Laman

Selasa, 22 Oktober 2013

Doa dan Kun





Doa dan Kun

Aku sebagai hamba adalah Ruhku dan Engkau sebagai yang Maha Kuasa  dan pencipta adalah Allah. Oleh kerana itu hubungan dengan Allah hendaklah terjaga dengan baik dan berterusan, dengan selalu berdoa kepadanya.

Sebagai hamba haruslah berdoa kepada Allah, kerana ia adalah Yang Maha Berkuasa, dan agar hamba mendapat perlindungan daripada Penciptanya.

Contoh  hubungan dengan Allah, hamba yang sedang berdoa: Ya Allah sempurnakanlah Cahayamu kepada ku.

Sesuatu yang tidak dapat diusahakan oleh hamba perlulah memintanya kepada Allah dengan berdoa, agar sesuatu yang kita mintakan itu menjadi milik kita, contohnya seperti mendapat Cahaya Allah tersebut.

Walau bagaimanapun, permintaan  yang berkaitan dengan urusan keduniaan perlulah diusahakan dengan menggunakan akal oleh hamba tersebut.

Tapi,,  bagi mereka yang makrifatullah usaha  berkaitan keduniaan ini menjadi mudah kepada mereka. Kerana alam dan isinya sangat bersahabat dengan mereka yang makrifatullah. Menyebabkan alam mudah diperintah agar menjadi sopan, dan tidak merosakkan sesama makhluk. Ini kerana alam itu sendiri menghormati dan tunduk kepada  mereka yang makrifatullah.

Kerana itulah mereka yang makrifatullah tidak  mengusir makhluk jahat seperti jin dan syeitan dengan doa, tetapi dengan Kun Fa Yakun.

Satu daripada penggunaan Kun adalah begini, satu  senario:

Konon-konon, hujan sangat lebat dan tidak mungkin berhenti dalam masa yang terdekat,, sedangkan orang bermakrifat itu kini berada di dalam perahu, yang melintasi sebuah tasik yang agak luas, hendak berpatah balik tidak mungkin kerana telah lebih separuh jalan, hendak diteruskan pasti terkena hujan atau perahu mungkin tenggelam dinaiki air hujan.

Maka di sinilah ia terpaksa menggunakan Kun, dengan berkata: Hai Hujan,, Berilah aku laluan dengan selamat dan tidak basah (sudah pasti dengan izin Allah).

Kerana alam bersahabat dengan makrifatullah maka dengan senang hati alam menuruti perintah itu, dan ternyata  Si makrifatullah itu  selamat dan tidak basah ditimpa hujan.

Cerita semacam ini, nampak seperti  mengarut pada zaman ini, tapi kita pernah mendengar cerita-cerita sebegini dari orang tua-tua berkaitan wali-wali Allah tertentu. Perkara semacam ini mudah sahaja  berlaku kepada mereka yang makrifatullah, kerana mereka adalah cermin Allah, atau Khalifah Allah di muka bumi ini. Itulah kekuasaan yang diberikan Allah kepada para kekasihNya.

Analisisinya,  menuju sebuah pulau adalah merupakan Qudrat dan Iradatnya, dan pelaksanaanya adalah berupa sebuah usaha dan menggunakan akal agar terlaksan apa yang dicita-citakan itu. Dan untuk terlaksana apa yang dicita-citakan itu (yang berkaitan dengan urusan keduniaan), bukan doa yang diperlukan tetapi sebuah KUN.

Orang bermakrifat tidak menolok hujan dan tidak menolak gempa bumi kerana itu adalah kehendak Allah, tetapi ia tidak mahu terkena banjir kerana hujan, dan tidak mahu rumahnya binasa kerana gempa bumi. Maka di sinilah perlunya usaha dan akal,   dan hujung terakhir daripada usaha dan akal itu adalah KUN, supaya tidak terkena banjir dan rumah tidak binasa kerana gempa bumi.

Dalam keadaan ini (berkaitan keduniaan) orang bermakrifat tidak menggunakan doa  tetapi menggunakan Kun.

Jadi secara kesimpulannya, untuk urusan dunia seperti, mendapatkan rezeki, pendidikan, pekerjaan hendaklah diperbanyak usaha (….Kun),  sebab semua keperluan manusia telah disediakan oleh Allah, mereka hanya perlu berusaha untuk mendapatkannya.

Bagaimanapun untuk menggunakan Kun, bukanlah semudah yang disangkakan, terdapat beberapa syarat yang perlu dipenuhi dahulu,, satu daripadanya  perlulan makrifatullah.

Semoga bermanfaat

Allah u a’lam.

 

 

 

 

Makrifat orang arif



Dari Anta
Kirimaan: Saudara Tahjud

Makrifat, Sifat-sifat Orang Arif dan Hakikatnya
Untuk menuju status orang-orang beriman harus melalui tahapan Mak rifat.
Adapun iman yang ditasdiq di hati, tidak bisa tasdiq kalau tidak mengenal Allah..
tasdiq adalah adalah hasil dari pada pengenalan (makrifat), akan mustahil bisa tasdiq di hati kalau belum kenal,  sama dengan menasdigkan buah simala kama yaitu hayal,  palsu dan  angan-angan sahaja.  Koreksilah pengenalan.


Abu Said al Kharraz rahimahullah pernah ditanya tentang makrifat. Lalu ia menjawab, “Ma’rifat itu datang lewat dua sisi: Pertama, dari anugerah kedermawanan Allah langsung, dan kedua, dari mengerahkan segala kemampuan atau yang lebih dikenal sebagai usaha (kasab) seorang hamba.”
Sementara itu,  Abu Turab an-Nakhsyabi – rahimahullah – ditanya tentang sifat orang yang arif, lalu ia menjawab, “Orang arif adalah orang yang tidak terkotori oleh apa saja, sementara segala sesuatu akan menjadi jernih karenanya.”

Ahmad bin ‘Atha’ – rahimahullah – berkata, “Ma’rifat itu ada dua: Makrifat al-Haq dan makrifat hakikat. Adapun ma’rifat al-Haq adalah ma’rifat (mengetahui) Wahdaniyyah-Nya melalui Nama-nama dan Sifat-sifat yang ditampakkan pada makhluk-Nya.
Sedangkan ma’rifat hakikat, tak ada jalan untuk menuju ke sana. Sebab tidak memungkinkannya Sifat Shamadiyyah (Keabadian dan Tempat ketergantungan makhluk)-Nya, dan mengaktualisasikan Rububiyyah (Ketuhanan)-Nya. Karena Allah telah berfirman:
“Sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi (memahami secara detail) Ilmu-Nya”.” (Q.s. Thaha: 110).


Syekh Abu Nashr as-Sarraj – rahimahullah – menjelaskan:
Makna ucapan Ahmad bin’Atha’, “Tak ada jalan menuju ke sana,” yakni ma’rifat (mengetahui) secara hakiki. Sebab Allah telah menampakkan Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya kepada makhluk-Nya, di mana Dia tahu bahwa itulah kadar kemampuan mereka. Sebab untuk tahu dan ma’rifat secara hakiki tidak akan mampu dilakukan oleh makhluk. Bahkan hanya sebesar atom pun dari ma’rifat-Nya tidak akan sanggup dicapai oleh makhluk. Sebab alam dengan apa yang ada di dalamnya akan lenyap ketika bagian terkecil dari awal apa yang muncul dari Kekuasaan Keagungan-Nya.


Lalu siapa yang sanggup ma’rifat (mengetahui) Dzat Yang salah satu dari Sifat-sifat-Nya sebagaimana itu?
Oleh karenanya ada orang berkata, “Tak ada selain Dia yang sanggup mengetahui-Nya, dan tak ada yang sanggup mencintai-Nya selain Dia sendiri. Sebab Kemahaagungan dan Keabadian (ash-Shamadiyyah) tak mungkin dapat dipahami secara detail. Allah swt. berfirman:
“Dan mereka tidak mengetahui apa apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya”.” 


(Q.s. al-Baqarah: 255).
Sejalan dengan makna ini, ada riwayat dari Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. yang pernah berkata, “Mahasuci Dzat Yang tidak membuka jalan untuk ma’rifat-Nya kecuali dengan menjadikan seseorang tidak sanggup mengetahui-Nya.”

Asy-Syibli – rahimahullah – pernah ditanya, “Kapan seorang arif berada dalam tempat kesaksian al-Haq?”
Ia menjawab, “Tatkala Dzat Yang menyaksikan tampak, dan bukti-bukti fenomena alam yang menjadi saksi telah fana’ (sirna) indera dan perasaan pun menjadi hilang.”
“Apa awal dari masalah ini dan apa pula akhirnya?”
Ia menjawab, “Awalnya adalah ma’rifat dan ujungnya adalah mentauhidkan-Nya.”
Ia melanjutkan, “Salah satu dari tanda ma’rifat adalah melihat dirinya berada dalam ‘Genggaman’ Dzat Yang Mahaagung, dan segala perlakuan Kekuasaan Allah berlangsung menguasai dirinya. Dan ciri lain dari ma’rifat adalah rasa cinta (al-Mahabbah). Sebab orang yang ma’rifat dengan-Nya tentu akan mencintai-Nya.”


Abu Nazid Thaifur bin Isa al-Bisthami – rahimahullah – pernah ditanya tentang sifat orang arif, lalu ia menjawab, “Warna air itu sangat dipengaruhi oleh warna tempat (wadah) yang ditempatinya. Jika air itu anda tuangkan ke dalam tempat yang berwarna putih maka anda akan menduganya berwarna putih. Jika Anda tuangkan ke dalam tempat yang berwarna hitam, maka Anda akan menduganya berwarna hitam. Dan demikian pula jika Anda tuangkan ke dalam tempat yang berwarna kuning dan merah, ia akan selalu diubah oleh berbagai kondisi. Sementara itu yang mengendalikan berbagai kondisi spiritual adalah Dzat Yang memiliki dan menguasainya.”
Syekh Abu Nashr as-Sarraj – rahimahullah – menjelaskannya: Artinya, – hanya Allah Yang Mahatahu – bahwa kadar kejernihan air itu akan sangat bergantung pada sifat dan warna tempat (wadah) yang ditempatinya. Akan tetapi warna benda yang ditempatinya tidak akan pernah berhasil mengubah kejernihan dan kondisi asli air itu.

Orang yang melihatnya mungkin mengira, bahwa air itu berwarna putih atau hitam, padahal air yang ada di dalam tempat tersebut tetap satu makna yang sesuai dengan aslinya. Demikian pula orang yang arif dan sifatnya ketika “bersama” Allah Azza wa jalla dalam segala hal yang diubah oleh berbagai kondisi spiritual, maka rahasia hati nuraninya “bersama” Allah adalah dalam satu makna.

Al-junaid – rahimahullah – pernah ditanya tentang rasionalitas orang-orang arif (al-’arifin). Kemudian ia menjawab, “Mereka lenyap dari kungkungan sifat-sifat yang diberikan oleh orang-orang yang memberi sifat.”
Sebagian dari para tokoh Sufi ditanya tentang ma’rifat. Lalu ia menjawab, “Adalah kemampuan hati nurani untuk melihat kelembutan-kelembutan apa yang diberitahukan-Nya, karena ia telah menauhidkan-Nya.”
Al-Junaid – rahimahullah – ditanya, “Wahai Abu al-Qasim, (nama lain dari panggilan al-junaid, pent.). apa kebutuhan orang-orang arif kepada Allah?”
Ia menjawab, “Kebutuhan mereka kepada-Nya adalah perlindungan dan pemeliharaan-Nya pada mereka.”


Muhammad bin al-Mufadhdhal as-Samarqandi – rahimahullah – berkata, “Akan tetapi mereka tidak membutuhkan apa-apa dan tidak ingin memilih apa pun. Sebab tanpa membutuhkan dan memilih, mereka telah memperoleh apa yang semestinya mereka peroleh. Karena apa yang bisa dilakukan orang-orang arif adalah berkat Dzat Yang mewujudkan mereka, kekal dan fananya juga berkat Dzat Yang mewujudkannya.”

