Laman

Kamis, 15 September 2022

Sifat 20

 Sifat wajib Allah'SWT ada 20

1-wujud  Artinya (Ada)

2-Qidam Artinya (Terdahulu)

3-Baqa Artinya (Kekal)

4-Mukhalafatu lilhawaditsi Artinya (Berbeda Dengan makhluk)

5-Qiyamuhu Binafsihi Artinya (Berdiri Sendiri)

6-wahdaniyah Artinya (Maha Esa)

7-Qudrah Artinya (Maha Kuasa)

8-iradah Artinya (Berkehendak)

9-ilmu Artinya (Maha Tahu)

10-hayat Artinya (Maha hidup)

11-Sama' Artinya (Maha Mendengar)

12-Bashar Artinya (Maha melihat)

13-Kalam Artinya (Maha Berbicara & Berfirman)

14-Qaadiran Artinya (Maha Berkuasa)

15-Muridan Artinya (Maha menghendaki)

16-Aliman Artinya  (Maha Mengetahui)

17-Hayyan Artinya (Maha Menghidupkan)

18-Sami'an Artinya (Maha mendengar)

19-Bashiiran Artinya (Maha mengawasi)

20-Mutaklliman Artinya (Maha Berfirman)


Ada berapa kah Sifat mustahil bagi Allah itu?

jawabannya Ada 20 Sifat mustahil bagi Allah mari kita simak


1-Adam Artinya (Mustahil Allah tidak ada)

2-Huduts Artinya (Mustahil Allah Baru)

3-Fana Artinya (mustahil Allah musnah)

4-mumatsalahu lilhawaditsi Artinya (Mustahil Allah menyerupai makhluk 

5-itiyahaju ilaa ghairihi Artinya (mustahil Allah membutuhkan kepada lainnya 

6-Ta'addud Artinya (Mustahil Allah Terbilang)

7-Ajzun Artinya (Mustahil Allah lemah)

8-karahatun Artinya (Mustahil Allah terpaksa)

9-jahlun Artinya (Mustahil Allah Bodoh)

10-mautun Artinya (mustahil Allah mati)

11-Samamun Artinya (mustahil Allah tuli)

12-amaa Artinya (mustahil Allah buta)

13-Bukmun Artinya (Mustahil Allah bisu)

14-Aajizun Artinya (Mustahil Allah Lemah)

15-kaarihun Artinya (mustahil Allah terpaksa)

16-jaahilun Artinya (mustahil Allah Bodoh)

17-mayitun Artinya (Mustahil Allah yang mati)

18-Ashamman Artinya (Mustahil Allah yang tuli)

19-A'maa Artinya (mustahil Allah yang buta)

20-Abakmu Artinya (mustahil Allah yang bisu)

Sabtu, 03 September 2022

SELEPAS MATI YANG AKAN DITANYA KEPADA ROH

 9. SELEPAS MATI YANG AKAN DITANYA KEPADA ROH


Saat mati roh akan keluar daripada jasad. Maka jasad jadi kaku, mata jadi buta, telinga jadi pekak, lidah jadi bisu. Seketika, Allah akan kembalikan semula roh ke dalam jasad di alam barzakh. Maka roh akan ditanya tentang Tauhid & Makrifah.


➡️ Di alam kubur, SOALAN PERTAMA yang ditanya adalah TAUHID & MAKRIFAH terlebih dahulu.


"SIAPA TUHAN KAMU?"


Yang jawab bukan lafaz di mulut tetapi iktikad @ pegangan di dalam hati. Tidak ditanya tentang solat, puasa, sedekah & segala amal ibadah.

Jika kita tidak dapat jawab, roh akan di seksa di alam barzakh hingga yaumil qiamah & soalan-soalan lain tidak akan ditanya walau beribu-ribu amal ibadah yang dilakukan.

Jika boleh jawab maka roh akan di bawa ke langit yang pertama.


➡️ Sampai di LANGIT PERTAMA, roh akan ditanya di pintu langit pertama tentang MENGUMPAT samada ada @ tidak dosa mengumpat yang diharamkan syarak.

Jika ada, roh akan dihumban ke penjara barzakh & diseksa hingga yaumil qiamah. 

Jika tidak ada dosa mengumpat, sudah minta maaf & minta redha pada manusia yang diumpat serta bertaubat kepada Allah maka roh akan dibawa ke langit yang ke 2. 


➡️ Ditanya pula tentang HUBBUD DUNIA di LANGIT KEDUA samada ada @ tidak cinta dunia dalam ibadah. Mengajar ilmu kepada orang lain kerana mahukan keuntungan @ mengajar kerana mahu mengajak orang kepada Allah.

Jika ibadah semata-mata mencari redha Allah maka roh  akan dibawa ke langit ke 3.


➡️ Di LANGIT KETIGA akan ditanya tentang sifat TAKABBUR sepertimana iblis bersifat dengan Nabi Adam.


ADA 3 JENIS TAKABBUR :

▪️Membangga diri kerana merasa dirinya besar.

▪️Bercakap dengan merendah diri dalam keadaan hati merasa dirinya lebih baik dari orang lain.

▪️Bercakap dengan tidak menyebut kebaikan & keburukan diri tetapi di dalam hati merasa diri lebih baik dari orang lain.


Jika ada takabbur, roh akan diseksa hingga yaumil qiamah. 

Jika tidak ada takabbur maka roh akan dibawa ke langit ke 4.


➡️ Di LANGIT KEEMPAT di tanya pula tentang UJUB iaitu perasan diri lebih baik dari orang. Lebih kurang dengan takabbur. Ujub tidak membesarkan diri dalam perkataan tetapi dalam perasaan.

Merasa diri sudah selamat dari azab, merasa diri sudah banyak pahala amal & merasa diri sudah cukup ilmu.

Jika ada ujub, roh akan diseksa hingga yaumil qiamah. Jika tidak ada, roh akan dibawa ke langit ke 5.


➡️ Di LANGIT KELIMA akan ditanya tentang penyakit HASAD. Hasad ini memakan pahala-pahala amal.


HASAD TERBAHAGI KEPADA 2 :

▪️Hasad yang baik.

▪️Hasad yang jahat.


Jika punya hasad yang jahat, roh akan dihumban  & diseksa hingga yaumil qiamah. 

Jika tidak ada, roh akan dibawa ke langit ke 6.


➡️ Di LANGIT KE 6 roh akan ditanya tentang SILATURRAHIM iaitu kasih sayang sesama orang beriman.

Agama ini adalah Agama kasih sayang. Ada @ tidak kita berdendam dengan orang lain. Memaafkan itu lebih mudah. Jika maafkan & bertaubat, pahala yang lama Allah kembalikan semula, dosa itu pula Allah hapuskan.

Jika ada sifat kasih sayang & bersilaturrahim maka roh akan dibawa naik pula ke langit ke 7.


➡️ Di LANGIT KETUJUH roh akan ditanya tentang RIAK & SUM'AH.

Riak adalah beramal untuk menunjuk-nunjuk pada orang.

Sum'ah pula adalah mahu orang lain tahu bahawa dirinya beramal. Jika orang tidak tahu, dia yang akan beritahu.

Sembunyikan amal apabila buat sesuatu ibadah. Lupakan ibadah itu seolah-olah kita tidak pernah membuat apa-apa amal.


Riak & sum'ah menggugurkan pahala amal tetapi sah amalnya. Bermaksud beramal dalam riak & sum'ah itu sah tetapi berdosa kerana riak & sum'ah.

Jika bertaubat akan dapat semula pahala-pahala yang diriakkan & disum'ahkan itu. Jika tidak riak & sum'ah, barulah roh dapat naik ke langit ke 7 & dimasukkan ke tempat rehat.


Dari 1 langit ke 1 langit 500 tahun perjalanannya nisbah perjalanan dunia. Di alam sana masanya berbeza.


Apabila sudah naik ke tempat peraduan iaitu sampai di pintu tempat rehat, ada lagi 1 tempat pertanyaan.


➡️ Kata IMAM AL-GHAZALI, tempat terakhir sebelum masuk ke tempat rehat, akan disoal mengenai IKHLAS.


Ikhlas itu bermaksud tidak mengumpat, tidak hubbud dunia, tidak ujub, tidak takabbur, tidak hasad, hatinya ada kasih sayang sesama orang Islam, tidak ada riak & sum'ah. 

Ikhlas bukan lafaz di lidah. Ia seperti Iman.


Iman iaitu pengiktirafan Allah ke atas seseorang yang mengaku akan ketuhanan Allah. Jika benar apa yang ada dalam hati, barulah ia diiktiraf.


MAKSUD IKHLAS :


 قُل هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Ayat 1 : "Katakanlah olehmu ya Muhammad, Allah itu Esa"


اللَّهُ الصَّمَدُ

Ayat 2 : "Allah tempat tumpuan"


لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُو لَدۡ

Ayat 3 : "Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan"


وَلَمۡ يَكُنۡ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Ayat 4 : Dan Allah itu tidak ada yang menyerupainya oleh suatupun"


Ayat itu menceritakan tentang Tauhid & Makrifah. Bermakna jika tidak ada Tauhid & Makrifah maka tidak adalah keikhlasan.

Ia dinamakan surah Al-Ikhlas.


Maka wajib menuntut ilmu Tauhid & berjalan menuju Makrifatullah. Mudah-mudahan selamat pada 9 perhentian setelah kita mati.


Jika hilang 7 sifat-sifat mazmumah ini maka sampailah kepada Allah yang dinamakan ARIFBILLAH. Orang ini akan selamat sampai ke destinasi kerehatan di alam barzakh & akan dapat melihat isteri/suami, anak-anak & keturunannya di dunia.


Yang tidak selamat tidak akan dapat melihat kerana menanggung sakit di azab di alam barzakh. Lebih-lebih lagi jika meninggalkan anak-anak yang tidak pernah diajar tentang MAKRIFATULLAH. Itu yang lebih utama.


Menutup aurat tetapi tidak ada Aqidah. 

"OUT OF SERVICE".

Ini perbandingan antara orang yang ada Aqidah dengan orang yang tidak ada Aqidah.

Empat Kiblat

 Assalamu'alaikum wrwb, 

Bismillah, 


#Empat Kiblat. 

Kiblat tubuh = Syariat itulah Af'al Allah. 

Kiblat Hati = Thariqot itulah Asma Allah. 

Kiblat Nyawa = Hakekat itulah Sifat Allah. 

Kiblat Rahasia = Ma'rifat itulah Dzat Allah. 

Tubuh Muhammad itulah alam Insan yaitu Syariat. 

Hati Muhammad itulah alam Jisim yaitu Thariqat. 

Nyawa Muhammad itulah alam Mitsal yaitu Hakekat. 

Rahasia Muhammad itulah alam Ruh yaitu Ma'tifat. 

Dzat Allah bathin pd Muhammad rahasia pd kita. 

Sifat Allah awal pd Muhammad nyawa pd kita. 

Asma Allah akhir pd Muhammad hati pd kita. 

Af'al Allah lahir pd Muhammad tubuh pd kita. 


Rahasia Muhammad itulah kedzahiran lima sifat Allah yg berlafadz Laa yaitu Ada, Kekal, Dahulu, Berbeda dan Berdiri sendiri. 

Nyawa Muhammad itulah kedzahiran enam sifat Allah yg berlafadz Ilaha yaitu Mendengar, Melihat, Berfirman, Sempurna, Penyayang dan Berkehendak.

Hati Muhammad itulah kedzahiran empat sifat Allah yg berlafadz Illa yaitu Suci, Esa, Pemberi dan Penghalang. 

Tubuh Muhammad itulah kedzahiran lima sifat Allah yg berlafadz Allah yaitu Hidup, Kuasa, Mulia, Pencipta dan Mengetahui. 


Jadi kita yg lahir itu terbit daripada bayang2 kita yg bathin berhuruf dan berlafadz Allah mk untk mengenal diri kita yg bathin yaitu Antal Mautu Qablal Ta'mutu (matikan diri sebelum mati). Jika diri kita yg bathin sdh fana (lupa) mk nyatalah dlm diri kita yg bathin itu juga Muhammad yg mempunyai Tubuh, Hati, Nyawa dan Rahasia ~> Min adaami illa ujuudin wamin ujuudin illa adaamin artinya Dan tiada menjadi ada daripada ada kembali menjadi tiada.


Dzat Allah Nafsiah pd Muhammad Rahasia pd kita.

Sifat Allah Salbiah pd Muhammad Nyawa pd kita.

Asma Allah Ma'ani pd Muhammad Hati pd kita. 

Af'al Allah Ma'nawiyah pd Muhammad Tubuh pd kita. 

Adapun Muhammad itu adlh Hamba artinya Ilmunya Rahasianya oleh Allah Ta'ala karena Allah adlh nama bagi Dzat yg Wajibal Wujud dan mutlak yakni Bathin Muhammad.

Ta'ala adlh nama bagi sifat yakni Dzikir. 

Muhammad jadi Bathin dan Dzikir. 

Muhammad itulah yg bernama Allah Ta'ala. Adapun yg terkandung dlm empat sifat itulah, Nafsiah artinya Nyawa kpd kita.

Salbiah artinya kuku, kulit, daging, darah, urat, tulang dan sum sum.

Ma'ani artinya hati, jantung, limpah, paru2 dan empedu.

Ma'nawiyah artinya pendengaran, penglihatan, penciuman, pengrasa dan bersuara.

Dan apabila telah fana sifatnya Hamba mk nyatalah sifat Allah. Dan apabila telah fana sifat Allah mk nyatalah Allah mk disebut Fanaa fillahi wahda nul ujuudi laamaujuudillah.

#Wassalam

Senin, 04 April 2022

HAKEKAT DIRI

 Bismillahirohmannirrohim

Assalamualaikum 🙏

Dalam kitab ‘Sirr al-Asrar’ yang berisi kumpulan ajaran Syaikh Abdul Qadir al-Jilani didapati keterangan bahwa pada awalnya manusia dicipta oleh Allah SWT di alam lâhût (alam dimensi ketuhanan). Manusia awal itu adalah manusia yang masih berwujud ruh (jiwa) yang sangat murni, yang disebut rûh al-quds.


Ruh al-Quds dicipta langsung oleh Allah SWT dan didalamnya terkandung disain serta program-program (rencana-rencana) Allah, juga sifat-sifat Allah, yang sifatnya sangat misterius (sirri). Maka Ruh al-Quds disebut juga Sirr (rahasia).


Allah SWT adalah cahaya (QS an-Nûr 24). Ruh al-Quds yang dicipta langsung oleh Sang Cahaya pun mengandung cahaya yang sangat murni, yang memiliki tingkat radiasi sangat tinggi.


Dalam kitab itu juga dikatakan bahwa alam memiliki lapis-lapis dimensional yang berbeda:

Alam Lâhût, alam dimensi ketuhanan.

Alam Jabarût, alam ilmu, ketentuan, rencana dan takdir.

