Laman

Jumat, 19 September 2014

MAKRIFAT MENURUT SYEH ALBANJARI.

~~ Bismillahirrahmannirrahim.~~

Bag.1.

~~RISALAH MAKRIFAT: ~~

~~TAUHID DAN MAKRIFATULLAH.~~

Menurut Syeikh Ibnu Athaillah As-Sakandari,

siapapun yang merenung secara mendalam akan menyadari bahwa semua

makhluk sebenarnya menauhidkan Allah SWT lewat tarikan nafas yang halus.

Jika tidak, pasti mereka akan mendapat siksa.

Pada setiap zarah, mulai dari ukuran sub-atomis (kuantum) sampai atomis,

yang terdapat di alam semesta terdapat rahasia nama-nama Allah.

Dengan rahasia tersebut, semuanya memahami dan mengakui keesaan Allah.
Allah SWT telah berfirman,

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi,

baik dengan kemauan sendiri atau pun terpaksa

(dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari
(QS 13:15).

Jadi, semua makhluk mentauhidkan Allah dalam semua kedudukan sesuai dengan rububiyah Tuhan serta sesuai dengan bentuk-bentuk ubudiyah yang telah ditentukan dalam mengaktualisasikan tauhid mereka.

Lebih lanjut Syeikh

mengatakan bahwa sebagian ahli makrifat berpendapat bahwa orang yang bertasbih sebenarnya bertasbih dengan rahasia kedalaman hakikat kesucian pikirannya dalam wilayah keajaiban alam malakut dan kelembutan alam jabarut.

Sementara sang salik, bertasbih dengan dzikirnya dalam lautan qolbu.

Sang murid bertasbih dengan qolbunya dalam lautan pikiran.

Sang Pecinta bertasbih dengan ruhnya dalam lautan kerinduan.

Sang Arif bertasbih dengan sirr-nya dalam lautan alam gaib.

Dan orang shiddiq bertasbih dengan kedalaman sirr-nya dalam rahasia cahaya yang suci yang beredar di antara berbagai makna Asmaasma dan Sifat-sifat-Nya

disertai dengan keteguhan di dalam silih bergantinya waktu.

Dan dia yang hamba Allah bertasbih dalam lautan pemurnian dengan
kerahasian sirr-al-Asrar dengan memandang-Nya, dalam kebaqaan-Nya.

Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari membagi tauhid dalam konteks makrifatullah

menjadi empat samudera makrifat,

berikut ini uraian untuk setiap tahapan ma’rifat tauhid dengan intepretasi pribadi, iaitu :

• Tauhid Af’al

sebagai pengesaan terhadap Allah SWT dari segala macam perbuatan. Maka hanya dengan keyakinan dan penyaksian saja segala sesuatu yang terjadi di alam adalah berasal dari Allah SWT.

• Tauhid al-Asma

adalah pengesaan Allah SWT atas segala nama. Ketika yang mewujud dinamai, maka semua penamaan pada dasarnya dikembalikan kepada Allah SWT. Allah sebagai Isim A’dham yang Mahaagung adalah asal dari semua nama-nama baik yang khayal maupun bukan. Karena dengan nama yang Maha Agung “Allah” inilah, Allah memperkenalkan dirinya.

• Tauhid As Sifat,

adalah pengesaan Allah dari segala sifat. Dalam pengertian ini maka manusia dapat berada dalam maqam Tauhid as-Sifat dengan memandang dan memusyadahkan dengan mata hati dan dengan keyakinan bahwa segala sifat yang dapat melekat pada Dzat Allah, seperti Qudrah (Kuasa), Iradah (Kehendak), ‘Ilm (Mengetahui), Hayah (Hidup), Sama (mendengar), Basar (Melihat), dan Kalam (Berkata-kata) adalah benar sifat-sifat Allah. Sebab, hanya Allah lah yang mempunyai sifat-sifat tersebut. Segala sifat yang dilekatkan kepada makhluk harus dipahami secara metaforis, dan bukan dalam konteks sesungguhnya sebagai suatu pinjaman.

• Tauhid az-Dzat

berarti mengesakan Allah pada Dzat. Maqam Tauhid Az- Dzat menurut Syekh al-Banjari adalah

maqam tertinggi yang, karenanya, menjadi terminal terakhir dari memandangan dan musyahadah kaum arifin. Dalam konteks demikian, maka cara mengesakan Allah pada Dzat adalah dengan memandang dengan matakepala dan matahati bahwasanya tiada yang maujud di alam wujud ini melainkan Allah SWT Semata.

Bersambung....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar