Laman

Selasa, 18 Januari 2022

ZIKIR MAKRIFAT

Bagaimana cara berdzikir kepada Allah SWT sehingga kita siap untuk bertemu denganNYA?


Dzikir adalah sebuah aktivitas yang kaya akan aspek esoteris. Ia adalah bagian laku yang harus ada dalam sebuah perjalanan suluk menempuh jalan ruhani untuk mendekatkan diri dengan Tuhan Semesta Alam. 

Dalam praktiknya, berdzikir harus mengikuti aturan-aturan dan adab tertentu sesuai dengan cara yang dituntunkan oleh para guru spiritual sepanjang masa. 


Pada kesempatan kali ini, akan dipaparkan adab berzikir dan tata cara zikir dengan harapan agar kita mendapatkan pengetahuan bagaimana berdzikir yang khusyuk agar kita bisa bertemu Allah SWT.


1. Membaca lafaz LA ILAHA ILLA ALLAH. 

Artinya: Tiada Tuhan selain Allah. 

Zikir ini disebut zikir NAFI ISBAT. Paling tidak dibaca 100 kali setiap hari terutama dibaca setelah sholat fardhu. Khususnya setelah Maghrib, Isya dan setelah sholat subuh. 

Lafaz ILLA ALLAH ini disebut Isbat yang artinya pengecualian atas segala sesembahan kecuali hanya Allah SWT.


2. Membaca lafaz ALLAHU. Zikir ini disebut ISMU AL-ASMA, dibaca sebanyak 33 kali sehabis sholat fardhu, terutama setelah sholat Isya.


3. Membaca lafaz zikir HUWA ALLAH. Zikir inilah yang disebut sebagai zikir GHAIB AL ISMI. Zikir ini dibaca setiap hari sebanyak 33 kali, setelah sholat fardhu, terutama setelah sholat Isya.


4. Membaca zikir HUWA, HUWA. Zikir ini disebut sebagai zikir GHAIB AL GHAIB. Zikir ini dibaca sebanyak 34 kali setelah sholat fardhu, sehingga jumlahnya (total item 2,3,4) sebanyak 100 kali.


Adapun gerakan dalam melafazkan zikir NAFI ISBAT tersebut haruslah mengikuti aturan sebagai berikut:


1. Ketika membaca lafaz LA, maka dengan gerakan kepala, lafaz LA tersebut dimulai dari bahu kiri menuju ke bawah ke arah perut, kemudian diputarkan mengelilingi tali pusat lalu diteruskan ke arah atas menuju bahu kanan;


2. Pada waktu berada di bahu kanan itulah lafaz ILAHA diucapan sambil kepalanya dimiringkan ke arah belikat kanannya;


3. Sambil kepala ditekan ke arah hati sanubarinya, lafaz ILA ALLAH diucapkan dengan penekanan pada sudut kiri bawah dada.


TIGA TAHAP BERDZIKIR


Ada tiga tahap adab berdzikir. 


Pertama, ada lima perkara sebelum berdzikir. Kedua, dua belas perkara pada saat mengerjakan zikir dan ketiga, ada tiga perkara setelah berdzikir.


Lima perkara yang harus dilakukan sebelum berdzikir adalah sebagai berikut:


1. Bertaubat kepada Allah SWT


2. Mandi atau mengambil air wudhu


3. Diam sambil mengkonsentrasikan diri pada zikir dengan mengikhlaskan hati sebelum berdzikir


4. Hatinya meminta tolong kepada para wali-wali Allah


5. Hatinya meminta tolong kepada Nabi Muhammad SAW.


Sedangkan dua belas perkara saat berzikir adalah sebagaoi berikut:


1. Duduk bersila di tempat yang suci


2. Meletakkan kedua tangan di atas kedua paha


3. Membuat bau harum di tempat zikir


4. Memakai pakaian yang halal dan pakai wangi-wangian


5. Pilih tempat yang tenang dan sunyi


6. Pejamkan mata


7. Bayangkan wajah wali Allah di antara kedua mata agak maju ke depan


8. Tetap istiqomah baik dalam keadaan ada orang maupun sepi


9. Tulus ikhlas hatinya saat berdzikir


10. Dzikir utama adalah LA ILAHA ILLA ALLAH


11. Berusaha menghadirkan ALLAH SWT dalam setiap mengucapkan dzikir LA ILAHA ILLA ALLAH


12. Meniadakan wujud lain selain Allah.


Sedangkan tiga macam adab lainnya setelah selesai berdzikir adalah:


1. Diam sejenak sesaat setelah usai melakukan dzikir dan tetap diam di tempat


2. Mengatur dan mengembalikan nafas seperti semula


3. Menahan diri untuk minum air

Sangat dianjurkan untuk melakukan pemutihan diri dari semua amalan negatif sebelum menjalankan ritual dzikir. 

Caranya adalah menjalankan PUASA selama 7 hari. Usai menjalankan puasa baru kemudian menjalankan amalan zikir rutin. 


Bagi para pejalan spiritual yang ingin lebih mendalami laku suluknya, maka disarankan untuk melakukan dzikir dengan cara:


1. BERTAPA (Uzlah). 

Ini adalah syarat agar laku suluk kita semakin bagus. Uzlah adalah mengasingkan diri untuk sementara waktu dari keramaian dan dari pergaulan sehari-hari. Ini biasa dilakukan oleh murid-murid tarekat di masa silam. Bila anda berkesempatan untuk uzlah, silahkan pergi ke gunung atau hutan dan carilah sebuah gua. Siapkan bekal makan dan minum yang cukup untuk sekian lama Anda inginkan. Pedoman selesainya uzlah adalah KEMANTAPAN HATI setelah bertemu dengan apa yang dicari. Namun kini, uzlah dianggap terlalu berat sehingga sebagai penggantinya adalah menjauhkan diri dari segala bentuk perbuatan maksiyat dan terlarang syariat.


2. NGAWULO (Mengabdi). 

Mengabdi pada “sang guru” selama berbulan-bulan atau mungkin juga hingga bertahun-tahun. Dalam konteks sekarang, cukup kita mengabdi kepada instruksi-instruksi yang diyakini benar dan tawadhu’ (merendahkan diri) untuk tidak mengaku dirinya paling benar dibanding diri yang lain.


3. AMAL SHOLDAQOH. 

Mengadakan amal shodaqoh dan infaq sesuai dengan kemampuan. Ini sebuah bentuk pengorbanan dan kerelaan melepaskan apa yang dimiliki karena sesungguhnya kita hakekatnya tidak memiliki apa-apa. Hanya DIA yang Maha Memiliki.

Dalam keadaan bersih lahir batin dan untuk sementara mengosongkan diri dari pengaruh duniawi itulah kita menghadap Sang Khalik Yang Maha Suci. 

Saat bersuluk ini, kita diharapkan untuk selalu menjauhi pikiran kotor dan suci dari batin yang penuh prasangka negatif (suudzon) dan menggantinya dengan prasangka baik (husnudzan) kepada Allah dan kita yakin bahwa hanya DIA-lah sebaik-baiknya tempat bergantung. 


HASBUNA ALLAH WA NI’MAL WAKIL, NI’MAL MAULA WA NI’MA N-NASIR (Cukuplah Allah sebagai tempat bersandar bagi kami dan Dialah tempat memohon pertolongan manusia). 


Apa yang akan terjadi bila kita sudah melengkapi laku suluk mulai Dzikir dan Uzlah secara lengkap? 


Silahkan ditunggu kejadian-kejadian gaib luar biasa yang akan merubah hidup Anda selamanya.


Sekiranya tiada apa-apa tanda teruskanlah berzikir... ubudiah kerana Allah semata-mata.

Mati ada Empat.

 Bismillah, 

Mati Syariat = Mati Tabi'i. 

Mati Thariqot = MATI Ma'nawi. 

Mati Haqiqat = Mati Suri.

MATI Ma'rifat = Mati Hissi. 


Pertama. Mati Tabi'i adlh mati panca indra yg lima, seluruh anggota tubuhnya secara lahir dan bathin telah membaca Allah Allah dan suara alam ini seolah berdzikir dan terdengar membaca kalimat Allah Allah, berdzikir dgn sendirinya, hingga yg tinggal hanyalah rasa rindu terhadap Allah. Orang yg telah merasakan Mati Tabi'i itulah orang yg telah sampai dgn Rahmat Allah pd maqam tajali Af'alullah (nyata perbuatan Allah Swt) .


2.Mati Ma'nawi adlh merasakan dirinya lahir dan bathin telah hilang dan seluruh alam telah lenyap semuanya, yg ada hanyalah kalimat Allah, Allah se-mata2 dimanapun ia memandang, kalimat Allah yg ditulis dgn Nur Muhammad. Orang yg telah merasakan mati Ma'nawi itulah orang yg telah sampai dgn Rahmat Allah pd maqam Asma Allah Swt atau biasa disebut maqam Tajali Asma (nyata nama Allah), nama dgn yg punya nama tdk terpisahkan sedikitpun.

Dgn nama Allah Swt, yg tdk memberi mudhorot / binasa dilangit dan dibumi dan Dia Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.


3.Mati Suri adlh didlm perasaan orang itu telah lenyap segala warna-warni, yg ada hanya Nur se-mata2 yaitu Nurullah, Nur Dzatullah, Nur Sifatyllah, Nur Asma ALLAH, Nur Af'alullah, Nur Muhammad, Nur Baginda Rasulullah, Nur Samawi, Nur 'Ala Nur. Inilah orang yg telah diberi pelita oleh Allah untk meluruskan jalannya. Orang yg telah merasakan mati Suri itulah orang yg telah sampai dgn Rahmat Allah pd maqam Tajali Sifatullah (nyata Sifat Allah).


4.Mati Hissi adlh dlm perasaannya telah lenyap kalimat Allah dan telah lenyap pula seluruh alam ini secara lahir dan batin, dan telah lenyap pula Nur yg tadinya terang benderang yg ada dan dirasakannya adlh Dzat Allah Swt, bahkan dirinya sendiripun dirasakannya hilang musnah, ia telah dibunuh Allah Swt, dan Dialah sebagai gantinya.


Firman Allah Swt didlm hadits qudsy : Bahwasannya hambaKu apabila Aku  telah Kasihi, Aku bunuh ia, lalu apabila telah Aku bunuh mk Akulah sebagai gantinya.

Mk langkahnya se-olah2 langkah Allah, pendengarannya artinya pendengaran Allah, penglihatannya artinya penglihatan Allah, geraknya kehendak Allah, perbuatannya artinya perbuatan Allah. Orang yg telah mendapatkan mati Hissi, ia akan melihat Allah Swt dlm perasaannya.


Firman Allah (QS Al-Baqarah 115): Timur dan Barat kepunyaan Allah Swt, kemana kamu menghadap mk disanalah ada wajah Allah.

Wassalam

FANA BIL BAQO'

الســـــــلام عليــكم ورحمة الله وبركاتــــــــــــــه.

Assalaamu'alaykum Warohmatulloohi Wabarokaatuh.


MANUSIA (M-A-N-U-S-I-A).

.

M = Man ( Barang siapa ),

A  = Arofa ( Mengenal ),

N  = Nafsahu ( Akan dirinya ),

U  = Ujudu ( Maka ujudnya ),

S  = Sirr ( Menjadi Rahasia ),

I   = I'tihaj ( Kenyataan ),

A  = An HU ( Akan diriKU ).


MAN AROFA NAFSAHU BIL FANA FAQOD AROFA ROBBAHU BIL BAQO'.


Barang siapa mengenal dirinya yang fana maka dikenalinyalah Alloh yang kekal dan abadi.


FANAFILLAH TABADAL BAQOBILLAH FAQOD MINALLOH.

“Fanafillah terganti Baqobillah sehingga Minalloh”.


– MANUSIA itu ialah DIRI yang menerima PERINTAH RAHASIA, Jadi PERINTAH RAHASIA itu yang dikatakan DIRI.


SIAPA DIRI ?


DIRI terbagi menjadi 3 (tiga), yakni ;

1. DIRI TERDIRI,

2. DIRI TERPERI, dan

3. DIRI SEBENAR DIRI.


1).  DIRI TERDIRI Adalah JASAD INI.

       Dikatakan "Diri Terdiri" karena pada jasad itu diliputi Diri yang lain Yaitu Hakikat Diri.


2).  DIRI TERPERI Adalah RUH.

       Dikatakan Diri Terperi karena didalam jasad itu adanya sesuatu yang Menyatu pada jasad Yaitu Ruh.


3).  DIRI SEBENAR DIRI / HAKIKAT DIRI Adalah YANG DIKATAKAN SIRR ( RAHASIA ALLOH ).

       Dikatakan Diri Sebenar Diri Karena Diri Terperi atau Ruh itu mengandungi Bayang-bayang Wujud Alloh, 


HAQIQAT DIRI ini atau DIRI SEBENAR DIRI ini adalah yang dikatakan SIFAT ASALNYA atau SIFAT WAHDAT yang tiada lain adalah NUR-NYA sendiri yang di beri nama MUHAMMAD atau KUNHI DZAT MUHAMMAD.


Oleh karena itulah yang berhak menaungi seluruh makhluk adalah Muhammad itu sendiri yang bersifat Rahasia atau Nur Muhammad.


Jadi siapa yang pengenalannya sesuai AF'AL-NYA (Perbuatannya), ASMA-NYA (namanya atau ucapannya), SIFAT-NYA (bayang-bayang dzat), DZAT-NYA (yang sebenarnya diri), maka sungguh ia dalam naungan Muhammad yang bersifat rahasia atau Nur Muhammad.


– Jadi RUH itu tiada lain adalah Nur Muhammad.

– Nur Muhammad itulah yang di katakan menaungi Dzahir dan Bhatin sekalian alam dan seluruh makhluk.

– Nur Muhammad itulah kesejatian Makhluk Alloh yang sebenarnya.

– Nur Muhammad itulah yang dikatakan sebenar-benarnya bhatin Hamba. Bhatin inilah yang dikatakan Dzahir Alloh, sebagaimana sabdanya ;

ILAAHI ROBBI DZAHIRU WAL BATHINU ABDI.


Jadi, Nur Muhammad ini adalah Pancaran Nur Alloh dari Wahdatul wujud yang Kamistlihi Syai'un.


Oleh karena itu Para Arifbillah terdahulu mengisyaratkan melalui 4 (empat) metode pembagian agar mudah untuk di fahami dan tidak Aku-akuan oleh ummat-Nya, Yang tiada lain adalah :

1. Dzat-NYA,

2. Sifat-NYA,

3. Asma'-NYA, dan

4. Af'aal-NYA.


Dzat, Sifat, Asma', Af'al yang ada pada sekalian makhluk, yang kenyataannya adalah Nur Muhammad daripada Dzat, Sifat, Asma dan Af'al dari Tajalli Alloh sendiri.


– Nur Muhammad itu tiada lain adalah Rahasia Sifat Wahdat.

– Nur Muhammad itulah Pendzahiran atau Kenyataan ( Tajalli ALLOH itu sendiri ).


Siapa yang mengenal Diri dengan ma'rifat, Maka tidak ada yang lain hanya Alloh dan Muhammad.


– Awal Muhammad itulah Nurani Yaitu RUH pada kita.

– Akhir Muhammad itulah Ruhani Yaitu Hati pada kita.

– Dzahir Muhammad itulah Insani Yaitu Jasad pada kita ( Bagaimana Rupa jasad begitulah Rupa ruh kita ).

– Bathin Muhammad itulah Robbani Yaitu Sirr atau Rahasia pada kita ( Tiada sekutu Tiada bercerai )


BERLAKU JUGA SEBAGAI SYAHADAT DIRI :

– Muhammad itu bayangan Wujud Alloh.

– Yang sebenar-benarnya bayangan itulah yang Punya bayangan pada jasad kita.

– Bayangan dan M'pu-nya bayang menyatu Tiada sekutu.


Jadi jelas bahwa ALLOH itu Maha Suci ( Layisa Kamistlihi Syai'un ),

Bayangan-NYA itulah NUR MUHAMMAD yang tiada lain Pendzahiran ALLOH.


Sungguh berdosa diri ini jika tidak mengetahui atau mengenal akan DIRI dan SEBENAR DIRI dengan sesuai, maka senantiasa hidupnya akan selalu dalam keadaan berdosa dan terjerat ke-AKU-an.


Walloohu A'lam......

SIAPAKAH RIJALUL GHAIB

 Rijalul Ghaib adalah makhluk ciptaan Allah yang tidak kasat mata yaitu tidak tampak oleh mata manusia. Tugasnya adalah untuk menjalankan perintah Allah dalam membantu manusia memenuhi segala hajat dan keperluannya.

Tentang Rijalul ghaib ini pernah di sebutkan oleh Imam Ahmad Al Buni dalam kitabnya Manba Ushulul Hikmah halaman 230 mengatakan:


“Ketahuilah, bahwa Allah Yang Maha Agung dan Maha Tinggi dengan kemurahan-Nya yang besar terhadap manusia, Dia ciptakan ruh-ruh dari bangsa malaikat yang berkeliling ke seluruh pelosok bumi, membantu orang-orang yang mempunyai hajat, supaya hajatnya itu terpenuhi dan keinginannya tercapai. Barang siapa yang bertepatan waktu hajatnya dengan arah tempat mereka berada, kemudian berdoa kepada Allah Ta’ala, mereka akan mengaminkan doanya itu, maka doa akan dikabulkan dan permintaannya akan diperolehnya.’’ Ada petunjuk atau cara untuk mengetahui posisi Rijalul Ghaib itu tiap-tiap dalam sebulan (menurut perhitungan bulan Hijriah). Posisi tempat keberadaan mereka itu selalu berpindah-pindah.


"LA TAHSABANNAL LADZI QUTILUU FI SABILILLAHI AMWATAN, BAL AHYAUN INDA ROBBIHIM YURZAQUNA" (ALI IMRON : 169)

”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu MATI bahkan mereka itu hidup di sisi tuhannya dengan mendapat rezqi “


Kehidupan mereka yang dimaksudkan adalah alam yang lain, bukanlah alam dunia ini, mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, Dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan kehidupan nya itu.

Dari kitab Jawahir Al-Khomsi Syeikh Khotiruddin Bayazid Al-Khowajah dan Kitab Jami’u Karomatil Aulia kepunyaan Syeikh Yusuf ibni Isma’il An-Nabhani R.A , bahwa Rizalul Ghaib merupakan salah satu pangkat kewalian dari 37 pangkat/Maqom para Wali.

Berikut ini Pangkat/Maqom nya para Aulia Allah :


1. Qutub Atau Ghauts (1 abad 1 Orang)


2. Aimmah (1 Abad 2 orang)


3. Autad (1 Abad 4 Orang di 4 penjuru Mata Angin)


4. Abdal (1 Abad 7 Orang tidak akan bertambah dan berkurang Apabila ada wali Abdal yang Wafat Alloh menggantikannya dengan mengangkat Wali abdal Yg Lain ( Abdal=Pengganti ) Wali Abdal juga ada yang Waliyahnya ( Wanita )


5. Nuqoba’/Naqib (1 Abad 12 orang Di Wakilkan Alloh Masing-masing pada tiap-tiap Bulan)


6. Nujaba’ (1 Abad 8 Orang)


7. Hawariyyun (1 Abad 1 Orang) Wali Hawariyyun di beri kelebihan Oleh Alloh dalam hal keberanian, Pedang (Zihad) di dalam menegakkan Agama Islam Di muka bumi.


8. Rojabiyyun (1 Abad 40 Orang Yg tidak akan bertambah & Berkurang Apabila ada salah satu Wali Rojabiyyun yg meninggal Alloh kembali mengangkat Wali rojabiyyun yg lainnya, Dan Alloh mengangkatnya menjadi wali Khusus di bulan Rajab dari Awal bulan sampai Akhir Bulan oleh karena itu Namanya Rojabiyyun.


9. Khotam (penutup Wali)(1 Alam dunia hanya 1 orang) Yaitu Nabi Isa A.S ketika diturunkan kembali ke dunia Alloh Angkat menjadi Wali Khotam (Penutup).


10. Qolbu Adam A.S (1 Abad 300 orang)


11. Qolbu Nuh A.S (1 Abad 40 Orang)


12. Qolbu Ibrohim A.S (1 Abad 7 Orang)


13. Qolbu Jibril A.S (1 Abad 5 Orang)


14. Qolbu Mikail A.S (1 Abad 3 Orang tidak kurang dan tidak lebih Alloh selau mengangkat wali lainnya Apabila ada salah satu Dari Wali qolbu Mikail Yg Wafat)


15. Qolbu Isrofil A.S (1 Abad 1 Orang)


16. Rijalul ‘Alamul Anfas (1 Abad 313 Orang)


17. Rijalul Ghoib (1 Abad 10 orang tidak bertambah dan berkurang tiap2 Wali Rizalul Ghoib ada yg Wafat seketika juga Alloh mengangkat Wali Rizalul Ghoib Yg lain, Wali Rizalul Ghoib merupakan Wali yang di sembunyikan oleh Alloh dari penglihatannya Makhluq2 Bumi dan Langit tiap2 wali Rizalul Ghoib tidak dapat mengetahui Wali Rizalul Ghoib yang lainnya, Dan ada juga Wali dengan pangkat Rijalul Ghoib dari golongan Jin Mu’min, Semua Wali Rizalul Ghoib tidak mengambil sesuatupun dari Rizqi Alam nyata ini tetapi mereka mengambil atau menggunakan Rizqi dari Alam Ghaib.


18. Adz-Dzohirun (1 Abad 18 orang)


19. Rijalul Quwwatul Ilahiyyah (1 Abad 8 Orang)


20. Khomsatur Rizal (1 Abad 5 orang)


21. Rijalul Hanan (1 Abad 15 Orang)


22. Rijalul Haybati Wal Jalal (1 Abad 4 Orang)


23. Rijalul Fath (1 Abad 24 Orang) Alloh mewakilkannya di tiap Sa’ah (Jam) Wali Rizalul Fath tersebar di seluruh Dunia 2 Orang di Yaman, 6 orang di Negara Barat, 4 orang di negara timur, dan sisanya di semua Jihat (Arah Mata Angin)


23. Rijalul Ma’arijil ‘Ula (1 Abad 7 Orang)


24. Rijalut Tahtil Asfal (1 Abad 21 orang)


25. Rijalul Imdad (1 Abad 3 Orang)


26. Ilahiyyun Ruhamaniyyun (1 Abad 3 Orang) Pangkat ini menyerupai Pangkatnya Wali Abdal


27. Rijalun Wahidun (1 Abad 1 Orang)


28. Rijalun Wahidun Markabun Mumtaz (1 Abad 1 Orang) Wali dengan Maqom Rijalun Wahidun Markab ini di lahirkan antara Manusia dan Golongan Ruhanny (Bukan Murni Manusia), Beliau tidak mengetahui Siapa Ayahnya dari golongan Manusia, Wali dengan Pangkat ini tubuhnya terdiri dari 2 jenis yang berbeda, Pangkat Wali ini ada juga yang menyebut ”Rijalun Barzakh ” Ibunya Dari Wali Pangkat ini dari Golongan Ruhanny Air INNALLOHA ‘ALA KULLI SAY IN QODIRUN ” Sesungguhnya Alloh S.W.T atas segala sesuatu Kuasa.


29. Syakhsun Ghorib (di dunia hanya ada 1 orang)


30. Saqit Arofrof Ibni Saqitil ‘Arsy (1 Abad 1 Orang)


31. Rijalun Ghina ( 1 Abad 2 Orang) sesuai Nama Maqomnya/Pangkatnya Rizalul Ghina ”Wali ini Sangat kaya baik kaya Ilmu Agama, Kaya Ma’rifatnya kepada Alloh maupun Kaya Harta yang di jalankan di jalan Alloh, Pangkat Wali ini juga ada Waliahnya (Wanita).


31. Syakhsun Wahidun (1 Abad 1 Orang)


32. Rijalun Ainit Tahkimi waz Zawaid (1 Abad 10 Orang)


33. Budala’ (1 Abad 12 orang) Budala’ Jama’ nya/Jama’ Sigoh Muntahal Jumu’ dari Abdal tapi bukan Pangkat Wali Abdal


34. Rijalun Istiyaq (1 Abad 5 Orang


35. Sittata Anfas (1 Abad 6 Orang) salah satu wali dari pangkat ini adalah Putranya Raja Harun Ar-Royid yaitu Syeikh Al-’Alim Al-’Allamah Ahmad As-Sibt


36. Rizalul Ma’ (1 Abad 124 Orang) Wali dengan Pangkat Ini beribadahnya di dalam Air di riwayatkan oleh Syeikh Abi Su’ud Ibni Syabil ” Pada suatu ketika aku berada di pinggir sungai tikrit di Bagdad dan aku termenung dan terbersit dalam hatiku “Apakah ada hamba2 Alloh yang beribadah di sungai2 atau di Lautan” Belum sampai perkataan hatiku tiba2 dari dalam sungai muncullah seseorang yang berkata “akulah salah satu hamba Alloh yang di tugaskan untuk beribadah di dalam Air”, Maka akupun mengucapkan salam padanya lalu Dia pun membalas salam aku tiba-tiba orang tersebut hilang dari pandanganku.


37. Dakhilul Hizab (1 Abad 4 Orang) Wali dengan Pangkat Dakhilul Hizab sesuai nama Pangkatnya , Wali ini tidak dapat di ketahui Kewaliannya oleh para wali yang lain sekalipun sekelas Qutbil Aqtob Seperti Syeikh Abdul Qodir Jailani, Karena Wali ini ada di dalam Hizab nya Alloh, Namanya tidak tertera di Lauhil Mahfudz sebagai barisan para Aulia, Namun Nur Ilahiyyahnya dapat terlihat oleh para Aulia Seperti di riwayatkan dalam kitab Nitajul Arwah bahwa suatu ketika Syeikh Abdul Qodir Jailani Melaksanakan Towaf di Baitulloh Mekkah Mukarromah tiba-tiba Syeikh melihat seorang Perempuan dengan Nur Ilahiyyahnya yang begitu terang benderang sehingga Syeikh Abdul qodir Al-Jailani Mukasyafah ke Lauhil Mahfudz dilihat di lauhil mahfudz nama perempuan ini tidak ada di barisan para Wali-wali Alloh, Lalu Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani bermunajat kepada Alloh untuk mengetahui siapa Perempuan ini dan apa yang menjadi Amalnya sehingga Nur Ilahiyyahnya terpancar begitu dahsyat , Kemudian Allah memerintahkan Malaikat Jibril A.S untuk memberitahukan kepada Syeikh bahwa wanita tersebut adalah seorang Waliyyah dengan Maqom/ Pangkat Dakhilul Hizab “Berada di Dalam Hizabnya Alloh”, Kisah ini mengisyaratkan kepada kita semua agar senantiasa BerHusnudzon ( Berbaik Sangka ) kepada semua Makhluq nya Alloh, Sebetulnya Masih ada lagi Maqom-maqom Para Aulia yang tidak diketahui oleh kita, Karna Alloh S.W.T menurunkan para Aulia di bumi ini dalam 1 Abad 124000 Orang, yang mempunyai tugasnya Masing-masing sesuai Pangkatnya atau Maqomnya.

Susunan Maqom/Pangkat Para Aulia ini bersumber dari terjemahan kitab Jami’u Karomatil Aulia (Kumpulan Karomah-karomah Para Wali), Perlu di ketahui bahwa Maqomnya para Aulia tidak tetap tapi naik walaupun mereka sudah Meninggal..

ROH TIDAK DAPAT PULANG

Assalamualaikum..

ROH  itu  NYAWA  dan  bilamana Nyawa itu berpisah dgn Jasad ,  maka mati lah Jasad ( pada namanya ).


 Apbla Roh dapat  KEMBALI  SEMULA  kpd  Jasad nya ,  maka Jasad akan  GHAIB. 


 Sebaliknya ,  Roh yg  TIDAK DAPAT PULANG  ke dalam Jasad akan  BERKELIARAN  di bumi ini. Roh ini menanti perintah hukuman Allah.

Oleh sbb kebijaksanaan Allah ,  maka Roh ini akan  DIBERI  LAGI  SIFAT  mengikut  KELAKUAN  semasa hidup nya sebagai manusia dahulu.


 Klu dahulu ia suka  MELAGA-LAGAKAN  ORANG  ,  maka Allah memasukkan nya ke dalam SARUNG  BINATANG.  Sebagai contoh kambing , jumpa sahaja kambing lain ia akan   BERLAWAN  HANTUK  KEPALA  sehingga Roh di dlm kambing itu  MERAUNG  KESAKITAN. 


 Ini adalah  JALAN  PENAMAT  bagi manusia yg  TIDAK  MENGETAHUI  cara mana hendak  MENGEMBALIKAN  NYAWA  SEMULA  ke tempat nya ,  iaitu ke dalam  DIRI  MANUSIA  itu sendiri.

Sebagaimana firman Allah Taala dlm Surah Al-A'raf  ayat :  25


 Allah berfirman lagi :  " Dibumi ini kamu hidup n di bumi ini juga kamu akan dikeluarkan ( dibangkitkan hidup semula pada hari kiamat ). "


 Ini lah dalilnya bahawa manusia yg  MATI  akan  DIHIDUPKAN  SEMULA di muka bumi ini.  Sebagaimana firman Allah Taala dlm Surah Al-Waqi'ah ayat :  87


" Kamu boleh mengembalikan Roh ( Nyawa ) itu ( kpd keadaan sebelumnya  / ke tempat asalnya ) jika kamu orang yg benar ? "


SYURGA hanya klu manusia  DAPAT  KEMBALI  ke dalam Jasad manusia ,  tetapi klu dapat KEMBALIKAN  DIRI  SENDIRI  kpd  ZAT ,  maka inilah  KEBESARAN ,  KEMULIAAN  n  KESEMPURNAAN  YANG  HAQ.


Oleh itu,  sayangi lah rumah ( Jasad )  anda itu,  jgn biarkan ia hancur dimakan oleh cacing n anai2 ... Hargailah ia selalu n berilah perhatian sepenuh kpdnya. Ini kerana anda memperolehnya dgn percuma tanpa apa2 bayaran. 


       Jgn jadi seperti KACANG LUPAKAN KULIT... Jgn sama sekali anda meninggalkan rumah anda itu. Jagalah ia baik2.. Jgn biarkan ia kotor..  Pastikan ia sentiasa bersih, sentiasa nyaman n seronok tinggal di dlmnya.. Apa akan jadi klu rumah anda itu kotor akibat selalu ditinggalkan?


Sudah tentu ia akan dimakan oleh anai2 n dimasuki oleh jin syaitan kerana menyibuk rumah org lain, rumah sendiri ditinggalkan..

Akibatnya,  rumah anda itu rosak n biasa.. Mahukah anda bila balik ke tempat asal anda tak ada rumah.. Nak tinggal kat mana?

 Sbb itu ,  jadikanlah diri anda itu penduduk tetap di rumah anda itu ( mustautin) itu, bkn org yg menumpang ( pendatang asing)  n dihalau selepas mati paspot sehingga terpaksa berkeliaran tanpa rumah...

Minggu, 16 Januari 2022

ZIKIR MAKRIFAT

Bagaimana cara berdzikir kepada Allah SWT sehingga kita siap untuk bertemu denganNYA?


Dzikir adalah sebuah aktivitas yang kaya akan aspek esoteris. Ia adalah bagian laku yang harus ada dalam sebuah perjalanan suluk menempuh jalan ruhani untuk mendekatkan diri dengan Tuhan Semesta Alam. 

Dalam praktiknya, berdzikir harus mengikuti aturan-aturan dan adab tertentu sesuai dengan cara yang dituntunkan oleh para guru spiritual sepanjang masa. 


Pada kesempatan kali ini, akan dipaparkan adab berzikir dan tata cara zikir dengan harapan agar kita mendapatkan pengetahuan bagaimana berdzikir yang khusyuk agar kita bisa bertemu Allah SWT.


1. Membaca lafaz LA ILAHA ILLA ALLAH. 

Artinya: Tiada Tuhan selain Allah. 

Zikir ini disebut zikir NAFI ISBAT. Paling tidak dibaca 100 kali setiap hari terutama dibaca setelah sholat fardhu. Khususnya setelah Maghrib, Isya dan setelah sholat subuh. 

Lafaz ILLA ALLAH ini disebut Isbat yang artinya pengecualian atas segala sesembahan kecuali hanya Allah SWT.


2. Membaca lafaz ALLAHU. Zikir ini disebut ISMU AL-ASMA, dibaca sebanyak 33 kali sehabis sholat fardhu, terutama setelah sholat Isya.


3. Membaca lafaz zikir HUWA ALLAH. Zikir inilah yang disebut sebagai zikir GHAIB AL ISMI. Zikir ini dibaca setiap hari sebanyak 33 kali, setelah sholat fardhu, terutama setelah sholat Isya.


4. Membaca zikir HUWA, HUWA. Zikir ini disebut sebagai zikir GHAIB AL GHAIB. Zikir ini dibaca sebanyak 34 kali setelah sholat fardhu, sehingga jumlahnya (total item 2,3,4) sebanyak 100 kali.


Adapun gerakan dalam melafazkan zikir NAFI ISBAT tersebut haruslah mengikuti aturan sebagai berikut:


1. Ketika membaca lafaz LA, maka dengan gerakan kepala, lafaz LA tersebut dimulai dari bahu kiri menuju ke bawah ke arah perut, kemudian diputarkan mengelilingi tali pusat lalu diteruskan ke arah atas menuju bahu kanan;


2. Pada waktu berada di bahu kanan itulah lafaz ILAHA diucapan sambil kepalanya dimiringkan ke arah belikat kanannya;


3. Sambil kepala ditekan ke arah hati sanubarinya, lafaz ILA ALLAH diucapkan dengan penekanan pada sudut kiri bawah dada.


TIGA TAHAP BERDZIKIR


Ada tiga tahap adab berdzikir. 


Pertama, ada lima perkara sebelum berdzikir. Kedua, dua belas perkara pada saat mengerjakan zikir dan ketiga, ada tiga perkara setelah berdzikir.


Lima perkara yang harus dilakukan sebelum berdzikir adalah sebagai berikut:


1. Bertaubat kepada Allah SWT


2. Mandi atau mengambil air wudhu


3. Diam sambil mengkonsentrasikan diri pada zikir dengan mengikhlaskan hati sebelum berdzikir


4. Hatinya meminta tolong kepada para wali-wali Allah


5. Hatinya meminta tolong kepada Nabi Muhammad SAW.


Sedangkan dua belas perkara saat berzikir adalah sebagaoi berikut:


1. Duduk bersila di tempat yang suci


2. Meletakkan kedua tangan di atas kedua paha


3. Membuat bau harum di tempat zikir


4. Memakai pakaian yang halal dan pakai wangi-wangian


5. Pilih tempat yang tenang dan sunyi


6. Pejamkan mata


7. Bayangkan wajah wali Allah di antara kedua mata agak maju ke depan


8. Tetap istiqomah baik dalam keadaan ada orang maupun sepi


9. Tulus ikhlas hatinya saat berdzikir


10. Dzikir utama adalah LA ILAHA ILLA ALLAH


11. Berusaha menghadirkan ALLAH SWT dalam setiap mengucapkan dzikir LA ILAHA ILLA ALLAH


12. Meniadakan wujud lain selain Allah.


Sedangkan tiga macam adab lainnya setelah selesai berdzikir adalah:


1. Diam sejenak sesaat setelah usai melakukan dzikir dan tetap diam di tempat


2. Mengatur dan mengembalikan nafas seperti semula


3. Menahan diri untuk minum air

Sangat dianjurkan untuk melakukan pemutihan diri dari semua amalan negatif sebelum menjalankan ritual dzikir. 

Caranya adalah menjalankan PUASA selama 7 hari. Usai menjalankan puasa baru kemudian menjalankan amalan zikir rutin. 


Bagi para pejalan spiritual yang ingin lebih mendalami laku suluknya, maka disarankan untuk melakukan dzikir dengan cara:


1. BERTAPA (Uzlah). 

Ini adalah syarat agar laku suluk kita semakin bagus. Uzlah adalah mengasingkan diri untuk sementara waktu dari keramaian dan dari pergaulan sehari-hari. Ini biasa dilakukan oleh murid-murid tarekat di masa silam. Bila anda berkesempatan untuk uzlah, silahkan pergi ke gunung atau hutan dan carilah sebuah gua. Siapkan bekal makan dan minum yang cukup untuk sekian lama Anda inginkan. Pedoman selesainya uzlah adalah KEMANTAPAN HATI setelah bertemu dengan apa yang dicari. Namun kini, uzlah dianggap terlalu berat sehingga sebagai penggantinya adalah menjauhkan diri dari segala bentuk perbuatan maksiyat dan terlarang syariat.


2. NGAWULO (Mengabdi). 

Mengabdi pada “sang guru” selama berbulan-bulan atau mungkin juga hingga bertahun-tahun. Dalam konteks sekarang, cukup kita mengabdi kepada instruksi-instruksi yang diyakini benar dan tawadhu’ (merendahkan diri) untuk tidak mengaku dirinya paling benar dibanding diri yang lain.


3. AMAL SHOLDAQOH. 

Mengadakan amal shodaqoh dan infaq sesuai dengan kemampuan. Ini sebuah bentuk pengorbanan dan kerelaan melepaskan apa yang dimiliki karena sesungguhnya kita hakekatnya tidak memiliki apa-apa. Hanya DIA yang Maha Memiliki.

Dalam keadaan bersih lahir batin dan untuk sementara mengosongkan diri dari pengaruh duniawi itulah kita menghadap Sang Khalik Yang Maha Suci. 

Saat bersuluk ini, kita diharapkan untuk selalu menjauhi pikiran kotor dan suci dari batin yang penuh prasangka negatif (suudzon) dan menggantinya dengan prasangka baik (husnudzan) kepada Allah dan kita yakin bahwa hanya DIA-lah sebaik-baiknya tempat bergantung. 


HASBUNA ALLAH WA NI’MAL WAKIL, NI’MAL MAULA WA NI’MA N-NASIR (Cukuplah Allah sebagai tempat bersandar bagi kami dan Dialah tempat memohon pertolongan manusia). 


Apa yang akan terjadi bila kita sudah melengkapi laku suluk mulai Dzikir dan Uzlah secara lengkap? 


Silahkan ditunggu kejadian-kejadian gaib luar biasa yang akan merubah hidup Anda selamanya.


Sekiranya tiada apa-apa tanda teruskanlah berzikir... ubudiah kerana Allah semata-mata.


Rabu, 12 Januari 2022

Tampa Huruf Tampa Suara"

 Alhamdulillah

Apa Allah itu? Tidak ada tafsirnya.

Apa itu Allah? Dirinya alam. 

Siapa itu Allah? Satu Maharuang dan semesta alam. 

Bagaimana Allah itu? Meliputi alam dunia dan akhirat.


Yang dapat mengalahkan pengaruh ketuhanan dan kenabian, yaitu dengan kesadaran tinggi dalam pengenalan. Kalau kita musyahadah pada kosong, kita berada dalam kosong. Sadari kita benar-benar dalam kosong. Itulah yang tidak ada tafsirnya. Yang tidak ada tafsirnya itulah ھ , maka kosonglah dia. Ini pribadi antara kita dengan Tuhan.


Perasaannya perasaan itu Ruh Qudus. Hendaklah kita rasakan sampai kepada yang diam itu (sama-tengah-hati). Inilah diistilahkan: "Ada di dalam diam." Tubuh yang diam inilah yang tajalli. Syahadat ada di dalam diam. 


Ruh Qudus itu zat mutlak. Dan zat mutlak itu Rahasia Tuhan. Kalau ruh rayhan itu sifat atau cahaya zat (mutlak) itu. Cahaya zat itu menjadi manusia. Cahaya zat inilah cahaya Ruh Qudus (cahaya diri Ruh Qudus).


Tubuh yang diam itulah yang tajalli. Syahadat ada di dalam diam. Ruh Qudus itu zat; Rahasia Tuhan. Sedangkan zat dan sifat itu satu, maka ingatan dan perasaan itu musti satu.


Sahnya tafakur: Ruh Qudus diam. Kosong itu nyawa hakiki atau Nur. Muhammad itu nyawa majati, artinya yang ada di sama-tengah-hati.


Musyahadah pada kosong, kita berada dalam kosong. Sadari kita berada dalam kosong. Itulah ھ yang tidak ada tafsirnya. Jadi, ھ ini tidak diucapkan dengan huruf atau dengan suara; tidak dibunyi-bunyikan. Cukup disadari kita berada dalam kosong.


“Tafakur tidak boleh lama-lama. Jika lama, jahat. Hanya satu saat saja. Untuk cepat berhasil, bawalah dengan mengaji Quran. Jangan ingat-ingat kosong dan sesuatu lagi. Apabila merenyamnya hilang, sampailah orang itu.

Orang yang sempurna mengenal Allah itu, apa yang terlintas, terdengar, teringat, terpandang, dan lain-lain itu, semuanya BUKAN Allah. Jadi, penghabisan tafakur, siapa memandang putih dirinya, sampailah ilmunya.

Wasalam

ALLOH MAHA MELIPUTI

 BISMILLAHIRROHMANIRROHIM

Sadaraku. Muslimin dan muslimat .Jika kau telah mengenal diriMu yang Sejati maka kau bukan lagi seonggok daging atau sekujur tubuh.

Apabila saat perkenalan itu telah tiba atau hari terahirmu.maka zikirMu tak lagi dengan suara atau dengan gerak. tetapi zikirMu adalah melihat siapa yang kau ingat. Kau akan melihat wajah Allah dimanapun kau berada. dan kau tak lagi akan melihat mati itu satu kematian. karena sesungguhnya ketika itu kau menyusuri ruang waktu.

ketika itu kau adalah cahaya Allah di bumi ini

Dan kau akan tetap menjadi cahaya milik Allah saat di akhirat nanti. dan sesungguhnya karena kau adalah milik Allah. terserah kepada Allah mau dibuat apa engkau itu karena kembali kepada AsalMu. Setelah itu baru apa yang kelihatan itu akan berwajah kau. dan disitu jugalah keadaan yang mana yang memandang dan yang dipandang itu adalah kau yang esa. Kau melihat wajahMu sendiri ketika pandang memandang itu.

Jikalau kau sudah paham dan yakin segala sesuatu selain kau telah fana. itulah tandanya hatiMu itu telah mencapai ketahap puncak Ma'rifat. tahap mengenal dia dengan sebenar-benarnya pengenalan. Jika kau masih juga tidak faham dan yakin. maka akan diterangkan seperti ini untukMu yaitu berawal dari mengenal mani adalah penjelmaan dari bapak dan ibu atau yang disebut sulbi dan taraib .Jadi mani itu adalah mulanya seberkas cahaya yang dikeluarkan oleh Allah dari mutu manikam

sehingga para Ulama berpendapat yaitu:

Mani adalah salah satunya dzat penjelmaan dari dua macam dzat (sulbi dan taraib)....

Dengan adanya KUDRATILLAHI yaitu berasal dari sulbi bapak. dan yang menjadi IRADATILLAHI yaitu berasal dari ibu .Oleh sebab itu bagaimanapun birahinya kaum ibu. hal ini tidak terlalu nampak karena birahinya kaum ibu ini tidak dapat melampaui batasnya kudrat kaum bapak. Karna kaum ibu ini hanyalah iradat. maka ulama mengistilahkan 

SYURGA ITU DI ATAS TELAPAK KAKI IBU :


Untuk lebih jelasnya akan diterangkan dibawah bagian-bagian dari maksud yang di atas:

BAGIAN BAPAK: wadi. madi. mutu. mani. atau disebut sulbi.

BAGIAN IBU: tanah. air

angin. api. atau disebut taraib.

BAGIAN ALLAH: ruh idhafi. ruh ruhani. ruh rahmani.ruh jasmani


BAGIAN DARI GUDANG RAHASIA DISEBUT MUTU MANIKAM YAITU:

* Tanah itu ialah badan muhammad

* Air itu ialah nur .muhammad

* Angin itu ialah nafas muhammad

* Api itu ialah penglihatan muhammad


Awal itu ialah nurani„

Akhir itu ialah ruhani„

Zahir itu ialah insani„

Bathin itu ialah rabbani„ Nurani itu ialah nyawa„

Ruhani itu ialah hati„

Insani itu ialah tubuh„

Rabbani itu ialah rahasia


Nyawa itu ialah idhafi„

Hati itu ialah ruhani„

Tubuh itu ialah jasmani„

Rahasia itu ialah aku yang sejati„

Tubuh itu menyatu kepada hati Hati itu menyatu kepada nyawa„

Nyawa itu menyatu kepada rahasia„

Rahasia itu menyatu kepada nur„

Nur itulah bayang-bayang Allah yang sebenar-benarnya


Wadi... kalimahnya: LAA ILAHA

Madi... kalimahnya: ILALLAH

Mutu... kalimahnya: ALLAH

Mani... Kalimahnya: HU


Ruh jasmani kalimahnya:

YAHU

Ruh rahmani kalimahnya: IYAHU

Ruh ruhani kalimahnya: YAMANIHU

Ruh idhafi kalimahnya: YAMAN LAYISALAHU

Mutu manikam kalimahnya: MADAHU


TUJUH PETALA BUMI DIJADIKAN TUJUH TINGKATAN MARTABAT YAITU:

1. Sifat amarah

2. Sifat lawwamah

3. Sifat mulhimah

4. Sifat mutmainah

5. Sifat radhiyatan

6. Sifat mardhiyah

7. Sifat ubudiyah


TUJUH PETALA LANGIT YANG DIMAKSUD DENGAN TUJUH MARTABAT YAITU:

1. Lathifatul qolbi

2. Lathifatul ruuhi

3. Lathifatul sirri

4. Lathifatul ahfa

5. Lathifatul hafi

6. Lathifatul nafsu natika

7. Lathifatul kullu jasad


JIKALAU TINGKATAN SEMACAM INI YANG KITA AMBIL HAKIKATNYA PADA ALAM KECIL YANG TERSEMBUNYI (terahasia) DALAM DIRI, MAKA ULAMA MENAMAKAN SEBAGAI BERIKUT:1. Hayatun jasadi bin-nafas 

2. Hayatun nafasi bir-ruhi

3. Hayatun ruhi bis-sirr

4. Hayatun sirri bil-imani

5. Hayatun imani bin-nuri

6. Hayatun nuri bil-qudrati

7.  Hayatun qudrati bi mualamullahi ta'ala dzatullah


ARTINYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT:

1.Asal jasad dari nafas 

2.asalnya nafas dari ruh 

3.Asalnya ruh dari dalam rahasia 

4.Asal rahasia dari dalam iman 

5.Asal iman dari nur atau cahaya 

6.Asalnya nur atau cahaya dari qodrat 

7.Asalnya qodrat dari ke baqoaan Alloh 


KALIMAT SEPERTI INI : 

1.Hayatun jasad hurufnya Alif    kalimahnya LA

2.Hayatun nafasi hurufnya Lam Awal kalimahnya ILAHA 

3.Hayatun ruhi hurufnya LAM Akhir kalimahnya ILLA 

4.Hayatun sirri hurufnya Ha kalimahnya Alloh 

5.Hayatun imani hurufnya Alif (Alloh) kalihnya Yahu 

6.Hayatun nuri hurufnya Lam (jibril) kalimahnya IyaHU 

7.Hayatun qodroti hurufnya Mim (muhammad) kalimanya IYAHU YAMANIHU 


Dengan demikian apabila kesemuanya ini kau leburkan kedalam ke-baqoaan DZAT ALLOH.maka ulama menamakannya sebagai BERIKUT:

1.watujibul wajasadi fi fasaral qolbi .

