Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Selasa, 22 Oktober 2013
Qalbu hening
Hening....
dalam keadaan beginilah …. hati dan perasaan akan bergabung dan menjadi satu…
Dari suasana nan hening begini jugalah .. ilmu akan terpancar dari hati..
Apabila salik memandang kepada DZAT NYA…. DIA berkata ….ANA AL HAQ
Tetapi… apabila salik memandang kepada diri nya… (hakikatnya tiada)… dia berkata HUA AL HAQ….
Salik melihat… NYA.. melalui… DIRI NYA,
salik yang beginilah yang mengenal… NYA
Makrifatullah
DARI ANTA:
Tulisan kiriman Saudara Tahjud:
MAKRIFATULLAH: Mengenal Allah SWT, pada Zat-nya, pada Sifat-nya, pada Asma-nya dan pada Af’al-nya.
AWALUDIN MA’RIFATULLAH Artinya :
Awal agama mengenal Allah.
LAYASUL SHALAT ILLA BIN MA’RIFAT Artinya:
Tidak sah shalat tanpa mengenal Allah.
MAN ARAFA NAFSAHU FAKAT ARAFA RABBAHU Artinya:
Barang siapa mengenal dirinya dia mengenal Tuhannya.
ALASTU BIRAB BIKUM QOLU BALA SYAHIDNA Artinya:
Bukankah aku ini Tuhanmu ? Betul engkau Tuhan kami,kami menjadi saksi.(QS.AL-ARAF 7:172)
AL INSANNU SIRRI WA ANNA SIRRUHU Artinya:
Manusia itu RahasiaKu dan akulah Rahasianya.
WAFI AMFUSIKUM AFALA TUBSIRUUN Artinya:
Di dalam dirimu mengapa kamu tidak melihat.
ANAHNU AKRABI MIN HABIL WARIZ Artinya:
Aku lebih dekat dari urat nadi lehermu.
LAA TAK BUDU RABBANA LAM YARAH Artinya:
Aku tidak akan menyembah Allah apabila aku tidak melihatnya terlebih dahulu.
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALLAH
Pada malam Ghaibul Ghaib iaitu dalam keadaan antah-berantah hanya Dzat semata. Belum ada awal dan belum ada akhir, belum ada bulan dan belum ada matahari, belum ada bintang belum ada sesuatupun. Malahan belum ada Tuhan yang bernama Allah, maka dalam keadaan ini, Diri yang punya Dzat tersebut telah mentajalikan diri-Nya untuk memuji diri-Nya.
Lantas tajalilah Nur Allah dan kemudian tajali pula Nur Muhammad (Insan Kamil), yang pada peringkat ini dinamakan Anta Ana, (Kamu, Aku) , (Aku,Kamu),Ana Anta. Maka yang punya Dzat bertanya kepada Nur Muhammad dan sekalian Roh untuk menentukan kedudukan dan taraf hamba.
Lantas ditanyakan kepada Nur Muhammad, Aku ini Tuhanmu? Maka dijawablah Nur Muhammad yang mewakili seluruh Roh, Ya…Engkau Tuhanku.
Persaksian ini dengan jelas diterangkan dalam Al-Qur’an surat Al-Araf 7:172:
ALASTU BIRAB BIKUM, QOOLU BALA SYAHIDNA.
Artinya : Bukan aku ini Tuhanmu? Betul engkau Tuhan kami, Kami menjadi Saksi.
Selepas pengakuan atau persumpahan Roh itu dilaksankan, maka bermulalah era baru di dalam perwujudan Allah SWT. Seperti firman Allah dalam Hadits Qudsi yang artinya :“Aku suka mengenal diriku, lalu aku jadikan mahkluk ini dan aku perkenalkan diriku. Apa yang dimaksud dengan mahkluk ini ialah : Nur Muhammad sebab seluruh kejadian alam maya ini dijadikan daripada Nur Muhammad tujuan yang punya Dzat mentajalikan Nur Muhammad adalah untuk memperkenalkan diri-nya sendiri dengan diri Rahasianya sendiri. Maka diri Rahasianya itu adalah ditanggung dan diakui amanahnya oleh suatu kejadian yang bernama : Insan yang bertubuh diri bathin (Roh) dan diri bathin itulah diri manusia, atau Rohani.
