Laman

Sabtu, 24 Februari 2018

Wahai orang orang yang Munafik.


Janganlah engkau mengajarkan ketidak ikhlasan kepada orang lain.
Belajarlah dulu ikhlas untukmu sendiri.
Ibadahmu buat mu bukan untuk allah.
Allah tidak butuh ibadahmu. Melainkan allah senantiasa mengingatkan padamu agar beribadah karna cintanya.
Jika kalian beribadah lantaran pahala.
Jika kalian beribadah karna ingin sorga,
Itu dinamakan tidak adanya ikhlas di diri kalian.
Pahami pahami dan pahamilah makna LILLAHI TA'ALA jangan hanya sekedar di ucap di bibir saja.
Wahai orang orang yang aku kasihi.
Allah telah menunjukanmu jalan yang lurus sebagaimana allah telah memberikan petunjuk dgn Nabimu Muhammad SAW.
Lihatlah Syariat Muhammad.
Bliau senantiasa berkasih sayang tanpa pamrih. Menjaga ucapan dan perbuatan nya dari hal keji dan munkar.
Muhammad nabimu tidak mengajarkan pamrih.
Sekali lagi saya tegaskan MUHAMMAD NABIMU TIDAK MENGAJARKAN PAMRIH.
Jika kalian terhenyak dgn ketegasan ini, maka peganglah dada kalian dan tariklah nafas dalam dalam sambil mengucap dalam hati SUBHANALLAH WABIHAMDIHIS.....
rasakan hentakan nya hingga menusuk jantung kalian.
Tahan darasakan itu sejenak dalam jantungmu seraya mengucap dalam Hati SUBHANALLAHIL ADZIM ...
Dan hembuskanlah kotoran dalam hatimu seraya menghembuskan nafasmu sambil mengucap ASTAGFIRULLAH..
Leluhurku mendoakan kalian semoga mendapat Rahmat Nya Allah.

“NUR MUHAMMAD”


Nur Muhammad itu merupakan Nur yang terpancar dari Dzat Tuhan.
Nur Muhammad adalah yang pertama diciptakan.
Nur Muhammad adalah Roh dari segala makhluk
Dan tidak ada makhluk tanpa adanya Nur Muhammad.
Karena dengan Nur Muhammad inilah DIA melahirkan secara nyata sifat ketuhanan Nya dalam diri setiap makhluk.
Hakekat Nur Muhammad Hakekat Sifat Allah dalam DIRI
Hidup kita karena hidupnya Muhammad dalam DIRI kita.
Hidupnya Muhammad dalam diri kita karena HAYAT Nya Allah SWT.
Tahu kita karena tahunya Muhammad pada HATI kita.
Tahunya Muhammad pada hati kita dengan ILMU Nya Allah SWT.
Kuasa kita karena kuasa Muhammad pada TULANG kita.
Kuasanya Muhammad pada tulang kita dengan QUDRAT Nya Allah SWT.
Berkehandak kita karena kehendak Muhammad pada NAFSU kita.
Berkehendak nya Muhammad pada nafsu kita dengan IRADAT Nya Allah SWT.
Mendengar kita karena pendengaran Muhammad pada TELINGA kita.
Mendengar nya Muhammad pada telinga kita dengan SAMI’ Nya Allah SWT.
Melihat kita karena penglihatan Muhammad pada MATA kita.
Melihat nya Muhammad pada mata kita dengan BASIR Nya Allah SWT.
Berkata kita karena Ber-katanya Muhammad pada LIDAH kita.
Berkatanya Muhammad pada lidah kita dengan KALAM Nya Allah SWT.
Awal Muhammad adalah NURANI, menjadi ROH dalam diri kita.
Akhir Muhammad itu adalah ROHANI, menjadi HATI dalam diri kita.
Dzahir Muhammad itu adalah INSANI, menjadi RUPA dalam diri kita.
Batin Muhammad itu adalah RABBANI, menjadi UJUD dalam diri kita.
Sedangkan Anasir Roh Muhammad itu dapat difahami dalam 4 kedudukan yaitu :
UJUD
ILMU
NUR
SYUHUD
UJUD merupakan pen-dzahiran dari Zat Allah menjadi RAHASIA pada kita.
Dan pada hakekatnya merupakan Keberadaan Muhammad.
ILMU merupakan pendzahiran dari Sifat Allah menjadi ROH pada kita.
Dan pada hakekatnya merupakan Roh Muhammad.
NUR merupakan pendzahiran dari Asma Allah menjadi HATI pada kita.
Dan pada hakekatnya merupakan Hati Muhammad.
SYUHUD merupakan pendzahiran dari Afa’al Allah menjadi TUBUH pada kita.
Dan pada hakekatnya merupakan Tubuh Muhammad.
Ket.
UJUD adalah Zat Allah merupakan realitas IMAN dan keimanan, Artinya Ujud itu Ada dan yang diadakan.
Pemahamannya adalah bahwa yang ADA itu Allah dan yang DIADAKAN itu Muhammad.
ILMU adalah Sifat Allah, merupakan realitas ROH, Artinya Ilmu itu mengetahui dan yang diketahui.
Pemahamannya adalah bahwa yang MENGETAHUI itu Allah dan yang DIKETAHUI itu Muhammad.
NUR adalah Asma Allah, merupakan realitas HATI, Artinya Nur itu terang dan yang diterangi.
Pemahamannya adalah bahwa yang TERANG itu Allah dan yang DITERANGI itu Muhammad.
SYUHUD adalah Afa’al Allah, merupakan realitas TUBUH INSAN. Artinya Syuhud itu memandang dan yang dipandang.
Pemahamannya adalah bahwa yang MEMANDANG itu Allah dan yang DIPANDANG itu Muhammad.
PEMAHAMAN Tentang HAKEKAT NUR MUHAMMAD,
Kepercayaan dan keyakinan yang penuhlah membuat diri seseorang itu percaya kepada istilah Nur Muhammad.

