan bersopan santun. Apabila derajat di sisinya dinaikkan, maka resikonyapun semakin besar, karena orang itu harus berterimakasih kepadanya, mengabdikan dirinya kepadanya dan jika sedikit saja dia menyeleweng dari perintahnya, maka berarti dia menentangnya.

Allah berfirman, “Hai istri-istri Nabi, barangsiapa di antara kamu mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah demikian itu mudah bagi Allah.” (QS 33:30)

Allah berfirman demikian kepada mereka, karena karunia-Nya kepada mereka telah disempurnakan dengan membawa mereka berada di sisi Nabi. Bagaimanakah kedudukan seseorang yang dekat kepada Tuhan: Allah Maha Tinggi dan tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Allah berfirman, “(Dia) Pencipta langit dan bumi, Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri berpasang-pasangan dan dari jenis binatang ternak berpasang-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS 42:11)

FUTUHUL GHOIB AJARAN 17 & 18

AJARAN 17

Yang dimaksud dengan dekat dan bersatu dengan Tuhan itu ialah, kamu mengosongkan hati kamu dari mahluk, hawa nafsu dan lain-lain selain Allah, sehingga hati kamu hanya dipenuhi oleh Allah dan perbuatan-Nya saja. Kamu tidak bergerak, kecuali dengan kehendak Allah saja. Kamu akan bergerak jika Allah menggerakkan kamu. Keadaan seperti ini dinamakan ‘fana’. Fana inilah yang dimaksud dengan ‘bersatu dengan Tuhan’. Tetapi harus diingat, bahwa bersatu dengan Tuhan itu tidak seperti bersatu dengan mahluk atau dengan yang selain Tuhan.

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Al-Khaliq itu tidak sama dengan apa saja yang kamu duga. Hanya orang yang telah mengalami dan menyadari bersatu dengan Tuhan itu sajalah yang dapat mengerti dan memahami apa yang dimaksud dengan ‘bersatu dengan Tuhan’ itu. Orang yang belum pernah merasakan atau mengalaminya tidak akan dapat mengerti apa yang dimaksud dengannya. Setiap orang yang pernah merasakan pengalaman tersebut mempunyai perasaan dan pengalaman tersendiri. Dan masing-masing mempunyai perasaan dan pengalaman yang tersendiri pula.

Pada setiap Nabi, Rasul dan Wali Allah terdapat rahasia. Masing-masing mempunyai rahasianya tersendiri. Seseorang tidak akan dapat mengetahui rahasia seseorang lainnya. Kadang-kadang seorang murid mempunyai rahasia yang tidak diketahui oleh gurunya. Ada kalanya pula, rahasia yang dimiliki oleh guru itu tidak dapat diketahui oleh muridnya, meskipun murid itu sudah hampir sederajat dengan gurunya. Apabila seorang murid dapat mencapai keadaan kerohanian yang ada pada gurunya, maka murid itu diperintahkan untuk memisahkan dirinya dari gurunya itu. Dengan kata lain, dia sekarang telah setarap dengan gurunya. Murid itupun berpisahlah dari gurunya dan Allah sajalah yang menjadi penjaganya. Kemudian Allah akan memisahkannya dari seluruh mahluk.

Bolehlah diibaratkan bahwa guru itu laksana ibu dan murid itu laksana bayinya yang masih menyusu. Apabila si bayi telah mencapai usia dua tahun, maka berhentilah dia meyusu dari ibunya. Tidak ada lagi kebergantungan kepada mahluk, setelah hawa nafsu amarah dan kehendak-kehendak kemanusiaan hapus. Guru atau syaikh itu hanya diperlukan selagi murid masih mempunyai hawa nafsu angkara murka dan kehendak-kehendak badaniah yang perlu dihancurkan. Setelah semua itu hilang dari hati si murid tadi, maka guru itu tidak lagi diperlukan, karena si murid sekarang sudah tidak lagi memiliki kekurangan atau dia telah sempurna.

Oleh karena itu, apabila kamu telah bersatu dengan Tuhan, maka kamu akan merasa aman dan selamat dari apa saja selain Dia. Kamu akan mengetahui bahwa tidak ada yang wujud melainkan Dia saja. Kamu akan mengetahui bahwa untung, rugi, harapan, takut dan bahkan apa saja adalah dari dan karena Dia juga. Dia-lah yang patut ditakuti dan kepada Dia sajalah meminta perlindungan dan pertolongan. Karenanya, lihatlah selalu perbuatan-Nya, nantikanlah selalu perintah-Nya dan patuhlah selalu kepada-Nya. Putuskanlah hubunganmu dengan apa saja yang bersangkutan dengan dunia ini dan juga dengan akhirat. Janganlah kamu melekatkan hatimu kepada apa saja selain Allah.

