Laman

Senin, 17 Maret 2014

Hal-hal yang Luar Biasa


Hal yang luar biasa itu justru terletak pada keberanian seseorang untuk mengeluarkan dirinya dari dirinya, sebagaimana pandangan para Sufi, "Hakikatmu adalah keluarmu dari dirimu." Maksudnya kita bisa mengeluarkan hasrat nafsu kita dari diri kita.

Hikmah Ibnu Athaillah ini menyembunyikan rahasia, bahwa hakikat Karomah itu justru pada Istiqomah, dimana istiqomah tersebut tidak bisa diraih sepanjang manusia masih senang dan terkukung oleh kesenangan dan kebiasaan nafsunya.
Karena nafsu adalah hijab, dan wujud nafsu itu adalah rasa "aku" dalam diri kita sendiri.
Seorang Sufi ditanya, "Bagaimana anda sampai mencapai tahap luhur ini?"
"Aku bertauhid dengan tauhid paling utama, dan aku berbakti sebagaimana baktinya budak, serta aku taat kepada Allah swt atas perintahNya, apa yang dilarangNya. Maka setiap aku memohon, Dia selalu memberinya."

Dalam suatu Isyarat, Allah swt, berfirman: "HambaKu, Akulah yang berkata pada sesuatu Kun Fayakuun". Maka taatlah kepadaKu, maka engkau pun berkata pada sesuatu "Jadilah! Maka bakal terjadi!".
Dalam hadits shahih, Allah swt berfirman, "Tak ada orang yang mendekat kepadaKu sebagaimana dekatnya orang yang menunaikan apa yang Aku fardhukan kepada mereka, dan senantiasa hambaKu berdekat padaKu dengan ibadah-ibadah sunnah, sampai Aku mencintainya. Maka bila Aku mencintainya, jadilah Aku sebagai Pendengaran baginya, menjadi Mata, Tangan dan Penguat baginya. Maka bila ia meminta padaKu, Aku pasti memberinya, dan bila ia meminta perlindungan padaKu, Aku pasti melindunginya…."

Menembus batas kebiasaan diri seorang hamba, berarti haruslah punya keberanian untuk menyadari kefanaannya dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, doktrin, "Aku bisa, aku mampu, aku hebat, aku kuat, aku berdaya…dsb…" Apalagi disertai dengan kata-kata, "Dariku, denganku, untukku, demiku, bagiku, bersandar aku…dsb," justru semakin mempertebal lapisan hijab demi hijab antara hamba dengan Allah swt.
Orang yang meraih karomah, pasti sirna dari keakuannya. Orang yang mendapatkan hal-hal luar biasa, justru fana' seluruh egonya. Dan sebaliknya jika kesirnaan aku dan egonya tidak terjadi, maka hal-hal yang luar biasa tidak lebih dari Istidroj yang melemparkan dirinya dari Allah Ta'ala.

Keutamaan Akhlak Baik di Akhirat



1. AKHLAK MULIA MEMUDAHKAN JALAN KE SURGA

Ada beberapa orang yang datang menemui Rosulullah saw, lalu berkata, “Wahai Rosulullah, si fulanah adalah orang yang rajin shalat, puasa, dan mengeluarkan zakat, tapi ia juga sering berbuat jahat terhadap tetangganya. Lantas Rosulullah saw bersbda, “Dia adalah penghuni neraka”.

Lalu ada yang berkata kepada Rosulullah. Bahwa ada seorang perempuan yang shalatnya biasa-biasa, begitu juga dengan puasa yang dilakukan dan zakat yang dikeluarkannya, tapi ia tidak pernah berbuat jahat terhadap tetangganya. Mendengar hal itu, beliau bersabda, “Dia adalah penghuni surga” (HR Imam Ahmad Hakim dan AL-Hatsimi). (Akhlak Mulia, 2008)



2. KEUTAMAAN AKHLAK YANG BAIK

Anas bin malik berkata, “Seorang hamba -dengan akhlaknya yang baik- dapat mencapai derajat tertinggi di surga, sedangkan ia bukanlah seorang ahli ibadah. Dan -dengan akhlaknya yang buruk- dapat terhempas ke dasar paling bawah neraka Jahanam, sedangkan ia seorang ahli ibadah”. (Al-Ghazali)