Alam Malakût, alam para malaikat, alam ruh, alam enerji.

Alam Mulki, alam fisik, alam nyata.


Ketika Rûh al-Quds akan diturunkan dari alam lâhût ke alam jabarût ia dibalut lebih dulu dengan lapisan Ruh as-Shulthâny. Sebab kalau tidak, radiasi cahaya Ruh al-Quds yang sangat murni dan teramat kuat itu akan membakar semua yang ada di alam jabarut. Ruh as-Sulthany adalah mantel (hijâb) bagi Ruh al-Quds. Ruh as-Shulthany disebut juga dengan Fuâd.


Lalu Ruh al-Quds (Sirr) yang sudah dibalut dengan Ruh as-Sulthany (Fu’ad) diturunkan ke alam level-3, yaitu alam malakût. Namun alam malakut lebih materialized daripada alam-alam sebelumnya, dan apa yang ada di dalamnya akan mudah terbakar oleh radiasi cahaya Ruh al-Quds meskipun sudah dibalut dengan Ruh as-Sulthany. Oleh sebab itu sebelum diturunkan ke alam malakut, Ruh al-Quds yang sudah dengan Ruh as-Sulthany, dibalut lagi dengan Rûh ar-Rûhâny. Ruh lapis ketiga ini disebut juga Qalbu.


Selanjutnya Ruh al-Quds (Sirr), yang sudah dibalut dengan Ruh as-Sulthany (Fuad) dan Ruh ar-Ruhaniyah (Qalbu), diturunkan lagi ke alam level-4 yaitu alam mulki. Inilah alam kosmik yang sekarang dapat kita lihat secara visual dengan mata kepala kita. Alam kosmik wujudnya sangat lahiriah dan dapat dikenali secara empirik (terukur). Namun radiasi cahaya Ruh al-Quds, meski sudah dibalut dengan dua lapis ruh lainnya, masih terlalu tinggi bagi alam ini. Apa yang ada di alam mulki dapat terbakar oleh radiasi cahaya Ruh al-Quds. Untuk itu, sebelum diturunkan ke alam mulki, Ruh al-Quds dibalut lagi dengan lapis ke-3 yaitu Rûh al-Jismâny yang untuk mudahnya sering disebut dengan Rûh saja. Untuk lebih jelasnya lihatlah tabel berikut ini.

AlamRûh(Nafs)

Lâhût Rûh al-Quds Sirr

Jabarût Rûh as-Sulthany Fu’ad

Malakût Rûh ar-Rûhâny Qalbu

Mulki Rûh al-Jismâny Rûh


Diri (nafs) kita yang hakiki dalah diri yang berwujud ruh (jiwa). Tubuh biologis kita hanyalah cangkang atau wadah bagi diri kita yang sesungghnya, yaitu ruh. Di dalam rûh ada qalbu, di dalam qalbu ada fuâd dan di dalam fuad ada sirr. Sirr adalah rahasia. Sirr berisi rahasia-rahasia Allah untuk orang itu berupa sifat-sifat Allah, rencana dan takdir Allah. Sirr terhubung langsung dengan Allah SWT.


Dikenal pula istilah lubb yang jamaknya albâb. Surat Ali Imran ayat 130* menyebut Uli al-Albâb sebagai individu yang selalu berdzikir, berfikir, dan beribadah. Apa arti lubb? Kalau kita menebang sebatang pohon, lalu kita perhatikan penampang potongannya, akan terlihat di bagian tengah dari batang pohon itu ada bagian yang berwarna kecoklatan. Itulah inti dari batang pohon tersebut. Arab menyebutnya lubb.


Qalbu adalah lubb bagi ruh. Intinya ruh adalah qalbu, intinya qalbu adalah fu’ad, dan intinya fuad adalah sirr. Sirr adalah inti dari segala inti, yang mengandung rahasia dari segala rahasia, sehingga disebut Sirr al-Asrar (secret of the secrets). Namun untuk tahap permulaan mempelajari tashawuf cukuplah orang memahami ruh dan intinya saja, yaitu qalbu.


Mudah-mudahan Allah Subhaanahu Wata’aala memberikan taufiq pada kita semua untuk istiqamah dalam agama yang telah dibawa Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam


FITHRAH: Potensi Dasar Spiritualitas Manusia


Spiritualitas manusia berpusat pada qalbu, dan di dalam qalbu manusia sudah ada potensi-potensi spiritual yang merupakan format dasar kemanusiaan. Maka kalau saja manusia selalu mengikuti suara qalbunya, itu pun sudah cukup menyelamatkan diri dan kehidupannya.


Bukankah Rasulullah SAW berpesan kepada Wabishah: ‘istafti nafsaka (qalbak)!’ -


“Wahai Wabishah, mintalah fatwa pada dirimu (qalbumu) sendiri; suatu kebajikan adalah apa yang menenteramkan qalbumu, dan engkaupun tenteram dengannya. Suatu kejahatan adalah apa yang menggelisahkan qalbumu, dan mengguncang dirimu, meskipun orang lain sudah membenarkanmu”.


Masalahnya sekarang adalah qalbu manusia sering lengah dan lalai sehingga mudah terdorong sesat ketika dipengaruhi oleh gejolak hawa nafsu dan terseret oleh godaan iblis/setan. Untuk itulah Allah SWT menurunkan para rasul dengan membawa ajaran agama sebagai pengingat bagi yang lengah, petunjuk bagi yang bingung, penegas bagi yang ragu. Sumber ilmu (informasi) keagamaan adalah kitab suci, tapi faktor utama dalam proses keberagamaan adalah qalbu. Dalam proses hidup beragama kitab suci adalah faktor sekunder. Al-Qur’an pun banyak mengarahkan manusia untuk selalu mendengarkan suara qalbunya.


Hakikat Diri dan Inti Kemanusiaan


Hakekat diri manusia adalah diri yang ruhaniah/spiritual yang sudah tercipta sebelum adanya tubuh biologis (basyar). Ketika manusia masih dalam wujud ruh di alam lahut, ruh merupakan wujud pertama manusia dalam proses penciptaannya sebelum diturunkan ke bumi dan dimasukkan ke dalam tubuh jismaniah (basyar). Allah mempersiapkan basyar (tubuh biologis kebinatangan) hanya sebagai cangkang/wadah bagi si manusia ruhaniah itu.


Inti ruh yang menjadi pusat diri manusia adalah qalbu. Di dalam Bahasa Arab dikenal ada 2 macam qalbu; qalbu jismaniah berupa gumpalan daging yaitu jantung, dan qalbu ruhaniah yang dalam Bahasa Indonesia disebut hati nurani. Di dalam qalbu ruhaniah inilah terletak fithrah (sifat-sifat asli dari Tuhan) berupa kesadaran, perasaan, kecerdasan, iman dan iradah. Jadi, sejak diturunkan dari sisi Allah, si manusia ruhaniah itu qalbunya tidak kosong. Karena di dalam qalbu itu Allah SWT sudah menempatkan potensi-potensi dasar spiritual (fithrah), bibit iman, moralitas, ilmu dan kemerdekaan.


Asal kata Fithrah dan artinya


Apa arti kata fithrah? Sudah menjadi tradisi bahwa setiap tahun, menjelang Hari Raya Idul Fithri kita membayar Zakat Fithrah. Di sini jelas ada 2 kata yang populer yaitu fithri dan fithrah. Kedua kata itu bersumber dari dari satu akar kata yang sama yakni fathara yang mempunyai 2 makna:


* to break out = memecah, membelah; seperti kuncup bunga yang memecah/mekar.

* to originate = muncul, memunculkan.


1. Fathara dalam arti memecah –> fithrun.Fithrun sebagai mudhof ilayh dibaca fithri (lihat idul fithri). Dalam bahasa sehari-hari disebut juga futhur/ifthor, artinya memecah kepuasaan. Contohnya, di malam hari, karena tidur orang bagaikan berpuasa, tidak makan. Maka di pagi hari, makan yang pertama adalah makan yang memecah kepuasaannya. Itu sebabnya ia disebut futhur/ifthar yang artinya makan yang memecah kepuasaan (to break the fast) yang menjadi populer dengan breakfast. Maka idul fithri adalah hari raya memecah (mengakhiri) puasa. Media-media Arab berbahasa Inggris, seperti Arab News dan lain-lain, menyebut Idul Fithri dengan “Fast Breaking Festive”, festival mengakhiri puasa.


Zakatul Fithri atau Shadaqatul Fithri artinya adalah zakat/shadaqah yang harus dibayarkan pada saat orang melaksanakan futhur atau mengakhiri puasa. Hal ini berkaitan dengan hadist Nabi SAW, “Puasa seseorang akan tetap terkatung-katung antara bumi dan langit, belum diterima oleh Allah, sebelum dibayarkan zakatul fithri/shadaqatul fithri”. Di negara tetangga kita seperti Singapura dan Malaysia orang pun menyebutnya zakatul fithri/shadaqah fithri, tapi di Indonesia istilah ini lebih dikenal zakat fithrah.


2. Fathara dalam makna yang kedua: “mencipta pertama kali”Terdapat perbedaan antara khalaqa dengan fathara.Khalaqa (to create): mengadakan sesuatu dari bahan material yang memang sudah ada. Contoh: di alam sudah ada tanah liat, dari tanah liat orang mencipta cangkir porselin. Penciptaan adalah pengadaan sesuatu dari bahan yang memang sudah ada sebelumnya.Fathara (to originate): mengadakan sesuatu dari belum adanya sama sekali. Karena itu fathara lebih dahsyat dari khalaqa, karena mengadakan sesuatu dari belum adanya sama sekali. Di dalam Al-Qurâ’an pun istilah fathara hanya dipergunakan untuk Allah. Misalnya: fatharas samawati wal ardh…


Dari kata fathara yang bermakna to originate itulah terbentuk istilah fithrah (originality). Originality adalah ciri, sifat atau karakter original. Ciri atau sifat sejak sesuatu itu origin, dimunculkan untuk pertama kalinya. Fithrah adalah sifat/karakter yang mengiringi sesuatu sejak penciptaannya pertama kali.


FITHRAH: Sifat-sifat Ketuhanan


Allah SWT berfirman surat Ar-Ruum ayat 30.


“…Fithratallah allatii fatharannaasa ‘alayhaa…”…


Fithrah Allah, yang Dia mencipta manusia berdasarkan fithrah itu. (QS. Ar-Ruum, 30:30)


Bayangkan, Allah mencipta manusia dengan sifat-sifat Allah, karena itulah ketika manusia itu terlahir dalam hadist Nabi dijelaskan:


Maa min mauluudin Illaa yuu ladu ‘alalfithrah


tidak satu pun bayi terlahir kecuali ia di lahirkan berdasarkan FITHRAH


Dan dalam hadist lain yang sangat indah dan sangat populer dikalangan dunia tasawuf:


“Takhallaquu biakhlaqillah”


Berahlaklah kalian dengan ahlak Allah


Bertingkahlah kalian dengan tingkah ke-Allah-an, jadilah kamu ‘seperti’ Allah karena manusia adalah cermin Allah. Karena manusia dihadirkan ke bumi untuk menjadi khalifatullah atau wakil Allah, dan di dalam qalbunya sudah diisikan sifat-sifat Allah, maka hendaknya manusia bertingkah dengan tingkah ke-Allah-an, dengan mewujudkan karakter ke-Allah-an.


FITHRAH: Iman


Cermati sejarah pencarian Tuhan oleh Nabi Ibrahim AS dalam surat Al-Anbiya’: 51-83 dan surat Al-An’am: 74-79.


“Sesungguhnya bibit iman telah turun di pusat qalbu setiap orang..”


Juga dalam surat Al-A`raf ayat 172:


“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.


Allah memberikan bibit Iman, naluri ber-Tuhan yang menggelisahkan orang untuk selalu tertarik, mencari, meneliti, menjelajah, mencoba mengenali Tuhannya. Karena itu di dalam semua budaya, semua bangsa, semua orang tahu akan adanya Tuhan, adanya dia yang misterius itu. Lalu manusia-manusia itu memberi nama / istilah-istilah kepada apa yang disebut Tuhan. Maka muncullah ‘Tuhan’ dengan berbagai bahasa.


FITHRAH: Moralitas, Ilmu dan Kemerdekaan


Moralitas


“Demi diri (manusia) dengan segala kesempurnaannya, lalu Tuhan mengilhamkannya tentang kejahatan dan ketaqwaan.” (QS. Asy-Syams, 91:7-8)


Ilmu dan Kemerdekaan


“…Dia mengilmui Adam dengan nama-nama segalanya…”,(QS. Al-Baqarah, 2:31-34)


“Tinggallah engkau & isterimu di dalam kebun ini dan makanlah segala yang tersedia berlimpah, yang mana saja yang kamu kehendaki…”,(QS. Al-Baqarah, 2:35-38)


Artinya sejak saat itu kepada Adam diberikan masyi’ah / kebebasan berkehendak. You are free to make your own choice, kamu bebas menentukan kehendakmu sendiri.


Seberapa besar kebebasan yang Allah berikan kepada Adam? Kebebasan yang sebebas-bebasnya


Apakah kebebasan itu hanya untuk Adam dan Hawa saja? Sepanjang di dalam kebun itu saja?


Tidak, kebebasan yang Allah berikan adalah kebebasan yang seluas-luasnya, sedemikian luas sampai-sampai seluruh manusia di muka bumi ini bebas bahkan untuk membangkang Allah sekali pun.


“Kalau saja Tuhanmu menghendaki, Dia bisa membuat semua yang ada dimuka bumi beriman kepada Dia…”,(QS. Yunus, 10:99)


“Tidak ada paksaan untuk dalam beragama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus…”,(QS. Al-Baqarah, 2:256)


Muncul pertanyaan, mengapa Allah memberikan kebebasan yang begitu luas kepada manusia sampai-sampai manusia bebas untuk membangkang kepada Allah sehingga manusia berbuat jahat dimuka bumi?


Sebagai wakil Allah yang akan memimpin kehidupan di muka bumi, manusia akan banyak menghadapi problem. Supaya bisa menyelesaikan problem-problem itu maka manusia haruslah merupakan makhluk yang kreatif. Maka supaya bisa kreatif itulah Allah berikan ilmu dan kebebasan karena ilmu dan kebebasan adalah dua bahan baku untuk munculnya kreatifitas.


Kreatifitas, yang berangkat dari ilmu pengetahuan dan kemerdekaan, adalah salah satu dari hal-hal yang paling awal Allah berikan kepada manusia. Dengan ilmu manusia akan menjadi cerdas dan banyak tahu, dan dipadu dengan kemerdekaan kecerdasan berubah menjadi daya cipta yang dahsyat yang menyebabkan peradaban manusia berkembang progressif.