2.watujibul qolbi fi fasaral ruhi .

3.watujibul ruhi fi fasaral sirri .

4.watujibul sirri fi fasaral imani .

5.watujibul imani fi fasaral nuri .

6.watujibul nuri fi fasaral qodroti .

7.watujibul qodroti fi fasaral Dzati fil Dzati .


" maka uraian atau tulisan yg diatas sempurnalah amalan" orang ARIF BILLAH"


Ugi:meresap menyerap menyerat berserah...


SAMA" BELAJAR BUKAN INGGIN MEGURUI ...


WASSALAM...

Senin, 10 Januari 2022

SIFAT RUH

Allah Yang Maha Suci dengan sengaja menciptakan ruh yang menjadi sumber kehidupan seluruh makhluk-Nya dari dunia hingga akhirat. Dan pada hakikatnya seluruh ciptaan-Nya tersebut “Hidup” karena tidaklah Ia menciptakan suatu makhluk melainkan padanya ada ruh yang meliputinya. Termasuk langit dan bumi beserta isi antara keduanya pun punya ruh. Allah Yang Hidup adalah Dzat pemberi hidup dan kehidupan pada seluruh makhluk bangsa ruhaniah yang diwujudkan pada alam semesta. Tidak ada yang hidup melainkan dengan sumber kehidupan, yaitu ruh! Adapun ruh sendiri berasal daripada-Nya, dan menjadi nur (hidup) makhluk.

Tetapi bagaimanakah sesungguhnya sifat ruh itu?

Ruh adalah sesuatu yang lembut dan halus, meliputi seluruh keadaan makhluk dan tidaklah ia bertempat pada suatu tempat yang sifatnya lokal dan mikro. Apabila ruh meliputi pada sesuatu yang mati, maka hiduplah sesuatu itu. Ruh tidak dapat diukur besar kecilnya dengan suatu wujud jasmaniah. Ruh tidak berjenis sebagaimana jenis jasmani manusia dan makhluk lainnya. Dan apabila ruh mensifati serta meliputi hati manusia, maka memancarlah “himmah” dan kestabilan serta kekuasaan dalam gerak langkah hidupnya. Dan bilamana menyelusup menyelimuti nafsu (jiwa) serta mendominasinya, tercerminlah kemauan dan semangat hidup dalam menata kehidupannya.

Iika ruh menguasai akal pikiran maka akal pikiran akan menjurus kesempurnaan di dalam pandangan dan dapat menentukan suatu sikap atas dasar pertimbangan yang matang bagi perjalanan hidupnya. Begitulah adanya, jika ruh singgah di telinga maka mendengarlah ia, manakala ruh berkelebat melalui mata maka memandanglah ia, dan ketika ruh bertamasya pada mulut maka berhamburanlah kata-kata yang punya mulut, pun bila ruh menjalar pada tangan maka bergeraklah ia meraba dan mengusap, juga apabila ruh mengalir pada kaki maka dapatlah melangkah tegap ataupun gontai. Begitu pula bila ruh meliputi dan menguasai sel–sel yang bergerak ke seluruh peredaran darah maka tampaklah gerak hidup jasmani.

Ruh adalah golongan makhluk Allahur Rabbul ‘ alamin yang dikekalkan kehidupannya. Adapun hidup serta kehidupan makhluk yang diliputi ruh selalu tumbuh dan berkembang. Allah Yang Maha Kaya menamai kehidupan langit dan bumi beserta isi keduanya dengan isyarat “Nur” (cahaya atau kehidupan), sebagaimana firman-Nya :

Allahu nuurus samaawaati wal ardhi …

“Allah (pemberi) cahaya (hidup) langit dan bumi ….” QS. 24 An Nuur : Ayat 35.

Innallah khalaqa ruuhan nabiyyi shalallahu ‘alaihi wasalam min dzaatihi wakhuliqal ‘aalamu biasrihi min nuuri muhammadin shalallahu ‘ alaihi wasallam. (Al – HADIS )

“Sesungguhnya Allah menciptakan ruh Nabi saw, daripada Dzat-Nya lalu diciptakan alam sekaliannya dengan rahasia-Nya dari pada Nur Muhammad saw.”

Ruh, termasuk makhluk ciptaan-Nya yang gaib dan hidup meliputi dimensi alam jasmaniah. Dan ruh memiliki sifat yang berlawanan dengan jasmani. Ruh adalah Nurullah! Tapi ruh sebagai Nurullah bukan berarti sebagaimana cahaya yang memancar dari matahari atau lampu. Nur dalam pengertian ayat dan Hadis tersebut di atas bermakna Hidup! Yakni suatu makhluk yang hidup dihidupkan Allah Yang Maha Hidup dengan ruh ciptaan-Nya! Allahul Hayyi jualah yang menghidupkannya dengan memberikan ruh ciptaan-Nya.

Kalimat “Nur” di dalam firman Allahul ‘Azhim sangat banyak, bahkan lebih dari tiga puluh (30) ayat yang menyebut tentang “Nur” sekaligus meliputi atau menjadi simbol berbagai hal seperti Muhammad Rasul Allah saw., Al Qur’aan, Agama Islam, Malaikat, Ilmu serta Hidayah (petunjuk). Istilah “Hidup” yang meliputi kehidupan seluruh makhluk juga dirumuskan dalam bahasa wahyu dengan istilah “Nur”. Apabila ruh diibaratkan nur yang terang benderang maka jasmani diibaratkan suatu tempat yang gelap gulita semisal ruangan. Padahal tidaklah akan tampak terang suatu cahaya bila ia tidak bertempat pada yang gelap gulita. Begitu pula keadaan gelap pekatnya jasmani dikatakan gelap gulita bila tidak ada sesuatu yang meneranginya. Demikianlah pengertian “Ruh” sebagai “Nur” dalam istilah wahyu-Nya. Sifat Ruh

Sufi Road : Kajian tentang Ruh

Para ulama memiliki pandangan berbeda tentang bolehnya mengkaji tema seputar ruh. Ada yang berpendapat, mengkaji ruh itu haram, karena hanya Allah yang tahu. Ada pula yang berpedapat, kajian tentang ruh itu makruh mendekati haram, karena dalam Al-Quran tidak ada nash yang menjelaskan masalah ruh secara gamblang.

Setiap pendapat tersebut memiliki dasar pemahaman yang berbeda terhadap firman Allah, “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan kalian hanya diberi sedikit pengetahuan’.” – QS Al-Isra’ (17): 85.

Mereka yang menolak kajian tentang ruh di antaranya berpandangan, pernyataan Allah pada ayat tersebut menjelaskan bahwa ruh termasuk alam metafisika, yang tidak dapat diketahui secara pasti. Ia bukan sesuatu yang bersifat inderawi, yang dapat diketahui lebih jauh. Selain itu, ilmu manusia terbatas hanya pada pengetahuan tentang penciptaan. Inilah yang dimaksud dengan kalimat dalam ayat tersebut, “Dan kalian hanya diberi sedikit pengetahuan.”

Sementara itu mereka yang memperbolehkan mengkaji tentang ruh di antaranya berpandangan, tidak ada kesepakatan para ulama yang menyatakan bahwa ruh yang ditanyakan dalam ayat itu adalah ruh (nyawa) manusia. Ada pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud ruh dalam ayat tersebut adalah Al-Quran, Jibril, Isa, atau ciptaan Allah yang ghaib, yang hanya diketahui oleh Allah SWT.

Bagaimanapun, yang lebih baik adalah tidak membahas masalah ruh terlalu dalam. Syaikh Abu An-Nashr As-Sarraj Ath-Thuusi mengatakan, “Terdapat orang-orang yang salah memahami ruh, (kesalahan) mereka ini bertingkat-tingkat, semuanya bingung dan salah paham. Sebab mereka memikirkan keadaan sesuatu (yakni ruh) yang mana Allah sendiri telah mengangkat darinya pada segala keadaan dan telah membersihkannya dari sentuhan ilmu pengetahuan, (sehingga) ia tak akan dapat disifati oleh seorang pun kecuali dengan sifat yang telah dijelaskan Allah.”

Hakikat Ruh

Habib Syaikh bin Ahmad Al-Musawa, dalam karyanya berjudul Apa itu Ruh?, menyatakan, definisi ruh adalah, “ciptaan/makhluk yang termasuk salah satu dari urusan Allah Yang, Mahatinggi. Tiada hubungan antara ia dengan Allah kecuali ia hanyalah salah satu dari milik-Nya dan berada dalam ketaatan-Nya dan dalam genggaman (kekuasaan)-Nya. Tidaklah ia menitis (bereinkarnasi) ataupun keluar dari satu badan kemudian masuk ke badan yang lain. Ia juga akan merasakan kematian sebagaimana badan merasakannya. Ia menikmati kenikmatan sebagaimana juga badan, atau akan merasakan siksa sebagaimana juga badan. Dia akan dibangkitkan pada badan yang ia keluar darinya. Dan Allah menciptakan ruh Nabi Adam AS dari alam malakut sedangkan badannya dari tanah.”

Sementara itu, sebagian besar filosof muslim, seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali, dan sekelompok kaum sufi, berpendapat, jiwa terpisah dari materi. Ia bukan jasad atau benda. Ia tidak memiliki dimensi panjang dan dalam. Jiwa sangat berhubungan dengan sistem yang bekerja dalam jasad. Dengan kata lain, jiwa menggerakkan jasad dari luar karena ia tidak menyatu dengan jasad. Jiwa adalah inti ruh murni yang dapat mempengaruhi jasad dari luar seperti magnet.

Al-Ghazali, dalam Ihya’-nya, menyebutkan, kata-kata ruh, jiwa, akal, dan hati, sejatinya merujuk pada sesuatu yang sama, namun berbeda dalam ungkapan. Sesuatu ini, jika ditinjau dari segi kehidupan jasad, disebut ruh. Jika ditinjau dari segi syahwat, ia disebut jiwa. Jika ditinjau dari segi alat berpikir, ia disebut akal. Dan jika ditinjau dari segi ma’rifat (pengetahuan), ia disebut hati (qalb).

Dalam bahasa sehari-hari, ruh dan jiwa juga acap digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang sama, seperti pada ucapan “ruhnya telah melayang”, atau “jiwanya telah melayang”. Dua kalimat tersebut bermakna sama, orang itu telah mati.

Para ulama lainnya berpendapat, ruh adalah benda ruhaniah (cahaya) langit yang intinya sangat lembut, seperti sinar matahari. Ia tidak dapat berubah, tidak dapat terpisah-pisah, dan tidak dapat dikoyak. Jika proses penciptaan satu jasad telah sempurna dan telah siap, seperti dalam firman Allah “Maka, apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya – QS Al-Hijr (15): 29, benda-benda mulia (ruh) Ilahi dari langit akan beraksi di dalam tubuh, seperti api yang membakar. Inilah yang dimaksudkan dalam firman Allah “Aku meniupkan ruh (ciptaan)-Ku ke dalamnya.” – QS Al-Hijr (15): 29. Selama jasad dalam kondisi sehat, sempurna, dan siap menerima benda mulia tersebut, ia akan tetap hidup. Jika di dalam jasad ada unsur-unsur yang memberatkan, misalnya penyakit, unsur-unsur itu akan menghambat benda mulia ini sehingga ia akan terpisah dari jasad. Saat itu, jasad menjadi mati.

Beragam definisi ruh disebutkan para ulama. Intinya, manusia terdiri dari jasad dan ruh. Perbedaan pendapat para ulama seputar hakikat ruh bukan bagian dari inti aqidah Islam. Masalah ini berada dalam ranah ijtihad para ulama.

Abadi, atau Fana?

Allah menetapkan kematian atas segala yang memiliki ruh dari makhluk-Nya, penguasa maupun rakyat jelata, yang kaya atau yang miskin, yang mulia atau yang lemah, yang maksiat atau yang taat, dari seluruh penduduk alam semesta ini, dan kemudian mengadili mereka di akhirat.

Dia menggenggam ruh sebagian manusia yang telah memakmurkan dunia dan menghiasinya dengan bangunan-bangunan, kemudian manusia itu menempatinya, meski itu bukan tempat yang kekal bagi semua yang hidup.

Dia juga menggenggam ruh manusia sebagian lainnya yang bersungguh-sungguh untuk memperbaiki akhiratnya dan menjadikan dunia hanya sebagai batu loncatan untuk memperbanyak amal shalih mereka sebagai perahu dalam mengarunginya.

Ruh yang ini mendapat kebahagiaan dan kesenangan, sementara ruh yang lain mendapatkan kekecewaan, kecelakaan, dan kepayahan. Ruh yang ini bersenang-senang di kebun surga dan bernaung di lentera-lentera yang bergantung di ‘Arsy dalam kenikmatan yang menyenangkan, sedang ruh yang lain terpenjara dan tersiksa di neraka jahim. Alangkah jauh perbedaan antara kedua ruh jasad dua jenis manusia tersebut.

Setelah seseorang mati, ruh tetap ada hingga terjadi peniupan sangkakala yang pertama. Ulama sepakat akan hal itu. Selama masa itu, ruh merasakan nikmat atau adzab di alam kubur.

Adapun setelah ditiupnya sangkakala, terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama. Sebagian ulama berpendapat, ruh bersifat fana (akan sirna) dan akan mati saat peniupan sangkakala yang pertama. Dasarnya adalah firman Allah, “Setiap yang berjiwa akan merasakan kematian.” – QS Ali Imran (3): 185. Dalam ayat lainnya disebut, “Semua yang ada akan binasa.” – QS Ar-Rahman (55): 26.

Menurut pendapat terkuat, setelah peniupan sangkakala yang pertama, ruh akan tetap abadi. Hukum asal sesuatu yang abadi adalah selalu ada sampai ada sesuatu yang mengubahnya. Perdapat tentang keabadian ruh ini disimpulkan dari ayat “Dan ditiuplah sangkakala. Maka, matilah makhluk yang di langit dan di bumi kecuali makhluk yang dikehendaki Allah. Kemudian sangkakala ditiup sekali lagi. Tiba-tiba mereka berdiri menunggu (keputusannya masing-masing).” – QS Az-Zumar (39): 68. Menurut penjelasan ayat ini, ruh termasuk sesuatu yang dikecualikan.

Ruh Mengetahui saat Diziarahi

Apakah ketika orang hidup menziarahi orang mati, ruh orang mati tersebut dapat mengetahui bahwa ia tengah diziarahi? Habib Syekh menuliskan dalam bukunya, jawabannya adalah “Ya.”

Bila ditanyakan apakah jasad mereka atau arwah mereka (yang bertemu), ia menjawab, “Sungguh jauh sekali. Jasad sudah hancur, yang bertemu hanyalah arwah mereka.”

Ibnu Abdil Barr berkata, “Telah tetap riwayat dari Nabi SAW, beliau bersabda, ‘Tidaklah seorang muslim melewati kubur saudaranya yang mana dahulu ia mengenalnya di dunia, kecuali Allah akan mengembalikan ruh saudaranya itu lalu ia menjawab salamnya.” Hadits ini menunjukkan, ruh si mati mengenalinya dan menjawab salamnya.

Pada hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, disebutkan, ketika Rasulullah SAW memerintahkan agar korban yang tewas pada Perang Badar (dari kaum musyrikin) dikuburkan dalam satu lubang, kemudian beliau mendatangi lubang tempat kubur tersebut lalu berdiri dan menyeru mereka yang telah mati itu dengan namanya masing-masing, “Wahai Fulan bin Fulan, wahai Fulan bin Fulan, apakah kalian telah mendapati apa yang telah dijanjikan Tuhan kalian adalah benar? Karena sesungguhnya aku mendapati apa yang dijanjikan Tuhanku kepadaku adalah benar”, berkatalah Umar RA kepada beliau, “Ya Rasulullah, mengapakah Tuan menyeru/berbicara kepada orang-orang yang telah menjadi bangkai.”

Beliau menjawab, “Demi Allah, yang telah mengutusku dengan kebenaran, tidaklah kalian lebih mendengar apa yang kau katakan daripada mereka. Hanya saja mereka tak dapat menjawab.”

Saat memperhatikan kebiasaan sebagian besar masyarakat di Nusantara yang melakukan aktivitas ruwahan atau berkirim pahala amal kepada orang-orang yang telah wafat atau khususnya kepada arwah yang mereka ziarahi, apakah arwah orang yang telah mati itu dapat mengambil manfaat dari amal orang hidup, ataukah tidak? Berikut ini salah satu hujjah di antara luasnya bahtera hujjah yang menunjukkan sampainya amalan orang hidup kepada orang yang telah mati.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih mereka, dari Abdullah bin Abbas RA, ia berkata, “Telah datang seorang kepada Nabi SAW lalu orang itu bertanya, ‘Ya Rasulullah, ibuku meninggal dunia dan ia meninggalkan utang puasa sebulan, apakah aku dapat mengqadha puasanya?’

Rasulullah SAW balik bertanya, ‘Bagaimana pendapatmu jika ibumu berutang lalu engkau melunasi utangnya, apakah itu mencukupi/menggugurkan kewajibannya?’

Orang itu menjawab, ‘Ya.’

Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika demikian, utang kepada Allah lebih wajib untuk dilunasi’.”


Minggu, 09 Januari 2022

Kosong

 Bismillah, 


Alhamdu itu Aku (Allah) dgn engkau.

Ingat itu adlh RahasiaKu kpd engkau. Jika engkau tiada berpegang pd yg diajarkan Nabi (Rasulullah) mk engkau sesat lagi kafir.

Oleh sebab itu wajiblah engkau mengerjakan perintahnya dan taat kpdnya dan hendaklah engkau Khauf dan Cinta dan jangan engkau lupa setiap saat. 

Jika engkau lupa mk Aku lebih jauh dan kalau engkau dekat mk Aku lebih hampir dan kalau engkau hampir mk Akulah dirimu dan DiriKu adlh Laisya Kamislihi Syai'un, disitulah engkau zauk. Perbanyaklah amaliah  sehingga terbukalah bagi engkau satu dinding rahasia (hijab) yg dikatakan Nur Ala Nurin. Mk Nur itu tajalli kpd DiriNya, sehingga engkau ghaib mk engkau adlh di dlm Wujud-Haq. 


Kita sebut kalimah dzikir LAA ILAHA ILLALLAH satu nafas itulah yg disebut KALAMULLAH.

Jika engkau naikkan nafas engkau itu Aku (HU) mk itulah yg dinamakan WujudKu yg Laisya, ialah yg tanpa huruf dan tiada suara. 

Jika engkau dzahirkan suara engkau itu mk dzahirlah SifatKu, jika tiada engkau dzahirkan mk engkau ghaib di dlm Wujud Idafi. Wujud itu Laisya Idafi, itu suci murni dan bersih. 

Itulah yg disebut Nur dan itulah yg dinamakan AHMAD dan juga adlh Nur-Dzat. Mk Dzat itulah yg disebut engkau,barulah itu dikatakan Fana Ul Fana atau Karam dan engkau itu sampailah sdh pd Baqa Ul Baqa. Disitulah engkau melalui segalanya yg disebut Nur Ala Nurin (Ghaib dengan Ghaib) sampai Haq kpd Haq. 


Mari kita kembali kpd asalnya Al-Fatihah, Aku Laisya,  di dlm Aku engkau mk disitulah engkau naikkan nafas engkau kpdNya. 

Kalau engkau turunkan ke bumi atau kedalam jasad, jasad itulah yg berbunyi Allah hurufnya. Jika engkau hilangkan huruf Allah itu menjadi Hu itulah yg disebut kosong, tiada tau lagi akan dirinya, hanya yg ada Wujud saja lagi. Mk engkau tiadalah berujud lagi dan sifat bersifat lagi, dan tiada nama bernama dan tiada buat berbuat. 


Mk disitulah engjau karam di dlm Kalimah ini, barulah engkau itu hilang semuanya, yg ada hanya Wujud saja lagi SE-MATA2, disitulah engkau bernama Nuk (Nuktah). Mk Nuktah ini ialah satu2nya yg menjadi awal sekalian yg ada ini.

Mk selalulah engkau taat akan segala perintahnya, ingatlah selalu akan kataNya : Esakan Aku, Esakan Aku atau sempurnakan Aku. Jika engkau sempurnakan mk engkau itu yg bernama Insan.

Jika engkau manusia mk Dialah manusia Insan-Kamil.

Se-benar2nya diri itu Ruh. 

Se-benar2nya Ruh itu Sir. 

Se-benar2nya Sir itu Rahasia. 

Se-benar2nya Nur Nuhammad itu Sifat. 

Se-benar2nya sifat itu Dzat. 

Wassalam,,

Sabtu, 08 Januari 2022

KEUTAMAAN ZIKIR NAFI ISBAT

Dzikir Nafi dan Isbat , adalah dzikir yang paling besar manfaatnya dan sangat berbekas bagi manusia ,yaitu kalimat : LAA ILAAHA ILALLOH , artinya tiada Tuhan selain AllAh.


Allah berfirman :


” Ketahuilah tentang Tuhan itu ,bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah  ”


Nabi Muhammad SAW bersabda :


” Yang paling utama apa yang aku ucapkan dan apa yang di ucapkan oleh Nabi - Nabi sebelumku, yaitu : ” LAA ILAAHA ILLALLOH ”


Kemudian Nabi berkata pula dalam hadist :


” Barangsiapa yang  mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLOH dengan ikhlas pasti masuk syurga ”


Dalam hadist lain Junjungan kita juga bersabda :


” Bagi mereka  yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLOH tidak usah takut akan kejahatan dalam kubur dan kejahatan pada waktu berkumpul di Padang Makhsyar.”


Kemudian Rosululloh SAW bersabda pula :


” Jika ada seseorang yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLOH secara benar, meskipun ia memiliki dosa sebesar bumi akan di ampuni Tuhan dosanya itu.”


Kalimat itu dinamakan “Kalimat Thoyyibah” yang dapat mensucikan orang yang mengucapkannya,dari syirik jali sebagaimana ia dapat membersihkan jiwa orang itu dari syirik khofi dan menjadikan orang itu orang ikhlas dan murni. Begitu juga kalimat ini dapat membuka hati manusia dari hijab yang selalu menghalangi kepada kebenaran , serta membersihkan jiwa orang itu dari segala kotoran dan sifat- sifat kebinatangan.


Kalimat LAA ILAAHA ILLALLOH itu mengkaruniai kasyaf bagi yang mengucapkan untuk selama-lamanya  , disamping mengkaruniai sifat sidiq , ikhlas , ilmu laduni , rahasia-rahasia yang aneh dan akan di beri musyahadah bermacam macam dari Allah


Karunia yang demikian itu di peroleh , jika ucapan kalimat itu diambil dan di terima dari hati yang taqwa dan suci dari selain Allah, bukan hanya dipetik dan di dengar saja dari mulut mulut orang awam .Kalimat Nafi-Isbat itu meskipun sepotong ayat yang pendek,tetapi maknanya sangat luas meliputi seluruh hati jika di ambil dengan butir- butir tauhid dari hati yang hidup ,butir- butir itu akan tumbuh. Berlainan dengan butir- butir yang tidak mencapai dan tidak hidup.


Rosululloh bersabda :


” Bahwasanya Allah ta’ala itu mengharamkan api neraka menjilat orang yang berkata LAA ILAAHA ILLALLOH yang ditujukan hanya kepada Allah semata mata. (HR.Bukhori-Muslim).


Dalam hadist lain :


“Orang sedang berdzikir seperti  pohon yang rindang di tengah tengah pohon kering .”


Nabi berkata juga :


” Orang yang ingat kepada Allah adalah laksana orang yang hidup di tengah- tengah orang yang mati .”

Rabu, 05 Januari 2022

Nikmat dalam Sakit

 Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh


Seorang yang hidup di dunia pasti akan mengalami berbagai jenis keadaan yang berbeda. Terkadang ia sehat, namun di lain waktu ia juga sakit. Tentunya yang diinginkan setiap orang adalah kondisi sehat. Makanya banyak yang mengeluh saat diuji Allah dengan sakit.


Namun tahukah Anda bahwa di balik sakit itu ternyata ada berbagai kenikmatan? Apa saja? Di antaranya:


Pertama: Sakit itu mengurangi dosa


Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,


“مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ“


“Tidaklah ada kelelahan, sakit, kesedihan, kekhawatiran, gangguan dan kesusahan yang sangat yang diderita seorang muslim, bahkan sampai duri yang menancap di tubuhnya; melainkan Allah akan menjadikannya sebagai penggugur sebagian dosa-dosanya.” [HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudry dan Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma.] 


Kedua: Dengan bersabar, sakit akan menjadi ‘mesin’ pahala


Allah ta’ala berfirman,


“إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“


Artinya: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang diberi pahala sempurna tanpa batas”. [QS. Az-Zumar (39): 10.] 


Ketiga: Sakit bisa menyadarkan diri dari kelalaian


Dalam al-Qur’an ditegaskan,


“ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“


Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena pebuatan tangan manusia. Allah mengehendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. [QS. Ar-Rum (30): 41.] 


Keempat: Sakit mengingatkan nikmat sehat


Seorang penyair berkata,


“الصِّحَّةُ تَاجٌ عَلَى رُؤُوْسِ الْأَصِحَّاءِ لاَ يَرَاهَا إِلاَّ الْمَرْضَى“


“Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang-orang yang sehat. Yang bisa melihatnya hanyalah orang-orang yang sakit”.


Dan masih banyak lagi hikmah-hikmah di balik sakit. Maka janganlah habiskan waktu Anda untuk banyak mengeluh, sebab ternyata di balik sakit terdapat nikmat tak terhingga.


Catatan Penting:


Segala keterangan di atas tidak berarti bahwa kita diperintahkan untuk meminta sakit. Juga bukan berarti pula bahwa kita dilarang untuk berupaya mencari penyembuhan sakit kita. Yang benar, kita selalu berusaha memohon kesehatan kepada Allah ta’ala. Dan apabila suatu saat diuji dengan sakit, maka kita berusaha untuk mencari kesembuhan dengan cara-cara yang dibenarkan agama. Andaikan belum sembuh juga, maka ingatlah berbagai hikmah di atas, niscaya penderitaan Anda akan terasa lebih ringan. Dan yang lebih penting dari itu, Anda akan mendapatkan keberuntungan di akhirat, in sya Allah…

MENJELASKAN BID'AH BUKAN BERARTI MEMVONIS NERAKA

 Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh

Ketika pada da’i menasihati dan melarang amalan-amalan bid’ah, maka sama sekali bukan berarti memvonis pelakunya penghuni neraka.


📌  Ini adalah kesalahpahaman yang menjalar di tengah masyarakat. Yang kesalahpahaman ini juga dijadikan senjata untuk menentang dakwah Sunnah dan melarang orang membahas masalah bid’ah. Oleh karena ini mari kita luruskan duduk perkaranya.


Rasulullah ﷺ teladan dalam mengingkari bid’ah.


Orang yang mencontohkan dan memberi kita teladan untuk menjauhi bid’ah serta melarang bid’ah adalah Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ bersabda,


مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ


“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak”.

📘  (HR. Bukhari No. 2697 dan Muslim No. 1718).


Rasulullah ﷺ juga bersabda,


مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ


“Barang siapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak”.

📘  (HR. Muslim No. 1718).


Bahkan tidak hanya sekali-dua kali Beliau ﷺ bicara masalah bid’ah. Rasulullah ﷺ setiap memulai khutbah . Beliau ﷺ mengucap


أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ


“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan”.

📘  (HR. Muslim No. 867).


Tidak hanya itu, di akhir-akhir hidup Beliau ﷺ, Beliau ﷺ masih mewanti-wanti masalah bid’ah. 


Al Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ’anhu mengatakan:


صلَّى بنا رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ذاتَ يَومٍ، ثُمَّ أقبَلَ علينا، فوَعَظَنا مَوعِظةً بَليغةً ذَرَفَتْ منها العُيونُ، ووَجِلَتْ منها القُلوبُ، فقال قائلٌ: يا رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، كأنَّ هذه مَوعِظةُ مُودِّعٍ، فماذا تَعهَدُ إلينا؟


"Rasulullah ﷺ shalat bersama kami suatu hari. Setelah shalat Beliau ﷺ menghadap kami kemudian memberikan nasihat yang mendalam yang membuat air mata berlinang dan hati bergetar. Maka ada yang berkata:


"Wahai Rasulullah ﷺ, seakan-akan ini adalah nasihat orang yang akan berpisah, apa yang engkau pesankan kepada kami?”


Maka Rasulullah ﷺ pun bersabda,


أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ


“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah ﷻ, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada Sunnah-ku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”.

📘  (HR. At Tirmidzi No. 2676. Ia berkata: “hadits ini hasan shahih”).

ENAM JERATAN IBLIS

 Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh


▫️Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa jerat-jerat iblis terfokus pada enam poin. Ia akan mengajak manusia kepada hal yang paling berbahaya, yaitu poin pertama. Bila belum berhasil, maka ia akan menggodanya menuju poin kedua, dan seterusnya. Berikut keenam poin tersebut:


1⃣ Pertama: Mengajak manusia kepada kakafiran, kemusyrikan dan permusuhan terhadap Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Hal inilah yang pertama diinginkan setan dari manusia. Betapa banyak manusia yang terjerumus ke dalam poin ini hingga menjadi bala tentaranya. Allahul-musta’aan


2⃣ Kedua: Menarik manusia kepada bid’ah dan perkara baru dalam agama, baik dalam masalah akidah maupun ibadah. Bid’ah begitu berbahaya, sebab begitu kecil kesempatan bertaubat dari pelakunya. Selain itu, bid’ah juga dapat membawa kepada kekafiran.


3⃣ Ketiga: Menggoda manusia agar mengerjakan dosa besar dengan berbagai macamnya. Dosa besar juga merupakan pengantar kepada kekafiran. Betapa banyak manusia yang terjerumus ke dalam dosa besar. Sehingga hati mereka menjadi keras sehingga dapat menghalangi mereka dari menerima kebenaran. 


4⃣ Keempat: Menggodanya dengan dosa-dosa kecil. Dosa-dosa ini menjadi mukadimah kepada dosa besar. Bila terus dikerjakan, maka statusnya berubah menjadi dosa besar. Meskipun disebut dosa kecil, namun tetap saja haram dilakukan dan tidak sepatutnya diremehkan. Mereka dahulu berkata, “Janganlah engkau melihat kepada kecilnya dosa, tapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat


5⃣ Kelima: Menjadikan manusia tersibukkan dengan hal-hal mubah hingga banyak menyia-nyiakan waktu dan usia, tanpa memanfaatkannya untuk kebaikan dan amal saleh. Sebagian orang berlebihan dalam hal mubah, seperti dalam hal makan dan minum, tempat tinggal maupun pakaian. Mereka menyia-nyiakan banyak harta dan waktu, serta jauh dari berbuat kebaikan. Hingga menyebabkan mereka lupa bersiap-siap berbekal menuju negeri akhirat


6⃣ Keenam: Memalingkannya dari amalan utama kepada selainnya. Seperti mengeluarkan harta pada perkara tidak penting, menyibukkan diri dengan amalan rendahan, belajar cabang ilmu yang tidak bermanfaat, mementingkan usaha syubhat (yang tidak jelas halal haramnya) dari pada yang jelas halalnya, mendahulukan ibadah yang keutamaannya hanya kembali kepada diri sendiri dari pada ibadah yang keutamaannya kembali kepada orang banyak.

TINGKAT ILMU

 Assalamualaikum

1.. ILMU USULUDDIN.

Ilmu Usuluddin batasnya adalah Mengenal Allah swt dibatas Akal yang membezakan HAQ dan yang BATHIL dengan Akal dan Dalil dari Firman-Firman Allah swt. Keyakinan maksima hanyalah kepada Ilmul Yaqin iaitu di Yakini dengan Ilmu Kalam atau Ilmu Akal.


2.. ILMU TASAWWSUF.

Menjalani proses Kerohanian seperti Salik Majzub yang mendaki atau Tanazul Rohaninya kepada wilayah KEESAAN Allah swt adalah punca terbitnya keadaan Hulul atau Mabuk dengan kesan daripada wilayah Wahdatul Wujud, samada seseorang itu tenggelam didalam Syuhudul Kasrah Fil Wahdah mahupun didalam Syuhudul Wahdah Fil Kasrah, bagi Majzub Salik yang di sentap Rohaninya kepada isim Ar-Rahman.


3... ILMU TAUHID.

Peringkat Ilmu Tauhid adalah proses Mengenal Allah swt dengan Ilmu dan Pengalaman Rohani yang tidak terhenti, sampailah kita mati walaupun kita telah mengalami Pengalaman-pengalaman Rohani yang mistik, kerana Anugerah Ma'krifat bagi setiap hamba Allah itu tidak sama.

Ma'krifat Nabi Musa as dengan Ma'krifat Nabi Khidir as tidak sama. Dan tiada Nabi yang mampu mencapai Ma'krifat yang Sempurna kecuali Nabi Muhammad saw, kerana Roh Nabi Muhammad saw adalah Roh yang paling hampir kepada Allah swt.


"Maka umat yang paling beruntung adalah kita iaitu umat Nabi Muhammad saw."

Dan tiada jalan yang paling SELAMAT dan yang paling baik untuk sampai kepada Hakikat Ahad melainkan Manhaj Nubuwwah iaitu jalan Sunnah Kenabian Nabi Muhammad saw. Dan jalan yang tersisa kini adalah jalan Kewalian iaitu Manhaj Kesufian dari keturunan Baginda sendiri.


Pensucian "ANA AL-HAQ" adalah bagi Mensucikan fahaman Wahdatul Wujud yang telah tercemar kerana salah faham orang awam yang hanya memilki Ilmu Usuluddin dan Tasawwuf yang tidak melalui Manhaj Kesufian juga meniti amalan-amalan Kesufian yang mistik seperti; 

Uzlah'... Suluk.. klawat..


Dan juga bagi mencerahkan kepura-puraan orang-orang yang merasakan ia telah Hulul di Maqam Latah iaitu Maqam Syatahat.


Maqam-Maqam Wali Allah itu banyak, dari Salik, Wali kecil hinggalah ke Maqam Wali Qutub atau Aqtab iaitu penghulu sekalian Wali.


Maka Insan Sejati yang Muhaqqiqin itu hanya ada satu, pada satu-satu zaman yang menjaga HAQ KEESAAAN Allah yang AHAD, iaitu Maha ESA dan HAQ ketinggian Azzawajala yang tiada tandingan.


Sementara fahaman Wahdatul Wujud ini sudah mula dirasai oleh permulaan Kewalian apabila ASYIK dengan Anugerah Tajali Ma'krifat ataupun telah tenggelam didalam Maqam Ma'krifat.

Maka kita tidak boleh menyalahkan Wali-Wali Allah ini kerana mereka seperti orang yang mabuk kepayang atau gila angau. Cuma kita perlu nilai mereka ini agar tidak melanggar HAQ KEESAAAN Allah yang Maha ESA (Ahad) dan ketinggian Allah yang Maha Sempurna Kemuliaan-Nya.


مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ


"Siapa yang memusuhi Wali-Ku maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang terhadapnya. Dan tidaklah Hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan senantiasa seorang Hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan Sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta (sesuatu) kepada-Ku pasti Aku akan memberinya, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku pasti Aku akan melindunginya.”


Hadis Qudsi ini menjadi bukti bahawa adanya keadaan Hulul yang berlaku kepada Wali-Wali Allah swt dan hadis sebelumnya membuktikan bahawa adanya wilayah kedalaman hati yang berbeza-beza dari wilayah Kerinduan, kemudian Fana dan Lebur di wilayah Rahasia Allah swt dan akhirnya hati itu sampai kepada Allah swt.


Maka ayat-ayat Al-Qur'an yang Mahkamat adalah ayat yang berguna sebagai batu penguji atau perisai untuk menilai maksud bagi Bathin Kalam-kalam yang Musyabihat dan batu penilai kepada kitab-kitab yang terdahulu seperti Kitab Zabur, Taurat dan Injil, termasuklah Suhuf-Suhuf sekalian Nabi seperti Suhuf Ibrahim as dan Suhuf Musa as.


هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنسَانِ حِينٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْئًا مَّذْكُورًا


"Bukankah telah datang kepada manusia satu ketika dari masa (yang beredar), sedang ia (masih belum wujud lagi, dan tidak menjadi sesuatu benda yang disebut-sebut."

(QS. Al-Insan : 1)


Maka apakah maksud kepada "Al-insanu Sirri" ?

Apakah maksud kepada “Insan Rahasia-Ku” ?


Jawaban petunjuk bagi ayat itu kepada "Sirri" adalah “Wa Ana Sirruhu”

 “Dan AKU-lah Rahasia itu”...


Maka huraian maksud Insan itu Rahasia-Ku akan menjadi berlapis-lapis dari berbagai-bagai Maqam seseorang Mursyid.


Ia boleh jadi Insan itu DIRAHSIAKAN oleh Allah swt. Maka Insan itu menjadi Martabat manusia yang memiliki Sifat-Sifat Terpuji iaitu Wali-Wali Allah yang Allah swt RAHSIAKAN.

Soalnya bukan semua Wali-Wali Allah itu DIRAHSIAKAN seperti Sultanul Aulia Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, al-Imam al-Ghazali dan lain-lainnya, dan semua Khulafa al-Rasyidin itu adalah Penghulu sekalian Wali yang tidak DIRAHSIAKAN Allah swt.


Terdapat juga Wali-Wali yang Allah RAHSIAKAN seperti Uwais Al-Qarni, Abdullah Fasik dan yang lain-lainnya.


Petunjuk “Wa Ana Sirruhu” adalah Balaghoh atau Petunjuk yang lebih tepat bagi Kalam Allah pada Hadis Qudsi ini.


Insan itu adalah orang-orang yang Dianugerahkan Rahasia Allah swt. Mustahil Allah swt mahu Menganugerahkan Rahasia-Nya kepada orang-orang Kafir Harbi yang memusuhi Nabi-Nya.


Allah swt berfirman;

“Allahu Nuurrus Samawatiwal Ardh.”


Umpama Hidayah itu hanyalah milik Allah swt apabila dibukakan penutup hati-hati manusia, begitu juga dengan Nur Petunjuk dari Allah swt.


Maka Nur Petunjuk dari Allah swt itulah yang menjadi Tajali (Permata Kanzun Makfiyan) yang dipertaruhkan di wilayah hati yang paling dalam kepada Hamba-hamba-Nya yang sangat Dikasihi-Nya.


Hadis Qudsi;

“Kelak mereka akan melihat Tuhannya seperti cahaya bulan yang terang benderang”


Inilah batas Ma'krifat tertinggi didunia sebelum kita berjumpa Allah swt bagi melihat Keindahan Wajah-Nya yang tidak Terhijab lagi.

Selasa, 04 Januari 2022

HAQIKAT SH0LAT

 Assalamualaikum wb wt


HAQIKAT SH0LAT 


Bila berdiri untuk sembahyang pada hakikatnya ALIF itulah yg berdiri untuk sholat

maksudnya naikkan terdahulu nafas, kemudian berdiri. 


Nyawa yg terdahulu berdiri, kemudian tubuh. 


Karna tidak mungkin tubuh yg mendirikan nyawa, sebaliknya nyawa itulah yg mendirikan tubuh. 


Jangan bertentangan perbuatan tubuh dengan nyawa, yg demikian itu sama halnya mensyarikatkan TUHAN. 

Hal inilah yg menunjukan bahwa nyawa itu ibarat IMAM dalam sholat, sudah tentu imam itu terdahulu berdiri, kemudian ma'muman, itulah sebabnya maka IMAM itu wajib di ketahui. 


Bilamana ada orang bertanya, "SIAPAKAH IMAM MU DALAM SH0LAT ?"


Jawablah, bahwa AL QUR'AN itulah IMAM saya. 


AL QUR'AN itu adalah KALAMULLAH perkataan tuhan, dan tuhan itu bersifat QADIM, jadi AL QUR'AN itu Qadim

Jadi pada hakikatnya tuhan itulah imam, tanpa demikian ini berarti sholat tidak sah. 

Sebab yg di maksud sholat ialah dzahirnya perbuatan, dzahir Artinya perbuatan tuhan pada kita, Allah jua pada hakikatnya sehingga kita bersatu kata atau sekata dengan imam (imam dan ma'mum). 


Dikatakan IMAMAN LILLAHI TA'ALA Artinya imam karna Allah, imam itulah yg menggerakkan TUBUH dan tidaklah nyawa itu dapat bergerak jika tidak karna kehendak TUHAN. 


Bila ruku' turunkan nafas terlebih dahulu, kemudian badan ruku' begitu pula i'tidal (bangun dari ruku') naikkan kembali nafas. 


Waktu sujud juga demikian, nafas turun kemudian naikkan nafas pada saat bangun dari sujud, demikianlah nafas itu mengikuti naik turunNya dalam sholat. 


Inilah yg dikatakan IMAM TANPA DI IMAMI. 


Ada orang telah memiliki hal ini, itulah orang yg sah jadi imam, bila orang tidak mengetahui jadi imam, dapat dikatakan imam yg di imami oleh ma'mum, lalu bila telah membuang takbiratul ihram, tahanlah nafas sebentar, INILAH YG DINAMAKAN LENYAP PADA NUR MUHAMMAD. 


 INI MAKNA TERSIRAT AL FATIHAH

Al-hamdu lillaahi rabbil-'aalamiin: DZAT MEMUJI SENDIRINYA, DAN AKULAH DZAT YG WAJIBUL WUJUD YG MENGETAHUI ZAHIR DAN BATHIN 


Ar-rahmaanir-rahiim: PENGETAHUANMU NYATA KEBESARANKU, YG SEBENARNYA HANYALAH AKU 


Maaliki yaumid-diin: RAJA DUNIA DAN AKHIRAT YG MEMPUNYAI KEBESARAN AKU ZAHIR DAN BATHIN 

Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin: AKU YG MENYEMBAH AKU, KEADAANKU ITU YG KAMU LAKUKAN 


Ihdinash-shiraathal-mustaqiim: KENYATAANKU ATAS MU DAN MUTLAK GANTIKU YAITU KELAKUAN KU TELAH SATU PADAMU 

Shiraathal-ladziina an'amta 'alaihim: SUATU ENGKAU BIRAHI RUPAKU SEPERTI RUPA MU 

Ghairil-maghdhuubi 'alaihim: ADAM ITU SEPERTI AKU 


Wa ladh-dhaalliin: TIADA PERBEDAAN ENGKAU DENGAN AKU 


Aamiin: ENGKAU RAHASIAKU DAN AKU RAHASIA MU 


INI AL FATIHAH PADA DIRI QITA


Bismillaahir: KEPALA 


Rahmaanir-rahiim: 0TAK 


Al-hamdu lillaahi: MUKA 


Rabbil-'aalamiin: TELINGA KANAN 


Ar-rahmaanir: TELINGA KIRI 


Rahiim: TANGAN KANAN 


Maliki: TANGAN KIRI 


Yaumid-diin: BELAKANG 


Iyyaaka na'budu: LEHER 

Wa iyyaaka nasta'iin: DADA 

Ihdinash-shiraathal-mustaqiim: URAT DAN LIDAH 


Shiraathal-ladziina an'amta 'alaihim: PUSAT 


Ghairil-maghdhuubi: EMPEDU 


'Alaihim: HATI 


Wa ladh-dhaalliin: DARAH 


Aamiin: JANTUNG 

.....

PUJIAN YG TERHIMPUN DALAM FATIHAH


Bismillaahir: AKU MENJADIKAN DIRIKU 


Rahmaanir: AKU MENGADAKAN MUHAMMAD 

Rahiim: AKU MENGATAKAN RAHASIAKU 


Al-hamdu lillaahi: YA MUHAMMAD AKU JUA YG MEMUJI DIRIKU 


Rabbil 'aalamiin: YA MUHAMMAD PEKERJAAN ITU AKU JUA ZAHIR DAN BATHIN 


Ar-rahmaanir-rahiim: YA MUHAMMAD YG MEMBACA FATIHAH ITU AKU JUA MEMUJI DIRIKU 

Maaliki yaumid-diin: YA MUHAMMAD ENGKAU JUA GANTI KERAJAANKU TIADA LAIN YG SEMBAHYANG ITU AKU JUA 


Iyyaaka na'budu: YA MUHAMMAD AKU MEMUJI AKAN DIRIKU 


Wa iyyaaka nasta'iin: YA MUHAMMAD TIADA YG TAHU AKAN DIRIKU KECUALI ENGKAU 


Ihdinash-shiraathal-mustaqiim: YA MUHAMMAD YG GHAIB ITU AKU DENGAN ENGKAU TERLETAK DALAM KEMULIAANKU 


Shiraathal-ladziina an'amta 'alaihim: YA MUHAMMAD DENGAN KARNA SABDAKU MAKA JADILAH SEMUA YG ADA INI 


Ghairil-maghdhuubi 'alaihim walad-dhaalliin: YA MUHAMMAD TIADA AKU KATAKAN KEPADA MEREKA AKAN RAHASIAKU, KARNA AKU KASIH KEPADA UMAT 

Aamiin: YA MUHAMMAD GANTI RAHASIAKU

Sepuluh Latifah - Risalah Aliyah

 Bismillahirohmannirrohim

Assalamualaikum wr wb...


Sepuluh Latifah - Risalah Aliyah


1. QALB


TITIK kedudukannya pada tubuh badan jasmani adalah pada anggaran dua jari di bawah tetek kiri dan cenderung sedikit ke arah ketiak. Latifah Qalb juga disebut Latifah Adami adalah dari takluk Alam Malakut yakni Alam Para Malaikat dan ianya merupakan pusat ‘Arasy Mu’alla Allah Ta’ala di dalam diri Insan.


Latifah Qalb adalah suatu pusat perhentian di Alam Amar. Sifat yang dikurniakan Allah dengan Latifah Qalb ialah pendengaran dan ianya merupakan Tajalli Sifat Allah As-Sami’ iaitu Yang Maha Mendengar.


Mendengar merupakan suatu sifat utama Para Malaikat kerana mereka dijadikan oleh Allah Ta’ala untuk mendengar segala perintahNya dan taat. Seseorang Salik perlu menggunakan sifat pendengarannya untuk mendengar seruan Agama Islam dan mengamalkan Syari’at Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.


Para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum memiliki sifat Sami’na Wa Ata’na iaitu mendengar dalam ertikata yang sebenar yang mana apabila mereka mendengar sebarang perintah dari Allah Ta’ala dan RasulNya Sallallahu ‘Alaihi Wasallam mereka akan terus mentaatinya.


Alam Malakut adalah wilayah Hadhrat Nabi Adam ‘Alaihissalam dan merupakan tingkatan langit pertama di atas ‘Arasy. Cahaya Nur dan limpahan keberkatan dari Hadhrat Nabi Adam ‘Alaihissalam terlimpah pada Latifah Qalb Hadhrat Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan terlimpah kepada sekelian orang yang beriman.


Cahayanya adalah dari langit yang pertama dan warna Nurnya adalah kekuningan. Seseorang Salik yang telah sempurna penyucian Latifah Qalbnya menerusi Tasfiyatul Qalb maka akan terhasillah padanya Kasyful Qulub yakni pandangan mata hatinya celik dan memperolehi Basirah serta Kasyaf iaitu melihat perkara-perkara yang Ghaib menerusi mata hati.


2. RUH


TITIK kedudukannya pada tubuh badan adalah pada anggaran dua jari di bawah tetek kanan. Latifah Ruh juga disebut sebagai Latifah Ibrahimi adalah bertakluk dengan Alam Jabarut yakni Alam Para Roh atau dikenali juga sebagai Alam Arwah.


Sepertimana Latifah Qalb, Latifah Ruh ini juga merupakan suatu pusat perhentian di Alam Amar. Sifat yang dikurniakan dengan Latifah Ruh ialah melihat dan ianya juga merupakan Tajalli dari Sifat Allah Al-Basir Yang Maha Melihat dan As-Syahid Yang Maha Menyaksi. Melihat dan menyaksikan adalah sifat-sifat yang Allah Ta’ala kurniakan kepada Ruh ketika berada di Alam Amar.


Seluruh Para Roh bersaksi bahawa Allah Ta’ala adalah Rabb, Tuhan Yang Maha Pemelihara. Melihat, memerhati dan menyaksi adalah suatu sifat utama bagi Roh. Sifat ini ada pada diri zahir iaitu melihat dengan kedua biji mata zahir dan sifat ini juga ada pada diri batin iaitu menerusi pandangan mata hati iaitu Basirah.


Seseorang Salik perlu melihat tanda-tanda kebesaran Allah Ta’ala dan memerhatikan perjalanan Tariqatnya agar sentiasa selari dengan petunjuk Baginda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, banyak mengucapkan Selawat dan membaca Al-Quran.


Alam Jabarut adalah wilayah Hadhrat Nabi Ibrahim dan Hadhrat Nabi Nuh ‘Alaihimassalam. Latifah Ruh merupakan tingkatan langit kedua di atas ‘Arasy. Cahaya Nur dan limpahan keberkatan dari Hadhrat Nabi Ibrahim dan Hadhrat Nabi Nuh ‘Alaihimassalam terlimpah pada Latifah Ruh Hadhrat Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.


Cahayanya adalah dari langit yang kedua dan warnanya adalah kemerahan. Seseorang Salik yang telah sempurna penyucian Latifah Ruhnya akan terhasillah Kasyful Qubur yakni terbukanya pandangan ghaib tentang alam kehidupan sesudah mati di dalam kubur. Dia juga akan dapat berhubungan dengan Ruh-Ruh Para Masyaikh yang telah meninggal dunia dan mengambil limpahan kerohanian dari mereka dengan menziarahi maqam-maqam yang menjadi tempat pengkebumian mereka.


3. SIRR


TITIK kedudukannya pada tubuh badan adalah pada tetek kiri dengan anggaran dua jari ke arah tengah dada. Latifah Sirr juga disebut sebagai Latifah Musawi adalah dari taklukan Alam Lahut yakni Alam Bayangan Sifat-Sifat Allah Ta’ala dan merupakan suatu pusat perhentian di Alam Amar.


Sifat yang Allah Ta’ala kurniakan dengan Latifah Sirr adalah menyentuh. Latifah Sirr adalah suatu alam di mana tersimpannya segala rahsia-rahsia tentang Bayangan Sifat-Sifat Allah Ta’ala dan seharusnya menjadi rahsia bagi seseorang Salik.


Latifah Sirr merupakan tahap di mana seseorang Salik itu akan mengalami perbualan dengan Hadhrat Zat Yang Maha Suci di dalam hatinya di mana dia akan berinteraksi dengan limpahan cahaya dari Hadhrat Zat dan akan mendengar suara-suara Ketuhanan.


Alam Lahut adalah wilayah Hadhrat Nabi Musa ‘Alaihissalam yang telah dapat berkata-kata dengan Allah dan telah mendengar suaraNya. Alam Lahut merupakan tingkatan langit yang ketiga di atas ‘Arasy.


Cahaya Nur dan limpahan keberkatan dari Hadhrat Nabi Musa ‘Alaihissalam terlimpah pada Latifah Sirr Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Cahayanya adalah dari langit yang ketiga dan warna Nurnya adalah keputihan.


Menurut Hadhrat Imam Rabbani Mujaddid Alf-Tsani Syeikh Ahmad Faruqi Sirhindi Rahmatullah ‘alaih seseorang Salik akan mengalami Jazbah pada tahap ini iaitu penarikan dan penyatuan dengan Cahaya Allah Ta’ala. Apabila dia mengalami Jazbah untuk menuju kepada Rahmat Allah maka dia digelar Majzub. Dan menurut beliau, ini merupakan tahap Sukr yakni Ruhaniah seseorang itu akan mabuk dalam melihat kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


4. KHAFI


TITIK kedudukannya pada tubuh badan adalah pada tetek kanan dengan anggaran dua jari ke arah tengah dada dan Latifah Khafi ini juga disebut sebagai Latifah ‘Isawi adalah bertakluk dengan Alam Bahut yakni Alam Sifat-Sifat Allah Ta’ala.


Ia juga merupakan suatu pusat perhentian di Alam Amar yang berada di atas ‘Arash Mu’alla. Allah Ta’ala mengurniakan sifat menghidu beserta dengan Latifah Khafi dan ianya menampilkan bunyi yang tersembunyi pada Perkataan-Perkataan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


Apabila sesuatu perkataan itu tertulis terdapat bunyi yang dikaitkan dengannya namun bunyi tersebut tidak akan didengari melainkan apabila perkataan itu disebutkan. Maka itulah bunyi adalah tersembunyi dan terkandung didalam huruf-huruf pada perkataan tersebut. Ia hanya menantikan masa untuk terzahir apabila bunyi huruf-huruf perkataan itu disebutkan.


Seseorang Salik akan memperolehi pengetahuan dan ilham dengan sentiasa membaca Al-Quran dan Asma-ul Husna. Salik juga akan menghidu wangi-wangian ketika berada dalam kehadiran Hadhrat Zat. Kerana itulah menjadi Sunnah Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk memakai wangi-wangian.


Adapun pada tubuh badan Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam sentiasa terbit keringat yang harum kerana Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wasallam sentiasa berada dalam kehadiran Hadhrat Zat Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada setiap masa dan keadaan.


Di Alam Bahut ini terdapatnya rahsia-rahsia yang tersembunyi tentang Sifat-Sifat Allah Ta’ala dan ia merupakan wilayah Hadhrat ‘Isa ‘Alaihissalam. Alam Bahut ini berada pada tingkatan langit yang keempat di atas ‘Arasy dan cahaya Nur serta keberkatan daripada Hadhrat Nabi ‘Isa ‘Alaihissalam yang berada pada langit keempat itu terlimpah pada Latifah Khafi Hadhrat Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan cahaya kehitaman.


Seseorang Salik perlu meninggalkan Sifat Basyariyat iaitu sifat-sifat kemanusiawian. Menurut Hadhrat Imam Rabbani Mujaddid Alf Tsani Syeikh Ahmad Faruqi Sirhindi Rahmatullah ‘alaih bahawa seseorang yang telah mencapai Latifah Khafi, dia akan mengalami Hairat Sughra yakni ketakjuban yang kecil kerana dapat merasai Kehadiran Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


5. AKHFA


TITIK kedudukannya pada tubuh badan adalah pada tengah dada di antara Latifah Sir dan Latifah Khafi dan ianya bertaaluk dengan Alam Hahut yakni Alam Zat Allah Ta’ala. Latifah Akhfa juga disebut sebagai Latifah Muhammadi. Alam Hahut berada pada tingkatan yang kelima di atas ‘Arash pada Alam Amar. Pada Latifah Akhfa tersembunyinya rahsia-rahsia yang lebih dalam tentang Hakikat Zat Ketuhanan Allah Ta’ala. Alam ini adalah suatu alam yang sunyi di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


Seseorang Salik akan merasai kehadiran Hadhrat Zat ketika melakukan sunyi diri dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kerana itulah Hadhrat Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam sering bersunyi diri dengan melakukan Khalwat Saghirah di Gua Hira’.


Alam Hahut merupakan wilayah Hadhrat Baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan berada pada tingkatan langit yang kelima di atas ‘Arasy. Cahaya Nur serta limpahan keberkatan dari Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam di Alam Hahut itu terlimpah pada Latifah Akhfanya dengan cahaya kehijauan.


Menurut Para Masyaikh Naqshbandiyah, hati Ruhaniah seseorang itu adalah biasan dari hati Ruhaniah Hadhrat Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam yang disebut Haqiqat Muhammadiyah.


Hati Ruhaniah ini menampilkan Bahrul Qudrah yakni Lautan Kekuasaan Allah Ta’ala yang merupakan sumber kejadian awal sekelian makhluk. Barangsiapa yang dapat mencapai ilmu pengetahuan tentang hati, akan mampu mencapai kefahaman tentang kebenaran Haqiqat Kenabian, Nur Muhammad dan Haqiqat Muhammadiyah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Limpahan cahaya Nur Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam berada di dalam lautan kekuasaan Bahrul Qudrah itu.


Setiap alam yang berada di Alam Amar merupakan suatu alam yang lengkap dengan membawa ciri-ciri yang tertentu. Ada sebilangan Masyaikh yang mengaitkan latifah-latifah Alam Amar ini dengan bunyi dan sunyi yang mana mereka menyatakan bahawa Latifah Qalb, Ruh, Sir dan Khafi adalah berada pada tingkatan zikir bunyi manakala Latifah Akhfa pula berada pada tingkatan zikir sunyi.


Sunyi bererti menjauhkan diri dari sebarang bentuk bunyi yang bersifat zahir kemudian menjadikan hatinya sentiasa bersunyian dengan Hadhrat Zat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Akhfa merupakan maqam Fana sehingga seseorang Salik itu mencapai erti sunyi yang hakiki di mana bunyi sekelian makhluk juga telah terlenyap.


Apabila telah terlenyapnya segala bunyi yang tinggal hanyalah sunyi dan sunyi merupakan suatu bunyi yang tidak diketahui. Lenyapnya bunyi makhluk tidak bermakna lenyapnya bunyi dari Hadhrat Zat Yang Maha Suci bahkan akan tetap terus kedengaran bunyi-bunyian yang bertasbih memuji kesucian ZatNya. Kesemua bunyi-bunyi ini adalah bersumber dari Hadhrat Zat Yang Maha Suci dan mengambil tempat di dalam lautan kekuasaan Bahrul QudrahNya.


Ada Para Masyaikh yang menyatakan bahawa,


“Sunyi adalah bunyi dari Hadhrat Zat.”


Apabila seseorang Salik maju atas jalan Tariqat sehingga dia mencapai Fana, Murshid akan melimpahkan ilmu yang berkaitan dengan alam-alam di Alam Amar tersebut ke dalam hati Muridnya.


Antara maksud yang utama adalah untuk sampai ke pusat perhentian Alam Hahut di Latifah Akhfa ini kerana ianya merupakan tempat persinggahan terakhir bagi Alam Amar dan merupakan tempat yang tertinggi bagi lautan kekuasaan Allah Ta’ala di mana Allah Ta’ala mula-mula menjadikan Nur Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.


Kelima-lima maqam bagi Lataif yang berada di dalam dada tersebut merupakan pusat perhentian dan ianya bagi menyatakan suatu perjalanan menuju kepada penyatuan dengan Hadhrat Zat Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerusi cahaya Kenabian Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam kerana Hadhrat Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah satu-satunya manusia yang telah benar-benar mencapai Hadhrat Zat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


Kemuliaan ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala kurniakan ketika peristiwa Mi’raj iaitu perjalanan menaiki tingkatan-tingkatan langit menuju Kehadhrat Zat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


6. NAFS


KEDUDUKANNYA ialah pada otak dan titiknya ada di bahagian dahi di antara dua kening. Taaluknya adalah dengan Alam Khalaq yakni alam ciptaan yang berada di bawah ‘Arash. Ia adalah tempat penzahiran ‘Aqal manusia yang bersifat halus pada otak yang berada di dalam tempurung kepala.


Perkataan Nafs lazimnya merujuk kepada diri seseorang atau jiwa pada tahap yang rendah atau keakuan diri seseorang. Sifat semulajadinya terdiri dari sifat-sifat kemanusiawian dan kehaiwanan. Perkataan Nafs juga merujuk kepada perkataan Nafas yang bererti pernafasan dan perkara ini merupakan suatu intipati dalam perkerjaan zikir kerana ia merupakan sumber tenaga dan menjadi asas sebilangan besar Tariqat.


Sebilangan Para Sufi berpendapat perkataan Nafs ini merujuk kepada peringkat kejiwaan yang merangkumi seluruh minda, emosi dan keinginan dalam diri seseorang.


Menurut Hadhrat Syeikh Shahabuddin As-Suhrawardi Rahmatullah ‘alaih, Nafs ada dua pengertian:


1. Nafs Syaik - Iaitu zat dan hakikat bagi sesuatu benda.


2. Nafs Natiqah - Suatu kehalusan dalam Ruhaniah manusia yang disebut Jiwa dan ianya bercahaya serta dikurniakan sifat keakuan. Dengan cahayanya tubuh badan menjadi tempat yang terdedah kepada berbagai jenis kejahatan dan kebaikan.


