Laman

Rabu, 03 November 2021

MENGENAI PERKARA MAKNA SHALAT SEBENAR SHALAT



دكوتيف اوليه :
جعفر الدين الجيلان الصدق
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم
أنني أنا الله لا إله إلا أنا، فاعبدني
و أقيم الصلاة لذكري
(قرآن طاح ١٧ : ١٤)
BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM ....
INNANII ANA-LLAAHU LAA ILAAHA ILLAA ANA, FA'BUDNII.
WA AQIIMISH SHALAATA LIDZIKRII
Artinya :
" Sesungguhnya Aku- ini adalah الله، maka sembahlah Aku.
Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku."
(QS. Thaha 20 :14)
Saudara- saudariku sekalian yang saya hormati .......
Hari ini saya kembali menguraikan perkara tentang shalat, supaya kita benar-benar faham apa itu shalat sesungguhnya.
Apa shalat Zahir itu ?
Apa shalat Daim itu ?
Dan apa pula shalat Wustha itu ?
Mari kita menyelidiki pengertian ketiga makna shalat tersebut ini.
Semakin bertambah ilmu Haq dan semakin bertambah pula keyakinan kita kepada الله Azza wa Jalla.
امين اللهم امين ...
Kata kalimat Shalat- صلاة diambil dari kata kalimat :
" Washlah - وصلاه, Shallu- صلوا ataupun dari kata Shalawat- صلوة, yaitu :
" Pelekat "
Dalam arti secara umum adalah mentaati dan mengikuti peraturan khusus tertentu dalam berdoa.
" Pelekat " yaitu :
" Pencinta Kepada dicintai "
Shalat adalah :
Mi'raj yang sudah mengosongkan dari dirinya sendiri untuk mencapai yang dicintainya yaitu kekasih Sejati (الله ).
Inilah yang disebut dengan Maqam " Mahmud " yang tertera dalam Al-Qur'an Surah Al- Isra' : 79
عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا
‌‌ ‌‌ (الأسراع ٧٩)
'ASAA AN YAB'ATSAKA RABBUKA MAQAAMAN MAHMUUDAA
Artinya :
" Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkatmu ditingkat (Maqam) yang terpuji."
ألذي نهم على صلاتهم دائمون
(المعرج ٧٠ : ٢٣)
ALADZIINAHUM 'ALAA SHALAATIHIM DAA-IMUUN
Artinya :
" Mereka yang tetap mengerjakan Shalatnya."
(QS. Al-Ma'arij 70 : 23)

Shalat adalah :
Untuk menetapkan Hakikat kesadaran yang selalu dijaga dan berjaga.
Perhimpunan antara keadaan terjaga dan terjaga adalah :
" Pertemuan antara Nurani dan akal Budi"
Kondisi ini cuma bisa dialami sesiapapun yang selalu dalam keadaan shalat untuk mengingat الله Ta'ala.
Lebih dalam lagi adalah :
Keadaan ini cuma bisa dirasakan sesiapapun yang bukan sekedar mengerjakan shalat untuk menggugurkan kewajiban melainkan mendirikan shalat, dengan tetap berada dalam keadaan shalat yang terus-menerus tanpa mengenal waktu.
Berbeda dengan shalat fardhu lima waktu dan shalat Sunnat lainnya...
Tetapi shalat ini terus-menerus.
Shalat inilah yang dikenal dengan sebutan Shalat " Da-im "