TATKALA RAHASIA TERUNGKAP


“Semuanya akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”. (QS,Ar Rahmaan : 26-28)
Ketika hati mulai bercahaya, ketika jiwa mulai merasakan, ketika akal silau dengan pancaran Nur Nya ; saat itu lidah terasa kelu untuk bersuara, perasaan hati lenyap entah kemana, raga hampir-hampir tak berdaya bahkan jiwa gaib di dalam kegaiban Tuhannya.
Samudra Ahadiyah Allah Ta’ala telah menghanyutkan dirinya menghempaskan batinnya pada karang-karang kerinduan dan membawanya kepada sebuah pulau keikhlasan tertinggi.
Mereka-mereka yang telah sampai pada keikhlasan tertinggi itu telah melepaskan segala sesuatunya, apa saja baik dirinya zahir batin maupun yang diluar dirinya. Pandangan Syuhudnya hanya lah Allah Swt, di dalam pandangan yang tiada jarak dan tiada antara.
Telah dilewatinya Pos-pos jiwa mulai dari Pos Ruhani sanpai kepada Pos Ruh Idhofi. Disini baginya sesuatu yang berpasangan telah lenyap dari pengetahuan di dirinya. Tiada lagi kata serba dua apalagi banyak pada pandangan batinnya. Mursyid yang menyampaikan dirinya kepada Tuhannya pun sudah tidak terpandang lagi. Baginya mursyid dan murid itu satu! Yang dikatakan Mursyid, itulah Murid ; dan yang dikatakan Murid, itulah Mursyid. Batinnya satu dengan Mursyidnya, sehingga dia juga yang disebut Mursyid dan dia jugalah yang disebut Murid. Jika Mursyid dan Murid sudah satu dalam pandangan Batinnya, dimanakah Mursyid? Dan dimanakah Murid?
Tentu! Jika sudah Satu meliputi maka tidak ada lagi Mursyid dan tidak ada lagi Murid, yang ada hanyalah Penguasa yang menguasai Mursyid dan Murid, Dialah Allahu Robbul ‘Alamin.
Itulah maqom keikhlasan tertinggi dimana pada maqom itu ia tidak terikat oleh sesuatu lagi, tidak membangga-banggakan akan sesuatu lagi dan tidak menonjolkan akan sesuatu lagi.
Kemerdekaan dan kemandirian bersama Tuhannya telah mengisi kekosongan jiwanya, sehingga kemana saja ia pergi, dimana saja ia berada tidak ada yang ada hanya Allah Swt meliputi disetiap gerak dan diamnya.
Pada Maqom Keikhlasan tertinggi itu Allah telah mendudukan ia pada posisi “DARKATUL QUDRAT”, karena ia telah berhasil melewati tahapan ke “AKU” an didirinya.
DARKATUL QUDRAT adalah ibarat Halaman Istana Kerajaan Allah Ta’ala.
Jika ke “AKU “an dirinya saja sudah lenyap/Fana dari pandangan, bukankah segala yang di luar dari dirinya juga akan lenyap/Fana?
Apabila mereka yang mengaku telah benar-benar sampai kepada Tuhannya, tentu sudah seharusnya ia tidak bersandar lagi kepada sesuatu.
Jika masih bersandar akan sesuatu sedangkan ia menyatakan telah sampai kepada Maqom Robbani, maka sesungguhnya ia belumlah sampai dengan sebenar-benarnya sampai. Pada saat itu ia masih sampai sebatas Ilmu dan rasa tetapi belum lagi sampai kepada yang punya Ilmu dan rasa.
Sayyidina Ali bin Abi Tholib r.a Karamallahu Wajhah berkata :
“Tidak Syah Sholat seseorang melainkan dengan Mengenal akan Allah”.
Di dalam perjalanan Ma’rifatullah/Mengenal akan Allah maka di mulai dengan Mengenal akan Diri sendiri (Diri yang sebenar-benarnya Diri). Sebab diri yang dikatakan sebenar-benarnya diri itu, yang memiliki hubungan langsung dengan Tuhannya. Tentu bagi mereka yang sudah paham tentang Ma’rifat telah mengetahui yang mana sih…., diri yang harus di kenal itu.
Akan tetapi dari mereka-mereka yang telah kenal akan diri banyak yang tidak menyadari bahwasannya apa yang telah dilaluinya/diketahuinya itu masih sebatas Kulit dalam pandangan Arifbillah.
Kenapa demikian..? karena diri yang banyak diketahui oleh sebagian penuntut Ma’rifatullah itu masih terbatas kepada diri yang ada pada dirinya sendiri. Dan ada juga yang terbatas pada pandangannya kepada orang yang diistimewakan dan diagungkannya.
Sedangkan Ma’rifat yang sebenarnya dan sesempurna-sesempurnanya adalah Ma’rifat yang Universal, tidak ada batasanya dan tidak terbatasi oleh diri sendiri saja maupun orang tertentu saja.
Setiap orang yang berada di dalam lingkaran Ma’rifat merujuk kepada Sumber Pengetahuan Allah/Sumber Hakikatullah yang di sebut dengan “Nur Muhammad”, sebagaimana dalil yang telah dipahami oleh mereka-mereka yang ber paham Ma’rifat bahwa “Nur Muhammad” itu awal-awal dari segala sesuatu. Dengan Nur itu maka terciptalah Seluruh sekalian Alam beserta isinya.
Rosulullah Saw bersabda :
“Bahwasannya Allah Swt telah menjadikan akan Ruh-ku daripada Zat-Nya sedangkan sekalian Alam beserta isinya terbit dari pada Nur-ku (Nur Muhammad)”.
Sabda Rosulullah Saw yang lain :
“Sesungguhnya Aku adalah Bapak sekalian Ruh sedangkan Adam adalah Bapak dari sekalian batang tubuh (Jasad)”.
Dari dalil tersebut telah menguraikan bahwa Hakikat Nur Muhammad itu tidak hanya ada pada satu diri saja melainkan ada pada setiap yang maujud. Sehingga tak terbatas bagi Nur Muhamad itu, melainkan meliputi sekalian Alam termasuk pada diri sendiri.
Jika seseorang mengenal akan Allah melalui Nur-Nya (Nur Muhammad) yang ada pada dirinya sendiri maka belum lah dikatakan mengenal akan Allah yang meliputi sekalian Alam. Begitu juga jika seseorang mengenal akan Allah melalui Nur-Nya (Nur Muhammad) yang ada hanya pada orang-orang tertentu yang diistimewakannnya dan diagungkannya dari diri Ustadz-ustadznya, Guru-gurunya, Syaikhnya ataupun Mursyidnya maka sesungguhnya ia masih terhijab oleh yang sesuatu yang dipandangnya.
Rumus dari pada Ma’rifatulah yang sebenarnya dan Universal itu adalah :
“Syuhudul Wahdah Fil Katsroh, Syuhudul Katsroh Fil Wahdah”.
(Memandang yang Satu (Nur) ada pada yang banyak, memandang yang banyak ada pada yang Satu).
Saya katakan bahwa seseorang yang mengenal Allah sebatas pandanganya kepada dirinya sendiri atau orang tertentu yang diistimewakan dan diagungkannya maka mereka itu mengenal akan Allah masih sebatas Kulit saja dari pemahaman Marifatullah yang sesungguhnya.
Jika demikian!, bagaimana mungkin ia akan sampai kepada keikhlasan tertinggi dan bagaimana mungkin ia mengatakan telah bertemu dengan Allah sedangan di halaman Istana Allah saja (DARKATUL QUDRAT) ia belum memasukinya, karena masih terdinding/terhijab pandangannya dari sesuatu selain Allah Swt (HAQQUL HAQIQI).
Jika anda benar-benar ingin menjumpai Allah dan bertemu dengan Allah (LIQO’) maka lepaskanlah pandangan hatimu dari sesuatu apapun. Jangan berhenti pada pandangan JAMALULLAH/ KEINDAHAN ALLAH maka niscaya engkau akan mabuk dan takjub di dalamnya.
Pandanganmu akan Hakikat Nur yang ada hanya pada dirimu saja atau yang ada hanya pada orang yang engkau kagumi dan istemawakan saja membuktikan bahwa tanpa engkau sadari engkau telah tenggelam dan mabuk di dalam sifat JAMALULLAH/KEINDAHAN ALLAH.
Ketahuilah! Bahwa untuk sampai kepada Allah Swt dengan melalui EMPAT tahapan, yaitu :
JALALULLAH (Kebesaran dan Keagungan Allah)
JAMALULLAH (Keindahan Allah)
QOHARULLAH (Kekerasan/Kepastian Allah)
KAMALULLAH (Kesempurna’an Allah)
Untuk bisa menaiki tahapan-tahapan tsb agar sampai kepada KAMALULLAH (KESEMPURNAAN ALLAH), maka wajib baginya Satu Pandangan yaitu Allah Swt tanpa melalui perantara selain Nur Muhammad. Sedangkan Nur Muhammad itu meliputi setiap yang Maujud termasuk pada diri sendiri.
Sehingga yang dikatakan sebenar-benarnya Guru/Mursyid Murobbi adalah Nur Muhammad Rosulullah Saw sebagai pemegang Kunci Pintu Surga/MIFTAHUL JANNAH.
Siapapun mereka itu, jika Satu yang di pandang yaitu Allah Swt, melalui Hakikat Nur Muhammad yang meliputi sekalian Alam maka tidak ada sebutan yang pantas baginya selain “ARIFBILLAH”.
Jika masih ada pandangan yang terbatas atau dibatasi tentang Hakikat Nur Muhammad itu pada beberapa diri saja maka belumlah pantas baginya menyandang sebutan “ARIFBILLAH” melainkan mereka itu masih di sebut dengan orang yang berada pada “TARIKAT/Perjalanan” menuju kepada Allah.
Mursyid Murobbi tidak hanya ada pada satu diri
Melainkan Meliputi setiap “Kaun Maujudi”
Siapa yang sanggup mematikan Diri
Itulah Langkah Awal menuju Diri Sejati
Jangan tertipu dengan apa yang dipandang
Karena semuanya hanyalah bayang-bayang
Tidak terpisah Al-Haq dengan selayang pandang
Tujulah kepada satu yang ada di dalam pandang
Belumlah dikatakan sebenar-benarnya mengenal
Sebelum engkau mengerti JALAL, JAMAL, QOHAR DAN KAMAL
Empat sifat yang maujud dan Nyata pada Nur-Nya
Alif itu menunjukkan akan Zat-Nya
Lam Awal adalah ketetapan Sifat-Nya
Lam Akhir kenyataan Asma’Nya
Sedangkan Ha adalah bukti dari Af’al-Nya
Kesempurnaan Allah dalam keserba meliputannya
Pada Muhammad Rosulullah segala rahasianya
Sebagai inti dasar dari sekalian alam
Menjadi saksi kemaujudannya
Alif adalah jati diri Muhammad
Kaf itu adalah Ilmu Muhammad
Ba’ adalah Kelakuan Muhammad
Ro’ itu kehendak pada diri Muhammad
Dari situlah Maha Agung Allah Ta’ala
Dalam keserba meliputan sekalian Alam
Allah dan Muhammad satu Rahasia
Menjadi Kalimah ALLAH dan AKBAR.