Anggaplah seluruh yang dijadikan Allah ini sebagai seorang manusia yang telah ditangkap oleh seorang raja yang agung dan gagah; raja itu telah memotong kaki dan tangan orang tadi dan menyalibnya pada sebatang pohon yang terletak di tepi sebuah sungai yang besar lagi dalam, raja itu bersemayam di atas singgasana yang tinggi dengan dikawal oleh hulu balang yang gagah berani yang dilengkapi persenjataan yang lengkap dan raja itu melempar orang tadi dengan seluruh senjata yang ada padanya. Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melihat keadaan ini, lalu memalingkan pandangannya dari raja itu dan takut kepadanya, sebaliknya ia berharap dan meminta kepada orang itu dan bukannya kepada raja yang agung itu ?Jika ada orang yang gentar dan takut kepada orang yang tersalib itu, dan bukannya kepada raja, maka orang ini adalah orang yang bodoh, gila dan tidak sadar.

Oleh karena itu, mintalah perlindungan kepada Allah dari menjadi buta setelah Dia memberikan penglihatan, dari berpisah setelah disatukan-Nya, dari berjauhan setelah didekatkan-Nya, dari tersesat setelah Dia memberikan petunjuk dan dari kekufuran setelah Dia memberikan keimanan.

Dunia ini bagaikan sebuah sungai yang lebar, airnya senantiasa mengalir dan selalu bertambah setiap hari. Begitu juga halnya dengan nafsu kebinatangan, manusia itu selalu merasa tidak puas, semakin tampak dan semakin tak sadarkan diri. Hidup manusia di dunia ini senantiasa penuh dengan ujian dan cobaan. Di samping mendapatkan kebahagiaan, kadangkala manusia juga dikelilingi oleh penderitaan.

Orang yang mempunyai akal pikiran yang sempurna, mau berpikir dan mengetahui hakekat, akan mengetahui bahwa pada hakekatnya tidak ada kehidupan yang sebenarnya melainkan kehidupan akhirat saja. Oleh karena itu, Nabi besar Muhammad SAW bersabda, “Tidak ada kehidupan, kecuali kehidupan di akhirat.” Bagi orang yang beriman, hal ini adalah benar. Nabi Muhammad selanjutnya mengatakan, “Dunia ini adalah penjara bagi orang yang beriman dan surga bagi orang kafir.” Nabi juga pernah menyatakan bahwa, “Orang yang baik itu terkekang.”

Pada hakekatnya, kesentosaan dan kebahagiaan itu terletak dalam hubungan yang langsung dengan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, tawakal yang bulat kepada-Nya dan senantiasa ridha dengan-Nya. Jika kamu telah dapat melakukan hal yang demikian itu, maka bebaslah kamu dari dunia ini dan Allah akan memberimu kesenangan, keselamatan, kesentosaan, kasih sayang dan ridha Illahi.

AJARAN 18

Kunasehatkan kepadamu supaya kamu tidak muram atau mengeluhkan tentang kesusahan yang menimpa kamu dan mengadukannya kepada sahabatmu atau musuhmu. Dan jangan pula kamu menyalahkan Tuhanmu yang menjadikan kesusahan atau ujian itu. Adalah lebih baik kamu menerangkan kebaikan yang diberikan Allah kepadamu dan kesyukuranmu terhadap kebaikan itu. Kamu berbuat bohong dengan menerangkan kesyukuranmu atas karunia apa saja adalah lebih baik daripada kamu menyatakan dan menghebohkan dengan benar kesusahan yang kamu alami. Siapakah orangnya yang tidak pernah mendapatkan karunia Allah ? Allah SWT berfirman, “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung ni’mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zhalim dan sangat mengingkari (ni’mat Allah)” (QS 14:34)

Berapa banyakkah karunia yang telah diberikan Allah kepadamu, sehingga kamu masih tidak sadar juga ? Janganlah kamu merasa senang kepada mahluk, janganlah kamu cinta kepada mahluk dan janganlah kamu menceritakan hal ihwal kamu kepada siapapun. Hendaklah cintamu itu kamu tujukan hanya kepada Allah semata, hendaklah kamu hanya merasa senang kepada-Nya dan hendaklah kamu mengadukan kesusahanmu hanya kepada-Nya pula.