Sang Pecinta adalah :
Selamanya terbenam dalam Cinta Sang Kekasih.
Yang lainnya itu adalah :
" Shalat-biasa "
Yaitu, pada lima waktu tertentu.
Shalat lima waktu itu diarahkan tujuannya menghadap Qiblat...
Tetapi shalat Daim itu langsung kepada Wajah Tuhan, yaitu :
ولله المشرق واامغرب، فأينما تولوا فثم وجه الله
(البقره : ١١٥)
WA LILLAAHIL MASYRIQUL MAGHRIBU, FA-AINAMAA TAWALLUU FATSAMMA WAJHU-LLAAHU
Artinya :
" Dan kepunyaan الله- lah Timur dan Barat, maka kemanapun engkau menghadap, disitulah Wajah الله."
(QS. Al- Baqarah 2 : 115)
********
Nah saudara-saudariku Sekalian .......
Jika shalat fardhu dan sunnat adalah :
Shalat tubuh raga jasmaniah, yang diawali dengan pencucian Badaniah dan Hadats besar dan kecil, menutup aurat, dan mengerjakan rukun shalat dari niat shalat hingga salam.
Maka :
Shalat Daim adalah :
Shalatnya Jiwa yang diawali dengan menyucikan diri dari penyakit Hati, menutup panca indera dari godaan duniawi. Dan mengekalkan rukun shalat Daim dengan Dzikrullah yang terus-menerus.
Wudhu' pada yang satu adalah :
Penyucian diri dari kenajisan Badaniah dan moral.
Pada yang lainnya adalah :
Pemisahan diri, yaitu :
Mengosongkan diri dari diri sendiri.
Wudhu' adalah :
" Pemisahan "
Dan shalat adalah :
" Pekerjaan "
********
Shalat lima waktu adalah :
Shalat Syari'at sesiapa saja bisa melaksanakannya.
Maka :
Ia sudah menunaikan kewajiban dari الله Ta'ala. Sehingga mendapatkan kebaikan, dan terhindar dari keburukan sesuai dengan ungkapan :
إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر
" Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar."
Shalat Sunnat adalah :
Thariqat yang siapapun ia bisa melakukannya.
Maka memperoleh Cinta dari الله Ta'ala.
Didalam Hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Al Buchari, bahwa :
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
Bahwa الله berfirman :
"Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku- cintai daripada ia mengerjakan apa yang telah Aku- Wajibkan kepadanya.
Dan tidaklah hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan Sunnah. Sehingga Aku- mencintainya.
Jika Aku- mencintainya ....
Maka Aku- menjadi Pendengarannya...
Penglihatan baginya melihat...
Tangan baginya memegang...
Kaki baginya berjalan."

Shalat Daim adalah :
Shalat Hakikat yang siapapun saja terus-menerus mengingat الله، maka :
Ia telah mencapai Hakikat Shalat, yaitu :
" Mengingat الله "
Caranya adalah :
Dengan menghirup Nafas dan terus masuk kebatin.
Lafadznya adalah :
" Hu - ھ "
Dan mengeluarkannya itu dengan cara batin pula yaitu lafadznya adalah :
" Allah - الله "
Hu - ھ adalah :
Ringkasan dari :
'' Huwa - هو "
Yang artinya adalah :
" Dia " yaitu : الله Sendiri.

Saudara-saudariku sekalian yang dimuliakan .........
Dalam Qur'an Surah Al-a'raf 7 : 205 dijelaskan Bahwa :
واذكر ربك في نفسك تضرعا و خيفة و دون الجهر من القول بالغدو و الأصال ولا تكن من الغافلين
WADZKURU RABBAKA FII NAFSIKA TADHARRU'AN WA KHIIFATAN WA DAUNAL JAHRI MINAL QAULI BIL GHUDUWWA WAL ASHAALI WA LAA TAKUN MANAL GHAAFILIIN
" Dan sebutlah nama Tuhan-mu dalam nafasmu (dalam qalbu) dengan merendahkan diri dan rasa takut dengan tidak mengeraskan suara diwaktu pagi dan petang. Dan janganlah kamu termasuk orang yang lalai."
Maka :
Selama kita bernafas .....
Baik kita itu dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring, maupun dalam keadaan kesibukan kita sehari-hari ...
Selama itu pula kita dalam keadaan mengingat- الله.
Dan dengan ingatan Kepada الله itulah menegaskan tentang keadaan kita ini dimuliakan oleh-Nya dengan Akal, yaitu :
" Orang-orang yang berakal ialah orang-orang yang mengingat الله dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring."
Setelah shalat Daim ....
Fase berikutnya adalah :
" Shalat Wustha "
Yang merupakan shalat
Ma'rifat.
Shalat Wustha didirikan ketika seluruh fase shalat sudah sempurna.
حافظوا على الصلوات والصلاة الوسطى و قوموا لله قانتين
(البقره ٢ : ٢٣٨)
HAAFIZHUU 'ALASH SHALAWAATI WASH SHALAATIL WUSTHAA WA QUUMUU LILLAAHI QAANITIIN
" Peliharalah semua shalatmu dan (peliharalah) Shalat Wustha. Berdirilah untuk shalat dalam keadaan shalatmu yang khusyuk."
(QS. Al-Baqarah 2 : 238)

Wustha adalah :
" Pertengahan "
Pusat atau sentral poros.
Sebagian para Ulama menafsirkan shalat Wustha adalah sebagai shalat Ashar.
Tetapi suratan Ayat menyebutkan :
" Semua shalatmu "
Yang didalamnya tentu termasuk shalat Ashar.
Sedangkan shalat Wustha disebutkan diluar itu .....
Sebagaimana shalat Daim.
Shalat Wustha melengkapi wilayah batiniah manusia.
Shalat Wustha adalah :
" Shalat Jantung "
Pungsi jantung bagaikan Raja bagi seluruh anggota tubuh manusia.
Jantung adalah.:
Tonggak kehidupan permanen tubuh yaitu :
Pemompa darah keseluruh sendi-sendi tubuh.
Bahkan mata saja disebut sebagai cermin jantung yang apapun terjadi padanya akan tampak pada matanya.
Begitu pula dengan apa yang dilihat oleh indera ..... Seketika informasinya dikirim ke jantung.
Dan bila Ma'rifat diartikan sebagai keadaan melihat setelah Kasyaf atau terbuka Hijab dan Tajalli atau menerima Nur Cahaya, maka :
Itulah yang berkaitan dengan Mata.
Dalam Hadits Qudsi :
Rasulullah bersabda bahwa الله berfirman :
" Aku- jadikan didalam tubuh anak Adam itu suatu mahligai yaitu Qasrun (Singgasana kerajaan Diri) yang didalamnya ada Shadrun (Singgasana kesadaran), yang didalamnya (lagi) ada Qalbun (mahkota hati, dan didalamnya (lagi) ada Fu'ad (jantung hati, kema'rifatan diri), yang didalamnya (lagi) ada Lubbun (Nurani, lubuk terdalam, desiran), dan didalamnya (lagi) ada Sirrun (Rahasia hati, kehendak), dan didalamnya (lagi) adanya :
" Aku"

Saudara-saudariku sekalian ............
Di Ibaratkan mata ...
Maka Qasrun adalah :
Kelopak mata kita.
Shadrun adalah :
Selaput mata putih kita.
Qalbu adalah :
Mata kita
Fu'ad adalah :
Pupil atau anak- mata kita.
Syaqaf adalah :
Lensa mata kita.
Lubbun adalah :
Retina.
Dan Sirrun adalah :
Penglihatan kita.
Maka :
Saudara-saudariku sekalian ...........
Jika pintu Qasrun tertutup ..
Maka :
Tidak akan ada jalan masuk bagi Cahaya.
Jika Shadrun buram ...
Maka :
Cahaya tidak bisa diterima oleh Fu'ad.
Sebab :
Cahaya itu memusatnya pada Syaqaf sebelum bayangannya itu dibawa ketempat Lubbun.
Dan Sirrun itu :
Sebagai fase Terakhir kita.
Ini tergantung pada proses awal kita.
Nah ......
Ketika penglihatan kita sedang berlangsung .....
Yang terjadi pada mata kita itu, itulah sesungguhnya memulangkan cahaya kepada asalnya cahaya.
Dan ketika kita sudah sampai pada Shalat Wustha yaitu :
Yang kita lihat sebenarnya
Adalah :
" Cahaya Maha Cahaya"
Jika demikian saudara-saudariku sekalian ......
Yang berlaku adanya pada kita saat keadaan melihat
Adalah :
فأينما تولوا فثم وجه الله
FAA- AINAMAA TAWALLUU FATSAMMAA WAJHU-LLAAHU
Yaitu :
Maka : Kemanapun engkau berpaling muka .....
Disitulah Wajah Allah.
**********
Jadi saudara-saudariku sekalan .......
Jalan menuju keadaan Ma'rifat itu adalah :
Dengan melaksanakan shalat Wustha.....
Bila dengan jantung atau hati ....... Maka :
Merujuk pada Jantung Al-Qur'an....
Yaitu :
" وليطلتف"
(Walyathalataf)
: Berlemah- lembut seperti termaktub dalam Surah :
" Al-kahfi 18 : 19
Bila dengan jantung Lahiriah organ tubuh kita ini, maka menghidupkan :
" Dzikir Tahlil "
Dengan penekanan kita kepada kalimat kata :
" Illaa-Llaahu - الا الله "
Pada detak jantung kita ini.
Jika dengan mata kita ....
Maka dengan pandangan kita yang teduh dan meneduhkan, yaitu :
Pandangan yang baik pada Al-Khaliq dan Makhkuq.
Rasululllah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
" Sesungguhnya ada dua hal pada dirimu yang الله cintai, yaitu lemah-lembut dan tidak mudah marah'."
(HR. Al- Muslim)
Apabila shalat Daim diawal dengan penyucian diri dari penyakit hati .....
Maka shalat Wustha lah yang sebenarnya penjagaan hati .....
Supaya kita tidak lagi disinggahi oleh penyakit-penyakit hati.
******
Nah saudara-saudariku hamba الله‌ sekalian ......
Inilah penjelasan tentang pemahaman shalat yang menyangkut kebaikan dan mencegah kemungkaran, baik lahiriah maupun ruhaniah, baik penyakit duniawi maupun penyakit hati........
Dengan shalatlah jiwa kita menjadi tenang, tentram dan damai.
Inilah makna ketiga pengertian hakikat makna shalat, dari yang Zahir berupa Shalat Syari'at Fiqih ....
Berupa Shalat Hakikat atau Da-imun Shalat ....
Dan berupa shalat Ma'rifat (Diri batin) dengan shalat Wustha.
Semoga ada bermanfaat Kalam ilmu ini untuk Anda yang saya petik dalam
Kitab :
Ash-Shalat. Bab : 9 dalam Buku : " Ana Al-Haq " dari Syaikh Ibrahim Gazul - Ilahi.
Mengungkap Rahasia Sufi besar : Mansyur Al- Hallaj
" Ana Al- Haq " dan bertepatan jantung menuju Ma'rifat dalam buku : Ma'rifat Cinta "
لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد يحيي و يميت وهو على كل شيء قدير
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه و بارك وسلم عليه
امين اللهم امين
فنوليس اسلي داري  :
جعفر الدين الجيلان الصدق

