Laman

Minggu, 29 September 2013

Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad Al-Husayni Al-Uwaysi Al-Bukhari.


 
SILISILAH GURU2 KU

Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad Al-Husayni Al-Uwaysi Al-Bukhari. Ia lahir di Qasrel Arifan, sebuah desa di kawasan Bukhara, Asia Tengah, pada bulan Muharram tahun 717 H/1317 M. Nasabnya bersambung kepada Rasulullah SAW melalui Sayyidina Al-Husain RA. Semua keturunan Al-Husain di Asia Tengah dan anak benua India lazim diberi gelar shah, sedangkan keturunan Al-Hasan biasa dikenal dengan gelar zadah dari kata bahasa Arab saadah (bentuk plural dari kata sayyid) sesuai dengan sabda Rasulullah SAW tentang Al-Hasan RA, ”Sesungguhnya anakku ini adalah seorang sayyid.” Shah Naqshaband diberi gelar Bahauddin karena berhasil menonjolkan sikap beragama yang lurus, tetapi tidak kering. Kemudian, sikap beragama yang benar, tetapi penuh penghayatan yang indah.

Pada masanya, tradisi keagamaan Islam di Asia Tengah berada di bawah bimbingan para guru besar sufi yang dikenal sebagai khwajakan (bentuk plural dari ‘khwaja’ atau ‘khoja’ dalam bahasa Persia berarti para kiai agung). Dan, pembesar mereka adalah Khoja Baba Sammasi yang ketika Muhammad Bahauddin lahir, ia melihat cahaya menyemburat dari arah Qasrel Arifan, yaitu saat Sammasi mengunjungi desa sebelah.

Sammasi lalu memberitahukan bahwa dari desa itu akan muncul seorang wali agung. Sekitar 18 tahun kemudian, Khoja Baba Sammasi memanggil kakek Bahauddin agar membawanya ke hadapan dirinya dan langsung dibaiat. Ia lalu mengangkat Bahauddin sebagai putranya.

Sebelum meninggal dunia, Baba Sammasi memberi wasiat kepada penggantinya, Sayyid Amir Kulali, agar mendidik Bahauddin meniti suluk sufi sampai ke puncaknya seraya menegaskan, “Semua ilmu dan pencerahan spiritual yang telah kuberikan menjadi tidak halal bagimu kalau kamu lalai melaksanakan wasiat ini!”

Meniti jalan spiritual
Bahauddin pun berangkat ke kediaman Sayyid Amir Kulali di Nasaf dengan membawa bekal dasar yang telah diberikan oleh Baba Sammasi. Sammasi menyatakan jalan tasawuf dimulai dengan menjaga kesopanan tindak-tanduk dan perasaan hati agar tidak lancang kepada Allah, Rasulullah, dan guru.

Bahauddin juga percaya bahwa sebuah jalan spiritual hanya bisa mengantarkan tujuan kalau dilalui dengan sikap rendah hati dan penuh konsistensi. Karena itu, melakukan makna eksplisit dari sebuah perintah barangkali harus diundurkan demi menjaga kesantunan.

Inilah yang dilakukan oleh Bahauddin ketika dihentikan oleh seorang lelaki berkuda yang memerintahkan dirinya agar berguru pada orang tersebut. Dengan tegas, tetapi sopan; ia menolak seraya menyatakan bahwa dia tahu siapa lelaki itu. Masalah berguru kepada seorang tokoh adalah persoalan jodoh; meskipun lelaki berkuda tadi sangat mumpuni, ia tidak berjodoh dengan Bahauddin.

Setelah tiba di hadapan Sayyid Amir Kulali, Bahauddin langsung ditanya mengapa menolak perintah lelaki berkuda yang sebenarnya adalah Nabi Khidir AS? Beliau menjawab, “Karena, hamba diperintahkan untuk berguru kepada Anda semata!”

Di bawah asuhan Amir Kulali, Bahauddin mengalami berbagai peristiwa yang mencengangkan. Di antaranya, beliau pernah ditangkap oleh dua orang tak dikenal dan dikirimkan ke makam seorang wali. Di sana, dia mendapatkan lentera yang minyaknya masih banyak dan sumbunya juga masih panjang, tetapi apinya hampir padam.