Firman Allah dalam hadis Qudsi:
AL-INSAANU SIRRI WA-ANA SIRRUHU
Artinya : Manusia itu RahasiaKu dan Akulah yang menjadi Rahasianya.
Jadi yang dinamakan manusia itu ialah karena ia mengenal Rahsia.
Dengan perkataan lain manusia itu mengandung Rahasia Allah.
Karena manusia menanggung Rahasia Allah maka manusia harus berusaha mengenal dirinya, dan dengan mengenal dirinya manusia akan dapat mengenal Tuhannya, sehingga lebih mudah kembali menyerahkan dirinya kepada Yang Punya Diri pada waktu dipanggil oleh Allah SWT. Iaitu tatkala berpisah Roh dengan jasad. (Tambahan Hajrikhusyuk: kembali kepada Allah harus selalu dilakukan semasa hidup, masih berjasad, contohnya dengan solat, kerana solat adalah mikraj oang mukmin atau dengan ‘mati sebelum mati’).
Firman Allah An-Nisa 4:58:
INNALLAHA YAK MARUKUM ANTU ABDUL AMANATI ILAAHLIHA. Artinya: Sesunggunya Allah memerintahkan kamu supaya memulangkan amanah kepada yang berhak menerimanya. (Allah).
Hal tersebut di atas dipertegas lagi oleh Allah dalam Hadits Qudsi :
MAN ARAFA NAFSAHU,FAQAT ARAFA RABAHU.
Artinya : Barang siapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya.
Dalam menawarkan tugas yang sangat berat ini, pernah ditawarkan Rahasia-nya itu kepada Langit, Bumi dan Gunung-gunung tetapi semuanya tidak sanggup menerimanya.
Seperti firman Allah SWT Al Ahzab 33:72.
INNA ‘ARAT NAL AMATA, ALAS SAMAWATI WAL ARDI WAL JIBAL FA ABAINA ANYAH MILNAHA WA AS FAKNA MINHA,WAHAMA LAHAL INSANNU.
Artinya : Sesungguhnya kami telah menawarkan suatu amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung tetapi mereka enggan memikulnya dan merasa tidak akan sanggup, lantas hanya manusia yang sanggup menerimanya.
Oleh karena amanat (Rahasia Allah) telah diterima, maka adalah menjadi tanggung jawab manusia untuk menunaikan janjinya. Dengan kata lain tugas manusia adalah menjaga hubungannya dengan yang punya Rahasia.
Setelah amanat (Rahasia Allah) diterima oleh manusia (diri Batin/Roh) untuk tujan inilah maka Adam dilahirkan untuk bagi memperbanyak diri, diri penanggung Rahasia dan berkembang dari satu abad ke satu abad, diri satu generasi ke satu generasi yang lain sampai alam ini mengalami KIAMAT DAN RAHASIA ITU KEMBALI KEPADA ALLAH.
INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAAJIUN.
Artinya : Kita berasal dari Allah, dan kembali kepada Allah.
Salam,
@msa
Nama Rahasia
Dari Anta:
(Komen sdr Tahjud, ana susun semula, kalau ada tersalah harap ante perbetulkan)
Nama diri Rahsia Allah
Topik yang dipaparkan ini, adalah penting, jikalau pembaca tidak faham, harap baca berulang kali sehingga mendapat kefahaman. Kita mulakan dengan satu soalan berkaitan ketuhanan.
Soalan:
Minta penjelasan…
1. Apakah serba Tuhan itu dari segi Zat, Sifat dan atau Af’al Allah?
2. Apakah serba hamba itu dari segi Zat, Sifat dan atau Af’al Allah?
jawapan soalan 1: tuhan itu adalah dzat semata-mata,,
itu sebabnya ada perbezaan antara tuhan dan makhluk,,
walaupun makhluk daripada dzatnya juga, tetapi makhluk
adalah selepas pentajalian,,
itulah sebabnya jika mahu kembali kepada dzat harus melepaskan segala
pembatasan (takyunat) agar dapat kembali menjadi dzat yang mutlak.
jawapan soalan 2:
hamba atau makhluk adalah adalah hasil daripada pentajalian dzat allah.
Jawapan Sdr Tahjud.
Perkara kita menuntut ilmu..di saat kita sulit memahami sesuatu
soalan berkaitan ketuhanan.. cubalah tafakurkan insyaallah ada jalanya yang diberikan Allah.. itu adalah Rahmat dari Allah…menjadi sutu temuan..(penemuan yang baru).