 

TURUN NAIK NYA NAFAS ZIKIR

 Assalamualaikum..

"Jika Asma Allah diucapkan sekali saja dengan lisan, itu disebut dzikir (mengingat) lisan, namun jika Nama Allah itu diingat dengan hati, maka itu akan sebanding dengan tiga puluh lima juta ucapan-ucapan ( dzikir ) lisan, itulah dzikir hati atau dzikir sirr..

Ada 35 juta pembuluh darah dalam tubuh, dan semua terhubung ke jantung, Jika Nama Allah diucapkan bahkan sekali saja ( dengan hati ) maka semua yang mengalir mengucapkan juga..

Rasulullah saww bersabda :
“Wahai Abu Dzarr, Berzikirlah kepada Allah dengan zikir khamilan”

Abu Dzarr bertanya :
“Apa itu khamilan?”

Sabda Rasul :
“Khafi ( dalam hati )”

* TAHAP pertama zikir adalah zikir LISAN,
* Kemudian zikir QALBU yang cenderung diupayakan dan dipaksakan,
* Selanjutnya zikir qalbu yang berlangsung secara lugas, tanpa perlu dipaksakan, serta yang terakhir adalah ketika Allah sudah berkuasa di dalam qalbu disertai sirnanya zikir itu sendiri..

Inilah rahasia drp sabda Nabi saw :
”Siapa ingin bersenang-senang di taman syurga, perbanyakkanlah mengingat Allah”

TANDA bahwa sebuah zikir sampai pada SIR ( nurani yang terdalam yang menjadi tempat cahaya penyaksian ) adalah
ketika pelaku zikir dan objek zikirnya lenyap tersembunyi..

Zikir Sir terwujud ketika seseorang telah terliputi dan tenggelam di dalamnya, Tandanya, apabila engkau meninggalkan zikir tersebut ia takkan meninggalkanmu..

Zikir tersebut terbang masuk ke dalam dirimu untuk menyadarkanmu drp kondisi tidak sadar kepada kondisi hudhur ( hadirnya qalbu ), Salah satu tandanya, zikir itu akan menarik kepalamu dan seluruh organ tubuhmu
sehingga seolah–olah tertarik oleh rantai..

Indikasinya, zikir tersebut tak pernah padam dan cahayanya tak pernah redup, Namun engkau menyaksikan cahayanya selalu naik turun, sementara api yang ada di sekitarmu senantiasa bersih menyala..