3. AKHLAK BURUK JALAN MENUJU NERAKA

Ada seseorang berkata kepada Rosulullah saw, “Ada seorang perempuan yang berpuasa di siang hari dan bertahajud di malam hari, sementara akhlaknya buruk. Ia mengganggu para tetangganya dengan ucapan lidahnya”.
Maka Rosulullah saw bersabda, “Tak sedikit pun kebaikan ada padanya. Ia adalah penghuni neraka”. (Al-Ghazali)



4. Akhlak Yg Baik Lebih Utama

Rosulullah saw bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba yang berakhlak baik akan mencapai derajad dan kedudukan yang tinggi di akhirat, walau ibadahnya sedikit” (HR Thabrani)

Dan sebenarnya Islam ada untuk memperbaiki ahklak dan untuk menciptakan kedamaian di dunia ini maka celakalah bila merusak tatanan dunia.

BESARNYA PAHALA ISTRI SOLEHA


Rosulullah saw bersabda kepada putrinya Fatimah ra, “Hai Fatimah, setiap istri yg membuatkan tepung untuk suami dan anak-anaknya, maka ALLAH mencatat baginya memperoleh kebajikan dari setiap butir biji yg tergiling, dan menghapus keburukannya serta meninggikan derajatnya.
Hai Fatimah, setiap istri yang berkeringat di sisi alat penggilingnya karena membuatkan bahan makanan untuk suaminya, maka ALLAH memisahkan antara dirinya dan neraka sejauh tujuh hasta.
Hai Fatimah, setiap istri yg meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisirkan rambut mereka dan mencucikan baju mereka, maka ALLAH mencatatkan untuknya memperoleh pahala seperti pahala orang yang memberi makan seribu orang yg sedang kelaparan, dan seperti pahala orang yang memberi pakaian seribu orang yg telanjang.
Rosulullah saw bersabda kepada putrinya Fatimah ra, “Hai Fatimah, setiap istri yg mencegah (mempersulit) kebutuhan tetangganya, maka ALLAH kelak akan mencegahnya (tidak memberi kesempatan baginya) untuk minum air dari telaga Kautsar pada hari kiamat.
Hai Fatimah, tetapi yg lebih utama dari semua itu adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Sekiranya suamimu tidak meridhaimu, tentu aku tidak akan mendo’akan dirimu.
Bukankah engkau mengerti hai Fatimah, bahwa ridha suami itu menjadi bagian dari ridha ALLAH, dan kebencian suami merupakan bagian dari kebencian ALLAH.
Hai Fatimah, manakala seorang istri mengandung, maka para malaikat memohon ampun untuknya, dan setiap hari dirinya dicatat memperoleh seribu kebajikan dan seribu keburukannya dihapus. Apabila telah mencapai rasa sakit (menjelang melahirkan) maka ALLAH mencatatkan untuknya memperoleh pahala seperti pahala orang2 yg berjihad di jalan ALLAH. Apabila telah melahirkan, dirinya terbebas dari segala dosa seperti keadaannya setelah dilahirkan ibunya”
Rosulullah saw bersabda kepada putrinya Fatimah ra, “Hai Fatimah, setiap istri yg melayani suaminya dengan niat yg benar, maka dirinya terbebas dari dosa-dosanya seperti pada hari dirinya dilahirkan ibunya. Ia tidak keluar dari dunia (yakni mati) kecuali tanpa membawa dosa. Ia menjumpai kuburnya sebagai pertamanan surge. Allah memberinya pahala seperti seribu orang yg berhaji dan berumrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan untuknya hingga hari kiamat.
Setiap istri yg melayani suaminya sepanjang hari dan malam hari disertai hati yg baik, ikhlas dan niat yg benar, maka ALLAH mengampuni dosanya. Pada hari kiamat kelak dirinya diberi pakaian bewarna hijau, dan dicatatkan untuknya pada setiap rambut yg ada ditubuhnya dengan seribu kebajikan, dan ALLAH memberi pahala kepadanya sebanyak seratus pahala orang yg berhaji dan berumrah”.
Rosulullah saw bersabda kepada putrinya Fatimah ra, “Hai Fatimah, setiap istri yg tersenyum manis di muka suaminya, maka ALLAH memperhatikannya dengan penuh rahmat.
Hai Fatimah, setiap istri yg menyediakan diri tidur bersama suaminya dengan sepenuh hati, maka ada seruan yg ditujukan kepadanya dari langit, “Hai wanita, menghadaplah dengan membawa amalmu. Sesungguhnya ALLAH telah mengampuni dosa-dosamu yg berlalu dan yg akan datang.
Hai Fatimah, setoiap istri yg meminyaki rambut suaminya demikian pula jenggotnya, memangkas kumis dan memotong kuku-kukunya, maka ALLAH kelak memberi minum kepadanya dari rahiqim makhtum (tuak jernik yg tersegel) dan dari sungai yg ada disurga. Bahkan ALLAH kelak akan meringankan beban sakaratul maut. Kelak dirinya akan menjumpai kuburnya bagaikan taman surge. ALLAH mencatatnya terbebas dari neraka dan mudah melewati sirath (titian)”

KESABARAN TANPA BATAS


1. KESABARAN FATIMAH BINTI ROSULULLAH
Fatimah az-Zahra binti Rosulullah pernah mengalami kelaparan selama beberapa hari. Saat itu, suaminya Ali ra melihat wajahnya pucat pasi. Maka ia bertanya kepadanya, “Kenapa engkau pucat demikian, wahai Fatimah?”
Fatimah menjawab, “Sejak tiga hari yang lalu kami tidak mempunyai makanan di rumah!”. Ali berkata, “Mengapa engkau tidak memberitahuku?”. Ia menjawab, “Sebab, pada malam pernikahan kita dahulu, Rosulullah saw pernah berpesan kepadaku seperti ini : “Wahai Fatimah, Jika Ali ra datang kepadamu dengan membawa sesuatu, makanlah! Namun, bila ia tidak membawa apa-apa, janganlah sekali-kali menanyakannya” (Menjadi Wanita Paling Bahagia, 2007)
2. KESABARAN NABI YUSUF AS
Perhatikanlah apa yg terjadi kepada Nabi Yusuf as. Dia bersabar dalam menghadapi berbagai ujian, disiksa, dijadikan budak, dipenjara, dan dihina, ia tetap menerima apa yg diberlakukan Tuhan kepada dirinya, sehingga dia mampu bertahan dan akhirnya berbahagia dengan menjadi raja. (Syaikh Abdul Qadir Jailani)
3. KESABARAN Ali bin Abi Thalib ra
Ali pernah memanggil budaknya sampai mengulang 3 kali, namun tak ada jawaban. Maka dicarinya sibudak, lalu dilihatnya sedang berbaring. Ali berkata, “Apakah engkau tak mendengar?”. “Ya, saya mendengar”. “Lalu, mengapa engkau tak menjawab?” tanya Ali. “Karena saya yakin bahwa tuan tak akan menghukumku!”. Mendengar itu, Ali berkata, “Pergilah, engkau kumerdekakan” (Al-Ghazali)
4. KESABARAN IBRAHIM BIN ADHAM
Dikisahkan bahwa, pada suatu hari, Ibrahim bin Adham pergi ke suatu tempat di padang pasir, dan berjumpa dengan seorang tentara yang menegurnya: “Engkau seorang hamba/budak?” “Ya” jawab Ibrahim. Orang itu bertanya lagi: “Dimana tempat yang dihuni orang banyak?”. Mendengar itu, ibrahim menunjuk ke tempat pekuburan. Orang itu mengulangi lagi pertanyaannya: “Yang saya tanyakan adalah tempat yg banyak penghuninya!” Jawab Ibrahim: “Itulah pekuburan”. Merasa dipermainkan, tentara itu menjadi marah dan memukul kepala Ibrahim dg sebuah cambuk, sehingga menyebabkannya terluka dan berdarah. Lalu dikembalikannya ke kota dan berjumpa dg para pengikutnya. Mereka menanyakan: “Apa yg terjadi?” Tentara itu memberi tahu mereka mengenai pertanyaannya serta jawaban yg diterimanya. Orang-orang itu menjelaskan: “Ini adalah Ibrahim bin Adham!”. Mendengar itu si tentara terkejut dan segera turun dari kudanya, lalu mencium kedua tangan dan kaki Ibrahim, sambil meminta maaf darinya.
Setelah itu beberapa orang menanyakan kepada Ibrahim, “Mengapa anda mengatakan kepadanya bahwa Anda seorang hamba/budak?” Jawab Ibrahim: “Ia tidak menanyakan kepadaku: “Hamba siapa anda?” tetapi bertanya : “Apakah anda seorang hamba/budak?” Maka aku pun menjawab “Ya”. Karena aku adalah hamba ALLAH. Dan ketika ia memukul kepalaku, kumintakan surga baginya dari ALLAH SWT”. Seorang dari mereka bertanya, “Mengapa? Bukankah ia telah menzalimi anda?”. Jawab Ibrahim : “Aku tahu bahwa aku akan memperoleh pahala karena (bersabar atas) perbuatannya itu. Maka aku tak mau bagian yang kuperoleh darinya berupa kebaikan (pahala), sedangkan bagian yg diperolehnya dariku berupa keburukan (dosa karena telah memukulnya)”. (Al-Ghazali)
5. KESABARAN PARA WALIALLAH
Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata, “Aku bersama para murit Syaikh Ahmad mengikuti beliau keluar baghdad. Setibanya dijembatan yahud, beliau mendorongku sampai akau tercebur ke sungai -pada saat itu udara sangat dingin- kemudian mereka berlalu dan meninggalkanku. Aku berkata dalam hati, ‘Aku berniat untuk mandi jum’at’. Saat itu aku mengenakan jubah sufi dan dilenganku terdapat sebuah jubah lagi yang membuatku harus mengangkatnya agar tidak basah. Aku keluar dari air lalu memeras jubah tersebut dan menyusul mereka dalam kondisi kedinginan yang menusuk hingga ke tulang. Melihat kondisiku, para muritnya bermaksut untuk menolongku namun beliau melarang mereka seraya berkata, “Apa yang aku lakukan adalah untuk mengujinya dan aku mendapatinya bagai gunung, kokoh tak bergerak”. (Mahkota Para Aulia, 2005)
nb : bagai gunung kokoh tak bergerak maksudnya dalam menghadapi ujian, beliau seperti gunung yang kokoh, tanpa mengeluh, tidak menolak, tidak marah, tidak meminta bantuan makhluk. Dan beliau menerima, ridho dan bersabar atas semua ketetapan dan takdir ALLAH yang ditimpakan kepadanya.
6. KESABARAN ABU UTSMAN AL-HIRIY
Suatu ketika Abu Utsman Al-Hiriy sedang berjalan disebuah lorong sempit, ketika seseorang -dari atap sebuah rumah- melemparkan sebuah baskom penuh abu diatas kepalanya. Segera ia turun dari tunggangannya dan melakukan sujud syukur, kemudian menepiskan abu itu dari pakaiannya. Ia pun melanjutkan perjalanannya tanpa mengatakan sesuatu. Beberapa diantara kawan-kawannya berkata kepadanya, “Tidakkah seharusnya anda memarahi mereka?”. Ia menjawab, “Orang yang layak baginya memperoleh hukuman api (neraka), lalu (oleh ALLAH) diberi keringanan dengan hanya menerima hukuman dengan abu, tidaklah patut baginya untuk marah!” (Al-Ghazali)
7. KESABARAN Uwais Al-Qaraniy
Dikisahkan bahwa Uwais Al-Qaraniy sering dilempari batu oleh sekelompok anak-anak, setiap kali mereka melihatnya. Lalu katanya, “Hai saudara-saudaraku, kalau memang harus kalian melempari aku, tolong lempari aku dengan batu yg kecil-kecil saja. Agar kalian tak melukai kakiku yg akan menghalangiku untuk sholat dg berdiri” (Al Ghazali)
8. KESABARAN Muhammad bin Ali at-Tirmidzi
“Apabila guru (Muhammad bin Ali at-Tirmidzi) marah kepada kalian, apakah kalian tahu?” seseorang bertanya kepada keluarga Tirmidzi.
