Laman

Jumat, 24 Februari 2023

Tanda diterima Allah Ta’ala. Amal saleh

 

Setiap mukmin tentu berharap semua amal saleh yang dilakukannya diterima Allah Ta’ala. Amal saleh yang tentu saja diiringi niat sebagai ibadah untuk mendekatkan diri pada Allah Azza wa Jalla, serta amal yang dilandasi keimanan yang benar serta meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Landasan amal salehnya dibangun di atas ilmu syar’i bukan sekedar aktivitas yang baik menurut persangkaan manusia atau amal yang mementingkan kualitas namun tanpa dalil agama. Semoga penjelasan-penjelasan dari para imam terkemuka berkaitan dengan tanda diterimanya amal mampu menggugah hasrat kaum muslimin untuk mempersembahkan amal terbaik kepada Allah Ta’ala.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah apabila menginginkan kebaikan kepada seorang hamba dijadikan hatinya tak mengingat amal-amal kebaikannya dan dijadikan lisannya tak ingin mengabarkan amalnya kepada manusia. Allah jadikan ia sibuk mengingat dosa-dosanya. Senantiasa dosa itu berada di pelupuk matanya hingga ia masuk surga. Karena tanda amal diterima itu adalah menjadikan hati tak mengingatnya dan lisan tak mengabarkannya.” (Thariqul Hijratain hal. 169-172).

Inilah bentuk amal saleh yang pemiliknya tak menyibukkan diri mengeksposnya, entah itu dengan lisannya atau memviralkannya di media sosial. Tanpa kita sebarkan niscaya hati kita akan terjaga untuk lebih ikhlas, karena yang dicari pujian Allah Ta’ala. Justru banyaknya amal membuatnya lebih hati-hati dan bersikap tawadhu karena ia lebih sibuk memikirkan kekurangan dirinya dan dosa-dosanya daripada menghitung amal-amal saleh yang telah dilakukan karena orang yang bangga dengan amal-amal salehnya justru akan meremehkan dosa-dosanya atau bahkan memandang rendah orang yang tidak beramal saleh seperti dirinya. Padahal kita belum tahu pasti apakah amal kita diterima Allah Ta’ala atau tidak. Ini peringatan agar kita tak terpesona dengan kuantitas amal saleh kita. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَ ۙ

Dan orang-orang yang melakukan (kebaikan) yang telah mereka kerjakan dengan hati penuh rasa takut, (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabbnya” (Q.S Al-Mukminun: 60)

Mereka senantiasa istiqomah beramal saleh, mereka berlomba-lomba dalam kebaikan namun mereka juga takut amal-amal tersebut tidak diterima Allah Ta’ala.

Simak pula nasihat imam Ibnu Rajab rahimahullah berkenaan dengan tanda diterimanya amal saleh seorang hamba. Beliau rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla, Dia menerima amal (kebaikan) seorang hamba dia akan memberi taufik kepada hambaNya tersebut untuk beramal saleh setelahnya. Sebagaimana ucapan salah seorang dari mereka (ulama salaf), “Ganjaran perbuatan baik adalah (taufik dari Allah Azza wa Jalla untuk melakukan) perbuatan baik (setelahnya).” Maka barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan lalu ia mengerjakan amal kebaikan lagi setelahnya, ini merupakan pertanda diterimanya amal kebaikannya yang pertama (oleh Allah Azza wa Jalla). Sebaliknya siapa saja yang mengerjakan amal kebaikan lalu melakukan perbuatan buruk (setelahnya), maka ini merupakan pertanda tertolak dan tidak diterimanya amal kebaikannya tersebut. (Latha’iful Ma’arif hal. 311).

Semoga uraian di atas, yang berkenaan dengan tanda diterimanya amal saleh mampu menginspirasi setiap Mukmin untuk lebih hati-hati beramal tanpa memviralkannya di dunia maya atau nyata demi menjaga keikhlasan serta berupaya beramal kontinu meskipun sedikit karena ini melanggengkan dalam beramal saleh dan dicintai Allah Azza wa Jalla.

Penulis; Isruwanti Ummu Nashifa