Zikir yang masuk ke dalam sir terwujud dalam bentuk diamnya si pelaku zikir -
seolah–olah lisannya tertusuk jarum Atau semua wajahnya adalah lisan yang sedang berzikir dengan cahaya yang mengalir drpnya..

KETAHUILAH anda , setiap zikir yang disadari oleh qalbumu didengar oleh para malaikat penjaga, Sebab perasaan mereka beserta perasaanmu, di dalamnya ada sir sampai saat zikirmu sudah ghaib drp perasaanmu karena engkau sudah sirna bersama Tuhan, zikirmu juga ghaib drp perasaan mereka..

Kesimpulannya, berzikir dengan ungkapan kata–kata tanpa rasa hudhur ( kehadiran hati ) disebut zikir lisan, berzikir dengan merasakan kehadiran qalbu bersama Allah disebut zikir qalbu, sementara berzikir tanpa menyadari kehadiran segala sesuatu selain Allah disebut Zikir Sir, itulah yang disebut dengan Zikir Khafiy..

Allah SWT berfirman :
“Dan berzikirlah kepada Tuhanmu dalam hatimu ( nafsika ) dengan merendahkan dirimu dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang yang lalai” (QS 7 : 205)
__
* REZEKI lahiriah terwujud dengan gerakan badan,
* REZEKI batiniah terwujud dengan gerakan qalbu,
* REZEKI sir terwujud dengan diam, sementara
* REZEKI akal terwujud dengan fana drp diam sehingga seorang hamba tinggal dengan tenang untuk Allah dan bersama Allah..

Nutrisi dan makanan bukanlah konsumsi rohani, melainkan komsumsi badan, Adapun yang menjadi konsumsi rohani dan qalbu itu adalah dgn mengingat Allah Zat Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib..

Allah SWT berfirman : “Orang–orang beriman dan qalbu mereka tenteram dengan mengingat ( zikir kepada ) Allah.”

Semua makhluk yang mendengarmu sebenarnya juga ikut berzikir bersamamu, Sebab engkau berzikir dengan
* lisanmu, lalu dengan qalbumu,
* kemudian dengan nafs–mu,
* kemudian dengan rohmu,
* selanjutnya dengan akalmu,
* dan setelah itu dengan sirmu..

Bila engkau berzikir dengan lisan, pada saat yang sama semua benda mati akan berzikir bersamamu..

Bila engkau berzikir dengan qalbu,
pada saat yang sama alam beserta isinya ikut berzikir bersama kalbumu..

Bila engkau berzikir dengan nafs–mu, pada saat yang sama seluruh langit beserta isinya juga turut berzikir bersamamu....

Bila engkau berzikir dengan rohmu, pada saat yang sama singgasana Allah ( ‘Arsy ) beserta seluruh isinya
ikut berzikir bersamamu..

Bila engkau berzikir dengan akalmu, para malaikat pembawa Arsy dan roh orang–orang yang memiliki kedekatan dengan Allah juga ikut berzikir bersamamu..

Bila engkau berzikir dengan sirmu, Arsy beserta seluruh isinya turut berzikir hingga zikir tersebut bersambung dengan zat–Nya..

Imam al-Baqir dan Imam ash-Shadiq as berkata :
“Para malaikat tidak mencatat amal soleh seseorang kecuali apa-apa yang didengarnya, maka ketika Allah berfirman : “Berzikirlah kepada Tuhanmu dalam hatimu ( nafsika )”, tidak ada seorangpun yang tahu seberapa besar pahala zikir di dalam hati drp seorang hamba-Nya kecuali Allah Ta’ala sendiri”..

DI DALAM riwayat lainnya disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda : “Zikir diam ( khafiy ) 70 kali lebih utama daripada zikir yang terdengar oleh para malaikat pencatat amal.. “ (Al-Hadits)

Bila sang hamba mampu melanggengkan Zikir Khafi serta meyakini bahwa semua Alam Lahir dan Alam Batin merupakan pengejewantahan drp nama-nama-Nya
maka ia akan merasakan kehadiran-Nya di semua tempat dan merasakan pengawasan-Nya dan jutaan nikmat-nikmat-Nya..

Perasaan akan kehadiran-Nya ini
akan mencegah sang hamba drp berbuat dosa dan maksiat.