Bahauddin mendapat ilham untuk menggerakkan sedikit sumbu itu agar aliran bahan bakar menjadi lancar. Dengan khusyuk, ia melakukannya, tahu-tahu sekat pembatas antara dunia nyata dan alam barzakh terbuka di hadapan beliau. Di balik tabir ruang dan waktu itu, Bahauddin mendapatkan semua mahaguru khawajakan yang sudah meninggal dunia, termasuk guru pertamanya, Khoja Baba Sammasi.

Oleh salah seorang guru mereka, Bahauddin dihadapkan kepada kepala aliran khawajakan, yaitu Khoja Abdul Khaliq Gujdawani. Dari mahaguru yang agung ini, Bahauddin mendapatkan bimbingan langsung dalam meniti suluk sufi. Sejak saat itu, Bahauddin dikenal dengan gelar Al-Uwaysi karena mendapatkan pelajaran spiritual langsung dari seorang guru yang sudah meninggal dan tidak pernah ditemuinya di dunia. Hal ini sama dengan Uways Al-Qarny, seorang tabiin yang mendapatkan pelajaran spiritual langsung dari roh Sayyidina Rasulillah SAW.

Di bawah bimbingan Amir Kulali pula, Bahauddin terus mempraktikkan semua ajaran Abdul Khaliq Gujdawani, sebagaimana beliau juga mempelajari dengan tekun ilmu-ilmu Islam lainnya, khususnya akidah, fikih, hadis, dan sirah Nabi SAW.

Dan, karena wasiat dari Baba Sammasi, tidak heran kalau Amir Kulali memberikan perhatian khusus kepada Bahauddin. Setelah semua ilmu dan pencerahan spiritual yang ada pada gurunya diserap habis, Sayyid Amir Kulali memerintahkan Bahauddin untuk mengembara seraya menunjuk ke puting dadanya dan berkata, “Semua yang ada di sumber ini sudah habis kamu sedot, maka mengembaralah!”

Bahauddin kemudian belajar kepada beberapa mahaguru lain, seperti Khoja Arif Dikkarani dan Hakim Ata, hingga beliau menjadi mahaguru sufi terbesar yang pernah muncul dari kawasan Asia Tengah (sekarang adalah negara-negara persemakmuran bekas USSR), Persia, Turki, dan Eropa Timur. Beliau meninggal pada malam Senin, 3 Rabiul Awwal 791 H/1391 M.

Karena di dadanya terukir Lafdzul Jalalah (Allah) yang bercahaya, ia dikenal juga sebagai “Naqshaband” (bahasa Persia yang berarti: gambar yang berbuhul). Dan, kepada beliau, dinisbahkan Tarekat Naqshabandiyah yang merupakan salah satu tarekat terbesar di dunia. Tarekat ini tersebar luas di Turki, Hejaz, kawasan Persia, Asia Tengah, serta anak benua India dan Indonesia.

Adanya Tarekat Naqshabandiyah ternyata mampu mempertahankan identitas keislaman di Asia Tengah dan Eropa Timur, di tengah prahara komunisme yang menerpa selama lebih dari setengah abad. Para pemimpin kebangkitan Islam di Turki, seperti Erbakan dan Erdogan, juga berafiliasi kepada tarekat ini. Bahkan, akhir-akhir ini, Tarekat Naqshabandiyah memainkan peranan sangat penting dalam penyebaran Islam di Eropah dan Amerika.

Sementara itu, di Indonesia, ada beberapa cabang Tarekat Naqshabandiyah, seperti Khalidiyah, Mujaddidiyah, dan Muzhariyah. Yang terbesar adalah Tarekat Qadiriyah-Naqshabandiyah yang–sesuai namanya–merupakan hasil simbiosis dua tarekat terbesar di dunia.

Mengembalikan Esensi Tasawuf
Shah Naqshaband muncul untuk merevitalisasi perilaku beragama dengan mengajak kembali kepada tradisi yang hidup pada zaman Nabi SAW. Bagi Shah Naqshaband, hakikat sebuah tarekat adalah penerapan ajaran syariat dalam wujud yang paling sempurna dan konsisten. Sementara itu, hakikat adalah terealisasikannya “maqam kehambaan” seorang anak manusia di hadapan Allah semata.