Cuba fikirkan, kenapa Tuhan dinamakan Allah?
Jawapannya:
1 Kerana ada Dzat, ertinya diri Allah taala, tetapi jangan Dzat mutlak semata, dia mempunyai nama Asli (nama yang Ke-100).
2 Kerana ada sifat, ertinya ada rupa
3 Kerana ada asma (nama Asli), baru nama pangkatnya iaitu Tuhan, dan nama jabatannya Allah.
4 Kerana ada afaal, ertinya kelakuan.
.Segala kesempurnaan dzat, sifat, asma dan afaal itu terhimpun dan dinamakan RAHASIA, (pada nama yang ke-100).
Mari kita perhatikan tentang tajali secara ringkas:
1 Tajali dzat
2 Tajali sifat
3 Tajali Asma
4 Tajali afaal
Tauhid pula secara ringkas:
Tauhidnya adalah untuk mensyahkan rukun Syahadat, yang berjumlah empat perkara:
- Tauhidul dzat, iaitu mengesakan pada zat, iaitu yang ada pada nama Rahasia (mengesakan dzat pada Rahasia)
- Tauhidul sifat, iaitu mengesakan sifat, iatu pada nama Rahasia
- Tauhidul asma, iaitu mengesakan asma, iaitu pada nama Rahasia
- Tauhidul afaal, iaitu mengesakan afaal, iaitu pada nama Rahasia.
Walaupun 1000 tahun mendefinasikan Allah, jikalau belum merasakan, maknanya belum berhasil menemui Allah, seperti mengkhayalkan perkahwinan, tetapi belum berkawin, pasti tidak tahu bagaimana rasanya berkawin.
Teka-teki ini kalau anda temukan, anda antara percaya dan tidak percaya, antara yakin dan tidak yakin.
JADI KEBENARAN BERADA DI ANTARA YAKIN DAN TIDAK YAKIN, ANTARA IA DAN TIDAK IA. TETAPI KALAU SUDAH YAKIN APABILA DI SEBUT NAMA ASLINYA (nama yang ke-100) MAKA BERGETARLAH HATINYA..
Nama Rahasia Allah nampak aksara arabnya (alif, lam, lam ha) (pada wajah kita) cubalah (berdiri di hadapan cermin) bercermin.. di huruf apa hidung, dua lobang hidung, huruf apa pada kedua mata, hurup apa, mulut dan telinga, sesudah mulut dan telinga, maka dirahsiakan (nama itu) jangan sampai didengar orang, setelah tahu nama Rahasia maka tutuplah mulut (jangan beri tahu), tutup telinga..(agar ia menjadi Rahasia).
Mudah-mudahan faham, perkara ini tidak boleh diberitahu secara langsung, hanya dengan isyarat-isyarat jua.
Kesimpulan Keakusan.
KESIMPULAN AKUAN PADA NAMA RAHASIA, kepada Allah kena, kepada hamba pun kena, sekali sebut saja sudah terhimpun (pada kedua-duanya) . Segala sesuatu akuan didudukkan pada nama RAHASIA Allah, (nama yang ke-100), nama Aslinya disebut ismu al adzim, iaitu sebelum mengetahui Nama Dzat Aslinya (nama yang ke-100):
Sedangkan ALLAH, adalah nama jabatan untuk puji-pujian dan TUHAN ialah nama Pangkatnya..juga untuk puji-pujian. Nama pangkat dan nama jabatan boleh dinyaringkan.. tetapi apabila menduduki nama RAHASIA tidak boleh dinyaringkan.. ( kerana ia adalah Rahasia).
Seorang salik harus mencari Guru yang murabi mursid untuk menyampaikan Nama Rahasia tersebut..harus dibaiat kerana sifatnya sangat Rahasia…. sekalipun (tidak diberitahu kepada ) anak kita sendiri..
Soalan:
Manusia itu tiada daya.. akuan semuanya kerja tuhan, adakah itu jabariyah?
Jawapan:
Untuk ubudiyahnya, aku .. disandarkan kepada, lahaulawalaku wata illa billah….(tiada daya dan upayaku…) bagi yang belum mentajalikan asma (belum mengenal nama ke-100) … makanya adab ibadah ubudiyahnya ada istigpar.. subhanallah 33x, alhamdulillah 33x, allahu akbar, 33x berjumlah 99, dan tambah lagi satu nama yang Asli (nama yang ke-100), nama yang Rahasia,, nama yang tidak dinyaringkan.
Sedangkan, kesimpulan makrifat (yang sudah tahu nama yang ke-100) iaitu adalah perhimpunan kesempurnaan (dzat, sifat, asma dan afaal) pada nama Rahasia itu. Mustahil kenal pangkat (Tuhan) dan jabatan (Allah), tetapi tidak kenal nama Aslinya (Rahsianya) …..anak-anak juga tau..
(Berkaitan pertanyaan ante itu) Betul masih jabariyah..ibarat sekolah tidak ada ijazah..apa lagi belum pernah digurukan..Firman Allah: Tuhan mengajarkan kalam dan apa yang kita tidak ketahui.
Jadi yang tidak diketahui disuruh cari (carilah nama Rahasia itu).
(Perhatian: Nama Rahasia adalah sama dengan Ismu al Adzim, nama Asli Dzat dan nama yang ke-100)
Salam, Tajud
Lafaz Allah
Dari Anta
Tulisan Saudara Tahjud
Lafaz Allah
Diterangkan di dalam Kitab Fathurrahman, berbahasa Arab, yaitu pada halaman 523, disebutkan bahwa nama Allah itu tertulis di dalam Al-Quran sebanyak 2,696 tempat (kali).
Apa kiranya hikmah yang dapat kita ambil, mengapa begitu banyak nama Allah, (bagi) Dzat yang maha Esa itu, bagi kita…?
Allah, Dzat yang Maha Esa, berpesan:
“ Wahai Hambaku janganlah kamu sekalian lupa kepada namaku “
Maksudnya : Allah itu namaku dan Dzatku, dan tidak akan pernah bercerai, Namaku dan Zatku itu,, ia satu (esa).
Allah Swt juga telah menurunkan 100 kitab kepada para nabi-nabinya, kemudian ditambah empat kitab lagi sehingga jumlah keseluruhan kitab yang telah diturunkan-Nya berjumlah 104 buah kitab, dan yang 103 buah kitab itu rahasianya terhimpun di dalam Al-Qurannul karim, dan rahasia Al-Qurannul karim itu pun rahasianya terletak pada kalimah “ALLAH”.
Begitu pula dengan kalimah La Ilaha Ilallah, jika ditulis dalam bahasa arab ada dua belas huruf, dan jika digugurkan lapan huruf pada awal kalimah La Ilaha Ilallah, maka akan tertinggal empat huruf saja, yaitu Allah.
Makna kalimah ALLAH itu adalah sebuah nama saja, sekalipun digugurkan satu persatu nilainya tidak akan pernah berkurang, bahkan akan mengandung makna dan arti yang mendalam, dan mengandung rahasia penting bagi kehidupan kita selaku umat manusia yang telah diciptakan oleh Allah Swt dalam bentuk yang paling sempurna.
ALLAH jika diarabkan maka Ia akan berhuruf dasar Alif, Lam diawal, Lam diakhir dan Ha. Seandainya kata ingin kita melihat kesempurnaannya maka gugurkanlah satu persatu, atau huruf demi hurufnya.
1 Gugurkan huruf pertamanya, yaitu huruf Alif (ا ), maka akan tersisa tiga huruf saja dan bunyinya tidak Allah lagi, tetapi akan berbunyi Lillah, artinya bagi Allah, dari Allah, kepada Allahlah kembalinya segala makhluk.
2 Gugurkan huruf keduanya, yaitu huruf Lam awal (ل ), maka akan tersisa dua huruf saja dan bunyinya tidak lillah lagi, tetapi akan berbunyi Lahu.
Lahu Mafissamawati wal Ardi, artinya Bagi Allah segala apa saja yang ada pada tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi.
3
Gugurkan huruf ketiganya, yaitu huruf Lam akhir ( ل), maka akan tersisa satu huruf saja dan bunyinya tidak lahu lagi, tetapi Hu, Huwal haiyul qayum, artinya Zat Allah yang hidup dan berdiri sendirinya.