Muhammad bin al-Mufadhdhal juga pernah ditanya, ” Apa yang dibutuhkan orang-orang arif?”
Ia menjawabnya, “Mereka membutuhkan moral (akhlak) yang dengannya semua kebaikan bisa sempurna, dan ketika moral tersebut hilang, maka segala kejelekan akan menjadi jelek seluruhnya. Akhlak itu adalah istiqamah.”

Yahya bin Mu’adz – rahimahullah – ditanya tentang sifat orang arif, maka ia menjawab, “Ia bisa masuk di kalangan orang banyak, namun ia terpisah dengan mereka.”
Dalam kesempatan lain ia ditanya lagi tentang orang yang arif, maka ia menjawab, “Ialah seorang hamba yang ada (di tengah-tengah orang banyak) lalu ia terpisah dengan mereka.”
Abu al-Husain an-Nuri – rahimahullah – ditanya, “Bagaimana Dia tidak bisa dipahami dengan akal, sementara Dia tidak dapat diketahui kecuali dengan akal”


Ia menjawab, “Bagaimana sesuatu yang memiliki batas bisa memahami Dzat Yang tanpa batas, atau bagaimana sesuatu yang memiliki kekurangan bisa memahami Dzat Yang tidak memiliki kekurangan dan cacat sama sekali, atau bagaimana seorang bisa membayangkan kondisi bagaimana terhadap Dzat Yang membuat kemampuan imajinasi itu sendiri, atau bagaimana orang bisa menentukan ‘di mana’ terhadap Dzat Yang menentukan ruang dan tempat itu sendiri. Demikian pula Yang menjadikan yang awal dan mengakhirkan yang terakhir, sehingga Dia disebut Yang Pertama dan Terakhir. Andaikan Dia tidak mengawalkan yang awal dan mengakhirkan yang terakhir tentu tidak bisa diketahui mana yang pertama dan mana yang terakhir.”

Kemudian ia melanjutkannya, “Al-Azzaliyyah pada hakikatnya hanyalah al-Abadiyyah (Keabadian), di mana antara keduanya tidak ada pembatas apa pun. Sebagaimana Awwaliyyah (awal) adalah juga Akhiriyyah (akhir) dan akhir adalah juga awal. Demikian pula lahir dan batin, hanya saja suatu saat Dia menghilangkan Anda dan suatu saat menghadirkan Anda dengan tujuan untuk memperbarui kelezatan dan melihat penghambaan (’ubudiyyah).
Sebab orang yang mengetahui-Nya melalui penciptaan makhluk-Nya, ia tidak akan mengetahui-Nya secara langsung. Sebab penciptaan makhluk-Nya berada dalam makna firman-Nya, ‘Kun’ (wujudlah). Sementara mengetahui secara langsung adalah menampakkan kehormatan, dan sama sekali tidak ada kerendahan.”

Saya (Syekh Abu Nashr as Sarrai) katakan: Makna dan ucapan an-Nuri, “mengetahui-Nya secara langsung,” ialah langsung dengan yakin dan kesaksian hati nurani akan hakikat-hakikat keimanan tentang hal-hal yang gaib.
Syekh Abu Nashr as-Sarraj – rahimahullah – melanjutkan penjelasannya: Makna dari apa yang diisyaratkan tersebut – hanya Allah Yang Mahatahu – bahwa menentukan dengan waktu dan perubahan itu tidak layak bagi Allah swt.

Maka Dia terhadap apa yang telah terjadi sama seperti pada apa yang bakal terjadi. Pada apa yang telah Dia firmankan sama seperti pada apa yang bakal Dia firmankan. Sesuatu yang dekat menurut Dia sama seperti yang jauh, begitu sebaliknya, sesuatu yang jauh sama seperti yang dekat.

Sedangkan perbedaan hanya akan terjadi bagi makhluk dari sudut penciptaan dan corak dalam masalah dekat dan jauh, benci dan senang (ridha), yang semua itu adalah sifat makhluk, dan bukan salah satu dari Sifat-sifat al-Haq swt. – dan hanya Allah Yang Mahatahu-.
Ahmad bin Atha’ – rahimahullah – pernah mengemukakan sebuah ungkapan tentang ma’rifat. Dimana hal ini konon juga diceritakan dari Abu Bakar al-Wasithi. Akan tetapi yang benar adalah ungkapan Ahmad bin ‘Atha’, “Segala sesuatu yang dianggap jelek itu akan menjadi jelek hanya karena tertutupi hijab-Nya (tidak ada nilai-nilai Ketuhanan). Sedangkan segala Sesuatu yang dianggap baik itu menjadi baik hanya karena tersingkap (Tajalli)-Nya (terdapat nilai-nilai Ketuhanan).

Sebab keduanya merupakan sifat yang selalu berlaku sepanjang masa, sebagaimana keduanya berlangsung sejak azali. Dimana tampak dua ciri yang berbeda pada mereka yang diterima dan mereka yang ditolak. Mereka yang diterima, benar-benar tampak bukti-bukti Tajalli-Nya pada mereka dengan sinar terangnya, sebagaimana tampak jelas bukti bukti tertutup hijab-Nya pada mereka yang tertolak dengan kegelapannya.
Maka setelah itu, tidak ada manfaatnya lagi warna-warna kuning, baju lengan pendek, pakaian serba lengkap maupun pakaian-pakaian bertambal (yang hanya merupakan simbolis semata, pent.).”
Saya katakan, bahwa apa yang dikemukakan oleh Ahmad bin Atha’ maknanya mendekati dengan apa yang dikatakan oleh Abu Sulaiman Abdurrahman bin Ahmad ad-Darani – rahimahullah – dimana ia berkata, “Bukanlah perbuatan-perbuatan (amal) seorang hamba itu yang menjadikan-Nya senang (ridha) atau benci. Akan tetapi karena Dia ridha kepada sekelompok kaum, kemudian Dia jadikan mereka orang-orang yang berbuat dengan perbuatan (amal) orang-orang yang diridhai-Nya. Demikian pula, karena Dia benci pada sekelompok kaum, kemudian Dia jadikan mereka orang-orang yang berbuat dengan perbuatan orang-orang yang dibenci-Nya.”

