Laman

Senin, 14 Juli 2014

Gara-gara Kesalahan Nabi Adam As?

Gara-gara Kesalahan Nabi Adam As?
Ingat Allah, Rasulullah dan Waliyullah
Sebelum Gus Dur wafat, Beliau pernah berdialog dengan salah seorang santrinya, berikut isi dialog tersebut..
Santri : "Ini semua gara-gara Nabi Adam, ya Gus!"
Gus Dur : "Loh, kok tiba-tiba menyalahkan Nabi Adam, kenapa Kang."
Santri : "Lah iya, Gus. Gara-gara Nabi Adam dulu makan buah terlarang, kita sekarang merana. Kalau Nabi Adam dulu enggak tergoda Iblis kan kita anak cucunya ini tetap di surga. Enggak kayak sekarang, sudah tinggal di bumi, eh ditakdirkan hidup di Negara terkorup, sudah begitu jadi orang miskin pula. Emang seenak apa sih rasanya buah itu, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak tahu lah, saya kan juga belum pernah nyicip. Tapi ini sih bukan soal rasa. Ini soal khasiatnya."
Santri : "Kayak obat kuat aja pake khasiat segala. Emang Iblis bilang khasiatnya apa sih, Gus? Kok Nabi Adam bisa sampai tergoda?"
Gus Dur : "Iblis bilang, kalau makan buah itu katanya bisa menjadikan Nabi Adam abadi."
Santri : "Anti-aging gitu, Gus?"
Gus Dur : "Iya. Pokoknya kekal."
Santri : "Terus Nabi Adam percaya, Gus? Sayang, iblis kok dipercaya."
Gus Dur : "Lho, Iblis itu kan seniornya Nabi Adam."
Santri : "Maksudnya senior apa, Gus?"
Gusdur : "Iblis kan lebih dulu tinggal di surga dari pada Nabi Adam dan Siti Hawa."
Santri : "Iblis tinggal di surga? Masak sih, Gus?"
Gus Dur : "Iblis itu dulu nya juga penghuni surga, terus di usir, lantas untuk menggoda Nabi Adam, iblis menyelundup naik ke surga lagi dengan berserupa ular dan mengelabui merak sang burung surga, jadi iblis bisa membisik dan menggoda Nabi Adam."
Santri : "Oh iya, ya. Tapi, walau pun Iblis yang bisikin, tetap saja Nabi Adam yang salah. Gara- garanya, aku jadi miskin kayak gini."
Gus Dur : "Kamu salah lagi, Kang. Manusia itu tidak diciptakan untuk menjadi penduduk surga. Baca surat Al-Baqarah : 30. Sejak awal sebelum Nabi Adam lahir… eh, sebelum Nabi Adam diciptakan, Tuhan sudah berfirman ke para malaikat kalo Dia mau menciptakan manusia yang menjadi khalifah (wakil Tuhan) di bumi."
Santri : "Lah, tapi kan Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di surga?"
Gus Dur : "Iya, sempat, tapi itu cuma transit. Makan buah terlarang atau tidak, cepat atau lambat, Nabi Adam pasti juga akan diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugas dari-Nya, yaitu memakmurkan bumi. Di surga itu masa persiapan, penggemblengan. Di sana Tuhan mengajari Nabi Adam bahasa, kasih tahu semua nama benda. (lihat Al- Baqarah : 31).
Santri : "Jadi di surga itu cuma sekolah gitu, Gus?"
Gus Dur : "Kurang lebihnya seperti itu. Waktu di surga, Nabi Adam justru belum jadi khalifah. Jadi khalifah itu baru setelah beliau turun ke bumi."
Santri : "Aneh."
Gus Dur : "Kok aneh? Apanya yang aneh?"
Santri : "Ya aneh, menyandang tugas wakil Tuhan kok setelah Nabi Adam gagal, setelah tidak lulus ujian, termakan godaan Iblis? Pendosa kok jadi wakil Tuhan."
Gus Dur : "Lho, justru itu intinya. Kemuliaan manusia itu tidak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau tidak. Yang penting itu bukan melakukan kesalahan atau tidak melakukannya. Tapi bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang kita lakukan. Manusia itu pasti pernah keliru dan salah, Tuhan tahu itu. Tapi meski demikian nyatanya Allah memilih Nabi Adam, bukan malaikat."
Santri : "Jadi, tidak apa-apa kita bikin kesalahan, gitu ya, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak seperti itu juga. Kita tidak bisa minta orang untuk tidak melakukan kesalahan. Kita cuma bisa minta mereka untuk berusaha tidak melakukan kesalahan. Namanya usaha, kadang berhasil, kadang enggak."
Santri : "Lalu Nabi Adam berhasil atau tidak, Gus?"
Gus Dur : "Dua-duanya."
Santri : "Kok dua-duanya?"
Gus Dur : "Nabi Adam dan Siti Hawa melanggar aturan, itu artinya gagal. Tapi mereka berdua kemudian menyesal dan minta ampun. Penyesalan dan mau mengakui kesalahan, serta menerima konsekuensinya (dilempar dari surga), adalah keberhasilan."
Santri : "Ya kalo cuma gitu semua orang bisa. Sesal kemudian tidak berguna, Gus."
Gus Dur : "Siapa bilang? Tentu saja berguna dong. Karena menyesal, Nabi Adam dan Siti Hawa dapat pertobatan dari Tuhan dan dijadikan khalifah (lihat Al-Baqarah: 37). Bandingkan dengan Iblis, meski sama-sama diusir dari surga, tapi karena tidak tobat, dia terkutuk sampe hari kiamat."
Santri : "Ooh..."
Gus Dur : "Jadi intinya begitu lah. Melakukan kesalahan itu manusiawi. Yang tidak manusiawi, ya yang iblisi itu kalau sudah salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya justru malah merasa bener sendiri, sehingga menjadi sombong."
Santri : "Jadi kesalahan terbesar Iblis itu apa, Gus? Tidak mengakui Tuhan?"
Gus Dur : "Iblis bukan atheis, dia justru monotheis. Percaya Tuhan yang satu."
Santri : "Masa sih, Gus?"
Gus Dur : "Lho, kan dia pernah ketemu Tuhan, pernah dialog segala kok."
Santri : "Terus, kesalahan terbesar dia apa?"
Gus Dur : "Sombong, menyepelekan orang lain dan memonopoli kebenaran."
Santri : "Wah, persis cucunya Nabi Adam juga tuh."
Gus Dur : "Siapa? Ente?
Santri : "Bukan. Cucu Nabi Adam yang lain, Gus. Mereka mengaku yang paling bener, paling sunnah, paling ahli surga. Kalo ada orang lain berbeda pendapat akan mereka serang. Mereka tuduh kafir, ahli bid'ah, ahli neraka. Orang lain disepelekan. Mereka mau orang lain menghormati mereka, tapi mereka tidak mau menghormati orang lain. Kalau sudah marah nih, Gus. Orang-orang ditonjokin, barang-barang orang lain dirusak, mencuri kitab kitab para ulama. Setelah itu mereka bilang kalau mereka pejuang kebenaran. Bahkan ada yang sampe ngebom segala loh."
Gus Dur : "Wah, persis Iblis tuh."
Santri : "Tapi mereka siap mati, Gus. Karena kalo mereka mati nanti masuk surga katanya."
Gus Dur : "Siap mati, tapi tidak siap hidup."
Santri : "Bedanya apa, Gus?"
Gus Dur : "Orang yang tidak siap hidup itu berarti tidak siap menjalankan agama."
Santri : "Lho, kok begitu?"
Gus Dur : "Nabi Adam dikasih agama oleh Tuhan kan waktu diturunkan ke bumi (lihat Al- Baqarah: 37). Bukan waktu di surga."
Santri : "Jadi, artinya, agama itu untuk bekal hidup, bukan bekal mati?"
Gus Dur : "Pinter kamu, Kang!"
Santri : "Santrinya siapa dulu dong? Gus Dur."