Yang Merusak Fithrah Manusia


1. Hawa Nafsu

2. Iblis


“Wahai Adam, maukah engkau kutunjukkan pada Pohon Keabadian (Status Quo) dan Kejayaan Tanpa Batas (Keserakahan).”(At-Thaahaa, 20:120)


Iblis menyusup ke kebun kelimpahruahan (jannah) dan mengiming-imingi Adam (manusia pertama di bumi) dengan janji Keabadian dan Kejayaan Tanpa Batas dengan cara memakan buah Pohon Terlarang. Rupanya Adam tergiur untuk mendapatkan keabadian dan kejayaan tanpa batas, maka Adam pun memakan buah pohon terlarang itu. Lalu apa yang terjadi?


“…maka nampaklah ‘kemaluan’ mereka berdua, dan keduanya mencari-cari alat untuk menutupinya dengan dedaunan di kebun; Adam telah membelakangi Tuhannya dan sesatlah ia.” (At-Thaahaa, 20:121)


Ketika manusia memperturutkan hasrat keabadian dan keserakahannya maka akan nampaklah segala hal yang memalukan dari dirinya, terkuaklah segala aib yang menghinakannya. Manusia menjadi telanjang dan pakaiannya rontok. Pakaian adalah simbol keberadaban, simbol martabat dan status sosial, yang tiada lagi berguna ketika manusia memperturutkan hasrat keabadian dan keserakahan dengan mengabaikan fithrahnya.


Ketika Allah SWT melarang Adam untuk mendekati pohon terlarang itu bukan karena Allah takut akan tersaingi keabadian dan kejayaanNya, tetapi Allah, dengan teknik learning by doing, sedang memberi pelatihan kepada Adam tentang:


1. Suatu kebebasan bukanlah tanpa batas, harus dikendalikan.

2. Titik lemah manusia adalah hasrat keabadian & keserakahan.

3. Iblis adalah musuh yang nyata.


Adam bertaubat dan memohon ampun, Allah menerima taubat dan mengampuni Adam. Lalu Adam dikeluarkan dari “kebun pelatihan” untuk turun ke bumi relitas untuk menjalani missinya sebagai hamba Allah sekaligus khalifah Allah.


Kesimpulan

Apa saja potensi spiritual (fithrah) yang Allah berikan kepada manusia? Sifat-sifat Allah, Bibit Iman, Moralitas, Ilmu dan Kemerdekaan.

Dimana Allah menempatkan fithrah itu?

Pada qalbu manusia, pusat spiritualitas manusia (hati nurani). Sejak awalnya qalbu manusia tidak pernah kosong.

Apa fungsi fithrah bagi manusia? Sebagai format (image) ketuhanan.

“Sesungguhnya Allah mencipta Adam berdasarkan citra-Nya / image-Nya”(Hadist Qudsi)


Apa yang merusak Fithrah?

Hawa Nafsu dan Iblis.

Hawa nafsu berupa:

Hawa nafsu berupa:

Syahwat perut;

Syahwat kemaluan;

Syahwat kalam;

Syahwat tidur.


Semoga bermanfaat 

Minggu, 27 Februari 2022

SEBELUM MELAKUKAN DZIKIR LATIFAH

--JANGANLAH KAMU SEKALIAN MEMPERBANYAK BICARA SELAIN BERZIKIR KEPADA ALLAH, , MEMPERBANYAK PERKATAAN TANPA ZIKIR KEPADA ALLAH AKAN MENGERASKAN HATI, DAN SEJAUH JAUH MANUSIA ADALAH YANG HATINYA KERAS." (HR. TIRMIDZI).


---ALLAH SWT BERFIRMAN:

"Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya,"

(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 41)


---ALLAH SWT BERFIRMAN:

"dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang."

(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 42)


---ALLAH SWT BERFIRMAN:

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."

(QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 28)


---ALLAH SWT BERFIRMAN:

"Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun."

(QS. Al-Isra' 17: Ayat 44)


-- Didalam dzikirmu engkau harus mengenal Allah, janganlah sebatas mengenal dari ilmu" kalam yg engkau pelajari, harus dgn Rahasia Qalbu mu yg terdalam.


-- Ibadah itu harus dibangun atas dasar tauhid dan takwa, tetapi harus berada dalam maqam ikhlas.


-- Jika engkau tidak mengenal Allah melalui Rahasia Qalbu mu, maka dzikirmu itu akan bertindak atas kemauan nafsumu.


-- Janganlah engkau beranggap dzikirmu itu engkau yg berdzikir, tetapi dzikirmu itulah yg mengingat Allah,  serahkanlah dzikirmu itu pada-Nya, sebab engkau adalah fakir, membutuhkan sifat tawakkal dan keridhaan Allah SWT.


-- Sebenarnya dzikirmu itu adalah Allah yg berdzikir, bukan kemauanmu melainkan Allah yg berkehendak berdzikir dan memuji Diri-Nya.


-- Kita hanyalah alat penzahiran yg diadakan sifatnya semata".

Suaramu yg engkau lantunkan melalui lisanmu itu hanyalah alat, tetapi suaramu itu hakikatnya adalah suara Allah. Lisanmu hanya sekedar bergerak dalam berdzikir. Sedangkan Qalbumu itulah Berdzikir hakiki yg takluk kepada sifat kalamnya Allah. 


-- Berdzikirlah yg sebenar dzikir yaitu karena Allah, bersama Allah dan untuk Allah.


-- Biarkan Allah saja yg tahu dzikir itu berada didalam " sirr mu " yakni di kamar yg Jibril sendiripun dilarang memasukinya


-- Dengan mendapatkan Nur Qalbu, maka manusia tersebut akan mendapatkan hidayah dari Allah SWT. 

Seperti Sabda Rasulullah SAW :

KALBU MUKMININ BAITULLAH 

"Sesungguhnya hati orang mukmin itu adalah istana Allah" 


-- Hakekat dari pada DZIKIR pada pandangan Syareat adalah Mengingati Allah SWT. dengan melafazkan ASMA Allah SWT. yaitu apa yang ada dibibir sama dengan yang ada didalam hati.


-- Adapun penafsiran ZIKIR pada pandangan Tasawuf boleh ditafsirkan bahwa  "Zikir adalah satu seruan kepada semua anggota Zahir dengan tujuan untuk membersihkan hati 


1.NAFAS itu letaknya di mulut. 

Nafas kita normal keluar masuk sehari semalam sebanyak 24.000x yaitu pada siang 12.000x dan pada malam 12.000x karena inilah jumlah jam sehari semalam 24 jam, pada siang 12 jam dan malam 12 jam.


---Astagfirullah hal azim 33× allaji laailahailla huwal hayyul kayyum wa'atubu ilaih

---ashadu an lailahaillallah wa ashadu ana muhamaddarasullullah

---lailahaillaillah muhamadur rasullullah

---allahuma shalli ala sayyidina muhamad wa ala ali sayyidina muhamad SLAWAT 33X

---SURAT FATIHAH

---SURAT AL-IKHLAS 3X

---SURAT AL-FALAQ

---SURAT AN-NAS


---ALLAH SWT BERFIRMAN:

"Sebenarnya, (Al-Qur'an) itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu. Hanya orang-orang yang zalim yang mengingkari ayat-ayat Kami."

(QS. Al-'Ankabut 29: Ayat 49)


---ALLAH SWT BERFIRMAN :

"dan datanglah Tuhanmu; dan malaikat berbaris-baris,"

(QS. Al-Fajr 89: Ayat 22)


---LALU DZIKIR : (ALLAH,ALLAH,ALLAH)50 RIBU KALI

Dzikir sebanyak-banyaknya selenyap-lenyapnya sekaram-karamnya leburkan diri dlm dzikrullah


---NAFAS,AMPAS,TANAFAS,NUFUS

1.Nafas itu letak keluar masuknya di mulut

2.Ampas letak keluar masuknya di hidung

3.Tanafas letaknya di tengah-tengah di antara telinga kanan dan kiri

4.Nufus letaknya di jantung


 ---KEKOSONGAN DIRI

1.tazkiyah an nafs atau pensucian jiwa, artinya mensucikan diri dari berbagai kecenderungan buruk, tercela, dan hewani serta menghiasinya dengan sifat sifat terpuji dan malakuti.


2. tashfiyah al qalb, pensucian kalbu. Ini berarti menghapus dari hati kecintaan akan kenikmatan duniawi yang sifatnya sementara dan kekhawatirannya atas kesedihan, serta memantapkan dalam tempatnya kecintaan kepada Allah semata.


3. takhalliyah as Sirr atau pengosongan jiwa dari segenap pikiran yang bakal mengalihkan perhatian dari dzikir atau ingat kepada Allah.


4. tajalliyah ar Ruh atau pencerahan ruh, berarti mengisi ruh dengan cahaya Allah dan gelora cintanya.


---Kenali dirimu dengan merenungkan kedalam dirimu niscaya engkau akan mengenali Tuhanmu tanpa huruf,suara,tanpa dalil dan perantaraan. Galilah rahasia alam dirimu sendiri sehingga berjumpa dengan air dari alam Malakut,alam Jabarut dan akhirnya Lahut, niscaya kamu akan dapat menyaksikan kembali bagaimana dirimu berhimpun dan bertasbih di alam Lahut serta menyaksikan bagaimana dirimu bersaksi akan diri KeTuhanan


---Sesiapa yang sampai memasuki dimensi atau kealam ruhani, ia mengambil ilmunya terus dari Allah tanpa perantaraan iaitu ilmu laduni.Di alam ini, ia beribadah dari Allah, dengan Allah dan untuk Allah.Pandangannya senantiasa melihat pada dua alam, melihat diriNya di alam zahir iaitu Af’al,Sifat dan Asma, bermusyahadah dengan ZatNya di alam lahut.Adakala mereka itu fana (lebur) penglihatan di alam ini ketika mentajallikan rahasiaNya sehingga tiada yang dilihat melainkan Allah swt.

RASA ITU ILMU SUFI

Assalamualaikum

*Baca pelan-pelan dengan ketenangan, "karena bukan ilmu yang men-'jadi', melainkan kesadaran yang men-'jadi


RASA   -   

           itu tiada berjasad kerana rasa tidak bisa didefinisikan begini atau begitu. Kita hanya bisa menyebut "manis" tanpa bisa mendefinisikan apa itu "manis". 


          Itulah sebabnya rasa itu dikatakan tidak berjasad, tetapi nyata adanya.


RASA.  -    

          yang tiada berjasad itulah perwujudan roh pada kita. 


          Kalau dibalik , sebenarnya oleh sebab keberadaan roh pada jasad kitalah makanya kita bisa merasa.


          Kalaupun mau dikatakan berjasad, roh kita itu jasad qadim, sedangkan tubuh kita itu jasad baharu / muhaddas. 


Apa buktinya RASA itu perwujudan ROH ? 


          Buktinya, rasa dan roh sama-sama tidak bisa didefinisikan begini atau begitu. 


          Kita tidak bisa menyebutkan :


- bentuk roh kita itu begini-begitu;

- warna roh kita itu apa;

- aroma roh kita itu bagaimana;

- roh kita itu lembut atau kasar;

- bagian-bagian dari roh kita itu apa saja;

- roh kita itu pada jasad bertempat di mana.


          Itulah bukti bahwa roh itu hakikat diri pribadi kita yang tidak bisa disebut, tetapi nyata adanya [Q.S. Al-Insān [76]:1].


RASA.  -    

          yang tiada berjasad itulah perwujudan roh pada kita. 


          Kalau dibalik , sebenarnya oleh sebab keberadaan roh pada jasad kitalah makanya kita bisa merasa.


          Oleh sebab adanya roh-lah jasad ini bisa melihat, mendengar, berkata-kata, bergerak, dsb. 


          Dengan kesadaran ini, jadi siapa sebenarnya yang Solat ketika Anda solat ? 

         

                    " Tentu Roh-lah yang Solat  " 


                   -  Nama lain Roh ialah Zat Allâh.  -


   Jadi ,  siapa sebenarnya yang solat ketika Anda solat ? 


               " Tentu Roh / Zat Allâh-lah yang Solat. "


Nama lain Roh kita juga ialah :

Nūr Ilahi atau 

Cahaya Tuhan. 


Jadi ,  siapa sebenarnya yang Solat ketika Anda solat ? 


                 " Tentu Nūr Ilahi-lah yang solat  "


          Zat Allâh itu bukan Allâh ﷻ. Sebagaimana Nūr Ilahi itu bukan Ilahi atau sebagaimana Cahaya Tuhan itu bukan Tuhan. 


Tapiii....

          Zat Allâh itu esa dengan Allâh ﷻ. Sebagaimana Nūr Ilahi itu esa dengan Ilahi atau 

          sebagaimana Cahaya Tuhan itu esa dengan Tuhan ,  Sang Pemilik Cahaya.


                     ■ Untuk mendekatkan fahaman :


          Matahari dengan sinarnya itu esa sebab tidak ada beda ruang kosong yang meng-antara-i matahari dengan sinarnya.


          Tubuh kita ini esa dengan roh kita.

          Roh kita esa dengan Allâh ﷻ.


          Jadi ,  jasmani-rohani kita ini esa dengan Allâh ﷻ  kapan pun ,  di mana pun ,  ketika melakukan apa pun.

°°°°°°°°°°°°°°°°°

          Sebelum ini kita mengira jasad inilah yang bertakbir-ruku'-sujud ,  padahal Rasa-lah yang sebenarnya bertakbir-ruku'-sujud.


          Sebelum ini kita mengira jasad inilah yang bertakbir-ruku'-sujud ,  padahal Roh-lah yang sebenarnya bertakbir-ruku'-sujud.


          Sebelum ini kita mengira jasad inilah yang bertakbir-ruku'-sujud ,  padahal Nūr Ilahi-lah yang sebenarnya bertakbir-ruku'-sujud.


          Sebelum ini kita mengira jasad inilah yang bertakbir-ruku'-sujud ,  padahal Zat Allâh-lah yang sebenarnya bertakbir-ruku'-sujud.


          Sekarang kita sadar bahawa yang bertakbir-ruku'-sujud itu Rasa / Roh /Nur Ilahi / Zat Allâh yang esa dengan Allâh ﷻ.


          Drp kesadaran inilah mudah-mudahan kita dikaruniai Allâh ﷻ  mengalami sendiri rasanya hadis qudsy ini  (Āmīn): 


              "Kif yā Muḥammad, Ana Rabbuka Uṣolli." 


          Pembicaraan ini erat kaitannya dengan pelajaran "Sifat 20 Zat Allâh" yang disampaikan para `Arif billah dan Muwwahid (ulama ahli tauhid) terdahulu.


          Jadi ,  jangan salah faham. Pelajaran "Sifat 20" bukanlah ajaran yang mengarahkan agar hamba merasa sama dengan Allâh ﷻ atau hamba bisa jadi Allâh ﷻ. 


          Pelajaran "Sifat 20 Zat Allâh" ialah jalan pemahaman agar kita menyadari dan merasakan keberadaan kita ini senantiasa kekal beserta Allâh ﷻ  di dalam dan di luar ibadah, bahkan dalam sakaratul maut. 


          Inilah Ilmu Sedikit untuk Segala-galanya: 

Dasar-Dasar Tauhid Hakiki - Jalan selamat dunia-akhirat.

Matikan dirimu sebelum engkau mati”

Disini bukan bermaksud mati gantung diri di pohon cili atau pohon terong ,.tetapi yang sy maksudkan adalh:

“MATI YANG PERTAMA” = seolah-olah bercerai Roh dari Jasad..,

tiada daya upaya walau sedikitpun jua, hanya Allah jua yang berkuasa,

kemudian.. dimusyahadahkan didalam hati dengan menyaksikan kebesaranNya yaitu sifat Jalal dan JamalNya dan kesucianNya.

Maka mati diri sebelum mati itu adalah dengan memulangkan segala amanah Allah yaitu Tubuh Jasad ini kepada yang menanggung amanah yaitu Rohaniah jua.

_____________________________________

Tarik-lah ‘NAFAS’ itu dengan hakekat memulangkan dzat, sifat, afaal kita kepada Dzat, Sifat, Afaal Allah yang berarti memulangkan segala wujud kita yang zahir kepada wujud kita yang bathin (Roh). Dan pulangkan wujud Roh pada hakekatnya kepada Wujud Yang Qadim,Maka..Setelah sempurna “Mematikan diri yang pertama” …

_____________________________________

“MATI YANG KEDUA” = melakukan “Mi’raj” yang dinamakan mati maknawi, yaitu hilang segala sesuatu didalam hatimu malainkan hanya berhadap pada Allah jua.

Dengan meletakkan nafas kita melalui alam ‘AMFAS’ yaitu antara dua kening (Kaf Kawthar) merasa penuh limpahan dalam alam kudus kita yaitu dalam kepala kita hingga hilang segala ingatan pada yang lain melainkan hanya hatimu berhadap pada Allah jua.

_____________________________________

“MATI PADA PERINGKAT KETIGA” = adalah mati segala usaha ikhtiar dan daya upaya diri karena diri kita ini tidak dapat melakukan sesuatu dengan kekuatan sendiri. sebab manusia itu sebenarnya memiliki sifat ‘Fakir, dan Dhaif (lemah) ’.

Dinaikkan ‘TANAFAS’ hingga ditempatkannya dengan sempurna di ‘NUFUS’ dengan melihat pada mata hati itu dari Allah, dengan Allah dan untuk Allah.

_____________________________________

Dari Allah mengerakkan Rohaniah,

Dari Rohaniah menggerakkan Al-Hayat

Dari Al-hayat mengerakkan Nafas,

Dari Nafas mengerakkan Jasad

dan pada hakekatnya.. Allah jualah yang mengerakkan sekalian yang ada.

_____________________________________

Demikian hal-nya seperti huruf “Laa Ilaaha Illallah, Muhammadur Rasulullah”,

_____________________________________

masing-masing mempunyai 12 huruf berjumlah 24 huruf semuanya.

Barang siapa “mengucap” dengan sempurna yang 7 kalimah itu niscaya ditutupkan Allah Ta’ala Pintu Neraka yang 7. Juga barang siapa “mengucap” yang 24 huruf ini dengan sempurna niscaya diampuni Allah Ta’ala yang 24 jam.

Inilah bentuk persembahnya kita kepada Tuhan kita yang tiada henti yang dinamakan Sholatul Da’im (sekaligus melakukan puasa nafsu zahir dan batinnya).

_____________________________________

Sabda Nabi S.A.W :

“Ana Min Nuurillah Wal ‘Aalami Nuurii”

artinya “Aku dari Cahaya Allah dan sekalian alam dari Cahaya-ku”

_____________________________________

Sebab itulah dikatakan “Ahmadun Nuurul Arwah”

artinya “Muhammad itu bapak dari sekalian nyawa”

Dan dikatakan “Adam Abu Basyar”

artinya “Adam bapak sekalian tubuh”.

_____________________________________

Adapun Awal Muhammad Nurani

Adapun Akhir Muhammad Rohani.

Adapun Zahir Muhammad Insani

Adapun Batin Muhammad Robbani.

_____________________________________

Adapun Awal Muhammad Nyawa kita

Adapun Akhir Muhammad Rupa kepada kita,

Adapun yang bernama Allah Sifatnya,

Adapun sebenar-benar Allah itu Zat Wajibal Wujud,

Adapun yang sebenar-benar Insan yaitu manusia yang tahu berkata-kata adanya.

_____________________________________

cara untuk mencapai martabat atau maqam sholat da’im..

Sholat Da’im boleh ditakrifkan sebagai sholat yang terus-menerus tanpa putus walaupun sesaat dalam masa hidupnya yaitu penyaksian diri sendiri (diri batin dan diri zahir) pada setiap saat seperti firman Allah yg artinya :

” YANG MEREKA ITU TETAP MENGERJAKAN SHOLAT” ( Al-Makrij-23).

_____________________________________

Di dalam sholat tugas kita adalah menumpuhkan sepenuh perhatian dengan mata batin kita menilik diri batin kita dan telinga batin menumpuhkan sepenuh perhatian kepada setiap bacaan oleh angota zahir dan batin kita disepanjang mengerjakan sholat tanpa menolehkan perhatian kearah lain.(titik)

_____________________________________

Sholat adalah merupakan latihan diperingkat awal untuk kita melatih diri kita supaya dapat menyaksikan diri batin kita yang menjadi rahasia Allah Taala… setelah sanggup membuat penyaksian diri diwaktu kita menunaikan sholat,maka hendaknya kita melatih diri kita supaya dapatlah kita menyaksikan diri batin kita pada setiap saat didalam masa hidup kita dalam waktu dua puluh empat jam disepanjang hayat kita,

_____________________________________

Sebab itulah kita mengucapkan Syahadah:…

Maka berarti kita berikrar dengan diri kita sendiri untuk menyaksikan diri rahasia Allah itu pada setiap saat di dalam waktu 24 jam sehari semalam.

_____________________________________

Oleh karena itu untuk mempraktekkan penyaksian tersebut, maka kita haruslah mengamalkan sholat da’im dalam hidup kita seharian seperti yang pernah dibuat dan diamalkan oleh Rasulullah s.a.w, nabi-nabi dan wali wali yang agung.

_____________________________________

Diantaranya syarat syarat untuk mendapatkan maqam sholat da’im adalah sebagai berikut :

PERTAMA- Hendaklah memahami dan berpegang teguh dengan hakekat melakukan zikir nafas,

_____________________________________

KEDUA- haruslah terlebih dahulu berhasil mendapat NUR QALBU yaitu hati nurani.

_____________________________________

KETIGA- Telah mengalami proses pemecahan wajah KHAWAS FI AL KHAWAS,

_____________________________________

KEEMPAT- Juga memahami dan dapat berpegang dengan penyaksian sebenarnya SYUHUD AL-HAQ,

_____________________________________

Untuk mengamalkan dan mendapatkan maqam sholat da’im maka seseorang itu haruslah memahami pada peringkat awalnya tentang hakekat melakukan zikir nafas yaitu tentang gerak-geriknya : zikirnya.. lafaz zikirnya… letaknya.. dan sebagainya..,

Hal ini telah dibahas dalam status sy yang dahulu..,, oleh karena itu amalkanlah zikir nafas itu dengan sungguh sungguh supaya kita mendapat QALBU yaitu pancaran Nur di dalam jantung kita yang menjadi kuasa pemancar kepada makrifat untuk me-makrifat-kan diri kita dengan Allah Taala.

_____________________________________

Sesungguhnya hanya dengan zikir nafas sajalah gumpalan darah hitam yang menjadi istana iblis di dalam jantung kita akan hancur setelah itu baru terpancarlah NUR-QALBU dan kemudian terpancarlah pula makrifah hingga sesorang itu memakrifatkan dirinya dengan Allah Taala dan dapatlah diri rahasia Allah yang menjadi diri batin kita membuat hubungan dengan diri ZATUL HAQ Tuhan Semesta Alam.

_____________________________________

Latihan untuk menyaksikan diri ini hendaklah dibuat berperingkat, diperingkat awal melalui sholat sebagaimana yang diterangkan di dalam bahasan yang lalu.. dalam masa proses penyaksian diri seseorang itu akan mengalami satu proses membebaskan diri batin (KHAWAS FI KHAWAS) dari jasad dan dengan itu maka sesorang itu akan dapat melihat wajah kesatu sampai dengan wajah kesembilan yaitu martabat yang paling tinggi… dengan mendapat pemecahan wajah ini maka akan dapatlah kita membuat suatu penyaksian yang sebenarnya pada setiap saat dimasa hidupnya… pada masa beribadah (acara sholat), ataupun keadaan biasa.

_____________________________________

Pada peringkat ini dinamakan juga peringkat martabat BAQA BILLAH yaitu suatu keadaan yang kekal pada setiap pendengaran.., penglihatan.., perasaan… dan sebagainya,dan pada tahapan ini mereka adalah seperti orang awam dan sulit untuk kita mengetahui derajat dirinya dengan Allah Taala..

_____________________________________

Umumnya mereka yang mencapai maqam sholat da’im dapatlah kembali kehadrat Allah Taala dengan diri batin dan diri zahir tanpa terpisahkan diantara satu sama lain, mereka dapat memilih apakah hendak mati (meninggal) atau hendak ghaib…

Selasa, 18 Januari 2022

ZIKIR MAKRIFAT

Bagaimana cara berdzikir kepada Allah SWT sehingga kita siap untuk bertemu denganNYA?


Dzikir adalah sebuah aktivitas yang kaya akan aspek esoteris. Ia adalah bagian laku yang harus ada dalam sebuah perjalanan suluk menempuh jalan ruhani untuk mendekatkan diri dengan Tuhan Semesta Alam. 

Dalam praktiknya, berdzikir harus mengikuti aturan-aturan dan adab tertentu sesuai dengan cara yang dituntunkan oleh para guru spiritual sepanjang masa. 


Pada kesempatan kali ini, akan dipaparkan adab berzikir dan tata cara zikir dengan harapan agar kita mendapatkan pengetahuan bagaimana berdzikir yang khusyuk agar kita bisa bertemu Allah SWT.


1. Membaca lafaz LA ILAHA ILLA ALLAH. 

Artinya: Tiada Tuhan selain Allah. 

Zikir ini disebut zikir NAFI ISBAT. Paling tidak dibaca 100 kali setiap hari terutama dibaca setelah sholat fardhu. Khususnya setelah Maghrib, Isya dan setelah sholat subuh. 

Lafaz ILLA ALLAH ini disebut Isbat yang artinya pengecualian atas segala sesembahan kecuali hanya Allah SWT.


2. Membaca lafaz ALLAHU. Zikir ini disebut ISMU AL-ASMA, dibaca sebanyak 33 kali sehabis sholat fardhu, terutama setelah sholat Isya.


3. Membaca lafaz zikir HUWA ALLAH. Zikir inilah yang disebut sebagai zikir GHAIB AL ISMI. Zikir ini dibaca setiap hari sebanyak 33 kali, setelah sholat fardhu, terutama setelah sholat Isya.


4. Membaca zikir HUWA, HUWA. Zikir ini disebut sebagai zikir GHAIB AL GHAIB. Zikir ini dibaca sebanyak 34 kali setelah sholat fardhu, sehingga jumlahnya (total item 2,3,4) sebanyak 100 kali.


Adapun gerakan dalam melafazkan zikir NAFI ISBAT tersebut haruslah mengikuti aturan sebagai berikut:


1. Ketika membaca lafaz LA, maka dengan gerakan kepala, lafaz LA tersebut dimulai dari bahu kiri menuju ke bawah ke arah perut, kemudian diputarkan mengelilingi tali pusat lalu diteruskan ke arah atas menuju bahu kanan;


2. Pada waktu berada di bahu kanan itulah lafaz ILAHA diucapan sambil kepalanya dimiringkan ke arah belikat kanannya;


3. Sambil kepala ditekan ke arah hati sanubarinya, lafaz ILA ALLAH diucapkan dengan penekanan pada sudut kiri bawah dada.


TIGA TAHAP BERDZIKIR


Ada tiga tahap adab berdzikir. 


Pertama, ada lima perkara sebelum berdzikir. Kedua, dua belas perkara pada saat mengerjakan zikir dan ketiga, ada tiga perkara setelah berdzikir.


Lima perkara yang harus dilakukan sebelum berdzikir adalah sebagai berikut:


1. Bertaubat kepada Allah SWT


2. Mandi atau mengambil air wudhu


3. Diam sambil mengkonsentrasikan diri pada zikir dengan mengikhlaskan hati sebelum berdzikir


4. Hatinya meminta tolong kepada para wali-wali Allah


5. Hatinya meminta tolong kepada Nabi Muhammad SAW.


Sedangkan dua belas perkara saat berzikir adalah sebagaoi berikut:


1. Duduk bersila di tempat yang suci


2. Meletakkan kedua tangan di atas kedua paha


3. Membuat bau harum di tempat zikir


4. Memakai pakaian yang halal dan pakai wangi-wangian


5. Pilih tempat yang tenang dan sunyi


6. Pejamkan mata


7. Bayangkan wajah wali Allah di antara kedua mata agak maju ke depan


8. Tetap istiqomah baik dalam keadaan ada orang maupun sepi


9. Tulus ikhlas hatinya saat berdzikir


10. Dzikir utama adalah LA ILAHA ILLA ALLAH


11. Berusaha menghadirkan ALLAH SWT dalam setiap mengucapkan dzikir LA ILAHA ILLA ALLAH


12. Meniadakan wujud lain selain Allah.


Sedangkan tiga macam adab lainnya setelah selesai berdzikir adalah:


1. Diam sejenak sesaat setelah usai melakukan dzikir dan tetap diam di tempat


2. Mengatur dan mengembalikan nafas seperti semula


3. Menahan diri untuk minum air

Sangat dianjurkan untuk melakukan pemutihan diri dari semua amalan negatif sebelum menjalankan ritual dzikir. 

Caranya adalah menjalankan PUASA selama 7 hari. Usai menjalankan puasa baru kemudian menjalankan amalan zikir rutin. 


Bagi para pejalan spiritual yang ingin lebih mendalami laku suluknya, maka disarankan untuk melakukan dzikir dengan cara:


1. BERTAPA (Uzlah). 

Ini adalah syarat agar laku suluk kita semakin bagus. Uzlah adalah mengasingkan diri untuk sementara waktu dari keramaian dan dari pergaulan sehari-hari. Ini biasa dilakukan oleh murid-murid tarekat di masa silam. Bila anda berkesempatan untuk uzlah, silahkan pergi ke gunung atau hutan dan carilah sebuah gua. Siapkan bekal makan dan minum yang cukup untuk sekian lama Anda inginkan. Pedoman selesainya uzlah adalah KEMANTAPAN HATI setelah bertemu dengan apa yang dicari. Namun kini, uzlah dianggap terlalu berat sehingga sebagai penggantinya adalah menjauhkan diri dari segala bentuk perbuatan maksiyat dan terlarang syariat.