Sedangkan makna ucapan Ahmad bin Atha’, “Segala sesuatu yang dianggap jelek itu akan menjadi jelek hanya karena tertutupi hijab-Nya.” Maksudnya adalah karena Dia berpaling dari kejelekan tersebut. Sementara ucapannya yang menyatakan, “Segala sesuatu yang dianggap baik itu menjadi baik hanya karena tersingkap (Tajalli)-Nya.” Maksudnya adalah karena Dia menyambut dan menerimanya.
Makna semua itu adalah sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah Hadis:
Dimana Rasulullah saw. pernah keluar, sementara di tangan beliau ada dua buah Kitab: Satu kitab di tangan sebelah kanan, dan satu Kitab yang lain di tangan sebelah kiri. Kemudian beliau berkata, “Ini adalah Kitab catatan para penghuni surga lengkap dengan nama-nama mereka dan nama bapak-bapak mereka.

Sementara yang ini, adalah Kitab catatan para penghuni neraka lengkap dengan nama-nama mereka beserta nama bapak-bapak mereka.” (H.r. Tirmidzi dari Abdullah bin Amr bin Ash. Hadist ini Hasan Shahih Gharib. Juga diriwayatkan oleh ath-Thabrani, dari Ibnu Umar).
Ketika Abu Bakar al-Wasithi – rahimahullah – mengenalkan dirinya kepada kaum elite Sufi, maka ia berkata, “Diri (nafsu) mereka (kaum arif telah sirna, sehingga tidak menyaksikan kegelisahan dengan menyaksikan fenomena-fenomena alam yang menjadi saksi Wujud-Nya al-Haq, sekalipun yang tampak pada mereka hanya bukti-bukti kepentingan nafsu.”
Demikian juga orang yang memberikan sebuah komentar tentang makna ini. Artinya – dan hanya Allah Yang Mahatahu -, “Sesungguhnya orang yang menyaksikan bukti-bukti awal pada apa yang telah ia ketahui, melalui apa yang dikenalkan Tuhan Yang disembahnya, ia tidak menyaksikan kegelisahan dengan hanya menyaksikan apa yang selain Allah.

salamalaika..
Tahjud

Terang dan nyata


 

 

Nyata dan terang

Mari kita imbas sejarah Nabi Musa dan pengikut-pengikutnya, terutamnaya setelah Musa memasuki Lembah Suci Tuwa.

QS Taahaa 20:12: Sesungguhnya Akulah Tuhanmu, maka bukalah kedua terompahmu, sesungguhnya  kamu berada  di Lembah Suci Tuwa.

Inilah perintah yang diterima oleh Nabi Musa daripada Tuhan, supaya menanggalkan terompahnya (alas kaki seperti kasut dan sebagainya), supaya Nabi Musa dapat masuk ke hadirat Allah dan mendengarkan suaraNya.

Kedua terompahnya harus ditanggalkan, apakah maksud terompah dalam konteks ini, adakah ia benar-benar alas kaki atau benda lain yang dinyatakan sebagai  kiasan.

Jikalau kita fikirkan, jika terompah itu adalah alas kaki yang sebenarnya, seperti sepatu, selipar dan sebagainya, apakah makna menanggalkannya, sedangkan Nabi Musa telah berada di Lembah Suci Tuwa, sama ada Nabi Musa menanggalkannya atau tidak, terompah itu tetap telah berada di Lembah Suci Tuwa.

Dalam perkataan lain sama ada Nabi Musa menanggalkan terompahnya atau tidak Nabi Musa dan terompahnya itu tetap berada di Lembah Suci Tuwa.

Perintah (tanpa suara di dalam hati) menanggalkan terompah itu bermakna Tuhan telah memilih Musa untuk datang ke hadiratNya dan mendengarkan suaraNya.

Jadinya terompah yang macam manakah yang dapat menghalang suara Tuhan daripada didengar Musa. Nampaknya hebat sekali terompah itu kerana dapat menghalang sesuatu yang berasal dari Tuhan.

Untuk memahami maksud terompah ini kita perlu lebih dahulu tahu tentang fana,,

Apakah itu yang dimaksudkan fana,, fana adalah hilangnya sifat-sifat tercela dan diganti dengan sifat-sifat terpuji. Mereka yang fana tidak lagi mengharapkan dunia dan akhirat,, yang diinginkannya hanyalah Allah,, kekasih yang sangat dirinduinya yang telah lama dicarinya tapi tak kunjung jumpa.

Kita sering mendengar sufi berkata : kosongkan hatimu dan ia akan dipenuhi oleh Penciptamu.

Apabila hati kita kosong  daripada selainnya maka Dialah yang bersemayam di dalamnya, dialah yang akan mengatur segalannya.

Nah sekarang kita ketahui,, untuk fana kita perlu mengosongkan hati kita,, tetapi  Allah memerintahkan kepada Musa: tanggalkanlah kedua terompahmu,,

Nah ,, ini bermaksud ada satu lagi yang perlu ditanggalkan,, sepasang terompah bermakna ada dua benda,,, satu daripada benda itu telah kita ketahui,,  hati,,  tapi apakah yang satu lagi itu,,

Apakah bendanya yang lagi satu itu, yang nampak gayanya sangat kuat sehingga dapat menghalang suara Tuhan daripada kedengaran kepada Musa,,

Ya,, satu lagi yang perlu ditanggalkan ialah Fikiran,,segala fikiran harus dikosongkan,, kerana fikiran dapat menghalang suara Pencipta daripada kedengaran.

Segala fikiran segala imaginasi segala emosi dan sebagainya harus ditanggalkan,, insya Allah barulah kita akan dapat mendengarkan suara Pencipta yang maha meliputi.