BELAJAR DARI POHON


Suatu ketika, seorang guru bertanya pada Sang Maha Guru, “Wahai Maha Guru, aku ingin menjadi guru yang sejati bagi anakku, juga bagi murid-muridku. Apakah Maha Guru memiliki pesan untukku, agar setiap kali mengajar aku akan selalu teringat pesan bijaksanamu?”
Sang Maha Guru terdiam sejenak. Lalu sambil tersenyum arif ia bertanya, “Apakah kamu pernah melihat pepohonan di sekitarmu?”
“Ya, tentu saja,” kata si guru.
Sang Maha Guru bertanya kembali, “Apakah kamu benar-benar melihat dan memperhatikan apa yang mereka lakukan?”
Si guru menggaruk-garuk kepalanya, “Setahuku mereka diam saja dan tidak melakukan apa-apa.”
Sang Maha Guru tersenyum lagi, lalu mulailah ia berpesan :
“Jadilah seperti pohon. Perhatikanlah, ia diam tak banyak bicara hingga kamu tidak menyadari apa yang dilakukannya. Padahal ia selalu memberimu udara untuk dihisap. Lihatlah bagaimana ia memberi udara pada semua orang tanpa memandang apakah kamu miskin atau kaya. Atau apakah kamu lahir dari kelompok etnik tertentu. Ia memberi udara bagi semua orang tanpa memandang agama, ras dan suku bangsa. Apakah kamu bersedia membagi ilmumu untuk semua orang tanpa pilih kasih?”
“Jadilah seperti pohon. Ia tidak banyak berbicara tapi terus bertumbuh setiap hari. Jika sudah tidak bertumbuh maka ia akan mati. Apakah dirimu merasa terus bertumbuh?”
“Jadi seperti pohon. Apabila sudah besar, ia akan menaungi siapa saja yang berada dibawahnya, tak peduli itu manusia atau hewan. Apakah kamu merasa dirimu sudah semakin besar dan menaungi apa saja yang berada dibawahmu?”
“Jadilah seperti pohon yang selalu menyejukkan, memperindah dan mempercantik tempat-tempat gersang. Apakah kamu merasa kehadiranmu telah membuat hati-hati yang gersang menjadi sejuk dan indah kembali?”
“Jadilah seperti pohon. Satu-satu kehidupan yang tumbuh ke atas dan berhasil melawan kuatnya gravitasi Bumi. Apakah kamu merasa dirimu telah berhasil melawan kuatnya godaan dan tantangan akan terus bertumbuh menjadi manusia dan guru yang lebih baik dari hari ke hari?”
“Jadilah seperti pohon yang menyuburkan tanah di sekitarnya dan menyimpan air di bawahnya untuk kehidupan semua makhluk hidup lainnya. Apakah kamu sudah menyuburkan lingkungan sekitarmu?”
“Jadilah seperti pohon, Seandainya sudah mati pun tubuhnya masih berguna bagi kesuburan tanah atau menjadi bahan baku tempat tinggal yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.”
Menurut Anda, apakah kita sudah lebih baik dari pohon?

ENERGI PELUKAN


Suatu hari di gua Hira, Muhammad SAW tengah ber’uzlah, beribadah kepada Rabbnya.
Telah sekian hari ia lalui dalam rintihan, dalam doa, dalam puja dan harap pada Dia Yang Menciptanya.
Tiba-tiba muncullah sesosok makhluk dalam ujud sesosok laki-laki. “Iqra!” katanya.
Muhammad SAW menjawab, “Aku tidak dapat membaca!”Laki-laki itu merengkuh Muhammad ke dalam pelukannya, kemudian mengulang kembali perintah“Iqra!”
Muhammad memberikan jawaban yang sama dan peristiwa serupa pun terulang hingga tiga kali. Setelah itu, Muhammad dapat Membaca kata-kata yang diajarkan lelaki itu. Di kemudian hari, kata-kata itu menjadi wahyu pertama yang yang diturunkan Allah kepada Muhammad melalui Jibril, sang makhluk bersosok laki-laki yang menemui Muhammad di gua Hira.
Sepulang dari gua Hira, Muhammad mencari Khadijah isterinya dan berkata, “Selimuti aku, selimuti aku!”. Ia gemetar ketakutan, dan saat itu, yang paling diinginkannya hanya satu, kehangatan, ketenangan dan Kepercayaan dari orang yang dicintainya.
Belahan jiwanya. Isterinya. Maka Khadijah pun menyelimutinya, memeluknya dan mendengarkan curahan hatinya. Kemudian ia menenangkannya dan meyakinkannya bahwa apa yang dialami Muhammad bukanlah sesuatu yang menakutkan, namun amanah yang akan sanggup ia jalankan.
Suatu hari dalam sebuah pelatihan manajemen kepribadian. Para instruktur yang juga para psikolog tengah mengajarkan berbagai terapi penyembuhan permasalahan kejiwaan. Dari semua terapi yang diberikan, selalu diakhiri dengan pelukan, baik antar sesama peserta maupun oleh instrukturnya. Namun demikian, mereka mempersilakan peserta yang tidak bersedia melakukan pelukan dengan lawan jenis untuk memilih partner pelukannya dengan yang sejenis. Yang penting tetap berupa terapi pelukan.
Menurut mereka, pelukan adalah sebuah terapi paling mujarab hampir dari semua penyakit kejiwaan dan emosi. Pelukan akan memberikan perasaan nyaman dan aman bagi pelakunya. Pelukan akan menyalurkan energi ketenangan dan kedamaian dari yang memeluk kepada yang dipeluk. Pelukan akan mengendorkan urat syaraf yang tegang. Saya yang saat itu menjadi salah satu peserta, memilih menggunakan pilihan kedua ini. Pelatihan itu, di kemudian hari memberikan perubahan besar dalam stabilitas emosi dan kejiwaan saya.
Apa yang saya inginkan pertama kali ketika saya sedang bersedih, marah atau apapun yang secara emosi mengguncang perasaan saya?
Dipeluk suami.
Pelukan itu akan menenangkan saya, membuat saya nyaman dan tenang kembali. Apa yang kami berdua lakukan setelah berantem? Saling memeluk. Pelukan itu akan menurunkan tensi emosi di antara kami. Pelukan itu akan merekatkan kembali ikatan cinta di antara kami setelah luka dan kecewa yang sempat tertoreh.
Pelukan itu, akan membuat kehidupan rumah tangga kami menjadi makin mesra. Segala sedih, segala marah, segala kecewa, dan segala beban hilang oleh kehangatan pelukan. Pelukan itu, kemudian tidak hanya berlaku ketika saya terguncang secara emosi. Setelah setahun lebih kami menikah, pelukan telah menjadi satu kebiasaan dalam hari-hari kami.
Hal pertama yang saya lakukan ketika tiba di rumah sepulang dari kantor atau dari bepergian adalah memeluk suami. Memeluknya erat-erat. Itu saja. Tak Lebih.
Hal pertama yang saya inginkan ketika saya bangun dari tidur adalah memeluk dan dipeluk suami saya. Memeluknya kuat-kuat. Itu saja. Bukan yang lainnya.
Jika kami bangun pada jeda waktu yang tak sama, maka ‘utang’ kebiasaan itu dilakukan setelah shalat lail atau shalat subuh.
Jika kami tidur di kamar yang berbeda, biasanya jelang subuh atau habis shubuh, salah satu dari kami akan menyusul yang lainnya. Hanya untuk satu hal saja: memeluk dan dipeluk. Saat malam menjelang tidur, kami terbiasa tiduran dan saling memeluk, berlama-lama sambil berbincang tentang aktifitas kami seharian.
Ada kata-kata yang minimal tiga kali sehari saya ucapkan kepada suami saya, “I Love U” dan “Minta peluk!” Rasanya ada yang kurang jika kekurangan pelukan dalam sehari. Pelukan memberiku rasa aman dan nyaman. Pelukan, saya rasakan memberikan kehangatan yang tak tergantikan oleh apapun.
Berdasarkan hasil penelitian, kita butuh empat kali pelukan per hari untuk bertahan hidup, delapan supaya tetap sehat, dan dua belas kali untuk pertumbuhan.
Jika ingin terus tumbuh, kita butuh dua belas pelukan per hari. Pelukan berkhasiat menyehatkan tubuh. Pelukan merangsang kekebalan tubuh kita.
Pelukan membuat kita merasa istimewa.
Pelukan memanjakan sifat kekanak-kanakan yang ada dalam diri kita. Pelukan membuat kita lebih merasa akrab dengan keluarga dan teman-teman. Riset membuktikan bahwa pelukan dapat menyembuhkan masalah fisik dan emosional yang dihadapi manusia di zaman serba stainless steel dan wireless ini.
Bukan hanya itu saja, para ahli mengemukakan bahwa pelukan bisa membuat kita panjang umur, melindungi dari penyakit, mengatasi stress dan depresi, mempererat hubungan keluarga dan membantu tidur nyenyak (The Aladdin Factor, Jack Canfield & Mark Victor Hansen). Helen Colton, penulis buku The Joy of Touching juga menemukan bahwa ketika seseorang disentuh, hemoglobin dalam darah meningkat hingga suplai oksigen ke jantung dan otak lebih lancar, badan menjadi lebih sehat dan mempercepat proses penyembuhan.
Maka bisa dikatakan bahwa pelukan bisa menyembuhkan penyakit “hati” dan merangsang hasrat hidup seseorang.
Berdasarkan hasil penelitian yang dikeluarkan oleh jurnal Psychosomatic Medicine, pelukan hangat dapat melepaskan oxytocin, hormon yang berhubungan dengan perasaan cinta dan kedamaian.
Hormon tersebut akan menekan hormon penyebab stres yang awalnya mendekam di tubuh. Hasil hasil penelitian tersebut, memberikan keterangan ilmiah atas kecenderungan dalam diri setiap manusia untuk mendapatkan ketenangan dan kehangatan melalui pelukan.
Penelitan tersebut memberikan fakta ilmiah atas besarnya energi yang dapat disalurkan melalui pelukan.
Sayangnya, banyak dari kita dibesarkan dalam rumah yang di dalamnya pelukan adalah sesuatu yang tidak lazim, dan kita mungkin merasa tidak nyaman minta dipeluk dan memeluk. Kita mungkin pernah digoda sebagai “si anak manja” jika sering memeluk atau dipeluk Ayah, Ibu atau saudara kandung kita.
Dan jadilah kita atau remaja-remaja kita saat ini, tumbuh dengan kekurangan energi pelukan. Bisa jadi, kekurangan energi pelukan ini adalah termasuk salah satu faktor yang menyebabkan maraknya kasus ketidakstabilan emosi manusia seperti yang terjadi belakangan ini: tingginya angka kriminalitas dan narkoba pada golongan anak dan remaja, kesurupan di berbagai sekolah dan sebagainya.
Dan bisa jadi, sesungguhnya solusi untuk mengurangi berbagai permasalahan itu sebenarnya sederhana saja: Pemberian pelukan kasih sayang yang banyak kepada anak-anak dari orang tuanya.
Bukankah Rasulullah sangat gemar memeluk isteri, anak, cucu, dan bahkan anak-anak kecil di lingkungannya dengan pelukan kasih sayang?
Bahkan pernah ada satu kisah ketika Rasulullah mencium dan memeluk cucunya, seorang sahabat menyatakan bahwa hingga ia punya 10 orang anak, tak satu pun yang pernah ia curahi dengan peluk cium.
Rasulullah bersabda, “Sungguh orang yang tidak mau menyayang (sesamanya), maka dia tidak akan disayang.” (riwayat Al-Bukhari)