Mengenali Nafs dengan segala sifatnya adalah sukar kerana ia bersifat seperti seekor sumpah-sumpah yang boleh bertukar rupa pada sebilangan keadaan dengan warna yang berbeza.


Mencapai Ma’rifat tentang Nafs dengan segenap ilmu pengetahuan mengenai sekelian sifatnya adalah di luar kemampuan sebarang makhluk. Adalah sukar untuk mencapai Ma’rifat tentang Nafs sepertimana sukarnya mencapai Ma’rifat tentang Tuhan.


Nafs diciptakan dengan unsur keakuan diri dan ia mudah dipengaruhi Syaitan kerana adanya persamaan sifat angkuh dan bongkak dalam diri Syaitan dengan sifat keakuan yang ada pada Nafs.


Tujuan Syaitan menghasut Nafs melakukan kejahatan adalah untuk mengotorkan Qalb kerana apabila Nafs seseorang itu dikotori, Qalbnya juga akan turut dikotori. Hubungan Nafs dengan Qalb adalah dengan kelajuan cahaya dan kedua-duanya ibarat cermin yang memantulkan cahaya masing-masing antara satu sama lain.


Latifah Nafs adalah tempat perjalanan Ruhaniah melalui tingkatan nafsu-nafsu. Ada sebilangan Masyaikh yang meletakkan tiga tingkatan nafsu iaitu Nafsu Ammarah, Lawwamah dan Mutmainnah. Ada sebilangan Masyaikh yang meletakkan lima tingkatan nafsu iaitu Nafsu Ammarah, Lawwamah, Mutmainnah, Radhiyah dan Mardhiyah. Ada juga Para Masyaikh yang menetapkan tujuh tingkatan nafsu iaitu Nafsu Ammarah, Lawwamah, Mulhammah, Mutmainnah, Radhiyah, Mardhiyah dan Kamiliyah. Penyucian Latifah Nafs ini dinamakan sebagai Tazkiyatun Nafs di mana Para Masyaikh meletakkan berbagai ujian bagi menguji tahap nafsu Para Murid.


Ujian-ujian tersebut berupa Mujahadah Nafs bagi menundukkan kakuan diri dan keinginan hawa nafsu. Sebagaimana yang dinyatakan bahawa terdapat tujuh tingkatan Nafs yang perlu dilalui oleh setiap Salik seperti berikut:


1. Nafsu Ammarah - Pada tingkatan ini keakuan seseorang itu berada pada tahap kehaiwanan iaitu pada kedudukan yang rendah, tidak mengenali hakikat diri dan tidak mengenal hakikat Tuhan, boleh menjadi lebih buas dari binatang dan sentiasa mengingkari perintah-perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tahap nafsu ini berada pada tingkatan yang rendah dan perlu disucikan dengan Taubat dan Istighfar untuk menuju pada tingkatan yang lebih tinggi supaya dimuliakan oleh para Malaikat. Apabila nafsu Ammarah ini dapat dikuasai sepenuhnya, peribadi manusia itu akan menjadi lebih baik dari para Malaikat setelah dia menjalani latihan penyucian diri di bawah asuhan seorang Murshid yang sempurna. Nafsu Ammarah sentiasa mengajak diri mengingkari Allah dan Rasul, menurut ajakan Syaitan, bergelumang dengan dosa-dosa besar dan maksiyat, bertabiat dan bertingkah laku buruk, bernafsu seperti haiwan yang buas. Sentiasa memuaskan kehendak hawa nafsu dan bersikap mementingkan diri sendiri.


2. Nafsu Lawammah - Pada tingkatan ini keakuan seseorang itu berada pada tahap mula menyedari keingkaran dan sifat buruk yang ada pada dirinya dan berasa menyesal apabila melakukan perbuatan yang buruk dan tidak baik. Dia mula untuk berasa bersalah kerana menurut keakuan dirinya semata-mata dan lebih mementingkan diri sendiri. Dia akan melakukan Taubat dan Istighfar tetapi akan kembali kepada perlakuan dosa dan maksiyat kepada Allah dan Rasul. Kesedarannya baru terbit tetapi tidak kukuh. Dia perlu menjalani latihan untuk menerbitkan rasa kesedaran dan insaf pada setiap masa serta menyerahkan dirinya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kerana jika tidak, dia akan kembali terjerumus kedalam kancah keburukan.


3. Nafsu Mulhammah - Pada tingkatan ini keakuan seseorang itu berada pada tahap yang lebih kerap menyesali dirinya kerana mengingkari hukum dan perintah Allah dan Rasul, kesedaran untuk insaf semakin bertambah tetapi masih belum mampu meninggalkan perbuatan dosa dan maksiyat. Dia belum menyerahkan dirinya bulat-bulat kepada Allah kerana keakuan dirinya belum Fana atau dimatikan. Walaubagaimanapun keinginan untuk kembali sepenuhnya kepada Allah terasa amat dekat. Dia akan diilhamkan dengan amalan kebaikan yang dapat mendekatan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dengan latihan kerohanian dan asuhan Murshid dia akan berjaya mematikan keakuannya. Kerana itu amat penting bagi Murid untuk mendapat bimbingan Murshid kerana seseorang itu tidak akan mampu mencapai penyucian Nafsu Mulhammah ini dengan bersendirian melainkan melalui seorang Murshid secara zahir dan batin. Dia perlu berzikir dengan kalimah Ismu Zat iaitu Allah Allah sebanyak-banyaknya di dalam hati sehingga terbit ketenangan.


4. Nafsu Mutmainnah - Pada tingkatan ini keakuan seseorang itu berjaya mencapai Fana. Dia berjaya mematikan keakuan dirinya dan menyerahkan dirinya kepada Allah subhanahu wa Ta’ala. Apabila keakuan dimatikan maka akan lahirlah bayi maknawi dari diri insan. Insan bersifat pelupa dan apabila keakuan insan itu dimatikan maka akan lahirlah daripada dirinya, dirinya yang sebenar yang diertikan oleh Hadhrat Syeikh Abdul Qadir Jailani sebagai Tiflul Ma’ani. Pada tahap ini keimana seseorang itu menjadi semakin teguh dan kukuh. Dia perlu mendawamkan zikir kalimah Ismu Zat pada setiap latifah sehingga sempurna Sepuluh Lataif dan kekal dalam Syuhud. Ruhnya berjaya mencapai ketenangan pada Nafsu Mutmainnah dengan berkat limpahan dan asuhan Murshid.


5. Nafsu Radhiyah - Pada tingkatan ini keakuan seseorang itu telah diserahkan sepenuhnya kepada Allah dan dia redha dengan apa jua yang datang dari Allah. Tidak mementingkan apa yang telah berlaku dan apa yang akan berlaku. Dia menumpukan kesedarannya pada Kehadiran Zat Yang Suci pada setiap masa. Dia hanya menjadikan Allah sebagai maksud dan sentiasa menuntut keredhaan Allah. Dia sentiasa merasakan dirinya lemah di hadapan Allah dan sentiasa bergantung penuh kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dia mengetepikan segala kepentingan Dunia dan akhirat demi Allah Ta’ala semata-mata.


6. Nafsu Mardhiyah - Pada tingkatan ini keakuan seseorang itu telah tenggelam dalam lautan Syuhud. Dia menyaksikan Kebesaran Allah dengan cahaya Musyahadah dan mencapai ‘Irfan. Dia berenang di lautan Makrifat mengenali hakikat diri dan hakikat Tuhannya. Ruhnya telah aman damai di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan jiwanya menjadi lembut terhadap sesama makhluk dan zahirlah akhlak yang baik serta mulia dari dirinya.


7. Nafsu Kamiliyah - Pada tingkatan ini keakuan diri seseorang itu telah mencapai penyucian yang sempurna dan berjaya menjadi insan yang sempurna dengan menuruti segala Sunnah Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam yang mana merupakan insan yang paling sempurna. Zahir mereka bersama manusia di dalam khalayak ramai dan menghadiri majlis mereka namun batin mereka sentiasa dalam keadaan berjaga-jaga memerhatikan limpahan faidhz dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Zikir mereka pada tingkatan ini adalah sentiasa bermuraqabah. Penyerahan mereka sempurna dan Allah menzahirkan Tanda-Tanda KekuasaanNya menerusi hamba tersebut. Dia menyerah kepada segala ketentuan Taqdir dan melaksanakan kewajibannya sebagai hamba dengan sebaik-baiknya. Ini merupakan tingkatan para Nabi dan Rasul ‘Alaimussolatu Wassalam dan inilah merupakan tingkatan para Sahabat Ridhwanullah ‘Alaihim Ajma’in dan tingkatan sekelian Wali Qutub.


Hadhrat Syeikh Shahabuddin As-Suhrawardi Rahmatullah ‘alaih telah menyatakan bahawa terdapat sepuluh sifat buruk yang ada pada Nafs seperti berikut:


1. Hawa


2. Nifaq


3. Riya


4. Mengaku Tuhan


5. Bangga Diri


6. Tamak


7. Haloba


8. Banyak Ketawa


9. Malas


10. Lalai


Sepuluh sifat buruk Nafs ini adalah berasal dari unsur-unsur seperti panas, sejuk, lembab dan kering. Dari sepuluh sifat yang buruk ini terbit berbagai lagi sifat-sifat yang buruk seperti hasad dengki, iri hati, bersangka buruk, putus asa dan sebagainya.


Ada sebilangan Masyaikh yang menganggap Nafs dan Qalb adalah sama kerana pada penghujungnya mereka mendapati Nafs Mutmainnah adalah jiwa yang tenang serta menganggap jiwa letaknya pada hati. Mereka menganggap tiada perbezaan antara kedua-duanya.


Sebenarnya Qalb dan Nafs adalah dua perkara yang berbeza tetapi memiliki tanggungjawab yang sama iaitu untuk disucikan dari segala sesuatu selain Allah dan menumpukan ingatan terhadapNya serta menggunakan kemampuan Qalb dan Nafs untuk Ma’rifat Allah Ta’ala seterusnya sentiasa menghadapkannya kepada Wajah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kedua-duanya merupakan dua pusat perhentian utama yang mewakili Alam Amar dan Alam Khalaq. Qalb adalah pusat perhentian bagi Alam Amar dan Nafs adalah pusat perhentian bagi Alam Khalaq.


Seseorang Salik yang telah sempurna menempuh Alam Amar bermakna dia telah berjaya menempuh Daerah Wilayah Sughra yakni daerah kewalian kecil dan merupakan Alam Bayangan Sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


Menurut Hadhrat Imam Rabbani Mujaddid Alf Tsani Syeikh Ahmad Faruqi Sarhindi Rahmatullah ‘alaih, apabila seseorang Salik telah sempurna menempuh Daerah Wilayah Sughra maka bermulalah Fana yang sebenarnya dan Salik akan terus menuju kepada Daerah Wilayah Kubra yakni daerah kewalian yang besar.


Daerah Wilayah Kubra ini berada dalam Bayangan Hadhrat Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam iaitu dalam menuruti Sunnah Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ianya merupakan daerah kewalian Para Nabi dan terdapat tiga setengah daerah di dalamnya iaitu Daerah Ula, Daerah Tsaniah, Daerah Tsalisah dan setengah Daerah Qaus.


Setelah Salik sempurna menjelajah daerah-daerah ini pada Latifah Nafsnya dia akan meneruskan perjalanan Ruhaniahnya merentasi Daerah ‘Ulya iaitu daerah Para Malaikat yang tinggi kedudukannya di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


Seterusnya Salik hendaklah menyucikan Latifah Qalibiyahnya iaitu anasir yang empat terdiri dari Tanah, Air, Api dan Angin. Pada tingkatan ini seseorang Salik tidak lagi memerlukan sebarang asbab luaran untuk mencapai KehadiranZat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


7. ANGIN


KEDUDUKANNYA adalah pada seluruh jasad tubuh badan manusia. Angin sifatnya halus dan tidak kelihatan. Angin yang besar dapat mengubah keadaan sesuatu tempat dan ia boleh bergerak ke mana-mana. Unsur Angin terdapat pada diri manusia secara zahirnya dapat kita perhatikan menerusi pernafasan keluar dan masuknya udara melalui hidung dan mulut. Udara Oksigen yang dihirup masuk ke dalam paru-paru akan diagih-agihkan ke setiap bahagian tubuh badan.


Angin juga dapat kita rasakan melalui dubur ketika telah sempurnanya penghadaman. Sifat Angin pada manusia adalah halus kerana ia menampilkan keinginan hawa nafsu yang tidak terbatas dan kecenderungannya menuruti hawa nafsu. Adakalanya ia dizahirkan menerusi kesedihan dan dukacita dan adakalanya terzahir menerusi keinginannya untuk berpindah dari suatu tempat ke suatu tempat sepertimana angin yang bertiup dari suatu tempat ke suatu tempat.


8. API


KEDUDUKANNYA adalah pada seluruh jasad tubuh badan. Api merupakan suatu unsur yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala gunakan untuk menjadikan Syaitan dan Syaitan adalah dari golongan Jin dan mereka adalah dari Api. Unsur Api juga Allah Subhanahu Wa Ta’ala kurniakan kepada manusia dan ini dapat di lihat pada ciri-ciri zahirnya iaitu pembakaran makanan di dalam perut bagi menghasilkan penghadaman, panas badan dan demam.


Unsur Api yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala kurniakan adalah bersifat halus dan ada terkandung sifat-sifat kesyaitanan dan Jin dalam diri manusia seperti kemarahan, bangga diri, bongkak dan takabbur.


9. AIR


KEDUDUKANNYA adalah pada seluruh jasad tubuh badan. Jasad sekelian manusia adalah dari Air dan ciri-ciri air itu ada pada manusia seperti air mata, air liur, air hingus, air peluh, air mani, air najis dan darah. Air sifatnya mengalir dan begitulah sifatnya dalam masyarakat, bergerak ke sana dan ke mari seperti air. Ada sifat air yang jernih dan ada yang sifatnya seperti susu.


Manusia juga mudah menuruti hawa nafsu yang jahat dan ada yang boleh menerima perubahan dan mengubah masyarakat. Ia juga bersifat pelupa dan cenderung kepada tidur.


10. TANAH


KEDUDUKANNYA adalah pada seluruh jasad tubuh badan. Jasad jasmani Hadhrat Nabi Adam ‘Alaihissalam telah dijadikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala daripada tanah. Begitulah juga kepada sekelian anak cucu Hadhrat Nabi Adam ‘Alaihissalam kesemuanya kembali dikebumikan ke dalam tanah. Adapun sifat-sifat Tanah itu ada dalam diri manusia seperti kerendahan hati dan merendahkan diri, kehormatan, ringkas dan mudah terbentuk.


Terdapat berbaga jenis sifat tanah iaitu ada yang subur apabila menerima air hujan serta menumbuhkan rumput, ada tanah yang keras dan menakungkan air untuk manafaat makhluk yang lain dan ada jenis tanah yang keras tidak menakungkan air serta tidak menumbuhkan rumput.


Begitulah diibaratkan kepada orang yang menerima limpahan ilmu dari Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, ada yang mendapat manafaat darinya dan ada yang memanafaatkannya kepada orang lain dan ada yang tidak memanafaatkannya untuk dirinya mahupun kepada orang lain.


Sifat Tanah adalah mudah dibentukkan kepada sebarang bentuk, bijaksana, berperingkat, kejahilan, kejahatan, kegelapan dan kelemahan.

Semoga bermanfaat