Kalimah HU ringkasnya dari kalimah Huwa, sebenarnya setiap kalimah Huwa, artinya Zat, misalnya:
Qul Huwallahu Ahad., artinya Zat yang bersifat kesempurnaan yang dinamai Allah. Yang dimaksud kalimah HU itu menjadi berbunyi AH, artinya Zat.
Bagi sufi, napas kita yang keluar masuk semasa kita masih hidup ini berisi amal bathin, yaitu HU, kembali napas turun di isi dengan kalimah ALLAH, ke bawah tiada berbatas dan ke atas tiada terhingga.
Perhatikan beberapa pengguguran – pengguguran di bawah ini:
Ketahui pula,, jika pada kalimah ALLAH itu kita gugurkan Lam (ل ) pertama dan Lam (ل ) keduanya, maka tinggallah dua huruf yang awal dan huruf yang akhir (di pangkal dan di akhir), yaitu huruf Alif dan huruf Ha (dibaca AH).
Kalimah ini (AH) tidak dibaca lagi dengan nafas yang keluar masuk dan tidak dibaca lagi dengan nafas ke atas atau ke bawah tetapi hanya dibaca dengan titik.
Kalimah AH, jika dituliskan dengan huruf Arab, terdiri dua huruf, artinya dalam bahasa disebutkan INTAHA (Kesudahan dan keakhiran), seandai saja kita berjalan mencari Allah tentu akan ada permulaannya dan tentunya juga akan ada kesudahannya, akan tetapi kalau sudah sampai lafald Zikir AH, maka sampailah perjalanan itu ketujuan yang dimaksudkan. (Silahkan bertanya kepada ahlinya).
Selanjutnya gugurkan Huruf Awalnya, yaitu huruf ALIF dan gugurkan huruf akhirnya, yaitu huruf HA, maka akan tersisa dua buah huruf di tengahnya, yaitu huruf LAM pertama (Lam Alif) dan huruf LAM kedua ( La Nafiah). Qaidah para sufi menyatakan tujuannya adalah Jika berkata LA (Tidak ada Tuhan), ILLA (Ada Tuhan), Nafi mengandung Isbat, Isbat mengandung Nafi tiada bercerai atau terpisah Nafi dan Isbat itu.
Selanjutnya, gugurkan huruf LAM kedua dan huruf HU, maka yang tertinggal juga dua huruf, yaitu huruf Alif dan huruf Lam yang pertama, kedua huruf yang tertinggal itu dinamai Alif Lam La’tif dan kedua huruf itu menunjukkan Dzat Allah, maksudnya Makrifat yang semakrifatnya dalam artian yang mendalam, bahwa kalimah Allah bukan NAKIRAH, kalimah Allah adalah Makrifat, yakni Isyarat dari huruf Alif dan Lam yang pertama pada awal kalimah ALLAH.
Gugurkan tiga huruf sekaligus, yaitu huruf LAM pertama, LAM kedua, dan HU maka tinggallah huruf yang paling tunggal dari segala yang tunggal, yaitu huruf Alif (Alif tunggal yang berdiri sendirinya).
Berilah tanda pada huruf Alif yang tunggal itu dengan tanda Atas, Bawah dan depan, maka akan berbunyi : A.I.U dan setiap berbunyi A maka dipahamhan Ada Zat Allah, begitu pula dengan bunyi I dan U, dipahamkan Ada Zat Allah dan jika semua bunyi itu (A.I.U) dipahamkan Ada Zat Allah, berarti segala bunyi/suara di dalam alam, baik itu yang terbit atau datangnya dari alam Nasar yang empat (Tanah, Air, Angin dan Api) maupun yang datangnya dan keluar dari mulut makhluk Ada Zat Allah.
Penegasannya bunyi atau suara yang datang dan terbit dari apa saja kesemuanya itu berbunyi ALLAH, nama dari Zat yang maha Esa sedangkan huruf Alif itulah dasar (asal) dari huruf Arab yang banyaknya ada dua puluh lapan huruf.
Dengan demikian maka jika kita melihat huruf Alif maka seakan-akan kita telah melihat dua puluh lapan huruf yang ada. Lihat dan perhatikan sebuah biji pada tumbuh-tumbuhan, dari biji itulah asal usul segala urat, batang, daun, ranting, dahan dan buahnya.
Syuhudul Wahdah Fil Kasrah, Syuhudul Kasrah Fil Wahdah.
Pandang yang satu kepada yang banyak dan pandang yang banyak kepada yang satu, maka yang ada hanya satu saja, yaitu satu Zat dan dari Zat itulah datangnya Alam beserta isinya.
Al-Quran yang jumlah ayatnya 6666 ayat akan terhimpun ke dalam Suratul Fateha, dan Suratul Fateha itu akan terhimpun pada Basmallah, dan Basmallah itupun akan terhimpun pada huruf BA, dan huruf BA akan terhimpun pada titiknya (Nuktah). Jika kita tilik dengan jeli maka titik itulah yang akan menjadi segala huruf, terlihat banyak padahal ia satu dan terlihat satu padahal ia banyak.
Selanjutnya Huruf-huruf lafald Allah yang telah digugurkan maka tinggallah empat huruf yang ada di atas lafald Allah tadi, yaitu huruf TASYDID (bergigi tiga, terdiri dari tiga huruf Alif) di atas Tasydid adalagi satu huruf Alif.
Keempat huruf Tasydid itu adalah isyarat bahwa Tuhan itu Ada, maka wajib bagi kita untuk mentauhidkan Asma Allah, Af’al Allah, Sifat Allah dan Zat Allah.
Langkah terakhir gugurkan keseluruhannya, maka yang akan tinggal adalah kosong.
LA SAUTUN WALA HARFUN, artinya tidak ada huruf dan tiada suara, inilah kalam Allah yang Qadim, tidak bercerai dan terpisah sifat dengan Zat.
Tarku Mayiwallah (meninggalkan selain Allah) Zat Allah saja yang ada.
La Maujuda Illallah (tidak ada yang ada hanya Allah).
Pertanyaan:
Siapa ALLAH? Siapa AKU?
Apakah tujuan AKU diciptakan?
Apakah benar ada Tuhan yang perlu disembah atau sebaliknya?
Jawaban:
Allah ada yang Zahir dan ada yang Bathin, maksudnya ada yang nampak, ada yang tersembunyi,
contohnya: ghaib titik, alif yang nyata; titik tersembunyi di dalam alif; atau Ghaib Allah Hamba yang nyata, tetapi esa juga adanya, tampa bercampur, tampa bertempat.
Kelihantan dua nama tetapi satu (esa), yang nampak dinamakan Hamba dan yang tersembunyi (bathin) dinamakan Allah.
1_ Tujuan Allah mencipta hambanya, sebanarnya Tuhan ingin menampakkan sifatnya di dunia, kalau tidak nampak siapa yang mengenal.
2_ Allah ingin mengenal dirinya dan memuji dirinya yang zahir, yang paling duminan adalah Rasa.
Berlakunya Sembah, atas kenal mengenal,
yang dikenal puji memuji, yang dipuji, ya_saya, ya_kamu,
itulah sebenarnya sembah.
Salam,
Tahjud,
Tafakur sufi
Tafakur sufi
Bertafakur mengingatiNya akan membuatkan sufi sentiasa hadir bersamaNya dalam kehidupan seharian, kerana apabila disebut namaNya maka hadirlah Dia.
Tapi malangnya bagi yang lupa mengingatiNya, Dia akan terselubung dan terlupakan dalam kehidupan, yang kelihatan hanyalah makhluk dan alam semesta.
Hanya dengan menutup mata dan masuk ke dalam qalbu, dan menggabaikan makhluk dan alam semesta barulah sufi dapat menumpukan perhatian sepenuhnya kepadaNya, inilah yang dikatakan tafakur, tafakur sesaat yang sampai kepada dzat (cinta) itu lebih baik daripada tujuh puluh ribu tahun amalan sunat.
Semasa tafakur sufi dapat mengosongkan fikiran, dan dengan itu sufi dapat merasakan hakikat ketuhanan. Bagi sufi yang sempurna tafakurnya mereka akan dapat merasakan kelazatan yang tidak dapat dibayangkan oleh akal fikiran dan tidak dapat hendak diceritakan, kenapa tidak dapat diceritakan, kerana tiada perkataan yang dapat menggambarkan suasana yang hendak dikatakan.
Suatu kelazatan yang diketahui atau dinikmati oleh yang merasanya sahaja.
INGAT,, Kebahagiaan tidak akan dapat ditemui oleh akal fikiran, fikiran adalah penghalang yang memisahan sufi daripada kebahagiaan ruhani. Oleh itu semasa tafakur amat penting fikiran tidak lagi bergerak dan juga hati mestilah hanya dipenuhi oleh Tuhan semesta alam.
Fikiran berfungsi kerana adanya dualiti contohnya siang dan malam, susah
dan senang dan sebagainya. Tetapi Kebenaran tidak ada dualiti ia
adalah kesatuan keadaan, contohnya tiada susah dan tiada senang, tiada
tua dan tiada muda.
Ini bermakna yang mengetahui dan pengetahuan itu adalah satu, yang melihat dan yang dilihat adalah satu, pencinta dan kekasih adalah satu, dan sebagainya.
Jadi tafakur adalah bertujuan untuk menghantar sufi dari dualiti kepada uniti (di dalam qalbu), contohnya pencinta dan yang dicintai menjadi satu.
Tafakur sebenarnya adalah milik yang sangat berharga bagi para sufi yang dapat membantunya dalam pencariannya kepada kekasih sejatinya.
Satu cara sufi dalam bertafakur adalah dengan menggunakan tenaga cinta Ilahi yang mendalam untuk membendung akal fikiran.Cinta adalah dzat dari hakikat ilahi, dan adalah kekuatan yang paling nyata bagi seseorang sufi. Berasal dari dimensi Diri Yang Maha Tinggi, cinta memiliki getaran yang lebih cepat daripada fikiran dan memiliki kemampuan untuk mengatasi fikiran.
Bagi sufi inilah apa yang dikatakan jatuh cinta, kerana apabila cinta datang alasan pun menghilang, fikiran tidak lagi berfungsi kerana kekuatan cinta mengatasi yang lainya.
Dengan perkataan lain, tafakur adalah amalan yang
menenggelamkan fikiran dan emosi sufi dalam samudera cinta yang tak
terbatas.Untuk melakukan tafakur qalbu, asalkan tubuh relaks kedudukan
jasad tidak begitu penting boleh duduk ataupun berbaring.
Yang penting dalam tafakur ini adalah membangkitkan rasa cinta iaitu
dengan mengingati Allah, segala fikiran dan emosi yang datang selepas
itu haruslah ditenggelamkan dalam cinta itu, dan akhirnya fikiran akan
menjadi kosong atau tidak bergerak lagi. Setelah fikiran dan hati
menjadi kosong barulah sufi dapat mendengarkanNya, sebagaimana yang
dialami Nabi Musa di Lembah Suci Tuwa.
Dan ingatlah,, ketika sufi tiada Dia akan ada Dalam Sufi, bila sufi bebas dari diri sendiri, Dia akan menunjukkan Keindahannya kepada Sufi.
Dengan mengosongkan fikiran, sufi menciptakan ruang batin di mana sufi dapat menjadi sadar akan kehadiran Sang Kekasih.
Dia selalu di sini tetapi fikiran, emosi, dan dunia luar menghalang sufi daripadaNya. Dia adalah diam yang kosong, dan untuk mengalamiNya sufi perlu untuk menjadi diam yang kosong pula.
Dalam tafakur sufi memulangkan dirinya kembali kepada-Nya, dari dunia pelbagai bentuk ke dalam “dunia lautan nan esa” yang tak terbatas.
Semoga bermanfaat.
Cahaya hadis
Cahaya hadis
Pada kali ini, ana akan membincangkan tentang keesaan wujud atau dalam bahasa Arabnya Wahdat al wujud. Bagi ahli sufi keesaan wujud amat penting difahami kerana kalau tersalah tafsiran akan mengakibatkan syirik dan kufur.
Seorang sufi terkenal al Balyani, pernah membincangkan tentang keesaan wujud ini. Beliau berkata kepada pencari-pencari (Allah) yang setia, jadilah kamu bekas untuk Allah. Jikalau kamu tidak menjadi bekas kepada Dia, janganlah kamu menjadi bekas untuk diri kamu sendiri, kerana dengan tidak menjadi bekas untuk diri kamu sendiri, dengan sendirinya kamu menjadi bekas untuk Dia (menjadi bekas itu seperti menjadi tempat penzahiran Dia di dunia ini).
Dan beliau dengan lebih berani menyatakan: Sebaik-baiknya kamu jadilah Dia. Jikalau kamu bukan Dia, janganlah kamu jadi diri kamu sendiri, jikalau kamu bukan diri kamu sendiri kamu adalah DIA.
