Asal Kejadian (SYECH ABDUL QODIR JAELANI)
SYECH ABDUL QODIR JAELANI
Asal Kejadian
Allah SWT pertama kali menjadikan cahaya atau nur yang disebut Nur
Muhammad SAW, dari sifat jamalnya ( keindahanNya ). Rasulullah bersabda ;
bahwa yang mula2 diciptakan oleh Allah adalah ruh Muhammad, ia
diciptakan dari cahaya Ketuhanan, dan selanjutnya yang diciptakan
pertama kali adalah Qalam ( pena ) dan akal. Disinilah kita tahu bahwa
yang dilahirkan dan diciptakan pertama kali adalah suatu realitas ghaib
dan bersifat rohani yang disebut; Nur, Ruh, Qalam, dan Akal dan ini
merupakan realitas yang mempunyai banyak nama menurut fungsinya dan dari
sudut mana kita memandangnya ( al-Maidah : 15 )
Dalam dunia sufi
ini disebut Hakikat Muhammad ( realitas atau hakikat ) atau diberi gelar
Aql al-Kull ( akal Semesta ) karena ia tahu dan melihat segala sesuatu,
ia diberi gelar Qalam karena ia menyebarkan ilmu dan hikmah dan
menzahirkan ilmu dalam bentuk huruf dan perkataan, ia juga digelari ruh
karena ia hidup, bukan mati. Dan ruh itulah terbitnya segala yang hidup,
oleh karena ia hidup maka digelari Ruh.
Ruh Muhammadiyyah
Atau Ruh Muhammad adalah Dzat atau sumber segala ygberwujud. Dialah yg
awal dan menjadi hakikat alam semesta. Allah SWT menciptakan segala ruh
dari ruhnya. Muhammad adalah nama bagi insan dalam alam gaib ( alam
berkumpulnya ruh-ruh). Ia menjadi sumber dan asal segala perkara. Allah
menciptakan alam karena Allah akan menciptakan Muhammad SAW. Dan tanda2
ini tepat, seperti yg dilihat oleh bapak semua umat manusia, yaitu Adam
As, ketika selesai proses penciptaan, Adam melihat nama Muhammad di
pintu surga bersanding dengan nama Allah, dan mengertilah Adam bahwa
orang yg memiliki nama itu adalah semulia-mulia manusia yang akan
diciptakan Tuhan diantara semua ciptaanNyadi kemudian hari.
Setelah lahirnya Nur Muhammad, Allah menciptakan pula ‘ arsy’, dan
kelahiran Muhammad juga diikuti dengan penciptaan makhluk-makhluk yang
lain serta arsyNya. Peristiwa ini berlaku menurut kehendak Allah dan
masyi’ahNya, dan kemudian Allah menurunkan ruh atau makhluk-makhluk itu
ke peringkat yang paling rendah, yaitu Alam Ajsam atau alam kebendaan
yang konkret dan nyata, seperti disebutkan dalam ayat ini ;
” Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahNya”, (at-Tiin : 5 )
Allah turunkan Nur itu dari tempat asal kejadiannya, yaitu Alam Lahut (
alam ketuhanan) ke Alam Asma’ Allah ( nama-nama yaitu alam Penciptaan
sifat-sifat Allah atau alam Akal Ruh Semesta ). Dari alam Asma’ Allah
sana ruh-ruh itu turun ke alam Malakut. Disitu ruh-ruh itu dipakaikan
dengan pakaian kemalaikatan yang gemerlap. Kemudian mereka diturunkan ke
alam Kebendaan atau Ajsam yang terjadi dari unsur api, air, angin (
udara) dan tanah. Maka ruh itu dibentuk dengan diberi badan yang terjadi
dari darah, daging, tulang, urat dan sebagainya.
Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang
Tidaklah sekali2 pernah membiarkan ruh2 berada dalam kesesatan dan
kejahilan, untuk itulah diutus rsul2 dan kitab agar tidak lalai,
“ Dan sesungguhnya kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat2 Kami
(dan kami peritahkan kepadanya ) Keluarkanlah kaummu dari kegelapan
menuju cahaya terang benderang dan ingatkan mereka akan hari2 Allah “ (
Ibrahim : 5)
Manusia diharapkan dapat menegakkan sifat al jamal
( indah) karena Allah itu indah dan dari sinilah manusia akan
menjejakkan kakinya di titian hakikah untuk mengenal Allah serta ber
taqarub kepadaDzatNya yang maha besar ;
“ katakanlah; Inilah jalanku, aku dan orang2 yang mengikutiku mengajak kamu kepada Allah dengan hujjah yang nyata “9 Yusuf:108)
Basirah dan Mata hati
Allah memberi manusia mata kasar agar dapat melihat segala yang zaahir
atau lahir dan untuk melihat hal gaib, Allah telah mengaruniai suatu
penglihatan yang halus dalam hati yang dikenal denga basirah yakni mata
hati atau mata ruh, dan ini akan terbuka dalam hati orang2 yang dekat
atau kuat taqarrubnya dengan Allah dan tidak ada kekuasaan apapun di
bum,I ini dapat memberikan basirah…karena manusia sangat memerlukannya
untuk sampai kealam gaib yang merupakan rahasia2 Tuhan, dan hanya orang2
tertentu yang dikaruniai khusus olehNya,
“ …..yang telah kami
berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami dan yang telah Kami ajarkan
kepadanya ilmu dari sisi kami (al kahfi :65)
Dan masuklah
kembali menjadi golongan orang yang berjalan kembali meuju Allah, jangan
menunggu sampai jalan tersebut tidak bisa dilalui lagi .
“ Dan
bersegeralah kamu menuju ampunan Tuhanmu dan menuju surga yang luasnya
seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang2 yang bertaqwa.
Yaitu orang2 yang menafkanhkan (hartanya) baik diwaktu lapang maupun
diwaktu sempit, dan orang2 yang menahan amarahnya dan memaafkan
(kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang2 yang berbuat kebaikan “ (
Ali Imran :133-134)
Ajaran risalah yang disampaikan pada
manusia memiliki 2 kategori, nyata dan tidak, zahir dan batin, syariat
dan ilmu atau hikmah, dan bila zahir dan batin bersatu , barulah
seseorang itu dapat mencapai taraf hakikat,
“ Antara keduanya ada batas yang tidak dapat dilampaui oleh masing2 “( ar rahman :20)
Hakikat tidak dapat dicapai hanya melalui ilmu yang diperoleh Panca
Indera, karena dengan hanya mengandalkan ini manusia tidak akan mengenal
Yang asal atau Dzat.
Manusia dicipta untuk Mengenal Allah
Seandainya kita tidak mengenal Allah, bagaimana kita mau menyembahNya ? dan memohon pertolonganNya ?
Hikmah atau ilmu sangat diperlukan untuk mengenal Dia, dengan menyngkap
tirai hitam yang menutupi cermin hati. Allah ibarat harta yang
tersembunyi dan Ia ingin dikenali, maka dijadikanlah makhluk untuk
mengenal Dia.
Dalam sebuah hadits qudsi “ Aku laksana harta
yang tersembunyi. Aku ingin dikenali, karena itu Aku menciptakan makhluk
“, jadi merupakan kewajiban bagi kita untuk mengenalNya, dan jelas
bahwa tujuan Allah menciptakan insane adalah untuk mencari ilmu untuk
mengenaliNya, dan ada 2 peringkat ilmu ma’rifah. Pertama , ilmu untuk
mengela sifat2 Allah dan pendzahir kekuasaanNya, kedua, ilmu untuk
mengenal Dzat Allah dan ini berpegang pada ruh al qudz ( ruh suci) yang
diberikan pada insane agar dapat mengenali rahasia2 akhirat,
“ ……..dan kami memperkuatnya dengan ruh al quds…” (al baqarah :87).