“Ya, kami tahu” mereka menjawab, “Setiap kali ia marah kepada kami, maka ia bersikap lebih ramah daripada biasanya. Kemudian ia tidak mau makan dan minum. Ia menangis dan memohon kepada ALLAH : “Ya ALLAH, apa perbuatanku yg menimbulkan murka-MU sehingga ENGKAU membuat keluargaku sendiri menentangku? Ya ALLAH, aku mohon ampun-MU! Tunjukkanlah mereka jalan yang benar!” Apabila ia bersikap seperti demikian, tahulah kami bahwa ia sedang marah. Dan segeralah kamu bertaubat agar ia lepas dari dukacitanya itu” (Kisah Para SUfi (Wali), 1998)
9. KESABARAN Ahnaf bin Qais
Seorang laki2 mencaci Ahnaf bin Qais, sementara ia tidak menjawabnya. Namun orang itu terus mengikutinya sambil menujukan caciannya. Sehingga ketika telah berada dekat dg kampung tempat tinggalnya, Ahnaf berhenti dan berkata, “Kalau masih ada yg tersisa dari cacian anda, katakanlah sekarang. Agar tak terdengar oleh beberapa anak2 nakal dikampungku, dan mengganggu anda karenanya (Al-Ghazali)
10. KESABARAN QAIS BIN ASHIM
Pernah ditanyakan kepada ahnaf bin Qais, “Dari siapakah anda belajar menjadi seorang penyantun (penyabar dan pemaaf)?”
“Dari Qais bin Ashim”, jawab Ahnaf
“Sampai seberapa jauh kesantunannya itu?” tanya orang itu
“Pada suatu ketika, ia sedang duduk di rumahnya, ketika seorang budak perempuan membawakan untuknya daging bakar di atas sebuah nampan yang panas. Malang baginya, nampan itu terjatuh diatas kepala seorang bayi, putra Qais, yang menyebabkan kematiannya. Si budak itu menjadi amat ketakutan, namun Qais berkata kepadanya, “Tidak usah kamu merasa takut, sejak kini kumerdekakan kamu, semata-mata demi mengharap keridhaan ALLAH SWT” (Al-Ghazali)
11. KESABARAN ABU UTSMAN AL-HIRIY
Suatu ketika, Abu Utsman AL-Hiriy diajak makan oleh seorang yang sengaja ingin mengujinya. Maka ketika sampai dirumahnya, orang itu berkata, “Tak ada urusanku denganmu!”. Mendengar itu, Abu Utsman segera pulang. Tetapi, belum begitu jauh ia melangkah, si pemilik rumah memanggilnya kembali. Dan kembalilah ia. Namun ketika sampai di depan rumahnya, orang itu berkata lagi, “Hai Ustadz, pulanglah!”. Dan ia pun melangkah untuk pulang, sedangkan si pemilik rumah membiarkannya pergi sebentar, lalu memanggilnya kembali, untuk ketiga kalinya. Abu Utsman menurut saja, dan kembali mendatangi orang itu. Ketika sampai didepan pintunya, orang itu berkata, “Aku tidak punya waktu untukmu!”. Dan sekali lagi Abu Utsman melangkah pulang, tetapi orang itu memanggilnya lagi. Begitulah seterusnya, berulang kali ia memperlakukan ABu Utsman seperti itu, sementara Abu Utsman tidak menunjukkan kekesalan hatinya sedikit pun. Sampai akhirnya, si pemilik rumah bersimpuh dibawah kedua kaki Abu Utsman, seraya berkata, “Wahai Ustadz, sesungguhnya aku hanya ingin menguji kesabaranmu. Betapa mulianya akhlak Anda!”. Maka berkatalah Abu Utsman, “Sesungguhnya yg anda lihat dariku itu, tak lebih dari perangai seekor anjing (merasa tak berharga dihadapan ALLAH), apabila dipanggil, ia segera datang, dan apabila dibentak, ia pun terdiam”. (Al-Ghazali)