CINTA KAUM SUFI


Ketika Ibn ‘Arabi, sufi besar ditanya “Apa agama Anda?”, diapun menjawab dengan penuh keyakinan, “Agama dan keimananku adalah Cinta”. Ketika ditanya apa itu “Cinta”, “..mungkin hanya selain pecinta sejati yang berani menjawabnya…” jawabnya ‘lirih”, lalu diapun berdendang ;
“Jika seorang mengaku bisa mendefinisikan cinta, jelaslah, ia masih belum mengenalnya.
Siapa pun mendefinisikan cinta, pasti belum mengenalnya.
Siapa pun belum pernah merasakan seteguk saja air cinta, belum pernah mengenalnya.
Siapa pun yang merasa kenyang karena meneggak air cinta, maka ia hanyalah orang yang menghibur diri.
Ketahuilah, cinta adalah minuman yang tak pernah memuaskan pecandunya.”
“Cinta”, sebuah sebutan yang selalu terus abadi sepanjang sejarah. Tidak hanya paling banyak dibicarakan tetapi juga beragam tulisan, diskusi, disyairkan, didramakan dan sekaligus difilemkan. Cobalah melayari samudra, menempuh rimba dan menembus cakrawala, kita akan temukan pustaka dunia dipenuhi ribuan buku tentang cinta, klasik hingga kontemporer, mulai dari tema-tema aksiologi Yunani, karya-karya klasik para spiritualis hingga novel-novel ternama dunia, seperti Romeo and Juliet – Shakepare, The House of The Spirit dan Dracula-nya Bram Stokers.
Seorang teman (yang nge-ustadz/filsuf) pernah berusaha menjelaskan hakikat cinta dengan cara sederhana membaginya menjadi dua; cinta ilahi dan cinta insani.
Dalam setiap hembusan nafas kita, dalam setiap sel darah kita, dalam setiap unsur-unsur yang terkandung dalam butiran tanah, terdapat cinta Ilahi yang acapakali tidak kita sadari. Dengan rahman-Nya, Allah SWT telah menampakkan indahnya pelangi lewat kedua mata kita; dengan kasihNya yang tiada batas, memperdengarkan merdunya gemercik air. Cinta kedua adalah cinta insani. Pada dasarnya, cinta ini juga timbul dari cinta Ilahi. Cinta laksana wujud, bahkan ia adalah wujud itu sendiri. Ia sangat terlihat gamblang, meski hakikatnya tersimpan di balik tirai misteri.
lul0Tersembunyikah cinta? Lalu mengapa cinta begitu misterius? Cinta bukanlah esensi dan kategori yang dapat diuraikan sebagai produk dari komposisi genus dan diferensia. Ia adalah frase hanya bisa diperlakukan sebagai sebuah terma ontologis dan eksistensial. Cinta hanya dapat dihayati, namun tak dapat disifati. Setiap orang mampu merasakan cinta, namun mustahil mensifati atau mendefinisikannya. (Aaaaach puching… ujar temanku yg males mikir..!)
Lalu bagaimanakah para sufi memandang “cinta”? Kaum sufi membaginya menjadi dua; cinta natural dan cinta mistikal.
Cinta natural adalah cinta bersyarat, seperti cinta kita pada seorang sahabat karena ia bersikap baik terhadap kita. Sedang cinta mistikal tidak bersyarat. Ia cukup mencintai tapi tak butuh dicinta. Cinta ini laksana cinta ibu yang rela tidak tidur semalaman demi menemani anaknya yang sakit. Seorang ibu tak butuh balasan apakah kelak si anak membalas jerih payahnya atau tidak.
Kata Ibn al-Qayyim, “Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas. Cinta adalah cinta itu sendiri.” Bukankah memperjelaskan suatu yang sangat jelas berarti mengaburkannya. Seorang penyair berpuisi:
Setiap perkataanku bicara tentang cinta
Tatkala mendatanginya, daku tersipu malu
Bahasa mulut memang bisa menerangkan
Tapi cinta lebih terang tanpa kata-kata
Para sufi menganggap Allah SWT sebagai kekasih hakiki para pecinta sejati, kekasih-kekasih selain-Nya adalah jelmaan dari tajali-Nya. Cinta kepada tajalli-Nya dianggapnya sebagai cinta majazi yang secara vertikal menuju cinta sejatinya, yaitu Allah Swt. Para sufi percaya bahwa pada hakekatnya tidak ada suatu apapun kecuali eksistensi-Nya yang maha Esa. Semua makhluk adalah huruf-huruf yang terangkai indah dalam lembar wujud-Nya. Tintanya adalah cinta.
Cinta hanya bisa dipahami lewat pengalaman personal. Namun hakikatnya mustahil direngkuh hanya dengan sekali percobaan. Manusia tak mungkin mengarungi dan menggapai cinta sejati, karena cinta merupakan jalan tak berujung. Cinta tak pernah memuaskan pencandu yang selalu dicekik dahaga.
Besarkah pengaruh cinta? Demi cinta, subjek rela meniadakan dirinya sembari menganggapnya sebagai puncak kesempurnaannya. Laron yang mati akibat tersengat api lampu yang dipujanya. Semut ternggelam dan terbenam dalam gula yang dicintainya. Bagi sebagian orang, cinta lebih dari sekedar bernyawa. Karena itulah, mereka mengutamakannya atas kehidupan. (Wooow…getoo lo!)
Ironis, insan-insan modern kini mencari cinta (baca: cinta ragawi). Demi itu, mereka memburu alat-alat kecantikan, menghamburkan uang demi mempermak hidung dan dagu atau dada, merawat kuku bahkan (maaf) merias kemaluan, mengukir tatoo, mendatangi butik-butik fashion, mengubah gaya bicara dengan ‘indolish’ dan menata bahasa tubuh. Inilah imagologi cinta yang justru mengamputasi cinta.