Janganlah kamu melihat yang lain selain Allah, karena yang lain selain Allah iti tidak dapat memberikan mudharat atau manfaat, untung atau rugi, kebaikan atau kejahatan, menghina atau memuliakan, meninggikan atau merendahkan, memiskinkan, menggerakkan dan mendiamkan. Segala apa saja selain Allah, itu adalah ciptaan Allah dan berada di dalam kekuasaan-Nya serta pergerakan merekapun dengan ijin dan kehendak-Nya pula. Mereka akan tetap ada, selagi Allah masih menghendaki mereka untuk ada. Segala sesuatu itu ada di dalam masa yang telah ditentukan oleh Allah. Apa yang telah didahulukan tidak dapat dikemudiankan, dan apa yang telah dikemudiankan tidak dapat di didahulukan. Jika Allah hendak menimpakan bahaya kepada kamu, maka tidak ada yang dapat mengelakkan bahaya itu selain Dia juga. Jika Dia hendak memberikan kebaikan kepada kamu, maka tidak ada yang dapat mengelakkan kebaikan itu datang kepadamu, selain Dia jua.

Oleh karena itu, jika kamu muram dan mengeluh karena hatimu tidak puas ketika kamu mendapatkan kesenangan dan kemewahan, hanya lantaran kamu menginginkan untuk dilebihi dan ditambah nikmat kemewahan dan kesenangan itu, dan kamu menutup mata dari kesenangan dan kemewahan yang telah ada pada kamu dengan menuduh bahwa Allah SWT itu tidak berbuat baik kepadamu, maka Dia akan murka kepadamu, akan menarik kembali kesenangan dan kemewahan dari kamu, akan menyusahkanmu lebih berat lagi dan kamu akan dijauhkan daripada-Nya.

Maka, janganlah kamu mengeluh dan merintihm walaupun badanmu dipotong-potong dengan gunting. Peliharalah diri kamu. Takutlah kepada Allah dan berhati-hatilah.

Sesungguhnya kebanyakan bencana yang menimpa anak Adam itu adalah akibat keluhan dan ketidak ridhaan terhadap Allah. Patutkah seorang hamba Allah untuk mengeluh, muram dan tidak berpuas hati, padahal Allah itu Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil, Maha Tahu dan Maha Bijaksana ?

Nabi Muhammad pernah bersabda, “Kasih Allah kepada hamba-Nya adalah melebihi kasih ibu kepada anaknya.”

Wahai manusia, tunjukkanlah sopan santunmu yang baik. Bersabarlah di dalam menghadapi kesusahan, walaupun kamu merasa lesu letih untuk bersabar itu. Bersabarlah, di samping kamu bertawakal dan berserah diri kepada Allah. Ridhalah dengan Dia.

Jika kamu masih mendapatkan dirimu masih ada, maka hapuskanlah ke-ada-an kamu itu. Jika kamu sudah tidak ada, maka berada di manakah kamu ? Pernahkah kamu mendengar firman Tuhan, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS 2:216)

Pengetahuan tentang hakekat sesuatu telah jauh dari kamu dan kamu telah tertutup dari hakekat itu. Oleh karena itu, janganlah kamu menunjukkan ketidaksopananmu jika kamu menyukai atau tidak menyukai sesuatu. Jika kamu berada dalam peringkat pertama, yaitu peringkat orang-orang yang saleh, maka patuhlah kepada syari’at dalam semua perkara yang terjadi kepada kamu. Jika kamu berada pada peringkat kedua, yaitu peringkat wilayah (kewalian), maka ikutilah segala perintah dan janganlah kamu melampaui batas. Pada peringkat terakhir, hendaklah kamu ridha dengan ketentuan Allah, serasikanlah dirimu dengan-Nya, lenyaplah dan masuklah kamu ke dalam kedudukan dan posisi Abdal, Ghauts dan Shiddiq. Janganlah kamu mencoba menentang takdir, hadapkanlah selalu diri dan kehendak kamu kepada Allah dan janganlah kamu mengeluh dan tidak berpuas hati.

Apabila kamu telah berbuat demikian dan takdirmu adalah baik, maka Allah akan menambah lagi kebaikan untuk kamu, kehidupan yang sentosa dan kebahagiaan. Jika takdir untuk kamu itu tidak baik, maka Allah akan melindungi kamu dari perkara-perkara yang tidak baik itu melalui kepatuhan kamu kepada-Nya, dan Dia akan menghindarkan kamu dari kesalahan hingga berakhir masanya. Inilah nasehat untukmu.

Ketahuilah, bahwa di dalam diri manusia itu terdapat bermacam-macam kesalahan, dosa dan noda yang semua itu akan menjauhkan manusia dari Allah, kecuali jika manusia itu dibersihkan dari segala dosa dan noda itu. Tidak ada seorangpun yang dapat dekat dengan Allah, kecuali jika orang itu telah bersih dari kotoran takabur dan dosa, sebagaimana halnya orang itu tidak dapat duduk dekat raja, jika orang itu berbau busuk dan berbadan kotor. Oleh karena itu, bencana itu adaah pembersih dan penukar untuk mendapatkan yang baik. Nabi pernah bersabda, “Demam sehari itu akan menyapu bersih dosa setahun.”