12. KESABARAN JALALUDIN AR-RUMI
Suatu hari Jalaluddin Ar-Rumi bertemu dg dua orang yg sedang bercek-cok. Salah seorang diantaranya berkata, “Kalau kamu berkata sepatah kata, aku akan membalas dg sepuluh kata”. Mendengar omelan itu, Jalaluddin menyela, “Contohlah aku! kalau kalian berkata kepadaku 1000 kali, aku tidak akan membalas sepatah kata pun”. Seketika itu juga keduanya bersimpuh dikakinya, dan kembali rukun

Ridha Terhadap Takdir dan Ketetapan ALLAH


1. BERAMALLAH MENUJU TAKDIRMU
Rosulullah saw bersabda, “Tidak seorang pun dari kalian melainkan telah ditentukan tempat duduknya di neraka, dan tempat duduknya di surga”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rosulullah, apakah kami cukup bergantung (bersandar) kepada catatan takdir kami?”. Beliau menjawab, “Bekerjalah (beramallah), karena masing-masing telah dimudahkan untuk apa yg ia diciptakan karenanya”.(HR Bukhari Muslim)

2. RIDHO ATAS SEMUA TAKDIR-NYA
Apabila engkau tidak ridha dengan takdir, tidak bersabar atas ujian dan tidak bersyukur atas nikmat, maka tidak akan ada Tuhan bagimu, carilah Tuhan selain ALLAH, padahal engkau tahu tidak ada Tuhan selain ALLAH. Apabila engkau mau, ridhalah dengan takdir, pecayalah kepada ketetapan-NYA, baik ataupun buruk, manis ataupun pahit. Sesungguhnya sesuatu yang akan menimpamu tidak akan luput darimu, dan sesuatu yang harus luput darimu tidak akan menimpamu sama sekali, baik denganm usaha ataupun upaya (Syaikh Abdul Qadir Jailani)

3. MENENTANG TAKDIR-NYA
Sebagian ahli sufi mengatakan,”Terimalah ketetapan ALLAH pada makhluk, dan jangan menerima keinginan makhluk pada Khaliq”. Bagaimana aku bisa peduli, sedangkan engkau berbuat maksiat kpd ALLAH, meremehkan perintah2-NYA dan juga larangan2-NYA. Engkau menentang ketetapan dan takdir-NYA, bahkan engkau memusuhi-NYA siang dan malammu. Sungguh engkau (yg menentang takdir-NYA) sangat terkutuk. (Syaikh Abdul Qadir Jailani)

4. RIDHO ATAS TAKDIR ALLAH AKAN MENYEJUKKAN HATI
RIDHA atas ketetapan TAKDIR lebih baik daripada memperoleh dunia tetapi disertai penentangan terhadap takdir. Manisnya keridhaan itu lebih manis terasa dihati para shiddiqiin, daripada melajur keinginan syahwat dan kesenangannya. Hal itu lebih manis bagi hati mereka dari pada dunia dan seisinya, karena ia menyejukkan kehidupan dalam setiap keadaan (Syaikh ABdul Qadir Jailani)

5. ASAL ALLAH RIDHA
Betapa indahnya keadaan seorang mukmin didunia maupun di akhirat. Di dunia dia tdk mempedulikan segala sesuatu, asalkan ALLAH ridha kepadanya. Dimanapun dia berada, dia akan memperoleh bagiannya. Kemanapun dia menghadap, dia akan memandang cahaya-NYA. Tidak akan ada kegelapan baginya, dan semua isyarat-NYA tertuju kepadanya. Keyakinannya hanya kepada ALLAH SWT demikian juga ketawakalannya (Syaikh ABdul Qadir Jailani)

6. MENGGAPAI RIDHA ALLAH
Ridha ALLAH, bergantung pada ridha kita pada-NYA, ridha pada setiap ketentuan dan ketetapan ALLAH, yang baik maupun yang buruk. Mau menerima dengan rela dan senang hati, setiap keadaan dan kejadian yang datang pada kita, yang baik maupun yang buruk. Sedih dan bahagia, kesuksesan dan kebangkrutan, hidup sengsara dan hidup enak dan lain sebagainya. Kita terima dengan kadar yang sama, tanpa membedakan diantara keduanya, tidak pernah mengeluh dan tidak pernah merasa benar untuk menanggungnya. Inilah tanda-tanda ridha ALLAH pada diri manusia. Barangsiapa yang sudah bersikap dan berbuat seperti itu, berarti ALLAH sudah ridha padanya. (Tasawuf Di Dalam Diri Ada ALLAH, 2011)

7. ALLAH LEBIH TAHU DARIPADA AKU
Barang siapa yg ingin mencapai derajat ridho terhadap takdir ALLAH SWT hendaklah ia selalu mengingat kematian, karena dg mengingatnya akan meringankan bencana yg menimpa. Jangan berprasangka buruk terhadap-NYA atas bencana yg menimpa diri, harta dan keluarga. Tetapi katakanlah, “ALLAH SWT lebih tahu daripada aku”. Bencana tsb akan tercabut darimu dan kebaikan dan kenikmatan akan datang. (Syaikh Abdul Qadir jailani)