INDAHNYA CINTA DAN KEGILAANNYA


Suatu saat Musa as. berjalan melewati sebuah padang dan mendengar seorang gembala sedang menyeru Tuhannya: “Duhai Tuhan, dimanakah Engkau? Biar kurapikan tempat tidur-Mu. Biar kutuangkan air susu-Mu. Biar kusisiri rambut-Mu.”
Serentak Musa marah. Ia menegur gembala itu. “Tak tahukah kamu dengan Siapa kamu bicara? Dialah Tuhan alam semesta.” Mendengar teguran Musa gembala itupun merintih dan berlari hingga menghilang di tengah bebukitan. Berangkatlah Musa ke bukit Sinai dan berbicara dengan Tuhannya.
Ketika Musa hendak Pulang, Tuhan menegur Musa, “Lupakah kau dengan si gembala? Sungguh aku tidak melihat kata – kata yang diucapkan. Yang aku lihat adalah hati yang bersih yang mengeluarkannya. Ibadah yang indah jika tanpa makna, hanyalah khayalan hampa.” Tuhan menegur Musa.
Kata – kata yang disampaikan begitu sederhana, ternyata dipandang agung di hadapan Sang Pencipta. Usai dari bukit Sinai, Musa mencari si gembala. Ia temukan gembala itu tengah tersungkur di sebuah gubuk.
Ketika disampaikan padanya apa yang disampaikan Tuhan semesta. Gembala itu berkata, “Aku sudah melewati batasan kata – kata. Kini kurasakan indahnya cinta.”
“Pada suatu hari, aku keluar bersama saudaraku Dzun – Nun al – Mishri. Kata Abdul Bari, seorang sufi. Tiba – tiba kami berjumpa dengan serombongan anak – anak yang sedang melempari seseorang dengan batu. Saudaraku berkata pada mereka: ‘Apa yang kalian inginkan darinya?’
Mereka menjawab: ‘Orang ini gila, dia mengaku melihat Tuhan!’ Lalu, kami mendekati dia, yang ternyata seorang pemuda yang sangat tampan. Tampak pada dirinya wibawa ‘arifin. Kami ucapkanlah salam padanya.
Kami berkata: ‘Mereka menuduh kamu mengaku pernah melihat Allah.’ Ia berkata, ‘Enyahlah dari sini wahai pemalas! Sekiranya aku kehilangan Dia sekejap mata saja, akan kusesali seluruh hidupku.’
Kemudian ia melantunkan syair:
Sang kekasih mengejar ridha Kekasihnya
Dambaan kekasih hanyalah perjumpaan dengan Kekasihnya
Dipandangnya Kekasih dengan kedua mata hatinya
Hati mengenal Tuhannya dan melihatnya
Bahagia sang kekasih dapat mendekati Kekasihnya
Meninggalkan para budak, maka tidak dia lihat siapapun selain Dia.
Aku berkata kepadanya : ‘Apakah kamu gila?’ Ia berkata: ‘Di hadapan penghuni bumi, memang benar aku gila: di hadapan penduduk langit, tidak’
Aku bertanya lagi: ‘Bagaimana keadaanmu dengan Junjunganmu?’
Ia berkata: ‘Sejak aku mengenalnya, aku tidak pernah meninggalkan-Nya. Aku bertanya: ‘Sejak kapan kamu mengenalnya?‘ Ia menjawab: ‘Sejak Dia menjadikan aku dalam kelompok orang gila.’”
Menyimak kisah diatas, apabila kita renungkan dengan seksama. Ternyata orang ini bukanlah orang gila. Pemuda ini hanya merasakan cinta dalam hatinya. Cinta yang begitu besar dan luas hingga ia terhanyut didalamnya. Apakah kita dapat mengatakan bahwa dia gila setelah mendengar penjelasannya? Tentu tidak, apakah seseorang yang mencintai Tuhannya patut dianggap gila? Dia sedang merasakan keindahan yang sangat dalam jiwanya. Kenikmatan yang tidak dapat dirasakan setiap orang. Kepuasan yang hanya dialami oleh seseorang yang memiliki cinta. Orang yang seperti ini bukanlah orang gila.
Rasulullah Saw pernah menjelaskan siapa orang gila yang sebenarnya. Sewaktu beliau melewati sekelompok orang yang sedang berkumpul. Beliau bertanya pada mereka, “Karena apakah kalian berkumpul disini?” Para sahabat menjawab, “Ya Rasulullah, ini ada orang gila, sedang mengamuk. Karena itulah kami berkumpul disini.” Beliau bersabda.”Orang ini bukan gila. Ia sedang mendapat musibah. Tahukah kalian, siapakah orang gila yang benar – benar gila?” Para sahabat menjawab, “Tidak ya Rasulullah.”
Beliau menjelaskan, “Orang gila ialah orang yang berjalan dengan sombong, yang memandang orang dengan pandangan yang merendahkan yang membusungkan dada, berharap akan surga Tuhan sambil berbuat maksiat kepadanya, yang kejelekannya membuat orang tidak aman dan kebaikannya tidak pernah diharapkan. Itulah orang gila yang sebenarnya. Adapun orang ini, dia hanya sedang mendapat musibah saja.”
Kata ‘Majnun atau orang gila berasal dari akar kata ‘jannat, yang berarti menutupi. Meskipun dia memiliki akal, namun akal tersebut tak mampu menerangi perilakunya. Akalnya tersebut telah ditutupi dan dikuasai oleh hawa nafsunya. Dalam pengertian inilah Rasulullah Saw menyebut seseorang yang takabur itu gila. Adapun kepada orang yang sedang terganggu pikirannya Rasulullah menyebutnya sebagai orang yang sedang menerima musibah, orang sakit. Ia sakit karena ketidak sanggupannya menanggung derita. Dan perilakunya yang aneh hanyalah pelariannya dari kenyataan yang menyakitkan dalam hidupnya. Orang yang sedang menerima musibah seperti ini justru patut kita bantu. Ia bukanlah orang gila, kita seharusnya meringankan dirinya dari penderitaan dan menuntunnya menuju jalan keluar dari permasalahan yang ia alami. Ia bukanlah seseorang yang telah tertutup hatinya. Ia hanya seseorang yang telah terluka dan hancur hatinya.
Bukankah Tuhan berkata, “Carilah aku di tengah – tengah orang yang hancur hatinya?” Bukan orang yang seperti ini yang patut kita jauhi, melainkan orang yang benar – benar gila. Yang merasa dirinya besar, dan merendahkan orang lain. Ia menutup kenyataan bahwa ia tidak berbeda dari orang lain. Sifatnya yang merasa dirinya lebih dari yang lain menjadi sebuah tembok besar yang menghalangi kepribadian mulianya.
Rasulullah Saw berkata kepada Abu Dzarr, “Wahai Abu Dzarr, barangsiapa mati dan dalam hatinya ada sebesar debu dari takabur, ia tidak akan mencium bau surga, kecuali bila ia bertobat sebelum maut menjemputnya. “ Abu Dzarr berkata, “Ya Rasulullah, aku mudah terpesona dengan keindahan. Aku ingin gantungan cambukku indah dan pasangan sandalku juga indah. Yang demikian itu membuatku takut.” Rasulullah Saw bertanya, “Bagaimana perasaan hatimu? “ Abu Dzarr menjawab, “Aku dapatkan hatiku mengenal kebenaran dan tenteram di dalamnya. “Rasulullah Saw berkata, “Yang demikian itu tidak termasuk takabur. Takabur itu meninggalkan kebenaran dan kamu mengambil selain kebenaran. Kamu melihat kepada orang lain dengan pandangan bahwa kehormatannya tidak sama dengan kehormatanmu dan darahnya tidak sama dengan darahmu.” Banyak manusia yang terjebak dalam kesombongan yang ia sendiri tidak menyadarinya. Apabila anda tidak mau menerima sebuah kebenaran dikarenakan oleh kebenaran tersebut disampaikan dari lidah seorang miskin, atau seseorang yang anda rasa lebih rendah dari anda. Anda telah takabur. Atau anda tidak ingin mendengar penjelasan seseorang karena pemahamannya berbeda dari anda, lalu anda menganggap orang tersebut salah dan andalah yang paling benar. Atau karena anda merasa lebih berilmu dengan gelar anda atau jabatan anda lalu anda tidak ingin disamakan dengan orang yang tidak memiliki apapun. Anda telah takabur. Apabila anda seorang ahli agama. Anda khususkan surga hanya bagi golongan anda, dan selain anda dan kelompok anda semuanya berada dalam neraka. Atau apabila anda seorang ahli ibadah, lalu anda merasa bangga dengan amalan – amalan anda sehingga meninggalkan keutamaan akhlak kepada orang disekitar anda. Anda telah takabur. Atau apabila anda telah memiliki kekuasaan atau harta yang berlebih, lalu anda dengan berbagai alasan menolak berbaur dan berbuat dzalim kepada orang lain. Anda telah takabur. Dan anda telah menjadi orang gila yang sebenarnya.