Shah Naqshaband menyatakan bahwa tasawuf adalah inti agama dan inti terdalam dari tasawuf itu sendiri adalah muraqabah, musyahadah, dan muhasabah. Muraqabah adalah melupakan segala sesuatu yang selain Allah dengan hanya memfokuskan hati dan perbuatan hanya kepada-Nya.

Musyahadah adalah menyaksikan keagungan dan keindahan Allah dalam seluruh eksistensi. Sementara itu, muhasabah adalah instropeksi diri yang terus-menerus agar tidak lalai dari jalan yang mulia ini. Dengan ketiga inti tasawuf itu, hati seorang saleh terus hidup dan dihidupkan oleh zikir dan kebersamaan bersama Allah dalam setiap detak jantung dan embusan napasnya sampai dia tertidur sekalipun!

Agar mencapai maqam tersebut, seorang saleh harus menjalani pelatihan di bawah bimbingan seorang mahaguru spiritual. Dialah yang akan mengajarkannya prosesi berzikir dalam hati sesuai dengan firman Allah, “Dan, sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan penuh kesungguhan dan rasa takut (akan tidak diterima amal perbuatanmu), tanpa mengangkat suara pada siang dan sore hari dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah” (QS Al-A`raaf: 205).

Zikir dalam hati dipilih karena silsilah utama tarekat ini bersambung melalui Abu Bakar Ash-Shiddiq. Metode zikir ini diajari oleh Rasulullah dan berbeda dengan tarekat lain yang semuanya bersambung melalui Ali bin Abi Thalib yang diajari berzikir dengan menggunakan suara jelas. Zikir dalam hati adalah ibadah yang terbesar (sesuai dengan bunyi tekstual QS Al-`Ankabuut: 45) dan bisa dilaksanakan dalam keadaan apa pun.

Zikir dalam hati yang dilakukan oleh seorang Naqsyabandi menggunakan Lafdzul Jalalah (Allah) dan Laa Ilaaha illalLaah yang dilafalkan dengan cara tertentu sebagaimana diajarkan langsung oleh seorang mahaguru sufi (syekh). Dengan prosesi zikir ini, seorang Naqshabandi meniti tangga-tangga makrifat.

Shah Naqshaband pernah menyatakan bahwa shalat adalah titian spiritual yang paling efektif bagi seorang saleh asalkan shalatnya khusyuk. Untuk mewujudkannya, seorang saleh diharuskan mengonsumsi makanan yang halal baginya dan tidak pernah lalai mengingat atau “bersama” dengan Allah dalam kesehariannya, lebih khusus lagi saat berwudhu serta bertakbiratul ihram.

Di sisi lain, bertasawuf bagi Shah Naqshaband adalah sebuah perilaku sosial yang positif. Bukan sekadar berbudi pekerti yang luhur, melainkan juga berbuat kebajikan kepada sesama makhluk Allah. Seorang saleh tidak boleh merasa dirinya lebih mulia dari seekor anjing sekalipun. Dia juga selalu siap mengulurkan tangan kepada siapa pun yang membutuhkan bantuan. Bahkan, bantuan tersebut bukan sekadar diberikan dalam bentuk material semata, tetapi juga rohaniah dan spiritual.

Selain itu, bertasawuf juga berarti menghormati waktu. Shah Naqshaband pernah menegaskannya dalam bahasa Persia, “Orang yang berakal pasti tidak suka berkawan dengan seorang yang suka menunda-nunda pekerjaan jika mampu dilakukannya hari ini.” Waktu harus digunakan untuk ibadah dalam pengertiannya yang paling komprehensif: berbuat kebajikan, baik yang ritual maupun yang sosial. Dan, tidak boleh ada waktu yang berlalu sedetik pun tanpa yakin bahwa kita selalu “mengingat” dan “bersama” Allah.

Dengan demikian, bertasawuf bagi Shah Naqshaband adalah mewujudkan ketundukan penuh kepada Nabi Muhammad SAW secara paripurna: menjalankan perintahnya, menghindari larangannya, meneladani perbuatannya, dan menghayati spiritualitasnya, sesuai dengan ajaran Islam menurut mazhab ahlussunnah wal jamaah.