8. RIDHO DALAM KEFAKIRAN
Ridholah dalam kefakiranmu, karena itu akan menjagamu dari kemaksiatan. Apabila tidak, bisa jadi engkau akan tenggelam dalam kemaksiatan. Seandainya ALLAH menjadikanmu fakir dan lemah, sesungguhnya DIA hendak memeliharamu. Apabila engkau sabar atas pilihan-NYA, maka engkau akan memperoleh pahala disisi-NYA yg tak terhitung oleh dirimu atau penduduk dunia sekalipun (Syaikh Abdul Qadir Jailani)

9. RIDHO ATAS SEMUA PERBUATAN-NYA
Seorang muslim akan senantiasa setuju terhadap ketetapan-NYA dan ridho atas setiap takdir dan perbuatan-NYA.
Apabila kita tidak menerima datangnya musim kemarau, maka kemarau tersebut akan mendatangkan kesempitan, demikian juga apabila kita tidak menerima ketetapan datangnya musim penghujan, maka kedatangannya hanya akan menjadi siksa.
Kerelaan kita terhadap takdir-NYA yang mendatangkan dua musim tersebut, akan menghilangkan akibat buruk apapun yang datang karena keduanya.
Demikian halnya, penerimaan kita terhadap ujian dan cobaan, akan menghilangkan sedih, perih, dan kesempitan yang lahir darinya.
Alangkah menakjubkan keadaan para Wali itu, betapa baiknya keadaan mereka. Apapun yang ditimpakan ALLAH SWT kepada mereka, semuanya menjadi kebaikan (Syaikh Abdul Qadir Jailani)
10. TAKDIR ALLAH PASTI TERJADI
Diceritakan bahwa Malaikat Maut menemui Nabi SUlaiman bin Daud as. Malaikat Maut melihat dengan tajam dalam waktu yang lama kepada salah seorang pembantu Nabi Sulaiman as. Ketika Malaikat Maut keluar, laki-laki itu bertanya, “Wahai Nabi ALLAH, siapakah orang yang masuk tadi?”
Nabi SUlaiman as menjawab, “Malaikat Maut”
Laki-laki itu berkata, “Aku takut Malaikat Maut hendak mencabut nyawaku. Oleh karena itu aku akan menghindar darinya”.
Nabi Sulaiman as berkata, “Bagaimana caramu menghindar darinya?”
Laki-laki itu menjawab, “Suruhlah angin membawaku ke negeri India saat ini juga. Mudah-mudahan Malaikat Maut terkecoh dan tidak dapat menemukanku”
Nabi Sulaiman as menyuruh angin untuk membawa laki-laki itu ke tempat yang dituju. Malaikat Maut kembali dan menemui Nabi SUlaiman as. Kemudian Nabi Sulaiman as bertanya kepada Malaikat Maut, “Mengapa engkau melihat kepada laki-laki itu lama sekali?”
Malaikat Maut berkata, “Aku sungguh merasa heran terhadapnya. Aku diperintahkan untuk mencabut nyawanya di negeri India padahal negeri itu sangat jauh. Tetapi ternyata angin telah membawanya ke sana. Itulah takdir ALLAH SWT” (Al-Ghazali)

Keutamaan Mempelajari Fiqih dan Ilmu Agama


1. Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar. (HR. Bukhari)

2. Para ulama fiqih adalah pelaksana amanat para rasul selama mereka tidak memasuki (bidang) dunia. Mendengar sabda tersebut, para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apa arti memasuki (bidang) dunia?" Beliau menjawab, "Mengekor kepada penguasa dan kalau mereka melakukan seperti itu maka hati-hatilah terhadap mereka atas keselamatan agamamu. (HR. Ath-Thabrani)

3. Rasulullah Saw bersabda : "Ya Allah, rahmatilah khalifah-khalifahku."

Para sahabat lalu bertanya, "Ya Rasulullah, siapakah khalifah-khalifahmu?"
Beliau menjawab, "Orang-orang yang datang sesudahku mengulang-ulang pelajaran hadits-hadits dan sunahku dan mengajarkannya kepada orang-orang sesudahku." (HR. Ar-Ridha)

KEUTAMAAN WAKTU ANTARA MAGHRIB DAN ISYA



Kita harus ada satu waktu yang mana waktu tersebut sangat pendek yaitu waktu antara shalat magrhrib dan shalat isya dan waktu tersebut mempunyai beberapa keutamaan :