Tingkatan ketauhidan


Sebuah tela’ah ringan.
Di zaman saat ini seorang muslim terkadang telah dipusingkan atau dikotak-kotak dalam perbedaan antara Syari’at, Tarekat, Hakikat dan Makrifat. Sebenarnya apa itu semua, apakah itu sebuah kajian akademik ataukah sebuah dogma.
Syariat Islam adalah hukum dan aturan Islam yang mengatur seluruh sendi kehidupan umat Muslim. Selain berisi hukum dan aturan, syariat Islam juga berisi penyelesaian masalah seluruh kehidupan ini. Maka oleh sebagian penganut Islam, syariat Islam merupakan panduan menyeluruh dan sempurna seluruh permasalahan hidup manusia dan kehidupan dunia ini. Sumber syariat adalah Al-Qur’an, As-Sunnah.
Tarekat (Bahasa Arab: طرق, transliterasi: Tariqah) berarti “jalan” atau “metode”, dan mengacu pada aliran kegamaan tasawuf atau sufisme/ mistisme Islam. Di zaman sekarang ini, tarekat merupakan jalan (pengajian) yang mengajak ke jalan Ilahiyah dengan cara suluk (taqarrub) yang biasanya dilakukan oleh salik.
Hakikat (Haqiqat) adalah kata benda yang berarti kebenaran atau yang benar- benar ada. Yang berasal dari kata hak (al-Haq), yang berarti milik (ke punyaan) atau benar (kebenaran). kata Haq, secara khusus oleh orang-orang sufi sering digunakan sebagai istilah untuk Allah, sebagai pokok (sumber) dari segala kebenaran, sedangkan yang berlawanan dengan itu semuanya disebut batil (yang tidak benar).
Makrifat berarti pengetahuan yang hakiki tentang Ilahiyah. Dengan orang menjalankan Syari’at, masuk Tarekat, kemudian ber-Hakikat untuk mendapatkan Makrifatullah sehingga menjadi hamba yang selalu mendekatkan diri setiap detik hanya ke Allah.
Lantas bagaimana jalannya
Seharusnya orang yang mengaku ber-Tarekat, ber-Hakikat dan ber-Makrifat harus berada didalam Syari’at. seharusnya perjalan spritual berasal dari Makrifat yang berarti berpengetahuan meluas dalam memahami Islam baik dalam Al-Qur’an, Hadis, Usul Fiqih, Balaghoh, ‘Ard, dan Bahasa. Dengan keluasan makrifat orang akan mendapat Hakikat Ilahiyah yang melahirkan gerakan tarekat dan berujung pada inti Islam yang tidak lain Syari’at.
Perjalan Nabi Muhammad Saw dimulai dari ma’rifat, tarekat, hakikat dan akhirnya sampai pada syariat. Makrifat adalah bertemu dan mencairnya kebenaran yang hakiki: yang disimbolkan saat Muhammad saw bertemu jibril, hakikat saat dia mencoba untuk merenungkan berbagai perintah untuk iqra, tarekat saat muhammad saw berjuang untuk menegakkan jalannya dan syariat adalah saat muhammad saw mendapat perintah untuk sholat saat isra mikraj yang merupakan puncak pendakian tertinggi yang harus dilaksanakan oleh umat muslim. Munculnya istilah Tarekat, Hakikat, dan Makrifat dalam akademisi kajian Islam jauh setelah wafatnya Rasulullah Saw sekitar abad 5 Hijriyah. Sekitar zaman Hujjatul Islam Syeh Imam Al-Ghazaly Asy-Syafi’i yang menyendiri dari kajian ilmiyah (falsafah) setelah menulis Tahafut al-Falasifah. Kemuadian Al-Ghazali menjadi Sufi Sejati dengan menulis kitab sufi Ihya Ulumuddin. kemudian dunia Islam Timur Tengah tenggelam dalam sufi. Dan kemajuan Islam hanya di daerah Mongol, Turki, dan Spanyol yang diprakarsai Ibn Rusdi.
Tidak seharusnya seorang muslim sejati mengkotak-kotakan ini Syari’ah, ini Tarekat, ini Hakekat, ini Makrifat, karena yang berkata demikian hanyalah orang yang tidak banyak mengetahui ke-ilmuan Islam secara holistik.

Dzikir Kolbu menuju Dzikir Abadi


Orang-orang Islam yang selalu melanggengkan bershalawat Kepada Nabi dan berdzikir
kepada Allah swt, niscaya mereka bertambah dekat kepada Allah dan Rasulullah-Nya, seperti sabda
Rosullullah:
“Orang yang paling utama bersamaku kelak pada hari kiamat adalah mereka yang palig banyak
membaca shalawat untukku.”
Dan Rasulullah saw memperingatkan bilamana mereka tidak berdzikir dan bershalawat di
dalam kehidupannya, bahkan melalaikan sholawat dan berdzikir, mereka akan merugi di hari
kiamat, sebagaimana sabda beliau Nabi Muhammad saw:
“Tidaklah sesuatu kaum duduk dalam suatu tempat dimana mereka tidak berdzikir kepada Allah Azza
wa Jalla serta membaca shalawat kepada nabi saw. kecuali mereka menyesal kelak pada hari
kiamat.”
Adapun Dzikir Kolbu yang langgeng, yaitu dzikirnya para malaikat yang selalu patuh kepada
Allah swt. Dan selalu taat melaksanakan tugasnya masing-masing.
Sedangkan manusia harus melalui latihan-latihan dalam melaksanakan Dzikir Kolbu kepada
Allah. Di saat latihan-latihan ber Dzikir Kolbu tentulah mengalami berbagai rintangan dan
hambatan tetapi harus dan tetap tabah, karena rintangan dan hambatan itu sebagai cambuk
semangat dalam melaksanakan Dzikir Kolbu kepada Allah, dalam firman Allah dijelaskan
disurat Al-A’raf ayat 205-206:
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa
takut dan tidak mengeraskan suara diwaktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk
orang-orang yang lalai
Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada disisi (Allah) (Tuhanmu) tidaklah merasa enggan
menyembah Allah dan mereka mentasbihkanNya dan hanya kepadaNyalah mereka bersujud.
Dzikir Kolbu diawali dari dzikir lisan atau dzikir nafas, bila hatinya tergetar, sekecil apapun
getaran di hati / kalbu lalu dikembangkan ke seluruh anggota tubuh. Dan dilanjutkan gerakan
kalbu untuk ber Dzikir Kolbu, suarakan kalbumu untuk mengatakan; Allah, Allah, Allah…
Proses itu membutuhkan waktu, mungkin hanya satu hari atau dua hari, mungkin juga bisa
berbulan-bulan, sampai Anda mengalami pengalaman spiritual dalam dzikir posisi yang di
alam sana: memasuki tempat yang maha luas tak terlindungi oleh naungan apapun, tempat itu
terbuka amat luasnya terisi oleh para jamaah, yang sedang berdzikir, tempat ini “ladang para
jamaah” nya orang-orang yang sedang berdzikir.
Kalau sudah memasuki alam itu berarti kita sudah terpaling ke tempat jamaahNya dimana di
dalam al Qur’an ditegaskan disurat Al-Fajr ayat 27-30: "Hai jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas (ridlo) lagi diridhaiNya, maka masuklah kedalam jamaah hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu".
sepatutnya kita dapat terpanggil seperti yang maksud dari ayat tersebut diatas.