Tidak heran kalau banyak ulama yang mengakui bahwa Tarekat Naqshabandiyah adalah saripati semua tarekat sufi. Dan, barang siapa yang suluknya tidak sesuai dengan ajaran Shah Naqshaband di atas berarti sudah keluar dari jalur yang benar meskipun mengaku sebagai pengikut beliau.

Shah Naqshaband pernah menegaskan, “Tasawuf adalah syariat. Dan, barang siapa yang mengaku sebagai pengikut tasawuf, tetapi tidak menerapkan syariat, berarti dia telah tersesat!”

Syekh Abdul Rahman Al Khalidi yang bernama kecil Alam Basifat. Syekh Abdul Rahman Al Khalidi


 
Silsilah saya dari kakek guru (langsung)
Illa hadroti Nabiyil Musthofaa Syafa’ati Rosulilallahi Solallahu ‘Alahi Wasallam
Wa Azawaajihi, Wa Auladiihi, Wa Dzurriyatihii, Wa Ahli Baitihi, Wa Ashaabihii, Wa tabi’inna, Wa Tabi’in, Humbi Ihsanin ilayaw Midhin Syaiu Lillahi Lahumul Fatihah....

Illahii… Anta Maqsuudii Waridhoka Mathluubii ‘Atini Mahabataka Wama’rifataka
Illahi… Ampunilah dosa-dosa dan kesalahan guru-guru kami, terimalah amal baiknya, lipatkan pahalanya…rahmatilah dan sejahterakanlah mereka.
Illahii… Tempatkanlah guru-guruku disisi-Mu bersama para Nabi-nabi-Mu dan Wali-wali-Mu juga para syuhada…
Illahii….Bersihkanlah hati kami sebagaimana Engkau membersihkan hati guru-guru kami, dan tanamkanlah niat baik dan suci dihatiku seperti Engkau tanamkan niat baik di hati para guru-guruku
Illahii… Hidupkanlah kami dalam selalu mengingat, mengenal dan mencintai-Mu
Illahii… Matikanlah kami dalam selalu mengingat dan mengenal-Mu dalam keridhoan-Mu.
Illahii.... Bangkitkanlah kami dalam selalu mengingat dan mengenal-Mu dipadang mahsyar nanti dalam naungan-Mu, dengan Syafa’at Baginda Besar Rasulullah SAW.

Berkat rahmat-Mu illahi… berkat Syafa’at Baginda besar Rasulullah SAW… berkat Tarekat Samaniyah,Naqsyabandiyah,.. berkat doa Ruhaniyah guru-guruku,para alim ulama,kaum muslimin muslimat.. berkat keridhoan kedua Orangtuaku..kabulkanlah.. amin Allahumma amiin…

***************************
Syekh Abdul Rahman Al Khalidi yang bernama kecil Alam Basifat. Syekh Abdul Rahman Al Khalidi adalah seorang ulama yang menyebarkan tarekat Samaniyyah dan Naksyabandiyah di seluruh ranah Minang dan menyebar di seluruh pulau Sumatra dan pulau Jawa dan sebahagian di Kalimantan dan Malaysia.Almarhum juga pencipta ahli seni bela diri silat kumango(silek Tuo),yang sekarang di Indonesia telah banyak mengalami modifikasi dengan berbagai simbol.Beliau juga disebut sebagai "Syaikh Kumango".Silat kumango di zamannya sempat menjadi salah satu unsur yang sangat erat kaitannya dengan kedudukan sosial seseorang. Artinya, dengan menguasai Silat Kumango, seseorang akan dihormati karena ia mempunyai strata sosial yang tinggi dalam masyarakat. Oleh karena itu, para orang tua banyak yang mendorong anak laki-lakinya yang berumur 5—10 tahun untuk mempelajarinya agar kelak menjadi orang yang terpandang dan disegani di dalam masyarakatnya.

Konon, sebelumnya Syekh Abdul Rahman Al Khalidi pernah menjadi seorang parewa (preman) yang malang-melintang selama 15 tahun.

Suatu saat ia bertemu dengan Syekh Abdurrahman, kemudian menekuni ajaran agama Islam, dan menjadi seorang ulama.

Oleh karena Syekh Abdul Rahman Al Khalidi adalah penganut dan sekaligus penyebar tarekat Samaniyyah dan Naksyabandiyah

ni silsilah keilmuan yang saya pegang dan saya terima :
Tarikat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah:

19.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh As Sayyid Bahauddin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad As-Syarif Al-Husaini Al-Hasani Al-uwaisi Al-Bukhari q s.Beliau adalah Imam dari Tarikat Naqsyabandiyah.
20.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad ’Alauddin Ath-Hari Al-Bukhari Al-Khawarizmi q s.
21.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Ya’kub Al-Jarakhi q s.
22.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Nashiruddin ‘Ubaidullah Al-Ahrar As-Samarqandi bin Mahmud Syihabuddin q s.
23.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad Az Zahid q s.
24.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Darwisy Muhammad As-Samarqandi q s.
25.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad Al-Khawajaki As-Samarqandi q s.
26.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muayyiddin Muhammad Al-Baqi Billahi q s.
27.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Ahmad Al-Faruqi As-Sirhindi q s.
28.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad Ma’sum q s.
29.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad Syaifuddin q s.
30.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Asy Syarif Nur Muhammad Al-Badawani q s.
31.Al‘Arif Billah Asy Syaikh Syamsuddin Habibullah Jani Jaanani Mushir Al-’Alawi q s.
32.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh ’Abdullah Dahlawi Al-’Alawi q s.
33.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Dhiyauddin Khalid Al-Utsmani Al-Kurdi q s.
34.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Sulaiman Affandi q s Jabal Qubais,Mekkah Al-Mukaromah.
35.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Al-Karim Ibrohim bin pahat q s Kumpulan,Lubuk Sikaping.
36.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad Sholeh q s Padang kandis,Payakumbuh.
37.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Mudo ’Abdul Qodim q s Belubus,Payakumbuh.(KAKEK GURU LIHAT FOTONYA)
38.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Angku Dukun Juti q s Sungai naniang,Payakumbuh.
39.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Ilyas Tengku Rahman q s pandam gadang,Payakumbuh.
40.Hamba Allah yang dhoif,yang tiada daya melainkan dari pertolongan-Nya,hamba nan fakir,Angku Mudo Prolando Kamal Al-Khalidi An-Naqsyabandi , Napar,Payakumbuh.

Tarikat Sammaniyah Al-Qodiri Khilawatiyah :

33.Al‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad bin Abd Al-Karim Al-Samman Al-Madani q s. Beliau adalah Imam dari Tarikat Sammaniyah
34.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Hasib q s
35.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Sayyidina Abu Al-Hasan q s
36.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Sayyidina Muhammad Amin bin Ahmad Ar-Ridwan Al-Madinah Ar-Rasul q s.
37.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Abd Al-Rahman Al-Kholidi bin Al-Khatib Al-Alim Al-Kumangowiyah q s.
38.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Mudo ’Abdul Qodim q s Belubus,Payakumbuh.
39.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Angku Dukun q s Sungai naniang,Payakumbuh.
40.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Ilyas Tengku Rahman q s Pandam gadang,Payakumbuh.
41.Hamba Allah yang dhoif,yang tiada daya melainkan dari pertolongan-Nya,hamba nan fakir,para murid2 di diseluruh nusantara

Sungguh tiada saya bermaksud sombong,apalagi ria dengan memperlihatkan silsilah keilmuan saya,kalau memakai ria hati maka sia-sia sajalah saya mengajak saudara-saudara semua yang ada membaca thread ini.Selaku hamba yang lemah dan penuah dosa serta khilaf maka kepada Allah saya mohon ampun,dan kepada saudara sekalian saya meminta maaf bila ada yang salah dalam penyampaian saya yang tidak berkenan dihati saudara sekalian.
Mohon maaf lahir & batin . Wasalamualikum wr wb

Ilahi anta maksudi waridhoka mathlubi
Disusun oleh:

Mudiak.Payakumbuh,SUMBAR.
By:Angku Mudo.

Pakai Mobil JIHAD yang Berbahan Bakar ISTIQOMAH, dengan Sopir KEIKHLASAN, Lewat Jalan IMAN, jangan lupa bawa peta QUR"AN & SUNNAH, juga Bekal TAQWA....