Pertama

Dari Tsauban RA berkata Rasululloh bersabda

Barangsiapa yang I'tikaf diantara magrib dan isya di dalam masjid dan tidak berbicara apa-apa kecuali di pergunakan untuk sholat dan baca al quran dan wajib baginya untuk di masukkan ke dalam surga ( al hadist )

Kedua

Dari Abu Hurairah RA berkata Rasululloh bersabda

Barangsiap sholat enam rekaat sesudah sholat maghrib dan tidak berkata kata yang jelek maka sholatnya menyamai ibadah dua belas tahun

Ketiga

Dari Masruq dari Ibnu Abbas RA berkata Rasululloh bersabda

Barangsiapa yang sholat dua belas rekaat sesudah sholat magrib dan setiap rekaat membaca surat al fatikhah sekali dan surat al ikhlas tiga kali maka semua dosanya di ampuni oleh Allah SWT

Ke empat

Dari Ibnu Umar RA Rasululloh bersabda

Barangsiapa sholat dua puluh rekaat antara maghrib dan isya dan setiap rekaat membaca al fatikhah sekali dan al ikhlas sekali maka Allah akan menjaga keluarganya, hartanya, anaknya, dirinya, agamanya, dunianya, akhiratnya, tetangganya, rumahnya, di mudahkan dari sakaratul maut, dari goncangan hari kiyamat, di mudahkan lewat jembatan shirotol mustaqon seperti petir ( barqi ), dan di masukkan ke surga bersama golongan shiddiqin.

Inilah kemulian waktu antara magrib dan isya'.

KEUTAMAAN SHALATNYA WANITA DIRUMAHNYA SENDIRI

KEUTAMAAN SHALATNYA WANITA DIRUMAHNYA SENDIRI

Dalam bagian ini akan membicarakan tentang keutamaan shalatnya orang perempuan (istri) di rumahnya sendiri dan shalatnya itu lebih utama di banding shalat orang perempuan di masjid, sekalipun berjamaah dengan Rasulullah.

Humaid As Sa’idi meriwayatkan tentang seorang perempuan yang datang kepada Rasulullah perempuan itu bertanya:
WaHai Rasulullah, sesungguhny aku sangat senang jika shalat berjamaah denganmu”.
Nabi menjawab:”Aku tau kamu senang shalat berjamaah denganku.
Tetapi shalatmu di rumahmu sendiri lebih utama dari pada shalatmmu di kamarmu dan shalatmu di kamarmu lebih utama di banding shalatmu diserambi rumahmu dan shalatmu di serambi rumahmu lebih utama di banding shalatmu di masjidku ini”.

Yang demikian itu tidak lain untuk menjaga agar ketertutupan dirinya sebagai hak yang perlu di jaga.

Rasulullah bersabda : ”Sesungguhnya shalatnya orang perempuan di rumahnya lebih baik dari pada shalat di kamarnya, dan sesungguhnyalah shalatnya seorangperempuan di kamarnya lebih baik dari pada shalatnya di serambi rumahnya, dan shalatnya seorang perempuan di serambi rumahnya itu lebih baik dari pada shalatnya di masjid”. (al hadits riwayat Al baihaqi dari Aisyah Ra)

Rasulullah S.A.W bersabda :”shalat seorang perempuan di rumahnya lebih utama dari pada shalatnya di kamarnya dan shalatnya di dalam ruangan yang berada di tengah tengah rumahnya lebih baik dari pada shalatnya di serambi rumahnya”.
Diriwayatkan oleh abi daud dari ibnu mas’ud dan riwayat Al hakim dari Ummu salamah.

Rasulullah S.A.W bersabda:”SHALAATUL MAR-ATI WAHDAHAA TAFDHULU ‘ALAASHALAATIHAA FIL JAM’I BIKHAMSIN WA’ISYRIINA DARAJATAN

Shalatnya seorang wanita sendirian menyamai shalatnya dalam berjamaah denga memperoleh dua puluh lima derajat “. (di riwayatkan oleh Ad Dailami dari ibnu ‘umar)
Menurut suatu pendapat, shalat seorang wanita yang demikian itu berlaku bagi perempuan yang masih lajang, yakni belum kawin