RAHASIA MAKRIFAT


Sangat sulit menjelaskan hakikat dan makrifat kepada orang-orang yang mempelajari agama hanya pada tataran Syariat saja, menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist akan tetapi tidak memiliki ruh dari pada Al-Qur’an itu sendiri. Padahal hakikat dari Al-Qur’an itu adalah Nur Allah yang tidak berhuruf dan tidak bersuara, dengan Nur itulah Rasulullah SAW memperoleh pengetahuan yang luar biasa dari Allah SWT. Hapalan tetap lah hapalan dan itu tersimpan di otak yang dimensinya rendah tidak adakan mampu menjangkau hakikat Allah, otak itu baharu sedangkan Allah itu adalah Qadim sudah pasti Baharu tidak akan sampai kepada Qadim. Kalau anda cuma belajar dari dalil dan mengharapkan bisa sampai kehadirat Allah dengan dalil yang anda miliki maka PASTI anda tidak akan sampai kehadirat-Nya.
Ketika anda tidak sampai kehadirat-Nya sudah pasti anda sangat heran dengan ucapan orang-orang yang sudah bermakrifat, bisa berjumpa dengan Malaikat, berjumpa dengan Rasulullah SAW dan melihat Allah SWT, dan anda menganggap itu sebuah kebohongan dan sudah pasti anda mengumpulkan lagi puluhan bahkan ratusan dalil untuk membantah ucapan para ahli makrifat tersebut dengan dalil yang menurut anda sudah benar, padahal kadangkala dalil yang anda berikan justru sangat mendukung ucapan para Ahli Makrifat cuma sayangnya matahati anda dibutakan oleh hawa nafsu, dalam Al-Qur’an disebuat Khatamallahu ‘ala Qulubihim (Tertutup mata hati mereka) itulah hijab yang menghalangi anda menuju Tuhan.
Rasulullah SAW menggambarkan Ilmu hakikat dan makrifat itu sebagai “Haiatul Maknun” artinya “Perhiasan yang sangat indah”. Sebagaimana hadist yang dibawakan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya sebagian ilmu itu ada yang diumpamakan seperti perhiasan yang indah dan selalu tersimpan yang tidak ada seoranpun mengetahui kecuali para Ulama Allah. Ketika mereka menerangkannya maka tidak ada yang mengingkari kecuali orang-orang yang biasa lupa (tidak berzikir kepada Allah)” (H.R. Abu Abdir Rahman As-Salamy).
Di dalam hadist ini jelas ditegaskan menurut kata Nabi bahwa ada sebagian ilmu yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali para Ulama Allah yakni Ulama yang selalu Zikir kepada Allah dengan segala konsekwensinya. Ilmu tersebut sangat indah laksana perhiasan dan tersimpan rapi yakni ilmu Thariqat yang didalamnya terdapat amalan-amalan seperti Ilmu Latahif dan lain-lain.
Masih ingat kita cerita nabi Musa dengan nabi Khidir yang pada akhir perjumpaan mereka membangun sebuah rumah untuk anak yatim piatu untuk menjaga harta berupa emas yang tersimpan dalam rumah, kalau rumah tersebut dibiarkan ambruk maka emasnya akan dicuri oleh perampok, harta tersebut tidak lain adalah ilmu hakikat dan makrifat yang sangat tinggi nilainya dan rumah yang dimaksud adalah ilmu syariat yang harus tetap dijaga untuk membentengi agar tidak jatuh ketangan yang tidak berhak.
Semakin tegas lagi pengertian di atas dengan adanya hadist nabi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah sebagai berikut : “Aku telah hafal dari Rasulillah dua macam ilmu, pertama ialah ilmu yang aku dianjurkan untuk menyebarluaskan kepada sekalian manusia yaitu Ilmu Syariat. Dan yang kedua ialah ilmu yang aku tidak diperintahkan untuk menyebarluaskan kepada manusia yaitu Ilmu yang seperti “Hai’atil Maknun”. Maka apabila ilmu ini aku sebarluaskan niscaya engkau sekalian memotong leherku (engkau menghalalkan darahku). (HR. Thabrani).
Hadist di atas sangat jelas jadi tidak perlu diuraikan lagi, dengan demikian barulah kita sadar kenapa banyak orang yang tidak senang dengan Ilmu Thariqat? Karena ilmu itu memang amat rahasia, sahabat nabi saja tidak diizinkan untuk disampaikan secara umum, karena ilmu itu harus diturunkan dan mendapat izin dari Nabi, dari nabi izin itu diteruskan kepada Khalifah nya terus kepada para Aulia Allah sampai saat sekarang ini.
Jika ilmu Hai’atil Maknun itu disebarkan kepada orang yang belum berbait zikir atau “disucikan” sebagaimana telah firmankan dalam Al-Qur’an surat Al-‘Ala, orang-orang yang cuma Ahli Syariat semata-mata, maka sudah barang tentu akan timbul anggapan bahwa ilmu jenis kedua ini yakni Ilmu Thariqat, Hakikat dan Ma’rifat adalah Bid’ah dlolalah.
Dan mereka ini mempunyai I’tikqat bahwa ilmu yang kedua tersebut jelas diingkari oleh syara’. Padahal tidak demikian, bahwa hakekat ilmu yang kedua itu tadi justru merupakan intisari daripada ilmu yang pertama artinya ilmu Thariqat itu intisari dari Ilmu Syari’at.
Oleh karena itu jika anda ingin mengerti Thariqat, Hakekat dan Ma’rifat secara mendalam maka sebaiknya anda berbai’at saja terlebih dahulu dengan Guru Mursyid (Khalifah) yang ahli dan diberi izin dengan taslim dan tafwidh dan ridho. Jadi tidak cukup hanya melihat tulisan buku-buku lalu mengingkari bahkan mungkin mudah timbul prasangka jelek terhadap ahli thariqat.
Dalam setiap peristiwa yang mewarnai kehidupan ini, seringkali kita tidak mampu atau tidak mau menangkap kehadiran Allah dengan segala sifat-sifatNya. Padahal sifat-sifat Allah sangat terkait erat dengan ayat-ayat kauniyahNya yang terhampar di atas muka bumiNya. Betapa Allah –melalui ayat-ayat kauniyahNya- memang ingin menunjukkan keMaha KuasaanNya dan keMaha BesaranNya agar hamba-hambaNya senantiasa mawas diri, waspada dan berhati-hati dalam bertindak dan berprilaku agar tidak mengundang turunnya sifat JalilahNya yang tidak akan mampu dibendung, apalagi dilawan oleh siapapun, dengan upaya dan sarana kekuatan apapun tanpa terkecuali, karena memang Allahlah satu-satunya pemilik kekuatan dan kekuasaan terhadap seluruh makhlukNya.
Berdasarkan pembacaan terhadap ayat-ayat Al Qur’an secara berurutan, terdapat paling tidak empat ayat yang menyebut sifat-sifat Jamilah dan Jalilah Allah secara berdampingan, yaitu: pertama, surah Al-Ma’idah [5]: 98, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. kedua, akhir surah Al-An’am [6]: 165, “Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ketiga, surah Ar-Ra’d [13]: 6, “Mereka meminta kepadamu supaya disegerakan (datangnya) siksa, sebelum (mereka meminta) kebaikan, padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksa sebelum mereka.Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia sekalipun mereka zalim, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksanya”. Dan keempat, surah Al-Hijr [15]: 49-50, “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih”.
Pada masing-masing ayat di atas, Allah menampilkan DiriNya dengan dua sifat yang saling berlawanan; Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang yang merupakan esensi dari sifat JamilahNya, namun pada masa yang sama ditegaskan juga bahwa Allah amat keras dan pedih siksaanNya yang merupakan cermin dari sifat JalilahNya. Menurut Ibnu Abbas r.a, seorang tokoh terkemuka tafsir dari kalangan sahabat, ayat-ayat tersebut merupakan ayat Al Qur’an yang sangat diharapkan oleh seluruh hamba Allah s.w.t. (Arja’ Ayatin fi KitabiLlah). Karena –menurut Ibnu Katsir- ayat-ayat ini akan melahirkan dua sikap yang benar secara seimbang dari hamba-hamba Allah yang beriman, yaitu sikap harap terhadap sifat-sifat Jamilah Allah dan sikap cemas serta khawatir akan ditimpa sifat Jalilah Allah (Ar-Raja’ wal Khauf). Sementara Imam Al-Qurthubi memahami ayat tentang sifat-sifat Allah swt semakna dengan hadits Rasulullah s.a.w. yang menegaskan, “Sekiranya seorang mukmin mengetahui apa yang ada di sisi Allah dari ancaman adzabNya, maka tidak ada seorangpun yang sangat berharap akan mendapat surgaNya. Dan sekiranya seorang kafir mengetahui apa yang ada di sisi Allah dari rahmatNya, maka tidak ada seorangpun yang berputus asa dari rahmatNya”. ( HR. Muslim) Dalam konteks ini, Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi, seorang tokoh tafsir berkebangsaan Mesir mengelompokkan sifat-sifat Allah yang banyak disebutkan oleh Al Qur’an kedalam dua kategori, yaitu Sifat-sifat Jamilah dan Sifat-sifat Jalilah. Kedua sifat itu selalu disebutkan secara beriringan dan berdampingan. Tidak disebut sifat-sifat Jamilah Allah, melainkan akan disebut setelahnya sifat-sifat JalilahNya. Begitupula sebaliknya. Dan memang begitulah Sunnatul Qur’an selalu menyebutkan segala sesuatu secara berlawanan; antara surga dan neraka, kelompok yang dzalim dan kelompok yang baik, kebenaran dan kebathilan dan lain sebagainya. Semuanya merupakan sebuah pilihan yang berada di tangan manusia, karena manusia telah dianugerahi oleh Allah kemampuan untuk memilih, tentu dengan konsekuensi dan pertanggung jawaban masing-masing. “Bukankah Kami telah memberikan kepada (manusia) dua buah mata,. lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan; petunjuk dan kesesatan”. (QS. Al-Balad: 8-10)
Sifat Jalilah yang dimaksudkan oleh beliau adalah sifat-sifat yang menunjukkan kekuasaan, kehebatan, cepatnya perhitungan Allah dan kerasnya ancaman serta adzab Allah swt yang akan melahirkan sifat Al-Khauf (rasa takut, khawatir) pada diri hamba-hambaNya. Manakala Sifat Jamilah adalah sifat-sifat yang menampilkan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Pengasih, Penyayang, Pengampun, Pemberi Rizki dan sifat-sifat lainnya yang memang sangat dinanti-nantikan kehadirannya oleh setiap hamba Allah swt tanpa terkecuali. Dan jika dibuat perbandingan antara kedua sifat tersebut, maka sifat jamilah Allah jelas lebih banyak dan dominan dibanding sifat jalilahNya.
Pada tataran Implementasinya, pemahaman yang benar terhadap kedua sifat Allah tersebut bisa ditemukan dalam sebuah hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a. Anas menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah bertakziah kepada seseorang yang akan meninggal dunia. Ketika Rasulullah bertanya kepada orang itu, “Bagaimana kamu mendapatkan dirimu sekarang?”, ia menjawab, “Aku dalam keadaan harap dan cemas”. Mendengar jawaban laki-laki itu, Rasulullah bersabda, ‘Tidaklah berkumpul dalam diri seseorang dua perasaan ini, melainkan Allah akan memberikan apa yang dia harapkan dan menenangkannya dari apa yang ia cemaskan”. (HR. At Tirmidzi dan Nasa’i).
Sahabat Abdullah bin Umar ra seperti dinukil oleh Ibnu Katsir memberikan kesaksian bahwa orang yang dimaksud oleh ayat-ayat di atas adalah Utsman bin Affan ra. Kesaksian Ibnu Umar tersebut terbukti dari pribadi Utsman bahwa ia termasuk sahabat yang paling banyak bacaan Al Qur’an dan sholat malamnya. Sampai Abu Ubaidah meriwayatkan bahwa Utsman terkadang mengkhatamkan bacaan Al Qur’an dalam satu rakaat dari sholat malamnya. Sungguh satu tingkat kewaspadaan hamba Allah yang tertinggi bahwa ia senantiasa khawatir dan cemas akan murka dan ancaman adzab Allah swt dengan terus meningkatkan kualitas dan kuantitas pengabdian kepadaNya. Disamping tetap mengharapkan rahmat Allah melalui amal sholehnya.
Betapa peringatan dan cobaan Allah justru datang saat kita lalai, saat kita terpesona dengan tarikan dunia dan saat kita tidak menghiraukan ajaran-ajaranNya, agar kita semakin menyadari akan keberadaan sifat-sifat Allah yang Jalillah maupun yang Jamilah untuk selanjutnya perasaan harap dan cemas itu terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari. Boleh jadi saat ini Allah masih berkenan hadir dengan sifat JamilahNya dalam kehidupan kita karena kasih sayangNya yang besar, namun tidak tertutup kemungkinan karena dosa dan kemaksiatan yang selalu mendominasi perilaku kita maka yang akan hadir justru sifat JalilahNya. Na’udzu biLlah. Memang hanya orang-orang yang selalu waspada yang mampu mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi. Saatnya kita lebih mawas diri dan meningkatkan kewaspadaan dalam segala bentuknya agar terhindar dari sifat Jalilah Allah swt dan senatiasa meraih sifat jamilahNya. Dan itulah tipologi manusia yang dipuji oleh Allah dalam firmanNya yang bermaksud, “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia senantiasa cemas dan khawatir akan (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS. Az-Zumar [39]: 9)
Semoga kasih sayang Allah yang merupakan cermin dari sifat JamilahNya senantiasa mewarnai kehidupan ini dan menjadikannya sarat dengan kebahagiaan, ketentraman dan kesejahteraan lahir dan bathin. Dan pada masa yang sama, Allah berkenan menjauhkan bangsa ini dari sifat JalilahNya yang tidak mungkin dapat dibendung dengan kekuatan apapun karena memang mayoritas umat ini mampu merealisasikan nilai iman dan takwa dalam kehidupan sehari-hari mereka

