Laman

Kamis, 28 Mei 2020

Urgensi Mursyid

Allah Swt. berfirman:
“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan Barangsiapa mendapatkan kesesatan, maka ia tidak akan menemukan (dalam hidupnya) seorang wali yang mursyid” (QS 18 Al Kahfi : 17)

Dalam tradisi tasawuf, peran seorang Mursyid (pembimbing atau guru ruhani) merupakan syarat mutlak untuk mencapai tahapan-tahapan puncak spiritual. Eksistensi dan fungsi Mursyid atau wilayah kemursyidan ini ditolak oleh sebagian ulama yang anti tasawuf atau mereka yang memahami tasawuf dengan cara-cara individual. Mereka merasa mampu menembus jalan ruhani yang penuh dengan rahasia menurut metode dan cara mereka sendiri, bahkan dengan mengandalkan pengetahuan yang selama ini mereka dapatkan dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Namun karena pemahaman terhadap kedua sumber ajaran tersebut terbatas, mereka mengklaim bahwa dunia tasawuf bisa ditempuh tanpa bimbingan seorang Mursyid.

Pandangan demikian hanya layak secara teoritis belaka. Tetapi dalam praktek sufisme, hampir bisa dipastikan, bahwa mereka hanya meraih kegagalan spiritual. Bukti-bukti historis akan kegagalan spoiritual tersebut telah dibuktikan oleh para ulama sendiri yang mencoba menempuh jalan sufi tanpa menggunakan bimbingan Mursyid.

Para ulama besar sufi, yang semula menolak tasawuf, seperti Ibnu Athaillah as-Sakandari, Sulthanul Ulama Izzuddin Ibnu Abdis Salam, Syeikh Abdul Wahab asy-Sya’rani, dan Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali akhirnya harus menyerah pada pengembaraannya sendiri, bahwa dalam proses menuju kepada Allah tetap membutuhkan seorang Mursyid.

Masing-masing ulama besar tersebut memberikan kesaksian, bahwa seorang dengan kehebatan ilmu agamanya, tidak akan mampu menempuh jalan sufi, kecuali atas bimbingan seorang Syekh atau Mursyid. Sebab dunia pengetahuan agama, seluas apa pun, hanyalah “dunia ilmu”, yang hakikatnya lahir dari amaliah. Sementara, yang diserap dari ilmu adalah produk dari amaliah ulama yang telah dibukakan jalan ma’rifat itu sendiri.

Jalan ma’rifat itu tidak bisa begitu saja ditempuh begitu saja dengan mengandalkan pengetahuan akal rasional, kecuali hanya akan meraih Ilmul Yaqin belaka, belum sampai pada tahap Haqqul Yaqin. Alhasil mereka yang merasa sudah sampai kepada Allah (wushul) tanpa bimbingan seorang Mursyid, wushul-nya bisa dikategorikan sebagai wushul yang penuh dengan tipudaya. Sebab, dalam alam metafisika sufisme, mereka yang menempuh jalan sufi tanpa bimbingan ruhani seorang Mursyid, tidak akan mampu membedakan mana hawathif-hawathif (bisikan-bisikan lembut) yang datang dari Allah, dari malaikat atau dari syetan dan bahkan dari jin. Di sinilah jebakan-jebakan dan tipudaya penempuh jalan sufi muncul. Oleh sebab itu ada kalam sufi yang sangat terkenal: “Barangsiapa menempuh jalan Allah tanpa disertai seorang guru, maka gurunya adalah syetan”.

Oleh sebab itu, seorang ulama sendiri, tetap membutuhkan seorang pembimbing ruhani, walaupun secara lahiriah pengetahuan yang dimiliki oleh sang ulama tadi lebih tinggi dibanding sang Mursyid. Tetapi, tentu saja, dalam soal-soal Ketuhanan, soal-soal batiniah, sang ulama tentu tidak menguasainya.

Sebagaimana ayat al-Qur’an di atas, seorang Syekh atau Mursyid Sufi, mesti memiliki prasyarat yang tidak ringan. Dari konteks ayat di atas menunjukkan bahwa kebutuhan akan bimbingan ruhani bagi mereka yang menempuh jalan sufi, seorang pembimbing ruhani mesti memiliki predikat seorang yang wali, dan seorang yang Mursyid. Dengan kata lain, seorang Mursyid yang bisa diandalkan adalah seorang Mursyid yang Kamil Mukammil, yaitu seorang yang telah mencapai keparipurnaan ma’rifatullah sebagai Insan yang Kamil, sekaligus bisa memberikan bimbingan jalan keparipurnaan bagi para pengikut thariqatnya.

Tentu saja, untuk mencari model manusia paripurna setelah wafatnya Rasulullah saw. terutama hari ini, sangatlah sulit. Sebab ukuran-ukuran atau standarnya bukan lagi dengan menggunakan standar rasional-intelektual, atau standar-standar empirisme, seperti kemasyhuran, kehebatan-kehebatan atau pengetahuan-pengetahuan ensiklopedis misalnya. Bukan demikian. Tetapi, adalah penguasaan wilayah spiritual yang sangat luhur, dimana, logika-logikanya, hanya bisa dicapai dengan mukasyafah kalbu atau akal hati.

Karenanya, pada zaman ini, tidak jarang Mursyid Tarekat yang bermunculan, dengan mudah untuk menarik simpati massa, tetapi hakikatnya tidak memiliki standar sebagai seorang Mursyid yang wali sebagaimana di atas. Sehingga saat ini banyak Mursyid yang tidak memiliki derajat kewalian, lalu menyebarkan ajaran tarekatnya. Dalam banyak hal, akhirnya, proses tarekatnya banyak mengalami kendala yang luar biasa, dan akhirnya banyak yang berhenti di tengah jalan persimpangan.

Lalu siapakah Wali itu? Wali adalah kekasih Allah Swt. Mereka adalah para kekasih Allah yang senanatiasa total dalam tha’at ubudiyahnya, dan tidak berkubang dalam kemaksiatan. Dalam al-Qur’an disebutkan:

“Ingatlah, bahwa wali-wali Allah itu tidak pernah takut dan  tidak pernah bersedih hati.
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertaqwa..." (QS 10 Yunus : 62-63)

Sebagian tanda dari kewalian adalah tidak adanya rasa takut sedikit pun yang terpancar dalam dirinya, tetapi juga tidak sedikit pun merasa gelisah atau susah. Para Wali ini pun memiliki hirarki spiritual yang cukup banyak, sesuai dengan tahap atau maqam dimana, mereka ditempatkan dalam Wilayah Ilahi di sana. Paduan antara kewalian dan kemursyidan inilah yang menjadi prasyarat bagi munculnya seorang Mursyid yang Kamil dan Mukammil di atas.

Wali Allah itu adalah orang-orang yang beriman dan senantiasa bertaqwa!!!

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan bila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia." (QS 8 Al Anfaal :2-4)

"Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang bila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong." (QS 32 As Sajdah: 15)

"Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah.." (QS 9 At Taubah :112)

"..orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah..."(QS 49 Al Hujuraat :15)

Wali Allah akan berlaku lemah lembut terhadap orang mukmin dan bersikap keras/tidak akan berteman setia dengan musuh-musuh Allah (kafir)!!!

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.." (QS 60 Al Mumtahanah : 1)

"...yang bersikap lemah lembut terhadap orang  mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.."(QS 5 Al Maa'idah : 54)


Panduan mencari Mursyid

Dalam kitab Al-Mafaakhirul ‘Aliyah, karya Ahmad bin Muhammad bin ‘Ayyad, ditegaskan, — dengan mengutip ungkapan Sulthanul Auliya’ Syekh Abul Hasan asy-Syadzily ra, — bahwa syarat-syarat seorang Syekh atau Mursyid yang layak – minimal –ada lima:
1. Memiliki sentuhan rasa ruhani yang jelas dan tegas.
2. Memiliki pengetahuan yang benar.
3. Memiliki cita (himmah) yang luhur.
4. Memiliki perilaku ruhani yang diridhai.
5. Memiliki mata hati yang tajam untuk menunjukkan jalan Ilahi.

Sebagaimana kata Sayyid-At-Tariqah As-Sufiyyah Shaikh Junaid Al-Baghdadi ra :
"Ilmu kami, ahli Tasawwuf diikat dengan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi. Jika seseorang tidak hafal Hadis Nabi dan tidak menulisnya didalam kitab2 dan tidak hafal Al-Qur'an, dan tidak mahir didalam hukum2 syaria't dan tidak pula 'alim didalam ahwal perjalanan kerohanian, maka orang itu tidak layak diikuti sebagai pemimpin Ma'rifat ketuhanan (mursyid). Maka jangan kamu mengambil ilmu darinya"

Berkata Ghawthul A'zaham Syaikh Muhyiddin Abdul Qadir Jailani ra:
"Seseorang yang menjadi Syaikh kerohanian mesti memiliki lima syarat, jika tidak, dia adalah penipu yang hanya memimpin kepada kebodohan. Dia harus sangat ahli didalam Syari'at, sementara sangat dalam pengetahuannya didalam haqiqat. Dia haruslah sangat lemah lembut dalam perkataan dan tingkah lakunya kepada yang berhajat, selalu memuliakan tamu2 yang datang kepadanya dengan penuh kasih sayang. Dia juga haruslah sangat 'alim dalam halal dan haram. Dia memimpin si salik pada jalan ma'rifat, sebagaimana dia sendiri dipimpin, sempurna didalam kemurahan hatinya." (Qala'id Al-Jawahir)

Sultanul Arifin Hazrat Sultan Bahu ra berkata:
 "Apabali seseorang memasuki alam Tasawwuf, dia wajib dengan sungguh2 mematuhi tuntutan Syari'at. Dia wajib mematuhi hukum2 didalam Al-Qur'an dan Sunnah Nabi dalam setiap langkahnya"
(Mihakul Fuqara)


Sebaliknya kemursyidan seseorang gugur manakala melakukan salah satu tindakan berikut:
1. Bodoh terhadap ajaran agama.
2. Mengabaikan kehormatan ummat Islam.
3. Melakukan hal-hal yang tidak berguna.
4. Mengikuti selera hawa nafsu dalam segala tindakan.
5. Berakhlak buruk tanpa peduli dengan perilakunya.

Syeikh Abu Madyan – ra- menyatakan, siapa pun yang mengaku dirinya mencapai tahap ruhani dalam perilakunya di hadapan Allah Swt. lalu muncul salah satu dari lima karakter di bawah ini, maka, orang ini adalah seorang pendusta ruhani:
1. Membiarkan dirinya dalam kemaksiatan.
2. Mempermainkan tha'at kepada Allah.
3. Tamak terhadap sesama makhuk.
4. Kontra terhadap Ahlullah
5. Tidak menghormati sesama ummat Islam sebagaimana diperintahkan Allah Swt.

Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzili mengatakan, “Siapa yang menunjukkan dirimu kepada dunia, maka ia akan menghancurkan dirimu. Siapa yang menunjukkan dirimu pada amal, ia akan memayahkan dirimu. Dan barangsiapa menunjukkan dirimu kepada Allah Swt. maka, ia pasti menjadi penasehatmu.”

Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam mengatakan, “Janganlah berguru pada seseorang yang tidak membangkitkan dirimu untuk menuju kepada Allah dan tidak pula menunjukkan wacananya kepadamu, jalan menuju Allah”.

Seorang Mursyid yang hakiki, menurut Asy-Syadzili adalah seorang Mursyid yang tidak memberikan beban berat kepada para muridnya.

Dari kalimat ini menunjukkan bahwa banyak para guru sufi yang tidak mengetahui kadar batin para muridnya, tidak pula mengetahui masa depan kalbu para muridnya, tidak pula mengetahui rahasia Ilahi di balik nurani para muridnya, sehingga guru ini, dengan mudahnya dan gegabahnya memberikan amaliyah atau tugas-tugas yang sangat membebani fisik dan jiwa muridnya. Jika seperti demikian, guru ini bukanlah guru yang hakiki dalam dunia sufi.

Jika secara khusus, karakteristik para Mursyid sedemikian rupa itu, maka secara umum, mereka pun berpijak pada lima (5) prinsip thariqat itu sendiri:
1. Taqwa kepada Allah swt. lahir dan batin.
2. Mengikuti Sunnah Nabi Saw. baik dalam ucapan maupun tindakan.
3. Berpaling dari makhluk (berkonsentrasi kepada Allah) ketika mereka datang dan pergi.
4. Ridha kepada Allah, atas anugerah-Nya, baik sedikit maupun banyak.
5. Dan kembali kepada Allah dalam suka maupun duka.
Manifestasi Taqwa, melalaui sikap wara’ dan istiqamah.

Perwujudan atas Ittiba’ sunnah Nabi melalui pemeliharaan dan budi pekerti yang baik. Sedangkan perwujudan berpaling dari makhluk melalui kesabaran dan tawakal. Sementara perwujudan ridha kepada Allah, melalui sikap qana’ah dan pasrah total. Dan perwujudan terhadap sikap kembali kepada Allah adalah dengan pujian dan rasa syukur dalam keadaan suka, dan mengembalikan kepada-Nya ketika mendapatkan bencana.

Secara keseluruhan, prinsip yang mendasari di atas adalah:
1) Himmah yang tinggi,
2) Menjaga kehormatan,
3) Bakti yang baik,
4) Melaksanakan prinsip utama; dan
5) Mengagungkan nikmat Allah Swt.

Dari sejumlah ilustrasi di atas, maka bagi para penempuh jalan sufi hendaknya memilih seorang Mursyid yang benar-benar memenuhi standar di atas, sehingga mampu menghantar dirinya dalam penempuhan menuju kepada Allah Swt.

Rasulullah saw. adalah teladan paling paripurna. Ketika hendak menuju kepada Allah dalam Isra’ dan Mi’raj, Rasulullah Saw. senantiasa dibimbing oleh Malaikat Jibril as. Fungsi Jibril di sini identik dengan Mursyid di mata kaum sufi. Hal yang sama, ketika Nabiyullah Musa as, yang merasa telah sampai kepada-Nya, ternyata harus diuji melalui bimbingan ruhani seorang Nabi Khidir as. Hubungan Musa dan Khidir adalah hubungan spiritual antara Murid dan Syekh. Maka dalam soal-soal rasional Musa as sangat progresif, tetapi beliau tidak sehebat Khidir dalam soal batiniyah.

Karena itu lebih penting lagi, tentu menyangkut soal etika hubungan antara Murid dengan Mursyidnya, atau antara pelaku sufi dengan Syekhnya. Syekh Abdul Wahhab asy-Sya’rani, (W. 973 H) secara khusus menulis kitab yang berkaitan dengan etika hubungan antara Murid dengan Mursyid tersebut, dalam “Lawaqihul Anwaar al-Qudsiyah fi Ma’rifati Qawa’idus Shufiyah”.

Untuk mempermudah penemuan seorang mursyid sesuai kriteria diatas maka kita pun harus punya himmah/cita2 yg tinggi bertemu dgn Allah dan menjalankan islam sesuai Qur'an dan Sunnah dgn selalu memanjatkan do'a secara intens kepada Allah agar dipertemukan seorang mursyid yang wali..

Good Luck

"Al Qur'an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam,(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (QS 81. At Takwiir :27-29 )

"Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya.Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah..."      ( QS 76. Al Insaan : 29-30)


Baca juga :

Orang-Orang Yang Terpilih
Macam Tingkatan Manusia dan Kedudukan Mereka 
Model Para Penempuh
Tingkat-tingkat Kesempurnaan

Untuk mengetahui Risalah Futuhul Ghaib tekan
Kumpulan Risalah Futuhul Ghaib

Selasa, 19 Mei 2020

MENGENAL RASA

Di dalam mempelajari ilmu Agama mesti kita harus mengenal Rasa, dalam pengenalan Rasa ini kalau hanya sampai pada tingkat Syariat, bab Rasa itu tidak pernah dibicarakan atau disinggung.
Tetapi pada tingkat Tharekat keatas bab rasa ini mulai disinggung, karena bila belajar ilmu Agama itu berarti mulai mengenal siapa Sang Percipta itu. Karena ALLAH SWT maha GHOIB maka dalam mengenal hal GHOIB kita wajib mengaji rasa.
Jadi jelas berbeda dengan tingkat syariat yang memang mengaji telinga dan mulut saja. Dan mereka hanya yakin akan hasil kerja panca inderanya. Bukan Batin..!
Bab Rasa dapat dibagi dalam beberapa golongan, yaitu :
1. RASA TUNGGAL
2. SEJATINYA RASA
3. RASA SEJATI, dan
4. RASA TUNGGAL JATI.
Mengkaji Rasa sangat diperlukan dalam mengenal GHOIB. Karena hanya dengan mengkaji rasa yang dimiliki oleh batin itulah maka kita akan mengenal dalam arti yang sebenarnya, apa itu GHOIB.
1. RASA TUNGGAL :
Yang empunya Rasa Tunggal ini ialah jasad/jasmani. Yaitu rasa lelah, lemah dan capai. Kalau Rasa lapar dan haus itu bukan milik jasmani melainkan milik nafsu. Mengapa jasmani memiliki rasa Tunggal ini. Karena sesungguhnya dalam jasmani/jasad ada penguasanya/penunggunya. Orang tentu mengenal nama QODHAM atau ALIF LAM ALIF. Itulah sebabnya maka didalam AL QUR’AN, ALLAH memerintahkan agar kita mau merawat jasad/jasmani. Kalau perlu, kita harus menanyakan kepada orang yang ahli/mengerti. Selain merawatnya agar tidak terkena penyakit jasmani, kita pun harus merawatnya agar tidak menjadi korban karena ulah hawa nafsu maka jasad kedinginan, kepanasan ataupun masuk angin. Bila soal-soal ini kita perhatikan dengan sungguh-sungguh, niscaya jasad kita juga tahu terima kasih. Kalau dia kita perlakukan dengan baik, maka kebaikan kita pun akan dibalas dengan kebaikan pula. Karena sesungguhnya jasad itu pakaian sementara kita untuk hidup sementara dialam fana ini.
Kalau selama hidup jasad kita rawat dengan sungguh-sungguh (kita bersihkan 2 x sehari/mandi, sebelum puasa keramas, sebelum sholat berwudhu dulu, dan tidak menjadi korban hawa nafsu, serta kita lindungi dari pengaruh alam), maka dikala hendak mati jasad yang sudah suci itu pasti akan mau diajak bersama-sama kembali keasal, untuk kembali ke sang pencipta. Seperti halnya kita bersama-sama pada waktu datang/lahir kealam fana ini. Mati yang demikian dinamakan mati TILEM (tidur) atau mati sempurna.
Pandangan yang kita lakukan malah sebaliknya. Mati dengan meninggalkan jasad. Kalau jasad sampai dikubur, maka QODHAM atau ALIF LAM ALIF, akan mengalami siksa kubur. Dan kelak dihari kiamat akan dibangkitkan.
Dalam mencari nafkah baik lahir maupun batin, jangan mengabaikan jasad. Jangan melupakan waktu istirahat. Sebab itu ALLAH ciptakan waktu 24 jam (8 jam untuk mencari nafkah, 8 jam untuk beribadah, dan 8 jam untuk beristirahat). Juga dalam hal berpuasa, jangan sampai mengabaikan jasad. Sebab itu ALLAH tidak suka yang berlebih-lebihan. Karena yang suka berlebih-lebihan itu adalah Dzad (angan-angan). Karena dzad mempunyai sifat selalu tidak merasa puas.
2. SEJATINYA RASA :
Apapun yang datangnya dari luar tubuh dan menimbulkan adanya rasa, maka rasa itu dinamakan sejatinya rasa. Jadi sejatinya rasa adalah milik panca indera :
MATA :
Senang karena mata dapat melihat sesuatu yang indah atau tidak senang bila mata melihat hal-hal yang tidak pada tempatnya dll.
TELINGA :
Senang karena mendengar suara yang merdu atau tidak senang mendengar isu atau fitnahan orang dll.
HIDUNG :
Senang mencium bebauan wangi/harum atau tidak senang mencium bebauan yang busuk dll.
KULIT :
Senang kalau bersinggungan dengan orang yang disayang atau tidak senang bersunggungan dengan orang yang berpenyakitan dll.
LIDAH :
Senang makan atau minum yang enak-enak atau tidak senang memakan makanan yang busuk dll.
3. RASA SEJATI :
Rasa sejati akan timbul bila terdapat rangsangan dari luar, dan dari tubuh kita akan mengeluarkan sesuatu. Pada waktu keluarnya sesuatu dari tubuh kita itu, maka timbul Rasa Sejati. Untuk jelasnya lagi Rasa Sejati timbul pada waktu klimaks/pada waktu keluarnya Ma'ul hayat yang keluar dari mangkuk "NUN" dibawah otak besar manusia atau HIPOTALAMUS mengalir melalui tulang belakang manusia.
4. RASA TUNGGAL JATI :
Rasa Tunggal Jati sering diperoleh oleh mereka yang sudah dapat melakukan Meraga Sukma (keluar dari jasad) dan Solat Dha’im.
Bedanya antara Meraga Sukma dan Sholat Dha’im ialah :
Kalau Meraga Sukma jasad masih ada batin keluar dan dapat pergi kemana saja. Kalau Sholat Dha’im jasad dan batin kembali kewujud Nur dan lalu dapat pergi kemana saja yang dikehendaki. Juga dapat kembali / bepergian ke ALAM LAUHUL MAKHFUZ. Bila kita Meraga Sukma maupun sholat Dha’im, mula pertama dari ujung kaki akan terasa seperti ada “aliran“ yang menuju ke atas / ke kepala. Pada Meraga sukma, bila “aliran“ itu setibanya didada akan menimbulkan rasa ragu-ragu/khawatir atau was-was.
🔴 Khusus dalam pengertian RASA TUNGGAL JATI ini, sangan didominasi oleh kesempurnaan ilmu Nafas, Nufus, Tanafas dan Anfas, tanpa kesempurnaan ilmu ini, rasa ini tidak bisa dilakukan.
Bila kita ikhlas, maka kejadian selanjutnya kita dapat keluar dari jasad, dan yang keluar itu ternyata masih memiliki jasad. Memang sesungguhnyalah, bahwa setiap manusia itu memiliki 3 buah wadah lagi, selain jasad/jasmani yang tampak oleh mata lahir ini. Kalau sholat Dha’im bertepatan dengan adanya “Aliran“ dari arah ujung kaki, maka dengan cepat bagian tubuh kita akan “Menghilang“ dan kita akan berubah menjadi seberkas Nur sebesar biji ketumbar dibelah 7 bagian. Bercahaya bagai sebutir berlian yang berkilauan. Nah, rasa keluar dari jasad atau rasa berubah menjadi setitik Nur. Nur inilah yang disebut sebagai Rasa Tunggal Jati.
Selain itu, baik dalam Meraga Sukma maupun Sholat Dha’im. Bila hendak bepergian kemana-mana kita tinggal meniatkan saja maka sudah sampai. Rasa ini juga dapat disebut Rasa Tunggal Jati. Sebab dalam bepergian itu kita sudah tidak merasakan haus, lapar, kehausan, kedinginan dan lain sebagainya. Bagi mereka yang berkeinginan untuk dapat melakukan Meraga Sukma dianjurkan untuk sering Tirakat/Kannat puasa. Jadikanlah puasa itu sebagai suatu kegemaran. Dan yang penting juga jangan dilupakan melakukan Dzikir gabungan NAFI-ISBAT dan QOLBU. Dalam sehari-hari sudah pada tahapan lillahi ta’ala.
Hal ini berlaku baik bagi mereka yang menghendaki untuk dapat melakukan SHOLAT DHA’IM. Kalau Meraga Sukma mempergunakan NURRULLAH, tapi bila SHOLAT DHA’IM sudah mempergunakan NUR ILLAHI. Karena ada Rasa Sejati, maka Rasa merupakan asal usul segala sesuatu yang ada. Oleh sebab itu bila hendak mendalami ilmu MA’RIFAT Islam dianjurkan untuk selalu bertindak berdasarkan rasa. Artinya jangan membenci, jangan menaruh dendam, jangan iri, jangan sirik, jangan bertindak sembrono, jangan bertindak kasar terhadap sesama manusia, dll.
Sebab dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa, kita ini semua sama, karena masing-masing memiliki rasa. Rasa merupakan lingkaran penghubung antara etika pergaulan antar manusia, juga sebagai lingkaran penghubung pergaulan umat dengan Penciptanya. Rasa Tunggal jati ini mempunyai arti dan makna yang luas. Karena bagai hidup itu sendiri. Apapun yang hidup mempunyai arti. Dan apapun yang mempunyai arti itu hidup. Sama halnya apapun yang hidup mempunyai Rasa. Dan apapun yang mempunyai Rasa itu Hidup. Dengan penjelasan ini, maka dapat diambil kesimpulan bahwa yang mendiami Rasa itu adalah Hidup.
Dan Hidup itu sendiri ialah Sang Pencipta/ALLAH. Padahal kita semua ini umat yang hidup. Jadi sama, ada Penciptanya. Oleh sebab itu, umat manusia harus saling menghormati, tidak saling merugikan, bahkan harus saling tolong menolong dll. Dan hal ini sesuai dalam firman ALLAH :
“HAI MANUSIA ! MASUKLAH KALIAN DALAM PERDAMAIAN, JANGAN BERPECAH BELAH MENGIKUTI LANGKAH SYAITAN, SESUNGGUHNYA SYAITAN ITU MUSUHMU YANG NYATA”.
Ingat ! Pengertian secara Haqiqat & Ma'rifat syetan itu musuh yang NYATA, bukan musuh yang GHOIB.
Sampai disini paham ya?
Jika ada sesuatu yang belum dipahami silahkan ketik dikolom komentar, saran dan kritik kalian sangat berguna bagi kami, dan akan kami bahas pada bab-bab selanjutnya.

Minggu, 17 Mei 2020

NUR MUHAMMAD

"Muhammad itu merupakan Nur yang terpancar dari Dzat Tuhan..
Nur Muhammad adalah yang pertama diciptakan..
Nur Muhammad adalah Roh dari segala makhluk…
Sehingga tidak ada makhluk tanpa adanya Nur Muhammad..

Karena dengan Nur Muhammad inilah DIA melahirkan secara nyata sifat ketuhanan-Nya dalam diri setiap makhluk.
Hakekat Nur Muhammad Hakekat Sifat Allah dalam DIRI
Hidup kita karena hidupnya Muhammad dalam DIRI kita,
Hidupnya Muhammad dalam diri kita karena HAYAT-Nya Allah SWT.
Tahu kita karena tahu-nya Muhammad pada HATI kita,
Tahu-nya Muhammad pada hati kita dengan ILMU-Nya Allah SWT.
Kuasa kita karena kuasa Muhammad pada TULANG kita,
Kuasanya Muhammad pada tulang kita dengan QUDRAT-Nya Allah SWT.
Ber-kehandak kita karena ke-hendak Muhammad pada NAFSU kita,
Ber-kehendak-nya Muhammad pada nafsu kita dengan IRADAT-Nya Allah SWT.
Men-dengar kita karena pen-dengar-an Muhammad pada TELINGA kita,
Men-dengar-nya Muhammad pada telinga kita dengan SAMI’-Nya Allah SWT
Me-lihat kita karena peng-lihat-an Muhammad pada MATA kita,
Me-lihat-nya Muhammad pada mata kita dengan BASIR-Nya Allah SWT.
Ber-kata kita karena Ber-kata-nya Muhammad pada LIDAH kita,
Ber-kata-nya Muhammad pada lidah kita dengan KALAM-Nya Allah SWT.
Awal Muhammad adalah NURANI, menjadi ROH dalam diri kita.
Akhir Muhammad itu adalah ROHANI, menjadi HATI dalam diri kita.
Dzahir Muhammad itu adalah INSANI, menjadi RUPA dalam diri kita.
Batin Muhammad itu adalah RABBANI, menjadi UJUD dalam diri kita
Nurullah Iti Rahasia Bagi muhammad.
Sedangkan Anasir Roh Muhammad itu dapat di-faham-i dalam 4 kedudukan yaitu :
Ujud–Ujud merupakan pen-zahir-an dari Zat Allah menjadi RAHASIA pada kita dan pada hakekatnya merupakan Keberadaan Muhammad.
Ilmu–Ilmu merupakan pen-zahir-an dari Sifat Allah menjadi ROH pada kita dan pada hakekatnya merupakan Roh Muhammad.
Nur–Nur merupakan pen-zahir-an dari Asma Allah menjadi HATI pada kita dan pada hakekatnya merupakan Hati Muhammad.
Syuhud–Syuhud merupakan pen-zahir-an dari Afa’al Allah menjadi TUBUH pada kita dan pada hakekatnya merupakan Tubuh Muhammad.
Pemahaman tentang Ujud adalah Zat Allah, merupakan realitas IMAN dan keimanan. Artinya Ujud itu Ada dan yang diadakan.
Pemahamannya adalah bahwa yang ADA itu Allah dan yang DIADAKAN itu Muhammad.
Pemahaman tentang Ilmu adalah Sifat Allah, merupakan realitas ROH, Artinya Ilmu itu mengetahui dan yang diketahui.
Pemahamannya adalah bahwa yang MENGETAHUI itu Allah dan yang DIKETAHUI itu Muhammad
Pemahaman tentang Nur adalah Asma Allah, merupakan realitas HATI, Artinya Nur itu terang dan yang diterangi.
Pemahamannya adalah bahwa yang TERANG itu Allah dan yang DITERANGI itu Muhammad
Pemahaman tentang Syuhud adalah Afa’al Allah, merupakan realitas TUBUH INSAN, Artinya Syuhud itu memandang dan yang dipandang.
Pemahamannya adalah bahwa yang MEMANDANG itu Allah dan yang DIPANDANG itu Muhammad.(Hakiat syahadah).

PELITA MAKRIFAT

- Apakah arti Lailatul Qadar ?
LAILATUL QADAR Apakah Arti Lailatul Qadar ?
Mengikut pengertian bahasa perkataan laila bermaksud malam. Manakala perkataan Qadar pula bermaksud mubarokatin (keberkatan) atau saat yang diperingati. Jika kedua-dua perkataan itu digabungkan, ianya maksud Lailatul Qodar iaitu malam keberkatan atau malam yang diperingati.
Mengikut tafsiran ilmu makrifat perkataan Laila merujuk kepada jahil, manakala perkataan Qadar pula merujuk kepada berilmu (alim). Jika kedua-dua perkataan itu digabungkan, ianya membawa maksud iaitu dari bersifat seorang yang jahil kembali bertukar kepada seorang alim yang berilmu. Iaitu terbuka hijab pintu hatinya daripada seorang yang tidak mengenal Allah ianya berubah krpada seorang yang mengenal Allah swt. Saat mengenal Allah itulah yang dikatakan saat keberkatan dan saat-saat yang tidak akan dapat dilupakan buat selama-lamanya.
Ianya juga membawa maksud, daripada suasana gelap dzulmat, hitam kotor, dan jahil fasiq hatinya dari ilmu makrifat bertukar kepada suasana yang gemilang sirna cahaya keberkatan yang amat terang benderang hatinya setelah mendapat ilmu mengenal Allah. Daripada bersifat jahil bertukar kepada sifat mengenal dirinya dan bertukar kepada mengenal Allah.
Dari asalnya bersifat fasiq (tidak mengenal Allah), kini bertukar dan berubah kepada seorang yang bersifat alim (mengenal Allah). Inilah pengertian malam LIlatul Qadar yang sebenar. Kebanyakkan dari kita, bila sebut sahaja malam Lailatul Qadar yang mereka ingat hanya keajaiban pada bulan ramadhan. Seumpama perigi yang kering akan menjadi penuh (melimpah).
Pokok kayu-kayan akan jadi tunduk (rebah) menyembah bumi, angin dan burung yang sedang berlalu, akan jadi berhenti dan sebagainya. Sedangkan intisari daripada maksud Lailatul Qadar itu, sebenarnya bermaksud dari sifat seorang yang buta mata hatinya bertukar kepada cerah mata hatinya kerana memandang dan mengenal Allah.
Menurut Asy Sya'rani, menterjemahkan erti dan makna Lailatul Qadar itu sebagai "SUASANA HATI" Berkata lagi beliau ;- "Apabila engkau ingin hatimu hidup, iaitu hidup yang tidak ada mati sesudahnya lagi, maka keluarlah engkau dari menyandarkan harapan kepada makhlok. Matikan hawamu dan irodatmu.
Diwaktu itulah engkau mulai akan diberi oleh Allah hidup yang sejati, hidup yang tidak ada mati sesudahnya lagi. Pemberian yang tidak ada henti-hentinya lagi. Lalu diangkat nilai engkau dalam hati hamba-hambanya. Sehingga engkau tidak akan sesat untuk selama-lamanya." Apakah erti hidup yang tiada mati sesudahnya ?
Erti hidup yang tiada mati itu, adalah merujuk kepada ilmu mengenal Allah. Sesudah kita berjaya sampi kepada tahap ilmu mengenal Allah, ilmu itu akan tetap hidup di dalam hati-hati kita untuk selama-lamanya, yang tidak akan ada kesudahannya. Dan tidak akan pernah padam dan terhapus dari ingatan hati kita buat selama-lamanya. Wajah Allah inilah yang akan kita bawa sampai kehari kiamat dan hari mengadap Allah Ta'ala.
Apabila kita telah berjumpa dengan ilmu mengenal Allah, ingatan hati kita kepada Allah tidak akan pernah terlupus, walaupun sesaat, walaupun ketika jasad sedang tidur. Sesudah kita mengenal Allah (Mendapat Lailatul Qadar) iktikad atau pegangan hati kita, akan berubah sepenuhnya, daripada bersifat gelap kepada terang, daripada bersifat mati hati bertukar kepada hati yang sentiasa hidup.
Yang tetap hidup tiada mati itu, adalah ingatan kita kepada Allah, ianya akan tetap hidup dihati kita, yang tidak akan ada matinya, bukan bermakna tidak mati jasad, tetapi tidak mati ingatan kita kepada Allah. Bagi yang mendapat Lailatul Qadar ia juga tidak akan sesat selamanya. Apabila ingatan kita kepada Allah tidak pernah mati dan tidak pernah padam, disitulah segala kebesaran Allah, akan dapat kita miliki dan menjiwainya dengan penuh pengertian.
Pengertian itu nantinya akan terzahir keluar, sehingga melimpah ruah. Rasanya seumpama kita ini kaya, yang kekayaannya itu, tidak akan menemui jalan kemiskinan. Kelazatan zuk yang tidak pernah menemui jalan luntur. Iaitu kaya dengan sifat sabar, taat, patuh, tawakal, takwa dan sebagainya. Prmberian kekayaan seumpama itu, akan berterusan dan berpanjangan hidupnya didalam hati-hati kita, selagi akal masih bersifat waras kepada Allah.
Inilah intisari maksud Lailatul Qadar yang sebenar-benarnya. Perjalanan dari bersifat gelap menuju kepada yang bersifat terang. Dari bersifat mati ingatan bertukar kepada bersifat ingatan kepada Allah sentiasa hidup. Apabila ingatan kita kepada Allah sentuasa hidup, ingatan kepada makhlok, dengan sendirinya sjan mati dan terpadam. Mati hawa nafsu, mati kehendak dan mati keinginan selain Allah.
Mati harapan kepada makhlok, bertukar harapan kepada Allah. Daripada bersifat sayangkan makhlok, menuju kepada bersifat sayangkan Allah. Menurut Jalaluddin Rumi pula menterjemahkan Lailatul Qadar itu sebagai "DIRI YANG TELAH TERJUAL" Berkata lagi beliau :- "Allah telah membeli jiwa kita, untuk Dia, Bayarannya adalah syurga. Sebab itu tidak seorang pun yang dapat membelinya dan menawarnya sampai akhir zaman.
Suatu barang yang tidak boleh dijual dua kali" Bagi yang mendapat Lailatul Qadar, diumpamakan dirinya telah terjual dan telah tergadai kepada Allah. Setelah kita serahkan dan mengembalikan diri kita kepada Allah. Ianya tidak boleh lagi diambil balik. Setelah pertama kali dijual, ia tidak boleh dijual buat kali kedua. Inilah kedudukan iktiqad atau pegangan hati orang makrifat, ysng tidak ada duanta berbanding Allah.
Sekali kita berserah diri kepada Allah, jangan hendaknya berpatah balik. Pupuklah hati supaya buah tawakkal dan buah berserah boleh bercambah dengan subur. Bagi yang mendapat anugerah Lailatul Qadar, jiwa dan raganya telah dibeli Allah. Setelah dirinya dibeli Allah tidak ada maklok lain lagi yang dapat membelinya lagi selain dari Allah. Walaupun dibeli dan ditukar ganti dengan pangkat besar, rumah besar, kereta mewah dan kekayaan wang ringgit.
Allah tidak akan menjualnya semula kepada makhlok, walaupun dengan harga yang mahal. Begitu juga dengan mereka yang mengenal Allah ( yang mendapat anugerah Lailatul Qadar ) mereka tidak akan berpaling lagi dari Allah. Walaupun didatangi msibah, penyakit, kemiskinan dan kepayahan hidup, mereka tidak akan berpsling dari berserah diri dsn bertawakkal kepada Allah. Tidak ada lagi erti kecewa dan erti penyesalan dihati mereka yang mengensl Allah.
Hatinya kepada Allah tetap utuh dan tidak mudah terpesong dengan kekayaan dan kemewahan. Mereka sedar bahawa, yang diri mereka itu, telah dibeli Allah dan kita pula telah menjualkannya kepada Allah. Akad jual beli diantara kita dengan Allah telah dikira selesai. Segala sifat, kelakuan, asma', dan zat yang mendatang di atas diri kita ini, dianggap telah terjual dan bukan lagi menjadi milik kita.
Semua sifat yang mendatang telah dianggap seumpama anugerah dari Allah kepada kita, kita ini tidak ubah selaku pelakon, yang cuma sekadar melakonkannya sahaja, dari apa yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita. Oleh itu terimalah segalanya dengan ucapan terima kasih. Inilah erti dan pengertian Lailatul Qadar menurut kaca mata ilmu makrifat. Kita sebenarnya telah mati dan telah menjual sifat perangai, sifat jasad, sifat nama, dan sifat zat kita kepada Allah.
Jual sifat ego, sifat marah, tinggi diri, dengki, tamak harta dunia, menyesal, putus asa, dunia, akhirat, dan sebagainya. Kita serah segala-galanya ke atas kebijaksanaan Allah, Allahlah yang menentukan dan mengaturkan kehidupan kita. Firman Allah :- 97.Surah Al-Qadr (Verse 4)ُُ Verse 4)تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ "Pada Malam itu, turun malaikat dan roh padanya, dengan izin Tuhan mereka, kerana membawa dari tiap-tiap perentah" Roh kita telah ditugaskan bagi membawa perintah Allah.
Diantara perintah itu adalah supaya roh membawa segala sifat anggota pancaindera, perangai yang dilakukan oleh anggota, nama yang dipanggil kepada anggota dan zat roh itu sendiri, supaya dapat dikembalikan semula hak Allah kepadanya. Bermulah Lailatul Qadar itu, adalah disaat diri kita dijual dan diserahkan kembali kepada Allah. Dengan ini jugalah bermulanya sejarah diri (roh) kita telah dibeli dan terjual kepada Allah.
Iaitu disaat kita mengenal roh dan mengenal Allah. BILAKAH MASA BERLAKUNYA LAILATUL QADAR ? Mengikut setengah golongan masyarakat, ada yang mengatakan bahawa, masa berlakunya malam Lailatul Qadar itu pada malam 27 Ramadhan. Ada pula yang mengatakan pada malam 17 Ramadhan dan ada pula yang mengatakan 10 malam terakhir Ramadhan. Mengikut pandangan ilmu makrifat, bila masa, bila tarikh, dimana tempat dan kepada siapa ianya berlaku, sedikit pun tidak menarik perhatian dan menajadi keutamaannya. Sesungguhnya Lailatul Qadar itu boleh berlaku pada bila-bila masa, pada sebarang tempat dan kepada sesiapa sahaja yang dikehendaki Allah swt. Tidak semestinya pada tanggal-tanggal seperti tersebut.
Apababila sampai masa dan ketikanya, hati seseorang itu akan dibuka Allah untuk menerima kesedaran yang luar biasa (Lailatul Qadar), ianya tidak kira tarikh atau haribulan. Ianya ditentukan bilamana kita mengenal Allah, tidak kiralah melalui apa cara sekalipun. Masa dan tarikh berlakunya Lailatul Qadar itu apabila bertukarnya hati seorang yang jahil, kepada seorang yang berilmu mengenal Allah. Itulah yang dikatakan masa dan tarikh Lailatul Qadar.
Inilah yang dikatakan hari keberkatan dan hari yang diperingati ( Lailatul Qadar ). Bagi ahli makrifat tidak ada hari yang lebih berkat dan lebih diperingati selain dari masa, tarikh, dan hari mereka dapat mencapai tahap mengenal Allah swt. Inilah yang dikatakan hari barokah, hari yang diperingati, hari terang benderang seumpama hari seribu bulan. Itulah hari Lailatul Qadar yang sebenar. Menurut suluhan dan takrifan makna ilmu makrifat. Malam Lailatul Qadar itu akan muncul bukan sahaja pada waktu bulan Ramadhan, bukan hanya tertuju kepada malam 7 likur, atau malam 27 atau malam 17 Ramadhan sahaja.
Tetapi Lailatul Qadar itu, akan berlaku pada bila-bila masa yang dikehendaki Allah swt. Tidak kira siang atau malam, tidak kira bulan atau tahun. Tertakluk kepada Allah Yang Maha Berkuasa kepada sesiapa yang dikehendakinya. BOLEHKAH PERISTIWA LAILATUL QADAR MERUBAH HATI SECARA TIBA-TIBA ? Lailatul Qadar boleh berlaku bila-bila masa, samada semasa menunaikan ibadah sembahyang, sedang mendengar syarahan guru, sedang berjalan, bertafakur, bermunajat, menadah tangan, bangun tidur, didalam tidur, ketika sedang menangis, dalam keadaan rasa penyesalan, semasa berada di dalam kurungan penjara, semasa sedang suka dan sebagainya.
Ada setengah dari mereka, mencapai Lailatul Qadar ketika mengikuti usungan jenazah ke kuburan, sewaktu mencari rotan di dalam hutan belukar yang sunyi, ada yang mencapainya ketika sedang membaca kitab suci Al-Quran, ada melalui musibah yang menimpa dan ada melalui berbagai-bagai cara. Terpulang kepada masa, tempat dan siapa yang dikehendaki Allah swt.
Tidak kurang pula yang mendapat Lailatul Qadar itu, semasa mengerjakan ibadat puasa, sewaktu bersembahyang malam, sembahyang hajat dan sewaktu bermunajat di malam hari ketika orang sedang nyenyak tidur. Tidak menjadi kesalahan mendapat Lailatul Qadar dengan cara ibadah seumpama diatas, malah digalakkan dalam islam. Tetapi jangan sampai ianya dijadikan satu kemestian turunnya Lailatul Qadar. Harus di ingat bahawa pekerjaan ibadah tidak menjanjikan datangnya Lailatul Qadar.
Perbuatan ibadah itu hanya salah satu kaedah datangnya Lailatul Qadar. Ibadah adalah kewajipan biasa, bukannya pekerjaan yang luar biasa walaupun bertahun beribadah di dalam gua ditengah-tengah hutan belantara sekalipun, jika tidak melalui ilmu mengenal Allah, tidaklah ia mencapai Lailatul Qadar. Lailatul Qadar itu hanya akan berlaku apabila hati seseorang mencapai tahap mengenal Allah. Bilamana sampainya kehendak Allah menganugerahkan Lailatul Qadar kepada seseorang, dengan hanya mendengar sepotong ayat sahaja sifat kerohaniannya akan berubah secara tiba-tiba.
Malam Lailatul Qadar juga lebih dikenali sebagai malam seribu bulan. Seribu bulan itu, bermaksud terang benderang, seumpama malam yang gelap gelita, telah diterangi, disuluh dan telah ditemani oleh seribu biji bulan, cuba bayangkan betapa terangnya bumi ini, apabila ianya diterangi dan disuluh oleh seribu biji bulan. Begitulah terangnya hati mereka yang mendapat cahaya Lailatul Qadar Allah. Dengan hanya membaca sepotong ayat dari ayat-ayat Allah, barokahnya (berkatnya) seumpama hati kita telah diterangi dan disuluh oleh seribu bulan. Cuba bayangkan nilaian kematangan akal semasa berumur satu tahun, dibandingkan akal mereka yang berumar seribu tahun.
Inilah kelebihan dan kematangan akal bagi yang mendapat malam Lailatul Qadar (malam 1000 bulan). Secara tiba-tiba boleh mengubah akal yang jahil dalam sekelip mata kepada akal yang berilmu, mengenal Allah. Begitulah nilai terangnya hati mereka yang mendapat anugerah Lailatul Qadar. Dari bersifat lalai akan bertukar kepada yang bersifat ingat kepada Allah. Dari berilmu syari'at, akan bertukar kepada hati yang beriilmu makrifat.
Bagi mereka yang buta mata hatinya, walaupun dengan kehadiran seribu bulan dan sejuta bintang sekalipun, akal dan hati mereka akan tetap berada dalam kegelapan. Manakala bagi mereka yang mengenal Allah (mendapat anugerah Lailatul Qadar), walau alam tidak diterangi bulan dan tidak diterangi matahari sekalipun hati mereka sudah cukup terang oleh cahaya Allah (cahaya makrifat kepada Allah).
Inilah pengertian Lailatul Qadar mengikut suluhan makrifat. CERITA: SAIDINA UMAR AL-KHATHAB Pada zaman Rasulullah saw, ada seorang hamba Allah yang terkenal dengan ganas dan bengisnya, telah pergi untuk membunuh Baginda Rasulullah. Di dapati adik perempuan kandungnya dan suaminya sendiri telah memeluk islam secara diam-diam, bertambah marah dan lebih membakar hatinya untuk membunuh Baginda Rasulullah.
Beliau telah mendatangi rumah adik perempuannya dengan tujuan untuk mencari Baginda Rasulullah, bila tiba kerumah adik perempuannya, didapati adik dan suaminya, sedang membaca sesuatu. Beliau cuba merampasnya dengan tujuan ingin membuang potongan bacaan itu, tetapi dihalang oleh adiknya, sehingga beliau terpaksa bersikap kasar dengan menampar pipi adiknya sehingga terjatuh.
Dengan terjatuh adiknya tadi, sehingga terlepas cebisan potongan ayat dari genggamannya. Lalu dirampasnya dan dicubanya untuk membaca. Setelah membaca, beliau pun menangis, bergenang air mata, bercucuran jatuh membasahi pipinya. Secara tiba-tiba didatangi suasana yang luar biasa, dari menangis bertukar baik, dari panas bertukar sejuk dan dari jahil bertukar alim.
Dalam masa sesaat, suasana telah berubah dan mengubah hatinya yang gelap itu, seumpama diterangi oleh seribu bulan. Dengan hanya sepotong ayat sahaja, telah membuka hatinya secara mendadak, daripada hatinya bersifat panas, kini kembali bertukar menjadi sejuk. Ayat itu telah meresap ke dalam lubuk dada yang membuatkan hatinya berubsh secara tiba-tiba.
Lalu beliau bertanya "Dimana Muhammad sekarang?" bawa aku kepadanya! "Aku akan masuk Islam" Itulah kidah Saidina Umar Al-Khathab. Saidina Umar merasa hatinya telah dipukul oleh ayat berkenaan. Inilah hakikat Lailatul Qadar, yang membawa perubahan mendadak, kenikmatan dan keberkatan secara tiba-tiba bagi menggambarkan dan menunjukkan maksud Lailatul Qadar yang sebenar.
Dengan hanya sekelip mata, beliau sudah dapat merasai dan menikmati keberkatan Lailatul Qadar, sudah dapat mengubah sifat kerohaniannya. Inilah yang dikatakan hari Lailatul Qadar, iaitu hari yang diperingati. Hari yang indah dan saat-saat yang paling bersejarah yang paling diingati dalam kehidupan seseorang insan menuju Allah.
Selepas seseorang insan yang mendapat hidayah malam seribu bulan, perubahan iktikadnya dan perubahan pegangan ilmunya terhadap Allah Taala tidak akan terluput lagi. Bagi yang mendapat ilmu itu, tidak akan terlepas lagi buat selama-lamanya. Tidak akan terjual lagi buat kali keduanya. Sekali diri kita mengenal Allah, kita tidak akan kembali lagi kepada sifat jahil.
Apabila diri kita tidak lagi bersifat jahil, disitulah wajah Allah akan dapat kita pandang dan lihat pada segenap penjuru alam. Sekali kita memperolehinya, tidak akan menoleh kebelakang lagi, akan digenggam ilmu itu erat-erat, biar nyawa dipisahkan dari jasad, namun terlepas atau dilepaskan tidak sekali-kali. Inilah kuat dan teguhnya hati mereka-mereka yang mendapat keberkatan Lailatul Qadar (Ilmu mengenal Allah). Ingatannya kepada Allah, seumpama akan hidup untuk selama-lamanya, yang tidak akan menemui jalan mati sesudahnya.

Senin, 11 Mei 2020

HAKIKAT SHALAT

Dikutip oleh :
جعفررالدين الجيلان الصدق
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم
بسم ربك الأعلى
- Disini saya sedikit akan menjelaskan mengenai maksud tujuan hakkat shalat, tetapi yang saya tuliskan hanyalah i'tibar atau tamsilannya saja, sedangkan pemahaman tuk mendalaminya haruslah Anda bertanya pada Guru disekitar Anda, karena dia akan menjelaskan dan membimbing Anda bagaimana melaksanakan shalat hakikat tersebut. Dan shalat hakikat ini sama shalatnya dengan shalatnya orang syari'at yang sebanyak lima waktu dan sama seperti apa yang dianjurkan Rasilullah saw. sebagaimana beliau shalat.
Namun didalam shalat ini, ada satu anugerah yang diperlihatkan kepada sang pelaku shalat itu, jika hatinya sudah sampai pada pengenalan shalat.
Mari menyimak bersama- sama apa yang saya tulis dibawah ini dan semoga pelajaran ini ada manfaat besar untuk kita semua ●
Aamiin Allaahumma aamiin ●●●
_____________________________________
Saudara- saudariku sekalian...
Ketahuilah Anda bahwa sumber ilmu tashawuf itu ada tiga macam yakni :
طصوف عند الأخلاق والأداب
طصوف عند الفقاه
طصوف عند الأهل المعرفة
TASHAWUF 'INDAL AKHLAQ WAL ADAB.
TASHAWUF 'INDAL FUQAHA.
TASHAWUF 'INDAL AHLIL MA'RIFAT.
Ketiga ini sangat perlu Anda ketahui...
-Tashawuf 'indal akhlaq wal adab itu bisa kita terapkan sendiri, mungkin untuk-anak kita terutama makan dengan tangan kanan, masuk kamar mandi didahulukan kaki sebelah kiri, mau keluar kamar mandi tentunya dengan kaki sebelah kanan.
Sebab - Tashawuf itu berakhlaq dan beradab. Karena sumbernya ilmu ini adalah :
" MIN AKHLAQI WAL ADAB "
Dari prilaku dan tata kerama ●
- Yang kedua :
Tashawuf indal Fuqaha...
Adalah bagaimana ilmu fiqih ini tidak berhenti hanya fiqih saja. Contoh :
" Orang kalau sudah berwudhu' hendak shalat, sesudah dipake shalat wudhu'nya kemana ?
Selesaikan ???
Nah.... kalau orang tashawuf tak begitu....
Tetapi tashawuf dituntut, sejauh mana ia membawa wudhu'nya itu terlepas dari kewajiban didalam shalat, hanya terikat dengan syarat- syarat dan hukum hukum syari'at...
Anda itu dituntut oleh ulama tashawuf supaya wudhu' Anda itu dapat mewudhu' kan batin Anda atau tidak dan seterusnya....
Disinilah hebatnya ilmu tashawuf...... ●
_______________________________________
Tashawuf dan ahli ma'rifat.
Nah saudaraku sekalian.....
Disnii banyak orang terjebak dalam dunia tashawuf, dalam ilmu ma'rifat mereka yang perbendarahannya belum mumpuni, belum mencukupi seringkali terjebak..
Akhirnya memunculkan analisis-analisis, seolah-olah tashawuf berbaur Budha tashawuf.
Karena apa ???
Karena mereka itu belum memahami dan mengetahuinya..
Ilmu ma'rifatnya saja mereka tidak ngerti, apa sebetulnya ma'rifat itu. Dari kekosongan itu, mereka belajar menganalisis tashawuf.
" Orang- orang yang sudah ahli ma'rifat , tinggi sekali dengan bahasanya yang luar biasa
Orang dalam tashawuf Fuqaha saja, mereka sudah tak bisa memahami. Contoh :
" Imam Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad al- Ghazali menjawab dunia falsafah, menjawab dunia tauhid aliran Kalam pada waktu berkembang macam-macam faham."
Dijawab dengan tashawuf Fuqaha yaitu :
" Dengan munculnya Ihya' Umuluddin."
Mengapa dalam kitab Ihya' Umuluddin, banyak hadits- hadist maudhu' disamping dha'if.
Karena apa ???
Karena pendapatnya ahli falsafah dijawab oleh Imam al- Ghazali dengan hadits yang maudhu' saja, masih lebih baik hadits maudhu' daripada pendapat-pendapat kaum falasifah.
Masih tepat karena apa ????
Karena, walaupun maudhu', tapi yang menggunakannya adalah orang-orang yang mengerti ma'rifat kepada Allah.
Makanya disini digunakan oleh Imam Abu Muhammad bin Muhammad al- Ghazali ●
_______________________________________
SHALAT YANG SESUAI AJARAN TASHAWUF
______________________________________
Saudara- saudariku sekalian.....
Menurut ilmu tashawuf, jika orang itu shalat , walau dengan syarat rukunnya, tapi dia makan barang haram, dan melakukan semua perbuatan yang tercela seperti sombong, zina, membunuh, membicarakan kejelekan orang, mengadu domba, melakukan riba, minum khamar, atau dosa-dosa lainnya, maka shalatnya itu " Tidak sah "
Dalam artian : Tidak menerima pahala atau makin shalat, makin menjadi-jadi dosanya ●
_______________________________________
SHALAT DALAM PANDANGAN AHLI SUFI
_______________________________________
- TAKBIRATUL IHRAM -
Maksudnya ialah :
" Berpisah dari alam Mulki dan Fana' lah hamba ketika ia mengucapkan " ALLAAHU AKBAR "
Hanya sifat yang menyembah saja yang tinggal sebagai penzahiran. Wujud Allah yang ia sembah...
Dia bergerak dengan gerak Allah...
Dia berkata, mengucap dengan kata kata ucapan Allah...
Tunduknya ia dalam rahasia " NUKHTAH bagi ALIF "
Berarti " TIDAK ADA "
Seperti kata Abu Yazid Busthami :
ارفت رب برب
- ARIFTU RABBI BI RABBI -
Aku mengenal Tuhanku dengan Tuhanku..... ●
______________________________________
MEMBACA AL- FATIHAH
_________________________
Ketika membaca Fatihah, terbukalah pintu alam Malakut bagi sang penyembah.
Dia menyaksikan kalimat Allah melalui penyingkapan (Syuhud) akan Kalam Allah :
" MAALIKI YAUMID DIIN "
Di dalam Malikillah (Kebesaran Allah).
Dari tunduknya " Tidak ada " dia menjadi setitik dari Nur-Nya yakni Nur Muhammad...
Dan dengan Nur inilah lalu dia menyembah dan mengenall dirinya yang disebut ;
" MAN 'ARAFA NAFSAHU " sebagai Ruh-Nya yang pernah di himpunkan di alam Lahut sewaktu Adam baru sempurna kejadiannya yaitu ketika Jibril menepuk tulang sulbinya Adam. Maka keluarlah seluruh ruh anak cucu Adam dari tulang sulbinya itu ●
_______________________________________
Adapun Ruh-Nya itu, pada hakikatnta adalah satu jua yaitu dari Rahasi Ilahiah.
Ruh anak cucu Adam itu hanyalah suatu gambaran yang menumpang pada lahiriah pada jasmani yang merupakan bayangan dari Ruh-Nya.
Tanpa adanya Nur Muhammad itu, maka yang bersangkutan tuk menyembah, mustahil dapat berhadapan Sang Maha di Sembah .
Dengan adanya perwujudan Nur Muhammad inilah maka si penyembah itu " ....."
" Kepada Engkau- lah kami menyembah...
Dan kepada Engkau- lah kami meminta pertolongan..
Tunjukkan kami kejalan yang lurus, jalan mereka yang Engkau-berikan kenikmatan. Bukan jalan mereka yang Engkau- murkai. Dan bukan pula jalan yang sesat."
Maka.. di amin kan akhir Fatihah itu oleh para malaikat dari setiap 7 lapis langit yaitu :
Alam Mulki.
Alam Malakut.
Alam Jabarut.
Alam Bahut.
Alam Lahut.
Alam Ahud.
Dan yang tertinggi adalah alam Al-Insani yang di sinilah kemuncaknya shalat itu.
Adapun maksud " Jalan yang lurus " ialah " Mi'raj " sebagaimana sabda Nabi saw :
" Shalat adalah mi'raj bagi mukmin "
Tujuan mi'raj itu adalah Penyatuan yaitu kembalinya yang menyembah kepada yang dia sembah ●
_______________________________________
RUKUK
_______
Tunduknya kepada huruf " Lam " yang terlahir daripada " Alif " yang menyembah menampakkan kepada yang disembah.
Alif adalah Kanzun Mahfiah yakni yang tersembunyi. Yang tersembunyi ingin dikenali, maka di lahirkanlah Lam sebagai tabirnya.
Nabi saw. bersabda :
" Dirikanlah shalat, seakan-akan engkau melihat Allah."
Para arif billah berkata bahwa siapa- siapa yang mengenal akan dirinya itu, maka rahasia-Nya akan menampakkan dan mengenalkan ke-Tuhanan-Nya. Yang menyembah di natijahkan seperti :
Angin, manakala ketika yang menyembah pada posisi berdiri tadi.
Natijahnya adalah Api... fana' dalam wujud .
Api itu sifatnya membakar yaitu melenyapkan keakuan, ke egoan dan kedirian...
Pada tahap berdiri ini, yang menyembah berada dalam suatu tarikan yang teramat kuat dari Nur Muhammad.
Justru itulah ia di natijahkan kepada Angin yang tunduk dan menderu.
Yang menyembah ditarik masuk kedalam alam Jabarut dan berpisah dari alam Malakut.
Justru itulah para arif billah mengatakan bahwa siapa- siapa yang yang mencari Tuhan diluar dirinya, dipastikam akan tersesat...
Pada tahap inilah si penyembah melepaskan qalbunya. Hanya tinggal padanya ialah Ruh-Nya yang hendak naik kelapisan yang lebih tinggi untuk bertemu Tuhan.
Alam Jabarut yang menghubungkan perbendarahaan wujud yakni batas larangan yang tak bisa ditembus kecuali hanya Nur Muhammad saja yang di antara maujud yakni yang menyembah.
Yang menyembah mengenal dirinya di alam Jabarut, maka tersingkaplah kepadanya seluas-luas nya wujud Allah tanpa ada tabir penghalang.
Bahwa, yang menyembah telah bersatu dengan yang disembah sebagaimana adanya didalam misykat itu adalah " Nur- Nya.
Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.
Perumpamaan cahaya Allah adalah :
" Seperti satu lubang yang tidak bisa ditembuskan. Yang ada didalamnya itu satu pelita yang sangat besar. Dan pelita itu didalam kaca...
Kaca itu seakan seperti sebuah bintang yang bercahaya terang laksana mutiara. Yang dihidupkan atau di nyalakan dengan minyak dari pohon yang barakahnya yakni pohon zaitun yang tumbuh tidak sebelah timur (sesuatu). Dan tidal juga sebelah baratnya. Yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walaupun tak disentuh api.
Itulah disebut cahaya diatas cahaya yang berlapis- lapis . Lalu Allah membimbing Cahaya-Nya itu kepada siapa- siapa yang Dia- inginkan.
Semua itu, Allah yang membuat perumpamaan- perumpamaan itu untuk manusia.
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu apapun itu.. maka bertasbihlah si penyembah :
" Maha Suci Allah yang Maha Agung dengan segala sifat kepujian-Nya."
Jika kita fahami ayat surah Nur ayat 35 ini saudara- saudariku.... maka mengertilah kita makna satu yang disembah yaitu Allah sebenar yang kita sembah. Bukan pemahaman makna bersatu dengan yang disembah, Tidak !!!
Tetapi satu yang disembah. Ini bukan mengambil pemahaman " Hulul " sebagaimana yang diyakini oleh Mansyur Al- Hallaj.
Yang lebih saya tekankan disini adakah :
" WAHDATUSY SYAHADAH yakni Kesaksian Penyatuan."
_______________________________________
I'TIDAL
_______
Si penyembah adalah yang dibangkitkan...
Si penyembah masuk kedalam pintu kematian.
Dan masuk didalamnya itu bukan mati benaran tapi matinya kesadaran seluruh prilaku lahiriah kecuali dalam kesadaran kekuasaan Allah.
Mati tapi sadar dan memiliki hidupnya Allah semata. Namun tidak seterusnya, si penyembah nanti akan disadarkan dari kematian sementara. Artinya
Si penyembah tak menyadari bahwa dia di lenyapkan oleh Nur Allah..
Ini juga disebut " Waqaf " yaitu sementara didalam shalat ●
_____________________________________
SUJUD AWAL
___________
Tunduknya kepada huruf Lam dan juga Mim.
Nabi saw. bersabda :
" Aku di lahirkan kedunia dalam keadaan sujud."
Yang menyembah di natijahkan kepada Air.
Dan air adalah sumber kejadian alam Mulki.
Arsy Allah berada diatas Air, maka yang menyembah di natijahkan kepada Air. Karena :
Disinilah yang menyembah sampai di alam Bahut.
Dan alam Bahut adalah pembatasan terakhir segala penzahiran.
Ungkapan syaikh Akbar Ibnu Arabi bahwa :
" Syajaratul Kaun (pohon kejadian) atau sebutan yang sering juga disebut dengan Sidratul Muntaha.
Pada tahap ini, yang menyembah adalah Ruh-Nya yang didalam " Sir "
Sabda Nabi saw. Beliau menceritakan bahwa ketika ia di mi'rajkan, ia melihat wajah Allah :
" Aku tidak tahu dimana aku berada."
Pada tahap ini juga yang menyembah menyerap kepada yang di Sembah.
Yang Disembah itulah yang menyembah...
Yang pada hakikatnya wujud terurai dalam fana' fil sifat dan lebur dalam fana' fil dzat yaitu :
" Melihat Allah dengan Allah, maka yang menyembah diberi pengetahuan-Nya - ANA AL-HAQ (Aku-lah Yang Benar) ●
Dari sisi tahap ini saudaraku sekalian....
Lihatlah kepada BISMILLAH, hanya BA dalam BISMILLAH saja yang tercantum dengan ALIF.
Nabi saw. bersabda :
" Seluruh isi kitab Al-Qur'an itu terkandung dalam Al-fatihah, dan seluruh Al-Fatihah itu terkandung dalam Bismillah. Dan Bismillah terkandung dalam Ba, dan rahasia Ba itu adalah Titik di bawahnya." Inilah yang dimaksud oleh Syaikh Ibnu Arabi Wujud kesatuan- Wahdatul Wujud. Maka bertasbihlah yang menyembah :
" Maha SuciTuhanku yang Maha Mulia dengan sifat kepujian-Nya."
_______________________________________
DUDUK DI ANTARA DUA SUJUD
___________________________________
Tunduk pada huruf " Ha besar " dan juga " Ha kecil " maksudnya setelah huruf Jim.
Yang menyembah (hamba) sudah dikaruniai " Baqa ".setelah ia fana' fil sifat dan fana fil dzat.
Dengan dikaruniai ke baqa'an, barulah yang menyembah bisa masuk perbendaharaan rahasia Ilahiah.
Jadi, pada sujud terakhir nanti, sebagaimana yang di istilahkan oleh para Arif billah melalui 3 tahapan yaitu :
" Ahadiah- Wahdah- dan Wahidiah "
-
Pada tahap ini, yang menyembah berada di alam Lahut - alam tidak ada yakni yang tidak ada satupun yang tercipta. Tiada awal dan tiada akhir.
Yang menyembah menyaksikan kekosongan tanpa perbatasan. Dan di sinilah awal " Diri " yang kemudian di lahirkan sebagai Adam
Di kalangan sufi, ia juga di istilahkan " Negeri Adami ". Diri (Sang Penyembah), di nisbatkan kepada Air yakni " AIR MUTLAQ "
Inilah asal- usul manusia dari alam tidak ada (LAA)●
Pada tahap ini juga, yang menyembah adalah di dalam rahasia-Nya.
Ruh-Nya dalam ke ghaiban Nur Muhammad.
Dan hakikat Ruh-Nya adalah Nur Muhammad..
Disinilah ia bermunajah :
" Ilahii... ampunilah hamba, rahmatilah hamba, cukupilah hamba, angkatlah derajat hamba, berilah hamba rezaki, berilah hamba Hidayah, sehatkanlah hamba dan maafkanlah hamba."
______________________________________
SUJUD AKHIR
______________
Tunduknya pada rahasia huruf " Ha " yang tak kelihatan atau bunyi ujungnya " Hu " dan juga huruf " Mim "
Pada tahap ini, yang menyembah berada di alam Ahud pada nisbahnya air yang dibawah 'Arsy Ilahi.
Jadi, yang tinggal pada si penyembah adalah Rahasia Ilahiah.
Nah.... di dalam Rahasia-Nya itulah " ANA (Aku).
Para sufi berkata :
" Air di dalam gelas, tidak dapat dibedakan lagi.
Air itulah gelas, dan gelas itulah air.
Yang menyembah itulah yang Disembah dalam istana ma'rifat, bukan dalam gudang syari'at, bukan gudang thariqat dan bukan gudang hakikat. Ini hanya pada ma'rifar semata-mata.
Ingatlah !! Camkan air di dalam gelas, bersatu dalam kejernihan. Lihatlah pada ombak-ombak, hanya pada nama yang diberikan, padahal itu air yang beriak dan menggelora ●
___________________________________
Pada sujud akhir inilah yang menyembah memasuki wilayah Ilahiah yaitu :
- Ahadiah = Dzat Mutlaq atau Dzat Wajibul Wujud.
- Wahdah = Dzat Yang Maha Esa.
- Wahidiah- ILAH = Dzat yang Maha Kaya dari segala sesuatu apapun dan sesuatu yang selain-Nya memerlukan pada Allah ●
_____________________________________
Dzat ingin dikenal sebagai " KANZUN MAHFIAN "
Disinilah terbitnya " KUN ILAHI "
" Jadilah .... maka jadilah ia
____________________________________
DUDUK TAHIYYAT UL AKHIR
______________________________
Tunduknya pada huruf " Dal "
Pada tahap ini, yang menyembah berada pada Alam Al-Insan, di nisbatkan pada tanah ketika ia duduk- dalam kesempurnaan.
Dia yang mengenal dan Dia-lah yang dikenal pada akhirnya. Dia yang turun dan naik dalam mi'raj :
" Rahasia Insan Rahasia-Ku, Rahasia- Ku rahasia Insan."
Di alam insan , sang penyembah diliputi dengan wujud, ilmu, nur dan syuhud. Maka Dzat adalah " Rahasianya "- Sifat adalah " Ruhnya "- Asma adalah " Qalbunya "- Dan Af'al adalah " Tubuhnya "
Disinilah ia mengucap " Salam terakhir (Tahiyyat akhir) kepada Nabi saw. dan rahmat Allah beserta ke barakahan- Nya, juga kepada hamba- hamba yang shalihin sekalian.
Dialah yang menyaksi.....
Dan dialah yang bersaksi....
" ASYHADU AN LAA ILAAHA ILAALLAAHU WA ASYHADU ANNA MUHAMMADUR RASUULULLAHI "
_______________________________________
SALAAM
_________
سلاما قول رب الرحيم
" SALAAMUN QAULAN MIN RABBIR RAHIIM "
Inilah salam ahli Syurga .
Syurga inilah yang di nikmati oleh ahli sang penyembah yaitu Syurga yang di dalamnya tak ada bidadari, sungai, buah- buaham dan pepohonan. Didalam syurga inilah , yang menyembah terlena memandang Wajah Rabb semesta alam ●
___________________________________________
Saudara- saudariku sekalian....
Di sini Anda perlu ketahui bahwa :
Suatu konsep atau pandangan dari para Arif Billah yang memahaminya, mereka itu sudah jauh dari manusia awam..
Yang perlu saya tekanlah adalah :
Shalat (Sujud) adalah suatu rahasia diri kita...
Jadi tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata bagaimana aku shalat (Sujud)....
Cukuplah untuk diri kita pribadi, (semuanya jadi kosong), tapi bila kita berkhalwat, Silahkan berbicara sebebas-bebasnya ●
___________________________________
PERBANDINGAN SHALAT DALAM PERSEPEKTIF FIQIH DAN TASHAWUF
_______________________________________
(1) - Shalat dalam persepektif Fiqih (Shalat formal)
.
Adalah sebagai ibadah pokok utama dalam Islam.
Shalat menjadi trade mark bagi siapapun yang mengaku beragama Islam. Artinya :
Ke Islaman seseorang secara lahiriah dapat dilihat dari shalatnya.
Jika shalatnya baik, maka orang tersebut dikenal sebagai Islam santri atau Islam hijau, terkadang disebut Islam putih.
Sebaliknya, jika shalatnya jelek atau justru tidak shalat, maka orang tersebut akan dikatakan sebagai Islam KTP atau Islam abal- abal.
Lebih dari sekedar trade mark.....
Ada sebuah hadits shahih yang di riwayatkan oleh At-Turmudzi dll, bahwa ;
Nabi saw.menegaskan betapa pentingnya shalat :
" Sungguh amal seorang hamba yang pertama kali diperhitungkan pada hari kiamat adalah shalat.
Jika shalatnya baik, maka dia benar- benar beruntung. Tetapi bila shalatnya jelek, maka dia benar- benar merugi.."
Dalam tataran fiqih, shalat dikatakan baik manakala sudah memenuhi syaratntya yaitu sesuatu yang mesti dipenuhi sebelum melakukan shalat. Dan rukun yaitu sesuatu yang harus dipenuhi ketika mengerjakan shalat.nya. sebagaimana bisa dfahami didalam kitab- kitab fiqih.
_____________________________________________
SYARAT SHALAT ADA DUA MACAM
Yakni syarat wajib shalat dan syarat sahnya shalat.
Syarat wajib shalat adalah :
(1) - Islam.
(2) - Baligh yaitu bagi laki-laki bila telah mimpi keluar mani. Dan perempuan bila datang mentsruasi atau haid atas dirinya.
(2) - Berakal sehat, tidak gila.
Sedangkan syarat sahnya shalat ialah :
(1) - Mengetahui masuknya waktu shalat.
(2) - Suci dari hadats, baik hadats besar maupun hadats kecil. Dan najis.
(3) - Menutup aurat yaitu bagi laki- laki bagiannya adalah antara pusat dan lututnya. Bagi perempuan ialah seluruh tubuhnya kecuali muka dan dua telapak tangannya.
(4) - Menghadap Qiblat bagi yang memungkinkan.
Sementara rukun shalat adalah :
(1) - Berdiri bagi yang mampu, kalau tak mampu berdiri, duduk, kalau ia tak sanggup duduk, berbaring dalam keadaan terlentang dengan posisi kaki ke arah qiblat.
(2) - Niat shalat
(3)- Takbiratul ihram membaca Allahu Akbar.
(4) - Membaca Al- fatihah dalam keadaan berdiri bagi yang mampu.
(5) - Ruku', membungkuk 90 derajat.
(6) - I'tidal yakni setelah bangkit dari ruku'.
(7) - Sujud. 7 anggota badan harus menyentuh tempat shalat yaitu Dahi, 2 tapak tangan bagian dalam 2 lutut dan jari- jari 2 kaki dengan posisi pantat diangkat lebih tinggi dari kepala.
(8) - Duduk diantara dua sujud.
(9) - Duduk Tahiyyat awal yakni tasyahud awal membaca Attahiyyah.. dan membaca syahadatain pertama.
(10) - DudukTahiyyat akhir yakni tasyahud akhir membaca Attahiyyah.... dan membaca syahadatain kedua.
(11) - Shalawatun 'alan Nabi saw.
(12) - Salam yakni salam kekanan dan kekiri
(13) - Tertib (thu'maninah), teratur, tidak terburu- buru dilakukan secara berurut ●
____________________________________
Seorang muslim dan muslimah yang melakukan shalat dengan memenuhi syarat dan rukunnya, berarti dia sudah menunaikan kewajibannya.
Mengenai bacaan ayat selain Al-Fatihah dan membaca doa selain rukun diatas yang megiringi semua gerakan dalam shalat, hukumnya sunnah kecuali membaca tasbih hukumnya wajib 1x saja , 3x sunnah. Sebaiknya dibaca saja, tetapi kalau tak dibacakan 3x, shalatnya tetap sah ●
Akhirul kalam :

Jumat, 08 Mei 2020

Guru Sejati(Dalam Tasawuf Jawa).


Dalam Tasawuf Jawa dijelaskan bahwa guru manusia itu adalah bersifat perantara untuk menuntun sang murid agar ketemu dengan guru sejatinya masing-masing. Guru Sejati adalah proyeksi dari rahsa(rasa/sirr) yang sumbernya adalah kehendak Tuhan; terminologi Jawa menyebutnya sebagai Rasa Sejati. Dengan kata lain rasa sejati sebagai proyeksi atas “rahsaning” Tuhan (sirrullah).
Sukma sejati atau dalam terminologi Arab disebut ruh al quds, dalam bahasa tasawufnya disebut sebagai an-nafs al-muthmainah, adalah sebagai “penasihat spiritual” bagi jiwa. Setiap Jiwa manusia perlu di dampingi oleh Guru Sejati karena ia dapat dikalahkan oleh nafsu yang berasal dari jasad (Raga dan Hawa Nafsu) manusia. Dalam Jiwa ini terjadi pertempuran tiap hari antara Hati Nurani dan hawa Nafsu.
Menurut ngelmu Kejawen, ilmu seseorang dikatakan sudah mencapai puncaknya apabila sudah bisa menemui wujud Guru Sejati. Guru Sejati benar-benar bisa mewujud dalam bentuk “halus”, wujudnya mirip dengan diri kita sendiri. Mungkin sebagian pembaca yang budiman ada yang secara sengaja atau tidak pernah menyaksikan, berdialog, atau sekedar melihat diri sendiri, seperti melihat cermin.
Itulah Guru Sejati anda. Guru Sejati memiliki sifat-sifat pancaran dari Cahaya Tuhan, maka segala nasehatnya akan tepat dan benar adanya.
Jika sang murid sudah bisa ketemu dengan sejatinya sendiri atau guru sejati, maka tugas guru manusia (dhohir) berikutnya hanya memantau agar sang murid bisa istiqomah dan bersatu dan manunggal dengan guru sejatinya. Oleh karena itu dalam tasawuf jawa sebelum meditasi tidak ada tawasul atau kirim fateha kepada para guru-guru sebelumnya. Karena dalam pandangan mereka hakekat guru sejati itu ada dalam diri setiap manusia.
Oleh sebab itu bagi yang dapat bertemu Guru Sejati, saran dan nasehatnya layak diikuti. Bagi yang belum bisa bertemu Guru Sejati, anda jangan pesimis, sebab Guru Sejati akan selalu mengirim pesan-pesan berupa sinyal dan getaran melalui Hati Nurani anda. Maka anda dapat mencermati suara hati nurani anda sendiri untuk memperoleh petunjuk penting bagi permasalahan yang anda hadapi.
Suatu hari ada orang datang ke rumah dengan membawa beras, ketika saya terima tangan saya terasa panas, gurusejati (sejatidiri) berkata, “beras itu hasil dari cara haram”. Lalu saya berpesan kepada ibu saya, agar beras ini jangan dimasak, karena dari cara haram, ibu saya tidak percaya, lalu bertanya langsung kepada yang memberi beras, ternyata beras tersebut berasal dari menang judi Pilkades.
Pernah juga ada orang datang mintak tolong katanya anaknya di rumah kerasukan Jin sudah satu bulan tidak sembuh, Guru sejati (hati Nurani) berkata, “ Jangan pergi, anak itu tidak kena Jin, tapi sakit typus, habis ini takdirnya mati”. Sayapun menjelaskan kepada orng tuanya kalau anaknaya tidak kena Jin, dia masih tetap tidak percaya. Lalu saya berkata, “saya tidak bisa menolong, ini sudah terlambat, anakmu sakit typus, harus ke rumah sakit.”
Satu jam kemudian anak tersebut meninggal dunia. Masih banyak lagi kisah-kisah yang saya alami berkaitan dengan nasehat dan bimbingan guru sejati.
Kenapa kalau sudah menemukan jadi diri dianggap aman dalam perjalanan spritual? Karena itu adalah dasar dalam makrifat kepada Allah, jika sudah berhasil menemukan jati diri, maka gurunya sudah bukan manusia lagi, melainkan guru sejati yang ada pada diri sendiri. Dalam istilah jawa disebutkan Guru Sejati Dumunung Ono Ing Telenging Ati, artinya guru yang akan kita tanya ataupun yang akan selalu mengingatkan kita adalah hati kita sendiri yang sudah kita kenali.
Bagaimana caranya guru sejati mengingatkan atau menjawab pertanyaan kita? Inilah misteri yang paling dicari dan paling dibutuhkan oleh semua orang. Guru sejati adalah roh yang memiliki wujud (tajalli) dan bisa diajak berdialog dengan kita, tidak bisa diajak dialog oleh orang lain, wajahnya juga seperti kita, yang bisa menemuinya hanya kita sendiri.
Nasehat dan suara guru sejati itu berasal dari hat nurani, dipancarkan ke atas di dada bisa di dengar oleh telinga atau dipancarkan ke atas di otak untuk diproyeksikan jadi sebuah gambar atau tulisan. Dalam tasawuf jawa dikenal dengan istilah, Suoro tanpo rupo(suara tanpa ada wujud), tulisan tanpo papan (tulisan tanpa dipapan tulis). Jika kita mendengar suara itu tepat disebelah telinga kanan atau kiri, maka itu adalah suara Jin, atau khodam anda. Jika sudah mengalami sendiri, maka akan bisa bedakan antara suara guru sejati atau Jin dan hawa nafsu.
Nah, bagaimana agar kita bisa bertemu atau dibimbing oleh guru sejati...? kita harus bisa mengalahkan nafsu atau jiwa Ammarah, Aluwamah, Mulhimah dengan berbagi macam laku dan tirakat. Kebanyakan metode tasawuf Jawa tirakatnya banyak yang berat, misalkan puasa mutih, ngebleng (didalam kamar/ruangan), melekan (tidak tidur dimalam hari), ngrowot (makan dedaunan), topo pendem (dikubur Hidup-hidup) dll. Tujuannya adalah agar dominasi tubuh jadi lemah dan menderita, sehingga guru sejati kasihan dan mau keluar untuk menemuinya dan membimbing orangnya.
Sebagian dari mereka ketika ketemu dengan guru sejati (sejatidiri) menganggap sudah sempurna perjalanan spritualnya, sehingga mereka meninggalkan Sholat, karena menganggap sudah makrifat, padahal ketika seseorang ketemu dengan guru sejati itu masih tahap dasar makrifat dan masih panjang perjalanan berikutnya.
Cukup sekian pembahasan tentang guru sejati, Insya Allah lain kali saya akan menulis tentang sholat dengan guru sejati, sehingga antara syareat dan hekekat bisa bersatu padu.
Salam🙏

TAFAKUR MEMFANAKAN DIRI.

TAFAKUR MEMFANAKAN DIRI
” Wahai manusia ! Sesungguhnya kamu harus berusaha dengan usaha yang sungguh-sungguh untuk bertemu dengan Tuhanmu, sampai kamu bertemu dengan-Nya “. ( QS Al Insyiqoq 84 : 6 )
Abu Huroiroh r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Solallohu Alaihi Wasallam bersabda, “Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: Apabila hamba-Ku senang untuk bertemu dengan-Ku, Aku pun senang untuk bertemu ...dengannya. Dan jika dia tidak suka untuk bertemu dengan-Ku, Aku pun tidak suka untuk bertemu dengannya.” (HR. Imam Malik, hadits shahih)
Membuka Rahasia Diri melalui ILMU TAFAKUR.” “Membina kekuatan jiwa,mental dan penyembuhan penyakit zahir dan batin” Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala “Maka ingatlah kepada-Ku, nescaya Aku ingat kepadamu (bersama dan melindungi hambaNya)… “(al-Baqoroh: 152)
adalah tenaga dari Illahi, ia mempunyai cahaya yang hebat yang datang dari alam Lahut. Energi zikir akan menysucikan segala kekotoran pada qolbu sehingga qolbunya akan terkeluar cahaya alam Lahut yang tertutup selama ini disebabkan kekotorannya.
Cahaya ini akan bersinar dan meningkatkan frekuensi cahaya pada qolbi dan seterusnya mengeluarkan segala tenaga yang rendah pada jiwanya (mazmumah). Ia juga akan bergerak menguatkan Ruh Sultoni yaitu cahaya akal sehingga akalnya mempunyai daya ketahanan yang kuat, berfikir tajam dan kreatif.
Zikir yang digabungkan dengan teknik pernafasan yang betul, akan memberikan kesan yang lebih hebat.
Imam Ghazali mengatakan zikir yang dilakukan dengan cara menahan nafas akan mempercepatkan proses penyucian hati (membakar mazhumah). Pernafasan yang betul akan memaksimumkan penyerapan oksigen yang amat penting dalam kehidupan dan kesehatan manusia.Kekurangan oksigen menyebabkan seseorang terdedah pada berbagai penyakit.
Tafakur juga dapat merawat gangguan halus sama ada dari sihir atau pun jin ialah dengan mengeluarkan penyakit dari diri serta memastikan pesakit mempunyai sistem pertahanan yang kuat agar segala iblis atau sihir tidak dapat menembusinya lagi setelah ia sembuh. Rawatan energi zikir juga akan menumpukan pengumpulan tenaga zikir pada qolbu untuk mengeluarkan syaitan dari dalam darah. Apabila tenaga zikir terkumpul di jantung, maka ia akan menghantar tenaga itu ke seluruh badan melalui sistem peredaran darah, seterusnya menghancurkan segala tenaga yang rendah (jin dan syaitan) tidak kira di mana ia berada dalam tubuh pesakit.
(Zikir Nafas)
Setiap kita yang hidup mesti mempunyai nafas, melihat, mendengar, merasa dan ini semua termasuk di dalam sifat al hayat. Kita boleh hidup tanpa mata, telinga, tangan dan anggota tubuh yang lain tetapi kita tidak boleh hidup tanpa nafas. Kita boleh berjalan, berkata-kata dan melakukan apa saja, ini semua berlaku kerana qudrot dan irodat dari Allah. Dan nafas berada didalam qudrot dan irodat Allah.
Di mana permulaan dan letaknya nafas ini?
Untuk mengetahuinya kita harus kembali pada asal kejadian kita yaitu di antara pertalian ibu dan anaknya. Mula terjadi benih diperut ibu ialah di bagian PUSAT. Di situlah mulanya nafas dan dari situ bermula benih itu membesar menjadi anggota tubuh yang sempurna.
Dimanakah letaknya rahasia diri kita yang sebenarnya?
Letaknya rahsia diri kita ialah di atas PUSAT (jaraknya dua jari diatas pusat). Kerana di situlah mulanya kejadian kita. Dan situlah letaknya pengenalan kita pada Allah. Untuk mencapai kemaqom tersebut ada 3 tahap atau latihan yang perlu kita lakukan.
-Menfanakan diri (mematikan diri)
-Mengqasadkan diri dalam afal Allah (perbuatan Allah)
-Mengqasadkan diri dalam ilmu Allah (pengetahuan Allah)
Pengetahuan Allah amat luas dan tidak terbatas.
Kalau Dia tidak berpengetahuan, munkinkah terjadi segala sesuatu ini?
Tentu tidak akan terjadi.
Mustahil kalau Allah itu tidak tahu. Adapun pengetahuan manusia makhluk tetap terbatas. Sedang Allah Yang Maha Ada, justeru Dialah yang mencipta akal dan pengetahuan.
Dan kunci/pokoknya amalan ini ialah: Lahaulawala quwwata illa billahil aliyyil azhim
Tahap 1:
Ucapkan Dua Kalimah Syahadah secara tidak putus sebanyak 3 kali. Iaitu لااله الا الله tarik nafas ( memberi makna هو tanpa kita sebut samada melalui mulut atau dengan hati)
Perhatikan turun naiknya nafas kita. Tarik dan hembuskan nafas kita dengan menggunakan kaedah pernafasan perut.
Apabila kita tarik nafas perut kita akan kembung, bukannya dada (boleh dilakukan samada nak menahan nafas selama mana yang kita mampu - atau tidak menahan nafas. Ingat saja kepada Allah - semasa menarik nafas biarkan udara masuk melalui hidung)
Jika kita guna kaedah menahan nafas, - Bila nafas tak tertahan lagi lepaskan perlahan-lahan. dan semasa kita menghembuskan nafas perut kita menjadi kempes seolah-olah kulit perut bertemu dengan tulang belakang. ( juga biarkan udara keluar ikut hidung )
Apabila kita melakukan kaedah diatas secara automatik akan berlaku kaedah yang dipanggil Mematikan diri dengan cara mengumpulkan segala nafas kita di bahgian qolbu (maqomnya alam malakut) lalu ditarik ke atas di bahgian ubun-ubun kepala (maqomnya alam jabarut) sambil tarik nafas dan bila sudah sampai kebahgian umbun-umbun kepala lalu tahan nafas untuk seketika. Selepas itu turunkan/lepaskan nafas hingga kebagian 2 jari di atas PUSAT (maqomnya alam lahut) lalu tahan nafas untuk seketika. Kosongkan fikiran dan tumpukan pada point iaitu 2 jari di atas PUSAT. Rasakan pada waktu itu kewujudan kita telah tiada yang ada hanya Allah. Selepas itu ambil nafas seperti biasa seketika dan lakukan lagi latihan 1.( tidak perlu diingat akan pergerakkan nafas itu ianya berlaku secara automatik - dengan sendiri)
Tahap 2
Mengqasadkan diri kita pada pergerakan Allah yaitu segala gerakan yang berlaku pada diri kita bukan lagi gerakan kita tetapi adalah gerakan Allah. Kembali pada pokoknya Lahalauwala quwata illabillahil aliyil azhim. Bahawasanya apa saja gerakan yang berlaku pada diri kita bukan lagi gerakan kita tapi adalah qudrat dan iradat Allah.
Misalnya: Kita lakukan latihan 1 dan bila sampai saja di point (PUSAT - setelah nafas habis dilepaskan) kita bermohan pada Allah agar memberi kita pergerakan . Dan selepas itu serahkan segala-galanya pada gerakan Allah. jangan difikirkan apakah gerakan yang hendak kita lakukan. Pergerakan ini boleh digunakan dalam membantu dalam kesusahan seperti scan tubuh pesakit. Kosongkan fikiran kita dan biarkan tubuh kita beregrak dengan sendirinya. Waktu itu bukan kita lagi yang mengawal tubuh kita tetapi adalah dari gerakan qudrat iradat Allah. Setiap apapun yang disaksikan oleh mata hendaklah ditanggapi oleh hati bahwa itu adalah af’al Allah (perbuatan) dari pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala
Tahap 3
Mengqasadkan diri kita di dalam ilmu Allah iatu segala apa yang akan berlaku semuanya adalah di dalam ilmu dan ketentuan Allah. (LA HAULA WA LA QUWWATA ILLA BILLAHIL-ALIYYIL AZHIM) Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan(daya dan kekuatan) Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.
Hadis Rosulullah Solallohu Alayhi Wasallam
LA TATAHARROKU DZARROTUN ILLA BI IDZNILLAHI.
Tidak bergerak satu zarrah juapun melainkan atas izin Allah.
Untuk mencapai tahap yang sempurna harus perbanyakanlah kita beribadah kepada Allah kerana semakin kita dekat dan mesra dengan Allah semakin tinggi dan menyerahlah apa yang kita tuntut ini.
Di dalam mengamalkan amalan ini janganlah ada sifat sombong, riya, takabbur, hasad dengki di dalam diri kita kerana sekiranya ada salah satu dari sifat-sifat ini di dalam diri kita maka amalan ini tidak akan menjadi kerana ilmu ini juga berada di dalam qudrot irodat Allah. Serahkan segala-galanya pada urusan Allah kerana kita adalah manusia yang lemah yang tiada daya dan kekuatan.
Siapa yang mengenal dirinya, tentu dia mengenal Tuhannya dan siapa yang mengenal Tuhannya, maka binasalah dirinya.”
Tambahan :-
Ucapkan Dua Kalimah Syahadah secara tidak putus sebanyak 3 kali. Iaitu لااله الا الله tarik nafas ( memberi makna هو tanpa kita sebut samada melalui mulut atau dengan hati)
Sesudah nafas tak tertarik lagi lalu sebutkan kalimah محمد روسول الله kemudian teruskan dengan berzikir الله...... الله ...... الله kalau boleh yang sedang menyebut الله itu ialah Allah.. ( tanpa ada kesedaran kita sedang berzikir )
URUTAN AMALAN ( tertib )
1-Pembukaan Amalan...
2-Perjalanan GERAK..
3-Pengisian NURILAHI...
4-Kunci Wasiat..
5-Tafakur Nafas
6-Tafakur Nafas 3 – Segi
7-Simpan Amal
Tafakkur atau Gerak Bapak Bagindo Muchtar
Boleh dilakukan setiap masa tanpa apa apa syarat ..dalam keadaan duduk selesa atau baring …
CARA PERSEDIAAN
Matikan segala gerak fizikal
Mati segala gerakan otak = fikiran
Letakkan kedua tapaktangan diatas kepala lutut atau didepan dada selaras dgn kedudukan JANTUNG
Tundukkan kepala dan pandang jantung
Boleh buka mata atau lelap mata
Fokuskan perhatian kepada keluar masuk nafas
Ujudkan RASA TENANG ..kemudian
Baca …Istiqfar…….3x
Baca…Auzubillahi minash syaitonil rojim
Baca….Bismilahi rahmani rahim
Mengucap…….3x
PERJALANAN SIROTHOL MUSTAQIM
(HAKIKAT GERAK KALIMAH TAUHID)
PEMBUKAAN AMALAN
Auzubillahi minassyaitonir rojim
Bismillahi rahmani rahim
Ashadu an la ilaha illallah ۝ wa ashadu anna muhammadur rosulullah
La haula wala quwwata illa billahi aliyul adzim
Astaqfirullahal adzim………3x
Selawat……..3x
1) ila hadratin nabi muhammadin Mustafa rosulillahi s.a.w saiun lillahi lahu………al-fatihah
2) ya Allah hamba hadiahkan al-fatihah ini kepada….rasul-rasul,nabi-nabi Allah,keluarga dan sahabat-sahabat Rasulullah,para wali-wali Allah,kedua ibu bapaku,kepada arwah bapak bagindo muchtar dan guru-guru serta kepada kaum muslimin dan muslimat,mukminin dan mukminat dan juga kepada diriku sendiri…………..al-fatihah.
AMALAN PERJALANAN / GERAK
Bismillah & Mengucap 3 x
BACA DOA INI
Ya Allah Ya Rabbi Ya Tuhanku
Makbulkanlah permintaanku Ya Allah
Ampunilah dosa dosaku zahir dan batin Ya Allah
Bersihkanlah Ruhani, Jasmaniku serta Jasadku
Tiada aku yang berkuasa – Allah Yang Berkuasa
Allah Maha Tahu segala-galanya
Ya Allah Tunjukkanlah PENGAKUAN DIRIKU yang sebenar-benarnya
Ya Allah Tunjukkanlah SIAPA AKU SEBENARNYA
Ya Allah Tunjukkanlah PERJALANAN AKU yang sebenarnya yakni PERJALANAN SIRATUL MUSTAQIM
Ya Allah KEMBALIKAN aku ke PANGKAL JALAN.
Tiada aku yang berkuasa – Allah-lah Yang Maha Berkuasa
Plus DOA PERIBADI ( jika ada )
DOA PENUTUP / KEMBALI
Ya Allah Ya Rabbi Ya Tuhanku
MAKBULKAN-lah permintaanku Ya Allah
KEMBALIKAN-lah aku SEPERTI BIASA
Tiada aku yang berkuasa – Allah –lah Yang Maha Berkuasa
CARA
Tutup 10 jari
Istighafar 3 x
Alhamdulillah 1 xSalam kekanan – Ya Allah - Salam kekiri – Ya Muhammad
PENGISIAN CAHAYA NURILAHI
Bismillah
Mengucap
DOA
Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim
Makbulkan permohonanku ini
ISIKAN-lah PANCARAN CAHAYA NURILAHI
melalui UBUN UBUNKU
kedua belah tapak tanganku
seluruh anggotaku
seluruh jasadku
ruhani dan jasmaniku
Tiada aku yang berkuasa
Allah-lah Yang Maha Berkuasa
BERZIKIR-lah
Allah – Allah - Allah
RAHSIA KUNCI WASIAT
Anak kunci Serbaguna - Cara Cara mengamalkannya
Istighafar 3 X
A-uuzubillah minash syaitonil rojim
Bismillahi Rahmani Rahim
MENGUCAP 3 X
Mohon hajat kepada Allah
kemudian pegang kunci itu (Alif,Lam,Mim)
Tarik nafas sambil silang kedua tangan=kanan didalam dan kiri diluar berbentuk lam jalallah,
sambil zikr allah 9x,
kemudian letak kunci didahi sambil ucapkan
kalimah syahadah 1 X,
dan turun kearah pusat kemudian telan air liur,
pastu buat kalimah lam jalallah dengan jari kanan dimulai di bahu kanan sambil membaca bismillahi rahmani rahim dan allahu akbar.....
PENUTUP ..sama dengan amalan sebelumnya
UNTUK PAGAR DIRI CARANYA SAMA SEPERTI DIATAS.
kalau kita nak buat ubat guna air jadi guna tangan kanan yg ada kunci tu atau kedua dua tangan...pun boleh juga arahkan kepada air tu.....
SEMIDI / ZIKIR NAFAS 3 SEGI
Pilihan je – tak buat takpe
Baca Password
Sambil tangan diletakkan atas peha dengan keadaan terbuka, dan pejamkan mata serta memandang dengan mata hati kedalam diri sambil berzikir ikut aturan nafas
Iaitu…
Nafas masuk……….5 hitungan
Tahan nafas…………5 hitungan
Nafas keluar………..5 hitungan
Jika kita telah lama membawa hitungan ini maka naikkanlah bilangan nya itu
10……..hitungan
15……..hitungan
20……..hitungan
*masuk dan keluar nafas melalui hidung
PENUTUP – SAMA DENGAN AMALAN SEBELUMNYA
SIMPAN AMAL
Ya Allah Ya Tuhanku…
Simpanlah amal rahsiaku didalam
SIFAT MA’BUD ZAT TUHAN,
simpan didalam FUAD, didalam JANTUNG didalam INSAN .
Insan BERKAMIL INSAN dengan SIFAT 20..
Sifat yang terkandung didalam Kalimah ….
LA ILAHA ILLALLAH HU HAQ.
.............................................................................
TAFAKUR 1 (TATA CARA BERSERAH DIRI KEPADA ALLAH)
Ibarat Bayi Tidak Bisa Apa-apa
Tafakur adalah perilaku seseorang dalam rangka berserah diri pada Tuhan.Ia tidak tahu apa-apa,karenanya tidak mempunyai tujuan.Ibarat bayi yg hanya manut-manut saja,menjalankan pepesten(takdir).Apa saja diterima.Duduk tafakur melakukan perenungan.Bagaimana tafakur yg benar?
Tafakur berbeda dengan meditasi.Perbedaannya pada: tata cara dan aturan-aturan khusus.Tafakur adalah mengheningkan cipta,tafakur memusatkan segenap pikiran (dengan meniadakan segala hasrat jasmaniah).Aturan khususnya,diam dengan posisi duduk tegak(bersila).Mengatur pernapasan sedemikian rupa,halus,keluar masuknya nafas tidak boleh tersedak-sedak (megap-megap).
orang yg melakukan tafakur adalah orang yg tidak tahu,belum mengerti apa-apa,tidak memiliki apa-apa.Bertafakur berarti melakukan perenungan.Berserah diri.Intinya pendekatan diri kepada tuhan sama sekali tidak memiliki tujuan juga tidak memiliki keinginan atau tuntutan.
Orang yg melakukan tafakur diibaratkan bayi.Tidak tahu apa-apa,tidak tahu mana arah utara,selatan,timur maupun barat.Ia tidak memiliki kemampuan apa-apa,sehingga dipukul,dibentak,dibunuh atau diapakan diam saja.apakah bayi itu akan diberi umur hanya 2tahun atau hidup sampai 100tahun,hanya menjalani saja.
Panembahan
Orang yg berserah diri pada tuhan sudah barang tentu berkaidah dengan panembahan(menyembah).Orang yg beribadah,yg perlu dipahami bahwa panembahan yg dimaksud bukan sholat.Sebab,bertafakur tidak sama dengan sholat.Tetapi menyembah dalam arti beribadah.Tata caranya dengan duduk bersila,mengosongkan pikiran,berkonsentrasi penuh.
Karena menyembah ,maka berhubungan dengan tuhan.orang yg sedang melakukan kontak dengan Tuhan,alam pikir harus dikosongkan.Pikiran yg macam-macam,ingatan yg macam-macam,keinginan keinginan yg macam-macam,harus diusir jauh-jauh.Yg harus difungsikan adalah hati.suara hati,jeritan hati,keinginan hati untuk menuju Tuhan.
Melakukan tafakur bukan berarti diam membisu dan mematung.Secara fisik memang demikian,tapi dalam ruhani harus ramai,bergemuruh ramai dalam diam,bergemuruh dalam kesunyian.Yg ramai ialah suara hati.
Selaras
Agar pikiran tidak melayang ke mana-mana,maka harus diisi.Isinya adalah dzikir.Dzikir yg harus dibaca,harus selaras antara hati dan pikiran.Artinya,dzikir yg dibaca didengar sendiri,dibaca terus menerus,diresapi dan dijaga sedemikian rupa agar alam pikir tidak melayang kemana-mana.kalau pikiran keluar jalur,harus dikembalikan ke jalur hati,sehingga terjaga terus.Dzikir yg harus dibaca banyak sekali.Setiap guru punya anjuran sendiri-sendiri.ada yg mewajibkan berdzikir kalimat tauhid”Laa ilaaha illallah”.Ada yg kalimat pendek mengambil dari asmaul husna ,misalnya ” Yaa hayyu yaa Qoyyum”.
Tapi,biasanya untuk penyerahan diri adalah berdzikir memuji Tuhan,yaitu membaca tasbih “Subhaanallah walhamdulilah walaailla haillallahu allahu akbar laa haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim.Kalimat dzikir tsb dibaca dalam kondisi duduk bersila secara terus menerus.Tidak merasa bosan.Malahan harus merasa enjoy.Jika sudah merasa enak,maka senantiasa akan kurang.Lamanya juga tidak diperdulikan
Waktu untuk bertafakur sebenarnya tidak ada aturan,bisa siang,sore,pagi,atau malam.Tetapi yg paling baik dilakukan pada tengah malam tatkala orang-orang sudah terlelap,sehingga memperoleh kesunyian-kesunyian di malam hari.
Dzikir dalam tafakur berarti suara hati.Tanpa suara,tanpa kata-kata juga gerakan-gerakan.Ini berbeda dengan tata cara berdzikir yg ada cara duduk,gerakan badan dan suara.Ada geleng-geleng ,manggut-manggut dan lainnya.