"TAUBAT KEMBALI PADA ALLAH"

Bagimu yang masih belajar menata nafsu, sebaiknya Nafsu jangan dilayani karna tidak ada kebaikan jika dirimu menjadi pelayan Nya.
Bagimu yang tertata Nafsunya, maka tingkatkan dgn sabar dan ridho untuk ber istiqomah dalam menjalani Thareqoh Nya.
Perjalanan dari bawah ke atas "Taraqqi" adalah proses belajar mendewasakan diri untuk kembali menjadi manusia yang sempurna.
AKAL NYA Cerdas
JIWA NYA Bijaksana.
HATI NYA Menuntun, mengasihi dan menyayangi pada sesama. Tidak ada benci, iri dengki, curiga, ingin menyakiti dll..
Terbebas dari belenggu Jiwa yang Rakus tamak dan berbagai penyaki lain Nya.
Proses inilah dilakukan secara bertahap, menapaki tangga Jiwa Amarah Mulhammah dan seterus nya.
AMARAH: adalah Nafsu yang paling mudah menjerumuskan Manusia kedalam panasnya api neraka.
Orang yang berada di Maqom ini, tentu tidak akan peduli dengan yang namanya akhirat.
Orang ini senang melakukan perbuatan yang dilarang asalkan dirinya merasa senang dengan perbuatannya.
LAWWAMAH: Tingkatannya lebih tinggi daripada kedudukan Amarah.
Orang yang berada pada tahap atau maqom lawwamah ini sudah tau antara perbuatan yang dilarang dan amal kebajikan.
Saat jatuh pada kejahatan dia masih merasa puas namun kadangkala ia menyesali perbuatannya itu. Dia Kadang berbuat baik dan setelah itu akan kembali melakukan perbuatan dosa lagi.
Orang yang seperti ini masih belum ada jaminan masuk surga.
MULHAMAH: Orang yang berada pada tingkatan ini apabila hendak melakukan amal kebajikan terasa berat.
Namun dalam keadaan bermujahadah dia berbuat kebaikan kebaikan karena ia sudah mulai takut pada kemurkaan Allah dan pedihnya api Neraka. Bila berhadapan dengan kemaksiatan, hatinya masih rindu dengan maksiat.
Namun ia masih dapat melawannya dengan membayangkan nikmatnya berada di Syurga.
Dia sudah mengenal penyakit penyakit yang berada dalam hatinya.
Seperti iri hati, dengki, syirik, dan lain lain.
Tapi dia masih belum mampu melawan.
Bila penyakit penyakit hati ini sudah tidak ada lagi, ia akan merasakan satu kenikmatan baru dalam hatinya dan akan merasa benci dalam melakukan kejahatan.
Dan pada saat itu dia telah meningkat ke taraf nafsu yang lebih baik lagi yaitu Maqom Muthmainnah.
MUTHMAINNAH: Orang yang berada dalam tingkatan ini sudah dijamin masuk surga (Hatinya Damai)
Sesuai dengan yang terkandung dalam surat Al- Fajr ayat 27-30 : "Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang redha dan diridhoi, maka masuklah ke dalam golongan hamba hamba Ku, dan masuklah ke dalam Syurga Ku".
Orang yang berada dalam tingkatan ini sentiasa dijauhkan dari rasa cemas dan gelisah atas segala ketetapan Allah SWT dan selalu merasa sejuk hatinya, tenteram jiwanya.
Jika dia bisa melakukan suatu amal kebajikan. Hatinya senantiasa rindu pada Allah SWT.
RADHIAH: Sifat dari Maqom ini adalah dia selalu menganggap yang makruh itu haram, dan yang sunat ia anggap itu kewajiban.
JIika ia tidak melaksanakan apa yang disunatkan, ia merasa berdosa.
Baginya takdir baik atau buruk adalah sama saja. mereka tidak peduli dengan urusan yang berbau dunia.
Karena hati mereka hanya pada Allah dan ridho atas segala ketentuan yang Allah berikan kepadanya.
MARDHIYAH: Tingakatan ini lebih tinggi dari Maqom Radhiah.
Yang istimewa pada tingkatan ini adalah Bukan hanya orang pada tingkatan ini yang sangat mencintai Allah SWT, tapi Allah SWT juga sangat mencintainya.
Dia membuat Allah SWT cinta padanya dengan melaksanakan apa yang di sunatkan dan tidak melaksanakan sebuah dosa walaupun sekecil jarum di lautan.
Sesuai dengan Hadist Qudsi : "Senantiasa hamba Ku mendekatkan diri kepadaku dengan mengerjakan ibadah ibadah sunnah sehingga Aku cinta padanya.
Maka apabila Aku telah mencintainya,
Jadilah Aku pendengarannya yang dengannya ia mendengar,
Jadilah penglihatannya yang dengannya ia melihat,
Jadilah perkataannya yang dengannya ia berkata,
Jadilah Aku tangannya yang dengannya ia berbuat,
Jadilah Aku kakinya yang dengannya ia melangkah,
Dan Jadikah akalnya yang dengannya ia berpikir".
KAMILAH: Tingakatan yang ketujuh ini adalah Maqom para Nabi dan Rasul, Manusia yang suci dan sempurna.
Yang terpelihara dari perbuatan tercela dan Allah selalu mengawasi dan membimbingnya.
Untuk meraih Maqom dari peringkat yang paling bawah hingga peringkat diatasnya, maka diperlukankan jalan dan mujahadah (Jalan Tasawuf itulah lebih cepat mendapat CintaNya.
Semoga Diriku Dirimu dan Dirinya senantiasa mendapat limpahan cahayanya untuk menapaki jalan untuk kembali pada Rahmat Nya.
Aamiin YRA.

Tasawuf dan Makrifat

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Mengulas kembali perihal
Tasawuf dan Makrifat
Tasawwuf & Makrifat adalah perkataan yang sentiasa didendangkan oleh makluk Allah ke telinga manusia baik dari sudut negetif & positif. Maka di sini perlulah kita memahami erti sebenar Tasawwuf & Makrifat yang lebih mendalam bagi memahami insan-insan yang mendalami ilmu ini. Insan-insan yang memilih keredhoan Allah dalam memperjuangkan syiar Islam mengikut Tarikat (jalan) yang disyariatkan. Hati yang suci bersih insyaallah akan sentiasa dirahmati Allah swt dengan limpahan rahmat Ilmu yang tidak terduga oleh akal manusia.
1. Pengertian Ilmu Tasawwuf :
Ilmu tasauf ialah ilmu yang menyuluh perjalanan seseorang mukmin di dalam membersihkan hati dengan sifat-sifat mahmudah atau sifat-sifat yang mulia dan menghindari atau menjauhkan diri daripada sifat-sifat mazmumah iaitu yang keji dan tercela .
2. Ilmu tasawwuf bertujuan mendidik nafsu dan akal supaya sentiasa berada di dalam landasan dan peraturan hukum syariat Islam yang sebenar sehingga mencapai taraf nafsu mutmainnah .
3. Syarat-syarat untuk mencapai taraf nafsu mutmainah:
a) Banyak bersabar .
b) Banyak menderita yang di alami oleh jiwa .
4. Imam Al-Ghazali r.a. telah menggariskan sepuluh sifat Mahmudah / terpuji di dalam kitab Arbain Fi Usuluddin iaitu :
1) Taubat .
2) Khauf ( Takut )
3) Zuhud
4) Sabar.
5) Syukur.
6) Ikhlas.
7) Tawakkal.
8) Mahabbah ( Kasih Sayang )
9) Redha.
10) Zikrul Maut ( Mengingati Mati )
5. Dan Imam Al-Ghazali juga telah menggariskan sepuluh sifat Mazmumah / tercela / sifat keji di dalam kitab tersebut iaitu :
1) Banyak Makan
2) Banyak bercakap.
3) Marah.
4) Hasad.
5) Bakhil.
6) Cintakan kemegahan.
7) Cintakan dunia .
8) Bangga Diri.
9) Ujub ( Hairan Diri ).
10) Riya' ( Menunjuk-nunjuk ).