2. NGAWULO (Mengabdi). 

Mengabdi pada “sang guru” selama berbulan-bulan atau mungkin juga hingga bertahun-tahun. Dalam konteks sekarang, cukup kita mengabdi kepada instruksi-instruksi yang diyakini benar dan tawadhu’ (merendahkan diri) untuk tidak mengaku dirinya paling benar dibanding diri yang lain.


3. AMAL SHOLDAQOH. 

Mengadakan amal shodaqoh dan infaq sesuai dengan kemampuan. Ini sebuah bentuk pengorbanan dan kerelaan melepaskan apa yang dimiliki karena sesungguhnya kita hakekatnya tidak memiliki apa-apa. Hanya DIA yang Maha Memiliki.

Dalam keadaan bersih lahir batin dan untuk sementara mengosongkan diri dari pengaruh duniawi itulah kita menghadap Sang Khalik Yang Maha Suci. 

Saat bersuluk ini, kita diharapkan untuk selalu menjauhi pikiran kotor dan suci dari batin yang penuh prasangka negatif (suudzon) dan menggantinya dengan prasangka baik (husnudzan) kepada Allah dan kita yakin bahwa hanya DIA-lah sebaik-baiknya tempat bergantung. 


HASBUNA ALLAH WA NI’MAL WAKIL, NI’MAL MAULA WA NI’MA N-NASIR (Cukuplah Allah sebagai tempat bersandar bagi kami dan Dialah tempat memohon pertolongan manusia). 


Apa yang akan terjadi bila kita sudah melengkapi laku suluk mulai Dzikir dan Uzlah secara lengkap? 


Silahkan ditunggu kejadian-kejadian gaib luar biasa yang akan merubah hidup Anda selamanya.


Sekiranya tiada apa-apa tanda teruskanlah berzikir... ubudiah kerana Allah semata-mata.

Mati ada Empat.

 Bismillah, 

Mati Syariat = Mati Tabi'i. 

Mati Thariqot = MATI Ma'nawi. 

Mati Haqiqat = Mati Suri.

MATI Ma'rifat = Mati Hissi. 


Pertama. Mati Tabi'i adlh mati panca indra yg lima, seluruh anggota tubuhnya secara lahir dan bathin telah membaca Allah Allah dan suara alam ini seolah berdzikir dan terdengar membaca kalimat Allah Allah, berdzikir dgn sendirinya, hingga yg tinggal hanyalah rasa rindu terhadap Allah. Orang yg telah merasakan Mati Tabi'i itulah orang yg telah sampai dgn Rahmat Allah pd maqam tajali Af'alullah (nyata perbuatan Allah Swt) .


2.Mati Ma'nawi adlh merasakan dirinya lahir dan bathin telah hilang dan seluruh alam telah lenyap semuanya, yg ada hanyalah kalimat Allah, Allah se-mata2 dimanapun ia memandang, kalimat Allah yg ditulis dgn Nur Muhammad. Orang yg telah merasakan mati Ma'nawi itulah orang yg telah sampai dgn Rahmat Allah pd maqam Asma Allah Swt atau biasa disebut maqam Tajali Asma (nyata nama Allah), nama dgn yg punya nama tdk terpisahkan sedikitpun.

Dgn nama Allah Swt, yg tdk memberi mudhorot / binasa dilangit dan dibumi dan Dia Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.


3.Mati Suri adlh didlm perasaan orang itu telah lenyap segala warna-warni, yg ada hanya Nur se-mata2 yaitu Nurullah, Nur Dzatullah, Nur Sifatyllah, Nur Asma ALLAH, Nur Af'alullah, Nur Muhammad, Nur Baginda Rasulullah, Nur Samawi, Nur 'Ala Nur. Inilah orang yg telah diberi pelita oleh Allah untk meluruskan jalannya. Orang yg telah merasakan mati Suri itulah orang yg telah sampai dgn Rahmat Allah pd maqam Tajali Sifatullah (nyata Sifat Allah).


4.Mati Hissi adlh dlm perasaannya telah lenyap kalimat Allah dan telah lenyap pula seluruh alam ini secara lahir dan batin, dan telah lenyap pula Nur yg tadinya terang benderang yg ada dan dirasakannya adlh Dzat Allah Swt, bahkan dirinya sendiripun dirasakannya hilang musnah, ia telah dibunuh Allah Swt, dan Dialah sebagai gantinya.


Firman Allah Swt didlm hadits qudsy : Bahwasannya hambaKu apabila Aku  telah Kasihi, Aku bunuh ia, lalu apabila telah Aku bunuh mk Akulah sebagai gantinya.

Mk langkahnya se-olah2 langkah Allah, pendengarannya artinya pendengaran Allah, penglihatannya artinya penglihatan Allah, geraknya kehendak Allah, perbuatannya artinya perbuatan Allah. Orang yg telah mendapatkan mati Hissi, ia akan melihat Allah Swt dlm perasaannya.


Firman Allah (QS Al-Baqarah 115): Timur dan Barat kepunyaan Allah Swt, kemana kamu menghadap mk disanalah ada wajah Allah.

Wassalam

FANA BIL BAQO'

الســـــــلام عليــكم ورحمة الله وبركاتــــــــــــــه.

Assalaamu'alaykum Warohmatulloohi Wabarokaatuh.


MANUSIA (M-A-N-U-S-I-A).

.

M = Man ( Barang siapa ),

A  = Arofa ( Mengenal ),

N  = Nafsahu ( Akan dirinya ),

U  = Ujudu ( Maka ujudnya ),

S  = Sirr ( Menjadi Rahasia ),

I   = I'tihaj ( Kenyataan ),

A  = An HU ( Akan diriKU ).


MAN AROFA NAFSAHU BIL FANA FAQOD AROFA ROBBAHU BIL BAQO'.


Barang siapa mengenal dirinya yang fana maka dikenalinyalah Alloh yang kekal dan abadi.


FANAFILLAH TABADAL BAQOBILLAH FAQOD MINALLOH.

“Fanafillah terganti Baqobillah sehingga Minalloh”.


– MANUSIA itu ialah DIRI yang menerima PERINTAH RAHASIA, Jadi PERINTAH RAHASIA itu yang dikatakan DIRI.


SIAPA DIRI ?


DIRI terbagi menjadi 3 (tiga), yakni ;

1. DIRI TERDIRI,

2. DIRI TERPERI, dan

3. DIRI SEBENAR DIRI.


1).  DIRI TERDIRI Adalah JASAD INI.

       Dikatakan "Diri Terdiri" karena pada jasad itu diliputi Diri yang lain Yaitu Hakikat Diri.


2).  DIRI TERPERI Adalah RUH.

       Dikatakan Diri Terperi karena didalam jasad itu adanya sesuatu yang Menyatu pada jasad Yaitu Ruh.


3).  DIRI SEBENAR DIRI / HAKIKAT DIRI Adalah YANG DIKATAKAN SIRR ( RAHASIA ALLOH ).

       Dikatakan Diri Sebenar Diri Karena Diri Terperi atau Ruh itu mengandungi Bayang-bayang Wujud Alloh, 


HAQIQAT DIRI ini atau DIRI SEBENAR DIRI ini adalah yang dikatakan SIFAT ASALNYA atau SIFAT WAHDAT yang tiada lain adalah NUR-NYA sendiri yang di beri nama MUHAMMAD atau KUNHI DZAT MUHAMMAD.


Oleh karena itulah yang berhak menaungi seluruh makhluk adalah Muhammad itu sendiri yang bersifat Rahasia atau Nur Muhammad.


Jadi siapa yang pengenalannya sesuai AF'AL-NYA (Perbuatannya), ASMA-NYA (namanya atau ucapannya), SIFAT-NYA (bayang-bayang dzat), DZAT-NYA (yang sebenarnya diri), maka sungguh ia dalam naungan Muhammad yang bersifat rahasia atau Nur Muhammad.


– Jadi RUH itu tiada lain adalah Nur Muhammad.

– Nur Muhammad itulah yang di katakan menaungi Dzahir dan Bhatin sekalian alam dan seluruh makhluk.

– Nur Muhammad itulah kesejatian Makhluk Alloh yang sebenarnya.

– Nur Muhammad itulah yang dikatakan sebenar-benarnya bhatin Hamba. Bhatin inilah yang dikatakan Dzahir Alloh, sebagaimana sabdanya ;

ILAAHI ROBBI DZAHIRU WAL BATHINU ABDI.


Jadi, Nur Muhammad ini adalah Pancaran Nur Alloh dari Wahdatul wujud yang Kamistlihi Syai'un.


Oleh karena itu Para Arifbillah terdahulu mengisyaratkan melalui 4 (empat) metode pembagian agar mudah untuk di fahami dan tidak Aku-akuan oleh ummat-Nya, Yang tiada lain adalah :

1. Dzat-NYA,

2. Sifat-NYA,

3. Asma'-NYA, dan

4. Af'aal-NYA.


Dzat, Sifat, Asma', Af'al yang ada pada sekalian makhluk, yang kenyataannya adalah Nur Muhammad daripada Dzat, Sifat, Asma dan Af'al dari Tajalli Alloh sendiri.


– Nur Muhammad itu tiada lain adalah Rahasia Sifat Wahdat.

– Nur Muhammad itulah Pendzahiran atau Kenyataan ( Tajalli ALLOH itu sendiri ).


Siapa yang mengenal Diri dengan ma'rifat, Maka tidak ada yang lain hanya Alloh dan Muhammad.


– Awal Muhammad itulah Nurani Yaitu RUH pada kita.

– Akhir Muhammad itulah Ruhani Yaitu Hati pada kita.

– Dzahir Muhammad itulah Insani Yaitu Jasad pada kita ( Bagaimana Rupa jasad begitulah Rupa ruh kita ).

– Bathin Muhammad itulah Robbani Yaitu Sirr atau Rahasia pada kita ( Tiada sekutu Tiada bercerai )


BERLAKU JUGA SEBAGAI SYAHADAT DIRI :

– Muhammad itu bayangan Wujud Alloh.

– Yang sebenar-benarnya bayangan itulah yang Punya bayangan pada jasad kita.

– Bayangan dan M'pu-nya bayang menyatu Tiada sekutu.


Jadi jelas bahwa ALLOH itu Maha Suci ( Layisa Kamistlihi Syai'un ),

Bayangan-NYA itulah NUR MUHAMMAD yang tiada lain Pendzahiran ALLOH.


Sungguh berdosa diri ini jika tidak mengetahui atau mengenal akan DIRI dan SEBENAR DIRI dengan sesuai, maka senantiasa hidupnya akan selalu dalam keadaan berdosa dan terjerat ke-AKU-an.


Walloohu A'lam......

SIAPAKAH RIJALUL GHAIB

 Rijalul Ghaib adalah makhluk ciptaan Allah yang tidak kasat mata yaitu tidak tampak oleh mata manusia. Tugasnya adalah untuk menjalankan perintah Allah dalam membantu manusia memenuhi segala hajat dan keperluannya.

Tentang Rijalul ghaib ini pernah di sebutkan oleh Imam Ahmad Al Buni dalam kitabnya Manba Ushulul Hikmah halaman 230 mengatakan:


“Ketahuilah, bahwa Allah Yang Maha Agung dan Maha Tinggi dengan kemurahan-Nya yang besar terhadap manusia, Dia ciptakan ruh-ruh dari bangsa malaikat yang berkeliling ke seluruh pelosok bumi, membantu orang-orang yang mempunyai hajat, supaya hajatnya itu terpenuhi dan keinginannya tercapai. Barang siapa yang bertepatan waktu hajatnya dengan arah tempat mereka berada, kemudian berdoa kepada Allah Ta’ala, mereka akan mengaminkan doanya itu, maka doa akan dikabulkan dan permintaannya akan diperolehnya.’’ Ada petunjuk atau cara untuk mengetahui posisi Rijalul Ghaib itu tiap-tiap dalam sebulan (menurut perhitungan bulan Hijriah). Posisi tempat keberadaan mereka itu selalu berpindah-pindah.


"LA TAHSABANNAL LADZI QUTILUU FI SABILILLAHI AMWATAN, BAL AHYAUN INDA ROBBIHIM YURZAQUNA" (ALI IMRON : 169)

”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu MATI bahkan mereka itu hidup di sisi tuhannya dengan mendapat rezqi “


Kehidupan mereka yang dimaksudkan adalah alam yang lain, bukanlah alam dunia ini, mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, Dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan kehidupan nya itu.

Dari kitab Jawahir Al-Khomsi Syeikh Khotiruddin Bayazid Al-Khowajah dan Kitab Jami’u Karomatil Aulia kepunyaan Syeikh Yusuf ibni Isma’il An-Nabhani R.A , bahwa Rizalul Ghaib merupakan salah satu pangkat kewalian dari 37 pangkat/Maqom para Wali.

Berikut ini Pangkat/Maqom nya para Aulia Allah :


1. Qutub Atau Ghauts (1 abad 1 Orang)


2. Aimmah (1 Abad 2 orang)


3. Autad (1 Abad 4 Orang di 4 penjuru Mata Angin)


4. Abdal (1 Abad 7 Orang tidak akan bertambah dan berkurang Apabila ada wali Abdal yang Wafat Alloh menggantikannya dengan mengangkat Wali abdal Yg Lain ( Abdal=Pengganti ) Wali Abdal juga ada yang Waliyahnya ( Wanita )


5. Nuqoba’/Naqib (1 Abad 12 orang Di Wakilkan Alloh Masing-masing pada tiap-tiap Bulan)


6. Nujaba’ (1 Abad 8 Orang)


7. Hawariyyun (1 Abad 1 Orang) Wali Hawariyyun di beri kelebihan Oleh Alloh dalam hal keberanian, Pedang (Zihad) di dalam menegakkan Agama Islam Di muka bumi.


8. Rojabiyyun (1 Abad 40 Orang Yg tidak akan bertambah & Berkurang Apabila ada salah satu Wali Rojabiyyun yg meninggal Alloh kembali mengangkat Wali rojabiyyun yg lainnya, Dan Alloh mengangkatnya menjadi wali Khusus di bulan Rajab dari Awal bulan sampai Akhir Bulan oleh karena itu Namanya Rojabiyyun.


9. Khotam (penutup Wali)(1 Alam dunia hanya 1 orang) Yaitu Nabi Isa A.S ketika diturunkan kembali ke dunia Alloh Angkat menjadi Wali Khotam (Penutup).


10. Qolbu Adam A.S (1 Abad 300 orang)


11. Qolbu Nuh A.S (1 Abad 40 Orang)


12. Qolbu Ibrohim A.S (1 Abad 7 Orang)


13. Qolbu Jibril A.S (1 Abad 5 Orang)


14. Qolbu Mikail A.S (1 Abad 3 Orang tidak kurang dan tidak lebih Alloh selau mengangkat wali lainnya Apabila ada salah satu Dari Wali qolbu Mikail Yg Wafat)


15. Qolbu Isrofil A.S (1 Abad 1 Orang)


16. Rijalul ‘Alamul Anfas (1 Abad 313 Orang)


17. Rijalul Ghoib (1 Abad 10 orang tidak bertambah dan berkurang tiap2 Wali Rizalul Ghoib ada yg Wafat seketika juga Alloh mengangkat Wali Rizalul Ghoib Yg lain, Wali Rizalul Ghoib merupakan Wali yang di sembunyikan oleh Alloh dari penglihatannya Makhluq2 Bumi dan Langit tiap2 wali Rizalul Ghoib tidak dapat mengetahui Wali Rizalul Ghoib yang lainnya, Dan ada juga Wali dengan pangkat Rijalul Ghoib dari golongan Jin Mu’min, Semua Wali Rizalul Ghoib tidak mengambil sesuatupun dari Rizqi Alam nyata ini tetapi mereka mengambil atau menggunakan Rizqi dari Alam Ghaib.


18. Adz-Dzohirun (1 Abad 18 orang)


19. Rijalul Quwwatul Ilahiyyah (1 Abad 8 Orang)


20. Khomsatur Rizal (1 Abad 5 orang)


21. Rijalul Hanan (1 Abad 15 Orang)


22. Rijalul Haybati Wal Jalal (1 Abad 4 Orang)


23. Rijalul Fath (1 Abad 24 Orang) Alloh mewakilkannya di tiap Sa’ah (Jam) Wali Rizalul Fath tersebar di seluruh Dunia 2 Orang di Yaman, 6 orang di Negara Barat, 4 orang di negara timur, dan sisanya di semua Jihat (Arah Mata Angin)


23. Rijalul Ma’arijil ‘Ula (1 Abad 7 Orang)


24. Rijalut Tahtil Asfal (1 Abad 21 orang)


25. Rijalul Imdad (1 Abad 3 Orang)


26. Ilahiyyun Ruhamaniyyun (1 Abad 3 Orang) Pangkat ini menyerupai Pangkatnya Wali Abdal


27. Rijalun Wahidun (1 Abad 1 Orang)


28. Rijalun Wahidun Markabun Mumtaz (1 Abad 1 Orang) Wali dengan Maqom Rijalun Wahidun Markab ini di lahirkan antara Manusia dan Golongan Ruhanny (Bukan Murni Manusia), Beliau tidak mengetahui Siapa Ayahnya dari golongan Manusia, Wali dengan Pangkat ini tubuhnya terdiri dari 2 jenis yang berbeda, Pangkat Wali ini ada juga yang menyebut ”Rijalun Barzakh ” Ibunya Dari Wali Pangkat ini dari Golongan Ruhanny Air INNALLOHA ‘ALA KULLI SAY IN QODIRUN ” Sesungguhnya Alloh S.W.T atas segala sesuatu Kuasa.


29. Syakhsun Ghorib (di dunia hanya ada 1 orang)


30. Saqit Arofrof Ibni Saqitil ‘Arsy (1 Abad 1 Orang)


31. Rijalun Ghina ( 1 Abad 2 Orang) sesuai Nama Maqomnya/Pangkatnya Rizalul Ghina ”Wali ini Sangat kaya baik kaya Ilmu Agama, Kaya Ma’rifatnya kepada Alloh maupun Kaya Harta yang di jalankan di jalan Alloh, Pangkat Wali ini juga ada Waliahnya (Wanita).


31. Syakhsun Wahidun (1 Abad 1 Orang)


32. Rijalun Ainit Tahkimi waz Zawaid (1 Abad 10 Orang)


33. Budala’ (1 Abad 12 orang) Budala’ Jama’ nya/Jama’ Sigoh Muntahal Jumu’ dari Abdal tapi bukan Pangkat Wali Abdal


34. Rijalun Istiyaq (1 Abad 5 Orang


35. Sittata Anfas (1 Abad 6 Orang) salah satu wali dari pangkat ini adalah Putranya Raja Harun Ar-Royid yaitu Syeikh Al-’Alim Al-’Allamah Ahmad As-Sibt


36. Rizalul Ma’ (1 Abad 124 Orang) Wali dengan Pangkat Ini beribadahnya di dalam Air di riwayatkan oleh Syeikh Abi Su’ud Ibni Syabil ” Pada suatu ketika aku berada di pinggir sungai tikrit di Bagdad dan aku termenung dan terbersit dalam hatiku “Apakah ada hamba2 Alloh yang beribadah di sungai2 atau di Lautan” Belum sampai perkataan hatiku tiba2 dari dalam sungai muncullah seseorang yang berkata “akulah salah satu hamba Alloh yang di tugaskan untuk beribadah di dalam Air”, Maka akupun mengucapkan salam padanya lalu Dia pun membalas salam aku tiba-tiba orang tersebut hilang dari pandanganku.


37. Dakhilul Hizab (1 Abad 4 Orang) Wali dengan Pangkat Dakhilul Hizab sesuai nama Pangkatnya , Wali ini tidak dapat di ketahui Kewaliannya oleh para wali yang lain sekalipun sekelas Qutbil Aqtob Seperti Syeikh Abdul Qodir Jailani, Karena Wali ini ada di dalam Hizab nya Alloh, Namanya tidak tertera di Lauhil Mahfudz sebagai barisan para Aulia, Namun Nur Ilahiyyahnya dapat terlihat oleh para Aulia Seperti di riwayatkan dalam kitab Nitajul Arwah bahwa suatu ketika Syeikh Abdul Qodir Jailani Melaksanakan Towaf di Baitulloh Mekkah Mukarromah tiba-tiba Syeikh melihat seorang Perempuan dengan Nur Ilahiyyahnya yang begitu terang benderang sehingga Syeikh Abdul qodir Al-Jailani Mukasyafah ke Lauhil Mahfudz dilihat di lauhil mahfudz nama perempuan ini tidak ada di barisan para Wali-wali Alloh, Lalu Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani bermunajat kepada Alloh untuk mengetahui siapa Perempuan ini dan apa yang menjadi Amalnya sehingga Nur Ilahiyyahnya terpancar begitu dahsyat , Kemudian Allah memerintahkan Malaikat Jibril A.S untuk memberitahukan kepada Syeikh bahwa wanita tersebut adalah seorang Waliyyah dengan Maqom/ Pangkat Dakhilul Hizab “Berada di Dalam Hizabnya Alloh”, Kisah ini mengisyaratkan kepada kita semua agar senantiasa BerHusnudzon ( Berbaik Sangka ) kepada semua Makhluq nya Alloh, Sebetulnya Masih ada lagi Maqom-maqom Para Aulia yang tidak diketahui oleh kita, Karna Alloh S.W.T menurunkan para Aulia di bumi ini dalam 1 Abad 124000 Orang, yang mempunyai tugasnya Masing-masing sesuai Pangkatnya atau Maqomnya.

Susunan Maqom/Pangkat Para Aulia ini bersumber dari terjemahan kitab Jami’u Karomatil Aulia (Kumpulan Karomah-karomah Para Wali), Perlu di ketahui bahwa Maqomnya para Aulia tidak tetap tapi naik walaupun mereka sudah Meninggal..

ROH TIDAK DAPAT PULANG

Assalamualaikum..

ROH  itu  NYAWA  dan  bilamana Nyawa itu berpisah dgn Jasad ,  maka mati lah Jasad ( pada namanya ).


 Apbla Roh dapat  KEMBALI  SEMULA  kpd  Jasad nya ,  maka Jasad akan  GHAIB. 


 Sebaliknya ,  Roh yg  TIDAK DAPAT PULANG  ke dalam Jasad akan  BERKELIARAN  di bumi ini. Roh ini menanti perintah hukuman Allah.

Oleh sbb kebijaksanaan Allah ,  maka Roh ini akan  DIBERI  LAGI  SIFAT  mengikut  KELAKUAN  semasa hidup nya sebagai manusia dahulu.


 Klu dahulu ia suka  MELAGA-LAGAKAN  ORANG  ,  maka Allah memasukkan nya ke dalam SARUNG  BINATANG.  Sebagai contoh kambing , jumpa sahaja kambing lain ia akan   BERLAWAN  HANTUK  KEPALA  sehingga Roh di dlm kambing itu  MERAUNG  KESAKITAN. 


 Ini adalah  JALAN  PENAMAT  bagi manusia yg  TIDAK  MENGETAHUI  cara mana hendak  MENGEMBALIKAN  NYAWA  SEMULA  ke tempat nya ,  iaitu ke dalam  DIRI  MANUSIA  itu sendiri.

Sebagaimana firman Allah Taala dlm Surah Al-A'raf  ayat :  25


 Allah berfirman lagi :  " Dibumi ini kamu hidup n di bumi ini juga kamu akan dikeluarkan ( dibangkitkan hidup semula pada hari kiamat ). "


 Ini lah dalilnya bahawa manusia yg  MATI  akan  DIHIDUPKAN  SEMULA di muka bumi ini.  Sebagaimana firman Allah Taala dlm Surah Al-Waqi'ah ayat :  87


" Kamu boleh mengembalikan Roh ( Nyawa ) itu ( kpd keadaan sebelumnya  / ke tempat asalnya ) jika kamu orang yg benar ? "


SYURGA hanya klu manusia  DAPAT  KEMBALI  ke dalam Jasad manusia ,  tetapi klu dapat KEMBALIKAN  DIRI  SENDIRI  kpd  ZAT ,  maka inilah  KEBESARAN ,  KEMULIAAN  n  KESEMPURNAAN  YANG  HAQ.


Oleh itu,  sayangi lah rumah ( Jasad )  anda itu,  jgn biarkan ia hancur dimakan oleh cacing n anai2 ... Hargailah ia selalu n berilah perhatian sepenuh kpdnya. Ini kerana anda memperolehnya dgn percuma tanpa apa2 bayaran. 


       Jgn jadi seperti KACANG LUPAKAN KULIT... Jgn sama sekali anda meninggalkan rumah anda itu. Jagalah ia baik2.. Jgn biarkan ia kotor..  Pastikan ia sentiasa bersih, sentiasa nyaman n seronok tinggal di dlmnya.. Apa akan jadi klu rumah anda itu kotor akibat selalu ditinggalkan?


Sudah tentu ia akan dimakan oleh anai2 n dimasuki oleh jin syaitan kerana menyibuk rumah org lain, rumah sendiri ditinggalkan..

Akibatnya,  rumah anda itu rosak n biasa.. Mahukah anda bila balik ke tempat asal anda tak ada rumah.. Nak tinggal kat mana?

 Sbb itu ,  jadikanlah diri anda itu penduduk tetap di rumah anda itu ( mustautin) itu, bkn org yg menumpang ( pendatang asing)  n dihalau selepas mati paspot sehingga terpaksa berkeliaran tanpa rumah...

Minggu, 16 Januari 2022

ZIKIR MAKRIFAT

Bagaimana cara berdzikir kepada Allah SWT sehingga kita siap untuk bertemu denganNYA?


Dzikir adalah sebuah aktivitas yang kaya akan aspek esoteris. Ia adalah bagian laku yang harus ada dalam sebuah perjalanan suluk menempuh jalan ruhani untuk mendekatkan diri dengan Tuhan Semesta Alam. 

Dalam praktiknya, berdzikir harus mengikuti aturan-aturan dan adab tertentu sesuai dengan cara yang dituntunkan oleh para guru spiritual sepanjang masa. 


Pada kesempatan kali ini, akan dipaparkan adab berzikir dan tata cara zikir dengan harapan agar kita mendapatkan pengetahuan bagaimana berdzikir yang khusyuk agar kita bisa bertemu Allah SWT.


1. Membaca lafaz LA ILAHA ILLA ALLAH. 

Artinya: Tiada Tuhan selain Allah. 

Zikir ini disebut zikir NAFI ISBAT. Paling tidak dibaca 100 kali setiap hari terutama dibaca setelah sholat fardhu. Khususnya setelah Maghrib, Isya dan setelah sholat subuh. 

Lafaz ILLA ALLAH ini disebut Isbat yang artinya pengecualian atas segala sesembahan kecuali hanya Allah SWT.


2. Membaca lafaz ALLAHU. Zikir ini disebut ISMU AL-ASMA, dibaca sebanyak 33 kali sehabis sholat fardhu, terutama setelah sholat Isya.


3. Membaca lafaz zikir HUWA ALLAH. Zikir inilah yang disebut sebagai zikir GHAIB AL ISMI. Zikir ini dibaca setiap hari sebanyak 33 kali, setelah sholat fardhu, terutama setelah sholat Isya.


4. Membaca zikir HUWA, HUWA. Zikir ini disebut sebagai zikir GHAIB AL GHAIB. Zikir ini dibaca sebanyak 34 kali setelah sholat fardhu, sehingga jumlahnya (total item 2,3,4) sebanyak 100 kali.


Adapun gerakan dalam melafazkan zikir NAFI ISBAT tersebut haruslah mengikuti aturan sebagai berikut:


1. Ketika membaca lafaz LA, maka dengan gerakan kepala, lafaz LA tersebut dimulai dari bahu kiri menuju ke bawah ke arah perut, kemudian diputarkan mengelilingi tali pusat lalu diteruskan ke arah atas menuju bahu kanan;


2. Pada waktu berada di bahu kanan itulah lafaz ILAHA diucapan sambil kepalanya dimiringkan ke arah belikat kanannya;


3. Sambil kepala ditekan ke arah hati sanubarinya, lafaz ILA ALLAH diucapkan dengan penekanan pada sudut kiri bawah dada.


TIGA TAHAP BERDZIKIR


Ada tiga tahap adab berdzikir. 


Pertama, ada lima perkara sebelum berdzikir. Kedua, dua belas perkara pada saat mengerjakan zikir dan ketiga, ada tiga perkara setelah berdzikir.


Lima perkara yang harus dilakukan sebelum berdzikir adalah sebagai berikut:


1. Bertaubat kepada Allah SWT


2. Mandi atau mengambil air wudhu


3. Diam sambil mengkonsentrasikan diri pada zikir dengan mengikhlaskan hati sebelum berdzikir


4. Hatinya meminta tolong kepada para wali-wali Allah


5. Hatinya meminta tolong kepada Nabi Muhammad SAW.


Sedangkan dua belas perkara saat berzikir adalah sebagaoi berikut:


1. Duduk bersila di tempat yang suci


2. Meletakkan kedua tangan di atas kedua paha


3. Membuat bau harum di tempat zikir


4. Memakai pakaian yang halal dan pakai wangi-wangian


5. Pilih tempat yang tenang dan sunyi


6. Pejamkan mata


7. Bayangkan wajah wali Allah di antara kedua mata agak maju ke depan


8. Tetap istiqomah baik dalam keadaan ada orang maupun sepi


9. Tulus ikhlas hatinya saat berdzikir


10. Dzikir utama adalah LA ILAHA ILLA ALLAH


11. Berusaha menghadirkan ALLAH SWT dalam setiap mengucapkan dzikir LA ILAHA ILLA ALLAH


12. Meniadakan wujud lain selain Allah.


Sedangkan tiga macam adab lainnya setelah selesai berdzikir adalah:


1. Diam sejenak sesaat setelah usai melakukan dzikir dan tetap diam di tempat


2. Mengatur dan mengembalikan nafas seperti semula


3. Menahan diri untuk minum air

Sangat dianjurkan untuk melakukan pemutihan diri dari semua amalan negatif sebelum menjalankan ritual dzikir. 

Caranya adalah menjalankan PUASA selama 7 hari. Usai menjalankan puasa baru kemudian menjalankan amalan zikir rutin. 


Bagi para pejalan spiritual yang ingin lebih mendalami laku suluknya, maka disarankan untuk melakukan dzikir dengan cara:


1. BERTAPA (Uzlah). 

Ini adalah syarat agar laku suluk kita semakin bagus. Uzlah adalah mengasingkan diri untuk sementara waktu dari keramaian dan dari pergaulan sehari-hari. Ini biasa dilakukan oleh murid-murid tarekat di masa silam. Bila anda berkesempatan untuk uzlah, silahkan pergi ke gunung atau hutan dan carilah sebuah gua. Siapkan bekal makan dan minum yang cukup untuk sekian lama Anda inginkan. Pedoman selesainya uzlah adalah KEMANTAPAN HATI setelah bertemu dengan apa yang dicari. Namun kini, uzlah dianggap terlalu berat sehingga sebagai penggantinya adalah menjauhkan diri dari segala bentuk perbuatan maksiyat dan terlarang syariat.


2. NGAWULO (Mengabdi). 

Mengabdi pada “sang guru” selama berbulan-bulan atau mungkin juga hingga bertahun-tahun. Dalam konteks sekarang, cukup kita mengabdi kepada instruksi-instruksi yang diyakini benar dan tawadhu’ (merendahkan diri) untuk tidak mengaku dirinya paling benar dibanding diri yang lain.


3. AMAL SHOLDAQOH. 

Mengadakan amal shodaqoh dan infaq sesuai dengan kemampuan. Ini sebuah bentuk pengorbanan dan kerelaan melepaskan apa yang dimiliki karena sesungguhnya kita hakekatnya tidak memiliki apa-apa. Hanya DIA yang Maha Memiliki.

Dalam keadaan bersih lahir batin dan untuk sementara mengosongkan diri dari pengaruh duniawi itulah kita menghadap Sang Khalik Yang Maha Suci. 

Saat bersuluk ini, kita diharapkan untuk selalu menjauhi pikiran kotor dan suci dari batin yang penuh prasangka negatif (suudzon) dan menggantinya dengan prasangka baik (husnudzan) kepada Allah dan kita yakin bahwa hanya DIA-lah sebaik-baiknya tempat bergantung. 


HASBUNA ALLAH WA NI’MAL WAKIL, NI’MAL MAULA WA NI’MA N-NASIR (Cukuplah Allah sebagai tempat bersandar bagi kami dan Dialah tempat memohon pertolongan manusia). 


Apa yang akan terjadi bila kita sudah melengkapi laku suluk mulai Dzikir dan Uzlah secara lengkap? 


Silahkan ditunggu kejadian-kejadian gaib luar biasa yang akan merubah hidup Anda selamanya.


Sekiranya tiada apa-apa tanda teruskanlah berzikir... ubudiah kerana Allah semata-mata.


Rabu, 12 Januari 2022

Tampa Huruf Tampa Suara"

 Alhamdulillah

Apa Allah itu? Tidak ada tafsirnya.

Apa itu Allah? Dirinya alam. 

Siapa itu Allah? Satu Maharuang dan semesta alam. 

Bagaimana Allah itu? Meliputi alam dunia dan akhirat.


Yang dapat mengalahkan pengaruh ketuhanan dan kenabian, yaitu dengan kesadaran tinggi dalam pengenalan. Kalau kita musyahadah pada kosong, kita berada dalam kosong. Sadari kita benar-benar dalam kosong. Itulah yang tidak ada tafsirnya. Yang tidak ada tafsirnya itulah ھ , maka kosonglah dia. Ini pribadi antara kita dengan Tuhan.


Perasaannya perasaan itu Ruh Qudus. Hendaklah kita rasakan sampai kepada yang diam itu (sama-tengah-hati). Inilah diistilahkan: "Ada di dalam diam." Tubuh yang diam inilah yang tajalli. Syahadat ada di dalam diam. 


Ruh Qudus itu zat mutlak. Dan zat mutlak itu Rahasia Tuhan. Kalau ruh rayhan itu sifat atau cahaya zat (mutlak) itu. Cahaya zat itu menjadi manusia. Cahaya zat inilah cahaya Ruh Qudus (cahaya diri Ruh Qudus).


Tubuh yang diam itulah yang tajalli. Syahadat ada di dalam diam. Ruh Qudus itu zat; Rahasia Tuhan. Sedangkan zat dan sifat itu satu, maka ingatan dan perasaan itu musti satu.


Sahnya tafakur: Ruh Qudus diam. Kosong itu nyawa hakiki atau Nur. Muhammad itu nyawa majati, artinya yang ada di sama-tengah-hati.


Musyahadah pada kosong, kita berada dalam kosong. Sadari kita berada dalam kosong. Itulah ھ yang tidak ada tafsirnya. Jadi, ھ ini tidak diucapkan dengan huruf atau dengan suara; tidak dibunyi-bunyikan. Cukup disadari kita berada dalam kosong.


“Tafakur tidak boleh lama-lama. Jika lama, jahat. Hanya satu saat saja. Untuk cepat berhasil, bawalah dengan mengaji Quran. Jangan ingat-ingat kosong dan sesuatu lagi. Apabila merenyamnya hilang, sampailah orang itu.

Orang yang sempurna mengenal Allah itu, apa yang terlintas, terdengar, teringat, terpandang, dan lain-lain itu, semuanya BUKAN Allah. Jadi, penghabisan tafakur, siapa memandang putih dirinya, sampailah ilmunya.

Wasalam

ALLOH MAHA MELIPUTI

 BISMILLAHIRROHMANIRROHIM

Sadaraku. Muslimin dan muslimat .Jika kau telah mengenal diriMu yang Sejati maka kau bukan lagi seonggok daging atau sekujur tubuh.

Apabila saat perkenalan itu telah tiba atau hari terahirmu.maka zikirMu tak lagi dengan suara atau dengan gerak. tetapi zikirMu adalah melihat siapa yang kau ingat. Kau akan melihat wajah Allah dimanapun kau berada. dan kau tak lagi akan melihat mati itu satu kematian. karena sesungguhnya ketika itu kau menyusuri ruang waktu.

ketika itu kau adalah cahaya Allah di bumi ini

Dan kau akan tetap menjadi cahaya milik Allah saat di akhirat nanti. dan sesungguhnya karena kau adalah milik Allah. terserah kepada Allah mau dibuat apa engkau itu karena kembali kepada AsalMu. Setelah itu baru apa yang kelihatan itu akan berwajah kau. dan disitu jugalah keadaan yang mana yang memandang dan yang dipandang itu adalah kau yang esa. Kau melihat wajahMu sendiri ketika pandang memandang itu.

Jikalau kau sudah paham dan yakin segala sesuatu selain kau telah fana. itulah tandanya hatiMu itu telah mencapai ketahap puncak Ma'rifat. tahap mengenal dia dengan sebenar-benarnya pengenalan. Jika kau masih juga tidak faham dan yakin. maka akan diterangkan seperti ini untukMu yaitu berawal dari mengenal mani adalah penjelmaan dari bapak dan ibu atau yang disebut sulbi dan taraib .Jadi mani itu adalah mulanya seberkas cahaya yang dikeluarkan oleh Allah dari mutu manikam

sehingga para Ulama berpendapat yaitu:

Mani adalah salah satunya dzat penjelmaan dari dua macam dzat (sulbi dan taraib)....

Dengan adanya KUDRATILLAHI yaitu berasal dari sulbi bapak. dan yang menjadi IRADATILLAHI yaitu berasal dari ibu .Oleh sebab itu bagaimanapun birahinya kaum ibu. hal ini tidak terlalu nampak karena birahinya kaum ibu ini tidak dapat melampaui batasnya kudrat kaum bapak. Karna kaum ibu ini hanyalah iradat. maka ulama mengistilahkan 

SYURGA ITU DI ATAS TELAPAK KAKI IBU :


Untuk lebih jelasnya akan diterangkan dibawah bagian-bagian dari maksud yang di atas:

BAGIAN BAPAK: wadi. madi. mutu. mani. atau disebut sulbi.

BAGIAN IBU: tanah. air

angin. api. atau disebut taraib.

BAGIAN ALLAH: ruh idhafi. ruh ruhani. ruh rahmani.ruh jasmani


BAGIAN DARI GUDANG RAHASIA DISEBUT MUTU MANIKAM YAITU:

* Tanah itu ialah badan muhammad

* Air itu ialah nur .muhammad

* Angin itu ialah nafas muhammad

* Api itu ialah penglihatan muhammad


Awal itu ialah nurani„

Akhir itu ialah ruhani„

Zahir itu ialah insani„

Bathin itu ialah rabbani„ Nurani itu ialah nyawa„

Ruhani itu ialah hati„

Insani itu ialah tubuh„

Rabbani itu ialah rahasia


Nyawa itu ialah idhafi„

Hati itu ialah ruhani„

Tubuh itu ialah jasmani„

Rahasia itu ialah aku yang sejati„

Tubuh itu menyatu kepada hati Hati itu menyatu kepada nyawa„

Nyawa itu menyatu kepada rahasia„

Rahasia itu menyatu kepada nur„

Nur itulah bayang-bayang Allah yang sebenar-benarnya


Wadi... kalimahnya: LAA ILAHA

Madi... kalimahnya: ILALLAH

Mutu... kalimahnya: ALLAH

Mani... Kalimahnya: HU


Ruh jasmani kalimahnya:

YAHU

Ruh rahmani kalimahnya: IYAHU

Ruh ruhani kalimahnya: YAMANIHU

Ruh idhafi kalimahnya: YAMAN LAYISALAHU

Mutu manikam kalimahnya: MADAHU


TUJUH PETALA BUMI DIJADIKAN TUJUH TINGKATAN MARTABAT YAITU:

1. Sifat amarah

2. Sifat lawwamah

3. Sifat mulhimah

4. Sifat mutmainah

5. Sifat radhiyatan

6. Sifat mardhiyah

7. Sifat ubudiyah


TUJUH PETALA LANGIT YANG DIMAKSUD DENGAN TUJUH MARTABAT YAITU:

1. Lathifatul qolbi

2. Lathifatul ruuhi

3. Lathifatul sirri

4. Lathifatul ahfa

5. Lathifatul hafi

6. Lathifatul nafsu natika

7. Lathifatul kullu jasad


JIKALAU TINGKATAN SEMACAM INI YANG KITA AMBIL HAKIKATNYA PADA ALAM KECIL YANG TERSEMBUNYI (terahasia) DALAM DIRI, MAKA ULAMA MENAMAKAN SEBAGAI BERIKUT:1. Hayatun jasadi bin-nafas 

2. Hayatun nafasi bir-ruhi

3. Hayatun ruhi bis-sirr

4. Hayatun sirri bil-imani

5. Hayatun imani bin-nuri

6. Hayatun nuri bil-qudrati

7.  Hayatun qudrati bi mualamullahi ta'ala dzatullah


ARTINYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT:

1.Asal jasad dari nafas 

2.asalnya nafas dari ruh 

3.Asalnya ruh dari dalam rahasia 

4.Asal rahasia dari dalam iman 

5.Asal iman dari nur atau cahaya 

6.Asalnya nur atau cahaya dari qodrat 

7.Asalnya qodrat dari ke baqoaan Alloh 


KALIMAT SEPERTI INI : 

1.Hayatun jasad hurufnya Alif    kalimahnya LA

2.Hayatun nafasi hurufnya Lam Awal kalimahnya ILAHA 

3.Hayatun ruhi hurufnya LAM Akhir kalimahnya ILLA 

4.Hayatun sirri hurufnya Ha kalimahnya Alloh 

5.Hayatun imani hurufnya Alif (Alloh) kalihnya Yahu 

6.Hayatun nuri hurufnya Lam (jibril) kalimahnya IyaHU 

7.Hayatun qodroti hurufnya Mim (muhammad) kalimanya IYAHU YAMANIHU 


Dengan demikian apabila kesemuanya ini kau leburkan kedalam ke-baqoaan DZAT ALLOH.maka ulama menamakannya sebagai BERIKUT:

1.watujibul wajasadi fi fasaral qolbi .

2.watujibul qolbi fi fasaral ruhi .

3.watujibul ruhi fi fasaral sirri .

4.watujibul sirri fi fasaral imani .

5.watujibul imani fi fasaral nuri .

6.watujibul nuri fi fasaral qodroti .

7.watujibul qodroti fi fasaral Dzati fil Dzati .


" maka uraian atau tulisan yg diatas sempurnalah amalan" orang ARIF BILLAH"


Ugi:meresap menyerap menyerat berserah...


SAMA" BELAJAR BUKAN INGGIN MEGURUI ...


WASSALAM...

Senin, 10 Januari 2022

SIFAT RUH

Allah Yang Maha Suci dengan sengaja menciptakan ruh yang menjadi sumber kehidupan seluruh makhluk-Nya dari dunia hingga akhirat. Dan pada hakikatnya seluruh ciptaan-Nya tersebut “Hidup” karena tidaklah Ia menciptakan suatu makhluk melainkan padanya ada ruh yang meliputinya. Termasuk langit dan bumi beserta isi antara keduanya pun punya ruh. Allah Yang Hidup adalah Dzat pemberi hidup dan kehidupan pada seluruh makhluk bangsa ruhaniah yang diwujudkan pada alam semesta. Tidak ada yang hidup melainkan dengan sumber kehidupan, yaitu ruh! Adapun ruh sendiri berasal daripada-Nya, dan menjadi nur (hidup) makhluk.

Tetapi bagaimanakah sesungguhnya sifat ruh itu?

Ruh adalah sesuatu yang lembut dan halus, meliputi seluruh keadaan makhluk dan tidaklah ia bertempat pada suatu tempat yang sifatnya lokal dan mikro. Apabila ruh meliputi pada sesuatu yang mati, maka hiduplah sesuatu itu. Ruh tidak dapat diukur besar kecilnya dengan suatu wujud jasmaniah. Ruh tidak berjenis sebagaimana jenis jasmani manusia dan makhluk lainnya. Dan apabila ruh mensifati serta meliputi hati manusia, maka memancarlah “himmah” dan kestabilan serta kekuasaan dalam gerak langkah hidupnya. Dan bilamana menyelusup menyelimuti nafsu (jiwa) serta mendominasinya, tercerminlah kemauan dan semangat hidup dalam menata kehidupannya.