Mereka yang mengenal Dzat Allah akan memperoleh ilmu melalui ruh suci
yang terpencam dalam diri mereka masing2, baik yang ada dilidah kita
ataupun hati kita.
Pentingnya ilmu Zahir
Harus diakui
bahwa manusia memerlukan ilmu keyakinan (agama)untuk mengenal Allah,
melalui agama manusia akan belajar pendzahiran (manifestasi) Dzat Allah
yang terbayang dalam alam sifat dan nama (asma) Allah yang ada dimuka
bumi ini. Dan seseorang harus berakhlak mulia dan menghindari dosa dan
harus melawan nafsu dan egonya dan ini merupakan perjalanan yang panjang
dan sulit …
“ …..maka barang siapa mengharapkan perjumpaan
dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia
menyekutukan Allah dalam ibadah kepadaNya “ ( al kahfi: 110)
Ruh al Qudz tersebut diciptakan dalam wajah yang paling indah, dan
keindahannya di hujamkan dalam hati dan di amamnahkan pada insane untuk
menjaganya dan tingkatan ini dapat dicapai dengan taubah nasuhan
…Laailahaillallah,
“ Ingatlah, bahwa dengan mengingat Allah maka hati menjadi tentram “ ( ar Ra;d :28)
Hati ibarat anak yang harus dijaga
Dalam dunia sufi, menyebut keadaan ruhani itu sebagai ‘tifli’ yang
berarti bayi atau anak-anak, dan bayi hati adalah kesadaran orang-orang
sufi yang diberikan karunia ilham tinggi oleh Ilahi. Kesadaran juga
adalah insane yang sebenarnya, yang tidak terpuisah dengan Khaliqnya.
Dan kesadaran inilah yang mewakili insane yang sebenarnya, didalamnya
tidak ada jism (kebadanan) dan tidak menganggap dirinya sebagai jism,
tidak ada hijab (tirai) karena nur yang memancar melalui pintu hati
terus menjurus menuju kehadirat Dzat Allah yang mencipta.
Rasulullah pernah bersabda, bahwa di waktu-waktu tertentu ketika baginda
hanya berduas dengan Allah, tidak ada sispapun menjadi pengantara atau
penghalang baik itu malaikat yang dekat dengan Allah (nur Muhammad) yang
merupakan pendzahiran pertama sekalipun ataupun nabi dan rasul,
“ Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka melihat “ ( al-Qiyamah: 22-23)
Nabi mengatakan, bila pada hari itu kita melihat Allah dengan sangat
jelas seperti bulan purnama dan inilah kesadaran tinggi yang bila
makhluk, malaikat, menghampirinya maka wujud jasmani atau fisiknya akan
hangus terbakar menjadi abu dan seandainya tirai yang menutup sifat
jalalNya itu disingkap sedikit saja oleh Allah, niscaya segalanya akan
hangus sejauh mata memandang, tapi tidak demikian bila itu dikehendaki
oleh Penciptannya seperti yang dialami oleh Rasulullah.
Kembali ke Asal
Manusia terdiri dari sifat jasmani dan ruhani, fisikal dan spiritual,
badan dan ruh, kebendaan dan kejiwaan, zahir dan batin. Dan pada segi
lahirnya umumnya sama saja tapi dari keruhaniannya pasti berbeda dan
tingkatan nya diukur menurut makrifatnya kepada Allah. Dan untuk
mencapai tingkatan tetrtinggi maka seseorang menetapkan 3 tujuan yang
sebenarnya adalah 3 sorga :
Ma’wa (surga tempat kedamaian dan ketenangan) ini adalah surga dengan cirri kebendaan
Na’im (surga tempat nikmat Allah) dalam peringkat kemalaikatan
Firdaus (surga tinggi dalam peringkat keesaan atau kesatuan (dengan
Allah), tempat tinggal para ruh, peringkat nama-nama (asma’) dan sifat
Allah
Taqarrub mendorong manusia untuk Bersuci
Hendaknya seseorang berusaha mencapai destinasi (tempat yang dituju)
dalam hidupnya dibumi ini, karena pada tingkat ini tidak ada perbedaan
antara terjaga dan tertidur, karena dalam keadaan tidurpun ruh dapat
melihat tempat asalnya, yaitu alam ruh dan kemudian kembali kejasad
dengan membawa berita. Inilah mimpi yang benar dan peristiwa semacam ini
ada 2 jenis, pertama secara peristiwa yang terjadi secara sebagian atau
setengah-setengah saja seperti dalam mimpi, kedua, peristiwa yang utuh
terjadi seperti Isra’ mi’raj nabi Muhammad SAW. Firman Allah :
“Allah memegang jiwa (orang) yang mati dan jiwa yang belum mati di waktu
tidurnya, maka ditahanNya jiwa (orang) yang telah ditetapkan matinya
dan ia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan
Allah) bagi kaum yang berpikir” (az-Zumar : 42)
Tidurnya orang
yang bijaksana lebih baik daripada ibadahnya orang yang jahil dan orang
yang bijaksana adalah orang yang mencapai tahap ma’rifatullah dan
semuanya dapat dicapai dengan Dzikrullah yang menenggelamkan dirinya de
dalam Nurullah dan dalam Keesaan Allah.
Cara manusia Ber-Taqarrub ?
Cara yang baik untuk mencapai martabat kedekatan adalah dengan meditasi
atau tafakur untuk mengenali hakikat Allah karena mengenali Dzat Allah
adalah wajib bagi orang yang mengaku beriman kepada Allah.
Nabi
bersabda, “Tafakur sesaat itu adalah lebih baik dari setahun ibadah,
lebih baik dari 70 tahun ibadah bahkan lebih baik dari 1000 tahun ibadah
“
Ada 3 perkara tentang tafakur atau meditasi ini :
Pertama : barang siapa bertafakur tentang suatu hal dan menyelidiki
sebanyam, ia akan mendapat setiap bagian dari hal itu dan mempunyai
banyak bagiannya yang lain pula, dan setiap bagian itu menerbitkan
banyak lagi hal-hal yang lain, dan inilah tafakur yang nilainya setahun
ibadah
Kedua : barang siapa bertafakur tentang ibadahnya dan
mencari sebabnya dan mengenal seba itu, maka tafakurnya bernilai 70
tahun ibadah
Ketiga : barang siapa yang tafakur tentang
mengenal Allah dengan azam yang kuat untuk mengenalNya, maka tafakurnya
itu bernilai 1000 tahun ibadah.
“ Orang yang cinta memiliki pandangan Mata Basirah
Orang yang tak cinta, buta matanya tak menentu arah
Cinta itu sayap bukan daging dan darah
Boleh menerbangkannya kea lam malaikat dan berjumpa Allah “
Kekasih dengan Kekasihnya
Hanya habib ( yang pengasih) dapat mengenal Mahbub (yang dikasihi)
dengan sempurnyanya. Orang yang dikasihi Allah itu serba indah
pandangannya, tetapi terhijab ( terlindungi) pada pandangan manusia
lain, tidak diketahui manusia tetapi dikenali oleh Allah dan mudahlah
bagi manusia ini untuk melayarkan bahteranya menuju pelabuhan induk
keruhanian taman Hazirah al-Quds. Karena orang yang mencintai Allah
adalah orang yang telah mengosongkan dirinya atau memfanakan dirinya,
tidak terasa wujud dirinya hanya yang wujud ialah Allah saja.
Diperlukan perjuangan...
BalasHapusMengakui diri tidak mengerti ,tidak mempunyai daya dan upaya tanpa bimbingan dan petunjuk illahi robbi