2. Pengertian MAKRIFAT
Seorang hamba tidak ada pilihan lain kecuali berserah diri kepada Allah s.w.t, hanya Dia yang memiliki kuasa Mutlak dalam menentukan siapakah antara hamba-hamba-Nya yang layak mengenali Diri-Nya. Ilmu dan amal hanya digunakan untuk membentuk hati yang berserah diri kepada Allah s.w.t.
Aslim atau menyerah diri kepada Allah s.w.t adalah perhentian di hadapan pintu gerbang makrifat. Hanya para hamba yang sampai di perhentian aslim ini yang berkemungkinan menerima kurnia makrifat. Allah s.w.t menyampaikan hamba-Nya di sini adalah tanda bahawa si hamba tersebut dipersiapkan untuk menemui-Nya.
«Aslim adalah maqam berhampiran dengan Allah s.w.t.»
Siapa yang sampai kepada maqam ini haruslah terus membenamkan dirinya ke dalam lautan penyerahan tanpa menghiraukan banyak atau sedikit ilmu dan amal yang dimilikinya. Sekiranya Allah s.w.t kehendaki dari maqam inilah hamba diangkat ke Hadarat-Nya. Jalan menuju perhentian aslim ke pintu gerbang makrifat secara umumnya terbagi menjadi dua bahagian.
«Jalan pertama dinamakan jalan orang yang mencari dan jalan kedua dinamakan jalan orang yang dicari »
Orang yang mencari akan melalui jalan di mana dia kuat melakukan mujahadah (berjuang melawan godaan hawa nafsu), kuat melakukan amal ibadah dan gemar menuntut ilmu.
Lahiriahnya sibuk melaksanakan tuntutan syariat dan batinnya memperteguhkan iman. Dipelajari dan mengenal sifat-sifat yang tercela dan berusaha mengikiskannya dari dirinya.Kemudian diisikan dengan sifat-sifat yang terpuji.
Dipelajarinya perjalanan nafsu dan melatihkan dirinya agar nafsunya menjadi bertambah suci hingga
meningkat ke tahap yang diridhoi Allah s.w.t. Inilah orang yang diceritakan Allah s.w.t dengan firman-Nya:
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keredhoan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.".( Surah Al-'Ankabut ayat 69 )
Orang yang bermujahadah pada jalan Allah s.w.t dengan cara menuntut ilmu, mengamalkan ilmu yang dituntut,memperbanyakkan ibadah, berzikir, menyucikan hati, maka Allah s.w.t menunjukkan jalan dengan memberikan taufik dan hidayat sehingga terbuka kepadanya suasana berserah diri kepada Allah s.w.t tanpa ragu-ragu dan redha dengan perlakuan Allah s.w.t.
Dia dibawa sampai dengan pintu gerbang makrifat dan hanya Allah s.w.t saja yang menentukan apakah orang tadi akan dibawa ke Hadrat-Nya ataupun tidak, dikurniakan makrifat ataupun tidak.
Golongan orang yang dicari menempuh jalan yang berbeda daripada golongan yang mencari.
Orang yang dicari tidak cenderung untuk menuntut ilmu atau beramal dengan tekun.Dia hidup selaku orang biasa tanpa kesungguhan bermujahadah. Tetapi, Allah s.w.t telah menentukan satu kedudukan kerohanian kepadanya,maka takdir akan menempatkannya sampai ke kedudukan yang telah ditentukan itu. Orang dalam golongan ini biasanya berhadapan dengan sesuatu peristiwa yang dengan serta-merta membawa perubahan kepada hidupnya.
Perubahan sikap dan kelakuan berlaku secara mendadak. Kejadian yang menimpanya selalu berbentuk ujian yang memutuskan hubungannya dengan sesuatu yang menjadi penghalang di antaranya dengan Allah s.w.t. Jika dia seorang raja yang beban kerajaannya menyebabkan dia tidak mampu mendekati Allah s.w.t, maka Allah s.w.t mencabut kerajaan itu darinya. Terlepaslah dia dari beban tersebut dan pada masa yang sama timbul satu keinsafan di dalam hatinya yang membuatnya menyerahkan dirinya kepada Allah s.w.t dengan sepenuh hatinya.
Suasana begini membuat mereka sampai dengan cepat ke perhentian pintu gerbang makrifat walaupun ilmu dan amal mereka masih sedikit. Orang yang berjalan dengan kenderaan bala bencana mampu sampai ke perhentian tersebut dalam waktu sesaat sedangkan orang yang mencari mungkin sampai pintu makrifat dalam waktu yang lama.
Abu Hurairah r.a menceritakan apa yang beliau dengar dari Rasulullah s.a.w. Beliau bersabda yang maksudnya:
Allah berfirman: " Apabila Aku menguji hamba Ku yang beriman kemudian dia tidak mengeluh kepada pengunjung-pengunjungnya maka Aku lepaskan dia dari belenggu-Ku dan Aku gantikan baginya daging dan darah yang lebih baik dari yang dahulu dan dia boleh memperbaharui amalnya sebab yang lalu telah diampuni semua".
Amal kebaikan dan ilmunya tidak mampu membawanya kepada kedudukan kerohanian yang telah ditentukan Allah s.w.t, lalu Allah s.w.t dengan rahmat-Nya mengenakan ujian bala bencana yang menariknya dengan cepat kepada kedudukan berhampiran dengan Allah s.w.t. Oleh kerana itu tidak perlu dipersoalkan tentang amalan dan ilmu sekiranya keadaan yang demikian terjadi kepada seorang hambaNya.

DZAT, SIFAT, AFAL, DAN ASMA ALLAH

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
"AWALUDIIN MA'RIFATULLAH"
DZAT, SIFAT, AFAL, DAN ASMA ALLAH
TAUHID merupakan dasar umat ISLAM. KEPERCAYAAN bahwa ALLAH adalah TUHAN yang ESA dan merupakan satu-satunya diyakini oleh semua MUKMIN tanpa ada pertentangan akan hal itu. Namun semua itu perlu untuk lebih MENDEKATKAN Diri pada ALLAH.
Dalam memasuki pintu KETUHANAN menjadi hal yang mendalam yaitu MENGENAL DZAT, SIFAT, AF'AL dan ASMA ALLAH TA'ALA.
Perlu diingat juga bahwa segala perbuatan apapun yang terjadi dan berlaku di dalam alam ini pada hakikatnya adalah AF'AL (PERBUATAN-NYA) ALLAH TA'ALA.

A. #DZAT
"Sesungguhnya AKU ini ALLAH, tidak ada TUHAN kecuali "AKU", maka, SUJUDlah kepada "AKU" ( Qs At Thoha : 14).
DZAT ALLAH merupakan PERWUJUDAN dari NUR MUHAMMAD.
DZAT ALLAH SWT memiliki SIFAT-SIFAT yaitu SIFAT yang WAJIB.

B. #SIFAT_SIFAT
ALLAH SWT memiliki sifat-sifat yang tentunya tidak sama dengan SIFAT yang dimiliki oleh MANUSIA ataupun MAKHLUK lainnya. Mengenal SIFAT-SIFAT ALLAH dapat meningkatkan KEIMANAN kita. Seseorang yang mengaku MENGENAL dan MEYAKINI ALLAH itu ada namun ia tidak MENGENAL SIFAT ALLAH, maka ia perlu lebih MENDEKATKAN Diri kepada ALLAH SWT. SIFAT-SIFAT ALLAH yang wajib kita IMANI ada 20.

1. UJUD
SIFAT ALLAH yang pertama yaitu UJUD artinya ADA . Keimanan seseorang akan membuatnya dapat berpikir dengan akal sehat bahwa alam semesta beserta isinya ada karena ALLAH yang MENGHIDUPKAN.
“Sesungguhnya RABB kamu yang telah menCIPTAkan LANGIT dan BUMI dalam ENAM MASA, lalu DIA bersemayam di atas ARSY. DIA menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) MATAHARI, BULAN dan BINTANG (masing-masing) tunduk kepada PERINTAH-NYA. Ingatlah, menCIPTAkan dan MEMERINTAHKAN hanyalah HAK RABBIL 'ALAMIIN.“ (QS. Al-A’raf: 54)

2. QIDAM
QIDAM berarti DAHULU atau AWAL. SIFAT ALLAH ini menandakan bahwa ALLAH SWT sebagai yang diUJUDkan lebih dulu ada daripada SEMESTA ALAM dan isinya yang DIA ciptakan.
“DIA-LAH yang AWAL dan yang AKHIR, yang ZAHIR dan yang BATHIN; dan DIA Maha Mengetahui segala sesuatu. “ (QS. Al-Hadid: 3)

3. BAQA'
SIFAT ALLAH BAQA’ yaitu KEKAL. Manusia, hewan ,tumbuhan, dan makhluk lainnya selain ALLAH akan mati dan hancur. Kita akan kembali kepadaNYA dan itu pasti. Hanya ALLAH lah yang KEKAL.
“Semua yang ada di BUMI itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah RABB-mu yang mempunyai KEBESARAN dan KEMULIAAN. “ (QS. Ar-Rahman: 26-27)

4. MUKHALAFATU LIL HAWADITS
SIFAT ALLAH ini artinya adalah ALLAH berbeda dengan CIPTAAN-NYA. Itulah keistimewaan dan Keagungan ALLAH SWT.
“TIDAK ADA sesuatu pun yang serupa dengan DIA, dan DIA-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. “ (QS. Asy-Syura: 11)

5. QIYAMUHU BINAFSIHI
SIFAT ALLAH selanjutnya yaitu QIYAMUHU BINAFSIHI, yang artinya ALLAH berDIRI SENDIRI. ALLAH mengHIDUPkan alam semesta, membuat takdir, menghadirkan surga dan neraka, dan lain sebagainya, tanpa bantuan makhluk apapun.
“ALLAH, tidak ada SESUATU (yang berhak disembah) melainkan DIA. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-NYA. “ (QS. Ali-Imran: 2)

6. WAHDANIYYAH
SIFAT ALLAH WAHDANIYYAH yaitu esa atau TUNGGAL. Hal ini sesuai dengan kalimat syahadat, Asyhadu alaa ilaa ha illallah, Tiada SESUATU kecuali ALLAH.
“Sekiranya ada di LANGIT dan di BUMI ilah-ilah selain ALLAH, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa. Maka Maha Suci ALLAH yang mempunyai Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. “ (QS. Al-Anbiya: 22)

7. QUDRAT
QUDRAT adalah BERKUASA. SIFAT ALLAH ini berarti ALLAH berkuasa atas segala yang ada atau yang telah Ia ciptakan. Kekuasaan ALLAH sangat berbeda dengan kekuasaan manusia di dunia. ALLAH memiliki KUASA terhadap HIDUP dan MATI segala MAKHLUK. Kekuasaan ALLAH itu sungguh besar dan tidak terbatas, sedangkan kekuasaan manusia di dunia dapat hilang atas KUASA ALLAH SWT.
“Sesungguhnya ALLAH berkuasa atas segala sesuatu. “ (QS. Al-Baqarah: 20)

8. IRADAT
IRADAT berarti BERKEHENDAK. SIFAT ALLAH ini menandakan bahwa ALLAH SWT memiliki KEHENDAK atas semua yang diHIDUPkan. Bila ALLAH telah BERKEHENDAK terhadap TAKDIR atau nasib seseorang, maka ia takkan dapat mengelak atau menolaknya. Manusia hanya dapat berusaha dan berdoa, namun ALLAH lah yang menentukan. KEHENDAK ALLAH ini juga atas KEMAUAN ALLAH tanpa ada campur tangan dari manusia atau makhluk lainnya.
“Sesungguhnya TUHANmu Maha Pelaksana terhadap apa yang DIA kehendaki.” (QS. Hud: 107).

9. ILMU
ILMU artinya MENGETAHUI. ALLAH MAHA MENGETAHUI segala sesuatu, meskipun pada hal yang tidak terlihat. Tiada yang luput dari PANDANGAN ALLAH.
“Katakanlah (kepada mereka): Apakah kamu akan memberitahukan kepada ALLAH tentang AGAMAmu (KEYAKINAN-mu), padahal ALLAH mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan ALLAH MAHA MENGETAHUI segala sesuatu.” (QS. Al-Hujur√Ęt: 16)

10. HAYAT
SIFAT ALLAH HAYAT atau HIDUP. Namun hidupnya ALLAH tidak seperti manusia, karena ALLAH yang mengHIDUPkan manusia. Manusia bisa mati, ALLAH tidak mati, IA akan hidup terus selama-lamanya.
“ ALLAH tidak ada SESUATU (yang berhak disembah) melainkan DIA yang HIDUP KEKAL lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur.” (QS. Al-Baqarah: 255)

11. SAM'UN
SIFAT ALLAH SAM'UN atau MENDENGAR. ALLAH selalu MENDENGAR semua hal yang diucapkan manusia, meskipun ia berbicara dengan halusnya atau tidak terdengar sama sekali. PENDENGARAN ALLAH tidak terbatas dan tidak akan pernah sirna.
“Dan ALLAH-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. “ (QS. Al-Maidah: 76)

12. BASAR
BASAR artinya MELIHAT. Penglihatan ALLAH juga tidak terbatas. Ia dapat melihat semua yang kita lakukan meskipun kita melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi. ALLAH mampu melihat, naik yang besar maupun yang kecil, yang nyata maupun kasat mata. SIFAT ALLAH ini menandakan bahwa ALLAH MAHA SEMPURNA.
“Sesungguhnya ALLAH mengetahui apa yang GHAIB di LANGIT dan di BUMI. Dan Maha MELIHAT apa yang kamu kerjakan. “ (QS. Al-Hujurat: 18)

13. KALAM
KALAM artinya BERFIRMAN. SIFAT ALLAH ini dapat kita lihat dengan adanya AL QUR'AN sebagai petunjuk yang benar bagi manusia di dunia. AL QUR'AN merupakan FIRMAN ALLAH yang diwahyukan kepada NABI MUHAMMAD SAW.
“Dan ALLAH telah berbicara kepada MUSA dengan langsung. “ (QS. An-Nisa: 164)

14. QADIRUN
SIFAT ALLAH ini berarti ALLAH adalah DZAT yang Maha BERKUASA. ALLAH tidak lemah, Ia berkuasa penuh atas seluruh MAKHLUK dan CIPTAAN-NYA.
“Sesungguhnya ALLAH BERKUASA atas segala sesuatu. “ (QS. Al Baqarah: 20).

15. MURIDUN
ALLAH memiliki SIFAT MURIDUN, yaitu sebagai DZAT Yang MAHA BERKEHENDAK. DIA BERKEHENDAK atas nasib dan TAKDIR manusia.
“Sesungguhnya TUHANmu Maha MELAKSANAKAN apa yang DIA KEHENDAKI. “ (QS.Hud:
 107).

16. 'ALIMUN
SIFAT ALLAH 'ALIMUN, yaitu DZAT Yang MAHA MENGETAHUI. ALLAH MENGETAHUI segala hal yang telah terjadi maupun yang belum terjadi. ALLAH pun dapat MENGETAHUI isi HATI dan PIKIRAN manusia.
“Dan ALLAH MAHA MENGETAHUI sesuatu. “ (QS. An Nisa’: 176).

17. HAYYUN
ALLAH adalah DZAT Yang HIDUP. ALLAH tidak akan PERNAH MATI, tidak akan PERNAH TIDUR ataupun LENGAH.
“Dan bertakwalah kepada ALLAH yang HIDUP KEKAL dan yang TIDAK MATI. “ (QS. Al Furqon: 58).

18. SAMI'UN
ALLAH adalah DZAT Yang Maha MENDENGAR. ALLAH selalu MENDENGAR pembicaraan manusia, permintaan atau doa hambaNya.
“ALLAH Maha MENDENGAR dan Maha MENGETAHUI. “ (QS. Al Baqoroh: 256).
MELIHAT

19. BASIRUN
Adalah DZAT Yang MAHA MELIHAT. SIFAT ALLAH ini tidak terbatas seperti halnya penglihatan manusia. ALLAH selalu MELIHAT gerak-gerik kita. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu berbuat baik.
“Dan ALLAH MAHA MELIHAT apa yang kamu kerjakan. “ (QS. Al Hujurat: 18).

20. MUTAKALLIMUN
SIFAT ALLAH ini berarti Yang MAHA BERBICARA. ALLAH TIDAK BISU, Ia BERBICARA atau BERFIRMAN melalui AYAT-AYAT AL QUR'AN. Bila AL QUR'AN menjadi PEDOMAN HIDUP kita, maka kita telah PATUH dan TUNDUK terhadap ALLAH SWT.
SIFAT yang dimiliki oleh ALLAH merupakan DZAT PRIBADI-NYA. Tempat TITIK TUJUANnya adalah SIFAT MANUSIA. Contohnya MANUSIA melihat SIFAT ALLAH adalah MAHA MELIHAT, MANUSIA mendengar maka SIFAT ALLAH adalah MAHA MENDENGAR, manusia berkata-kata maka SIFAT ALLAH MAHA BERKATA -KATA, manusia mempunyai daya maka SIFAT ALLAH BERKUASA, manusia hidup maka SIFAT ALLAH adalah MAHA HIDUP namun SIFAT ALLAH lebih SEGALAnya dan tidak bisa dibandingkan dengan manusia.
“barang siapa mengenal DIRI-nya, ia mengenal TUHANnya”

C. #AF_AL
AF'AL ALLAH adalah PERBUATAN-NYA. Bahwa segala yang ada di dunia ini termasuk manusia adalah AF'AL-NYA (PERBUATAN-NYA). Adanya bumi, langit, manusia, malaikat, jin, surga, neraka dan yang lainnya merupakan AF'AL ALLAH yang disediakan oleh ALLAH untuk MANUSIA.
Cara MUSYAHADAH (MENYAKSIKAN) TAUHID AF'AL yaitu :
Melakukan SYUHUD (MEMANDANG/MENYAKSIKAN) dan menanamkan KEYAKINAN dalam HATI bahwa segala perbuatan yang menurut kita BAIK itu semua DARI ALLAH.
“ALLAH yang MENGHIDUPKAN kamu dan apa yang kamu perbuat.” (Q.S ash shoffat : 96)
PERBUATAN yang terjadi digolongkan pada:
1. BAIK pada bentuk (RUPA) dan ISI (HAKIKATnya) seperti IMAN dan TAAT
2. BURUK pada bentuk (RUPA) namun BAIK pada PENGERTIAN ISI (HAKIKAT) seperti KUFUR dan MAKSIAT.
Namun perlu digaris bawahi bahwa tidak akan ada perbuatan buruk pada diri manusia jika manusianya sendiri tidak melakukan hal yang buruk pada dirinya sendiri.

D. #ASMA
FIRMAN Allah SWT dalam surat Al-Araf ayat 180 :
"ALLAH mempunyai ASMAUL HUSNA, maka bermohonlah kepada-NYA dengan menyebut ASMAUL HUSNA itu dan TINGGALkanlah orang-orang yang MENYIMPANG dari KEBENARAN dalam (MENYEBUT) NAMA-NAMANYA. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan".
ASMAUL HUSNA secara HARFIAH ialah NAMA-NAMA, SEBUTAN, GELAR ALLAH yang BAIK dan AGUNG sesuai dengan SIFAT-SIFATNYA. NAMA-NAMA ALLAH yang AGUNG dan MULIA itu merupakan suatu KESATUAN yang MENYATU dalam KEBESARAN dan KEHEBATAN milik ALLAH. Ia berkait dengan SIFAT dan AF'AL. dimana secara umum kita mengenal 99 NAMA ALLAH.
Bahwa manusia hanya mampu dan hanya boleh mengenal SIFAT, AF'AL, dan ASMA ALLAH saja. DZATULLAH TIDAK akan PERNAH mampu dicapai oleh PEMIKIRAN manusia terPINTAR sekalipun.
“FIKIRkanlah olehmu SIFATULLOH dan jangan kamu MEMIKIRKAN akan DZAT-NYA”.
ALLAH MELIPUTI segala sesuatu (Al fushilat 54) adalah KESEMPURNAAN .. DZAT , SIFAT, ASMA, dan AF'AL.
SALAAMUN QOULAM MIR ROBBI ROHIIM. . . . .
Foto Sufi Jawani.



SIAPA KHARIJIS ITU?

Sepanjang sejarah Islam, kelompok telah muncul dari waktu ke waktu untuk menganjurkan cara berpikir baru dan berbeda tentang agama. Salah satu yang paling radikal dan kekerasan dari kelompok-kelompok ini muncul saat kekacauan politik 'khilafah Ali, yang berlangsung dari 656 sampai 661,Dikenal sebagai Kharijis, mereka muncul dari posisi politik radikal dan kemudian mengembangkan keyakinan yang sangat ekstrem yang menempatkan mereka. berselisih dengan kebanyakan umat Islam.Meskipun mereka tidak pernah menjadi kekuatan politik atau agama besar di dunia Muslim, mereka memiliki dampak besar pada zaman mereka sendiri dan ideologi mereka telah berulang kali direplikasi oleh kelompok pinggiran lainnya selama 1400 tahun terakhir.

Latar Belakang
Pada bulan Juni 656 M (35 Setelah Hijrah), khalifah Kekaisaran Muslim, 'Utsman bin' Affan dibunuh.Pembunuh adalah sekelompok tentara Muslim Mesir yang tidak puas, yang mengambil keputusan dengan keputusan 'Utsman dibuat dalam kasus antara mereka dan gubernur Mesir. Berbeda dengan dua khalifah sebelumnya,
Abu Bakr dan 'Umar, yang setidaknya tertinggal beberapa petunjuk tentang bagaimana memilih seorang khalifah baru
(Abu Bakar hanya menunjuk' Umar sementara 'Umar menunjuk sebuah dewan enam untuk memilih salah satu dari mereka sendiri) 'Utsman tidak meninggalkan kerangka untuk memilih khalifah baru.

Pembunuh, yang sekarang memegang kendali efektif di ibu kota, Medina, menginginkan 'Ali menjadi khalifah baru.
Ali secara alami menolak penunjukan pembunuh tersebut.

Menerima nominasi dapat ditafsirkan oleh orang lain sebagai persetujuan tersiratnya atas tindakan pemberontak,yang tidak dapat berlanjut dari kebenaran mengingat bahwa dia mengirim anak-anaknya sendiri untuk membela 'Utsman ketika para pemberontak membarikade dia
di rumahnya.

Tapi ketika beberapa anggota terkemuka komunitas Madinah mengatakan kepada Ali bahwa dia adalah kesempatan terbaik bagi bangsa Muslim untuk berdamai dan normal,terutama mengingat statusnya sebagai sepupu dan menantu Nabi, dia dengan enggan mengambil alih posisi keempat khalifah Kekaisaran Muslim

Luasnya dunia Muslim selama kekhalifahan 'Ali.Kawasan yang dipegang oleh Mu'awiyah diarsir dengan warna hijau muda.