AKIBAT DAN BAHAYANYA BILA TIDAK BERTAREKAT*

*Tanya :*Apa akibat dan bahayanya jika seorang Muslim yang mengaku beriman tidak mempelajari Tarekat?
*Jawab Jika seorang Muslim yang mengaku beriman hanya mempelajari Ilmu Syari’at saja dan tidak mempelajari Tarekat sampai akhir hayatnya, maka nanti pada saat sakaratul maut *segala amalan Syari’atnya (shalat, puasa, zakat, dan haji) tidak akan dapat menolongnya.* Menurut Al-Ghazali, yang dimaksud dengan sakaratul maut yaitu, dikatakan telah mati, nyawanya masih ada, dikatakan masih hidup, sudah tidak bisa apa-apa. Ada tujuh sifat ma'ani pada Allah Taala yang telah dipinjamkan kepada manusia, diantaranya yaitu :
1. *Hayat,* sedangkan pada manusia adalah yang dihidupkan.
2. *Ilmu,*sedangkan pada manusia adalah yang diberi ilmu.
3. *Iradat,* sedangkan pada manusia adalah yang diberi kehendak.
4. *Qudrat,* sedangkan pada manusia adalah yang diberi kemampuan.
5. *Bashar,* sedangkan pada manusia adalah yang diberi penglihatan.
6. *Sama’*sedangkan pada manusia adalah yang diberi pendengaran.
7. *Kalam,* sedangkan pada manusia adalah yang diberi kemampuan berkata-kata.
Setiap barang pinjaman, pasti akan kembali kepada pemiliknya. Maka pada saat sakaratul maut , *Allah akan mengangkat sifat-Nya yang lima, yang telah ia pinjamkan kepada hamba-hamba-Nya,* diantaranya yaitu sifat
iradat, qudrat, basar, sama’ dan kalam. Maka tinggallah dua sifat yang masih tersisa pada saat sakaratul maut yaitu, *sifat hayat dan ilmu.* Maka pada saat
sakaratul maut tidak ada yang dapat kita lakukan dan siapapun tidak akan ada yang dapat menolong kita sebagaimana *firman Allah dalamm surat as-Syuara ayat 88
ﻳَﻮْﻡَ ﻻَﻳَﻨْﻔَﻊُ ﻣَﺎﻝٌ ﻭَﻻَﺑَﻨُﻮْﻥَ . ﺍِﻻَّﻣَﻦْ ﺃَﺗَﻰ ﺍﻟﻠﻪَ ﺑِﻘَﻠْﺐٍ ﺳَﻠِﻴْﻢٍ .
Artinya : “Pada hari itu harta anak-anak laki-laki tiada berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
Jadi berdasarkan ayat di atas bahwa yang dapat menyelamatkan manusia pada saat sakaratul maut adalah hati yang bersih. Adapun yang *dimaksud dengan hati yang bersih yaitu hati yang selalu mengingat Allah.*Jadi jelaslah *Ilmu Syari’at tidak berlaku dan tidak dapat digunakan pada saat*
*sakaratul maut* , sebab Ilmu Syari’at terkait dengan sifat iradat, qudrat, basar, sama’, dan kalam. Sedangkan kelima sifat tersebut telah diangkat oleh Allah pada saat sakaratul maut. Oleh sebab itu Hadis Nabi yang berbunyi :
ﻟَﻘِّﻨُﻮﺍْ ﻣَﻮْﺗَﺎﻛُﻢْ ﻻَﺍِﻟَﻪَ ﺍِﻻَّﺍﻟﻠﻪُ
Artinya : “Bimbinglah orang yang hendak meninggal dunia dengan ucapan: la ilaha illallah”. (H.R. Muslim).
Hadis di atas *sesungguhnya diperuntukkan kepada orang yang akan mati,* yaitu setiap orang yang masih hidup dan *bukan kepada orang yang akan mati pada saat sakaratul maut.*
Hadis di atas merupakan peringatan kepada orang-orang yang masih hidup supaya mengenal Allah, *sebab apabila kalimah la ilaha illallah dibisikkan kepada* *orang yang akan mati pada saat*
*sakaratul maut tidak akan ada gunanya,* sebab Allah telah mengangkat sifat
sama’ (pendengaran) padanya, mata telah buta, anggota badan telah lumpuh dan kaku.
Maka *tiadalah yang* *dapat menyelamatkan manusia pada saat*
*sakaratul maut selain dirinya sendiri.*
*Apabila ia semasa hidupnya hanya mempelajari Ilmu Syari’at saja, maka binasalah ia, sebab Ilmu Syari’at tidak berlaku pada saat sakaratul maut.*
Lalu ilmu apakah yang berlaku pada saat
sakaratul maut? maka jawabannya dapat diperoleh dari pantun yang berisi nasehat kepada manusia tentang
sakaratul maut:
Pohon jelatang di tepi laut
Gugur bunganya dimakan ikan
Kalaulah datang si Malaikal maut
Ilmu apa yang akan digunakan
Orang nelayan pergi ke laut
Pukat dibawa penangkap ikan
Kalaulah datang si Malaikal maut
Ilmu Hakikat itulah gunakan
Kata bismillah asal mula jadi
Makrifat iman itulah nur Ilahi
Apalah gunanya ilmu dicari
Kalaulah tidak kenal diri
Pandang makrifat di dalam diri
Tempat terjadi ismu Ilahi
Amalan Syari’at belumlah berarti kali
*Amalan hakikat itulah yang dibawa mati*
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa *Ilmu Hakikatlah yang berlaku pada saat sakaratul maut* , sebab hanya dengan *Ilmu Hakikatlah manusia dapat mengingat Allah.* Apabila pada saat akhir hayatnya ia dapat mengingat Allah, maka inilah yang disebut dengan hati yang bersih/selamat (qalbin salim), yaitu *tidak ada yang diingatnya selain Allah.* Di sinilah penentuan apakah manusia itu masuk surga atau neraka. Apabila pada saat akhir hayatnya ia dapat mengingat Allah, maka surgalah baginya. *Adapun orang yang tidak dapat mengingat Allah pada akhir hayatnya, maka nerakalah baginya.*
Adapun *bagi orang yang dapat mengingat Allah, maka tidak ada hak bagi Malaikat maut untuk mencabut nyawanya. Allahlah yang langsung mencabut nyawanya*
sebagaimana firman Allah dalam surat az-Zumar ayat 42 :
ﺍﻟﻠﻪُ ﻳَﺘَﻮَﻓَّﻰ ﺍْﻷَﻧْﻔُﺲَ ﺣِﻴْﻦَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ
Artinya : *Allahlah yang mencabut nyawa orang yang mengingat Allah ketika matinya.”*
Berdasarkan ayat di atas, Allahlah yang langsung mencabut nyawa orang yang dapat mengingat-Nya di saat wafatnya.
*Para sufi berkata bahwa sesakit-sakit orang yang dicabut oleh Allah nyawanya adalah seperti ia mengangkat takbir ketika hendak sembahnyang. Adapun cara Allah mewafatkan hamba-hamba-Nya yang dapat mengingat-Nya, maka Allah cukup hanya dengan memanggilnya,* sebagaimana dijelaskan di dalam firman Allah dalam surat al-Fajri ayat 27-30 :
ﻳَﺄَﻳَّﺘُﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲُ ﺍﻟْﻤُﻄْﻤَﺌِﻨَّﺔٌ . ﺍِﺭْﺟِﻌِﻰ ﺍِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻚَ ﺭَﺍﺿِﻴَﺔً ﻣَﺮْﺿِﻴَﺔً . ﻓَﺎﺩْﺧُﻠِﻰ ﻓِﻰ ﻋِﺒَﺪِﻯ . ﻭَﺍﺩْﺧُﻠِﻰ ﺟَﻨَّﺘِﻰ .
Artinya : *“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.*
Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Q.S. 89 al-Fajri: 27-30).
Demikianlah penghargaan Allah bagi orang yang dapat mengingat-Nya pada saat wafatnya. Para Malaikat yang mengelilinginya hanya mengucapkan salam kepadanya dan menggiring ruh tersebut ke baitul makmur.
*Adapun bagi orang yang tidak dapat mengingat Allah pada saat wafatnya, maka Allah mewakilkan kepada Malaikat Maut untuk mencabut nyawanya,* sebagaimana firman Allah :
ﻗُﻞْ ﻳَﺘَﻮَﻓَّﻜُﻢْ ﻣَّﻠَﻚُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﻭُﻛِّﻞَ ﺑِﻜُﻢْ ﺛُﻢَّ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮْﻥَ .
Artinya : “Katakanlah Allah akan mewakilkan Malaikal maut untuk mencabut nyawamu, kemudian kepada Tuhanmulah kamu akan kembali”. (Q.S. 32 as-Sajadah: 11).
Selanjutnya di dalam surat an-Nisa Allah menjelaskan orang yang bagaimana yang dicabut oleh Malaikat maut nyawanya, sebagaimana firman Allah :
ﺍِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺗَﻮَﻓَّﻬُﻢُ ﺍﻟْﻤَﻠَﺌِﻜَﺔُ ﻇَﺎﻟِﻤِﻰ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ
Artinya : “Sesungguhnya orang yang diwafatkan Malaikat maut adalah mereka yang menzalimi diri mereka sendiri”. (Q.S. 4 an-Nisa: 97).
Berdasarkan penjelasan ayat di atas bahwa *sesungguhnya orang-orang yang tidak dapat mengenal Allah pada hakikatnya adalah orang-orang yang menzalimi diri mereka sendiri.*
Adapun seenak-enak atau seringan-ringan *Malaikat maut mencabut nyawa manusia adalah seperti kambing dikuliti hidup-hidup.* *Demikianlah jijiknya Allah terhadap orang yang tidak dapat mengingat-Nya,* sehingga Allah mewakilkan kepada Malaikat maut untuk mencabut nyawanya.
*Demikianlah betapa meruginya orang-orang yang hanya mengandalkan amal Syari’at saja* dan mengabaikan *Hakikat*
. *"Orang-orang yang mengabaikan hakikat adalah orang-orang yang menzalimi diri mereka sendiri. Hal ini disebabkan karena *sesungguhnya mereka tidak mengenal yang mereka sembah.* Inilah yang menyebabkan mereka tidak dapat kembali kepada Allah karena sesunggunya sewaktu di dunia mereka tidak pernah mengenal Allah.
*Adapun bagi orang-orang mukmin yang dapat mengingat Tuhannya semasa hidupnya di dunia, maka di yaumil mahsyar wajah mereka pada hari itu berseri-seri* sebagaimana firman Allah :
ﻭُﺟُﻮﻩٌ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻧَّﺎﺿِﺮَﺓٌ . ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻬَﺎ ﻧَﺎﻇِﺮَﺓٌ .
Artinya : “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannyalah mereka melihat. (Q.S. 75 al-Qiyamah: 22-23).
Hadis Nabi SAW :
ﻛُﻨَّﺎﺟُﻠُﻮْﺳًﺎ ﻣَﻊَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻞَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻨَﻈَﺮَ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮِ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺍَﺭْﺑَﻊَ ﻋَﺸَﺮَﺓَ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺍِﻧَّﻜُﻢْ ﺳَﺘَﺮُﻭْﻥَ ﺭَﺑَّﻜُﻢْ ﻋَﻴَﺎﻧًﺎ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺮَﻭْﻥَ ﻫَﺬَﺍﺍﻟْﻘَﻤَﺮَ ﻻَﺗُﻀَﻤُّﻮْﻥَ ﻓِﻰ ﺭُﺅْﻳَﺘِﻪِ ﻓَﺈِﻥِ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﺍَﻥْ ﻻَ ﺗُﻐْﻠَﺒُﻮْﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺻَﻼَﺓٍ ﻗَﺒْﻞَ ﻃُﻠُﻮْﻉِ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲِ ﻭَﺻَﻼَﺓٍ ﻗَﺒْﻞَ ﻏُﺮُﻭْﺑِﻬَﺎ ﻓَﺎﻓْﻌَﻠُﻮﺍْ .
“Kami pernah duduk bersama Rasulullah SAW, lalu beliau memandang rembulan tanggal empat belas, lantas bersabda, “Sesungguhnya kamu akan melihat Tuhanmu dengan terang sebagaimana kamu melihat rembulan itu. Kamu tidak akan ragu sedikitpun dalam melihat-Nya. Dan kalau kamu mampu janganlah terlalaikan melakukan shalat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya, maka kerjakan itu. (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi).
*Adapun bagi orang-orang yang tidak dapat mengingat Allah semasa hidupnya di dunia, maka Allah akan mengumpulkannya dalam keadaan buta, bisu, dan pekak* sebagaimana firman Allah :
ﻭَﻧَﺤْﺸُﺮُﻫُﻢْ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﻤَﺔِ ﻋَﻠَﻰ ﻭُﺟُﻮﻫِﻬِﻢْ ﻋُﻤْﻴًﺎ ﻭَﺑُﻜْﻤًﺎ ﻭَﺻُﻤًّﺎ ﻣَّﺄْﻭَﻫُﻢْ ﺟَﻬَﻨَّﻢُ .
Artinya : “Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu, dan pekak, tempat kediaman mereka adalah neraka jahannam”. (Q.S. 83 al-Isra’: 97).
ﻛَﻶَّ ﺇِﻧَّﻬُﻢْ ﻋَﻦْ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻟَّﻤَﺤْﺠُﻮﺑُﻮﻥَ .
Artinya : “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terlarang dari (melihat) Tuhan mereka.” (Q.S. 83 al-Mutaffifin: 15)
Demikianlah siksaan yang Allah berikan bagi orang-orang yang tidak dapat menggunakan mata, hati, dan pendengarannya untuk mengenal Allah semasa hidupnya di dunia. Adapun bagi orang-orang yang dapat mengingat Allah, maka Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya. *Adapun bagi orang-orang yang tidak dapat mengingat Allah pada saat matinya, maka nerakalah baginya.* Orang-orang yang tidak dapat mengenal Allah sewaktu di dunia, maka *sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang buta di dunia dan di akhirat serta mereka akan dibangkitkan dalam keadaan buta pula* sebagaimana firman Allah :
ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻰ ﻫَﺬِﻩِ ﺃَﻋْﻤَﻰ ﻓَﻬُﻮَ ﻓِﻰ ﺍْﻷَﺧِﺮَﺓِ ﺃَﻋْﻤَﻰ ﻭَﺃَﺿَﻞَّ ﺳَﺒِﻴْﻼً
Artinya : “Barangsiapa yang buta di dunia ini, maka di akhirat nanti ia lebih buta lagi dan lebih sesat jalannya”. (Q.S. 17 al-Isra’: 72).
*Sesungguhnya yang dimaksud dengan buta pada ayat di atas adalah butanya mata hati,* sebagaimana firman Allah :
ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﻻَﺗَﻌْﻤَﻰ ﺍْﻷَﺑْﺼَﺮُ ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﺗَﻌْﻤَﻰ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮْﺏُ ﺍﻟﻠّّﺘِﻲْ ﻓِﻰ ﺍﻟﺼُّﺪُﻭْﺭِ
Artinya : “Sesungguhnya yang buta itu bukanlah mata kepala, tetapi yang buta itu adalah mata hati yang ada di dalam dada.” (Q.S. 22 al-Hadid: 46).
Berdasarkan penjelasan kedua ayat di atas, dapatlah kita ketahui bahwa *sesungguhnya orang-orang yang tidak dapat mengenal Allah pada hakikatnya adalah orang-orang yang buta di dunia dan di akhirat kelak*. Mereka akan dibangkitkan dalam keadaan buta. Ketauhilah sesungguhnya buta mata hati itu lebih parah daripada butanya mata kepala. Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mengutamakan Ilmu Syari’at dan *mengabaikan Hakikat pada hakikatnya adalah membiarkan diri mereka dalam kebutaan dan tidak mengenal Tuhannya.*
ketahuilah, sesungguhnya hanya *dengan mempelajari hakikat/bertarekatlah* manusia akan mengetahui bahwa hati yang bernama
*latifah robbaniyah* itulah yang mengetahui tentang hakikat Allah Ta’ala dan tidak dapat dicapai oleh oleh khayal, pikiran serta sangka-sangka manusia. Dan hati latifah robbaniyah
itulah yang akan dihisab atau ditanyai oleh Allah Ta’ala kelak.
*RINGKASAN DAN HIMBAUAN PENTING BAGI PARA PEMBACA**
Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa Tasawuf dan Tarekat adalah bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. *Orang yang bertarekat sudah barang tentu bertasawuf,*
namun *orang yang mengkaji Tasawuf tanpa bertarekat adalah *_mustahil_* bagaikan orang yang ingin menyeberangi lautan yang luas tanpa perahu. Oleh sebab itu
*Mempelajari Tarekat/Tasawuf Hukumnya adalah Wajib bagi setiap Muslimin dan Muslimat,* sebab *tanpa Bertarekat* Sudah Pasti *Sesat* , sebab *tidak mengenal yang disembahnya* dan Allah tidak akan memberikan penilaian apa-apa terhadap amal ibadah yang mereka lakukan. Mereka akan dibangkitkan Allah dalam keadaan buta disebabkan butanya mata hati mereka dari mengenal Allah sewaktu di dunia dan *tidak ada tempat bagi mereka (orang-orang yang tidak bertarekat)* selain Neraka.
Mengingat begitu urgennya,
*Tarekat/Tasawuf sebagai satu-satunya cara untuk mentauhidkan Allah,* maka segala paham yang berupaya merongrong dan menolak ajaran Tarekat/Tasawuf adalah wajib ditolak.
Ajaran Wahabi (yang saat ini menamakan diri mereka dengan paham
Salafi atau sejenisnya) adalah salah satu paham yang harus diwaspadai, disebabkan kebencian mereka terhadap ajaran Tarekat/Tasawuf. Paham Wahabi dengan segala ajarannya harus dijauhi sebab dapat menyebabkan umat Islam menjadi sesat karena tidak mengenal Tuhan yang disembahnya. Sudah sewajarnya umat Islam menyadari bahwa segala tuduhan negatif yang dilontarkan kepada Ahli Tasawuf dan ajarannya adalah propaganda yang bersumber dari orang-orang yang awam dan sama sekali tidak paham tentang Tasawuf.
Meskipun penulis telah berupaya semaksimal mungkin dalam membela Tarekat/Tasawuf dengan berdasarkan dalil naqli dan aqli serta telah menyebutkan *bahwa bertarekat itu wajib hukumnya,*namun lewat tulisan ini penulis juga menghimbau kepada para pembaca agar terlebih dahulu menguji atau meneliti kebenaran ajaran Tarekat yang akan diikutinya, karena tidak ada jaminan bahwa semua Tarekat itu benar-benar dapat menyampaikan pengenalan kepada Allah. Berdasarkan kriteria Tarekat yang telah penulis sebutkan kiranya dapat dijadikan pedoman untuk menyeleksi kebenaran Tarekat yang akan diikuti ajarannya. *Semoga Allah menunjuki kita semua sehingga dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.*
Mari kita kita bertareqoh utk sampai ke hakikat.
#SemogaBermanfaat