Iika ruh menguasai akal pikiran maka akal pikiran akan menjurus kesempurnaan di dalam pandangan dan dapat menentukan suatu sikap atas dasar pertimbangan yang matang bagi perjalanan hidupnya. Begitulah adanya, jika ruh singgah di telinga maka mendengarlah ia, manakala ruh berkelebat melalui mata maka memandanglah ia, dan ketika ruh bertamasya pada mulut maka berhamburanlah kata-kata yang punya mulut, pun bila ruh menjalar pada tangan maka bergeraklah ia meraba dan mengusap, juga apabila ruh mengalir pada kaki maka dapatlah melangkah tegap ataupun gontai. Begitu pula bila ruh meliputi dan menguasai sel–sel yang bergerak ke seluruh peredaran darah maka tampaklah gerak hidup jasmani.

Ruh adalah golongan makhluk Allahur Rabbul ‘ alamin yang dikekalkan kehidupannya. Adapun hidup serta kehidupan makhluk yang diliputi ruh selalu tumbuh dan berkembang. Allah Yang Maha Kaya menamai kehidupan langit dan bumi beserta isi keduanya dengan isyarat “Nur” (cahaya atau kehidupan), sebagaimana firman-Nya :

Allahu nuurus samaawaati wal ardhi …

“Allah (pemberi) cahaya (hidup) langit dan bumi ….” QS. 24 An Nuur : Ayat 35.

Innallah khalaqa ruuhan nabiyyi shalallahu ‘alaihi wasalam min dzaatihi wakhuliqal ‘aalamu biasrihi min nuuri muhammadin shalallahu ‘ alaihi wasallam. (Al – HADIS )

“Sesungguhnya Allah menciptakan ruh Nabi saw, daripada Dzat-Nya lalu diciptakan alam sekaliannya dengan rahasia-Nya dari pada Nur Muhammad saw.”

Ruh, termasuk makhluk ciptaan-Nya yang gaib dan hidup meliputi dimensi alam jasmaniah. Dan ruh memiliki sifat yang berlawanan dengan jasmani. Ruh adalah Nurullah! Tapi ruh sebagai Nurullah bukan berarti sebagaimana cahaya yang memancar dari matahari atau lampu. Nur dalam pengertian ayat dan Hadis tersebut di atas bermakna Hidup! Yakni suatu makhluk yang hidup dihidupkan Allah Yang Maha Hidup dengan ruh ciptaan-Nya! Allahul Hayyi jualah yang menghidupkannya dengan memberikan ruh ciptaan-Nya.

Kalimat “Nur” di dalam firman Allahul ‘Azhim sangat banyak, bahkan lebih dari tiga puluh (30) ayat yang menyebut tentang “Nur” sekaligus meliputi atau menjadi simbol berbagai hal seperti Muhammad Rasul Allah saw., Al Qur’aan, Agama Islam, Malaikat, Ilmu serta Hidayah (petunjuk). Istilah “Hidup” yang meliputi kehidupan seluruh makhluk juga dirumuskan dalam bahasa wahyu dengan istilah “Nur”. Apabila ruh diibaratkan nur yang terang benderang maka jasmani diibaratkan suatu tempat yang gelap gulita semisal ruangan. Padahal tidaklah akan tampak terang suatu cahaya bila ia tidak bertempat pada yang gelap gulita. Begitu pula keadaan gelap pekatnya jasmani dikatakan gelap gulita bila tidak ada sesuatu yang meneranginya. Demikianlah pengertian “Ruh” sebagai “Nur” dalam istilah wahyu-Nya. Sifat Ruh

Sufi Road : Kajian tentang Ruh

Para ulama memiliki pandangan berbeda tentang bolehnya mengkaji tema seputar ruh. Ada yang berpendapat, mengkaji ruh itu haram, karena hanya Allah yang tahu. Ada pula yang berpedapat, kajian tentang ruh itu makruh mendekati haram, karena dalam Al-Quran tidak ada nash yang menjelaskan masalah ruh secara gamblang.

Setiap pendapat tersebut memiliki dasar pemahaman yang berbeda terhadap firman Allah, “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan kalian hanya diberi sedikit pengetahuan’.” – QS Al-Isra’ (17): 85.

Mereka yang menolak kajian tentang ruh di antaranya berpandangan, pernyataan Allah pada ayat tersebut menjelaskan bahwa ruh termasuk alam metafisika, yang tidak dapat diketahui secara pasti. Ia bukan sesuatu yang bersifat inderawi, yang dapat diketahui lebih jauh. Selain itu, ilmu manusia terbatas hanya pada pengetahuan tentang penciptaan. Inilah yang dimaksud dengan kalimat dalam ayat tersebut, “Dan kalian hanya diberi sedikit pengetahuan.”

Sementara itu mereka yang memperbolehkan mengkaji tentang ruh di antaranya berpandangan, tidak ada kesepakatan para ulama yang menyatakan bahwa ruh yang ditanyakan dalam ayat itu adalah ruh (nyawa) manusia. Ada pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud ruh dalam ayat tersebut adalah Al-Quran, Jibril, Isa, atau ciptaan Allah yang ghaib, yang hanya diketahui oleh Allah SWT.

Bagaimanapun, yang lebih baik adalah tidak membahas masalah ruh terlalu dalam. Syaikh Abu An-Nashr As-Sarraj Ath-Thuusi mengatakan, “Terdapat orang-orang yang salah memahami ruh, (kesalahan) mereka ini bertingkat-tingkat, semuanya bingung dan salah paham. Sebab mereka memikirkan keadaan sesuatu (yakni ruh) yang mana Allah sendiri telah mengangkat darinya pada segala keadaan dan telah membersihkannya dari sentuhan ilmu pengetahuan, (sehingga) ia tak akan dapat disifati oleh seorang pun kecuali dengan sifat yang telah dijelaskan Allah.”

Hakikat Ruh

Habib Syaikh bin Ahmad Al-Musawa, dalam karyanya berjudul Apa itu Ruh?, menyatakan, definisi ruh adalah, “ciptaan/makhluk yang termasuk salah satu dari urusan Allah Yang, Mahatinggi. Tiada hubungan antara ia dengan Allah kecuali ia hanyalah salah satu dari milik-Nya dan berada dalam ketaatan-Nya dan dalam genggaman (kekuasaan)-Nya. Tidaklah ia menitis (bereinkarnasi) ataupun keluar dari satu badan kemudian masuk ke badan yang lain. Ia juga akan merasakan kematian sebagaimana badan merasakannya. Ia menikmati kenikmatan sebagaimana juga badan, atau akan merasakan siksa sebagaimana juga badan. Dia akan dibangkitkan pada badan yang ia keluar darinya. Dan Allah menciptakan ruh Nabi Adam AS dari alam malakut sedangkan badannya dari tanah.”

Sementara itu, sebagian besar filosof muslim, seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali, dan sekelompok kaum sufi, berpendapat, jiwa terpisah dari materi. Ia bukan jasad atau benda. Ia tidak memiliki dimensi panjang dan dalam. Jiwa sangat berhubungan dengan sistem yang bekerja dalam jasad. Dengan kata lain, jiwa menggerakkan jasad dari luar karena ia tidak menyatu dengan jasad. Jiwa adalah inti ruh murni yang dapat mempengaruhi jasad dari luar seperti magnet.

Al-Ghazali, dalam Ihya’-nya, menyebutkan, kata-kata ruh, jiwa, akal, dan hati, sejatinya merujuk pada sesuatu yang sama, namun berbeda dalam ungkapan. Sesuatu ini, jika ditinjau dari segi kehidupan jasad, disebut ruh. Jika ditinjau dari segi syahwat, ia disebut jiwa. Jika ditinjau dari segi alat berpikir, ia disebut akal. Dan jika ditinjau dari segi ma’rifat (pengetahuan), ia disebut hati (qalb).

Dalam bahasa sehari-hari, ruh dan jiwa juga acap digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang sama, seperti pada ucapan “ruhnya telah melayang”, atau “jiwanya telah melayang”. Dua kalimat tersebut bermakna sama, orang itu telah mati.

Para ulama lainnya berpendapat, ruh adalah benda ruhaniah (cahaya) langit yang intinya sangat lembut, seperti sinar matahari. Ia tidak dapat berubah, tidak dapat terpisah-pisah, dan tidak dapat dikoyak. Jika proses penciptaan satu jasad telah sempurna dan telah siap, seperti dalam firman Allah “Maka, apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya – QS Al-Hijr (15): 29, benda-benda mulia (ruh) Ilahi dari langit akan beraksi di dalam tubuh, seperti api yang membakar. Inilah yang dimaksudkan dalam firman Allah “Aku meniupkan ruh (ciptaan)-Ku ke dalamnya.” – QS Al-Hijr (15): 29. Selama jasad dalam kondisi sehat, sempurna, dan siap menerima benda mulia tersebut, ia akan tetap hidup. Jika di dalam jasad ada unsur-unsur yang memberatkan, misalnya penyakit, unsur-unsur itu akan menghambat benda mulia ini sehingga ia akan terpisah dari jasad. Saat itu, jasad menjadi mati.

Beragam definisi ruh disebutkan para ulama. Intinya, manusia terdiri dari jasad dan ruh. Perbedaan pendapat para ulama seputar hakikat ruh bukan bagian dari inti aqidah Islam. Masalah ini berada dalam ranah ijtihad para ulama.

Abadi, atau Fana?

Allah menetapkan kematian atas segala yang memiliki ruh dari makhluk-Nya, penguasa maupun rakyat jelata, yang kaya atau yang miskin, yang mulia atau yang lemah, yang maksiat atau yang taat, dari seluruh penduduk alam semesta ini, dan kemudian mengadili mereka di akhirat.

Dia menggenggam ruh sebagian manusia yang telah memakmurkan dunia dan menghiasinya dengan bangunan-bangunan, kemudian manusia itu menempatinya, meski itu bukan tempat yang kekal bagi semua yang hidup.

Dia juga menggenggam ruh manusia sebagian lainnya yang bersungguh-sungguh untuk memperbaiki akhiratnya dan menjadikan dunia hanya sebagai batu loncatan untuk memperbanyak amal shalih mereka sebagai perahu dalam mengarunginya.

Ruh yang ini mendapat kebahagiaan dan kesenangan, sementara ruh yang lain mendapatkan kekecewaan, kecelakaan, dan kepayahan. Ruh yang ini bersenang-senang di kebun surga dan bernaung di lentera-lentera yang bergantung di ‘Arsy dalam kenikmatan yang menyenangkan, sedang ruh yang lain terpenjara dan tersiksa di neraka jahim. Alangkah jauh perbedaan antara kedua ruh jasad dua jenis manusia tersebut.

Setelah seseorang mati, ruh tetap ada hingga terjadi peniupan sangkakala yang pertama. Ulama sepakat akan hal itu. Selama masa itu, ruh merasakan nikmat atau adzab di alam kubur.

Adapun setelah ditiupnya sangkakala, terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama. Sebagian ulama berpendapat, ruh bersifat fana (akan sirna) dan akan mati saat peniupan sangkakala yang pertama. Dasarnya adalah firman Allah, “Setiap yang berjiwa akan merasakan kematian.” – QS Ali Imran (3): 185. Dalam ayat lainnya disebut, “Semua yang ada akan binasa.” – QS Ar-Rahman (55): 26.

Menurut pendapat terkuat, setelah peniupan sangkakala yang pertama, ruh akan tetap abadi. Hukum asal sesuatu yang abadi adalah selalu ada sampai ada sesuatu yang mengubahnya. Perdapat tentang keabadian ruh ini disimpulkan dari ayat “Dan ditiuplah sangkakala. Maka, matilah makhluk yang di langit dan di bumi kecuali makhluk yang dikehendaki Allah. Kemudian sangkakala ditiup sekali lagi. Tiba-tiba mereka berdiri menunggu (keputusannya masing-masing).” – QS Az-Zumar (39): 68. Menurut penjelasan ayat ini, ruh termasuk sesuatu yang dikecualikan.

Ruh Mengetahui saat Diziarahi

Apakah ketika orang hidup menziarahi orang mati, ruh orang mati tersebut dapat mengetahui bahwa ia tengah diziarahi? Habib Syekh menuliskan dalam bukunya, jawabannya adalah “Ya.”

Bila ditanyakan apakah jasad mereka atau arwah mereka (yang bertemu), ia menjawab, “Sungguh jauh sekali. Jasad sudah hancur, yang bertemu hanyalah arwah mereka.”

Ibnu Abdil Barr berkata, “Telah tetap riwayat dari Nabi SAW, beliau bersabda, ‘Tidaklah seorang muslim melewati kubur saudaranya yang mana dahulu ia mengenalnya di dunia, kecuali Allah akan mengembalikan ruh saudaranya itu lalu ia menjawab salamnya.” Hadits ini menunjukkan, ruh si mati mengenalinya dan menjawab salamnya.

Pada hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, disebutkan, ketika Rasulullah SAW memerintahkan agar korban yang tewas pada Perang Badar (dari kaum musyrikin) dikuburkan dalam satu lubang, kemudian beliau mendatangi lubang tempat kubur tersebut lalu berdiri dan menyeru mereka yang telah mati itu dengan namanya masing-masing, “Wahai Fulan bin Fulan, wahai Fulan bin Fulan, apakah kalian telah mendapati apa yang telah dijanjikan Tuhan kalian adalah benar? Karena sesungguhnya aku mendapati apa yang dijanjikan Tuhanku kepadaku adalah benar”, berkatalah Umar RA kepada beliau, “Ya Rasulullah, mengapakah Tuan menyeru/berbicara kepada orang-orang yang telah menjadi bangkai.”

Beliau menjawab, “Demi Allah, yang telah mengutusku dengan kebenaran, tidaklah kalian lebih mendengar apa yang kau katakan daripada mereka. Hanya saja mereka tak dapat menjawab.”

Saat memperhatikan kebiasaan sebagian besar masyarakat di Nusantara yang melakukan aktivitas ruwahan atau berkirim pahala amal kepada orang-orang yang telah wafat atau khususnya kepada arwah yang mereka ziarahi, apakah arwah orang yang telah mati itu dapat mengambil manfaat dari amal orang hidup, ataukah tidak? Berikut ini salah satu hujjah di antara luasnya bahtera hujjah yang menunjukkan sampainya amalan orang hidup kepada orang yang telah mati.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih mereka, dari Abdullah bin Abbas RA, ia berkata, “Telah datang seorang kepada Nabi SAW lalu orang itu bertanya, ‘Ya Rasulullah, ibuku meninggal dunia dan ia meninggalkan utang puasa sebulan, apakah aku dapat mengqadha puasanya?’

Rasulullah SAW balik bertanya, ‘Bagaimana pendapatmu jika ibumu berutang lalu engkau melunasi utangnya, apakah itu mencukupi/menggugurkan kewajibannya?’

Orang itu menjawab, ‘Ya.’

Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika demikian, utang kepada Allah lebih wajib untuk dilunasi’.”