Jadi untuk mendengan suara yang maha menjadikan kita harus dapat mengosongkan fikiran dan hati kita daripada segala sesuatu kecuali Allah., dengan itu kita akan menjadi fana dan menjadi alat bagi yang maha pencipta.

Allah dan Rasul itu maha hidup,, maha hadir dan maha berkata-kata,, jikalau ia maha berkata-kata bagaimana kita dapat mendengarkan suaranya,, sedangkan bahasa maha pencipta, tanpa huruf dan tanpa suara.

Bagaimankah Musa dapat mendengar kata-kata Penciptanya,, adakah dia mendengarkan sepertimana kita mendengarkan kata-kata daripada seseorang yang kita kenali.

Nah,,, ini satu lagi rahsia yang perlu dikupas agar kita tidak tersalah fahaman,, bukannya mendengar kata-kataNya, seperti mana kita mendengarkan suara daripada kenalan kita di dunia ini, bukan begitu.

Mencinta Rasul atau fana rasul, adalah apabila kita benar-benar mengikut perintah rasul,, tapi bagaiman kita harus mendengarkan perintah Rasul yang maha hidup,,

Ya,,, maka bertandanglah ke hati nurani dan dengarkanlah perintah tanpa huruf dan suara di sana,, begitulah juga jika kita mahu mendengarkan kata-kata yang maha pencipta.

Begitulah yang telah dialami Musa,, dan ia yakin dengan perintah yang diterimanya,, tanpa ragu-ragu lagi kerana ia tahu,, itulah yang benar.

Jadi,, jikalau begitu mudah untuk mendengarkan kata-kata tuhan,, teruslah kita fanakan diri,, dan akan mendapat mendengarkan kata-kata yang maha pencipta.

Tidak semudah itu,,

mengapa,,

ilmu dan amal jaraknya umpama langit dan bumi..

Orang mungkin berkata, baiklah aku fana sekarang,,  berapa lamakah fananya dapat bertahan,  sesaat atau dua saat,, dan lepas itu kembali kepada ke-aku-annya. Sedangkan fana yang diperlukan adalah fana yang berterusan sepanjang masa,,

cuba fikirkan,,

dapatkah ini terjadi tanpa latihan dan keinginan yang sungguh-sungguh.

Cuba kita lihat lagi QS Al Baqarah 2: 55,56:

Dan ingatlah ketika kamu berkata: Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah  dengan terang,  kerana itu kamu disambar halilintar dan kamu menyaksikannya.

Setelah itu Kami bangkitkan kamu supaya kamu bersyukur.

Ayat  ini turun, berikutan pengikut-pengikut Musa,, meminta kepada Musa agar mereka diajarkan bagaiman untuk melihat Allah dengan terang dan nyata, dan Allah memperkenankan permohonan itu,,

Ayat  QS Al Baqarah 2: 55,56: adalah ayat mutasyabihat, iaitu ayat kiasan,, tetapi sebenarnya itulah kaedah melihata Allah dengan nyata dan terang,, di dunia ini juga, maka carilah rahsianya.

Jadi Allah itu dapat dilihat dengan nyata dan terang di dunia ini juga, tidak payah tunggu di akhirat nanti,, kerana Allah itu yang maha hidup dan yang maha meliputi.

Jadi mereka yang telah dianugarahkan dengan penglihatan ini, tidak seharusnya memencilkan diri,, tetapi harus kembali ke dunia ini untuk membangunkan ummah dan membantu yang lain untuk  kembali melihat Penciptanya dengan nyata dan terang,

dan untuk membangunkan  Bumi dengan keindahan yang telah diciptakan Tuhan.

 

Allah u akbar.

Penantian

Penantian

Sufi sedaya upaya cuba untuk melampau akal fikiran dan nafsunya, kerana ia tahu inilah yang  menjadi batu penghalang dalam ushanya untuk menemui kekasihnya yang sejati. Hanya setelah ia berjaya mengatasi akal fikiran dan nafsunya baru ia dapat terserap ke dalam lautan keesaan yang tidak terbatas.

Melampau akal fikiran dan menakluki nafsu bukanlah suatu kerja yang mudah, ia memerlukan komitmen yang tinggi dan masa yang amat panjang, mungkin bertahun-tahun dan mungkin juga setelah maut menghampiri  ia masih tidak terlaksana. Tapi bagi sang pencinta ini bukanlah menjadi masalah kerana cintanya tidak bertepi dan ia sanggup melakukan apa saja untuk mencapai matlamatnya.

Untuk melampau akal fikiran dan nafsu sang pencinta, perlu menciptakan ruang kosong nan hening lagi tak bertepi, yang mana membolehkannya untuk menyadari kehadiran sang kekasihnya.

Yang dikasihi ingan sangat untuk memperkenalkan dirinya kepada sang pencinta, bagaimanapun ini adalah merupakan anugarah daripadanya, dan bukan kerana usaha yang dilakukan oleh sang pencinta. Jadi sang pencinta haruslah bersabar menunggu bilakah masanya yang dicinta mahu memberikan anugerah yang sangat bernilai itu.

Setelah masuk ke dalam ruang kosong nan luas itu, sang pencinta hanya bersabar menunggu, hingga yang dicinta bermurah hati untuk menyapanya, dan dengan itu bermulalah satu ikatan keesaan yang tidak akan terleraikan oleh apa pun.

Dalam keheningan qalbu, sang pencinta menunggu yang dicintai, tanpa jemu dan tanpa keluh kesah, hanya berserah dengan sepenuh hati agar yang dicintai cepat dapat menegurnya.

Dalam hubungan ini, tafakur adalah keadaan menunggu, agar  yang dikasihi  mengambilnya masuk ke dalam makam keesaan, makam kesatuan nan tak terbatas. Keadaan tenang dan bening ini tidak hanya berlaku dalam tafakur sahaja tetapi perlulah dibawa dalam kehidupan seharian.

Dengan ini  sang pecinta dapat mendengarkan kata-kata nasihat,  petunjuk dan bimbingan daripada yang dikasihinya. Bagaimanapun, pada peringkat awalnya, keadaan hening dan bening ini sangat sukar untuk dicapai  dan dipraktikkan dalam kehidupan seharian, kerana keperluan kehidupan duniawi yang tidak mahu mengalah. Itulah sebabnya pada permulaan sang pecinta memerlukan ruang tafakur yang sunyi dan suci daripada duniawi yang mengganggu, setelah ia mantap dalam keadaan itu, barulah mudah baginya untuk membawa keheningan itu ke dalam kehidupan sehariannnya.

Dengan latihan tafakur yang berterusan fikiran dapat dikosongkan (fikiran tidak bergerak lagi) bagi membolehkan sang pecinta mendengarkan suara sang kekasihnya.

Sang pecinta harus belajar dan menjadi mahir dalam seni mendengarkan kata-kata yang akan dikatakan oleh sang kekasihnya, dia harus belajar untuk diam kerana mendengarkan hanya akan dapat dilakukan dalam suasana keheningan qalbu, dan hanya dalam keheningan sang pencinta akan dapat mendengarkan kata-kata dari  yang dicintainya.

Dalam suasana yang hening dan bening itu sang pencinta juga boleh belajar  untuk bertanya bagi mendapatkan bimbingan daripada sang kekasihnya.

Di samping itu, dengan tenggelam dalam lautan keheningan qalbu sang pencinta dapat berbicara secara langsung dengan sang kekasihnya.

Dalam suasana kekosongan dan keheningan yang amat luas ini sang pecinta akan  mendapat jawapan kepada persoalan-persoalan yang selama ini membingungkan dirinya

Tetapi kadangkala sang pecinta terpaksa menunggu lama untuk mendengarkan kata-kata daripada yang dikasihinya. Perlu diingat seni mendengarkan ini memerlukan kemahiran yang amat seni pula.

Dalam perkara ini sufi terkenal Jalaluddin Rumi, menyatakan begini (  ana biarkan dalam bahasa asalnya,  kerana ana tidak mau ma

Haqul yakin


Haqul yakin

Keyakinan pada tahap makrifat (haqul yakin) adalah berkonsepkan, contohnya, tiada yang memberi dan tiada yang menerima, tiada yang menyembah dan tiada yang disembah, tiada sifat engkau dan tiada sifat aku, semua itu adalah semata-mata Yang Maha Berkuasa dan Meliputi.

Yakin pada tahap makrifat adalah yang berdasarkan kamil atau sejati atau sebati. Kamil yang tidak membawa maksud bersatu mahupun bercerai. Kamil yang dimaksudkan di sini adalah yang bermaksud satu.

Yaitu keyakinan yang tidak membawa makna aku dan tidak juga engkau, keyakinan yang berlaku pada peringkat ini, adalah pada makam wahdah, ataupun hakikat muhamad. Keyakinan ini telah melampaui makam fana bahkan ia telah berada di makam baqa.

Keyakinan pada peringkat baqa adalah satu keyakinan yang tidak berubah-rubah lagi, salik itu yakin dengan sepenuh-penuh yakin, tiada satupun yang dapat menggugat keyakinannya.

Berkekalan pada perpaduan yang  sebati buat selama-lamanya, yang tidak berpisah antara nafi dan isbat. Berkekalan sifatnya sebagaimana sifat api dan dengan sifat asap, sebagaimana matahari dan cahaya matahari, sebagaimana bayang-bayang dengan tuan yang empunya bayang-bayang.

Berkekalan sebagaimana tiada lagi yang menyembah dan tiada yang disembah, melainkan semata-mata Tuhan semesta alam, yang mutlak pada hakikatnya.

Berkekalan sifat manusia sebagai sifat makhluk, dan berkekalan sifat Tuhan sebagai sifat ketuhanan, bagaimanapun di antara sifat insan dan sifat penciptanya, tidak bercerai dan tidak bersatu, sebagaimana tidak bersatu dan tidak berpisahnya isbat dan nafi.

Konsep keyakinan peringkat makrifat ini  adalah berlandaskan wahdah atau keesaan dalam  wajah Maha Pencipta. Yang wujud (yang menjadikan), yang ujud (yang ada), dan yang maujud ( yang dijadikan) hanya adalah wajah Pencipta yang satu.

Tahap keyakinan kamil ini bukanlah sama dengan apa yang dikatakan konsep hulul (bersatu dengan Allah), dalam pengertian ringkasnya hulul itu adalah bergabung dua iaitu hamba dan tuhan menjadi satu, konsep ini adalah konsep yang tidak benar, tidak sama dengan konsep yang dibawa Rasulullah,  kerana Islam berlandaskan konsep fana, iaitu tiada yang lain hanya Allah.


Konsep kamil boleh dianalogikan seperti berikut, tiada angka dua  dan angka tiga dalam bilangan satu, angka dua, angka tiga, dan angka yang ke sejuta, dan angka yang ke sekian kalinya itu adalah tercantum dalam bilangan satu.

Bagi orang makrifat walaupun seberapa banyaknya angka satu itu digandakan, ia tetap berwajah satu, walaupun begitu banyak manifestasi dzat dalam alam semesta, tetapi dzatnya tetap satu.

Sekali lagi dinyatakan, salik yang berada di makam haqul yakin adalah berpegang kepada keyakinan peringkat wahdah, esa, atau tunggal.

Allah itu satu (esa) dalam sifatnya, namaNya, afaalNya dan dzatNya, yang bersifat itu hanya sifat bagi Allah, yang bernama itu hanya nama bagiNya, yang berkelakuan itu hanya kelakuan bagiNya dan yang berdzat itu hanya dzat bagiNya. Bagaimanapun Dia tetap satu itu jua.

Salam alaika

Semoga bermanfaat.

Qalbu mukmin

Qalbu  mukmin

Apakah yang dikatakan qalbu mukmin itu, adakah ia terdapat pada semua orang, dan adakah ia juga ada pada haiwan.

Kata  orang bijak pandai, Tuhan  tidak dapat dikandung oleh alam semesta ini,, tetapi Dia dapat dikandung oleh qalbu orang mukmin.

Qalbu bagi orang mukmin adalah tempat bersemayamnya Maha Pencipta, ia juga adalah bagaikan cermin tempat jatuhnya tilikan Yang Maha Berkuasa.

Ada orang berkata Qalbu mukmin adalah ruh, dan setengah orang pula menyatakan ia adalah Ruhku,, iaitu ruh yang ditiupkan ke dalam jasad Adam, setelah Maha Pencipta, menciptakan jasadnya.

Sebenarnya,  hakikat qalbu mukmin adalah Ruh. Qalbu orang mukmin adalah tempat bersemayamnya Yang Maha Berkuasa. 

Ada yang  berpendapat ruh orang mukmin  tidak terdapat pada semua orang, seperti orang gila dan sebagainya, ia hanya terdapat pada orang yang mana hatinya telah menerima pancaran nur Ilahi. Dan haiwan sudah pasti tidak mempunyai qalbu yang semacam ini.

Ruh jenis ini (ruh yang telah bebas, bukan ruh yang diselaputi nafsu) juga tidak dimiliki oleh haiwan. Ruh ini adalah anugerah Allah kepada hambanya yang berusaha bersungguh-sungguh  untuk mengenali penciptanya.

Dan ruh inilah apabila telah terbebas daripada ikatan nafsu berupaya membawa manusia kembali kepada Yang Maha Penciptanya.

Dengan lain perkataan ruh ini hanya berfungsi pada manusia yang telah mengenal dirinya, atau pun kebalikannya manusia yang telah mengenal Penciptanya.

Dan kesempurnaan Hati atau Qalbu bukanlah  terletak kepada dzikir atau banyaknya dzikir yang telah dilakukan, tetapi terletak kepada iman yang sempurna.

Apakah iman yang sempurna itu?

Iman yang sempurna ialah iman orang yang percaya kepada Penciptanya. Bukan hanya percaya di kata-kata sahaja tetapi percaya kerana telah mengenalinya, dengan pengenalan yang sempurna.

Ada yang  berkata cuba engkau dengarkan baik-baik dengan hatimu,, atau cuba engkau berkata-kata daripada hatimu atau qalbumu.

Nah,,

Apakah maksudnya?

Yang dimaksudkan di sini adalah berkata-kata dengan kesadaran Ruh, iaitu ruhlah  yang berkata-kata bukan jasad. Jasad tidak punyai apa-apa, hidupnya pun dihidupkan.

Nah bagi mereka yang telah agak matang perjalanan ruhaninya maka, apabila ia berkat-kata dari qalbunya, ia akan menggunakan kesadaran yang lebih tinggi daripada ruh, apakah kesadaran itu?

Apakah kesadaran yang lebih tinggi dari kesadaran ruh?

Tentu ante sudah dapat menangkap  apa yang ana maksudkan.

Mereka yang mempunyai kesadaran yang tinggi ini, adalah mereka yang secara lumrahnya menjadi khalifah di muka bumi ini.

Ada yang  berkata manusia itu adalah khalifah di muka bumi ini, pada pandangan ana ini adalah kenyataan yang terlalu umum, tidak semua manusia yang menjadi khalifah di muka bumi ini,

kerana tugas khalifah adalah untuk membangunkan bumi yang indah diciptakan Tuhan, tetapi sangat ramai manusia  yang  memusnahkan dan merosakkan bumi ini, sudah pasti mereka bukan khalifah.

Jadi khalifah yang sebenarnya adalah mereka yang  qalbunya telah disinari cahaya Ilahi,  yang tugasnya antara lain adalah membangunkan alam ini dan menjadi pelita kepada jiwa-jiwa yang ingin kembali kepada Penciptanya..

Apabila cahaya Ilahi telah menyinari hati atau qalbu seseorang itu, yang tinggal hanyalah sifat-sifat yang terpuji, yang akan dapat memakmurkan dan merawat alam ciptaan Yang Maha Pencipta ini.

Khalifah itu diberikan kuasa khusus  oleh Penciptanya untuk merawat  alam semesta ini dan alam semesta ini juga menghormati kepada sang Khalifah.

Allah u akbar.

Jalan pulang

 

 

Jalan pulang:

Pada kebiasaannya ada dua jalan yang dilalui salik untuk kembali ke kampung akhirat dan bertemu dengan Penciptanya yang dikasihi.

Jalan yang pertama adalah yang berpandukan Hadis berikut:

 Man `arafa nafsahu faqad `arafa rabbahu:

Siapa yang mengenal dirinya makan ia akan mengenal Tuhannya.

Jalan yang kedua adalah yang berpandukan kata-kata ini:

 Man `arafa rabbahu faqad `arafa nafsahu:

Siapa yang mengenal Tuhannya maka ia akan mengenal dirinya.

Mari kita lihat antara dua jalan ini satu persatu, kita mulai dengan,,

Jalan Pertama:

Jalan ini  biasanya dilakukan oleh para pencari murni, mereka belum memiliki panduan tentang Tuhan dengan jelas. Dia hanya berfikir dari yang sangat sederhana …iaitu ketika ia melihat sebuah alam tergelar, muncul pemikiran pasti ada yang membuatnya atau ada yang berkuasa dibalik alam ini, … mustahil alam ini ada begitu saja … dan alam merupakan jejak-jejak penciptanya … Dengan falsafah inilah orang akhirnya menemukan kesimpulan bahawa Tuhan itu ada.

Sebagian ahli sufi menggunakan pendekatan falsafah ini dalam mencari Tuhan, iaitu tahap mengenal diri dari segi wilayah-wilayah alam pada dirinya, misalnya mengenali hatinya dan suasananya, fikiran, perasaannya, dan lain-lain sehingga dia boleh membezakan dari mana ilham itu muncul, … apakah dari fikirannya, dari perasaannya, atau dari luar dirinya.