Wah, sungguh berani pernyataan beliau (tetapi ia ditujukan kepada khalayaknya), dapatkah semua orang menerima pendapat yang sebegitu, tetapi hakikatnya itulah makrifatullah yang sebenar, yang dipegang oleh ahli-ahli sufi besar yang lain.
Baiklah sekarang cuba kita lihat tentang Hadis Qudsi, yang sangat popular di kalangan pencari-pencari (sufi) yang setia.
Sesiapa yang mengenal dirinya, sesungguhnya mengenal ia Tuhannya:
Berdasarkan hadis tersebut, ia cuba menyatakan bahawa Dia tidak bersama
atau bersekutu dengan sesiapa atau dengan apa-apa pun, sama ada zahir
dan batin, sama ada sekarang, masa lalu ataupun masa akan datang.
Dia juga tidak di atas, di bawah, di kanan atau di kiri, dan tiada siapa pun atau apa pun yang hampir atau jauh dariNya. Tidak ada masa tidak ada ketika, tidak ada penzahiran dan tidak ada tempat yang bersangkutan dengan Dia. Bahkan Dia dahulu sama dengan Dia sekarang. Dia satu (wahid) tanpa kesatuan (wahidiyah).
Dia bukan nama atau benda yang dinamakan, kerana namaNya adalah Dia dan benda yang dinamakan adalah juga Dia. Tidak ada nama selepas namaNya dan tidak ada nama selain namaNya.
Dialah yang Awal, Yang Akhir, Yang Dzahir dan Yang Bathin. Tidak ada yang lain selain Dia.
Tiada yang melihat Dia, kecuali Dia. Tidak ada nabi, wali ataupun
malaikat yang kenal Dia. Hanya Dia yang kenal Dia. Dia mengutus diriNya
kepada diriNya sendiri dengan cara diriNya sendiri, dari diriNya sendiri
kepada diriNya sendiri. Tidak ada penyebab kecuali diriNya sendiri.
Tidak ada perbezaan antara “yang mengutus” dengan “yang diutus” dan
“yang menerima utusan”.
Kenabian dan kerasulan itupun diri Dia sendiri juga. Kerana itulah Rasullulah saw bersabda:
Siapa yang mengenal dirinya maka mengenal ia akan Tuhannya.
Sekarang cuba kita lihat pula satu lagi Hadis Qudsi yang popular di kalangan sufi.
Aku mengenal Tuhanku dengan Tuhanku:
Ramai orang tidak pasti dengan apakah maksud hadis ini, bahkan ada yang menolaknya. Cuba kita fikirkan kalau frasa itu tidak benar, wau,, mana mungkin tidak benar, kerana hadis adalah kata-kata Rasulullah saw, beranikah ente tidak percaya kepada sabda Rasulullah?.
Baiklah ana teruskan perbincangan, hadis tersebut mahu manyatakan bahawa:
Ente bukanlah ente sebenarnya, tetapi ente itu adalah Dia, dan tidak ada ente.
Ini bukan bermakna Dia memasuki (hulul) ente atau timbul daripada ente, ataupun ente memasuki Dia. Ini juga bukan bermakna ente memiliki sifat-sifat atau memiliki wujud. Tetapi sebaliknya apa yang dimaksudkan hadis tersebut adalah ente langsung tidak wujud, dan tidak akan ada wujud, sama ada oleh diri ente sendiri ataupun melalui Dia, ataupun dalam Dia, ataupun dengan Dia.
Dan juga tidak boleh dikatakan, ente dahulu wujud tetapi sekarang tidak berwujud lagi, ataupun sekarang ente masih berwujud. Sila ambil perhatian, isi penting yang hendak dinyatakan oleh hadis itu adalah:
Dia adalah ente dan ente adalah Dia.
Jikalau ente kenal diri ente dengan cara kesufian ini, maka ente telah kenal akan Dia, jikalau tidak demikian adanya, sesungguhnya ente tidak kenal akan Dia, tetapi hanya kenal diri ente yang tidak berwujud itu.
Jikalau ente tidak dapat menerima perkara ini, jangan menyalahkan sesiapa, tetapi bawalah ia ke dalam tafakur ente, semoga Dia berkenan memberikan pengertian.
Semoga bermanfaat.
Langganan:
Postingan (Atom)