Hajinya Ruh dan Raga


Labaika Allahumma Labaika, labaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wanni’matalaka walmulka, laasyariika laka……
Aku taati panggilan Mu Ya Allah, aku penuhi, aku penuhi dan tidak ada sekutu/serikat bagiMu dan aku taat kepadaMu, sesungguhnya segala puji, nikmat dan Kerajaan itu kepunyaanMu, Tidak ada sekutu bagi Mu……
Haji adalah adalah rukun Islam yang kelima, diwajibkan bagi umat Islam yang mampu, mempunyai kesanggupan, ongkosnya cukup, dalam arti yang dibawa untuk bekal, ONH nya cukup dan keluarga yang menjadi tanggungannya pun telah dipenuhi, selama perjalanan Haji hingga pulangnya., dan juga harus sehat jasmani dan sehat rohani.
Ibadah haji baru dilaksanakan pada tahun ke 6 Hijriyah, sesudah Nabi Muhammad saw hijrah ke Medinnah. Nabi Muhammad saw sendiri hanya sekali mengerjakan ibadah haji. Ini menandakan bahwa melaksanakan ibadah haji hanya diwajibkan satu kali dalam seumur hidup manusia, sedangkan berangkat haji sesudah itu adalah sunah, sebagaimana sabda Rasullulah saw :
“Hai Manusia, Allah telah mewajibkan haji kepadamu, maka laksanakanlah haji”, seorang laki-laki berkata,”Apakah setip tahun ya Rosullulah?” lalu Nabi menjawab: “ Andai ku katakan wajib setiap tahun, maka ia menjadi wajib dan kamu tidak akan mampu mengerjakannya”. ( HR Muslim, Ahmad, Nasa’i)
Panggilan untuk pergi melaksanakan ibadah haji, panggilan dari Nabi Ibrahim as, atas dasar perintah Allah swt, yang dijelaskan dalam Firman Allah surat Al Hajj ayat 27-28:
”Dan berserulah (engkau Ibrahim) kepada manusia agar berhaji, niscayamereka akan datang (memenuhi panggilan) kamu dengan berjalan kaki dan menaiki yang kurus: datang dari segenap penjuru yang jauh; supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.”
Melaksanakan keterpanggilan ibadah haji bukan semata-mata ibadah secara fisik saja namun segenap hati dan jiwa, untuk ditempa serta sekaligus berjuang agar mempunyai semangat yang tinggi.
Berkaitan dengan itu diperlukan daya tahan tubuh yang kokoh, kesabaran yang tinggi, kedisiplinan, akhlak, mental, serta spiritual.
Perjalanan melaksanakan ibadah haji tidak semata-mata perjalanan jasmaniyah saja, tetapi difokuskan sebuah perjalanan Ruhaniyah yang disetir dan dituntun kepada Yang Maha Kuasa, Keterpanggilannya juga telah Terpanggil olehNya.
Manusia bersama jiwa/ruhnya terpanggil untuk menghadap kepada Allah swt dengan melaksanakan Sholat lima waktu, itu yang wajib, harus bersuci lebih dahulu dengan cara berwudhu, akan tetapi Manusia bersama jiwa/ruhnya untuk datang menghadap ke Baitullah, yaitu Ka’bah, dengan hati yang suci dan jiwa yang tenang. Serta dijalankan dengan hati yang ikhlas dan ridho, agar Allah swt meridhoi dan memberkahi kepada diri dan kepada orang lain.
Datang ke Baitullah dengan jiwa yang tenang dan hati yang ridho atau ikhlas tanpa dibarengi keinginan-keinginan yang lain kecuali hanya menjalankan haji sebagai rukun Islam yang ke lima hanya karena Allah swt semata, Lillahi Ta’ala …. Dengan mengikhlaskan harta yang cukup untuk pulang serta pergi, berbadan sehat, kuat menjalankan semua rukun haji dengan semua persyaratan dan lainnya.
Di dalam keterpanggilan jiwa dan raganya untuk berangkat haji, ketika 40 hari sebelum keberangkatan, Jiwa sudah merasakan Keterpanggilan olehNya. Mereka yang pernah merasakan Keterpanggilan olehNya atas jiwa untuk menghadap, dan jiwa mempengaruhi diri, sehingga diri tidak merasakan capek walau kerja dengan keras, tidak mengantuk walau kurang tidur, tidak lapar walau kurang makan, badan tetap tegar dan segar.
Semua tidak terasakan yang dirasa hanya senang dan senang yang didasari rasa ikhlas dan tenang. Inilah pengaruh jiwa kepada diri terhadap keterpanggilan jiwa untuk haji ke Baitullah menjadi “Tamu Allah” di Makkah Al Mukaromah.