Akan tetapi penggunaan jalur seperti  ini sering kali membuat orang mudah tersesat, kerana pada tahap-tahap wilayah ini manusia sering terjebak pada ‘keghaiban’ yang dia lihat dalam perjalanannya,  yang kadang-kadang membuat hatinya tertarik dan berhenti sampai di sini, kerana kalau tidak mempunyai tujuan yang kuat kepada Allah pastilah orang itu menghentikan perjalanannya .  Kerana di sana dia boleh melihat fenomena  dan  keajaiban alam-alam dan mampu melihat dengan kasyaf apa yang tersembunyi pada alam in,  akhirnya mudah muncul ‘keakuannya’ bahawa dirinyalah yang paling hebat, akan tetapi jika dia kuat terhadap Tuhan adalah tujuannya, pastilah dia selamat sampai tujuannya iaitu Allah.

Analisis  yang dilakukan tersebut adalah jalan terbalik, kerana dalam pencariannya ia telusuri jejak atau tanda-tanda yang ditinggalkannya (melalui ciptaan  dan  alam),  ibarat seseorang mencari kuda yang hilang, yang pertama di telusuri adalah jejak tanda kaki kuda, kemudian memperhatikan suara kuda dan akhirnya di temukan kandang kuda dan yang terakhir dia menemukan wujud kuda yang sebenarnya.  Hal ini sebenarnya sangat menyulitkan para pelaku pencari Tuhan,  kerana terlalu lama di dalam alam-alam yang akan di laluinya.

 

Jalan Kedua:

Kaedah ini adalah melangkah kepada yang paling dekat dari dirinya, iaitu Yang Maha Dekat, Allah, dan jalan ini adalah  yang berpandukan  Al Quran.  Di dalam  Al Quran  Allah menunjukkan jalannya dengan sangat sederhana dan mudah.

 Mari kita perhatikan cara Tuhan menunjukkan para hamba yang mencari Tuhannya .

   “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka (jawablah) bahawasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perinta-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)

   “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan menusia dan mengetahui apa yang di bisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.” (QS. Al Qaaf: 16)

Ayat-ayat di atas, mengungkapkan keadaan Allah sebagai wujud yang sangat dekat, dan kita diajak untuk memahami pernyataan tersebut secara sempurna.  Al Quran  mengungkapkan jawapan secara dimensi dan dilihat dari perspektif seluruh sisi pandangan manusia sesempurnanya.

Saat pertanyaan itu terlontar, di manakah Allah ?

Maka Allah menjawab: Aku ini dekat, kemudian jawapan meningkat sampai kepada, Aku lebih dekat dari urat leher kalian. Atau di mana saja kalian menghadap di situ wujud wajah-Ku…dan Aku ini maha meliputi segala sesuatu .

Di dalam Islam memulakan perjalanan  dengan pengenalan kepada Allah terlebih dahulu, iaitu dengan zikrullah (mengingat Allah), … kemudian kita diperintah langsung mendekati-Nya, kerana Allah sudah sangat dekat,  tidak perlu anda mencari jauh-jauh melalui alam-alam yang amat luas dan membingungkan,  alam itu sangat banyak dan bertingkat-tingkat.

Tidak perlu kita memikirkannya,  cukup dengan  jiwa mendekat secara langsung kepada Allah, kerana orang yang telah berjumpa alam-alam belum tentu ia tunduk kepada Allah, kerana alam di sana tidak ada bezanya dengan alam di dunia ini kerana semua adalah ciptaan-Nya.

Akan tetapi jika anda memulakan dengan cara mendekatkan diri kepada Allah, maka secara automatik anda akan diperlihatkan dan  dipersaksikan kepada kerajaan Tuhan yang amat luas. Maka perjalanan kedua  iaitu, barang siapa kenal Tuhannya maka dia akan kenal dirinya, adalah perjalanan yang lebih selamat. Sebab kalau kita kenal dengan pencipta-Nya, maka kita akan kenal dengan keadaan diri kita dan alam-alam di bawahnya, kerana semua berada dalam genggaman-Nya,  kerana Dia meliputi segala sesuatu, kerana Dia ada di mana saja kita ada,  dan Dia sangat dekat.

Islam mengajarkan di dalam mencari Tuhan, telah diberi jalan yang termudah dengan dalil barang siapa kenal Tuhannya maka dia akan kenal dirinya,  hal ini telah ditunjukkan oleh Allah bahawa Allah itu sangat dekat,  atau dengan dalil:  …barang siapa yang sungguh-sungguh datang kepada Kami, pasti  kami akan tunjukkan jalan-jalan Kami… (QS: Al ankabut: 69 )

“Wahai orang-orang yang beriman jika kamu bertakwa kepada Allah niscaya dia akan menjadikan bagimu furqan (pembeza).” (QS : Al Anfaal: 29)

Ayat-ayat ini membuktikan di dalam mendekatkan diri kepada Allah tidak perlu lagi melalui proses pencarian atau menelusuri jalan-jalan yang di temukan oleh kaum ahli spiritual di luar Islam,  kerana mereka di dalam perjalanannya harus melalui tahap-tahap alam-alam, Islam di dalam menemui Tuhannya harus mampu memfanakan alam-alam selain Allah dengan konsep:

 laa ilaha illallah:  tidak ada Tuhan kecuali Allah

laa syai’un illallah: tidak ada sesuatu (termasuk alam-alam) kecuali Allah

 laa haula wala quwwata illa billah:  tidak ada daya dan upaya kecuali kekuatan Allah semata .

Maka mulakanlah perjalan dengan  melangkahlah kepada yang paling dekat dari kita terlebih dahulu (Allah) bukan melangkah dari yang paling jauh dari diri kita (alam-alam).

Satu  lagi yang perlu diingat dalam perjalanan menuju Allah, jangan mengharapkan  sebarang karamah dan kemampuan luar biasa, seperti  boleh pergi ke Mekah dengan sekelip mata, atau boleh berjalan di atas air, ini semua adalah hijab yang akan menyekat dan menyesatkan salik daripada sampai kepada Allah.

Tetapi  keramat  yang paling bernilai  adalah dari serendah-rendah tempat atau dari sehina-hina diri salik dapat sampai ke tempat yang paling Tinggi atau  Diri yang paling mulia di sisi Allah.

Semoga bermanfaat.

@msa