Namun, dia memiliki beberapa perlawanan langsung.
Mu'awiyah,gubernur Syria, adalah sepupu 'Utsman.
Dia siap untuk berjanji setia kepada khalifah baru asalkan Ali mencoba dan menghukum tentara Mesir yang memberontak yang membunuh Utsman.'Ali, bagaimanapun,tidak percaya bahwa melakukan hal itu adalah demi kepentingan negara Muslim.

Dia tentu saja tidak menyetujui tindakan tentara tersebut,
namun menghukum mereka bisa menimbulkan pemberontakan yang lebih besar lagi, yang menyebabkan pertumpahan darah dan cobaan lebih banyak untuk Kekaisaran Muslim muda, yang ingin dihindari Ali.

Tanpa dukungan Mu'awiyah,bagaimanapun,'Ali ditinggalkan tanpa salah satu provinsi kekaisaran terbesar dan paling makmur. Mu'awiyah sangat populer di Suriah.

Dia telah menjadi gubernur di sana sejak kekhalifahan'Umar,
dan melakukan pekerjaan dengan baik dengan hati-hati mengelola hubungan antara populasi asli penduduk asli dan Muslim Arab yang baru diperkenalkan.'Ali, pada gilirannya, mendapat dukungan kuat di Irak, khususnya di kota Kufah,di mana pendukungnya marah atas penolakan Mu'awiya untuk berjanji setia.

Untuk menghindari perang sipil antara pendukung Mu'awiya
di Suriah dan orang-orang Irak Ali, kedua orang tersebut setuju untuk melakukan arbitrase. Mereka menduga mengizinkan pihak ketiga untuk menengahi perselisihan tersebut dan menemukan solusinya, dan berpotensi menjadi khalifah baru, akan menjadi akhir yang damai bagi perpecahan politik yang berbahaya.

Tapi Ali menghadapi masalah yang tak terduga dengan arbitrasinya. Beberapa pendukungnya sangat yakin bahwa dia benar dalam pilihannya untuk tidak mengejar keadilan bagi 'pembunuh Utsman, bahwa mereka marah atas pilihannya untuk pergi ke arbitrase.

Bagi mereka, 'Ali telah melakukan dosa besar dengan menyetujui untuk berurusan dengan Mu'awiyah.Mereka memisahkan diri dari 'kamp Ali dan dikenal sebagai Kharijis
(juga dikenal sebagai Khawarj atau Kharijites)
yang berarti "mereka yang pergi".

Khariji Ide
Perkembangan gagasan Khariji adalah pelajaran menarik tentang bagaimana gagasan politik dapat menghasilkan ide-ide baru yang berbeda tentang Islam (proses politik dan keagamaan yang serupa akan membentuk Syiah di tahun-tahun berikutnya).

Posisi politik Khariji bahwa 'Ali membuat kesalahan berubah menjadi keyakinan bahwa setiap dan semua orang yang melakukan dosa tidak layak untuk memerintah.ini sendiri adalah ide yang sangat ekstrem, tapi tidak berakhir di situ.

Akhirnya, Kharijis berpendapat bahwa dosa itu sendiri adalah bentuk kekufuran (kekafiran pada Tuhan).Mereka berargumen bahwa jika Anda melakukan dosa, Anda sebenarnya adalah orang yang tidak beriman di dalam Tuhan dan karenanya dapat diperangi dan dibunuh, bahkan jika Anda adalah Sahabat Nabi atau khalifah.Lebih jauh lagi, jika Anda tidak setuju dengan keyakinan mereka bahwa dosa adalah ketidakpercayaan, Anda secara default adalah orang yang tidak percaya dan dapat diperangi dan dibunuh.

Keyakinan Khariji tidak memiliki banyak dasar dalam teologi Islam yang sebenarnya.Takfir (menyatakan orang-orang kafir)sebenarnya adalah hal yang sangat spesifik dan langka dalam kepercayaan Muslim arus utama, dengan pendapat mayoritas,seperti yang dinyatakan dalam 'Aqida Imam al-Tahawi,karena satu-satunya yang menyangkal status seseorang sebagai seorang Muslim adalah secara terbuka menyatakan bahwa mereka tidak percaya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya.

Jadi sebagian besar Khawarij tidak mendidik orang-orang yang berpengalaman dalam Al Qur'an dan ucapan Nabi. Mayoritas adalah perampok Badui padang pasir yang kekurangan pemahaman mereka tentang Islam dengan semangat yang kuat untuk kepercayaan Khariji, tidak peduli seberapa intelektual mereka dangkal.

Gagasan Khariji tidak pernah bertahan dengan populasi umum.
Selain distorsi ajaran Nabi, kepercayaan Khariji terlalu ekstrem bagi kebanyakan orang yang diajak bergabung.

Tapi itu tidak menghentikan kelompok kecil Kharijis memiliki dampak besar pada dunia Muslim.

Sejalan dengan keyakinan mereka,
Kharijis berusaha membunuh semua pemimpin politik yang mengambil bagian dalam arbitrase yang menyebabkan pendirian mereka. Mereka gagal dalam usaha mereka untuk membunuh Mu'awiyah dan 'Amr ibn al-'As, yang mendukung Mu'awiyah dan memerintah Mesir atas namanya.

Tapi di tahun 661 mereka berhasil membunuh khalifah,
'Ali, di Kufah. Pembunuhan sepupu dan anak laki-laki Nabi dalam hukum membawa tentang akhir era Khilafah Khalifah dan awal kekhalifahan Umayyah, yang dipimpin oleh Mu'awiyah.

Kharijis terus menjadi gangguan bagi khalifah Umayyah dan Abbasiyah selama berabad-abad. Mereka tidak pernah datang
ke kota-kota besar dalam pemberontakan mereka yang banyak,
tapi akan menggunakan keakraban mereka dengan padang pasir untuk berkeliaran di seluruh dunia Muslim,melecehkan dan meneror populasi yang tidak menerima kepercayaan mereka.

Di Afrika Utara, mereka berhasil mendapatkan dukungan untuk kepentingan mereka dari kelompok orang Berber asli dengan bermain dari ketegangan antara mereka dan orang-orang Arab yang berkuasa.

Akhirnya, gerakan Khariji akan mati perlahan, korban ekstremisme sendiri yang mencegahnya diterima oleh kebanyakan umat Islam.
Satu helai dari mereka berhasil mencapai tingkat tertentu sampai berkembang dan berkembang menjadi sekte Ibadi, yang saat ini merupakan mayoritas penduduk Oman.

Tapi sementara gerakan Khariji sendiri tidak bertahan,
konsep mereka tentang takfir orang-orang berdosa telah dibangkitkan dari waktu ke waktu oleh banyak kelompok ekstremis,bahkan digemakan oleh beberapa gerakan politik modern.