Zikir Lisan, Hati Dan Ruh


Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang berzikir dengan firman-Nya:
“Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana Allah telah memberikan petunjuk
kepadamu” (Surah Al-Baqarah: 194).
Yakni memberi petunjuk pada martabat zikirmu. Rasul bersabda:
“Kalimat yang terunggul yang aku ucapkan dan oleh para nabi sebelumku adalah Laa Ilaha
Illallah”.
Setiap maqam memiliki martabat masing-masing, jahar maupun khafi. Orang yang zikirnya
zikir lisan, berarti diberi petunjuknya hanya smapai kepada zikir lisan. Orang yang berzikir
dengan zikir hati, berarti diberi petunjuknya sampai kepada zikir hati. Dan orang yang
zikirnya sampai kepada zikir ruh, berarti diberi petunjuk sampai kepada zikir ruh. Selanjutnya
kepada zikir khafi dan akhfal khafi (zikir maha samar). Adapun zikir lisan berfungsi sebagai
pemberi peringatan kepada hati, terhadap zikir yang dilupakannya.
Zikir nafsi ialah zikir yang tidak terdengar, zikir tanpa huruf tanpa suara, hanya didengar
dengan indera dan gerakan dalam batin. Adapun zikir hati adalah terus-menerus pada hati ke
dalam hati dengan Jalaliyah dan Jamaliyah. Hasil daripada zikir ruh adalah menyaksikan
cahaya Tajalli Sifat. Adapun zikir sirri ialah mengintai terbukanya rahasia Ilahiyah. Adapun
zikir khafi ialah terarah pada cahaya keindahan Zat Yang Maha Tunggal di Maq’adi Sidqin
‘Inda Malikin Muqtadir.
Adapun zikir Akhfal Khafi ialah telah mampu melihat hakikat Haqqul Yaqin dan tidak ada
satu pun yang dapat mengetahuinya, kecuali Allah s.w.t. Firman Allah dalam Surah Thaha
ayat 7:
“Allah mengetahui sirri (rahasia) dan akhfa (yang lebih samar)”.
Inilah ilmu yang tertinggi dan tujuan yang terakhir.
Ketahuilah, bahaw di sana ada Ruh yang lain yang lebih halus daripada ruh-ruh lainnya, yaitu
Tiflul Ma’ani. Ia adalah latifah yang selalu mengajak kembali kepada Allah. Sebahagian sufi
besar mengatakan bahwa ruh yang ini tidak dimiliki oleh sembarang orang, hanya orangorang
yang khawaslah yang memilikinya. Berdasarkan firman Allah dalam Surah Al-Mu’min
ayat 15:
“Allah menetapkan ruh atas perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara
hamba-hamba-Nya”.
Ruh yang ini selalu bersanding di alam Qudrat dan alam Musyahadah pada alam hakikat. Ia
tidak akan berpaling pada selain Allah s.w.t. Rasul bersabda:
“Dunia haram bagi ahli akhirat. Akhirat haam bagi ahli dunia. Dunia dan akhirat haram bagi
Allah”.
Itulah Tiflul Ma’ani. (Yang dimaksudkan haram adalah jangan menjadi penghalang untuk
selalu mengingat Allah).
Jalan untuk wusul (sampai kepada Allah ta’ala) ialah selalu menjaga badan pada jalan yang
benar, selalu melakukan segala hukum syariat siang dan malam dan mudawamah zikrullah
dengan sirri (hati) maupun jahar (bersuara). Mudawamah zikir hukumnya fardu yang harus
dilakukan oleh semua manusia yang ingin dekat dengan Allah. Allah berfirman dalam Surah
Ali-Imran ayat 191:
“Ingatlah Allah dalam keadaan berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka
memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi”.

Ruh Yang Berdzikir


Ketika kita berdzikir dengan posisi duduk menghadap qiblat dan jangan bergerak. Qolbu
juga kita suarakan dzikir Kolbu Allah… Allah… Allah… terus sampai badan kita tak
merasakan apa-apa. Qolbu terus bersuara….. masukkan lagi ke kedalaman yang paling
dalam, lalu suarakan lagi dzikrullah ke kedalaman yang paling dalam itu, bersuara Allah…
Allah… Allah… Setelah itu dengarkan dengan qolbu-mu, samakan dengan suara qolbumu.
Sampai muncul adanya getaran. Dan rasakan getaran, kehidupan Ruh terasa hidup dan makin
hidup, hidup yang lebih hidupi dengan hidupnya Ruh yang sedang berdzikir. Dan kita bisa
katakan ; Hidup Dalam Ruh yang Sedang Berdzikir. Dan kita bisa lebih mengenal Ruh kita
dengan dzikrullah.
sabda Rosullulah Muhammad Saw :
لِك لُ ش ىَ ءْ ص قَ اَل ةَ و صَ قَ اَل ةَ ال قْ لَ بِْ ذ كِ رُْ لله “Bahwasanya bagi tiap sesuatu ada alat untuk mensucikan dan alat untuk mensucikan Qolbu itu ialah Dzikrullah.”

Pintu awal memasuki alam Ruh adalah lewat qolbu, kalau qolbu sudah dibersihkan dengan
dzikir qolbu, maka lambat laun Ruh ikut menyuarakan dzikir. Dalam fase ini prosesnya
melalui ritual-ritual Khusus. Dengan mengkhususkan diri dalam menjalankan ritual, maka
kebersihan qolbu akan nampak dari kebeningan dalam pemikiran, karena qolbu selalu
mengumandangkan dzikir, sedangkan Ruh, dalam kondisi kesuciannya, ikut melantunkan
dzikir. Dzikirnya Ruh mampu merontokkan hijab jiwa yang sekian lama membelenggunya
yang sulit dipisahkan.
Dalam surat As-Syam ayat 9 dan 10, Allah swt berfirman:
1خ اَب م نَ دَ سَّھقََاد ( ا (َف 9ْل حَ م نَ ز كَ ھَّا ( و (ق دَ0ْ
"Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotori jiwanya".
Selalu Berdzikir kepada Allah swt akan senantiasa menguatkan iman dan taqwa seseorang,
sekaligus membersihkan qolbu serta Ruh. Dalam perjalanan hidupnya, yang dipikirkan hanya
pendekatan diri kepada Allah swt. Ilham-ilham pun sering didapatkan, menerima ilham lewat
qolbu dan Ruh sebagaimana firman Allah swt. Dalam surat As-Syam ayat 8:
ف اَ لَ ھَْم ھَ ا ف جُ و رْ ھَاو تَق وْ ھَا (الش مَّ سْ
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu(jalan) kefasikan dan (jalan) ketaqwaannya”.
Jadi Allah swt juga masih menguji dan memberi cobaan kepada orang yang taqwa, cobaan itu
berupa: kejelekan serta kehinaan. Apakah dia Oleng, goyahkah taqwanya? Atau tambah
kokoh taqwanya? Sesungguhnya orang-orang yang taqwa, dia mampu mengantisipasi dan
menangkal dengan kesabaran dan ketabahan hati. Dia tetap tegar dalam menghadapi segala
cobaan yang menimpanya dan senantiasa mengokohkan posisi dalam kesuciannya yang tidak
akan dicemari oleh siapapun. Karena Ruh tetap suci. Jadi yang bisa dikotori itu adalah jiwa
bagian luar, itu-pun hanya limbasan dari kotornya qolbu yang dililit pengaruh dari hawa
nafsu serta keinginan yang menyesatkan. Wallahu a’lam.

Masuk Surga karena Sabar dan Ikhlas


Alkisah, as-Sayyid al-Quthb Syaikh Ahmad al-Badawiy mempunyai istri yang berakhlak buruk sekali. Selalu mencerca dan menghina sang syaikh. Tetap berpuluh-puluh tahun Syaikh al-Badawiy sabar dan ridha dengan perilaku istrinya ini.
Tetapi tidak demikian dengan para murid beliau. Mereka sudah tidak betah menyaksikan gurunya yang selalu direndahkan begitu rupa. Mereka berpikir: “Jangan-jangan syaikh tidak menceraikannya karena syaikh tidak mempunyai uang sebagai ganti maharnya?”
Maka para murid bersepakat untuk patungan, mengumpulkan sejumlah uang dan diserahkan kepada syaikh agar syaikh tidak lagi memikirkan biaya mahar istrinya dan segera menceraikannya.
Tetapi Syaikh as-Sayyid al-Badawiy menolak seraya berkata: “Wahai murid-muridku. Aku tidak menceraikan dia bukan karena tidak mampu membayar maharnya. Tetapi, mengapa aku harus menceraikan seseorang yang karena sabarku atas dia membuatku mendapat derajat yang tinggi di hadirat Allah?”
Dalam kisah yang lain, ada seorang murid thariqat yang sering bermimpi bertemu gurunya (Syaikh Ahmad ar-Rifa’i) duduk-duduk di Surga.
Suatu ketika (bukan dalam mimpi) si murid tersebut bermaksud menghadap gurunya, namun didapati gurunya sedang dipukuli oleh istrinya hingga memar kehitam-hitaman dan bajunya sobek. Maka murid tersebut terkejut dan keluar tidak jadi menghadap.
Setelah mencari informasi, diketahui bahwa apa yang dialami gurunya karena beliau belum membayar mahar sebesar 500 dinar. Kemudian si murid tadi pulang mengambil uang 500 dinar untuk diserahkan pada gurunya tersebut.
Setelah uang tersebut hendak diserahkan, sang guru bertanya: “Untuk apa uang ini?”
Si murid menjawab: “Untuk mahar yang belum terbayarkan.”
Kemudian Syaikh Ahmad ar-Rifa’i tersenyum seraya berkata dengan santai: “Andai saja aku tak bersabar, dipukul, diolok-olok oleh istriku, maka kamu tak akan melihat aku duduk-duduk di Surga.”
Dan masih banyak kisah yang lainnya yang serupa dengan kedua kisah di atas, seperti yang pernah dialami oleh Amirul Mukminin Sayyidina Umar bin Khattab dan tokoh sufi Abu Laits as-Samarkandi. Betapa mereka dengan sabar menghadapi perlakuan buruk para istrinya,yang dengan kesabaran itu justru semakin menaikkan derajat merekaa di sisi Allah Swt.